Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
DHF (Dengue Haemorrhagic Fever) adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue, terutama menyerang pada anak-anak dengan
ciri-ciri: demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan
bertendensi menimbulkan syok (DSS / Dengue Shock Syndrome ) dan
kematian. Penyakit ini ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti, yang
membawa virus dengue (anthropad borne viruses). DHF dapat menyerang
semua umur tetapi terbanyak pada anak-anak (www.scribd.com).
Pada awal mulainya demam, DHF sulit dibedakan dari infeksi lain yang
disebabkan oleh berbagai jenis virus, bakteri dan parasit. Setelah hari ketiga
atau keempat pemeriksaan darah dapat membantu diagnosa. Diagnosa
ditegakkan dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan darah: trombositopeni,
yaitu jumlah trombosit kurang dari 100.000 sel/mm
3
dan hemokonsentrasi,
yaitu jumlah hematokrit meningkat paling sedikit 20% di atas rata-rata. Hasil
laboratorium seperti ini biasanya ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-7.
(lisa_ira@litbang. Depkes.go.id).
Pada DHF / DBD (Demam Berdarah Dengue) terdapat kejadian unik
yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga
peritoneal. Kebocoran plasma ini disebabkan oleh perubahan permeabilitas
yang meningkat akibat disfungsi struktur sel endotel. Efusi pleura merupakan
2


salah satu manifestasi klinis kebocoran plasma yang merupakan gambaran
khas pada DBD dan juga indikator untuk menentukan derajat penyakit DBD
(www.findtoyou. com/ebook). Efusi pleura adalah cairan abnormal dalam
rongga pleura akibat cairan yang berlebihan akan menyebabkan pasien sesak
nafas (Rasad, 2000).
Pemeriksaan radiologi thorax biasanya dilakukan untuk membantu dalam
menegakkan diagnosa DHF. Pada pemeriksaan radiologi thorax kadang-
kadang ditemukan efusi pleura atau hipoalbuminemia yang menunjukkan
adanya kebocoran plasma pada pasien DBD (lisa_ira@litbang. Depkes.go.id).
Ada beberapa proyeksi dalam pemeriksaan radiologi thorax yang umumnya
dilakukan pada kasus DHF yaitu: Postero anterior (PA) dengan posisi pasien
berdiri tegak menghadap standar kaset (Erect). Pemeriksaan ini dilakukan
pada pasien yang masih mampu berdiri, jika pasien dalam keadaan lemah
dapat dilakukan dalam posisi duduk di atas meja pemeriksaan. Untuk pasien
yang kondisinya lemah dapat dilakukan proyeksi Antero posterior (AP)
dengan posisi pasien duduk di atas brankard. Dimana pada foto thorax dengan
proyeksi PA (Postero Anterior) atau AP (Antero Posterior) tegak bila
ditemukan efusi pleura maka cairan efusi pleura akan terkumpul pada sinus
costophrenicus dekstra maupun sinistra. Sementara itu untuk proyeksi
tambahan adalah proyeksi lateral, lateral decubitus, dan ventral maupun dorsal
decubitus dapat dilakukan bila proyeksi ini dianggap perlu untuk membantu
menegakkan diagnosa (http://www.scribd.com/).
3


Menurut Bontrager (2001), proyeksi yang digunakan pada teknik
radiografi thorax untuk menegakkan diagnosa efusi pleura adalah: PA, AP,
Lateral, dan Lateral decubitus. Sedangkan menurut Frank, Long & Smith
(2007), proyeksi yang digunakan pada teknik radiografi thorax untuk
menegakkan diagnosa efusi pleura adalah Right Lateral Decubitus (RLD) atau
Left Lateral Decubitus (LLD) dan Ventral Decubitus atau Dorsal Decubitus.
Pada foto thorax PA (Postero Anterior) atau AP (Antero Posterior) tegak
dapat memperlihatkan cairan efusi pleura dengan jumlah cairan pleura yang
berkisar 250-300 ml, dimana cairan akan terkumpul pada sinus costophrenicus
dekstra maupun sinistra. Bila cairan kurang dari 250 ml (100-200 ml), dapat
ditemukan cairan di sinus costophrenicus posterior pada thorax lateral tegak.
Cairan yang kurang dari 100 ml (50-100 ml), dapat diperlihatkan dengan
posisi lateral decubitus dan arah sinar horizontal sehingga cairan akan
terkumpul di sisi samping bawah (Rasad, 2000). Ventral Decubitus atau
Dorsal Decubitus menampakkan perubahan posisi cairan dan menampakkan
daerah paru-paru yang tak jelas dengan cairan dalam proyeksi standar (Frank,
dkk. 2007).
Pemeriksaan radiografi thorax pada pasien dengan kasus DHF di Rumah
Sakit Umum Negara, kebanyakkan pasiennya adalah anak-anak. Pada tahun
2010 pasien dengan kasus DHF di Instalasi Radiologi RSU Negara berjumlah
10 orang, dimana 9 orang (90%) adalah anak-anak, dan 1 orang dewasa
(10%). Pada saat penulis melakukan penelitian di Instalasi Radiologi RSU
Negara dari bulan Januari 2011 sampai Juni 2011 terdapat 5 orang pasien
4


dengan kasus DHF, dan semuanya adalah anak-anak (100%). Adapun teknik
pemeriksaan radiografi thorax pada kasus DHF di Instalasi Radiologi RSU
Negara hanya dilakukan dengan menggunakan proyeksi Right Lateral
Decubitus (RLD) saja, sedangkan berdasarkan teori pemeriksaan radiografi
thorax untuk menegakkan diagnosa efusi pleura dapat dilakukan dengan
proyeksi PA, AP, Lateral, Right Lateral Decubitus atau Left Lateral
Decubitus, maupun Ventral Decubitus atau Dorsal Decubitus.
Berdasarkan latar belakang di atas terdapat perbedaan antara teori dengan
pelaksanaan yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSU Negara, maka dari itu
penulis tertarik untuk membahas dalam suatu Karya Tulis Ilmiah dengan
judul: TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI THORAX ANAK PADA
KASUS DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER (DHF) DI INSTALASI
RADIOLOGI RSU NEGARA.
1.2 Rumusan Masalah
Agar dalam penyusunan karya tulis ini dapat terarah, maka penulis
membatasi beberapa masalah yang akan diangkat. Beberapa masalah yang
penulis angkat adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana teknik pemeriksaan radiografi thorax anak pada kasus Dengue
Haemorrhagic Fever (DHF) di Instalasi Radiologi RSU Negara?
2. Apa saja kelebihan serta kekurangan teknik pemeriksaan radiografi thorax
anak pada kasus Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) di Instalasi
Radiologi RSU Negara?
1.3 Tujuan Penelitian
5


Tujuan Penulisan karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan radiografi thorax anak pada kasus
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) di Instalasi Radiologi RSU Negara.
2. Untuk mengetahui kelebihan serta kekurangan teknik pemeriksaan
radiografi thorax anak dengan kasus Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
di Instalasi Radiologi RSU Negara.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan dari karya Tulis Ilmiah ini
adalah sebagai berikut:
1.4.1 Bagi Institusi Rumah Sakit
Memberi masukan dan saran-saran yang berguna bagi rumah sakit,
dalam hal ini instalasi radiologi umumnya dan radiografer pada
khususnya mengenai pemeriksaan radiografi thorax anak pada kasus
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF).
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber pustaka bagi Mahasiswa Akademi Teknik
Akademi Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO) Bali.


1.4.3 Bagi penulis
Menambah dan memperdalam pengetahuan penulis tentang
pemeriksaan radiografi thorax pada kasus Dengue Haemorrhagic Fever
(DHF).
6


1.5 Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam memahami isi karya tulis ini, maka penulis
membuat sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan studi
kasus, manfaat studi kasus dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi anatomi dan fisiologi thorax, patologi DHF dan efusi
pleura, teknik radiografi thorax, gambaran umum Instalasi Radiologi
RSU Negara dan pertanyaan penelitian.
Bab III Metode Penelitian
Bab ini berisi tentang jenis penelitian, lokasi dan waktu pengambilan
data, populasi dan sampel, metode pengumpulan data, alat
pengumpulan data, pengolahan dan analisa data, pertanyaan peneliti
serta alur penelitian.
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab ini berisi tentang hasil dan pembahasan penelitian.
Bab V Penutup
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka
Lampiran