Anda di halaman 1dari 29

1

BAB 1. PENDAHULUAN

Infeksi saluran kemih merupakan suatu keadaan yang tidak dapat
diabaikan karena insidennya masih cukup tinggi, yaitu sekitar 5,2 %, sedangkan
dari penderita yang berobat ke dokter umum 0,5-l % menunjukkan gejala infeksi
saluran kemih.
1

Insiden pada wanita dewasa 5% lebih banyak dari pada pria maupun anak-
anak, sedangkan pada usia lanjut lebih meningkat dan mencapai 20-50%.
Frekuensi yang tinggi pada wanita disebabkan oleh karena beberapa faktor, salah
satu di antaranya adalah karena saluran uretra wanita lebih pendek sehingga
mudah terkontaminasi oleh kuman-kuman sekitar perianal.
1

Pielonefritis adalah inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang
disebabkan karena adanya infeksi oleh mikroorganisme. Infeksi ini paling sering
akibat infeksi ascenden dari traktus urinarius bagian bawah. Pielonefritis ini
termasuk dalam infeksi saluran kemih bagian atas.

Pada saluran kemih yang sehat,
naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan
membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke
kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu
ginjal) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal.
2,3

Pada umumnya pielonefritis disebabkan oleh Escherichia coli (bakteri
yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar). Bakteri ini merupakan
penyebab dari 90% infeksi ginjal di luar rumah sakit dan penyebab dari 50%
infeksi ginjal di rumah sakit.
3

Pielonefritis menunjukkan adanya infeksi bakteri pada parenkim ginjal.
Invasi mikroorganisme secara hematogen sangat jarang ditemukan, kemungkinan
merupakan akibat lanjut dari bakterimia. Menurut literatur disebutkan bahwa
angka kejadian pielonefritis yaitu 280 kasus per 100.000 perempuan dengan
rentang umur 18 sampai 49 tahun. Sebanyak 7% pasien memerlukan perawatan di
rumah sakit.
3




2

BAB 2. STATUS PASIEN

2.1 Identitas Pasien
Nama : Nn. A
Usia : 22 tahun
Alamat : Dusun Krajan, Garahan
Pekerjaan : Pegawai Pabrik
Status Marital : Belum Menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
No. Rekam Medis : 01.92.14
Tanggal MRS : 13 Juni 2014
Tanggal Pemeriksaan : 16 Juni 2014
Tanggal KRS : 20 Juni 2014

2.2 Anamnesis
2.2.1 Keluhan Utama
Nyeri pinggang bagian kanan dan nyeri perut bagian bawah.

2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan nyeri pinggang bagian kanan dan nyeri perut bagian
bawah sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dirasakan pasien hilang timbul. Selain itu
perut terasa kembung, mual, muntah dan badan terasa panas disertai menggigil
sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku sudah lebih dari seminggu yang lalu
mengeluhkan nyeri saat kencing, sering kencing dengan jumlah yang sedikit-
sedikit dan berwarna kuning kemerahan. Karena kondisi umum pasien yang
semakin memburuk, pasien memutuskan untuk berobat ke RSD dr. Soebandi.

2.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat asma (-)


3

Riwayat diabetes (-)
Riwayat penyakit hati (-)
Riwayat penyakit ginjal (-)
Gastritis (-)
Riwayat infeksi saluran kemih (+)
Demam sebelumnya (+)

2.2.4 Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah berobat.

2.2.5 Riwayat Alergi
Disangkal.

2.2.6 Riwayat Penyakit Keluarga
Disangkal.

2.2.7 Riwayat Sosial Ekonomi Dan Lingkungan
Sosial Ekonomi
Pendidikan terakhir pasien adalah SMA, sehari-hari pasien bekerja di
pabrik.
Lingkungan
Pasien tinggal bersama orang tua dan kakaknya. Pasien tinggal di sebuah
rumah yang terdiri dari 3 kamar dan 1 kamar mandi. Rumah beratapkan genteng,
beralaskan keramik, tembok dari batu bata, ventilasi dan pencahayaan baik. Air
minum sehari-hari yang berasal dari sumur selalu dimasak hingga mendidih
sebelum dikonsumsi.
Kesan : keadaan sosial, ekonomi dan lingkungan cukup.






4

2.2.8 Riwayat Gizi
Pasien makan 3 kali dalam sehari. Menu yang sering dikonsumsi berupa
nasi, lauk pauk beragam dan sayur-sayuran..
Kesan : kebutuhan gizi cukup.

2.3 Anamnesis Sistem
Sistem Serebrospinal : tidak ada keluhan
Sistem Kardiovaskular : tidak ada keluhan
Sistem Pernafasan : tidak ada keluhan
Sistem Gastrointestinal : nyeri pinggang bagian kanan dan nyeri perut
bagian bawah, kembung, nafsu makan berkurang,
mual, muntah.
Sistem Urogenital : BAK tidak lancar, nyeri saat BAK, urin berwarna
kuning kemerahan.
Sistem Integumentum : tidak ada keluhan
Sistem Muskuloskeletal : tidak ada keluhan
Kesan : terdapat masalah pada sistem gastrointestinal dan urogenital.

2.4 Pemeriksaan Fisik Umum
Keadaan umum : lemah
Kesadaran : compos mentis
Tanda tanda vital :
a. Tekanan darah : 110/70 mmHg
b. Nadi : 84 x/menit
c. Temperatur : 38,5 C
d. Respiration Rate : 20 x/menit
Gizi : cukup
BB = 50 kg; TB = 155 cm
IMT = 20,8 (BB normal)
Kulit : tidak ada nodul, ptekie (-), ekimosis (-)
Kelenjar limfe : tidak ada pembesaran limfe colli, aksila, dan inguinal


5

Ekstremitas
Otot : Tidak terdapat atrofi otot, tidak terdapat kelemahan otot,
tidak terdapat edema di ekstrimitas bawah
Tulang : Tidak ada deformitas
Sendi : Tidak terdapat nyeri sendi di kedua kaki
Kesan : pada pemeriksaan umum didapatkan peningkatan suhu tubuh.

2.5 Pemeriksaan Fisik Khusus
Kepala
Bentuk : bulat dan simetris
Ukuran : normocephal
Rambut : hitam, lurus, tipis, tidak mudah dicabut
Mata
Konjungtiva anemis : -/-
Sklera ikterus : -/-
Edema palpebra : -/-
Refleks pupil : normal, pupil isokor 3mm/3mm, RC +/+
Hidung : sekret (-), perdarahan (-), pernapasan cuping hidung (-)
Telinga : sekret (-), tidak bau, tidak perdarahan
Mulut : tidak sianosis
Lidah : ukuran normal, lidah kotor (-), atrofi papil lidah (-)
Tonsil : tidak tampak hiperemis, tonsil tidak membesar
Leher
KGB : tidak ada pembesaran
Tiroid : tidak membesar
Kesan : pemeriksaan khusus dalam batas normal.

Thorax
Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba


6

Perkusi : batas kanan atas: redup pada ICS II PSL D
batas kanan bawah: redup pada ICS V PSL D
batas kiri atas: redup pada ICS II PSL S
batas kiri bawah: redup pada ICS V linea aksilaris
sinistra
Auskultasi : S1S2 tunggal e/g/m: -/-/-

Pulmo
Ventralis (V) Dorsalis (D)
Inspeksi
Bentuk: normal, simetris Bentuk: normal, simetris
Retraksi (-/-) Retraksi (-/-)
Gerakan nafas tertinggal (-/-) Gerakan nafas tertinggal (-/-)
Pelebaran ICS (-) Pelebaran ICS (-)
Palpasi
(dextra) (sinistra) (dextra) (sinistra)
Fremitus raba Fremitus raba
N N N N
N N N N
N N N N
N N N N
N N N N N N N N
N N N N N N N N
Nyeri tekan (-), krepitasi (-)
Perkusi
S S S S
S S S S
S S S S
S S S S
S S S S S S S S


7

S S S S
Auskultasi
Suara Dasar
BV BV BV BV
BV BV BV BV
V V V V
V V V V
V V V V V V V V
V V V V
Rhonki
- - - -
- - - -
- - - -
- - - -
- - - - - - - -
- - - -

Wheezing
- - - -
- - - -
- - - -
- - - -
- - - -
- - - - - - - -
- - - -

Kesan: cor dan pulmo dalam batas normal.





8

Abdomen
Inspeksi : cembung
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi : soepel, nyeri ketok ginjal kanan (+), nyeri tekan
suprapubis (+)
Kesan: ditemukan adanya nyeri ketok ginjal kanan dan nyeri tekan
suprapubis.

Extremitas :
Atas : akral hangat : + / +
edema : - / -
Bawah : akral hangat : +/ +
edema : - / -
Kesan: ektremitas dalam batas normal.

2.6 Hasil Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Nilai Normal Hasil
Hematologi Hb 12,0-16,0 12,5
Leukosit 4,5-11,0 15,0
Hematokrit 36-46 42,5
Trombosit 150-450 350
Faal Hati Bil. Direk 0,2-0,4 0,33
Bil. Total <1,2 1,0
SGOT 10-31 28
SGPT 9-36 26
Glukosa sewaktu <200 115
Elektrolit Natrium 135-155 142,0
Kalium 3,5-5,0 4,00


9

Clorida 90-110 108,7
Calsium 2,15-2,57 2,20
Faal Ginjal Kreatinin serum 0,5-1,1 0,7
BUN 6-20 14
Urea 26-43 30
Asam Urat 2,0-5,7 4,8
Urinalisis lengkap Warna Kuning Jernih Kuning
kemerahan
pH 4,8-7,5 7,0
BJ 1,015-1,025 1,015
Protein Negatif Negatif
Glukosa Normal Normal
Urobilin Normal Normal
Bilirubin Negatif Negatif
Nitrit Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
Leukosit Makros Negatif Negatif
Blood Makros Negatif +1
Eritrosit 0-2 5-10
Leukosit 0-2 2-5
Epitel Squamous 0-2 0-2
Epitel Renal Negatif Negatif
Kristal Negatif Negatif
Silinder Negatif Negatif
Bakteri Negatif Positif
Yeast Negatif Negatif
Trichomonast Negatif Negatif





10

2.7 Pemeriksaan Penunjang
Foto Thoraks
Tanggal 13 Juni 2014

Kesan: cor dan pulmo dalam batas normal.

Foto USG
Tanggal 15 Juni 2014

Kesan: edema ren dextra akibat proses inflamasi.




11

Foto BOF
Tanggal 16 Juni 2014

Kesan : abdomen dalam batas normal.

2.8 Resume
Anamnesis
Seorang wanita berusia 22 tahun mengeluhkan nyeri pinggang bagian
kanan dan nyeri perut bagian bawah sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dirasakan pasien
hilang timbul. Selain itu perut terasa kembung, mual, muntah dan badan terasa
panas disertai menggigil sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku sudah lebih dari
seminggu yang lalu mengeluhkan nyeri saat kencing, sering kencing dengan
jumlah yang sedikit-sedikit dan berwarna kuning kemerahan.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum pasien lemah, kesadaran compos mentis, suhu tubuh
meningkat, status gizi cukup, thoraks dalam batas normal, abdomen nyeri ketok
ginjal kanan dan nyeri tekan regio suprapubis.



12

Pemeriksaan Penunjang
Lab DL : leukositosis
Lab UL : blood macros +1, eritrosit 5-10, leukosit 2-5, bakteri (+)
Foto Thoraks : cor dan pulmo dalam batas normal
USG Abdomen : edema ren dextra akibat proses inflamasi
Foto BOF : dalam batas normal
Assesment
Pielonefritis dextra.
Penatalaksanaan
Medikamentosa:
Inf RL 20 tpm
Inj Cefotaxime 3 x 1 gram
Inj Ranitidin 3 x 1 ampul
Inj Ondansetron 2 x 1 ampul
Inj Buscopan 3 x 1 ampul
Paracetamol 3 x 1
Prognosis
Dubia ad bonam.





13

2.9 Follow Up




14






15





16







17

2.10 Perbandingan Teori dan Kasus
Parameter Teori Kasus
Anamnesis:
Nyeri pinggang dan nyeri perut bagian
bawah
Tanda-tanda ISK
Tanda-tanda infeksi (demam menggigil)
Mual, muntah
Malaise



+
+
+
+
+



+
+
+
+
+
Faktor Resiko:
Jenis kelamin
Kehamilan
Diabetes
Sumbatan
Disfungsi neurogenik kandung kemih
Penurunan sistem imun


+
+
+
+
+
+

+
-
-
-
-
-
Pemeriksaan Fisik:
Nyeri ketok ginjal
Nyeri tekan abdomen regio suprapubis

Pemeriksaaan Penunjang:
USG Abdomen untuk melihat adanya
kelainan pada ginjal
PIV untuk menilai besar ginjal, adanya
parut ginjal (renal scar) dan keadaan dari
sistem pelviokalises
Kultur urin


+
+



+

+

+


+
+



+

-

-



18

Pemeriksaan Laboratorium:
Darah Lengkap
Leukositosis
LED meningkat
Peningkatan kadar C-Reaktif Protein
Urinalisis
Hematuria
Leukosuria
Bakteri



+
+
+

+
+
+



+
-
-

+
+
+
























19

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Definisi
Pielonefritis adalah inflamasi pada pelvis ginjal dan parenkim ginjal yang
disebabkan karena adanya infeksi oleh mikroorganisme. Infeksi ini paling sering
akibat infeksi ascenden dari traktus urinarius bagian bawah. Proses invasi
mikroorganisme secara hematogen sangat jarang ditemukan, kemungkinan
merupakan akibat lanjut dari bakterimia.
1


3.2. Anatomi Ginjal
Ginjal terletak di ruang retroperitoneal antara vetebra torakal dua belas
atau lumbal satu dan lumbal empat. Panjang dan beratnya bervariasi 6 cm dan
24 gram pada bayi lahir cukup bulan, sampai 12 cm atau lebih dari 150 gram pada
orang dewasa. Pada bayi baru lahir ginjal sering dapat diraba. Pada janin
permukaan ginjal tidak rata, berlobus-lobus yang kemudian akan menghilang
dengan bertambahnya umur. Tiap ginjal terdiri atas 8-12 lobus berbentuk piramid.
Ginjal memiliki lapisan luar, yaitu korteks yang mengandung glomerulus, tubulus
proksimal dan distal yang berkelok-kelok dan duktus koligens, serta lapisan dalam
yaitu medula, yang mengandung bagian tubulus yang lurus, ansa henle, vasa rekta
dan duktus koligens terminal.
3

Puncak piramid medula menonjol ke dalam disebut papil ginjal yang
merupakan ujung kaliks minor. Beberapa duktus koligens bermuara pada duktus
pipalaris Bellini yang ujungnya bermuara di papil ginjal dan mengalirkan urin ke
dalam kaliks minor. Karena ada 18-24 lubang muara duktus Bellini pada ujung
papil maka daerah tersebut terlihat sebagai tapisan beras dan disebut area kribrosa.
Antara dua piramid terdapat jaringa korteks tempat masuknya cabang-
cabang arteri renalis disebut kolumna Bertini. Beberapa kaliks minor membentuk
kaliks mayor yang bersatu menjadi piala (pelvis) ginjal dan kemudian bermuara
ke dalam ureter. Ureter kanan dan kiri bermuara di vesika urinaria. Urin
dikeluarkan dari vesika urinaria melalui uretra.
3



20


Tiap tubulus ginjal dan glumerulusnya membentuk satu kesatuan (nefron).
Nefron adalah unit fungsional ginjal. Dalam setiap ginjal terdapat sekitar satu juta
nefron. Setiap nefron terdiri dari kapsula bowman, tumbai kapiler glomerulus,
tubulus kontortus proksimal, lengkung henle dan tubulus kontortus distal, yang
mengosongkan diri ke duktus pengumpul.
3

Arteri renalis dicabangkan dari aorta abdominalis kira-kira setinggi
vertebra lumbalis II. Vena renalis menyalurkan darah kedalam vena kava inferior
yang terletak disebelah kanan garis tengah. Saat arteri renalis masuk kedalam
hilus, arteri tersebut bercabang menjadi arteri interlobaris yang berjalan diantara
piramid selanjutnya membentuk arteri arkuata kemudian membentuk arteriola
interlobularis yang tersusun paralel dalam korteks. Arteri interlobularis ini
kemudian membentuk arteriola aferen pada glomerulus. Glomeruli bersatu
membentuk arteriola aferen yang kemudian bercabang membentuk sistem portal
kapiler yang mengelilingi tubulus dan disebut kapiler peritubular. Darah yang
mengalir melalui sistem portal ini akan dialirkan kedalam jalinan vena selanjutnya
menuju vena interlobularis, vena arkuarta, vena interlobaris, dan vena renalis
untuk akhirnya mencapai vena cava inferior. Sifat khusus aliran darah ginjal
adalah autoregulasi aliran darah melalui ginjal arteriol afferen mempunyai
kapasitas intrinsik yang dapat merubah resistensinya sebagai respon terhadap


21

perubahan tekanan darah arteri dengan demikian mempertahankan aliran darah
ginjal dan filtrasi glomerulus tetap konstan.
3


3.3 Epidemiologi
Pada usia dewasa kasus ini telah sering timbul pada wanita dewasa muda
(usia subur), salah satu kemungkinan adalah karena proses dari kehamilan
(obstetry history). 20-30% wanita hamil dengan bakteriuri asimptomatik
selanjutnya akan berkembang menjadi pielonefritis. Lebih dari 250.000 kasus
terjadi di AS setiap tahun, dan 200.000 diantaranya memerlukan perawatan di
rumah sakit. Menurut literatur lain disebutkan bahwa angka kejadian pielonefritis
yaitu 280 kasus per 100.000 perempuan dengan rentang umur 18 sampai 49 tahun.
Sebanyak 7% pasien memerlukan perawatan di rumah sakit.
5


3.4 Klasifikasi
Klasifikasi pielonefritis dipandang dari segi penatalaksanaan:
2

1. Pielonefritis uncomplicated (sederhana)
Merupakan pielonefritis sederhana yang terjadi pada penderita dengan
pyelum dan parenkim ginjal baik anatomik maupun fungsi dalam keadaan
normal. Pielonefritis sederhana ini terutama mengenai penderita wanita dan
infeksi hanya mengenai mukosa superfisial. Penyebab kuman tersering (90%)
adalah E. coli. Tipe ini jarang dilaporkan menyebabkan insufisiensi ginjal
kronik. Dari seluruh pasien ini, 90% diantaranya berespons terhadap terapi
antibiotika dan 10% sisanya dapat mengalami infeksi akut berulang atau
bakteriuria asimptomatik yang menetap.
2. Pielonefritis complicated
Adalah pielonefritis yang sering menimbulkan masalah karena kuman
penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa
macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan syok dan sering
menyebabkan insufisiensi ginjal kronik yang berakhir dengan gagal ginjal
terminal.


22

Insiden terjadinya kasus uncomplicated pielonefritis di setiap negara
mempunyai data statistik yang berbeda, hali ini dipengaruhi oleh taraf kesehatan
dan pelayanan medis di negara tersebut. Kasus uncomplicated pielonefritis di
Indonesia inisden dan prevalensinya masih cukup tinggi. Keadaan ini tidak
terlepas dari tingkat dan taraf kesehatan masyarakat Indonesia yang masih jauh
dari standar dan tidak meratanya tingkat kehidupan sosial ekonomi, yang mau
tidak mau berdampak langsung pada kasus ini di Indonesia.

3.5 Etiologi
Bakteri % Uncomplicated % Complicated
Gram negatif
Escherichia coli 70-95 21-54
Proteus mirabilis 1-2 1-10
Klebsiella spp 1-2 2-17
Citrobacter spp < 1 5
Enterobacter spp < 1 2-10
Psedomonas aeruginosa < 1 2-19
Other < 1 6-20

Gram positif
Coagulase-negative
staphylococci
5-10* 1-4
Enterococci 1-2 1-23
Group B streptococci < 1 1-4
Staphylococcus aureus < 1 1-23
Other < 1 2







23

3.6 Patofisiologi
Saluran kemih harus dilihat sebagai satu unit anatomi tunggal berupa
saluran yang berkelanjutan mulai dari uretra sampai ginjal. Pada sebagian besar
infeksi, bakteri dapat mencapai kandung kemih melalui uretra. Kemudian dapat
diikuti oleh naiknya bakteri dari kandung kemih yang merupakan jalur umum
kebanyakan infeksi parenkim renal.
1


Introitus vagina dan uretra distal secara normal dialami oleh spesies-
spesies difteroid, streptokokus, laktobasilus, dan stafilokokus, tapi tidak dijumpai
basil usus gram negatif yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih. Namun,
pada perempuan yang mudah mengalami sisitis, didapatkan organisme usus gram
negatif yang biasa terdapat pada usus besar pada intortius, kulit periuretra, dan
uretra bagian bawah sebelum atau selama terjadi bakteriuria.
1,2

Pada keadaan normal, bakteri yang terdapat dalam kandung kemih dapat
segera hilang. Sebagian karena efek pengenceran dan pembilasan ketika buang air
kecil tapi juga akibat daya antibakteri urin dan mukosa kandung kemih. Urin
dalam kandung kemih kebanyakan orang normal dapat menghambat atau
membunuh bakteri terutama karena konsentrasi urea dan osmolaritas urin yang
tinggi. Sekresi prostat juga mempunyai daya antibakteri. Leukosit
polimorfonuklear dalam dinding kandung kemih tampaknya juga berperan dalam
membersihkan bakteriuria. Keadaan-keadaan yang mempengaruhi patogenesis
infeksi saluran kemih, yaitu:
3,7




24

1. Jenis kelamin dan aktivitas seksual
Uretra perempuan tampaknya lebih cenderung didiami oleh basil gram
negatif, karena letaknya di atas anus, ukurannya pendek (kira-kira 4 cm),
dan berakhir dibawah labia. Pijatan uretra, seperti yang terjadi selama
hubungan seksual menyebabkan masuknya bakteri kedalam kandung
kemih dan hal yang penting dalam patogenesis infeksi saluran kemih pada
perempuan muda. Buang air kecil setelah hubungan seksual terbukti
menurunkan resiko sistisis, mungkin karena tindakan ini meningkatkan
eradikasi bakteri yang masuk selama hubungan seksual.
2. Kehamilan
Kecenderungan infeksi saluran kemih bagian atas selama kehamilan
disebabkan oleh penurunan kekuatan ureter, penurunan peristaltik ureter,
dan inkompetensi sementara katup vesikoureteral yang terjadi selama
hamil.
3. Sumbatan
Adanya halangan aliran bebas urin seperti tumor, striktura, batu atau
hipertrofi prostat yang menyebabkan hidronefrosis dan peningkatan
frekuensi infeksi saluran kemih yang sangat tinggi. Super infeksi pada
sumbatan saluran kemih dapat menyebabkan kerusakan jaringan ginjal
yang cepat.
4. Disfungsi neurogenik kandung kemih
Gangguan saraf yang bekerja pada kandung kemih, seperti pada jejas
korda spinalis, tabes dorsalis, multipel sklerosis, diabetes, atau penyakit
lain dapat berhubungan dengan infeksi saluran kemih. Infeksi dapat
diawali oleh penggunaan kateter untuk drainase kandung kemih dan
didukung oleh stasis urin dalam kandung kemih untuk jangka waktu yang
lama.
5. Refluks vesikoureteral
Keadaan ini didefinisikan sebagai refluks urin dari kandung kemih ke
ureter dan kadang sampai pelvis renal. Hal ini terjadi selama buang air
kecil atau dengan peningkatan tekanan pada kandung kemih. Refluks


25

vesikoureteral terjadi jika gerakan retrograd zat radio opak atau radioaktif
dapat ditunjukkan melalui sistouretrogram selama buang air kecil.
Gangguan anatomis pertemuan vesikoureteral menyebabkan refluks
bakteri dan karena itu terjadilah infeksi saluran kemih.
6. Faktor virulensi bakteri
Faktor virulensi bakteri mempengaruhi kemungkinan strain tertentu,
begitu dimasukkan ke dalam kandung kemih, akan menyebabkan infeksi
traktus urinarius. Hampir semua strain E. coli yang menyebabkan
pielonefritis pada pasien dengan traktus urinarius normal secara anatomik
mempunyai pilus tertentu yang memperantarai perlekatan pada bagian
digaktosida dan glikosfingolipid yang ada di uroepitel. Strain yang
menimbulkan pielonefritis juga biasanya merupakan penghasil hemolisin,
mempunyai aerobaktin dan resisten terhadap kerja bakterisidal dari serum
manusia.
7. Faktor genetik
Faktor genetik pejamu mempengaruhi kerentanan terhadap infeksi
urinarius. Jumlah dan tipe reseptor pada sel uroepitel tempat bakteri dapat
menempel dan dapat ditentukan, setidaknya sebagian, secara genetik.




26

3.7 Diagnosis
3.7.1 Anamnesis
Manifestasi klinis pada pielonefritis akut:
5,6

demam jarang melebihi 39,4
o
C
nyeri sudut kostovertebral
mual dan/atau muntah
Gejala-gejala ini tidak semestinya terjadi bersamaan dan mungkin disertai
dengan gejala sistitis termasuk frequency, hesistancy, lower abdominal pain and
urgency. Gejala-gejala lain:
gross hematuria (hemorrhagic cystitis) hadir dalam 30-40% kasus
pielonefritis pada wanita, paling sering wanita muda
nyeri bisa ringan, sedang atau berat. Nyeri panggul (flank pain) dapat
terjadi unilateral atau kadang-kadang bilateral. Ketidaknyamanan atau
nyeri bisa pada pinggang dan/atau daerah suprapubik, dinyatakan
sebagai rasa tidak nyaman, berat, sakit, atau tekanan
Kekakuan, dan menggigil, bisa ada tanpa adanya demam
Malaise

3.7.2 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan:
5,6

Nyeri sudut kostovertebral, biasanya unilateral, tergantung pada ginjal
yang terinfeksi
Nyeri tekan suprapubis, ringan sampai sedang tanpa rebound
Suara usus aktif (normal)
Pada wanita, seharusnya tidak didapatkan nyeri tekan pada serviks, uterus
maupun adnexa

3.7.3 Pemeriksaan Laboratorium
Pada urinalisis, didapatkan:
5,6

Hematuria


27

Leukosuria
Bakteri
Pada analisa darah, didapatkan:
Leukositosis
Laju Endap Darah (LED) meningkat
Peningkatan kadar C-reactive protein


3.8 Penatalaksanaan
Medikamentosa
Terapi acute uncomplicated pyelonefritis:
5,6

Pada infeksi yang disebabkan patogen E. coli:
First-line: Fluoroquinolon:
o Ciprofloxacin:
Dosis: 500 mg 2 kali sehari selama 14 hari;
o Levofloxacin:
Dosis: 250 mg 1 kali sehari selama 10 hari;
o Kontraindikasi: wanita hamil dan anak-anak
Second-line: Trimethroprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX):
o Dosis: 1 double strength tablet, 2 kali sehari, selama 14 hari.
Pada infeksi yang disebabkan patogen bakteri gram-positif:
Amoxicillin atau Amoxicillin-Clavulanic Acid:
o Dosis: 500 mg, setiap 8 jam, selama 14 hari

3.9 Prognosis
Prognosis pielonefritis baik (penyembuhan 100%) bila memperlihatkan
penyembuhan klinik maupun bakteriologi terhadap antibiotika. Bila faktor-faktor
predisposisi tidak diketahui atau berat dan sulit dikoreksi, kira-kira 40% dari
pasien menjadi kronik.
6





28

3.10 Komplikasi
Pielonefritis berulang dapat mengakibatkan hipertensi, parut ginjal, gagal
ginjal kronik dan sepsis. Komplikasi abses ginjal atau perirenal atau dengan
infeksi saluran kemih yang tersumbat memerlukan tindakan bedah atau drainase
perkutan disamping pengobatan dengan antibiotik dan tindakan pendukung
lainnya.
6




























29

DAFTAR PUSTAKA

1. National Kidney & Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUDIC).
Kidney and Urologic Diseases Statistics for the United States.
2. Nicolle LE. Uncomplicated Urinary Tract Infection in Adults Including
Uncomplicated Pyelonephritis. Urol Clin N Am 2008;35:112. [PMID:
18061019].
3. Wein, Kavoussi, Novick, et al. Campbell-Walsh Urology Tenth Edition, 2012.
4. Longo, Fauci, Kasper, et al. Harrisons Principles of Internal Medicine 18th
Editon, 2012.
5. Gupta K et al: International Clinical Practice Guidelines for the Treatment of
Acute Uncomplicated Cystitis and Pyelonephritis in Women: A 2010 Update
by the Infectious Diseases Society of America and the European Society for
Microbiology and Infectious Diseases. Clin Infect Dis 52:e103, 2011.
6. Warren JW, Abrutyn E, Hebel JR, et al. Guidelines for Antimicrobial
Treatment of Uncomplicated Acute Bacterial Cystitis and Acute
Pyelonephritis. Clin Infect Dis 1999;29:745758. [PMID: 10589881].