Anda di halaman 1dari 15

PARTUS LAMA

I. ANATOMI JALAN LAHIR


- Jalan lahir dibagi atas:
a. Bagian tulang, terdiri atas tulang-tulang panggul dengan persendiannya
(artikulasio)
b. Bagian lunak, terdiri atas otot-otot, jaringan-jaringan, dan ligament
a. Bagian Tulang
- Tulang-tulang panggul terdiri atas 4 tulang, yaitu :
a. Dua os koksa (sinistra dan dekstra)
b. Os sacrum
c. Os koksigis merupakan fusi dari os ilium, ischium, dan pubis
- Persendian panggul
a. Simfisis pubis
Menghubungkan os pubis sinistra dan dekstra.
Diperkuat oleh ligamentum pubikum superior dan inferior.
Mempunyai tingkat pergerakan tertentu, yang dalam kehamilan tingkat
pergerakan semakin dipermudah.
b. Artikulasio sakro-iliaka
Menghubungkan os sacrum dengan os ilium.
c. Artikulasio sakro-koksigea
Menghubungkan os sacrum dengan os koksigis.
Diluar kehamilan artikulasio ini hanya memungkinkan pergerakan sedikit,
tetapi dalam kehamilan persendian ini mengalami relaksasi akibat
perubahan hormonal, sehingga pada waktu persalinan dapat dapat digeser
lebih jauh dan lebih longgar, misalnya ujung os koksigis dapat bergerak ke
belakang sampai sejauh lebih kurang 2,5 cm. Hal ini dapat dilakukan apabila
ujung os koksigis menonjol ke depan.

- Pintu Atas Panggul
Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh
promontorium korpus vertebra sacral 1, linea innominata (terminalis), dan
pinggir atas simfisis.
Konjugata2
Dalam obstetric, dikenal 4 jenis panggul, yang mempunyai ciri-ciri pintu
atas panggul sebagai berikut:
a. Jenis ginekoid : panggul paling baik untuk perempuan. Bentuk pintu atas
panggul hampir bulat. Panjang diameter antero-posterior kira-kira sama
dengan diameter transversa.
b. Jenis android : bentuk pintu atas panggul hampir segitiga. Umumnya
banyak didapat pada pria. Panjang diameter antero-posterior hamper
sama dengan diameter transversa, akan tetapi yang terakhir ini jauh lebih
mendekati sacrum. Dengan demikian, bagian belakangnya pendek dan
gepeng, sedangkan bagian depannya menyempit ke depan.
c. Jenis antropoid : bentuk pintu atas panggul agak lonjong, seperti telur.
Panjang diameter antero-posterior lebih besar daripada diameter
transversa.
d. Jenis platipelloid : jenis ini adalah seperti jenis ginekoid yang
menyempit pada arah muka belakang. Ukuran melintang jauh lebih
besar daripada ukuran muka belakang.
Ruang panggul dibawah pintu atas panggul mempunyai ukuran yang paling
luas. Di panggul tengah terdapat penyempitan dalam ukuran melintangi
setinggi kedua spina ischiadica. Jarak antara kedua spina ini normal 10 cm
atau lebih sedikit. Karena di pintu atas panggul ukuran yang lebar adalah
ukuran melintang dan di ruang panggul ukuran melintang yang sempit,
maka janin saat lewat di ruang panggul harus menyesuaikan diri dengan
melakukan putaran paksi dalam.
- Bidang Hodge
Bidang-bidang Hodge penting dipelajari untuk menentukan sampai dimanakah bagian
terendah janin turun dalam panggul dalam persalinan.
a. Bidang Hodge I : Bidang datar yang melalui bagian atas simfisis dan
promontorium. Bidang ini dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul.
b. Bidang Hodge II : Bidang yang sejajar dengan Bidang Hodge I terletak setinggi
bagian bawah simfisis.
c. Bidang Hodge III : Bidang yang sejajar Bidang Hodge I dan II terletak setinggi
spina ischiadica kanan dan kiri. Pada rujukan lain, bidang Hodge III disebut
juga bidang O. Kepala yang berada diatas 1 cm disebut (-1) atau sebaliknya.
d. Bidang Hodge IV : Bidang yang sejajar dengan Bidang Hodge I, II, dan III
terletak setinggi os koksigis.
- Pintu Bawah Panggul
Pintu bawah panggul bukan merupakan suatu bidang datar, tetapi tersusun atas 2
bidang datar yang masing-masing berbentuk segitiga, yaitu bidang yang dibentuk
oleh garis antara kedua buah tubes os iskii dengan ujung os sacrum dan segitiga
lainnya yang alasnya juga garis antara kedua tuber os iskii dengan bagian bawah
simfisis. Pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung ke bawah dan merupakan sudut
disebut arkus pubis. Dalam keadaan normal besarnya sudut ini +90 , atau lebih besar
sedikit. Bila kurang sekali (lebih kecil) dari 90 , maka kepala janin akan lebih sulit
dilahirkan karena memerlukan tempat lebih banyak kea rah dorsal (ke arah anus).
Jarak antara kedua tuber os iskii (distansia tuberum) juga merupakan ukuran pintu
bawah panggul yang penting (normal 10,5cm). Bila lebih kecil, jarak antara tengah-
tengah distansia tuberum ke ujung sacrum harus cukup panjang agar bayi normal
dapat dilahirkan.
b. Bagian Lunak Jalan Lahir
- Pada kala pengeluaran (Kala II) segmen bawah uterus, serviks uteri, dan vagina ikut
membentuk jalan lahir. Selain uterus dan vagina, otot-otot, jaringan-jaringan ikat, dan
ligamen-ligamen yang berfungsi menyokong alat-alat urogenitalis perlu perlu
diketahui oleh karena semuanya mempengaruhi jalan lahir dan lahirnya kepala atau
bokong pada partus.
- Otot-otot yang menahan dasar panggul di bagian luar adalah muskulus sfingter ani
eksternus, muskulus bulbokavernosus, dan muskulus perninei transversus
superfisialis.
- Pada bagian yang lebih dalam terdapat otot-otot dalam yang paling kuat, disebut
diafragma pelvis, terutama muskulus levator ani yang berfungsi menahan dasar
panggul. Ia menutup hamper seluruh bagian belakang pintu bawah panggul.
- Muskulus levator ani mempunyai peranan yang penting dalam mekanisme putaran
paksi dalam janin. Kemiringan dan elastisitas otot ini membantu memudahkan
putaran paksi dalam janin. Pada otot yang kurang miring (lebih mendatar) dan kurang
elastis (misalnya pada multipara yang elastisitas otot berkurang),putaran paksi dalam
lebih sulit.
- Dalam diafragma pelvis berjalan nervus pudendus yang masuk ke rongga panggul
melalui kanalis Alcock, terletak antara spina ischiadica dan tuber iskii. Pada
persalinan sering dilakukan anesthesia blok pudendus, sehingga rasa sakit dapat
dihilangkan pada ekstraksi cunam, ekstraksi vakum, penjahitan rupture perinea, dan
sebagainya.
- Arteri dan vena yang berjalan dalam rongga panggul adalah cabang bawah dari arteria
dan vena uterine serta cabang-cabang arteria dan vena hemorroidalis superior.
- Sirkulasi janin dengan ibu (belum)

II. FISIOLOGI DAN MEKANISME PERSALINAN NORMAL
- Kehamilan secara umum ditandai dengan aktivitas otot polos miometrium yang
relative tenang yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan janin
intrauterine sampai dengan kehamilan aterm. Menjelang persalinan, otot polos uteri
mulai menunjukkan aktivitas kontraksi secara terkoordinasi, diselingi dengan suatu
periode relaksasi, dan mencapai puncaknya menjelang persalinan, serta secara
berangsur menghilang pada periode postpartum.
Fase-Fase Persalinan Normal
Beberapa jam terakhir kehamilan ditandai dengan adanya kontraksi uterus yang
menyebabkan penipisan, dilatasi serviks, dan mendorong janin keluar melalui jalan
lahir. Kontraksi miometrium pada persalinan terasa nyeri.
Tiga Kala Persalinan
1. Kala satu persalinan : Mulai ketika telah tercapai kontraksi uterus
dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang cukup untuk menghasilkan
pendataran dan dilatasi serviks yang progresif. Kala satu selesai ketika
serviks sudah membuka lengkap (sekitar 10 cm) sehingga
memungkinkan kepala janin lewat. Oleh karena itu, kala satu persalinan
disebut stadium pendataran dan dilatasi serviks.
2. Kala dua persalinan : Dimulai ketika dilatasi serviks sudah lengkap, dan
berakhir ketika janin sudah lahir. Kala dua persalinan disebut juga
sebagai stadium ekspulsi janin.
3. Kala tiga persalinan : Dimulai segera setelah janin lahir, dan berakhir
dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban janin. Kala tiga persalinan
disebut juga sebagai stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta.
Diferensiasi Aktivitas Uterus
Selama persalinan, uterus berubah bentuk menjadi dua bagian yang
berbeda. Segmen atas yang berkontraksi secara aktif menjadi lebih tebal
ketika persalinan berlangsung, mengalami retraksi, dan mendorong janin
keluar; sebagai respons terhadap gaya dorong kontraksi segmen atas.
Segmen bagian bawah, relative lebih pasif disbanding dengan segmen atas,
dan bagian ini berkembang menjadi jalan lahir yang berdinding jauh lebih
tipis. Segmen bawah uterus dan serviks semakin lunak berdilatasi. Dengan
cara demikian membentuk suatu saluran muscular dan fibromuskular yang
menipis sehingga janin dapat menonjol keluar.

III. PARTUS LAMA (DISTOSIA)
- Didefinisikan sebagai persalinan yang abnormal/sulit.
- Penyebab dibagi dalam 3 golongan :
a. KELAINAN TENAGA (KELAINAN HIS)
Jenis-jenis Kelainan His
1. I nersia Uteri
1) Inersia uteri primer (hypotonic uterine contraction)
His bersifat biasa, fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu
daripada bagian-bagian lain, peranan fundus tetap menonjol.
Kelainan terletak dalam hal kontraksi uterus lebih aman, singkat dan
jarang daripada biasa. Keadaan umum penderita biasanya baik dan rasa
nyeri tidak seberapa.
2) Inersia uteri sekunder
Apabila timbul seteah berlangsung his kuat untuk waktu yang lama.
Diagnosis inersia uteri paling sulit ditegakkan pada masa laten. Kontraksi
uterus yang disertai rasa nyeri, tidak cukup untuk menjadi dasar utama
diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. Oleh karena itu diperlukan
kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks
yakni pendataran dan/atau pembukaan.
2. His terlampau kuat
Disebut juga hypertonic uterine contraction.
His yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai
dalam waktu yang sangat singkat.
Partus yang sudah selesai kurang dari 3 jam dinamakan partus
presipitatus yang ditandai oleh sifat his yang normal, tonus otot di luar his
juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. Bahaya partus
presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir,
khususnya vagina dan perineum. Bayi bisa mengalami perdarahan dalam
tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu
yang singkat.
3. I ncoordinate uterine action
Terjadi perubahan dari sifat his dan peningkatan tonus otot uterus, serta
tidak adanya sinkronisasi kontraksinya bagian atas, tengah, dan bawah
sehingga menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan.
Peningkatan tonus otot uterus juag menyebabkan rasa nyeri yang lebih
keras dan lama bagi ibu yang dapat menyebabkan hipoksia pada janin.
Kadang-kadang pada persalinan lama dengan ketuban yang sudah pecah,
kelainan his ini menyebabkan spasme sirkuler setempat, sehingga terjadi
penyempitan kavum uteri pada tempat tersebut. Hal ini dinamakan lingkaran
kontraksi atau konstriksi.
Lingkaran konstriksi ini tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam,
kecuali kalau pembukaan sudah lengkap sehingga tangan dapat dimasukkan ke
dalam kavum uteri.
Etiologi Kelainan His
Terutama ditemukan pada primigravida, khususnya primigravida tua.
Pada multipara lebih banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri.
Faktor herediter mungkin juga memegang peranan terhadap kelainan his.
Faktor emosi (seperti ketakutan dan lain-lain) juga dapat mempengaruhi
kelainan his, khususnya inersia uteri, ialah apabila bagian bawah janin tidak
berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti pada kelainan letak
janin atau pada disproporsi sefalopelvik.
Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion
juga dapat merupakan penyebab inersia uteri yang murni.
Penanganan
1. Pertahankan keadaan umum dan tanda vital terlebih dahulu pada segala
macam sebab apapun :
- Tekanan darah diukur tiap empat jam, pemeriksaan ini perlu dilakukan
lebih sering apabila terdapat gejala preeclampsia.
- Denyut jantung janin dicatat setiap setengah jam dalam kala I dan lebih
sering dalam kala II.
- Pantau keadaan karena dapat terjadi kemungkinan dehidrasi dan asidosis.
2. Pemberian analgetik berupa petidin 50 mg yang dapat diulangi.
3. Pemeriksaan dalam perlu dilakukan meskipun dapat menimbulkan bahaya
infeksi.
4. Perlunya ditetapkan apakah persalinan benar-benar sudah dimulai (serviks
sudah terbuka minimal 3 cm) atau masih dalam tingkat false labour, apakah
terdapat inersia uteri atau incoordinate uterine action; dan apakah terdapat
disproporsi sefalopelvik. Utntuk menetapkan ada tidaknya disproporsi
sefalopelvik, jika perlu dilakukan pelvimetri roentgenologik atau Magnetic
Resonance Imaging (MRI).
1. Penanganan Inersia Uteri
- Lakukan pemeriksaan keadaan serviks, presentasi serta posisi janin,
turunnya kepala janin dalam panggul, dan keadaan panggul.
- Apabila terdapat disproporsi sefalopelvik, sebaiknya dilakukan seksio
sesarea. Apabila tidak ada disproporsi dapat diambil sikap lain.
- Keadaan umum diperbaiki, kandung kencing serta rectum dikosongkan.
- Apabila bokong kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam
panggul, penderita diperintahkan untuk berjalan-jalan, tindakan ini
bertujuan untuk memperkuat his. Pada waktu pemeriksaan dalam,
ketuban boleh dipecahkan, hal ini dilakukan karena dapat merangsang
his sehingga mempercepat jalannya persalinan. Namun sesudah
dilakukan pecah ketuban, persalinan tidak boleh berlangsung lama.
- Cara penanganan lainnya dapat dilakukan dengan oksitosin. 5 satuan
oksitosin dimasukkan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara
infuse intravena dengan kecepatan kira-kira 12 tetes per menit dan
perlahan-lahan dapat dinaikkan sampai 50 tetes. Tujuan pemberian
oksitosin adalah untuk memperbaiki his sehingga serviks dapat
membuka. Satu cirri khas oksitosin adalah bahwa hasil pemberiannya
tampak dalam waktu singkat. Oleh karena itu pemberian oksitosin
dianjurkan untuk tidak digunakan berlarut-larut dan sebaiknya diberikan
beberapa jam saja. Apabila tidak ada kemajuan, pemberiannya
dihentikan dan kemudian dicoba lagi untuk beberapa jam. Apabila masih
tidak ada kemajuan, lebih baik dilakukan seksio sesarea.
- Pada pemberian oksitosin, kekuatan dan kecepatan his serta keadaan
denyut jantung janin harus selalu diperhatikan. Apabila kontraksi uterus
berlangsung lebih dari 60 detik atau denyut jantung janin menjadi cepat
atau lambat, infuse harus diberhentikan. Pemberian oksitosin berbahaya
pada wanita dengan panggul sempit dan pada adanya regangan segmen
bawah uterus. Oksitosin juga tidak boleh diberikan pada grande
multipara dan kepada penderita yang pernah mengalami seksio sesarea
atau miomektomi, karena memudahkan terjadinya rupture uteri.
2. Penanganan His Terlalu Kuat
Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat dilakukan karena biasanya
bayi sudah lahir tanpa ada yang menolong. Apabila ibu pernah mengalami
partus presipitatus sebelumnya, kemungkinan kejadian ini akan berulang
pada persalinan berikutnya. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan rawat inap
sebelum persalinan sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik.
Pada persalinan keadaan diawasi dengan cermat, dan episiotomy dilakukan
pada waktu yang tepat untuk menghindari terjadinya rupture perinea tingkat
ke-3. Apabila his kuat dan terdapat rintangan yang menghalangi jalan lahir,
dapat timbul lingkaran retraksi patologik, yang merupakan tanda bahaya
terjadinya rupture uteri. Dalam keadaan demikian janin harus dilahirkan
dengan cara yang memberikan trauma minimal bagi ibu dan anak.
3. Penanganan Incoordinate Uterine Action
Kelainan ini hanya dapat diobati secara simptomatis karena belum ada
pengobatan yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagian-
bagian uterus, yaitu dengan mengurangi tonus otot dan mengurangi
ketakutan penderita dengan pemberian analgetika, seperti morfin dan
petidin. Akan tetapi, persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut
terlebih apabila ketuban telah pecah. Pada pembukaan yang belum lengkap,
perlu dipertimbangkan seksio sesarea.
b. KELAINAN JANIN
Terdiri dari kelainan letak, presentasi, atau posisi janin dalam kandungan, yaitu:
1. Posisi oksipitalis posterior persistens (POPP) (belum)
2. Presentasi puncak kepala (belum)
3. Presentasi muka
- Terjadi apabila sikap janin ekstensi maksimal sehingga kepala dalam
keadaan defleksi maksimal, oksiput mendekat kearah punggung janin
dan dagu menjadi bagian presentasinya.
- Etiologi
a. Keadaan yang memaksa defleksi kepala
b. Atau menghalangi fleksi
- Faktor predisposisi yang meningkatkan kejadian presentasi dahi ialah:
a. Malformasi janin (0,9%)
b. Berat badan lahir < 1.500 gram (0,71%)
c. Polihidramnion (0,63%)
d. Postmaturitas (0,18%)
e. Multiparitas (0,16%)
- Diagnosis
Diagnosis presentasi muka ditegakkan apabila pada pemeriksaan vaginal
dapat diraba mulut, tepi orbita, dan dagu. Penunjuk presentasi muka
adalah dagu. Pada palpasi abdomen kadang-kadang dapat diraba
tonjolan kepala janin di dekat punggung janin. Pada waktu persalinan,
seringkali muka menjadi edema, sehingga diagnosis dapat keliru sebagai
presentasi bokong, dimana pada keadaan tersebut perabaan pada mulut
mirip dengan perabaan pada anus. Sebanyak 49% kasus presentasi muka
tidak terdiagnosis sebelum kala II.w2
- Penanganan
a. Persalinan dapat spontan per vaginam apabila posisi dagu berada di
anterior. Apabila tidak ada gawat janin dan persalinan berlangsung
dengan kecepatan normal, maka cukup dilakukan observasi terlebih
dahulu hingga terjadi pembukaan lengkap. Apabila setelah
pembukaan lengkap dagu berada di anterior, maka persalinan per
vaginam dilanjutkan.
b. Seksio sesarea dilakukan apabila setelah pembukaan lengkap posisi
dagu masih di posterior, didapatkan tanda-tanda disproporsi, atau
atas indikasi obstetric lainnya.
- Mekanisme Persalinan
Mekanisme persalinan presentasi muka serupa dengan persalinan
presentasi belakang kepala. Secara berurutan akan terjadi proses kepala
mengalami penurunan (descent), rotasi internal, fleksi, ekstensi, rotasi
eksternal. Sebelum masuk panggul biasanya kepala janin belum dalam
sikap ekstensi maksimal, sehingga masih presentasi dahi. Ketika terjadi
penurunan kepala, tahanan dari panggul akan menyebabkan kepala lebih
ekstensi sehingga terjadi perubahan menjadi presentasi muka. Ketika
masuk pintu atas panggul dagu dalam posisi transversal atau oblik.
Pada pintu tengah panggul, terjadi rotasi internal, tujuannya untuk
membuat kepala agar dapat semakin memasuki panggul dengan cara
mengubah posisi dagu ke anterior. Apabila dagu berputar kea rah
posterior, maka kepala akan tertahan oleh sacrum sehingga kepala tidak
mungkin turun lebih lanjut, dan terjadilah hambatan persalinan. Pada
janin yang sangat kecil atau sudah terjadi maserasi, bahu, dan kepala
secara bersamaan masuk ke dalam panggul, sehingga meskipun dagu di
posterior kepala tetap dapat mengalami penurunan. Keadaan demikian
tidak dapat terjadi pada janin yang cukup bulan, oleh karena itu
diharuskan untuk melakukan seksio sesarea.
Putaran panggul ke arah anterior akan membuat kepala dapat
memasuki pintu tengah panggul dan dagu serta mulut muncul di vulva.
Pada keadaan demikian dagu bawah tepat berada dibawah simfisis.
Sesuai dengan arah sumbu panggul, gerakan selanjutnya adalah
fleksi kepala sehingga berturut-turut lahirlah hidung, mata, dahi, dan
oksiput. Setelah kepala lahir, karena gaya beratnya akan terjadi ekstensi
kepala sehingga oksiput menekan kea rah anus. Proses selanjutnya
adalah terjadi putaran eksternal, dimana kepala menyesuaikan kembali
dengan arah punggung janin.
- Prognosis
a. Pada presentasi mentoposterior persisten, prognosis kurang baik.
b. Angka kematian perinatal sebesar 2,5 5 %.
4. Presentasi dahi
- Terjadi dimana kepala janin dalam sikap ekstensi sedang.
- Pada pemeriksaan dalam dapat diraba :
a. Daerah sinsiput / sutura frontalis yang berada di antara ubun-ubun
besar dan pangkal hidung.
b. Mulut dan dagu tidak teraba.
- Etiologi
Sama dengan presentasi muka
- Kejadian presentasi dahi meningkat apabila didapatkan adanya:
a. Polihidramnion (0,4%)
b. Berat badan lahir < 1.500 gram (0,19%)
c. Prematuritas (0,16%)
d. Postmaturitas (0,1%)
- Diagnosis
Diagnosis ditegakkan apabila pada pemeriksaan vaginal dapat diraba
pangkal hidung, tepi atas orbita, sutura frontalis, dan ubun-ubun bear,
tetapi tidak dapat meraba dagu atau mulut janin. Apabila mulut dan dagu
janin teraba, maka diagnosis adalah presentasi muka. Pada palpasi
abdomen dapat teraba oksiput dan dagu janin di atas simfisis pubis
dengan mudah.
- Penanganan
Sebagian besar presentasi dahi memerlukan pertolongan persalinan
dengan seksio sesarea untuk menghindari manipulasi vaginal yang
sangat meningkatkan mortalitas perinatal.
- Mekanisme Persalinan
Pada janin dengan ukuran normal, terutama apabila selaput ketuban
sudah pecah, biasanya tidak dapat terjadi perubahan presentasi menjadi
presentasi belakang kepala, presentasi muka. Apabila presentasi dahi
yang menetap dibiarkan lebih lanjut, maka akan terjadi molase yang
hebat sehingga diameter oksipitomental akan berkurang dan terbentuk
caput succedaneum di daerah dahi. Persalinan dapat berlangsung apabila
molase tersebut membuat kepala bisa masuk panggul.
- Prognosis
Persalinan janin dengan presentasi dahi yang dilakukan secara per
vaginam akan meningkatkan resiko terjadinya prolaps tali pusat (5x),
rupture uteri (17x), transfuse darah (3x), infeksi pasca persalinan (5x)
dan kematian perinatal (2x).
5. Letak sungsang
- Janin terletak memanjang dengan kepala di fundus dan bokong di bagian
bawah kavum uteri.
- Epidemiologi
Dengan insidensi 3-4% dari seluruh kehamilan tunggal pada umur
kehamilan cukup bulan (37 minggu), letak sungsang merupakan
malpresentasi yang paling sering dijumpai. Sebelum umur kehamilan 28
minggu, kejadian presentasi bokong berkisar antara 25-30% dan
sebagian besar akan berubah menjadi presentasi kepala setelah umur
kehamilan 34 minggu.
- Etiologi
Penyebab pasti terjadinya letak sungsang tidak diketahui, tetapi terdapat
beberapa faktor resiko, yaitu:
a. Prematuritas
b. Abnormalitas struktur uterus
c. Polihidramnion
d. Plasenta previa
e. Multiparitas
f. Mioma uteri
g. Kehamilan multiple
h. Anomali janin (hidrosefalus, anensefali)
i. Riwayat presentasi bokong sebelumnya
- Terdapat 3 jenis, yaitu:
a. Presentasi Bokong
b. Presentasi Kaki
c. Presentasi Bokong Kaki
- Diagnosis
a. Pemeriksaan palpasi abdomen
Dengan melakukan Manuver Leopold, yang dilakukan pada setiap
kunjungan perawatan antenatal bila umur kehamilan sudha mencapai
34 minggu
b. Pemeriksaan dalam vagina
c. Pemeriksan USG
Peranan ultrasonografi penting dalam diagnosis dan penilaian
resiko pada letak sungsang. Taksiran berat janin, penilaian volume
air ketuban, konfirmasi letak plasenta, jenis letak sungsang, keadaan
hiperekstensi kepala, kelainan congenital, dan kesejahteraan janin
dapat diperiksa dengan USG.
Berat janin dapat diperkirakan secara ultrasonografis berdasarkan
ukuran diameter biparietal, lingkar kepala, lingkar perut, dan panjang
tulang femur. Gambaran USG tentang ekstremitas bawah juga dapat
memberikan informasi tentang jenis letak sungsang janin.
Kesejahteraan janin dinilai berdasarkan skor profil biofisik janin.
Keadaan hiperekstensi kepala janin (disebut stargazer Ietus atau
Ilying Ietus) adalah keadaan janin sedemikian sehingga tulang
mandibula membentuk sudut ~105 terhadap sumbu memanjang
vertebra servikalis. Hiperekstensi didagnosis menggunakan USG.
Terjadi pada sekitar 5% dari seluruh letak sungsang pada umur
kehamilan cukup bulan. Hiperekstensi kepala janin merupakan
kontra indikasi untuk persalinan vaginal, karena kepala akan sulit
dilahirkan sehingga beresiko menimbulkan cedera medulla spinalis
leher.
Mempelajari jenis letak sungsang apakah janin presentasi bokong
murni (60-70% kasus), kaki, atau bokong kaki (10% kasus) penting
untuk kepentingan seleksi pasien yang akan dicoba persalinan
vaginal.
- Penanganan
- Mekanisme Persalinan
6. Letak lintang (belum)
7. Presentasi ganda (belum)
c. KELAINAN JALAN LAHIR (sumber masih dari diktat jadi masih
seadanya dulu)
Berupa kesempitan panggul, yaitu pada:
1. Pintu Atas Panggul
- Konjugata vera <10 cm
- Serviks tidak terbuka
- Bahaya prolapsus funikuli
2. Panggul Tengah
- Distansia interspinarum <9,5 cm
- Posisi oksipitalis posterior persistens (POPP), deep transverse arrest
3. Pintu Bawah Panggul
- Distansia tuberum <15 cm
- Arkus pubis 80
Prognosis
a. Bahaya Pada Ibu
1. Partus lama dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, serta infeksi
intrapartum
2. His kuat dapat menyebabkan terjadinya rupture uteri
3. Terjadinya fistula vesikoservikalis, vesikovaginalis, dan rektovaginalis.
b. Bahaya Pada Janin
1. Dapat menyebabkan kematian perinatal, infeksi intrapartum
2. Prolapsus funikuli
3. Moulage berat perdarahan intrakranial
Penanganan Persalinan
1. Persalinan percobaan
2. Seksio sesarea