Anda di halaman 1dari 115

Office Address:

Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan


(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Number : 021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694
Medan :
Jl. Setiabudi No. 65 G, Medan
Phone Number : 061 8229229
Pin BB : 24BF7CD2
www.optimaprep.com
dr. Widya, dr. Alvin, dr. Yolina
dr. Cemara, dr. Ayu, dr. Gregorius
Kebijakan JKN
a. Undang-Undang
- UU No. 40 Tahun 2004 Tentang SJSN
- UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
- UU No. 24 Tahun 2011 Tentang BPJS
b. Peraturan Pemerintah
- PP No. 101 Tahun 2012 Tentang Penerimaan Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
c. Peraturan Presiden
- Perpres 32 Tahun 2014 Tentang Pemanfaatan Dana Kapitasi
- Perpres No. 12 Tahun 2013 Tentang Jaminan Kesehatan
- Perpres No. 111 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Perpres No. 12 Tahun 2003 Jamkes
d. Peraturan Menteri Kesehatan
- PMK 19 Tahun 2014 Penggunaan Dana Kapitasi
- PMK No. 69 Tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Program JKN
- PMK No. 71 Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan pada KJN
Manual Penyelenggaraan Praktik
- Buku Penyelengaraan Praktik Kedokteran
- Manual Komunikasi KKI
- Manual Persetujuan Tindakan Medik
- Manual RekamMedis
FormulariumNasional
Kode Etik Kedokteran Indonesia
Juklak Assessment Dokter
http://www.idionline.org/2014/05/bahan-bacaan-assesment-kompetensi-lulusan-ukdi-februari-2014-
Regulator
BPJS Kesehatan
Peserta
Jaminan Kes
Fasilitas
Kesehatan
Mencari Pelayanan
Memberi Pelayanan
Regulasi Sistem Pelayanan
Kesehatan (rujukan, dll)
Regulasi (standarisasi)
Kualitas Yankes, Obat, Alkes
Regulasi Tarif Pelayanan
Kesehatan,
K
e
n
d
a
l
i

B
i
a
y
a

&

k
u
a
l
i
t
a
s

Y
a
n
k
e
s
Pemerintah
Sistem Rujukan
Single payer, regulated, equity
1. Tahap pertama mulai tanggal 1 Januari 2014 adalah: PBI Jaminan
Kesehatan, Peserta Askes, Peserta jaminan pemeliharaan
kesehatan Jamsostek, dan Peserta ASABRI
2. Tahap Kedua meliputi seluruh penduduk yang belum masuk
sebagai peserta BPJS Kesehatan paling lambat 1 Januari 2019
Jaminan Kesehatan Nasional (1)
Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar
peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan
dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada
setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
pemerintah.
Perpres No.12/2013 ttg JKN pasal 1
Perpres No.12/2013 ttg JKN Pasal 6
K
e
p
e
s
e
r
t
a
a
n
1. Penerima Bantuan Iuran (PBI) jaminan kesehatan; dan
2. Bukan PBI Jaminan Kesehatan : Pekerja Penerima Upah, Pekerja
Bukan Penerima Upah, Bukan Pekerja dan anggota keluarganya
Perpres No.12/2013 ttg JKN pasal 2,3,4
Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan
yang selanjutnya disebut PBI Jaminan
Kesehatan adalah
Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu
sebagai peserta program jaminan kesehatan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR 101 TAHUN 2012
Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan
Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya;
Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota
keluarganya
bukan Pekerja dan anggota keluarganya
Pekerja Penerima
Upah
Pegawai Negeri Sipil
Anggota TNI
Anggota Polri
Pejabat Negara
Pegawai Pemerintah
Non Pegawai Negeri
pegawai swasta
Bukan Pekerja
investor
Pemberi Kerja
penerima pensiun
Veteran
Perintis Kemerdekaan
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN
Manfaat pelayanan promotif dan preventif
meliputi
pemberian pelayanan:
a. penyuluhan kesehatan perorangan;
b. imunisasi dasar;
c. keluarga berencana; dan
d. skrining kesehatan.
Pasal 21
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN
Pelayanan kesehatan
yang tidak dijamin
meliputi:
pelayanan kesehatan
yang dilakukan tanpa
melalui prosedur
pelayanan kesehatan
yang dilakukan di
Fasilitas Kesehatan
yang tidak
bekerjasama dengan
BPJS
pelayanan kesehatan
yang telah dijamin oleh
program jaminan
kecelakaan kerja
pelayanan kesehatan
yang dilakukan di luar
negeri;
pelayanan kesehatan
untuk tujuan estetik;
pelayanan untuk
mengatasi infertilitas;
pelayanan meratakan
gigi (ortodonsi);
gangguankesehatan/p
enyakit akibat
ketergantungan obat
dan/atau alkohol
gangguan kesehatan
akibat sengaja
menyakiti diri sendiri,
atau akibat
melakukan hobi yang
membahayakan diri
sendiri;
Pengobatan
komplementer,
alternatif dan
tradisional, termasuk
akupuntur, shin she,
chiropractic
pengobatan dan
tindakan medis yang
dikategorikan sebagai
percobaan
alat kontrasepsi,
kosmetik, makanan
bayi, dan susu;
perbekalan kesehatan
rumah tangga;
pelayanan kesehatan
akibat bencana pada
masa tanggap darurat,
kejadian luar
biasa/wabah
ruang perawatan kelas III
bagi:
1. Peserta PBI Jaminan
Kesehatan; dan
2. Peserta Pekerja
Bukan Penerima Upah
dan Peserta bukan
Pekerja dengan iuran
untuk Manfaat
pelayanan di ruang
perawatan kelas III.
ruang perawatan kelas II
bagi:
Pegawai Negeri Sipil
dan penerima pensiun
Pegawai Negeri Sipil
golongan ruang I dan
golongan ruang II
beserta anggota
keluarganya;
perawatan kelas I bagi:
Pejabat Negara dan
anggota keluarganya;
Pegawai Negeri Sipil
dan penerima pensiun
pegawai negeri sipil
golongan ruang III dan
golongan ruang IV
beserta anggota
keluarganya;
Anggota TNI dan
penerima pensiun
Anggota TNI yang
setara Pegawai Negeri
Sipil golongan ruang III
dan golongan ruang IV
beserta anggota
keluarganya
BPJS Kesehatan melakukan pembayaran kepada
Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan
berdasarkan cara Indonesian Case Based
Groups(INACBGs)
Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama adalah
pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat non
spesialistik (primer) meliputi pelayanan rawat jalan
dan rawat inap
Pelayanan Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan
adalah upaya pelayanan kesehatan perorangan yang
bersifat spesialistik atau sub spesialistik yang
meliputi rawat jalan tingkat lanjutan
Persyaratan Umum
Peserta wajib
memiliki identitas
sebagai Peserta BPJS
Kesehatan.
Peserta wajib
terdaftar di 1 (satu)
Fasilitas Kesehatan
tingkat pertama.
Untuk pertama kali
setiap Peserta
didaftarkan oleh BPJS
Kesehatan pada satu
Fasilitas Kesehatan
tingkat pertama
Peserta wajib
menyetujui
penggunaan
informasi tentang
kesehatan dan
pelayanan kesehatan
yang diterimanya
oleh BPJS Kesehatan
Rawat Inap Tingkat
Lanjutan Persyaratan
mendapatkan
Pelayanan
Menyerahkan surat
rujukan dari Fasilitas
Kesehatan tingkat
pertama atau Fasilitas
Kesehatan lain
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN
2013
JC Robinson, 2001:There are many
mechanisms for paying physicians, some
are good and some are bad. The worst are
fee for service, capitation and salary
Salary
Dokter menerima
pembayaran yang
nilainya tetap untuk
jam kerja tertentu
secara periodik
Fee For Service
Dokter dibayar
berdasarkan jumlah
atau jenis pelayanan
yang diberikan
kepada pasien
Kapitasi
Pembayaran di muka
(prospective) nilai tetap
(fixed fee) per peserta
per bulan. Dokter
dibayar berdasarkan
jumlah peserta yang
mendaftar kepadanya
Case-Based
Reimbursement
Dokter mendapat
bayaran yang sudah
ditentukan sebelumnya
(prospective) per
kasus atau per episode
penyakit
METODE MEMBAYAR DOKTER LAYANAN PRIMER DALAM ERA JKN
PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA JAKARTA, 2013
Dokter tidak boleh mengakhiri hubungan
dengan pasien apabila pasien mengeluh
tentang pelayanan kedokteran yang diberikan
Hubungan profesional dokter pasien dapat
berakhir apabila pasien melakukan kekerasan
PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEDOKTERAN YANG BAIK DI
INDONESIA
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Jakarta 2006
Dalam rangka pembinaan dan pengawasan,
Ketua KKI dapat mencabut STR dokter atau
STR dokter gigi apabila:
a. atas rekomendasi MKDKI;
b. tidak mampu menjalankan praktik
kedokteran.
PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEDOKTERAN YANG BAIK DI
INDONESIA
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Jakarta 2006
persetujuan tindakan
kedokteran adalah
pernyataan sepihak
pasien atau yang sah
mewakilinya
yangisinya berupa
persetujuan atas
rencana tindakan
kedokteran
setelah menerima
informasi yang cukup
untuk dapat
membuat
persetujuan atau
penolakan
Suatu persetujuan
dianggap sah apabila:
a. Pasien telah diberi
penjelasan/
informasi
b. Pasien atau yang
sah mewakilinya
dalam keadaan
cakap (kompeten)
untuk memberikan
keputusan/persetuj
uan.
c. Persetujuan harus
diberikan secara
sukarela.
Persetujuan meliputi berbagai aspek pada
hubungan antara dokter dan pasien,
diantaranya:
Kerahasiaan dan pengungkapan informasi
Pemeriksaan skrining
Pendidikan
Penelitian
MANUAL PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Jakarta 2006
Tenaga kesehatan
yang diatur dalam
Pasal 2 ayat (2)
sampai dengan ayat
(8) Peraturan
Pemerintah Nomor 32
Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan
terdiri dari :
Tenaga medis meliputi
dokter dan dokter gigi;
Tenaga keperawatan
meliputi perawat dan
bidan;
Tenaga kefarmasian
meliputi apoteker, analis
farmasi dan asisten
apoteker;
Tenaga kesehatan
masyarakat meliputi
epidemiolog kesehatan,
entomolog kesehatan,
mikrobiolog kesehatan,
penyuluh kesehatan,
Administrator kesehatan
dan sanitarian;
Tenaga gizi meliputi
nutrisionis dan dietisien;
Tenaga keterapian
fisik meliputi
fisioterapis,
okupasiterapis dan
terapis wicara;
Tenaga keteknisian
medis meliputi
radiografer,
radioterapis, teknisi
gigi, teknisi
elektromedis, analis
kesehatan,
refraksionis optisien,
othotik prostetik,
teknisi tranfusi dan
perekam medis;
MANUAL REKAM MEDIK
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
Jakarta 2006
Isi Rekam Medis
Catatan, merupakan
uraian tentang
identitas pasien,
pemeriksaan pasien,
diagnosis,
pengobatan,
tindakan dan
pelayanan lain baik
dilakukan oleh
dokter dan dokter
gigi maupun tenaga
kesehatan lainnya
sesuai dengan
kompetensinya.
Dokumen,
merupakan
kelengkapan dari
catatan tersebut,
antara lain foto
rontgen, hasil
laboratorium dan
keterangan lain
sesuai dengan
kompetensi
keilmuannya.
MANUAL REKAM MEDIK
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
Jakarta 2006
Berdasarkan hasil
penelitian, manfaat
komunikasi efektif
dokter-pasien di
antaranya:
Meningkatkan
kepuasan pasien dalam
menerima pelayanan
medis dari dokter atau
institusi pelayanan
medis.
Meningkatkan
kepercayaan pasien
kepada dokter yang
merupakan dasar
hubungan dokter-
pasien yang baik.
Meningkatkan
keberhasilan diagnosis
terapi dan tindakan
medis.
Meningkatkan
kepercayaan diri dan
ketegaran pada pasien
fase terminal dalam
menghadapi
penyakitnya.
MANUAL KOMUNIKASI EFEKTIF
KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
Jakarta 2006
optimized by optima
Cara sampling Random Keterangan
Simple Random Sampling pengambilan sampel dari semua anggota populasi dilakukan
secara acak tanpa memperhatikan strata/tingkatan yang ada
dalam populasi itu
Stratified Sampling Penentuan tingkat berdasarkan karakteristik tertentu.
Misalnya : menurut usia, pendidikan, golongan pangkat, dan
sebagainya
Cluster Sampling disebut juga sebagai teknik sampling daerah. Teknik ini
digunakan apabila populasi tersebar dalam beberapa
daerah, propinsi, kabupaten, kecamatan, dan seterusnya
Cara sampling Non-
Random
Keterangan
Systematical Sampling anggota sampel dipilh berdasarkan urutan tertentu.
Misalnya setiap kelipatan 10 atau 100 dari daftar pegawai
disuatu kantor, pengambilan sampel hanya nomor genap
atau yang ganjil saja.
Porpusive Sampling sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan
penelitiannya.
Snowball Sampling Dari sampel yang sedikit tersebut peneliti mencari informasi
sampel lain dari yang dijadikan sampel terdahulu, sehingga
makin lama jumlah sampelnya makin banyak
Quota Sampling anggota sampel pada suatu tingkat dipilih dengan jumlah
tertentu (kuota) dengan ciri-ciri tertentu
Convenience sampling mengambil sampel secara sembarang (kapanpun dan
dimanapun menemukan) asal memenuhi syarat sebagai
sampel dari populasi tertentu
Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.
When population is small,
homogeneous & readily
available. All subsets of
the frame are given an
equal probability.
The frame organized into
separate "strata." Each
stratum is then sampled
as an independent sub-
population, out of which
individual elements can
be randomly selected
In this technique, the total
population is divided into
these groups (or clusters)
and a simple random
sample of the groups is
selected (two stage)
Ex. Area
sampling or geographical
cluster sampling
* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik
tidak terpenuhi
Metode untuk mencari hubungan antara 2 variabel
numerik
Tidak mengenal variabel bebas dan tergantung
menunjukan hubungan antara 2 variabel numerik
Langkah:
Menggambar scatter plot atau diagram baur
Bila terdapat hubungan linear, hitung koefisien korelasi
Hasil perhitungan: koefisien korelasi pearson (r) korelasi
mutlak: nilai r=1 (nyaris tidak pernah ada dalam fenomena
biologis)
Tafsiran nilai r
Baik : r > 0,8
Sedang : r = 0,6 0,79
Lemah : r = 0,4 0,59
Sangat lemah : r < 0,4
Sudigdo. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis.
2011
Rumus CFR:
jumlah kematian karena penyakit X x 100%
Jmlh seluruh penderita penyakit X
Dusun Jmlh
penduduk
Nama
Desa
Yang sakit Yang
Dirawat
Yang
Meninggal
Desa 1 100 Mata air 25 - -
Desa 2 150 Mata hati 38 5 1
Desa 3 100 Mata kaki 12 - -
Desa 4 50 Mata Sapi 10 6 2
CFR desa 1 = (0/25) x 100% = 0%
CFR desa 2 = (1/38) x 100% = 2.6%
CFR desa 3 = (0/12) x 100% = 0%
CFR desa 4 = (2/10) x 100% = 20%
Insidens Rate (IR)
Insidens : jumlah kasus baru yang timbul pada suatu
periode waktu dalam populasi tertentu gambaran
tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang
ditemukan pada suatu waktu tertentu di suatu kelompok
masyarakat
Contoh : Pada suatu daerah dengan jumlah penduduk tgl 1
Juli 2005 sebanyak 100.000 orang semua rentan terhadap
penyakit diare ditemukan laporan penderita baru sebagai
berikut bulan januari 50 orang, Maret 100 orang, Juni
150 orang, September 10 orang dan Desember 90 orang
IR = ( 50+ 100+150+10 +90) /100.000 X 100 % = 0,4 %
Attack rate (AR)
Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan
pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah
penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut
pada saat yang sama dalam % atau permil.
Contoh: Dari 500 orang murid yang tercatat pada SD X
ternyata 100 orang tiba-tiba menderita muntaber
setelah makan nasi bungkus di kantin sekolah
AR = 100 / 500 X 100% = 20 %
AR hanya dignkan pada kelompok masyarakat terbatas
dan periode terbatas,misalnya KLB.
Prevalens rate
Gambaran tentang frekuensi penderita lama dan baru yang
ditemukan pada jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat
tertentu.
Ada dua Prevalen:
Period Prevalence
Contoh : Pada suatu daerah penduduk pada 1 juli 2005 100.000
orang, dilaporkan keadaan penyakit A sbb: Januari 50 kasus lama
dan 100 kasus baru, Maret 75 kasus lama dan 75 kasus baru, Juli
25 kasus lama dan 75 kasus baru; September 50 kasus lama dan
50 kasus baru, dan Desember 200 kasus lama dan 200 kasus
baru.
Period Prevalens rate :
(50+100)+(75+75)+(25+75)+(50+50)+(200+200) /100.000 X
100 % = 0,9 %
Point Prevalence Rate
Jumlah penderita lama dan baru
pada satu saat, dibagi dengan
jumlah penduduk saat itu dalam
persen atau permil.
Contoh: Satu sekolah dengan murid
100 orang, kemarin 5 orang
menderita penyakit campak, dan hari
ini 5 orang lainnya menderita
penyakit campak
Point Prevalence rate = 10/100 x
1000 = 100
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang
terjadi dalam hubungan kerja, termasuk
kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari
rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya,
dan penyakit yang disebabkan oleh
lingkungan kerja.
Salah satu teori untuk
menjelaskan terjadinya
kecelakaan kerja yang
diusulkan oleh H.W.
Heinrich teori Domino
Heinrich
Kecelakaan terdiri atas
lima faktor yang saling
berhubungan, yaitu :
(1) kondisi kerja, (2)
kelalaian manusia, (3)
tindakan tidak aman,
(4) kecelakaan, dan (5)
cedera.
Teori Frank E. Bird
Petersen
Teori manajemen yang
berisikan lima faktor
dalam urutan suatu
kecelakaan, antara lain
:
Manajemen kurang
control
Sumber penyebab utama
penyebab langsung
Kontak peristiwa
Kerugian gangguan
(tubuh maupun harta
benda)
Decision
makers
Line
Management
Preconditions
Unsafe Acts
Defenses
Latent failures
Latent failures
Latent failures
Active failures
Active & Latent
Failures
ACCIDENT
Teori Frank E. Bird Petersen
Perusahaan jaminan kesehatan yang
termasuk menjadi BPJS
PT Asuransi Kesehatan Indonesia (PT Askes
Persero),
PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PT Jamsostek
Persero)
Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (PT ASABRI)
PT Dana Tabungan Dan Asuransi Pegawai Negeri
(PT TASPEN).
Bertanggung jawab pada presiden
Bertugas melakukan penelitian terkait penyelenggaraan jamina
sosial
mengusulkan kebijakan investasi Dana Jaminan Sosial Nasional
mengusulkan anggaran jaminan sosial bagi penerima banturan
iuran dan tersedianya anggaran operasional kepada pemerintah
Diangkat dan diberhentikan oleh presiden
Memiliki wewenang dalam monitoring dan evaluasi
penyelenggaraan program jaminan sosial
Terdiri dari unsur pemerintah, tokoh/ahli yang memahami
bidang jaminan sosial, organisasi pemberi kerja, dan
organisasi pekerja.
Ketua berasal dari unsur pemerintah
BPJS terdiri dari:
BPJS Kesehatan: menyelenggarakan program
jaminan kesehatan.
BPJS Ketenagakerjaan, menyelenggarakan program:
jaminan kecelakaan kerja;
jaminan hari tua;
jaminan pensiun; dan
jaminan kematian.
PASAL 52
1) Pelayanan kesehatan terdiri atas:
pelayanan kesehatan perseorangan; dan
pelayanan kesehatan masyarakat.
2) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
PASAL 53
1) Pelayanan kesehatan perseorangan ditujukan untuk
menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan
perseorangan dan keluarga.
2) Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah
penyakit suatu kelompok dan masyarakat.
Pelayanan kesehatan promotif: lebih mengutamakan
kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
Pelayanan kesehatan preventif: kegiatan pencegahan
terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.
Pelayanan kesehatan kuratif: kegiatan pengobatan
yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit,
pengurangan penderitaan akibat penyakit,
pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan
agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal
mungkin.
Pelayanan kesehatan rehabilitatif: kegiatan untuk
mengembalikan bekas penderita ke dalam
masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai
anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan
masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan
kemampuannya.
PASAL 56
1) Setiap orang berhak menerima atau menolak
sebagian atau seluruh tindakan pertolongan
yang akan diberikan kepadanya setelah
menerima dan memahami informasi mengenai
tindakan tersebut secara lengkap.
2) Hak menerima atau menolak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada:
penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat
menular ke dalam masyarakat yang lebih luas;
keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
gangguan mental berat.
PASAL 57
1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi
kesehatan pribadinya yang telah dikemukakan
kepada penyelenggara pelayanan kesehatan.
2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi
kesehatan pribadi tidak berlaku dalam hal:
perintah undang-undang;
perintah pengadilan;
izin yang bersangkutan;
kepentingan masyarakat; atau
kepentingan orang tersebut.
PASAL 64
1) Penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi
organ dan/atau jaringan tubuh, implan obat
dan/atau alat kesehatan, bedah plastik dan
rekonstruksi, serta penggunaan sel punca.
2) Transplantasi organ /jaringan tubuh dilakukan
hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang
untuk dikomersialkan.
3) Organ /jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan
dengan dalih apapun.
PASAL 65
1) Transplantasi organ/ jaringan tubuh hanya dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu dan dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan tertentu.
2) Pengambilan organ/jaringan tubuh dari seorang donor
harus memperhatikan kesehatan pendonor yang
bersangkutan dan mendapat persetujuan pendonor
dan/atau ahli waris atau keluarganya.
PASAL 123
1) Pada tubuh yang telah terbukti mati batang otak dapat
dilakukan tindakan pemanfaatan organ sebagai donor
untuk kepentingan transplantasi organ

5
2.2 Elemen-el emen dalam Model Proses Komunikasi
Komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana
dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan
oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal itu (Hardjana, 2003).
Model proses komunikasi digambarkan Schermerhorn, Hunt & Osborn (1994)
sebagai berikut:

















Sumber : Schermerhorn, Hunt & Osborn (1994)
Sumber (source) atau kadang disebut juga pengirim pesan adalah orang yang
menyampaikan pemikiran atau informasi yang dimilikinya. Pengirim pesan
bertanggungjawab dalam menerjemahkan ide atau pemikiran (encoding)
menjadi sesuatu yang berarti, dapat berupa pesan verbal, tulisan, dan atau non
verbal, atau kombinasi dari ketiganya. Pesan ini dikomunikasikan melalui
saluran (channel) yang sesuai dengan kebutuhan.
Pesan diterima oleh penerima pesan (receiver). Penerima akan menerjemahkan
pesan tersebut (decoding) berdasarkan batasan pengertian yang dimilikinya.
Dengan demikian dapat saja terjadi kesenjangan antara yang dimaksud oleh
Message Receives
Noise
Physical
distraction
Semantic problems
Cultural
differences
Absence of
Sends
Feedback
Source

Intended Encodes
meaning
Receiver

Decodes Perceived
meaning

Channel
Sumber (source) : orang yang menyampaikan pemikiran atau
informasi yang dimilikinya.
bertanggungjawab menerjemahkan ide (encoding) menjadi
sesuatu suatu pesan baik verbal, tulisan, dan atau non
verbal, atau kombinasi.
Disampaikan melalui saluran (channel) yang sesuai
Pesan diterima oleh receiver yang akan menerjemahkan pesan
(decoding) berdasarkan batasan pengertian yang dimiliki.
Bisa terjadi kesenjangan antara yang dimaksud source
dengan yang dimengerti receiver o.k. adanya penghambat
(noise).
Penghambat : perbedaan sudut pandang, pengetahuan atau
pengalaman, perbedaan budaya, masalah bahasa, dan
lainnya.
Umpan balik/ feedback penting sebagai proses klarifikasi
untuk menghindari salah interpretasi.
Dalam hubungan dokter-pasien, baik dokter maupun pasien
dapat berperan sebagai source dan receiver secara bergantian
komunikasi 2 arah
Empati merupakan perasaan yang mampu
menempatkan kita dalam sudut pandang pasien yang
menghadapi masalah/ keluhan yang dialami.
Empati menempatkan kita secara obyektif dan
memungkinkan kita memberikan tanggapan yang
tepat pada pasien mengenai ketakutan dan
kekhawatirannya tanpa perlu terseret dalam perasaan
subyektif dan emosi yang mengganggu penilaian
kita.
Simpati menjadikan dokter yang seharusnya
memberikan penilaian obyektif menjadi terganggu
karena adanya unsur emosi yang menguasai.
Refleksi isi: dokter merangkum dan
mengungkapkan kembali inti pembicaraan
pasien. Hal ini dilakukan untuk
mengkonfirmasi informasi yang diterima dari
pasien ke dokter
Refleksi perasaan: dokter mengungkapkan
perasaan, kekhawatiran, ketakutan, serta
harapan pasien mengenai kondisinya
Penyedia Pelayanan Kesehatan & Perawatan (Care provider)
melakukan pelayanan medis secara komprehensif dan holistik karena pasien adalah
bagian tak terpisahkan dari keluarga, komunitas, lingkungannya.
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi, komprehensif,
kontinu, dan personal dalam jangka waktu panjang dalam wujud hubungan
profesional dokter-pasien yang saling menghargai dan mempercayai
Pengambil Keputusan (Decision-maker)
Mampu membuat keputusan klinis yg ilmiah dan empatik (pengobatan, pemeriksaan
penunjang, dll) berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan
harapan pasien, nilai etika, cost effectiveness untuk kepentingan pasien
sepenuhnya.
Komunikator (Communicator)
Mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang efektif sehingga
memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan kesehatan serta
memicu perubahan pola pikir menuju hidup sehat dan mandiri kepada pasien dan
komunitasnya
Pemimpin Masyarakat (Community leader)
memperoleh kepercayaan dari komunitas yang dilayaninya,
menselaraskan kebutuhan kesehatan individu dan
komunitasnya, memberikan nasihat kepada komunitas,
melakukan kegaiatan atas nama masyarakat dan menjadi
panutan masyaraka
Pengelola Manajemen (Manager)
Berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di
dalam maupun di luar sistem kesehatan sehingga mampu
memenuhi kebutuhan pasien dan komunitasnya
berdasarkan data kesehatan yang ada.
Menjadi dokter yang cakap memimpin sarana kesehatan
PASAL 25
Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin meliputi:
pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa melalui prosedur
sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku
pelayanan kesehatan yang dilakukan di Fasilitas Kesehatan yang
tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, kecuali untuk kasus
gawat darurat
pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan
kecelakaan kerja terhadap penyakit atau cedera akibat
kecelakaan kerja atau hubungan kerja
pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri
pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik
pelayanan untuk mengatasi infertilitas dengan Manfaat Jaminan
Kesehatan yang diberikan
PASAL 25
Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin meliputi:
pelayanan meratakan gigi (ortodonsi)
gangguan kesehatan/penyakit akibat ketergantungan obat dan/atau
alkohol
gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri, atau akibat
melakukan hobi yang membahayakan diri sendiri
pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional, termasuk
akupuntur, shin she, chiropractic, yang belum dinyatakan efektif
berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (health technology
assessment)
pengobatan dan tindakan medis yang dikategorikan sebagai percobaan
(eksperimen)
alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi, dan susu
perbekalan kesehatan rumah tangga
pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa tanggap darurat,
kejadian luar biasa/wabah; dan biaya pelayanan lainnya yang tidak ada
hubungan dengan Manfaat Jaminan Kesehatan yang diberikan.
Tujuan komunikasi efektif dokter-pasiennya:
mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk
dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien, shg lebih efektif &
efisien bagi keduanya
Disease centered communication style /doctor centered
communication style.
Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan
diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda
dan gejala-gejala.
Illness centered communication style/ patient centered
communication style.
Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentang penyakitnya
yang secara individu merupakan pengalaman unik.
Termasuk pendapat pasien, kekhawatirannya, harapannya, apa yang
menjadi kepentingannya serta apa yang dipikirkannya.
PASAL 130
Pemerintah wajib memberikan imunisasi
lengkap kepada setiap bayi dan anak.
PASAL 21
Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi:
penyuluhan kesehatan perorangan faktor risiko penyakit &
perilaku hidup bersih & sehat
imunisasi dasar;
keluarga berencana; dan
skrining kesehatan.
Pelayanan imunisasi dasar meliputi Baccile Calmett Guerin
(BCG), Difteri Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPT- HB),
Polio, dan Campak.
Pelayanan keluarga berencana meliputi konseling,
kontrasepsi dasar, vasektomi dan tubektomi bekerja sama
dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana.
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT
Pasal 18
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya
sebagaimana ia sendiriingin diperlakukan.
Pasal 19
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien
dari teman sejawat,kecuali dengan persetujuan
keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.
Hubungan Dokter - Pasien dalam Keadaan Gawat
Darurat
Hubungan dokter-pasien dalam keadaan gawat darurat
sering merupakan hubungan yang spesifik. Dalam
keadaan biasa (bukan keadan gawat darurat) maka
hubungan dokter pasien didasarkan atas kesepakatan
kedua belah pihak, yaitu pasien dengan bebas dapat
menentukan dokter yang akan dimintai bantuannya
(didapati azas voluntarisme).
Demikian pula dalam kunjungan berikutnya, kewajiban
yang timbul pada dokter berdasarkan pada hubungan
yang telah terjadi sebelumnya (pre-existing
relationship). Dalam keadaan darurat hal di atas dapat
tidak ada dan azas voluntarisme dari keduabelah pihak
juga tidak terpenuhi
Apabila seseorang bersedia menolong orang lain
dalam keadaan darurat, maka ia harus
melakukannya hingga tuntas dalam arti ada
pihak lain yang melanjutkan pertolongan itu atau
korban tidak memerlukan pertolongan lagi.
Dalam hal pertolongan tidak dilakukan dengan
tuntas maka pihak penolong dapat digugat
karena dianggap mencampuri/ menghalangi
kesempatan korban untuk memperoleh
pertolongan lain (loss of chance).
Pasal 5 : Perbuatan Melemahkan Psikis maupun Fisik.
Tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin
melemahkan daya tahan psikis maupun fisik, wajib
memperoleh persetujuan pasien/ keluarganya dan
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan
pasien tersebut.
A. Pengobatan Pasien
Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untuk
merencanakan dan menganalisis penyakit serta merencanakan
pengobatan, perawatan dan tindakan medis yang harus
diberikan kepada pasien.
B. Peningkatan Kualitas Pelayanan
Membuat Rekam Medis bagi penyelenggaraan praktik
kedokteran dengan jelas dan lengkap akan meningkatkan
kualitas pelayanan untuk melindungi tenaga medis dan untuk
pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.
C. Pendidikan dan Penelitian
Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan
kronologis penyakit, pelayanan medis, pengobatan dan tindakan
medis, bermanfaat untuk bahan informasi bagi perkembangan
pengajaran dan penelitian di bidang profesi kedokteran dan
kedokteran gigi.
D. Pembiayaan
Berkas rekam medis dapat dijadikan petunjuk dan bahan untuk
menetapkan pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada
sarana kesehatan. Catatan tersebut dapat dipakai sebagai bukti
pembiayaan kepada pasien.
E. Statistik Kesehatan
Rekam medis dapat digunakan sebagai bahan statistik
kesehatan, khususnya untuk mempelajari perkembangan
kesehatan masyarakat dan untuk menentukan jumlah penderita
pada penyakit-penyakit tertentu.
F. Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik
Rekam medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga
bermanfaat dalam penyelesaian masalah hukum, disiplin dan
etik.
Di dalam komunikasi dokter-pasien, ada dua sesi yang
penting, yaitu sesi pengumpulan informasi yang di
dalamnya terdapat proses anamnesis, dan sesi
penyampaian informasi. Tanpa penggalian informasi
yang akurat, dokter dapat terjerumus ke dalam sesi
penyampaian informasi (termasuk nasihat, sugesti atau
motivasi dan konseling) secara prematur. Akibatnya
pasien tidak melakukan sesuai anjuran dokter.
Ada empat langkah yang terangkum dalam satu kata
untuk melakukan komunikasi, yaitu SAJI (Poernomo,
Ieda SS, Program Family Health Nutrition, Depkes RI,
1999).
S = Salam
A = Ajak Bicara
J = Jelaskan
I = Ingatkan
Sebagaimana lazimnya suatu perikatan, perjanjian medik pun
memberikan hak dan kewajiban bagi dokter. Dalam Undang-
Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, hak
dan kewajiban dokter atau dokter gigi terdapat dalam paragraf
6, yaitu;
Kewajiban Dokter/Dokter Gigi
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai
keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,
bahkan juga setelah pasien meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas mampu
melakukannya;
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan
ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.
Hak Dokter/Dokter Gigi
memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan
tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional;
memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan
standar prosedur operasional;
memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau
keluarganya; dan
menerima imbalan jasa.
Kaidah dasar moral terdiri atas:
1. Autonomy: pasien dapat mengambil keputusan
sendiri & dijamin kerahasiaan medisnya dasar
informed consent & kerahasiaan medis
2. Nonmaleficence (Do No Harm): tidak dengan
sengaja melakukan tindakan yang malah
merugikan/invasif tanpa ada hasilnya dasar agar
tidak terjadi kelalaian medis
3. Beneficence: mengambil langkah yang bermanfaat,
untuk mencegah atau menghilangkan sakit
4. Justice: perlakuan yang sama untuk kasus yang sama
Komunikasi dokter pasien harus dilandasi
dengan rasa empati
Rasa empati yang tumpul dapat
menyebabkan berkurangnya informasi yang
didapat
Pada kasus ini seorang wanita tampak cemas
dan ragu-ragu. Melihat hal tersebut,
seharusnya seorang dokter memberikan
kenyamanan dan menanyakan apakah masih
ada yang ignin ditanyakan.
Hubungan antara dokter dengan pasien yang
seimbang atau setara dalam ilmu hukum disebut
hubungan kontraktual.
Hubungan kontraktual atau kontrak terapeutik
terjadi karena para pihak, yaitu dokter dan
pasien masing-masing diyakini mempunyai
kebebasan dan mempunyai kedudukan yang
setara.
Kedua belah pihak lalu mengadakan suatu
perikatan atau perjanjian di mana masing-
masing pihak harus melaksanakan peranan atau
fungsinya satu terhadap yang lain. Peranan
tersebut berupa hak dan kewajiban.
Physician may not disclose any medical
information revealed by a patient or discovered
by a physician in connection with the treatment
of a patient (American Medical Association)
Hippocratic Oath : Apapun yang saya lihat
dengar atau lihat, tentang kehidupan seseorang
yang tidak patut disebarluaskan, tidak akan saya
ungkapkan, karena saya harus merahasiakannya
Diatur dalam PP. No. 10 Tahun 1966 tentang
wajib simpan rahasia kedokteran, dan dapat
dipidana dengan Pasal 322 KUHP jika dilanggar
Keterampilan berkomunikasi berlandaskan empat unsur yang
merupakan inti komunikasi:
- Sumber (yang menyampaikan informasi). Siapa dia? Seberapa luas/dalam
pengetahuannya tentang informasi yang disampaikannya?
- Isi pesan (apa yang disampaikan). Panjang pendeknya, kelengkapannya
perlu disesuaikan dengan tujuan komunikasi, media penyampaian,
penerimanya.
- Media yang digunakan. Apakah hanya berbicara? Apakah percakapan
dilakukan secara tatap muka atau melalui telepon, menggunakan lembar
lipat, buklet, vcd, peraga).
- Penerima (yang diberi informasi). Bagaimana karakternya? Apa
kepentingannya? (langsung, tidak langsung). Keempat unsur ini masih
perlu dilengkapi dengan umpan balik. Dokter sebagai sumber atau
pengirim pesan harus mencari tahu hasil komunikasinya (apa yang
dimengerti pasien?).
Menyadari bahwa tidak semua pasien dapat
memahami informasi dari dokter, di samping
kemungkinan pasien sendiri tidak mampu
mengemukakan keluhannya karena keadaannya tidak
memungkinkan, perlu diperhatikan adanya 4 kelompok
pasien yang tidak perlu mendapat informasi secara
langsung, yaitu:
Pasien yang diberi pengobatan dengan placebo yaitu
merupakan senyawa farmakologis tidak aktif yang
digunakan sebagai obat untuk pembanding atau
sugesti (suggestif-therapeuticum).
Pasien yang akan dirugikan jika mendengar informasi
tersebut, misalnya karena kondisinya tidak
memungkinkan untuk mendengarkan informasi yang
dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatannya.
Pasien yang sakit jiwa dengan tingkat gangguan
yang sudah tidak memungkinkan untuk
berkomunikasi (cara berpikirnya tidak realistis,
tidak bisa mendengar karena terperangkap oleh
pemikirannya sendiri; menarik diri dari
lingkungan dan mungkin hidup dalam dunia
angannya sendiri, sulit kontak atau
berkomunikasi dengan orang lain; tidak peduli
pada dirinya sendiri maupun orang
lain/lingkungan, tidak peduli pada tampilannya,
tidak merawat diri; mpikirnya tidak jelas, tidak
logis; afeksi sukar atau tidak tersentuh).
Pasien yang belum dewasa. Seseorang dikatakan
cakap-hukum apabila ia pria atau wanita telah
berumur 21 tahun, atau bagi pria apabila belum
berumur 21 tahun tetapi telah menikah. Pasal
1330 KUH Perdata, menyatakan bahwa seseorang
yang tidak cakap untuk membuat persetujuan
adalah orang yang belum dewasa. Menurut KUH
Perdata Pasal 1330, belum dewasa adalah belum
berumur 21 tahun dan belum menikah.
Permenkes tersebut menyatakan umur 21 tahun
sebagai usia dewasa.
Seorang dokter wajib menghormati hak-hak
pasien, teman sejawatnya, dan tenaga
kesehatan lainnya, serta wajib menjaga
kepercayaan pasien
Pada kasus ini dokter menghargai autonomy
pasien, karena pasien masih dalam kondisi
sadar dan dapat dimintai keterangan.
Pasal 3 :Kemandirian profesi
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang
dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang
mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian
profesi
Pada bagian penjelasan pasal 3, butir kedua:
Melibatkan diri secara langsung atau tidak langsung dalam
segala bentuk kegiatan yang bertujuan untuk
mempromosikan atau mengiklankan dirinya, barang
dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pasal 3, cakupan
pasal butir 1 dan 2 di atas guna kepentingan dan
keuntungan pribadinya, sejawat/pihak lain kelompoknya
Setiap dokter wajib senantiasa berhati-hati
dalam mengumumkan atau menerapkan
setiap penemuan tekhnik atau pengobatan
baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-
hal yang dapat menimbulkan keresahan
masyarakat
Pada bagian penjelasan diterangkan:
Hanya dibenarkan mempublikasikan temuan
tersebut pada media ilmia profesi, dan penelitian
sudah lolos kajian etik.
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter
wajib memperhatikan keseluruhan aspek
pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif,
rehabilitatif, dan paliatif), baik fisik maupun
psiko sosial-kulturan pasiennya, serta berusaha
menjadi pendidik dan pengabdi sejati masyarakat
Pada penjelasan pasal 12
Dalam aspek preventif dokter harus bertindak sebagai
pemberi pelayanan, pendidikan kesehatan, dan
perlindungan pencegahan supaya klien dan keluarganya
dapat tetap sehat, terhindar dari risiko/sumber penyakit
Setiap dokter wajib memperlakukan teman
sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
Penjelasan pada pasal 18
Setiap dokter wajib berupaya untuk mencegah dan tidak
memulai terjadinya konik etikolegal di dalam dan/atau
antar profesi dalam bentuk apapun serta dilarang
bertengkar dengan sejawat pada saat tugas profesi
Setiap dokter dilarang memberikan komentar negatif
tentang sejawat lain pada saat di depan
pasien/keluarganya.
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan
darurat sebagai suatu wujud tugas
perikemanusiaan, kecuali bila dia yakin ada
orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
Penjelasan pada pasal 17
Jika terdapat kasus yang membutuhkan gawat darurat,
maka dokter dapat menghentikan layanannya pada
pasien lain yang non-gawat darurat atau gawat darurat
dengan kondisi saat itu memiliki prioritas secara
pertimbangan medik lebih rendah dari saat ini.
Setiap dokter wajib menghindarkan diri dari
perbuatan yang bersifat memuji diri
Penjelasan
Dilarang menggunakan gelar yang bukan hak-nya
Mencantumkan gelar profesor dan akademik atau
sebutan keanggotan profesi yang tidak berhubungan
dengan pelayanan medis pada papan praktek, kertas
resep, atau atribut praktik lainnya
Mengiklankan diri sebagai yang terbaik
Masih diperkenankan membuat iklan di media cetak
sebagai pengenalan awal praktek, pengumunan cuti
praktek.
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang
dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang
mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian
profesi
Penjelasan pada pasal 3
Dalam kehadirannya pada temu ilmiah, dokter dilarang
untuk mengikatkan diri untuk
mempromosikan/meresepkan barang/ produk dan jasa
tertentu, apapun bentuk bantuan sponsorshipnya
Dokter dapat menerima bantuan dari pihak sponsor
untuk keperluan keikutsertaan dalam temu ilmiah
mencakup pendaftaran, akomodasi dan transportasi
sewajarnya sesuai kode etik masing-masing.
Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik
kedokteran wajib menyimpan kerahasiaan yang menyangkut
riwayat penyakit pasien yang tertuang dalam rekam medis.
Rahasia kedokteran tersebut dapat dibuka hanya untuk
kepentingan pasien untuk memenuhi permintaan aparat penegak
hukum (hakim majelis), permintaan pasien sendiri atau
berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Berikut ini adalah manfaat dari rekam medis:
alat komunikasi (informasi) dan dasar pengobatan bagi dokter, dokter gigi
dalam memberikan pelayanan medis.
Masukan untuk menyusun laporan epidemiologi penyakit dan demografi
(data sosial pasien) serta sistem informasi manajemen rumah sakit
Masukan untuk menghitung biaya pelayanan
Bahan untuk statistik kesehatan
Sebagai bahan/pendidikan dan penelitian data
Dokter tidak boleh mengakhiri hubungan dengan pasien
apabila pasien mengeluh tentang pelayanan kedokteran
yang diberikan. Termasuk apabila pasien mengeluh
tentang tagihan pembiayaan jasa layanan atau terapi yang
diberikan. Hubungan profesional dokter pasien dapat
berakhir apabila pasien melakukan kekerasan.
Dokter harus menjelaskan kepada pasien secara lisan atau
tertulis, alasan mengakhiri hubungan profesional dengan
pasien tersebut. Walau demikian dokter tidak boleh
menerlantarkan pasien tersebut. Dokter bertanggung
jawab untuk mencarikan dokter penggganti. Selanjutnya
ringkasan salinan rekam medis pasien diberikan pada
dokter pengganti.
Asuhan klinis yang baik meliputi:
Menilai keadaan pasien yang adekuat berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik, apabila diperlukan
juga melakukan pemeriksaan tambahan yang sesuai;
Melakukan atau merencanakan pemeriksaan lanjutan,
dan melakukan terapi apabila diperlukan;
Melakukan tindakan yang tepat;
Melakukan tindakan segera apabila diperlukan; dan
Merujuk pasien kepada dokter lain yang sesuai, bila
ada indikasi
Merupakan prinsip kaidah dasar etik untuk
memiliki hak menentukan nasibnya sendiri
Pada kasus ini hanya pasien yang boleh
memberitahukan kondisi medisnya kepada
suami atau dokter diberikan izin oleh pasien
untuk menerangkan kondisinya kepada suami
Setiap dokter terhadap pasien yang sedang menderita
sakit wajib menyampaikan informasi yang dapat
melemahkan kondisi psikis pasien secara patut, teliti
dan hati-hati dengan perkataan yang tepat.
Dalam rangka menimbulkan dan/atau menjaga rasa
percaya diri pasien, dokter seyogyanya dilarang
berbohong kepada pasiennya yang menderita
penyakit berat/parah, kecacatan atau gangguan
kualitas hidup tetapi boleh menahan sebagian
informasi yang dapat melemahkan psikis pasien
dan/atau fisiknya.
Berdasarkan
pedoman
penyelangg
araan
praktik
kedokteran
Bab II Pasal
(1)
Persyaratan yang harus dipenuhi bagi Fasilitas
Kesehatan Tingkat pertama, khususnya untuk
Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara,
yaitu:
Surat Ijin Operasional
Surat Ijin Praktik (SIP) tenaga kesehatan yang berpraktik
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan
Perjanjian Kerjasama dengan jejaring jika diperlukan
Surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang
terkait dengan Jaminan Kesehatan Nasional
PMK No.71 Thn 2013 mengenai Pelayanan Kesehatan pada JKN
Bagian Kedua tentang Persyaratan, Seleksi, dan Kredensialing
Pedoman Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Indonesia Bab V mengenai Asuhan
Klinis yang baik
Tipe medical error berdasarkan aspek teknis
dibedakan atas :
Error of omission, yaitu tidak melakukan tindakan yang
seharusnya dilakukan. Tipe error ini contohnya adalah
keterlambatan dalam penanganan pasien atau tidak
meresepkan obat untuk indikasi yang jelas.
Error of commission, yaitu melakukan tindakan yang
seharusnya tidak dilakukan. Tipe error ini contohnya
adalah kesalahan dalam memutuskan pilihan terapi
dengan memberikan obat yang salah, atau obat
diberikan melalui cara yang salah.
ACCEPTABLE
RISKS
UNFORESEEABLE
RISKS
ACTIVE ERRORS
(Error of planning &
error of execution)
LATENT
ERRORS
UNDERLYING
DISEASE
DUTY + BREACH OF DUTY
PREVENTABLE
ADVERSE EVENTS
NEGLIGENT
ADVERSE EVENTS
+ DAMAGE
+ CAUSAL
ADVERSE
EVENTS
NO
ERROR
KONSTRUKSI MEDIS DAN HUKUM
(KELALAIAN MEDIS)
PREVENTABLE
ADVERSE EVENTS
PERJALANAN PENYAKIT
DAN KOMPLIKASI
LATENT ERRORS
CENDERUNG BERADA DI LUAR KENDALI
OPERATOR GARIS DEPAN; SEPERTI DESAIN BURUK,
INSTALASI TAK TEPAT, PEMELIHARAAN BURUK,
KESALAHAN KEPUTUSAN MANAJEMEN, STRUKTUR
ORGANISASI YG BURUK
ACTIVE ERROR
KESALAHAN PADA TINGKAT OPERATOR GARIS
DEPAN
TIDAK SEMUA ERRORS MENGAKIBATKAN ADVERSE EVENTS
JENIS MALPRAKTEK TERSERING
BUKAN KESENGAJAAN
TIDAK MELAKUKAN YG SEHARUSNYA
DILAKUKAN, MELAKUKAN YG SEHARUSNYA
TIDAK DILAKUKAN OLEH ORANG2 YG
SEKUALIFIKASI PADA SITUASI DAN KONDISI
YG IDENTIK
DUTY (Duty of care)
KEWAJIBAN PROFESI
KEWAJIBAN KONTRAK DG PASIEN
DERELICTION / BREACH OF DUTY
PELANGGARAN KEWAJIBAN TSB
DAMAGES
CEDERA, MATI ATAU KERUGIAN
DIRECT CAUSALSHIP
HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT, SETIDAKNYA
PROXIMATE CAUSE
MALFEASANCE
MELAKUKAN TINDAKAN YG MELANGGAR HUKUM
(UNLAWFUL / IMPROPER)
SEJAJAR DENGAN ERROR OF PLANNING
MIS. TINDAKAN MEDIS TANPA INDIKASI
MISFEASANCE
IMPROPER PERFORMANCE YG AKIBATKAN CEDERA
SEJAJAR DENGAN ERROR OF EXECUTION
MIS. TINDAKAN MEDIS TAK SESUAI PROSEDUR
NONFEASANCE
TIDAK MELAKUKAN TINDAKAN YG MERUPAKAN
KEWAJIBAN
PMK No.71 Thn 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN
Bab VI mengenai Kendali Mutu dan Kendali Biaya
1) Pelayanan obat, Alat Kesehatan, dan bahan medis habis
pakai pada Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan
merupakan salah satu komponen yang dibayarkan dalam
paket INA CBGs.
2) Dalam hal obat yang dibutuhkan sesuai indikasi medis pada
Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan tidak tercantum
dalam Formularium Nasional, dapat digunakan obat lain
berdasarkan persetujuan Komite Medik dan kepala/direktur
rumah sakit.
68. PERMENKES No 71 Tahun 2013
tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN
Pasal 24
Biaya tidak dapat ditagihkan tersendiri kepada BPJS Kesehatan
serta tidak dapat dibebankan kepada Peserta.
1. BPJS Kesehatan menjamin kebutuhan obat program
rujuk balik melalui Apotek atau depo farmasi Fasilitas
Kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan
BPJS Kesehatan.
2. Obat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayar
BPJS Kesehatan di luar biaya kapitasi.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur pelayanan
obat program rujuk balik diatur dengan Peraturan BPJS
Kesehatan.
Pasal 25
PERMENKES nomor 71 tahun 2013
tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN
Dilayani dan ditagihkan oleh Apotek atau Depo Farmasi
Fasilitas Kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama
dengan BPJS Kesehatan
Daftar Obat Program Rujuk Balik ditetapkan oleh BPJS
Kesehatan
Klaim secara kolektif dari Apotek atau Depo Farmasi
Tagihan Fee For Service dengan Faktor pelayanan dan
embalage sesuai SE Menkes No.31 Tahun 2014
CAKUPAN PROGRAM RUJUK
BALIK
A. JENIS PENYAKIT (SESUAI DENGAN SE MENKES
HK/MENKES/31/I/2014)
1. DIABETES MELLITUS 6. EPILEPS
2. HIPERTENSI 7. SCHIZOPHRENIA
3. JANTUNG 8. STROKE
4. ASTMA 9. SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS
(SLE)
5. PPOK 10. SIROSIS HEPATITIS
B. OBAT PROGRAM RUJUK BALIK
1. OBAT UTAMA, YAITU OBAT KRONIS YANG DIRESEPKAN OLEH DOKTER
SPESIALIS/SUB SPESIALIS DI FASKES TINGKAT LANJUTAN
2. OBAT TAMBAHAN, YAITU OBAT YANG MUTLAK DIBERIKAN BERSAMA OBAT
UTAMA DAN DIRESEPKAN OLEH DOKTER SPESIALIS/SUB SPESIALIS DI FASKES
TINGKAT LANJUTAN UNTUK MENGATASI PENYAKIT PENYERTA ATAU
MENGURANGI EFEK SAMPING AKIBAT OBAT UTAMA.
IDENTIFIKASI
PESERTA PRB
PENDAFTAR
AN PESERTA
PRB
PELAYANAN
PRB
PENDAFTARAN PRB
DILAKUKAN DI POJOK
PRB DGN
MENUNJUKKAN:
a. KARTU IDENTITAS
PESERTA
b. SRB
c. SEP
d. LEMBAR /SALINAN
RESEP
PESERTA MENGISI
FORMULIR
PENDAFTARAN
PESERTA PRB
PESERTA MENERIMA
BUKU KONTROL
PESERTA PRB
DILAKUKAN DI FASKES
TINGKAT PERTAMA
TEMPAT PESETA
TERDAFTAR
DOKTER LAYANAN
PRIMER MELAKUKAN
a. PEMERIKSAAN
b. MEMBERIKAN RESEP
c. MENCATAT PADA
BUKU KONTROL
PRB
OBAT DIAMBIL DI
APOTEK/DEPO
FARMASI PRB YANG
BEKERJA SAMA
DENGAN BPJS
KESEHATAN
PESERTA YANG
MENDERITA
PENYAKIT KRONIS
(9 PENYAKIT
CAKUPAN PRB)
KONDISI TELAH
DITETAPKAN
STABIL OLEH
DOKTER
SPESIALIS/SUB
SPESIALIS
MENUNJUKKAN
SURAT RUJUKAN
BALIK (SRB)
Prevalence Ratio in Cross-Sectional Study
Prevalence of an event/outcome in one
group of subjects/individuals (with exposure
to the disease/outcome) relative to another
group (without exposure to the
disease/outcome)
Ya Tidak Jumlah
Ya
15 35 50
Tidak 20 30 50
35 65 100
RP:
a/(a+b) :
c/(c+d)
RP:
15/(15+35)
= 0.75 20/(20+30)
Produktivitas DLP terkait langsung dengan
waktu efektif yang tersedia untuk melayani
pasien. Sebagaimana profesi lainnya, DLP
bekerja 40 jam per minggu, atau 8 jam per
hari sepanjang hari kerja setahun.
Dengan memperhitungkan jumlah hari libur
nasional, Sabtu/Minggu, cuti tahunan, maka
waktu kerja DLP adalah sekitar 2.268
jam/tahun
Pada tabel berikut ini disajikan kegiatan rutin DLP dalam
memanfaatkan 2.268 jam waktu kerjanya dengan proporsi
waktu yang ideal, yaitu 80% untuk tatap muka melayani
pasien (peserta baru, kasus baru, kasus lama, edukasi,
tindakan medik, dan kunjungan rumah), dan 20% untuk
kegiatan lain.
Dengan proporsi waktu tersebut DLP dapat melayani 7.180
kunjungan atau sekitar 28 kunjungan per hari dengan
variasi waktu tatap muka yang berbeda.
Produktivitas ini dipengaruhi oleh keterampilan, cara kerja,
standar sarana dan perangkat kerja, serta dukungan dari
tim kerja DLP.
Potensi produktivitas seorang DLP dalam setahun adalah
sekitar 7.180 kunjungan (dibulatkan menjadi 7.200
kunjungan). Angka ini disebut 1 full time equivalent atau 1
FTE.
Occupancy rate atau angka akupansi DLP adalah
persentase jumlah kunjungan yang dilayani DLP dalam 1
tahun terhadap potensi produktivitasnya dalam kerja
penuh waktu selama 1 tahun (1 FTE).
Seorang DLP mempunyai 1500 peserta JKN. Dengan asumsi
angka kunjungan populasi tersebut adalah 3 kali/peserta-
tahun, maka perkiraan kunjungan setahun adalah 1500 x 3 =
4.500 kunjungan.
1 FTE untuk seorang DLP adalah 7.180 kunjungan, maka
angka kesibukan DLP adalah 4.500/7.180 x 100%