Anda di halaman 1dari 8

Definisi

Syndrome gawat nafas (respiratory distress syndrome) adalah istilah yang digunakan untuk
disfungsi pernapasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan
dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru (Whalley dan wong,1995). Gangguan ini
biasanya juga di kenal dengan nama hyaline membrane disease (HMD) atau penyakit
membrane hyaline, karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi
alveoli serta ketidakadekuatan produksi surfaktan dalam paru.
Sindrom Distres Pernafasan adalah perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan atau
tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai hyaline membrane
disease (HMD). (Suryadi dan Yuliani, 2001).
HMD adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-
tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau
memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. Tanda-tanda klinik
sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada tidaknya shunting darah
melalui PDA.
Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD),
merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi
yang lahir dengan masa gestasi yang kurang (Mansjoer, 2002).
Etiologi
RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya produksi surfaktan.
Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda usia kehamilan,
makin besar pula kemungkinan terjadi RDS.
Defesiensi atau kekurangan surfaktan.
Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia
perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria.
Gangguan traktus respiratorius :
Hyaline membrane disease (HMD). Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi (bayi
prematur)
Transient tachypnoe of the newborn (TTN). Paru-paru terisi cairan, sering terjadi pada bayi
Caesar karena dadanya tidak mengalami kompresi oleh jalan lahir sehingga menghambat
pengeluaran cairan dari dalam paru.
Infeksi (pneumonia)
Sindroma aspirasi
Hipoplasia paru
Hipertensi pulmonal
Kelainan congenital (choanal atresia, hernia diagfragma,pieer robin sindroma)
Pleural effusion
Kelumpuhan saraf frenikus
Luar traktus respiratoris:
Kelainan jantung congenital, kelainan metabolic, darah dan SSP.
Patofisiologi
Pada RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan kurangnya zat yang
disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang diproduksi sel epitel saluran nafas disebut
sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max
pada minggu ke 35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan
ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu
menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi. Kolaps paru ini akan menyebabkan
terganggunya ventilasi sehingga terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis.
Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun menyebabkan metabolisme anerobik dengan penimbunan
asam laktat asam organic sehingga terjadi asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris menyebabkan transudasi kedalam
alveoli sehingga terbentuk fibrin.
Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantung, penurunan aliran
darah keparu, dan mengakibatkan hambatan pembentukan surfaktan, yang menyebabkan
terjadinya atelektasis. Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia
pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress intrauterine seperti
hipertensi, IUGR dan kehamilan kembar.

Tanda dan gejala
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkat
maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis
yang ditujukan. Menurut Surasmi, dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai
berikut:
Takhipneu (>60x/i)
Pernafasan dangkal
Mendengkur
Sianosis
Pucat
Kelelahan
Apneu dan pernafasan tidak teratur
Penurunan suhu tubuh
Retraksi suprasternal, substernal dan intercostal
Pernafasan cuping hidung

Pemeriksaan penunjang
Penentuan faktor komplikasi perlu dilakukan dengan tes spesifik, seperti :
1. Darah
2. Urine dan glukosa darah ( untuk mengetahui hipoglikemia )
3. Kalsium serum ( untuk meningkatkan hipokalsemia )
4. Analisis gas darah ( menentukan PH serum )
Analisa Gas Darah, PaO2 ( tes untuk hipoksia ) kurang dari 50 mmHg, PaCO2 kurang dari 60
mmHg, saturasi oksigen 92% - 94%, pH 7,31 7,45.
5. Level Potasium
Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari release potassium dari sel alveolar yang rusak.
6. Seri Rontgen Dada : untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi diaphragma dengan
overdistensi duktus alveolar.
7. Bronchogram udara untuk menentukan ventilasi jalan nafas.

Diagnostik prenatal
Untuk menentukan maturitas paru dilakukan pemeriksaan ( tes cairan amnion ) yang disebut
rasio L/S ( lesitin banding spingomielin ). Rasio L/S ini berguna untuk menentukan maturitas
paru. Fosfolipid disintesis di sel alveolar dan konsentrasi dalam cairan amnion selalau
berubah selama masa kehamilan. Pada mulanya spingomielin lebih banyak, tetapi kira-kira
pada usia kehamilan 32-33 minggu konsenrasi menjadi seimbang kemudian spingomielin
berkurang dan lesitin meningkat secara berarti sampai usia kehamilan 35 minggu dengan
rasio 2:1.

Penatalaksanaan medis
a. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen harus dilakukan dengan hati-hati karena berpengaruh kompleks pada bayi
premature. Pemberian O
2
yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi, untuk
mencegah timbulnya komplikasi pemberian O
2
sebaiknya diikuti dengan pemeriksaan
analisis gas darah arteri.
b. Pertahankan nutrisi adekuat
c. Pertahankan suhu lingkungan netral
d. Pertahankan PO
2
dalam batas normal
e. Intubasi jika perlu dengan tekanan ventilasi positif
f. Mempertahankan keseimbangan asam basa
g. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat
h. Mencegah hipotermi
i. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat

asuhan keperawatan
PENGKAJIAN
Indetitas klien
Insiden sering terjadi pada bayi prematur dengan berat badan 1000 - 2000 gram dan masa
kehamilan kurang dari 36 minggu.
2 Keluhan utama
Sesak nafas atau pemafasan cepat.
Riwayat penyakit sekarang
Sesak nafas atau pemafasan cepat. Frekuensi pernafasan lebih dari 60 x / menit, pernafasan
cepat dan dan dangkal timbul setelah 6 8 jam pertama setelah lahir dan gejala karakteristik
mulai terlihat pada umur 24 72 jam
Riwayat penyakit dahulu
Pre natal : lbu mengalami ganggualn perfusi darah uterus kehamilan mis : DM, Teksomia
gravidium, Hipotensi, dan perdarahan ante partum.
Natal: Bayi dengan riwayat astiksiapada waktu lahir dan lahir melalui seksio sesar akan
memperberat keadaan.
Post Natal :
Riwayat penyakit keluarga
Keluarga yang mempunyai penyakit DM atau Hipotensi.
Riwayat Psikosorial spiritual
ADL (Activity daily life)
- Nutrisi :
Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum atau menghisap
- Istirahat tidur
Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas ataupun kebutulan nyaman
tergangu akibat tindakan medis
- Eliminasi
Penurunan pengeluaran urine
Pemeriksaan
1) Pemeriksaan umum
Suhu : Bayi sangat mudah kedinginan, dapat terjadi hipotermia dengan suhu 35oC
Nadi : Takikardi 170 x/menit
RR : 60 x/menit
BB: 1000-2000 gram atau kurang dari 1500 gram
2) Pemeriksaan fisik
- Kepala
Hidung : terdapat pemafasan cuping hidung, adanya sekret pada jalan nafas
- .Mulut : mukosa bibir kering
- Dada
Hipertimpani
Bising usus meningkat
- Ekstremitas
Dapat terjadi edema setelah beberapa jam
Adanya sianosis
3) Pemeriksaan penunjang
- Foto rontgen thorak
Pola retikulo granular difus bersama bromkogram udara yang saling tumpang tindih.
Tanda paru sentral dan batas jantung sukar dilihat, inflasi paru buruk.
Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkepa (bayi dari ; ibu diabetes,
hipoksia, gagal jantung kongestif).
Bayangan timus yang besar .
Bergranul merata pada bronkogram udara, yang menandakan penyakit berat jika terdapat pada
beberapa jam pertama.
- Pemeriksa darah
Asidosis metabolik
PH menurun (N : PH 7,35- 7,45)
Penurunan Bicarbonat (N : 22-26 meg/L)
PaCO2 Normal (N : 35-45 mmHg)
Peningkatan serum K
Asidosis respiratorik
- PH menurun (N : PH 7,35-7,45)
- Peningkatan PaCO2 (N : 35-45 mmHg)
- Penurunan PaO2 (N : 80-100 mmHg)
- Imatur lecithin / sphingomylin (L/S)

DIAGNOSA KEPERAWATAN (Marlene mayers, 1995 : 241 )
Diagnosa Keperawatan yang mungkin timbu1 pada klien dengan RDS adalah
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan dinding dada atau
kurangnya jumlah cairan surfaktan.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi atau pemasangan intubasi
trakea yang kurang adekuat dan adanya penumpukan sekret.
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan ventilator, tidak
berfungsinya ventilator, dan posisi . bantuan ventilator yang kurang tepat.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan
menelan, Motilitas gastrik menurun, dan kurangnya penyerapan.

lNTERVENSI
DX I: Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan dinding dada atau
kurangnya jumlah cairan surfaktan
Tujuan : Pertukaran gas adekuat
Kriteria :
Mempertahankan oksigenasi yang adekuat dengan menunjukan Adanya :
- ABG Pa O2 80-100 mmHg, PCO2 35-45 mmHg
- Suara Nares Vesikuler
Intervensi
1. Monitor / observasi perubahan status pemafasan
Rasional : Deteksi dini status pemafasan dan pengenalan dini perubahan perjalanan penyakit.
2. Berikan 02 tidak If:bih dari 40%, hangatkan dan lembabkan dengan kap.
Rasional : Mencegah turunnya konsentrasi O2 dan menurunkan kebutuhan-kebutuhan air.
3. Observasi apnea dan cyanosis.
Rasional : Deteksi dini status pernafasan dan mempertahankan gas darah optimal.
4. Bantu posisi anak untuk ekspansi panparu maksimal
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan agar ada upaya benafas
5. Observasi respon arak untuk ekspansi paru maksimal.
Rasibnal : Mencegah turunnya konsentrasi mekanik dan kemungkinan-kemungkinan
terjadinya komplikasi.
6. Section jika diperlukan
Rasional : Mengurangi akumulasi secret.
7. Monitor efek samping obat
Rasional : Mengetahui reaksi obat untuk dilanjutkan atau dihentikan therapy.
Dx II : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi atau pemasangan
intubasi yang kurang tepat dan adanya penumpukan sekret. :
Kriteria hasil :
- Suara nafas vesikuler dan tidak adanya penumpukan sekret.
- Oksigenasi adekuat
Intervensi :
1. Kaji dada bayi apakah bunyi nafas bilateral dan adanya ekspansi selama inspirasi.
Rasional : Manajemen komplikasi dan penegenalan dini perubahan perjalanan penyakit.
2. Atur posisi bayi
Rasional : Untuk memudahkan drainase.
3. Lakukan penghisapan lender (suction)
Rasional : mengurangi akumulasi sekret
4. Kaji kepatenan jalan napas setiap jam
Rasional : mendeteksi perubahan perjalanan penyakit
5. Cegah prosedur rutin penghisapan, pemegangan dan auskultasi Rasional : mencegah
petiurunan PaO2
Dx III : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidaksamaan nafas bayi dan
ventilator yang kurang tepat.
Tujuan : Pola nafas efektif
Kriteria Hasil :
- Mempertahankan pola pematasan efektif
- Irama nafas, kedalaman nafas normal
- Oksigenasi adekuat.. ; Intervensi :
1. Analisa Monitor serial gas darah sesuai program
Rasional : Mempertahankan gas darah optimal dan mengetahui perjalanan penyakit.
2. Gunakan alat bantu nafas sesuai intruksi
Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas
3. Pantau ventilator setiap jam
Rasional : Mencegah turunnya konsentrasi mekanik dan kemungkinan terjadinya komplikasi
4. Berikan lingkungan yang kondusif
Rasional : supaya bayi dapat tidur dan memberikan rasa nyaman
5. Auskultasi irama jantung, suara nafas dan lapor adanya penyimpangan.
Rasional : Mendeteksi dan mencegah adanya komplikasi
Dx IV: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan (nenelan, motilitas gastric menurun dan kurangnya penyerapan.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat
Kriteria hasil :
- Mencapai status nutrisi normal dengan berat hadan yang sesuai
- Mencapai kadar gula darah normal
- Mencapai keseimbangan intake dan output.
- Bebas dari adanya komplikasi Gl :
- Lingkar perut stabil
- Pola eliminasi nonnal
Intervensi
1. Timbang helat badan tiap hari
Rasional : Mendeteksi adanya penurunan atau peningkatan berat
badan
2. Berikan glukosa 5-10% banyaknya sesuai umur dan berat hadan Rasional : Diperlukan
keseimbangan cairan dan kehutuhan kalori secara parsiasif
3. Monitor adanya hipoglikemi
Rasional : Masukkan nutrisi inadekuat menyebabkan penurunan glukosa dalam darah
4. Monitor adanya komplikasi G.I :
Disstres
Konstipasi / diare.
Frekwensi muntah
Rasional : Mempertahankan nutrisi cukup energi dan keseimbangan intake dan output

Daftar pustaka
Cecily L. Betz and Linda A. Sowden, (202), Keperawatan Pediatri Edisi III, EGC, Jakarta
Suriadi SKp, Rita Yuliani SKp, (2001), Asuhan keperawatan Pada Anak Edisi 1, PT. Fajar
Interpratama, Jakarta
Melson, A. Kathryn & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning, Second
Edition, Springhouse Corporation, Pennsylvania, 1994
Mansjoer. (2002). Kapita selekta kedokteran. Edisi III. Jakarta: FKUI.: EGC.
Ngatisyah.2005.Perawatan Anak Sakit Edisi 2.Jakarta: EGC
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. (2005). Buku kuliah 3: Ilmu kesehatan anak.
Jakarta: FK UI.
Surasmi,Asrining,dkk.2003.Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta: EGC
Wong. Donna L. (2004). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. Jakarta: EGC.