Anda di halaman 1dari 11

Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya

1
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and
Throat



Cigarette Smoking and Alcohol Ingestion as Risk Factors
for Laryngeal Squamous Cell Carcinoma at Kenyatta National Hospital,
Kenya


Pyeko Menach
1
, Herbert O. Oburra
2
and Asmeeta Patel
3

1
ENT Head and Neck Surgeon, Kenyatta National Hospital and Department of Surgery
University of Nairobi.
2
Chairman and Associate Professor of ENT H&N surgery, Department of
Surgery, University of Nairobi.
3
Consultant ENT H&N surgeon, Kenyatta National Hospital.
Corresponding author emails: menachpyeko@gmail.com; menachpyeko@yahoo.com








Abstract: Karsinoma sel skuamosa laring (SCC laring) sangat terkait dengan merokok. Hal ini
diperkirakan mencapai lebih dari 70% dari kejadian karsinoma sel skuamosa laring dan sampai
89% apabila dikombinasi dengan alkohol. Kami berharap untuk dapat menentukan prevalensi
konsumsi merokok dan alkohol pada pasien dengan karsinoma sel skuamosa laring dan dapat
memperkiraan risiko dikaitkan dengan konsumsi merokok dan alcohol terhadap kejadian
karsinoma sel skuamosa laring. Lima puluh pasien kelompok eksperimen dan lima puluh kontrol
direkrut dengan pencocokan usia, jenis kelamin dan wilayah tempat tinggal. Riwayat merokok
dan konsumsi alkohol diambil dan dianalisis untuk memperkirakan kekuatan relatif dari eksposur
kedua hal tersebut. Penghentian merokok berhubungan dengan penurunan risiko terjadinya
karsinoma sel skuamosa laring. Perokok mengalami peningkatan risiko dibandingkan dengan
kontrol. Mereka yang merokok hanya memiliki risiko tinggi untuk terkena kanker glotis. Mereka
yang merokok dan minum alkohol memiliki risiko tinggi untuk terkena kanker supraglotis.
Perokok yang aktif dan durasi merokok yang panjang adalah faktor risiko independen untuk
kejadian karsinoma sel skuamosa laring.

Keywords: merokok, faktor resiko, karsinoma sel skuamosa laring








Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5 1724 doi: 10.4137/CMENT.S8610
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
2
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


Introduction
Dalam sejarah manusia, menghirup tembakau pada jaman 5000 SM, kala itu digunakan
untuk berbagai tujuan agama, obat maupun rekreasi, meskipun tidak ada yang menyebutkan
tentang hal itu secara spesifik di Kitab Suci.
1
Yang paling umum dari menghirup tembakau
adalah dengan merokok.
1
Dalam monografi Badan Internasional untuk Penelitian Kanker
(IARC), disimpulkan bahwa terdapat bukti yang cukup bahwa kebiasaan itu dapat menyebabkan
tidak hanya kanker paru-paru, tetapi juga kanker saluran respirasi-digestive atas termasuk laring,
faring dan esophagus.
1
Di Kenya, kanker menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian setelah penyakit
menular dan penyakit jantung dan pembuluh darah.
2
Saat ini Kenya tidak memiliki pencatatan
pasien dengan kanker dan ketersediaan data yang minim tersebut hanya berdasarkan data rumah
sakit. Dilaporkan bahwa pada tahun 2005, sekitar 18.000 kematian adalah karena kanker, dengan
sebagian besar korban di bawah usia 70 tahun.
2
Mutuma dkk
2
menemukan bahwa pada kanker
kepala dan leher, kanker laring yang paling sering ditemukan, dimana merupakan jenis kanker
utama pada laki-laki yaitu sebesar 14,8% di Kenya, dan ketiga di antara perempuan setelah
kanker payudara dan leher rahim. Selain itu, tampaknya terdapat kenaikan yang stabil dalam
kejadian kanker kepala dan leher, yang dibuktikan dan didokumentasikan oleh Mutuma dkk.
2

Onyango dkk
3, 4
melaporkan bahwa prevalensi kanker laring diantara pasien dengan kanker
kepala dan leher (n : 793) sebesar 39 %, kemudian diikuti oleh kanker lidah, mulut dan
nasofaring. Hal ini berbeda dengan laporan sebelumnya dari Kenyatta National Hospital pada
pasien rawat inap yang menunjukkan bahwa kanker laring adalah ketiga yang paling sering
ditemui setelah kanker faring dan mulut. Namun, Nyandusi dalam disertasinya [University of
Nairobi 2007] pada rumah sakit yang sama menunjukkan bahwa saat ini kanker laring
merupakan kanker yang paling umum ditemui dari tumor kepala dan leher, diikuti oleh kanker
nasofaring, kanker hipofaring dan kanker mulut. Detail dan spesifik tentang jumlah, tipe dan
durasi merokok dalam hubungannya dengan kanker laring tidak dilakukan. Studi ini tidak
memiliki kelompok kontrol dan tidak dilakukan uji statistik.
Selama inhalasi tembakau, partikel yang lebih besar terutama didepositkan ke mukosa
laring saat inspirasi. Partikel halus dan sangat halus menunjukkan bahwa diendapkan saat
tubulensi arus sekunder yang terbentuk oleh area potong lintang dan gambaran CT anatomi
laring.
5
Pengendapan lebih lanjut terjadi selama fase ekshalasi saat merokok, terutama untuk
partikel-partikel yang halus.
7
Martonen dkk
6
menunjukkan bahwa pengendapan yang tinggi dari
asap rokok ke area tersebut merupakan faktor predisposisi terhadap kejadian kanker
dibandingkan pada area saluran pernapasan lain. Hal ini didukung oleh sebuah studi oleh Yang
9

bahwa terdapat kemungkinan terjadinya kanker saluran napas atas sebesar 3.000 kali lipat
daripada kanker saluran napas bawah. Asap tembakau yang mengalir secara laminar pada semua
area saluran pernapasan, terlepas dari bagian laring yang menyempit, diperkirakan dapat
menjelaskan meningkatnya resiko terjadinya kanker tersebut.
7
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
3
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


Paparan kronis epitel saluran napas atas oleh asap tembakau telah terbukti menginduksi
perubahan morfologi sel menjadi calon keganasan.
8
Perubahan ini disertai dengan meningkatnya
kerusakan kromosom, yang menyebabkan pembentukan sel epitel metaplastik. Telah ditemukan
juga bahwa makrofag alveolar paru diaktifkan oleh asap rokok untuk memproduksi superoksida
dan hidrogen peroksida, yang dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada DNA dan RNA dan
menambah risiko terjadinya keganasan.
9
Risiko-risiko yang berhubungan dengan merokok juga dimodifikasi oleh konsumsi
alkohol secara bersamaan. Konsumsi alkohol meningkatkan risiko terjadinya kanker dengan
meningkatkan penyerapan topikal karsinogen tembakau dan induksi enzim mikrosomal,
menyebabkan peningkatan karsinogen tembakau yang mengikat DNA.
10
Karena interaksi ini,
merokok harus diperiksa dalam hubungannya dengan konsumsi alkohol.
11
Mengingat bahwa saat ini kanker laring yang paling umum di antara kanker kepala dan
leher di Kenya, kami berusaha untuk menilai merokok, yang dikenal merupakan faktor risiko
terpenting untuk terjadinya karsinoma sel skuamosa laring (SCC). Kurangnya data lokal
menunjukkan kesenjangan pengetahuan; penilaian faktor risiko terhadap kanker leher dan kepala
belum dipelajari secara analitis. Makalah ini akan membentuk dasar untuk strategi perencanaan
yang ditujukan untuk mengurangi terjadinya kanker ini melalui pengurangan merokok.
Methodology
Ini adalah studi case control yang dilakukan dari bulan Maret 2011 sampai Mei 2011 di
Kenyatta National Hospital (KNH). Pasien dari segala usia yang muncul pada departemen bedah
Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher (THT H & N) dan departemen onkologi radiasi
di KNH dengan riwayat histologis yang terbukti SCC laring direkrut secara berurutan untuk
penelitian. Sebanyak 39 pasien kelompok eksperimen direkrut dari departemen THT H & N
sedangkan 11 direkrut dari departemen onkologi radiasi. Delapan pasien dikeluarkan dari
penelitian; dimana dua memiliki karsinoma verrucous sedangkan empat lainnya memiliki
karsinoma sel spindle. Dua pasien lain menolak untuk berpartisipasi.
Kontrol direkrut dari pasien di departemen ortopedi dengan pencocokan usia (dalam 5
tahun), jenis kelamin dan daerah dengan kelompok eksperimen untuk mengendalikan faktor
perancu. Total sebanyak 50 kontrol direkrut. 36 pasien direkrut dari unit bangsal ortopedi,
sedangkan 14 direkrut dari klinik ortopedi. Di antara kontrol, tiga pasien ditemukan memiliki
suara serak dan satu memiliki leher yang membengkak. Oleh karena itu mereka dirujuk ke klinik
THT H & N untuk evaluasi lebih lanjut. 62% dari kontrol didiagnosis dengan kondisi traumatis
ortopedi (patah tulang dan/atau dislokasi), 25% memiliki kondisi non-traumatik (low back pain
dan gangguan diskus), sedangkan 13% sisanya memiliki osteoarthritis dan infeksi akut
(misalnya, arthritis sepsis dan selulitis). Informed consent diperoleh dari peserta. Data
demografis kemudian dimasukkan ke kuesioner.
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
4
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


Riwayat medis dengan fokus utama pada keganasan laring diperoleh untuk memasukkan
onset gejala, keparahan, durasi dan keterlibatan regio lain di antara kelompok kontrol.
Laringoskopi indirek kemudian dilakukan pada semua pasien dalam kelompok kontrol. Dari
hasil penemuan, mereka yang memiliki lesi laring dan diduga keganasan akan dikeluarkan dari
penelitian dan dirujuk untuk evaluasi lebih lanjut.
Riwayat merokok kemudian diperoleh untuk memasukkan apakah peserta adalah perokok
saat ini, berapa lama mereka berhenti merokok jika mereka adalah mantan perokok, usia onset
merokok, durasi, jenis (rokok filter atau non filter), dan jumlah batang dalam pack-years (sama
dengan jumlah 1 pack / 20 batang per hari dalam 1 tahun).
Riwayat konsumsi alkohol diperoleh untuk memasukkan apakah mereka peminum
alkohol atau tidak, usia onset konsumsi alkohol, durasi, jumlah hari mereka minum per minggu,
jenis alkohol yang dikonsumsi dan jumlah minuman beralkohol yang dikonsumsi per minggu.
Para responden kemudian diklasifikasikan sebagai bukan peminum, peminum ringan, peminum
sedang, peminum berat dan peminum sangat berat sesuai dengan pedoman dari National Institute
on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA).
12
Persetujuan etis diperoleh dari Komite Etika
Penelitian Kenyatta National Hospital / University of Nairobi, persetujuan nomor P8 / 01/2011.
Informed consent tertulis diperoleh dari seluruh responden penelitian.
Data management and analysis
Seluruh informasi yang tercatat pada lembar data akan dimasukkan ke dalam komputer
dan dianalisis menggunakan program SPSS 17.0.
Results
Distribusi umur dan rasio jenis kelamin
Di antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, rasio untuk laki-laki dan wanita
adalah 24: 1. Rentang usia adalah 42-84 tahun dengan rata-rata 61 tahun (61 11,7 tahun) untuk
pasien kelompok eksperimen dan 63 tahun (63,7 10.58 tahun) untuk kelompok kontrol (P =
0,297) dengan usia puncak pada 55-69 tahun (59,6% ).
Riwayat merokok
33 (66%) dari pasien kelompok eksperimen memiliki riwayat positif merokok saat ini
dibandingkan dengan kontrol (6%). Menjadi perokok aktif meningkatkan risiko kanker laring
dengan rasio odds (OR) 30,4 (P 0,0001, 95% CI: 8,2-112,2).
Durasi sejak berhenti merokok pada kelompok kontrol secara signifikan ditemukan lebih
lama (rata-rata 24,57 12,3 tahun) dari durasi pada pasien kelompok eksperimen (rata-rata 12.13
16.1 tahun); P 0.029. Mereka yang telah berhenti merokok selama 10 tahun memiliki
penurunan risiko untuk SCC laring dengan OR 19,5 (95% CI: 2,0-190,9) dibandingkan dengan
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
5
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


kontrol. Ini adalah penurunan yang signifikan dibandingkan dengan perokok yang aktif sampai
saat ini.
Pasien kelompok eksperimen mulai merokok pada usia lebih dini (rata-rata 20.18 8,6
tahun) dibandingkan dengan kontrol (rata-rata 25 5,7 tahun); P 0.004. Mereka yang mulai
merokok sebelum usia 20 tahun memiliki risiko tertinggi untuk SCC laring dengan OR 31,
sedangkan onset merokok yang lebih lama dikaitkan dengan risiko yang lebih kecil dibandingkan
dengan kelompok kontrol (Tabel 1).
Tabel 1. Hubungan resiko dengan onset usia merokok
Age of debut
cigarette B P value OR 95% CI
smoking


Lower Upper


Never smoked
3.457
0.000
31.733 8.754
115.04
0

20 years <0.001
2140 years 2.045 0.001 7.727 2.409 24.787
40 years 22.937 1.000 9.154E09 0.000
Notes: B = beta value; P value = probability value; OR = odds ratio; 95% CI = 95% confidence
interval.

Ada perbedaan yang signifikan dalam rata-rata dari total jumlah pack-years di antara
pasien kelompok eksperimen (31,4 23 pack-years) dibandingkan dengan kelompok kontrol
(5,4 6,5 pack-years) dengan OR 21,3; P 0,0001 (95% CI: 2,6-176,1) dibandingkan dengan
kontrol. Hal ini menunjukkan hubungan yang kuat antara kebiasaan merokok kumulatif dengan
SCC laring.
Rata-rata durasi merokok lebih lama pada pasien kelompok eksperimen (38 15 tahun)
dibandingkan dengan kontrol (14,8 9,4 tahun); P 0,0001, dengan OR 12,7 (95% CI: 3,4-
47,5). Perlu dicatat bahwa 92% dari kontrol yang mantan perokok berhenti merokok beberapa
kali sebelum direkrut untuk penelitian.
Di antara pasien kelompok eksperimen yang merokok, 69,8% merokok filter sedangkan
30.20% merokok non-filter (P 0,2). Ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik
pada kejadian SCC laring.
Konsumsi alkohol
Di antara pasien kelompok eksperimen yang direkrut, 38 (76%) mempunyai riwayat
konsumsi alkohol dibandingkan dengan kontrol yaitu 29 dari 50 yang minum alkohol yaitu
sebesar 58%; P<0,05, dengan OR 2,3 (95% CI: 1,0-5,4), menunjukkan peningkatan risiko terkait
dengan SCC laring. Ketika dikelompokkan ke dalam beberapa kategori minuman beralkohol
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
6
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


menurut NIAAA
12
, hanya mereka yang merupakan peminum sangat berat mengalami
peningkatan risiko; P 0.002, dengan OR 6,0 (95% CI: 11,957-18,398).
Merokok sebagai eksposur tunggal
Di antara pasien yang merokok dan tidak minum alkohol, 4 (20%) menderita kanker
glotis (P 0,001) dengan OR 19.75 (2,069-188,552), yang bermakna secara statistik. Pada
daerah laring lainnya tidak memiliki pasien yang merokok dan tidak minum alkohol. Harus
digaris bawahi bahwa sedikit responden yang hanya merokok saja.
Merokok dan konsumsi alcohol sebagai eksposur gabungan
Dibandingkan dengan kontrol, kombinasi merokok dan konsumsi alkohol memiliki
dampak yang signifikan terhadap risiko SCC pada supraglotis, glotis dan transglotis. Risiko
signifikan tertinggi terjadi untuk SCC supraglotis dengan OR 10,5 (P 0,0001, 95% CI: 2,6-
41,7) diikuti oleh SCC transglotis dengan OR 4,8 (P 0,002, 95% CI: 1,7-13,5) dan SCC glotis
terakhir dengan OR 2,8 (P 0.004, 95% CI: 1,025-7,7).
Seseorang yang pernah merokok mempunyai hubungan yang signifikan terhadap
berkembangnya SCC laring. Risiko tertinggi tercatat untuk SCC supraglotis dengan OR 6,7778
(P 0.003, 95% CI: 1,7-27,021) diikuti oleh glotis dengan OR 6,151 (P < 0,0001, 95% CI: 2,1-
18,023) dan SCC transglotis dengan OR 3,5 (P < 0.012, 95% CI: 1,269-9,652). Sejumlah pasien
pada kelompok eksperimen dilaporkan berhenti merokok setelah didiagnosis, oleh karena itu
memiliki risiko lebih tinggi daripada yang terdaftar sebelumnya untuk pemaparan gabungan
antara merokok dan konsumsi alkohol dalam beberapa daerah laring.
Analisis multivariate
Ketika dilakukan analisis multivariat regresi logistik, hanya dua variabel yang dapat
diasosiasikan dengan peningkatan risiko laring SCC. Dua variabel tersebut adalah menjadi
perokok yang aktif saat ini dengan OR 14,576 (P # 0,002, 95% CI: 2,624-80,979) dan durasi
merokok dengan OR 7,312 (P # 0.01, 95% CI: 1,619-33,024). Menjadi seorang perokok yang
aktif saat ini dan durasi merokok yang lama merupakan faktor independen paling penting yang
berkontribusi pada perkembangan dari SCC laring.
Terakhir, berdasarkan prevalensi merokok pada pasien kelompok eksperimen dan
kontrol, risiko populasi yang terkait dengan merokok ditemukan sebesar 62%. Ini adalah
proporsi dimana SCC laring akan berkurang jika merokok tersebut dapat dieliminasi.


Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
7
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


Discussion
SCC laring adalah kanker kepala dan leher yang paling umum di kalangan pria di Kenya
dan urutan ketiga paling umum di antara perempuan di Kenya seperti yang terlihat pada THT H
& N dan departemen radiasi-onkologi di Kenyatta National Hospital.
2
Bagaimanapun, telah
diketahui bahwa SCC laring adalah penyakit yang banyak diderita laki-laki, mungkin karena
fakta bahwa pria cenderung lebih banyak merokok dan mngonsumsi alkohol dibandingkan
perempuan, seperti yang ditemukan di bagian lain dunia .
1

Rasio antara laki-laki dan perempuan dalam hal ini adalah 24: 1, mengkonfirmasi
hubungan yang kuat antara risiko dengan jenis kelamin laki-laki, sesuai dengan temuan Oburra
dkk
13
dalam publikasi sebelumnya di wilayah ini. Hal ini sebanding dengan yang telah
ditemukan di seluruh dunia. Beberapa studi dalam review sistematis yang dilakukan oleh Farhad
dkk
14
menunjukkan 100% prevalensi laki-laki sedangkan sisanya menunjukkan dominasi laki-
laki. Rasio pria dan perempuan berkisar antara 9: 1 sampai 25: 1, terutama penelitian yang
dilakukan di Amerika Utara, beberapa bagian Eropa Selatan dan Asia.
14
Alasan untuk distribusi
ini dapat dikarenakan tingkat yang lebih tinggi dari konsumsi rokok dan alkohol di kalangan
laki-laki dibandingkan perempuan, sesuai dengan kesimpulan dari survei KDHS tahun 2009.
15

Hipotesis ini didukung oleh sebuah penelitian case-control yang dilakukan oleh Sylvano dkk
16

pada pasien wanita yang didiagnosis dengan SCC laring (n = 68), yang menunjukkan merokok
sebagai faktor risiko yang paling penting pada kejadian SCC laring kemudian diikuti oleh
konsumsi alkohol. Dia juga menemukan bahwa faktor-faktor reproduksi dan hormonal tidak
terkait dengan peningkatan risiko untuk tumor laring. Tingginya rasio pria-perempuan yang
ditemukan dalam penelitian ini konsisten dengan yang telah ditemukan di seluruh dunia.
Dari 50 pasien kelompok eksperimen dalam penelitian ini, 33 dari mereka (66%) adalah
perokok yang aktif saat ini dibandingkan dengan kontrol di mana hanya 3 (6%) perokok aktif.
Pasien yang perokok aktif memiliki risiko yang signifikan untuk kejadian SCC laring
dibandingkan dengan kontrol (OR = 30.4) terlepas dari apakah mereka peminum alkohol. Hasil
ini sebanding dengan yang ditemukan oleh Francheschi dkk
17
di Italia Utara, di mana OR
berkisar 2 sampai 15,6. Sebuah meta-analisis yang dilakukan oleh Hashibe di pusat Europe
18,19
menunjukkan temuan serupa dengan OR 12,83 untuk perokok saja dan OR 36,7 bagi mereka
yang juga mengkonsumsi alkohol. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa rentang usia
maksimum survei KDHS
15
adalah 45-49 tahun, sedangkan usia rata-rata kelompok kontrol dalam
penelitian ini adalah 61 tahun. Selain itu, karena responden penelitian ini adalah berbasis rumah
sakit dan karakteristik mereka mungkin tidak sebanding dengan kelompok berbasis populasi
yang telah dididik tentang efek berbahaya dari merokok dan konsumsi alkohol saat kunjungan ke
klinik. Kebanyakan pasien dalam penelitian ini merokok rokok filter, dimana hal tersebut
konsisten dengan temuan di seluruh dunia. Walaupun begitu, pengaruh rokok filter terhadap
risiko SCC tidak signifikan secara statistik.
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
8
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


Berbagai penelitian yang dilakukan sebelumnya
17,19-24
menunjukkan terjadi penurunan
risiko untuk SCC laring setelah berhenti merokok, meskipun tingkat penurunan risiko berbeda-
beda tergantung pada usia dan waktu sejak penghentian. Bosetti dkk
23,24
menunjukkan bahwa
mereka yang berhenti merokok sebelum usia 35 tahun atau yang berhenti merokok selama lebih
dari 20 tahun tidak memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak
pernah merokok. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada penurunan resiko yang
progresif setelah berhenti merokok, yang bahkan dapat terlihat jelas setelah berhenti selama
kurang dari 10 tahun (OR = 19,5) dan hal ini mirip dengan temuan pada penelitian sebelumnya.
Maier dkk
25
dalam penelitian case-control Heidelberg menemukan bahwa mereka yang
mulai merokok pada usia yang lebih muda dan merokok lebih lama memiliki hubungan dengan
risiko yang lebih tinggi terhadap perkembangan SCC laring (OR = 9,7). Asosiasi resiko ini
sesuai dengan temuan kami di mana OR adalah 31,7 bagi mereka yang mulai merokok sebelum
usia 20 tahun. Mereka yang mulai merokok antara usia 21-40 tahun memiliki OR sebesar 7,7
(95% CI: 2,409-24,787). Risiko ini lebih tinggi dari yang dikemukakan oleh Francheschi dkk
17

yang menemukan peningkatan risiko di area lain pada kepala dan leher dimana merokok
merupakan faktor risikonya. Wiencke dkk
26
menemukan bukti epidemiologi yang menunjukkan
bahwa onset merokok pada usia dini menyebabkan perubahan biologis yang meningkatkan
kerentanan terhadap efek karsinogen asap rokok di jalan napas. Mereka menunjukkan bahwa di
antara pasien SCC pada kelompok eksperimen, ada hubungan yang kuat antara meningkatnya
3p21 loss of heterozygosity (LOH) dengan tingginya tingkat polynuclear aromatik hidrokarbon-
DNA adduct (P = 0,03), sama halnya dengan prevalensi peningkatan LOH dengan onset
merokok usia dini (P = 0,02). Penelitian ini menunjukkan bahwa usia dini merupakan faktor
risiko yang signifikan untuk perkembangan SCC laring. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan sebelumnya.
10,27-29
Di sisi lain, terdapat risiko yang lebih rendah di antara mereka yang
mulai merokok setelah usia 40, meskipun hal ini tidak signifikan secara statistik karena
responden yang sedikit pada kelompok usia tersebut.
Terdapat peningkatan risiko kejadian SCC laring dengan merokok kumulatif yang diukur
dalam pack-years. Dosemeci dkk
30
menemukan OR 6,0 (n = 197) bagi mereka yang memiliki
>21 pack-years sedangkan Hashibe
18
menemukan OR 12,8 pada rata-rata pack-years. Penelitian
tersebut tidak memberikan OR untuk pack-years lebih dari 30, melainkan lebih
mengelompokkan sebagai >20 tahun. Hal ini mungkin menjelaskan estimasi yang relatif lebih
tinggi dalam penelitian ini (OR = 21.3) mempertimbangkan dosis-respons untuk resiko SCC
laring seperti yang ditunjukkan dalam banyak penelitian. Pelaporan yang berlebihan pada pasien
kelompok eksperimen mungkin dapat menjadi faktor.
Berbagai penelitian
17,19-31
telah menunjukkan bahwa durasi merokok adalah salah satu
faktor risiko yang paling penting untuk kejadian SCC laring. Durasi merokok 40 tahun
menunjukkan risiko lebih besar untuk SCC laring yaitu sebesar 15,6 kali seperti yang
dikemukakan dalam penelitian Francheschi
18
sedangkan durasi yang lebih rendah (20 tahun)
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
9
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


menunjukkan OR yang lebih rendah yaitu 2.13 seperti yang dikemukakan dalam penelitian
Lee
31
. Penelitian ini menunjukkan temuan yang serupa, terutama bagi mereka yang merokok
selama .20 tahun (OR = 12.7). Sebagian besar (92%) dari pasien kontrol yang merokok, berhenti
pada berbagai interval waktu saat penelitian ini dilakukan, dan ini mungkin memberikan
kontribusi pada peningkatan rasio (OR).
Konsumsi alkohol diasosiasikan dengan SCC laring lebih sebagai kofaktor dan bukan
sebagai faktor independen. Dalam penelitian ini terdapat peningkatan risiko untuk SCC laring
dengan OR 2,3 (P 0.005, 95% CI: 1,0-5,4). Minuman rata-rata per minggu dalam penelitian ini
adalah 58, dimana berkorelasi dengan penelitian dari Italia.
17
Penelitian lain yang dilakukan di
Eropa menunjukkan OR yang serupa.
17-20,29,30
Di sisi lain, bias sosial dan stigma berbeda antara
beberapa negara dan dapat mengubah cara responden penelitian untuk merespons. Dalam
penelitian ini, mereka yang merupakan peminum sangat berat ditemukan memiliki risiko lebih
tinggi untuk kejadian SCC laring dibandingkan dengan kontrol, dengan OR 6,0 (P 0,002, 95%
CI: 1,957-18,398).
Distribusi area kanker laring telah terbukti menjadi faktor risiko dependent.
22,30,32
Berbagai penelitian telah menunjukkan peningkatan risiko untuk kanker glotis diantara pasien
yang merokok saja, sedangkan mereka yang merokok dan minum alkohol menderita lebih
banyak kanker supraglotis daripada kanker glotis.
22,30-32
Walaupun begitu, terdapat penelitian lain
yang membantah temuan ini. Misalnya, Hashibe dkk
19
menemukan risiko yang sama antara
kanker supraglotis dan glotis. Penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya, yang
menunjukkan risiko yang kuat untuk kanker glotis antara pasien yang merokok tetapi tidak
konsumsi alkohol dibandingkan dengan kontrol.
Selain itu, hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa menjadi seorang mantan
perokok tetap memberikan risiko terhadap kejadian SCC laring di semua area laring, resiko yang
tertinggi adalah kanker supraglotis (OR = 6.7), kemudian disusul oleh SCC glotis (OR = 6.1)
apabila dibandingkan dengan kontrol. Lewis dkk
33
dan peneliti lainnya
5-7
menunjukkan bahwa
glotis secara anatomis adalah bagian tersempit dari saluran napas bagian atas, oleh karena itu
lebih rentan terhadap pengendapan karsinogen yang ditemukan dalam asap rokok. Area anatomi
ini juga menunjukkan zona transisi dari epitel skuamosa ke epitel kolumnar semu. Juga terdapat
risiko yang besar untuk terjadinya metaplasia yang berkembang menjadi displasia dan akhirnya
menjadi karsinoma invasif dengan paparan karsinogen yang terhirup maupun tertelan, seperti
yang dikemukakan oleh Renne dkk.
34

Berbagai peneliti telah mempelajari efek gabungan dari merokok dan konsumsi alkohol
dan telah menunjukkan bahwa terdapat efek yang bertambah maupun berkali lipat saat
dibandingkan dengan kontrol..
20,30,32
Penelitian ini menunjukkan risiko yang signifikan (OR =
10,476) untuk kejadian kanker supraglotis di antara mereka yang merokok dan mengonsumsi
alkohol. Supraglotis unik dari area laring yang lain karena dilewati oleh agen-agen yang terhirup
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
10
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


maupun tertelan. Dari penelitian terdahulu yang telah diterbitkan, diketahui bahwa alkohol
adalah pelarut mukosa topikal untuk karsinogen asap rokok, dan karena itu dapat meningkatkan
absorpsinya.
10,20
Terdapat peningkatan risiko untuk semua area laring ketika keduanya
dikonsumsi bersamaan.
Dalam penelitian ini, tampak bahwa durasi merokok dan apakah seseorang adalah
perokok aktif menunjukkan asosiasi yang lebih kuat terhadap perkembangan SCC laring
dibandingkan pengukuran terhadap variabel merokok yang lain. Mereka yang berhenti merokok
risikonya menjadi berkurang secara signifikan untuk kejadian SCC laring, meskipun mantan
perokok masih memiliki risiko yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kontrol. Terdapat
peningkatan risiko diantara mereka yang merokok dan minum alkohol di semua area laring.
Populasi penelitian ini yang dikaitkan dengan merokok ditemukan sebesar 62%, menegaskan
kembali fakta bahwa merokok merupakan faktor risiko utama untuk kanker ini dan dapat
dikurangi melalui pengurangan inhalasi tembakau.
Terakhir, ini adalah penelitian berbasis rumah sakit dan karena itu mungkin tidak
mencerminkan gambaran yang benar dari populasi umum, mempertimbangkan bias seleksi
Berksonian dimana responden yang berbasis rumah sakit cenderung lebih mudah untuk
berpartisipasi dalam proyek penelitian dibandingkan dengan kontrol.
References
1. World Health Organization International Agency for Research on Cancer. IARC Monographs on the Evaluation of
Carcinogenic Risks to Humans. Volume 83. Tobacco Smoke and Involuntary Smoking. Available at: http://
monographs.iarc.fr/ENG/Monographs/vol83/volume83.pdf. Last updated Jul 2002. Accessed Sep 2, 2012
2. Mutuma GZ, Rugutt-Korir A. Nairobi Cancer Registry Kenya Medical Research Institute. Nairobi, Kenya. Cancer
Incidence Report NAIROBI 20002002. Available at: http://www.healthresearchweb.org/files/
CancerIncidenceReportKEMRI.pdf. Last updated 2006. Accessed
Sep 2, 2012.
3. Onyango JF, Macharia IM. Delays in diagnosis, referral and management of head and neck cancer presenting at
Kenyatta National Hospital, Nairobi. East Afr Med J. 2006;83(4):8591.
4. Onyango JF, Awange DO, Njiru A, Macharia IM. Pattern of occurrence of head and neck cancer presenting at
Kenyatta Hospital, Nairobi. East Afr Med J. 2006;83(5):28891.
5. Jinxiang Xi, Longest P. Characterization of sub micrometer aerosol deposi-tion in extrathoracic airways during nasal
exhalation. Aerosol Sci Tech. 2009;
43(8):80827.
6. Martonen TB. Surrogate Experimental Models for Studying Particle- Deposition in the Human Respiratory Tract.
Washington, DC: US Environmental Protection Agency; 1985.
7. Yang CP, Gallagher RP, Weiss NS, Band PR, Thomas DB, Russell DA.
-Difference in incidence rates of cancers of the respiratory tract by anatomic subsite and histologic type: An etiologic
implication. J Natl Cancer Inst. 1989;81(23):182831.
8. Nina G, Michaels L, Luzar B, et al. Current review on squamous intraepi-thelial lesions of the larynx. Histopathology.
2009;54(6):63956.
9. Church DF, Pryor WA. Free-radical chemistry of cigarette smoke and its toxicological implications. Environ Health
Perspect. 1985;64:11126.
10. Zeka A, Gore R, Kriebel D. Effects of alcohol and tobacco on aerodiges-tive cancer risks: a meta-regression analysis.
Cancer Causes Control. 2003;14(9):897906.
11. Seitz HK, Stickel F. Molecular mechanisms of alcohol-mediated carcinogenesis-. Nat Rev Cancer. 2007;7(8):599612.
12. National Institutes of Health. National Institute on Alcohol Abuse and Alco-holism. Available at:
http://www.niaaa.nih.gov/guide. Accessed Sep 2, 2012.
Risk factors for laryngeal squamous cell carcinoma in Kenya
11
Clinical Medicine Insights: Ear, Nose and Throat 2012:5


13. Oburra HO, Scholz T, Werner JA, et al. Presentation and initial assessment of laryngeal cancer at Kenyatta National
Hospital. MEDICOM-The African
Journal of Hospital and Scientific Medicine. 2010;25:2932.
14. Islami F, Tramacere I, Rota M, et al. Alcohol drinking and laryngeal cancer: overall and dose-risk relationa
systematic review and meta-analysis. Oral Oncol. 2010;46(11):80210.
15. Kenya National Bureau of Statistics (KNBS) and ICF Macro. Kenya -Demographic and Health Survey 20082009.
Calverton, Maryland: KNBS and ICF Macro; 2010.
16. Gallus S, Bosetti C, Franceschi S, Levi F, Negri E, La Vecchia C. -Laryngeal cancer in women: tobacco, alcohol,
nutritional and hormonal factors.
Cancer- Epidemiol Biomarkers Prev. 2003;12(6):5147.
17. Franceschi S, Talamini R, Barra S, et al. Smoking and drinking in relation to cancers of the oral cavity, pharynx,
larynx and esophagus in northern Italy. Cancer Res. 1990;50(20):65027.
18. Hashibe M, Paul Brennan, Shuchun Chuang, Stefania Boccia, et al. Interaction between tobacco and alcohol use and
the risk of head and neck cancer: pooled analysis in the International Head and Neck Cancer Epidemiology

Consortium. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev. 2009;18(2):54150.
19. Hashibe M, Boffetta P, Zaridze D, et al. Contribution of tobacco and alcohol to the high rates of squamous cell
carcinoma of the supraglottis and glottis in Central Europe. Am J Epidemiol. 2007;165(7):81420.
20. Talamini R, Bosetti C, La Vecchia C, et al. Combined effect of tobacco and alcohol on laryngeal cancer risk: a case-
control study. Cancer Causes Control-. 2002;13(10):95764.
21. Altieri A, Bosetti C, Talamini R, et al. Cessation of smoking and drinking and the risk of laryngeal cancer. Br J
Cancer. 2002;87(11):12279.
22. De Stefani E, Boffetta P, Deneo-Pellegrini H, et al. Supraglottic and glottic carcinomas: epidemiologically distinct
entities? Int J Cancer. 2004;112(6): 106571.
23. Bosetti C, Garavello W, Gallus S, La Vecchia C. Effects of smoking cessa-tion on the risk of laryngeal cancer: an
overview of published studies. Oral Oncol. 2006;42(9):86672.
24. Bosetti C, Gallus S, Peto R, et al. Tobacco smoking, smoking cessation, and cumulative risk of upper aerodigestive
tract cancers. Am J Epidemiol.
2008;167(4):46873.
25. Maier H, Tisch M. Epidemiology of laryngeal cancer: results of the -Heidelberg case-control study. Acta Otolaryngol
Suppl. 1997;527:1604.
26. Wiencke JK, Thurston SW, Kelsey KT, et al. Early age at smoking initiation and tobacco carcinogen DNA damage in
the lung. J Natl Cancer Inst. 1999;
91(7):6149.
27. Austin DF, Reynolds P. Laryngeal cancer. In: Schottenfeld D, Fraumeni JF, editors. Cancer Epidemiology and
Prevention. 2nd ed. New York: Oxford University Press; 1996.
28. Chin D, Boyle GM, Theile DR, Parsons PG, Coman WB. Molecular introduction to head and neck cancer (HNSCC)
carcinogenesis. Br J Plast Surg. 2004;57(7):595602.
29. Secretan B, Straif K, Baan R, et al. A review of human carcinogensPart E: tobacco, areca nut, alcohol, coal smoke,
and salted fish. Lancet Oncol. 2009;10(11):10334.
30. Dosemeci M, Gokmen I, Unsal M, Hayes RB, Blair A. Tobacco, alcohol use, and risks of laryngeal and lung cancer by
subsite and histologic type in
Turkey. Cancer Causes Control. 1997;8(5):72937.
31. Lee YC, Marron M, Benhamou S, et al. Active and involuntary tobacco smoking and upper aerodigestive tract cancer
risks in a multicenter case-control study. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev. 2009;18(12): 335361.
32. Menvielle G, Luce D, Goldberg P, Bugel I, Leclerc A. Smoking, alcohol drinking and cancer risk for various sites of
the larynx and hypopharynx. A case-control study in France. Eur J Cancer Prev. 2004;13(3):16572.
33. Lewis DJ. Factors affecting the distribution of tobacco smoke-induced lesions in the rodent larynx. Toxicol Lett.
1981;9(2):18994.
34. Renne RA, Gideon KM. Types and patterns of response in the larynx fol-lowing inhalation. Toxicol Pathol.
2006;34(3):2815.