Anda di halaman 1dari 73

C-1

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010


PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR UNTUK PENGEMBANGAN
KAWASAN PANTURA JAWA TIMUR

Hadi Moeljanto
1
dan Anton Dharma PM
2



1
PNS, Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Provinsi Jawa Timur,Ahmad Yani 152 A Surabaya ,
Telp 031-8299585, email:hadimoeljanto@ymail.com
2
PNS, Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Provinsi Jawa Timur,Ahmad Yani 152 A Surabaya ,
Telp 031-8299585, email:mailantondp@gmail.com

ABSTRAK

Kawasan Pantura di wilayah J awa Timur terutama Gresik Utara dan Lamongan Utara merupakan
daerah yang gersang namun telah mampu mengundang investor untuk memanfaatkan potensi sumber daya
alam yang ada yaitu penambangan dolomite atau bahan dasar pupuk terbesar di Asia Tenggara. Demikian
juga di bidang pertanian akan dikembangkan kawasan inti plasma hortikultura (buah mangga) dengan tujuan
kawasann ini akan menjadi pusat pengembangan hortikultura (center of horticulture development).
Untuk menunjang pengembangan kawasan ini yang terutama dibutuhkan adalah air baku yang
direncanakan diambil secara non-gravitasi dari Sungai Bengawan Solo melalui penampungan dan
pembendungan di Gresik dan Lamongan. Analisa terhadap ketersediaan air dilakukan dengan asumsi
infrastruktur yang dibutuhkan yaitu New Sembayat Barrage dan Waduk penunjang telah terbangun.
Potensi ketersediaan air adalah sebesar 447.056.000m3. Sementara kebutuhan air adalah sebesar
209.639.754m3, sehingga neraca air untuk pemanfaatan pengembangan wilayah Pantura adalah surplus
sebesar 237.416.256 m
3
. Ketersedian air ini dapat dimanfaatkan secara optimal dengan pengelolaan yang
mengikutsertakan seluruh stakeholder dan tentunya perlu diakselerasi pembangunan infrastruktur New
Sembayat Barrage dan infrastruktur lainnya.

Kata kunci : Neraca, Hortikultura, Pantura.

1. PENDAHULUAN

Daerah Pantura seperti kawasan Gresik Utara dan Lamongan Utara merupakan kawasan marginal sebagai
lahan tidur. Adanya potensi Sumber daya Alam yang ada didaerah Pantura yang tersedia :
1. Bahan Baku Tambang 365 Ha.
2. Industri Existing 30 Ha.
3. Potensi Lahan Industri 100 Ha.
4. Potensi Lahan Perumahan 2.000 Ha.
5. Kebun Mangga Inti 500 Ha.
6. Lahan Tidur 13.500 Ha.

Daerah ini memiliki potensi yang tinggi yaitu sumber daya alamnya dolomite, sebagai bahan dasar
pembuatan pupuk. Diperkirakan kandungan dolomite yang ada disekitar Sungai Bengawan Solo mencapai
200 juta ton. Potensi sumber daya alam ini telah mulai dimanfaatkan oleh investor swasta PT Polowijo
Gosari yang mengembangkan pabrik pupuk berbahan dasar dolomite yang terbesar di Indonesia bahkan di
Asia Tenggara. Disamping itu investor ini pun berencana mengembangkan kawasan industri dan kawasan
hortikultura yaitu dengan budidaya tanaman mangga pada lahan masyarakat petani sekitar 10.000 Ha dengan
sistem kerja sama pola inti plasma.
Dalam kerja sama itu nantinya peran PT Polowijo Gosari dalam pengembangan hortikultura adalah
dengan menyediakan dan memberikan benih mangga jenis Chokonan dari Thailand dan Arum manis kepada
petani dan memberikan pembinaan (bimbingan teknis) serta memasarkan produksi saat panen.
Pengembangan inti plasma hortikultura (mangga) dikawasan Sedayu Gresik Utara (Kawasan Hortikultura
Gresik) yang berdekatan kawasan semen Tuban, kawasan Lamongan Shore Base, K Kawasan industri Maspion,
Kawasan industri Petro Kimia, Kawasan Semen Gresik, Kawasan Industri Sidayu sampai Lamongan Utara.
Air baku dalam pengembangan kawasan pantura ini sangat diperlukan sebagai syarat mutlak agar PT
Polowijo Gosari sebagai investor dapat melaksanakan pengembangan inti plasma hortikultura (mangga).
Dimana air baku ini dimanfaatkan bagi tercapainya tujuan sebagai pusat pengembangan hortikultura (center
of horticulture development) dengan lingkup kegiatan antara lain pengembangan varietas komoditi
C-2
ISBN : 978-979-18342-2-3
hortikultura, pemasaran dan komersial, penelitian dan pengembangan, pembibitan dan penyediaan bibit,
bantuan teknis untuk kebun plasma dan kebun percontohan (show room) dan menjadi pusat pertumbuhan dan
pengembangan industri serta pengembangan ekonomi kerakyatan yang terintegrasi yang berbasis bahan
tambang dan potensi wilayah lainnya.
Adapun dari Pola Pengembangan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (PSDA-WS) Balai Besar Wilayah
Sungai (BBWS) Bengawan Solo telah merencanakan pembangunan New Sembayat Barrage di lokasi Desa
Sidomukti Kec.bungah Kab.Gresik Kapasitas tampungan air sekitar 7.000.000 m
3
dengan manfaat water
treatment Plan (WTP) dengan debit maksimum 2 m
3
/det, untuk irigasi di kabupaten gresik 883 Ha, industri
rumah tangga 1,446 m
3
/det, tambak sekitar 3,990 m
3
/det.
Sementara ini lahan yang telah dikembangkan PT Polowijo Gosari seluas 250 Ha dengan ada 2 embung
yang ada sebagai tampungan air seluas 0,65 Ha (32.500m
3
) dan 0,70 Ha (35.000 m
3
) sedangkan kebutuhan
akan air bersih didaerah Gresik utara khususnya kecamatan Panceng, sebesar 250 l/dt. Air ini akan dialirkan
terlebih dahulu ke embung yang telah ada didaerah Panceng yang kemudian akan didistribusikan sesuai
dengan keperluan yang ada, antara lain untuk keperluan dometik, perkebunan dan industri.
Bila dikembangkan kawasan daerah pantura sangat berpotensi untuk menjadi suatu kawasan ekonomi
dengan syarat New Sembayat Barrasge bisa segera dibangun karena infrastruktur sangat penting. Diharapkan
pemerintah pusat dapat mempercepat realisasi pembangunan New Sembayat Barrage oleh BBWS Bengawan
Solo untuk pengembangan kawasan hortikultura di Gresik Utara dan Lamongan Utara yang tanahnya sangat
marginal dapat menjadi produktif dengan penyediaan air yang cukup.



2. DASAR TEORI
Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya. Sumber air adalah
tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan
tanah.(UU SDA no.7 tahun 2004).
Pendayagunaan sumber daya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan,
pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. (pasal
1 angka 20)
Sistem tata air yang ada dalam DAS Bengawan Solo hilir meliputi potensi air seperti yang ada di atas
permukaan misal waduk, embung, sungai dan bangunan prasarana pengairan (baik berupa bendungan,
bendung maupun pintu air). Dengan diketahuinya sistem tata air maka dapat diketahui ketersediaan air di WS
Bengawan Solo.
Diharapkan dalam pendagunaan Sumber Daya Air pada kawasan Gresik Utara dan Lamongan Utara
melalui penyediaan SDA untuk memenuhi kebutuhan air dan daya air dan memenuhi berbagai keperluan
sesuai dengan kualitas dan kuantitas. Penyediaan sumber daya air dalam setiap wilayah sungai dilaksanakan
C-3
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
sesuai dengan penatagunaan sumber daya air yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan pokok, sanitasi
lingkungan, pertanian, ketenagaan, industri, pertambangan, perhubungan, kehutanan dan keanekaragaman
hayati, olahraga, rekreasi dan pariwisata, ekosistem, estetika, serta kebutuhan lain yang ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan .
Pemerintah/Pemda dapat mengambil tindakan penyediaan SDA untuk: memenuhi kepentingan yang
mendesak berdasarkan perkembangan keperluan, dan keadaan setempat.

3. METODOLOGI
Dengan melakukan pengumpulan data pada DAS Bengawan Solo bagian hilir dan kabupaten Gresik
terutama data sekunder. Data sekunder tersebut meliputi data topografi, data debit , serta data pendukung dan
dilanjutkan dengan menghitung ketersediaan air yang ada infrastruktur pada Sungai Bengawan Solo
dilakukan untuk mengetahui debit air di sungai. Debit air sungai Bengawan solo ini diperlukan untuk
mengetahui kemampuan Tampungan air seperti New Sembayat Barrage dan lainnya dalam mengalirkan
sejumlah debit air dalam waktu tertentu.

4. HASIL DAN ANALISA
4.1. POTENSI SUMBER DAYA AIR.
Untuk menunjang kawasan Gresik Utara dan Lamongan Utara terdapat potensi ketersediaan yaitu dari
4 (empat) sumber masing-msing infrastruktur SDA seperti New Sembayat Barrage, Embung di kawasan PT.
Polowijo Gosari, Rawa J abung dan yang utama yaitu base flow dari Bengawan Solo.
1. New Sembayat Barrage
Dengan kapasitas tampung sekitar 7 J uta m
3
berjarak dari lokasi kawasan sekitar 30 km dengan penyediaan
air

untuk masa kering 6 bulan sekitar:
dt / l ,
x x
x
10 450
6 30 86400
1000 7000000
= ,
penyediaan air untuk masa kering 4 bulan sekitar :
dt / l ,
x x
x
15 675
4 30 86400
1000 7000000
= ,

2. Embung PT Polowijo Gosari
Untuk menampung air yang dialirkan (dengan pompa) dari New Sembayat Barrage, direncanakan dibangun
dua buah embung dalam kawasan PT Polowijo Gosari dikembangkan berdasar penyelidikan bahwa dengan
kedalaman sekitar 10 m koefisien permeabilitas sekitar 2,11 x 10
-5
cm/ dt sehingga alokasi debit bila
dikembangkan menjadi
1. Embung 1 (+27 Ha) dengan kapasitas embung 270.000 m
2
x 10 m =2.700.000 m
3
, penyediaan air
untuk masa kering 6 bulan :
dt
x x
x x
/ 61 , 173
6 30 86400
1000 10 270000
= ,
penyediaan air untuk masa kering 4 bulan :
dt l
x x
x x
/ 42 , 260
4 30 86400
1000 10 270000
=
2. Embung 2 (19 Ha) dengan kapasitas embung 190.000 m
2
x 10m =1.900.000 m
3
dengan penyediaan
untuk masa kering 6 bulan:
dt l
x x
x x
/ 17 , 122
6 30 86400
1000 10 190000
= ,
penyediaan air untuk masa kering 4 bulan :
dt l
x x
x x
/ 26 , 183
4 30 86400
1000 10 190000
=
Sehingga kapasitas total 4.600.000 m3 untuk kemampuan penyediaan/supply air =443,68 lt/dt.

3. Rawa Jabung
Selain itu infrastruktur SDA lainnya melalui Rawa J abung dekat Babat Barrage yang berjarak sekitar 80 km
dari lokasi direncanakan sebagai tampungan banjir dengan kapasitas 31 J uta m
3
dapat dimanfaatkan sebagai
penyediaan air

untuk masa kering 6 bulan sekitar :
C-4
ISBN : 978-979-18342-2-3
dt l
x x
x
/ 31 , 1993
6 30 86400
1000 31000000
= ,
penyediaan air untuk masa kering 4 bulan sekitar :
dt l
x x
x
/ 15 . 2989
4 30 86400
1000 31000000
= .
Namun, perencanaannya Rawa J abung diutamakan untuk irigasi di areal sekitarnya dan jarak yang cukup
jauh dari lokasi menyebabkan alternatif pengambilan dari Rawa J abung tidak diperhitungkan.

4. Base Flow Bengawan solo
Debit yang ada dan dapat dimanfaatkan pada periode kering tercatat 28.000lt/dt.

Tabel 1 : Potensi Sumber Daya Air.(Pemanfaatan musim kemarau).
NO INFRASTRUKTUR KAPASITAS
TAMPUNG (m
3
)
PERIODE 4
BULAN (l/dt)
PERIODE 6
BULAN (l/dt)
1 Embung (2bh) 4.600.000 443,68 294,78
2 New Sembayat Barrage 7.000.000 675,15 450,10
3 Rawa Jabung 4.600.000 2995,15 1993,31
4 Inflow Bengawan Solo (Base
low Bengawan Solo)
435.456.000 28.000 28.000
TOTAL POTENSI SDA 447.056.000
(tanpa rawa
Jabung)
28.744,88


4.2. KEBUTUHAN ALOKASI AIR

a. Kebutuhan air tanaman .
Untuk tahap awal untuk memenuhi kebutuhan air seluas 2.500 Ha dengan Area Pelayanan untuk kebun
Inti Plasma Mangga yang sudah ada luas 500 Ha dan Plasma Hortikultura luas 2.000 Ha. Sementara untuk
memenuhi kebutuhan air pada lahan seluas 2.500 Ha diperlukan penyediaan/supply air sebesar 200 lt/dt
melalui 2 (dua) embung yang terletak pada desa Sukodono akan dikembangkan. Sehingga Potensi Lahan
Tegalan sisanya seluas 13.500 Ha (16.000 Ha- 2.500 Ha) belum memperoleh pelayanan penyediaan air.
Kalau dimanfaatkan seluruhnya (16.000 Ha) diperlukan saat musim kemarau (2 kali tanam) =1280 l/dt
sekitar =663.552 m
3


b. Kebutuhan air Tambak .
Budidaya Udang dan Bandeng dalam 1 tahun 2 kali tanam sedang sisa waktunya sekitar 2 bulan
digunakan masa pengeringan. Perencanaan pola tanam dan waktu tanam dapat dilakukan untuk penerapan
pola budidaya campuran udangbandeng (polikultur) yang diprioritaskan untuk areal yang mendapat pasok
air tawar cukup (daerah muara atau yang dekat dengan sungai). Penerapan pola ini dilakukan pada akhir
musim hujan atau menjelang awal musim kemarau untuk musim tanam I, dimana pada bulan tersebut juga
terjadi musim nener di alam. Pada masa persiapan dan pengolahan tanah untuk musim tanam berikutnya,
dilakukan pengeringan lahan tambak dalam waktu kurang lebih 2 bulan. Pada musim tanam II dapat
dilakukan usaha budidaya monokultur udang windu, oleh karena pada bulan-bulan tersebut merupakan
musim hujan, sehingga pasokan air tawar untuk areal tambak dapat terpenuhi sehingga pengaturan salinitas
air yang diperlukan pertumbuhan udang selama 1 siklus produksi dapat diterapkan. Pada penebaran kedua
selama musim tanam kedua tersebut (kurang lebih 4 bulan) akan diperoleh hasil panen pada akhir musim
tanam. Sebagai gambaran perencanaan waktu tanam I dan II dari alternatif I tersebut dapat dilihat pada tabel
di bawah.

Tabel 2. Pola Budidaya Tambak
Waktu tanam Bulan pemeliharaan
Pengeringan
Tambak
Pola budidaya
Musim tanam I 4 bulan 2 bulan Monokultur Udang
Musim tanam II 4 bulan 2 bulan Polikultur Udang

C-5
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
Ketinggian air tambak yang diperlukan adalah 1 meter, dengan kebutuhan pergantian air budidaya
udang untuk pemasukan dan pengeluaran setiap hari rata-rata sebesar 4% - 6 %.. Berdasarkan asumsi tersebut
maka jumlah kebutuhan air perhari untuk budidaya udang per petak tambak yaitu :
Diketahui :
luas tambak = 2 Ha =(200 X 100) m
Panjang = 200 m
Lebar = 100 m
Lebar caren = 5 m
Kedalaman caren = 1 m
Kedalaman pelataran = 0,5 m
Perhitungan Volume:
Volume air tambak (caren) =1m x (2 x (200m x 5m)) +(2 x (90m x 5m))
=2.900 m
3

Ketinggian air di pelataran =0,5m, maka volume airnya dapat dihitung yaitu :
Volume air tambak (pelataran) = 0,5 m x 190 m x 90 m
= 8.550 m
3

Berdasarkan perhitungan diatas maka volume air ditambak, yaitu :
Volume air tambak =Volume air di caren +volume air di pelataran
=2.900 +8.550 =11.450 m3
Selanjutnya kebutuhan air ditambak udang dan tambak bandeng dibagi dalam beberapa masa yaitu :
Kebutuhan air pada masa persiapan tambak (1 kali dalam sebulan) :
=50% dari volume air tambak
=50% x 11.450 m
3

=5.725 m
3

Kebutuhan air pada masa penebaran benur (1 kali dalam sebulan) :
=50% dari volume air tambak
=50% x 11.450 m
3

=5.725 m
3

Kebutuhan air pada masa pemeliharaan (per hari dalam 2 bulan) :
=10% dari volume air tambak
=10% x 11.450 m
3

=1.145 m
3

Kebutuhan air menjelang masa panen (1 kali dalam sebulan) :
=50% dari volume air tambak
=50% x 11.450 m
3

=5.725 m
3

Total Kebutuhan air tambak saat MT 1 (akhir musim hujan ) seluas 3.900 Ha diperlukan air tawar sebesar
= 167.456.250 m
3
(Poli kultur)
Sedang Musim hujan ( MT II) debit air tawar tidak berpengaruh.(mono kultur) karena banyak air.

c. Kebutuhan air Bersih (Water Treament Plan).
Dengan manfaat water treatment Plan (WTP) sebesar 1,109 m
3
/det dengan debit maksimum 2 m
3
/det.
Sehingga kebutuhan dalam jangka waktu musim kemarau (masa sulit air) selama 6 bulan sebesar =
31.104.000 m
3
.

d. Kebutuhan air Irigasi (Water Treament Plan).
Untuk kebutuhan air irigasi yang dilakukan secara konvensional dan Pola tanam Padi Padi Polowijo
dengan asumsi 1,2 l/dt/ha. saat MK1 (Padi ) sedang MK 2 (Polowijo) asumsi sebesar 0,3 l/dt/ha seluas 893
Ha diperlukan air dalam 6 bulan (masa sulit air) sebesar =10.415.952 m
3


Tabel 3: Kebutuhan Sumber Daya Air.(Pemanfaatan musim kemarau/masa sulit air).
NO KEBUTUHAN AIR KAPASITAS
(m
3
)
1 Tanaman 663.552
2 Tambak 167.456.250
3 Water Treatment Plan (WTP) 31.104.000
4 Irigasi 10.415.952
TOTAL KEBUTUHAN 209.639.754
C-6
ISBN : 978-979-18342-2-3
Dari perhitungan ada kelebihan air sebesar 237.416.256 m
3
saat musim kemarau atau setara dengan 15.266
lt/det selama 6 bulan. Debit ini seluruhnya mencukupi untuk digunakan kegiatan pemeliharaan sungai di
bagian hilir New Sembayat Barrage.

5. Kesimpulan dan Saran .
Dengan adanya pendayagunaan Sumber Daya Air untuk Kawasan Pantura melalui ditinjau Aspek
Pendayagunaan Sumber Daya Air melalui pemanfaatan Sungai Bengawan Solo dapat disimpulkan :
1. Ketersediaan air (potensi ketersediaan) yang diperhitungkan setelah infrastruktur New Sembayat
Barrage dan Embung di lokasi perkebunan terbangun adalah sebesar 447.056.000m3.
2. Kebutuhan air yang diperhitungkan setelah infrastruktur New Sembayat Barrage dan Embung di
lokasi perkebunan terbangun adalah sebesar 209.639.754m3.
3. Neraca air untuk pemanfaatan pengembangan wilayah Pantura adalah surplus sebesar 237.416.256
m
3
. Sehingga ketersediaan air dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wilayah pantura,
pemenuhan air baku, irigasi, tambak dan sekaligus sisa surplus digunakan untuk pemeliharaan
sungai bagian hilir.
4. Diperlukan percepatan pembangunan Bendung Gerak New Sembayat sebagai infrastruktur utama
untuk pemenuhan kebutuhan air baku bagi pengembangan area Pantura.
5. Kedepan perlu adanya kebijakan dalam Pengelolaan Sumber Daya Air untuk daerah kawasan
Pantura melalui suatu Badan Pengelola Air yang bekerja sama Perum J asa Tirta I sehingga dapat
melakukan pembagian air secara adil dan merata juga bisa pengembangan kawasan daerah pantura
di daerah Gersik utara dan Lamongan Utara. Seperti adanya perluasan kawasan pantura juga
menjadi kawasan industri dan pemukiman sehingga diperlukan infrastruktur Sumber Daya Air
disekitar daerah tersebut seperti rawa jabung
6. Seluruh Stakeholder dalam kawasan pantura termasuk masyarakat harus diberi peran sesuai dengan
aturan yang ada dalam menetapkan pengalokasian Sumber daya air sehingga ada kontrol bersama
Pemerintah dan seluruh stake holder.
7. Kebutuhan air pada kawasan Pantura yang sangat terbatas maka diperlukan Pola Hemat air melalui
rekayasa SDA seperti teknik pemberian air secara konvensional menjadi Pola SRI. karena Pola SRI
menghemat air sekitar 30 50% dibandingkan dengan padi konvensional.

6. Daftar Pustaka.
1. Karsono Tadjudin Cs (2010), Lompatan Gila Bisnis Keluarga , PT Balai Puataka, J akarta.
2. Robert J Kodoatie & Roestam Sjarief (2010), Tata Ruang Air , CV.Andi Offset ,Yogyakarta.
3. Laboratorium Mekanika tanah dan Batuan ,ITS dan PDAB J awa Timur (2009) ,Penyelidikan tanah
di lokasi Desa Sukodono,Sedayu,Gresik.
4. J AWA POS (01 April 2010), PT Polowijo Gosari bangun Sentra hortikultura di lahan tidur.
5. HARIAN BANGSA(24 Mei 2010), PT Gosari percepat Ekonomi Pantura.










C-7
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
STUDI DAN ANALISIS WATER BALANCE DAS PAHANG, MALAYSIA
Noordiah Helda
1

1
Dosen Program Studi Teknik Sipil, Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) Banjarmasin, Kampus :
Fakultas Teknik UNLAM Banjarbaru, J l. A. Yani Km.36 Telp. (0511)4773858 E-mail :
Abstract
noordiah_helda@yahoo.com
An understanding of the water balance is extremely important for studies of the hydrological cycle.
With water balance data, it is possible to compare individual sources of water in a system, over different
space and time, and to establish the degree of their effects on variations in water regime. Knowledge of the
water balance assists the water resources management. This research is mainly focused on the Pahang River
Basin, which is the largest river basin in Peninsular Malaysia. The development of water balance analysis in
this basin is essential. It will be an important tool towards analyzing the rainfall-runoff regime and water
resources assesment of the humid tropical region, in particular the Pahang River Basin. The research deals
with analysis of water balance and its components in a large-scale catchment using several methods. Some
main analysis were conducted to approach the integration of water balance analysis: (1) preliminary water
balance analysis, which had given a first estimation of average potential evaporation of 1221 mm/y and an
RC value of 0.4; (2) potential evaporation analysis, which had concluded that the Penman-Monteith and the
Makkink methods can be used for humid tropical areas, with potential evaporation of 1100 to 1500 mm/y.
From the result analysis, it can be summarized that there is no significant difference results among methods.
Assesments of water balance for whole basin are useful inputs for further hydrological and water balance
studies, especially for humid tropical areas.
Keywords : water balance, water balance analysis, potential evaporation
1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Sebagai salah satu subyek penelitian, analisis hidrologi banyak dilakukan sebelum perancangan
suatu bangunan air. Menurut Dingman (2002), kemampuan untuk memahami dan memodelkan proses
hidrologi di suatu benua dan dalam skala global menjadi penting untuk memperkirakan efek perubahan
penggunaan lahan dan iklim secara luas. Di lain hal, pengetahuan tentang variasi hujan baik spatial dan
temporal masih kurang, terutama di Malaysia (Ong dan Liam, 1986). Walaupun begitu, masih ada sedikit
pengetahuan tentang karakteristik run-off pada hutan hujan tropis (Noguchi et al, 2005), tetapi masih terfokus
pada catchment yang kecil. Oleh karena itu, studi tentang komponen Water Balance dengan melihat pada
catchment yang lebih luas masih kurang.
Evapotranspirasi (ET) merupakan komponen penting Water Balance bagi hutan hujan tropis di
daerah rendah (lowland), sehingga menjadi penentu bagi jumlah aliran air pada lingkungan seperti itu
(Schellekens et al, 2000).
Penelitian ini difokuskan pada DAS Pahang (Gambar 1b), yang merupakan DAS terbesar (luas
29.300 km
2
) yang dilalui oleh Sungai Pahang (Gambar 1a) yang memiliki panjang 459 km di Semenanjung
Malaysia. Sungai tsb berhulu di pertemuan Sungai J elai dan Sungai Tembeling di Pegunungan Titiwangsa
dengan meander mengarah ke tenggara, melewati Kuala Lipis, Temerloh, Chenor, Mengkarak kemudian
berbelok ke timur di Lepar menuju Pekan, Kuala Pahang dan akhirnya mengalir menuju Laut China Selatan.
C-8
ISBN : 978-979-18342-2-3
Pengembangan analisis Water Balance pada DAS ini penting sebagai sarana untuk menganalisis rainfall-
runoff regime dan perkiraan sumber daya air pada daerah tropis, terutama DAS Pahang.

Gambar 1: a) River Network di Semenanjung Malaysia, b) DAS Pahang
(Sumber : di adopsi dari Wong, 2007)

1.2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui water balance (dengan menganalisis komponen-
komponennya) pada DAS Pahang, Malaysia, sehingga pemahaman tentang perilaku hidrologi pada daerah
tropis semakin membaik.

2. Tinjauan Pustaka
2.1. Definisi-definisi Terkait
Teknik Water Balance (Sokolov and Chapman, 1974), merupakan satu dari subyek utama dalam
hidrologi, merupakan cara pemecahan masalah bagi permasalahan hidrologi baik secara teoritis maupun
praktis. Analisis awal digunakan untuk menghitung komponen water balance secara individual, dan
mengkoordinasikan semua komponen dalam suatu persamaan kesetimbangan memungkinkan untuk
mengidentifikasi kekurangan pada distribusi stasiun pengukur, dan juga menemukan kesalahan sistematik
pada pengukuran. Akhirnya, studi water balance memberikan evaluasi tidak langsung bagi komponen water
balance yang tidak diketahui (unknown) dari selisih komponen-komponen yang diketahui (misal : untuk
evaporasi jangka panjang dari suatu DAS dapat dihitung dengan mengurangkan Hujan dengan Limpasan).
Analisis Water Balance (Sutcliffe, 2004) adalah suatu analisis dengan pendekatan teknik water
balance yang paling mudah diaplikasikan pada daerah tropis yang lembab (humid climate), dimana
transpirasi dapat diasumsikan hampir sama dengan PET (Potential Evapotranspiration).
Evapotranspirasi Potensial (Dingman, 2002) adalah laju evapotranspirasi yang terjadi pada suatu
area yang luas secara sempurna dan seragam dengan penutupan vegetasi yang mempunyai akses ke suplai air
tanah yang tidak terbatas, dan tanpa efek penyimpanan panas (advection). J adi, bisa dikatakan bahwa
evapotranspirasi potensial adalah evapotranspirasi maksimum yang terjadi.
C-9
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
2.2. Persamaan Water Balance
Dengan mengganggap suatu DAS dengan panjang waktu Lt, maka dapat ditulis persamaan water
balance (Dingman, 2002) sbb:
P +G (Q +ET +G in out ) =S (1)

Dimana :
P =presipitasi, hujan (mm)
Gin =aliran air tanah yang masuk (mm)
Q =debit sungai (mm)
ET =evapotranspirasi (mm)
Gout =aliran air tanah yang keluar (mm)
LS =perubahan tambungan (mm) dalam suatu periode waktu

Dalam analisis seperti ini, biasanya diasumsikan bahwa aliran air tanah dan LS diabaikan, jika diaplikasikan
untuk periode waktu yang panjang (bertahun-tahun), sehingga persamaan 1 menjadi :

ET =P Q (2)
2.3. Evapotranspirasi Potensial (PET)
Dalam praktik, PET dihitung dengan beberapa metode. Pada penelitian ini, dibatasi pada metode
yang paling umum digunakan dalam studi hidrologi (De Laat, 2002) sbb :
2.3.1. PET Kombinasi Penman-Monteith

C-10
ISBN : 978-979-18342-2-3
Data radiasi global RS lebih sering tersedia, tapi jika tidak, maka data tersebut dapat diperkirakan dari radiasi
matahari yang diterima pada bagian luar atmosfir, radiasi RA yang secara umum dapat ditulis:

dimana :
n/N =lamanya sinar matahari aktual (jam) / lamanya sinar matahari yang mungkin (jam)
2.3.2. PET dengan basis Radiasi : Metode Makkink
De Laat, 2002, menyatakan bahwa jumlah evapotranspirasi bagi tanaman rumput dengan suplai air
yang berlimpah, banyak ditentukan oleh tersedianya energi radiasi. Persamaan Makkink hanya didasarkan
pada data radiasi global dan suhu, yang dapat ditulis:

dimana:
CM =konstanta Makkink =0.65 =digunakan sebagai metode standar untuk memperkirakan PET tanaman
rumput oleh Badan Meteorologi Belanda.
2.3.3. PET berbasis suhu : Blaney-Criddle
Metode Blaney-Criddle dapat diaplikasikan jika suhu udara rata-rata adalah satu-satunya data yang
tersedia. Metode ini dikembangkan di Amerika Serikat untuk memperkirakan penggunaan air untuk tanaman
perbulannya. Adapun rumusnya adalah sbb:
ET
BC
=Kp (0.45 T
a
+8.13)
(5)
dimana:
ET
BC
=PET Blaney-Criddle (mm/bulan)
K =Koefisien tanaman =0.75 untuk rumput, 1.0-1.2 untuk padi
P =pensentase bulanan banyaknya jam siang dalam setahun (jam)
Ta =suhu udara rata-rata bulanan (selama 24 jam rata-rata)

2.4. Evapotranspirasi Aktual (ETa) dengan menggunakan Soil Moisture Accounting
Prosedur sederhana (De Laat, 2006) mengasumsikan bahwa pada saat awal interval irigasi di zone
perakaran berada pada Kapasitas Lapang (Field Capacity). Available Moisture (AM) didefinisikan sebagai:

dimana:
Dr =kedalaman zone perakaran (mm)
FC = moisture content saat field capacity ( = -100 cm)
WP = moisture content saat wilting point ( = -16000 cm)

Fraksi p dari AM sudah tersedia (Readily Available Moisture, RAM =pAM), yang berarti selama pemakaian
air oleh tanaman, evapotranspirasi aktual mempunyai nilai yang sama dengan evapotranspirasi maksimum
atau evapotranspirasi potensial (ETa=ETm =PET). Nilai p bergantung pada jenis tanaman dan kebutuhan
akan evaporasi (Epot) yang berkisar antara 0,2 0,8, tapi h sering digunakan harga rata-rata 0,5.
C-11
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
Untuk kondisi pada saat waktu t, actual moisture content, Mt di zone perakaran mencapai nilai (1-p)AM,
dapat diasumsikan bahwa evapotranspirasi relatif akan berkurang secara linier dari harga 1 sampai 0 ketika
semua available moisture telah digunakan, sehingga : Untuk :

Yang harus dicatat adalah untuk persamaan water balance di atas, cappilary rise diabaikan (dengan asumsi
muka air tanah yang dalam) dan hujan netto (setelah dikurangi dengan intersepsi) masuk ke tanah (tidak ada
run-off).
2.5. Ketersediaan Data

Untuk studi ini, data yang tersedia pada DAS Pahang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Ketersediaan Data









No. Data Periode J umlah
Stasiun
Lokasi/ Nama Stasiun Sumber
1 Hujan harian 1985 -2004 8 Di dalam
DAS (5)
Bukit Betong,Kg. Merting,
Kg.Serambi, Lubok Paku
dan Ldg. Mentakab.
DID, NOAA
Di luar
DAS (3)
Kuantan, Malacca dan KL
Subang

2 Run-off 1985 -2004 5 Di dalam Sg. J elai B, Sg. J elai A, DID
DAS Sg. Pahang C, Sg. Pahang
B dan Sg. Triang
3 Evaporasi 1985 -2004 12 Class A pan (6 stasiun)
Raw data ( 6 stasiun)
DID NOAA
C-12
ISBN : 978-979-18342-2-3
3. Metodologi
Metodologi yang digunakan pada penelitian ini didasarkan pada perumusan masalah, studi pustaka,
konsep dan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya. Secara umum, dimulai dari studi pustaka, diikuti
dengan persiapan data dan analisis dan diakhiri dengan penulisan laporan. Khusus untuk persiapan data, data
meteorolgi yang diperlukan diperoleh dari DID (Department of Irrigation and Drainage, Malaysia) dan
NOAA website. Untuk memperoleh catchment area,stream network dan lokasi yang tepat bagi stasiun hujan,
debit dan evaporasi, digunakan ArcGIS 9.2
J alannya penelitian dan prosedur analisis data dapat dilihat dari bagan alir pada gambar 2 berikut:

Gambar 2. Prosedur J alannya Penelitian
4. Hasil dan Diskusi
4.1. Preliminary Water Balance Analysis
Penentuan hujan DAS pada studi ini didasarkan pada metode Poligon Thiessen. Garis-garis
digambarkan untuk menghubungkan sembilan (9) stasiun hujan yang ada. Garis penghubungnya berpotongan
tegak lurus untuk membentuk sebuah poligon setiap stasiunnya, yang dapat dilihat pada Gambar 3.
Berdasarkan pada pembagian sub-DAS C1, C2, C3, C4 dan C5, maka perhitungan weight mengacu pada
penentuan batas DAS dengan kombinasi Poligon Thiessen.

Gambar 3. Poligon Thiessen untuk setiap Sub-DAS
C-13
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa setiap sub-DAS mempunyai batas stasiun pengukur debit, sehingga dapat
digambarkan batas sub-DAS (garis hijau) yang berdasarkan pada water divide. Setiap sub-DAS memiliki
batasnya masing-masing. C5 merupakan area keseluruhan DAS, dimana stasiun pengukur debit berada pada
bagian hilir sistem sungai Pahang. Perhitungan weight dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perhitungan Weight

Sumber : diadopsi dari Helda, 2008
Hasil perhitungan untuk Preliminary Water Balance Analysis dapat dilihat pada Tabel 3. Dapat disimpulkan
bahwa harga parameter water balance berada pada kisaran yang sama, kecuali pada sub-DAS C1. Hal ini
dimungkinkan karena lokasi sub-DAS C1 yang terletak di kawasan Pegunungan Titiwangsa yang memiliki
kemiringan yang terjal sehingga memberikan nilai RC (run-off coefficient) yang tinggi, sementara sub-DAS
C4 terletak di dataran yang rendah (nilai RC cukup kecil).
Tabel 3.Overview Analisis Statistik untuk semua Sub-DAS

Dari Tabel 3. dapat disimpulkan untuk setiap sub-DAS:
a. Hujan, semua sub-DAS memiliki kisaran nilai hujan yang sama, yaitu 2000-2500 mm/tahun.
b. Run-off, semua sub-DAS memiliki kisaran nilai run-off yang sama, yaitu 900 mm/tahun.
c. Selisih hujan dan run-off merupakan PET dengan kisaran nilai 1200 mm/tahun.
d. Nilai RC, semakin tinggi lokasi, semakin tinggi juga nilai RC.
C-14
ISBN : 978-979-18342-2-3
Pada Gambar 4 ditunjukkan hujan bulanan untuk DAS C5 menurut tahun hidrologi yang telah dihitung
sebelumnya. Bulan Desember merupakan bulan dimana curah hujan mencapai nilai tertinggi, kecuali pada
tahun 1994, 2002 dan 2004. Nilai curah hujan bulanan ini dapat digunakan untuk menentukan curah hujan 3
bulanan yang dipilih. Pada studi ini, telah dipilih untuk memulai pada bulan Desember, J anuari dan Februari
yang dapat dilihat pada Gambar 5.



Gambar 4. Hujan Bulanan untuk DAS C5
Pada Gambar 5, dapat disimpulkan bahwa untuk semua tahun hidrologi memiliki trend yang sama, terdapat
nilai maksimum dan minimum. Nilai maksimum terjadi pada Sep-Okt-Nov (SON), kecuali di tahun 1995 dan
2000. Nilai minimum hujan 3 bulanan terjadi pada bulan J un-J ul-Agst (J J A) juga Maret-April-Mei (MAM).

Gambar 5. Hujan 3 bulanan untuk DAS C5
Pada Tabel 4 diperlihatkan perhitungan water balance 3 bulanan untuk C5. Hujan DAS total adalah 1928
mm/tahun, dengan hujan 3 bulanan minimum 404 mm/3 bulan yang terjadi pada bulan J un-J ul-Agst (J J A)
dan hujan 3 bulanan maksimum 590 mm/3 bulan yang terjadi pada bulan Sept-Okt-Nov (SON). Untuk run-
off total adalah 816 mm/tahun yang terjadi pada bulan Des-J an-Feb (DJ F). Nilai selisih (P-R) dapat
dipertimbangkan sebagai PET rata-rata untuk DAS tsb. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa hujan
maksimum menghasilkan PET maksimum dan juga sebaliknya. Menurut Hickel dan Zhang (2006), pada
basis hujan tahunan rata-rata, dalam kondisi yang benar-benar basah, Eta akan mendekati secara asimtotis
PETnya. Untuk nilai RC, berkisar antara 0,38-0,54, dengan harga rata-rata 0,4, yang merupakan nilai RC
untuk daerah tropis yang lembab. Semua nilai yang ada pada Tabel 4 ada dalam kisaran hujan dan
evapotranspirasi tahunan yang terjadi di Semenanjung Malaysia (EPU, 1999). J uga berbanding lurus dengan
negara tropis yang lembab lainnya seperti Amazonia, Brazil (yang merupakan satu dari DAS terbesar di
dunia) yang memiliki hujan tahunan rata-rata 1930 mm/tahun dan evapotranspirasi tahunan 1430 mm/tahun
(DAlmeida dkk, 2006).
C-15
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
Tabel 4. Overview Water Balance 3 bulanan untuk C5




4.2. Analisis PET
Dalam perhitungan PET untuk setiap stasiun, digunakan tiga (3) metode seperti yang telah
disebutkan pada metodologi penelitian. Untuk metode Penman-Monteith, PET dihitung untuk 4 stasiun saja,
karena data kecepatan angin pada 2 stasiun lainnya tidak tersedia. Untuk metode Makkink dan Blaney-
Criddle, semua stasiun yang ada dapat dihitung.
Tabel 5. menunjukkan summary PET tahunan dari data meteorologi yang didapat dari NOAA dan DID.
Perbandingan ketiga metode dapat dilihat pada Gambar 6.
Tabel 5. Summary PET tahunan untuk setiap stasiun




C-16
ISBN : 978-979-18342-2-3

Gambar 6. Perbandingan nilai PET pada beberapa metode: a)Penman-Monteith b)Makkink c)Blaney-Criddle
(Sumber : diadopsi dari Helda, 2008)
Dari Tabel 5 dan Gambar 6, dapat dijelaskan bahwa nilai PET yang dihitung dengan metode Penman-
Monteith dan Makkink sesuai dengan PET untuk daerah tropis (DAS Pahang), dengan kisaran nilai 1100 s.d.
1500 mm/tahun, yang sesuai dengan PET dalam analisis water balance sebelumnya (1221 mm/tahun).
C-17
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
Sedangkan, metode Blaney-Criddle over-estimate nilai PET untuk DAS Pahang. Pada Gambar 6.(a), nilai
PET (Penman-Monteith) pada tahun 1998 berada jauh dari data lainnya (ditunjukkan dengan bentuk oval
merah), dapat dikatakan sangat jauh lebih kecil dari stasiun lainnya. Hal ini dimungkinkan karena banyaknya
nilai kecepatan angin yang hilang pada tahun 1998 tersebut, yang tentunya mempengaruhi perhitungan PET
metode Penman-Monteith yang diharapkan memiliki nilai lebih tinggi daripada stasiun lain, mengikuti trend
seperti pada tahun yang lainnya untuk stasiun KL Subang.
4.3. Analisis Eta
Dengan mempertimbangkan intersepsi, Eta dihitung dengan menggunakan model soil moisture
accounting. Pada model ini, diambil asumsi jenis tanahnya berupa sandy loam (lempung berpasir).
Kedalaman untuk zone perakaran dibedakan untuk daerah berumput (300 mm) dan hutan (1500 mm).
Summary PET dan Eta dapat dilihat pada Tabel 7 berikut:
Tabel 7. Summary PET dan Eta Tahunan

Dari Tabel 7 dan Gambar 7, dapat dilihat bahwa nilai PET berkisar antara 1100 -1500 mm/tahun, dimana Eta
berkisar antara 800 1200 mm/tahun. Secara umum, nilai PET lebih tinggi daripada Eta, namun pada
perhitungan PET untuk rumput lebih tinggi daripada hutan, yang seharusnya adalah sebaliknya. Hal ini
mungkin dikarenakan sensitivitas parameter yang terlibat (suhu dan kelembaban) dalam perhitungan PET
Penman-Monteith.

Gambar 7. PET dan Eta tahunan
C-18
ISBN : 978-979-18342-2-3
4.4. Summary
Dalam pengertian studi dan analisis water balance, penelitian ini mencoba untuk menggabungkan
semua aspek dari komponen water balance. Nilai analisis tahunan rata-rata untuk semua komponen water
balance dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Overall Analisis Tahunan Rata-rata

Pada Tabel 9, ditunjukkan nilai tahunan rata-rata sebagai referensi (berhubungan dengan komponen water
balance) dari beberapa literatur untuk Malaysia secara umum dan Semenanjung Malaysia secara khusus.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa hampir semua nilainya berada dalam kisaran nilai dari literatur.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa studi ini dapat digunakan untuk pengembangan di masa depan
studi tentang water balance pada DAS Pahang khususnya dan Malaysia pada umumnya.
Tabel 9. Nilai Tahunan Rata-rata sebagai Referensi (dari literatur)









5. Kesimpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a) Dengan Preliminary water balance analysis, dapat diberikan perkiraan pertama PET pada DAS Pahang
sebesar 1221 mm/tahun.
b) Penman-Monteith lebih disukai pemakaiannya, jika diketahui data-data meteorologi yang tersedia di
Indonesia.
c) Dengan menggunakan soil moisture accounting, Eta diitung. Secara umum, Pet lebih tinggi nilainya dari
ETa.
5.2. Saran
a) Penggunaan analisis water balance dapat direkomendasikan bagi negara berkembang yang hanya sedikit
memiliki peralatan laboratorium dan data.
b) Dengan banyaknya data lengkap tentang vegetasi, land use dan soil type akan sangat berarti dalam
perhitungan PET dan ETa.
c) Studi lanjut tentang intersepsi perlu dilakukan dengan lebih banyak pengukuran dan pengumpulan data
C-19
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
seperti komponen-komponen intersepsi.
Terimakasih dan penghargaan ditujukan bagi Prof. Stefan Uhlenbroek dan DR. Raymond Venneker, sebagai
pembimbing tesis S2 di UNESCO-IHE Institute for Water Education, Delft, The Netherlands. J uga bagi
NESO J akarta atas dukungannya melalui beasiswa StuNed.

Referensi
De Laat, P. J . M (2006), Soil-Water-Plant Relations, Lecture Notes, Unesco-IHE Institute for Water
Education, Delft, The Netherlands.
Dlmeida, C., et al (2006), A water balance model to study the hydrological response to different scenarios
of deforestation in Amazonia, J ournal of Hydrology, 331,125-136.
DID (1976), Evaporation in Peninsular Malaysia, Water Resources Publication No.5, Ministry of
Agriculture Malaysia.
DID (2003), National Register of River Basin: Final Report of Updating condition of flooding in Malaysia,
Department of Irrigation and Drainage Malaysia.
Dingman, S.L. (2002), Physical Hydrology 2nd edition, Prentice-Hall, Inc, New J ersey.
EPU (1999), Masterplan for the development of water resources in Peninsular Malaysia 2000-2050,
Economic Planning Unit, Kuala Lumpur.
Helda, N. (2008), Water Balance Study and Analysis for the Pahang River Basin, Malaysia, M. Sc. Thesis,
UNESCO-IHE Institute for Water Education, Delft, The Netherlands.
Hickel, K., and L. Zhang (2006), Estimating the impact of rainfall seasonality on mean annual water balance
using a top-down approach, J ournal of Hydrology, 331, 409-424.
Noguchi, S., et al. (2005), Runoff characteristics in a tropical rain forest catchment, J ournal Agricultural
Research Quarterly (J ARQ), 39(3), 215-219.
Ong, C.Y., and W. L. Liam (1986), Variation of rainfall with area in Peninsular Malaysia: Water Resources
Publication No. 17, Department of Irrigation and Drainage Malaysia.
Schellekens, J ., et al. (August 2000), Evaporation from a tropical rain forest, Luquillo Experimental Forest,
eastern Puerto Rico, Water Resources Research 36, 2183-2196.
Sokolov, A. A., and T. G. Chapman (1974), Methods for water balance computations: An international guide
for research and practice, The UNESCO Press, Paris.
Sutcliffe, J . V. (2004), Hydrology: A question of balance, IAHS Press.
Wong, C. L. (2007), Assesment and modelling of large-scale hydrological variability in Peninsular
Malaysia, PhD research proposal thesis, UNESCO-IHE Institute for Water Education, Delft, The
Netherlands.











C-20
ISBN : 978-979-18342-2-3

















































Halaman ini sengaja dikosongkan

C-21
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

DENTIFIKASI KONDISI GEOLOGI, HIDROGEOLOGI
DAN KOMPONEN HIDROLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI BONE
DI PROVINSI GORONTALO

Tatas
Dosen/ Peneliti Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.
tatas@ce.its.ac.id

Abstrak

Daerah Aliran Sungai Bone yang bermuara di Kota Gorontalo merupakan kesatuan wilayah daerah
tangkapan air yang akan memberikan pengaruh pada sirkulasi air di daerah tersebut. Di daerah tangkapan air
ini terjadi sirkulasi hidrologi yang mencangkup presipitasi, evaporasi, infiltrasi, run-off, dan lain-lain. Setiap
komponen tersebut akan saling berpengaruh, karena merupakan sebuah siklus yang tidak terputus. Informasi
terkait Das Bone, baik data hujan dan klimatologi maupun dari tulisan ilmiah sangat minimal. Di paper ini
dikaji kondisi geologi, hidrogeologi, serta komponen hidrologi Das Bone seperti curah hujan, data
klimatologi, penguapan, water storage, dan lain-lain dengan menggabungkan beberapa metode seperti
Gridded Surface Subsurface Hydrologic Analysis (GSSHA), Poligon Thiesen, Penman dan Debit Banjir
Nakayasu. Berdasarkan hasil studi pustaka dan analisis diperoleh bahwa kondisi geologi terlihat adanya
penunjaman oleh Lempeng Laut Philipina, sehingga tumbukan ini menyebabkan Provinsi Gorontalo
umumnya berbukit-bukit. Kondisi hidrogeologi di Das Bone memperlihatkan bahwa sebaran potensi
cekungan airtanah di Das Bone jika dibandingkan dengan luasan das jauh lebih kecil. Nilai komponen
hidrologi di Das Bone adalah curah hujan 1500 - 2000 mm per tahun, evapotranspirasi 1600 mm per tahun,
debit banjir berdasarkan Nakayasu untuk curah hujan sebesar 2 mm, 6 mm, 10 mm berturut-turut adalah 45
m
3
/det, 135 m
3
/det dan 230 m
3
/det.

Kata kunci : Das Bone, Geologi, Gorontalo, Hidrogeologi, Hidrologi.


PENDAHULUAN
Daerah aliran sungai (das) sebagai kesatuan wilayah daerah tangkapan air akan memberikan pengaruh pada
sirkulasi air di daerah tersebut. Di daerah tangkapan air ini terjadi sirkulasi hidrologi yang mencangkup
presipitasi (hujan), evaporasi (penguapan), infiltrasi (peresapan), run-off (aliran permukaan), dan lain-lain.
Setiap komponen tersebut akan berpengaruh satu dan lainnya, karena merupakan sebuah siklus yang tidak
terputus.

Daerah Aliran Sungai Bone sebagai das yang bermuara di Kota Gorontalo merupakan salah satu dari tiga das
yang bermuara di kota ini. Selain Das Bone, ada juga yang berasal dari Das Bolango dan Das Talamate, yang
keduanya mengalir dari arah utara Gorontalo. Sementara itu, Das Bone berasal dari sebelah sisi timur
Provinsi Gorontalo (lihat gambar 1).

Sedikitnya informasi mengenai Das Bone maka otomatis akan mempersulit studi tentang das ini. Kondisi
tersebut diperparah dengan sedikitnya stasiun-stasiun pengukur komponen hidrologi seperti stasiun hujan
maupun stasiun klimatologi di das ini. Pada tulisan ilmiah ini akan dikaji komponen-komponen hidrologi,
geologi dan hidrogeologi di Das Bone seperti curah hujan, data klimatologi, penguapan, water storage, dan
lain-lain, yang berhasil dikumpulkan dari data primer yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi
dan Geofisika (BMKG) di bandara udara di Kota Gorontalo.


C-22
ISBN : 978-979-18342-2-3


Gambar 1. Lokasi Das Bone pada peta Provinsi Gorontalo (Pemda Provinsi Gorontalo, 2004).


METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kajian atas penelitian-penelitian terdahulu, Gridded
Surface Subsurface Hydrologyc Analysis (GSSHA) untuk mendeliniasi batas-batas das dan menentukan
daerah pengaruh hujan, Poligon Thiesen untuk menghitung distribusi hujan, Metode Penman untuk
menghitung penguapan, dan untuk metode perhitungan debit menggunakan debit banjir Nakayasu.

Gridded Surface Subsurface Hydrologyc Analysis (GSSHA)
Deliniasi daerah aliran sungai didasarkan pada model yang dikembangkan Downer & Ogden (2002) yaitu
Gridded Surface Subsurface Hydrologic Analysis (GSSHA).

Poligon Thiesen




Keterangan :

=rata-rata hujan (mm).

=curah hujan di poligon ke-i yang tercatat di stasiun hujan poligon ke-i (mm).

=luas poligon ke-i (km


2
).
A =luas total catchment area (km
2
).

Metode Penman
Metode Penman didasarkan atas kesetimbangan energi untuk menghitung perubahan volume air antara
penguapan permukaan dan atmosfer. Kebutuhan data untuk menghitung evapotranspirasi dengan metode
tersebut adalah temperatur maksimum, temperatur minimum, radiasi matahari, kelembaban, kecepatan angin,
curah hujan dan jumlah hari hujan. Dalam hitungan, beberapa data juga tergantung dari posisi astronomisnya,
misalnya untuk data radiasi.

Debit Banjir Nakayasu
Formula hidrograf banjir yang dikembangkan oleh Nakayasu adalah :
Q
p
=
C A R
o
3,6 0,3 T
p
+ T
0,3



Keterangan :
Q
p
=debit puncak banjir (m
3
/det)
R
0
=curah hujan (mm)
T
p
=waktu mulai hujan sampai puncak banjir (jam), T
p
= t
c
+ 0,8 t
r

T
0,3
=waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak sampai menjadi 30% dari debit
puncak (jam).

=
1

=1


C-23
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

Waktu konsentrasi

f c
t t t + =
0

Keterangan :
t
c
=waktu konsentrasi (menit).
t
o
=waktu yang diperlukan untuk mengalirkan air di lahan hingga mencapai saluran (menit).
t
f
=waktu yang diperlukan air untuk mengalir pada saluran hingga mencapai titik yang ditinjau (menit).

Nilai to berdasarkan Kerby :
467 . 0
0
0 0
44 . 1

=
S
n
L t

keterangan,
t
o
=waktu pengaliran di lahan (menit).
L
o
=panjang lahan dari titik terjauh hingga saluran (m).
n =koefisien kekasaran permukaan lahan (n Kerby berdasarkan Ven Te Chow, et all 1988)
S
o
=kemiringan lahan

Nilai tf berdasarkan Nakayasu
L<15 km t
f
= 0,21 L
0,7

L>15 km t
f
= 0,4 + 0,058 L

Keterangan :
L =panjang alur sungai (km)
tr =antara 0,5*tc hingga tc

Nilai T
0,3
Nakayasu
T
0,3
= t
c

Keterangan :
=2 untuk daerah pengaliran biasa
=1,5 untuk bagian hidrograf naik yang lambat dan bagian menurun yang cepat
=3 untuk bagian hidrograf naik yang cepat dan bagian menurun yang lambat

Koefisien pengaliran
Koefisien ditentukan berdasarkan jenis tutupan lahannya, semakin mudah lahan menyerap air maka semakin
kecil nilai koefisien pengalirannya. Dalam satu DAS tentunya tidak hanya ada satu jenis tutupan lahan,
namun bisa terdiri dari bermacam-macam jenis. Misalnya, tutupan lahan bisa berupa perumahan, hutan,
daerah pertanian, dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan nilai C, maka dilakukan perhitungan nilai C
gabungan yang perbandingannya berdasarkan luas dari jenis-jenis tutupan lahan tersebut (Sosrodarsono,
...........).

HASIL DAN DISKUSI
1. Geologi
Das Bone, dalam hal ini Provinsi Gorontalo merupakan bagian dari Lempeng Eurasia, yang mengalami
penunjaman oleh Lempeng Laut Philipina. Di sebelah utara Provinsi Gorontalo, terdapat zona tumbukan,
tepatnya berada di Laut Sulawesi. Tumbukan ini menyebabkan Provinsi Gorontalo umumnya berbukit-bukit.
Selain tumbukan yang berasal dari utara, juga ada tumbukan yang berasal dari sebelah timur Pulau Sulawesi
(lihat Gambar 2). Adanya proses geologi seperti itu, menyebabkan di daerah ini terjadi mineralisasi sehingga
merupakan daerah potensial untuk pertambangan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Kotamubago, di daerah
hilir Das Bone terdapat sesar yang membujur ke arah Barat - Timur dan Barat Laut - Tenggara (Gambar 3).
J adi Das Bone dipotong oleh sesar geser kanan (dextral), yaitu sesar yang membujur dari Barat Laut -
Tenggara.


C-24
ISBN : 978-979-18342-2-3


Gambar 2. Peta Sebaran Gempa Bumi dan Zona Penunjaman (Oktariadi, 2007)



Gambar 3. Peta Geologi dalam Cakupan DAS Bone (garis hitam putus-putus)
Sumber: Apandi dan Bahtiar (1997) PT. Sarana Bhuana J aya, 2007.


2. Hidrogeologi
Potensi hidrogeologi di Provinsi Gorontalo, khususnya yang dilingkupi oleh Das Bone terdiri atas tiga
Cekungan Airtanah (CAT). Ketiga CAT tersebut adalah CAT Bone (luas 326 km
2
), CAT Pinogu (luas 112
km
2
) dan CAT Gorontalo (luas 481 km
2
). Potensi airtanah bebas dan tertekan di ketiga CAT tersebut
berturut-turut adalah sebagai berikut ini: 143 juta m
3
/tahun dan 13 juta m
3
/tahun, 31 juta m
3
/tahun dan 4 juta
m
3
/tahun, 195 juta m
3
/tahun dan 17 juta m
3
/tahun (Danaryanto, dkk 2005). Sebaran potensi cekungan
airtanah di Das Bone jika dibandingkan dengan luasan das jauh lebih kecil.

C-25
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010


Gambar 4. Peta Potensi Airtanah Tertekan dan Bebas di Cekungan Airtanah di Provinsi Gorontalo

3. HIDROLOGI
Batas Das dan Luasan Poligon Thiesen
Deliniasi batas Das Bone dengan menggunakan program komputer yang menggunakan aplikasi Gridded
Surface Subsurface Hydrologyc Analysis (GSSHA). Dalam program tersebut menggunakan bantuan data
topografi dengan format Digital Elevated Model (*.dem). Tahapan yang digunakan adalah dengan cara
menentukan titik outlet das terlebih dahulu, selanjutnya secara otomatis program mendeliniasi batas das yang
dikehendaki. Berdasarkan hasil deliniasi maka GSSHA dapat menghitung luas Das Bone. Hasil deliniasi
menunjukkan bahwa luas Das Bone adalah 1236,45 km
2
(lihat Gambar 5).


Gambar 5. Deliniasi DAS Bone

GSSHA juga mampu membuat luasan daerah pengaruh hujan berdasarkan model Poligon Thiesen. Tampilan
yang diberikan adalah berupa luasan daerah pengaruh dengan memasukkan koordinat astronomis tiap stasiun
hujan. Selanjutnya tampilan luasan tersebut dianalisis dan menghasilkan luasan daerah pengaruh pada
Stasiun Suwawa adalah 15%, sedangkan luas daerah pengaruh Stasiun Tilongkabila mencapai 85%.


C-26
ISBN : 978-979-18342-2-3

Berdasarkan Peta Provinsi Gorontalo yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat, dengan skala peta
1:300.000, ada sekitar 17 anak sungai yang bermuara di Sungai Bone, ke 17 anak sungai tersebut sebagai
sumber air di Sungai Bone. Sumber air sungai ini berasal dari pegunungan dan bukit yang berada di daerah
hulu, seperti Gunung Tapambundu (876 meter di atas muka laut) yang mengalirkan Sungai Moloti, Gunung
Taneya, dengan elevasi 803 meter, yang mengalirkan Sungai Bulawa, Pegunungan Perantanaan, Gunung
Molintogupo (1170 meter di atas muka laut), Gunung Olaola (1584 meter), serta Pegunungan Tilongkabila
yang mengalirkan Sungai Bulaw. Pengunungan dan gunung tersebut berada di sisi sebelah utara Sungai
Bone. Sumber air DAS Bone yang berasal dari sisi selatan adalah Gunung Taneya (803 meter) yang
mengalirkan Sungai Bulawa, Gunung Imani (1495 meter) dan Gunung Ledaleda (993 meter) yang
mengalirkan Sungai Tulabolo dan Gunung Lantadutomula (932 meter) yang mengalirkan Sungai Dumayo.

Selain berasal dari sisi utara dan sisi selatan Sungai Bone, Das Bone juga mencakup Provinsi Sulawesi Utara
sebelah barat. Sumber air Das Bone yang berasal dari Sulawesi Utara dialirkan oleh Sungai Balagudu. Das
Bone yang masuk Provinsi Sulawesi Utara seluas 190,26 km
2
, atau 15,4% dari luas total Das Bone (lihat
Gambar 6).


Gambar 6. Batas Das Bone (garis hitam putus-putus)
yang mencakup Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Utara

Bentuk DAS Bone adalah memanjang. Panjang sisi memanjang DAS Bone hingga 73,04 km dan sisi
melintangnya adalah 32,07 km (lihat Gambar 6). Bentuk DAS tersebut akan berakibat pada perilaku aliran
sungainya. Waktu tempuh yang dibutuhkan air hujan hingga mencapai muara (outlet) Sungai Bone akan
lebih lama jika dibandingkan untuk bentuk das yang pendek. Apabila terjadi hujan di daerah hulu, maka tidak
secara serta merta air mencapai outlet, namun membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapainya.
Sehingga di daerah hilir debit air bisa saja berubah besar meskipun disekitarnya tidak sedang hujan.

Curah Hujan dan Klimatologi
Provinsi Gorontalo merupakan provinsi yang relatif masih baru, dan merupakan hasil pemekaran dari
Provinsi Sulawesi Utara. Karena sebagai provinsi baru, maka informasi data sekunder curah hujan dan
klimatologi sangat kurang. J umlah stasiun hujan yang berhasil diidentikasi ada tiga stasiun dengan data hujan
yang cukup bagus yaitu BMKG Bandara Udara J alalludin (0,39
o
LU, 122,51
o
BT), Stasiun Hujan Tilongkabila
di Kecamatan Tilongkabila dan Stasiun Hujan Suwawa (0,53
o
LU, 123,4
o
BT). Lokasi Stasiun BMKG
J alalludin berada di luas Das Bone sedangkan dua stasiun hujan yang lain berada di sebelah hilir DAS Bone.
Selain ketiga stasiun hujan tersebut terdapat beberapa stasiun hujan lainnya, namun karena terlalu banyak
data yang tidak lengkap (tidak tercatat) maka tidak digunakan dalam analisis hidrologi.


Karakter hujan di DAS Bone cenderung ada sepanjang tahun, dengan rata-rata curah hujan 1500 - 2000 mm
per tahun, dengan temperatur antara 23
o
C -31
o
C. Harga evapotranspirasi di daerah tersebut termasuk besar,

C-27
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

dengan rata-rata mencapai 1600 mm per tahun. Meskipun Das Bone cenderung mengalami hujan sepanjang
tahun, karena penguapan yang tinggi maka water surplus juga tidak terlalu besar, bahkan cenderung
mengalami nilai nol (lihat gambar 7). Kondisi tersebut juga diperparah dengan kondisi topografi yang
berbukit-bukit. Kondisi tersebut mengakibatkan hujan yang terjadi akan dengan mudah mengalir sebagi
aliran permukaan. Karena limpasan yang besar tersebut maka setiap hujan akan berpotensi menjadi banjir,
sehingga menyebabkan minimnya jumlah air hujan yang terinfiltrasi, yang pada akhirnya mengurangi sumber
pasokan airtanah. Curah hujan tinggi cenderung terjadi pada bulan Oktober hingga J uni. Rata-rata curah
hujan di bulan-bulan tersebut adalah di atas 100 mm/bulan tepatnya hingga 172 mm/bulan. Sedangkan pada
bulan J uli hingga Nopember cenderung mengalami penurunan tinggi curah hujan, yaitu berkisar antara 60-
100 mm/bulan. Berbeda dengan tinggi curah hujan, evapotranspirasi sepanjang tahun cenderung stabil. Nilai
evapotranspirasi berkisar antara 120-155 mm/bulan.

Tataguna Lahan
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tutupan lahan di DAS Bone didominasi oleh hutan, selain itu juga
lahan pertanian dan perkebunan, serta permukiman penduduk. Permukiman penduduk tidak lebih dari 10%
luas DAS, yaitu sekitar 104,28 km
2
. Sehingga dapat dikatakan bahwa luas lahan tertutup di DAS Gorontalo
adalah 1132,18 km
2
.

Hidrograf Banjir
Berdasarkan hasil analisis, kemiringan lahan 0,136, panjang lintasan di lahan 4934,74 meter, kemiringan
saluran 0,016 dengan panjang 84,76 km. Waktu pengaliran dilahan 45,7 menit dan di saluran 5,3 jam. Nilai
Tp adalah 8,5 jam dan T0,3 adalah 9,1 jam. Nilai koefisien pengaliran gabungan adalah 0,77 maka hidrograf
banjir yang mungkin terjadi untuk berbagai variasi curah hujan dapat dilihat pada Gambar 11. Gambar 11
memperlihatkan bahwa untuk waktu puncak yang sama (t
p
=8,5 jam), dengan harga curah hujan (R) yang
berbeda, akan menghasilkan nilai debit puncak banjir yang berbeda. Untuk curah hujan R =4 mm, akan
menghasilkan debit puncak sebesar 90 m
3
/det. Dengan demikian dapat disimpulkan berapa nilai Q
berdasarkan nilai besarnya curah hujan.

Bentuk hidrograf banjir yang lebih condong ke sisi sebelah kiri memperlihatkan bahwa antara waktu menuju
banjir puncak lebih cepat dari pada waktu surut banjir. Yang perlu diperhatikan adalah, bahwa asumsi curah
hujan tersebut adalah curah hujan seragam, artinya terjadinya hujan dalam satu das dalam waktu yang
bersamaan secara merata. Karena tingkat sebaran alat pengukur curah hujan yang tidak merata dan
jumlahnya hanya dua, keakuratan kejadian hujan di lapangan sulit diprediksi, apalagi biasanya hujan terjadi
secara lokal (setempat). Namun demikian dengan melakukan simulasi berbagai bentuk hidrograf banjir
masalah tersebut dapat diminimalisir ketidakakuratannya.



Gambar 7. Rata-rata Curah Hujan, Evapotranspirasi dan Water Surplus dalam Kurun Waktu Setahun
0,0
50,0
100,0
150,0
200,0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
m
m
/

b
u
l
a
n
bulan
Curah Hujan
Limited
Evapotranspira
tion
Water Surplus

C-28
ISBN : 978-979-18342-2-3

T
a
b
e
l

3

R
a
t
a
-
r
a
t
a

E
v
a
p
o
t
r
a
n
s
p
i
r
a
s
i

d
i

D
A
S

B
o
n
e



C-29
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

Gambar 11. Hidrograf kejadian banjir berdasarkan berbagai variasi curah hujan (R dalam mm)


KESIMPULAN
Kondisi geologi di Das Bone sebagai bagian wilayah di daratan Sulawesi sebelah utara memperlihatkan
bahwa adanya penunjaman oleh Lempeng Laut Philipina, sehingga tumbukan ini menyebabkan Provinsi
Gorontalo umumnya berbukit-bukit. Adanya proses geologi seperti itu, menyebabkan di daerah ini terjadi
mineralisasi sehingga merupakan daerah potensial untuk pertambangan. Kondisi hidrogeologi di Das Bone
memperlihatkan bahwa sebaran potensi cekungan airtanah di Das Bone jika dibandingkan dengan luasan das
jauh lebih kecil. Beberapa komponen yang berhasil diidentifikasi di Das Bone adalah curah hujan tahunan
sebesar 1500 - 2000 mm per tahun, evapotranspirasi sebesar 1600 mm per tahun, debit banjir berdasarkan
Nakayasu untuk curah hujan sebesar 2 mm, 6 mm, 10 mm berturut-turut adalah 45 m
3
/det, 135 m
3
/det dan
230 m
3
/det.


Referensi :

Anonim, -, Konservasi Daerah Tangkapan Air Dan Sumber-Sumber Air, Model Revitalisasi Sungai Bone,
Gorontalo

Danaryanto, dkk., 2005, Airtanah di Indonesia dan Pengelolaannya, Editor: Hadi Darmawan Said, DESDM,
J akarta.

Oktariadi, Oki, 2007, Kawasan Lindung Geologi, Pelatihan Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami,
Pusdiklat Geologi, Bandung.

Sarana Bhuana J aya, 2007, Laporan Akhir Survey Investigasi dan Desain Pengendalian Banjir Sungai Bone
di Propinsi Gorontalo.

Setiadi dan Wahyudin, 2007, Atlas Cekungan Air Tanah Indonesia, Pusat Lingkungan Geologi, Departemen
ESDM, Bandung.





0
50
100
150
200
250
0,0 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0
d
e
b
i
t

-
m
3
/
d
e
t
waktu - jam
2
4
6
8
10

C-30
ISBN : 978-979-18342-2-3
Halaman ini sengaja dikosongkan

C-31
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
ANALISA PENINGKATAN KINERJA SISTEM IRIGASI KALIBAWANG
KABUPATEN KULONPROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

M.Ardiansyah.FR
Mahasiswa Program Magister Manajemen Aset FTSP ITS, Kampus ITS Sukolilo
Email : ardiansyah_keu@yahoo.com


ABSTRAK
Sistem irigasi Kalibawang merupakan sebuah sistem irigasi yang mengairi sebagian besar wilayah
pertanian di kabupaten Kulonprogo propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Permasalahan pada sistem
irigasi Kalibawang yang hingga saat ini belum bisa diatasi adalah tidak meratanya distribusi air,
kerusakan/kebocoran pada jaringan irigasi serta pelaksanaan operasi dan pemeliharaan (OP) yang belum
optimal. Hal-hal tersebut secara keseluruhan mengakibatkan degradasi pada kinerja sistem irigasi
Kalibawang sehingga upaya pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk masing-masing Daerah Irigasi menjadi
tidak optimal .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem irigasi
Kalibawang berdasarkan persepsi dan kepentingan petani dan petugas pengairan serta untuk menentukan
strategi peningkatan kinerja sistem irigasi Kalibawang.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kinerja sistem irigasi Kalibawang digunakan
analisa tingkat persepsi dan kepentingan serta analisa kuadran. Untuk penentuan strategi peningkatan
kinerja sistem irigasi Kalibawang dilakukan dengan menggunakan analisa SWOT.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem irigasi
Kalibawang adalah kondisi bangunan pengatur, kondisi saluran pembawa, kondisi bangunan pelengkap,
pemenuhan kebutuhan air, jumlah personalia OP, pemahaman personel mengenai OP,kelengkapan
peralatan OP serta iuran P3A. Dari hasil analisa SWOT didapatkan posisi strategi yang digunakan dalam
peningkatan kinerja sistem irigasi Kalibawang adalah strategi turn around dengan meminimalkan
kelemahan internal untuk memanfaatkan peluang.
Kata kunci : sistem irigasi Kalibawang, kinerja sistem irigasi, strategi.

1. PENDAHULUAN
Kabupaten Kulonprogo merupakan salah satu dari empat kabupaten yang ada di Wilayah Propinsi DIY yang
mayoritas penduduknya berusaha pada sektor pertanian. Untuk menunjang perkembangan sektor pertanian
tersebut sangat dibutuhkan pengembangan serta pengelolaan sistem irigasi yang berkelanjutan. Sistem irigasi
yang mengairi sebagian besar wilayah pertanian di kabupaten Kulonprogo adalah sistem irigasi Kalibawang.
Sistem Irigasi Kalibawang merupakan sebuah sistem irigasi yang mendapatkan air dari Sungai Progo melalui
bangunan pengambilan bebas yang terletak di Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten
Kulonprogo, kurang lebih 20 km sebelah Barat dari Kota Yogyakarta. Kemudian melalui saluran induk
sepanjang 24 km mengalirkan air dari Intake Kalibawang ke beberapa daerah irigasi yang meliputi sebagian
besar wilayah pertanian Kabupaten Kulonprogo. Daerah irigasi yang termasuk dalam Sistem Irigasi
Kalibawang dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1.Daerah Irigasi yang Termasuk Sistem Kalibawang
No. Daerah Irigasi Luas Lahan (ha)
1.


2.

3.




4.
Saluran Induk D.I. Kalibawang
- D.I. Kalisonggo
- D.I. Donomulyo
Suplesi Sungai Kayujaran
- D.I. Kayujaran
Suplesi Sungai Papah
- D.I. Penjalin
- D.I. J elok
- D.I. Papah Kanan
- D.I. Papah Kiri
Suplesi Sungai Serang
- D.I. Pengasih
- D.I. Pekik J amal
1.290,00
305,00
621,00

198,00

648,00
94,00
67,00
931,00

2.465,00
1.023,00

C-32
ISBN : 978-979-18342-2-3
Sistem Irigasi Kalibawang adalah jaringan irigasi gabungan dari beberapa daerah irigasi tersebut diatas.
Penggabungan daerah-daerah irigasi ini menjadi satu kesatuan seluas 7.152 Ha didasarkan atas hubungan
penyediaan dan distribusi air irigasi yang bersifat saling terkait (interconnected).
Sejak dibangun pertama kali pada tahun 1946, Intake Kalibawang dan jaringan irigasinya yang semula hanya
12 km telah mengalami beberapa tahap perbaikan dan penambahan, diantaranya pada tahun 1989 dilakukan
penambahan dan perbaikan bangunan-bangunan bagi dan sadap serta perpanjangan saluran induk menjadi 24
km sampai sekarang. Pada tahun 1990-an, melalui proyek IISP-II (Integrated Irrigation Sector Project) telah
dilakukan pekerjaan rehabilitasi dan upgrading jaringan irigasi yang mencakup hampir seluruh jaringan
irigasi dalam Sistem Kalibawang.
Meskipun telah dilakukan beberapa kali rehabilitasi dan peningkatan jaringan pada Sistem Irigasi
Kalibawang, namun pada kenyataannya di dalam pengoperasiannya masih ditemukan beberapa
permasalahan. Permasalahan yang hingga saat ini belum bisa diatasi adalah tidak meratanya distribusi air
pada tiap-tiap daerah irigasi, yang antara lain disebabkan oleh faktor kerusakan/kebocoran pada jaringan
irigasi, pelaksanaan operasi dan pemeliharaan (OP) yang belum sesuai dengan pedoman OP jaringan irigasi
serta masih adanya pengambilan air secara liar dari saluran irigasi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.
Hal-hal tersebut di atas secara keseluruhan mengakibatkan degradasi pada kinerja sistem irigasi
Kalibawang sehingga upaya pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk masing-masing Daerah Irigasi menjadi
terganggu dan tidak optimal .
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini akan dilakukan analisis untuk menentukan faktor-
faktor yang mempengaruhi kinerja irigasi serta menemukan strategi untuk meningkatkan Kinerja sistem
irigasi Kalibawang. Strategi dalam meningkatkan kinerja sistem irigasi yang tepat akan sangat berguna bagi
pengembangan pengelolaan sistem irigasi ke depan dan meningkatkan nilai guna aset yang diharapkan
sehingga berdampak positif pada peningkatan kualitas pelayanan atas fasilitas publik. Karenanya penelitian
ini penting untuk dilakukan.

2. METODOLOGI
2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah pada Daerah Irigasi (D.I) Kalibawang, ,D.I.Papah, D.I.Pengasih dan D.I. Pekik
J amal yang merupakan bagian hulu, tengah dan hilir dari Sistem Irigasi Kalibawang yang secara administratif
terletak di Kabupaten Kulonprogo , Daerah Istimewa Yogyakarta.

2.2. Pengumpulan Data
Untuk menunjang penelitian ini dilakukan pengumpulan data. Adapun data yang digunakan terdiri dari :
1.Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder dilakukan secara survey instansional dalam bentuk laporan-laporan atau kajian-
kajian yang terkait dengan topik penelitian. Data sekunder diperoleh dari Balai Besar Wilayah Sungai
Serayu-Opak Yogyakarta, Sub Dinas Pengairan Kabupaten Kulonprogo, Dinas PSDA Provinsi DIY serta
instansi terkait lainnya.
2.Data Primer
Pengumpulan data primer menggunakan metode wawancara, penyebaran kuisioner dan observasi.
a. Pengamatan dan survey jaringan irigasi berupa kondisi prasarana fisik bangunan irigasi, pemenuhan
kebutuhan air di daerah irigasi, operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.
b. Kuisioner kepada responden petani dan petugas pengairan.
c. Wawancara stakeholder yang bertanggungjawab dalam pengelolaan sistem Irigasi untuk mengetahui
penilaian faktor-faktor strategis internal dan eksternal.

2.3.Rancangan Kuisioner
Kuesioner kepada petani pengguna air irigasi dan petugas pengairan untuk mengukur persepsi dan
kepentingan responden terhadap kinerja sistem irigasi dilihat dari beberapa variabel. Data yang diperoleh
selanjutnya dipetakan dalam diagram kartesius.
1. Variabel/indikator yang dipakai untuk mengukur tingkat persepsi dan kepentingan responden
berdasarkan studi literatur dan NSPM adalah sebagai berikut :
2. Kondisi Prasarana Fisik :
a. Kondisi bangunan utama
b. Kondisi saluran pembawa
c. Kondisi bangunan pengatur
d. Kondisi bangunan pelengkap
e. Kondisi saluran pembuang dan bangunannya

C-33
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
f. Kondisi jalan masuk
g. Kondisi J alan inspeksi
3. Produktivitas Tanam :
a. Pemenuhan kebutuhan air (Faktor K)
b. Realisasi luas tanam
c. Produktivitas padi
4. Sarana Penunjang :
a Kelengkapan peralatan O&P
b Transportasi
c Alat-alat kantor ranting/pengamat/UPTD.
d Alat komunikasi yang memadai
5. Organisasi Personalia :
a Pengaturan dan penyusunan organisasi OP dengan batasan dan tanggung jawab yang jelas
b Rasio jumlah personel yang ada dan kebutuhan sesungguhnya.
c Pemahaman personel mengenai OP
6. Dokumentasi :
a Buku data Daerah Irigasi
b Peta dan gambar-gambar
c Pedoman OP
7. Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) :
a GP3A/P3A sudah berbadan hukum.
b Kondisi Kelembagaan P3A
c Rapat GP3A/P3A dengan ranting/Pengamat/UPTD
d Partisipasi P3A dalam penanggulangan bencana alam
e Partisipasi P3A dalam penelusuran jaringan irigasi
f Iuran P3A untuk perbaikan jaringan irigasi
g Partisipasi P3A dalam perencanaan tata tanam.

Selanjutnya survey kepada pejabat yang berwenang dalam kebijakan dan pengelolaan irigasi guna
menentukan strategi yang tepat dalam peningkatan kinerja irigasi. Dari sejumlah unit kerja yang terkait baik
langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan irigasi dipilih para pejabat yang benar-benar dianggap
ahli dan berwenang yang patut memberikan pertimbangan. Survey dilakukan dengan penyebaran kuesioner
berupa pertanyaan dengan jawaban tertentu (fixed alternatif item) yang sering juga disebut pertanyaan
tertutup (closed question), yaitu jenis pertanyaan yang memberi responden suatu pilihan dari dua atau
beberapa jawaban alternatif (Dajan, 1986).

2.4. Teknik pengambilan sampel
Kuisioner kepada responden petani pengguna air irigasi, teknik sampling yang digunakan adalah
proportioned stratified random sampling,yaitu dengan menentukan sampel petani yang ada di daerah hulu,
tengah dan hilir dari sistem irigasi Kalibawang. kemudian tahap berikutnya menentukan orang-orang yang
adapada daerah itu secara sampling dengan menggunakan rumus dari Taro Yamane
n = N
N.d
2
+1
Dimana :
n = J umlah sampel
N = J umlah populasi
d
2
= Presisi yang ditetapkan
Dari perhitungan diperoleh jumlah total sampel untuk responden petani pengguna air irigasi adalah
sebanyak 361 orang (responden).
Kuisioner kepada petugas pengairan, dikarenakan jumlah personil petugas pengairan yang ada di
D.I.Kalibawang berjumlah 6 orang,D.I.Papah 7 orang, D.I.Pengasih berjumlah 9 orang dan D.I.Pekik J amal
berjumlah 8 orang maka teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling sensus yaitu semua
populasi yang ada (30 petugas pengairan) digunakan sebagai sampel.
Kuisioner kepada pejabat ekspert (orang-orang yang memiliki kewenangan sebagai pengambil keputusan
strategis dalam pengelolaan irigasi pada sistem irigasi Kalibawang). Pengambilan sampel pejabat ekspert
yang akan diteliti dengan menggunakan metode purposive sampling berjumlah 6 orang.



C-34
ISBN : 978-979-18342-2-3
2.5.Uji Validitas
Untuk mengetahui apakah pertanyaan-pertanyaan kuisioner mampu mengukur apa yang hendak di
ukur dan apakah data yang terkumpul valid atau tidak maka dilakukan uji validitas.
Bila ternyata skor semua pertanyaan atau pernyataan yang disusun berdasarkan dimensi konsep berkorelasi
dengan skor totalnya, maka dapat disimpulkan bahwa alat pengukur tersebut mempunyai validitas.
Pendekatan validitas konstruk dengan teknik korelasi Pearson Product Moment (Singarimbun, 1992) adalah
sebagai berikut :
( )( )
( ) [ ] ( ) [ ]
2 2 2 2
.. Y Y n X X n
Y X XY n
r
xy


=
Dimana :
r
xy


= Koefisien korelasi product moment antara item dan total skor
n = J umlah responden
X

= Skor Pertanyaan per butir
Y = Skor total
XY = Perkalian skor per butir dengan nilai skor totalnya
Tipe validitas konstruk dengan teknik korelasi product moment, hasil pengujian dianggap valid
apabila (Nugriantoro et.al.,2002) :
1. Valid jika r r
tabel ( : 1% / 5% ; n-2)

2. Tidak valid jika r < r
tabel ( : 1% / 5% ; n-2)

J ika hasil uji instrumen penelitian menyatakan butir alat ukur valid maka item pertanyaan dapat digunakan
atau dipakai, sedangkan yang dinyatakan tidak valid diperbaiki atau dihilangkan. Uji validitas dilakukan
terhadap komponen pertanyaan ditinjau dari kondisi prasarana fisik, produktivitas tanam, sarana penunjang,
organisasi personalia, dokumentasi dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

2.6. Uji Reliabilitas
Menurut Sugiono (2003), pengujian reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara
mencobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu. Hasil
analisis dapat digunakan untuk memprediksi reliabilitas instrumen.
Reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik (reliabel), jika memiliki nilai cronbachs alpha
() dari 0,60 (Nugroho, 2005).
Semakin tinggi koefisien ini (mendekati satu) maka semakin baik alat ukur ini. Uji reliabilitas dilakukan
terhadap komponen pertanyaan dari kondisi prasarana fisik, produktivitas tanam, sarana penunjang,
organisasi personalia, dokumentasi dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

2.7.Analisis Tingkat Kepentingan dan Persepsi Responden Terhadap Kinerja irigasi.
Hasil kuisioner tentang tingkat kepentingan dan persepsi responden terhadap Kinerja sistem Irigasi
Kalibawang ditinjau dari aspek kondisi prasarana fisik, produktivitas tanam, sarana penunjang, organisasi
personalia, dokumentasi, dan perkumpulan petani pemakai air (P3A), selanjutnya akan dianalisis dengan
menggunakan analisis tingkat kepentingan (harapan) dan persepsi/kenyataan (Importance Performance
Analysis) untuk mengetahui tingkat kepentingan dan persepsi responden terhadap kinerja pelayanan dan
suatu jasa. Dalam analisis ini terdapat dua buah vaiabel yang diwakili oleh huruf X dan huruf Y, dimana X
adalah tingkat kinerja atau persepsi dari responden, sedangkan Y adalah tingkat kepentingan
responden(Supranto, 2001).
Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepentingan dan persepsi, akan menghasilkan suatu tingkat
kesesuaian antara tingkat kepentingan dan tingkat kinerja (persepsi) dari pelayanan suatu jasa/pelayanan.
Tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor persepsi (rata-rata skor persepsi) dengan skor kepentingan
(rata-rata skor kepentingan) berdasarkan rumus berikut :
% 100 X
Y
X
Tk
i
i
i
=
dimana:
Tk
i
: Tingkat kesesuaian
X
i
: Skor persepsi (rata-rata skor persepsi)
Y
i
: Skor kepentingan (rata-rata skor kepentingan)



C-35
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
2.8.Analisis Kuadran/Kondisi Pelayanan
Analisis kondisi pelayanan dari Sistem irigasi dilaksanakan dengan menggunakan instrumen analisa
kuadran. Kondisi pelayanan tersebut dapat digambarkan dalam empat kuadran, yaitu kuadran I, II, III dan IV.
Untuk dapat memetakan kondisi pelayanan dalam kuadran, maka metode perhitungannya dilakukan sebagai
berikut :
a. Menghitung nilai rata-rata total dari tingkat kepuasan dan rata-rata total dari tingkat kepentingan.
b. Nilai rata-rata total tingkat kepentingan adalah angka yang menyatakan batas sumbu Y, sedangkan nilai
total rata-rata tingkat kepuasan adalah batas sumbu X.
c. Berdasarkan batas-batas tersebut dapat ditentukan kriteria koordinat untuk setiap kuadran.
Frekuensi untuk setiap kuadran mempunyai kriteria:
Kuadran I : X x dan Y y
Kuadran II : X x dan Y y
Kuadran III : X x dan Y y
Kuadran IV : X x dan Y y
J ika digambarkan dalam bentuk kuadran, maka kriteria koordinat tersebut terletak seperti pada gambar 1.
Tinggi

K
E ( IV ) ( I )
P Prioritas Pertahankan
E Utama
N Y
T
I ( III ) ( II )
N Prioritas Berlebihan
G Rendah
A
N
Rendah X Tinggi
KEPUASAN

Gambar 1. Kuadran Kepuasan vs Kepentingan (Nigell Hill, 1996)

Setiap kuadran mencerminkan prioritas pembenahan yang semestinya dilakukan:
a. Kuadran I, menunjukkan faktor-faktor yang menurut responden penting dan responden telah
mendapatkan sesuai harapannya (memuaskan). Kondisi ini yang harus dipertahankan (pertahankan).
b. Kuadran II, menunjukkan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan responden kurang
penting, tetapi menunjukkan responden menerima pelayanan lebih dari apa yang diharapkan sehingga
tidak menjadikan prioritas perbaikan (berlebihan).
c. Kuadran III, menunjukkan beberapa faktor yang kurang penting pengaruhnya bagi kepuasan reponden
dan menunjukkan responden tidak menerima pelayanan seperti apa yang diharapkan (tidak memuaskan)
sehingga menjadi dianggap kurang penting (prioritas rendah).
d. Kuadran IV, menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepentingan, merupakan variabel
yang harus segera diperbaiki karena atribut yang dianggap penting, namun responden belum menerima
kinerja seperti apa yang diharapkan (prioritas utama).

Selanjutnya dengan menggunakan data dari analisis kuadran akan membuat strategi yang menghubungkan
organisasi dengan lingkungannya.

2.9.Analisis SWOT
Analisis perumusan strategi dilakukan dengan menggunakan instrumen SWOT. Dalam analisis SWOT
dilakukan perbandingan antara faktor-faktor strategis internal maupun eksternal untuk memperoleh strategi
terhadap masing-masing faktor tersebut dengan skoring. Berdasarkan hasil yang diperoleh kemudian
ditentukan fokus rekomendasi strategi.



C-36
ISBN : 978-979-18342-2-3
3.HASIL DAN DISKUSI
3.1. Uji validitas dan reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada survey utama dengan jumlah responden petani sebanyak 361
responden serta responden petugas pengairan sebanyak 30 responden. Supaya subvariabel dapat dinyatakan
valid maka koefisien korelasi setiap subvariabel pada responden petani harus lebih besar dari angka kritik (r)
untuk 361 responden yaitu 0,256, sedangkan koefisien korelasi setiap subvariabel pada responden petugas
pengairan harus lebih besar dari angka kritik (r) untuk 30 responden yaitu 0,361. Berdasarkan jawaban
responden pada survey utama dapat dihitung angka korelasi setiap subvariabel kepuasan dan harapan.

Tabel 2. Hasil uji validitas survey utama Petani
No Subvariabel Korelasi terhadap skor total
Kepentingan Ket Persepsi Ket
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
1.8
2.1
2.2
2.3
3.1
3.2
3.3
3.4
4.1
4.2
4.3
5.1
5.2
5.3
6.1
6.2
6.3
6.4
6.5
6.6
6.7
Kondisi bangunan utama
Kondisi saluran pembawa
Kondisi bangunan pengatur
Kondisi bangunan pelengkap
Kondisi saluran pembuang
Kondisi jalan masuk
Kondisi jalan inspeksi
Kondisi kantor perumahan
Pemenuhan kebutuhan air
Realisasi luas tanam
Produktivitas padi
Kelengkapan peralatan OP
Transportasi
Alat-alat kantor ranting/pengamat/UPTD
Alat komunikasi
Pengaturan&penyusunan organisasi OP
J umlah Personalia OP
Pemahaman personel mengenai OP
Buku data Daerah Irigasi
Peta dan gambar Daerah Irigasi
Pedoman OP
GP3A/P3A sudah berbadan hukum
Kondisi kelembagaan P3A
Rapat GP3A/P3A dengan
ranting/pengamat/UPTD
Partisipasi dalam penanggulangan bencana alam
P3A aktif dalam penelusuran jaringan irigasi
Iuran P3A untuk perbaikan jaringan irigasi
Partisipasi P3A dalam perencanaan tata tanam
0,466
0,658
0,546
0,611
0,645
0,495
0,589
0,507
0,352
0,637
0,695
0,497
0,613
0,467
0,657
0,633
0,552
0,460
0,506
0,491
0,560
0,497
0,634
0,472
0,620
0,308
0,659
0,676
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

0,528
0,512
0,519
0,681
0,722
0,871
0,638
0,580
0,347
0,745
0,669
0,668
0,647
0,626
0,713
0,828
0,447
0,442
0,624
0,811
0,627
0,531
0,474
0,566
0,670
0,437
0,444
0,729

valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid

Tabel 3.Hasil Uji validitas survey utama petugas pengairan
No Subvariabel Korelasi terhadap skor total
Kepentingan Ket Persepsi Ket
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
1.8
2.1
2.2
2.3
3.1
3.2
Kondisi bangunan utama
Kondisi saluran pembawa
Kondisi bangunan pengatur
Kondisi bangunan pelengkap
Kondisi saluran pembuang
Kondisi jalan masuk
Kondisi jalan inspeksi
Kondisi kantor perumahan
Pemenuhan kebutuhan air
Realisasi luas tanam
Produktivitas padi
Kelengkapan peralatan OP
Transportasi
0,625
0,640
0,699
0,581
0,648
0,635
0,626
0,588
0,770
0,744
0,837
0,611
0,727
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
0,693
0,499
0,464
0,725
0,729
0,792
0,682
0,703
0,592
0,797
0,652
0,626
0,620
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid

C-37
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
3.3
3.4
4.1
4.2
4.3
5.1
5.2
5.3
6.1
6.2
6.3
6.4
6.5
6.6
6.7
Alat-alat kantor ranting/pengamat/UPTD
Alat komunikasi
Pengaturan&penyusunan organisasi OP
Personalia
Pemahaman personel mengenai OP
Buku data Daerah Irigasi
Peta dan gambar Daerah Irigasi
Pedoman OP
GP3A/P3A sudah berbadan hukum
Kondisi kelembagaan P3A
Rapat GP3A/P3A dengan
ranting/pengamat/UPTD
Partisipasi dalam penanggulangan bencana alam
P3A aktif dalam penelusuran jaringan irigasi
Iuran P3A untuk perbaikan jaringan irigasi
Partisipasi P3A dalam perencanaan tata tanam
0,488
0,774
0,858
0,781
0,561
0,592
0,438
0,574
0,598
0,704
0,390
0,530
0,430
0,805
0,465
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid

0,594
0,637
0,697
0,535
0,725
0,692
0,771
0,744
0,732
0,461
0,570
0,611
0,538
0,534
0,633

valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid
valid

Pada tabel.2 dan tabel.3, angka koefisien korelasi semua variabel lebih besar daripada angka kritik, sehingga
semua subvariabel dinyatakan memenuhi syarat validitas pada survey utama.

Tabel 4. Ringkasan hasil uji reliabilitas survey utama
Variabel
Reliabilitas
Keterangan
Petani
Petugas
pengairan

Kepentingan 0,913 0,942 Reliabel
Persepsi 0,936 0,946 Reliabel

Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas survey awal dan survey utama diketahui bahwa semua
subvariabel dapat menjadi pertanyaan yang digunakan untuk mengukur aspek yang sama dan memberikan
hasil yang konsisten jika dilakukan dua kali atau lebih.

3.2. Analisis Tingkat Kesesuaian Kepentingan dan Persepsi
Analisis ini berdasarkan hasil survey utama terhadap masing-masing responden petani dan petugas
pengairan. Sebelumnya dilakukan penilaian tingkat kepentingan dan persepsi berdasarkan hasil skor tiap
jawaban dengan menggunakan skala Likert. Hasil skor kepentingan dan skor persepsi kemudian
dibandingkan dengan rumus:
% 100 X
Y
X
Tk
i
i
i
=
Dengan :
Tk
i
: Tingkat kesesuaian
X
i
: Skor persepsi (rata-rata skor persepsi)
Y
i
: Skor kepentingan (rata-rata skor kepentingan)
Hasil perhitungan selengkapnya ditunjukkan pada tabel 5.dan 6.
Tabel 5.Tingkat kesesuaian kepentingan dan persepsi petani
No Variabel / Subvariabel Tingkat
Persepsi
Tingkat
Kepentingan
TKi

1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
Kondisi Prasarana Fisik
Kondisi bangunan utama
Kondisi saluran pembawa
Kondisi bangunan pengatur
Kondisi bangunan pelengkap
Kondisi saluran pembuang
Kondisi jalan masuk
Kondisi jalan inspeksi

3,60
3,32
3,07
3,35
3,64
3,66
3,31

4,38
4,27
4,35
4,39
4,25
4,29
4,08

82%
78%
71%
76%
86%
85%
81%

C-38
ISBN : 978-979-18342-2-3
1.8

2.1
2.2
2.3

3.1
3.2
3.3
3.4

4.1
4.2
4.3

5.1
5.2
5.3

6.1
6.2
6.3
6.4
6.5
6.6
6.7
Kondisi kantor perumahan
Produktivitas Tanam
Pemenuhan kebutuhan air
Realisasi luas tanam
Produktivitas padi
Sarana Penunjang
Kelengkapan peralatan OP
Transportasi
Alat-alat kantor ranting/pengamat/UPTD
Alat komunikasi
Organisasi Personalia
Pengaturan&penyusunan organisasi OP
J umlah Personalia OP
Pemahaman personel mengenai OP
Dokumentasi
Buku data Daerah Irigasi
Peta dan gambar Daerah Irigasi
Pedoman OP
Perkumpulan petani pemakai air (P3A)
GP3A/P3A sudah berbadan hukum
Kondisi kelembagaan P3A
Rapat GP3A/P3A dengan
ranting/pengamat/UPTD
Partisipasi dalam penanggulangan bencana alam
P3A aktif dalam penelusuran jaringan irigasi
Iuran P3A untuk perbaikan jaringan irigasi
Partisipasi P3A dalam perencanaan tata tanam
3,24

3,34
3,83
3,66

3,43
3,29
3,27
3,31

3,69
3.29
2,84

3,24
3,78
3,30

3,60
3,50
3,74
4,02
3,96
3,40
3,96
4,02

4,36
4,45
4,36

4,11
4,14
4,19
4,47

4,32
4,22
3,87

3,83
4,14
3,88

4,21
4,31
4,15
4,15
4,28
4,33
4,24
80%

76%
86%
84%

83%
80%
78%
74%

85%
78%
73%

85%
91%
85%

86%
81%
90%
96%
97%
78%
94%
Rata-rata 3,49 4,22

Tabel 6.Tingkat kesesuaian kepentingan dan persepsi petugas pengairan

No Variabel / Subvariabel Tingkat
Persepsi
Tingkat
Kepentingan
TKi

1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
1.8

2.1
2.2
2.3

3.1
3.2
3.3
3.4

4.1
4.2
4.3

5.1
5.2
Kondisi Prasarana Fisik
Kondisi bangunan utama
Kondisi saluran pembawa
Kondisi bangunan pengatur
Kondisi bangunan pelengkap
Kondisi saluran pembuang
Kondisi jalan masuk
Kondisi jalan inspeksi
Kondisi kantor perumahan
Produktivitas Tanam
Pemenuhan kebutuhan air
Realisasi luas tanam
Produktivitas padi
Sarana Penunjang
Kelengkapan peralatan OP
Transportasi
Alat-alat kantor ranting/pengamat/UPTD
Alat komunikasi
Organisasi Personalia
Pengaturan&penyusunan organisasi OP
J umlah Personalia OP
Pemahaman personel mengenai OP
Dokumentasi
Buku data Daerah Irigasi
Peta dan gambar Daerah Irigasi

4,17
3,37
2,53
3,60
3,47
3,27
3,90
3,60

3,43
3,93
3,30

3,70
3,23
3,77
3,63

3,73
3,27
2,47

3,40
3,67

4,20
4,27
4,33
4,09
4,10
4,03
4,20
4,20

4,20
4,13
4,20

4,23
4,03
4,33
4,33

4,33
4,30
4,00

3,97
4,47

99%
79%
68%
88%
85%
81%
92%
86%

82%
95%
79%

87%
80%
87%
84%

86%
76%
52%

86%
82%

C-39
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
5.3

6.1
6.2
6.3
6.4
6.5
6.6
6.7
Pedoman OP
Perkumpulan petani pemakai air (P3A)
GP3A/P3A sudah berbadan hukum
Kondisi kelembagaan P3A
Rapat GP3A/P3A dengan
ranting/pengamat/UPTD
Partisipasi dalam penanggulangan bencana alam
P3A aktif dalam penelusuran jaringan irigasi
Iuran P3A untuk perbaikan jaringan irigasi
Partisipasi P3A dalam perencanaan tata tanam


3,86

3,67
3,06
4,17
4,13
3,87
3,40
4,23
4,19

4,93
4,24
4,30
4,27
4,20
4,17
4,33



92%

93%
72%
97%
97%
92%
82%
98%
Rata-rata 3,52 4,18

Berdasarkan tingkat kesesuaian antara tingkat kepentingan dan persepsi petani dan petugas pengairan dapat
diketahui bahwa menurut petani tingkat kesesuaian tertinggi terdapat pada keaktifan P3A dalam kegiatan
penelusuran jaringan irigasi, sedangkan tingkat kesesuaian terendah ada pada pemahaman personel mengenai
OP. menurut petugas pengairan tingkat kesesuaian tertinggi ada pada kondisi bangunan utama, sedangkan
tingkat kesesuaian terendah terdapat pada kondisi saluran pembawa.

3.3. Analisis Penentuan Faktor-Faktor Prioritas Utama Peningkatan Kinerja sistem Irigasi
Kalibawang
Sebaran kesenjangan antara tingkat persepsi dan tingkat kepentingan petani serta petugas pengairan terhadap
kinerja sistem irigasi Kalibawang dipetakan dalam diagram kartesius. Analisis kuadran dilakukan dengan
memfokuskan perhatian pada subvariabel-subvariabel yang terletak pada kuadran IV untuk mengetahui
faktor-faktor yang dianggap sangat penting namun pelaksanaannya masih belum memuaskan sehingga
menjadi prioritas utama penanganan. Hasil yang diperoleh sebagaimana ditampilkan pada gambar 2 dan 3.


Gambar 2. Diagram Kartesius Tingkat Kesesuaian Kepentingan dan Persepsi Petani


C-40
ISBN : 978-979-18342-2-3
Berdasarkan hasil diagram diatas diketahui subvariabel-subvariabel yang menjadi prioritas utama dalam
peningkatan kinerja sistem irigasi Kalibawang menurut responden petani yaitu:
1. Kondisi Saluran Pembawa (sub variabel 1.2)
2. Kondisi Bangunan Pengatur (sub variabel 1.3)
3. Kondisi Bangunan Pelengkap (sub variabel 1.4)
4. Pemenuhan Kebutuhan Air (sub variabel 2.1)
5. J umlah Personalia OP (sub variabel 4.2)
6. Pemahaman Personel tentang OP (sub variable 4.3)
7. Iuran P3A untuk perbaikan J aringan (sub variabel 6.6)


Gambar 3. Diagram Kartesius Tingkat Kesesuaian Kepentingan dan Persepsi Petugas pengairan
Berdasarkan hasil diagram diatas diketahui subvariabel-subvariabel yang menjadi prioritas utama dalam
peningkatan kinerja sistem irigasi Kalibawang menurut responden petugas pengairan yaitu:
1. Kondisi Saluran Pembawa (sub variabel 1.2)
2. Kondisi bangunan pengatur (sub variabel 1.3)
3. Pemenuhan kebutuhan air (sub variable 2.1)
4. Kelengkapan peralatan OP (sub variable 3.1)
5. J umlah Personalia OP (sub variabel 4.2)
6. Pemahaman personel tentang OP (sub variabel 4.3)
Berdasarkan hasil pemetaan analisis kuadran dari responden petani dan petugas pengairan dapat dirangkum
faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja sistem irigasi Kalibawang yaitu:
1. Aspek Kondisi Prasarana fisik
a. Kondisi Saluran Pembawa
b. Kondisi Bangunan Pengatur.
c. Kondisi Bangunan Pelengkap
2. Aspek Produktivitas tanam
Hanya ada satu sub variabel yang dirasakan perlu segera ditangani yaitu pemenuhan kebutuhan air irigasi
yang masih dirasa kurang maksimal.
3. Aspek Organisasi Personalia OP
a. J umlah personalia OP
b. Pemahaman Personel tentang OP jaringan irigasi
4. Aspek Sarana Penunjang OP
Hanya ada satu subvariabel yang perlu segera dibenahi yaitu kelengkapan peralatan untuk pelaksanaan
kegiatan OP yang dirasa masih belum lengkap.
5. Aspek Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)
Hanya ada satu sub variabel yang dirasakan perlu segera ditangani yaitu Iuran P3A (IPAIR) untuk OP dan
perbaikan jaringan irigasi yang masih dirasa belum mencukupi .


C-41
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
3.4. Analisis Perumusan Strategi Peningkatan Kinerja Sistem Irigasi Kalibawang
Analisis faktor strategis merupakan awal proses perumusan strategis. Analisis ini berupaya menemukan
kesesuaian antara peluang-peluang eksternal dengan kekuatan-kekuatan internal, disamping memperhatikan
ancaman-ancaman eksternal dan kelemahan-kelemahan internal.
Analisis faktor strategis merupakan awal proses perumusan strategis. Analisis ini berupaya menemukan
kesesuaian antara peluang-peluang eksternal dengan kekuatan-kekuatan internal, disamping memperhatikan
ancaman-ancaman eksternal dan kelemahan-kelemahan internal.
Berdasarkan hasil dari analisa Kuadran serta melalui wawancara dengan para responden pejabat
yang dianggap expert, diperoleh informasi tentang faktor-faktor sukses kritis internal yang menunjukkan
kelemahan dan kekuatan pada Kinerja Sistem Irigasi Kalibawang (tabel 7) dan faktor-faktor kritis eksternal
yang menunjukkan peluang dan ancaman bagi Kinerja Sistem Irigasi Kaliabwang (tabel 8) berikut :

Tabel 7. faktor-faktor Strategis Internal Kinerja Sistem Irigasi Kalibawang

No.


Indikator Internal


Uraian


S/W

1.

1.1.


2.

2.1.



2.2.
Organisasi

Kewenangan dan tupoksi
pengelola irigasi
Kalibawang
Sumber Daya Manusia
J umlah Petugas OP pada
Sistem Irigasi
Kalibawang

Pengetahuan petugas OP
mengenai OP





Tupoksi pengelola irigasi sudah cukup jelas
mengatur tentang kewenangan pengelolaan irigasi di
Sistem irigasi Kalibawang


J umlah petugas OP yang ada tidak sesuai dengan
kebutuhan dan standar yang ditentukan dalam
pedoman OP irigasi

Banyak petugas OP yang kurang paham mengenai
prosedur OP jaringan irigasi


S




W



W

3.

3.1.


Teknis

Kondisi Bangunan
Utama



Intake/Bendung dalam kondisi baik dan dapat berfungsi
dengan baik



S

3.2.

Kondisi Bangunan
Pengatur
Bangunan pengatur banyak yang mengalami kerusakan
sehingga pelayanan air irigasi kurang optimal
W
3.3. Kondisi saluran
Pembawa
Beberapa saluran irigasi mengalami kerusakan
menyebabkan debit yang mengalir ke area pertanian
kurang optimal

W
3.4. Pemenuhan kebutuhan
air
Pemenuhan akan kebutuhan air yang tidak cukup/kurang
merata terutama pada daerah tengah dan hilir pada sistem
irigasi Kalibawang

W
4. Kelembagaan P3A


4.1. P3A berbadan hukum Semua P3A di Sistem irigasi Kalibawang sudah berbadan
hukum
S

4.2. Partisipasi P3A dalam
penelusuran J aringan
P3A sudah aktif didalam pelaksanaan penelusuran jaringan
irigasi baik di tingkat tersier maupun jaringan utama

S
4.3. Iuran P3A Iuran P3A masih belum mencukupi untuk OP dan
rehabilitasi jaringan irigasi
W





C-42
ISBN : 978-979-18342-2-3
Tabel 8. faktor-faktor Strategis eksternal Kinerja Sistem Irigasi Kalibawang



Setelah dilakukan pembobotan untuk masing-masing faktor strategis internal dan eksternal, kemudian
disusun alternatif strategi peningkatan kinerja sistem irigasi dengan menggunakan matriks Evaluasi Faktor-
faktor Internal (EFI) dan matriks Evaluasi Faktor-faktor Eksternal (EFE). Penetapan posisi Kinerja sistem
irigasi merupakan tahap 1 (The Input Stage) dari kerangka analitik merumuskan strategi.
1. Matrik EFI (Evaluasi Faktor Internal) untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan internal. Dalam
matrik ini dilakukan pengalian antara bobot dengan rating dari masing-masing faktor internal. Skor-skor
tersebut selanjutnya dijumlahkan dan hasilnya berupa total skor EFI.

Tabel 9. Faktor Strategis Internal (IFAS)

No. Evaluasi Faktor-faktor Internal Bobot Rating
Skor
Bobot
(1) (2) (3) (4)
Kekuatan (Strength/S)
1.1 Tupoksi pengelola irigasi 0,09 2,5 0,22
3.1. Kondisi bangunan utama 0,10 2,7 0,27
3.3. P3A sudah berbadan hukum 0,10 2,4 0,24
4.2.
Partisipasi P3A dalam penelusuran jaringan
irigasi
0,10 2,3 0,23
Jumlah Kekuatan 0,39 0,96
Kelemahan (W)
2.1. J umlah petugas OP 0,11 -2,7 -0,29
2.2. Pengetahuan petugas OP 0,10 -2,5 -0,25
3.2 Kondisi bangunan pengatur 0,10 -2,5 -0,25
3.3. Kondisi saluran pembawa 0,10 -2,5 -0,25
3.4. Pemenuhan kebutuhan air 0,10 -2,7 -0,27
4.3. Iuran P3A 0,10 -2,7 -0,27
Jumlah Kelemahan 0,61 -1,58
Total 1,00 -0,62



C-43
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
2. Matrik EFE (Evaluasi Faktor Eksternal untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan internal. Dalam
matrik ini dilakukan pengalian antara bobot dengan rating dari masing-masing faktor eksternal. Skor-
skor tersebut selanjutnya dijumlahkan dan hasilnya berupa total skor EFE.

Tabel 10. Faktor Strategis Eksternal (EFAS)
No. Evaluasi Faktor-faktor eksternal Bobot Rating
Skor
Bobot
(1) (2) (3) (4)
Peluang (Opportunity/O)
1.1 Pendanaan OP dan Rehabilitasi 0,09 2,5 0,22
3.1. Perbaikan pola tanam 0,10 2,3 0,23
3.2. Peningkatan produktifitas tanam 0,10 2,5 0,25
3.3. Teknologi pertanian baru 0,11 2,3 0,25
Jumlah Peluang 0,40 0,95
Ancaman (Treath/T)
2.1. Sedimentasi pada jaringan irigasi 0,09 -2,7 -0,24
2.2. Konversi lahan 0,09 -2,5 -0,22
3.3. Harga produk pertanian 0,10 -2,5 -0,25
4.1. Mata pencaharian 0,10 -2,5 -0,25
4.2. Pencurian air 0,11 -2,7 -0,29
4.3. Konflik 0,11 -2,3 -0,29
Jumlah Ancaman 0,60 -1,54
Total 1,00 -0,59

Berdasarkan rangkuman hasil analisis faktor strategis internal/eksternal yang ditunjukkan tabel 9 dan 10,
diketahui skor bobot kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Selisih skor bobot kekuatan dengan
kelemahan yaitu 0,62, berada pada kelemahan internal. Sementara selisih skor bobot peluang dengan
ancaman yaitu 0,59 berada pada peluang aksternal. Hasil selisih skor masing-masing faktor internal dan
eksternal dimasukkan ke dalam diagram strategi sehingga diperoleh strategi yang paling tepat untuk
meningkatkan kinerja Sistem Irigasi Kalibawang seperti ditunjukkan pada Gambar 4.
Dari Gambar 4. terlihat bahwa alternatif diagram strategi menunjukkan posisi strategi turn around, yaitu
strategi untuk meminimalkan kelemahan internal untuk memanfaatkan peluang. Dengan demikian, strategi
yang sebaiknya diterapkan dalam peningkatan kinerja sistem irigasi Kalibawang adalah:ya
1. Menambah jumlah petugas OP pada sistem irigasi Kalibawang.
2. Diberikan pelatihan intensif mengenai pedoman OP jaringan irigasi kepada para petugas OP.
3. Perbaikan bangunan-bangunan pengatur yang rusak
4. Perbaikan saluran-saluran irigasi yang mengalami kerusakan
5. Pendistribusian air dilakukan secara merata dengan mengacu pada kebutuhan air untuk masing-masing
Daerah irigasi yang merupakan bagian dari sistem irigasi Kalibawang.
6. Meningkatkan iuran P3A untuk OP dan rehabilitasi jaringan irigasi.


C-44
ISBN : 978-979-18342-2-3


Gambar 4.Diagram strategi peningkatan kinerja sistem irigasi Kalibawang

4.KESIMPULAN
Berdasarkan analisis kuadran diketahui bahwa terdapat kesenjangan antara kepentingan dan persepsi petani
dan petugas pengairan terhadap tingkat kinerja sistem irigasi Kalibawang. menurut petani faktor prioritas
yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi bangunan pengatur, kondisi saluran pembawa, kondisi bangunan
pelengkap, pemenuhan kebutuhan air,jumlah personel OP, pengetahuan personel mengenai OP serta iuran
P3A untuk perbaikan jaringan irigasi, Sedangkan bagi petugas pengairan yang menjadi faktor prioritas adalah
kondisi bangunan pengatur, kondisi saluran pembawa, pemenuhan kebutuhan air, kelengkapan peralatan OP,
jumlah personel OP serta pemahaman personel mengenai OP.
Berdasarkan analisis faktor-faktor strategis internal dan eksternal kinerja sistem irigasi Kalibawang,
posisi strategi yang disarankan adalah strategi turn around, yaitu strategi dengan meminimalkan kelemahan
internal untuk memanfaatkan peluang sebagai berikut:a
1. Menambah jumlah petugas OP pada sistem irigasi Kalibawang untuk mengoptimalkan pelaksanaan OP
J aringan irigasi.
2. Diberikan pelatihan intensif mengenai pedoman OP jaringan irigasi kepada para petugas OP.
3. Perbaikan bangunan-bangunan pengatur yang rusak
4. Perbaikan saluran-saluran irigasi yang mengalami kerusakan
5. Pendistribusian air dilakukan secara merata dengan mengacu pada kebutuhan air untuk masing-masing
Daerah irigasi yang merupakan bagian dari sistem irigasi Kalibawang.
6. Meningkatkan iuran P3A untuk OP dan rehabilitasi jaringan irigasi.

DAFTAR PUSTAKA
Dajan, A. (1986), Pengantar Metode Statistik Jilid I, LP3ES, J akarta.
Departemen Pekerjaan Umum (2007), Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 32/PRT/M/2007 tentang
Operasi dan Pemeliharaan J aringan Irigasi, Lampiran I Indeks Kinerja Sistem Irigasi.
Direktorat J enderal Sumber Daya Air (2006), Pedoman Operasi&Pemeliharaan Jaringan Irigasi.
Nurgiyantoro, Burhan, Gunawan dan Marzuki (2002), Statistik Terapan Untuk Penelitian ilmu-ilmu sosial,
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Pemerintah Republik Indonesia (2006), Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 Tentang Irigasi.
Rangkuti, F. (2005), Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT. Gramedia Pustaka Utama, J akarta.
Riduwan, (2006), Metoda dan Teknik Menyusun Tesis, Alfabeta Bandung, Bandung.
Siregar, D.D. (2004), Manajemen Aset, Cetakan Pertama, PT. Gramedia Pustaka Utama, J akarta.
Singarimbun, M dan Effendi, S. (1992), Metode Penelitian Survey, LP3ES, J akarta.
Sugiono, (2003), Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung.
Supranto, J . (2001), Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar, PT.Rineka
Cipta, J akarta.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.



C-45
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
SPATIAL JUMP (S-Jump) ANALYSIS
FOR HYDRAULIC JUMP UNDER SLUICE GATE

Sunik,ST.MT
Dosen J urusan Teknik Sipil,Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Karya, Malang
Perumahan Karanglo Indah Blok T-19 Malang 65126
Telp. (0341) 5491874, Fax (0341) 426710
Email: ssunik@yahoo.com


ABSTRACT

Hydraulic jump through under sluice gate with weir at secondary channel model test that had the
bend to the primary channel (upstream direction) was classified to four kind: repelled jump (in front of the
sluice gate), spatial jump (the bend), transitional jump (between the bend and upstream) and classical-jumps
(upstream).
This research aimed to know the value of the water wave depth ratio (sequent depth ratio-D), the
long ratio of the hydraulic jump (relative jump length-(Lj/Lj*)) and hydraulic jump efficiency-(/)) as
well as to know whether this current including range of spatial jump (S-jump) classification. Experiments
were carried out in the hydraulic laboratory in a 2,24 m and 2,00 m long, 0,4 m wide rectangular channel
(two channel) with sidewall height of 0,40 m. Research in the form of simulation operate for sluice gate two
channel with channel 1 in the form of sluice gate above channel level off, channel two in the form of above
sluice gate with sill level off. Comparison of scale model and prototype =1: 3 (undistorted).
Result show that the value sequent depth ratio was 5,011 9,246 (for two kind variation open gate).
After plotting it was seen that all D value (sequenth depth ratio value) was on the straight line (the straight
line was the limitation between Classical jump the low zone, range thought 4-8, the Spatial jump upper
zone with range thought 4-10). Analysis for relative jump length ratio (Lj/Lj*) value was 1,073 1,641 and
efficiency jump (./) value was 1,971 3,306. Plotting shown that sequent depth ratio, relative jump
length ratio and efficiency jump value was shown Spatial jump (S-jump) category.


Keyword: depth water in the hydraulic jump velocity Froude Number sequent depth ratio (D)
relative jump length (Lj/Lj*) efficiency jump (./).

INTRODUCTION
The hydraulic jump is a well-known energy dissipater in open channels. In many practical cases, changing
the channel width may provide the necessary energy dissipation. Such a practical case occurs when the
available tail-water depth is low, so that a classical jump will not form even with the aid of appurtenances; or
if the depression of the basin floor is not possible, a lateral expansion of channel width is the feasible
solution. J umps in expanding channels may be expected downstream of hydraulic structures like spillways,
dam outlets or head regulators, where the incoming supercritical flow occupies a smaller width leading to a
wider downstream channel. Hydraulic jumps formed in expanding channels are classified into four types.
These include repelled-, spatial-, transitional-, and classical-jumps (Bremen and Hager, 1993). The toe of
spatial jumps (S-jump) is located at the expansion section and extends over the wider downstream section. It
depends on sequent depth ratio (D), relative jump length (Lj*) and jump efficiency (/).

METHODOLOGY
J umps formed in expanding channels have been studied by {1], [2], [3], [4], [5], [6] investigated S-jumps in
expanding channels and suggested a simple empirical relationship for calculating the sequent depth ratio as:
D =D*. where D is the sequent depth ratio in expanding channels, D* is the depth ratio of classical jumps
in prismatic channels, =b/B is the expansion ratio defined as the ratio of the approaching channel width, b,
to the enlarged channel width, B. Based on a simplified momentum approach, [2] derived a relation for the
Froude number of approaching channel as a function of sequent depth ratio and expansion ratio. This paper
aims to highlight the characteristics of S-jumps under different flow characteristics, expansion ratios and bed
slope conditions.


C-46
ISBN : 978-979-18342-2-3
Equation for sequent depth ratio (D) as:
(1)

where Fm is the modified Froude number defined as:
(2)
in which
CS =0.5 kLj sin (D+1)/(D1) and
CE =(D)/(D1)

The jump length may be expressed as a function of the classical jump length, Lj , and F1 as:
(3)

The efficiency of the S-jump is expressed as a function of , and F1 as:
(4)

Experimental equipment and measurement technique
Experiments were carried out in the hydraulic laboratory in a 2,24 m and 2,00 m long, 0,4 m wide rectangular
channel (two channel) with sidewall height of 0,40 m. Research in the form of simulation operate for sluice
gate two channel with channel 1 in the form of sluice gate above channel level off, channel two in the form of
above sluice gate with sill level off. Variation of charge jetting there is 5 kinds of discharge (155, 233, 311,
389, 467 l/det), sluice gate aperture variation of 2 kinds ( a
1
=6, 9, 12 cm; a
2
=6 and cm of a
1
=6, 9, 12 cm;
a
2
=12 cm). Comparison of scale model and prototype =1: 3 (undistorted). The abrupt drop height s was 22
cm (made of brick cover by cement and located under the gate. The experimental equipment is shown in
Figure 1, and division of channel section shown at Figure 2.


Figure 1. Rectangular channel model


C-47
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

Figure 2. Division of channel section

The experiment were organized in two series, so that it was possible to observe how, as discharge increases,
the characteristics of the different jump types change as the tridimensional characteristics of flow grow.
Water arrives with a discharge Q in a tank in which several pierced walls are located to still the flow before it
enters the flume. Discharges were measured with triangular sharp-crested weir. Measurements of the
upstream and downstream water depth were carried out with point gauge which allowed the estimated of the
time averaged flow depth. Water depths were measured by point gages to0.1mmaccuracy. Discharge was
measured by a calibrated V-notch installed in the measuring tank below the flume outlet. At the beginning of
each experiment, the sluice gate was adjusted to the desired opening and the inlet valve was opened until
maximum possible discharge was obtained. The tailgate was adjusted such that the jump occurred in the
expansion section. As the jump stabilized, the discharge, the sequent water depths and the length of jump
were measured.

For each experiment, measurement were carried out after waiting a minimum of one hour after the
establishment of the flow. Table 1 summarize the experimental flow conditions, where d
1
and d
2
is the water
depth of hydraulic jump under sluice gate , F
1
is the inflow Froude number.



Figure 3. Locations where d
1
and d
2
were measured for each flow pattern









C-48
ISBN : 978-979-18342-2-3
Table 1. Water depth (d
1
and d
2
), velocity (v
1
and v
2
) and Froude Number (d
1
and d
2
)



RESULT and DISCUSSION
Analysis for sequent depth ratio predict value dan sequent depth ratio measured value shown in Table 2 with
plotting graphic shown in Figure 4, relative jump length analysis and efficiency jump analysis in Table 3
with plotting graphic shown in Figure 5 and Figure 6.

Figure 4 shows measured and computed values of sequent depth ratio with range 5,011 9,246 for two kind
of open gate variation. After plotting graphic (at [5] graphic) it look that all of D value place on above line
(line was benchmark of classical jump zone bottom, with range value =4 8, bottom zone and spatial jump
up, with range value =4 10, up zone). It means that D value analysis include spatial jump (S-jump)
classification/category.

Table 2. Sequent depth ratio predict value Table 3. Relative jump length ratio
and sequent depth ratio measured valueand efficiency jump value




C-49
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010


Figure 4. Predicted versus measured D on sloping bed Figure 5. Relative jump length ratio


Figure 6. Efficiency jump

Relative jump length ratio (Lj/Lj*) analysis shown in Table 3 with range value =1,073 1,641 and
efficiency jump analysis with range value =1,971 3,306. Plotting the value in Figure 5 and Figure 6 shown
that analysis result was spatial jump (S-jump) flow characteristic (place on bottom of classical jump for
Figure 5 and place on up of classical jump for Figure 6).

CONCLUSION
S-jumps are studied experimentally under different expansion ratios and bed slopes. Research result shown
that variation discharge, variation open gate and variation hydraulic jump for this research result that all of
flow was spatial jump (S-jumps) characteristic/category. Plotting shown that sequent depth ratio, relative
jump length ratio and efficiency jump value was shown Spatial jump (S-jump) category too. For other
research it suggest using different slope channel, different discharge and different scale model to
classification whether the flow was spatial jump.

REFERENCES
[1] Bremen, R. and Hager,W.H. (1994). Expanding Stilling Basin. Proc. ICE Water Maritime Energy 106,
215228.
[2] Hager, W.H. (1985). Hydraulic J umps in Non-Prismatic Rectangular Channels. J. Hydraul. Res. 23(1),
2135.
[3] Hager, W.H. (1992). Energy Dissipators and Hydraulic Jumps. Kluwer Academic Publication,
Dordrecht, theNetherlands, pp. 151173.
[4] Herbrand, K. (1973). The Spatial Hydraulic J ump.J. Hydraul. Res. 11(3), 205218
[5] Matin, M.A., Alhamid, A.A. and Negm, A.M. (2000). Modeling of Depth Ratio of Hydraulic Jumps in
Expanding Channels. Civil Engineering Research Magazine, Faculty of Engineering, Al-Azher
University, Vol. 22, Cairo, Egypt, pp. 250260.
[6] Unny, T.E. (1961). The Spatial Hydraulic J ump. IX IAHR Congress, Belgrade, pp. 3242.

C-50
ISBN : 978-979-18342-2-3
Halaman ini sengaja dikosongkan

C-51
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

MODEL HIDROLIKA SUNGAI BONE, DI PROVINSI GORONTALO

Tatas
S. Kamilia Aziz
Pudiastuti

Dosen/ Peneliti Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

tatas@ce.its.ac.id
kamilia@ ce.its.ac.id


Abstrak

Sungai Bone memiliki nilai strategis bagi Kota Gorontalo. Selain muaranya sebagai pelabuhan, Sungai Bone
juga digunakan sebagai angkutan kapal-kapal nelayan. Sebagai salah satu sungai yang bermuara di Kota
Gorontalo, selain Sungai Limboto dan Talamate, sungai ini juga menjadi salah satu pendukung penyebab
terjadinya banjir di kota ini. Informasi awal tentang hidrolika Sungai Bone diharapkan menjadi acuan awal
untuk pengembangan penelitian-penelitian selanjutnya tentang Sungai dan Das Bone. Metodologi yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi identifikasi topografi, karakter sungai, dasar saluran dengan
menggunakan program komputer Global Mapper v 8.03 dan Gridded Surface Subsurface Hydrologyc
Analysis (GSSHA), dan identifikasi sedimen berdasarkan penelitian terdahulu. Analisis menunjukkan bahwa
topografi di Das Bone memiliki kemiringan lereng sebesar 16-17% di daerah pegunungan dan pada daerah
permukiman rata-rata kemiringan lahannya ada 2,8%. Pada bagian hulu, Sungai Bone memiliki karakter
berkelok-kelok atau meander hingga di bagian tengah. Panjang sungai yang berkelok-kelok ini hampir
mencapai 30 kilometer. Kondisi sungai yang berkelok-kelok ini mengindikasikan bahwa tanah dasar di
sungai tersebut sifatnya labil dan mudah tererosi. Hal tersebut dimungkinkan terjadi akibat debit aliran yang
besar dan menggerus badan sungai, sedangkan di sisi lainnya terjadi pengendapan material terlarut. Alur
Sungai Bone bagian tengah hingga hilir lebih cendurung lurus, hingga bermuara di Teluk Tomini, dengan
panjang sekitar 28 kilometer. Hal tersebut mengindikasikan bahwa di bagian hilir, sifat dasar tanah lebih
stabil dibandingkan di bagian hulu.

Kata kunci : hidrolika, Sungai Bone, Provinsi Gorontalo


PENDAHULUAN
Sungai Bone di Provinsi Gorontalo bermuara di sebelah selatan Kota Gorontalo yaitu Teluk Gorontalo.
Sungai dengan panjang hampir 60 kilometer membujur dari timur ke arah barat. Minimalnya informasi
tentang Sungai Bone menjadikan alasan utama untuk menyajikan informasi dasar model hidrolika Sungai
Bone. Sungai Bone memiliki nilai strategis bagi penduduk Kota Gorontalo dan yang tinggal di sepanjang
aliran sungai tersebut. Muara sungai ini dimanfaatkan sebagai pelabuhan dan sarana rekreasi. Selain itu,
sungai juga dijadikan sebagai sarana angkutan kapal-kapal nelayan. Selain itu, Sungai Bone adalah salah satu
penyebab banjir yang terjadi di Kota Gorontalo, selain Sungai Limboto dan Sungai Talamate yang bermuara
di dekat Kota Gorontalo. Informasi awal tentang Sungai Bone diharapkan dapat memberikan gambaran
tentang kondisi hidrolika sungai tersebut.

METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kajian atas penelitian-penelitian terdahulu,
identifikasi daerah berdasarkan peta topografi, dan penggunaan program bantu komputer yaitu Gridded
Surface Subsurface Hydrologyc Analysis (Downer dan Odgen, 2002) serta Global Mapper Versi 8.03.

1. Topografi
Topografi akan dianisis berdasarkan peta dalam bentuk ekstensi *.hgt yang dapat dibuka di dalam program
Global Mapper Versi 8.03. Global Mapper adalah suatu program komputer yang mampu menampilkan
kondisi topografi suatu wilayah yang dapat disajikan dalam bentuk dua dimensi ataupun tiga dimensi.
Selanjutnya file diekspor dalam format *.dem (digital elevation model), bentuk format inilah yang

C-52
ISBN : 978-979-18342-2-3
selanjutnya dapat dibuka dalam program GSSHA. Tampilan dalam program GSSHA adalah berupa garis
kontur, dan selanjutnya akan secara otomatis melakukan deliniasi sungai-sungai yang mungkin ada dalam
tampilan kontur topografi tersebut. Selain format *.hgt Global Mapper juga dapat membuka file dalam
format *.asc. File kontur dalam format *.hgt dan *.asc dapat diunduh secara gratis dalam webside di situs-
situs internet.

2. Karakter Sungai
Identifikasi karakter sungai didasarkan atas peta rupa bumi dan juga hasil deliniasi sungai oleh program
GSSHA. Analisis dilakukan dari model dua dimensi alur Sungai Bone.

3. Dasar Saluran
Dasar saluran diidentifikasi berasarkan deliniasi sungai oleh GSSHA. Dasar saluran dicatat dengan cara
melakukan digitasi Sungai Bone, yaitu dengan melakukan pencatatan kemiringan saluran setiap satuan
panjang sungai. Dari hasil pengukuran secara digital tersebut maka akan dihasilkan kemiringan dasar saluran
Sungai Bone.

4. Sedimentasi
Sedimentasi sungai didasarkan atas hasil pengukuran oleh penelitian terdahulu dari pihak lain.

HASIL DAN DISKUSI
4. Topografi
Topografi di DAS Bone termasuk berbukit-bukit. Ketinggian maksimum adalah 1569,99 meter di atas muka
laut, yang berada di sisi utara das, yaitu di sekitar Gunung Olaola. Kemiringan tebing pada bagian hulu Das
Bone rata-rata mencapai 17%. Nilai kemiringan tanah ini merupakan faktor yang dapat memperbesar resiko
erosi, semakin besar kemiringan tanahnya, maka semakin besar pula erosibility daerah tersebut.

Pada bagian hilir, pada umumnya topografi dapat dibagi menjadi dua bagian. Pembagian tersebut
berdasarkan kondisi topografi yang perbedaannya sangat ekstrim. Topografi di bagian hulu terbagi atas
perbukitan dan dataran rendah yang umumnya digunakan sebagai tempat permukiman penduduk. Di daerah
perbukitan kemiringannya sekitar 16%, sedangkan di permukiman penduduk kemiringan lahan hanya 2,8%.

Indikasi bahwa DAS Bone termasuk dalam kategori terjal terlihat dari perilaku air sungai. Kecepatan air
sungai yang sangat besar mengindikasikan bahwa topografi dasar sungai sangat curam, hal ini juga terlihat di
bagian hilir Sungai Bone. Meskipun muara Sungai Bone langsung ke laut, kecepatan air sungai masih tetap
tinggi.



Gambar 1. Topografi di Das Bone

C-53
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
5. Karakter Sungai
Daerah Aliran Sungai (DAS) Bone yang berada di wilayah bagian Timur Provinsi Gorontalo, memiliki luas
total sekitar 1236,46 km
2
. Berdasarkan Peta Provinsi Gorontalo yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah
setempat, dengan skala peta 1:300.000, ada sekitar 17 anak sungai yang bermuara di Sungai Bone, ke 17
anak sungai tersebut sebagai sumber air di Sungai Bone.

Sumber air sungai ini berasal dari pegunungan dan bukit yang berada di daerah hulu, seperti Gunung
Tapambundu (876 meter di atas muka laut) yang mengalirkan Sungai Moloti, Gunung Taneya, dengan
elevasi 803 meter, yang mengalirkan Sungai Bulawa, Pegunungan Perantanaan, Gunung Molintogupo (1170
meter di atas muka laut), Gunung Olaola (1584 meter), serta Pegunungan Tilongkabila yang mengalirkan
Sungai Bulaw. Pengunungan dan gunung tersebut berada di sisi sebelah utara Sungai Bone.

Sumber air DAS Bone yang berasal dari sisi selatan adalah Gunung Taneya (803 meter) yang mengalirkan
Sungai Bulawa, Gunung Imani (1495 meter) dan Gunung Ledaleda (993 meter) yang mengalirkan Sungai
Tulabolo dan Gunung Lantadutomula (932 meter) yang mengalirkan Sungai Dumayo.

Selain berasal dari sisi utara dan sisi selatan Sungai Bone, DAS Bone juga mencakup Provinsi Sulawesi
Utara sebelah Barat. Sumber air DAS Bone yang berasal dari Sulawesi Utara dialirkan oleh Sungai
Balagudu. DAS Bone yang masuk Provinsi Sulawesi Utara seluas 190,26 km
2
, atau 15,4% dari luas total
DAS Bone (lihat Gambar 2).


Gambar 2. Batas DAS Bone (garis hitam putus-putus)
yang Mencakup Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Utara


Pada bagian hulu, Sungai Bone memiliki karakter berkelok-kelok atau meander hingga di bagian tengah.
Panjang sungai yang berkelok-kelok ini hampir mencapai 30 kilometer. Kondisi sungai yang berkelok-kelok
ini mengindikasikan bahwa tanah dasar di sungai tersebut sifatnya labil dan mudah tererosi. Hal tersebut
dimungkinkan terjadi akibat debit aliran yang besar dan menggerus badan sungai, sedangkan di sisi lainnya
terjadi pengendapan material terlarut.

Sementara itu, alur Sungai Bone bagian tengah hingga hilir lebih cendurung lurus, hingga bermuara di Teluk
Tomini, dengan panjang sekitar 28 kilometer. Hal tersebut mengindikasikan bahwa di bagian hilir, sifat
dasar tanah lebih stabil dibandingkan di bagian hulu. Perubahan bentuk alur sungai dari meander ke lurus
mulai terjadi di Desa Poduwoma, yaitu di sekitar koordinat UTM 526.493 mT, 68.267 mU.



C-54
ISBN : 978-979-18342-2-3


Gambar 3 Deliniasi Sungai Bone dan anak sungainya dalam GSSHA
6. Dasar Saluran
Selain bentuk karakter sungai yang secara ekstrim berubah dari meander ke bentuk lurus, kemiringan dasar
saluran Sungai Bone juga memiliki karakter yang sama. Kemiringan dasar saluran di bagian hulu lebih
variatif (naik turun) dari pada di bagian hilirnya. Pada bagian hilir Sungai Bone, dasar saluran lebih halus
kemiringannya.

Perubahan dari dasar saluran Sungai Bone yang naik-turun di bagian hulu ke bentuk dasar saluran yang lebih
halus di bagian hilir, secara ekstrim juga terjadi di pertengahan sungai (kilometer ke-30). Rata-rata
kemiringan dasar saluran di bagian hulu adalah 0,000761, di bagian tengah 0,031149 sedangkan di bagian
hilir 0,00468. Bagian hulu dengan kemiringan paling landai terjadi pada Sungai Bone kilometer ke-0 hingga
kilometer ke-28. Bagian tengah dengan kemiringan dasar saluran yang paling terjal jika dibandingkan dengan
bagian sungai yang lain terdapat pada kilometer ke-28 hingga kilometer ke-37,5. Sedangkan bagian hulunya
mulai pada kilometer ke-37,5 hingga kilometer ke-58,8 (lihat Gambar 4).


Gambar 4. . Kemiringan Dasar Saluran Potongan Memanjang Sungai Bone



Bagian hilir

C-55
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
Besar kecilnya kemiringan dasar saluran berpengaruh pada kecepatan. Semakin besar kemiringan dasar
saluran maka akan semakin besar kecepatan aliran air sungai, demikian juga berlaku untuk kebalikannya.
Untuk jenis tanah dasar yang sama, kecepatan air mempengaruhi kemampuan air untuk menggerus badan
sungai. Penggerusan ini akan menimbulkan pengangkatan partikel-partikel tanah, sehingga terjadi degradasi
saluran. Selanjutnya pada bagian sungai yang kecepatan alirannya semakin kecil, maka partikel-partikel
tanah tersebut akan diendapkan, sehingga di dasar saluran di bagian itu akan mengalami penumpukan
material sungai (agradasi).

7. Sedimentasi
Kandungan sedimen tersuspensi di Sungai Bone sebesar 2,03 mg/liter yang diukur pada tahun 2007 di titik
UTM 507127,91;58215,77. Sedangkan jenis sedimen dasar di Sungai Bone yang diukur di sekitar J embatan
Talomolo (UTM 507.201,73 mT; 58.204,28 mU) adalah pasir berlumpur (Sarana Bhuana J aya, 2007).


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa topografi di Das Bone memiliki kemiringan lereng sebesar 16-
17% di daerah pegunungan dan pada daerah permukiman rata-rata kemiringan lahannya ada 2,8%. Pada
bagian hulu, Sungai Bone memiliki karakter berkelok-kelok atau meander hingga di bagian tengah. Panjang
sungai yang berkelok-kelok ini hampir mencapai 30 kilometer. Kondisi sungai yang berkelok-kelok ini
mengindikasikan bahwa tanah dasar di sungai tersebut sifatnya labil dan mudah tererosi. Hal tersebut
dimungkinkan terjadi akibat debit aliran yang besar dan menggerus badan sungai, sedangkan di sisi lainnya
terjadi pengendapan material terlarut. Alur Sungai Bone bagian tengah hingga hilir lebih cendurung lurus,
hingga bermuara di Teluk Tomini, dengan panjang sekitar 28 kilometer. Hal tersebut mengindikasikan
bahwa di bagian hilir, sifat dasar tanah lebih stabil dibandingkan di bagian hulu.


UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih untuk Dr. Rudianto Ekawan, MT dan Dr. Ir. Lilik Eko Widodo atas kesempatan dan kerjasama
dalam Evaluasi Das Gorontalo, dan kepada Moch. Alkhamd, ST. atas data terkait Das Bone.





Referensi :

Anonim, -, Konservasi Daerah Tangkapan Air Dan Sumber-Sumber Air, Model Revitalisasi Sungai Bone,
Gorontalo

Downer, Charles W. dan Odgen, Fred L, 2002, GSSHA Users Manual : Gridded Surface Subsurface
Hydrologic Analysis, Engineering Research Development Center, Vicksburg.

Sarana Bhuana J aya, 2007, Laporan Akhir Survey Investigasi dan Desain Pengendalian Banjir Sungai Bone
di Propinsi Gorontalo.

C-56
ISBN : 978-979-18342-2-3
Halaman ini sengaja dikosongkan

C-57
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
MONITORING WELL SEBAGAI DETEKTOR
KWANTITATIF DAN KWALITATIF AIR TANAH TERKEKANG
DI CEKUNGAN AIR TANAH PASURUAN
Djoko Tri Yudianto
Dosen J urusan Teknik Sipil FTSP ITS
Anggota HATHI, Cabang Surabaya

ABSTRAK
Wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan seluas 2.352 km2 merupakan satu kesatuan cekungan air tanah yang
secara geografis dibatasi oleh gugusan gunung, sebagai tanah berelevasi tinggi +3.337 m DPL (Diatas
Permukaan Laut), sebagai recharge area air tanah yang masuk ke akuifer sampai ke tanah berelevasi rendah
daerah pesisir Selat Madura Laut J awa, berelevasi 0.00 DPL.
Cekungan air tanah Pasuruan memiliki banyak cadangan air tanah dan bertekanan tinggi serta ada beberapa
potensi air tanah yang memmancar sendiri ke permukaan (Self Flowing). Didalam pengembangan lebih
lanjut pengambilan air tanah memakai cara mekanis dengan pemompaan. Bila pengembangan air tanah
berlebihan (Over Developt) akan mengakibatkan kesetimbangan air tanah terganggu yaitu Daya Hantar
Listrik (DHL) 782 mhos/cm di suatu daerah pada tahun 2001, pada tahun 2004 DHL=2.910 mhos/cm.
Perlu perhitungan kesetimbangan eksplorasi air tanah agar ketersediaan air tanah tetap terbarukan, dengan
menempatkan sumur bor pantau (monitoring well).

Kata Kunci : Cekungan Air Tanah; Kwantitatif; Kwalitatif; Monitoring Well.


1. PENDAHULUAN
Cekungan air tanah Pasuruan meliputi wilayah Kota dan Kabupaten Pasuruan, dengan wilayah keduanya
2.352 km
2
. Kondisi geografis dibatasi oleh tanah berelevasi tinggi +3.337 m DPL (Diatas Permukaan Laut)
berupa gugusan Gunung Bromo, Gunung Welirang, Gunung Arjuno dan Gunung Anjasmoro, tanah
berelevasi rendah 0.00 adalah pesisir selat Madura di sisi utara.
Di dalam wilayah ini mengalir sungai-sungai utama yaitu Sungai Kadunglarangan, Sungai Masangan, Sungai
Welang, Sungai Gembong dan Sungai Winongan, dimana debit air yang mengalir pada badan sungai ikut
mempengaruhi kesetimbangan air, baik dari air tanah maupun air pemukaan. Akibat pengembangan air tanah
yang berlebihan dapat tejadi penurunan SWL (Static Water Level) dan peningkatan DHL (Daya hantar
Listrik) air tanah di pesisir. Bila air permukaan tidak mencukupi untuk keperluan daerah, dapat dibantu
dengan mengeksplorasikan air tanah.
Air tanah di Pasuruan dipakai untuk keperluan domestic, industry, pertanian, volume pemompaan 932.559
m
3
/th dengan sumur bor industry 215 bh. Untuk menjaga kwantitas, kwalitas dan kontinuitas air tanah perlu
diperhitungkan eksplorasi air tanah di cekungan Pasuruan.

2. ALIRAN AIR TANAH TERBARUKAN
a. Aliran Air Tanah
Trase permukaan tanah Pasuruan dimulai dari tanah berelevasi tinggi di gunung-gunung samapai tanah
berelevasi rendah di pesisir kecamatan Lekok, Kecamatan Rejoso, Kecamatan Rembang, Kecamatan Bagil
dan Kecamatan Gempol yang berelevasi 0.00 DPL.
Pada kasus cekungan Pasuruan, gerakan air tanah pada akuifer terkekang kedalamnya mengikuti kontur
permukaan air tanah yaitu bergerak dari daerah tinggi gunung-gunung yang bersifat daerah imbuhan
(recharge area), bergerak menuju laut di pesisir Selat Madura.

C-58
ISBN : 978-979-18342-2-3

Gambar 2.1 : Aliran Air Tanah
b. Air Tanah Bersifat Terbarukan
Air tanah yang dibahas ini adlah bukan air tanah yang berupa air fosil seperti pada kasus Lumpur Lapindo
Sidoarjo J awa Timur, air fosil tidak dapat terbarukan bila diambil akan habis seperti minyak bumi.
Siklus hidrologi air tanah dimulai dari air lautyang menguap menjadi awan, awan terbawa ke atas gunung,
awan terkondensasi menjadi hujan. Hujan yang jatuh di bumi, ada yang jatuh di pegunugan sebagai recharge
area airnya akan mengisi ruang di lapisan akuifer terkekang (confined aquifer). Hujan yang jatuh di dataran
lebih rendah akan mengisikan air di lapisan akuifer bebas tak terkekang (unconfined aquifer)
Air tanah terkekang bergerak dari daerah tinggi sampai daerah rendah pesisir, dalam perjalanannya terkadang
mengalir ke permukaan sebagai sumber (source). Terkadang menjadi aliran lateral sebagai base flow pada
sungai dan terakhir terkadang menjadi sumber air tawar di pantai, seperti kasus di Pantai Boom Tuban J awa
Timur.

Gambar 2.2: Profil Aquifer

3. Kwalitas Dan Kwantitas Air Tanah
a. Kwalitas Air Tanah
Kondisi Terkini kwalitas air tanah di Pasuruan lenih menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kwalitas
air tanah ini salah satunya dapat diketahui debgan mengukur Daya Hantar Listrik (DHL), bila DHL
meningkat berarti kwalitas air tanah menurun tercemar intrusi air laut. Kasus di pesisir Pasuruan pada tahun
2001 DHL =782 mhos/cm, pada tahun 2004 =2.910 mhos/cm, berarti di area tersebut kwalitas air tanah
menurun.

C-59
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

Gambar 3.1: Kontur DHL
b. Kwantitas Air Tanah
Kwantitas air tanah dapat diketahui dari data geolistrik dan sebarannya serta angka kesarangan batuan
akuifer.

Gambar 3.2: Hasil Uji Geolistrik 3D

Gambar 3.3: Potensi Air Tanah

C-60
ISBN : 978-979-18342-2-3
Volume estimasi debit air tanah (Q) Dinamis:
Q =( 1 )A.h
Dimana:
=Koefisien kesarangan ;
A =Luas Wilayah Potensi ( Km2 ).
h =Tinggi Akuifer ( m ).
Untuk kasus Kecamatan Pandaan, Kecamatan Gempol dan Kecamatan Rembang didapat = 0.55 ; A =
15,071 km
2
; h =30 m s/d 50 m.
Diperoleh Q =23.11.495x10
3
m
3
/tahun

Gambar 3.4: Peta Cekungan Air tanah Pasuruan


Gambar 3.5: Penampang Akuifer Cekungan Air Tanah Pasuruan


C-61
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
4. PENGEMBANGAN AIR TANAH BERLEBIHAN
a. Cara Pengambilan Air Tanah
Air tanah di Pasuruan yang diambil untuk berbagai keperluan yang dominan adalah pengambilan untuk
keperluan industri dan pertanian. Di Pasuruan tercatat pengambilan air tanah dengan sumur bor dalam
sebanyak 215 buah, volume air tanah terkekang yang diambil sebesar 932.559 m
3
/tahun rata-rata selama 4
tahun terakhir.

Gambar 4.1: Cara Pengambilan Air Tanah
b. Pengembangan Berlebihan (Over Development)
Bila pengambilan air tanah berlebihan (over development) akan terjadi penurunan pada kwantitas, kwalitas
dan kontinuitas air tanah.
5. MONITORING WELL UNTUK MENJAGA KESETIMBANGAN AIR TANAH
a. Kesetimbangan Air Tanah
Untuk mencapai kesetimbangan air tanah berarti sama dengan menjaga kontinuitas keberadaan air tanah
sepanjang tahun dan layak kwalitasnya serta cukup volumenya untuk segala macam keperluan setempat.

C-62
ISBN : 978-979-18342-2-3

Gambar 5.1: Kesetimbangan Air Tanah (2D)


Q
D
=Kebutuhan Domestik
Q
i
=Kebutuhan Industri
Q
P
=Kebutuhan Pertanian
Gambar 5.2: Kesetimbangan Air Tanah Terkekang (3D)
Bila air permukaan (surface water) kurang disupplai dari
pemompaan air tanah (Qs).
Kesetimbangan Air Tanah Anuitas
Qin =Q
i
+Q
D
+Q
P
+Q
out

Q
out
>pos penyangga air tanah.
Q
out
harus dijaga sepanjang tahun sehingga DHL

C-63
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
dibawahnya terutama di daerah pesisir tidak terjadi kenaikan (intrusi air laut).
Contoh kasus di Pandaan, muka air tanah (SWL) menurun sampai 0,40 m dari tahun 2001 sampai dengan
tahun 2004, hal ini menunjukkan bahwa debit penyangga harus diperhitungkan supaya tidak terjadi
penurunan kwantitas maupun kwalitas serta kontinuitasnya.
b. Konstruksi Monitoring Well
Gambar 5.3: Penampang Monitoring Well
Pada bagian atas sumur dipasang penutup yang bisa dibuka tutup untuk memantau kondisi air tanah.
c. Penempatan Monitoring Well Minimal

Gambar 5.4: Penempatan Monitoring Well Minimal
Keterangan:
: Lokasi Penempatan Monitoring Well
: Zona Rawan
: Zona Aman
: Daerah Imbuhan Air Tanah
6. KESIMPULAN DAN SARAN
Cadangan air tanah di Pasuruan 2.311.495.10
3
m
3
/tahun masih cukup untuk melayani kebutuhan 932.559
m
3
/tahun. Kwalitas air di daerah pengambilan masih layak DHL=800 mhos/cm <1500 mhos/cm.
Di dalam pengembangan pengambilan air tanah pada masa mendatang harus dibatasi sehingga terjaga
kwalitas, kwantitas, dan kontinuitasnya.
Diperlukan monitoring well untuk mengetahui setiap saat akan DHL dan SWL agar setiap saat dapat
diketahui dengan mudah kwalitas air tanah berupa DHL dan elevasi SWLnya.
7. DAFTAR PUSTAKA
1. David Keith Tod (1980), Ground Water Hydrology, jhon Willy and Sons.
2. Peta Geohidrology J awa Timur (1995)
3. Badan Pelaksana Dan Pengendali Dampak Lingkungan Kabupaten Pasuruan (2004), Study Dampak
Pengambilan Air Bawah Tanah.
4. Badan Perencanaan Pembangunan Kota Pasuruan (2007), Zonasi Air Bawah Tanah.
5. Dinas Energi Dan Sumberdaya Mineral Pemerintah Propinsi J awa Timur (2007), Pemetaan Zona
Konservasi Air Tanah Di Cekungan Air Tanah (CAT) Pasuruan.


C-64
ISBN : 978-979-18342-2-3
ANALISIS TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DAS SAMPEAN BARU
MENGGUNAKAN INTEGRASI REMOTE SENSING
DAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM


Gusfan Halik
Laboratorium Hidroteknik J urusan Teknik Sipil Universitas J ember
gusfan@gmail.com

ABSTRAK

Teknologi remote sensing (RS) dalam dekade ini telah berkembang pesat dalam menyediakan
informasi tata guna lahan terkini dan dapat memonitor perubahannya secara temporal. Salah satu diantaranya
adalah citra landsat 7 ETM+. Sejak tahun 2003, landsat 7 EMT+bekerja dengan SLC OFF. Landsat 7 ETM+
SLC OFF masih dapat dimanfaatkan untuk mengetahui perubahan tata guna lahan dengan melakukan teknik
perbaikan citra menggunakan metode Localized Linier and Histogram Match, LLHM), berupa : pengisian
gap pada citra menggunakan beberapa citra series (berkala) dan melakukan penyamaan histrogramnya.
Identifikasi lahan kritis menggunakan teknik overlay dalam Geographic Information System (GIS). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa DAS Sampean Baru dalam kurun waktu antara tahun 1999 sampai 2009 telah
terjadi pengurangan luasan hutan sebesar 3,456 Ha (4.45%), pengurangan luasan perkebunan sebesar 1,896
Ha (2.44%), peningkatan luasan semak belukar sebesar 1,352 Ha (1.74%), peningkatan luasan sawah tadah
hujan sebesar 2,976 Ha (3.83%). Tingkat kekritisan lahan terjadi peningkatan untuk kondisi sangat kritis
sebesar 1,200 Ha (1.55%), kritis sebesar 3,000 Ha (3.86%), agak kritis sebesar 974 Ha (1.25%) dan potensial
kritis sebesar 2,250 Ha (2.90%). Dengan demikian, integrasi antara RS dan GIS dapat digunakan sebagai
metode alternatif yang cepat dan efisien dalam melakukan identifikasi perubahan tata guna lahan dan
pemetaan lahan kritis jika dibandingkan dengan survei langsung di lapangan.


Kata kunci : Landsat 7 ETM+SLC OFF, LLHM, Lahan Kritis, Integrasi RS dan GIS


PENDAHULUAN

Karakteristik penutupan lahan suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh kondisi bio-fisik maupun
sosial ekonomi masyarakatnya. Survei tutupan lahan yang dilakukan secara langsung di lapangan
memerlukan tenaga yang banyak, waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Peta hasil pemetaan lapangan
secara langsung menjadi usang (out of date) seiring dengan perubahan lingkungan yang sangat cepat. Hal ini
mengakibatkan pelaksanaan pemantauan perubahan tata guna lahan dan analisisnya menjadi sangat sulit
dilakukan apabila digunakan survei secara tradisional. Oleh karena itu diperlukan teknologi yang mampu
menggambarkan obyek dipermukaan bumi secara luas, terkini dan dapat dimanfaatkan secara periodik.
Teknologi penginderaan jauh (remote sensing) mampu menggambarkan obyek di permukaan bumi, sehingga
dapat digunakan untuk memetakan penutupan lahan dan memonitor perubahannya. Akhir dekade ini, telah
berkembang dengan pesat teknologi penginderaan jauh yang telah terbukti secara luas dan akurat dalam
menyediakan informasi tata guna lahan dan tutupan lahan serta mampu memonitor perubahannya secara
periodik. Beberapa penelitian mengenai penggunaan teknologi penginderaan jauh dalam mendeteksi
perubahan tata guna lahan dan tutupan lahan yang telah dilakukan diantaranya : Boakye, E., et.al., (2008) ;
Wenli Huang, et.al., (2008) ; Lassana Ballo, et.al., (2008) ; Fenglei Fan., et.al., (2007) ; Seto., K.C., et.al.,
(2002), J ohn Rogan and DongMei Chen, (2004).
Kebutuhan akan data terkini dengan tingkat akurasi tinggi, pada areal yang sangat luas diperlukan
untuk memantau perubahan yang terjadi. Hal ini merupakan satu kesatuan dalam sistem pengelolaan DAS.
Data yang diperoleh dari teknologi penginderaan jauh yang telah di cek di lapangan digunakan sebagai
masukan (input) bagi Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System, GIS) untuk selanjutnya
diproses dan dianalisa sehingga diperoleh peta tutupan lahan yang akurat. Melalui proses GIS, data dari
penginderaan jauh dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan tata guna lahan dan pemetaan lahan kritis
yang terjadi pada suatu DAS. Integrasi penginderaan jauh dan GIS merupakan hal penting yang sangat
diperlukan untuk membantu keterbatasan dana, waktu dan tenaga kerja apabila survei langsung dilakukan di

C-65
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
lapangan dengan hasil yang diperoleh memiliki akurasi tinggi, mudah, cepat dan murah, dapat dilakukan
setiap saat.
Salah satu citra satelit yang sering dipakai untuk melakukan analisis perubahan tata guna lahan
adalah landsat 7 ETM+. Sejak tahun 2003, landsat 7 EMT+bekerja dengan SLC OFF. Landsat 7 ETM+SLC
OFF masih dapat dimanfaatkan untuk mengetahui perubahan tata guna lahan dengan melakukan teknik
perbaikan citra menggunakan metode Localized Linier and Histogram Match, LLHM), berupa : pengisian
gap pada citra menggunakan beberapa citra serie (berkala) dan melakukan penyamaan histrogramnya,
kemudian dilakukan koreksi radiometrik dan geometrik, penajaman citra dan klasifikasi citra. Sedangkan
indentifikasi lahan kritis menggunakan teknik overlay dalam Geographic Information System (GIS).
Sementara itu, kondisi di DAS Sampean Baru juga terjadi perubahan luasan jenis-jenis pola
penggunaan lahan. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Balai PSAWS Sampean menunjukkan bahwa
pola tata guna lahan DAS Sampean Baru terdiri dari : hutan, perkebunan, tegalan, sawah dan pemukiman.
Komposisi luasan hutan terjadi penurunan, akibat adanya penggundulan hutan secara besar-besaran yang
merupakan fenomena dan wacana yang terjadi dan sulit dihindari. Dampak dari penurunan luasan hutan ini
berupa banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Situbondo pada bulan J anuari 2002, kemudian disusul
banjir pada bulan Februari 2008 (UPT PSAWS Sampean, 2008).


METODOLOGI
Lokasi Penelitian
Secara administrasi daerah penelitian terletak di DAS Sampean Baru Kabupaten Bondowoso,
meliputi beberapa kecamatan, yaitu : Kecamatan Wringin, Pakem, Curahdami, Bondowoso, Tegalampel,
Tenggarang, Grujugan, Maesan, Tamanan, Pujer, Tlogosari, Wonosari, dan Sukosari (Gambar 1). Sedangkan
secara geografis DAS Sampean Baru terletak 7o48 7o58 LS dan 114o40 114o48 BT. Luas total DAS
Sampean Baru seluas 776.57 km2 yang terbagi menjadi 24 sub DAS (Gambar 2).

















Gambar 1. Batas Administrasi DAS Gambar 2. Pembagian Sub DAS


Bahan dan Peralatan
Bahan dan peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini, terdiri dari :
1. Citra satelit landsat -7 ETM+SLC ON (1999) dan SLC OFF (2009)
2. Peta Rupa Bumi (RBI) skala 1 : 25.000 yang diterbitkan oleh Bakorsurtanal
3. Global Positioning System (GPS) Gamin Map tipe 76 CSX
4. Komputer (hardware dan software)
Sedangkan tahapan kegiatan penelitian ini selengkapnya ditunjukkan pada Gambar 3.





C-66
ISBN : 978-979-18342-2-3






































Gambar 3. Tahapan Penelitian

HASIL DAN DISKUSI
Dalam penelitian ini, penyusunan database spasial tata guna lahan menggunakan citra satelit landsat-7
ETM+. Database citra satelit tersebut dibagi dalam dua kelompok, yaitu : citra satelit landsat-7 ETM+SLC-
OFF (periode perekaman tahun 2009) dan citra landsat-7 ETM+SLC-ON (periode perekaman tahun 1999).
Sebaran tata guna lahan di lokasi penelitian (DAS Sampean Baru) berada pada path 117 dan row 66. Datum
yang digunakan adalah World Geodetic System 1984 (WGS84).
Analisis citra landsat-7 ETM+dengan SLC ON yang digunakan adalah citra satelit dengan periode
perekaman 9 September 1999 (Gambar 4). Dalam mengindentifikasi tutupan lahan (unsur vegetasi) yang
terdapat di DAS Sampean Baru, digunakan konsep indeks vegetasi. Konsep ini didekati dengan metode
NDVI (Normalized Defferencing Vegetation Index). Nilai indeks vegetasi dihitung sebagai rasio antara
pantulan yang terukur dari band merah (R) dan band infra merah (didekati oleh band NIR) pada gelombang
elektromagnetik (Prahasta, 2008). Band NIR dan band R pada sensor satelit landsat-7 ETM adalah band 3
dan band 4. Kedua band ini dipilih sebagai parameter indeks vegetasi karena ukurannya paling dipengaruhi
oleh penyerapan klorofil daun (vegetasi hijau). Band merah (R) sangat sedikit dipantulkan, sementara band
inframerah (NIR) dipantulkan sangat kuat. Nilai indeks vegetasi ini DAS Sampean baru berada antara 0.1
Mulai
Peta RBI Thn 2000

Digitasi Peta RBI

Layer

Citra Satelit

Survei

Koreksi Geometrik
Penajaman Citra
Cropping Citra
Klasifikasi Citra

Training
Area
Analisis Hasil

Ground

Sebaran Tata

Layer

Digital Elevation
Model
Deliniasi Daerah

Sistem Informasi
Manajemen Tata

Analisis Tingkat
Kelerengan
Selesai
Analisis dan
Pembahasan
Analisis Indeks
Bahaya Erosi
Analisis Tingkat
Keritisan Lahan

C-67
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
(warna biru) sampai 0.7 (warna merah). Nilai yang lebih besar dari domain ini merupakan representasi
tingkat kesehatan vegetasi yang baik. Sementara nilai 0 dan negatif diasosiasikan sebagai unsur-unsur non
vegetasi, seperti : tubuh air, tanah kosong dan lahan terbuka. Nilai NDVI di DAS Sampean Baru tahun 1999
ditunjukkan pada Gambar 5.









Gambar 4. Citra Landsat-7 ETM+SLC ON Gambar 5. Indeks Vegetasi dengan NDVI

Setelah nilai NDVI didapatkan, kemudian dilakukan klasifikasi citra yang diawali dengan pembuatan
training area. Pemilihan training area didasarkan pada informasi lapangan dan informasi dari peta rupa bumi.
Disamping itu pemilihan kombinasi band akan membantu dalam menentukan kelas tata guna lahan pada saat
pembuatan training area dilakukan. Hasil klasifikasi citra metode terbimbing ditunjukkan pada Gambar 6 dan
Gambar 7.

















Gambar 6. Hasil Klasifikasi Terbimbing Gambar 7. Luasan Tata Guna Lahan 1999


Analisis citra landsat tahun 2009 dengan SLC-OFF (terdapat gap), sehingga perlu dilakukan pengisian
gap pada citra master dengan citra pengisinya. Citra master yang dijadikan sebagai citra utama adalah yang
memiliki tutupan awan yang paling sedikit (6 Oktober 2009). sedangkan citra pengisi gap adalah citra selain
citra master dengan periode perekaman yang berdekatan, yaitu : 22 Oktober dan 23 Nopember 2009. Gap
data citra dan formulasi pengisian gap pada masing-masing periode perekaman ditunjukkan pada Gambar 8.


C-68
ISBN : 978-979-18342-2-3


















Gambar 8. Gap citra dan Formulasi Pengisiannya


Tahap pengisi gap pada citra master dilakukan dengan melakukan retrifikasi citra pengisi pada citra
master, sehingga kedua citra mempunyai koordinat yang sama. Setelah itu dilakukan LLHM (Localized
Linier and Histogram Match) atau penyamaan histogram secara linier dan terlokalisir agar didapatkan citra
yang mempunyai kontras dan warna yang sama antar kedua citra. Transformasi linier yang dipakai
ditentukan berdasarkan perhitungan nilai absolut rata-rata antara piksel-piksel yang ada dalam kedua citra
yang telah dilokalisir tersebut. Hal ini juga dapat dilakukan untuk daerah lain yang telah dilokalisir, sehingga
bentuk transformasi antara satu lokasi dengan lokasi yang lain dapat berbeda-beda. J adi tahapan pengisian
citra ini merupakan kegiatan yang dilakukan pada beberapa daerah terlokalisir (bukan seluruh bagian citra),
hanya pada bagian kecil yang memerlukan penajaman. Hasil pengisian gap citra master dapat dilihat pada
Gambar 9. Setelah pengisian gap ini dilakukan tahap berikutnya adalah pengklasifikasian citra. Klasifikasi
dilakukan dengan metode terbimbing (supervised) seperti yang usulkan oleh Nicholas (2003), Ramsey (2001)
dan Piwowar (2001). Hasil klasifikasi citra (terbimbing) dapat dilihat pada Gambar 10, sedangkan perubahan
tata guna lahan dapat dilihat pada Gambar 11.

















Gambar 9. Hasil Pengisian Gap (band 543)






C-69
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010















Gambar 10. Hasil Klasifikasi Terbimbing Gambar 11. Perubahan Tata Guna Lahan


Untuk mengetahui tingkat kesesuaian hasil klasifikasi tata guna lahan diatas (Gambar 10), maka
umumnya dilakukan survei langsung dilapangan (ground truth). Survei langsung dilapangan ini memerlukan
waktu yang lama dan biaya yang relatif tinggi. Pada penelitian ini, tingkat kesesuaian klasifikasi tata guna
lahan dilakukan dengan metode integrasi atau sinkronisasi antara hasil penginderaan jauh (Google Earth) dan
sistem informasi geografis (View ArcMap) menggunakan script yang dikembangkan oleh Luiz Matta. Hasil
integrasi kesesuaian tata guna lahan ditunjukkan pada Gambar 12.

















Gambar 12. Tingkat Kesesuaian Tata Guna Lahan



Penentuan lahan kritis menggunakan teknik overlay (tumpang susun) terhadap beberapa peta, meliputi
: peta kelerengan, peta tata guna lahan, peta indeks erosi dan peta manajemen. Peta kelerengan didasarkan
peta peta digital elevation model 3D (DEM) yang ditunjukkan pada Gambar 12. Hasil analisis menunjukkan
bahwa parameter kelerengan di DAS Sampean Baru untuk kelas lereng (0-3%) dengan luas 31,977.04 Ha
(41.18%). Kelas lereng (3-8%) dengan luas 19,060.27 Ha (24.54%). Kelas lereng (8-15%) dengan luas
11,522.23 Ha (14.84%). Kelas lereng (15-25%) dengan luas 8,805.01 Ha (11.34%). Kelas lereng (25-40%)
dengan luas 4,976.25 Ha (6.41%). Kelas lereng (>40%) dengan luas 1,316.67 Ha (1.70%). Peta Tingkat
Kelerengan DAS Sampean Baru dapat dilihat pada Gambar 13.






C-70
ISBN : 978-979-18342-2-3















Gambar 12. Peta DEM-3D Gambar 13. Peta Kelerengan















Gambar 14. Indeks Bahaya Erosi

Indeks bahaya erosi merupakan parameter penting dalam melakukan evaluasi potensi erosi. Indeks
bahaya erosi dinyatakan sebagai perbandingan antara laju erosi potensial yang terjadi terhadap nilai batas
erosi yang diperbolehkan. Besarnya laju erosi potensial dihitung menggunakan model extension swat-2000,
sedangkan besarnya nilai batas erosi yang diperbolehkan mengacu pada hasil penelitian untuk kondisi tanah
di Indonesia (Arsyad, 2000). Peta indeks bahaya erosi yang terjadi di DAS Sampean Baru ditunjukkan pada
gambar 14, sedangkan peta kekritisan lahan ditunjukkan pada Gambar 15-16.
















Gambar 15. Peta Kekritisan Lahan 1999 Gambar 16. Peta Kekritisan Lahan 2009


C-71
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010
Besarnya tingkat kekritisan lahan selama periode 1999-2009 terjadi peningkatan untuk kondisi sangat
kritis sebesar 1,200 Ha (1.55%), kritis sebesar 3,000 Ha (3.86%), agak kritis sebesar 974 Ha (1.25%) dan
potensial kritis sebesar 2,250 Ha (2.90%).

Berdasarkan tingkat kekritisan lahan (Gambar 16) tersebut diatas, kemudian dilakukan integrasi atau
sinkronisasi antara ArcMap dengan hasil penginderaan jauh dari Google Earth sehingga dapat diketahui
tingkat kesesuaian lahan kritis terhadap kondisi sebenarnya dilapangan. Sinkronisasi ini menggunakan script
yang dikembangkan oleh Luiz Matta. Dengan sinkronisasi ini, setiap peta atau layer lokasi tingkat kekritisan
lahan yang ditampilkan dalam view ArcMap akan ditampilkan juga pada Google Earth sesuai dengan zoon in
yang dilakukan di view ArcMap. Hasil sinkronisai ditunjukkan pada Gambar 17.


















Gambar 17. Hasil Sinkronisasi ArcMap dengan Google Earth


Perubahan tata guna lahan dan tingkat kekritisan lahan selama periode 1999-2009 akan berdampak
terhadap besarnya aliran yang terjadi. Dampak perubahan tata guna lahan terhadap aliran ini dinyatakan
dalam bentuk kurva durasi Aliran (Flow Duration Curve, FDC). Kurva durasi aliran ditunjukkan pada
Gambar18, sedangkan perubahan debit aliran periode 1999-2009 ditunjukkan pada tabel 1.
















Gambar 18. Kurva Durasi Aliran

Berdasarkan kurva FDC (Gambar 18) dan Tabel 1, menunjukkan bahwa perubahan aliran pada saat
musim kemarau (Prob. 60-90%) terjadi penurunan debit aliran sebesar =2.10 m
3
/dt (33.80 %), sedangkan
pada saat musim penghujan (Prob. 0-10%) terjadi peningkatan debit aliran sebesar =5.36 m
3
/dt (8.0 %).
Sedangkan puncak banjir yang pernah terjadi (observasi) tahun 1999 sebesar 355.93 m
3
/dt dan tahun 2009
sebesar 677.12 m
3
/dt. Ini berarti terjadi peningkatan debit puncak aliran sebesar =90.2 %. Dari analisis ini,
Tabel 1. Perubahan debit Aliran
1
10
100
1000
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Probabilitas Exceeded (%)
D
a
i
l
y

M
e
a
n

D
i
s
c
h
a
r
g
e


(
m
^
3
/
d
t
)

1999
2009
low flow
dry condition
midrange flow
moist condition
high flow
Prob.
(%) 1999 2009
95 3.02 2.95
90 4.21 3.01
75 6.21 4.11
50 9.52 7.23
25 21.31 20.88
10 45.50 40.88
5 66.79 72.16
1 135.04 280.70
Q (m^3/dt)

C-72
ISBN : 978-979-18342-2-3
menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan (tingkat keritisan lahan) akan berdampak terhadap
peningkatan puncak debit aliran pada musim penghujan dan terjadi penurunan debit aliran pada saat musim
kemarau. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari semakin menurunnya kemampuan air yang tersimpan
akibat semakin berkurangnya tutupan lahan (hutan).
Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya atau tindakan konservasi dalam rangka menekan terjadinya
tingkat keritisan lahan yang semakin tinggi. Upaya tersebut dapat berupa tindakan konservasi baik secara
vegetatif (penghijauan) maupun secara teknis (pembuatan cek dam, rolak, dan lainnya). Upaya konservasi
yang segera dilakukan untuk kondisi lahan yang sangat kritis di DAS Sampean baru, adalah Sub DAS Gubri
dan Sub DAS Pakel (Kecamatan Tegal Ampel), Sub DAS Gubri (Kecamatam Wringin), Sub DAS Curah Pao
(Kecamatan Klabang) dan Sub DAS Selokambang (Kecamatan Curah Dami) serta Sub DAS S. Sampean
(Kecamatan Tegalampel) .


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan diskusi diatas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Integrasi RS dan GIS dalam melakukan pemetaan tata guna lahan dan penentuan lahan kritis di DAS
Sampean Baru dapat digunakan sebagai salah satu alternatif metode yang cepat dan efisien jika
dibandingkan dengan survei langsung dilapangan.
2. Teknik pengisian gap pada citra landsat-7 ETM+SLC-OFF dengan metode LLHM merupakan metode
yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas citra.
3. Tingkat kekritisan lahan selama periode 1999-2009 terjadi peningkatan untuk kondisi sangat kritis
sebesar 1,200 Ha (1.55%), kritis sebesar 3,000 Ha (3.86%), agak kritis sebesar 974 Ha (1.25%) dan
potensial kritis sebesar 2,250 Ha (2.90%).
4. Perubahan tata guna lahan dan peningkatan tingkat kekritisan lahan telah mengakibatkan terjadinya
penurunan debit aliran sebesar 33.80% (musim kemarau), sedangkan musim penghujan terjadi
peningkatan debit aliran berkisar antara 8.0 90.2%.


REFERENSI

UPT PSAWS Sampean, 2008. Penjelasan Singkat Tentang Banjir Sungai Sampean di Situbondo tanggal
8 Pebruari 2008. Balai PSAWS Sampean, Bondowoso.

Arsyad, Sitanala. 2000. Konservasi Tanah Dan Air. Bogor : IPB Press

Boakye, E., Odai, S.N., Adjei K.A., Annor F.O., 2008. Landsat Images for Assessment of the Impact of
Land Use and Land Cover Changes on the Barekese Catchment in Ghana. European J ournal of
Scientific Research, 2008. ISSN 1450-216X Vol.22 No.2, pp. 269-278.

Fenglei Fan., Qihao Weng., Yun Peng Wang., 2007. Land use and Land Cover Change in Guangzhuo,
China From 1998 to 2003, Based on Landsat TM/ETM+ Imagery. Sensor 2007, ISSN : 1424
8220, Vol. 7 pp. 1323 1342.
J ohn Rogan and Dong Mei Chen, 2004. Remote Sensing Technology for Mapping and Monitoring.
Elsevier, 2004. Progress in Planning Vol. 61 pp. 301325.

Lassana Ballo, Hu Guangdao, Wen Xinping, Wu Xinbing, 2008. Land Cover Change Detection Using
Supervised Classification Method of Wuhan in 1991 and 2002. Research J ournal of Applied Sains,
2008. ISSN 1815-932X Vol. 3 No. 2 pp. 90-94.

Luiz Motta, 2008. Synchronized Google Earth with ViewMap of ArcMap. (http://arcscript.esri.com
/details.asp?dbid=15944

)
Nicholas, S.M, 2003. Supervised Classification. http://rst.gsfc.nasa.gov/Sect1/Sect1_17.html.

C-73
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Wilayah 2010

Piwowar, J oseph M, 2001. Image Classification.

http://fes.waterloo.ca/crs/geog376
/ImageAnalysis/Classification/Classification/html.
Prahasta E, 2008. Remote Sensing Praktis Penginderaan Jauh dan Pengolahan Citra Digital dengan
Perangkat Lunak ER Mapper. Penerbit Informatika Bandung.

Ramsey, R Douglas, 2001. Image Classification and Feature Extraction.

http://www.gis.usu.edu/~doug/RS6740/lectures/index.html.
Seto., K.C., Woodcok C.E., Song C. Wuang X. Lu and Kaufmann R.K., 2002. Monitoring Land use
Change in the Pearl River Delta Using Landsat TM. International J ournal of Remote Sensing,
2002. ISSN : 0143-1161. Vol. 23 No. 10 pp. 1985 2004.

Wenli Huang, Huiping Liu, Qingzu Luan, Qingxiang J iang, J unping Liu, Hua Liu., 2008. Detection And
Prediction Of Land Use Change In Beijing Based On Remote Sensing and GIS. The International
Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, 2008, Vol.
XXXVII, Part B6b, Beijing, pp. 75-82.


http://landsat.gsfc.nasa.gov/

Anda mungkin juga menyukai