Anda di halaman 1dari 15

PERCOBAAN IV

KINETIKA REAKSI

I. JUDUL PERCOBAAN
Kinetika reaksi.

II. PRINSIP PERCOBAAN
Perubahan kecepatan suatu reaksi kimia sebanding denga konsentrasi ion setiap reaksi dan
produk pada waktu tertentu.

III. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan kecepatan reaksi spesifik antara K
2
S
2
O
8
dengan KI pada variasi konsentrasi
pada temperature kamar.
2. Menentukan energy aktivasi dari suatu reaksi kimia antara K
2
S
2
O
8
dengan KI pada variasi
termperatur.

IV. TEORI PERCOBAAN
1. Pengertian Kinetika
Kinetika kimia merupakan bagian ilmu fisika yang mempelajari laju reaksi kimia,
faktor-faktor yanag mempengaruhinya serta penjelasan hubungannya terhadap mekanisme
reaksi. Kinetika juga disebut dinamika kimia, karena adanya gerakan molekul, elemen atau
ion dalam mekanisme reaksi dan laju reaksi sebagai fungsi waktu. Mekanisme reaksi
adalah serangkaian tahap reaksi yang terjadi secara berurutan selama proses perubahan
reaktan menjadi produk. Mekanisme reaksi dapat diramalkan dengan bantuan pengamatan
dan pengukuran besaran termodinamika suatu reaksi, dengan mengamati arah jalannya
reaktan maupun produk suatu sistem. Syarat untuk terjadinya reaksi kimia bila terjadi
penurunan energi bebeas (tG<0).
Prinsip yang mendasari semua ilmu kinetika adalah hukum aksi. Hukum ini menyatakan
bahwa reaksi kimia yaitu kecepatan reaksi sebanding dengan masa aktif senyawa yang
bereaksi. Dalam praktiknya, laju suatu reaksi kimia hanya bergantung pada beberapa
konsentrasi dan jumlah perpangkatan konsentrasi ini diistilahkan dengan orde reaksi. Hal


ini dikarenakan reaksi kimia terjadi dalam beberapa tahap dan laju keseluruhan reaksi
sering ditentukan oleh laju tahap yang paling lambat.
Kinetika menggambarkan suatu study secara kuantitatif tentang perubahan-perubahan
kadar terhadap waktu oleh reaksi kimia. Tujuan utama kinetika kimia ialah menjelaskan
bagaimana laju reaksi bergantung pada konsentrasi reaktan dan mengetahui mekanisme
suatu reaksi yang diperoleh dari suatu eksperimen.
Kinetika kimia merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari tetang proses yang
berhubungan dengan kecepatan atau laju suatu reaksi dan faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi. Dalam praktek suatu reaksi kimia dapat berlangsung dengan
laju atau kecepatan yang berbeda-beda. Namun dalam kehidupan sehari-hari sering
dijumpai reaksi yang berlangsung lambat. Oleh karena itu dengan mempelajari kinetika
kimia maka seluruh faktor-faktor yang mempengaruhi laju suatu reaksi dapat dikendalikan
sehingga lebih hemat dan efisien.
Kecepatan reaksi bergantung pada banyak faktor. Kecepatan reaksi ditentukan oleh
kecepatan terbentuknya zat hasil, dan kecepatan pengurangan reaktan. Konsentrasi reaktan
memainkan peran penting dalam mempercepat atau memperlambat reaksi tertentu.
Sebagaimana akan banyak reaksi yang sangat peka terhadap suhu, sehingga pengendalian
suhu sangat penting untuk pengukuran kuantitatif dalam kinetika kimia.
Ada beberapa reaksi yang laju reaksinya tidak bergantung pada konsentrasi pereaksinya,
misalnya reaksi fotosintesis dan reaksi- reaksi permukaan. Reaksi semacam ini dikatakan
berorde reaksi nol. Contoh reaksi yang berorde nol misalnya penguraian amoniak pada
permukaan katalis wolfram
Keberadaan reaksi kimia ditentukan oleh tinjauan termodinamika dan kinetika.
Termodinamika memberikan informasi kearah mana reaksi/ perubahan kimia itu secara
spontan dapat berlangsung, atau dengan kata lain kearah manakah sistem kimia itu
mempunyai kestabilan yang lebih besar. Sedangkan kinetika mempermasalahkan laju
reaksi dan mekanisme reaksinya.
2. Laju Reaksi
Pengertian tentang laju reaksi adalah perubahan jumlah pereaksi dan hasil reaksi per
satuan waktu. Karena reaksi berlangsung kearah pembentukan hasil, maka laju reaksi tak
lain dari pengurangan jumlah pereaksi per satuan waktu, atau pertambahan jumlah hasil


reaksi per satuan waktu. Dimensi untuk waktu umumnya digunakan menit atau detik,
sedangkan satuan untuk jumlah pereaksi dan hasil reaksi adalah konsentrasi molar.
Laju didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi per satuan waktu. Satuan yang umum
adalah mol/L
-1
s
-1
. Kita ambil contoh khusus dalam reaksi fasa gas:
NO2 (g) + CO (g) NO (g) + CO2 (g)
NO2 dan CO dikonsumsi pada saat pembentukan NO dan CO2. Jika sebuah kuar dapat
mengukur konsentrasi NO, laju reaksi rerata dapat diperkirakan dari nisbah perubahan
konsentrasi NO, [NO] terhadap interval waktu, t:

Laju sesaat suatu reaksi diperoleh dengan menganggap waktu yang sangat kecil, t,
(dengan demikian nilai [NO] yang semakin kecil). Sewaktu t mendekati 0, laju menjadi
lereng kurva pada waktu t. Laju reaksi suatu kimia dapat dinyatakan dengan persamaan laju
reaksi. Untuk reaksi berikut:
A + B AB
Persamaan laju reaksi secara umum ditulis berikut:


Keterangan: k sebagai konstanta laju reaksi,
m dan n adalah orde parsial masing-masing pereaksi.
Umumnya laju reaksi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi, dan dapat
dinyatakan dengan:
Laju Reaksi =
Peruahan onsentrasi
aktu ang Diperlukan

Perhatikan reaksi berikut:
aA + bB + cC + dD
Pada suatu saat tertentu, konsentrasi reaktan A dan B adalah [A] dan [B], dan
konsentrasi produk reaksi C dan D adalah [C] dan [D].
Laju dapat dinyatakan dalam batasan laju pembentukan produk reaksi atau laju kosumsi
reaktan (pereaksi) tertentu, maka secara umum laju reaksi dapat didefinisikan sebagai
berikut:
r
x =


r = k [A]m [B]n


Dimana tanda negatif (-) adalah pereaksi, dan tanda positif (+) adalah produk reaksi.
Untuk persamaan stoikiometri tidak 1:1, maka harus diperhatikan tentang laju reaksinya.
Besarnya laju reaksi dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
a. Sifat dan ukuran pereaksi.
Sifat pereaksi dan ukuran pereaksi menentukan laju reaksi. Semakin reaktif dari sifat
pereaksi laju reaksi akan semakin bertambah atau reaksi berlangsung semakin cepat.
Semakin luas permukaan zat pereaksi laju reaksi semakin bertambah, hal ini dapat
dijelaskan dengan semakin luas permukaan zat yang bereaksi maka daerah interaksi zat
pereaksi semakin luas juga. Permukaan zat pereaksi dapat diperluas dengan
memperkecil ukuran pereaksi. Jadi untuk meningkatkan laju reaksi, pada zat pereaksi
dalam bentuk serbuk lebih baik bila dibandingkan dalam bentuk bongkahan.
b. Konsentrasi.
Dari persamaan umum laju reaksi, besarnya laju reaksi sebanding dengan
konsentrasi pereaksi. Jika natrium tiosulfat dicampur dengan asam kuat encer maka akan
timbul endapan putih. Reaksi-reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Na
2
S
2
O
3
+ 2H
+
2Na
+
+ H
2
S
2
O
3
(cepat)
H
2
S
2
O
3
H
2
SO
3
+ S (lambat)
Na
2
S
2
O
3
+ 2H
+
2Na
+
+ H
2
S
2
O
3
+ S
Reaksi ini terdiri dari dua buah reaksi yang konsekutif (sambung menyambung).
Pada reaksi demikian, reaksi yang berlangsung lambat menentukan laju reaksi
keseluruhan. Dalam hal ini reaksi yang paling lambat ialah penguraian H
2
S
2
O
3
.
Berhasil atau gagalnya suatu proses komersial untuk menghasilkan suatu senyawa
sering tergantung pada penggunaan katalis yang cocok. Selang suhu dan tekanan yang
dapat digunakan dalam proses industri tidak mungkin berlangsung dalam reaksi
biokimia. Tersedianya katalis yang cocok untuk reaksi-reaksi ini mutlak bagi makhluk
hidup.
c. Suhu Reaksi.
Hampir semua reaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan karena kalor yang
diberikan akan menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya jumlah dan energi
tumbukan bertambah besar. Kenaikan temperatur sebesar 10
o
C menyebabkan kenaikan
laju reaksi sebesar 2 sampai 3 kali. Pengaruh perubahan suhu terhadap laju reaksi secara


kuantitatif dijelaskan dengan hukum Arrhenius yang dinyatakan dengan persamaan
sebagi berikut:
atau
Keterangan: R = konstanta gas ideal
A = konstanta yang khas untuk reaksi (faktor frekuensi) dan
Ea = energi aktivasi yang bersangkutan.

Energi aktivasi adalah energi minimum yang harus dimiliki oleh molekul-molekul
pereaksi (reaktan) agar menghasilkan terjadinya reaksi jika salinh bertabrakan. Untuk
reaksi yang molekul pereaksinya mempunyai banyak ikatan yang perlu diputuskan maka
energi aktivasinya besar, sedangkan jika hanya sedikit ikatan yang perlu diputuskan
maka energi aktivasinya kecil. Untuk reaksi tanpa pemutusan ikatan energi aktivasinya
sama dengan nol. Ada beberapa hal penting mengenai energi aktivasi ini, yaitu:
- Energi aktivasi yang ditentukan secara eksperimen adalah jumlah energi aktivasi
untuk reaksi keseluruhan bukan masing-masing tahap reaksi (reaksi-reaksi dasar).
E
A
adalah selisih antara energi reaktan dan energi tertinggi dari keadaan
teraktifkan dalam proses tersebut.
- Energi aktivasi untuk setiap tahap selalu positip.
- Sesuai dengan distribusi Maxwell-Boltzmann dari energi molekular, jika
temperatur dinaikkan, laju reaki bertambah sebab makin banyak tabrakan yang
mempunyai energi lebih besar dan Ea
Pada reaksi antara K2S2O4, KI, dan Na2S2O3 termasuk dalam laju reaksi orde 3,
sehingga dalam penentuan konsentrasi dan kecepatan laju reaksi menggunakan rumus
laju reaksi orde 3.
d. Katalis
Berzelius adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah katalis pada tahun
1835. Katalis adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi untuk memepercepat
jalannya reaksi. Sedangkan zat yang memperlambat laju reaksi disebut inhibitor.
Katalis biasanya ikut bereaksi sementara dan kemudian terbentuk kembali sebagai zat
bebas. Suatu reaksi yang menggunakan katalis disebut reaksi katalis dan prosesnya
disebut katalisme. Katalis suatu reaksi biasanya dituliskan diatas tanda panah.
k = Ae
-Ea/RT

ln k = -Ea + ln ART



Katalis tidak muncul dalam persamaan kimia pembahasannya secara keseluruhan,
tetapi kehadirannya sangat mempengaruhi hukum laju, memodifikasi dan mempercepat
lintasan yang ada, atau lazimnya membuat lintasan yang sama sekali baru bagi
kelangsungan reaksi. Katalis menimbulkan efek yang nyata pada laju reaksi, meskipun
dengan jumlah yang sangat sedikit. Dalam kimia industri, banyak upaya untuk
menemukan katalis yang akan mempercepat reaksi tertentu tanpa meningkatkan
timbulnya produk yang tidak diinginkan. Atau katalis adalah zat yang ditambahkan ke
dalam suatu reaksi untuk mempercepat jalannya reaksi. Suatu reaksi yang menggunakan
katalis disebut reaksi katalis dan prosesnys disebut katalisme. Sifat katalis, yaitu:
Katalis tidak bereaksi secara permanen, karena tidak mengalami perubahan kimia
selama reaksi.
Katalis tidak mempengaruhi hasil akhir reaksi.
Katalis tidak memulai reaksi tetapi hanya mempengaruhi lajunya.
Katalis bekerja efektif pada saha optimum. Artinya, di atas atau di bawah suhu
optimum kerja katalis berkurang.
Suatu katalis hanya mempengaruhi laju reaksi spesifik. Berarti, katalis bekerja pada
satu reaksi atau sejenis reaksi, dan tidak untuk reaksi jenis lain.
Contoh:
Al
2
O
3

C
2
H
5
OH (g) C
2
H
4
(g) + H
2
O (g)
ZnO
HCOOH (g) CO
2
(g) + H
2
(g)
- Keaktifan katalis dapat diperbesar zat lainyang disebut promoter.
Contoh:
FeSO4
S
2
O
3
2-
(aq) + 2I
-
I
2
(s) + 2SO
4
2-
(aq)
Kerja katalis FeSO
4
dapat dipercepat oleh CuSO
4
sebagai promoter.
- Hasil suatu reaksi kadang-kadang dapat bertindak sebagai katalis, zat it disebut
autokatalis, contohnya:
As
2AsH
3
2As = 3H
2

As bertindak sebagai autokatalis.


- Katalis dapat bereaksi dengan zat lain sehingga sifat katalisnya hilang, contohnya
pada reaksi pembentukan air dari gas hydrogen dan gas oksigen dengan katalis Pt,
kerja katalis Pt dapat dinon aktifkan dengan adanya CO, H
2
S, CS
2
.
- Katalis dapat memmperlambat reaksi disebut katalis negatif atau inhibitor, contohnya
pada reaksi pembentukan air dari gas hidrogen dan gas oksigen laju reaksi dapat
diperlambat dengan adanya I
2
dan CO.
Penggolongan Katalis

Berdasarkan fasanya, katalis dapat dibagi menjadi dua yaitu katalis homogeny dan
heterogen.
- Katalis homogen ialah katalis ada dalam fasa yang sama dengan fasa reaktan,
misalnya katalis fasa gas mempercepat reaksi dalam fasa gas, atau unsur yang
dilarutkan dalam larutan mempercepat reaksi dalam larutan. Contoh katalis homogen
ialah efek klorofluorokarbon dan oksida nitrogen pada berkurangnya ozon di
stratosfer. Contoh kedua ialah katalis reaksi oksidasi-reduksi.
TI
+
(aq) + 2Ce
4+
(aq) TI
3+
(aq) + 2Ce
3+
(aq)
oleh ion perak dalam larutan. Reaksi langsung dari TI+ dengan satu ion Ce4+ yang
menghasilkan TI2+ sebagai zat antara berjalan lambat. Reaksi ini dapat dipercepat
dengan menambahkan ion Ag+, yang berperan dalam mekanisme reaksi dalam
bentuk
Ag
+
+ Ce
4+
Ag
2+
+ Ce
3+
(cepat)
TI
+
+ Ag
2+
TI
2+
+ Ag+ (lambat)
TI
2+
+ Ce
4+
TI
3+
+ Ce
3+
(cepat)
Ion Ag
+
tidak secara permanen diubah oleh reaksi ini, sebab yang terpakai habis
dalam langkah pertama akan dihasilkan kembali pada langkah kedua; ion ini berperan
sebagai katalis yang secara nyata mempercepat laju reaksi keseluruhan.
- Katalis heterogen ialah katalis berada dalam fasa yang berbeda. Kasus yang paling
penting ialah kerja katalitik dari permukaan padatan tertentu pada reaksi-reaksi fasa
gas dan fasa larutan. Contohnya ialah dalam produksi asam sulfat yang melibatkan
padatan oksida vanadium (V
2
O
5
) sebagai katalis. Banyak katalis pada lainnya
digunakan dalam proses industri. Salah satu yang perlu diperhatikan ialah reaksi
penambahan hidrogen pada etilena untuk membuat etana:


C
2
H
4
(g) + H
2
(g) C
2
H
6
(g)
Proses ini berjalan sangat lambat dalam fasa gas, kecuali diberi katalis permukaan
platinum. Satu jenis katalis yang sudah banyak digunakan dalam aliran gas
pembuangan mesin mobil untuk mengurangi emisi pencemar seperti hidrokarbon
yang tidak terbakar, karbon monoksida, dan nitrogen oksida. Konverter katalik ini
dirancang untuk sekaligus mengoksidasi hidrokarbon dan CO
CO, CxHy, O
2
CO
2
, H
2
O
dan mereduksi nitrogen oksida:
NO, NO
2
N
2
, O
2

Inhibitor memainkan peran yang berlawanan dengan peran katalis. Inhibitor
memperlambat laju reaksi, sering kali dengan menaikkan energi aktivasi. Inhibitor
juga penting dalam industri karena kemampuannya dalam mengurangi laju reaksi
sampingan yang tidak diinginkan sehingga produk yang diinginkan terbentuk lebih
banyak. Atau katalis heterogen ialah katalis yang mempunyai fasa berbeda dengan
pereaksi. Umumnya zat katalis ini berupa zat padat dan pereaksinya cair atau gas.
- Katalis enzim
Banyak reaksi kimia dalam sistem organik dilaksanakan dengan enzim yang
berfungsi sebagai katalis. Enzim ialah molekul protein besar (biasanya dengan massa
molar 20.000 g mol-1 atau lebih) yang dengan strukturnya mampu melakukan reaksi
spesifik. Satu atau lebih molekul reaktan (disebut substrat) melekat pada daerah aktif
enzim. Daerah aktif merupakan daerah pada permukaan enzim yang struktur dan sifat
kimianya menyebabkan substrat tertentu dapat melekat padanya lalu transformasi
kimia dapat dikerjakan.
3. Orde Reaksi
Laju reaksi kimia ke kanan bergantung pada konsentrasi reaktan. Hubungan antara laju
reaksi dan konsentrasi disebut rumus laju atau hukum laju, dan tetapan kesebandingan k
dinamakan tetapan laju untuk reaksi tersebut. Seperti halnya tetapan kesetimbangan,
tetapan laju tidak bergantung pada konsentrasi tetapi pada suhu. Orde reaksi berkaitan
dengan pangkat dalam hukum laju reaksi. Reaksi yang berlangsung dengan konstan,
Tidak bergantung pada konsentrasi pereaksi disebut reaksi orde nol. Reaksi orde
pertama sering menampakkan konsentrasi tunggal dan hukum laju, dan konsentrasi
tersebut berpangkat satu. Rumusan yang paling umum dari hukum laju reaksi dan laju


reaksi orde dua adalah konsentrasi tunggal berpangkat dua atau dua konsentrasi masing-
masing berpangkat satu. Salah satu metode penentuan orde reaksi memerlukan pengukuran
laju reaksi awal dari sederet percobaan. Metode kedua membutuhkan pemetaan yang tepat
dari fungsi konsentrasi pereaksi terhadap waktu, untuk mendapatkan grafik garis lurus pada
reaksi:
3H2C2O4(l) + 2MnO4(l) 6CO2(g) + 3H2O(l) + MnO
Apabila reaksi ini merupakan reaksi orde p terhadap H2C2O4 dan orde q terhadap
MnO4 maka laju reaksi:
r = k[H2C2O4]p[MnO4]q
p = orde parsial terhadap H2C2O4
q = orde parsial terhadap MnO4
Jika suatu reaksi mempunyai orde n terhadap suatu zat pereaksi maka kecepatan reaksi
akan sebanding dengan konsentrasi pangkat n dan berbanding terbalik dengan waktu t,
sehingga grafik Cn terhadap l/t, selalu merpakan garis lurus dan orde reaksi dapat
ditentukan dengan pertolongan grafik seperti ini;
Orde 1 : ditentukan dengan membuat grafik C terhadap l/t
Orde 2 : ditentukan dengan membuat grafik C2 terhadap l/t
Orde 3 : ditentukan dengan membuat grafik C terhadap l/t
Pangkat yang diberikan pada konsentrasi disebut orde reaksi untuk reaktan yang
bersangkutan. Jadi, penguraian N2O5 adalah orde pertama, sedangkan penguraian C2H6
ialah orde kedua. Beberapa proses termasuk orde nol untuk jangkauan konsentrasi tertentu.
Karena [A]0 = 1, maka laju reaksi seperti itu tidak bergantung pada konsentrasi:
Laju = k (kinetika orde nol)
Orde reaksi tidak selalu bilangan bulat; pangkat pecahan adakalanya dijumpai. Pada
suhu 450 K, penguraian asetaldehida (CH3CHO) dinyatakan dalam hukum laju sebagai :
laju = k [CH3CHO]3/2
Orde reaksi dapat ditentukan dengan beberapa metode, yaitu :
- Metode Subtitusi.
Data yang terkumpul dari hasil pengamatan jalannya suatu reaksi disubstitusikan ke
dalam bentuk integral dari persamaan berbagai orde reaksi. Jika persamaan itu
menghasilkan harga k yang tetap konstan dalam batas-batas variasi percobaan, maka
reaksi dianggap berjalan sesuai dengan orde tesebut.


- Metode Grafik.
Plot data dalam bentuk grafik dapat digunakan untuk mengetahui orde reaksi tersebut.
Jika konsentrasi diplot terhadap t dan didapatkan garis lurus, reaksi adalah reaksi nol.
Reaksi dikatakan orde pertama bila log (a-x) terhadap t menghasilkan garis lurus.
- Metode waktu paruh.
Dalam reaksi orde nol, waktu paruh sebanding dengan konsentrasi awal. Waktu paruh
reaksi orde-pertama tidka bergantung pada konsentrasi awal, waktu paruh untuk reaksi
orde kedua, dimana a=b=c, sebanding dengan 1/a2. Umumnya hubungan antara hasil di
atas memperlihatkan bahwa waktu paruh suaut reaksi dengan konsentrasi seluruh
reaktan sama.
Indikasi waktu yang berguna tentang laju reaksi kimia adalah waktu paruh, yaitu
waktu yang diperlukan oleh zat tersebut aga r konsentrasinya menjadi separuh nilai
awalnya. Waktu paruh bergantung pada konsentrasi awal zat.
Waktu paruh didenifisikan sebagai waktu yang dibutuhkan bila separuh konsentrasi
dari suatu reaktan digunakan. Waktu paruh dapat ditentukan dengan tepat hanya jika
satu jenis reaktan yang terlibat. Tetapi jika suatu reaksi berlangsung antara jenis reaktan
yang berbeda, waktu paruh harus ditentukan terhadap reaktan tertentu saja. Dan waktu
paruh tidak bergantung pada konsentrasi untuk reaksi orde kesatu.
4. Molekularitas
Molekularitas suatu reaksi adalah jumlah molekul yang ikut dalam reaksi dan nilainya
adalah satu, dua, dan kadang-kadang tiga. Molekularitas hanya berlaku untuk reaksi-reaksi
dasar (reaksi elementer).
5. Analisa Bahan
a. KI
b. Aquadest (Ditjen POM, 1979. Hal 96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
RM / BM : H
2
O / 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Pelarut uji



c. K
2
S
2
O
8

d. Na
2
S
2
O
3

Nama resmi : NATRII THIOSULFAS
Nama lain : Natrium Tiosulfat
RM / BM : Na
2
S
2
O
3
/ 248,17
Pemerian : Hablur besar tidak berwarna atau serbuk hablur kasar.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Antidotum sianida
e. Amilum
Cairan atau padatan berwarna putih, sukar larut dalam air, tidak stabil.

V. ALAT dan BAHAN
1. Alat
a. Erlenmeyer
b. Stopwatch
c. Gelas ukur
d. Pipet tetes
e. Flash Shaker
f. Pipet ukur
g. Labu ukur
2. Bahan
a. Aquadest
b. KI
c. K
2
S
2
O
8

d. Na
2
S
2
O
3

e. Amilum

VI. PROSEDUR KERJA
1. Buat larutan KI 0.05 N dalam 165 ml; K
2
S
2
O
8
0,05 N dalam 140 ml; Na
2
S
2
O
3
0,05 N
dalam 70 ml.
2. Buat larutan dalam erlenmeyer dengan perbandingan (variasi konsentrasi):
ERLENMEYER KI K
2
S
2
O
8
Na
2
S
2
O
3
H
2
O Amylum t (waktu,
dtk)
I 20 20 10 -
Secukupnya

II 20 16 8 6
III 20 12 6 12
IV 20 8 4 18



3. Keempat sampel di shaker denga flash shaker hingga terjadi perubahan warna menjadi
hijau.
4. Larutkan dalam Erlenmeyer dengan perbandingan (variasi Temperatur):
ERLENMEYER T
(
o
C)
KI K
2
S
2
O
8
Na
2
S
2
O
3
Amylum t
(waktu, dtk)
I 40 20 20 10
Secukupnya

II 50 20 20 10
III 60 20 20 10
IV 70 20 20 10

5. Keempat sampel dipanakan di atas waterbath hingga terjadi perubahan warna menjadi
hijau.

VII. DATA PENGAMATAN
1. Larutan dalam Erlenmeyer dengan perbandingan (variasi konsentrasi)
Erlenmeyer KI K
2
S
2
O
8
Na
2
S
2
O
3
H
2
O Amilum t (waktu, detik)
I 20 20 10 -
Secukupya
120 detik
II 20 16 8 6 548,4 detik
III 20 12 6 12 1454,4 detik
IV 20 8 4 18 2186,4 detik

2. Larutan dalam Erlenmeyer dengan perbandingan (variasi temperatur)
Erlenmeyer T () KI K
2
S
2
O
8
Na
2
S
2
O
3
Amilum t (waktu, detik)
I 313 20 20 10
Secukupya
140 detik
II 323 20 20 10 110 detik
III 333 20 20 10 69,08 detik
IV 343 20 20 10 42,46 detik

3. Perhitungan Kinetika Reaksi
a. Menentukan Harga X


X
1
=


=


= 0,5 N
X
2
=


=


= 0,5 N
X
3
=


=


= 0,5 N
X
4
=


=


= 0,5 N
b. Menghitung Nilai K


K
1
=

= 5,719 x 10
-3

K
2
=

= 1,264
K
3
=

= 4,76 x 10
-4

K
4
=

3,17 x 10
-4
c. Buat Tabel Variasi Temperature
T (K) Tf Log Tf 1/T
313 K 140 2,15 3,195 x 10
-3

323 K 110 2,041 3,096 x 10
-3

333 K 69,08 1,84 3,003 x 10
-3

343 K 42,46 1,63 2,915 x 10
-3


d. Membuat Grafik
Tan

= 1,615 x 10
-5
e. Menghitung Harga Ea
Ea Grafik = 2,303 x 1,987 x Tan
= 2,303 x 1,987 x (1,615 x 10
-5
)
= 7,39 x 10
-5

f. Mencari Nilai C




K =


Log Tf =


+ C
C = Log Tf -






C
1
= 2,15 -


= 2,14
C
2
= 2,041 -


= 2,04
C
3
= 1,84 -


= 1,839
C
4
= 1,63 -


= 1,62
g. Menghitung Ea Praktek


Ea
1
= 2,303 x 1,987 x 313 x (2,15 - 2,14) = 14,323
Ea
2
= 2,303 x 1,987 x 323 x (2,041 2,04) = 1,478
Ea
3
= 2,303 x 1,987 x 333 x (1,84 1,839) = 1,524
Ea
4
= 2,303 x 1,987 x 343 x (1,63 1,62) = 15,696
Ea rata-rata =

= 8,255
h. Persentase Eror


% eror =

x 100% = 0,00112 %

VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kinetika kimia menggunakan prinsip perubahan kecepatan suatu reaksi
kimia sebanding dengan konsetrasi ion setiap reaksi dan produk pada waktu tertentu.

IX. PENUTUP


X. KESIMPULAN


XI. TUGAS
1. Apa yang dimaksud dengan:
a. Stoikiometri
Ea Praktek = 2,303 x 1,987 x T x (Log Tf - C)

% eror =


x 100%



b. Tingkat reaksi
c. Molekuleritet reaksi
a. Stoikiometri adalah perhitungan jumlah zat yang dapat dihasilkan oleh suatu reaksi
kimia, tetapi tidak dapat menggambarkan berapa lama suatu reaksi terjadi.
b. Tingkat reaksi adalah jumlah molekul pereaksi yang konsentrasinya menentukan
kecepatan reaksi.
c. Molekuleritet reaksi adalahnjumlah molkul yang ikut dalam reaksi
2. Sebutkan jenis-jenis katalis!

3. Apakah perbedaan katalis dan inhibitor?


XII. DAFTAR PUSTAKA