Anda di halaman 1dari 27

Profesi NERS

Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar


LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM THYPOID
















RAHMAWATI, S.Kep
NIM :




CI Institusi,




, ADRIANA, S.Kep.,Ns
CI Lahan




, KURNIATI, S.Kep. Ns



PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2014





Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
BAB I
DEMAM THYFOID

A. Pengertian
Demam thyifoid dan demam paratifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus.
Demam paratifoid biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama
atau menyebabkan enteitis akut . Sinonim demam tifoid dan demam paratifoid adalah
typhoid dan paratyphoid fever, enteric fever, thyphus dan paratyphus abdominalis.
B. Etiologi
Etiologi demam tifoid dan demam paratifoid adalah S. typhi, S. paratyphi A, S.
paratyphi B dan S. paratyphi C.
C. Patogenesis dan Patofisiologi
Kuman S. typhi masuk ketubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air
yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung. Sebagian lagi masuk
ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque Peyeri di ileum terminalis yang
mengalami hipertropi. Ditempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat
terjadi. Kuman S. typhi kemudian menembus kelamina propina, masuk aliran limfe dan
mencapai kelenjar limfe messenterial yang juga mengalami hipertropi. Setelah melewati
kelenjar-kelenjar limfe ini S. typhi masuk kelairan darah melalui duktur thoracicus.
Kuman-kuman S. typhi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. S. typhi
bersarang di plaque Peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain system retikuloendotial.
Semula disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid
disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian-eksperimental
disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-
gejala toksemia pada demam tifoid. Endotoksin S. typhi berperan pada patogenesis
demam tifoid, karena membatu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan setempat
S. typhi berkembang biak. Demam pada tifoid disebabkan karena S. typhi dan
endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada
jaringan yang meradang.
D. Manifestasi Klinik
Masa tunas demam tifoid berlangsung 10 14 hari. Gejala-gejala yang timbul
sangat bervariasi. Perbedaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di
daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu gambaran penyakit bervariasi dari
penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
komplikasi dan kematian. Hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat
berpengalaman pun dapat mengalami kesulitan untuk membuat diagnosis klinis demam
tifoid.
Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala serupa dengan penyakit
akut pada umumnya. Yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual,
muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan epistaksis. Pada
pemeriksaan fisik hanya dijumpai suhu badan meningkat. Dalam minggu kedua gejala-
gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah yang khas (kotor
ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteorismus,
gangguan mental berupa samnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang
ditemukan pada orang Indonesia.
E. Komplikasi Komplikasi demam tifoid dapat dibagi dalam :
1. Komplikasi intestinal :
a. Perdarahan usus
b. Perforasi usus
c. Ileus paralitik
2. Komplikasi ekstra-intestinal :
a. Komplikasi kardiovaskular:
Kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis dan
tromboflebitis.
b. Komplikasi darah :
Anemia hemolitik, trombositopenia dan/atau Disseminated Intravascular
Coagulation (DIC) dan sindrom uremia hemolitik.
c. Komplikasi paru :
Pneumonia, empiema dan pleuritis.
d. Komplikasi hepar dan kandung empedu :
Hepatitis dan kolesistisis.
e. Komplikasi ginjal :
Glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.
f. Komplikasi tulang :
Osteomielitis, periostitis, spondilitis dan artitis.


g. Komplikasi neuropsikatrik :

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer, SGB, psikosis dan
sindrom katatonia.
Pada anak-anak dengan demam paratifoid , komplikasi lebih jarang terjadi.
Komplikasi sering terjadi pada keadaan toksemia berat dan kelemahan umum terutama
bila perawatan pasien kurang sempurna.
F. Prognosis
Prognosis demam tifoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan
tubuh, jumlah dan virulensi Salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka
kematian pada anak-anak 2,6% dan pada orang dewasa 7,4%, rata-rata 5,7%.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan leukosit
Walaupun pada kebanyakan demam typoid terdapat leucopenia dan limfositosis
relatif, namun pada demam typoid saat sediaan darah tepi diperiksa dijumpai dalam
batas normal malahan kadang-kadang terdapat leukositosis , oleh karena itu
pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosis demam typoid.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT seringkali meningkat tetapi kembali kenormal setelah
sembuhnya demam typoid. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan
pembatasan pengobatan.
3. Uji widal
Merupakan suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibody , agglutinin yang
spesifik terhadap salmonella terdapat dalam serum pasien demam typoid, orang yang
pernah ketularan dan pernah divaksinasi.
Hati-hati adanya postif dan negatif palsu pada hasil pemeriksaan.
H. Penatalaksanaan Pengobatan
Pengobatan demam tifoid terdiri atas tiga bagian yaitu : Perawatan, Diet dan
Obat-obatan.
1. Perawatan
Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi,
observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari
bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi pasien harus dilakukan
secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Pasien dengan kesadaran yang menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah
pada waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan
dekubitus.
Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi
obstipasi dan retensi air kemih.
2. D i e t
Dimasa lampau, pasien dengan demam tifoid diberi bubur saring, kemudian
bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Karena ada
pendapat bahwa usus perlu diistirahatkan.
Beberapa peneliti menunjukkan bahwa pemberian makanan padat dini dapat
diberikan dengan aman pada pasien demam tifoid.
3. O b a t
Obat-obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah :
a. Kloramfenikol
b. Tiamfenikol
c. Kotrimoksazol
d. Ampisillin dan Amoksisilin
e. Sefalosporin generasi ketiga
f. Fluorokinolon.
Obat-obat simptomatik :
g. Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin).
h. Kortikosteroid (tapering off Selama 5 hari).
i. Vitamin B komp. Dan C sangat diperlukan untuk menjaga kesegaran dan kekuatan
badan serta berperan dalam kestabilan pembuluh darah kapiler.


Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Dasar data pengkajian klien :
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah. Insomnia, tidak tidur
semalaman karena diare. Merasa gelisah dan ansietas. Pembatasan
aktivitas/kerja s/d efek proses penyakit.
2. S i r k u l a s i
Tanda : Takhikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses imflamasi dan
nyeri). Kemerahan, area ekimosis (kekurangan vitamin K). Hipotensi
termasuk postural. Kulit/membran mukosa : turgor buruk, kering, lidah
pecah-pecah (dehidrasi/malnutrisi).
3. Integritas Ego
Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi kesal, mis. Perasaan tidak berdaya/tidak ada
harapan. Faktor stress akut/kronis mis. Hubungan dengan
keluarga/pekerjaan, pengobatan yang mahal. Faktor budaya peningkatan
prevalensi.
Tanda : Menolak, perhatian menyempit, depresi.
4. E l i m i n a s i
Gejala : Tekstur feces bervariasi dari bentuk lunak sampai bau atau berair.
Episode diare berdarah tidak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering
tidak dapat dikontrol, perasaan dorongan/kram (tenesmus). Defakasi
berdarah/pus/mukosa dengan atau tanpa keluar feces. Peradarahan
perektal.
Tanda : Menurunnya bising usus, tidak ada peristaltik atau adanya peristaltik yang
dapat dilihat. Haemoroid, oliguria.
5. Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/muntah. Penurunan BB. Tidak toleran terhadap
diet/sensitive mis. Buah segar/sayur, produk susu, makanan berlemak.
Tanda : Penurunan lemak subkutan/massa otot. Kelemahan, tonus otot dan turgor
kulit buruk. Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut.


Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
6. H i g i e n e
Tanda : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri. Stomatitis
menunjukkan kekurangan vitamin. Bau badan.
7. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kanan bawah (mungkin hilang dengan
defakasi). Titik nyeri berpindah, nyeri tekan, nyeri mata, foofobia.
Tanda : Nyeri tekan abdomen/distensi.
8. K e a m a n a n
Gejala : Anemia hemolitik, vaskulitis, arthritis, peningkatan suhu (eksaserbasi
akut), penglihatan kabur. Alergi terhadap makanan/produk susu.
Tanda : Lesi kulit mungkin ada, ankilosa spondilitis, uveitis, konjungtivitis/iritis.
9. Interaksi Sosial
Gejala : Masalah hubungan/peran s/d kondisi, ketidakmampuan aktif dalam sosial.
10. Penyuluhan Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga berpenyakit Diare.
B. Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Rasionalisasi Yang Lazim Terjadi
1. Hipertermi berhubungan dengan
a. Penyakit/ trauma
b. Peningkatan metabolisme
c. Aktivitas yang berlebih
d. Dehidrasi

Batasan Karakteristik
a. kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal
b. serangan atau konvulsi (kejang)
c. kulit kemerahan
d. pertambahan RR
e. takikardi
f. Kulit teraba panas/ hangat

TUJUAN dan HASIL NOC: INTERVENSI NIC :
NOC:
Thermoregulasi : keseimbangan antara
produksi panas, peningkatan panas, dan
kehilangan panas




Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama..pasien menunjukkan :
Suhu tubuh dalam batas normal dengan
kreiteria hasil:
NIC :
Monitor suhu sesering mungkin
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tekanan darah, nadi dan RR
Monitor penurunan tingkat
kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
anjurkan asupan cairan oral,
sedikitnya 2 liter sehari
Berikan anti piretik:
Kelola

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Suhu 36 37C
Nadi dan RR dalam rentang normal
Tidak ada perubahan warna kulit dan
tidak ada pusing, merasa nyaman
Antibiotik:..
lepaskan pakain yang berlebihan,
cukup Selimuti pasien
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha dan
aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor hidrasi seperti turgor kulit,
kelembaban membran mukosa)

2. Diare b/d :
a. Psikologis: stress dan cemas tinggi
b. Situasional: efek dari medikasi, kontaminasi, penyalah gunaan laksatif, penyalah
gunaan alkohol, radiasi, toksin, makanan per NGT.
c. Fisiologis: proses infeksi, inflamasi, iritasi, malabsorbsi, parasit

Batasan Karakteristik :
a. Subjektif : Nyeri perut, Urgensi, Kejang perut
b. Objektif : Lebih dari 3 x BAB perhari, Bising usus hiperaktif

TUJUAN dan HASIL NOC: INTERVENSI NIC :
a. Bowl Elimination : Pembentukan
dan pengeluaran feses
b. Fluid Balance : keseimbangan air
dalam kompartemen intrasel dan
ekstrasel tubuh.
c. Hidration : jumlah air yang
adekuat dalam kompartemen
intrasel dan ekstrasel tubuh.
d. Electrolit and Acid Base Balance :
keseimbangan elektrolit dan non
elektrolit dalam kompartemen
intrasel dan ekstrasel tubuh.

Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama . diare pasien
teratasi dengan kriteria hasil:
a. Tidak ada diare
b. Feses tidak ada darah dan mukus
c. Nyeri perut tidak ada
d. Pola BAB normal
e. Elektrolit normal
f. Asam basa normal
g. Hidrasi baik (membran mukosa
lembab, tidak panas, vital sign
normal, hematokrit dan urin output
dalam batas normaL
Manajemen Diare :
a. kaji frekuensi, warna, konsistensi,
dan jumlah (ukuran)Kelola
pemeriksaan kultur feses
b. Monitor turgor kulit, mukosa oral
sebagai indikator dehidrasi
c. Kaji sensitivitas feses
d. Evaluasi pengobatan yang berefek
samping gastrointestinal
e. Evaluasi jenis intake makanan
f. Monitor kulit sekitar perianal
terhadap adanya iritasi dan
ulserasi
g. Ajarkan pada keluarga
penggunaan obat anti diare
h. Instruksikan pada pasien dan
keluarga untuk mencatat warna,
volume, frekuensi dan konsistensi
feses.
i. Ajarkan pada pasien tehnik
pengurangan stress jika perlu
j. Timbang berat badan pasien setiap
hari
k. Lakukan tindakan untuk
mengistirahatkan usus (misalnya,
puasa atau diet cair )

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
l. anjurkan pasien untuk makan
dalam porsi kecil, tetapi sering
dan tingkatkan kepadatannya
secara bertahap.
m. Kolaborasi : konsultasikan pada
dokter jika tanda dan gejala diare
menetap
n. Monitor hasil Lab (elektrolit dan
leukosit)
o. Konsultasi dengan ahli gizi untuk
diet yang tepat

3. Resiko kekurangan volume cairan Berhubungan dengan:
a. Kehilangan volume cairan secara aktif
b. Kegagalan mekanisme pengaturan

Batasan Karakteristik
a. Subjektif : Haus
b. Objektif :
Penurunan turgor kulit/lidah
Membran mukosa/kulit kering
Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan
nadi
Pengisian vena menurun
Perubahan status mental
Konsentrasi urine meningkat
Temperatur tubuh meningkat
Kehilangan berat badan secara tiba-tiba
Penurunan urine output
HMT meningkat
Kelemahan

I ntervensi NI C
TUJUAN dan HASIL NOC: INTERVENSI NIC :
NOC:
Fluid balance : Keseimbangan air
dalam kompartemen intrasel dan
ekstrasel tubuh yang adekuat
Hydration : Jumlah air dalam
kompartemen intrasel dan ekstrasel
tubuh yang adekuat.
Nutritional Status : Food and Fluid
Intake : jumlah makanan dan cairan
yang masuk ke dalam tubuh selama
period 24 jam.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama.. defisit volume cairan teratasi
dengan kriteria hasil:
Mempertahankan urine output sesuai
NIC :
Pertahankan catatan intake dan
output yang akurat
Pantau warna, jumlah, dan
frekuensi kehilangan cairaan.
Monitor status hidrasi ( kelembaban
membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik ), jika
diperlukan
Monitor hasil lab yang sesuai
dengan retensi cairan (BUN , Hmt ,
osmolalitas urin, albumin, total
protein )
Monitor vital sign setiap 15menit
1 jam
Hitung kebutuhan rumatan cairan

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
dengan usia dan BB, BJ urine normal,
Tekanan darah, nadi, suhu tubuh
dalam batas normal

Tidak ada tanda tanda dehidrasi,
Elastisitas turgor kulit baik, membran
mukosa lembab, tidak ada rasa haus
yang berlebihan
Orientasi terhadap waktu dan tempat
baik
Jumlah dan irama pernapasan dalam
batas normal
Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas
normal
pH urin dalam batas normal
Intake oral dan intravena adekuat

harian berdasarkaan berat badan.
Kolaborasi pemberian cairan IV
Monitor status nutrisi
Berikan cairan oral
Berikan penggantian nasogatrik
sesuai output (50 100cc/jam)
Dorong keluarga untuk membantu
pasien makan
Kolaborasi dokter jika tanda cairan
berlebih muncul meburuk
Atur kemungkinan tranfusi
Persiapan untuk tranfusi
Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin output
setiap 8 jam


4. Konstipasi b/d
a. Fungsi:kelemahan otot abdominal, Aktivitas fisik tidak mencukupi
b. Perilaku defekasi tidak teratur
c. Perubahan lingkungan
d. Toileting tidak adekuat: posisi defekasi, privasi
e. Psikologis: depresi, stress emosi, gangguan mental
f. Farmakologi: antasid, antikolinergis, antikonvulsan, antidepresan, kalsium
karbonat,diuretik, besi, overdosis laksatif, NSAID, opiat, sedatif.
g. Mekanis: ketidakseimbangan elektrolit, hemoroid, gangguan neurologis, obesitas,
obstruksi pasca bedah, abses rektum, tumor
h. Fisiologis: perubahan pola makan dan jenis makanan, penurunan motilitas
gastrointestnal, dehidrasi, intake serat dan cairan kurang, perilaku makan yang
buruk.

Batasan Karakteristik :
Subjektif
a. Nyeri perut
b. Ketegangan perut
c. Anoreksia
d. Perasaan tekanan pada rektum
e. Nyeri kepala
f. Peningkatan tekanan abdominal
g. Mual
h. Defekasi dengan nyeri
Objektif :
a. Feses dengan darah segar
b. Perubahan pola BAB
c. Feses berwarna gelap
d. Penurunan frekuensi BAB
e. Penurunan volume feses
f. Distensi abdomen
g. Feses keras

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
h. Bising usus hipo/hiperaktif
i. Teraba massa abdomen atau rektal
j. Perkusi tumpul
k. Sering flatus
l. Muntah

I ntervensi NI C :
TUJUAN dan HASIL NOC: INTERVENSI NIC :
NOC:
Bowl Elimination/defekasi
pembentukan dan pengeluaran feses
Hidration : Kecukupan dalam
kompartemen intrasel dan ekstrasel
tubuh

Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama . konstipasi pasien teratasi
dengan kriteria hasil:
Pola BAB dalam batas normal
Feses lunak
Cairan dan serat adekuat
Aktivitas adekuat
Hidrasi adekuat
NIC :
Manajemen konstipasi
Identifikasi faktor-faktor yang
menyebabkan konstipasi
Monitor tanda-tanda ruptur
bowel/peritonitis
Jelaskan penyebab dan rasionalisasi
tindakan pada pasien
Konsultasikan dengan dokter tentang
peningkatan dan penurunan bising
usus
Kolaburasi jika ada tanda dan gejala
konstipasi yang menetap
Jelaskan pada pasien manfaat diet
(cairan dan serat) terhadap eliminasi
Jelaskan pada klien konsekuensi
menggunakan laxative dalam waktu
yang lama
Kolaburasi dengan ahli gizi diet
tinggi serat dan cairan
Dorong peningkatan aktivitas yang
optimal
Sediakan privacy dan keamanan
selama BAB


5. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d Ketidakmampuan untuk memasukkan atau
mencerna nutrisi oleh karena faktor biologis, psikologis atau ekonomi.
Batasan Karakteristik :
Subjektif :
a. Nyeri abdomen
b. Muntah
c. Kejang perut
d. Rasa penuh tiba-tiba setelah makan

Objektif
e. Diare
f. Rontok rambut yang berlebih
g. Kurang nafsu makan
h. Bising usus berlebih
i. Konjungtiva pucat
j. Denyut nadi lemah

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
I ntervensi NI C :
TUJUAN dan HASIL NOC: INTERVENSI NIC :
NOC:
Nutritional status: Adequacy of
nutrient : keadekuatan pola asupan zat
gizi yang biasanya.
Nutritional Status : food and Fluid
Intake : jumlah makanan dan cairan
yang dikonsumsi tubuh selama waktu
24 jam
Selera Makan : keinginan untuk
makan ketika dalam keadaan sakit
atau sedang menjalani pengobatan.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama.nutrisi kurang teratasi dengan
indikator:
Albumin serum
Pre albumin serum
Hematokrit
Hemoglobin
Total iron binding capacity
Jumlah limfosit
NIC
Kaji Kaji adanya alergi makanan
Kaji kesulitan mengunyah dan
menelan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Ajarkan pasien bagaimana membuat
catatan makanan harian.
Monitor adanya penurunan BB dan
gula darah
Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tidak selama jam makan
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam,
total protein, Hb dan kadar Ht
Monitor mual dan muntah
Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor intake nuntrisi
Informasikan pada klien dan
keluarga tentang manfaat nutrisi
Kolaborasi dengan dokter tentang
kebutuhan suplemen makanan
seperti NGT/ TPN sehingga intake
cairan yang adekuat dapat
dipertahankan.
Atur posisi semi fowler atau fowler
tinggi selama makan
Kelola pemberan anti emetik:.....
Anjurkan banyak minum
Pertahankan terapi IV line
Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oval

6. Ansietas b/d
a. Faktor psikologi/rangsang simpatis (proses inflamasi),
b. ancaman konsep diri,
c. ancaman terhadap perubahan/perubahan status kesehatan dan status
sosioekonomi

Batasan Karakteristik :
a. Insomnia
b. Kontak mata kurang

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
c. Kurang istirahat
d. Berfokus pada diri sendiri
e. Iritabilitas
f. Takut
g. Nyeri perut
h. Penurunan TD dan denyut nadi
i. Diare, mual, kelelahan
j. Gangguan tidur
k. Gemetar
l. Anoreksia, mulut kering
m. Peningkatan TD, denyut nadi, RR
n. Kesulitan bernafas
o. Bingung
p. Bloking dalam pembicaraan
q. Sulit berkonsentrasi

I ntervensi NI C
TUJUAN dan HASIL NOC: INTERVENSI NIC :
NOC :
Kontrol kecemasan
Koping

Setelah dilakukan asuhan selama
klien kecemasan teratasi dgn
kriteria hasil:
Klien mampu mengidentifikasi dan
mengungkapkan gejala cemas
Mengidentifikasi, mengungkapkan
dan menunjukkan tehnik untuk
mengontol cemas
Vital sign dalam batas normal
Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa
tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya
kecemasan

NIC :
Anxiety Reduction (penurunan
kecemasan)
Kaji tingkat kecemasan pasien,
termasuk reaksi fisik Gunakan
pendekatan yang menenangkan
Nyatakan dengan jelas harapan
terhadap pelaku pasien
Jelaskan semua prosedur dan apa
yang dirasakan selama prosedur
Temani pasien untuk memberikan
keamanan dan mengurangi takut
Berikan informasi faktual mengenai
diagnosis, tindakan prognosis
Libatkan keluarga untuk
mendampingi klien
Instruksikan pada pasien untuk
menggunakan tehnik relaksasi
Dengarkan dengan penuh perhatian
Identifikasi tingkat kecemasan
Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
Kelola pemberian obat anti
cemas:........





Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
7. Kurang pengetahun (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan b/d keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah,
kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber
informasi.

Batasan Karakteristik :
a. Subjektif : Menyatakan secara verbal adanya masalah
b. Objektif : ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku tidak sesuai
Pertanyaan, meminta informasi, pernyataan salah konsep.
Tidak akurat mengikuti instruksi.
Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah.
I ntervensi NI C
TUJUAN dan HASIL NOC: INTERVENSI NIC :
NOC:
Kowlwdge : disease process
Kowledge : health Behavior
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama . pasien menunjukkan
pengetahuan tentang proses penyakit
dengan kriteria hasil:
Pasien dan keluarga menyatakan
pemahaman tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program pengobatan
Pasien dan keluarga mampu
melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar
Pasien dan keluarga mampu
menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan
lainnya
NIC :
Kaji tingkat pengetahuan pasien dan
keluarga
Jelaskan patofisiologi dari penyakit
dan bagaimana hal ini berhubungan
dengan anatomi dan fisiologi,
dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang
biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat
Gambarkan proses penyakit, dengan
cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan penyebab,
dengan cara yang tepat
Sediakan informasi pada pasien
tentang kondisi, dengan cara yang
tepat
Sediakan bagi keluarga informasi
tentang kemajuan pasien dengan cara
yang tepat
Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau mendapatkan
second opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara yang
tepat










Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar


8. Intoleransi aktivitas
Diagnosa
Keperawatan/
Masalah Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan
Kriteria Hasil
Intervensi
Intoleransi aktivitas
Berhubungan
dengan :
Tirah Baring atau
imobilisasi
Kelemahan
menyeluruh
Ketidakseimbang
an antara suplei
oksigen dengan
kebutuhan
Gaya hidup yang
dipertahankan.
DS:
Melaporkan
secara verbal
adanya kelelahan
atau kelemahan.
Adanya dyspnu/
ketidaknyamanan
saat beraktivitas.
DO :
Respon abnormal
dari tekanan
darah atau nadi
terhadap aktifitas
Perubahan ECG :
aritmia, iskemia

NOC :
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama .
Pasien
bertoleransi
terhadap
aktivitas
dengan
Kriteria Hasil :
Berpartisip
asi dalam
aktivitas
fisik tanpa
disertai
peningkata
n tekanan
darah, nadi
dan RR
Mampu
melakukan
aktivitas
sehari hari
(ADLs)
secara
mandiri
Keseimban
gan
aktivitas
dan
istirahat

NIC :
1. Berikan lingkungan tenang dengan
membatasi pengunjung
R/: membantu memenuhi kebutuhan
aktivitasnya
2. Bantu kebutuhan sehari-hari klien
seperti mandi, BAB dan BAK
R/: memenuhi personal hygiene
klien
3. Bantu klien mobilisasi secara
bertahap
R/: Melatih anggota gerak klien agar
tidak terjadi kekakuan
4. Dekatkan barang-barang yang selalu
di butuhkan ke meja klien
R/: membantu memenuhi kebutuhan
yang diinginkan oleh klien
5. kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian vitamin sesuai indikasi
R/: membantu memberi kekebalan
tubuh pada klien



Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar



9. Gangguan pola tidur

Diagnosa
Keperawatan/ Masalah
Kolaborasi
Rencana keperawatan
Tujuan dan
Kriteria Hasil
Intervensi

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Gangguan pola tidur
berhubungan dengan:
- Psikologis : usia tua,
kecemasan, agen
biokimia, suhu
tubuh, pola
aktivitas, depresi,
kelelahan, takut,
kesendirian.
- Lingkungan :
kelembaban,
kurangnya
privacy/kontrol
tidur, pencahayaan,
medikasi (depresan,
stimulan),kebisingn.
Fisiologis : Demam,
mual, posisi, urgensi
urin.
DS:
- Bangun lebih
awal/lebih lambat
- Secara verbal
menyatakan tidak
fresh sesudah tidur
DO :
- Penurunan
kemempuan
fungsi
- Penurunan
proporsi tidur
REM
- Penurunan
proporsi pada
tahap 3 dan 4
tidur.
- Peningkatan
proporsi pada
tahap 1 tidur
- Jumlah tidur
kurang dari
normal sesuai usia
NOC :
Anxiety
Control
Comfort
Level
Pain Level
Rest : Extent
and Pattern
Sleep : Extent
ang Pattern
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama .
gangguan pola
tidur pasien
teratasi dengan
kriteria hasil:
Jumlah jam
tidur dalam
batas normal
Pola
tidur,kualitas
dalam batas
normal
Perasaan
fresh sesudah
tidur/istirahat
Mampu
mengidentifik
asi hal-hal
yang
meningkatka
n tidur

NIC :
Sleep Enhancement
1. Determinasi efek-efek
medikasi terhadap pola tidur
R/:
2. Jelaskan pentingnya tidur
yang adekuat
R/:
3. Fasilitasi untuk
mempertahankan aktivitas
sebelum tidur (membaca)
R/: meningkatkan kemampuan
memperbaiki tindakan yang
dapat meningkatkan tidur
4. Ciptakan lingkungan yang
nyaman
R/: mengurangi stimulus yang
dapat mengganggu istirahat
tidur.
5. Kolaburasi pemberian obat
tidur
R/: obat yang tepat waktu
dapat meningkatkan istirahat
tidur





DAFTAR PUSTAKA




Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Brunner & Suddath, Buku ajar keperawatan medical bedah, Buku 3, Edisi 4 Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Tahun 2002.

Doenges, Rencana asuhan keperawatan, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Tahun
2000.

Mansjoer Arif, Kapita selekta kedokteran, Penerbit Media Aesculapius FK-UI 2000,
Jakarta.

Smeltzer, Zusanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth
ed.8 Vol. 2. EGC. Jakarta

Sylvia, Patofisiologi, Buku 1, Edisi 4, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Cetakan I, Tahun
1995.

Waspadji dkk, Buku ajar ilmu penyakit dalam, Jilid I, Edisi ketiga, Penerbit FK-UI
Jakarta, Tahun 1999.

Wilkinson Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC ed.9. EGC. Jakarta


Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
B. Diagnosa Keperawatan, Tujuan, Rasionalisasi Yang Lazim Terjadi
1. Diare b/d imflamasi, iritasi dan malabsorpsi usus, adanya toksin dan
penyempitan segemental usus ditandai dengan :
- Peningkatan bunyi usus/peristaltik.
- Defakasi sering dan berair (fase akut)
- Perubahan warna feses.
- Nyeri abdomen tiba-tiba, kram.
Tujuan :
- Klien akan melaporkan penurunan frekuensi defakasi, konsistensi kembali
normal.
- Klien akan mampumengidentifikasi/menghindari faktor pemberat.
Intervensi :
1. Observasi dan catat ferkuensi defakasi, karekteristik, jumlah dan faktor
pencetus.
R/ : Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya
episode.
2. Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping tempat tidur.
R/ : Istirahat menurunkan motalitas usus juga menurunkan laju
metabolisme bila infeksi atau perdarahan sebagai komplikasi. Defakasi
tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda dan dapat tidak terkontrol,
peningkatan resiko inkontinensia/jatuh bila alat-alat tidak dalam
jangkauan tangan.
3. Buang feses dengan cepat dan berikan pengharum ruangan.
R/ : Menurunkan bau tak sedap untuk menghindari rasa malu klien.
4. Identifikasi makanan/cairan yang mencetuskan diare.
R/ : Menghindari iritan dan meningkatkan istirahat usus.
5. Observasi demam, takhikardi, lethargi, leukositosis/leukopeni, penurunan
protein serum, ansietas dan kelesuan.
R/ : Tanda toksik megakolon atau perforasi dan peritonitis akan
terjadi/telah terjadi memerlukan intervensi medik segera.
6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
- Antikolinergik.
R/ : Menurunkan motalitas/peristaltik GI dan menurunkan sekresi
digestif untuk menghilangkan kram dan diare.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
- Steroid
R/ : Diberikan untuk menurunkan proses inflamasi.
- Antasida
R/ : Menurunkan iritasi gaster, mencegah inflamasi dan menurunkan
resiko infeksi pada kolitis.
- Antibiotik
R/ : Mengobati infeksi supuratif lokal.
7. Bantu/siapkan intervensi bedah.
R/ : Mungkin perlu bila perforasi atau obstruksi usus terjadi atau penyakit
tidak berespon terhadap pengobatan medik.

2. Resiko kurang volume cairan b/d Kehilangan banyak melalui rute normal
(diare berat, muntah), status hipermetabolik dan pemasukan terbatas.
Tujuan :
Klien akan menampakkan volume cairan adekuat/mempertahankan cairan
adekuat dibuktikan oleh membran mukosa lembab, turgor kulit baik dan
pengisian kapiler baik, TTV stabil, keseimbangan masukan dan haluaran dengan
urine normal dalam konsentrasi/jumlah.
Intervensi :
1. Awasi masukan dan haluaran urine, karakter dan jumlah feces, perkirakan
IWL dan hitung SWL.
R/ : Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi ginjal dan
kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman untuk penggantian
cairan.
2. Observasi TTV.
R/ : Hipotensi (termasuk postural), takikardi, demam dapat menunjukkan
respon terhadap dan/atau efek kehilangan cairan.
3. Observasi adanya kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan
turgor kulit, prngisisan kapiler lambat.
R/ : Menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi.
4. Ukur BB tiap hari.
R/ : Indikator cairan dan status nutrisi.

5. Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring dan hindari kerja.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
R/ : Kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan
kehilangan cairan usus.
6. Catat kelemahan otot umum dan disritmia jantung
R/ : Kehilangan cairan berlebihan dapat menyebabkan ketidak seimbangan
elektrolit. Gangguan minor pada kadar serum dapat mengakibatkan
adanya dan/atau gejala ancaman hidup.
7. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
- Cairan parenteral, transfusi darah sesuai indikasi.
R/ : Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggatntian
cairan untuk memperbaiki kehilangan/anemia.
- Anti diare.
R/ : Menurunkan kehilangan cairan dari usus.
- Antiemetik
R/ : Digunakan untuk mengontrol mual/muntah pada eksaserbasi akut.
- Antipiretik
R/ : Mengontrol demam. Menurunkan IWL.
- Elektrolit tambahan
R/ : Mengganti kehilangan cairan melalui oral dan diare.

3. Konstipasi b/d masukan cairan buruk, diet rendah serat dan kurang latihan,
inflamasi, iritasi, ditandai dengan :tidak ada feses.
Tujuan :
Klien akan menampakkan/melaporkan kembali pola fungsi usus yang normal.
Intervensi :
1. Observasi bising usus.
R/ : Kembalinya fungsi GI mungkin terlambat oleh inflamasi
intraperitoneal, obat-obatan. Adanya bunyi abnormal menunjukkan
adanya komplikasi.
2. Amati adanya keluhan nyeri abdomen.
R/ : Mungkin berhubungan adanya distensi gas atau terjadinya komplikasi.
3. Observasi gerakan usus. Amati feses, konsistensi, warna dan jumlah.
R/ : Indikator kembalinya fungsi GI, mengidentifikasi ketepatan intervensi.
4. Anjurkan makanan/cairan yang tidak mengiritasi bila masukan oral
diberikan.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
R/ : Menurunkan risiko iritasi mukosa.
5. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian pelunak feses, supositoria
gliserin sesuai indikasi.
R/ : Mungkin perlu untuk merangsang peristaltik dengan perlahan/evakuai
feses.
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ganguan absorbsi nutrien, status
hipermetabolik, secara medik masukan dibatasi ditandai dengan :
- Penurunan BB, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk.
- Bunyi usus hiperaktif.
- Konjungtiva dan membran mukosa pucat.
- Menolak untuk makan.
Tujuan :
Klien akan menunjukkan/menampakkan BB stabil atau peningkatan BB sesuai
sasaran dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Intervensi :
1. Timbang BB setiap hari atau sesuai indikasi.
R/ : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/keefektifan terapi.
2. Dorong tirah baring dan/atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut.
R/ : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori
dan simpanan energi.
3. Anjurkan istirahat sebelum makan.
R/ : Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.
4. Berikan kebersihan mulut terutama sebelum makan.
R/ : Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan.
5. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
R/ : Lingkungan yang nyaman menurunkan stress dan lebih kondusif untuk
makan.
6. Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen, flatus.
R/ : Mencegah serangan akut/eksaserbasi gejala.
7. Dorong klien untuk menyatakan perasaan masalah mulai makanan/diet.
R/ : Keragu-raguan untuk makan mungkin diakibatkan oleh takut makan
akan menyebabkan eksaserbasi gejala.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
8. Kolaborasi dengan tim gizi/ahli diet sesuai indikasi, mis : cairan jernih
berubah menjadi makanan yang dihancurkan, rendah sisa, protein tinggi,
tinggi kalori dan rendah serat.
R/ : Memungkinkan saluran usus untuk mematikan kembali proses
pencernaan. Protein perlu untuk penyembuhan integritas jaringan.
Rendah serat menurunkan respon peristaltik terhadap makanan.
9. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
- Preparat Besi.
R/ : Mencegah/mengobati anemi.
- Vitamin B
12

R/ : Penggantian mengatasi depresi sumsum tulang karena proses
inflamasi lama, Meningkatkan produksi SDM/memperbaiki anemia.
- Asam folat.
R/ : Kehilangan folat umum terjadi akibat penurunan masukan/absopsi.
- Nutrisi parenteral total, terapi IV sesuai indikasi.
R/ : Program ini mengistirahatkan GI sementara memberikan nutrisi
penting.

5. Nyeri b/d Hiperperistaltik,diare lama, iritasi kulit/jaringan, ekskoriasi fisura
perirektal ditandai dengan :
- Laporan nyeri abdomen kolik/kram/nyeri menyebar.
- Perilaku distraksi, gelisah.
- Ekspresi wajah meringis
- Perhatian pada diri sendiri.
Tujuan :
- Klien akan melaporkan nyeri hialng/terkontrol.
- Klien akan menampakkan perilaku rileks dan mampu tidur/istirahat dengan
tepat.
Intervensi :
1. Dorong klien untuk melaporkan nyeri yang dialami.
R/ : Mencoba untuk mentoleransi nyeri daripada meminta analgesik.
2. Observasi laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas
(skala 0 10), selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
R/ : Nyeri sebelum defakasi sering terjadi dengan tiba-tiba dimana dapat
berat dan terus menerus. Perubahan pada karakterisik nyeri dapat
menunjukkan penyebaran penyakit/terjadinya komplikasi.
3. Amati adanya petunjuk nonverbal , selidiki perbedaan petunjuk verbal dan
nonverbal.
R/ : Bahasa tubuh/petunjuk nonverbal dapat secara psikologis dan
fisiologis dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk untuk
mengidentifikasi luas/beratnya masalah.
4. Kaji ulang faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya/menghilangnya
nyeri.
R/ : Dapat menunjukkan dengan tepat pencetus atau faktor pemberat atau
mengidentifikasi terjadinya komplikasi.
5. Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung, ubah posisi dan aktifitas
senggang.
R/ : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan
meningkatkan kemampuan koping.
6. Observasi/catat adanya distensi abdomen dan TTV.
R/ : Dapat menunjukkan terjadinya obstruksi usus karena inflamasi, edema
dan jaringan parut.
7. Kolaborasi dengan timgizi/ahli diet dalam melakukan modifikasi diet dengan
memberikan cairan dan meningkatkan makanan padat sesuai toleransi.
R/ : Istirahat usus penuh dapat menurunkan nyeri/kram.
8. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
- Analgesik
R/ : Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk
memudahkan istirahat secara adekuat dan prose penyembuhan.
- Antikolinergik
R/ : Menghilangkan spasme saluran GI dan berlanjutnya nyeri kolik.
- Anodin supp.
Merilekskan otot rectal dan menurunkan nyeri spasme.

6. Cemas b/d Faktor psikologi/rangsang simpatis (proses inflamasi), ancaman
konsep diri, ancaman terhadap perubahan/perubahan status kesehatan dan
status sosioekonomi ditandai dengan :

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
- Eksaserbasi penyakit tahap akut.
- Peningkatan ketegangan, distress, ketakutan.
- Menunjukkan masalah tentang perubahan hidup.
- Perhatian pada diri sendiri.
Tujuan :
- Klien akan menampakkan perilaku rileks dan melaporkan penurunan
kecemasan sampai tingkat mudah ditangani.
- Klien akan menyatakan kesadaran perasaan kecemasan dan cara sehat
menerimanya.
Intervensi :
1. Amati petunjuk perilaku mis : gelisah, peka rangsang, menolak, kurang
kontak mata, perilaku menarik perhatian.
R/ : Indikator derajat kecemasan/stress. Hal ini dap terjadi akibat gejala fisik
kondisi juga reaksi lain.
2. Dorong klien untuk mengeksplorasi perasaan dan berikan umpan balik.
R/ : Membuat hubungan teraupetik. Membantu klien/orang terdekat dalam
mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress. Klien dengan diare
berat/konstipasi dapat ragu-ragu untuk meminta bantuan karena takut
terhadap staf.
3. Berikan informasi nyata/akurat tentang apa yang dilakukan mis : tirah baring,
pembatasan masukan peroral dan posedur.
R/ : Keterlibatan klien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa
kontrol dan membantu menurunkan kecemasan.
4. Berikan lingkungan tenang dan istitahat.
R/ : Memindahkan klien dari stress luar meningkatkan relaksasi dan
membantu menurunkan kecemasan.
5. Dorong klien/orang terdekat untuk menyatakan perhatian, perilaku perhatian.
R/ : Tindakan dukungan dapat membantu klien merasa stress berkurang,
memungkinkan energi dapat ditujukan pada penyembuhan/perbaikan.

6. Bantu klien untuk mengidentifikasi/memerlukan perilaku koping yang
digunakan pada masa lalu.
R/ : Perilaku yang berhasil dapat dikuatkan pada penerimaan masalah/stress
saat ini, meningktkan rasa kontrol diri klien.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
7. Bantu klien belajar mekanisme koping baru mis : teknik mengatasi stress,
keterampilan organisasi.
R/ : Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam
menurunkan stress dan kecemasan, meningkatkan kontrol penyakit.
8. Kolaborai dengan tim medis dalam pemberian sedatif sesuai indikasi.
R/ : Dapat digunakan untuk menurunkan ansietas dan memudahkan
istirahat.
7. Kurang pengetahun (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis dan
kebutuhan pengobatan b/d kesalahaninterpretasi informasi, kurang
mengingat dan tidak mengenal sumber informai ditandai dengan :
- Pertanyaan, meminta informasi, pernyataan salah konsep.
- Tidak akurat mengikuti instruksi.
- Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah.
Tujuan :
- Klien akan menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan pengobatan.
- Klien akan dapat mengidentifikasi situasi stress dan tindakan khusus untuk
menerimanya.
- Klien akan berpartisipai dalam program pengobatan.
- Klien akan melakukan perubahan pola hidup tertentu.
Intervensi :
1. Kaji persepsi klien tentang proses penyakit.
R/ : Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadran kebutuhan
belajar individu.

2. Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang
menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor penyebab.
Dorong klien untuk mengajukan pertanyaan.
R/ : Pengetahuan dasar yang akurat memberikan klien kesempatan untuk
membuat keputusan informasi/pilihan tentang masa depan dan kontrol
penyakit kronis. Meskipun kebanyakan klien tahu tentang proses
penyakitnya sendiri, merek dapat mengalami informai yang tertinggal
atau salah konsep.
3. Jelaskan tentang obat yang diberikan, tujuan, frekuensi, dosis dan
kemungkinan efek samping.

Profesi NERS
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
R/ : Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam
program.
4. Tekankan pentingnya perawatan kulit mis : teknik cuci tangan dengan baik
dan perawatan perineal yang baik.
R/ : Menurunkan penyebran bakteri dan risiko iritasi kulit/kerusakan,
infeksi.
5. Anjurkan menghentikan merokok.
R/ : Dapat meningkatkan motalitas usus, meningkatkan gejala.

Anda mungkin juga menyukai