Anda di halaman 1dari 8

Usia wanita saat menikah idealnya dilakukan oleh pasangan yang benar-benar

matang. bukan hanya berdasarkan sudah menstruasi atau belum, namun juga
pada kematangan sel-sel mukosa. Pada perkawinan usia muda mempunyai
resiko lebih besar mengalami perubahan pada sel-sel mukosa yang belum
matang, sehingga dapat merusak sel-sel pada mulut rahim. (Rieke. P,
2006) Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 27 Tahun 1983, usia calon
pengantin bagi wanita adalah diatas 20 tahun, dan bagi pria adalah diatas 25
tahun. Secara umum, seorang perempuan disebut siap fisik jika telah
menyelesaikan pertumbuhannya, yaitu di atas usia 20 tahun. Karena Ini erat
kaitannya dengan belum sempurnanya perkembangan organ reproduksi.
(BKKBN, 2002)

Menurut Tim Penanggulangan Kanker Terpadu Pari Purna , RSUD DR Soetomo/
FK UNAIR TAHUN 2000 menyatakan bahwa Pemeriksaan Pap Smear test
merupakan suatu test yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun
lamanya untuk mendeteksi kelainan- kelainan yang terjadi pada sel-sel leher
rahim. Terjadinya kanker serviks ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel
pada leher rahim yang abnormal, tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel
kanker. Pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang
abnormal sebelum berubah menjadi sel kanker. Sel-sel abnormal tersebut dapat
dideteksi dengan Pap Smear test sehingga semakin dini sel-sel abnormal
terdeteksi. Semakin rendah risiko seseorang menderita kanker leher rahim. (Tim
Penanggulangan Kanker Terpadu Pari Purna RSUD DR Soetomo/ FK UNAIR
Tahun 2000).
Oleh karena itu Bidan sangat berperan penting dalam hal ini yaitu dengan
memberikan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) pada wanita usia subur dengan
menganjurkan melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur, makan-
makanan yang bergizi seimbang, istirahat cukup, menjaga kebersihan terutama
daerah genetalia, menghindari hal-hal yang dapat meningkatkan risiko timbulnya
kanker leher rahim. Pemeriksaan Pap Smear test dapat dilakukan di Rumah
Sakit Pemerintah atau laboratorium swasta, dengan harga yang cukup
terjangkau. Bila hasil Pap Test ternyata positif, maka harus dilanjutkan dengan
pemeriksaan biopsy terarah dan patologi. Pap Smear sudah dapat menemukan
kanker leher rahim, walaupun masih ada tingkat pra kanker (stadium dini),
sehingga bisa memberikan harapan kesembuhan 100%. Sebaliknya pada
penderita yang datang terlambat, harapan hidupnya sulit diramalkan (Karen
Evennett: 2003)

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2004 didapatkan
jumlah PUS sebanyak 430.684 jiwa denagan persentase PUS yang mengikuti
Pap Smear ada 1,43%, tahun 2005 didapatkan jumlah PUS sebanyak 426.838
jiwa dengan persentase PUS yang mengikuti Pap Smear ada 1,54%, tahun 2006
didapatkan jumlah PUS sebanyak 443.956 jiwa dengan persentase PUS yang
mengikuti Pap Smear ada 1,6%. Hal ini menunjukkan bahwa peserta Pap
Smear dari tahun 2004 sebesar 1,43% meningkat 0,11% menjadi 1,54% pada
tahun 2005 dan meningkat 0,06 % menjadi 1,6 %. Menurut Rahmi dalam
seminarnya pada tanggal 29 Januari 2008 tentang Cegah Kanker Serviks
Dengan Pap Smear, Dianjurkan semua wanita yang berseksualitas aktif
hendaknya melakukan Pap Smear secara teratur. Pemeriksaan Pap Smear
untuk pertama kali harus dilakukan segera setelah wanita tersebut mulai
melakukan hubungan seksual dan harus diulangi setelah 1 tahun, karena sel-sel
abnormal dapat terluput dari sekali pemeriksaan. Jika tidak didapati kelainan
pada salah satu hasil pemeriksaan Pap Smear, pemeriksaan dapat dilakukan
secara teratur dengan interval 2 tahun sekurang-kurangnya sampai wanita.


2.2 Konsep Dasar Pap Smear 2.2.1 Pengertian Pap Smear Pap Test (Pap
Smear) adalah pemeriksaan sitologik epitel porsio dan endoservik uteri untuk
penentuan adanya perubahan praganas maupun ganas di porsio atau servik
uteri (Tim PKTP,RSUD Dr. Soetomo/ FK UNAIR, 2000). Sedangkan menurut
Hariyono Winarto dalam seminarnya pada tanggal 05-10-2008 tentang Pap
Smear Sebagai Upaya Menghindari Kanker Leher Rahim Bagi Wanita Usia
Reproduksi, pengertian Pap Test (Pap Smear) adalah suatu pemeriksaan
dengan cara mengusap leher rahim ( scrapping ) untuk mendapatkan sel-sel
leher rahim kemudian diperiksa sel-selnya, agar dapat ditahui terjadinya
perubahan atau tidak. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pap
Smear adalah pemeriksaan usapan pada leher rahim untuk mengetahui adanya
perubahan sel-sel yang abnormal yang diperiksa dibawah mikroskop.
2.2.2 Tujuan Pap Smear

2.2.2.1 Menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi
kanker termasuk infeksi HPV . (Ramli, dkk: 2000). 2.2.2.2 Untuk mendeteksi
adanya pra-kanker, ini sangat penting ditemukan sebelum seseorang menderita
kanker. (Hariyono.W, 2008). 2.2.2.3 Mendeteksi kelainan kelainan yang terjadi
pada sel-sel leher rahim. 2.2.2.4 Mendeteksi adanya kelainan praganas atau
keganasan servik uteri (Tim PKTP, RSUD Dr. Soetomo / FK UNAIR, 2000).
2.2.3 Sasaran Pap Smear 2.2.3.1 Ahli-ahli di Marie Stopes International
menganjurkan agar kita melakukan Pap Smear setiap tahun baik wanita yang
sudah menikah atau wanita yang sudah pernah melakukan hubungan
seksual. 2.2.3.2 American Cancer Society petulisannya : Cancer Related
Health
Check Up menganjurkan sebagai berikut : 1. Pap test setahun sekali bagi
wanita antara umur 40-60 tahun dan juga bagi wanita di bawah 20 tahun yang
seksual aktif. 2. Sesudah 2x pap test (-) dengan interval 3 tahun dengan catatan
bahwa wanita resiko tinggi harus lebih sering menjalankan pap test (Tim PKTP,
RSUD Dr. Soetomo / FK UNAIR, 2000) 2.2.3.3 The British Medical Association
Family Health Encyclopedia menganjurkan bahwa seseorang wanita harus
melakukan Pap Smear dalam 6 bulan setelah pertama kali melakukan Pap
Smear dalam 6 bulan setelah pertama kali melakukan hubungan seksual,
dengan Pap Smear kedua 6-12 bulan setelah Pap Smear pertama dan hasil
diberikan adalah normal pada selang waktu 3 tahunan selama masa hidupnya.

2.2.4 Syarat Pengambilan Pap Smear Beberapa hal penting yang perlu
diperhatikan dalam pemeriksaan Pap Smear adalah sebagai berikut : 2.2.4.1
Waktu pengambilan minimal 2 minggu setelah menstruasi dimulai dan sebelum
menstruasi berikutnya. 2.2.4.2 Berikan informasi sejujurnya kepada petugas
kesehatan tentang riwayat kesehatan dan penyakit yang pernah diderita 2.2.4.3
Hubungan intim tidak boleh dilakukan dalam 24 jam sebelum pengambilan
bahan pemeriksaan. 2.2.4.4 Pembilasan vagina dengan macam-macam cairan
kimia tidak boleh dikerjakan dalam 24 jam sebelumnya.
2.2.4.5 Hindari pemakaian obat-obatan yang dimasukkan ke dalam vagina 48
jam sebelum pemeriksaan. 2.2.4.6 Bila anda sedang minum obat tertentu,
informasikan kepada petugas kesehatan, karena ada beberapa jenis obat yang
dapat mempengaruhi hasil analisis sel. (Republika. C, 2007). 2.2.5 Klasifikasi
Pap Smear Klasifikasi menurut Ramli, dkk: 2000, negative: tidak ditemukan sel
ganas. Sedangkan klasifikasi menurut Papanicolau adalah sebagai berikut
: 2.2.5.1 Kelas I : Hanya ditemukan sel-sel normal. 2.2.5.2 Kelas II : Ditemukan
beberapa sel atipik, akan tetapi tidak ada bukti keganasan. 2.2.5.3 Kelas III :
Gambaran sitologi mengesankan ,tetapi tidak konklusif keganasan. 2.2.5.4
Kelas IV : Gambaran sitologi yang mencurigakan keganasan. 2.2.5.5 Kelas V :
Gambaran sitologi yang menunjukkan keganasan. (Tim PKTP RSUD Dr.
Soetomo/FK UNAIR, 2000).
Interpretasi hasil pap test menurut Papanicolaou: 1) Kelas I : Identik dengan
normal smear pemeriksaan ulang 1 tahun lagi. 2) Kelas II : Menunjukkan
adanya infeksi ringan non spesifik, kadang disertai: (1) Kuman atau virus
tertentu. (2) Sel dengan kariotik ringan. Pemeriksaan ulang 1 tahun lagi,
pengobatan yang sesuai dengan kausalnya Bila ada erosi atau radang
bernanah, pemeriksaan ulang 1 bulan setelah pengobatan. 3) Kelas III :
Ditemukannya sel diaknostik sedang dengan keradangan berat. Periksa ulang 1
bulan sesudah pengobatan 4) Kelas IV : Ditemukannya sel-sel yang
mencurigakan ganas dalam hal demikian daapat ditempuh 3 jalan, yaitu: (1)
Dilakukan biopsi. (2) Dilakukan pap test ulang segera, dengan skreping lebih
dalam diambil 3 sediaan (3) Rujuk untuk biopsi konfirmasi. 5) Kelas V :
Ditemukannya sel-sel ganas. Dalam hal ini seperti ditempuh 3 jalan seperti pada
hasil kelas IV untuk konfirmasi. (Tim PKTP RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR,
2000).

2.2.6 Teknik Pengambilan Sediaan 2.2.6.1 Alat-alat yang diperlukan untuk
pengambilan pap test yaitu : 1) Formulir konsultasi sitologi. 2) Spatula ayre
yang dimodifikasi dan cytobrush. 3) Kaca benda yang pada satu sisinya telah
diberikan tanda/label. 4) Spekulum cocor bebek (gravels) kering. 5) Tabung
berisikan larutan fiksasi alcohol 95 %. (Arif Mansjoer, 2000). 2.2.6.2 Cara
pengambilan sediaan : 1) Sebelum memulai prosedur, pastikan bahwa label
wadah specimen diisi, pastikan bahwa preparat diberi label yang menulis tanggal
dan nama serta nomor identitas wanita. 2) Gunakan sarung tangan. 3) Insersi
spekulum dengan ukuran tepat, visualisasi serviks, fiksasi speculum untuk
memperoleh pajanan yang diperoleh. Pastikan secara cermat membuang setiap
materi yang menghalangi visualisasi serviks/ mengganggu studi sitologi. 4)
Salah satu dari 4 metode pengumpulan spesimen berikut untuk apusan pap
dapat digunakan : (1) Tempatkan bagian panjang ujung spatula kayu yang
ujungnya sedikit runcing/ pengerik plastic mengenai dan masuk ke dalam mulut
eksterna serviks dan tekan. Ambil spesimen kanalis servikalis dengan memutar
spatula satu lingkaran penuh (2) Ujung kapas aplikator berujung kapas
dilembabkan dengan normal saline, insersi aplikator tersebut ke dalam saluran
serviks 2 cm dan putar 3600. (3) Insersi alat gosok sepanjang 1-2 cm ke dalam
saluran serviks dan putar 90-1800. (4) Gunakan kombinasi metode untuk
metode memasukkan spatula. 5) Sebarkan sel-sel pada preparat yang sudah
diberi label. Apabila sel-sel dikumpulkan pada spatula kayu, tempatkan satu sisi
diatas dekat label diatas setengah bagian atas preparat dan usap 1 kali sampai
ke ujung preparat. Kemudian balikkan spatula dan tempatkan sisi datar lain
dekat label pada setengah bagian bawah preparat dan usap satu kali sampai
ujung preparat. 6) Segera semprot preparat dengan bahan fiksasi/ masukkan
bahan tersebut didalam tabung berisi larutan fiksasi.(Helen Varney, 2007). 7)
Bila fasilitas pewarnaan jauh dari tempat praktek sederhana, dapat dimasukkan
dalam amplop/pembungkus yang dapat menjamin kaca sediaan tidak pecah.
Dengan pengambilan sediaan yang baik, fiksasi dan pewarnaan sediaan baik
serta pengamatan mikroskopik yang cermat, merupakan langkah yang memadai
dalam menegakkan diagnosis. (Ramli,dkk, 2000).
2.2.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan Pap
Smear Faktor faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan Pap Smear yaitu
perubahan sel sel abnormal pada mulut rahim yang akhirnya dapat terjadi
kanker serviks antara lain : 2.2.7.1 Konseling pra pap smear yang tepat: 1)
Waktu pengambilan minimal 2 minggu setelah menstruasi dimulai dan sebelum
menstruasi berikutnya. 2) Berikan informasi sejujurnya kepada petugas
kesehatan tentang riwayat kesehatan dan penyakit yang pernah diderita 3)
Hubungan intim tidak boleh dilakukan dalam 24 jam sebelum pengambilan
bahan pemeriksaan. 4) Pembilasan vagina dengan macam-macam cairan kimia
tidak boleh dikerjakan dalam 24 jam sebelumnya. 5) Hindari pemakaian obat-
obatan yang dimasukkan ke dalam vagina 48 jam sebelum pemeriksaan. 6) Bila
anda sedang minum obat tertentu, informasikan kepada petugas kesehatan,
karena ada beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi hasil analisis
sel. (Republika. C, 2007). 2.2.7.2 Cara pengambilan kesediaan Pengambilan
kesediaan yang tak adekuat (62 %), bisa terjadi kegagalan skrining (15 %),
interpretasi (23 %), dan angka positif palsu (3-15 %). Untuk ketepatan diagnostik
perlu diperhatikan komponen dosenviks dan ektoserviks yang diambil dengan
gabungan cytobrush dan spatula 2.2.7.3 Petugas kesehatan (dokter/
bidan) Bisa disebabkan oleh: 1) Kegagalan memberikan pelayanan tes
pap. 2) Kegagalan menyampaikan hasil tes abnormal pada pasien. 3)
Kegagalan merujuk pasien dengan tes abnormal. 2.2.7.4 Labolatorium 1)
Kegagalan mendeteksi sel abnormal. 2) Kegagalan melaporkan kualitas
sediaan yang tidak memuaskan 3) Kegagalan mengajukan pengulangan. 4)
Hapussan terlalu tipis. 5) Sediaan apusan terlalu kering sebelum di fiksasi. 6)
Cairan fiksasi tidak memakai alkohol 95 %. (Ramli, dkk, 2000) 2.2.7.5 Petugas
laboratorium 1) Cara kerja tidak sesuai prosedur. 2) Reagen yang dipakai
sudah expaidet. 3) Pembacaan hasil pemeriksaan sitologi kurang valid. 4)
Keterampilan dan ketelitian spesialis patologi anatomi.
2.2.7.6 Faktor karakteristik 1) Umur Perubahan sel-sel abnormal pada mulut
rahim paling sering ditemukan pada usia 35-55 tahun dan memiliki risiko 2-3 kali
lipat untuk menderita kanker mulut rahim (serviks). Semakin tua umur seseorang
akan mengalami proses kemunduran, sebenarnya proses kemunduran itu tidak
terjadi pada suatu alat saja tetapi pada seluruh organ tubuh. Semua bagian
tubuh mengalami kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih lama
kemungkinan jatuh sakit, misalnya terkena sakit/mudah mengalami infeksi
(Andrijono, 2008). 2) Paritas Paritas adalah seorang wanita yang sudah
pernah melahirkan bayi yang dapat hidup atau viable. Paritas dengan jumlah
anak lebih dari 2 orang atau jarak persalinan terlampau dekat mempunyai risiko
yang lebih besar terhadap timbulnya perubahan sel-sel abnormal pada mulut
rahim. Jika jumlah anak yang dilahirkan pervaginam banyak dapat
menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel pada mulut rahim
yang dapat berkembang menjadi keganasan (IBG Manuaba, 1999). 3) Sosial
ekonomi Golongan social ekonomi yang rendah sering kali terjadi keganasan
pada sel sel mulut rahim, hal ini dikarenakan ketidakmampuan melakukan
Pap Smear secara rutin (Andrijono, 2008). 4) Usia wanita saat menikah Usia
menikah <21 tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami perubahan sel-sel
mulut rahim. Hal ini karena pada saat usia muda sel-sel rahim masih belum
matang. Maka sel sel tersebut tidak rentan terhadap zat zat kimia yang
dibawa oleh sperma dan segala macam perubahannya. Jika belum matang, bisa
saja ketika ada rangsangan sel yang tumbuh tidak seimbang dengan sel yang
mati, sehingga kelebihan sel ini bisa berubah sifat menjadi sel kanker (Karen
Evennett, 2003). 2.2.7.7 Faktor perilaku 1) Berganti-ganti
pasangan Pasangan seksual yang berganti ganti juga memperbesar risiko
kemungkinan terjadinya kanker leher rahim. Bisa saja salah satu pasangan
seksual membawa virus HPV yang mengubah sel-sel di permukaan mukosa
hingga membelah menjadi lebih banyak yang akan mengarah ke keganasan
leher rahim (Nugroho. K, 2007) 2) Hygiene alat Genetalia Terlalu sering
menngunakan antiseptik untuk mencuci vagina juga ditengarai dapat memicu
kanker serviks. Oleh sebab itu, hindari terlalu sering mencuci vagina dengan
antiseptic karena cuci vagina dapat menyebabkan iritasi di serviks. Iritasi ini akan
merangsang terjadinya perubahan sel yang akhirnya berubah menjadi kanker. (
Rieke. P, 2006 ).
2.2.8 Beberapa Hal untuk Menghindari Terjadinya Sel-sel Ganas pada Mulut
Rahim

2.2.8.1 Melakukan Pap Smear secara teratur. 2.2.8.2 Menghindari berganti-
ganti pasangan seksual, merokok dan lainnya. 2.2.8.3 Menjaga kebersihan
organ intim. 2.2.8.4 Selalu waspada bila mengalami keputihan dan busuk dari
vagina, perdarahan setelah melakukan hubungan intim (Andrijono, 2008).
2.3 Hubungan Wanita SaatUsia Menikah Dengan Hasil Pemeriksaan Pap
Smear Idealnya hubungan seksual dilakukan oleh pasangan yang benar-benar
matang. Bukan hanya berdasarkan sudah menstruasi atau belum, namun juga
pada kematangan sel-sel mukosa. Jika sel-sel mukosa sudah matang, maka ia
tidak rentan terhadap zat-zat kimia yang dibawa oleh sperma dan segala macam
perubahannya. Pada dasarnya sifat sel selalu berubah setiap saat, mati dan
tumbuh lagi. Jika belum matang, bisa saja ketika ada rangsangan sel yang
tumbuh tidak seimbang dengan sel yang mati, sehingga kelebihan sel ini bisa
berubah sifat menjadi sel kanker. Umumnya sel-sel mukosa menjadi matang
setelah wanita berusia diatas 20 tahun. Dengan demikian umur menikah kurang
21 tahun berpengaruh besar terhadap hasil pemeriksaan Pap Smear dimana
terjadi perubahan yang abnormal dari sel-sel leher rahim (Andrijono,
2008). DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, Profil Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Surabaya : Dinkes.
Andrijono, (2008) Semua 20% Perempuan Beresiko Kanker Serviks. Diambil 10
Juni 2008, http://www.Medicastore.com.
Andrijono.( 2008 ). Cegah Kanker Serviks Dari Sekarang. Diambil 07 Desember
2008. http:// www. MajalahKonstan.com.
Divi. (2007). Kanker Leher Rahim Bisa Dicegah. Diambil 27 Mei 2007, http ://
http://www.Seksfilewordpress.com.
Evennett, Karen. 2003. Paps Smear Apa yang Anda Ketahui?. Jakarta: Arcan.
Kampono, Nugroho. (2007) Kanker Serviks Dan Pencegahannya. Diambil 06
September 2007, http:// www. Kalbe. co.id.
Mansjoer, Arif M. 2000, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3, Jakarta : Media
Aesculapius.
Manuaba , I.B.G. 1999, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Jakarta :
EGC.
Pernamasari, Rieke. (2006). Cegah Kanker Serviks Dengan Vaksinasi Dan Paps
Smear. Diambil 18 April 2008. Copyright 2006 all Rights Reserved all Contents
and Design are Copyrighted
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Bunga Rampah Obstetri dan Ginekologi Sosial.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Ramli, Dkk, 2000, Deteksi Dini Kanker, Jakarta : FKUI.
Republika Contributor. (2008). Kanker Serviks, Cegah Sebelum Terlambat.
Diambil 04 Desember 2007,http : // www. republika.com.. TIM PKTP RSUD dr.
Soetomo/ FK Unair, 2000 : Buku Acuan Teknik Pengambilan Pap Smear.
Surabaya: FK UNAIR
TIM PKTP RSUD dr. Soetomo/ FK Unair, 2000 : Pengertian Tentang Penyakit
Kanker dan Cara Penanggulangannya. Buku Acuan Teknik Pengambilan Pap
Smear. Surabaya: FK UNAIR