Anda di halaman 1dari 36

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

PERAWATAN PEMASANGAN TEMPORARY PACE MAKER (TPM)


RSUP Dr. HASAN
SADIKIN
BANDUNG

NOMOR
HS.15.B09.C.2.0001
TANGGAL
TERBIT
07-03-2007

REVISI
01

HALAMAN
1/2
DITETAPKAN OLEH :
DIREKTUR
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

PROSEDUR
TETAP

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929
1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

Perawatan pemasangan Temporary Pace Maker (TPM) adalah perawatan


yang dilakukan setelah pasien dilakukan pemasangan alat TPM pada vena
femoralis
1. Mempertahankan kepatenan posisi alat
2. Mencegah terjadinya infeksi
Setiap perawat diharapkan dapat memeberikan asuhan keperawatan sesuai
dengan standar
Persiapan alat : - instrument balutan
- kassa steril
- plester
- gunting plester
- betadine
- sarung tangan
- bengkok
Menjelaskan prosedur kepada pasien
Menutup sampiran
Mencuci tangan
Memakai sarung tangan
Atur posisi pasien terlentang, perawat berdiri di sebelah kanan atau
yang dekat dengan tempat terpasangnya alat TPM
Membuka balutan lama yang sudah terpasang pada pasien
Setelah balutan terbuka, bersihkan area penusukan dengan kassa
betadine
Tutup area penusukan dengan kassa steril

Cek kepatenan sambungan antara kebel elektroda dengan kabel


generator TPM
Lakukan fiksasi yang kuat dengan plester pada sheat yang terpasang
Pertahankan posisi kabel elektroda dan hindari membelit kaki pasien
Cek mode TPM yang terpasang pada generator (HR, output,
sensivitas)
Jelaskan pada pasien bahwa prosedur sudah selasai dan pertahankan
posisi kaki yang terpasang alat TPM tetap lurus
Bereskan alat-alat
Buka sarung tangan
Mencuci tangan
Ruang CICU
Ruang HCCU
Ruang Angiografi

5. UNIT TERKAIT

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG

TINDAKAN PENCABUTAN SHEAT KATETER


NOMOR
REVISI
HALAMAN
HS.15.B09.C.2.0002
01
1/2
TANGGAL
DITETAPKAN OLEH :
TERBIT
DIREKTUR
07-03-2007
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

PROSEDUR
TETAP
Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc
NIP : 140 086 929
1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

Pencabutan sheat kateter adalah tindakan yang dilakukan setelah pasien


dilakukan kateterisasi jantung yang masih terpasang sheat pada arteri
femoralis
Mencegah terjadinya perdarahan dan infeksi
Setiap perawat dapat melakukan tindakan perawatan sesuai dengan standar
Persiapan alat : - instrument balutan
- kassa steril
- betadine
- sarung tangan
- bengkok
Menjelaskan prosedur kepada pasien
Menutup sampiran
Mencuci tangan
Memakai sarung tangan
Atur posisi pasien terlentang, perawat berdiri di sebelah kanan atau
yang dekat dengan tempat terpasangnya alat
Membuka balutan lama yang sudah terpasang pada pasien
Setelah balutan terbuka, lakukan penarikan sheat secara pelanpelan dan tekan arteri femoralis pada bagian proksimal 1 cm dari
tempat insersi, aunjurkan pasien untuk menarik nafas dalam
Lakukan penekanan pada arteri femoralis selama 15-30 menit
dengan tangan yang dominan
Observasi adanya perdarahan
Tutup area penusukan dengan kassa betadine steril

Lakukan fiksasi yang kuat dengan plester pada arteri femoralis


Pasang bantal pasir selama 6 jam
Jelaskan pada pasien bahwa prosedur sudah selasai dan
pertahankan posisi kaki yang terpasang bantal pasir tetap lurus
Bereskan alat-alat

TINDAKAN
PEREKAMAN
PENGHISAPAN
EKG
LENDIR (SUCTION)
NOMOR
REVISI
NOMOR
REVISI HALAMAN HALAMAN
HS.15.B09.C.2.
HS.15.B09.C.2.000
01
01
1/2
1/2
0003
4
TANGGAL
DITETAPKAN OLEH
DITETAPKAN
:
OLEH :
RSUP Dr. HASAN
RSUP Dr.TANGGAL
HASAN
TERBIT
DIREKTUR
DIREKTUR
SADIKIN
SADIKIN
TERBIT
07-03-2007
RSUP
Dr.
HASAN
RSUP
SADIKIN
Dr.
HASAN
BANDUNG
SADIKIN BANDUNG
Buka sarung tangan
BANDUNG BANDUNG
07-03-2007
Mencuci tangan
5. UNIT TERKAIT Ruang Angiografi
PROSEDUR
Ruang HCCU
PROSEDUR
TETAP
TETAP
Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc
Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc
NIP : 140 086 929
NIP : 140 086 929
1.PENGERTIAN

Perekaman EKG adalah tindakan yang dilakukan untuk mengetahui


gambaran listrik jantung melalui elektroda yang ditempelkan pada dada
2. TUJUAN
Mengetahui gambaran listrik jantung
1.PENGERTIAN
Pengisapan lender (suction) adalah tindakan keperawatan yang dilakukan
3. KEBIJAKAN
pada
klien
yang tidak
4. PROSEDUR
Persiapan
alat
: - mesin
EKG mampu mengeluarkan lender atau sekret secara
mandiri dengan
- kassa menggunakan penghisap
2. TUJUAN
1. membersihkan
- jelly jalan nafas
2. memenuhi
kebutuhan oksigenasi
- alkohol
3. KEBIJAKAN
- tissue
4. PROSEDUR
Persiapan
: - alat penghisap lender dengan botol berisi larutan
- sarung alat
tangan
- bengkok
desinfektan
Menjelaskan prosedur kepada -pasien
kateter penghisap lender steril (canula suction)
- pinset steril
Menutup sampiran
- kom berisi larutan aquades/nacl 0,9 % dan
Mencuci tangan
larutan desinfektan
Memakai sarung tangan
- sarungberdiri
tangandisteril
Atur posisi pasien terlentang, perawat
sebelah kanan
kassa
steril
Bersihkan area yang akan ditempelkan elektroda dengan kassa
- kertas tissue
alkohol
- stetoskop
Siapkan mesin EKG dalam kondisi on,
Menjelaskan prosedur kepada pasien
Tentukan lokasi penempatan elektroda
Menutup sampiran
- elektroda extremitas
Mencuci tangan
tangan kanan
: warna merah
Atur
tangan
kiiri posisi pasien
: warnaterlentang
kuning dengan kepala miring ke arah
perawat
kaki kanan
: warna hitam

tangan
kaki kiriGunakan sarung
: warna
hijausteril
Hubungkan kateter penghisap dengan slang alat penghisap
Mesin
penghisap dihidupkan
- elektroda
prekordial
penghisapan
lender dengan memasukkan kateter
V1 : Lakukan
ICS empat
sternal kanan
V2 : penghisap
ICS empatkesternal
dalamkiri
kom nacl 0,9 % untuk mempertahankan
V3 : kesterilan
antara V2 dan V4
V4 : Masukkan
ICS lima midclavikula
keteter penghisap dalam keadaan tidak mengisap
V5 : Gunakan
sejajar V4
anterior
axilladengan tekanan 110 150 mmHg untuk
alat
penghisap
V6 : dewasa,
sejajar V5
95 mid
110axilla
mmHg untuk anak-anak, dan 50 95 mmHg
V7 : untuk
sejajarbayi
V6 posterior axial
V8 : Tarik
sejajar
V7 midscapula
dengan
memutar kateter penghisap tidak lebih dari 15 detik
V9 : Bilas
sejajar
V8
3
jari
dariaquades
columnaatau
vertebra
kateter dengan
NaCl ke
0,9kiri
%
Tentukan kalibrasi,
sensitivitas,
dan
kecepatan
mesin
EKG
Lakukan pengisapan antara pengisapan pertama dengan
Lakukan perekaman
dengan
menekan
berikutnya,
minta
pasientombol
untuk Run
bernafas dalam dan batuk, apabila
Tekan tombol stop
bila
perekaman
sudah
selesai
pasien mengalami distress pernafasan, biarkan istirahat 20 30
Observasi hasildetik
rekaman
sebelum melakukan pengisapan berikutnya

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG

TINDAKAN PEMBERIAN CAIRAN MELALUI INFUS


NOMOR
REVISI
HALAMAN
HS.15.B09.C.
01
1/2
2.0005
TANGGAL
DITETAPKAN OLEH :
TERBIT
DIREKTUR
07-03-2007
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

PROSEDUR TETAP
Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc
NIP : 140 086 929
Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc
NIP : 140 086 929

1.PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG
PROSEDUR

Pemberian cairan infuse adalah tindakan keperawatan yang dilakukan


dengan memasukkan intravena kateter ke dalam vena (vena sefalika,
basilica, mediana kubiti dan vena safena di tungkai)
1. Infus pengobatan dan pemberian nutrisi
2. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit
Persiapan alat : - standar infuse
- kateter intravena dengan ukuran yang sesuai
- set infus
- cairan yang sesuai program medis
- sarung tangan steril
- kassa steril
- pengalas
- torniket
- kapas alcohol
- plester
- gunting
- betadine
Menjelaskan prosedur kepada pasien
Menutup sampiran
Mencuci tangan
Atur posisi pasien
Hubungkan cairan dan infuse set dengan menusukkan ke bagian
karet atau akses slang ke botol
Isi cairan ke dalam set infuse dengan menekankan ruang tetesan
hinggaTNDAKAN
terisi sebagian
dan buka klemPERKEMIHAN
slang hingga cairan
KATETERISASI
memenuhi slang dan udara
slang keluar
NOMOR
REVISI
HALAMAN

Letakkan
pengalas
dibawah
tempat
(vena)
yang
akan
HS.15.B09.2.0003
01
1 / 2dilakukan
penginfusan
Lakukan pembendungan dengan torniket 10 12 cm di atas
tempat penusukan dan anjurkan pasien untuk menggenggam
dengan gerakan sirkuler (bila sadar)
TANGGAL
Gunakan sarung tangan sterilDITETAPKAN OLEH :
Desinfeksi daerah yang akan di tusuk dengan kapas alkohol
Lakukan penusukan pada vena dengan meletakkan ibu jari di
bagian bawah vena dan posisi jarum mengarah keatas
Perhatikan keluarnya darah melalui jarum. Apabila saat
penusukan terjadi pengeluaran darah melalui jarum maka tarik
keluar bagian dalam jarum sambil meneruskan tusukan ke dalam

TETAP

TERBIT
07-03-2007

DIREKTUR
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929

1. PENGERTIAN
2. TUJUAN

3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

Kateterisasi perkemihan adalah tindakan memasukkan slang kateter karet


atau plastic melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih
1. Menghilangkan ketidaknyamanan karena distensi kandung kemih,
mengatasi retensi perkemihan, obstruksi aliran urine.
2. Mendapatkan urine steril untuk specimen
3. Penatalaksanaan pasien yang dirawat karena trauma medulla spinalis,
gangguan neuromuskuler, dan pasca operasi

Persiapan alat : - kateter steril sesuai ukuran


- kassa dan duk steril
- plester
- gunting plester
- betadine
- sarung tangan steril
- bengkok
- minyak pelumas/jelli
- spuit yang berisi cairan
- pinset anatomis steril
- urine bag
Menjelaskan prosedur kepada pasien
Menutup sampiran
Mencuci tangan
Pasang perlak
Memakai sarung tangan steril
Pasang duk steril
Tangan kiri memegang penis lalu prepusium ditarik sedikit ke
pangkalnya dan bersihkan dengan kassa betadine
Kateter diberi minyak pelumas atau jelli pada ujungnya (kurang
lebih 12,5 17,5 cm untuk laki-laki, 2,5 5 cm untuk wanita) lalu
masukkan perlahan (17 20 cm untuk laki-laki dan 2,5 5 cm

untuk wanita) dan anjurkan pasien untuk tarik nafas dalam, amati
adanya urine keluar
Setelah kateter masuk, isi balon dengan cairan aquades atau
sejenisnya untuk kateter menetap dan bila intermiten tarik kembali
sambil pasien diminta tarik nafas dalam.
Sambungkan kateter dengan urine bag dan fiksasi kearah atas
paha/abdomen
Jelaskan pada pasien bahwa prosedur sudah selesai
Bereskan alat-alat
Buka sarung tangan
Mencuci tangan
Catat prosedur dan respon pasien

5. UNIT TERKAIT

LOGO RS

PELAYANAN KEPERAWATAN
NOMOR
REVISI
HALAMAN
HS.15.B09.2.0003
01
1/2
TANGGAL
DITETAPKAN OLEH :
TERBIT
DIREKTUR
07-03-2007
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
PEMASANGAN
NASOGANSTIK
TUBE (NGT)

1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929

Pemasangan nasogastrik tube (NGT) adalah tindakan yang dilakukan


dengan memasukkan pipa lambung/NGT pada pasien yang tidak
mampu memenuhi kebutuhan nutrisi melalui oral
Memenuhi kebutuhan nurtisi
Perawat mampu melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan
standar

Persiapan alat : - pipa lambung/NGT


- pengalas
- plester
- gunting plester
- spuit 50 cc
- sarung tangan
- bengkok
- makanan dalam bentuk cair
- air matang
- obat-obatan kalau ada
- stetoskop
- klem
- jelli
Menjelaskan prosedur kepada pasien
Menutup sampiran
Mencuci tangan
Memakai sarung tangan
Atur posisi pasien semi fowler
Bersihkan daerah hidung dan pasangkan pengalas di daerah
dada
Letakkan bengkok di dekat pasien
Tentukan letak pipa lambung/ NGT dengan cara mengukur
panjang pipa dari epigastrium sampai hidung kemudian
dibengkokkan ke telinga dan beri tanda batasnya
Berikan jelli atau pelican pada ujung pipa dan klem pangkal

5. UNIT TERKAIT

pipa tersebut lalu masukkan melalui hidung secara perlahanlahan sambil pasien dianjurkan untuk menelan
Tentukan apakah pipa tersebut benar-benar sudah masuk ke
lambung, dengan cara : masukkan ujung selang yang diklem
kedalam gelas yang berisi air (klem dibuka) dan perhatikan bila
ada gelembung, pipa masuk ke paru-paru dan jika tidak ada
gelembung pipa tersebut masuk ke lambung atau masukkan
udara dengan spuit ke dalam lambung melalui pipa tersebut dan
dengarkan dengan stetoskop, apabila dilambung terdengar
bunyi berarti pipa tersebut sudah masuk setelah itu keluarkan
udara yang ada didalam sebanyak jumlah yang dimasukkan.
Setelah yakin pipa di klem atau ditutup/lipat kembali
Lakukan fiksasi yang kuat dengan plester pada hidung
Jelaskan pada pasien bahwa prosedur sudah selesai dan
pertahankan kepatenan pipa
Bereskan alat-alat
Buka sarung tangan
Mencuci tangan
Ruang Intensif
Ruang Intermediate
Ruang IPD
Ruang IGD

LOGO RS
NOMOR
HS.15.B09.2.0003
TANGGAL
TERBIT

PELAYANAN MEDIS
REVISI
HALAMAN
01
1/2
DITETAPKAN OLEH :
DIREKTUR

07-03-2007

RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
PEMBERIAN
ENTERAL
NUTRISI

1. PENGERTIAN

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira,


dr.SpA(K).MSc
NIP : 140 086 929

2. TUJUAN

Pemberian enteral nutrisi adalah tindakan pemberian makanan


melalui pipa lambung/ NGT pada pasien yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan nutrisi melalui oral
Memenuhi kebutuhan nurtisi

3. KEBIJAKAN

Perawat mampu melaksanakan tindakan perawatan sesuai standar

4. PROSEDUR

Persiapan alat : -

Menjelaskan prosedur kepada pasien


Mencuci tangan
Memakai sarung tangan
Atur posisi pasien semi fowler
Pasangkan pengalas di daerah dada
Letakkan bengkok di dekat pasien
Periksa dahulu sisa makanan di lambung dengan
menggunakan spuit yang diaspirasikan ke pipa lambung
Buka klem/penutup
Lakukan pemberian makan dengan pasang feeding
bag/spuit pada pangkal pipa
Masukkan air matang kurang lebih 20 cc pada awal dengan
cara dituangkan lewat pinggirnya

feeding bag
pengalas
spuit 50 cc
bengkok
makanan dalam bentuk cair
air matang
obat-obatan kalau ada
stetoskop
klem

Berikan makanan dalam bentuk cair yang tersedia.


Kemudian bila ada obat-obatan masukkan dan beri minum
lalu diklem
Catat hasilnya atau respon pasien selama pemberian
makanan
Jelaskan pada pasien bahwa prosedur sudah selesai dan
pertahankan kepatenan pipa
Bereskan alat-alat
Buka sarung tangan
Mencuci tangan
Ruang Intensif
Ruang Intermediate
Ruang IPD
Ruang IGD

5. UNIT TERKAIT

LOGO RS
NOMOR
HS.15.B09.2.0003

PELAYANAN MEDIS
REVISI
01

HALAMAN
1/2

TANGGAL
TERBIT
07-03-2007

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
PEMBERIAN
NUTRISI
PARENTERAL
1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

DITETAPKAN OLEH :
DIREKTUR
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929

Pemasangan nasogastrik tube (NGT) adalah tindakan yang dilakukan


dengan memasukkan pipa lambung/NGT pada pasien yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan nutrisi melalui oral
Memenuhi kebutuhan nurtisi
Perawat mampu melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan
standar

Persiapan alat : - pipa lambung/NGT


- pengalas
- plester
- gunting plester
- spuit 50 cc
- sarung tangan
- bengkok
- makanan dalam bentuk cair
- air matang
- obat-obatan kalau ada
- stetoskop
- klem
- jelli
Menjelaskan prosedur kepada pasien
Menutup sampiran
Mencuci tangan
Memakai sarung tangan
Atur posisi pasien semi fowler
Bersihkan daerah hidung dan pasangkan pengalas di daerah dada
Letakkan bengkok di dekat pasien
Tentukan letak pipa lambung/ NGT dengan cara mengukur panjang
pipa dari epigastrium sampai hidung kemudian dibengkokkan ke
telinga dan beri tanda batasnya
Berikan jelli atau pelican pada ujung pipa dan klem pangkal pipa

5. UNIT TERKAIT

tersebut lalu masukkan melalui hidung secara perlahan-lahan


sambil pasien dianjurkan untuk menelan
Tentukan apakah pipa tersebut benar-benar sudah masuk ke
lambung, dengan cara : masukkan ujung selang yang diklem
kedalam gelas yang berisi air (klem dibuka) dan perhatikan bila ada
gelembung, pipa masuk ke paru-paru dan jika tidak ada gelembung
pipa tersebut masuk ke lambung atau masukkan udara dengan spuit
ke dalam lambung melalui pipa tersebut dan dengarkan dengan
stetoskop, apabila dilambung terdengar bunyi berarti pipa tersebut
sudah masuk setelah itu keluarkan udara yang ada didalam
sebanyak jumlah yang dimasukkan. Setelah yakin pipa di klem atau
ditutup/lipat kembali
Lakukan fiksasi yang kuat dengan plester pada hidung
Jelaskan pada pasien bahwa prosedur sudah selesai dan
pertahankan kepatenan pipa
Bereskan alat-alat
Buka sarung tangan
Mencuci tangan
Ruang Intensif
Ruang intermediate
Ruang IPD
Ruang IGD

PELAYANAN KEPERAWATAN

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
(SOP)
PENERIMAAN
PASIEN BARU
1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

NOMOR
HS.15.B09.2.0003
TANGGAL
TERBIT
07-03-2007

REVISI
01

HALAMAN
1/2
DITETAPKAN OLEH :
DIREKTUR
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929
Penerimaan pasien baru adalah penerimaan seseorang yang pertamakalinya
dinyatakan oleh tim medis memerlukan perawatan di ruang cicu RSUP Dr.
Hasan Sadikin
Sebagai acuan dalam melaksanakan langkah-langkah dalam memberikan
asuhan keperawatan
Perawat dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan standar
Persiapan alat : - menyiapkan bed
- bedside monitor
- elektroda
- mesin EKG
- infuse/syring pump
- sarung tangan
Perawat memberikan ucapan salam pada pasien dan keluarganya
Perawat menerima informasi tentang identitas, status dan keadaan
pasien dari perawat yang mengantar
Memakai sarung tangan
Perawat memindahkan pasien ke tempat tidur ruangan dan
membawa ke kamar yang telah disediakan
Atur posisi pasien terlentang, semifowler atau fowler tergantung
kondisi pasien perawat berdiri di sebelah kanan
Menutup sampiran
Perawat mengkaji tentang kondisi pasien dan memberikan intervensi
sesuai kebutuhan
Perawat memberikan orientasi kepada pasien dan keluarganya
tentang fasilitas yang disiapkan dan peraturan ruang CICU RSUP
Dr. Hasan Sadikin
Perawat melakukan rekaman EKG 12 lead atau 18 lead sesuai
kebutuhan
Memasang bedside monitoring, tensimeter, infuse atau syring pump
sesuai kebutuhan
Perawat melengkapi pengkajian keperawatan serta

5. UNIT
TERKAIT

mendokumentasikan pada format yang disediakan dalam buku


rekam medik dan lembar observasi ruang CICU
Perawat memberitahu tentang adanya pasien baru kepada dokter
yang terkait, bagian Gizi dan Depo Farmasi
Petawat membuat rencana keperawatan sesuai hasil pengkajian
Perawat melaksanakan tindakan keperawatan dan melakukan fungsi
kolaboratif dengan tim medis dan non medis
Perawat mencatat dan mengevaluasi semua tindakan keperawatan
yang telah dilaksanakan
Perawat menginformasikan kepada semua perawat tentang adanya
pasien baru
Perawat mencuci tangan

Ruang HCCU

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
(SOP)
ASUHAN
KEPERAWATAN
PASIEN
DENGAN AKUT
MIOKARD
INFARK
1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

PELAYANAN KEPERAWATAN
NOMOR
NOMOR
HS.15.B09.2.0003
HS.15.B09.2.0003
TANGGAL
TERBIT
07-03-2007

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
AKUT MIOKARD INFARK

Akut miokard infark adalah kerusakan otot jantung (miokard) secara tibatiba yang ditandai dengan adanya sakit dada yang khas. Dan ini merupakan
kelanjutan dari angina pectoris yang tidak teratasi
Sebagai acuan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
akut miokard infark di ruang CICU
Perawat dapat melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan standar
4.1 Pengkajian
4.1.1 Pemeriksaan fisik
4.1.1.1 Keadaan umum :pasien mengeluh nyeri dada yang tidak
hilang dengan istirahat, lama nyeri >30 menit, nyeri hilang
timbul dan disertai keringat dingin dan mual muntah,
gelisah,dan lemas tidak berdaya.
4.1.1.2 pemeriksaan tanda vital :tekanan darah bisa normal atau
menurun,denyut nadi bisa normal atau meningkat
4.1.1.3 sistem pernafasan :pada saat serangan akan tampak nafas
terasa berat seperti tertekan benda berat, ronchi ditemukan
pada infark anterior
4.1.1.4 sistem kardiovaskuler :bunyi jantung biasanya terdengar
redup, S4 biasanya terdengar di daerah apeks dan sternal
kiri
4.1.1.5 sistem pencernaan : umumnya disertai mual dan muntah
4.1.1.6 sistem integument :diafhoresis atau keringat dingin dapat
terjadi karena curah jantung yang menurun
4.1.1.7 sistem perkemihan :penurunan produksi urine dapat terjadi
jika curah jantung menurun, ureum kreatinin dapat
meningkat jika fungsi ginjal menurun akibat curah jantung
menurun
4.1.1.8 aktivitas sehari-hari : adanya kelemahan dan kelelahan,

personal hygiene terganggu


4.1.2 Pemeriksaan penunjang :
- EKG : Bisa ditemukan atau tidak Q patologis, segmen ST bisa
elevasi atau depresi yang disertai T inverted.
- Foto thorax : Pada infark anterior umumnya disertai adanya
edema paru, pembesaran jantungumumnya ditemukan pada
pasien infark yang disebabkan oleh hipertensi heart diseases
(HHD)
- Laboratorium: enzim jantung (CKMB) meningkat lebih dari 2x
normal, Trop T meningkat, LDH1/LDH2 >1. Pemeriksaan lain
profil lipid umumnya meningkat, elektrolit (Na, K, Ca, Mg)
umumnya terganggu, gula darah umumnya ditemukan tinggi
pada pasien infark yang disertai DM
4.2 Analisa Data

Sumbatan arteri koroner


Suplay O2 miokard terhambat
Iskemik
Infark

Kontraktilitas miokard

Edema paru

Syok cardiogenic

Gangguan metabolik

Aritmia

4.3 Diagnosa Perawatan


4.3.1 Gangguan rasa nyaman : nyeri. b.d. penurunana supplai oksigen
ke Miokard akibat oklusi ateri koroner ( kiri, LAD, LCX atau
arteri koroner kanan )
4.3.2 Penurunan cardiac output (CO) b.d. penurunan kontraktilitas,
peningkatan afterlood, penurunan prelood, peningkatan atau
penurunan frekwensi jantung.
4.3.3 Gangguan perfusi miokard b.d penurunan suplai oksigen atau
peningkatan kebutuhan oksigen miokard
4.3.4 Intoleransi aktivitas b.d disfungsi jantung-paru
4.3.5 Kurang pengetahuan b.d penyakit atau dampak masa depan
4.3.6 Ansietas; stress b.d takut terhadap penyakit, kematian dan
lingkungan perawatan kritis

4.4 Rencana Keperawatan


4.4.1 Kaji dan evaluasi rasa nyeri
- Berikan obat-obat anti angina sesuai pesanan
- Evaluasi skala nyeri
- Pertahankan tirah baring (selama 24 jam bebas nyeri)
- Pertahankan saturasi oksigen >95%
- Kolaborasi diet lunak (DJ I-DJ II)
- Rekam EKG 12 lead serial (24 jam atau ekstra EKG bila nyeri)
4.4.2 Penurunan kontraktilitas miokard
- Observasi tingkat kesadaran, TTV, adanya
dispnea,gallop,edema, ronchi.
- Kolaborasi obat-obat vasodilator; ACE inhibitor, anti aritmia,
vasopresor dan inotropik
- Pertahankan diuresis -1 cc/kgBB/jam
- Pertahankan stroke volume 60-100 ml, CO 4-8L/mnt, CI 2,5-4
L/mnt/m2
- Koreksi kelainan elektrolit yang sering mengakibatkan VES
- Kolaborasi diuretic, cairan, vasodilator, vasopresor dan inotropik
- Minimalisasi nyeri, asidosis dan disritmia
Penurunan preload
- Observasi tingkat kesadaran, TTV, adanya
dispnea,gallop,edema, ronchi.
- Pertahankan iv line adekuat
- Pertahankan nilai CVP 3-8 cmH2O atau 2-6 mmHg, pulmonal
15-25/8-15 mmHg
- Rehidrasi bila nilai CVP kurang dari normal
- Observasi I-O per jam
- Auskultasi bunyi jantung terhadap tanda-tanda stenosis mitralis
Peningkatan afterload
- Observasi tingkat kesadaran, TTV, adanya
dispnea,gallop,edema, ronchi.
- Kolaborasi obat-obat vasodilator, ACE inhibitor
- Pertahankan AGD normo PH
- Pertahankan saturasi oksigen > 95% bila tidak terdapat PPOK
- Auskultasi bunyi jantung terhadap tanda-tanda stenosis aorta
- Pertahankan tekanan MAP 70-100 mmHg
Penurunan/peningkatan frekuensi jantung atau adanya aritmia
- Observasi tingkat kesadaran, TTV, adanya
dispnea,gallop,edema, ronchi.
- Lakukan vagal maneuver bila terdapat kelainan irama SVT dan
AF RVR
- Kolaborasi anti aritmia
- Kardioversi bila VT dengan nadi (+), AF RVR

- Defibrilasi bila VF atau VT tanpa nadi


- Observasi irama jantung
- Koreksi kemungkinan gangguan elektrolit
4.4.3 Observasi TTV (Tensi, nadi dan irama jantung)
- Pertahankan tirah baring selama 24 jam bebas nyeri
- Pertahankan saturasi oksigen >95% untuk meningkatkan suplai
oksigen miokard
- Kolaborasi obat-obatan (ISDN, morfin, Trombolitik, aspirin,
heparin, beta bloker)
- Kolaborasi kateterisasi jantung
- Informasikan kepada pasien untuk tidak melakukan valsalva
maneuver
- Observasi tanda-tanda penurunan curah jantung
4.4.4.- Observasi TTV sebelum, disaat, dan setelah melakukan aktivitas
- Bantu ADL untuk hal-hal yang tidak mampu dilakukan pasien
- Motivasi ROM ketika pasien belum memungkinkan mobilisasi
- Motivasi untuk mobilisasi (duduk atau makan sendiri) setelah 24
jam bebas nyeri, berdiri, jalan, toilet training pada hari ke-3 bila
TTV dan hemodinamik adekuat
- Ajarkan pasien untuk menghitung nadi sendiri ketika
beraktivitas
4.4.5.- Bina hubungan terapeutik
- Libatkan keluarga dalam perawatan atau penyuluhan
- Mulai pendidikan rehabilitasi jantung, faktor resiko, patopis
sederhana, obat-obatan, diet dan manajemen stress
- Evaluasi pemahaman pasien, dokumentasikan penyuluhan dan
respon pada status
4.4.6.- Modifikasi lingkungan yang mendorong diskusi terbuka
- Jelaskan lingkungan, prosedur dan peralatan di unit CICU
- Kaji proses berduka yang normal
- Beri sedative sesuai indikasi
- Bina komunikasi terbuka
- Identifikasi kemungkinan sumber-sumber di CICU untuk
mendukung pasien atau keluarga
4.5. Tindakan Keperawatan
Tindakan Keperawatan disesuaikan dengan Rencana Keperawatan.
4.6. Evaluasi (Kriteria Hasil)
5. UNIT
TERKAIT
Penulis

Ruang HCCU
Krisna Sundana

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SYOK


KARDIOGENIK
RSUP Dr. HASAN
SADIKIN
BANDUNG

NOMOR
HS.15.B09.C.2.0003

REVISI
01

HALAMAN
1/2
DITETAPKAN OLEH :
DIREKTUR
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

PROSEDUR
TETAP

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929
1. PENGERTIAN

2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

Syok kardiogenik adalah keadaan syok yang di sebabkan karena daya


pompa jantung yang tidak efektif untuk mempertahankan perfusi jaringan
yang adekuat terutama oleh infark miocard,stenosisi aorta,congesti heart
failure berat,aritmia,cardiac tamponade,emboli paru massive
Sebagai pedoman dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
dengan syok kardiogenik
Perawat dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan standar
4.1 Pengkajian
4.1.1 Anamnesa
Keluhan utama
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu :
Apakah pasien pernah menderita AMI, gangguan katup aorta, CHF,
emboli paru, hipertensi, DM, perokok
4.1.2 Pemeriksaan fisik
4.1.2.1 keadaan umum :pasien gelisah,bingung,mungkin tidak sadar
4.1.2.2 pemeriksaan tanda vital :penurunan tekanan darah sistolik
<80 mmHg,peningkatan denyut nadi >100x/menit
4.1.2.3 sistem pernafasan :sesak nafas,frekuensi nafas cepat dan dalam
(asidosis), ronchi, wheezing, dispnue
4.1.2.4 sistem kardiovaskuler :adanya sianosis,capillary refill
lebih dari tiga detik,tachycardia,cardiomegali, bunyi jantung
terdengar S3 atau S4, saturasi oksigen menurun
4.1.2.5 sistem pencernaan : mucosa mulut daerah bibir sianosis
4.1.2.6 sistem integument :kulit berwarna kebiruan di ujung jari
ekstrimitas atas dan bawa,dingin dan lembab,oedema
pada ekstrimitas bawah, diaporesis
4.1.2.7 sistem perkemihan :oliguri,nokturia,urine kurang dari 30 ml/jam
4.1.2.8 aktivitas sehari-hari :pasien sulit tidur,adanya kelemahan

dan kelelahan,personal hygiene terganggu


4.1.2 Pemeriksaan penunjang :
- EKG : perubahan EKG ST elevasi, ST depresi, Q pathologis, atau
berupa aritmia.
- Foto thorax : pembesaran jantung, efusi pericard, odema paru, cor
membesar ke lateral kiri dengan apex tertanam pada diafraghma,
pinggang jantung mendatar.
- Echocardiografi : adanya pembesaran ruang jantung,penurunan
ejeksi fraksi,kelainan katup,kelainan struktur,effuse pericard
- Catheterisasi jantung : adanya sumbatan coroner
- Laboratorium : AGD,ureum,kreatinin,elektrolit,SGOT, SGPT,
CKMB mungkin meningkat
4.2 Analisa Data
NO
1

DATA

PENYEBAB

DS :
- Pasienmengeluh
cepat lelah, sesak
- kesadaran
menurun,
perubahan EKG,
cianosis, kulit
dingin dan
lembab,
diaporesis, gallop
S3 atau S4

Penurunan fungsi LV

DS :
Mengeluh sesak
DO :
- dispnue
- RR meningkat
- cianosis
- wheezing
- ronchi

Cardiac output menurun

MASALA
H
Penurunan
cardiac
output

Kontraktilitas miokard menurun

BP menurun
Cardiac output menurun

Perfusi jaringan menurun


Pembentukan thrombus, edema
paru
Akumulasi cairan di paru
Difusi gas terganggu

Gangguan
pertukaran
gas

PaO2 menurun

PaCO2

As.metabolic
Penurunan CO

as. respiratorik

DS :
- sesak
DO :
- pasien tampak
Tidak seimbang supply dan
lemah,
demand
hipotensi,sianosis,
diaporesis,
Ketidakmampuan tubuh
menyediakan energi menurun

Intoleransi
aktivitas

Intoleran aktivitas
4

DS : DO :
Tampak gelisah,
bingung

Kegawatan penyakit

Gangguan
rasa aman
cemas

Stress psikologi
Takut ancaman kematian
Gangguan rasa aman : cemas

4.3 Diagnosa Perawatan


1 Penurunan curah jantung b.d disfungsi ventrikel
2 Penurunan perfusi jaringan b.d menurunnya curah
jantung,hipoksemia jaringan,asidosis
3. Gangguan pertukaran gas b.d congesti paru,hipertensi
pulmonal,penurunan fungsi perifer
4 Intoleransi terhadap aktivitas b.d penurunan curah
jantung,ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan otot
rangka,congesti pulmonal yang menimbulkan hipoksemia dan sesak
serta nutrisi buruk selama sakit

4.4 Rencana Keperawatan


4.4.1 Penurunan cardiac output b.d disfungsi ventrikel
- Pertahankan tirah baring
- Pertahankan pemberian oksigen
- Kaji jumlah urine tiap 4 jam
- Puasakan pasien
- Pantau EKG secara kontnyu
- Ukur intake output tiap jam, obserrvasi tanda-tanda vital tiap15
menit
- Hindari konstipasi dan mengedan
- Perksa AGD dan saturasi oksigen
- Kaji bunyi jantung dan bunyi nafas tiap 4 jam
-Batasi natrium dan air
4.4.2 Penurunan perfusi jaringan b.d menurunnya curah
jantung,hipoksemia jaringan,asidosis
pulmonal,penurunan fungsi perifer
- Kaji perbahan mental tiap jam
- Kaji warna kulit, sianosis, suhu tiap jam
- KAji kualitas dan adanya nadi perifer tiap 2 jam
- Kaji intake output tiap jam
- Ukur tanda vital tiap jam
4.4.3 Ganguan pertukaran gas b.d congesti paru,hipertensi
- Kaji pernafasan (frekuensi, irama, bunyi nafas tiap 2 jam)
- Pantau saturasi oksigen
- Pertahankan pemberian oksigen
- Atur posisi tidur semi fowler
- Anjurkan batuk dan nafas dalam tiap 2 jam
- Kolaborasi untuk pemberian diuretic dan bronchodilator
4.4.4. Intoleran aktiftas b.d penuruna curah jantung, ketidak mampuan
untuk memenuhi kebutuhan otot rangka, congesti pulmonal yang
menimbulkan hipoksemia dan sesak serta ntrisi buruk selama
sakit
- Pertahankan tirah baring
- Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit
- Pertahankan pemberian oksigen
- Evaluasi tanda vital
- Kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja nafas selama aktifitas
- Berikan diet sesuai program
4.5. Tindakan Keperawatan
Tindakan Keperawatan disesuaikan dengan Rencana Keperawatan.
4.6. Evaluasi (Kriteria Hasil)
Mengacu pada criteria evaluasi.

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PERIKARDITIS


NOMOR
REVISI
HALAMAN
HS.15.B09.C.2.004
01
1/2
TANGGAL
DITETAPKAN OLEH :
TERBIT
DIREKTUR
07-03-2007
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

PROSEDUR
TETAP

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929
1. PENGERTIAN

2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN

Adalah suatu keadaan dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien


dengan adanya peradangan pada lapisan perikard yang terjadi karena adanya
invasi oleh bakteri/virus kedalam lapisan jantung.Biasanya disebabkan
oleh :
- idiopatik
- trauma langsung/ tidak langsung pada selaput perikard
- infeksi virus, bakter, parasit dan jamur
Virus : coxsackievirus, influenza, chickenpox, AIDS, TBC, neoplasma.
Bakteri : staphylococcus, pneumococcus, streptococcus dan
mycobacterium tuberculosis
- Radiasi
- kondisi imunologi
- penyakit jaringan ikat : SLE, vaskulitis
- gangguan metablik, uremia
- infark miokard
- diseksi aneurisma
- obat-obatan : antikoagulan
Sebagai pedoman bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
pada pasien dengan adanya peradangan perikard.
Setiap perawat diharapkan mampu memberikan Asuhan Keperawatan pada
pasien perikarditissesuai standar

4. PROSEDUR

4.1 PENGKAJIAN
4.1.1 Anamnesa
Nyeri pada anterior (sedang/berat) yang diperberat saat inspirasi,
batuk, gerakan menelan dan berbaring. Hilang dengan duduk
bersandar kedepan. Keluhan tidak hilang dengan Nitrogliserin.
4.1.2 Pemeriksaan Fisik
Biasanya sesak, gelisah, demam, pingsan, batuk, takhikardi,
disritmia, pembesaran jantung, friction rub, murmur aortic atau
miral, irrama gallop S3 dan S4, edema, peningkatan JVP,
ptechiae, splinter hemoragi, nodus oster
4.1.3 EKG
Perubahan EKG dapat berupa : elevasi segmen ST, interpal PR
depresi, gelombang T datar/ cekun, adanya iskemik, hipertropi,
blok konduksi,disritmia
4.1.4 Labolatorium dan Diagnostik
Leuositosis, kultur darah, LED, albumin
Rontgen photo :
Tampak bayangan jantung membesar, penebalan atau kalsifikasi
perikard
Echocadigrafi :
Untuk memastikan adanya penebalan perikard dan adanya
akumulasi cairan perikard
MRI/ CT :
Untuk melihat adanya stenosis katup dan regurgitasi atau
penurunan gerak dinding ventrikel
EKG :
Drajat I : deviasi PR interval dan segme ST, ST junction elevasi
semua lead dan depresi di aVR
Derajat II : segmen ST kembali normal, PR interval depresi,
gelmbang T datar
Derajat III : tampak miokard injuri secara diffuse
Derajat IV : EKG kembali ke keadaan sebelum perikarditis
4.1.5 Analisa Data
No
Data
Penyebab
Masalah
1.
DS :
Peradangan pada pericardium Gangguan rasa
- Pasien
dan epikardium
nyaman nyeri
mengeluh nyeri
dada yang
Pengeluaran zat-zat vaso aktif
menyebar ke
leher,
Merangsang ujung syaraf
punggung
bebas
- Nyeri menngkat
dengan
Hypotalamus
inspirasi/ posisi
Korteks cerebri
Nyeri dipersepsikan

2.

DS :
- Pasien
mengeluh
lemas/ letih
DO :
- Dyspnea saat
aktfitas
- Terdapat tandatanda gagal
jantung

Penurunan cardiac output


Suplai darah ke jaringan
menurun

Gangguan
intoleransi
aktifitas

Metabolisme jaringan tidak


adekuat
Enegi yang dihasilkan
menurun
Suplai dan demand tidak
adekuat
Kelamahan

3.

DS :
Klien
meneluhlemah
DO :
- Takhikardi
- Pulse pressure<
20
- Urine output
<1/2cc/kgBB/j
am
- JVP meningkat
- Echocardiografi
terlihat adanya
effuse pada
pericard
- Thoraks foto
tampak
pembesaran
jantung

Peradangan pada pericard


Eksudasi cairan berlebih pada
pericard
Temponade jantung
Kompresi pada seluruh
permukaan jantung
Stroke volume tida adekuat
Penurunan curah jantung

Penurunan curah
jantung

4.2 Diagnosa Keperawatan


4.2.1 Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pericardial dan efekefek sistemik dari infeksi
4.2.2 Penurunan curah jantung b.d temponade jantung
4.2.3 Gangguan intoleransi aktivitas b.d kelemahan
4.3 Rencana Keperawatan
4.3.1 Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi pericardial dan efekefek sistemik dari infeksi
Tujuan :
- setelah dilakukan tindakan, nyeri berkurang/ hilang
- skala nyeri berkurang menjadi 1-2
- nyeri hilang/ terkontrol
- klien dapat melakukan teknik relaksasi dan distraksi secara
efektif
- TTV dalam batas normal
Intervensi :
- selidiki nyeri dada dan perhatikan factor pemberat dari ketidak
nyamanan
Rasional : nyeri perikarditis dirasakan pada bagian substernal
dan bertambah dengan inspirasi
- berikan lingkungan yang tenang
Rasional : rasa cemas dapat meningkatkan ambang nyeri
4.3.2 Penurunan curah jantung b.d temponade jantung
Tujuan :
Setela dilakukan tindakan keperawatan, penurunan curah jantung
tidak terjadi dengan criteria :
- TTV dalam batas normal
- Diuresis - 1 cc/kgBB/jam
- Diaforesis tidak terjadi
- EKG sinus rithme tanpa ventrikel ekstra sistol
Intervensi :
- Petahankan tirah baring
Rasional : untuk meminimalisasi beban kerja jantung
- Kolaborasi obat inotropik dan kronotrofik
Rasional : untuk meningkatkan kontraktilitas jantung
- Pertahankan MAP 70 100 mmHg
Rasional : dengan MAP yang cukup, akan memberikan perfusi
ginjal adekuat
- Observasi intake output
Rasional : untuk mengevaluasi fungsi ginjal
4.3.3 Gangguan intoleransi aktifitas b.d kelemahan
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi, gangguan intoleransi aktifitasdapat
teratasi dengan criteria :
- TTV dalam batas normal
- Mampu melakukan ROM secara aktif dan pasif
- Kekuatan otot pada ekstremitas adan bawah 4
Intervensi :

- Monitor perubahan TTV sebelum dan setelah aktivitas


Rasional : untuk memonitor toleransi klien terhadap aktivitas
- Bantu klien melakukan ROM secaraakti dan pasif
Rasional : untuk mencegah kontraktur
- Bantu klien dalam melakukan ADL
Rasional : untuk menghemat energi pasien
4.4 Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan mengacu pada intervensi
4.5 Evaluasi
Mengacu pada kriteria tujuan

5. UNIT
TERKAIT

Ruang HCCU, UGD, Ruang penyakit dalam

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANGINA PECTORIS


NOMOR
REVISI
HALAMAN
HS.15.B09.C.2.004
01
1/2
TANGGAL
DITETAPKAN OLEH :
TERBIT
DIREKTUR
07-03-2007
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

PROSEDUR
TETAP

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929
1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

Adalah suatu standard dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien


dengan nyeri dada akibat iskemik miokard
Sebagai pedoman bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
pada pasien dengan nyeri dada akibat iskemik miokard
Setiap perawat diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan pada
pasien dengan nyeri dada akibat iskemik miokard
4.1 Pengkajian
4.1.1 Anamnesa
Keluhan utama
Pasien biasanya mengeluh nyeri dada kiri seperti tertekan benda
berat
Riwayat penyakit sekarang
Nyeri dirasakan saat istirahat seperti ditekan benda berat. Nyeri
disertai enjalaran ke lengan, bahu, leher dan atau bahu kiri.Nyeri
berlangsung selama 5-15 menit dan tidak hilang dengan istirahat,
namun memerlukan obat nitrogliserin.
Riwayat penyakit dahulu
Biasanya pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes atau
dyslipidemia, obesitas.
Riwayat kesehatan keluaga
Riwayat penyakit jantung koroner dari orang tua (keturunan),
penyakit diabetes mellitus.
4.1.2 Pemeriksaan Fisik
- Inspeks
Penampilan umum pasien tampak cemas, takut dan kadangkadang gelisah.
- Palpasi
Kadang-kadang kulit dingin dan lembab saat serangan nyeri
- Perkusi
Pada perkusi biasanya akan ditemukan pelebaran lokasi jantung

bila faktor predisposisinya adalah hipertensi


- Auskultasi
Pada auskultasi tekanan darah biasanya normal, irama jantung
biasa normal atau disertai VES bila terdapat gangguan elektrolit.
4.1.3 Labolatorium dan diagnostic
- sysmex biasanya normal
- profil lipid biasanya ditemukan peningkatan
- fungsi ginjal biasanya normal atau meningkat
- elektrolit : biasanya ditemukan ketidak seimbangan ion Na, K,
Ca, dan Mg
- enzim CKMB meningkat namun tidak melebihi 2x nilai normal
- troponin T negative
- SGOT, SGPT bisa meningkat
EKG
Perubahan EKG dapat berupa T inverted dan atau ST depresi
Thoraks foto
Bisa terdapat atau tidak pembesaran jantung
Exercise electrocardiogram (stress test)
Bila terdapat perubahan EKG atau tanda-tanda vital dapat
mengindikasikan angina
Radio Isotop imaging
Untuk melihat area yang terkena iskemik atau daerah yang kurang
mendapat perfusi
Coronary angiography
Untuk memberikan visualisasi besarnya sumbatan pada arteri
koroner
Tread mill test
Untuk mendiagnosa adanya iskemik saat jantung diberikan
aktivitas.
4.1.4 Analisa data
No
Data
Penyebab
Masalah
1. DS :
Atheroskleross
Gangguan rasa
Pasien mengelh
nyaman nyeri
nyeri dada kiri
Sumbatan aliran darah
eperti tertekan
koroner
benda berat atau
diremas
Metabolik an aerob
DO :
- Tampak tegang
Pembentukan asam laktat
dan atau meringis
menahan nyeri
Merangsang ujung saraf
-EKG terdapat
bebas
gelombang T
inverted atau ST
Hypotalamus
segmen depresi
- Enzim CKMB
Corteks cerebri
meningkat
dibawah 2x
Nyeri dipersepsikan

2.

3.

normal
- troponin T
negative
DS :
Pasien
mengatakan takut
hidupnya tidak
terselamatkan
DO :
Ekspresi wajah
tampak ketakutan,
tegang dan
gelisah
DS :
Pasien mengeluh
cape bila
berkatifitas
DO :
- Perubahan
hemodinamik
setelah
beraktifitas
- Kulit dingin,
pucat dan
diaphoresis
- Terdapat
perubahan
gambaran EKG

Iskemik miokard

Gangguan rasa
aman : cemas

Krisis situasi
Ancaman terhadap
kematian ata perubahan
terhadap status kesehatan
Kecemasan
Iskemik miokard
Kontraktilitas miokard
menurun

Gangguan
intoleran
aktifitas

Cardiac output menururn


Kemampan tubuh untuk
menyediakan energi
menururn
Intoleran aktifitas

4.2 Diagnosa Keperawatan


4.2.1 Gangguan rasa yaman nyeri b.d penurunan suplai oksigen ke
miokard
4.2.2 Gangguan rasa amana; cemas b.d ancaman kematian
4.2.3 Intoleran aktifitas b.d kelemahan
4.3 Rencana Tindakan Keprawatan
4.3.1 Gangguan rasa yaman nyeri b.d penurunan suplai oksigen ke
miokard
Tujuan :
Setelah dilakkan intervensi keperawatan selama 3-5 hari, rasa
nyaman terpenhi dengan criteria :
- Secara verbal mengaakan nyeri berkurang atau hilang
- Pasien tempak tenang
- Tidak terdapat perluasan iskemik
Intervensi :
- Kaji karakteristik nyeri
Rasional : ntuk membedakan nyeri miokard atau perikordial
- Rekam 12 lead EKG
Rasional : untuk menilai ada tidaknya perubahan EKG

setelahbebeapa jam
- Pertahankan tirah baring selama 24 jam pertama
Rasional : untuk meminimalkan kebutuhan oksigen miokard
akibat aktivitas fisisk
- Berikan oksigen adekuat
Rasional : dengan saturai oksigen 95-10% diharpkan dapat
mengantisifasi kadaan kekurangan suplai oksigen di miokard
- Kolaborasi anti anginal drugs
Rasional : obat-obat anti angina merupakan dilator kuat
sehingga dapat mempelancar aliran darah koroner
- Monitor TTV setiap 15 menit pertama
Rasional : untuk mengantisifasi ancaman hemodinamik yan
tiba-tiba
4.3.2 Gangguan rasa amana; cemas b.d ancaman kematian
Tujuan :
Setelah dlakukan intervensi selama 3 hari, rasa aman terpenuhi
dengan criteria :
- Klien tampak tenang dan ceria
- Klien koperatifdengan petugas
Intervensi :
- Berkan support system pada psien dan keluarga secara
berkesinambungan
Rasional : diharapkan dapat memberikan kekeuatan psikis
kepada pasien
- Libatkan keluaga dalam perawatan pasien jika memungkinkan
Rasional : diharapkan dapat mengatasi rasa terkucilkan atau
perasaan asing akibat vonis penyakit jantung
- Kolaborasi pemberian anti depresan
Rasional : anti depresan dapat memberikan rasa tenang bagi
pasien
- Jelaskan prosedur perawatan yang diberikan kepada pasien
Rasional : untuk mengurangi ketegangan terhadap lingkungan
dan tindakan yang ada di ruangan CICU
4.3.3 Intoleran aktifitas b.d kelemahan
Tujuan :
Setelah dilakukan intevensi selama 3-5 hari, kebutuhan aktivitas
pasien terpenuhi dengan criteria :
- Klien dapat beraktifitas secara bertahap
- TV dalm batas normal setelah beraktivitas
- Kekuatan otot pada ekstremitas atas dan bawah 4
Intervensi :
- Monitor erubahan TTV sebelum dan setelah beraktivitas
Rasional : untuk memonitor toleransi klien terhadap aktivitas
- Bantu klien melakukan ROM secara aktif dan pasief
Rasional : untuk mencega kontraktur
- Bantu klien dalam melakukan ADL
Rasional : untuk menghemat energi pasien
4.4 Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan mengacu pada intervensi


4.5 Evaluasi
Mengacu pada kriteria tujuan

PELAYANAN KEPERAWATAN

RSUP Dr. HASAN


SADIKIN
BANDUNG
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR
(SOP)
DECOMPENSASI
CORDIS
1. PENGERTIAN
2. TUJUAN
3. KEBIJAKAN
4. PROSEDUR

NOMOR
HS.15.B09.2.0003
TANGGAL
TERBIT
07-03-2007

REVISI
01

HALAMAN
1/2
DITETAPKAN OLEH :
DIREKTUR
RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG

Prof. Dr. Cissy R.S Prawira, dr.SpA(K).MSc


NIP : 140 086 929
Penerimaan pasien baru adalah penerimaan seseorang yang pertamakalinya
dinyatakan oleh tim medis memerlukan perawatan di ruang cicu RSUP Dr.
Hasan Sadikin
Sebagai acuan dalam melaksanakan langkah-langkah dalam memberikan
asuhan keperawatan
Perawat dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan standar
Persiapan alat : - menyiapkan bed
- bedside monitor
- elektroda
- mesin EKG
- infuse/syring pump
- sarung tangan
Perawat memberikan ucapan salam pada pasien dan keluarganya
Perawat menerima informasi tentang identitas, status dan keadaan
pasien dari perawat yang mengantar
Memakai sarung tangan
Perawat memindahkan pasien ke tempat tidur ruangan dan
membawa ke kamar yang telah disediakan
Atur posisi pasien terlentang, semifowler atau fowler tergantung
kondisi pasien perawat berdiri di sebelah kanan
Menutup sampiran
Perawat mengkaji tentang kondisi pasien dan memberikan intervensi
sesuai kebutuhan
Perawat memberikan orientasi kepada pasien dan keluarganya
tentang fasilitas yang disiapkan dan peraturan ruang CICU RSUP
Dr. Hasan Sadikin
Perawat melakukan rekaman EKG 12 lead atau 18 lead sesuai
kebutuhan
Memasang bedside monitoring, tensimeter, infuse atau syring pump
sesuai kebutuhan
Perawat melengkapi pengkajian keperawatan serta

5. UNIT
TERKAIT

mendokumentasikan pada format yang disediakan dalam buku


rekam medik dan lembar observasi ruang CICU
Perawat memberitahu tentang adanya pasien baru kepada dokter
yang terkait, bagian Gizi dan Depo Farmasi
Petawat membuat rencana keperawatan sesuai hasil pengkajian
Perawat melaksanakan tindakan keperawatan dan melakukan fungsi
kolaboratif dengan tim medis dan non medis
Perawat mencatat dan mengevaluasi semua tindakan keperawatan
yang telah dilaksanakan
Perawat menginformasikan kepada semua perawat tentang adanya
pasien baru
Perawat mencuci tangan

Ruang HCCU