Anda di halaman 1dari 13

ABSTRAK

Pada umumnya kita telah mengetahui seringnya gangguan terhadap


jaringan
transmisi adalah gangguan alam, seperti gangguan kilat terhadap jaringan
transmisi
disebabkan jaringan transmisi yang melalu udara, panjang, tinggi dan tersebar
diberbagai daerah terbuka serta beroperasi dalam segala macam kondisi.
Diantara pertimbang-pertimbangan yang diambil dalam perancangan
pemerisaian saluran transmisi adalah letak kawat tanah terhadap kawat fasa.
Karena kawat tanah saja, sehingga persentase kecil saja pada kawat fasa.
Dan sampai sekarang belum ada sarjana-sarjana yang menunjukan
kegunaan kilat bagi kehidupan, belum mendapat jalan untuk mencegah atau
memanfaatkan energi yang ditimbulkan oleh petir tersebut. Walaupun demikian
ilmu pengetahuan menusia tetap berkembang dengan kemajuan teknologi.
Dengan salah satu alat pengaman, kawat udara (Overhead Ground Wire) untuk
melindungi kawat-kawat fasa dari jaringan transmisi.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan pada Tuhan, karena berkat, karunia
penyertaan serta perlindungan yang diberikan kepada saya sehingga dapat
menyelesaikan karya tulis ini dengan baik.
Karya tulis ini dapat diselesaikan atas bantuan dari berbagai pihak, untuk
itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimah kasih yang sebesar-
besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya
tulis ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan di dalam
penulisan ini yang disebabkan oleh terbatasnya kemampuan penulis, untuk itu
masukan dari para pembaca, baik yang berupa saran maupun kritikan yang
membangun sangat diharapkan untuk lebih baiknya tulisan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi
kita semua.

DAFTAR ISI
ABSTRAK

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Batasan Masalah
1.4 Tujuan Penulisan

BAB II OVERHEAD GROUNDWIRE


2.1 Sistem Perlindungan Petir
2.1.1 Sistem Penangkal Petir
2.1.2 Dissipation Array Sistem (DAS)
2.2 Sistem Perlindungan Petir Pada Transmisi Tenaga Listrik
2.3 Usaha Untuk Meningkatkan Performa Perlindungan

BAB III METODE SEVERITY INDEX


3.1 Aplikasi Metode Severity Index Pada Saluran Transmisi
3.1.1 Relative Frequency Index (Ifreq)
3.1.2 Relative Overvoltage Amplitudo (Iamp)

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Petir merupakan kejadian alam di mana terjadi loncatan muatan listrik


antara awan dengan bumi. Loncatan muatan listrik tersebut diawali dengan
mengumpulnya uap air di dalam awan. Ketinggian antara permukaan atas dan
permukaan bawah pada awan dapat mencapai jarak sekitar 8 km dengan
temperatur bagian bawah sekitar 600 F dan temperatur bagian atas sekitar 600 F.
Akibatnya, di dalam awan tersebut akan terjadi kristal-kristal es. Karena di dalam
awan terdapat angin ke segala arah, maka kristal-kristal es tersebut akan saling
bertumbukan dan bergesekan sehingga terpisahkan antara muatan positif dan
muatan negatif. Pemisahan muatan inilah yang menjadi sebab utama terjadinya
sambaran petir. Pelepasan muatan listrik dapat terjadi di dalam awan, antara
awan dengan awan, dan antara awan dengan bumi tergantung dari kemampuan
udara dalam menahan beda potensial yang terjadi.
Petir yang kita kenal sekarang ini terjadi akibat awan dengan muatan
tertentu menginduksi muatan yang ada di bumi. Bila muatan di dalam awan
bertambah besar, maka muatan induksi pun makin besar pula sehingga beda
potensial antara awan dengan bumi juga makin besar. Kejadian ini diikuti
pelopor menurun dari awan dan diikuti pula dengan adanya pelopor menaik dari
bumi yang mendekati pelopor menurun. Pada saat itulah terjadi apa yang
dinamakan petir. Panjang kanal petir bisa mencapai beberapa kilometer, dengan
rata-rata 5 km. Kecepatan pelopor menurun dari awan bisa mencapai 3 % dari
kecepatan cahaya. Sedangkan kecepatan pelepasan muatan balik mencapai10%
dari kecepatan cahaya.

1.2 Rumusan Masalah

Mempelajari dan memahami cara/usaha perlindungan terhadap saluran transmisi


dari sambaran petir serta bagaimana untuk menentukan titik kritis di sepanjang saluran
transmisi.

1.3 Batasan Masalah

Penulisan hanya ingin membicarakan mengenai pengaman pendukung


jaringan transmisi tegangan tinggi seperti pembumian untuk penyaluran daya
yang berlebih akibat yang ditimbulkan sambaran petir mengenai kawat tanah
udara (Overhead Ground Wire) sebagai pelindung(Shielding) jaringan transmisi
tegangan tinggi. Penggunaan kawat tanah ditujukan untuk pengaman mengenai
kawat fasa. Disini kawat tanah berfungsi sebagai pelindung (Shielding), energi
sambaran kilat akan dialirkan kedalam bumi melalui tiang atau menara yang
dibumikan setelah lebih dahulu ditangkap oleh kawat tanah tersebut.
Kita telah mengetahui bahwa kilat merupakan aspek gangguan yang
berbahaya terhadap seluran transmisi yang menggagalkan keandalan dan
keamanan sistem tenaga dan tak mungkin dihindarkan, sedangkan alat-alat
pengaman seperti : Arester, Fuse Gap dan Rodgap terbatas kemampuannya, maka
untuk mengurangi akibat yang di timbulkan sambaran petir digunkanla kawat
tanah udara (overhead ground wire) sehigga koordinasi isolasi akan lebih
ekonomis.

1.4 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang


jelas mengenai perlindungan terhadap saluran transmisi dan menentukan titik
kritis yang diakibatkan oleh sambaran petir.

\
BAB II

OVERHEAD GROUND WIRE

2.1 Sistem Perlindungan Petir


Mengingat kerusakan akibat sambaran petir yang cukup berbahaya, maka
muncullah usaha-usaha untuk mengatasi sambaran petir. Teknik penangkal petir
pertama kali ditemukan oleh Benyamin Franklin dengan menggunakan
interseptor (terminal udara) yang dihubungkan dengan konduktor metal ke tanah.
Teknik ini selanjutnya terus dikembangkan untuk mendapatkan hasil yang
efektif.

2.1.1 Sistem Penangkal Petir

Sistem ini menggunakan ujung metal yang runcing sebagai pengumpul


muatan dan diletakkan pada tempat yang tinggi sehingga petir diharapkan
menyambar ujung metal tersebut terlebih dahulu. Sistem ini memiliki kelemahan
di mana apabila sistem penyaluran arus petir ke tanah tidak berfungsi baik, maka
ada kemungkinan timbul kerusakan pada peralatan elektronik yang sangat peka
terhadap medan transien.

2.1.2 Dissipation Array System (DAS)

Sistem ini menggunakan banyak ujung runcing (point discharge) di mana


tiap bagian benda yang runcing akan memindahkan muatan listrik dari benda itu
sendiri ke molekul udara di sekitarnya. Sistem ini mengakibatkan turunnya beda
potensial antara awan dengan bumi sehingga mengurangi kemampuan awan
untuk melepaskan muatan listrik.

2.2 Sistem Perlindungan Petir Pada Transmisi Tenaga Listrik

Petir akan menyambar semua benda yang dekat dengan awan. Atau
dengan kata lain benda yang tinggi akan mempunyai peluang yang besar
tersambar petir. Transmisi tenaga listrik di darat dianggap lebih efektif
menggunakan saluran udara dengan mempertimbangkan faktor teknis dan
ekonomisnya. Tentu saja saluran udara ini akan menjadi sasaran sambaran petir
langsung. Apalagi saluran udara yang melewati perbukitan sehingga memiliki
jarak yang lebih dekat dengan awan dan mempunyai peluang yang lebih besar
untuk disambar petir.
Selama terjadinya pelepasan petir, muatan positif awan akan menginduksi
muatan negatif pada saluran tenaga listrik. Muatan negatif tambahan ini akan
mengalir dalam 2 arah yang berlawanan sepanjang saluran. Surja ini mungkin
akan merusak isolasi saluran atau hanya terjadi pelepasan di antara saluran-
saluran tersebut. Desain isolasi untuk tegangan tinggi (HV) dan tegangan ekstra
tinggi (EHV) cenderung untuk melindungi saluran dari adanya tegangan lebih
akibat surja hubung dan surja petir. Untuk tegangan ultra tinggi (UHV), desain
isolasi lebih cenderung kepada proteksi terhadap surja hubung. Adanya tegangan
lebih ini akan mengakibatkan naiknya tegangan operasi yang tentunya dapat
merusak peralatan-peralatan listrik.
Dalam hal melindungi saluran tenaga listrik tersebut, ada beberapa cara
yang dapat diterapkan. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan
menggunakan kawat tanah (overhead ground wire) pada saluran. Prinsip dari
pemakaian kawat tanah ini adalah bahwa kawat tanah akan menjadi sasaran
sambaran petir sehingga melindungi kawat phasa dengan daerah/zona tertentu.
Overhead groundwire yang digunakan untuk melindungi saluran tenaga
listrik, diletakkan pada ujung teratas saluran dan terbentang sejajar dengan kawat
phasa. Ground wire ini dapat ditanahkan secara langsung atau secara tidak
langsung dengan menggunakan sela yang pendek. Dalam melindungi kawat
phasa tersebut, daerah proteksi groundwire dapat digambarkan seperti pada
Gambar 1.

Gambar 1. Perlindungan Dengan Menggunakan 1 Ground Wire

Daerah proteksi dengan menggunakan 1 buah ground wire Dari gambar di


atas, misalkan ground wire diletakkan setinggi h meter dari tanah. Dengan
menggunakan nilai-nilai yang terdapat pada gambar tersebut, titik b dapat
ditentukan sebesar 2/3 h. Sedangkan zona proteksi ground wire terletak di dalam
daerah yang diarsir. Di dalam zona tersebut, diharapkan tidak terjadi sambaran
petir langsung sehingga di daerah tersebut pula kawat phasa dibentangkan.
Apabila hx merupakan tinggi kawat phasa yang harus dilindungi, maka lebar bx
dapat ditentukan dalam 2 kondisi, yaitu :
➢ Untuk hx > 2/3 h , bx = 0,6 h (1 – hx/h)
➢ Untuk hx < 2/3 h , bx = 1,2 h (1 – hx/0,8h)
Dalam beberapa kasus, sebuah ground wire dirasa belum cukup untuk
memproteksi kawat phasa sepenuhnya. Untuk meningkatkan performa dalam
perlindungan terhadap sambaran petir langsung, lebih dari satu ground wire
digunakan. Bila digunakan 2 buah ground wire dengan tinggi h dari tanah dan
terpisah sejauh s, perhitungan untuk menetapkan zona proteksi petir dilakukan
seperti halnya menggunakan 1 buah ground wire.
Gambar 2. Perlindungan Dengan Menggunakan 2 Ground Wire

Zona perlindungan dari penggunaan 2 buah groundwire Dari gambar


tersebut, apabila ho menyatakan tinggi titik dari tanah di tengah-tengah 2 ground
wire yang terlindungi dari sambaran petir, maka ho dapat ditentukan : ho = h -
s/4 Sedangkan daerah antara 2 ground wire dibatasi oleh busur lingkaran dengan
jari-jari 5/4 s dengan titik pusat terletak pada sumbu di tengah-tengah 2 ground
wire. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa hadirnya ground wire dimaksudkan
sebagai tempat sambaran petir langsung dan dapat melindungi kawat phasa. Zona
perlindungan ground wire dapat dinyatakan dengan parameter sudut
perlindungan, yaitu sudut antara garis vertikal ground wire dengan garis hubung
antara ground wire dan kawat phasa. Jika sudut perlindungan tersebut dinyatakan
dalam a dan tinggi ground wire adalah h, maka probabilitas sambaran petir pada
ground wire (p) dapat ditentukan sebagai berikut :
log p=ah90 -4

Dari persamaan tersebut, terlihat bahwa makin tinggi ground wire dan
sudut perlindungan yang besar, akan mengakibatkan probabilitas tersebut
meningkat. Untuk itu diperlukan pemilihan tinggi ground wire dan sudut
perlindungan yang tepat untuk mendapatkan performa perlindungan yang baik
dari sambaran petir.

2.3 Usaha Untuk Meningkatkan Performa Perlindungan

Usaha yang paling mudah untuk meningkatkan performa perlindungan


adalah dengan menggunakan lebih dari satu groundwire. Dengan cara ini
diharapkan petir akan selalu menyambar pada ground wire sehingga
memperkecil probabilitas kegagalan perlindungan. Cara ini dapat disertai dengan
menggunakan counterpoise, yaitu konduktor yang ditempatkan di bawah saluran
(lebih sering dibenamkan dalam tanah) dan dihubungkan dengan sistem
pentanahan dari menara listrik. Hasilnya, impedansi surja akan lebih kecil.
Usaha-usaha lainnya di antaranya :

➢ Memasang couplingwire di bawah kawat phasa (konduktor yang


disertakan di bawah saluran transmisi dan dihubungkan dengan sistem
pentanahan menara listrik).
➢ Mengurangi resistansi pentanahan menara listrik dengan menggunakan
elektroda pentanahan yang sesuai.
➢ Menggunakan arester.
Cara yang terakhir ini boleh dikatakan sebagai alat pelindung yang paling baik
terhadap gelombang surja. Arester inilah yang terus dikembangkan oleh para ahli
untuk mendapatkan performa perlindungan yang makin baik.

BAB III

METODE SEVERITY INDEX

3.1 Aplikasi Metode Severity Index Pada Saluran Transmisi Udara

Metode severity index dalam menentukan titik kritis dari saluran udara
dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor letak saluran yang melewati
daerah dengan tingkat kerapatan sambaran petir tinggi dan kemampuan menara
terhadap sambaran petir. Metode ini dapat diterapkan untuk menentukan titik-
titik rawan sepanjang saluran transmisi sehingga dapat mengetahui menara yang
harus diperbaiki. Dengan menghitung severity index setiap menara berdasarkan
kedua factor tersebut, maka masing-masing menara diurutkan dengan
mempertimbangkan aspek :
➢ Histori gangguan akibat petir disepanjang saluran transmisi
➢ Mengevaluasi kekuatan terhadap tegangan akibat petir di sepanjang
isolator pada setiap menara, sesuai dengan parameter menara yaitu:
tinggi menara, ketinggian dari permukaan laut, dan pentanahan kaki
menara.
Metodologi ini menggunakan dua parameter untuk mengevaluasi severity index
(ISEV)
yaitu Relative Frequency Index (Ifreq) dan Relative Overvoltage Amplitude (Iamp)
dengan perkiraan kerapatan sambaran petir pada menara yang diamati dan
perkiraan besar tegangan lebih pada menara untuk petir tertentu.
Severity index dapat dihitung dengan rumusan sebagai berikut :
Isev = Ifreq x Iamp
Semakin besar nilai severity index, maka makin besar titik kritis dari menara
tersebut. Nilai severity index akan berbanding dengan jumlah isolator pecah pada
menara.

3.1.1 Relative Frequency Index (Ifreq)

Index ini menyatakan berapa kali petir melewati menara. Beberapa


sambaran yang terjadi di antara menara akan menyebabkan mengalirnya arus
petir pada kedua menara. Index relative sambaran yang lewat adalah :

dimana :
Ti = menara ke i
Ng = kerapatan sambaran petir (sambaran/km2/tahun)
n = total menara disaluran
Untuk masing-masing menara, index frekuensi relative dikalikan dengan faktor
ketinggian (Kalt) yang memasukkan dampak ketinggian dari permukaan tanah
(kaki menara) kedalam kejadian kerapatan sambaran petir.

3.1.2 Relative Overvoltage Amplitude (Iamp)


Sebagian besar arus petir yang menyambar diantara menara (span) akan
mengalir ke tanah melalui dua menara. Dimana tegangan lebih ini mempunyai
hubungan berbanding lurus dengan tegangan puncak menara. Faktor yang
mempengaruhi tegangan lebih ini adalah kopling kawat tanah, struktur menara
dan kawat konduktor. Dengan asumsi itu dapat dihitung besar tegangan pada
puncak menara adalah :

dimana : Ip = arus puncak petir di menara (kA)


ZT = impedansi surja menara (Ω)
ZG = impedansi surja pertanahan (Ω)
t = waktu transit gelombang arus petir di menara
tf = waktu muka gelombang arus
Ketika tinggi menara dianggap sama, maka waktu transit sehingga persamaan
diatas dapat disederhanakan menjadi :

dimana : c = kecepatan propagasi gelombang (300 m/µs)


h = tinggi menara (m)
Karakteristik relative overvoltage amplitude index diasumsikan untuk setiap
menara dengan menggunakan amplitude referensi (VC_TOPpreference) didapat dari
persamaan (2.41) dengan asumsi:
➢ Waktu transit didapat dari ketinggian menara rata-rata dibagi waktu
propagasi (3x108 m/s).
➢ Impedansi surja menara dianggap rata–rata.
➢ Impedansi surja pertanahan dibatasi pada nilai sepertiga dari rata–rata
impedansi surja kawat tanah.
➢ Waktu muka gelombang arus puncak yang mengalir disepanjang menara
sama dengan yang digunakan untuk mendapatkan tegangan puncak setiap
menara [VC_TOP(Ti)].
Sehingga relative overvoltage amplitude dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

➢ Seringnya gangguan terhadap jaringan transmisi adalah gangguan alam,


seperti seringnya gangguan petir terhadap jaringan transmisi yang
disebabkan bangunan jaringan transmisi panjang dan terbesar
diberbagai daerah serta dalam segala macam kondisi udara.

➢ Pada pembangunan jaringan transmisi yang sangat perlu


diperhatikan adalah perancangan proteksi saluran transmisi terhadap
letak kawat fasa.

➢ Pemakaian overhead groundwire dalam saluran transmisi tenaga listrik


mempunyai harapan agar sambaran petir tidak mengenai kawat phasa.
Luas zona/daerah perlindungan groundwire tergantung dari ketinggian
groundwire itu sendiri. Probabilitas kegagalan dalam perlindungan akan
naik dengan makin tingginya groundwire dan besarnya sudut
perlindungan. Untuk itu diperlukan pemilihan ketinggian serta sudut
perlindungan yang sesuai untuk mendapatkan perlindungan yang baik.

➢ Peningkatan performa perlindungan transmisi tenaga listrik dari sambaran


petir yang paling mudah dilakukan dengan menambah jumlah groundwire.
Kombinasi pemakaian groundwire dengan peralatan-peralatan lainnya
sangat diharapkan untuk memperoleh performa perlindungan yang lebih
tinggi di antaranya dengan pemakaian arester yang merupakan alat
pelindung modern.

➢ Pelindung yang paling baik terhadap sambaran petir adalah dengan


penggunaan lightning arrester.

4.2 SARAN

➢ Konfigurasi kawat transmisi ini harus mendapat perhatian yang lebih


besar dan serius.

DAFTAR PUSTAKA