Anda di halaman 1dari 7

1.

definisi
Syok kardiogenik didefinisikan sebagai keadaan dimana terjadi penurunan cardiac output yang
menyebabkan perfusi jaringan tidak adekuat walaupun volume sirkulasi adekuat/berlebih. Tanda
klinis dari syok kardiogenik adalah tanda dari penurunan cardiac output dengan hipoperfusi
jaringan, dapat terlihat dari hipotensi, perubahan status mental/penurunan kesadaran, akral
dingin, dan terdapat tanda-tanda volume overload (dyspnea, ronkhi).

2. Terapi
Prioritas utama dalam terapi syok kardiogenik adalah untuk mempertahankan stabilitas
hemodinamik, sementara mengatasi etiologi yang mendasari terjadinya syok. Terapi
hemodinamik secara konseptual, terdiri dari resusitasi cairan, terapi vasopresor, dan
terapi inotropik.
Vasopresor memberikan efek peningkatan resistensi vaskular sehingga berefek terhadap
peningkatan tekanan darah, sedangkan inotropik mempengaruhi peningkatan
kontraktilitas jantung sehingga berefek terdapa peningkatan cardiac output.
Terapi disesuaikan dengan keadaan klinis. Untuk pasien syok kardiogenik tanpa edema
pulmo, dapat diberikan terapi loading cairan (NS 100-250 ml). Apabila ada tanda-tanda
edema paru pemberian cairan harus ditunda.
Jika tidak ada perbaikan dengan terapi cairan, atau jika ada hipotensi dengan edema paru,
perlu diberikan terapi inotropik atau vasopresor.



Vasokonstriktor murni seperti phenylephrine perlu hati-hati dalam penggunaannya,
karena obat tersebut meningkatkan cardiac afterload tanpa memperbaiki kontraktilitas
jantung.
Dopamin digunakan jika ada hipotensi, tapi dapat meningkatkan kerja jantung karena
meningkatkan denyut jantung. Dobutamin dapat meningkatkan kontraktilitas jantung,
tapi perlu dihindari penggunaannya jika tekanan sistole < 90 mmH, karena memiliki efek
vasodilatasi.
Phosphodiesterase inhibitor (milrinone) dapat meningkatkan kontraktilitas jantung, tapi
dapat memiliki efek vasodilatasi yang lebih kuat daripada dobutamine. Terapi kombinasi
antara vasopresor (dopamine) dan inotropik (dobutamine) dapat lebih efektif daripada
penggunaan secara tunggal.

Obat-obat inotropik
1) dopamine
Dopamine merupakan first-line agent untuk syok kardiogenik. Dopamin bekerja
pada reseptor adrenergik dan dopaminergik, sehingga mengahsilkan efek yang
bervariasi sesuai dosis.
Pada infusion rate 0,5 -3 mcg/kg/menit, dopaminergik menstimulasi dilatasi
pembuluh darah ginjal, jantung dan splanchnic dan meningkatkan aliran darah ke
organ tersebut
Pada infusion rate antara 3 10 mcg/kg/menit, efek stimulasi
1
-adrenergik
dominan, dengan efek meningkatkan kontraktilitas jantung dan denyut jantung
dengan sedikit peningkatan SVR.
Pada rate >10 mcg/kg/menit, efek stimulai
1
adrenergik dominan dengan efek
vasokonstriksi, peningkatan tekanan darah dan peningkatan resistensi vaskular.
Dosis biasanya mulai pada 3-5 mcg/kg/menit dapat ditingkatkan sampai 20-50
mcg/kg/menit untuk mempertahankan tekanan darah. Komplikasi yang dapat
terjadi adalah aritmia, takikardia.

2) Dobutamine
Dobutamine biasanya digunakan pada keadaan dengan tanda-tanda perfusi yang
buruk dengan tekanan darah sistolik >90 mmHg. Merupakan agonis
1
selektif,
dan mememiliki efek
1
dan
2
adrenergik.
Efek simpatomimetik memperbaiki kontraktilitas myocardium dan meningkatkan
aliran darah koroner tanpa mencetuskan takikardia yang berlebihan. Efek
akhirnya adalah peningkatan cardiac output, penurunan tekanan pengisisan
ventrikel kiri, dengan sedikit efek perubahan tekanan darah.
Dobutamine dimulai pada dosis awal 2-5 mcg/kg/menit dapat dititrasi hingga 20
mcg/kg/menit disesuaikan dengan respon klinis.
Komplikasi yang dapat terjadi aritmia, nyeri kepala, mual. Jika tidak ada respon
yang adekuat, dapat ditambahkan dopamin untuk mempertahankan tekanan darah
yang stabil.

3. norepinephrine
Norepinephrin merupakan
1
-agonis yang poten, dengan efek vasokontriksi yang
kuat dan memiliki efek inotropik yang minimal sehingga dipilih sebagai terapi
dengan keadaan dimana stimulasi heart rate tidak diinginkan atau digunakan jika
tidak didapatkan reaksi adekuat pada dari vasopresor lain.
Penggunaan infusion norepinephrine yag berkepanjangan dapat menyebabkan
direct toxic terhadap cardiac myocite. Infusion rate mulai pada 2 mcg/kg/menit
dapat dititrasi sesusai respon klinis.
4. Milrinone
Milrinone merupakan golongan phosphodiesterase inhibitor yang berfungsi
meningkatkan cyclic adenosine monophosphate (cAMP) dengan menghambat
pemecahannya di dalam sel, sehingga meningkatkan kontraktilitas jantung dan
cardiac output. Obat ini memiliki efek inotropik dan vasodilator perifer.
Efek penurunan systemic venous return (SVR) membutuhkan terapi tambahan
untuk mempertahankan tekanan darah. Milrinone diberikan dengan loading dose
50 mcg/kg iv selama 10 menit, dilanjutkan dengan maintanance infusion 0.5
mcg/kg/menit.


Penggunaan inotropik dan vasoprosor pada syok kardiogenik akibat AMI
40% etiologi syok kardiogenik adalah Acute Myocardial Infarction
Obat-obatan inotropik positif dapat memperbaiki fungsi mitokondria pada daerah yang
tidak mengalami infark. Namun, efek lain yang ditimbulkan adalah penigkatan konsumsi
oksigen, aritmia ventrikular, dll. Sehingga penggunaan vasopresor dan inotropik harus
digunakan pada dosis yang paling rendah yang memungkinkan.
American Heart association memberikan guideline untuk tatalaksana hipotensi akibat
infark Myokard akut :
1) Dobutamine dianjurkan sebagai firstline agent jika tekana darah sistolik antara
70-100 mmHg tanpa adanya tanda dan gejala syok
2) Dopamine dianjurkan pada pasien dengan tekanan darah sistolik 70-100
mmHg dengan tanda dan gejala syok.
Dosis moderate dari obat-obat ini memaksimalkan efek inotropik dan mencegah efek
berlebihan dari stimulasi -adrenergik yang dapat menyebabkan end-organ ischemia.
Kombinasi dopamine dan dobutamnie pada dosis 7.5 mcg/kg/menit dapat memperbaiki
hemodinamik dan membatasi efek samping dibandingkan dengan penggunaan masing-
masing obat tersebut secara individual pada dosis 15 mcg/kg/menit.
3) Jika kombinasi dopamine-dobupamin pada dosis sedang belum memberikan
respon adekuat atau jika tekanan darah sistolik <70 mmHg, direkomendasikan
penggunaan norepinephrine.
4) Pada kasus yang tidak responsif terhadap norepinephrine, dapat diberikan
terapi vasopresin, yang dapat memperbaiki MAP, memperbaiki aliran darah
koroner, memiliki efek inotropik, dan mengurangi kebutuhan norepinephrine
sehingga mengurangi resiko cardiotoxic dan malignat arrhytmias.




Penggunaan inotropik dan vasoprosor pada Congestive Heart Failure
Terapi inotropik digunakan untuk tatalaksana decompensated heart failure untuk
menurunkan end diatolic pressure dan memperbaiki diuresis, sehingga memungkinkan
untuk dimulainya terapi ACE inhibitor, diuretik, atau -blocker.
Namun,penggunaan inotropik positif pada pasien dengan chronic heart failure
dilaporkan meningkatkan mortalitas karena resiko ventricular arrhythmias, sehingga
tidak rutin digunakan.
AHA merekomendasikan, pada keadaan hipotensi dan hipoperfusi yang jelas, beberapa
obat inotropik dapat diindikasikan. Obat-obatan yang sering direkomendasikan untuk
terapi heart failure yang refrakter adalah dobutamine, dopamine, dan milrinone yang
memberikan efek peningkatan cardiac output, dan meningkatkan diuresis dengan
memperbaiki alirah darah ke ginjal dan menurunkan SVR tanpa memperburuk hipotensi.














Lampiran







1. subjective
Pasien laki-laki 55 th, datang dengan keluhan sesak napas. Sesak napas dirasakan terus-menerus sejak
1 minggu sebelum masuk RS, dirasakan memberat dalam 2 hari SMRS. Pasien tidak bisa tidur, karena
sesak, harus tidur dengan posisi setengah duduk. Riwayat sesak sebelumnya diakui pasien, terutama jika
beraktivitas berat. Pasien pernah dirawat di RS dengan keluhan sesak napas, didiagnosa sakit jantung
oleh dokter 2 bulan yang lalu, namun pasien tidak rutin kontrol dan minum obat. Riwayat hipertensi
5 tahun. Riwayat DM disangkal.

2. objective
KU : tampak sakit berat
Kesadaran : E4V4M6( gelisah)
TD : 110 mmHg per palpasi
N : 120 x per menit (nadi lemah)
RR : 48x per menit
S : 36,7
0
C
Kepala &leher : dalambatas normal
Paru : bunyi napas simetris vesikular, ronkhi +/+ terutama di basal paru, wheezing -/-
Jantung : Bunyi jantung I & II regular, murmur (-), kesan kardiomegali
Abdomen : supel, BU (+)
Ekstremitas : akral dingin, CRT = 2 detik

3. assestment
- CHF NYHA gr IV dengan shock kardiogenik
- oedem paru akut

4. Planning
- Rawat ICU
- oksigen masker 12 lpm
- Pasang kateter urin
- Drip Dobutamine mulai 5 mcg/kgbb/menit (dengan syringe pump)
- Inj.Lasix 2 amp iv
- Inj Morfin 2,5 mg iv
- Drip Lasix 10 amp ( dengan syringe pump 5cc/jam)
- inj Ceftriaxone 2x1 gr iv
- Inj Ranitidine 2x1 amp iv
- Aspilet 1x80mg PO
- Vaclo 1x75 mg PO
- Digoxin 1x1 tab