Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS SEDIAAN

FARMASI
Penetapam Kadar Asam Asetat (Cuka)
dengan Metode Potensiometri


Golongan : U
Kelompok : B
Nama Klp : 1. Fardiella Rahayu P. (2443010124)
2. Ryan Djamiko (2443011031)
3. Nurfika Meiyati (2443011087)
4. Antonius Mardi T.P. (2443011115)

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA
SURABAYA
2013
A. Tujuan
Mempelajari prinsip analisis dengan metode titrasi potensiometri
Menentukan kadar Asam Asetat dalam Cuka

B. Prinsip percobaan
Potensiometri adalah suatu teknik analisis yang didasari oleh pengukuran potensial
suatu sensor atau elektroda. Salah satu metode potensiometri adalah potensiometri tidak
langsung atau lebih dikenal sebagai titrasi potensiometri dimana komponen yang akan
ditentukan konsentrasinya dititrasi dengan titrat yang sesuai.

C. Dasar Teori
Pengukuran kuantitatif dalam kimia analitik secara umum dibedakan menjadi
potensiometri (berdasarkan potensial sel) dan voltametri (berdasarkan arus sel).
(Rouessac 2007). Potensiometri adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan
pengukuran potensial atau voltage dari suatu sel elektrokimia yang terdiri dari elektroda
dan larutan. Larutan tersebut berisi komponen utama yang mempunyai kemampuan
mengion.(Harvey 2000). Dasar metode potensiometri adalah membuat sel elektrik dari
analat suatu larutan sehingga perbedaan potensial sel tersebut berkaitan dengan
konsentrasi larutan.(Rouessac 2007).
Suatu eksperimen dapat diukur dengan menggunakan dua metode yaitu, pertama
(potensiometri langsung) yaitu pengukuran tunggal terhadap potensial dari suatu
aktivitas ion yang diamati, hal ini terutama diterapkan dalam pengukuran pH larutan
air. Kedua (titrasi langsung), ion dapat dititrasi dan potensialnya diukur sebagai fungsi
volume titran. Potensial sel, diukur sehingga dapat digunakan untuk menentukan titik
ekuivalen. Suatu petensial sel galvani bergantung pada aktifitas spesies ion tertentu
dalam larutan sel, pengukuran potensial sel menjadi penting dalam banyak analisis
kimia (Basset, 1994).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan
volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan
titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara
berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum
titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu potensiometer
sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda gelas, maka akan
digunakan pH meter khusus. Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa, maka
pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya
tidak diwajibkan (Basset, 1994).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan
sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat
automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang
digunakan dalam titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung pada macam reaksi
yang sedang diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam basa, elektroda indikator dapat
berupa elektroda hidrogen atau sesuatu elektroda lain yang peka akan ion hidrogen,
untuk titrasi pengendapan halida dengan perak nitrat, atau perak dengan klorida akan
digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi redoks (misalnya, besi(II)) dengan
dikromat digunakan kawat platinum semata-mata sebagai elektroda redoks (Khopkar,
1990).

Asam Asetat ( FI III p.41)
Pemerian: cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, dan tajam.
Kelarutan: dapat campur dengan air, dengan etanol 95%P, dan dalam gliserol P.
Penetapam kadar: timbang seksama 5gram dalam labu ukur yang berisi 50ml air.
Titrasi dengan NaOH 1N menggunakan indikator larutan PP (pH 8,3-10. Perubahan
warna menjadi merah).
Asam asetat mengandung tidak kurang dari 32,5% dan tidak lebih dari 33,5% C
2
H
4
O
2
.
( 1ml NaOH 0,1N setara dengan 6,005 mg C
2
H
4
O
2
.)

Pembuatan Baku:
1. Pembutan larutan baku primer Asam Oksalat 0,1N 25ml.
N =


x val
0,1N =

x 2
x = 0,1575 gram
a. Timbang teliti C2H2O4.2H2O dibotol timbang.
b. Masukkan ke dalam beaker gelas, tambahkan aquadest ad larut.
c. Pindahkan ke labu takar 25ml. Tambahkan aquadest ad 25ml.
d. Kocok ad homogen.
2. Larutan baku sekunder NaOH 0,1N
a. Timbang NaOH 0,8 gram, menggunakan kaca arloji.
b. Masukkan beaker gelas, tambahkan aquadest ad 300ml.
c. Aduk ad homogen.
N =


x val
0,1N =

x 1
x = 0,2 gram
3. Preparasi Sampel
a. Pipet 0,1ml asam cuka.
b. Tambahkan air sekucupnya, ad elektroda tercelup (kira-kira 50ml).
c. Amati pada alat potensiometer hingga terjadi lonjakan potensial.

D. Hasil Pengamatan.
1. Pembuatan kurva baku Asam Oksalat.
Data penimbangan = 159mg.
FP = 159 x

= 19,08
M.grek As.Oksalat =

x 2 = 0,303 Mgrek.

N =


x val
=

x 2
= 0,101 N

Baku V.TE N (V1N1=V2N2)
1 4,0642 ml 0,074
2 4,2260 ml 0,071
3 4,2627 ml 0,070




Rata2 N = 0,072
Data perhitungan Sampel =




1. % sampel =

= 28,97%
2. % sampel =

= 30,22%
3. % sampel =

= 29,54%

Kadar As.Cuka yang didapat = 29,58%.

E. Pembahasan
Kadar sampel dalam kemasan = 25%. Sedangkan kadar sampel yang kami dapat
sebesar 29,58%. Kami rasa metode penetapan kadar Asam Cuka secara potensiometri
merupakan salah satu metode yang tepat. karena, kadar As.Cuka terteran sebasar 25%,
namun terkadang kadar sampel tersebut dapat lebih besar maupun lebih kecil dari kadar
yang ditetapkan.

F. Kesimpulan
Kami rasa metode penetapan kadar Asam Cuka secara potensiometri merupakan salah
satu metode yang tepat.