Anda di halaman 1dari 14

Referat

KONJUNGTIVITIS GONORE




Oleh :


Sagung Adi Sresti Mahayana 0910313193
Gesza Utama Putra 0910313216
Suci Chairiya Akmal 0910313230



Preseptor :

dr. Andrini Ariesti, Sp.M



BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih
mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya
berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat
disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing, misalnya kontak
lensa.
1
Konjungtivitis virus biasanya mengenai satu mata. Pada konjungtivitis ini, mata
sangat berair. Kotoran mata ada, namun biasanya sedikit. Konjungtivitis bakteri
biasanya mengenai kedua mata. Ciri khasnya adalah keluar kotoran mata dalam jumlah
banyak, berwarna kuning kehijauan. Konjungtivitis alergi juga mengenai kedua mata.
Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal ini juga
seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat
berair. Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan sembuh sendiri dalam
beberapa hari.
Konjuntivitis Gonore merupakan radang konjungtiva akut dan hebat yang
disertai dengan sekret yang purulen yang disebebkan oleh Neisseria gonorrhoea.
Merupakan kuman yang sangat patogen, virulen dan bersifat invasif sehingga reaksi
radang terhadap kuman ini sangat berat.
Kuman ini termasuk golongan diplokokus berbentuk biji kopi berukuran lebar
0,8 u dan panjang 1,6 u bersifat tahan asam. Bersifat gram negatif pada sediaan
langsung dengan pewarnaan Gram, terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan
lamam di udara bebas, cepat mari dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39
o
C
dan tidak tahan terhadap zat desinfektan.
2
Pada neonatus, infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran,
sedang pada bayi penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit
tersebut.
1
Di klinik kita akan melihat penyakit ini dalam bentuk oftalmia gonore (bayi
berusia 1-3 hari), konjungtivitis gonore infantum (usia lebih dari 10 hari), dan
konjungtivitis gonore adultorum.
Keluhannya berupa fotofobia, palpebra edem, konjungtiva hiperemis dan keluar
eksudat mukopurulen. Bila tidak di obati dapat berakibat terjadinya ulkus kornea,
panoftalmitis sampai timbul kebutaan.
Diagnosis pasti penyakit ini adalah pemeriksaan dengan pewarnaan metilen biru
dimana akan terlihat diplokokus didalam sel leukosit. Dengan pewarnaan Gram akan
terdapat sel intraseluler atau ekstraseluler dengan sifat Gram negatif.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari konjungtivitis konjungtivitis gonore?
2. Apa etiologi dari konjungtivitis gonore?
3. Bagaimana patofisiologi konjungtivitis gonore ?
4. Bagaimana gambaran klinis konjungtivitis gonore gonore ?
5. Bagaimana penatalaksanaan konjungtivitis gonore ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi dari konjungtivitis gonore
2. Mengetahui etiologi dari konjungtivitis gonore
3. Mengetahui patofisiologi konjungtivitis gonore
4. Mengetahui gambaran klinis konjungtivitis gonore
5. Mengetahui penatalaksanaan konjungtivitis gonore

1.4 Manfaat
Dengan adanya referat ini diharapkan dapat menjelaskan bagaimana
mendiagnosis dan mengetahui faktor resiko serta penatalaksanaan awal yang sebaik
mungkin untuk kasus konjungtivitis gonore.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konjungtivitis
Konjungtivitis adalah suatu peradangan pada konjungtiva atau radang selaput
lendir yang melapisi permukaan dalam kelopak mata dan bola mata (bagian putih mata).
Konjungtivitis dibedakan bentuk akut dan kronis.
1
konjungtivitis yang merupakan infeksi pada konjungtiva mata, terdiri dari:
1. Konjungtivitis alergi (keratokonjungtivits atopik, simple alergik konjungtivitis,
konjungtivitis seasonal, konjungtivitis vernal, giant papillary conjunctivitis)
2. Konjungtivitis bakterial (hiperakut, akut, kronik)
3. Konjungtivitis virus (adenovirus, herpetik)
4. Konjungtivitis klamidia
5. Bentuk konjungtivitis lain (Contact lens-related, mekanik, trauma, toksik,
neonatal, Parinauds okuloglandular syndrome, phlyctenular, sekunder).
Gambaran klinis yang terlihat pada konjungtivitis dapat berupa hiperemi
konjungtiva bulbi (injeksi konjungtiva), lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih
nyata di pagi hari, pseudoptosis akibat kelopak membengkak, kemosis, hipertrofi
papil, folikel, membran, pseudomembran, granulasi, flikten, mata terasa seperti ada
benda asing, dan adeopati preaurikuler.

2.2 Konjungtivitis Gonore
2.2.1 Definisi
Konjungtivitis gonore adalah istilah yang dipakai untuk konjungtivitis
yang hiperakut dengan sekret purulen yang disebabkan oleh kuman Neisseria
gonorrhea.
2.2.2 Etiologi
Neisseria gonorrhea merupakan golongan diplokokus berbentuk kopi
berukuran lebar 0,8 u dengan panjang 1,6 u. Kuman ini bersifat tahan asam,
gram negative dengan pewarnaan Gram, terlihat dari dalam dan luar leukosit,
tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering dan suhu di
atas 39
o
C serta tidak tahan dengan zat desinfektan.

Gambar 1. Neisseria Gonorrhoeae

Secara morfologik, gonokokus terdiri atas 4 tipe yaitu tipe 1 dan 2 yang
bersifat virulen dan mempunyai pili, tipe 3 dan 4 yang bersifat nonvirulen dan
tidak bervili. Pili bersifat melekat pada mukosa epitel dan menimbulkan reaksi
radang.

2.2.3 Patofisiologi
Proses keradangan hiperakut konjungtivitis dapat disebabkan oleh
Neisseria gonorrhe, yaitu kuman-kuman berbentuk kokus yang sering menjadi
penyebab uretritis pada pria dan vaginitis atau bartolinitis pada wanita. Infeksi
dapat terjadi karena adanya kontak langsung antara kuman gonore dengan
konjungtiva.
Pada neonatus, infeksi konjungtiva terjadi pada saat berada pada jalan
kelahiran, sedang pada penyakit ini ditularkan oleh ibu yang sedang menderita
penyakit tersebut. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan
penyakit kelamin sendiri. Infeksi pada mata ini dapat terjadi karena adanya
kontak langsung antara kuman Neisseria gonorhoeae pada kemaluan dengan
mata lapisan luar. Kontak ini biasanya akibat setelah memegang kemaluan
kemudian dipakai menggosok lapisan mata luar. Infeksi dapat terjadi secara
tidak langsung, yaitu dapat melalui tangan, sapu tangan, handuk atau autoinfeksi
pada orang yang menderita uretris atau servicitis gonore.
Cedera pada epitel konjungtiva oleh agen perusak dapat diikuti dengan
edema epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma.
Mungkin dapat terjadi edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi
lapis limfoid stroma. Sel-sel radang (neotrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan sel
plasma) sering menunjukkan sifat agen perusak (ciri dari konjungtivitas karena
bakteri banyak ditemukan sel radang leukosit PMN). Sel-sel radang bermigrasi
dari stroma konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel-sel ini akan bergabung
dengan fibrin dan mukus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva yang
menyebabkan perlengketan tepian palpebra (terutama pagi hari).

Pembagian konjungtiva gonore menurut umur :
- Kurang dari 3 hari : otikoftalmia gonora gonore
- Lebih dari 3 hari : otikoftalmia gonora infantum
- Anak kecil : oftalmnia gonorotika juvenilis
- Orang dewasa : oftalmia gonorotika adultotum

2.2.4 Gambaran Klinis
Konjungtivitis gonore biasanya menyerang kedua mata secara serentak.
Penyakit gonoblenore dapat terjadi secara mendadak dengan masa inkubasi
beberapa jam sampai 3 hari. Dibedakan dalam 3 stadium:

1. Stadium Infiltratif (I)
Berlangsung 1-3 hari, dimana palpebra bengkak, hiperemi, tegang,
blefarospasme, konjungtiva palpebra hiperemi, bengkak, infiltratif, mungkin
terdapat pseudomembran di atasnya. Pada konjungtiva bulbi terdapat injeksi
konjungtival yang hebat, kemotik, sekret, serous, kadang-kadang berdarah.
2. Stadium Supurativa atau Purulenta (II)
Berlangsung 2-3 minggu. Gejala-gejala tidak begitu hebat lagi. Palpebra masih
bengkak, hiperemis, tetapi tidak begitu tegang. Blefarospasme masih ada. Sekret
campur darah, keluar terus-menerus. Kalau palpebra dibuka, yang khas adalah
sekret yang akan keluar dengan mendadak (memancar;muncrat), oleh karenanya
harus hati-hati bila membuka palpebra, jangan sampai sekret mengenai mata
pemeriksa.

3. Stadium Konvalesen (Penyembuhan) (III)
Berlangsung 2-3 minggu. Gejala-gejala tidak begitu hebat lagi. Palpebra sedikit
bangkak, konjungtiva palpebra hiperemi, tidak infiltratif. Konjungtiva bulbi :
injeksi konjungtiva masih nyata, tidak kemotik. Sekret jauh berkurang.
Jadi gejala klinis yang ditemukan adalah: (1) hipermi konjungtiva hebat, (2)
getah mata atau sekret seoerti nanah yang banyak sekali (3) kelopak mata edema karena
konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbi (4) pendarahan karena edema konjungtiva
hebat akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah konjungtiva dan timbul
pendarahan.
Keluhan subyektif (-)
Obyektif:
Ditemukan kelainan bilateral dengan sekret kuning kental, sekret dapat bersifat
serous tetapi kemudian menjadi kuning kental dan purulen. Kelopak mata
membengkak, sukar dibuka dan terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal.
Konjungtiva bulbi merah, kemotik dan tebal.







Gambar 2. Konjungtivitis gonore pada bayi


2.2.5 Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan sediaan langsung sekret
dengan pewarnaan gram atau Giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji
sensitivitas untuk perencanaan pengobatan.
3,4

Untuk diagnosis pasti konjungtivitis gonore dilakukan pemeriksaan sekret
dengan pewarnaan metilen biru, diambil dari sekret atau kerokan konjungtiva , yang
diulaskan pada gelas objek, dikeringkan dan diwarnai dengan metilen biru 1% selama 1
2 menit. Setelah dibilas dengan air, dikeringkan dan diperiksa di bawah mikroskop.
Pada pemeriksaan dapat dilihat diplokok yang intraseluler sel epitel dan lekosit,
disamping diplokok ekstraseluler yang menandakan bahwa proses sudah berjalan
menahun.Morfologi dari gonokok sama dengan meningokok, untuk membedakannya
dilakukan tes maltose, dimana gonokok memberikan test maltose negatif. Sedang
meningokok test maltose positif.
3,4
Bila pada anak didapatkan gonokok positif, maka kedua orang tua harus
diperiksa. Jika pada orang tuanya ditemukan gonokok, maka harus segera diobati.
7,9


2.2.6 Penyulit
Penyulit yang didapat adalah tukak kornea marginal terutama di bagian atas,
dimulai dengan infiltrat, kemudian pecah menjadi ulkus. Tukak ini mudah perforasi
akibat adanya daya lisis kuman gonokok (enzim proteolitik). Tukak kornea marginal
dapat terjadi pada stadium I atau II, dimana terdapat blefarospasme dengan
pembentukan sekret yang banyak, sehingga sekret menumpuk dibawah konjungtiva
palpebra yang merusak kornea dan hidupnya intraseluler, sehingga dapat menimbulkan
keratitis, tanpa didahului kerusakan epitel kornea. Ulkus dapat cepat menimbulkan
perforasi, edofthalmitis, panofthalmitis dan dapat berakhir dengan ptisis bulbi. Pada
anak-anak sering terjadi keratitis ataupun tukak kornea sehingga sering terjadi perporasi
kornea. Pada orang dewasa tukak yang terjadi sering berbentuk cincin.
3,4,7,9,10


2.2.7 Pencegahan
1. Skrining dan terapi pada perempuan hamil dengan penyakit menular seksual.
2. Secara klasik diberikan obat tetes mata A
g
NO
3
1% Segera sesudah lahir (harus
diperhatikan bahwa konsentrasi A
g
NO
3
tidak melebihi 1%).
3. Cara lain yang lebih aman adalah pembersihan mata dengan solusio borisi dan
pemberian kloramfenikol salep mata.
4. Operasi caesar direkomendasikan bila si ibu mempunyai lesi herpes aktif saat
melahirkan.
5. Antibiotik, diberikan intravena, bisa diberikan pada neonatus yang lahir dari
ibu dengan gonore yang tidak diterapi.
4,6,7,9


2.2.8 Penatalaksanaan
Pengobatan dimulai bila terlihat pada pewarnaan Gram positif diplokok batang
intraseluler dan sangat dicurigai konjungtivitis gonore. Pasien dirawat dan diberi
pengobatan dengan penicillin, salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB
selama 7 hari. Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau
dengan garam fisiologik setiap jam, kemudian diberi salep penisillin setiap jam.
Penisillin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisillin (caranya : 10.000
20.000 unit/ml) setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian salep diberikan setiap 5
menit selama 30 menit., disusul pemberian salep penisillin setiap 1 jam selama 3 hari.
Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok. Pengobatan
diberhentikan bila pada pemeriksan mikroskopik yang dibuat setiap hari menghasilkan
3 kali berturut-turut negatif. Pada pasien yang resisten terhadap penicillin dapat
diberikan cefriaksone (Rocephin) atau Azithromycin (Zithromax) dosis tinggi.
4,8

Efek samping pengobatan pada konjungtivitis gonore antara lain tetes nitrat
Argenti yang diberi pada bayi baru lahir untuk mencegah infeksi gonore akan
menyebabkan iritasi ringan, tapi akan sembuh dengan sendirinya satu sampai dua hari
tanpa meninggalkan kerusakan menetap. Antibiotika topikal dapat menyebabkan reaksi
alergi, sedangkan antibiotika oral dapat menyebabkan gangguan perut, ruam dan reaksi
alergi.
8

Bayi harus diawasi untuk memastikan infeksi tidak kambuh setelah diterapi. Ibu
dari janin dengan konjungtivitis gonore gonore harus diuji dan diterapi terhadap
penyakit menular seksual bila diperlukan, gejala-gejala apapun yang baru ditemukan
atau memperburuk keadaan harus dilaporkan kepada dokter.
8


2.2.9 Prognosis
Bila pengobatan diberikan secepatnya dengan dosis cukup, konjungtivitis gonore
akan sembuh tanpa komplikasi. Bila pengobatan lebih lambat atau kurang intensif,
maka kesembuhannya mungkin disertai sikatrik kornea, penurunan tajam penglihatan
yang menetap atau kebutaan.
2

BAB III

PENUTUP

Konjungtivitis Gonore adalah suatu radang konjungtiva akut dan hebat dengan
sekret purulen yang disebabkan oleh Kuman Neisseria Gonorrhaea. Perjalanan penyakit
terdiri atas stadium infiltratif, supuratif atau purulenta dan konvalesen (penyembuhan).
Gambaran klinik pada bayi dan anak adalah ditemukan kelainan bilateral dengan
sekret kuning kental. Pada orang dewasa ditemukan gejala subjektif berupa rasa nyeri
pada mata, tanda-tanda infeksi biasanya terdapat pada satu mata dan gejala objektif
yaitu ditemukan sekret purulen yang tidak begitu kental. Pemeriksaan penunjang yang
dilakukan yaitu pemeriksaan sediaan langsung sekret dengan pewarnaan Gram atau
giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji sensitivitas untuk perencanaan
pengobatan.
Penatalaksanaan dimulai bila terlihat pada pewarnaan Gram positif diplokok
batang intraseluler dan sangat dicurigai konjungtiva gonore. Pasien dirawat dengan
pengobatan dengan penicillin salep dan suntikan, pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB
selama 7 hari, sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih (direbus) atau
garam fisiologik setiap 4 jam, kemudian beri salep penicillin setiap jam dan
penicillin tetes mata 10.000 20.000 unit/ml setiap 1 menit sampai 30 menit. Kemudian
salep diberikan setiap 5 menit, 30 menit, disusul dengan salep penicillin setiap 1 jam
selama 3 hari. Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok.




DAFTAR PUSTAKA


1. Ilyas, Sidarta. DSM. Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI, Jakarta:
2001.127 130.
2. Kalpana K. Conjungtivitis neonatal. 2009.
http://www.emedicine.com/conj.neonatal/1192190-overview.htm
3. Mansjoer A dkk. Ed. Konjungtivitis Bakteri Dalam Kapita Selekta Kedokteran.
Media Aesculapius FKUI, Jakarta. 1999: 51 2.
4. Ilyas, Sidarta, Tanzil, Muzakkir, Salamun, Azhar, Zainal. Sari Ilmu Penyakit
Mata.Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 2000. 31 3
5. Voughan, Daniel G, Asbury, Taylor. Riordan-Eva, Paul. Oftalmologi Umum
(General Ophthalmology). Ed. 14. Widya Medika, Jakarta : 2000. 103-5.
6. Wegman, John MD. Neonatal Conjunctivitis. http://www.ncbi.nihgov/. Diakses
tanggal 22 Juli 2014.
7. Wijana, Nana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Abadi Tegal, Jakarta: 1993. 42-50.
8. Anonim. Conjunctivitis (Newborn / Childhood)
:http://www/nlm.nih.gos/medlineplus/ency/article/001606.html. Diakses tanggal
22 Juli 2014.
9. Mansjoer, Arif. Triyanti, Kuspuji, Savitri, Rakhmi, Wardhani, Wahyu Ika.
Setiowulan, Wiwiek. Kapita Selekta Kedokteran. Ed 3, Jilid 4. Media
Aescupapius FKUI, Jakarta: 1999. 51 2
10. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. FKUI, Jakarta: 1998, 46 7.