Anda di halaman 1dari 9

Makalah

BETON PRATEGANG
(Prestressed Concrete)

OLEH :
NAMA : M. YASIR ARAFAT
NIM : 090411022
JURUSAN : Teknik Sipil
PRODI : Perancangan Jalan Dan Jembatan
KELAS : D-IV/VIA


KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI LHOKSEUMAWE
2012
BETON PRATEGANG

a. Pengertian Beton Prategang
Beton prategang pada dasarnya adalah beton di mana tegangan-tegangan internal dengan
besar serta distribusi yang sesuai diberikan sedemikian rupa sehingga tegangan-tegangan yang
diakibatkan oleh beban-beban luar dilawan sampai suatu tingkat yang diinginkan. Pada batang
beton bertulang, prategang pada umumnya diberikan dengan menarik baja tulangannya.

Kekuatan tarik beton polos hanyalah merupakan suatu fraksi saja dari kekuatan tekannya
dan masalah kurang sempurnanya kekuatan tarik ini ternyata menjadi faktor pendorong dalam
pengembangan material komposit yang dikenal sebagai beton bertulang.

Timbulnya retak-retak awal pada beton bertulang yang disebabkan oleh ketidakcocokan
(non compatibility) dalam regangan-regangan baja dan beton barangkali merupakan titik awal
dikembangkannya suatu material baru seperti beton prategang. Penerapan tegangan tekan
permanen pada suatu material seperti beton, yang kuat menahan tekanan tetapi lemah dalam
menahan tarikan, akan meningkatkan kekuatan tarik yang nyata dari material tersebut, sebab
penerapan tegangan tarik yang berikutnya pertama-tama harus meniadakan prategang tekanan.
Dalam tahun 1904, Freyssinet mencoba memasukkan gaya-gaya yang bekerja secara permanen
pada beton untuk melawan gaya-gaya elastik yang ditimbulkan oleh beban dan gagasan ini
kemudian telah dikembangkan dengan sebutan prategang.

b. Sejarah Beton Prategang
Penerapan pertama dari beton prategang dimulai oleh P.H. Jackson dari California,
Amerika Serikat. Pada tahun 1886 telah dibuat hak paten dari kontruksi beton prategang yang
dipakai untuk pelat dan atap. Pada waktu yang hampir bersamaan yaitu pada tahun 1888, C.E.W.
Doehting dari Jerman memperoleh hak paten untuk memprategang pelat beton dari kawat baja.
Tetapi gaya prategang yang diterapkan dalam waktu yang singkat menjadi hilang karena
rendahnya mutu dan kekuatan baja.
Untuk mengatasi hal tersebut oleh G.R. Steiner dari Amerika Serikat pada tahun 1908
mengusulkan dilakukannya penegangan kembali. Sedangkan J. Mandl dan M. Koenen dari
Jerman menyelidiki identitas dan besar kehilangan gaya prategang. Eugen Freyssinet dari
Perancis yang pertama-tama menemukan pentingnya kehilangan gaya prategang dan usaha untuk
mengatasinya. Berdasarkan pengalamannya membangun jembatan pelengkung pada tahun 1907
dan 1927, maka disarankan untuk memakai baja dengan kekuataan yang sangat tinggi dan
perpanjangan yang besar. Kemudian pada tahun 1940 diperkenalkan sistem prategang yang
pertama dengan bentang 47 meter di Philadelphia (Walnut Lane Bridge).
Setelah Fresyssinnet para sarjana lain juga menemukan metode-metide prategang.
Mereka adalah G.Magnel (Belgia), Y.Guyon (Perancis), P. Abeles (Inggris), F. Leonhardt
(Jerman), V.V. Mikhailov (Rusia), dan T.Y. Lin (Amerika Serikat). Sekarang telah
dikembangkan banyak sistim dan teknik prategang. Dan beton prategangan sekarang telah
diterima dan banyak dipakai, setelah melalui banyak penyempurnaan hampir pada setiap elemen
beton prategang, misalnya pada jembatan, komponen bangunan seperti balok, pelat dan kolom,
pipa dan tiang panjang, terowongan dan lain sebagainya. Dengan beton prategang dapat dibuat
betang yang besar tetapi langsing.

c. Ruang Lingkup
Beton prategang adalah struktur komposit antara dua bahan, yaitu beton dan baja, tetapi
dengan mutu tinggi. Baja yang dipakai disebut tendon yang dikelompokkan dan membentuk
kabel. Seperti sudah diketahui, beton tidak dapat menahan tarik, tetapi dapat menerima tekanan
yang besar. Sedangkan tegangan tarik yang besar selalu terjadi pada struktur yang besar atau
yang mempunyai bentang besar, atau beban yang berat. Dengan pertimbangan itulah, maka di
daerah yang diperkirakan akan timbul tegangan tarik, dipasang tendon yang diberi tegangan
awal. Yang dimaksudkan dengan tegangan awal di sini adalah tegangan tarik.





d. Material Beton Prategang
1. Beton
Beton, khususnya beton mutu tinggi, adalah komponen utama dari semua elemen beton
prategang. Dengan demikian, kekuatan dan daya tahan jangka panjang beton prategang harus
diperoleh dengan menggunakan jaminan kualitas dan kontrol kualitas yang memadai pada tahap
produksinya.

Kekuatan tekan kubus 28 hari minimum yang ditentukan di dalam peraturan I.S. adalah 40
N/mm2 untuk batang pratarik dan 30 N/mm2 untuk batang pascatarik. Perbandingan standar
kekuatan silinder terhadap kekuatan kubus dianggap sebesar 0,8 bila tidak tersedia data
percobaan yang relevan. Kadar semen minimum sebesar 300 sampai 360 kg/m3 telah ditetapkan
terutama untuk memenuhi persyaratan daya tahan. Untuk mengamankan terhadap susut yang
berlebihan, peraturan B.S. menetapkan bahwa kadar semen dalam campuran sebaiknya tidak
melebihi 530 kg/m3.
2. Baja Prategang

Baja prategang dapat berbentuk kawat-kawat tunggal, strands yang terdiri atas beberapa
kawat yang dipuntir membentuk elemen tunggal dan batang-batang bermutu tinggi. Tiga jenis
yang umum digunakan adalah:

- Kawat-kawat relaksasi rendah atau stress-relieved tak berlapisan.
- Strands relaksasi rendah atau stress-relieved strands tak berlapisan.
- Batang-batang baja mutu tinggi tak berlapisan.

Kawat-kawat stress-relieved adalah kawat-kawat tunggal yang ditarik-dingin yang sesuai
dengan standar ASTM A 421; stress-relieved strands mengikuti standar ASTM A 416. Strands
terbuat dari tujuh kawat dengan memutir enam diantaranya pada pitch sebesar 12 sampai 16 kali
diameter di sekeliling kawat lurus yang sedikit lebih besar. Pelepasan tegangan dilakukan
sesudah kawat-kawat dijalun menjadi strand. Besaran geometris kawat dan strand sebagaimana
disyaratkan dalam ASTM masing-masing tercantum di dalam Tabel 2.1 dan 2.2.

























Untuk memaksimumkan luas baja strand 7 kawat untuk suatu diameter nominal, kawat
standar dapat dibentuk menjadi strand yang dipadatkan sepertiterlihat dalam Gambar 2.4(b); ini
berbeda dengan strand 7 kawat standar yang terlihat dalam Gambar 2.4(a).



(a) (b)
Gambar 2.4 Strands prategang 7 kawat standard dan dipadatkan. (a) Penampang strand standar.
(b) Penampang strand yang dipadatkan.
Relaksasi baja dalam baja prategang adalah kehilangan prategang apabila kawat-kawat
atau strand mengalami regangan yang pada dasarnya konstan. Ini identik dengan rangkak pada
beton, dengan perbedaan bahwa rangkak adalah perubahan rengangan, sedangkan relaksasi baja
adalah kehilangan tegangan pada baja.

e. Keuntungan Beton Prategang
Konstruksi beton prategang ( Prestressed concrete ) mempunyai beberapa keuntungan
bila dibandingkan dengan konstruksi beton bertulang biasa, antara lain :
a. Terhindarnya retak terbuka didaerah tarik, sehingga beton prategang akan lebih tahan
terhadap korosi.
b. Lebih kedap terhadap air, cocok untuk pipa dan tangki air.
c. Karena terbentuknya lawan lendut akibat gaya prategang sebelum beban rencana bekerja,
maka lendutan akhir setelah beban rencana bekerja, akan lebih kecil dari pada beton
bertulang biasa.
d. Penampang struktur akan lebih kecil/langsing, sebab seluruh luas penampang
dipergunakan secara efektif.
e. Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil dari pada jumlah berat besi penulangan pada
konstruksi beton bertulang biasa.
f. Ketahanan geser balok dan ketahanan puntirnya bertambah.
Dengan ini, maka suatu struktur dengan bentangan besar penampangnya akan lebih
langsing, hal ini mengakibatkan Natural Frequency dari struktur berkurang, sehingga menjadi
dinamis instabil akibat beban getaran gempa atau angin, kecuali bila struktur itu memiliki
redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.
Bila ditinjau dari segi ekonomis, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
f. Jumlah voluma beton yang diperlukan lebih kecil.
g. Jumlah baja/besi yang dipergunakan hanya 1/5 _ 1/3 nya.
h. Tetapi biaya awalnya tidak sebanding dengan pengurangan beratnya. Harga baja dan
beton mutu tinggi lebih mahal, selain itu formwork dan penegangan baja prategang
perlu tambahan biaya. Perbedaan biaya awal ini akan menjadi lebih kecil, jika beton
prategang yang dibuat adalah beton pracetak dalam jumlah yang besar.
i. Sebaliknya beton prategang hampir-hampir tidak memerlukan biaya pemeliharan,
lebih tahan lama karena tidak adanya retak-retak, berkurangnya beban mati yang
diterima pondasi, dapat mempunyai bentang yang lebih besar, dan tinggi penampang
konstruksinya berkurang.
Ada beberapa keuntungan dari beton prategang bila dibandingkan dengan beton bertulang
biasa :
1. Karena pada beton prategang dipergunakan material yang bermutu tinggi, baik beton dan
baja prategang, maka voluma material yang dipergunakan lebih kecil bila dibandingkan
dengan beton bertulang biasa untuk beban yang sama. Menurut pengalaman dengan
meningkatkan mutu beton 2x lipat akan menghemat biaya sekitar 30 %.
2. Pada beton prategang seluruh penampang beton aktif menerima beban, sedangkan pada
beton bertulang biasa hanya penampang yang tidak retak saja yang menerima beban.
3. Beton pratekan akan lebih ringan atau langsing ( karena volumanya lebih kecil ) sehingga
secara estetika akan lebih baik. Untuk bentangan-bentangan yang besar seperti jembatan
dimana pengaruh berat sendiri sangat besar, maka penggunaan beton prategang akan
sangat menguntungkan, karena lebih ringan dapat menghemat pondasinya.

j. Proses Pemasang
- Konstruksi dimana tendon ditegangkan dengan pertolongan alat pembantu sebelum beton
di cor atau sebelum beton mengeras dan gaya prategang dipertahankan sampai beton
cukup keras. Untuk ini dipakai istilah, Pre-tensioning. Dalam hal ini beton melekat pada
baja prategang. Setelah beton mencapai kekuatan yang diperlukannya, tegangan pada
jangkar dilepas perlahan-lahan dan baja akan mentransfer tegangannya ke beton melalui
panjang transmisi baja, yang tergantungpada kondisi permukaan serta profil dan diameter
baja, juga bergantung pada mutu beton.
Langkah 1. Kabel ditegangkan pada alat pembantu (Gambar 1.9 a)
Langkah 2. Beton di cor (Gambar 1.9 b)
Langkah 3. Setelah beton mengeras (umur cukup) baja di putus perlahan-lahan, tegangan
baja ditransfer ke beton melalui transmisi baja (Gambar 1.9c)



- Konstruksi dimana setelah betonnya cukup keras, barulah bajanya yang tidak terekat pada
beton diberi tegangan. Untuk konstruksi ini disebut : Post-tensining. Pada sistem Post-
tensioning, beton di cor dahulu dan dibiarkan mengeras sebelum di beri gaya prategang.
Baja dapat ditempatkan seperti propil yang ditentukan, lalu beton di cor, lekatan
dihindarkan dengan menyelubungi baja yaitu dengan membuat selubung/sheat. Bila
kekuatan beton yang diperlukan telah tercapai, maka baja ditegangkan di ujung-ujungnya
dan dijangkar. Gaya prategang di transfer ke beton melalui jangkar pada saat baja
ditegangkan, jadi dengan demikian beton ditekan. Langkah-langkah pelaksanaan sistem
Post-tensioning :
Langkah 1. Beton di cor dan tendon diatur sedemikian dalam sheat, sehingga tidak ada
lekatan antara beton dan baja (Gambar 1.10 a)
Langkah 2. Tendon di tarik pada salah satu/kedua ujungnya dan menekan beton langsung
(Gambar 1.10 b).
Langkah 3. Setelah tendon ditarik, kemudian dijangkarkan pada ujung-ujungnya.
Prategang ditransfer ke beton melalui jangkar ujung tersebut. Jika diinginkan baja
terekat pada beton, maka langkah selanjutnya adalah grouting (penyuntikan) pasta
semen ke dalam sheat (Gambar 1.10 c).