Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN

(PENYULUHAN) KEBUTUHAN NUTRISI PADA BAYI DAN


BALITA DI POSYANDU CUT NYAK DIEN
DESA IE MASEN KAYE ADANG

I. Latar Belakang
Masa bayi dan balita merupakan masa paling baik untuk menerima asupan
gizi, semakin baik asupan gizi yang diperoleh, maka semakin baik pula
perkembangan fisik sang anak, khususnya perkembangan otak. Kebutuhan zat gizi
anak diharapkan dapat terpenuhi secara lengkap melalui konsumsi susu, termasuk
zat-zat gizi yang tidak diperoleh dari makanan.
Lima tahun pertama merupakan masa terpenting dalam kehidupan
manusia, inilah yang disebut masa emas. Pada masa ini, perubahan dalam
kemampuan terbesar terjadi pada balita, termasuk pertumbuhan otak yang paling
pesat, setelah itu pertumbuhan otak akan menurun seiring dengan bertambahnya
umur. Secara umum untuk tumbuh kembang anak, termasuk pertumbuhan dan
perkembangan otak pada masa emas diperlukan zat gizi makro (karbohidrat,
lemak dan protein) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral).
Untuk memenuhi zat gizi, Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang
pertama dan utama bagi anak usia 0-6 bulan. Komposisi zat gizi ASI sangat ideal
untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Namun, setelah usia 6 bulan seiring dengan
pertumbuhan dan perkembangan anak, ASI saja tidak lagi mencukupi kebutuhan
gizi, oleh karena itu anak harus diberikan MPASI (Makanan Pendamping Air
Susu Ibu). Air susu ibu sebaiknya tetap diberikan kepada anak hingga usia dua
tahun.
Bagi batita pemenuhan kebutuhan pangan yang berkualitas sangat perlu
diperhatikan, karena usia tersebut adalah masa pertumbuhan dan perkembangan
otak. Selain itu penyediaan pangan yang cukup, aman dan bergizi bagi batita
merupakan langkah awal dalam menciptakan sumberdaya berkualitas. Terciptanya
sumberdaya manusia berkualitas/andal merupakan aset yang sangat potensial bagi
perkembangan perekonomian dan pembangunan di masa mendatang.


II. Lokasi dan waktu
Tempat : Posyandu Cut Nyak Dien Desa Kaye Adang Ie Masen
Waktu : Selasa, 24 Juni 2014
Peserta : Ibu yang memiliki bayi dan balita yang datang ke
Posyandu Cut Nyak Dien

III. Metode penyuluhan
Dilakukan penyuluhan kepada ibu yang memiliki bayi dan balita yang
datang ke posyandu yang sebelumnya telah dibagikan brosur tentang kebutuhan
nutrisi pada bayi dan balita.

IV. Penjelasan masalah kesehatan
Kekurangan dan kelebihan kesehatan gizi pada balita sama-sama dapat
berdampak negatif. Kekurangan kesehatan gizi pada balita berhubungan erat
dengan keterlambatan pertumbuhan tubuh, daya tahan tubuh yang rendah
sehingga mudah sakit (terutama penyakit infeksi), dan menurunnya tingkat
kecerdasan serta gangguan mental.
Sebaliknya kelebihan kesehatan gizi pada balita yang ditandai dengan
berat badan berlebih dan kegemukan berisiko terkena penyakit-penyakit kronis-
degreneratif seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke dan
jenis kanker tertentu. Kedua masalah tersebut menurunkan kualitas sumber daya
manusia.Oleh sebab itu pembangunan dibidang kesehatan gizi merupakan
investasi pembangunan bangsa.
Penanganan secara khusus perlu dilakukan pada balita yang mempunyai
masalah gizi dalam bentuk memperbaiki kebiasaan pola makan dengan gizi
seimbang. Yaitu solusinya yang dapat dilakukan adalah setiap orang tua memberi
contoh dengan mengajak makan bersama keluarga, memper-kenalkan makanan
secara bertahap terus mencoba makanan yang baru dan tetap tenang apabila balita
menolak makan.





V. Manfaat penyuluhan
Meningkatnya pengetahuan kepada ibu yang memiliki bayi dan balita tentang
pentingnya nutrisi bagi bayi dan balita.
Meningkatnya pengetahuan kepada ibu-ibu hamil dan ibu yang memiliki bayi
tentang cara jenis-jenis makanan yang harus diberikan untuk bayi dan balita
sesuai dengan umur.
Meningkatkan pengetahuan kepada ibu-ibu hamil dan ibu yang memiliki bayi
tentang pola pemberian makan untuk bayi dan balita.
Menerapkan upaya pencegahan akibat dari kurangnya asupan nutrisi pada bayi
dan balita sehingga mengurangi angka kesakitan serta kematian.
Menciptakan sikap sadar terhadap kesehatan, terutama terkait dengan
pemberian gizi seimbang untuk menciptakan sumber daya yang sehat dan
berkualitas.

VI. Tujuan penyuluhan
Agar ibu-ibu dapat memberikan kebutuhan nutrisi yang bergizi dan
seimbang untuk serta dampak yang terjadi apabila anak kekurangan asupan
nutrisi.

VII. Materi Penyuluhan
1. Menjelaskan pengertian gizi
Gizi adalah makanan dan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh yang
berhubungan dengan kesehatan untuk mempertahankan kehidu-pan, pertumbuhan
dan fungsi organ tubuh serta menghasilkan energi
2. Manfaat nutrisi bagi bayi dan balita
Sebagai sumber zat tenaga
Sebagai sumber zat pembangun
Sebagai sumber zat pengatur





3.Makanan bagi bayi dan balita
Makanan Bayi Usia 0-6 Bulan
Makanan yang paling sesuai untuik bayi adalah air susu ibu, karena ASI
memang diperuntukkan bayi-bayi yang khasiatnya sebagai makanan pokok
untuk bayi.
Makanan Bayi Umur 6-12 Bulan
Pada bayi umur 6-12 bulan tetap berikan air susu ibu (ASI) sesuai
dengan keinginan anak. Selain itu beriakan bubur nasi ditambah telur/ ayam/
ikan/ tempe/ tahu/ daging sapi /wortel /bayam/ kacang hajau /santan /minyak
dan dilumatkan.
4. Pola Pemberian Makanan pada Bayi Usia 0-5 Tahun

Umur
(bulan)
Jenis Makanan Pemberian Dalam Sehari
0-6 ASI Sekehendak
6-8
ASI
Buah
Bubur susu
Sekehendak
1 kali
2 kali
8-10
ASI
Buah
Bubur susu
Nasi tim saring
Sekehendak
1 kali
1 kali
2 kali
10-12
ASI
Buah
Nasi tim saring
1 kali
3 kali
3 kali
12-24
ASI
Buah
Makanan seperti
keluarga
Makanan kecil
2-3 kali
1 kali
3 kali
1 kali
2
tahun-
5
tahun
Susu
Buah
Makanan seperti
keluarga
Makanan kecil
2-3 kali
1 kali
3 kali
1 kali






5. Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun
Dalam memenuhi kebutuhan gizi usia 1-5 thn hendaknya digunakan kebutuhan
prinsip sebagai berikut:
1. Bahan makanan sumber kalori harus dipenuhi baik berasal dari makanan
pokok, minyak dan zat lemak serta gula.
2. Berikan sumber protein nabati dan hewani
3. Jangan memaksa anak makan makanan yang tidak disenagi, berikan
makanan lain yang diterima anak.
4. Berilah makanan selingan (makanan ringan) misalnya, biscuit dan
semacamnya, diberikan antara waktu makan pagi, siang dan malam
6.Kurang gizi
Kurang gizi adalah kekurangan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh
sehingga terjadi perubahan tubuh (kurus,lemah,pucat)
Penyebab kurang gizi:
Kurang makan
Makanan yang tidak seimbang
Makanan yang tidak teratur
Salah dalam mengolah makanan
Tanda-tanda kurang gizi
Badan kurus
Kulit kering kusam
Lemas dan pucat
Mata bengkak
Kaki dan tangan
bengkak
Akibat Kurang Gizi
Gangguan pertumbuhan
Mudah sakit
Kurang cerdas




VIII. Tanya jawab dengan peserta.
Pertanyaan : Mengapa nutrisi yang seimbang penting di berikan pada bayi dan
balita?
Jawab : nutrisi yang bergizi dan seimbang harus diberikan sejak bayi dalam
kandungan hingga berusia 2 tahun kehidupan. Pada saat ini pertumbuhan otak
sedang berkembang pesat sehingga di butuhkan gizi yang seimbang serta
stimulasi yang optimal untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang
sesuai dengan umurnya.

Pertanyaan : Bagaimana cara mengatasi anak yang tidak nafsu makan?
Jawab : Cara mengatasi anak yang tidak nafsu makan dapat diberikan
makanan yang disenangi anak. Makanan tidak harus selalu nasi, dapat
diberikan mie pada anak, roti, dan biskuit sebagai selingan.

IX. Penutup
Nutrisi yang seimbang sangat penting pada usia 0-5 tahun. Nutrisi dan
stimulasi dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal
sehingga terciptanya sumberdaya manusia berkualitas/andal merupakan aset yang
sangat potensial bagi perkembangan perekonomian dan pembangunan di masa
mendatang.


Banda Aceh, 24 Juni 2014
Disetujui oleh :


Kepala UPTD Puskesmas
Kopelma Darussalam Dokter Pembimbing





dr. Amalia dr. Oryza Savitri
NIP. 19800428 201001 2 014 Peg. 800/SKP/2940/2011

Dokumentasi Kegiatan




LAPORAN KEGIATAN PROMOSI KESEHATAN
(PENYULUHAN) KEPUTIHAN (LEUKORRHEA) DI UPTD
PUSKESMAS KOPELMA DARUSSALAM
BANDA ACEH
I. Latar Belakang
Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan kesejahteraan fisik,
mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau
kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan system reproduksi serta fungsi-
fungsinya dan prosesnya.
Kesehatan reproduksi pada wanita tidak terlepas pada kesehatan organ
intimnya. Menjaga kesehatan organ intim sangat penting, salah satu hal yang
dapat kita lakukan adalah menjaga kebersihan dan higienitas, terutama pada
daerah sekitar vagina. Dalam vagina terdapat mikroorganisme (flora normal) yang
bila tidak dijaga dapat terganggu keseimbangannya. Hal ini dapat mengakibatkan
terjadinya keluhan dan gangguan, salah satunya adalah keputihan
Keputihan merupakan istilah lazim digunakan oleh masyarakat. Keputihan
dikatakan normal yaitu berkaitan dengan siklus menstruasi yang terjadi menjelang
ataupun setelah menstruasi. Hal ini juga dapat terjadi saat stress atau kelelahan.
Namun, keputihan juga bias terjadi akibat suatu gangguan seperti infeksi parasite,
bakteri, jamur, atau virus pada vagina. Keputihan jenis ini bisa bervariasi dalam
warna, berbau, dan disertai keluhan seperti gatal, nyeri atau terbakar disekitar
vagina.
II. Lokasi dan waktu
Tempat : Puskesmas Kopelma Darussalam
Waktu : Senin, 30 Juni 2014
Peserta : Pasien dan keluarga pasien yang datang ke puskesmas
Kopelma Darussalam






III. Metode penyuluhan
Dilakukan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya yang datang ke
puskesmas yang sebelumnya telah dibagikan brosur tentang leukorrhea. Terlebih
dahulu disampaikan secara ringkas mengenai leukorrhea, kemudian dilakukan
tanya jawab.

IV. Penjelasan masalah kesehatan
Penyakit keputihan merupakan masalah kesehatan spesifik pada wanita.
Sebanyak 505 pelajar putri disekolah menengah dan perguruan tinggi pernah
mengalami keputihan ketika berusia kurang dari 25 tahun.

V. Manfaat Penyuluhan
Masyarakat dapat mengetahui tentang leukorrhea(keputihan)
Masyarakat dapat membedakan keputihan karena penyakit dan bukan penyakit
Masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan organ intim
Masyarakat mengetahui akibat dari keputihan
Masyarakat memahami cara pencegahan keputihan
VI. Tujuan Penyuluhan
Untuk mengetahui secara umum tentang kesehatan reproduksi pada daerah
organ intim wanita sehingga dapat mengetahui tindakan atau pencegahan apa
yang sebaiknya dilakukan untuk menjaganya dari berbagai penyakit, salah satunya
leucorrhea.

VII. Materi Penyuluhan
1. Menjelaskan pengertian keputihan
Keputihan atau secara medis disebut fluor albus atau leukorrhea adalah
keluarnya sekret dari vagina. Sekret tersebut dapat bervariasi dalam konsistensi,
warna dan bau.
2. Jenis-jenis keputihan
Fluor albus (keputihan) terbagi menjadi dua yaitu keputihan yang
fisiologis dan keputihan yang patologis. Keputihan yang fisiologis pasti terjadi

pada setiap wanita karena hal ini adalah normal sedangkan keputihan yang
patologis sangat dipengaruhi oleh infeksi daerah genital.
Gejala flour albus yang fisiologis adalah cairan vagina jernih, tidak
berwarna, tidak gatal, dan jumlah cairan bias sedikit dan bias cukup banyak.
Leukorrhea fisiologis berasal dari cairan vagina, lender serviks (leher
Rahim) dan lender kelenjar bartholin dan skene dan biasa ditemukan pada
keadaan antara lain:
1. Bayi baru lahir sampai usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen
di plasenta terhadap uterus dan vagina bayi.
2. Beberapa saat sebelum menstruasi pertama kali bagi wanita (premenarche)
3. Saat sebelum dan sesudah haid
4. Saaat atau sekitar ovulasi (masa subur)
5. Kehamilan
6. Faktor psikis
7. Rangsangan seksual pada wanita
Gejala fluor albus yang patologis adalah cairan dari vagina keruh dan
kental, warna tergantung dari kuman yang menginfeksi, berbau busuk, terasa gatal
dan jumlah cairan banyak
I nfeksi
Merupakan penyebab utama dari lekorea. Penyebab terbesar dari keputihan yang
disebabkan oleh infeksi adalah hubungan seksual. Lekorea karena penyakit
menular seksual bersfat abnormal dalam warna, bau atau jumlahnya, dapat disertai
gatal dan pembengkakan di daerah kemaluan, nyeri saat berkemih, serta nyeri
perut atau pinggang. Sebab lain masuknya kuman bisa pada waktu pemeriksaan
dalam, pertolongan persalinan atau abortus, maupun pemasangan AKDR. Perubah
flora dapat juga terjadi karena pencucian vagina yang kurang bersih serta
pengobatan yang berlebihan. Pada anak-anak sering terjadi akibat higienis yang
kurangbaik.
a. Infeksi bakteri, paling sering disebabkan oleh bakteri Neisseria
gonorrhoae,Chlamydia trachomatis, dan Gardenella vaginalis. Pada Neisseria
gonorrhoea gejala berupa terdapat cairan agak kental, leher rahim bengkak dan
kemerahan, dan mudah berdarah pada saat dilakukan pemeriksaan. Pada awal

infeksi jarang ditemukan adanya gejala. Pada infeksi Gardenella vaginalis gejala
berupa cairan berbau amis seperti ikan terutama saat berhubungan, terdapat warna
putih keabu-abuan yang melekat pada dinding vagina. Sedang pada infeksi
Chlamydia trachomatis gejala sangat ringan dan kadang tidak menimbulkan
gejala, keluhan hanya berupa gatal dan terdapat cairan putih yang agak kental.
b. Infeksi virus, biasa disebabkan oleh virus, golongan herpes virus, Moluscum
contagiosum,dan Condyloma
c. Infeksi jamur, biasa disebabkan oleh Candida albicans. Gejala berupa keluhan
panas, iritasi di daerah kemaluan, keputihan tidak berbau, pada cairan terdapat
tanda seperti putih keju (cottage cheese) atau kepala susu krim.
d. Parasit, biasa disebabkan oleh Trichomonas vaginalis. Gejala dapat berupa
cairan keputihan yang banyak, berbau dan gatal, cairan putih kekuningan, berbusa
(foamy), gejala khas leher rahim tampak seperti stroberi (strawberry cervix)
Benda Asing
Adanya benda asing seperti kotoran tanah atau biji-bijian pada anak-anak
ataupun tertinggalnya tampon maupun kondom pada wanita dewasa, serta
pemakaian alat kontrasepsi seperti IUD dapat merangsang pengeluaran sekret
secara berlebihan.
Pengaruh Hormonal
Perubahan hormonal estrogen dan progesteron yang terjadi dapat
dikarenakan adanya perubahan konstitusi dalam tubuh wanitu itu sendiri atau
karena pengaruh dari luar misalnya karena obat/cara kontrasepsi, dapat juga
karena penderita sedang dalam pengobatan hormonal.
Penyakit Keganasan
Pada kanker sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah
terjadi kerusakan sel, Pada karsinoma serviks terjadi pengeluaran cairan yang
banyak disertai bau busuk akibat terjadinya proses pembusukan dari sel yang
rusak dan seringkali diseertai darah yang tidak segar akibat pecahnya pembuluh
darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker
tersebut.



Peningkatan Kadar pH Vagina
Usia pra pubertas, masa laktasi, pasca menopause dan beberapa keadan
yang menyebabkan kurangnya estrogen, akan menyebabkan meningkatnya pH
vagina. Naiknya pH akan menyebabkan pertumbuhan bakteri normal dalam
vagina menjadi berkurang, tetapi sebaliknya pH yang meningkat akan memicu
pertumbuhan bakteri patogen di vagina. Kurangnya estrogen akan menyebabkan
penipisan mukosa vagina sehingga mudah terluka dan terinfeksi.
8. Etiologi
Fluor albus fisiologis timbul dalam keadaan ovulasi, saat menjelang atau
setelah menstruasi, akibat rangsangan seksual, saat wanita hamil, dan dalam
keadaan stress
Penyebab Utama fluor albus patologis adalah infeksi daerah genital, dapat
juga disebabkan oleh sakit yang lama, kurang gizi dan anemia. kuman
penyebabnya dapat berupa jamur (Candida albicans), bakteri(kuman E. coli,
Staphylococcus), protozoa (Trichomonas vaginalis)
9. Patofisiologi
Vagina merupakan organ reproduksi wanita yang sangat rentan terhadap
infeksi. Hal ini disebabkan batas antara uretra dengan anus sangat dekat, sehingga
kuman penyakit seperti jamur, bakteri, parasit, maupun virus mudah masuk ke
liang vagina. Infeksi juga terjadi karena terganggunya keseimbangan ekosistem di
vagina. Ekosistem vagina merupakan lingkaran kehidupan yang dipengaruhi oleh
dua unsur utama, yaitu estrogen dan bakteri Lactobacillus atau bakteri baik. Di
sini estrogen berperan dalam menentukan kadar zat gula sebagai simpanan energi
dalam sel tubuh (glikogen). Glikogen merupakan nutrisi dari Lactobacillus, yang
akan dimetabolisme untuk pertumbuhannya. Sisa metabolisme kemudian
menghasilkan asam laktat, yang menentukan suasana asam di dalam vagina,
dengan pH di kisaran 3,8-4,2. Dengan tingkat keasaman ini, Lactobacillus akan
subur dan bakteri patogen akan mati.
Di dalam vagina terdapat berbagai macam bakteri, 95% Lactobacillus, 5%
patogen. Dalam kondisi ekosistem vagina seimbang, bakteri patogen tidak akan

mengganggu. Bila keseimbangan itu terganggu, misalnya tingkat keasaman
menurun, pertahanan alamiah akan turun, dan rentan mengalami infeksi.
Ketidakseimbangan ekosistem vagina disebabkan banyak faktor. Di antaranya
kontrasepsi oral, penyakit diabetes melitus, antibiotika, darah haid, cairan sperma,
penyemprotan cairan ke dalam vagina (douching), dan gangguan hormon seperti
saat pubertas, kehamilan, atau menopause. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan
tumbuhnya jamur dan kuman-kuman yang lain. Padahal adanya flora normal
dibutuhkan untuk menekan tumbuhan yang lain itu untuk tidak tumbuh subur.
Kalau keasaman dalam vagina berubah maka kuman-kuman lain dengan mudah
akan tumbuh sehingga akibatnya bisa terjadi infeksi yang akhirnya menyebabkan
fluor albus, yang berbau, gatal, dan menimbulkan ketidaknyamanan. Begitu
seorang wanita melakukan hubungan seks, maka wanita tersebut terbuka sekali
terhadap kuman-kuman yang berasal dari luar. Karena itu fluor albus pun bisa
didapat dari kuman penyebab penyakit kelamin yang mungkin dibawa oleh
pasangan seks wanita tersebut.
10.Penatalaksanaan
Farmakologis : Sebaiknya segera konsultasi ke dokter setempat
Non-farmakologis:
Pasangan seksual juga harus diobati walaupun tidak ditemukan gejala klinik,
hubungan seks selama masa pengobatan sebaiknya dihindari, hindari pemakaian
barang-barang yang mudah menimbulkan fluor albus rekuren.
11.Pencegahan
1. Pola hidup sehat (diet seimbang, olahraga rutin, istirahat cukup, hindari
rokok/alkohol & stress berkepanjangan)
2. Setia kepada pasangan
3. Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan secara
bersamaan (handuk, dll)
4. Membersihkan kloset (pada WC umum) sebelum digunakan
5. Menjaga kebersihan daerah pribadi dengan cara
- Menjaga tetap kering/tidak lembab

- Menggunakan bahan celana dalam yang menyerap keringat
- Mengganti pembalut/pantiliner sesuai waktunya
- Tidak menggunakan cairan pembersih secara berlebihan
- Membasuh dengan cara yang benar setelah BAB/BAK (dari arah depan ke
belakang)
VIII. Tanya jawab dengan peserta.
Pertanyaan : Apakah remaja putri yang belum pernah berhubungan seksual
bias terkena keputihan?
Jawab : bisa, terutama bila temaja putri tersebut sudah memasuki akil baligh
atau sudah mulai mendapatkan menstruasi.
Pertanyaan : Apakah pantyliners baik untuk kenyamanan penderita
keputihan?
Jawab : Pantyliners dapat digunakan oleh penderita keputihan dengan catatan
wajib menggangti pantyliners sesering mungkin agar daerah kewanitaannya
tetap terjaga bersih dan kering.

IX. Penutup
Menjaga kesehatan reproduksi sangat penting, salah satu yang dapat kita
lakukan adalah menjaga kebersihan atau higienisitas terutama pada daerah sekitar
vagina. Dalam vagina terdapat mikroorganisme(flora normal) yang apabila tidak
dijaga dapat terganggu keseimbangannya sehingga dapat menimbulkan keluhan
dan gangguan seperti keputihan.

Banda Aceh, 30 Juni 2014
Disetujui oleh :

Kepala UPTD Puskesmas
Kopelma Darussalam Dokter Pembimbing



dr. Amalia dr. Oryza Savitri
NIP. 19800428 201001 2 014 Peg. 800/SKP/2940/201

Dokumentasi Kegiatan