Anda di halaman 1dari 14

Komunikasi dan Koneksi

A. KOMUNIKASI (COMMUNI CATI ON)


Dalam pembelajaran matematika tradisional, komunikasi biasanya di lakukan
satu arah. Guru dan buku matematika menyajikan konsep matematika dengan
menggunakan kata dan simbol matematika yang kurang dipahami oleh siswa. Sebagai
contoh, penyajian dan penggunaan istilah himpunan korespondensi satu-satu,
himpunan yang ekuivalen, himpunan bagian, irisan dan gabungan dua himpunan
kurang atau bahkan tidak dijembatani dengan konteks. Akhirnya, siswa belajar
sesuatu yang mereka sendiri tidak mengetahui maknanya.
Matematika adalah bahasa. Matematika merupakan alat untuk membantu
berpikir, menemukan pola, menyelesaikan masalah, dan membuat kesimpulan.
Matematika juga merupakan alat yang tak terhingga nilainya untuk
mengomunikasikan berbagai ide dengan jelas, tepat, dan ringkas. Hal itulah yang
menyebabkan matematika merupakan suatu bahasa yakni bahasa sains (Dantzig
dalam Baroody, 1993) juga disebut bahasa universal (Jacobs dalam Baroody, 1993).
Bagi siswa, matematika merupakan bahasa kedua yang esensial. Manakala
pembelajaran matematika terfokus pada mengingat istilah-istilah, rumus, dan
prosuder maka ide-ide yang terkandung dalam matematika tidak akan sampai
(impernetrable). Siswa akan kesulitan dengan mempelajari bahasa barunya
(matematika) yang disampaikan secara tepat. Siswa hanya berada di kelas matematika
secara terpaksa karena matematika merupakan pelajaran wajib di sekolah.
Selain matematika sebagai bahasa, matematika, dan pembelajaran matematika
merupakan aktivitas sosial (Social Activity). Sebagaimana matematika itu sendiri,
pembelajaran matematika tak terpisahkan dari aktivitas social (Schoenfeld dalam
Baroody, 1993). Sayangnya, pembelajaran tradisional merupakan sifat dasar sosial
dari pembelajaran matematika sehingga mengganggu pengembangan matematika
siswa. Interaksi antarsiswa, sebagaimana komunikasi guru dengan siswa, penting
sebagai jalan untuk pemeliharaan potensi matematika siswa. Dengan demikian,
komunikasi memegang peran paling dalam pembelajaran matematika sebagaimana
aktivitas sosial siswa di masyarakat.
Komunikasi matematika (mathematical communication) diartikan sebagai
kemampuan dalam menulis, membaca, menyimak, menelaah, menginterpretasi dan
mengevaluasi ide, simbol, istilah, serta informasi matematika. NCTM (1989)
memberikan kemampuan dalam matematika sebagai :
1. Kemampuan dalam mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan,
tulisan, dan mampu mendemonstrasikannya, serta menggambarkan secara
visual;
2. Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide
matematika melalui lisan, tulisan maupun bentuk visual lainnya;
3. Kemampuan dalam menggunakan istilah, notasi matematika, dan struktur-
strukturnya untuk menyajikan ide-ide menggambarkan hubungan-hubungan,
serta model-model situasi.
David K. Pugalee, Barabara Bissell, Corey Lock, Patricia Douville (2003)
menyatakan bahwa :
Communication is an essential element in the teaching and learning of
mathematics (NCTM, 2000; NCTM, 1989). These standards documents underscore
the importance of communication as one of the of the five process standards
emphasizing the role of writting, speaking, ang listening in developing mathematical
understanding. The Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000)
asserts Students gain insights into their thinking when they present their methods for
solving problems, when they justify their reasoning to others, or when they formulate
a quation.The communication Standard for pre-kindergarten through grade 12
consists of four goals for students:
1. Orgenize and consulidate their mathematical thinking through
communication;
2. Communicate their mathematical thinking coherently and clearly to peers,
teachers, and others;
3. Analyze and avaluate the mathematical thinking and stategies of others;
4. Use the language of mathematics to express mathematical ideas precisely
(NCTM, 2000).
Ketika siswa memahami apa yang sedang dipelajari melalui kegiatan berpikir,
merespons, dan berdiskusi dalam kelas matematika, susungguhnya mereka telah
menggunakan kemampuan komunikasi matematika. Siswa mungkin menggunakan
bahasa verbal dalam mengkomunikasikan pikiran, memperluas proses berpikir dalam
memahami konsep matematika (Astuti, 2004). Mungkin pula siswa menggunakan
bahasa tulisan untuk menjelaskan, berargumentasi dan mengungkapkan ide-ide
matematikanya.
Ernest (1994) membedakan dua jenis komunikasi dalam matematika, yakni
komunikasi matematika nonverbal dan komunikasi matematika verbal. Komunikasi
matematika nonverbal menekankan pada interaksi siswa dengan dunia kecil dan
penafsiran secara serentak terhadap interaksi lainnya, sedangkan komunikasi
matematika verbal menekankan interaksi lisan antara satu sama lain atau interaksi
dengan guru ketika membangun tujuan pembelajaran.
Di lain pihak Broody (1993) membagi komunikasi matematika dalam lima
bagian, yakni representasi (representation), menyimak (listening), membaca
(reading), diskusi (discussion), dan menulis (writting). Agar kelima aspek dari
komunikasi itu muncul dalam pembelajaran matematika maka siswa memerlukan
tugas matematika yang dapat mengantarkan mereka untuk membaca, berdiskusi, dan
aktivitas lainnya.
Students need to work with mathematical tasks that are worthwhile topics of
discussion. Tasks that are procedural in nature requiring students to have well-
developed algoritmathic approaches are not the best problems to promote
discourse (NCTM, 2000). Additionally, the teacher may or may not have a
pedagogical understanding of how to plan and implement communication into
the mathematics classroom. Textbooks need to lead teachers in this critical area
(Reys, et al,2003).
Sumarmo (2003) mengungkapkan beberapa indikator yang dapat mengukur
kemampuan komunikasi matematika siswa, antara lain :
1. Menghubungkan benda nyata, gambar dan diagram dan diagram ke dalam ide
matematika;
2. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan atau tulisan dengan
benda nyata, gambar, grafik atau bentuk aljabar;
3. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika;
4. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika;
5. Membaca presentasi matematika tertulis dan menyusun pertanyaan yang
relevan;
6. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan
generalisasi.
Ui Hock, Cheah (2007) berpendapat bahwa pengembangan komunikasi
matematika sejatinya tidak terlepas dari kompetensi matematika lainnya, penalaran,
koneksi, dan problem solving. Proses pengembangan tersebut memuat tiga area utama
(three main areas), yakni nilai dan tujuan komunikasi (values and aims of
communication), komunikasi lisan (oral communication), serta komunikasi tulisan
(written communication).
1. Values and Aims of Communication
Mengharpkan beberapa pertimbangan yang muncul, yakni mengidrntifikasi
konteks yang relevan, ketertarikan siswa dan sumber belajar, menjamin aktivitas,
keterampilan dalam menstimulasi metakognitif, mendorong sikap positifm dan
mengkreasi lingkungan belajar yang kondusif.
2. Oral Communication
Beberapa kemampuan teknik komunikasi yang diharapkan termasuk di
dalamnya story-telling, bertanya dan menjawab pertanyaan secara lisan,
wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, berdiskusi, serta mempresentasikan
tugas-tugas matematika.
3. Written Communication
Kurikulum mendorong aktivitas komunikasi yang aktif, seperti doing exercise,
menyusun portofolio, menyusun kliping, keeping scrap books, keeping folios,
mengerjakan proyek matematika, dan menyelesaikan tes.
Komunikasi dalam pembelajaran akan membawa dampak pada nilai-nilai
komunikasi. Seperti diketahui bahwa sesorang guru jelas lebih tua usianya, lebih
dewasa, dan lebih berpengetahuan dari pada siswa sehingga memungkinkan
terjadinya proses penyebaran nilai dalam matematika sekolah. Siswa tidak hanya
belajar tentang ide dan fakta matematika, tetapi juga akan memperoleh
pengetahuan informal matematika, seperti apa tujuan dari belajar matematika, nilai
nilai ilmiah apa yang dapat diperoleh selama aktivitas informal, serta tentang
konsep komunikasi itu sendiri.
Turmudi (2008) mengungkapkan bahwa komunikasi merupakan bagian
esensial dari matematika dan pendidikan matematika. Hal ini merupakan cara untuk
sharig gagasan dan mengklasifikasikan pemahaman. Proses komunikasai membantu
membangun makna dan kelengkapan gagasan dan membuat hal ini menjadi milik
publik. Ketika seorang siswa ditantang diminta berargumentasi untuk
mengomunikasikan hasil pemikiran mereka kepada orang lain secara lisan dan
tertulis, belajar untuk menjelaskan dan meyakinkan orang lain mendengarkan
gagasan atau penjelasan orang lain, serta memberikan kesempatan kepada siswa
untuk mengembangkan pengalaman mereka.
Lebih lanjut Turmudi mengatakan bahwa percakapan di mana matematika
diekplorasi dari berbagai sudut pandang untuk membantu para peserta mempertajam
pemikiran dan membuat hubungan-hubungan. Para siswa yang terlibat dalam diskusi
dimana mereka menjustifikasi penyelesaiannya(jawabannya) khususnya dalam
menghadapi ketidaksetujuan- mereka akan memperoleh pemahaman matematika
yang lebih baik. Misalkan, dengan suatu upaya meyakinkan teman sebaya mereka
terhadap perbedaan pandangan. Kegiatan demikian membantu siswa
mengembangkan bahasa untuk mengemukakan gagasan matematika dan apresiasi
akan kebutuhan berbasa secara tepat.
Guru perlu membantu siswa belajar bertanya saat tidak setuju atau tidak
memahami penjelasan guru atau teman-temannya. Hal ini penting sehingga siswa
memahami bahwa focus tidak hanya benar atau salah suatu jawaban, tetapi lebih dari
itu apakah jawaban tersebut dapat dipahaminya. Siswa perlu belajar bahwa
argumentasi matematika addalah logis dan terkait dengan konsep matematika lainnya.
Ketika penyusunannya suatu konsep atau strategi perlu diperjelas lebih tajam, siswa
dapat menguji kembali seberapa jauh tingkat pemahamannya. Dalam kaitan itulah,
komunikasi menjadi jembatan yang baik dalam membantu siswa untuk menguji
kemampuan pemahaman dirinya.
Guru harus membantu siswa mendapatkan bahasa matematika untuk
menjelaskan objek dan pengaitannya. Sebagai contoh, secara informal siswa
menggunakan istilah garis dari pojok ke pojok dalam menggambarkan diagonal
segi empat. Guru harus memberi jembatan tentang istilah matemtikanya. Dengan kata
lain, ketika siswa dihadapkan padda suatu istilah baru dalam matematika maka harus
ada proses yang rasional dan bermakna yang biasanya dijembatani dengan konteks.
Guru juga perlu menyediakan atau meminta siswa untuk menulis tentang
konsep matematika. Guru diharapkan memeriksa tulisan tersebut serta
mengembalikan koreksinya sehingga tulisan siswa tersebut menjadi benar, lengkap,
sistematis, dan jelas. Selain itu, siswa juga perlu diberi kesempatan untuk saling
memeriksa dengan pekerjaan temannya. Awalnya memang sulit, namun secara
perlahan mereka akan terbiasa melakukannya. Misalnya, siswa diminta untuk
menjelaskan mengapa

lebih kecil daripada

. Lebih lanjut, siswa diminta untuk


memberikan penjelasan dengan minimal 3 cara berbeda. Untuk membantu siswa,
guru dapat menggunakan possing, misalnya apa yang kamu lakukan untuk
menyelesaikan masalah tersebut? Keputusan apa yang kamu buat? Mengapa kamu
membuat keputusan tersebut?
Memasuki sekolah menengah, secara substansi telah tumbuh kemempuasn
siswa dengan rangkaian logika yang terstruktur, mengekspresikan dengan masuk akal
dan jelas, menyimak ide-ide orang lain, serta berpikir tentang pendengar ketika
mereka berbicara. Artinya, siswa sekolah menengah mempunyai kemampuan yang
berbeda dalam komunikasi baik lisan maupun tulisan. Apa-apa kemampuan yang
mereka tulis, seperti lambang-lambang matematika, diagram, grafik, harus
menggunakan bahasa matematika yang benar. Mereka mampu menjelaskan, membuat
pertanyaan, serta menulis argumrntasi sesuai dengan kaidah-kaidah matematika.

B. KONEKSI (CONNECTI ON)
Koneksi matematis (mathematical connection) didasarkan bahwa matematika
sebagai body of knowledge, yakni ilmu yang terstruktur dan utuh, yang terdiri dari
bagian-bagian yang saling berhubungan. Selain itu, matematika merupakan ilmu
dasar yang digunakan sebagai alat dalam pengembangan ilmu lainnya serta yang
ketiga matematika sebagai ilmu yang dapat digunakan secara langsung dalam
memecahkan masalah kehidupan manusia. Dariketiga landasan tersebut maka koneksi
matematika diartikan sebagai koneksi antartopik matematika, koneksi dengan disiplin
ilmu lain, serta digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Koneksi sebagai standar proses dalam pembelajaran matematika bertujuan
untuk memperluas wawasan pengetahuan siswa, memandangmatematika sebagai satu
kesatuan, dan bukan sebagai materi yang berdiri sendiri, serta mengenali relevansi
dan manfaat matematika baik di sekolah maupun di luar sekolah (Sumarmo, 2000).
Untuk mengukur koneksi matematika ini Kusumah (2003) memberikan
indikator:
1. Mengenali representasi ekuivalen dari konsep yang sama;
2. Mengenali hubungan prosedur atau proses matematika atau representasi ke
prosedur representasi yang ekuivalen;
3. Menggunakan dan menilai kaitan antartopik matematika;
4. Menggunakan dan menilai kaitan antarmatematika dengan disiplin ilmu lain;
5. Menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Lappan, Fey, Fitzgerald, Friel, da Philips (1996) memberi ilustrasi
pembelajaran matematika untuk sekolah dasar melalui koneksi matematika dalam
konsep menentukan luas segitiga sebagai berikut.
Anak diminta menggambar sembarang segitiga dengan alas a dan tingginya t.
kemudian anak menggambar jajaran genjang dengan cara melukis segitiga congruent
dengan cara mencerminkan terhadap salah satu sisinya.






Gambar 1
Menentukan Rumus Luas Daerah Segitiga melalui Koneksi

Dengan proses tersebut diperoleh jajar genjang dengan alas a dan tinggi t.
Oleh karena luas jajar genjang adalah sama dengan luas persegi panjang yang
berukuran a dan t maka luas segitiga adalah setengah luas jajar genjang tersebut, yang
setengah dari hasil kali alas (a) dan (t). dengan demikian luas daerah segitiga adalah


alas x tinggi.
Ilustrasi tersebut dapat dilakukan langsung dengan benda nyata, yakni melalui
kegiatan melipat atau memotong kertas. Focus utama dari kegiatan tersebut adalah
melalui koneksi antar segitiga, jajar genjang, dan persegi panjang, anak memperoleh
pengetahuan, tentang luas daerah segitiga.
Koneksi matematika dengan ilmu pengetahuan lain dan kehidupan sehari-hari
kurang dikenal lebih jauh oleh masyarakat atau siswa. Biasanya siswa atau
t
t
t
a
a a
masyarakat sering bertanya apa arti matematika dalam kehidupan sehari-hari atau apa
kontribusi nyata dari matematika terrhadap perkembanngan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Pada umumnya, masyarakat hanya mengenal matematika sebatas
aritmatika dan operasinya, yakni penggunaan mateamtika dalam kehidupan sehari-
hari sebagai sarana atau alat komunikasi dalam menghitung untung atau rugi,
penerimaan dan pengluaran pendapatan. Akibatnya, siswa atau masyarakat tidak
memandang matematika sebagai suatu yang harus dipelajari lebih lanjut.
Dijkgraaf, R. (2008) memberikan ilustrasi tentang bagaimana publik
mengabaikan tentang koneksi matematika yang lebih dalam dengan ilmu pengetahuan
lain, misalnya dalam fisika. Secara sederhana Dijgkraaf memberi contoh tentang
tanda sama dengan = yang menghubungkan dua pernyataan.
Most people therefore overlook a modest but crucial ingredient in these
equations: the equals sign. In its archeptypal form A=B, the equals sign
connects two worlds represented by A and B. Through it ideas can flow from
A to B and back, as if the equals sign conducts the electric current thats lights
up the Aha! light bulb in the mind indicating the insight gained. Albert
Enstein was an absolute master in finding equations with that property. Take
E=mc
2
, which connect mass and energy and is, without a doubt, the most
famous equation in the public imagination. The equations of general relativity,
although less catchy and well-known, link in an equally surprising and elegant
way the worlds of geometry and matter.
Dalam pembelajaran matematika, guru matematika harus memilih tugas
sehingga dapat mendukung aktivitas siswa melakukan eksplorasi mengembangkan
peningkatan ide-ide matematika yang canggih. Siswa harus difasilitasi dengan
pertanyaan-pertanyaan yang mendorong dan menantang mereka untuk menjelaskan
ide-ide baru matematika dan pengembangan strategi baru yang didasarkan pada
matematika yang telah diketahuinya. Sebagai contoh, siswa ditanya untuk
menjelaskan dua cara berbeda dalam menaksir harga 12 buku catatan dengan cepat.
Guru harus meminta siswa untuk mengeksploraasi dan menjelaskan
keterkaitan matematika dan memastikan bahwa mereka melihat ide-ie matematika
dalamberbagai konteks dan model. Konsep sains dapat secara khusus dihasilkan dari
dari eksplorasi dan penggunaan matematika. Matematika dan sains mempunyai
sejarah panjang yang saling mengisi satu sama lain, sains berkembang dengan
bantuan matematika. Begitu juga sebaliknya, masalah dalam sains memunculkan teori
matematika.
Siswa yang berada di sekolah menengah harus meningkatkan kapasitasnya
untuk mengaitkan ide-ide matematika dan pemahaman yang lebih mendalam
bagaimana menggunakan pendekatan yang lebih dari satu dalam pemecahan suatu
masalah. Misalkan siswa diberi masalah sebagai berikut.
Tunjukkan bahwa titik tengah (midpoint) dari sisi miring suatu segitiga siku-
siku jaraknya sama dari ketiga titik.


Untuk memudahkan pemahaman, biasanya siswa menggambar masalah di
atas sebagai berikut:







Gambar 2
Masalah Midpoint

Harus ditunjukkan bahwa panjang segmen AM = BM = CM.
C
A
B
M

Dalam menyelesaikan masalah tersebut, guru harus mendorong siswa untuk
menggunakan berbagai pendekatan, misalnya melalui koordinat kartesius, lingkaran,
bangun datar geometri atau transformasi. Di sini jelas bahwa, mengaitkan masalah
matematika dengan berbagai konsep matematika akan memberi banyak pilihan pada
siswa dalam menyelesaikan masalah tersebut. Siswa akan terbiasa dengan
memandang suatu masalah dari berbagai topik matematika. Seperti masalah midpoint
di atas.





















B (2b,0)
A (0,0)
M(b,c)
C (0,2c)
(a)
C
A
B
M





























C
A
B
M
D
(c)
C
A= A
C
B= B
M
(d)
M





Gambar 3
Beberapa Penyelesaian Masalah Midpoint

Pendekatan menggunakan koordinat kartesius. Siswa akan lebih mudah
menyelesaikannya melalui perhitungan jarak antara dua titik. Mereka akan sampai
pada penyelesaian bahwa panjang segmen AM, BM, dan CM adalah

.
Pendekatan yang kedua menggunakan lingkaran. Karena lingkaran yang berpusat di
M melalui semua titik A, B, dan C maka AM, BM, dan CM adalah jari-jari lingkaran
tersebut. Dengan demikian, panjang keempat segmen tersebut sama. Pendekatan yang
ketiga dilakukan melalui konstruksi persegi panjang ABCD. Titik M adalah
perpotongan diagonal persegi panjang ABCD, artinya panjang AM, BM, dan CM
adalah sama. Cara yang lebih kompleks menggunakan transformasi. Segitiga ABC
direfleksikan terhadap garis AB sehingga terbentuk segitiga ABC. Oleh karena M
dan M titik tengah dari segmen BC dan BC maka segitiga MBM sebangun dengan
segitiga CBC, dengan panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada segitiga MBM
setengah dari panjang sisi segitiga CBC. Demikian juga hal yang sama berlaku
antara segitiga AMC dengan CBC. Akibatnya, segitiga MBM kongruen dengan
AMC, dari kaitan tersebut dapat disimpulkan bahwa CM dan MB sama panjang.
Aktifitas di atas memberi inspirasi bahwa guru harus memberi dorongan
agar siswa mencoba dan membuat koneksi matematika. Koneksi matematika tersebut
akan muncul apabila masalah/problem yang dipilih guru berpotensi mmberikan ruang
pada siswa untuk melakukan eksplorasi dan investigasi, tidak terpaku pada satu
konsep matematika, serta ada dorongan dari siswa mencoba berbagai pendekatan
dalam menyelesaikan masalah matematika yang diberikan. Selain itu, ketika jawaban
yang muncul tersebut tidak tepat maka guru harus membantu siswa untuk
memperoleh hal/ide yang benar dari jawaban yang kurang tepat atau salah tersebut
yang dapat menjadi ide untuk mengonstruksi penyelesaian atau koneksi baru. Ketika
siswa telah mampu menyelesaikan masalah yang diberikan maka siswa harus
didorong untuk membuat generalisasi hasil pekerjaannya. Masalah yang kaya
(kompleks) merupakan iklim yang dapat mendukung berpikir matematika dan
merupakan jalan untuk memperluas berbagai ide matematika sehingga dapat
mengengembangkan kemampuan koneksi matematika siswa.