Anda di halaman 1dari 22

STTANtrIAtrI

PERUSAHAAN UMUM LISTRIK NEGARA


I TERPUSTAK
AAN
t
*t
ErYEuBn,i
tAsAL'qff
{Etlsrilt(AF
I
SPLN 88: 1991
No. : 1 08. v'uno,o, o'ff
','jl;
f;
%tf**t3ffi5' i*T
D E P A R T E M E N P E R T A M B A N G A N D A N E N E R G I
PERUSAHAAN UMUM LI STRI K NEGARA
JATAN TRUNOJOYO NO. 135
-
KEBAYORAN BARU
-
JAIGRTA 12160
PEMBUMIAN NETRAL SISTEM 20 KV
DENGAN LEBIH DARI SATU SUMBER
H
SPLN 88:1991
PEMBUMIAN NETRAL SISTEM 20 I(V
DENGAT.I LEBIH DARI SATU SUMBER
Di susun ol eh:
1. Kelompok Pembakuan Bidang Distribusi dengan
Surat Keputusan Direksi Perusahaan Umum listrik
Negara No. : 076lDlRl88 tanggal 21 September
1988;
2. Kelompok Kerja Konstruksi Distribusi Listrik
Pedesaan dengan Surat Keputusan Kepala Pusat
Penyelidikan Masalah Kelistrikan No. : 0201LMW
89 tanggal3 April 1989;
Di terbi tkan ol eh :
DEPARTEMEN PERTAMBANGAN DAN ENERGI
PERUSAHAAI{ UN{UIT{ LISTRIK NEGARA
JIn. Trunojoyo No. l35-Kebayoran Baru
JAKARTA 12160
1991
- l -
SPLN 88:1991
- l l -
SPLN E8:1991
Susunan Anggota Kelompok Pembakuan Bidang Distribusi
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Perusahaan Umum Listrik Negara
No. : 076/DIRySE tanggal2l September lgEE
1. Kepala Dinas Pembakuan,
(ex-officio) (*)
2. Masgunarto Budiman, MSc.
3. Ir. Agus Djumhana
4. Ir. Bambang Irawadi
5. Ir. Hasim Soerotaroeno
6. Ir. Sambodho Srrmani
7. Ir. Soemarto Soedirman
8. Ir. Adiwardojo Warsito
9. Ir. Alfian Helmy Hasyim
10. Ir. Hartoyo
L1. Ir. Didik Djarwanto
L2. lr.Soenyoto
1-3. Ir. Samiudin
14. Ir. J. Soekarto
15. Ir. Rosid
16. Ir. Soenarjo Sastrosewojo
LT. I r . Hoedoj o
18. Ir. Soetopo Sabar
19. Ir. Rahardjo
20. Ir. Pieter Mabikafola
Penyelidikan Masalah Kelistrikan
Sebagai Ketua merangkap
Anggota Tetap
Sebagai Ketua Harian merangkap
Anggota Tetap
Sebagai Sekretaris merangkap
Anggota Tetap
Sebagai Wakil Sekretaris merangkap
Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Arrggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Sebagai Anggota Tetap
Pusat
() Dtt"
-G
-Th J{ r"-b;"r" ;, *
lll
-
SPLN 88:1991
Susunan Anggota Kelompok Kerja Pentanahan Netral
Sistem 20 kV dengan lebih dari Satu Sumber Pembangkit
Surat Keputusan Kepala Pusat Penyelidikan Masalah Kelistrikan
No. : 032|LMW89 tanggal 9 Agustus 1989
1. Ir. Soemarto Soedirman
2. Ir. Stephan Siregar
3. Ir. Sambodho Sumani
4. Ir. Cicih Munarsih
5. Ir. Bosar Tampubolon
6. Ir. Imam Mintarno
7. Ir. Benny Marbun
8. Ir. Nonot Sukarvono
9" Ir. Prayitno
1"0. Ir. Dardjupri
11. Ir. Karel Sampe Payung
12. Ir. Mashud Yusuf
L3. Adabudi n BE.
1,4. lr. Effendi Alam
15. Ir. Johan Mass Inarav
Sebagai Ketua
merangkap Anggota
Sebagai Sekretaris
merangkap Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
Sebagai Anggota
l v -
SPLN 8E:1991
DAFTAR ISI
Pasal Satu : RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Ruang Lingkup
Tujuan
Halaman
1.
a
4,.
3.
Pasal Dua : L,ATAR BELAKAIYG
Latar Belakang
PASaI Tiga: PERALATAN PEMBUMIAN DAN PENGAMAN
4. Resistans Pembumian
5. Relai Pengaman Penyulang
6. Relai Pengaman Saluran Penghubung (Tie Line)
Pa s a l Emp a t : PENERAPAN
Pembumian
Pembumian pada Satu Pusat Listrik Yattg Terdiri Dari Beberapa
Unit Mesin Pembangkit
Pembumian pada Sistem 20 kV Dengan Lebih Dari Satu Sumber
Pengamanan
Pengamanan Penyulang
Pengamanan Saluran Penghubung (Tie Line)
Pengamanan Busbar
Pengamanan pada PLTD Listrik Pedesaan
Lampiran 1-
Lampiran 2
2
2
3
3
3
' 4
5
5
5
5
6
7.
7.7
7. 2
8.
8. 1
8. 2
8. 3
8. 4
8
1.2
SPLN 88:1991
Gambar 1
Gambar 2
Garnbar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6
Gambar 7
Gambar 8.a
Gambar 8.b
Gambar L.1-1
Gambar L.L-l .a
Gambar L.L-2
Gambar L.l.-3
Ganrbar L.l-3.a
Gambar L.z-L
Gambar L.2-2
Gambar L.2-3
DAFTAR GAMBAR
Unit resistans pembumian
Relai tegangan urutan nol
Pembumian pada satu pusat listrik yang terdiri dari beberapa
unit neesin pembangkit
Pembumian sistem 20 kV dengan lebih dari satu sumber
(Dua sumber pada ujung-ujung sistem dibumikan)
Pembumian sistem 20 kV dengan lebih dari satu sumber
(Dua sumber yang besar ymgdibumikan)
Pengamanan saluran penghubung
Pengamanan busbar
Diagram garis tunggal PLTD dengan distribusi JTM
Diagram garis tunggal PLTD dengan distribusi JTM dan JTR
Sistem Samarinda yang ada
Sistern Samarinda dengan pembumian yang telah disesuaikan
Sistem Banjarmasin yang ada
Sistcm 3P (Pinrang-Parepare-Pangsid) yang ada
Sistem 3P dr.rgan pembumian yangtelah disesuaikan
JTR dengan pembumian pengaman (PP)
JTR dengan pembumian netral pengaman (PhIP)
Sistem 20 kV dengan satu sumber dan dibumikan dengan
resistans pembumian 80Q
Halaman
1
J
3
4
4
5
6
7
7
8
9
9
10
11
t2
L3
1.4
"
$Y'l -
SPLN 88:1991
t .
2.
PEMBUMIAN NETRAL SISTEM 20 Itr DENGAN LEBIH DARI SATU SUMBER
PASAL SATU
RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
Ruang Lingkup
Standar ini mencakup ketentuan pemhumian sistem 20 kV yffigdisuplai oleh lebih dari satu sumber.
Catatan : Yang di mak-sud dengan sumber adal ah suatu pusat pembangki t yang dapat terdi ri dari satu atau l ebi h dari satu uni t
mesi n pembangki t atau suatu gardu i nduk.
Tujuan
Tujuannya ialah memberikan pegangan yang lebih terarah bagi penerapan pembumian pada sistem 20
kV dengan lebih dari satu sumbcr yang belum dicakup dalam SPLN 2:1978 dan SPLN 26:1980.
PASAL DUA
LATAR BELAKANG
l,atar Belakang
Pada sistem ketenagalistrikan yang telah mapan, fungsi distribusi primer menggunakan
jaringan
dengan
tegangan 20 kV dan dioperasikan secara radial; yang selanjutnya pembumiannya diatur dalam SPLN
2:I978,SPLN 12:1978 dan SPLN 26:1980. Namun pada daerah yang sedang berkembang dimana sistem
pembangkitnya masih dalam skala kecil atau menengah, serta sistem transmisi tegangan tinggi berikut
gardu induknya belum diperlukan/dibangun, maka untuk sementara/masa transisi
jaringan 20 kV
berfungsi pula sebagai penyalur/penghubung utama
(tie
line) antara dua sumber (PLTD) atau lebih atau
antara PLTD dan Gardu Induk (GI).Kondisitransisi demikian pada umumnya terdapat di daerah luar
Jawa dan pembumiannya menggunakan resistans rendah. Demikianlah SPLN ini disusun dan diber-
lakukan bagi daerah tersebut di atas demi tercapainya penyaluran tenaga listrik yang andal dan aman.
Dalam kondisi seperti itu timbul persoalan mengenai bagaimana pembumian sistem dengan beberapa
sumber tersebut, karena memang belum ada ketentuan yang jelas yang mengaturnya. SPLN 2:1978 dan
SPLN 26:1980 telah mengatur pembumian sistem 20 kV melalui resistans dan SPLN 52-3:1983 mengatur
pola pengamanannya, namun dapat disimpulkan bahwa sistem 20 kV yang dimaksud dalam standar-
stander tersebut adalah sistem distribusi yang disuplai dari GI dan beroperasi radial (walaupun kon-
figurasi jaringannya
bisa loop atau spindel):
jadi
sistem 20 kV yang hanya memiliki satu sumber.
Menurut SPLN 2:1978, SPLN 12:7978 dan SPLN 26:1980 untuk
jaringan 20 kV PLN dirnungkinkan tiga
macam pembumian yang dapat dipilih yaitu :
1. Pembumian melalui resitans tinggr (500 Ohm) seperti yang berlaku di PLN Distribusi Jawa Timur.
3.
- t -
SPLN 88:1991
2. Fembumian langsung sepanjang
jaringan (pembumian efektif) untuk sistem distribusi empat kawat
seperti yang berlaku di PLN Distribusi Jawa Tensah.
3. Pembumian melalui resistans rendah (,10 Ohm atau L2 Ohm) seperti yang berlaku di PLN Distribusi
Jawa Barat, PLN Distribusi Jakzuta Raya dan wilayah-wilayah PLN di luar Jawa.
Dalam standar ini yang ditinjau adalah suatu sistem 20 kV.v'''ang disuplai oleh lebih dari satu sumber yang
belum diatur oleh SPLN 2:1978 dan SPLN ?6:198A.
Di beberapa wiiayah kerja PLN terdapat beberapa contoh sistem semacam itu dengan pembumian.vang
belum mengikuti standar ini (lihat Lampiran 1).
Disamping itu standar ini disusun untuk sistem saluran udara 20 kV dengan mempertimbangkan segi
keamanan bagi konsurnen PLN, karena adanya kenyataan bahwa di bawah SUTM dengan penghantar
telanjang pada tiang yang sama terdapat SUTR di mana tersambung instalasi konsumen. Dalam keadaan
konstruksi sedemikian, sentuhan antara penghantar SUTM dengan penghantar netral SUTR tidak bisa
diabaikan (lihat Lampiran 2).
PASAL TIGA
PERAI"ATAN PEMBUMIAN DAN PEI{GAMAN
Resistans Pembumian
Unit resistans pembumian adalah dua buah resistans 80 Ohm (2x80 Ohm) yang disusun secara paralel
dan masing-masing dilengkapi pemisah dengan rnaksud agar nilai resistans dengan cepat dapat diubah
dari 40 Ohm ke 80 Ohm dan sebaliknya (lihat Gambar 1.a). Arus pengenal dari resistans 80 Ohm adalah
150 A, 10 detik.
Relai Pengaman Penyulang
Relai pengaman penyulang untuk gangguan antar fase maupun gangguan ke tanah adalah sesuai SPLN
52-3:L983.
Rel pengumpul
neral dengan kotak
80Q
Uni t tahanan
pembumi an
dengan kotak
Trafo arus dengan/
tanpa kotak
Gambar I
, Unit resisttztts pembwnian
4.
a
I
I
I
J
- 2 -
SPLN 88:1991
6. Relai Pengaman Saluran Penghubung (Tie Line)
6.1 Relai arus lebih pengaman terhadap gangguan hubung singkat antar fase berikut trafo arusnya.
6.2 Relai arus lebih pengaman terhadap gangguan tanah.
Relai arus lebih pengaman terhadap gangguan tanah harus dapat disetel pada harga 10Vo dari oilai
pengenal trafo arus (CT rating).
6.3 Relai tegangan urutan nol berikut transformator tegangan urutan nol yang terdiri dari tiga trafo
tegangan (potential transform erfPt) yang masing-masing memiliki keluaran tegangan lffil3 volt atau
LL0l3 volt disesuaikan dengan relai tegangan urutan nol yang dipakai (lihat Gambar 2). Relai
tegangan urutan nol harus dapat disetel minimum pada harga 20% darinilai pengenal trafo tegangan.
{ { {
3V"
Gambar 2
,
Relai tegangan urutan nol
PASAL EMPAT
P E N E R A P A N
Pembumian
Pembumian Pada Satu Pusat ListikYang,Terdii dai Beberapa Unit Mesin Pembangkit
Bila pada suatu sumber (pusat listrik) terpasang lebih dari satu unit mesin pembangkit, maka pada
sumber tersebut harus disediakan resistans pembumian 2x80 Ohm (lihat Gambar 3).
1
'1
1
Vo Vo Vo
Gumbar 3
-' !
-
SPLN 88:1991
7.2
C:tatan yang perlu diperhatikan untuk Saklar S :
-
Saklar S harus dari jenis air break switch atau load break switch;
-
Pada saat menghidupkan atau mematikan mesin saklar S tetap masuk (ON);
-
Pada saat ada pekerjaan pemeliharaan pada trafo atau mesin pembangkit atau sirkit yang berhubungan dengan saklar S, saklar
S harus di buka (OFF).Hal i ni untuk mengamankan pekerj a.
Pembumian Pada Sistern 20 kV Dengan Lebih Dai Satu Sumber
a. Jika suatu sistem 20 kV merupakan interkoneksi antara dua sumber (pusat listrik) atau lebih maka
agar sesuai dengan ketentuan pembumian pada SPLN 26:1980, sistem tersebut harus dibumikan di
dua sumber dari beberapa sumberyang ada, masing-masing dengan resistans 80 Ohm dengan maksud
agar pengaman arus gangguan tanah masih bisa berfungsi dengan baik. Sedangkan hubungan ke tanah
di sumber-sumber lainnya harus dilepaskan (lihat Gambar 4).
b. Bila kapasitas sumber-sumber yang berinterkoneksi tersebut sepadarVsama, maka sumber-sumber
yang dibumikan adalah yang terletak pada ujung-ujung sistem (lihat Gambar 4
-
sumber A dan sumhr
D).
Fnn
Gambar 4
Bila kapasitas sumber-sumber yang berinterkoneksi tersebut bervariasi, maka harus dipilih dua (2)
sumber yang akan dibumikan dan sebagai petunjuk dalam menentukan urutan prioritas sumber yang
dibumikan, ditentukan demikian (lihat Gambar 5) :
sumber dengan kapasitas terpasang yang besar, bekerja kontinyu dan memiliki banyak
penyulang;
sumber yang tidak memiliki penyulang namun bekerja kontinyu:
sumber yangbekerjanya tidak kontinyu atau sifatnya hanya sebagai cadangan atauhanya
membantu pada saat tertentu.
Gambar 5
rt
7-1
+ (
T
\:/
B A D C
I
I
l r _
* {*'
*;1
--r- -
I
A* '
(-l
Y
sol
f soa
I T
+
("' ,
)
A
RA
':-
( {
T
4 -
8.
8.1
SPLN 88:1991
d. Jika pada suatu ketika terjadi gangguan l-fase ke tanah permanen pada saluran penghubung (tie-line)
yang mengakibatkan terisolasinya suatu sumber dengan netral mengambang maka operator pada
sumber yang tak dibumikan harus dilengkapi dengan SOP (Standing Operation Procedure) sebagai
ber i kut :
1. PMT pada saluran penghubung (tie-line) harus segera dibuka setelah dipastikan bahwa
gangguan tersebut terjadi pada saluran penghubung;
2. Titik netral trafo sisi 20 kV dibumikan melalui resistans 40 Ohm atau maksimum 80 Ohm.
Pengamanan
Pengamanan Penyulang
Pengamanan penyulang adalah relai arus lebih untuk gangguan antar fase, relai arus lebih untuk
gangguan tanah dan relai penutup balik (sesuai dengan SPLN 52- 3:1983).
Pengamanan Soluran Penghubung (Tie Line)
Pengamanan saluran penghubung adalah sebagai berikut :
a. Pengamanan terhadap gangguan hubung singkat antar fase adalah relai arus lebih tipe waktu tertentu
dengan tunda waktu dan relai arah dengan peralatan pelengkapnya (lihat Gambar 6).
b. Pengamanan terhadap gangguan tanah adalah relai arus lebih tanah tipe waktu tertentu dengan tunda
waktu dan relai arah atau relai arah gangguan tanah tipe waktu tertentu.
c. Bila terdapat relai penutup balik (recloser), relai tersebut harus dinonaktifkan (diblokir).
67
=
relai arus lebih berarah
67 G
=
rel ai arus l ebi h tanah berarah
Gambar 6, Pengaman saluran penghubung
8.2
8..t Pengamanon Busltar
Pengamanan busbar adalah sebagai berikut :
Bila pada sirkit/rangkaian resistans pembumian
tersebut harus disetel dengan tunda waktu yang
gaman saluran penghubung (lihat Clambar 7).
trafo terdapat alat pengaman, maka alat pengaman
lebih besar daripada pengaman penvulang dan pen-
SPLN 88:1991
8.4
51
51- c
( (
Ket er angan:
g0A
i i
gOQ
51
=
r el ai ar usl ebi h
I I
51 G
=
rel ai arus l ebi h tanal r
-f-
i----r1
sf
-C
67
=
relai arus lebih berarah
1.---\J
-^ -
67 G
=
relai arus lebih tanah berarah
I
'=
Gombar 7, Pengamanan Busbar
Pengamanan pada PLTD Listrik Pedesaan
Khusus untuk perlistrikan desa di mana satuan pembangkit diesel (SPD) pada PLTD desa adalah kecil
(100 dan 2U kW) dan masih terisolasi (isolated), diperlukan pengamanan yang seekonomis mungkin.
Untuk mencapai maksud tersebut terdapat dua kemungkinan pembumian titik netral sebagai berikut :
a. Pada PLTD desa dengan SPD 100 kW atau yang lebih kecil umumnya dipakai saluran distribusi yang
langsung menggunakan JTR. Disini titik netral pada terminal generator dibumikan langsung (lihat
Gambar 8.a).
b. Pada PLTD desa dengan SPD lebih besar dari 100 kW, umumnya menggunakan saluran distribusi
dengan JTM melalui transformator penaik tegangan (step up transformer). Pada sistem ini titik netral
trafo sisi TM dibumikan langsung (lihat Gambar 8.b).
Selain untuk tujuan ekonomis cara pembumian tersebut dimaksudkan pula agar peralatan pengaman
yang berupa fused cutout atau fused switch pada penyulang dapat diharapkan bekerja membebaskan
gangguan l-fase ke tanah.
Catatan: 1. Dal am hal terdapat PLTD desa di mana ti ti k netral nya ti dak di bumi kan (mengambang) karena menggunakan
trafo distribusi sebagai step-up, maka sebagai alternatif pengamanan terhadap gangguan 1-fase ke tanah dapat
dipergunakan tiga buah trafo tegangan yang dihubungkan Y-delta terbuka dan sebuah relai tegangan lebih-yang
memberikan alarm atau indikator adanya gangguan ke tanah. Hal ini diterapkan bila peralatan pengaman pada
penyulang-penyulang hanya sederhana (dapat berupa fused cutout, pemisah, pelebur). Disamping itu operator
PLTD harus dilengkapi dengan SOP, yaitu bila alarm pada suatu penyulang bekerja, maka sakelar penyulang
(dapat berupa PMT, pelebur, pemisah, fused cutout) harus dibuka dan mengikuti cara melokalisir gangguan
1-fase ke tanah sesuai SPLN 52-3:1983 (hmpi ran F, buti r 4).
2. Untuk PLTD-PLTD kecil agar setiap kali ada penambahan satuan pembangkit diesel (SPD) atau instalasi baru
maka peral atan di i nstal asi l ama perl u di sesuai kan/ di sempurnakan, apal agi j i ka i nstal asL/PLTD l ama tersebut
akan di i nterkoneksi kan dengan suatu si stem.
3. Sehubungan dengan gangguan l-fase ke tanah perlu diperhitungkan besarnya arus kapasitif yang berasal dan
j uml ah sel uruh panj ang penyul angyang di supl ai nya. Untuk SUTM 20 kV dengani uml ah panj ang 100 km besarnva
arus kapasi ti f adal ah 5,M A (l i hat hmpi ran 2).
SPLN 88:1991
Fuse swirch gl1
Pembumi an
Gambar 8a. Diagrant garis rungal PLTD dengan distibusi ITR
, on
nn
400. v . 50H2 20 kv . 50. H2
trntr
trM@
STEP UP
,,100 V/20 KV
Gantbar 8b. Diagant gais tttngal PLTD dengan distribusi ITM dan t'fR
/.r-nsros
FS
- #
r
f
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
-{
yul ang
- 7 -
SPLN E8:1991
LAMPIRAN 1
CONTOH KASUS.KASUS SISTEM 20 KV DENGAN LEBIH DARI
SATU SUMBER YANG ADA DI PLN WIT,AYAH
Kasus-kasus dari masalah ini telah banyak terdapat di beberapa wilayah PLN misalnya :
1. Sistem Samarinda (PLN
Wilayah YI)
PLTD lama (6x4 MW) dengan pembumian langsung pada sisi 20 kV diinterkoneksikan dengan suatu
PLTD Baru dari proyek Akselerasi (2r5 MW) dengan pembumian melalui resistans 2x80 Ohm pada sisi
20 kV (lihat Gambar L.1-1). Pada PLTD Baru yang dibangun pada tahap berikutnya masing-masing unit
dilengkapi dengan resistans 2d0 Ohm. Pengamanan terhadap gangguan tanah (51-G) selain terdapat
pada penyulang juga
terdapat pada sirkit resistans pembumian.
6/20kv
6 x 4 MW
a ).'i'-"
2x5 MW
PLTD BARU
51 sr-c
/r--r'
-, -=. )-.
-
1J-
sl-c
UH
A ' (
-_rr_
rc
51
- G
51
r PLTD LAMA
[
. uLv u^ \ t Lf .
A
I
I
t
Keterangan :
51
=
relai arus lebih
51 G
=
rel ai arus l ebi h tanah
Garnbar L. l-l
/ - . . F -
t
r ^ , L - J t
l ) - - - - i
I
v - / \ _ w -
f
_ ) _ _ J
a ]"^:_ r
2 x 5 MW
+.
,
',
Dalam tahaP
sr-ccj r
i _-
konstruksi
? t \ . / _ F \ -
t ^ r L - J
r
l u - - {
\ - '
\ . 1 2 - /
|
n Y- t
r l
so fifi- ao e
.-l-
rc sl-G
I
-:-
- 8
---_{tii--'--..'1,
\->r' \-/'
t*^
SPLN 88:1991
Sistem Samarinda yang pembumiannya telah disesuaikan nrenurut standar ini menjadi sebagai berikut:
6x4 MW
2X5MW A Fi . .
AY_
( 6 7
6 7 - c
-r\P
t t f - t r - c
-'v' A
l , -
i (
I l s oQ
'r
PLTD L{IVL{
PLTD BARU
80 Qr
I
I
2x5 MW
Al " i
80Q
- - l
I
I
I
I
l r
- t ;
I - - >
- - )
i
/ U RV
\ .
v - '
3
A Y -
Keterangan:
51
=
relai arus lebih
51 G
=
relai arus lebih tanah
67
:
relai anrs lebih berarah
67 G
:
relai arus lebih tanah berarah
Gambar L.1-1.a
Sistem Banjarmasir/Trisakti (PLN Wilayah VI)
Di GI Trisakti terdapat sebuah PLTD (2x8 MW) yuog memiliki step up trafo di mana pada sisi 20 kV
nya dibumikan melalui resistans 2x80 Ohm. PLTD tersebut pada lokasi GI yang sama bekerja paralel
dengan dua buah trafo ?nn} kV (2x10 MVA) yang pada sisi 2J kV nya
juga
dibumikan melalui resistans
2x80 Ohm (lihat Gambar L.L-z).
20 kv 70 kv
r .
Dal am t ahaP
l _ _ l >
'
l(onstruxsl
I
5 1 - G
I
I
- l
I
l / 1 r L -
t l l
a r ^ \
r r
l
L . + - - l
\ - \ ' / - /
|
I
2.
\-.
U/,u | |
\-\/-,/
|
. \ v , I I r L l { I
2x8MW' ^* l
l 1: : - . - - r " - i i I
i l - , ' - . '
, . ^ l | | |
rl,_,' ii)
L*J,y*s' ",,"i11
l#:-D--]
\ - ' W - - ' i l L r l r .
i l ' : " 4 |
o( - r I
- i r i . c
I
i -
- '
Y
l
ke arah PLTA
PM Noor
Keterangan :
51
=
rel ai arus l ebi h
51 G
=
rel ai arus l ebi h tanah
PLTA PM Noor
-t-
soo+
.
* 8oo
aoQf
_
i soo
ke arah PI-TD
i I
3xl oMW
r l
i_l_+]D<.;r
i l
f *
|
-vo
I
i
f zzoo
+
i
I
I
I
Gambar L.1-2
- 9 -
o-
67 67- G
<_nA_
I
a\--Jl,-J
5 t - c - 5 t -
GI f' ri sakti
3.
SPLN 88:1991
Sistem 3P
=
Pinrang-Pare Pare-Pangsid (PLN Wilayah VIID
Sistem ini semula memiliki pembumian sistem 20 kV mengambang yaitu di Pinrang dan Pare-pare.
Kemudian masuklah PLTD Akselerasi di
pangsid
(2x1200 kW) dengan pembumian melalui resistans
2x80 Ohm yang diikuti dengan PLTD ex OECF
juga
di Pangsid (2$0m kW) dengan masing-masing
trafo pada sisi 20 kV ditanahkan melalui resistans 2x80 Ohm (lihat Gambar L.1- 3).
PINRANG
Keterangan:
gV =
rel ai tegangan urutan nol
51
:
relai arus lebih
51 G
=
relai arus lebih tanah
67
=
relai arus lebih berarah
67 G
=
relai arus lebih tanah berarah
PLTM 3x500kW
Y-t
^ l
r-tr
t l
l * | *
r-
r'J
f
r t '
=
h
64V
/ Y1
-l
64V Dalam oPerasi
normal terbuka
+30
km
A
64V t64V
Y1
A F
5U
5 1 G
5U
5 1 G
sv
5 1 - C
F
6kv
PLTD LAWA 6 MW
PARE PARE
l - t
"J-,
( (
i eo f aoA
L t , . J
st
' c
t
2 x 1200 kV
AKSELERASI
Gambar L.I-3
2 X 3000 Kw
ex
-
OECF
PANGSID
1 0 -
SPLN E8:1991
Sistem 3p yang pembumiannya telah disesuaikan menurut standar ini menjadi sebagai berikut :
PINRANG
Keterangan:
&V
=
relai tegangan urutan nol
51
=
relai arus lebih
51 C
=
relai arus lebih tanah
67
=
relai arus lebih berarah
67 Ct
PLTM 3x500kW
Dalam opcrasi
normal terbuka
t30 km
t 30 km
67t67-G
61167-G
-|
80Q
(
15 kv
( (
) " 1
:r
=
1 G
r a
I
]
5 U 5
A
YJ
i r
r 1
A ]'r
671
67-G
sll
51-G
PLTD LAWA 6 MW
a:
PARE PARE L
2 x 1200 kV
AKSELERASI
Gambar L.1-3.a
2 X 3000 Kw
ex
-
OECF
PANGSID
i
:
11
-
1.
1. 1
SPLN E8:1991
LAMPIRAN 2
PENGARUH PEMBUMIAN NETR,AL SISTEM 20 KV3-KAWAT
TERHADAP PROTEKSI GAI{GGUAN TANAH DAN BAHAYA SENTUHAN
ANTARA SU"TM DAN SUTR YANG ADA DI BAWAHNYA
Dalam standar pembumian netral sistem 20 kV dengan lebih dari satu sumber disebutkan bahwa
jika
sistem 20
kV dibumikan di dua sumber, maka tahanan pembumian masing-masing sumber adalah 80Q. Lagipula jika
karena sesuatu hal kedua sumber tersebut terpisah dan untuk sementara bekerja sendiri-sendiri, pembumian
masing-masing dibolehkan tetap 80O .
Uraian di bawah ini mencoba menerangkan mengapa dalam hal pembumian di dua sumber resistans masing-
masing adalah 80Q (bukan 4OO
)
dan bahwa dalam hal pembumian di satu sumber dengan resistans
pembumian 80CJ
,
relai pengaman gangguan tanah masih dapat berfungsi dengan baik.
Jika suatu JTR berada di bawah JTM pada tiang yang sama, maka kemungkinan terjadinya hubung
singkat antara keduanya tidak bisa diabaikan. Jika hubung singkat sedemikian itu terjadi maka akan
timbul kenaikan tegangan pada JTR nya.
ITR dengan Pembumian Pengaman (PP)
Gambar L.2-1
Pada sistem Pembumian Pengaman (PP) badan peralatan konsumen melalui hantaran pengaman
dihubungkan ke rel/terminal pe.ngaman di PHB konsumen dan selanjutnya rel pengaman ini
dihubungkan ke elektroda pembumian melalui hantaran pembumian. Sedangkan JTR nya ditanahkan
pada titik netral trafo distribusi. Sistem PP inilah yang sampai sekarang di wilayah-wilayah PLN masih
banyak digunakan kecuali di PLN Distribusi Jawa Tengah.
Dalam Gambar L.z-Idiperlihatkan suatu sistem 20kV 3- kawat yangdibumikan di satu sumber dengan
resistans pembumian 40Q dan di bawahnya terdapat JTR yang menggunakan sistem Pembumian
Pengaman (PP) di mana badan peralatan konsumen diamankan dengan elektroda pembumian kon-
sumen tersendiri. Misalkan terjadi hubung singkat antara fase-R (JTM) dengan kawat netral JTR, maka
akan terjadi kenaikan potensial pada netral JTR nya sebagai berikut :
Rlr.Gn)
t 2-
Zxtdrrr)
=
Rxgv) + R5rngn)
Rxeffn)
SPLN 8E:1991
Jika RxeCtR)
:
5fJ, RN(nrl)
:
40Q dan
Vnase(rtr,t)
:
20ffi0/6 volt, maka
vnn(rR)
:
4 0 + ,try:
1283vol t
5
1.2
Dalam hal ini JTR dan pcralatan listrik konsumen akan menderita tegangan fase sebesar 1503 volt (dari
t2g3 + zz}v)selama tu detik, dimana tu adalah waktu pembebasan gangguan oleh pengaman JTM (yaitu
pMT
dan reiai, yang biasanya 0,5 detik)" Seperti diketahui ketahanan peralatan konsumen tegangan
rendah adalah 2000 volt selama 1- menit ietiki dalam keadaan baru. Tegangan sebesar 1503 V tersebut
(75Vodari ketahanan peralatan) selama0,5 detik masih dapat dianggap tidak membahayakan
peralatan
listrik konsumen.
Jika sistem 20 kV tersebut dibumikan di dua sumber dengan resistans pembumian masing-masing 4OC),
maka sistem tersebut seolah-olah ditanahkan dengan resistans pembumian ekivalen?nQ ;
dengan cara
yang sama dapat dihitung bahwa kenaikan tegangan kawat netral adalah Vr.rryrnl
:
?-309 volt. Tegangan
yarr;diderita oleh peralalan konsumen adalah z5zgvott.Tegangan sebesar ini mungkin akan menyebab-
kaole1r1busnya isolasi (breakdown) pada JTR maupun peralatan listrik konsumen.
ITR dengan Pembumian l'{etral Pengaman (PNP)
pada
sistem
pNp
seperti yang dimaksud oleh PUIL ataupun SPLN 3:t978 hantaran netral JTR
dibumikan di sumbet
lgutdu
tiafo; dan di tiang-tiang tertentu sepanjang saluran dan
juga di setiap
konsumen. Badan p"rul-ut- konsumen, melalui hantaran pengaman tersambung ke reVterminal pen-
gaman di
pHB
konsumen, sedangkan reVterminal pengaman ini selain tersambung
ke elektroda pem-
bumian konsumen
juga ke netral.
Gurnbar L.2-2
Dalam Gambar L.z-zdiperlihatkan suatu JTM di mana di bawahnya terdapat JTR yang menggunakan
sistem
pNp
di mana badan peralatan konsumen diamankan dengan elektroda pembumian konsumen
yang dihubungkan pula dengan penghantar netral JTR sehingga kenaikan tegangan pada kawat netral
JTR akan dirasakan
juga
oi"h kon*-.tt yang kebetulan menyentuh/memegang
badan pera-latlnoya.
Untuk ini sudah ada ketentuan dalam SPLN l:lgl}mengenai besarnya nilai resistans pembumian kawat
netral TR nya yaitu Rruegn)
:
0,2Q maksimum. Reiistans pembumian total tersebut didapat dari
pembumian di gardu trafo, di beberapa titik sepanjang JTR dan sumbangan dali pembumian semua
- L 3 -
SPLN 88:1991
konsumen yangtersambung padaJTR tersebut. Dengan resistans RpE$Rl
:
0,2f) kenaikan tegangan
yang terjadi pada kawat netral termasuk badan peralatan konsumen kira-kira 60 volt (yaitu dari 300 A
x 0,2Q
).
Sebenarnya dengan waktu 0,5 tletik tegangan sentuh yang masih dianggap ftrnsl adalah 90 volt,
sehingga RNr4rny maksimtrm dengan waktu tb
:
0,5 detik boleh sa-pd
q3O.
Untuk memperoleh
resistans A,292 atau 0,3Q ini mungkin akan sulit dicapai, apalagi bila
jumtah
konsumen yang
tersambung pada JTR masih sedikit.
Jika sistem 20 kV tersebut dibumikan di dua supber dengan resistans pembumian masing-masing 4OQ,
sehingga seolah- olah sistem dibumikan dengan resistans pembumian ekivale n?frd2 (atau arus gangguan
l-fase ke tanahnya kira-kira 600 A) maka supaya tegangan sentuh pada kawat netral dan badan peralatan
konsumen tidak lebih dari 60 atau 9Cl volt seperti tersebut di atas, maka Rn'e tersebut harus lebih kecil
lagi (0,1Q atau 0,1-5Q
)
yaog berarti lebih sulit untuk dicapai.
2. Jika suatu sistem 20 kV hanya mempunyai iatu sumber dan dibumikan deogan resistans pembumian
80Q (lihat Gambar L.2-3), maka bila terjadi gangguan L-fase ke tanah pada salah satu penyulangnya
(misalnya penyulang A) maka pada relai pengaman gangguan tanah Re akan mengalir arus 3Io yang
terdiri dari arus resistif (Ip) dari resistans pembumian dan arus kapasitif (Irce) dari penyulang B dan C
atau
3lo.a
-
In * Igce.g * Igce.c
Pada penyulang B hanya akan mengalir arus kapasitif Isce.s, demikian pula pada penyulang
C hanya
mengalir arus kapasitif lrce.c. Dalam hal ini hanya relai gangguan tanah Ra ya"g trip disebabkan karena
arus resistifnya saja sudah
jauh
lebih besar dari nilai settingnya (yaogbiasanya sebesar IAVo sagparn%
dari CT rating), sedangkan relai-relai gangguan tanah Rs dan Rc tidak akan trip disebabkan arus
kapasitif yang melewatinya jauh
lebih kecil dari nilai settingnya. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai
beri kut:
Misalnya CT rating 300/5 A, setting relai gangguan tanah Ra, Re dan Rc masing-masing S A, panjang
penyulang C 100 km (yang terpanjang) dan Ce
:
0,ffi5 pFlkn/fasa. Pada penyulang C terdapat 30 buah
trafo distribusi 3-fasa yang masing-masing memiliki kapasitanri 6,ffipFlfasa/unit.
I
A + - I - * c
80Q
B
Gambar L.2-3
lvlaka arus kapasitif yang mengalir melalui Rc adalah
, 20[n0
I:c".c
:
ff
x(2r3,14x50) x3 (1(nd),005+3od),004) x L0-6
:
6,74 A.
1
14-
3.
SPLN 8E:1991
Dapat dilihat bahwa ltc".c tersebut masih
jauh dari setting relainya, oleh karena itu relai gangguan tanah
Rc tidak akan trip.
pada
relai gangguan tanah Re akan mengalir arus resistif dari resistans pembumian
(yzrng besarnya
kira-kira 150 A, bila gangguan tanah tersEbut tidak melalui resistans). Karena besarnya arus resistif
tersebut
jauh
di ata. n-ilailitting relai gangguan tanah, maka relai Re akan trip.
Jadi pada sisrem 20 kV yilng dibumikan dengan resistans 80Q,
jika terjadi gangguan l-fasa ke tanah
pada salah satu penyulangnya, maka proteksi gangguan tanahnya yang menggrrnakan relai non-direc-
tional masih dapat herfuigsi dengan baik.
Jika siste m ?A kV tersebut memiliki tiga (3) sumber yang dibumikan melalui resistans masing-masing
dengan
gge
(arau ekivalen deogao"80)n1,
maka bila terjadi sentuhan
penghantar fasa TM ke
penghantar nerral TR akan terjadi kenaikan tegangan pada penghantar netral TR sebesar :
a. Pada JTR dcngan si stem PP
VNETTR)
: :
1823 volt.
pada
kejadian ini isolasi peralatan listrik konsurnen akan nnenderita tegangan fasa sebesar 2043 volt.
Tegangan sebesar 20a3 volt tersebut masih dapat ditahan oieh peralatan TR dengan asumsi bahwa
relai gangguan tanah telah bekerja dalam waktu L detik.
b. Pada JTR dengan sistem PNP
Vuecn)
:
#*u-
ry
:
86,60 volt'
Disini terjadi kenaikan tegangan penghantar netral (demikian pula badan peralatan konsumen) sebesar
gT
volt. Tlgangan sebesai8T uottietsibut selama 0,5 detik masih memenuhi batas tegangan sentuh yang
aman menurut IEC Publ 479-1974.
KESIMPULAN
1. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan Rxecn)
:
5 (untuk JTR dengan sistem PP) maka
resistans pembumiannetral siite- 20 kv tidak Soleh kuiang dari 40Q atau arus gangggan tanahnya
ticlak boleh lebih dari 300 A, sehingga
jika
dibumikan di dua sumber maka resistans pemluTan di setiap
sumber masing-masing tidak bolJ[ ko.*g dari 80Q. Jika karena suatu keadaan, pada sistem 20 kv
terdapat tiga Jurnb., yong dibumikan maka resistans pembumian netral pada masing-masing sumber
dipertolehkan sebesar 80e dengan syarat bahwa alat pengaman gangguan tanah pada penyulang harus
bi i a tri p secara cepat (i nstantaneous) atau l ebi h cepat dari 0,5 deti k.
Z. Resistans pembumian rotal dari penghantar netral JTR perlu diusahakan sekecil mungkin dengan batas
maksimum 5Q.
3.
pada
si stem 20 kV yang di bumi kan dengan resi stans 80Q, proteksi gangguan tanahnya
yang
menggunakan relai non-directional masih dapat berfungsi dengan baik.
5 2m00
804 + 5
*-vt-
1 5 -