Anda di halaman 1dari 6

Evaluasi sifat fisiko-kimia minuman

belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi)

Ade Chandra Iwansyah


Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna – LIPI
Jl. K.S Tubun No. 5 Subang,Telp (0260) 411478, Fax (0260) 411239
E-mail : a_choy83@yahoo.com atau adec002@lipi.go.id

Intisari

Perkembangan teknologi, pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan


telah merubah pola pikir dan tuntutan masyarakat terhadap pangan. Perubahan ini telah
menuntut produk-produk pangan tidak hanya memiliki nilai gizi dan rasa enak tetapi juga
memperhatikan pengaruh pangan tersebut terhadap kesehatan. Salah satu tanaman yang
berpotensi sebagai pangan fungsional ialah tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi).
Belimbing wuluh secara epidomologis dan penilitian memiliki khasiat terhadap kesehatan,
namun pemanfaatan bahan ini hanya sebatas bahan tambahan dalam membuat sayur asem.
Maka dari itu, untuk dapat menjadikan komoditi ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi,
belimbing wuluh dapat diolah menjadi minuman belimbing wuluh (jus). Tujuan penelitian
secara umum ialah mengevaluasi sifat fisiko-kimia dari minuman belimbing wuluh.
Metode Rancangan percobaan yang dilakukan ialah Rancangan Acak Faktorial (RAF)
dengan faktor suhu (8° C, 25° C dan 40° C) dan lama penyimpanan (hari ke-0 sampai hari
ke-24) dengan dua kali ulangan. Hasil penelitian tahap pertama menunjukan sari
belimbing wuluh yang optimal ialah sari belimbing wuluh yang diblanching dengan
rendemen 72%, pH 2,42, TPT 4,05 obrix dan Vitamin C 20,80 mg asam askorbat/100 g
sampel. Sedangkan hasil penelitian tahap kedua menunjukkan perlakuan suhu (8° C, 25° C
dan 40° C), lama penyimpanan (24 hari) dan interaksi suhu dan lama penyimpanan
minuman belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap total asam tertitrasi dan kadar
vitamin C (p<0.05). sedangkan nilai pH dipengaruhi nyata oleh lama penyimpanan
(p<0.05). Total padatan terlarut tidak dipengaruhi oleh suhu (8° C, 25° C dan 40° C), lama
penyimpanan (24 hari) dan interaksi suhu dan lama penyimpanan belimbing wuluh
(p>0.05).

Kata kunci : Belimbing wuluh, minuman fungsional, fisiko-kimia

1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi, pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan serta
perubahan paradigma kuratif (mengobati) menjadi paradigma preventif (pencegahan), telah merubah pola
pikir dan tuntutan masyarakat terhadap pangan. Perubahan ini telah menuntut produk-produk pangan
tidak hanya memiliki nilai gizi dan rasa enak tetapi juga memperhatikan pengaruh pangan tersebut
terhadap kesehatan. Golberg (1994) mendefinisikan Pangan Fungsional (Functional Food) sebagai
pangan yang memberikan efek positif terhadap kesehatan individu, kesehatan fisik dan kesehatan pikiran
terutama dari nilai kandungan gizinya. Pangan fungsional harus memiliki karakteristik sebagai pangan
yang memberikan khasan sensori, baik dari segi warna dan cita rasa, mengandung gizi dan mempunyai
fungsi fisiologis (menjaga daya tahan tubuh, mempertahankan kondisi fisik dan sebagainya.
Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai pangan fungsional ialah tanaman belimbing wuluh (Averrhoa
bilimbi) atau calingcing (sunda). Tanaman ini sering digunakan dalam pembuatan sayur asem di daerah
Jawa Barat yang berfungsi sebagai penyegar dan pemberi rasa asam. Menurut Muhlisah (2006)
Belimbing wuluh secara epidomologi terbukti mempunyai khasiat sebagai obat seperti batuk, sariawan,
perut sakit, gondongan, batuk rejan, gusi berdarah, gigi berlubang, jerawat, panu, tekanan darah tinggi,
dan radang rectum.
Saat ini, minuman yang mempunyai aspek terhadap kesehatan banyak diminati. Kandungan bahan alami
yang dimiliki oleh bahan baku dari produk tersebut mempunyai prospek pasar yang cukup baik dengan
pertimbangan bahwa faktor harga dapat terjangkau oleh masyarakat. Berdasarkan manfaat tanaman
tersebut dan kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan atau minuman yang memiliki
nilai tambah terhadap kesehatan, maka perlu di evaluasi sifat fisiko-kimia dari minuman belimbing
wuluh. Tujuan dari penelitian ini ialah mengevaluasi sifat fisik dan kimia minuman belimbing wuluh.

2. Bahan dan Metode


Bahan
Bahan pembuatan minuman terdiri dari belimbing wuluh yang diperoleh dari petani Desa Dawuan,
Kecamatan Kalijati, Subang; gula pasir potasium sorbat dan CMC (CarboMethylCellulose).

Metodologi
Penelitian ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu:

1. Penelitian tahap pertama


Penelitian ini dilakukan analisis ekstrak belimbing wuluh dengan perlakuan persiapan pulp belimbing
wuluh segar, blanching (80OC, selama ± 2 menit), dan kukus. Ketiga perlakuan tersebut kemudian
dianalisis fisiko-kimia yang meliputi: rendemen, nilai pH, total padatan terlarut, dan vitamin C.

2. Penelitian tahap kedua


Pada penelitian ini dilakukan dengan pembuatan minuman belimbing wuluh dari ekstrak belimbing wuluh
terpilih hasil penelitian tahap pertama (Gambar 1). Kemudian minuman belimbing wuluh dikemas dalam
cup plastik dan dianalisis : nilai pH, total asam tertitrasi, total padatan terlarut, dan vitamin C.

Ekstrak belimbing
wuluh

+ Air
Pemanasan (60-70 ° C),
pengadukan
• Gula
• penstabil
Penyaringan

Pemasakan, 70-80 ° C

Pengawet

Pasteurisasi 80-90 ° C

MINUMAN
BELIMBING
WULUH

Gambar 1. Diagram proses pembuatan minuman belimbing wuluh

Rancangan Penelitian dan Analisis Data


Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Faktorial (RAF)dengan
faktor suhu (8° C, 25° C dan 40° C) dan lama penyimpanan (hari ke-0 sampai hari ke-24) dengan dua kali
ulangan. Data hasil dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) dengan menggunakan program SPSS 13.00
for Windows. Bila sidik ragam menunjukan hasil yang berpengaruh maka akan dilakukan uji lanjut
Duncan untuk mengetahui perlakuan yang berbeda.
3. Hasil dan Diskusi
Penelitian tahap pertama
Hasil analisis sifat fisiko-kimia ekstrak belimbing wuluh dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan hasil pengamatan rendemen, pH, total padatan terlarut
dan Vitamin C (rataan)
Perlakuan Rendemen Total Padatan Vitamin C
No persiapan (%) pH Terlarut (ºbrix) (mg askorbat)
1 Segar 70 2,36 3,15 21,59
2 Blanching 72 2,42 4,05 20,80
3 Kukus 66 2,38 4,05 17,94

Rendemen. Rendemen ialah perbandingan antara sari bahan baku atau belimbing wuluh terhadap berat
bahan baku. Pada Tabel 1 dapat dilihat rendemen sari belimbing wuluh berkisar 60 - 72%. Secara umum
rendemen sari belimbing wuluh tidak jauh berbeda. Hal ini tergantung cara mudah tidaknya dalam
mendapatkan ekstrak.

Nilai pH (derajat keasaman). Derajat keasaman (pH) berhubungan sekali dengan daya terima dan daya
simpan suatu produk. Pada Tabel 1 dapat dilihat nilai pH sari belimbing wuluh berkisar pH 2,36 - 2,45.
Hasil sidik ragam menunjukan perlakuan persiapan (segar, blanching dan kukus) berpengaruh terhadap
derajat keasaman (p=0,019, p<0,05). Uji lanjut Duncan menunjukan sari belimbing wuluh blanching
memiliki pH yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Belimbing wuluh memiliki pH yang sangat
rendah, sehingga perlu dilakukan proses lebih lanjut untuk dapat dikonsumsi.

Total Padatan Terlarut (TPT). Total padatan terlarut merupakan jumlah kadar gula solid yang terdapat
pada suatu bahan. Total padatan terlarut dinyatakan dalam satuan ° Brix. Pada Tabel 1 dapat dilihat total
padatan terlarut (TPT) sari belimbing wuluh berkisar 3,15 - 4,05 ° Brix. Hasil sidik ragam menunjukan
bahwa perlakuan persiapan (segar, blaching, kukus) berpengaruh nyata terhadap total padatan terlarut
(p=0.002, p<0.05). Uji lanjut Duncan menunjukan sari belimbing wuluh segar memiliki total padatan
terlarut yang berbeda dibandingkan sari belimbing wuluh blanching atau kukus.

Kadar Vitamin C. Pada Tabel 1 dapat dilihat kadar Vitamin C ekstrak belimbing wuluh dengan perlakuan
segar, blanching dan kukus berkisar 17,94-21,59 mg asam askorbat. Hasil sidik ragam menunjukan
perlakuan persiapan (segar, blanching, kukus) berpengaruh terhadap kadar Vitamin C (p=0.01, p<0.05).
Uji lanjut Duncan menunjukan sari belimbing wuluh dengan perlakuan dikukus memiliki kadar vitamin C
yang rendah (17,94 mg asam askorbat) dibandingkan dalam keadaan segar dan blanching.

Penentuan sari belimbing wuluh terpilih


Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan dari ketiga perlakuan (segar, blanching, dan kukus), ekstrak
belimbing wuluh terpilih ialah ekstrak belimbing wuluh dengan perlakuan blanching. Hal ini didasarkan
pada ekstrak belimbing wuluh dengan perlakuan blanching memiliki pH yang lebih tinggi (tidak terlalu
asam) dan kandungan vitamin C yang relatif tinggi dibandingkan dalam keadaan segar dan kukus.

Penelitian tahap kedua

1. Nilai pH
Nilai pH berhubungan sekali dengan daya terima dan daya simpan suatu produk. Pada penelitian ini nilai
pH minuman belimbing wuluh berkisar pH 3,14 - 3,17 (Gambar 2). Hasil sidik ragam menunjukan
perlakuan suhu penyimpanan (8° C, 25° C dan 40° C) tidak berpengaruh terhadap nilai pH
(p=0,190,p>0.05) minuman belimbing wuluh. Sedangkan lama penyimpanan berpengaruh nyata terhadap
nilai pH (p<0,05,p=0,001). Uji lanjut Duncan menunjukan bahwa minuman sari belimbing wuluh
mengalami kenaikan pH pada hari ke-15 dan hari ke-24. Peningkatan nilai pH kemungkinan disebabkan
oleh mikrooragnisme yang hidup, seperti bakteri dan khamir. Kamir dan kapang dapat memecah asam
yang secara alamiah terdapat dalam bahan pangan, sehingga mengakibatkan kenaikan pH yang
memungkinkan tumbuhnya bakteri pembusuk (Buckle et al 1987).
Estimated Marginal Means of pH

suhu penyimpanan
8 celcius
25 celcius
3.18 40 celcius

Estimated Marginal Means


3.16

3.14

3.12

hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 15 hari 18 hari 21 hari 24

lama penyimpanan

Gambar 2. Nilai pH minuman sari belimbing wuluh (rataan)

2. Total asam tertitrasi


Total asam tertitrasi minuman belimbing wuluh berkisar 20,37 - 21,86 ml NaOH/100 g (Gambar 3). Hasil
sidik ragam menunjukan perlakuan suhu penyimpanan (8° C, 25° C dan 40° C), lama penyimpanan dan
interakasi suhu dan lama penyimpanan minuman belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap penurunan
total asam tertitrasi (p<0,05). Uji lanjut Duncan menunjukan minuman belimbing wuluh mengalami
penurunan total asam tertitrasi dimulai hari ke-3 penyimpanan. Asam tertitrasi berhubungan dengan nilai
pH dan derajat keasaman produk. Menurut Winarno (2004) Minuman belimbing wuluh digolongkan
minuman pangan berasam tinggi (pH<4.0).

Estimated Marginal Means of TaT

22.00 suhu penyimpanan


8 celcius
25 celcius
40 celcius
21.50
Estimated Marginal Means

21.00

20.50

20.00

19.50

hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 15 hari 18 hari 21 hari 24

lama penyimpanan

Gambar 3. Nilai total asam tertitrasi minuman belimbing wuluh (rataan)

3. Total padatan terlarut


Total padatan terlarut merupakan jumlah kadar gula solid yang terdapat pada suatu bahan. Total padatan
terlarut dinyatakan dalam satuan ° Brix. Minuman belimbing wuluh memiliki total padatan terlarut (TPT)
15° Brix (Gambar 4). Hasil sidik ragam menunjukan bahwa perlakuan suhu (8° C, 25° C dan 40° C) dan
lama penyimpanan tidak berpengaruh nyata terhadap total padatan terlarut (p>0,05). Minuman sari buah
ideal umumnya memiliki nilai TPT berkisar 11-12 ° Brix.
16

14

12
10

Brix's
8

6
4
2

0 suhu 8 C
hari hari hari hari hari hari hari hari hari suhu 25 C
suhu 40 C
ke-0 ke-3 ke-6 ke-9 ke-12 ke-15 ke-18 ke-21 ke-24

Gambar 4. Nilai total padatan terlarut minuman belimbing wuluh (rataan)

4. Kadar Vitamin C
Kadar vitamin C minuman belimbing wuluh dianalisis selama 24 hari dengan interval 3 hari dan
penyimpanan pada tiga suhu ekstrim yang berbeda (8° C, 25° C dan 40° C). Kadar vitamin C minuman
belimbing wuluh sekitar 70.79 mg asam askorbat (Gambar 5). Hasil sidik ragam menunjukan perlakuan
suhu penyimpanan (8° C, 25° C dan 40° C), lama penyimpanan dan interaksi suhu dan lama penyimpanan
minuman belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar vitamin C (p<0,05). Uji lanjut
Duncan menunjukan minuman sari belimbing wuluh mengalami penurunan total asam tertitrasi dimulai
hari ke-3 penyimpanan.

Estimated Marginal Means of vitc

11.00 suhu penyimpanan


8 celcius
25 celcius
40 celcius
Estimated Marginal Means

10.00

9.00

8.00

hari 0 hari 3 hari 6 hari 9 hari 12 hari 15 hari 18 hari 21 hari 24

lama penyimpanan

Gambar 5. Nilai kadar vitamin C minuman belimbing wuluh (rataan)

4. Kesimpulan
Sari belimbing wuluh yang optimal ialah sari belimbing wuluh perlakuan diblanching dengan
rendemen (72%), pH (2,42), TPT (4,05 oBrix) dan vitamin C (20,80 mg asam askorbat). Perlakuan suhu
(8° C, 25° C dan 40° C), lama penyimpanan (24 hari) dan interaksi suhu dan lama penyimpanan minuman
belimbing wuluh berpengaruh nyata terhadap total asam tertitrasi dan kadar vitamin C (p<0.05).
sedangkan nilai pH dipengaruhi nyata oleh lama penyimpanan (p<0.05). Total padatan terlarut tidak
dipengaruhi oleh suhu (8° C, 25° C dan 40° C), lama penyimpanan (24 hari) dan interaksi suhu dan lama
penyimpanan belimbing wuluh.
5. Penghargaan
Penghargaan dan terima kasih kami ucapkan kepada Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna
(B2PTTG-LIPI), Direktur IBT Dawuan (Ir. Arie Sudaryanto), Sudirman dan teman-teman Tim Unit
Inkubator Bisnis dan Teknologi, Dawuan (Nok, Eny, Angga, Mirwan dan Fitri) atas dukungan moril dan
materiil yang telah diberikan.

6. Daftar Pustaka
Buckle KA., Edwards RA., Fleet CH., & Wootton M. 1987. Ilmu Pangan (Penerjemah Purnomo dan
Adiono). UI Press.

Goldberg, I. 1994. Functional Food , Desaigner Food, Pharmafoods, Nutraceutical. Chapman Hall,
Inc

Muhlisah, F. 2006. Taman Obat Keluarga. Penebar Swadaya, Jakarta

Winarno FG. 1997. Sterilisasi Pangan. M-Brio Press, Bogor.

Anda mungkin juga menyukai