Anda di halaman 1dari 10

ETIKA BISNIS DAN PROFESI

_________________________________________
TATA KELOLA ETIS DAN AKUNTABILITAS
____________________________________________
Oleh:
MOHAMMAD BAKRI AFFANDI
RENAWATI
PENDIDIKAN PROFESI AKUNTAN & PASCA
SARJANA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
20!
TATA KELOLA ETIS DAN AKUNTABILITAS
Bisnis, direktur, eksekutif dan akuntan professional menghadapi
peningkatan tuntutan dari harapan pemegang saham dan stakeholder
lainnya mengenai apa yang dilakukan oleh perusahaan dan bagaimana
mereka melakukannya. Disaat yang bersamaan, lingkungan
perusahaan semakin complex, seperti tantangan etika mereka. Tata
kelola organisasi dan mekanisme akuntanbilitas dibawah ketegangan
dan perbaikan merupakan hal uyang sangat diinginkan.
T"#" $el%l" &%'e() '") $e(")*$" "$+)#"),-l-#". +)#+$
/e&e*")* ."h"& '") .#"$eh%l'e( l"-))0"
Ekspektasi Baru erangka Baru untuk !emulihkan redibilitas
asus pelanggaran etika yang beru"ung pada kegagalan bisnis,
audit, dan tata kelola perusahaan berskala besar seperti Enron,
#rthur #ndersen, dan $orld%om telah mengakibatkan masyarakat
semakin menekan perusahaan untuk membuat laporan keuangan
dan skandal perusahaan agar tidak menyesatkan, melindungi
lingkungannya, peker"a, pelanggan dan hak asasi manusia. Dan
mereka mengharapkan laporan keuangan perusahaan semakin
akuntable.
!enyikapi hal tersebut, para politisi #merika menciptakan
kerangka tata kelola dan akuntabilitas baru yang dikenal dengan
&arbanes'(xley #ct )&(*+ yang bertu"uan untuk memulihkan kembali
kepercayaan in,estor dan memfokuskan kembali tata kelola
perusahaan pada tanggung "awab direksi terhadap kewa"iban -dusia
mereka, yakni tanggung "awab terhadap kepentingan pemegang
saham dan para pemangku kepentingan lainnya.
#kuntabilitas untuk &hareholder atau &takeholder
&emakin meningkannya peran stakeholder dalam pencapaian
tu"uan perusahaan, menuntut perusahaan untuk meningkatkan
akuntabilitasnya tidak hanya untuk para pemegang saham,
melainkan "uga untuk semua pemangku kepentingan . stakeholder
perusahaan. arena kepentingan stakeholder terkadang dapat
menimbulkan kon/ik dengan kepentingan pemegang saham, direktur
memiliki tugas untuk melindungi kepentingan pemegang saham dan
"uga harus bi"aksana dalam memenuhi kepentingan pemangku
kepentingan dalam membuat struktur organisasi perusahaan.
&ehngga dapat mengakomodir semua kepentingan tersebut.
Tata elola untuk akuntabilitas &takeholder
Dalam memperluas tata kelola perusahaan, direktur maupun
eksekutif harus mempertimbangkan kepentingan stakeholder dan
"uga pemegang saham. 0ada kenyataannya stakeholder memiliki
peranan yang sangat penting dalam keberlan"utan perusahaan,
namun mereka tidak menyadari akan tersebut.
Dalam tugasnya untuk meminimalisir reaksi negatif stakeholder
dan memaksimalkan peluang dimasa depan. 0erusahaan harus
memastikan tindakan mereka berdampak terhadap kepentingan
stakeholder. (leh karena itu, dalam Stakeholder- Accountability
Oriented Governance Procces )&#(1+ director harus memastikan
semua kepentingan stakeholder terakomodir dalam ,isi, misi,
strategi, peraturan, kode etik, nama baik, dan mekanisme kompilasi
dan pemberian feedback perusahaan.
&elain itu, dalam akuntabilitas untuk kepentingan stakeholder,
perusahaan "uga harus mengidenti-kasi nilai perusahaan dalam
pemenuhan kepentingan stakeholder untuk mencapai tu"uan
perusahaan.
0etun"uk !ekanisasi Budaya Etis dan ode Etis
dalam men"alankan kebi"akan yang dibuat oleh pimpinan
perusahaan, diperlukan suatu penun"uk dalam men"alankan hal
tersebut. 0etun"uk tersebut harus dibuat secara tertulis oleh direktur.
0etun"uk tersebut tidak hanya perlu untuk diletakkan didinding
perusahaan sebagai hiasan sa"a, melainka untuk dipela"ari dan
diikuti. (leh karena itu perusahaan harus memberikan pelatihan
kepada karyawan baru dan dilakukan update setiap tahunnya kepada
karyawan sehingga kode etis tersebut dapat ber"alan dengan baik
dan men"adi budaya diperusahaan.
Ke)'"l" ,"*- T"#" Kel%l" '") A$+)#",-l-#". 0")* B"-$
#sumsi bahwa setiap personel secara otomatis akan berperilaku
sesuai dengan keinginan pemilik perusahaan, tidaklah benar. &eseorang
akan lebih termoti,asi oleh kepentingannya sendiri. &ebagai hasilnya,
dalam menanggapi ancaman'ancaman yang terkait dengan tata kelola
dan akuntabilitas yang baik, maka suatu pedoman yang "elas sangat
dibutuhkan untuk mengidenti-kasi dan mengatasi ancaman'ancaman
tersebut. Tiga ancaman yang signi-kan meliputi2
&alah mengartikan tu"uan dan kewa"iban -dusia.
!eskipun perbedaan budaya bukanlah sebuah isu, seseorang
yang mensalah arttikan tu"uan perusahaan dan peraturan mereka
sendiri dan peraturan -dusia. !isalnya pada kasus Enron, banyak
direksi dan karyawannya percaya bahwa tu"uan perusahaan
terpenuhi dengan baik oleh tindakan'tindakan yang membawa
keuntungan "angka pendek, sehingga perusahaan melakukan
manipulasi untuk memperoleh keuntungan tersebut yang ternyata
beru"ung pada kehancuran perusahan tersebut.
&eringkali, karyawan melanggar etika perusahaan karena mereka
ber-kir bahwa atasan mereka "uga melakukan hal tersebut "uga.
&eseorang dapat mensalah artikn sesuatu karena tidak adanya
pedoman yang "elas.
egagalan dalam mengidenti-kasi dan mengelola risiko etika.
&eiring dengan meningkatnya kompleksitas, ,olatilitas, dan risiko
yang melekat pada kepentingan dan operasi perusahaan, maka risiko
harus dapat diidenti-kasi, dinilai, dan dikelola dengan hati'hati.
0rinsipnya yaitu, risiko etika ter"adi ketika terdapat kemungkinan
harapan stakeholder tidak terpenuhi. !enemukan dan
memperbaikinya adalah sangat penting untuk menghindari krisis
atau kehilangan dukungan dari para pemangku kepentingan. 3al itu
dapat dilakukan dengan menetapkan tanggung "awab,
mengembangkan proses tahunan, dan tin"auan dari dewan
organisasi.
on/ik epentingan
on/ik kepentingan merupakan masalah yang sangat penting
yang ter"adi saat ini. aryawan, agen, dan professional gagal untuk
memberikan "ugdement yang pantas untuk prinsipnya. &eluruh
karyawan dan pimpinan perusahaan harus dapat men"aga kondisi
yang bebas dari kon/ik kepentingan. on/ik kepentingan ter"adi
ketika penilaian independen seseorang men"adi goyah, atau ada
kemungkinan goyah dalam membuat keputusan terkait dengan
kepentingan terbaik lainnya yang bergantung pada penilaian
tersebut.
3al ini bisa sa"a ter"adi karena karyawan dan pimpinan
perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung memiliki
kepentingan pribadi dalam mengambil suatu keputusan yang
seharusnya diambil secara ob"ektif, bebas dari keragu'raguan, dan
demi kepentingan terbaik dari perusahaan. on/ik kepentingan ini
lebih dari sekedar bias, dimana dapat diukur dan disesuaikan. 4adi
karena ketidak"elasan sifat dan besarnya pegaruh, perhatian harus
benar'benar diberikan pada setiap kecenderungan yang menu"u
kepada bias. 5ntuk mencegah ter"adinya kon/ik kepentingan perlu
dilakukan2
o !ana"emen harus menghindari dan meninimalisasi konsekuensi
ter"adinya kon/ik kepentingan
5ntuk memperbaiki hal yang berkaitan dengan kon/ik
kepentingan, terdapat tiga pendekatan umum yang harus
dipertimbangkan 2
0engelakan, merupakan pendekatan yang disukai bila 6ampak
kon/ik kepentingan tersebut dihindari sebaik dalam
kenyataannya.
0engungkapan untuk kepercayaan stakeholder dalam
pembuatan keputusan
!elakukan management kon/ik kepentingan, sehingga
keuntungan dari "udgement yang dibuat lebih besar dari
pengorbanannya.
o Teori #gency, Etika dan sears
!enurut teori agency, harapan shareholder, mana"er dan
karyawan dapat men"adi se"alan dalam pembuatan tu"uan
perusahaan. 3arapan &hareholder dan agensi mereka akan dapat
mendorong sebuah tindakan yang se"alan dengan harapan pelaku
mana"emen. &ehingga diperlukan system penghargaan dan
hukuman yang sesuai dengan etika untuk memastikan setiap
pelaku untuk bertindak sesuai dengan garis .path yang benar
o Tembok %ina . 7irewalls
&alah system yang penting untuk mencegah ter"adinya
pelanggaran etika adalah konsep tembok cina atau 7irewall.
0raktek ini menggunakan analogi tembokuntuk men"elaskan
ukuran dan metode yang dapat mencegah pengiriman informasi
klien dari salah satu bagian perusahaan atau perkongsian kepada
yang lainnya. %ontoh dari konsep tersebut , diantaranya 2
8nstruksi untuk mencagah informasi yang rahasia
8nstruksi untuk tidak mmbaca, mendengar, atau melakukan
tindakan untuk suatu tipe informasi yang spesi-k
0rogram pelatihan dan penguatan dari top management
!onitoring dan mematuhi peraturan yang disepakati.
o #hli forensic dan barang bukti 9:.;:.9: aturan.
0erusahaan memerlukan seseorang yang ahli forensic untuk
memastikan pelanggaran etika tidak ter"adi, dan untuk
mengidenti-ka pelanggaran etika yang ter"adi. !ana"emen
percaya bahwa teman dan karyawannya melakukan perbuatan
yang tidak etis, para ahli bahwa polpulasi pada mumnya terbagi
men"adi tiga kelompok, yakni 2
9:< orang tidak pernah melakukan fraud
=:< orang melakukan fraud "ika terdapat kesempatan
9:< orang melakukan fraud
o Teori 1one 2 identi-kasi potensi keadaan berbahaya dan seperti
pelaku
#hli foreksik mengumpamakan kebiasaan fraud dan oportunis
pelaku kedalam teori 1one, yakni ketamakan )1reed )1++,
kesempatan untuk mengambil keuntungan )(pportunity )(++,
kebutuhan bagaimanapun cara mendapatkanya )6eed )6++,
harapan untuk ketahuan . keluar rendah. )Ecpectation )E++.
o ewa"iban berdasarkan peran pribadi
Berdasarkan analisa ini, masalah kon/ik kepentingan harus
difokuskan kepada indi,idu. 3al ini dikarenakan kon/ik
kepentingan ini ter"adi karena setiap indi,idu baik sebagai indi,idu
maupun bagian dari suatu perusahaan atau organisasi pati
menggunakan asumsi dan ekspektasinya untuk men"alankan
tugasnya.
Ele&e) K+)1- '"(- T"#" Kel%l" Pe(+."h"") '") A$+)#",-l-#".
!engembangkan, !enerapkan, dan !engelola Budaya 0erusahaan
&ecara Etis
Direksi, pemilik, mana"emen senior, dan karyawan semuanya
harus memahami bahwa 2
o suatu organisasi akan lebih bernilai "ika mempertimbangkan
kepentingan seluruh pemangku kepentingannya, tidak hanya
pemegang saham,
o Dalam membuat keputusan mempertimbangkan nilai'nilai etika
yang tepat.
Direksi dan para eksekutif harus cermat dalam mengatur bisnis
dan risiko etika perusahaannya. !ereka harus memastikan bahwa
budaya etis telah ber"alan dengan efektif dalam perusahaan. (leh
karena itu, dibutuhkan pengembangan kode etik sehingga dapat
menciptakan pemahaman yang tepat mengenai perilaku'perilaku
etis, memperkuat perilaku'perilaku tersebut, dan memastikan bahwa
nilai'nilai yang mendasarinya melekat pada strategi dan operasi
perusahaan. ode Etik 0erusahaan.
!enurut penelitian yang dilakukan oleh Edgar &chein ,
mengembangkan nilai kebenaran dalam organisasi dan berkomitmen
untuk men"alankannya akan mendatangkan banyak keuntungan.
!enurutnya ebudayaan perusahaan adalah kerangka kognitif,terdiri
atas suikap, nilai, norma tingkah laku, dan harapan bersama anggota
organisasi. Dengan memiliki budaya perusahaan yang baik maka
perusahaan akan dapt mencapai tu"uan perusahaan.
ode Etik 0erusahaan
ode etik dalam tingkah laku bisnis di perusahaan merupakan
implementasi salah satu prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
ode etik dapat dide-nisikan sebagai mekanisme struktural
perusahaan yang digunakan sebagai tanda komitmen mereka
terhadap prinsip'prinsip etika. !ekanisme tersebut dipandang
sebagai suatu cara yang efektif untuk mendukung kebiasaan etika
dalam men"alankan bisnis.
ode etik menuntut karyawan dan pimpinan perusahaan untuk
melakukan praktik'praktik etika bisnis terbaik dalam semua hal yang
dilakukan atas nama perusahaan. 4ika prinsip tersebut telah
mengakar di dalam budaya perusahaan, maka seluruh karyawan dan
pimpinan perusahaan akan berusaha memahami dan berusaha
mematuhi mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan
dalam akti,itas bisnis perusahaan.
epemimpinan yang Etis
&alah satu unsur penting dari tata kelola dan akuntabilitas
perusahaan adalah >tone at the top? dan peran pimpinan dalam
membangun, membina, melaksanakan, dan memantau budaya
perusahaan yang diharapkan. 4ika para pemimpin senior atau "unior
hanya bersuara untuk menyatakan nilai'nilai yang diinginkan di
dalam perusahaan, maka karyawan akan mempertimbangkan hal
tersebut sebagai suatu yang tidak patut diperhatikan. !eskipun
budaya formal organisasi menetapkan nilai tersebut, namun "ika
tidak didukung oleh budaya informal maka hal tersebut hanya akan
diangap sebagai suatu ocehan atau istilah lainnya >window
dressing?.
unci dari kepemimpinan yang etis adalah tindakan yang efektif
berdasarkan etika. 4enis kepemimpinan ini akan dapat memperkuat
program etika perusahaan kepemimpinan ini akan berusaha untuk
mengembangkan dan memaintain budaya etik perusahaan. Tanpa
adanya kepemimpinan yang etis, program etika perusahaan akan
gagal untuk dilakukan.
Ke2"3-,") D-(e$.- '") Pe$e(3"
Tata kelola etika dan akuntabilitas perusahaan bukan hanya
sekedar bisnis yang bagus, namun merupakan suatu hukum. &(* &eksi
@:@ mengharuskan perusahaan meneliti efekti,itas sistem pengendalian
internal mereka terkait dengan pelaporan keuangan. %E(, %7(, dan
auditor harus melaporkan dan menyatakan efekti,itas tersebut.
0endekatan %(&( terkait dengan sistem pengendalian internal
men"elaskan bagaimana cara suatu perusahaan mencapai tu"uannnya
melalui @ dimensi, yaitu strategi, operasi, pelaporan, dan kepatuhan.
!elalui @ dimensi tersebut, kerangka mana"emen etika melibatkan =
unsur yang saling terkait mengenai cara mana"emen men"alankan
perusahaan dan bagaimana mereka terintegrasi dengan proses
mana"emen yang meliputi lingkungan internal, penetapan tu"uan,
identi-kasi ke"adian, penilaian risiko, tanggapan terhadap risiko,
akti,itas pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan
)monitoring+.
Etika dan budaya etis perusahaan memainkan peran penting
dalam penetapan pengendalian lingkungan, dan "uga dalam
menciptakan mana"emen risiko etika yang efektif yang berorientasi
pada sistem pengendalian internal dan perilaku yang dihasilkan. (leh
karena itu, hal tersebut dapat menentukan >tone at the top?, kode etik,
kepedulian pegawai, tekanan untuk memperoleh tu"uan yang tidak
realistis, kesediaan mana"emen untuk mengabaikan pengendalian,
kepatuhan dalam penilaian kiner"a, pemantauan terhadap efekti,itas
pengendalian internal, program >whistle'blowing?, dan tindakan
perbaikan dalam menanggapi pelanggaran kode etik.
T%l"$ U$+( A$+)#",-l-#". P+,l-$
&alah satu perkembangan terkini yang perlu dipertimbangkan oleh
dewan direksi dan mana"emen ketika mengembangkan nilai'nilai,
kebi"akan, dan prinsip'prinsip yang mendasari budaya perusahaan dan
tindakan karyawan mereka adalah gelombang baru dalam pengawasan
&takeholder dan kebutuhan untuk transparansi dan akuntabilitas publik.
4ika direksi mampu mengenali dan mempersiapkan perusahaan mereka
di era baru dimana akan berhadapan dengan akuntabilitas para
&takeholder yang efektif dan "uga sistem tata kelola yang beretika,
mereka tidak hanya akan mengurangi risiko, tapi "uga akan
menghasilkan keuntungan kompetitif dari perlanggan, karyawan, mitra,
lingkungan, dan para stakeholder lainnya yang tentunya menarik bagi
pemegang saham.