Anda di halaman 1dari 91

4 - 1

BAB -4
DESAIN PERENCANAAN
PLTM OKSIBIL

4.1 Struktur Bangunan Sipil
4.1.1 Rencana Desain Saluran Pengambilan (Intake) tanpa
Bendung
Konstruksi bendung sebetulnya merupakan satu sistem dalam
pembuatan PLTMH, namun dengan mempertimbangkan
beberapa hal baik secara teknis maupun non teknis dapat
mempengaruhi keberadaan suatu bendung.
Sesuai dengan fungsi dan definisi keberadaannya, maka perlu
bagi suatu saluran pengambil (intake) untuk menaikkan muka
air sungai agar dapat mengalir melalui saluran yang selanjutnya
menuju pada bak-bak struktural lainnya seperti bak pengendap,
bak penenang dan pipa pesat (penstock). Namun hal ini akan
sulit ditempuh apabila kondisi normal aliran sungai, kondisi
topografi, besaran debit andalan dan rencana, maupun
besarnya anggaran yang disiapkan sangat terbatas.



4 - 2
Secara detail hal-hal tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Debit rencana yang diperlukan, dibawah 20% atau diatas
95% debit andalan rerata minimum dalam setahun.
Debit rencana yang diperlukan untuk membangkitkan
potensi energi PLTM sebesar hampir 20% debit andalan,
sangat menyulitkan secara geomorfologis aliran maupun
topografis untuk dibendung mengingat daya seret aliran
(drag force) dan debit aliran sungai yang cukup besar.
Apalagi kalau debit dan kondisi aliran tersebut dalam
keadaaan normal, belum terhitung kondisi banjir 5
tahunan, 10 atau bahkan 20 tahunan.
Demikian pula dengan tingkat probabilitas debit aliran
yang tertuang dalam grafik FDC, dimana dengan kondisi
7 m
3
/detik (sesuai analisis kebutuhan PLTM Oksibil)
terhitung dalam waktu setahun periode kejadiannya bisa
mencapai 95%, artinya sepanjang tahun itu debit yang
terjadi bisa melebihi dari analisis yang dibutuhkan oleh
PLTM. Sehingga selama kurun waktu satu tahun debit
diatas 7 m
3
/detik dapat terjadi sepanjang tahun dengan
prosentasi 5% yang dibawah 7 m
3
/detik.





4 - 3















GAMBAR 4-1 ; POSISI DEBIT RENCANA DALAM FDC

2. Besarnya potensi banjir tahunan baik 2, 5, 10, 25 bahkan
50 tahunan.
Melihat besarnya potensi banjir di aliran sungai PLTM
Oksibil, maka apabila diambil untuk banjir tahunan selang
waktu 2 tahunan dipastikan akan sulit bagi konstruksi
Q = 7,0 m3/det
Q = 7,0 m3/det



4 - 4
bendung untuk bertahan terhadap dampak buruk banjir
di lokasi tersebut.








GAMBAR 4-2 ; POSISI BESARAN BANJIR TAHUNAN
Sehingga kekhawatiran berupa bahaya longsor, amblas
terbawa arus sungai maupun tergerusnya pondasi dasar
bendung bisa terjadi. Bahkan hasil analisis debit banjir
rancangan pada jam ke-0~2 jam pertama debit yang
terjadi berkisar antara 15 m3/det sampai 101 m3/det
sehingga dapat mengakibatkan terjadinya gerusan
(scouring) dan runtuhnya pondasi (instability drag force).
3. Elevasi permukaan air di aliran sungai dan lokasi
pengambilan air (intake) berada pada elevasi yang sama.
Dari pengukuran topografi elevasi normal muka air
sungai berada pada ketinggian 424 dpl, dengan wilayah
daratan tepi sungai yang relatif landai dan datar untuk



4 - 5
ELEV
SALURAN
MAN +424.0
DASAR +422.0
MTA +424.0
TANGGUL
MAN +424.0
DASAR +422.0
dibuat bak penampung dan pengendap. Demikian pula
dengan kondisi topografi sepanjang titik pengambilan
sampai lokasi bak penenang berada pada garis kontur
utama (tiap 10 m) yang sama dengan perbedaan
ketinggian berkisar antara 5-8 m. Sehingga dapat
dikatakan bahwa muka air normal dan elevasi permukaan
tanah di lokasi pengambilan (intake) berada pada elevasi
yang sama.
Namun yang perlu diperhatikan adalah perlunya
penghalang atau tanggul (barrier/backdrop) saat air
sungai akan memasuki saluran pengambilan (intake) yang
berfungsi mencegah adanya batuan (sedimen/debris)
masuk ke saluran pembawa dan bak pengendap sekaligus
untuk memberi dorongan pada kecepatan awal di saluran
pengambilan.







GAMBAR 4-3 ; POTONGAN MELINTANG SUNGAI DAN
RENCANA SALURAN INTAKE



4 - 6
4. Volume dan Dimensi Konstruksi Bendung Tetap atau
Bendung Sementara yang besar.
Melihat nilai debit dan lebar penampang sungai yang
relatif besar, maka perlu analisis stabilitas struktur
dengan volume yang cukup besar. Dengan hasil
pengukuran dan analisis yang telah dilakukan bahwa
rata-rata debit normal minimum yang berkisar 36.44
m
3
/detik dengan kedalaman rata-rata dasar sungai 2-3 m
diperkirakan membutuhkan volume diatas 36 m
2
untuk
menahan air sungai sebesar itu.
Perlu diperhatikan bahwa dalam pemilihan lokasi
bendung ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi
topografi, kondisi hidraulik dan morfologi sungai serta
kondisi geoteknik tanah dibawah bendung. Pada
prinsipnya dimanapun bisa, namun pemakaian volume
dan jenis material akan spesifik dan kondisional demikian
pula dengan pembiayaannya.
Demikian pula dengan persyaratan keamanan bendung
baik terhadap geser, guling dan rembesan (piping) akan
meningkat seiring dengan besarnya debit yang melalui
bendung tersebut.





4 - 7
Akibatnya konstruksi geoteknik dan hidraulik bendung
harus mampu bekerja terhadap :
- Berat sendiri konstruksi bendung
- Tekanan air normal setinggi bendung dan setinggi
muka air banjir rencana
- Tekanan lumpur, sedimen pasir bahkan material
terbawa arus lainnya (kayu/binatang).
- Gaya gempa, tekanan bawah bendung (uplift
force)
Sehingga secara makro dibutuhkan biaya untuk
pembuatan bendung dengan material beton normal
tanpa besi penulangan sebesar 36.06 m2 x 30 m (panjang
sungai) x Rp. 9.000.000,- (Analisa Harga Satuan Oksibil) ,
maka didapat biaya kurang lebih 9 milyar, biaya ini belum
termasuk pekerjaan pendukung seperti pembuatan
cofferdam / kisdam / bangunan pengelak, waktu yang
tepat untuk pembuatannya karena harus menunggu saat
surut yang tepat. Serta volume pekerjaan pengecoran
yang memerlukan sarana konstruksi yang banyak
menuntut mobilisasi yang tidak sedikit.
Demikian pula dengan bendung sementara dari kawat
bronjong, secara teknis tidak memungkinkan untuk
dibuat.



4 - 8
Perencanaan dan desain intake dari PLTM Oksibil dapat
diuraikan sebagai berikut :
a. Perhitungan perencanaan intake mengacu pada
kondisi debit yang direkomendasikan dalam analisa
hidrologi, yaitu :
Q
design
= Q
andalan minimum rerata dalam setahun
x 19.2%
= 36,44 x 0,192 = 7,00 m
3
/detik
b. Tinggi tekanan (desain head), dihitung dengan
rumus :
Ha = He v
2
/2g
= 1,5 2
2
/ (2 x 9,81) = 1,5 0,204 = 1,296 m
Berdasarkan perhitungan tersebut dapat
disimpulkan bahwa untuk :
- Tinggi muka air di bibir saluran intake, Ha =
1,296 m 1,5 m dari dasar saluran / 2 m dari
dasar sungai.
- Tinggi lantai depan pintu intake : dasar sungai
+ elevasi dasar saluran (0,0 m) + bukaan (0,5
s/d 1,5m ).
c. Dimensi pintu intake :
Q
design
=K . . b. a . 2. g. h
1

7,00 = 0,8 . 0,55 . b . 1,5 .

2. 9,81 . 0,3 = 1,67.b





4 - 9
Nilai diperoleh dari grafik dibawah ini :







GAMBAR 4-4 ; GRAFIK UNTUK NILAI
Nilai K diperoleh dari grafik dibawah ini :





GAMBAR 4-5 ; GRAFIK UNTUK NILAI - K
Maka diperoleh :
- Lebar bukaan b = 7,0/1,75 = 3,999 m dipakai
dengan 2 pilar pintu 1,5 x 2 buah.
- Kecepatan arus V = 0,8.

2 . 9,81 . 0,3
= 2 m/detik.




4 - 10
d. Debit Rencana : 7,00 m
3
/detik
e. Material Pintu intake :
- Pasangan beton bertulang
- Pintu intake pasangan beton bertulang +
pintu besi + rangka besi
- Ukuran pintu : L x t = 1,5 m x 2.0 m
f. Material Saluran intake :
- Dinding : pasangan batu pecah + plesteran
- Lantai : pasangan batu pecah + plesteran.
- Bentuk saluran : trapesium saluran terbuka
- Pondasi : pelat setempat + pondasi bore pile
- Elevasi permukaan sungai 424 m dpl
- Panjang saluran intake : 147,5 m (intake ke
bak pengendap)
- Ukuran saluran intake : L atas/bawah x t =
6/4x 3,5 m.
g. Berada pada koordinat antara 140
O
42' 49,832" E
dan 5
O
0' 18,398" S.
h. Berdasarkan debit andalan rerata minimum
setahun sungai Digul (36,46 m
3
/dt) dan debit
rencana untuk PLTM Oksibil (7,005 m
3
/dt) maka
tidak diperlukan bangunan Bendung karena debit



4 - 11
yang dibutuhkan kurang dari atau sama dengan
19.2 % dari debit andalan.
i. Intake dan bangunan pembilas menjadi satu unit
dan bekerja secara bersamaan, pintu intake
memiliki dua fungsi yaitu sebagai pengatur debit air
masuk dan sarana perawatan saluran air ke bak
pengendap.
j. Ketinggian dasar saluran intake sama dengan
elevasi dasar sungai (422 mdpl) agar air tetap
mengalir pelan dengan kecepatan antara 0,3 0,6
kedalam intake dan saluran meskipun tidak
menggunakan bangunan bendung.
k. Konstruksi penghadang sedimen dan agregat lain
di bibir intake menggunakan beronjong, beronjong
sengaja dipilih karena masih bisa dilewati air melalui
pori pori atau celah batu bronjong, ketinggian
beronjong diambil 1 (satu) meter diatas permukaan
dasar lantai intake dan berada disisi paling luar bibir
intake dengan sebagian konstruksi berada diluar
lantai intake.






4 - 12







GAMBAR 4-6 ;TIPIKAL SALURAN INTAKE+ BENDUNG

4.1.2 Rencana Desain Saluran Pembawa Air
Tipe saluran pembawa untuk PLTM Oksibil berupa saluran
terbuka. Saluran pembawa air, kecuali Penstock pipe dan Tail
Race harus mampu menampung debit air 10% lebih besar dari
debit rancangan, agar pada saat operasional, muka air di bak
penenang ( forebay ) tidak turun dari ketinggian dan terhindar
dari pelimpasan ( overtopping ) apabila terjadi kelebihan debit.
Adapun ketentuan desain perencanaan saluran pembawa air
sebagai berikut :
- Tidak disarankan menggunakan saluran alami dari tanah,
karena aliran yang fluktuatif akan berakibat terhadap erosi
dan sedimentasi di badan saluran.



4 - 13
- Acian dinding saluran pembawa menggunakan adukan
semen dengan perbandingan minimum campuran 1:3
dengan ketebalan minimal 3 cm.
- Penguatan slope tanah pada daerah yang rawan longsor
disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kemiringan yang
curam tanpa penguatan alami berupa rumput atau
pepohonan.
- Jembatan pipa/talang dapat dipakai pada daerah rawan
longsor.
- Tinggi muka air minimal berjarak 25 cm dari bibir saluran
(freeboard) pada saat beban maksimal di saluran
pembawa.
Perencanaan dan desain saluran pembawa air PLTM Oksibil
dapat diuraikan sebagai berikut :
(a) Perencananan hidrolis saluran pembawa air :
Perencanaan hidrolis saluran pembawa air dilakukan untuk
memperoleh ukuran penampang saluran yang optimal.
Dimensi saluran dihitung menggunakan rumus aliran
seragam ( uniform flow), yaitu :
=
=
1


2
3

1
2

Keterangan :
Q = debit aliran (m
3
/dt)



4 - 14
A = luas penampang saluran terbasahi (m
2
)
P = keliling saluran terasahi (m)
V = kecepatan aliran (m
2
)
R = jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan dasar saluran (slope)
n = koefisien kekasaran saluran Manning
(0,025 untuk tanah; 0,020 untuk pasangan batu dan
0,015 untuk beton)
(b) Perencanaan jari-jari minimum tikungan saluran :
Jari-jari minimum tikungan saluran dengan : Q < 10
m
3
/detik sehingga r 3h.
(c) Perencanaan kecepatan maksimum dan minimum :
Kecepatan aliran pada saluran direncanakan agar tidak
terjadi penggerusan akibat kecepatan tinggi dan tidak
terjadi sedimentasi akibat kecepatan rendah. Kecepatan
minimum yang diijinkan tergantung diameter material
sedimen yang terangkut untuk mencegah pengendapan
sedimen layang di dasar saluran.
1. Kecepatan maksimum :
- 3,0 m/detik pakai lining/pasangan
- 1,6 m/detik tanpa lining/pasangan
2. Kecepatan minimum :
- 0,3 m/detik pakai lining/pasangan
- 0,6 m/detik tanpa lining/pasangan



4 - 15
(d) Pembuatan Trash Crack
Pada jalur masuk santrap dan bak penenang (forebay)
dibuat trash crack dengan ukuran saringan mesh 5 cm
yang berfungsi menahan sampah yang akan masuk ke
sandtrap dan forebay.
Hasil Perhitungan Desain Saluran Pembawa Air adalah:
- Panjang Saluran : 1.377 meter
- Kecepatan minimum dan maksimum dalam saluran yang
harus dijaga V = 1,5 2,0 m/detik tanpa lining/pasangan,
sehingga dengan Q
intake
= 7,0 m
3
/detik tidak terjadi
endapan di saluran.
- Tipe saluran ( head race ) yang direncanakan adalah
saluran terbuka dengan pasangan Batu Kali dan Beton
Rabat.
- Lebar atas saluran : 2,6 meter
- Lebar bawah : 1,0 meter
- Kedalaman Saluran : 2,4 meter
- Tinggi tanggul : 0,38 meter
- Lebar tanggul : 1,2 meter (satu sisi)
- Saluran drainase : sepanjang dinding tebing
- Ukuran drainase : 0,5 X 0,5 meter (l x d)
- Kemiringan saluran : 0,002





4 - 16

GAMBAR 4-7 ; POTONGAN SALURAN PEMBAWA AIR (HEAD RACE)
4.1.3 Rencana Desain Bak Pengendap
Desain bangunan pengendap (settling basin) dalam
perencanaan PLTM Oksibil, mengikuti ketentuan sebagai
berikut :
1. Bak pengendap harus mampu mengendapkan material
sedimen seperti tanah, pasir dan bebatuan.
2. Aliran air harus tidak menimbulkan olakan (turbulen) di
dalam bak pengendap sehingga material sedimen bisa
dengan mudah diendapkan.
3. Bak pengendap harus dibuat dari konstruksi yang kuat
menahan beban hidrostastis seperti beton bertulang,
pasangan batu dengan campuran 1 : 2 atau komposit.



4 - 17
4. Mekanisme pembuangan endapan harus ada dan dapat
berupa pintu air atau jenis lain. Jika debit aliran yang
digunakan pembangkit adalah mata air yang tidak
membawa material sedimen, maka bak pengendap tidak
diperlukan.
5. Apabila kualitas air untuk pembangkit dinilai buruk dan
banyak membawa material sedimen, maka setelah
bangunan intake harus dilengkapi dengan bak
pengendap.
6. Kemiringan lantai bak pengendap setidaknya 1 : 20 untuk
intake lateral atau 1 : 10 untuk intake tipe drop (river bed
intake).
7. Bentuk bak harus sedemikian rupa sehingga endapan
terkumpul di ujung bak dan mendekati sistem pembuang
atau pintu penguras.
8. Kapasitas pintu penguras harus cukup besar sehingga air
di bak pengendap tetap bisa terbuang sementara intake
tetap terbuka penuh untuk memasukkan air penguras.
9. Spillway yang direncanakan berhubungan dengan bak
pengendap sebaiknya ada di sepanjang bak di sisi sungai
sehingga luapan air dapat langsung terbuang ke sungai.
Walaupun di pintu pengambilan air telah dipasang filter atau
saringan baja namun masuknya sedimen ke dalam jaringan
saluran pembawa air, masih tetap banyak partikel-partikel halus
yang lolos. Untuk mencegah agar sedimen ini tidak masuk ke



4 - 18
dalam pipa pesat yang dapat merusak mesin turbin, maka pada
bagian akhir dari saluran pembawa air sebelum menuju ke bak
penenang direncanakan bak pengendap (kantong lumpur dalam
sistem irigasi) yang berfungsi sebagai tempat endapan sedimen
lumpur dan partikel halus lainnya.
Bak Pengendap ini merupakan pembesaran potongan melintang
saluran pembawa air sampai panjang tertentu untuk
mengurangi kecepatan aliran dan memberi kesempatan kepada
sedimen untuk mengendap.
Untuk menampung endapan sedimen ini, dasar bagian saluran
tersebut diperdalam atau diperlebar. Tampungan ini dibersihkan
pada setiap jangka waktu tertentu (kurang lebih sekali
seminggu atau setengah bulan) dengan cara membilas
sedimennya kembali ke sungai dengan aliran terkonsentrasi
yang berkecepatan tinggi.
Keadaan topografi tepi sungai maupun kemiringan sungai itu
sendiri akan berpengaruh terhadap biaya pembuatan bak
pengendap. Karena memerlukan banyak ruang dan
bangunan. Oleh karena itu, kemungkinan penempatannya
dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi bangunan utama.
Kemiringan dasar bak pengendap harus curam untuk
menciptakan kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk
pembilasan di sepanjang bak pengendap. Tinggi energi dapat
dilakukan dengan menambah elevasi sepanjang saluran atau



4 - 19
mercu, tapi hal ini jelas akan memperbesar biaya pembuatan
bangunan.
Dimensi-dimensi L (panjang) dan B (lebar) kantong lumpur
dapat diturunkan dari persamaan matematis. Partikel yang
masuk ke kolam pada A, dengan kecepatan endap partikel w
dan kecepatan air v harus mencapai dasar pada C. Ini berakibat
bahwa, partikel, selama waktu (H/w) yang diperlukan untuk
mencapai dasar, akan berjalan (berpindah) secara horisontal
sepanjang jarak L dalam waktu L/v.
Jadi,
H
W
=
L
v
, dengan v =
Q
HB

dimana :
H = kedalaman aliran saluran (m)
w = kecepatan endap partikel sedimen (m/dt)
L = panjang kantong lumpur (m)
v = kecepatan aliran air (m/dt)
Q = debit saluran (m
3
/dt)
B = lebar kantong lumpur (m)
Sehingga menghasilkan : LB =
Q
W

Karena sangat sederhana, rumus ini dapat dipakai untuk
membuat perkiraan awal dimensi-dimensi tersebut. Untuk
perencanaan yang lebih detail, harus dipakai faktor koreksi guna
menyelaraskan faktor-faktor yang mengganggu, seperti



4 - 20
turbulensi air, pengendapan yang terhalang dan volume bahan
layang sangat banyak.
Dimensi kantong sebaiknya juga sesuai dengan kaidah bahwa
L/B > 8, untuk mencegah agar aliran tidak meander di dalam
kantong. Apabila topografi tidak memungkinkan diturutinya
kaidah ini, maka kantong harus dibagi-bagi ke arah memanjang
dengan dinding-dinding pemisah (devider wall) untuk mencapai
perbandingan antara L dan B ini.
Analisis perencanaan dan desain bak pengendap PLTM Oksibil
ini berdasarkan persamaan :
H
0.2) (H
w
v
7.51

w
Q
LB
2 0.5 2

= x x x
dimana :
L = panjang kantong lumpur (m)
B = lebar kantong lumpur (m)
Q = debit saluran (m
3
/dt)
w = kecepatan endap partikel sedimen (m/dt)
= koefisiensi pembagian/distribusi Gauss
adalah fungsi D/T, di mana D = jumlah sedimen yang
diendapkan dan T = jumlah sedimen yang diangkut
= 0,00 untuk D/T = 0,50
= 1,20 untuk D/T = 0,95
= 1,55 untuk D/T = 0,98
v = kecepatan rata-rata aliran (m/dt)
H = kedalaman aliran air di saluran (m)



4 - 21
Hasil Perhitungan Desain Bak Pengendap :
- Debit saluran Q
intake
= 7.005 m
3
/detik.
- Volume yang ditampung bertahan 20 ~ 30 x Q = (20 ~ 30) x
Q = 140 ~ 210 m
3
/detik, untuk menjamin kesediaan air di
saluran pembawa ke bak penenang diambil 200 m
3
/detik
- Dimensi bak pengendap : kedalaman x panjang x lebar =
2.3 x 30 x 4 = 276 m
3
.
- Pintu masuk saluran trapesium (dasar x lebar atas x
dalam) = 4 x 6 x 3.5 m.
- Rasio panjang terhadap lebar disarankan L/B = 30 / 3.5 =
8,5 disarankan 8.
- Konstruksi : pasangan batu kali
- Dasar saluran : pasangan batu kali


GAMBAR 4-8 ; DESAIN DENAH BAK PENGENDAP



4 - 22





GAMBAR 4-9 ; DESAIN POTONGAN BAK PENGENDAP
4.1.4 Rencana Desain Bak Penenang
Sebagaimana fungsi dan karakteristik bangunan bak penenang
(forebay) ini, maka direncanakan sebagai berikut :
1. Bangunan forebay dibuat dari konstruksi kedap air dan
tahan bocor dan menghubungkan saluran pembawa dan
penstock.
2. Bangunan forebay berbentuk tangki bisa dibuat dari
pasangan batu atau beton bertulang. Ketebalan beton
minimal 25 cm.






4 - 23
3. Bangunan forebay harus dilengkapi dengan :
a. Trashrack yang lebih halus.
b. Bangunan spillwayberkapasitas 120% dari debit
rancangan.
c. Saluran pembuangan dari flushgate untuk
membuang endapan lebih baik terpisah dari
saluran spillway.
d. Saluran pembuang air dari spillway dilengkapi
dengan struktur pemecah energi air.
4. Lebar bangunan forebay setidaknya selebar trashrack dan
bangunan spillway sebaiknya sepanjang forebay.
5. Penstock pipe harus terendam air dalam kedalaman
minimum 2 kali diameter pipa penstock dan jarak penstock
pipe dari dasar bangunan forebay minimum 30 cm.
6. Endapan direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak
masuk ke pipa penstock.
7. Tenaga harus disediakan untuk pembersihan tangki
bangunan forebay.
Perencanaan Bak Penenang pada prinsipnya sifat aliran adalah
aliran seragam dengan syarat tidak terjadi turbulensi.






4 - 24
Hasil Perhitungan Desain Bak Penenang :
- Debit andalan Q
intake
= 7,005 m
3
/detik.
- Volume yang ditampung bertahan 10~20 x Q = (10~20) x Q
= 70 ~ 140 m
3
, untuk menjamin aliran steady di pipa
pesatnya diambil 140 m
3
dengan ukuran bak 15 x 8 x 3 m.
- Kedalaman bak penenang diambil minimal 1.5 ~ 2 x
Diameter pipa = 2 x 0,76 m = 2 m dipakai dalam
perencanaan ini 3 m.
- Dimensi bak penenang : kedalaman x panjang x lebar = 4
x 20.0 x 7.00 = 560 m
3
.
- Pintu penguras (dasar x lebar atas x dalam) = 1,5 x 3,5 m.
- Elevasi dasar bak penenang 415,7 m dpl, elevasi air di bak
penenang 419.67 mdpl.







GAMBAR 4-10 ;DENAH BAK PENENANG (FOREBAY)



4 - 25




GAMBAR 4-11; GAMBAR POTONGAN BAK PENENANG (FOREBAY)
4.1.5 Rencana Desain Pipa Pesat
Pipa pesat (penstock pipe) adalah pipa yang menyalurkan alir
untuk menggerakkan turbin PLTM. Tipe pipa pesat mengikuti
skema PLTM, dengan beberapa alternatif, yaitu : Head rendah
dengan saluran (Low head with cannel), Low head river barrage,
High head no channel, dan High head with channel. Terdapat
beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam desain pipa
pesat (penstock pipe), yaitu :
1. Bahan Pipa Pesat
Saat ini beberapa bahan digunakan untuk penstock pipe
memiliki karakteristik yang berbeda. Hal yang terpenting



4 - 26
dari bahan ini adalah kemampuan kerja, kesesuaian
tekanan yang diijinkan dan kerapatan terhadap potensi
kebocoran.
2. Penstock pipe harus dicegah terjadinya korosi, keamanan
menjadi faktor penting.
3. Penstock pipe dirancang sedemikian sehingga kehilangan
tekanan (head losses) di dalam penstock pipe maksimal 10%
dari head total. Penstock pipe yang amat panjang,
maksimal 5 kali ketinggian head maksimal kehilangan
tekanan 15% masih bisa ditoleransi.
4. Tingkat tekanan yang bisa diterima harus
mempertimbangkan tekanan tiba-tiba (surge pressure),
tekanan statis dan tekanan yang dihasilkan karena
penutupan guide vane. Spesifikasi tekanan ini bisa
diaplikasikan di seluruh bagian penstock pipe.
5. Penstock pipe harus mampu menahan tekanan akibat
water hammer dan harus dilengkapi dengan pipa napas di
ujung atas penstock pipe. Ukuran diameter pipa napas
berkisar 1% sampai 2% diameter penstock pipe. Apabila
diperlukan katub udara (air release valve) dipasang pada
titik-titik dimana ada perubahan arah penstock yang
signifikan seperti pada belokan. Spesifikasi katup udara
disesuaikan dengan tingkat tekanan yang kemungkinan
diterima di titik tersebut.



4 - 27
6. Masalah pabrikasi dan konstruksi penstock bisa dilihat
pada bagian pabrikasi dan konstruksi.

TABEL 4-1
PROPERTI TEKNIS MATERIAL PIPA PESAT
Material
Young's
modulus
of elasticity
E (N/m
2
)x10
9

linear
expansion
a (n/m
QC)x10
6

Ultimate
tensile
strength
(N/m
2
)x10
6

N
Welded steel 206 12 400 0.012
Polyethylene 0.55 140 5 0.009
Polyvinyl chloride
(PVC)
2.75 54 13 3,009


Analisis perencanaan dan desain pipa pesat (penstock pipe)
PLTM Oksibil diuraikan sebagai berikut :
(a) Perhitungan diameter minimum penstock, dapat
diestimasi dengan menggunakan persamaan :
= 0,72
0,5
atau = 2,69 [

2
.
2
.

]
0,1875

dimana :
D = diameter dalam pipa (m)
H = tinggi terjun desain (m)
L = panjang pipa pesat (m)
n = koefisien manning, untuk baja 0.012
Q = debit rencana (m
3
/detik)




4 - 28
(b) Perhitungan tebal minimum dinding pipa penstock,
dapat dihitung menggunakan persamaan :
= (
.
.
) +
tp > 2,5 D + 1,2 mm (ASME standard)
> (D+508)/1500 mm

dimana :
tp = Tebal plat (mm)
H = Tinggi terjun desain (m)
P = Tekanan air dalam pipa pesat (kg/cm
2
) = 0,1 x H
dyn

H
dyn
= 1,2 x H (m)
s = Tegangan ijin plat (kg/cm
2
), untuk SS41 = 1100
kg/cm
2

= Efisiensi sambungan las (0,9 untuk pengelasan
dengan inspeksi x-ray dan 0,8 untuk pengelasan
biasa)
= Korosi plat yang diijinkan (1-3 mm)
Hasil perhitungan awal tersebut akan dikoreksi dengan
memperhatikan faktor keamanan terhadap water
hammer.
(c) Perhitungan tekanan maksimum akibat water hammer,
yaitu adanya tekanan balik akibat tertahannya aliran air
oleh penutupan katup (saat maintenance) akan
berinteraksi dengan tekanan air yang menuju inlet valve
sehingga terjadi tekanan tinggi yang dapat merusak
penstock.



4 - 29

= (
.
2. .
) < 1
= (

1
4
..
2
) < 1
dimana :
o = kecepatan rambat gelombang tekanan
(m/det) =
1000
(50 + k
D
tp
)
0,5

k = 0,5 untuk baja dan 1 untuk besi tuang
H = tekanan hidrostatis (m)
V = kecepatan rata-rata dalam aliran (m/det)
(d) Perhitungan tekanan radial akibat tekanan hidrostatik
untuk mengetahui batas ijin kemampuan pipa dalam
menerima tekanan maka dikontrol dengan persamaan
berikut :
=
P. R
(t
p
-)
(kg/ cm
2
)

dimana :
P = tekanan air dalam pipa pesat (kg/cm2) = 0,1 x Hdyn
=0,1 x (1,2 x30) = 3,6
H = tinggi terjun desain (m) = 95% gross head = 0,95 x 30
= 28,5 m
R = luas basah (m) = (D + )
D = diameter dalam pipa (m)



4 - 30
tp = tebal pelat (mm)
= korosi dalam pelat yang diijinkan (1-3 mm)
= efisiensi sambungan las 0,85
(e) Perhitungan perletakan tumpuan Pipa Pesat
Tumpuan penstock berfungsi untuk mengikat dan
menahan penstock pipe. Jarak antar tumpuan (L)
ditentukan oleh besarnya defleksi maksimum penstock
pipe yang diijinkan.
L = 182,61 x (
[(D + 0,0147)
4
- D
4
]
P
)
0,333


Dimana :
D = Diameter dalam penstock (m)
P = Berat satuan dalam keadaan penuh berisi air (kg/m)
P = Wpipa + Wair
Wpipa = . D. t .baja
Wair = 0,25 . .D
2
.air
(f) Perhitungan pondasi Angker Blok
Fungsi dari angker blok adalah untuk menahan penstock
agar tidak bergerak akibat gaya yang bekerja yang
disebabkan oleh dorongan air dan berat penstock itu
sendiri. Beban tekanan penstock akan ditanggung oleh
anker blok dan dihindari tekanan pada turbin.



4 - 31
Lokasi penempatan anker blok yaitu pada bagian awal
penstock (bagian luar bak penenang), belokan penstock
dan pada saat penstock masuk ke rumah pembangkit
(power house).
W
total
= W
pipa
+ W
air
= ..(D
o
2
-D
i
2
).tp.
baja
+
air
...D
2
=
P
A
=
W
total
+ W
angker blok
150 x 450 cm
<
tanah


Hasil perhitungan desain pipa pesat (penstock pipe) :
- Diameter pipa pesat minimum :
Diameter minimum pipa pesat PLTMH dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :
= 2,69 [

2
.
2
.

]
0,1875

= 2,69 [

2
.
2
.

]
0,1875
= 2,69 [
0,012
2
. 1.35
2
. 124
31.96
]
0,1875
=
Dipilih diameter pipa : 760 mm.






4 - 32
- Tebal Plat

= (
.
.
) +

Dengan :
H = Tinggi terjun desain (m)
= 0.95 * Hg = 0.95 * 33,64 m = 31,96 m.
Hdyn = 1,2 * H = 1,2 *31.96 m = 38,35 m
P = 0,1 Hdyn = 0,1 * 38, 35 m = 3, 83 Kg/cm
2

(tekanan dalam pipa)
= 0,8 ( efisiensi sambungan las)
= 2,6 mm (korosi ijin plat)
Material Plat yg dipilih :
SS41 dengan material properties
Kekuatan tarik 41 kg/mm
2
= 4100 kg/cm
2

Batas Mulur 22 kg/mm
2
= 2200 kg/cm
2

Tegangan ijin = 1100 kg/cm
2
.
Jadi tebal plat :

= (
.
.
) + = (
3,83 760
1100 0,8
) +2,6 = 5,91

Dipilih tebal plat, tp = 6 mm, ukuran 6 mm x 4 x 8.




4 - 33
- Tekanan maksimum akibat water hammer

= (
.
2. .
) < 1

Dengan :
=
1000
(50 + k
D
tp
)
0,5
=
1000
(50 +0,5 (
0,76
0.006
)
0,5
= 93,93 /
=

2
4
)
=
1,35
3
/
(
(0,76 )
2
4

)
= 2,98 /
Jadi,
= (
.
2. .
) = (
93,93 2,98
2 31,96
) = 0,45
Cek : P < 1
0,45 < 1 . Terpenuhi. Pipa pesat aman dari water hammer.

- Tekanan lingkar akibat tekanan hidrostatik

=
P. R
(t
p
-)
= (
3,83 21,23
(6 2,6) 0,8
) = 29,93 /
2

Cek :
29,93 kg/cm
2
< 1100 kg/cm
2
.
Dengan demikian pipa pesat aman terhadap tekanan
lingkar akibat tekanan hidrostatik.



4 - 34
- Perhitungan jarak angker block :
P =Wtotal = W
pipa
+ W
air
=..(D
o
2
-D
i
2
).
baja
+
air
...D
2
P = .. (0,772
2
-0,760
2
).7800 + ..0,76
2
.1000
= 112,56 + 453,42 = 565,98 kg/m * 6 m = 3395,89 kg
L = 182,61 . (
[(D+0,0147)
4
-D
4
]
P
)
0,333

= 182,61 . (
[(0,760+0,0147)
4
-0,76
4
]
565,98
)
0,333
= 6,61 m
Jadi, dipakai jarak antara dudukan angker tiap 6,00 m.
- Perhitungan daya dukung pondasi angker block :
=
P
A
=
(W
total
+ W
angker blok
) fk
p l
<
tanah

=
(3395,89 4 1,6) +(1,5 4,5 1 (
2200

3
) 1,6)
150 450

=0,67 kg/cm
2


Cek 0,67 kg/cm
2
< 1,0 kg/cm
2

(daya dukung pondasi cukup aman)
- Material : SS 41
- Tebal Pipa (tp) : 6 mm; Panjang : 124 meter
- Diameter : 760 mm
- Material angkur blok: Beton bertulang tiap 6 meter
- Tinggi (Head gross) : 33,63 m;
- Tinggi (Head Nett) : 28,02 m
- Debit desain (Q) : 1,35 m
3
/detik per penstock
- Debit andalan (Q) : 5,4m
3
/detik untuk 4 penstoc



4 - 35









GAMBAR 4-12; PENAMPANG MEMANJANG PIPA PENSTOK



4 - 36
4.1.6 Rencana Desain Rumah Pembangkit (Power House)
Berdasarkan posisinya, rumah pembangkit (power house) ini
dapat diklasifikasikan dalam tipe di atas tanah, semi di bawah
tanah dan di bawah tanah. Sebagian besar rumah pembangkit
PLTM adalah di atas tanah. Desain rumah pembangkit (power
house) PLTM Oksibil mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut :
1. Lantai rumah pembangkit dimana peralatan PLTM
ditempatkan, perlu memperhatikan kenyamanan selama
operasi, mengelola, melakukan perawatan dimana terjadi
pekerjaan pembongkaran dan pemasangan peralatan.
2. Memiliki cukup cahaya untuk penerangan di siang hari dan
adanya ventilasi udara.
3. Kenyamanan bagi operator saat berada di dalam untuk
melakukan pengendalian ataupun pencatatan secara
manual.
Pertimbangan tipe desain rumah pembangkit sesuai jenis turbin
yang digunakan untuk menjadi acuan, yaitu :
- Desain konstruksi rumah pembangkit (Power House)
mempertimbangkan jarak bebas antara dasar rumah
pembangkit dengan permukaan air buangan turbin
(afterbay).



4 - 37
- Permukaan air di bawah turbin akan bergelombang,
sehingga jarak bebas antara rumah pembangkit dengan
permukaan air afterbay setidaknya 30 - 50 cm.
Kedalaman air di afterbay harus dihitung berdasarkan
suatu formulasi antara desain debit dan lebar saluran di
tail race.
Air di afterbay harus ditentukan lebih tinggi dari estimasi
muka air banjir dan head antara pusat turbin dan level air
pada outlet harus menjadi headloss.
Rencana desain rumah pembangkit (power house) PLTM Oksibil
yaitu sebagai berikut :
a. Layout penempatan pipa pesat, dudukan pondasi mesin
turbin dan generator, dan saluran pembuang (tailrace)
menyesuaikan dengan ukuran dudukan mesin (turbin dan
generator).
b. Stabilitas bangunan terhadap daya dukung lingkungan
terhadap kondisi geoteknik dan potensi rawan longsor
bangunan.
c. Elevasi lantai rumah turbin pada level +2 meter dari level
permukaan air sungai.
d. Material bangunan :
Pondasi : pasangan batu kali + balok ikat beton
bertulang
Dinding : pasangan bata merah + plesteran



4 - 38
Lantai : beton tumbuk tanpa tulangan
Rangka bangunan : beton bangunan
Atap + penutup : baja ringan + galvalum
e. Denah ruang :
Ruang mesin turbin dan generator : 22 m x 9 m
Ruang operator dan kontrol panel : 22 m x 6 m
Sirkulasi dan teras : 25% x luas bangunan fungsional









GAMBAR 4-13 ; GAMBAR DENAH BANGUNAN POWER HOUSE






4 - 39









GAMBAR 4-14 ; GAMBAR POTONGAN BANGUNAN POWER HOUSE
4.1.7 Rencana Desain Saluran Pembuang (Tail Race)
Perencanaan saluran pembuang aliran air yang keluar dari
rumah pembangkit relatif sama dengan saluran pembawa air.
Saluran terbuka bentuk trapesium dan dinding dari pasangan
batu tanpa plesteran, ukurannya mengikuti volume dan debit
yang masuk ke bak penenang atau bak pengendap. Adapun tata
letak saluran terhadap badan sungai tidak tegak lurus tapi
miring terhadap arah aliran sungai.




4 - 40
Saluran pembuang direncanakan di tempat-tempat terendah
dan melalui daerah-daerah depresi. Kemiringan alami tanah
dalam trase ini menentukan kemiringan memanjang saluran
pembuang tersebut. Apabila kemiringan dasar terlalu curam dan
kecepatan maksimum yang diizinkan akan terlampaui, maka
harus dibuat bangunan pengatur (terjun).
Kecepatan rencana sebaiknya diambil sama atau mendekati
kecepatan maksimum yang diizinkan, karena debit rencana atau
debit puncak tidak sering terjadi, debit dan kecepatan aliran
pembuang akan lebih rendah di bawah kondisi eksploitasi rata-
rata. Khususnya dengan debit pembuang yang rendah, aliran
akan cenderung berkelok- kelok (meander) bila dasar saluran
dibuat lebar. Oleh karena itu, saluran pembuang direncanakan
relatif sempit dan dalam.
Variasi tinggi air dengan debit yang berubah-ubah biasanya tidak
mempunyai arti penting. Potongan-potongan yang dalam akan
memberikan pemecahan yang lebih ekonomis. Bila saluran air
alamiah digunakan sebagai saluran pembuang, maka akan lebih
baik untuk tidak mengubah trasenya karena saluran alami ini
sudah menyesuaikan potongan melintang dan kemiringannya
dengan alirannya sendiri. Untuk perencanaan potongan saluran
pembuang, aliran dianggap sebagai aliran tetap dan untuk itu
diterapkan rumus Strickler dengan rumus berikut.




4 - 41
= , dengan =
2
3

1
2

Keterangan :
Q = debit aliran (m
3
/dt)
A = luas penampang saluran terbasahi (m
2
)
P = keliling saluran terasahi (m)
V = kecepatan aliran (m
2
)
R = jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan dasar saluran (sloop)
K = koefisien kekasaran saluran menurut Strickler

Rencana desain saluran pembuang (tailrace) PLTM Oksibil yaitu
sebagai berikut :
(a) Terdiri dari : bak saluran dan saluran pembuang
(b) Bak Saluran :
Tipe material pasangan batu kali
Lapisan dasar dari pasangan batu kali
Ukuran : P x L x dalam = 1,1 m x 0,65 m x 2,3 m =
1.644 m
3

(c) Ukuran Saluran :
Panjang : 23 m
Lebar atas : 3 m
Lebar bawah : 2 m
Tinggi : 2,5 m





4 - 42
















GAMBAR 4-15 ; GAMBAR POTONGAN SALURAN TAILRACE


4.2 Rencana Desain Mekanikal Elektrikal PLTM
4.2.1 Penentuan Head (Ketinggian)
Ketinggian jatuh air sangat menentukan untuk perhitungan
daya terbangkit dalam suatu perencanaan PLTMH.
Bila mengacu pada Manuals and Guidelines for Micro-
hydropower (MHP) Development, definisi head terdiri dari :
- Effective Head/net head (He)
- Gross Head (Hg)



4 - 43
Dimana :
He : Perbedaan ketinggian antara sumbu penstock
dengan sumbu turbin
Hg : Perbedaan ketinggian antara permukaan air di
forebay (kolam penenang) dengan permukaan air di
tail race
Berdasarkan hasil survey untuk perencanaan PLTMH Oksibil ini
diperoleh data sebagai berikut :
- Lokasi forebay pada koordinat : X=469145 dan Y=9445708
- Ketinggian permukaan air di forebay (kolam penenang)
direncanakan = 420 mdpl.
- Perencanaan sumbu penstock = 417,21 mdpl
- Perencanaan sumbu turbin = 389,19 mdpl
- Ketinggian permukaan air di tail race = 386,36 mdpl
- Dengan mengacu pada data di atas diperoleh :
- Gross Head (Hg) = 33,64 m
- Net Head (He) = 28,02 m
4.2.2 Turbin
Pada rencana pembangunan PLTM Oksibil diketahui bahwa
debit rencana 5,4 m
3
/detik dan head 28,02 m. Dengan
mempertimbangkan masalah pengangkutan peralatan yang
hanya dapat dilakukan melalui transportasi udara dengan
kapasitas terbatas, serta ketersediaan teknologi secara lokal



4 - 44
dan biaya pembuatan/pabrikasi. Berdasarkan pertimbangan ini
terpilih turbin crossflow.
Untuk memenuhi debit rencana dan head tersebut di atas, maka
dipilih turbin crossflow sebanyak 4 (empat) unit dengan debit
rencana masing-masing 1,35 m
3
/detik. Daya rencana keluaran
per generator berdasarkan hasil perhitungan 253,82 kW.
Kapasitas output rencana sebesar 250 kW, sehingga total daya
keluaran 4 unit generator sebesar 1,0 MW.
Pemilihan ini didasarkan pula pada kehandalan kontinuitas
penyaluran daya. Maksudnya apabila terjadi kerusakan atau
dalam proses pemeliharaan pada salah satu turbin,sebagian
konsumen tenaga listrik masih dapat dilayani dengan 3 unit
turbin-generator.
Parameter perancangan turbin crossflow :
-
air
= 1000 kg/m
3

-
g = 9,81 m/s
2
- Q = 1,35 m
3
/detik per unit pipa penstock
- Head net = 28,02 m
- Efisiensi turbin,
turbin
= 0,8
- Efisiensi gear box,
gearbox
= 0,95
- Efisiensi generator,
generator
= 0,9





4 - 45
Perancangan :
a. Daya
- Daya keluaran turbin,

=
turbin

= 1000

3
9,8

2
1,35

28,02 0,8 = ,
- Daya keluaran Gearbox,

=
turbin

gearbox

= 1000

3
9,8

2
1,35

28,02 0,8 0,95


= ,
- Daya keluaran generator,

=
turbin

gearbox

generator

= 1000

3
9,8

2
1,35

28,02 0,8 0,95 0,9


= ,
b. Dimensi utama turbin
Parameter rancangan utk CT T15 D500 :
Unit speed, n11 : 38
Unit flow, q11 : 0,8
- Kecepatan Turbin,
=
11
0.5
1
= 402,30 rpm




4 - 46
- Runaway Speed Turbin,
Nr = 1,8 * N = 724,14 rpm.
- Diameter Runner,
Diameter Outer, D1 = 500 mm
Diameter Inner, D2 = 0.7 x 500= 350 mm
- Inlet Width
=
1
11 max 1
.

^0.5
=
- Torsi Poros Turbin,
T=9,74*10^5(P/n) = 718,74 kg*m
= 7,05 kN*m







GAMBAR 4-16 : RUNNER TURBIN CROSSFLOW
Pemilihan jenis turbin Crossflow berdasarkan ketersediaian
teknologi secara lokal dan biaya pembuatan/pabrikasi yang lebih
murah dibandingkan tipe lainnya seperti turbin francis. Jenis



4 - 47
turbin crossflow yang akandigunakan pada PLTM Oksibil
menggunakan Crossflow tipe T15 D500. Turbin tipe ini memiliki
efisiensi maksimum yang baik sebesar 0,7 0,8.
Penggunaan jenis turbin Crossflow T-15 D500 untuk
pembangkit tenaga air skala mikro (PLTM), terbukti handal di
lapangan dibandingkan jenis crossfiow lainnya yang
dikembangkan oleh berbagai pihak (lembaga penelitian,
pabrikan, import). Putaran turbin crossflow memiliki kecepatan
yang rendah. Pada sistem mekanik turbin digunakan transmisi
gearbox untuk menaikkan putaran sehingga sama dengan
putaran generator 1000 rpm. Efisiensi sistem transmisi mekanik
gearbox diperhitungkan 0,95. Spesifikasi teknis turbin crossflow
dapat dilihat pada Tabel 4-2.









GAMBAR 4-17 ; TIPIKAL TURBIN CROSSFLOW T15 - D500



4 - 48
TABEL 4-2
DATA TEKNIK TURBIN CROSSFLOW
NO URAIAN UNIT VALUE
1 Parameter Disain


Gross Head m 30

Net Head m 28.02

Debit Terukur m
3
/det 40.3

Debit disain m
3
/det 1.35 x 4
2 Turbin


Jenis turbin Crossflow T15 D500

Effisiensi % 80

Outer Diameter Runner mm 500

Inner Diameter Runner mm 350
Daya Output Turbin kW 296,87
Torsi Poros Turbin kg*m 718,74
Nozzle Inlet Width mm 640
3 Transmisi Daya Mekanik



Efisiensi transmisi daya mekanik % 95

Putaran nominal generator rpm 1000

Putaran nominal turbin rpm 402,30

Ratio of speed increaser

2.48

Service Factor (sisi turbin)

2,38

Service Factor (sisi generator)

2

Daya Keluaran Generator kw 4 x 250

Sistem transmisi turbin to generator Gear box

Flexible coupling
4.2.3 Transmisi Mekanik
Transmisi mekanik berfungsi untuk menyalurkan daya mekanik
pada poros turbin ke poros generator. Karena putaran turbin
(402,30 RPM) tidaksama dengan putaran generator (1000 RPM),
maka digunakan sistem gearbox antara poros turbin dengan
poros generator melalui flexible couplings. Flexible couplings
berfungsi untuk mengurangi pengaruh ketidaklurusan axial
(axial missalignment), ketidaklurusan angular (angular



4 - 49
missalignment) dan ketidaklurusan radial (radial missalignment)
akibat penggabungan dua poros.
- Type : Gearbox
- Flexible coupling turbin-generator: NBK FCL Series ex
Japan
- Service factor/load factor/safety factor = 2,38 (sisi turbin)
dan 2.00 (sisi generator)
- Max.torsi 1600 kg.m (sisi turbin) dan 350 kg.m (sisi
generator)













GAMBAR 4-18 ; TIPIKAL TRANSMISI MEKANIK GEARBOX



4 - 50
4.2.4 Pemilihan Generator Dan Kelengkapanya
Generator adalah suatu peralatan yang berfungsi mengubah
energi mekanik menjadi energi listrik. Dalam perancangan PLTM
Oksibil dipilih spesifikasi generator seperti tercantum di bawah
ini :
- Tipe Generator : Sinkron
- Jumlah Generator : 4 Unit
- Rating Output Daya Semu Max : 312,5 kVA / Unit
- Cos : 0,8
- Rating Output Daya Aktif Max : 250 kW / Unit
- Tegangan : 220/380 Volt
- Fasa : 3 Fasa
- Frekuensi : 50 Hz
- Jumlah Putaran : 1000 rpm
- Jumlah Pole
Generator terpilih sesuai rating
yg ada di pasaran
: 6
330 kVA
- Hubungan : Bintang ( Y )
- AVR : Standar






GAMBAR 4-19 ;TIPIKAL GENERATOR SINKRON 330 kVA, 264 kW



4 - 51
(a) Isolasi Kenaikan Temperature Belitan
Isolasi yang digunakan pada belitan generator adalah
isolasi dengan klas F (IEC-34) dan temperatur maksimum
sebesar 115C, sedangkan batas kenaikan temperatur yang
diizinkan pada isolasi belitan saat operasi beban puncak
hanya sampai klas-B, yaitu dengan temperaur maksimum
80C. Hal ini akan meningkatkan Life Time isolasi dan
dapat memberikan kapasitas beban lebih (overload) yang
lebih tinggi sejauh kemampuan turbin.
Batas kenaikan temperatur belitan tersebut yang sesuai
dengan standar IEC 34-1 (1983), adalah antara 80C sampai
85C. Sedangkan temperatur bantalan (bearing) generator
maksimum yang diizinkan adalah tidak lebih dari 65C.
(b) Runaway Speed
Pengaruh runaway speed terhadap generator perlu
diperhatikan terhadap frekwensi system.Karena itu pada
generator diperlukan kecepatan maksimal, pada umumnya
2 kali kecepatan normal (yang direncanakan). Jadi
kecepatan kerja pada generator sekitar 1000 rpm.Runaway
speed yang terlalu besar dihindari untuk mencegah
generator ataupun turbin rusak.
(c) Sistem Pendingin
Generator ini merupakan sistem pendingin self ventilation
& air cooled (IEC 34-5). Intake udara merupakan udara



4 - 52
output dari filter kering yang digunakan untuk menyaring
masuknya debu ke dalam generator.
Sedangkan udara panas yang keluar dari generator
dibuang dengan arah vertical di atas gedung sentral
(powerhouse). Hal ini mencegah masuknya kembali udara
panas tersebut kedalam generator. Kondisi temperatur
udara maksimum yang masuk ke dalam pendingin
generator adalah 40C.
(d) Sistem Eksitasi Generator
Ada 3 (tiga) macam eksitasi generator, yaitu:
- Sistem eksitasi tanpa sikat,
- Sistem eksitasi statis, dan
- Sistem Eksitasi dengan slip ring.
Dari cara pemeliharaannya, sistem eksitasi tanpa sikat jauh
lebih mudah dan lebih murah dibandingkan dengan sistem
eksitasi statis dan sistem slip ring. Pada perancangan PLTM
Oksibil dipilih sistem eksitasi tanpa sikat.
(e) Pengatur Tegangan Otomatis (AVR)
Tegangan output generator akan bervariasi dalam
jangkauan 10% sampai +10% dengan bantuan AVR. Adapun
berdasarkan sistem bekerjanya, AVR yang digunakan
adalah AVR dengan kerja kontinyu untuk mengatur



4 - 53
tegangan pada hargaharga tertentu dan dalam toleransi
tertentu pula.
Pada kondisi beban penuh, variasi tegangan yang
diperbolehkan berkisar 2,5% sampai +2,5%. Sedangkan
respons penguatan nominal untuk drop tegangan sampai
30% pada terminal generator di bawah tegangan
nominalnya sampai kembali pada kondisi operasi tegangan
normal selama 1 detik.
(f) Sistem Proteksi Generator
Relerele proteksi generator minimal yang harus ada pada
PLTM Oksibil adalah sebagai berikut:
- Relay Arus Lebih
- Relay Tegangan Lebih
- Relay Tegangan Kurang
- Relay Reserve Power
- Relay Frekwensi Kurang/Lebih
- Relay Gangguan Tanah
- Relay Temperatur Lebih
4.2.5 Sistem Kontrol
A. Sistem Kontrol DFC
Sistem kontrol DFC (Digital Flow Controller)merupakan
generasi baru dari mikro/minihidro controller. DFC
digunakan sebagai controller, protection, dan monitoring



4 - 54
pembangkit listrik. DFC merupakan system yang canggih
dan juga memberikan keamanan ketika system operasi.
Sistem ini dilengkapi dengan automatic synchronizer dan
system proteksi standar yang baik, serta DFC dapat
dihubungkan secara langsung ke web menggunakan data
logger, jika lokasi memungkinkan adanya koneksi jaringan
internet.
Perbedaan dari sistem yang konvensional adalah pada DFC
sudah ditanamkan beberapa komponen seperti relay,
synchronizer, control, signal converter, data recorder dan
monitor. Performa DFC didesain lebih compact, tetapi
komponen dapat diganti ketika adanya kerusakan.
DFC adalah controller dan system proteksi digital dengan
system otomasi tinggi. Kontrol utama berdasarkan pada
performa tinggi dari standar PLC dan dikombinasikan ke
Modul Filter sehingga dapat digunakan sebagai controller
pembangkit listrik mikro/minihidro yang dapat bekerja
secara parallel atau On-Grid.
Sistem control DFC bekerja sepenuhnya secara otomatis
mula isaat valve dibuka hingga proses pembebanan. Suplai
daya untuk permulaan awal disuplai dari genset atau
baterai.





4 - 55






GAMBAR 4.20; TIPIKAL SISTEM DENGAN DFC
Untuk mengoperasikan pembangkit listrik ini, operator
hanya perlu menekan tombol START. Kemudian secara
otomatis controller akan membuka butterfly valve hingga
pada posisi terbuka penuh, kemudian guide vane akan
terbuka hingga mencapai kecepatan turbin yang stabil
pada rpm tertentu. AVR (Automatic Voltage Regulator)
kemudian diaktifkan setelah turbin berputar secara stabil.
Proses sinkronisasi akan dilakukan jika jaringan listrik pada
posisi normal dan stabil. Ketika tegangan dan frekuensi
sama dan sudut fasa adalah nol, kontaktor akan diaktifkan.
PLTM akan mengontrol system pada mode aktif
(frekuensi, power, atau water level control) dan juga
pengontrolan pada exiter controller (voltage, cosphi atau
reactive power control).



4 - 56
Ketika jaringan listik dalam keadaan black out, kontaktor
akan diaktifkan setelah adanya konfirmasi oleh operator
(alasan keamanan) kemudian PLTM menerima beban on
grid dan bersamaan dengan kondisi ini frekuensi akan
diperbaiki secara otomatis. Operator hanya tinggal
menekan tombol STOP untuk menghentikan kerja PLTM,
dan PLTM akan berhenti bekerja secara perlahan. Ketika
power dalam kondisi mati, kontaktor akan terlepas dan
turbin akan menutup hingga pada posisi tertutup
sempurna.
Ketika adanya gangguan system dan operator tidak dapat
menanganinya, dia hanya butuh untuk menekan tombol
EMERGENCY sehingga valve dan guide van akan tertutup
secara otomatis, kontaktor akan terlepas.
Dalam kondisi darurat, butterfly valve dan guide vane
akan menutup secara otomatis meskipun tidak ada power.
DFC juga dilengkapi dengan alarm dan warning. Ini
berguna untuk membantu operator mendeteksi dan
menangani ganguan atau kerusakan. Berikut adalah
kondisi warning pada DFC:
- Alarm Level 1, PLTM masih dalam keadaan berjalan.
- Alarm Level 2, PLTM akan berhenti secara perlahan.
- Alarm Level 3, PLTM akan behenti secara cepat.
- Alarm Ll 4, PLTM dalam kondisi darurat.



4 - 57










GAMBAR 4.21 : TIPIKAL INTERFACE DFC
Digital Flow Controller dipilih karena pembangkit listik
cukup besar dan juga pengoperasiannya lebih praktis dan
otomatis. Pada DFC masukan debit untuk turbin akan
diatur sehingga didapatkan debit yang optimal sesuai
dengan keadaan sungai, sehingga power yang
dibangkitkan oleh turbin pun optimal.
Pada dasarnya system DFC adalah mengatur flow/debit
yang masuk ke turbin sehingga power yang dihasilkan
turbin akan optimal.






4 - 58
Adapun spesifikasi utama dari DFC adalah sebagai berikut :
- Rating Power, Maximum : 264 kW, 330 kVA pada cos
phi0.8.
- Metoda pengontrolan : pengaturan secara otomatis
untuk mengantisipasi perubahan beban melalui
pengaturan debit/flow dan fly-wheel untuk menjaga
kestabilan frekuensi.
- Standar proteksi generator : Over/under Voltage,
Over/under Frequency, Over Current, Short circuit,
current unbalance, bearing temperature high, stator
temperature high, dan over speed shut down.
- Standar proteksi jaringan listrik / grid : Over/under
Voltage, Over/under Frequency, Phase Unbalance,
Vector Shift.
- Standard Meter : 3 Phase Voltage, 3 Phase Ampere,
Frequency, kVAr, kVA, kW, kWh, operating hours,
speed, guide vane position, water level, alarm.
- Mode Pengontrolan : Kecepatan, Frekuensi, Power,
Water Level.
- AVR interface : Voltage control, Cosphi Control,
Reactive export.





4 - 59
B. Sistem Kontrol DLC
Dalam perencanaan pembangunan PLTMH Oksibil ini
untuk merespon terjadinya perubahan beban yang dapat
menimbulkan runaway speed pada unit turbin-generator,
sistem kontrol utama adalah digital flow controller (DFC),
tetapi untuk memback up sementara DFC merespon
terjadinya perubahan beban yang waktunya relatif
pendek, maka perubahan beban sementara akan direspon
oleh DLC (digital load controller) dan sebagian beban
untuk beberapa saat dibuang ke balast sampai DFC bekerja
secara penuh.
Kapasitas DLC yang direncanakan adalah 0,2 dari kapasitas
generator, yaitu :
1. Phase : 3 Phase 4 wire
3. Voltage : 230/400 Volt
4. Nominal Frequency : 50 Hertz
5. Number ballast : 1/unit generator
6. Capacity : 50 kW



4 - 60






















GAMBAR 4-22 : TIPIKALSINGLE LINE DIAGRAM FLOW CONTROLLER



4 - 61









GAMBAR 4-23. TIPIKAL DIMENSI CONTROL PANEL



4 - 62
4.2.6 Spesifikasi Transformator
Dalam perencanaan PLTM oksibil direncanakan akan
dioperasikan 5 unit transformator, yang terdiri dari 4 unit
transformator utama yaitu untuk melayani konsumen
pemanfaat tenaga listrik dan 1 unit transformator untuk
pemakaian sendiri di dalam power house dan sekitarnya.
Pemilihan jumlah unit transformator utama menjadi 4 unit ini,
pertimbangannya adalah masalah transfortasi yang masih
terbatas dalam kapasitas angkutnya baik dalam dimensi
maupun beratnya.
(a) Tansformator Utama
Transformator utama yang akan digunakan adalah
transformator 3-fase jenis pasangan luar, sisi tegangan
primernya sama dengan tegangan output generator,
yaitu 0,380 kV, sedangkan sisi tegangan sekundernya
sama dengan jaringan distribusi tegangan menengah,
yaitu 20 kV. Agar keandalannya terjamin, maka
kapasitas transformator yang akan dipasang dipilih
lebih besar dari kapasitas generator. Karena kapasitas
yang terbangkit di PLTM Oksibil sekitar sebesar 4 x
312,5 kVA, maka dipilih transformator utama
berkapasitas 4 x 315 kVA.



4 - 63
Tipe pendingin yang diusulkan adalah tipe ONAN (Oil
Natural Air Natural), karena hal ini merupakan sistem
pendingin yang sederhana, efisiensinya tinggi dan tidak
memerlukan peralatan bantu. Disamping itu daya
transformator yang digunakan relatif masih kecil.
Spesifikasi transformator yang dipilih pada PLTM
Oksibil dapat dilihat pada Tabel 4-3.
TABEL 4-3
DATA TEKNIK TRANSFORMATOR STEP - UP UNIT
No Uraian
Unit
Value
1 Daya
kVA
4x315
Tegangan Primer
kV
0,38
Tegangan Skunder
kV
20,0
Arus Primer
A
479,0
Arus Skunder
A
9,1
Frequensi
Hz
50
Phasa/Fector Group

Dyn 5
Arus Hubung Singkat
kA
1,44
Impedansi
%
4,00
Dimensi Panjang
mm
1.500
Dimensi Lebar
mm
900
Dimensi Tinggi
mm
1550
Berat
kg
1250
Type Pendingin

ONAN
Volume Oil
Liter
360
2 Rugi-rugi Transformer



Rugi Besi
watt
710
Rugi Tembaga
watt
3.900
Rugi Total
watt
4.610





4 - 64
Pentanahan Transformator Utama
Pentanahantitik netral transformator utama ketanah
secara umum memiliki tujuan antara lain :
- Mengurangi stress tegangan yang diakibatkan
oleh surja hubung atau surja petir;
- Mengatur arus ganguan untuk kepentingan
proteksi;
- Membatasi tegangan pada phase yang terganggu
agar tidak melebihi tegangan pada phase yang
sehat,
- Memadamkan busur listrik akibat gangguan.
Sistem pentanahan yang digunakan pada transfomator
utama adalah system pentanahan dengan
menggunakan metoda resistance. Pentanahan pada
transfomator utama ini akan menggunakan NGR
(Neutral Grounding Resistance) dengan spesifikasi:
- Tegangan : 20kV/3
- Arus : 138,56 A/10 dtk
- Resistance : 144 ohm
(b) Transformator Untuk Pemakaian Sendiri (Trafo PS)
Transformator pemakaian sendiri diperlukan untuk :
- Instalasi listrik tegangan rendah untuk kebutuhan
penerangan dan stop kontak di dalam bangunan



4 - 65
power house.
- Instalasi tegangan rendah untuk kebutuhan
peralatan kontrol unit turbin-generator.
- Instalasi tegangan rendah untuk peralatan
charger baterai yang diperlukan pada saat unit
pembangkit mengalami keadaan darurat
(emergency).
Spesifikasi transformator yang dipilih pada PLTM
Oksibil dapat dilihat pada Tabel 4-4.
TABEL 4-4
DATA TEKNIK TRANSFORMATOR PS
No Uraian
Unit
Value
1 Daya
kVA
1x25
Tegangan Primer
kV
20
Tegangan Skunder
kV
0,38
Arus Primer
A
1,0
Arus Skunder
A
38,0
Frequensi
Hz
50
Phasa/Fector Group

Dyn 5
Arus Hubung Singkat
kA
1,44
Impedansi
%
4,00
Dimensi Panjang
mm
750
Dimensi Lebar
mm
520
Dimensi Tinggi
mm
1050
Berat
kg
320
Type Pendingin

ONAN
Volume Oil
Liter
78
2 Rugi-rugi Transformer



Rugi Besi
watt
100
Rugi Tembaga
watt
3.900
Rugi Total
watt
4.610



4 - 66
4.2.7 Peralatan Hubung Bagi
Sistem sinkronisasi untuk kerja parallel dari masing-masing unit
pembangkit dalam perencanaan PLTM Oksibil ini dilakukan di
sisi tegangan menengah 20 kV, dimana keluaran masing-
masing generator yang mempunyai rating tegangan 380 Volt
dinaikkan terlebih dahulu tegangannyake tegangan menengah
20 kV melalui masing-masing transformator.
a. Lingkup Peralatan Hubung
Pemasangan peralatan hubung yang digunakan di
power house antara lain :
- 4 unit panel incoming 20 kV
- 1 unti panel master kontrol
- 1 unit panel outgoing 20 kV
- 1 unit panel untuk transformator pemakaian
sendiri
b. Rangkaian dan Peralatanya
Peralatan hubung 20 kV ditempatkan diruang control
didalam powerhouse PLTM Oksibil dilengkapi dengan
peralatanperalatan yang dipasang pada transformator
utama dan jaringan tegangan menengah 20 kV.
Peralatan hubung 20 kV yang dibutuhkan antara lain :
- 1 (satu) set bus tiga fase
- 4 (empat) set pemutus tenaga tiga kutup untuk



4 - 67
panel incoming
- 1 (satu) set pemutus tenaga tiga kutup untuk
transformator pemakaian sendiri
- 1 (satu) set pemutus tenaga tiga kutup ke
Jaringan SUTM.
- 1 (satu) set CT (current
- 1 (satu) set Lightning Arester (LA)
c. Frekuensi
Seluruh peralatan hubung di PLTM Oksibil didesain
untuk frekwensi 50 Hz.
d. Nilai Arus
Nilai arus menentukan kapasitas peralatanperalatan
seperti busbar, nilai pemutus menentukan circuit
breaker, untuk menentukan disconnecting switches
ditentukan nilai arus pentanahan dan penentuan pada
nilai arus nominal.
e. Busbar
Busbar dan sambungansambungannya terbuat dari
tembaga atau allumunium alloy.
Jarak antar fase busbar dibuat tidak saling berdekatan,
demikian juga antar busbar ketanah.Masingmasing
sambungan di busbar dihubungkan dengan rapat dan
kuat.



4 - 68
Besaran busbar adalah:
- Tegangan : 20 kV
- Tingkat tegangan isolasi : 125 kV
- Arus normal : 630 A
- Ketahanan arus sesaat : 25 kA untuk 3 (tiga)
detik
f. Kontak Pemutus Penghubung
Kontak pemutus penghubung terdiri dari tiga kutup,
satu hentakan dapat dioperasikan secara lokal dan jarak
jauh (remote) maupun pengoperasian setempat secara
manual. Besaran kontak pemutus penghubung adalah:
- Tegangan : 20 kV
- Tingkat tegangan isolasi : 125 kV
- Arus normal : 630 A
- Arus pemutus hubung singkat : 25 KA
g. Pemutus tenaga (MCCB)
Besaran pemutus tenaga adalah:
- Tegangan : 20 kV
- Tingkat tegangan isolasi : 125 kV
- Arus normal : 630 A
- Arus pemutus hubung singkat : 25 kA utk tiga (3)
detik
- Tegangan kontrol : 110 VDC



4 - 69
h. Transformator arus (CT)
Transformator arus satu fase, type epoxy resin
Besaran transformator arus adalah :
- Rasio arus (arus primer / arus sekunder)
Untuk proteksi : 800 / 5 A
Untuk pengukuran : 40 / 5 A
- Daya keluar (burden) tidak kurang dari 30 VA
- Klass ketelitian
Untuk pengukuran : 1,0
Untuk Proteksi : 5P.20
i. Transformator tegangan (PT)
Transformator tegangan adalah satu fase, type epoxy
resin
Besaran transformator tegangan adalah :
- Tegangan primer : 20 kV
- Tegangan Sekunder : 110 V
- Daya keluaran (burden)tidak kurang dari 50 VA
j. Lightning Arester (LA)
Besaran Ligtning Arester adalah :
- Tegangan : 27 kV atau lebih
- Tegangan maksimum tidak kurang dari 20 kV rms
operasional kontinyu



4 - 70
- Arus pengisian normal : 5 kA
- Tingkat tegangan residu (RVL) tidak lebih dari 2,7
- Tingkat tegangan isolasi : 125 kV

4.2.8 Instalasi Listrik di Rumah Pembangkit
Instalasi listrik di rumah pembangkit meliputi :
1. Instalasi daya
2. Instalasi listrik penerangan dan stop kontak untuk
rumah pembangkit dan sekitarnya.
Instalasi daya adalah penghantar yang menyalurkan daya
listrik yang dibangkitkan masing-masing generator.
a. Berdasarkan hasil perhitungan dimana daya terbangkit
masing-masing unit turbin-generator adalah = 253,82
kW, cos =0,8 lagging, maka arus keluaran masing-
masing generator (In) :

=
253,82
3 380 10
3
0,8

= 482,1




4 - 71
Untuk faktor keamanan ditambah 25 %, maka :

= 1,25 482,1 = 602,6



b. Sehingga penghantar dari generator ke DFC (Digital
Flow Controller) direkomendasikan menggunakan :
- Kabel XLPE 600 Volt :4 x 1c x 300 mm
2


c. Penghantar dari output generator ke sisi primer
Transformator direkomendasikan menggunakan :
- Kabel XLPE 600 Volt : 4 x1c x 300 mm
2

d. Arus yang mengalir dari sisi sekunder setiap unit
transformator ke bus setiap panel incoming adalah :

=
315
3 20
= 9,1
Untuk faktor keamanan ditambah 25 %, maka :

= 1,25 9,1 = 11,4



e. Penghantar dari sisi sekunder setiap unit transformator
ke bus setiap panel incoming direkomendasikan
menggunakan kabel :
- N2XSY 20 kV : 3 x 1c x 50 mm
2
.





4 - 72
f. Kapasitas daya total dari outgoing panel adalah
= 4 x 315 kVA= 1260 kVA

g. Arus nominal dari outgoing panel ke tiang pertama (I
n
)

=
1260
3 20
= 36,4

Untuk faktor keamanan ditambah 25 %, maka :

= 1,25 36,4 = 45,5



h. Penghantar dari outgoing panel ke tiang pertama SUTM
20 kV direkomendasikan menggunakan kabel :
- N2XSY 20 kV : 3 x 1c x 70 mm
2
.

i. Arus nominal yang masuk ke sisi primer transformator
pemakaian sendiri (Trafo PS) :

=
25
3 20
= 1
Untuk faktor keamanan ditambah 25 %, maka :

= 1,25 1 = 1,25




4 - 73
j. Penghantar dari bus 20 kV ke sisi primer transformator
pemakaian sendiri direkomendasikan menggunakan
kabel :
- N2XSY 20 kV : 3 x 1c x 25 mm
2
.

k. Arus nominal yang keluar dari sisi sekunder
transformator pemakaian sendiri (Trafo PS) ke panel
tegangan rendah :

=
25
3 0,38
= 38

Untuk faktor keamanan ditambah 25 %, maka :

= 1,25 38 = 47,5

l. Penghantar dari dari sisi sekunder transformator PS ke
sisi primer panel tegangan rendah (LV Cubicle) untuk
pemakaian sendiri direkomendasikan menggunakan
kabel :
- NYY 0,6/1 kV : 4 x 25 mm
2
.




4 - 74













GAMBAR 4.24; TIPIKAL INSTALASI RUMAH PEMBANGKIT





4 - 75
4.2.9 Fasilitas Bantu
Sejumlah peralatan bantu diperlukan sebagai kelengkapan
rumah pembangkit untuk memudahkan kegiatan instalasi,
pembongkaran, perawatan dan perbaikan. Peralatan bantu
yang diperlukan tersebut adalah katrol dengan kapasitas 5 ton,
alat pemadam kebakaran, dll.
(a) Pemadam Api
Pemadam api yang portable harus disediakan didalam
gedung sentral, yaitu untuk memadamkan api bila terjadi
kebakaran. Pemadam api yang digunakan pada
pembangkit listrik adalah jenis Halon 1211 dan ADB Dry
Chemical Powder.
Jenis halon 1211 digunakan diruang kontrol dan ruang
panel. Sedangkan jenis ADB Dry Chemical Powder
digunakan untuk ruangruang lain.
(b) Battery
Supplay daya searah yang berasal dari battery pada
suatu pembangkit listrik diperlukan untuk peralatan
kontrol, komunikasi dan proteksi pada setiap saat.
Diusulkan untuk menggunakan battery nikel cadmium,
karena dimensinya kecil, keandalan baik dan
perawatannya sederhana. Selain digunakan untuk
kontrol, komunikasidan proteksi, supply daya searah





4 - 76
juga digunakan untuk penerangan dalam keadaan
darurat melalui sebuah inventer.
Tegangan Battery :
1. Standar tegangan DC menurut standar PLN adalah :
- Tegangan 110 V DC untuk kontrol, indikator
dan proteksi
- Tegangan 24 V DC untuk proteksi dan
komunikasi
Peralatan battery di PLTM Oksibil digunakan
battery dengan tegangan 110 V DC dan untuk
memfungsikan peralatanperalatan tegangan
dibawahnya dangan peralatan tambahan
diturunkan tegangannya, sehingga sesuai dengan
tegangan peralatan tersebut.
2. Kapasitas battery harus dapat melayani beban DC
yang diperkirakan 50 A selama 2 jam. Sehingga
kapasitas battery nikel cadmium 110 V DC dan
100 AH.
4.2.10 Pentanahan/ Grounding Dan Penangkal Petir
(a) Sistem Pentanahan dan Hubungannya
Sistem pentanahan sudah ditentukan dengan adanya
pengukuran di lokasi yang sesuai untuk pemasangan
electrode tanah.





4 - 77
Pengukuran dengan lapisan tanah bagian bawah diukur
dari beberapa lubang yang menghasilkan tahanan tanah
yang memenuhi syarat dan oleh karena itu sistem
pemasangan pentanahan diharapkan sudah mendasar.
Hubungan pentanahan disediakan dengan beberapa
group dari masing-masing peralatan yang sesuai dengan
hubungan titik termal terhadap pusat pentanahan
utama. Sistem sambung menyambung dengan batang
tembaga utama yang dipasang disekeliling gedung
sentral dengan tambahan percabangan untuk masing-
masing peralatan. Metal dari generator, switchgear,
transformer, resistor, dan lain-lain peralatan listrik dan
gedung sentral.
(b) Arus Grid
Untuk pembumian power house PLTM Oksibil yang
digunakan empat persegi panjang dengan ukuran 22 m x
14 m dan arus hubung singkat 5000 A, maka luas
penampang kabel yang digunakan :


= 36 mm2
Lightning ground BC = 120 mm
2

|
|
.
|

\
|
+
+
|
|
.
|

\
|
=

a
m
r r c
T K
T K
t
TCAP
I
Amm
0
0
4
2
ln
10
o





4 - 78


= 21 mm
2

Mesh circuit BC = 50 mm
2

Sifat material kabel dapat dilihat pada Tabel 4-4 berikut.

TABEL 4-5
MATERIAL CONSTANTSRef. IEEE std 80-2000
Description
Material
Conduc-
tivity (%)
ar factor
at 20C
K0 at
(0C)
Fusing
Temperature
Tm (C)
rr
20C(mW.
cm)
TCAP Thermal
Capacity
[J/(cm.C]
Copper annealed
soft-drawn 100 0,00393 234 1083 1,72 3,42
Copper, commercial
hard - drawn 97 0,00381 242 1084 1,78 3,42
Copper-clad steel
wire 40 0,00378 245 1084 4,4 3,85
Copper-clad steel
wire 30 0,00378 245 700 5,86 3,85
Copper-clad steel rod 20 0,00378 245 1084 8,62 3,85
Aluminium EC Grade 61 0,00403 228 657 2,86 2,56
Aluminium 6201 alloy 52,5 0,00347 268 654 3,28 2,6
Aluminium 5005 alloy 53,5 0,00353 263 652 3,22 2,6
Aluminium-clad steel
wire 20,3 0,0036 258 657 8,48 3,58
Steel, 1020 10,8 0,0016 605 1510 15,9 3,28
Stainless - clad steel
rod 9,8 0,0016 605 1400 17,5 4,44
Zinc-coated steel rod 8,6 0,0032 293 419 20,1 3,93
Stanless steel, 304 2,4 0,0013 749 1400 72 4,03
|
|
.
|

\
|
+
+
|
|
.
|

\
|
=

a
m
r r c
T K
T K
t
TCAP
I
Amm
0
0
4
2
ln
10
o





4 - 79
(c) Tahanan Pentanahan (Ground Resistance)
Untuk L = 652 m dan luas grid A = 308 m
2
dan tahanan
jenis tanah 35 , maka tahanan grid dihitung sebagai
berikut.

= 0,83

TABLE 4-6
UKURAN KOMPONEN GROUNDING (PENTANAHAN)
N0 URAIAN UNIT VALUE
1 GRID
Maximum length of conductor in X-Axis m 27
Maximum length of conductor in Y-Axis m 14
Number of parallel conductors X bh 14
Number of parallel conductors Y bh 10
Depth of grid burial m 0,5
Diameter of the Grid Conductor ,d mm 6,80
Average spacing X m 3
Average spacing Y m 1,0

2 ROD
No. of Ground Rods pcs 6
Diameter of ground Rod mm 25
Leng of ground rods according m 2,5
Total length of Ground Rods m 15

3 GROUND
Average earth resistivity /m 35
Area of the Grid m2 378

Total length of buried conductors & rods

m

533


(

|
.
|

\
|
+
+ + =
A h A L
R
T
g
/ 20 1
1
1
20
1 1






4 - 80
(d) Kenaikan Potensial Tanah (GPR)
Sekarang perlu dibandingkan antara GPR dengan
tegangan sentuh yang diizinkan.

= 1.741,37 A

(e) Kriteria Tegangan Sentuh dan Langkah
Untuk ketebalan permukaan batu koral 0.2 m, dengan
tahanan jenis 2500 -m dan tahanan jenis tanah 35 -m.
1. Tegangan Langkah


= 0,70

Tegangan sentuh untuk berat badan manusia 70 kg



= 1801,17 volt

2. Tegangan Sentuh


= 568,04 volt

09 . 0 2
1 09 . 0
+
|
|
.
|

\
|

=
hs
C
s
s

s
s s step
t
C E
157 . 0
) 6 1000 (
70
+ =
g G
R I GPR =
s
s s touch
t
C E
157 . 0
) 5 . 1 1000 (
70
+ =





4 - 81
(f) Tegangan Mesh
= 11,9

Nc = nd = 1 = 11,91



= 142,10 volt
Berdasarkan analisa grounding Mesh Rod yang
didesain pada Power House PLTM Oksibil perlu
dibandingkan antara tegangan mesh dan tegangan
sentuh. Berdasarkan perhitungan diatas untuk tegangan
mesh = 142,10 volt dan untuk tegangan sentuh = 568,04
volt. Berdasarkan perhitungan memenuhi standar
karena tegangan mesh lebih kecil dari pada tegangan
sentuh.
(g) Tegangan Langkah
Faktor jarak tegangan langkah

= 0.61

= 266,71 volt
R
Ly x
r
C
i m G
L
l L
L
L
K K I
Design Emesh

(
(

|
|
.
|

\
|
+
+ +

=
2 2
22 . 1 55 . 1
) (

( ) | |
| |
R C
G
L L
I Ki Ks
Design Estep
+

=
85 . 0 75 . 0
) (

P
T
a
L
L
n

=
2
(

|
|
.
|

\
|
+
+
+
H
=

D h D h
Ks
n 2
5 . 0 1 1
2
1 1
d c b a
n n n n n =





4 - 82
TABEL 4-7
CALCULATION RESULT GROUNDING MESH-ROD
A EARTH GRID CONDUCTOR


Type of Conductor

Copper-clad steel wire


Size of Conductor

7 mm


Length of Conductor

518 mtr


Depth of Conductor

0,5 GL

B GROUND RODS


Total Length of Ground Rods

15 mtr


Length of Individual Ground Rods

2,5 mtr


No. of Ground Rods

6 No.

C CONDUCTOR SIZE CALCULATION


TCAP

3,85 J/(cmC)


tc

1 Sec.


r

0,00378 Ohm - M


r

4,4


Ko

245


Tm

1084 C


Ta

340 C

D EARTH RESISTANCE CALCULATION


Maximum length of conductor in X-Axis

27 m


Number of parallel conductors X

14 m


Average spacing X

3 m


Average spacing Y

1 m


Depth of grid burial

0,5 m


Diameter of the Grid Conductor ,d

12 mm


Average earth resistivity

35 /m


Number of parallel conductors X

14 no ground grid

Number of parallel conductors Y

10 no ground grid
G STEP AND MESH VOLTAGE


RESULT


Rg

1

0,83 W


Rg <

Ok


E Touch 70 kg

568,04 < Em 267


E Step 70 kg

1801,17 < Es 142


E Touch < Em

Ok


E Step < Es

Ok






4 - 83
4.2.11 Generator Set
Generator set digunakan untuk cadangan tenaga di power
house, menggunakan power minimal 10 kVA, yang digunakan
untuk tenaga listrik cadangan pemakaian sendiri di Power
house dan untuk starting awal saat semua unit turbin belum
beroperasi.
4.2.12 Sistem Komunikasi
Sistem komunikasi diperlukan untuk komunikasi operator di
power house dengan operator di rumah jaga dan di sisi
pemakaian beban. Mengingat jaringan komunikasi baik Telkom
maupun GSM belum menjangkau lokasi ini sehingga disarankan
menggunakan sistem radio komunikasi Radio RIG With 200
alphanumeric memory channels, in a 2m mobile, fully
customizable into 10 banks dan Handy Talky 2 unit.
4.2.13 Jaringan Distribusi
Jaringan distribusi tegangan menengah 20 KV dimaksudkan
untuk menyalurkan listrik dari rumah pembangkit ke masing-
masing konsumen digunakan overhead line.
Adapun pekerjaan jaringan distribusi untuk jaringan distribusi
untuk PLTM Oksibil meliputi :
- Jaringan Primer, Kabel PenghantarAluminium Alloy
Conductor AAAC3 x 150 mm
2
, panjang = 20.000 meter.





4 - 84
- Grounding termasuk : electode GIP 1 panjang 1,5 meter,
conductor BC-50 mm
2
, PVC cover 1 dan clamping
accessories pada 8 titik.
- Low voltage lightning arrester termasuk bracketing,
grounding and clamping accessories type : pole
mounted.
4.2.14 Suku Cadang dan Tool Kits
Untuk menunjang kelancaran baik dalam kegiatan operasional
pembangkit maupun perawatannya harus disediakan tool kits,
suku cadang dan perlengkapan sebagai berikut :
(1) Satu set tool kit mekanik untuk keperluan bongkar
pasang turbin dan peralatan mekanikal lainnya, minimum
terdiri dari :
- Satu set kunci Ring Pas
- Satu set kunci L
- Satu set kunci bearing, ukuran sesuai dengan jenis
bearing yang digunakan
- Satu buah kunci Inggris ukuran 15
- Satu buah kunci Inggris ukuran 8
- Satu set obeng (7 buah dengan variasi ukuran)
- Satu buah palu besi ukuran 24 Oz
- Satu buah palu karet
- Satu buah tang kombinasi 8, 200 mm





4 - 85
- Satu buah tang buaya 6, 150 mm
- Satu set pompa stempet (grease gun) ukuran 100 cc
- Satu set penarik coupling
- Satu set filler Gauge ukuran 0.05 mm s/d 1.00 mm
- Satu buah Oil Can ukuran 450 mm
- Satu buah sigmat ukuran 150 mm









GAMBAR 4.25 :TIPIKAL TOOL KITS MICROHYDRO
(2) Satu set tool kit elektrik untuk keperluan pengukuran dan
pelacakan gangguan pada generator maupun sistem
kontrol, minimum terdiri dari :
- Satu buah Multimeter Digital
- Satu buah Test Pen
- Satu set SCR TRIAC Test Kits





4 - 86
(3) Satu set suku cadang peralatan mekanikal, terdiri dari :
- Satu set Karet Flexible Coupling yang digunakan
- 100% dari setiap jenis seal, packing dan O ring
turbin yang digunakan
- 20% dari tiap jenis baut/mur/ring turbin, transmisi
mekanik dan generator yang digunakan
(4) Satu set tool board untuk menyimpan tool kit maupun
suku cadang.
(5) Satu set buku harian (log book) untuk memonitor
operasional pembangkit.
(6) Satu set buku petunjuk (manual) operasi dan perawatan
pembangkit, meliputi manual turbin, manual
generator,dan manual DFC.
4.2.15 Pola Operasi
Pembangkit Listrik Tenaga hidro mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan pembangkit listrik lain karena tidak
memerlukan bahan bakar dalam pengoperasiannya, seperti
pembangkit yang menggunakan minyak. Akan tetapi
pengoperasian dan perawatanya tidak ada perbedaan untuk
jangka panjang. Pembangkit tenaga hidro ini dapat
dioperasikan dalam waktu jangka panjang, selain itu ramah
lingkungan dan berkelanjutan (renewable). Pola operasi
pembangkit harus sesuai dengan SOP (Standard Operating





4 - 87
Procedure) yang ada di PT. PLN (Persero) sebagai pengelola
ketenagalistrikan di Indonesia.
(a) Pengoprasian Pembangkit
Didalam suatu Pembangkit Listrik Tenaga hidro (PLTM)
diperlukan suatu organisasi khusus yang menangani
operasional dan perawatan pembangkit. Organisasi
dalam pembangkit tersebut minimal terdiri dari :
1. Manajer Operasi
2. Operator
3. Administrasi dan Finansial
4. Perawatan dan Perbaikan
5. Keamanan
Pengoprasian pembangkit listrik tenaga hidro ini harus
sesuai dengan Manual Book yang telah dibuat oleh
pabrikan peralatan mekanikal & elektrikal pembangkit
dan prosedur perawatan bangunan sipil sesuai dengan
desain yang telah dibuat.
(b) Komisioning dan Pelatihan Operator
Setelah pembangunan fisik selesai dikerjakan, dilakukan
komisioning pembangkit untuk menilai kelayakan dan
unjuk kerja pembangkit baik dari hasil pekerjaan sipil,
peralatan mekanikal maupun elektrikal.Hasil-hasil
kommissioning dinyatakan dalam berita acara
kommissioning.





4 - 88
Operator harus dilibatkan sejak awal pembangunan,
khususnya untuk memahami teknik pemasangan mesin-
mesin dan prinsip kerja dari pembangkit.
Pelatihan secara khusus akan diberikan setelah
pembangkit dikommissioning, meliputi:
- Operasi dan perawatan bangunan sipil.
- Operasi dan perawatan peralatan mekanikal.
- Operasi dan perawatan peralatan elektrikal.
- Teknik mengatasi gangguan dan cara melaporkan
gangguan.
(c) Kondisi Pengoperasian Pembangkit
Ada beberapa macam kondisi operasi yang dapat
dilakukan oleh pembangkit listrik tenaga hidro, kondisi
operasi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kondisi Operasi Isolated (Island Operation)
Kondisi Operasi Isolated (Island Operation)
adalah kondisi operasi dimana Jaringan Utama
PLN mati dan beban akan ditopang oleh PLTM,
agar tidak terjadi Over Load pada PLTM maka
ada beberapa CO (Cut Out) atau LBS (Load Break
Swicth) yang diputus agar tidak terjadi Over
Load pada PLTM.






4 - 89
2. Kondisi Operasi Interconection (Parallel)
Kondisi Operasi ini adalah kondisi operasi normal
dimana jaringan dalam kondisi baik sehingga
daya pembangkit dapat disalurkan secara
menyeluruh.
3. Kondisi Black Out
Kondisi black out adalah kondisi dimana PLTM
mati secara total akibat adanya gangguan teknis
atau kondisi dimana pembangkit dan jaringan
sama-sama mati. Untuk menghadapi kondisi ini
PLTM dilengkapi dengan bateray yang akan
memberikan daya pada DFC pada saat PLTM
akan mulai operasi kembali seteah terjadi black
out.
(d) Buku Catatan Operasi (Log Book)
Buku Catatan Operasi atau Log Book adalah buku
catatan kejadian di pembangkit yang dibuat oleh
operator dan diketahui oleh Manajer Operasi. Buku
Catatan Operasi (Log Book) tersebut berisikan :
1. Daya nyata dan daya reaktif dari pembangkit
yang disalurkan ke jaringan konsumen, keduanya
dicatat dalam jam.






4 - 90
2. Waktu dan tanggal dimana pembangkit
dihubungkan atau diisolasi dari jaringan, atau hal-
hal lain yang menunjukan perubahan status
operasi.
3. Waktu dan tanggal setiap operasi yang tak
terduga dari CB tenaga (Power Circuit Breaker)
dan daftar relay dari peralatan pengaman yang
mungkin telah menyebabkan CB tersebut
beroperasi.
4. Waktu dan tanggal mulai dan akhir untuk setiap
periode waktu dimana pembangkit dioperasikan
di bawah status beban penuh dan alasan dari
pengurangan beban tersebut.
5. Perubahan setting dari peralatan pengaman.
6. Dan lain-lain.
Pembangkit harus dioperasikan secara kontinu dan
digunakan untuk beban dasar dan diharapkan
dioperasikan secara steady (tetap) kecuali selama
dalam keluar yang direncanakan dan keluar untuk
pemeliharaan.
(e) Pola Operasi PLTM Oksibil
PLTM ini didesain dapat bekerja secara isolated
maupun parallel dengan jaringan 20 kV terdekat. PLTM
ini dilengkapi dengan back-up power dari Battery,





4 - 91
sehingga pada saat Black Out, PLTM ini masih dapat
Start-Up dengan menggunakan Back-Up Powernya
tersebut dan beroperasi secara Isolated.