Anda di halaman 1dari 6

Sistem Logistik Pertahanan

Oleh Salahuddin Wahid



Krisis BBM telah membuka tabir bahwa sistem ekonomi nasional tidak terkelola
baik. Hal itu memberikan implikasi pada berbagai sektor, khususnya logistik
pertahanan. Sudah menjadi kesepakatan bahwa logistik tidak dapat memenangkan
perang, tetapi tanpa logistik peperangan tidak mungkin dimenangkan. Dalam
sistem perekonomian nasional, terdapat unsur militer, sebaliknya ada unsur
ekonomi dalam sistem operasi militer.

Dapat disimpulkan logistik adalah sarana untuk penyelenggaraan operasi militer.
Logistik mempunyai akar pada ekonomi nasional dan berada pada wilayah yang
didominasi oleh pengaruh dan otoritas sipil dengan efisiensi sebagai kriteria
utama.
Di sisi lain, produk akhir dari logistik berada pada operasi satuan militer
yang didominasi oleh pengaruh dan otoritas militer.
Oleh karena itu, peran logistik dalam perencanaan strategis pertahanan sangat
vital. Perencanaan strategis pertahanan harus mempertimbangkan berbagai aspek:
politik, ekonomi, militer, geografi, psikologis, sains dan teknologi.

Dari berbagai unsur itu, perlu ditinjau relevansi unsur militer dan unsur
ekonomi karena pembangunan kekuatan pertahanan dipengaruhi perekonomian
nasional. Pertanyaannya, seberapa besar pertimbangan ekonomi dalam perencanaan
strategis pertahanan?

Mandala Operasi
Dalam perencanaan strategis pertahanan selama ini, terkesan aspek ekonomi yang
disorot hanya pada besaran pertumbuhan ekonomi per tahun yang akan berimplikasi
pada ketersediaan anggaran pertahanan. Sementara unsur penyediaan fasilitas
logistik nasional yang merupakan kewenangan otoritas sipil, seperti depot BBM,
rumah sakit, pasar, pelabuhan dan sebagainya, kurang mendapat perhatian.
Akibatnya, ketika satuan-satuan operasional menggelar operasi di
kawasan-kawasan yang diidentifikasi sebagai mandala operasi, dukungan logistik
wilayah seringkali tidak mendukung.

Ada tiga pertanyaan tentang penyiapan logistik pertahanan untuk kepentingan
operasional militer, di mana mandala operasinya, bagaimana sifat dan bentuk
operasinya, dan bagaimana gambaran kekuatan satuan yang akan dikerahkan?

Apabila perencanaan strategis pertahanan menetapkan kawasan Laut Sulawesi (Blok
Ambalat) sebagai mandala operasi, perlu diidentifikasi apakah otoritas sipil di
sepanjang pantai timur Pulau Kalimantan dan pantai barat Pulau Sulawesi telah
melengkapi kawasan itu dengan fasilitas logistik memadai. Sedangkan sifat dan
bentuk operasinya adalah peperangan permukaan, peperangan kapal selam,
peperangan antipesawat udara, peperangan ranjau dan peperangan amfibi dengan
kekuatan utama adalah AL didukung oleh AU. Fasilitas logistik yang terletak di
sekitar mandala operasi dikenal sebagai fasilitas logistik wilayah.

Ada kesan sejauh ini otoritas sipil baru mempersiapkan Pulau Jawa sebagai
kawasan yang mampu menyediakan logistik wilayah secara paripurna, sedang
kawasan luar Jawa belum. Kendati di situ terdapat wilayah yang secara geografis
dekat dengan mandala operasi. Bagaimana solusinya bila di kawasan itu digelar
operasi gabungan TNI?
Dari konteks matra laut, AL dilengkapi fasilitas dukungan logistik apung: kapal
logistik cair, rumah sakit, bengkel dan sebagainya. Yang akan menjadi kendala
adalah unsur-unsur AU dan AD yang membutuhkan basis untuk penyiapan personel
dan sistem senjatanya. Walaupun demikian, terkesan kini kebijakan operasional
matra laut yang digelar lebih mengandalkan dukungan logistik wilayah ketimbang
dukungan logistik apung. Kebijakan ini perlu ditinjau kembali, karena lebih
berbau operasi AD daripada operasi AL itu sendiri.
Gugus Tugas AL membutuhkan dukungan fasilitas logistik wilayah adalah
keniscayaan, namun hendaknya bersifat sekunder. Artinya, dukungan logistik
utama Gugus Tugas AL tetap dari fasilitas dukungan logistik apung. Hanya pada
kondisi darurat unsur logistik apung merapat ke darat, semisal ketika kapal
membutuhkan bahan bakar, minyak lincir dan air tawar.


Sinkronisasi Kebijakan
Pembangunan fasilitas dukungan logistik wilayah tidak murah, bersifat jangka
panjang dan merupakan domain otoritas sipil. Di sisi lain, perencanaan
strategis pertahanan yang juga kewenangan otoritas sipil harus dilaksanakan di
lapangan guna mendukung kesiapan operasional TNI bila dibutuhkan. Pertanyaannya
apakah otoritas sipil memiliki keinginan, pemahaman dan kemampuan
menyeimbangkan kebutuhan pembangunan ekonomi di satu sisi, dengan kebutuhan
pembangunan pertahanan di sisi lain dalam perencanaan pembangunan nasional?

Sinkronisasi perencanaan bidang industri dengan perencanaan strategis
pertahanan juga tak dapat diabaikan. Bagaimana pun, eksistensi logistik
pertahanan harus didukung oleh dunia industri karena tanpa dunia industri tak
akan ada logistik pertahanan. Industri yang dimaksud bukan saja industri
pertahanan, namun juga industri lainnya seperti industri baja, elektronika,
tekstil dan lain sebagainya.

Selama ini, terkesan pemahaman tentang industri menyangkut pertahanan terbatas
pada industri pertahanan, padahal industri yang terkait dengan pertahanan tidak
selamanya identik dengan industri alat berat pertahanan. Secara singkat,
pembangunan fasilitas dukungan logistik wilayah butuh sinkronisasi kebijakan
pada unsur-unsur otoritas sipil itu sendiri.

Menyadari bahwa keterbatasan pasti akan melingkupi perekonomian nasional dan
akan berpengaruh pada perencanaan strategis pertahanan, termasuk di dalamnya
logistik pertahanan, maka perencanaan logistik harus melalui skala prioritas.
Perumusan skala prioritas logistik didasarkan pada tiga hal: kebutuhan,
pengadaan dan pendistribusian.

Penulis adalah analisis kekuatan laut dan keamanan maritim













































Logistik militer
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Logistik militer adalah proses pengadaan, pemeliharan dan transportasi dari materiel, fasilitas
dan jasa.
[1]

Logistik militer merupakan ilmu tentang perencanaan dan penganggaran gerakan dan
pemeliharaan suatu kekuatan.
[2]
Strategi terkait dengan penentuan dan cara pencapaian logistik
sesuai penciptaan dan penyelenggaraan dukungan sercara terus menerus kepada satuan
tempur dan satuan taktis demi tercapainya tujuan strategi. Strategi dan taktik memberikan pola
penyelenggaraan operasi militer, sedangkan logistik menyediakan sarananya.
[3]

Asal usul logistik militer
Kata "logistik" berasal dari bahasa Yunani logistikos, kata sifat yang berarti "terampil dalam
menghitung". Penggunaan kata administrasi pertama kali di Romawi dan Bizantium ketika ada
pejabat administrasi militer dengan gelar Logista. Pada saat itu, tampaknya tersirat kata suatu
keahlian yang terlibat dalam perhitungan matematis.
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pertama dalam kaitannya dengan administrasi
militer yang terorganisasi sains oleh penulis Swiss, Antoine-Henri Jomini, pada tahun 1838,
menyusun sebuah teori perang di trinitas strategi, taktik medan tempur, dan logistik. Perancis
masih menggunakan kata-kata logistique dan loger dengan makna "untuk seperempat".
Aktivitas militer yang dikenal sebagai logistik mungkin sama tuanya dengan perang itu sendiri.
Dalam sejarah awal manusia ketika perang pertama (berjuang), setiap orang harus mencari
makanan sendiri. Setiap prajurit bertanggung jawab untuk cari makan untuk makanan dan kayu
bakar sendiri.
Kemudian, ketika bergabung sebagai pejuang memerangi kelompok-kelompok dan kelompok
menjadi lebih besar, apakah ada alasan untuk menunjuk orang-orang tertentu yang
berspesialisasi dalam penyediaan makanan dan senjata kepada para pejuang. Orang-orang
yang memberikan dukungan kepada para pejuang merupakan organisasi logistik pertama.
Pada abad ketujuh belas, orang Perancis menggunakan sistem majalah untuk menjaga jaringan
kota-kota perbatasan disediakan untuk pengepungan dan menyediakan untuk kampanye di luar
perbatasan mereka.
[4]
Perang Saudara Amerika melihat pengenalan transportasi kereta api
untuk personel, peralatan, dan medan berat.
Selama Perang Tujuh Minggu, kereta api cepat memungkinkan mobilisasi Angkatan Darat
Prusia, tetapi masalah persediaan yang bergerak dari akhir jalur rel untuk unit di depan,
menghasilkan hampir 18.000 ton terjebak di kereta api, tidak dapat diturunkan ke landasan
transportasi.
[5]
menggunakan kereta api Prusia selama Perang Perancis-Prusia sering dikutip
sebagai contoh utama logistik modernisasi, tapi keuntungan dari manuver sering diperoleh
dengan meninggalkan jalur pasokan yang menjadi putus, sesak dengan lalu lintas daerah
belakang.
[6]

Selama Perang Dunia I, perang kapal selam tak terbatas berdampak pada kemampuan sekutu
Britania raya untuk tetap membuka jalur pelayaran, sedangkan ukuran besar Tentara Jerman
ternyata terlalu banyak di kereta api untuk mendukung kecuali saat bergerak dalam perang
parit.
[7]

Prinsip-prinsip Logistik
1. Responsif yaitu menyediakan dukungan yang tepat pada waktu yang tepat dan tempat
yang tepat.
2. Kesederhanaan yaitu menghindari kerumitan dalam persiapan, perencanaan dan
pelaksanaan operasi logistik.
3. Fleksibilitas yaitu mengadaptasi dukungan logistik terhadap setiap perubahan kondisi,
baik perubahan lingkungan, perubahan misi, maupun perubahan konsep operasi.
4. Ekonomis yaitu penggunaan kemampuan dukungan logistik secara efektif dan
pemanfaatan yang ekonomis.
5. Daya memeroleh dukungan logistik pokok minimum untuk memulai operasi
pertempuran.
6. Daya dukung dalam penyediaan logistik untuk jangka waktu operasi.
7. Ketahanan logistik terutama infrastruktur logistik.

Sistem logistik militer
1. Logistik Pertahanan. Logistik merupakan jembatan antara garis depan dan garis
belakang, dan proses logistik merupakan unsur ekonomi dalam operasi-operasi militer.
Logistik pertahanan adalah segala upaya dalam menentukan kebijakan, perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian melalui tahap
pembinaan dan penggunaan personel, materiel, fasilitas, dan jasa sesuai tuntutan
operasional, baik dalam jumlah, mutu, waktu, jenis, tempat, dan kondisi serta dapat
mempertahankan kesiapannya selama digunakan.
2. Logistik Wilayah. Penyiapan dukungan logistik ditetapkan pada lokasi dan jarak dari
medan-medan pertahanan dan daerah-daerah pangkal pertahanan dan perlawanan.
[8]

Pembangunan pusat-pusat dukungan logistik sesuai dengan lokasi pusat
pengembangan ekonomi dan industri (sesuai tata ruang wilayah negara) yang
memadukan kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan.

Referensi
1. ^ Webster
2. ^ Naval Doctrine Publication 4 Naval Logistics, Departement of Navy USA
3. ^ Henry Eccles, Logistic in The National Defence, The Military Service Publishing
Company, Harrisburg, Pennsylvania
4. ^ Creveld, Martin van (1977). Supplying War: Logistics from Wallenstein to Patton.
Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-21730-X. hal. 17-26
5. ^ Creveld, Martin van (1977) hal. 84
6. ^ Creveld, Martin van (1977) hal. 92-108
7. ^ Creveld, Martin van (1977) hal. 138-141
8. ^ Doktrin Pertahanan Keamanan Negara (5 Oktober 1991)