Anda di halaman 1dari 18

Henry Andri Theodorus Halaman 1

KATA PENGANTAR

Rasa terima kasih dan syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
bimbingan dan penyertaan-Nya bagi penyusun sejak awal hingga selesainya referat ini dengan
baik.
Referat ini dibuat untuk memenuhi tugas kepaniteraan Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan
Tenggorokan, untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada dr. Elly Simangunsong
Sp.THT-KL yang membimbing dalam menyelesaikan referat ini. Terima kasih untuk ilmu,
bimbingan, serta perhatian yang diberikan, yang berguna dalam penyusunan referat ini.
Pembuatan referat ini kiranya bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi informasi
bagi tenaga medis, staff, maupun masyarakat mengenai Rhinitis Atrofi ( Ozaena ).
Atas saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan bagi tersusunnya referat ini.


Jakarta, 1 Juli 2013

Penyusun

Henry Andri Theodorus




Henry Andri Theodorus Halaman 2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1
Daftar Isi .. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi . 4
B. Epidemiologi .... 4
C. Klasifikasi .... 5
D. Etiologi.. 5
E. Faktor Resiko........ 7
F. Patofisiologi... 8
G. Gejala Klinis...... 9
H. Diagnosis..... 10
I. Diagnosis Banding.. 12
J. Komplikasi.. 13
K. Penatalaksanaan... 13
L. Prognosis.. 15
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .. 17
Daftar Pustaka



Henry Andri Theodorus Halaman 3

BAB I
PENDAHULUAN
Dewasa ini Penyakit dengan keluhan pilek atau rinitis yang terus menerus dengan sekret
atau yang mengering dan berbau busuk sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial
ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang. Untuk
memastikan apakah penyakit dengan keluhan seperti ini merupakan suatu penyakit yang dikenal
dengan Rinitis atrofi, memang perlu pemeriksaan seksama dari dokter THT. Frekwensi penderita
rhinitis atrofi wanita : laki adalah 3 : 1. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita, usia 1-35
tahun terutama pada usia pubertas.Rhinitis atrofi atau ozaena adalah infeksi hidung kronik, yang
ditandai oleh adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka. Salah satu gejala yang
timbul adalah mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering sehingga
terbentuk krusta yang berbau busuk. Orang di sekitar penderita yang biasanya tidak tahan dengan
bau tersebut, tetapi pasien sendiri tidak merasakannya karena hiposmia atau anosmia (tidak bisa
membaui akibat dari penyakit ini).
1,2
Etiologi atau penyebab dan patogenesis (Perjalanan penyakit) rinitis atrofi sampai
sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Oleh karena etiologinya belum pasti,
maka pengobatannya belum ada yang baku. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor
penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau
jika tidak menolong, dilakukan operasi.
1,2

Menurut pengalaman, untuk kepentingan klinis perlu ditetapkan derajat Rhinitis atrofi
sebelum diobati, yaitu ringan, sedang atau berat, oleh karena ini sangat menentukan terapi dan
prognosisnya. Biasanya diagnosis ozaena secara klinis tidak sulit. Biasanya discharge berbau,
bilateral, terdapat crustae kuning kehijau-hijauan. Keluhan subjektif yang sering ditemukan pada
pasien biasanya napas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia).Penyakit Rhinitis
atrofi sering di kenal juga dengan istilah Ozaena, rinitis fetida, atau rinitis krustosa. Rhinitis
atrofi atau Ozaena lebih umum di negara-negara sekitar Laut Tengah dari pada di Amerika
Serikat. Menurunnya insidens campak, scarlet fever, dan difteria di Eropa Selatan sejak perang
dunia ke II tampaknya timbul bersamaan dengan suatu penurunan tajam dalam insidens Rhinitis
atrofi.
1,2

Henry Andri Theodorus Halaman 4

BAB II
ISI
DEFINISI
Rinitis atrofi adalah penyakit hidung kronik yang ditandai atrofi progresif mukosa hidung
dan tulang penunjangnya disertai pembentukan sekret yang kental dan tebal yang cepat
mengering membentuk krusta, menyebabkan obstruksi hidung, anosmia, dan mengeluarkan bau
busuk.Rinitis atrofi disebut juga rinitis sika, rinitis kering, sindrom hidung-terbuka, atau ozaena.

1,2,3,6,8
Atrofi adalah istilah yang menyatakan bahwa ada perubahan pada suatu alat tubuh
tertentu, dimana alat tubuh tersebut mengecil atau melisut, dalam hubungan dengan rhinitis
atrofi, yang mengalami pengisutan adalah lapisan mukosa dan tulang konka hidung.

Krusta adalah bahan cair, yang terdiri dari sekret lendir, darah, serum maupun jaringan
nekrotik yang mengering.

Hiposmia adalah Hilangnya kemampuan mencium atau membaui suatu
aroma tertentu akibat kelainan pada hidung, jika tidak merasakan bau sama sekali maka di sebut
anosmia.

EPIDEMIOLOGI
Rinitis atrofi merupakan penyakit yang umum di negara-negara berkembang. Penyakit ini
muncul sebagai endemi di daerah subtropis dan daerah yang bersuhu panas seperti Asia Selatan,
Afrika, Eropa Timur dan Mediterania. Pasien biasanya berasal dari kalangan ekonomi rendah
dengan status higiene buruk. Rinitis atrofi kebanyakan terjadi pada wanita, angka kejadian
wanita : pria adalah 3:1.Penyakit ini dikemukakan pertama kali oleh dr.Spencer Watson di
London pada tahun 1875. Penyakit ini paling sering menyerang wanita usia 1 sampai 35 tahun,
terutama pada usia pubertas dan hal ini dihubungkan dengan statusestrogen (faktor hormonal).
2-4
Rhintis atrofi lebih sering mengenai wanita, terutama usia pubertas. Tetapi beberapa
penulis mendapatkan hasil yang berbeda beda. Penyakit ini sering ditemukan di kalangan
masyarakat dengan tingkat social ekonomi yang rendah, lingkungan yang buruk dan di Negara
yang sedang berkembang. Di RS Adam malik Medan, dari januari 1999 sampai Desember 2000
Henry Andri Theodorus Halaman 5

ditemukan enam penderita rhinitis atrofi yaitu empat orang wanita dan dua pria dengan umur
berkisar 10 37 tahun. Ozaena juga ditemukan pada orang orang dengan abnormalitas bentuk
tengkorak dan malformasi fossa nasi, dan palatum, anak anak dengan perkembangan tulang
konka dan mukosa hidung yang terhambat dan wanita dengan vaginitis atrofi.
2-4
KLASIFIKASI
Rinitis atrofi berdasarkan gejala klinis diklasifikasikan oleh dr. Spencer Watson (1875)
sebagai berikut:
1. Rinitis atrofi ringan, ditandai dengan pembentukan krusta yang tebal dan mudah ditangani
dengan irigasi.
2. Rinitis atrofi sedang, ditandai dengan anosmia dan rongga hidung yang berbau.
3. Rinitis atrofi berat, misalnya rinitis atrofi yang disebabkan oleh sifilis, ditandai oleh rongga
hidung yang sangat berbau disertai destruksi tulang.
Berdasarkan penyebabnya rinitis atrofi dibedakan atas:
1. Rinitis atrofi primer, merupakan bentuk klasik rinitis atrofi yang didiagnosis pereksklusionam
setelah riwayat bedah sinus, trauma hidung, atau radiasi disingkirkan. Penyebab primernya
merupakan Klebsiella ozenae.
2. Rinitis atrofi sekunder, merupakan bentuk yang palng sering ditemukan di negara
berkembang. Penyebab terbanyak adalah bedah sinus, selanjutnya radiasi, trauma, serta penyakit
granuloma dan infeksi.
1
ETIOLOGI
Etiologi atau penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti. Dahulu diduga penyakit
ini disebabkan oleh infeksi organisme tertentu diantaranya Coccobacillus, Bacillus mucosus,
Coccobacillus foetidus azaena, Diphtheroid bacilli dan Kleibseilla ozaena.
1-4


Henry Andri Theodorus Halaman 6

Rinitis Atrofi di klasifikasikan menjadi 2 tipe :
Rinitiis Atrofi primer : penyebabnya belum diketahui dengan pasti, ada beberapa
teori yang menjelaskan tentang penyebab rinitis atrofi primer :
Faktor herediter : penyakit ini diketahui berkaitan dengan hubungan
keluarga yang berdekatan. Penelitian oleh Amreliwala tahun 1993
ditemukan 27,4 % kasus bersifat diturunkan secara autosomal dominan
dan 67 % diturunkan secara resesif. Penelitian oleh Singh tahun 1992, 20
% kasus ditemukan adanya riwayat satu atau lebih anggota keluarga yang
mempunyai penyakit yang serupa.
Infeksi : beberapa organisme telah ditemukan pada hidung pasien
penderita rinitis atrofi, Terutama seperti kuman Klebsiella ozaena, kuman
ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia.
Selain itu kuman lain yang di temukan pada penderia rinitis atrofi adalah,
Coccobacillus foetidus ozaena (Coccobacillus of Perez), Coccobacillus of
Loewenberg, Bacillus mucosus (Abels bacillus), diphteroids, Bacillus
pertusis, Haemophilus influenza, Pseudomonas aeruginosa dan Proteus
species, tetapi semua bakteri tersebut tidak dapat dibuktikan sebagai
penyebab rinitis atrofi.
Defisiensi nutrisi : nutrisi yang buruk disebutkan sebagai faktor penting
pada perkembangan rinitis atrofi. Beberapa penulis menyebutkan penyakit
ini berhubungan dengan defisiensi Fe (Zat besi). Selain itu defisiensi
vitamin larut lemak (terutama vitamin A) juga dipertimbangkan sebagai
salah satu faktor penyebab.
Teori developmental : pneumatisasi yang buruk dari sinus maksila,
memegang peranan penting terjadinya rinitis atrofi.
Defisiensi phospolipid : analisis biokimia dari aspirasi hidung pada kasus
rinitis atrofi ditemukan adanya penurunan phospolipid total yang
signifikan dibandingkan pada hidung normal.
Henry Andri Theodorus Halaman 7

Teori Ketidakseimbangan endokrin : beberapa penulis menyimpulkan
defisiensi oestrogen sebagai faktor penyebab rinitis atrofi. Insidensi
penyakit ini pada perempuan pubertas, gejala yang memberat pada saat
menstruasi dan kehamilan, dan berkurangnya gejala pada beberapa kasus
setelah pemberian estrogen, merupakan pendukung teori tersebut.
Autoimun : beberapa faktor seperti infeksi virus, malnutrisi, penurunan
daya tahan tubuh sebagai faktor pemicu destruksi proses autoimun dengan
melepaskan antigen mukosa hidung ke sirkulasi
Ketidakseimbangan otonom. Terjadi perubahan neurovaskular seperti
deteriorisasi pembuluh darah akibat gangguan sistem saraf otonom
Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)
Rinitis Atrofi Sekunder :
Pada keadaan ini umumnya rinitis atrofi disebabkan oleh infeksi hidung kronik
seperti sinusitis kronis, tuberkulosis (TBC), sifilis, dan lepra.
Penyebab lainnya yaitu kerusakan jaringan yang luas oleh karena operasi hidung
dan trauma serta efek samping dari radiasi. Radiasi pada hidung umumnya segera
merusak pembuluh darah dan kelenjar penghasil mukus dan hampir selalu
menyebabkan rinitis atrofik.
1-4

FAKTOR RESIKO
Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita daripada pria, terutama pada umur sekitar
pubertas. Menurut beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering
mengenai wanita, terutama pada usia pubertas. Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5
pria, dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. Samiadi mendapatkan 4
penderita wanita dan 3 pria.
Tetapi dari segi umur, beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. Baser dkk
mendapatkan umur antara 26-50 tahun, Jiang dkk berkisar 13-68 tahun, Samiadi
mendapatkan umur antara 15-49 tahun.
Henry Andri Theodorus Halaman 8

Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi
rendah dan lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang.
1,6,8,9

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi atau perjalanan penyakit dari rhinitis atrofi dimulai dari berbagai etiologi
atau penyebab seperti bakteri Klebsiella ozaena, trauma, penyebaran infeksi lokal setempat
(contoh: sinusitis maxillaris), efek lanjut dari tindakan bedah, radiasi, dan kemudian akan
menyebabkan terjadinya suatu peradangan pada hidung. Jika peradangan ini berlangsung lama
dan tidak kunjung sembuh, maka disebut inflamasi kronik. Inflamasi kronik ini akan
menyebabkan banyak perubahan anatomi dan fungsi hidung.
Perubahan- Perubahan pada hidung ini berupa perubahan histologis rinitis atrofi pada
stadium awal berupa proses peradangan kronis dan pada stadium lanjut berupa atrofi dan fibrosis
mukosa hidung. Mula-mula sel epitel toraks dan silianya yang merupakan sel epitel yang
terdapat pada konka hidung akan hilang. Epitel ini mengalami stratifikasi awal dan metaplasia
(berubah menjadi sel dewasa yang lain, dalam hal ini sel epitel torak bersilia berubah menjadi
epitel gepeng. stadium lanjut, sebagian besar epitel telah menjadi gepeng.
Metaplasia sel epitel torak bersilia menjadi epitel gepeng tanpa silia ini, akan
menyebabkan hilangnya kemampuan pembersihan hidung dan kemampuan membersihkan debris
(karena ini merupakan fungsi dari silia, jadi jika silianya telah hilang maka
kemampuan pembersihan hidung dan kemampuan membersihkan debris juga
menghilang), Akibat selanjutnya kelenjar mukosa mengalami atrofi dan bahkan bisa
menghilang, terbentuknya fibrosis jaringan subepitel yang luas, fungsi surfaktan akan menjadi
abnorma. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung
terhadap infeksi.
Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi klirens mucus, dan
mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia (bulu hidung) sehingga
akan membuat bertumpuknya lendir, semakin tipisnya epitel (atrofi konkha) akan membuat
rongga hidung semakin membesar, karena itulah terjadi kekeringan, pembentukan krusta, dan
iritasi mukosa semakin meluas.Lalu jika bloodsupply juga tidak adekuat, maka akan terjadi
nekrosis sel dan jaringan yang bila nanti mengalami proses pembusukan dan bercampur dengan
Henry Andri Theodorus Halaman 9

toxin dari mikroorganisme akan menghasilkan pus kehijauan yang berbau busuk yang mengering
di sebut krusta. krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman.
Jika krusta terlepas akan membuat epistaksis. Selain atrofi dari mukosa, juga bisa terjadi atrofi
dari mukosa olfaktoria yang bisa menyebabkan penderita mengalami hiposmia atau bahkan
anosmia (hilangnya kemampuan untuk mencium aroma).
1,3,8
GEJALA KLINIS
Adapun gejala Klinis dari rinitis atrofi ini yang sering di keluhkan oleh penderita rinitis
atrofi (Ozaena) adalah :
Hidung tersumbat
Sakit kepala atau nyeri pada wajah,
Adanya sekret hijau kental serta krusta (kerak) berwarna kuning kehijauan atau kadang-
kadang dapat berwarna hitam dan berbau busuk
Hidung terasa kering dan epistaksis (hidung berdarah),
Keluhan subjektif lain yang sering ditemukan pada pasien biasanya napas berbau
(sementara pasien sendiri menderita anosmia) jadi Orang di sekitar penderita yang
biasanya tidak tahan dengan bau tersebut, tetapi pasien sendiri tidak merasakannya
karena hiposmia atau anosmia.
Pasien mengeluh kehilangan indra pengecap dan tidak bisa tidur nyenyak ataupun tidak
tahan udara dingin.
Meskipun jalan napas jelas menjadi semakin lebar, pasien merasakan sumbatan yang
makin progresif saat bernapas lewat hidung, terutama karena katup udara yang mengatur
perubahan tekanan hidung dan menghantarkan impuls sensorik dari mukosa hidung ke
sistem saraf pusat telah bergerak semakin jauh dari gambarannya.
Kadang kala penderita mengeluhkan ganggan pada telinga, ini terjadi karena kekeringan,
pembentukan krusta dan iritasi mukosa hidung dapat meluas ke epitel nasofaring dan
laring, Keadaan ini dapat mempengaruhi potensi tuba eustachius, berakibat efusi telinga
Henry Andri Theodorus Halaman 10

kronik, dan dapat menimbulkan perubahan yang tidak diharapkan pada apparatus
lakrimalis, termasuk keratitis sikka.
1,2,3,4,7,8

Sutomo dan Samsudin membagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat :
a. Tingkat I : Atrofi mukosa hidung, mukosa tampak kemerahan dan berlendir, krusta sedikit.
b. Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas, mukosa makin kering, warna makin pudar,
krusta banyak, keluhan anosmia belum jelas.
c. Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis, rongga
hidung tampak lebar sekali, dapat ditemukan krusta di nasofaring, terdapat anosmia yang jelas.
9
DIAGNOSIS
Diagnosis rinitis atrofi dapat ditegakkan berdasarkan:
Anamnesis
Pada anamnesis pasien mengeluhkan hidung tersumbat, hidung berdarah, sakit kepala
atau nyeri pada wajah, pasien tidak mencium bau busuk tetapi orang lain dapat merasakannya
dan adanya sekret hijau kental serta keropeng berwarna hijau.
1,2,3,5,7
Pemeriksaan klinis
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior didapati krusta berwarna kuning kehijau-hijauan
atau kadang-kadang krusta dapat berwarna hitam terutama pada dinding lateral kavum nasi yang
berbau busuk. Setelah krusta diangkat, biasanya akan terjadi perdarahan. Tampak rongga hidung
yang sangat lapang dan konka yang atrofi, mukosa hidung yang tipis dan kering. Bisa juga
ditemui ulat/larva (karena bau busuk yang timbul). Nasofaring bagian belakang dan bagian atas
palatum molle jelas terlihat tanpa hambatan.
1,2,3,5,7

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah rutin dan Fe serum, kultur dan uji sensitifitas sekret hidung, uji
serologis (VDRL) untuk menyingkirkan sifilis, uji mantoux dan foto toraks PA apabila rinitis
Henry Andri Theodorus Halaman 11

atrofi diduga berhubungan dengan tuberkulosis, foto rontgen dan CT scan sinus paranasal dan
pemeriksaan biopsi hidung.
Pada foto rontgen sinus paranasal terdapat osteoporosis konka dan rongga hidung yang
lapang. Pada CT scan sinus paranasal terdapat gambaran penebalan dari mukosa sinus paranasal,
hilangnya kompleks osteo meatal akibat destruksi bulla etmoid dan prosesus unsinatus,
hipoplasia dari sinus maksilaris, pembesaran dari rongga hidung dengan destruksi dari dinding
lateral hidung dan destruksi tulang konka inferior dan konka media.
1,2,3,5,7


Pemeriksaan Histopatologi
Terjadi atrofi mukosa dan submukosa dengan penebalan, fibrosis dan obliterasi pembuluh
darah serta destruksi kelenjar. Pada stadium awal perubahan yang terjadi menyerupai sebuah
proses inflamasi kronik. Pada stadium lanjut terjadi deskuamasi dan kehilngan sel epitel
kolumner dan silia dan diganti dengan epitel skuamosa bertingkat tidak bersilia. Pembuluh darah
menjadi fibrosis dan akhirnya terjadi enasrteritis obliterans. Tulang tulang di bawah permukaan
menjadi atrofi atau mengalami degenerasi. Dengan terjadinya atrofi kelenjar mukosa, sekresi
berubah menjadi berkrusta dan mukopurulen. Perbedaan ozaena dan rhinitis atrofi sekunder
adalah akibat infeksi kronik dengan inflamasi limfosit dan bukan merupakan penyakit pembuluh
darah atau suatu proses fibrosis sementara pada ozaena terjadi fibrosis tanpa infiltrasi limfosit,
yang menunjukkan suatu proses primer.
1,2,3,5,7



Henry Andri Theodorus Halaman 12

DIAGNOSIS BANDING
Rinitis tuberkulosis
Tuberkulosis pada hidung berbentuk noduler atau ulkus, terutama mengenai tulang rawan
septum dan dapat mengakibatkan perforasi. Pada pemeriksaan klinis terdapat sekret
mukopurulen dan krusta sehingga menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Diagnosis
ditegakkan dengan ditemukannya basil tahan asam (BTA) pada sekret hidung.
2,4,6

Rinitis sifilis
Penyebab rinitis sifilis ialah kuman Treponema pallidum. Pada rinitis sifilis yang primer
dan sekunder gejalanya hanya adanya bercak pada mukosa. Pada rinitis sifilis tersier dapat
ditemukan guma atau ulkus yang terutama mengenai septum nasi dan dapat mengakibatkan
perforasi septum. Pada pemeriksaan klinis didapati sekret mukopurulen yang berbau dan krusta.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan mikrobiologik dan biopsi.
2,4,6

Rinitis lepra
Penyebab rinitis lepra adalah Mikobakterium leprae. Lesi pada hidung sering terlihat
pada penyakit ini. Pasien mengeluhkan hidung tersumbat oleh karena pembentukan krusta serta
adanya bercak darah. Mukosa hidung terlihat pucat. Apabila infeksi berlanjut dapat
menyebabkan perforasi septum..
2,4,6

Rinitis sika
Pada rinitis sika ditemukan mukosa yang kering, terutama pada bagian depan septum dan
ujung depan konka inferior. Krusta biasanya sedikit atau tidak ada. Pasien biasanya mengeluh
rasa iritasi atau rasa kering yang kadang-kadang disertai dengan epistaksis. Penyakit ini biasa
ditemukan pada orang tua dan pada orang yang bekerja di lingkungan yang berdebu, panas dan
kering.
2,4,6



Henry Andri Theodorus Halaman 13

KOMPLIKASI
Perforasi septum dan hidung pelana.
Pada kasus yang parah dan tidak diterapi, dapat menyebabkan komplikasi berupa
destruksi dari tulang dan tulang rawan hidung yang mengakibatkan perforasi septum dan hidung
pelana.
Faringitis atrofi.
Hal ini biasanya terjadi bersamaan dengan rinitis atrofi dimana terdapat mukosa faring
yang kering. Krusta yang lepas dapat menyebabkan episoda batuk seperti tercekik.
Miasis nasi.
Merupakan komplikasi yang jarang ditemui, terutama pada pasien dengan sosio ekonomi
yang rendah dimana bau busuk tersebut menarik lalat dari genus Chrysomia (C. Bezianna
vilteneauve). Lalat ini meletakkan telurnya yang kemudian menetas menjadi magot. Puluhan
sampai ratusan magot dapat memenuhi rongga hidung dimana mereka makan dari mukosa
sampai tulang hidung. Mereka membuat terowongan di jaringan lunak hidung, sinus paranasal,
nasofaring, dinding faring jaringan orbita, lakrimal, sampai dasar tengkorak yang dapat
menyebabkan meningitis dan kematian.
2,4,6

PENATALAKSANAAN
Hingga kini pengobatan medis terbaik rinitis atrofik hanya bersifat paliatif. Termasuk
dengan irigasi dan membersihkan krusta yang terbentuk, terapi sistemik dan lokal dengan
endokrin; steroid; dan antibiotik; vasodilator; pemakaian iritan jaringan lokal ringan seperti
alkohol; dan salep pelumas. Penekanan terapi utama adalah pembedahan, yaitu usaha-usaha
langsung mengecilkan rongga hidung, dan dengan demikian juga memperbaiki suplai darah
mukosa hidung.Tujuan pengobatan adalah menghilangkan faktor etiologi / penyebab dan
menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong
dilakukan operasi.
1-8

Henry Andri Theodorus Halaman 14

Konservatif
Pengobatan utama rinitis adalah konservatif yang dapat diberikan secara lokal ataupun
sistemik.
Irigasi nasal. Campuran yang ideal untuk irigasi nasal terdiri dari 28.4 gr sodium
bikarbonat, 28.4 gr sodium diborate dan 56.7 gr sodium chloride. Satu sendok teh dari
campuran tersebut dilarutkan dalam 280 ml air hangat, dan dicucikan ke hidung 3-4 kali
sehari.
Tetes hidung paraffin. Berguna untuk membasahi mukosa hidung dan membersihkan
krusta di kavum nasi.
Oestradiol dalam minyak arachis. Kombinasi ini tersedia dalam bentuk tetes hidung dan
semprot hidung (10.000 units/ml).
Solusio kemicetine anti ozaena. Campuran ini tiap 1 ml terdiri dari 90 mg klorampenikol,
0.64 mg oestradiol diproprionate, 900 IU vitamin D2 dan propylene glycol. Digunakan
setelah pencucian hidung.
Tetes hidung klorampenikol/streptomisin. Digunakan setelah pencucuian hidung.
Injeksi ekstrak plasenta. Sinha, Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta
manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak
plasenta submukosa intranasal memberikan 93,3% perbaikan pada periode waktu yang
sama. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar.
Antibiotik. Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman, dengan dosis adekuat
sampai tanda-tanda infeksi hilang. Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada
pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu
Vitamin A 3 x 50.000 unit dan preparat Fe selama 2 minggu.
1-8

Pembedahan
Tujuan terapi bedah yaitu :
Menyempitkan rongga hidung
Regenerasi mukosa hidung
Henry Andri Theodorus Halaman 15

Mengurangi pengeringan mukosa hidung
Meningkatkan vaskularisasi dari kavum nasi
Beberapa teknik operasi yang dilakukan :
Youngs operation.
Prosedur ini adalah penutupan total salah satu rongga hidung dengan flap. Tujuan operasi
ini adalah mencegah efek kekeringan, mengurangi krusta dan membuat mukosa dibawahnya
tumbuh kembali. Tekanan negatif yang timbul pada lubang hidung yang tertutup menyebabkan
vasodilatasi dari pembuluh darah sekitarnya. Teknik originalnya dilakukan dengan menaikkan
flap intranasal 1 cm dari cephalic ke lingkaran ala nasi. Flap ini akan menutup lubang hidung
tepat ditengahnya. Kekurangan teknik ini adalah sulitnya membuat flap oleh karena flap mudah
robek atau timbulnya parut yang dapat menyebabkan stenosis vestibulum
Modified Youngs operation
Modifikasi tehnik ini dilakukan oleh El Kholy. Prinsipnya yaitu penutupan lubang hidung
dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka.
Launtenschlager operation
Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid, kemudian
dipindahkan ke lubang hidung. Pada operasi ini, antrum maksila dibuka dengan operasi
Caldwell- Luc. Dinding medial antrum dimobilisasi kearah medial dengan membuat potongan
berbentuk U dengan menggunakan bor, apabila mungkin, mukosa kavum nasi yang tipis karena
penyakit ini jangan sampai rusak. Tulang antrum medial dengan konka inferior diluksasi kearah
medial dengan bertumpu pada area etmoid.
1-8

PROGNOSIS
Pada kebanyakan kasus, meskipun dengan terapi konservatif, keluhan masih timbul. Oleh
karena itu, dengan tindakan operasi diharapkan terjadinya perbaikan mukosa dan keadaan
penyakit pada penderita.Bila pengobatan konsevatif adekuat yang cukup lama tidak
menunjukkan perbaikan, pasien dirujuk untuk dilakukan operasi penutupan lubang hidung.
Henry Andri Theodorus Halaman 16

Prinsipnya mengistirahatkan mukosa hidung pada nares anterior atau koana sehingga menjadi
normal kembali selama 2 tahun. Atau dapat dilakukan implantasi untuk menyempitkan rongga
hidung.
Penyakit ini dapat menetap bertahun-tahun dan ada kemungkinan untuk sembuh spontan
pada usia pertengahan. Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya.
Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya. Pada pasien yang
berusia diatas 40 tahun, beberapa kasus menunjukkan keberhasilan dalam pengobatan.
















Henry Andri Theodorus Halaman 17

BAB III
PENUTUP
Rinitis atrofi merupakan suatu penyakit yang jarang secara umum ditemui pada masa
sekarang ini. Meskipun kekerapannya sering dijumpai pada negara-negara berkembang, rinitis
atropi juga cukup sering didapatkan sebagai suatu sekuele dari tindakan-tindakan medis.
1
Rinitis
atrofi merupakan istilah yang sering dipakai dalam dunia kedokteran. Rinitis atrofi juga dikenal
sebagai suatu rinitis kering, rinitis sika atau ozaena.
Penyakit ini dikenal dengan cirinya yang khas yaitu bau yang muncul dari rongga
hidung.Foetor ex nasi berarti bau busuk dari dalam hidung. Gejala ini termasuk salah satu
penyebab seorang pasien mencari pertolongan pada dokter. Namun, pada rinitis atrofi, foetor ex
nasi tidak dirasakan oleh penderita sehingga perasaan tidak nyaman dirasakan oleh orang
sekitarnya, bukannya oleh pasien. Terlebih lagi penyakit ini lebih sering menyerang perempuan,
sehingga menimbulkan keluhan tersendiri bagi pasien.
Rinitis atrofi mempunyai etiologi dan patogenesis yang sampai sekarang belum dapat
diterangkan dengan memuaskan, sehingga pengobatannya belum ada yang baku. Pengobatan
ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan
dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong dilakukan operasi.








Henry Andri Theodorus Halaman 18

DAFTAR PUSTAKA
1. Cowan, Alan MD. Atrophic Rhinitis. Grand Round Presentation, UTMB, Dept.of
Otolaryngology 2005
2. Yucel, Aylin et al. Atrophic Rinitis: A Case Report, Turk J Med Sci.2003;33: 405 407
3. Jurnal Reading Atrophic Rhinitis. [online] tersedia di URL:http://www.yasser-
nour.com/atrophic-rhinitis.pdf.
4. Mangunkusumo, Endang. Infeksi Hidung Dalam: Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi Kelima. Jakarta, 2003
5. Michel, Jean Pr. Management Of Chronic Rhinitis, Mp ORL Anglais2005; 87: 44 58
6. Arif, M., et al. 2006. Rinitis Atrofi (Ozaena). Buku Kapita Selekta Kedokteran. Ed. III, cet.
2. Jakarta : Media Aesculapius. 1999.
7. Adams.G.L, Boies.L.R, Higler. P.A. Boies Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Penyakit
penyakit Nasofaring dan Orofaring. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997. pg:
330-44.
8. Asnir, A. R. 2004. Rinitis Atrofi. Available from :http://www.kalbe.co.id. Accessed : 2008,
April 12. Sumber :Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004.
9. Soedarjatni. 1977. Foetor Ex Nasi. Available from :http://www.kalbe.co.id. Accessed :
2008, April 12. Sumber :Cermin Dunia Kedokteran No. 9, 1977.