Anda di halaman 1dari 105

1

BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit yang menyerang otak merupakan masalah yang serius dalam
bidang kesehatan terutama di Indonesia. Dewasa ini, penyakit
meningoenchepalitis mulai banyak ditemukan di masyarakat kita. Penyakit ini
merupakan penyakit yang serius yang menyerang selaput otak dan jaringan otak,
penyakit ini juga bisa menyebabkan penurunan kesadaran dari penderita hingga
kematian.
Meningitis adalah infeksi akut pada selaput meningen (selaput yang
menutupi otak dan medula spinalis). Sedangkan Encephalitis adalah peradangan
jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak dan medulla
spinalis. Sehingga, menurut pengertiannya, Meningoencephalitis merupakan
peradangan pada selaput meningen dan jaringan otak.
Insidens Meningitis sebenarnya masih belum diketahui pasti, menurut
penelitian BMJ Clinical Research tahun 2008, Meningitis bakterial terjadi pada
kira-kira 3 per 100.000 orang setiap tahunnya di negara-negara Barat. Studi
populasi secara luas memperlihatkan bahwa meningitis virus lebih sering terjadi,
sekitar 10,9 per 100.000 orang, dan lebih sering terjadi pada musim panas. Di
Brasil, angka meningitis bakterial lebih tinggi, yaitu 45,8 per 100,000 orang setiap
tahun.

Afrika Sub-Sahara sudah mengalami epidemik meningitis meningokokus
yang luas selama lebih dari satu abad, sehingga disebut sabuk meningitis.
Encephalitis sendiri merupakan penyakit langka yang terjadi pada sekitar
0,5 per 100.000 orang, dan paling sering terjadi pada anak-anak, orang tua, dan
orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya, orang dengan HIV /
AIDS atau kanker).
Meningoencephalitis merupakan penyakit infeksi yang bisa disebabkan
oleh banyak hal, antara lain bakteri, virus , jamur, parasit. Untuk bisa menegakkan
diagnosa dengan tepat, maka pemahaman dokter tentang penyakit ini sangat
dibutuhkan. Prognosis penyakit ini juga didukung oleh ketepatan dan kecepatan
dokter dalam memberikan terapi yang sesuai.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Otak

Gambar 2.1: Anatomi Otak manusia

Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100
triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar),
serebelum (otak kecil), brainsterm (batang otak), dan diensefalon (Satyanegara,
1998). Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks
serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang
merupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan
voluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan
mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis
yang merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis
yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan
3

dan menyadari sensasi warna. Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior
dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang
memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai
pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta
mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan
sikap tubuh.
Bagian-bagian batang otak dari bawah ke atas adalah medula oblongata,
pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks
yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan,
pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang
penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan
serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi
aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat
stimulus saraf pendengaran dan penglihatan. Diensefalon di bagi empat wilayah
yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan
stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus
fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan
menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang
terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa
dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan
rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi
tingkah dan emosi.
Sirkulasi darah pada otak adalah, otak menerima 17 % curah jantung dan
menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme
aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna
dan arteri vertebralis. Dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling
berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willisi
(Satyanegara, 1998). Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria
karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke
dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri
serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada
struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula
4

interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan
parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri
media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks
serebri. Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang
sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi
perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri
basilaris, terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang
menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem
vertebrobasilaris ini memperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak
tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya
memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis,
aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. Darah di dalam jaringan kapiler
otak akan dialirkan melalui venula-venula (yang tidak mempunyai nama) ke vena
serta di drainase ke sinus duramatris. Dari sinus, melalui vena emisaria akan
dialirkan ke vena-vena ekstrakranial.

Gambar 2.2: Peredaran darah otak.

5

2.2 Sistem Saraf Pusat
2.2.1 Otak


Gambar 2.3: Bagian Otak manusia

Merupakan alat tubuh yang sangat vital karena pusat pengatur untuk
seluruh alat tubuh,terletak di dalam rongga tengkorak (Kranium) yang dibungkus
oleh selaput otak yang kuat. Otak manusia dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu:
1. Otak depan (proensefalon) terbagi menjadi dua subdivisi : telensefalon dan
diensefalon Telensefalon merupakan awal hemisfer serebral atau
serebrum dan basal ganglia serta korpus striatum (substansi abu-abu) pada
serebrum. Diensefalon menjadi thalamus, hipotalamus dan epitalamus.
2. Otak tengah (mesensefalon) terus tumbuh dan pada orang dewasa disebut
otak tengah.
3. Otak belakang (rombensefalon) terbagi menjadi dua subdivisi :
metensefalon dan mielensefalon. Metensefalon berubah menjadi batang
otak(pons)danserebelum. Mielensefalon menjadi medulla oblongata.
Rongga pada tabung saraf tidak berubah dan berkembang menjadi
ventrikel otak dan kanal sentral medulla spinalis.

6

a) Perkembangan otak
Otak manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengkonsumsi
25% oksigen dan menerima 1,5% curah jantung.
Bagian cranial pada tabung saraf membentuk tiga pembesaran (vesikel)
yang berdiferensiasi untuk membentuk otak : otak depan, otak tengah dan
otak belakang.
b) Lapisan pelindung otak terdiri dari rangka tulang bagian luar dan tiga
lapisan jaringan ikat yang disebut meninges. Lapisan meningeal terdiri
dari pia meter, lapisan araknoid dan durameter.

Gambar 2.4: Lapisan-lapisan otak.

Pia meter
adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, serta melekat erat pada otak.
Lapisan piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh
darah kecil yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak.
Lapisan ini melekat erat dengan jaringan otak dan mengikuti gyrus dari
otak. Ruangan diantara arakhnoid dan piameter disebut sub arakhnoid.
Pada reaksi radang ruangan ini berisi sel radang. Disini mengalir cairan
serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang.

7

Lapisan araknoid
Disebut juga selaput otak, merupakan selaput halus yang memisahkan
durameter dengan piameter, membentuk sebuah kantung atau balon berisi
cairan otak yang meliputi seluruh susunan saraf pusat. Ruangan diantara
durameter dan arakhnoid disebut ruangan subdural yang berisi sedikit
cairan jernih menyerupai getah bening. Pada ruangan ini terdapat
pembuluh darah arteri dan vena yang menghubungkan sistem otak dengan
meningen serta dipenuhi oleh cairan serebrospinal. terletak di bagian
eksternal pia meter dan mengandung sedikit pembuluh darah. Runga
araknoid memisahkan lapisan araknoid dari piameter dan mengandung
cairan cerebrospinalis, pembuluh darah serta jaringan penghubung serta
selaput yang mempertahankan posisi araknoid terhadap piameter di
bawahnya.
Durameter
Merupakan lapisan yang tebal dan terluar. Lapisan ini dibentuk dari
jaringan ikat fibrous dan terdiri dari dua lapisan. Kedua lapisan ini melakat
dengan rapat, kecuali sepanjang tempat tempat tertentu, terpisah dan
membentuk sinus-sinus venosus. Lapisan endosteal sebenarnya meru[akan
lapisan periosteum yang menutupi permukaan dalam tulang cranium.
Lapisan meningeal merupakan lapisan durameter yang sebenarnya, sering
disebut juga dengan cranial durameter. Lapisna meningeal ini terdiri atas
jaringan fibrous padat dan kuat yang membungkus otak dan melanjutkan
menjadi durameter spinalis setelah melewati foramen magnum yang
terakhir sampai segmen kedua dari os sacrum.
Lapisan meningeal membentuk septum ke dalam, membagi rongga
cranium menjadi ruang-ruang yang saling berhubungan dengan bebas dan
menampung bagian-bagian otak. Fungsi septum ini adalah untuk menahan
pergeseran otak. Adapun empat septum itu antara lain:
Falx cerebri adalah lipatan durameter berbentuk bulan sabit yang
terletak pada garis tengah diantara kedua hemisfer cerebri. Ujung
bagian anterior melekat padacrista galli. Bagian posterior melebar,
menyatu dengan permukaan atas tentorium cerebelli.
8

Tentorium cerebelli adalah lipatan durameter berbentuk bulan sabit
yang menutupi fossa crania posterior. Septum ini menutupi permukaan
atas cerebellum dan menopang lobus occipitalis cerebri.
Falx cerebelli adalah lipatan durameter yang melekat pada
protuberantia occipitalis interna.
Diapharma sellae adalah lipatan sirkuler kecil dari durameter, yang
menutupis ella turcica dan fossa pituitary pada os sphenoidalis.
Diapharma ini memisahkan pituitary gland dari hypothalamus dan
chiasma opticum. Pada bagian tengah terdapat lubang yang dilalui
oleh tangkai hypophyse.
Pada pemisahan dua lapisan durameter ini, terdapat sinus duramatris yang
berisidarah vena. Sinus venosus/duramatris ini menerima darah dari
drainase vena padaotak dan mengalir menuju vena jugularis interna.
Dinding dari sinus-sinus ini dibatasioleh endothelium. Sinus pada calvaria
yaitu sinus sagitalis superior. Sinus sagitalisinferior, sinus transverses dan
sinus sigmoidea. Sinus pada basis crania antara lain:sinus occipitalis, sinus
sphenoidalis, sinus cavernosus, dan sinus petrosus.Pada lapisan durameter ini
terdapat banyak cabang-cabang pebuluh darah yang berasal dari arteri carotis interna, a.
maxilaris, a. pharyngeus ascendens,a. occipitalisdan a.vertebralis. Dari sudut klinis,
yang terpenting adalah a. meningea media (cabangdari a.maxillaris) karena
arteri ini umumnya sering pecah pada keadaan traumacapitis. Pada durameter
terdapat banyak ujung-ujung saraf sensorik, dan peka terhadapa rgangan sehingga
jika terjadi stimulasi pada ujung saraf ini dapatmenimbulkan sakit kepala
yang hebat.
c) Cairan Serebrospinalis
Cairan serebrospinal yang berada di ruang subarakhnoid merupakan
salah satu proteksi untuk melindungi jaringan otak dan medulla spinalis
terhadap trauma atau gangguan dari luar.
Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml, volume
otak sekitar 1400 ml, volume cairan serebrospinal 52-162 ml (rata- rata 104 ml)
dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari cairan, baik
ekstra sel maupun intra sel.
9

Rata-rata cairan serebrospinal dibentuk sebanyak 0,35 ml/menit atau
500 ml/hari, sedangkan total volume cairan serebrospinal berkisar 75-150ml
dalam sewaktu. Ini merupakan suatu kegiatan dinamis, berupa
pembentukan, sirkulasi dan absorpsi. Untuk mempertahankan jumlah cairan
serebrospinal tetap dalam sewaktu, maka cairan serebrospinal diganti 4-5kali
dalam sehari. Perubahan dalam cairan serebrospinal dapat merupakan
proses dasar patologi suatu kelainan klinik. Pemeriksaan cairan serebrospinal
sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit-penyakit neurologi.
Selain itu juga untuk evaluasi pengobatan dan perjalanan penyakit,serta
menentukan prognosa penyakit. Pemeriksaan cairan serebrospinal adalah
suatu tindakan yang aman, tidak mahal dan cepat untuk menetapkan diagnosa,
mengidentifikasi organism penyebab serta dapat untuk melakukan test
sensitivitas antibiotika. Cairan serebrospinalis mengelilingi ruang sub
araknoid di sekitar otak dan medulla spinalis. Cairan ini juga mengisi
ventrikel dalam otak. Cairan cerebrospinalis menyerupai plasma darah dan cairan
interstisial, tetapi tidak mengandung protein. Cairan serebrospinalis dihasilkan
oleh plesus koroid dan sekresi oleh sel-sel ependimal yang mengitari
pembuluh darah serebral dan melapisi kanal sentral medulla spinalis. Fungsi
cairan cerebrospinalis adalah sebagai bantalan untuk pemeriksaan lunak otak dan
medulla spinalis, juga berperan sebagai media pertukaran nutrient dan zat
buangan antara darah dan otak serta medulla spinalis.
d) Serebrum
Serebrum tersusun dari dua hemisfer serebral, yang membentuk bagian
terbesar otak. Koterks serebral terdiri dari 6 lapisan sel dan serabut saraf.
Ventrikel I dan II (ventrikel lateral) terletak dalam hemisfer serebral.
Korpus kolosum yang terdiri dari serabut termielinisasi menyatukan kedua
hemisfer. Fisura dan sulkus. Setiap hemisfer dibagi oleh fisura dan sulkus menjadi
4 lobus (frontal, paritetal, oksipital dan temporal) yang dinamakan sesuai tempat
tulangnya berada.
Fisura longitudinal membagi serebrum menjadi hemisfer kiri dan
kanan
Fisura transversal memisahkan hemisfer serebral dari serebelum
10

Sulkus pusat / fisura Rolando memisahkan lobus frontal dari lobus
parietal.
Sulkus lateral / fisura Sylvius memisahkan lobus frontal dan
temporal.
Sulkus parieto-oksipital memisahkan lobus parietal dan oksipital.
Girus. Permukaan hemisfer serebral memiliki semacam konvolusi yang disebut
girus.
e) Area Fungsional Korteks Serebri
Area motorik primer pada korteks
Area primer terdapat dalam girus presentral. Disini neuron
mengendalikan kontraksi volunteer otot rangka. Area pramotorik
korteks terletak tepat di sisi anterior girus presentral. Neuron
mengendalikan aktivitas motorik yang terlatih dan berulang seperti
mengetik. Area broca terletak di sisi anterior area premotorik pada
tepi bawahnya.
Area sensorik korteks
Terdiri dari area sensorik primer, area visual primer, area auditori
primer, area olfaktori primer dan area pengecap primer (gustatory).
Area asosiasitraktus serebral
Terdiri area asosiasi frontal, area asosiasi somatic, area asosiasi
visual, area wicaraWernicke.
Ganglia basal
Adalah kepulauan substansi abu-abu yang terletak jauh di dalam
substansi putih
f) Diensefalon
Terletak di antara serebrum dan otak tengah serta tersembunyi di balik
hemisfer serebral, kecuali pada sisi basal.
TALAMUS Terdiri dari dua massa oval (lebar 1 cm dan
panjang 3 cm) substansi abu-abu yang sebagian tertutup
substansi putih. Masing-masing massa menonjol keluar untuk
membentuk sisi dinding ventrikel ketiga.
11

HIPOTALAMUS Terletak di didi inferior thalamus dan
membentuk dasar serta bagian bawah sisi dinding ventrikel ketiga.
Hipotalamus berperan penting dalam pengendalian aktivitas SSO
yang melakukan fungsi vegetatif penting untuk kehidupan, seperti
pengaturan frekwensi jantung, tekanan darah, suhu tubuh,
keseimbangan air, selera makan, saluranpencernaan dan aktivitas
seksual. Hipotalamus juga berperan sebagai pusat otak untuk
emosi seperti kesenangan, nyeri, kegembiraan dan kemarahan.
Hipotalamus memproduksi hormon yang mengatur pelepasan atau
inhibisi hormon kelenjar hipofise sehingga mempengaruhi
keseluruhan sistem endokrin.
EPITALAMUS Membentuk langit-langit tipis ventrikel ketiga.
Suatu massa berukuran kecil, badan pineal yang mungkin
memiliki fungsi endokrin, menjulur dari ujung posterior
epitalamus.
g) Sistim Limbik
Terdiri dari sekelompok struktur dalam serebrum dan diensefalon yang
terlibat dalam aktivitas emosional dan terutama aktivitas perilaku tak sadar.
Girus singulum, girus hipokampus dan lobus pitiformis merupakan bagian sistem
limbic dalam korteks serebral.
h) Otak Tengah
Merupakan bagian otak pendek dan terkontriksi yang menghubungkan pons
dan serebelum dengan serebrum dan berfungsi sebagai jalur penghantar dan
pusat refleks. Otak tengah, pons dan medulla oblongata disebut sebagai
batang otak.
i) Pons
Hampir semuanya terdiri dari substansi putih. Pons menghubungkan
medulla yang panjang dengan berbagai bagian otak melalui pedunkulus serebral.
Pusat respirasi terletak dalam pons dan mengatur frekwensi dan kedalaman
pernapasan. Nuclei saraf cranial V, VI dan VII terletak dalam pons, yang juga
menerima informasi dari saraf cranial VIII

12

j) Serebelum
Terletak di sisi inferior pons dan merupakan bagian terbesar kedua otak.
Terdiri dari bagian sentral terkontriksi, vermis dan dua massa lateral, hemisfer
serebelar. Serebelum bertanggung jawab untuk mengkoordinasi dan
mengendalikan ketepatan gerakan otot dengan baik. Bagian ini memastikan
bahwa gerakan yang dicetuskan di suatu tempat di SSP berlangsung dengan halus
bukannya mendadak dan tidak terkordinasi. Serebelum juga berfungsi untuk
mempertahankan postur.
k) Medulla Oblongata
Panjangnya sekitar 2,5 cm dan menjulur dari pons sampai medulla spinalis
dan terus memanjang. Bagian ini berakhir pada area foramen magnum tengkoral.
Pusat medulla adalah nuclei yang berperan dalam pengendalian fungsi seperti
frekwensi jantung, tekanan darah, pernapasan, batuk, menelan dan muntah. Nuclei
yang merupakan asal saraf cranial IX, X, XI dan XII terletak di dalam medulla.
l) Formasi Retikular
Formasi retukular atau sistem aktivasi reticular adalah jarring-jaring
serabut saraf dan badan sel yang tersebar di keseluruhan bagian medulla
oblongata,pons dan otak tengah. Sistem ini penting untuk memicu dan
mempertahankan kewaspadaan serta kesadaran.
2.2.2 Medula Spinalis
a. Fungsi Medulla Spinalis
Medulla spinalis mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam tubuh.
Bagian ini mentransmisi impuls ke dan dari otak melalui traktus asenden
dan desenden.
b. Struktur Umum
Medulla spinalis berbentuk silinder berongga dan agak pipih. Walaupun
diameter medulla spinalis bervariasi, diameter struktur ini biasanya sekitar
ukuran jari kelingking. Panjang rata-rata 42 cm. Dua pembesaran,
pembesaran lumbal dan serviks menandai sisi keluar saraf spinal besar
yang mensuplai lengan dan tungkai. Tiga puluh satu pasang (31) saraf
spinal keluar dari area urutan korda melalui foramina intervertebral.

13

c. Struktur Internal
Terdiri dari sebuah inti substansi abu-abu yang diselubungi substansi
putih. Kanal sentral berukuran kecil dikelilingi oleh substansi abu-abu
bentuknya seperti huruf H. Batang atas dan bawah huruf H disebut tanduk
atau kolumna dan mengandung badan sel, dendrite asosiasi dan neuron
eferen serta akson tidak termielinisasi. Tanduk dorsal adalah batang
vertical atas substansi abu-abu. Tanduk ventral adalah batang vertical
bawah. Tanduk lateral adalah protrusi di antara tanduk posterior dan
anterior pada area toraks dan lumbal sistem saraf perifer. Komisura abu-
abu menghubungkan substansi abu-abu di sisi kiri dan kanan medulla
spinalis. Setiap saraf spinal memiliki satu radiks dorsal dan satu radiks
ventral.
d. Traktus Spinal
Substansi putih korda yang terdiri dari akson termielinisasi, dibagi menjadi
funikulus anterior,posterior dan lateral. Dalam funikulus terdapat fasiukulu
atau traktus. Traktus diberi nama sesuai dengan lokasi, asal dan tujuannya.

2.3 Sistem Saraf Perifer
Sistem ini terdiri dari jaringan saraf yang berada di bagian luar otak dan
medulla spinalis. Sistem ini juga mencakup saraf cranial yang berasal dari otak ;
saraf spinal, yang berasal dari medulla spinalis dan ganglia serta reseptor sensorik
yang berhubungan.










14



2.3.1 Saraf Kranial

Gambar 2.5: Sistem syaraf manusia

Dua belas pasang saraf cranial muncul dari berbagai bagian batang otak.
Beberapa saraf cranial hanya tersusun dari serabut sensorik, tetapi sebagaian
besar tersusun dari serabut sensorik dan serabut motorik.







15

Tabel 2.1: Syaraf cranial.
1. OLFAKTORIUS
( CN I )
Merupakan saraf sensorik. Saraf ini berasal
dari epithelium olfaktori mukosa nasal.
Berkas serabut sensorik mengarah ke
bulbus olfaktori dan menjalar melalui
traktus olfaktori sampai ke ujung lobus
temporal (girus olfaktori), tempat persepsi
indera penciuman berada.
2. OPTIKUS ( CN II ) Merupakan saraf sensorik. Impuls dari
batang dan kerucut retina di bawa ke badan
sel akson yang membentuk saraf optic.
Setiap saraf optic keluar dari bola mata
pada bintik buta dan masuk ke rongga
cranial melaui foramen optic. Seluruh
serabut memanjang saat traktus optic,
bersinapsis pada sisi lateral nuclei
genikulasi thalamus dan menonjol ke atas
sampai ke area visual lobus oksipital untuk
persepsi indera penglihatan.
3. OKULOMOTORIUS
( CN III )
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf motorik. Neuron
motorik berasal dari otak tengah dan
membawa impuls ke seluruh otot bola
mata (kecuali otot oblik superior dan
rektus lateral), ke otot yang membuka
kelopak mata dan ke otot polos tertentu
pada mata. Serabut sensorik membawa
informasi indera otot (kesadaran
perioperatif) dari otot mata yang
terinervasi ke otak.
16


4. TROCHLEAR
( CN IV )

Adalah saraf gabungan , tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf motorik dan
merupakan saraf terkecil dalam saraf
cranial. Neuron motorik berasal dari langit-
langit otak tengah dan membawa impuls ke
otot oblik superior bola mata. Serabut
sensorik dari spindle otot menyampaikan
informasi indera otot dari otot oblik
superior ke otak.
5. TRIGEMINAL
( CN V )

Saraf cranial terbesar, merupakan saraf
gabungan tetapi sebagian besar terdiri dari
saraf sensorik. Bagian ini membentuk saraf
sensorik utama pada wajah dan rongga
nasal serta rongga oral. Neuron motorik
berasal dari pons dan menginervasi otot
mastikasi kecuali otot buksinator. Badan
sel neuron sensorik terletak dalam ganglia
17

trigeminal. Serabut ini bercabang ke
arah distal menjadi 3 divisi :
Cabang optalmik membawa
informasi dari kelopak mata, bola
mata, kelenjar air mata, sisi hidung,
rongga nasal dan kulit dahi serta
kepala.
Cabang maksilar membawa
informasi dari kulit wajah, rongga
oral (gigi atas, gusi dan bibir) dan
palatum.
Cabang mandibular
membawa informasi dari gigi
bawah, gusi, bibir, kulit rahang dan
area temporal kulit kepala.

6. ABDUSCENT
( CN VI )

Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf motorik. Neuron
motorik berasal dari sebuah nucleus pada
pons yang menginervasi otot rektus lateral
mata. Serabut sensorik membawa pesan
proprioseptif dari otot rektus lateral ke
pons.

18


7. FACIALIS
( CN VII )

Merupakan saraf gabungan. Meuron
motorik terletak dalam nuclei pons.
Neuron ini menginervasi otot ekspresi
wajah, termasuk kelenjar air mata dan
kelenjar saliva. Neuron sensorik membawa
informasi dari reseptor pengecap pada dua
pertiga bagian anterior lidah.

8.
VESTIBULOKOKLEARIS
( CN VIII )

Hanya terdiri dari saraf sensorik dan
memiliki dua divisi. Cabang koklear atau
auditori menyampaikan informasi dari
reseptor untuk indera pendengaran dalam
organ korti telinga dalam ke nuclei koklear
pada medulla, ke kolikuli inferior, ke
bagian medial nuclei genikulasi pada
thalamus dan kemudian ke area auditori
pada lobus temporal. Cabang vestibular
membawa informasi yang berkaitan
dengan ekuilibrium dan orientasi kepala
terhadap ruang yang diterima dari reseptor
19

sensorik pada telinga dalam.

9. GLOSOFARINGEAL
( CN IX )

Merupakan saraf gabungan. Neuron
motorik berawal dari medulla dan
menginervasi otot untuk wicara dan
menelan serta kelenjar saliva parotid.
Neuron sensorik membawa informasi yang
berkaitan dengan rasa dari sepertiga bagian
posterior lidah dan sensasi umum dari
faring dan laring ; neuron ini juga
membawa informasi mengenai tekanan
darah dari reseptor sensorik dalam
pembuluh darah tertentu.


10. SARAF VAGUS
( CN X )
Merupakan saraf gabungan. Neuron
motorik berasal dari dalam medulla dan
20

menginervasi hampir semua organ toraks
dan abdomen. Neuron sensorik membawa
informasi dari faring, laring, trakea,
esophagus, jantung dan visera abdomen ke
medulla dan pons.

11. AKSESORI SPINAL
( CN XI )

Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian
besar terdiri dari serabut motorik. Neuron
motorik berasal dari dua area : bagian
cranial berawal dari medulla dan
menginervasi otot volunteer faring dan
laring, bagian spinal muncul dari medulla
spinalis serviks dan menginervasi otot
trapezius dan sternokleidomastoideus.
Neuron sensorik membawa informasi dari
otot yang sama yang terinervasi oleh saraf
motorik ; misalnya otot laring, faring,
trapezius dan otot sternokleidomastoid.

21

12.SARAF HIPOGLOSAL
( CN XII )

Termasuk saraf gabungan, tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf motorik. Neuron
motorik berawal dari medulla dan
mensuplai otot lidah. Neuron sensorik
membawa informasi dari spindel otot di
lidah.


Tabel 2.2: Syaraf dan fungsi

22

2.3.2 Saraf Spinal

Gambar 2.6: Syaraf spinal
31 pasang saraf spinal berawal dari korda melalui radiks dorsal
(posterior) dan ventral (anterior). Pada bagian distal radiks dorsal ganglion, dua
radiks bergabung membentuk satu saraf spinal. Semua saraf tersebut adalah
saraf gabungan (motorik dan sensorik), membawa informasi ke korda melalui
neuron aferen dan meninggalkan korda melalui neuron eferen. Saraf spinal diberi
nama dan angka sesuai dengan regia kolumna bertebra tempat munculnya saraf
tersebut.
Saraf serviks ; 8 pasang, C1 C8.
Saraf toraks ; 12 pasang, T1 T12.
Saraf lumbal ; 5 pasang, L1 L5.
Saraf sacral ; 5 pasang, S1 S5.
Saraf koksigis, 1 pasang.
Setelah saraf spinal meninggalkan korda melalui foramen intervertebral,
saraf kemudian bercabang menjadi empat divisi yaitu cabang meningeal,
ramus dorsal, cabang ventral dan cabang viseral. Pleksus adalah jarring-jaring
23

serabut saraf yang terbentuk dari ramus ventral seluruh saraf spinal, kecuali
TI dan TII yang merupakan awal saraf interkostal.

2.3.3 Sistem Saraf Otonom

Gambar 2.7: Sistem syaraf otonom.
SSO merupakan sistem motorik eferen visceral. Sistem ini menginervasi
jantung; seluruh otot polos, seperti pada pembuluh darah dan visera serta kelenjar-
kelenjar. SSO tidak memiliki input volunteer ; walaupun demikian, sistem ini
dikendalikan oleh pusat dalam hipotalamus, medulla dan korteks serebral serta
pusat tambahan pada formasi reticular batang otak. Serabut aferen sensorik
(visera) menyampaikan sensasi nyeri atau rasa kenyang dan pesan-pesan yang
berkaitan dengan frekwensi jantung, tekanan darah dan pernapasan, yang di bawa
ke SSP di sepanjang jalur yang sama dengan jalur serabut saraf motorik viseral
pada SSO. Divisi SSO memiliki 2 divisi yaitu divisi simpatis dan divisi
parasimpatis. Sebagian besar organ yang diinervasi oleh SSO menerima inervasi
24

ganda dari saraf yang berasal dari kedua divisi. Divisi simpatis dan parasimpatis
pada SSO secara anatomis berbeda dan perannya antagonis.
DIVISI SIMPATIS / TORAKOLUMBAL
Memiliki satu neuron preganglionik pendek dan stu neuron postganglionic
panjang.Badan sel neuron preganglionik terletak pada tanduk lateral
substansi abu-abu dalam segemen toraks dan lumbal bagian atas medulla
spinalis.
DIVISI PARA SIMPATIS / KRANIOSAKRAL
Memiliki neuron preganglionik panjang yang menjulur mendekati organ
yang terinervasi dan memiliki serabut postganglionic pendek. Badan sel
neuron terletak dalam nuclei batang otak dan keluar melalui CN III, VII,
IX, X, dan saraf XI, juga dalam substansi abu-abu lateral pada segmen
sacral kedua, ketiga dan keempat medulla spinalis dan keluar melalui
radiks ventral.
NEUROTRANSMITER SSO
Asetilkolin dilepas oleh serabut preganglionik simpatis dan serabut
preganglionik parasimpatis yang disebut serabut kolinergik. Norepinefrin
dilepas oleh serabut post ganglionik simpatis, yang disebut serabut
adrenergic. Norepinefrin dan substansi yang berkaitan, epinefrin juga
dilepas oleh medulla adrenal.
2.4 Vaskularisasi Otak
Jantung memompa oksigen dan darah yang sarat akan gizi ke wajah, otak,
dan kulit kepala melalui dua set pembuluh utama: arteri karotis dan arteri
vertebralis. Vena leher dan lainnya membawa darah keluar dari otak.
Banyak darah yang perlu disediakan untuk memelihara otak yang selalu
aktif. Aliran darah tidak mutlak seragam namun selalu dalam jumlah besar.
Kerusakan irreversible pada otak terjadi apabila otak kehilangan sirkulasi
darahnya untuk waktu lebih dari beberapa menit. Secara pradoksis, sirkulasi darah
memberikan batas keselamatan fisiologis yang begitu kecil sehingga kesadaran
akan hilang jika aliran darah terputus selama kira-kira 5 detik.
25

Otak memerlukan kira-kira seperlima jumlah darah yang dipompa oleh
jantung (sepertiga curah jantung bagian kiri), sebab otak menghabiskan 20% dari
jumlah oksigen yang digunakan tubuh (pada anak kecil sampai sebanyak 50 %).
Setetes darah kira-kira memerlukan waktu 7 detik untuk mengalir melalui otak
dari arteri karotis interna ke vena jugularis interna. Secara kasar 800 ml darah
mengalir melalui otak setiap menit, dengan 75 ml yang berada dalam otak setiap
saat. Kebutuhan akan aliran darah yang sebesar itu ialah oleh karena otak
memiliki hanya sedikit cadangan metabolik dan memperoleh energinya hampir
semata-mata dari glukosa gula. Oleh karena otak normal tidak pernah istirahat,
maka persediaan oksigen dan gukosa harus dipertahankan oleh aliran darah yang
konstan, karena tuntutan otak tetap sama baik pada saat orang istirahat, tidur,
berpikir, atau melamun.
Pada manusia peranan susunan saraf otonom murni terhadap vasodilatasi
otak relatif kecil. Penyesuaian yang halus terhadap aliran darah oleh CO
2
dan
metabolit lain merupakan cara-cara yang digunakan otak untuk menjamin bahwa
aliran darahnya kuat dan mencukupi dalam hubungan dengan tekanan darah yag
normal. Kepadatan pembuluh dan alira darah tidak sama dalam daerah-daerah
yang berbeda pada otak. Organisme mempunyai beberapa garis pertahanan
sehingga otak dapat memperoleh oksigen yang dibutuhkannya :
1. Reseptor tekanan dalam sinus karotis dan reseptor kimia dalam badan
karotis pada bifurkasi arteri karotis komunis diintegrasikan ke dalam
refleks-refleks melalui pusat pernafasan dan pusat kardiovaskulus dalam
medulla oblongata, reseptor-reseptor itu berfungsi untuk mempertahankan
aliran darah yang konstan ke otak. Reseptor tekanan (baroreseptor) juga
terdapat dalam lengkung aorta.
2. Kontrol autoregulasi (swa-tata) aliran darah ke otak tercapai melalui
respon otot-otot polos didalam pembuluh otak terhadap tekanan darah
pada pembuluh-pembuluh itu. Jika tekanan turun, otot polos menjadi
kendur, pembuluh melebar dan resistensi terhadap aliran darah berkurang.
Apabila tekanan naik, otot polos akan berkontraksi dan resistensi terhadap
aliran darah bertambah. Apabila tekanan intraknium bertambah (kenaikan
tekanan cairan serebrospinal) pembuluh bereaksi dengan pelebaran.
26

3. Sangat penting ialah kontrol metabolik aliran darah ke otak. Pembuluh
serebrum melebar jika kadar CO
2
tinggi dan kadar O
2
rendah. Pembuluh
itu berkontraksi jika kadar CO
2
rendah dan kadar O
2
tinggi.
4. Jika aliran darah melalui otak berkurang maka otak mengimbanginya
dengan mengambil lebih banyak O
2
dari pada biasanya dari O
2
yang
tersedia dalam darah.
5. Turunnya tekanan dengan hebat akan menimbulkan refleks ischemic
serebrum. Neuron dalam medulla oblongata bereaksi dengan merangsang
impuls susunan saraf simpatik ke jantung yang pada gilirannya
menambah aliran darah dari jantung ke otak.
2.4.1 Aliran Arteri Otak
Aliran darah arteri ke otak pada dasarnya berasal dari dua pasang batang
arteri yang terletak pada dasar otak : arteri vertebral (susunan arteri vertebral)
dan arteri karotis intern (susunana karotis intern). Arteri vertebral memasuki
rongga tengkorak melalui foramen magnum dan kemudian terletak pada aspek
anterolateral medulla. Darah yang mengalir melalui susunan arteri vertebral
mengurus medulla oblongata, pons, otak tengah, bagian kaudal diensefalon,
serebelum daerah medial dan inferior lobus temporal dan oksipital, dan bagian-
bagian kecil yang bervariasi pada daerah lateral lobus temporal, parietal dan
oksipital. Arteri karotis intern memasuki dasar rongga tengkorak dan kemudian
terletak tepat lateral terhadap hipofisis pada hipotalamus. Darah yang mengalir
melalui susunan arteri karotis mengurus bagian terbesar serebrum (termasuk
bagian terbesar diensefalon) kecuali bagian yang diurus oleh susunan arteri
vertebral.
Arteri vertebral kiri dan kanan bersatu pada sambungan pons medulla
oblongata dan membentuk arteri basilar yang menuju ke darah setinggi otak
tengah. Di sini arteri itu bercabang menjadi dua buah arteri serebrum posterior.
Bagian intrakranium tiap arteri vertebral mempercabangkan arteri spinal anterior,
arteri spinal posterior, arteri serebrum inferior posterior dan cabang kecil ke
mening. Cabang-cabang arteri basilar meliputi arteri labirin (auditori intern),
arteri serebelum inferior superior. Tiap arteri serebrum posterior
memepercabangkan sejumlah pembuluh darah ke otak tengah, diensefalon dan
27

serebrum posterior mengurus medulla oblongata, pons dan otak tengah menurut
pola yang secara konsepsual dapat diringkaskan sebagai berikut : cabang-cabang
paramedian disebarkan ke zona medial pada kedua sisi bidang sagital tengah,
cabang-cabang sirkum ferensial panjang ke zone posterolateral dan ke serebelum.
Dua buah pembuluh kecil dari arteri vertebral bergabung untuk membentuk arteri
spinal anterior. Arteri ini mengurus zona median dimana terdapat piramis,
lemniskus medial, fasikul longitudinal medial, nukleus dan saraf hipoglosus,
bagian-bagian kaudal nucleus motorik dorsal saraf vagus dan nucleus solitary.
Tiap arteri spinal posterior mengurus daerah posterior medulla oblongata bagian
bawah dimana terdapat nucleus dan fasikul grasil dan kuneat. Tiap arteri
serebelum inerior posterior mengurus zona lateral yang dorsal terhadap olive
inferior di mana terdapat traktus trigeminus spinal, nucleus ambigus nukleus
motorik dorsal saraf vagus dan akar-akar saraf otak XI, IX, X. Cabang
paramedian arteri basilar mengurus pons medial (dengan mengecualikan bagian
terbesar tegmentum) dimana terdapat traktus kortikospinal, kortikobulbar dan
kortikopontin serta nukleus pons. Arteri sirkum ferensial pendek dan panjang
masing-masing mengurus daerah anterolateral dan posterior pons, arteri
serebelum inferior anterior dan serebelum superior juga menyediakan pembuluh-
pembuluh. Struktur yang terletak di daerah ini meliputi lemnikus medial, fasikul
longitudinal medial, trakts spinotalamik dan spinoserebelar posterior, pedunkel
serebelar tengah dan superior, formasi retikuler dan beberapa nucleus saraf otak.
arteri labirin beergabung dengan saraf otak VII dan VIII dan di distribusikan ke
pendengaran dalam.
Serebelum diurus oleh arteri serebelum inferior posterior, serebelum
inferior anterior dan serebelum superior. Anyaman pembuluh didalam otak tengah
tersusun sesuai dengan pola dasar pada batang otak yaitu dengan cabang-cabang
paramedian, sirkumferensial pendek dan sirkumferensial panjang. Pembuluh
darah mencakup arteri serebrum posterior, komunikan posterior dan serebelum
superior. Pada posisi proksimalnya arteri serebrum posterior mempunyai cabang-
cabang yang setelah menembus substansi perforate posterior, mengurus otak
tengah bagian atas dan thalamus posterior. Arteri koroi posterior ialah cabang
yang menuju ke pleksus koroid ventrikel lateral. Cabang-cabang distalnya
28

mengurus korteks dan zat putih pada aspek medial dan bagian-bagian kecil pada
aspek lateral lobus oksipital dan temporal. Tiap arteri karotis interna menuju ke
atas ke dasar tengkorak, berjalan melalui kanal karotis dan kemudian melengkung
berbentuk sigmoid (melengkung ke atas, ke belakang dank ke atas) dekat pada
dinding medial sinus kavernosus. Setelah melalui sinus, arteri ini bercabang di
daerah substansi perforata anterior menjadi arteri serebrum anterior dan tengah.
Bentuk sigmoid arteri di dalam sinus, di kenal sebagai sifon karotis, dan agaknya
menyebabkan ketahanan arteri.
Arteri karotis interna mempercabangkan arteri oftalmik, komunikan
posterior dan koroid anterior. Arteri oftalmik mempunyai cabang yang penting
yakni arteri sentral retina; arteri akhir ini berjalan sepanjang saraf optik dan
kemudian di dalam pusat saraf ke retina. Beberapa cabang lain dari oftalmik
merupakan komponen anastomosis oftalmik dengan cabang-cabang dari arteri
karotis eksterna.













Gambar 2.8 : Cerebral Arteri

Arteri-arteri besar dan cabang-cabangnya pada permukaan otak di kenal
sebagai arteri superficial atau penyalur (conducting). Cabang arteri yang
menyusup ke dalam substansi otak, merupakan pembuluh kecil yang dikenal
29

sebagai arteri penetrans atau nutrisi. Secara kasar, pembuluh-pembuluh itu
bercabang tegak lurus dari arteri superficial dan berlanjut melalui otak sebagai
lengkung-lengkung yang lembut menyerupai siluet suatu pohon elm. Di dalam
otak terdapat hubungan anastomis yang luas. Anastomosis antara cabang-cabang
besar arteri superfisialis biasanya efektif secara fisiologis sedemikian hingga
oklusi suatu pembuluh tidak usah berakibat gangguan pada penyediaan darah
untuk jaringan saraf. Banyak sekali anastomosis terdapat antara daerah aliran
kapiler arteri-arteri nutrisi yang berdekatan dan diantara peredaran darah
superfisial dengan yang dalam.
Umumnya oklusi suatu arteri menimbulkan lesi otak yang biasanya kurang
luas dari pada daerah yang diurus arteri itu. Arteri komunikan anterior dari
lingkaran arteri serebrum berperan sebagai saluran anastomosis antara kedua
hemisfer serebrum. Anastomosis ini digunakan oleh ahli neuroradiologi untuk
dengan angiografi, membandingkan pola arteri kedua arteri serebrum tengah.
Apabila aliran karotis ke otak terbendung (dengan tekanan pada leher) pada sisi
yang berlawanan dengan sisi tempat tusukan karotis dilakukan untuk
menyuntikkan substansi radiopak, maka pengisian silang arteri serebrum tengah
pada sisi yag terbendung, dengan substansi radiopak akan berlangsung melalui
arteri komunikan anterior.
Arteri oftalmik dapat berperan sebagai saluran anastomosis antara sirkulasi
karotis interna ke otak dan sirkulasi karotis ekstern ke wajah dan kulit pala
(jangat). Anastomosis oftalmik, arteri serebrum anterior dan lingkaran arteri
serebrum pada keadaan penyakit obstruksi susunan arteri karotis interna. Satu
hemisfer seluruhnya dapat diberikan darah secara adekuat melalui anastomosis
oftalmik setelah terjadi oklusi berangsur pada arteri karotis interna.
2.4.2 Susunan vena otak
Susunan vena batang otak dan serebelum secara kasar sesuai dengan aliran
arteri. Umumnya percabangan vena mempunyai cabang-cabang yang pendek dan
kekar yang memisahkan diri dengan sudut siku-siku, menyerupai silhuet pohon
oak. Anastomosis vena yang dalam denga vena yang superfisial ialah ekstensif
dan efektif. Vena-vena otak menguras ke dalam pleksus vena superficial dan sinus
dura. Sinus venosa dura ialah saluran-saluran tanpa katub yang terletak di antara
30

kedua lapis dura mater, yaitu lapis mening bagian luar. Bagian terbesar darah vena
pada otak akirnya mengalir ke dasar tengkorak dan ke dalam vena jugular interna
pada leher.
Vena serebrum diklasifikasikan dalam kelompok sererum superficial dan
kelompok serebrum dalam. Banyak anastomosis terjadi antara kedua kelompok itu
melalui anyaman pembuluh di dalam substansi otak. Darah dari korteks pada
aspek medial dan lateral atas serebrum mengalir ke sinus (dura) sagital (dura
superior) yang mengalirkan darah ke daerah oksipital (konfluens sinus) dan
kemudian ke sinus lintang (tranversus) kanan dan sinus sigmoid ke dalam vena
jugularis interna kanan. Darah dari daerah-daerah korteks serebrum lain menguras
ke sinus dura lain di sekitar vena dan akhirnya ke dalam vena jugular intern.
Pembuluh-pembuluh itu bergabung di sekitar badan pineal untuk membentuk
vena besar serebrum (galen). Darah kemudian mengalir berturut-turut melalui
sinus lurus (rektus) dura, konfluens sinus, sinus lateral kiri dan sinus sigmoid ke
vena jugular interna kiri. Darah dari vena superficial cenderung berkuras melalui
vena jugular kanan dan darah dari vena dalam serebrum cenderung berkuras
melalui vena jugular kiri pada leher.
Sinus kavernosus yang mirip sepon merupakan anyaman saluran vena
bilateral pada kedua sisi badan sphenoid di sebelah samping sella tursika. Sinus
interkavernosus yang mengelilingi hipofisis dan pleksus vena basilar di belakang
sella tursika memperhubungkan ke dua sinus kavernosus lewat garis tengah.
Sejumlah saluran vena berhubunga dengan sinus-sinus kavernosus. Sungguhpun
di dalam saluran-saluran vena itu darah dapat mengalir dalam dua arah, namun
terdapat suatu pola umum, pengurasan. Vena oftalmik dari orbita, sinus
sfenoparietal (yang berhubungan dengan vena mening) dan vena serebrum tengah
menguras ke dalam sinus kavernosus. Beberapa struktur penting berhubungan
dengan sinus kavernosus. Arteri karotis intern, pleksus simpatetik, yang
menyertainya dan saraf abdusen berjalan melalui sinus kavernosus, saraf
okulomotor, troklear, oftalmik dan maksilar berjalan tertanam di dalam dinding
lateral sinus kavernosus.
Beberapa sinus dura berhubungan dengan vena yang superficial pada
tengkorak lewat vena emisar. Vena-vena itu berperan seagai katup tekanan
31

apabila tekanan intrakranium meningkat dan juga sebagai jalan untuk penyebaran
infeksi ke dalam rongga tengkorak (infeksi hidung, lewat vena emisar yang
terdapat tinggi di dalam hidung, dapat menyebar ke mening dan mengakibatkan
meningitis). Melalui vena emisar darah dapat mengalir dalam dua arah bergantung
pada tekanan diferensial pada vena di dalam rongga tengkorak di bandingkan
dengan yang di luar tengkorak. Beberapa vena emiser ialah (1) suatu vena frontal
yang memperhubungkan sinus sagital superior dengan vena-vena di dalam rongga
hidung, (2) vena parietal memperhubungkan sinus sagital superior dengan vena
oksipital kulit kepala, (3) vena mastoid memperhubungkan sinus sigmoid dengan
vena pasca-aurikular dan vena okspital kulit kepala, (4) vena kondilar dan
hipoglosal memperhubungkan sinus sigmoid dengan plexus vena sub oksipital,
dan (5) vena-vena yang memperhubungkan sinus kavernosus dengan vena
oftalmik dan vena faring.

2.5 Meningitis
2.5.1 Definisi Meningitis
Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges,lapisan yang
tipis/encer yang mengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung,
disebabkan oleh bakteri, virus, riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara
akut dan kronis.
1

Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus
meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus
tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang
menghirup udara tersebut.
2.5.2 Etiologi
Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas : Penumococcus,
Meningococcus, Hemophilus influenza, Staphylococcus, E.coli, Salmonella.
2

Penyebab meningitis terbagi atas beberapa golongan umur :
1. Neonatus : Eserichia coli, Streptococcus beta hemolitikus, Listeria
monositogenes
2. Anak di bawah 4 tahun : Hemofilus influenza, meningococcus, Pneumococcus.
3. Anak di atas 4 tahun dan orang dewasa : Meningococcus, Pneumococcus.
2

32

2.5.3 Anatomi Fisiologi
Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi
struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis
cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
a. Pia meter : yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum
tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat
akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid : Merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan
durameter.
c. Dura meter : Merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari
jaringan ikat tebal dan kuat.
2.5.4 Tipe Meningitis
Meningitis Kriptikokus
adalah meningitis yang disebabkan oleh jamur kriptokokus. Jamur ini bisa
masuk ke tubuh kita saat kita menghirup debu atau tahi burung yang
kering. Kriptokokus ini dapat menginfeksikan kulit, paru, dan bagian
tubuh lain. Meningitis Kriptokokus ini paling sering terjadi pada orang
dengan CD4 di bawah 100.
Diagnosis
Darah atau cairan sumsum tulang belakang dapat dites untuk kriptokokus
dengan dua cara. Tes yang disebut CRAG mencari antigen ( sebuah
protein) yang dibuat oleh kriptokokus. Tes biakan mencoba
menumbuhkan jamur kriptokokus dari contoh cairan. Tes CRAG cepat
dilakukan dan dapat memberi hasi pada hari yang sama. Tes biakan
membutuhkan waktu satu minggu atau lebih untuk menunjukkan hasil
positif. Cairan sumsum tulang belakang juga dapat dites secara cepat bila
diwarnai dengan tinta India.
Viral meningitis
Termasuk penyakit ringan. Gejalanya mirip dengan sakit flu biasa, dan
umumnya si penderita dapat sembuh sendiri. Frekuensi viral meningitis
biasanya meningkat di musim panas karena pada saat itu orang lebih
sering terpapar agen pengantar virus. Banyak virus yang bisa
33

menyebabkan viral meningitis. Antara lain virus herpes dan virus
penyebab flu perut.
Bacterial meningitis
disebabkan oleh bakteri tertentu dan merupakan penyakit yang serius.
Salah satu bakterinya adalah meningococcal bacteria. Gejalanya seperti
timbul bercak kemerahan atau kecoklatan pada kulit. Bercak ini akan
berkembang menjadi memar yang mengurangi suplai darah ke organ-
organ lain dalam tubuh dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian.
Meningitis Tuberkulosis Generalisata
Gejala : demam, mudah kesal, obstipasi, muntah- muntah, ditemukan
tanda-tanda perangsangan meningen seperti kaku kuduk, suhu badan naik
turun, nadi sangat labil/lambat, hipertensi umum, abdomen tampak
mencekung, gangguan saraf otak.
Penyebab : kuman mikobakterium tuberkulosa varian hominis.
Diagnosis : Meningitis Tuberkulosis dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan cairan otak, darah, radiologi, test tuberkulin.
1

Meningitis Purulenta
Gejala : demam tinggi, menggigil, nyeri kepala yang terus-menerus, kaku
kuduk, kesadaran menurun, mual dan muntah, hilangnya nafsu makan,
kelemahan umum, rasa nyeri pada punggung serta sendi.
Penyebab : Diplococcus pneumoniae(pneumokok), Neisseria
meningitidis(meningokok), Stretococcus haemolyticus, Staphylococcus
aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae,
Pneudomonas aeruginosa.
Diagnosis : dilakukan pemeriksaan cairan otak, antigen bakteri pada cairan
otak, darah tepi, elektrolit darah, biakan dan test kepekaan sumber infeksi,
radiologik, pemeriksaan EEG.
1

2.5.5 Manifestasi Klinis
Keluhan pertama biasanya nyeri kepala. Rasa ini dapat menjalar ke
tengkuk dan punggung. Tengkuk menjadi kaku. Kaku kuduk disebabkan oleh
mengejangnya otot-otot ekstensor tengkuk. Bila hebat, terjadi opistotonus, yaitu
34

tengkuk kaku dalam sikap kepala tertengadah dan punggung dalam sikap
hiperekstensi. Kesadaran menurun. Tanda Kernigs dan Brudzinky positif.
1

2.5.6 Gejala
Gejala meningitis tidak selalu sama, tergantung dari usia si penderita serta
virus apa yang menyebabkannya. Gejala yang paling umum adalah demam yang
tinggi, sakit kepala, pilek, mual, muntah, kejang. Setelah itu biasanya penderita
merasa sangat lelah, leher terasa pegal dan kaku, gangguan kesadaran serta
penglihatan menjadi kurang jelas. Gejala pada bayi yang terkena meningitis,
biasanya menjadi sangat rewel, muncul bercak pada kulit, tangisan lebih keras dan
nadanya tinggi, demam ringan, badan terasa kaku, dan terjadi gangguan kesadaran
seperti tangannya membuat gerakan tidak beraturan.
2

2.5.7 Diagnosis
Untuk menentukan diagnosis meningitis dilakukan tes laboratorium. Tes
ini memakai darah atau cairan sumsum tulang belakang. Cairan sumsum tulang
belakang diambil dengan proses yang disebut pungsi lumbal ( lumbar puncture
atau spinal tap). Sebuah jarum ditusukkan pada pertengahan tulang belakang, pas
di atas pinggul. Jarum menyedap contoh cairan sumsum tulang belakang. Tekanan
cairan sumsum tulang belakang juga dapat diukur. Bila tekanan terlalu tinggi,
sebagian cairan tersebut dapat disedot. Tes ini aman dan biasanya tidak terlalu
menyakitkan. Namun setelah pungsi lumbal beberapa orang mengalami sakit
kepala, yang dapat berlangsung beberapa hari.
3

2.5.8 Cara Pencegahan
Kebersihan menjadi kunci utama proses pencegahan terjangkit virus atau
bakteri penyebab meningitis. Ajarilah anak-anak dan orang-orang sekitar untuk
selalu cuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah dari kamar mandi.
Usahakan pula untuk tidak berbagi makanan, minuman atau alat makan, untuk
membantu mencegah penyebaran virus. Selain itu lengkapi juga imunisasi si kecil,
termasuk vaksin-vaksin seperti HiB, MMR, dan IPD.
2





35

2.6 Ensefalitis
Ensefalitis adalah suatu peradangan akut dari jaringan parenkim otak yang
disebabkan oleh infeksi dari berbagai macam mikroorganisme dan ditandai
dengan gejala-gejala umum dan manifestasi neurologis.
Penyakit ini dapat ditegakkan secara pasti dengan pemeriksaan
mikroskopik dari biopsi otak, tetapi dalam prakteknya di klinik, diagnosis ini
sering dibuat berdasarkan manifestasi neurologi, dan temuan epidemiologi, tanpa
pemeriksaan histopatologi.
Apabila hanya manifestasi neurologisnya saja yang memberikan kesan
adanya ensefalitis, tetapi tidak ditemukan adanya peradangan otak dari
pemeriksaan patologi anatomi, maka keadaan ini disebut sebagai ensefalopati
Jika terjadi ensefalitis, biasanya tidak hanya pada daerah otak saja yang
terkena, tapi daerah susunan saraf lainnya juga dapat terkena. Hal ini terbukti dari
istilah diagnostik yang mencerminkan keadaan tersebut, seperti
meningoensefalitis.
Mengingat bahwa ensefalitis lebih melibatkan susunan saraf pusat
dibandingkan meningitis yang hanya menimbulkan rangsangan meningeal, seperti
kaku kuduk, maka penanganan penyakit ini harus diketahui secara benar.Karena
gejala sisanya pada 20-40% penderita yang hidup adalah kelainan atau gangguan
pada kecerdasan, motoris, penglihatan, pendengaran secara menetap.
Tentunya keadaan seperti diatas tidak terjadi dengan begitu saja,tetapi hal
tersebut dapat terjadi apabila infeksi pada jaringan otak tersebut mengenai pusat-
pusat fungsi otak. Karena ensefalitis secara difus mengenai anatomi jaringan otak,
maka sukar untuk menentukan secara spesifik dari gejala klinik kira-kira bagian
otak mana saja yang terlibat proses peradangan itu.
Angka kematian untuk ensefalitis masih relatif tinggi berkisar 35-50% dari
seluruh penderita.Sedangkan yang sembuh tanpa kelainan neurologis yang nyata
dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin menderita retardasi mental dan
masalah tingkah laku.



36

2.6.1 Etiologi
Berbagai macam mikroorganisme dapat menimbulkan ensefalitis,
misalnya bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirokaeta dan virus. Penyebab yang
terpenting dan tersering ialah virus.
Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak atau reaksi
radang akut karena infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu. Berbagai jenis virus
dapat menimbulkan ensefalitis, meskipun gejala klinisnya sama sesuai dengan
jenis virus, serta epidemiologinya, diketahui berbagai macam ensefalitis virus.
2.7 Meningoencephalitis
2.7.1 Pengertian
Meningitis adalah infeksi akut pada selaput meningen (selaput yang
menutupi otak dan medula spinalis) (Nelson, 1992). Encephalitis adalah
peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus otak dan
medulla spinalis (Wilson, 1995). Meningoencephalitis adalah peradangan pada
selaput meningen dan jaringan otak.
2.7.2 Epidemiologi
Meskipun meningitis adalah suatu penyakit yang harus dilaporkan di
banyak negara, insidens sebenarnya masih belum diketahui. Meningitis bakterial
terjadi pada kira-kira 3 per 100.000 orang setiap tahunnya di negara-negara Barat.
Studi populasi secara luas memperlihatkan bahwa meningitis virus lebih sering
terjadi, sekitar 10,9 per 100.000 orang, dan lebih sering terjadi pada musim panas.
Di Brasil, angka meningitis bakterial lebih tinggi, yaitu 45,8 per 100,000 orang
setiap tahun. Afrika Sub-Sahara sudah mengalami epidemik meningitis
meningokokus yang luas selama lebih dari satu abad, sehingga disebut sabuk
meningitis. Epidemik biasanya terjadi dalam musim kering (Desember sampai
Juni), dan gelombang epidemik bisa berlangsung dua atau tiga tahun, mereda
selama musim hujan. Angka serangan dari 100800 kasus per 100.000 orang
terjadi di daerah ini yang kurang terlayani oleh pelayanan medis. Kasus-kasus ini
sebagian besar disebabkan oleh meningokokus. Epidemik terbesar yang pernah
tercatat dalam sejarah melanda seluruh wilayah ini pada 19961997, yang
menyebabkan lebih dari 250.000 kasus dan 25.000 kematian.
37

Epidemik penyakit meningokokus terjadi di daerah-daerah di mana orang
tinggal bersama untuk pertama kalinya, seperti barak tentara selama mobilisasi,
kampus perguruan tinggi
[1]
dan ziarah Haji tahunan. Walaupun pola siklus
epidemik di Afrika tidak dipahami dengan baik, beberapa faktor sudah dikaitkan
dengan perkembangan epidemik di daerah sabuk meningits. Faktor-faktor itu
termasuk: kondisi medis (kerentanan kekebalan tubuh penduduk), kondisi
demografis (perjalanan dan perpindahan penduduk dalam jumlah besar), kondisi
sosial ekonomi (penduduk yang terlalu padat dan kondisi kehidupan yang miskin),
kondisi iklim (kekeringan dan badai debu), dan infeksi konkuren (infeksi
pernafasan akut).
Ada perbedaan signifikan dalam distribusi lokal untuk kasus meningitis
bakterial. Contohnya, N. meningitides grup B dan C menyebabkan kebanyakan
penyakit di Eropa, sedangkan grup A ditemukan di Asia dan selalu menonjol di
Afrika, di mana bakteri ini menyebabkan kebanyakan epidemik besar di daerah
sabuk meningitis, yaitu sekitar 80% hingga 85% kasus meningitis meningokokus
yang didokumentasikan.
2.7.3 Etiologi
Meningitis dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau beberapa kasus yang
jarang disebabkan oleh jamur. Istilah meningitis aseptic merujuk pada meningitis
yang disebabkan oleh virus tetapi terdapat kasus yang menunjukan gambaran
yang sama yaitu pada meningitis yang disebabkan organisme lain (lyme disease,
sifilis dan tuberculosis); infeksi parameningeal (abses otak, abses epidural, dan
venous sinus empyema); pajanan zat kimia (obat NSAID, immunoglobulin
intravena); kelainan autoimn dan penyakit lainnya.
Bakteri yang sering menyebabkan meningitis bacterial sebelum
ditemukannya vaksin Hib, S.pneumoniae, dan N. meningitidis. Bakteri yang
menyebabkan meningitis neonatus adalah bakteri yang sama yang menyebabkan
sepsis neonatus.




38

Tabel 2.3: Bakteri penyebab meningitis
Golongan
usia
Bakteri yang paling
sering menyebabkan
meningitis
Bakteri yang jarang
menyebabkan meningitis
Neonatus Group B streptococcus Staphylococcus aureus
Escherichia coli Coagulase-negative staphylococci
Klebsiella Enterococcus faecalis
Enterobacter Citrobacter diversus
Salmonella
Listeria monocytogenes
Pseudomonas aeruginosa
Haemophilus influenzae types a,
b, c, d, e, f, dan nontypable
>1 bulan Streptococcus pneumonia H. influenzae type b
Neisseria meningitides Group A streptococci
Gram-negatif bacilli
L. monocytogenes

Virus yang menyebabkan meningitis pada prinsipnya adalah virus
golongan enterovirus dimana termasuk didalamnya adalah coxsackieviruses,
echovirus dan pada pasien yang tidak vaksinasi (poliovirus). Virus golongan
enterovirus dan arbovirus (St. Louis, LaCrosse, California vencephalitis viruses)
adalah golongan virus yang paling sering menyebabkan meningoencephalitis.
Selain itu virus yang dapat menyebabkan meningitis yaitu HSV, EBV, CMV
lymphocytic choriomeningitis virus, dan HIV. Virus mumps adalah virus yang
paling sering menjadi penyebab pada pasien yang tidak tervaksinasi sebelumnya.
Sedangkan virus yang jarang menyebabkan meningitis yaitu Borrelia burgdorferi
(lyme disease), B. hensalae (cat-scratch virus), M. tuberculosis, Toxoplasma,
Jamus (cryptococcus, histoplasma, dan coccidioides), dan parasit
(Angiostrongylus cantonensis, Naegleria fowleri, Acanthamoeba).
Encephalitis adalah suatu proses inflamasi pada parenkim otak yang
biasanya merupakan suatu proses akut, namun dapat juga terjadi postinfeksi
39

encephalomyelitis, penyakit degeneratif kronik, atau slow viral infection.
Encephalitis merupakan hasil dari inflamasi parenkim otak yang dapat
menyebabkan disfungsi serebral. Encephalitis sendiri dapat bersifat difus atau
terlokalisasi. Organisme tertentu dapat menyebabkan encephalitis dengan satu
dari dua mekanisme yaitu (1). Infeksi secara langsung pada parenkim otak atau
(2) sebuah respon yang diduga berasal dari sistem imun (an apparent immune-
mediated response) pada sistem saraf pusat yang biasanya bermula pada beberapa
hari setelah munculnya manifestasi ekstraneural.

Tabel 2.4: Virus penyebab meningitis
Akut Subakut
Adenoviruses HIV
1. Amerika utara
Eastern equine
encephalitis
Western equine
encephalitis
St. Louis encephalitis
California encephalitis
West Nile encephalitis
Colorado tick fever
2. Di luar amerika utara
Venezuelan equine
encephalitis
Japanese encephalitis
Tick-borne
encephalitis
Murray Valley
encephalitis
JC virus
Prion-associated encephalopathies
(Creutzfeldt-Jakob disease, kuru)

Enteroviruses
40

Herpesviruses
Herpes simplex
viruses
Epstein-Barr virus
Varicella-zoster virus
Human herpesvirus-6
Human herpesvirus-7
HIV
Influenza viruses
Lymphocytic choriomeningitis virus
Measles virus (native atau vaccine)
Mumps virus (native atau vaccine)
Virus rabies
Virus rubella

Virus adalah penyebab utama pada infeksi encephalitis akut. Encephalitis
juga dapat merupakan hasil dari jenis lain seperti infeksi dan metabolik, toksik
dan gangguan neoplastik. Penyebab yang paling sering menyebabkan encephalitis
di U.S adalah golongan arbovirus (St. Louis, LaCrosse, California, West nile
encephalitis viruses), enterovirus, dan herpesvirus. HIV adalah penyebab penting
encephalitis pada anak dan dewasa dan dapat berupa acute febrile illness.
2.7.4 Patofisiologi
Dalam proses perjalanan penyakit meningitis yang disebabkan oleh
bakteri, invasi organisme harus mencapai ruangan subarachnoid. Proses ini
berlangsung secara hematogen dari saluran pernafasan atas dimana di dalam
lokasi tersebut sering terjadi kolonisasi bakteri. Walaupun jarang, penyebaran
dapat terjadi secara langsung yaitu dari fokus yang terinfeksi seperti (sinusitis,
mastoiditism, dan otitis media) maupun fraktur tulang kepala.
Penyebab paling sering pada meningitis yang mengenai pasien < 1 bulan
adalah Escherichia colli dan streptococcus group B. Infeksi Listeria
monocytogenes juga dapat terjadi pada usia < 1 bulan dengan frekuensi 5-10%
kasus. Infeksi Neisseria meningitides juga dapat menyerang pada golongan usia
41

ini. Pada golongan usia 1-2 bulan, infeksi golongan streptococcus grup B lebih
sering terjadi sedangkan infeksi enterik karena bakteri golongan gram negatif
frekuensinya mulai menurun. Streptococcus pneumonia, Haemophilus
influenzae, dan N. Meningitidis akhir-akhir ini menyebabkan kebanyakan kasus
meningitis bakterial. H. influenzae dapat menginfeksi khususnya pada anak-anak
yang tidak divaksinasi Hib.
Organisme yang umum menyebabkan meningitis (seperti N.Meningitidis,
S.pneumoniae, H. influenzae) terdiri atas kapsul polisakarida yang
memudahkannya berkolonisasi pada nasofaring anak yang sehat tanpa reaksi
sistemik atau lokal. Infeksi virus dapat muncul secara sekunder akibat penetrasi
epitel nasofaring oleh bakteri ini. Selain itu melalui pembuluh darah, kapsul
polisakarida menyebabkan bakteri tidak mengalami proses opsonisasi oleh
pathway komplemen klasik sehingga bakteri tidak terfagosit.
Terdapat bakteri yang jarang menyebabkan meningitis yaitu pasteurella
multocida, yaitu bakteri yang diinfeksikan melalui gigitan anjing dan kucing.
Walaupun kasus jarang terjadi namun kasus yang sudah terjadi menunjukan
morbiditas dan mortalitaas yang tinggi. Salmonella meningitis dapat dicurigai
menyebabkan meningitis pada bayi berumur < 6 bulan. Infeksi bermula saat ibu
sedang hamil.
Pada perjalanan patogenesis meningitis bakterial terdapat fase bakterial
dimana pada fase ini bakteri mulai berpenetrasi ke dalam cairan serebropsinal
melalui pleksus choroid. Cairan serebrospinal kurang baik dalam menanggapi
infeksi karena kadar komplomen yang rendah dan hanya antibody tertentu saja
yang dapat menembus barier darah otak.
Dinding bakteri gram positif dan negatif terdiri atas zat patogen yang
dapat memacu timbulnya respon inflamasi. Asam teichoic merupakan zat
patogen bakteri gram positif dan lipopolisakarida atau endotoksin pada gram
negatif. Saat terjadinya lisis dinding sel bakteri, zat-zat pathogen tersebut
dibebaskan pada cairan serebrospinal.
Terapi antibiotik menyebabkan pelepasan yang signifikan dari mediator
dari respon inflamasi. Adapun mediator inflamasi antara lain sitokin (tumor
necrosis factor, interleukin 1, 6, 8 dan 10), platelet activating factor, nitric oxide,
42

prostaglandin, dan leukotrien. Mediator inflamasi ini menyebabkan terganggunya
keseimbangan sawar darah otak, vasodilatasi, neuronal toxicity, peradangan
meningeal, agregasi platelet, dan aktifasi leukosit. Sel endotel kapiler pada
daerah lokal terjadinya infeksi meningitis bacterial mengalami peradangan
(vaskulitis), yang menyebabkan rusaknya agregasi vaskuler. Konsekuensi pokok
dari proses ini adalah rusaknya mekanisme sawar darah otak, edema otak,
hipoperfusi aliran darah otak, dan neuronal injury.
Akibat kerusakan yang disebabkan oleh respons tubuh terhadap infeksi,
agen anti-inflamasi berbagai telah digunakan dalam upaya untuk mengurangi
morbiditas dan mortalitas meningitis bakteri. Hanya deksametason yang telah
terbukti efektif.
Meningitis viral atau meningitis aseptik adalah infeksi umum pada
sebagian besar infeksi sistem saraf pusat khususnya pada anak-anak < 1 tahun.
Enterovirus adalah agen penyebab paling umum dan merupakan penyebab
penyakit demam tersering pada anak. Patogen virus lainnya termasuk
paramyxoviruses, herpes, influenza, rubella, dan adenovirus. Meningitis dapat
terjadi pada hampir setengah kejadian dari anak-anak < 3 bulan dengan infeksi
enterovirus. infeksi enterovirus dapat terjadi setiap saat selama tahun tetapi
dikaitkan dengan epidemi di musim panas dan gugur. Infeksi virus menyebabkan
respon inflamasi tetapi untuk tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan
infeksi bakteri. Kerusakan dari meningitis viral mungkin karena adanya
ensefalitis terkait dan tekanan intrakranial meningkat.
Meningitis karena jamur jarang terjadi tetapi dapat terjadi pada pasien
immunocompromised; anak-anak dengan kanker, riwayat bedah saraf
sebelumnya, atau trauma kranial, atau bayi prematur dengan tingkat kelahiran
rendah. Sebagian besar kasus pada anak-anak yang menerima terapi antibiotik
dan memiliki riwayat rawat inap. Etiologi meningitis aseptik yang disebabkan
oleh obat belum dipahami dengan baik. Namun jenis meningitis ini jarang terjadi
pada populasi anak-anak.
Ensefalitis adalah penyakit yang sama dari sistem saraf pusat. Penyakit ini
adalah suatu peradangan dari parenkim otak. Seringkali, terdapat agen virus yang
bertanggung jawab sebagai promotor. Masuknya virus terjadi melalui jalur
43

hematogen atau neuronal. Ensefalitis yang sering terjadi adalah ensefalitis yang
ditularkan oleh gigitan nyamuk dan kutu yang terinfeksi virus. Virus berasal dari,
Flavivirus, dan Bunyavirus keluarga Togavirus. Jenis ensefalitis yang paling
umum terjadi di Amerika Serikat adalah La Crosse virus, ensefalitis virus kuda
timur, dan St Louis virus. Seringkali, penyebab ensefalitis ini menyebabkan
tanda-tanda dan gejala yang sama. Konfirmasi dan diferensiasi berasal dari
pengujian laboratorium. Namun, manfaatnya terbatas pada sejumlah patogen
diidentifikasi.
Virus West Nile adalah menjadi penyebab utama ensefalitis, disebabkan
oleh arbovirus dari keluarga Flaviviridae. Nyamuk dan migrasi burung
merupakan peantara dalam penyebaran infeksi virus ini. Nyamuk menggigit
manusia dan manusia adalah dead-end host bagi virus. Sebagian besar manusia
tidak menularkan infeksi ini. Sekitar 1 infeksi bergejala berkembang untuk setiap
120-160 orang tanpa gejala. Namun pada orang dewasa beresiko terkena
penyakit bergejala. Hal ini telah menjadi masalah kesehatan publik yang lebih
besar, mengingat bahwa penyebaran terjadi karena migrasi burung. Kasus
pertama diidentifikasi di New York City pada tahun 1999, dengan kasus
tambahan yang diidentifikasi dalam tahun-tahun berikutnya di seluruh Amerika
Serikat.
Ensefalitis dapat ditularkan dengan cara lain. Ensefalitis Herpetic dan
rabies adalah dua contoh, di mana penularan masing-masing terjadi melalui
kontak langsung dan gigitan mamalia. Dalam kasus ensefalitis herpes, terdapat
bukti reaktivasi virus dan transmisi intraneuronal sehingga menyebabkan
ensefalitis.
2.7.5 Manifestasi Klinis
Gejala meningoensefalitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)
Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif,
dan koma.
Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:
o Rigiditas nukal (kaku leher). Upaya untuk fleksi kepala mengalami
kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
44

o Tanda kernig positif: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam
keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan
sempurna.
o Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan
fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada
ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama
terlihat peda sisi ektremitas yang berlawanan.
Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat
eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan
karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi),
pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat
kesadaran.
Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba
muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati
intravaskuler diseminata

Adapun sumber lain mengatakan bahwa manifestasi klinis dari
meningoensefalitis, sebagai berikut:
1. Demam :
Definisi demam adalah salah satu dari tanda-tanda klinis yang paling
umum dan ditandai dengan peningkatan suhu tubuh di atas normal yang memicu
peningkatan tonus otot serta menggigil. Rata-rata suhu tubuh normal yang diukur
secara oral adalah 36,7C sampai 37C.
Arti demam juga dikenal dengan istilah pireksia, merupakan tanda bahwa
sesuatu yang luar biasa sedang terjadi dalam tubuh Anda, bagi orang dewasa,
demam mungkin tidak nyaman, tetapi demam biasanya tidak berbahaya kecuali
mencapai 39,4C atau lebih tinggi. Untuk demam pada anak-anak yang sangat
muda dan bayi, suhu sedikit lebih tinggi dapat mengindikasikan adanya suatu
infeksi serius.
45

Tingkat demam tidak selalu menunjukkan keseriusan kondisi yang
mendasarinya. Suatu penyakit ringan dapat menyebabkan demam tinggi, dan
penyakit yang lebih serius dapat menyebabkan demam rendah. Sejumlah obat
demam tersedia, yang berfungsi untuk menurunkan demam dan biasanya demam
akan hilang dalam beberapa hari. Walaupun demam sering dikonotasikan negatif,
demam tampaknya memainkan peran kunci dalam membantu tubuh Anda
melawan sejumlah infeksi, inilah yang juga disebut dengan homeostasis.
Homeostasis adalah kemampuan dari tubuh kita dalam mengatur dan menjaga
keseimbangan lingkungan internal (di dalam) yang ideal dan stabil ketika
berhadapan dengan perubahan eksternal (di luar). Temperatur homeostasis
dikendalikan di hipotalamus, tepatnya di bagian anterior, yang mana ia akan
menjadi pusat pengatur suhu tubuh sesuai target.
2. Sakit kepala
Sakit kepala adalah nyeri di beberapa bagian kepala dan tidak terbatas
pada daerah distribusi saraf manapun. Sakit kepala juga dikenal sebagai
Cephalalgia atau cephalgia. Cephalalgia berasal dari bahasa Yunani kephale
berarti kepala, dan algos yang berarti sakit. Jenis sakit kepala sangat
bervariasi. Beberapa penyebab sakit kepala bersifat jinak sedangkan yang lain
bisa jadi merupakan kedaruratan medis. Diantara keluhan sakit kepala yang
menempati peringkat paling banyak adalah keluhan nyeri.
Ada tiga kategori utama dari sakit kepala:
Sakit kepala primer.
Migrain
Sakit kepala tension
Sakit kepala cluster
Sakit Kepala primer lainnya
Sakit kepala sekunder.
Sakit kepala dikaitkan dengan kepala dan / atau trauma leher
Sakit kepala dikaitkan dengan cranial dan / atau gangguan vaskular
servikal
Sakit kepala dikaitkan dengan gangguan intrakranial non-vaskular
Sakit kepala disebabkan oleh suatu benda atau efek suatu zat
46

Sakit kepala karena infeksi
Sakit kepala karena gangguan homeostasis
Sakit kepala atau nyeri wajah dikaitkan dengan gangguan
tengkorak, leher, mata, telinga, hidung, sinus, gigi, mulut atau
struktur tengkorak wajah atau lainnya
Sakit kepala karena gangguan psikitarik
Cranial neuralgia, nyeri di wajah, dann sakit kepala lainnya.
Cranial neuralgia dan penyebab utama nyeri wajah
Sakit kepala, neuralgia kranial, nyeri wajah pusat atau primer
lainnya
3. Pusing.
4. Muntah
Definisi Muntah adalah debit kuat dari isi lambung melalui mulut.
Muntah, juga disebut emesis, merupakan respons gejala ke sejumlah pemicu
berbahaya. Muntah adalah pengusiran kuat, dan berbeda dari kembali regurgitasi-
yang mudah dari isi lambung ke mulut. Meskipun tidak menyenangkan, muntah
adalah fungsi penting karena rids tubuh zat berbahaya.
Muntah adalah proses kompleks yang dihasilkan dari interaksi yang terkoordinasi
jalur saraf, otak, dan otot-otot sistem pencernaan. Titik pemicu utama muntah di
otak disebut postrema daerah. Struktur ini terkena bahan kimia dalam aliran darah
dan cairan cerebrospinal (cairan yang ditemukan di otak dan sumsum tulang
belakang). Studi ilmiah menunjukkan bahwa stimulasi postrema daerah oleh
berbagai macam obat serta racun bakteri, radiasi, dan kondisi fisiologis,
menginduksi muntah.
Jalur saraf tertentu (disebut jalur saraf aferen) merangsang muntah bila
dipicu oleh gerakan, infeksi telinga atau tumor, penyakit Mnire (penyakit yang
ditandai dengan vertigo berulang), bau, rangsangan visual, rasa sakit, dan selera
buruk. Masih jalur saraf lainnya (jalur saraf aferen perifer) menyebabkan muntah
sebagai respon terhadap iritasi perut, distensi dari usus dan saluran empedu,
radang perut, dan infark miokard (serangan jantung).
Tindakan fisik muntah dikendalikan oleh beberapa situs dari batang otak.
Jika diaktifkan, struktur ini mengirimkan sinyal ke tenggorokan, diafragma, dan
47

otot perut. Sinyal-sinyal ini mengakibatkan kontraksi simultan otot ini, yang
membawa isi perut sampai melalui esofagus (tabung antara perut dan
tenggorokan) dan keluar mulut. Selama muntah, pernapasan dihambat, kecuali
untuk napas pendek antara kotoran-kotoran. Bradikardia (penurunan detak
jantung) dan perubahan tekanan darah mungkin terjadi selama muntah-muntah
dan muntah.
Penyebab & gejalanya:
Muntah dapat disebabkan oleh banyak hal yang berbeda. Muntah yang
berlangsung hari hanya satu atau dua biasanya disebabkan oleh infeksi, reaksi
terhadap obat-obatan, racun, uremia (akumulasi dari produk pecahan protein
dalam aliran darah), dan ketoasidosis diabetes (akumulasi racun akibat diabetes
tidak terkendali). Muntah yang berlangsung lebih dari satu minggu dapat
disebabkan oleh kondisi medis atau psikiatris jangka panjang. Penyebab muntah
meliputi:
- Pengobatan. Obat-obatan merupakan penyebab paling umum muntah, terutama
pada hari-hari pertama pemakaian. Obat dapat menginduksi muntah oleh stimulasi
postrema daerah atau dengan stimulasi langsung jalur saraf perifer. Obat yang
sering menyebabkan muntah termasuk obat kanker, penghilang rasa sakit
(terutama opioid), obat jantung, diuretik, hormon, antibiotik, antiasthmatics, obat
gastrointestinal, dan obat yang bekerja pada otak.
- Infeksi. Infeksi pada sistem pencernaan atau seluruh tubuh dapat menyebabkan
muntah. infeksi gastrointestinal lebih sering pada bayi, balita, dan orang dewasa
muda (20-29 tahun) yang biasanya mendapatkan 1,2 infeksi setiap tahun. Infeksi
yang bisa menyebabkan muntah termasuk bakteri, virus, dan infeksi parasit
gastrointestinal, sindrom pernafasan akut parah (SARS), otitis media (infeksi
telinga), meningitis (infeksi pada membran yang mengelilingi otak dan sumsum
tulang belakang), dan hepatitis (infeksi hati).
- Gastrointestinal dan gangguan perut. Gangguan sistem pencernaan yang dapat
menghasilkan muntah termasuk penyumbatan pada perut atau usus kecil, motilitas
gangguan (otot di kerongkongan menjadi discoordinated atau lemah,
menyebabkan kesulitan menelan, regurgitasi, dan kadang-kadang sakit), gangguan
pencernaan, terapi radiasi yang disebabkan perubahan, Crohn penyakit (radang
48

kronis yang berulang dari usus), ulkus peptikum, infestations cacing, atau radang
usus buntu, kandung empedu, atau pankreas.
- Gangguan sistem saraf. Kanker, infark (daerah jaringan mati yang disebabkan
oleh obstruksi pada arteri memasok daerah itu), pendarahan (pendarahan), cacat
lahir, telinga gangguan, mabuk perjalanan, bobot, tumor telinga, Mnire
penyakit, kenangan yang tidak menyenangkan, psikogenik (yang disebabkan oleh
faktor mental) masalah, dan selera buruk atau bau dapat menyebabkan muntah.
- Hormon dan kondisi fisiologis. Hormonal dan metabolik (fisik dan proses kimia
dari tubuh) kondisi yang dapat menyebabkan muntah meliputi: parathyroidism,
diabetes ketoasidosis, hipertiroidisme (kondisi yang disebabkan oleh konsumsi
berlebihan atau produksi hormon tiroid), penyakit Addison, uremia, dan
kehamilan. Kehamilan adalah penyebab paling umum muntah yang berkaitan
dengan sistem hormonal. Muntah yang berhubungan dengan kehamilan sering
disebut morning sickness.
- Postoperation. Anestesi dan obat nyeri dapat menyebabkan mual dan muntah,
yang berhubungan dengan komplikasi 17-39% dari operasi.
- Sindrom muntah siklik (CVS). Gangguan ini jarang terjadi pada anak-anak
biasanya dimulai pada usia lima tahun, meskipun juga terjadi pada orang dewasa.
Hal ini ditandai dengan, rata-rata, delapan serangan muntah berlangsung selama
20 jam setiap tahun. Meskipun penyebab pastinya tidak diketahui, tampaknya ada
hubungan antara muntah siklik dan sakit kepala migrain.
- Racun. bahan pembersih arsenik dan logam berat lainnya, pembunuh gulma dan
rumah tangga, dan zat lainnya dapat menyebabkan muntah jika dihirup atau
ditelan.
- Miscellaneous penyebab. Konsumsi alkohol yang berlebihan menyebabkan
muntah dengan bertindak baik di saluran pencernaan dan otak.

Mual sering dikaitkan dengan muntah. Muntah bisa didahului oleh muntah-
muntah, di mana kontrak otot seperti untuk muntah tapi tanpa debit isi perut.
Pasien mungkin hiperventilasi (bernapas cepat dan dalam) dan muntah
mengeluarkan air liur sebelum dimulai. Pasien harus berkonsultasi dengan dokter
segera jika ada darah dalam muntahan (dikeluarkan isi perut).
49

Gejala lain yang terkait dengan muntah tergantung pada penyebabnya.
infeksi gastrointestinal juga akan menyebabkan demam, nyeri otot, dan diare.
Pasien dengan ulkus peptikum, penyumbatan usus, atau pankreatitis kolesistitis
(radang kandung empedu atau pankreas) akan mengalami rasa sakit perut.
Meningitis gejala meliputi kekakuan leher, sakit kepala, perubahan visi, dan
perubahan dalam proses mental.
5. Nyeri tenggorokan.
6. Malaise.
Malaise adalah perasaan umum tidak sehat, tidak nyaman, atau lesu
(tidak enak badan). Hal ini terkait dengan berbagai kondisi medis yang berbeda,
dan sering menjadi tanda pertama penyakit yang berbeda, seperti infeksi virus.
7. Nyeri ekstrimitas.
8. Halusinasi.
PengertianHalusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan
(stimulus) misalnyapenderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada
sumber dari suarabisikan itu (Hawari, 2001).Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan
melibatkan panca indera (Isaacs, 2002).Persepsi merupakan tanggapan indera terhadap
rangsangan yang datang dari luar, dimanarangsangan tersebut dapat berupa rangsangan
penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapandan perabaan. Interpretasi (tafsir) terhadap
rangsangan yang datang dari luar itu dapat mengalamigangguan sehingga terjadilah salah tafsir
(missinterpretation). Salah tafsir tersebut terjadi antaralain karena adanya keadaan afek yang luar
biasa, seperti marah, takut, excited (tercengang),sedih dan nafsu yang memuncak sehingga terjadi
gangguan atau perubahan persepsi (Triwahono,2004).Halusinasi adalah gangguan pencerapan
(persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dariluar yang dapat meliputi semua sistem
penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individuitu penuh / baik (Stuart & Sundenn,
1998).Halusinasi adalah persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang
pasienyang terjadi dalam keadaan sadar/terbangun. (Maramis, hal 119)
9. Kaku kuduk.
10. Kejang.
Kejang adalah gerakan otot tonik atau klonik yang involuntar yang
merupakan serangan berkala, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik neuron
kortikal secara berlebihan. Kejangtidak secara otomatis berarti epilepsi. Dengan
50

demikian perlu ditarik garis pemisah yangtegas : manakah kejang epilepsi dan mana pula
kejang yang bukan epilepsi? Tetanus, histeri,dan kejang demam bukanlah epilepsi
walaupun ketiganya menunjukkan kejang seluruhtubuh. Cedera kepala yang berat,
radang otak, radang selaput otak, gangguan elektrolit dalamdarah, kadar gula
darah yang terlalu tinggi, tumor otak, stroke, hipoksia, semuanya
dapatmenimbulkan kejang. Kecuali tetanus, histeri, hal-hal yang tadi, kelak
di kemudian hari dapatmenimbulkan epilepsi
11. Gangguan kesadaran.
Ketidaksadaran adalah kondisi dimana fungsi serebral terdepresi,
direntang dari stuporsampai koma.(brunner dan Suddarth, 2001)Kesadaran adalah
pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu. (Corwin, 2001).Penurunan
kesadaran adalah keadaan dimana penderita tidak sadar dalam arti tidak
terjagaatau tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan
respons yang normalterhadap stimulus. Kesadaran secara sederhana dapat
dikatakan sebagai keadaan dimanaseseorang mengenal atau mengetahui tentang
dirinya maupun lingkungannya.(Padmosantjojo,2000)
2.7.6 Penegakkan diagnosa
2.7.6.1. Anamnesa
1. Anamnesis pada meningitis
- Riwayat pada anak yang merupakan faktor resiko seperti: semakin
muda anak semakin kecil kemungkinan ia untuk menunjukan
gejala klasik yaitu demam, sakit kepala, dan meningeal; trauma
kepala; splenektomi; penyakit kronis; dan anak dengan selulitis
wajah, selulitis periorbital, sinusitis, dan arthritis septic memiliki
peningkatan risiko meningitis.
- Meningitis pada periode neonatal dikaitkan dengan infeksi ibu atau
pireksia saat proses persalinan sedangkan meningitis pada anak < 3
bulan mungkin memiliki gejala yang sangat spesifik, termasuk
hipertermia atau hipotermia, perubahan kebiasaan tidur atau
makan, iritable atau kelesuan, muntah, menangis bernada tinggi,
atau kejang.
51

- Setelah usia 3 bulan, anak dapat menampilkan gejala yang lebih
sering dikaitkan dengan meningitis bakteri, dengan demam,
muntah , lekas marah, lesu, atau perubahan perilaku
- Setelah usia 2-3 tahun, anak-anak mungkin mengeluh sakit kepala,
leher kaku, dan fotofobia
2. Anamnesis untuk meningoencephalitis viral
- Anak yang tidak mendapatkan imunisasi untuk campak, gondok
dan rubella beresiko mengalami meningoencephalitis viral
3. Anamnesis untuk meningitis akibat infeksi jamur
- pasien immunocompromised beresiko mengalami
meningoencephalitis akibat infeksi jamur
4. Anamnesis untuk meningitis aseptik
- Terdapat riwayat mengkonsumsi obat biasanya obat anti-
inflammatory drugs (NSAID), IVIG, dan antibiotik. Gejala mirip
dengan meningitis virus. Gejala dapat terjadi dalam beberapa menit
menelan obat.
5. Anamnesis untuk ensefalitis
- Informasi seperti musim tahun, perjalanan, kegiatan, dan paparan
dengan hewan membantu diagnosis.
2.76.2 Pemeriksaan Fisik
PEMERIKSAAN FISIK NEUROLOGI
Pemeriksaan fisik neurologi merupakan pemeriksaan yang memerlukan ketelitian
dan sistimatik sehingga dapat menentukan diagnosis klinis dan topik, dari
kemungkinan diagnosis ini maka perencanaan pemeriksaan penunjang dapat
dilaksanakan secara rasional dan objektif.
4

Pemeriksaan fisik neurologi mencakup hal-hal sebagai berikut :
4,5,6

- Pemeriksaan tingkat kesadaran
- Pemeriksaan tanda rangsangan meningeal
- Pemeriksaan saraf kranial
- Pemeriksaan fungsi motorik
- Pemeriksaan fungsi sensorik
- Pemeriksaan fungsi luhur
52

- Pemeriksaan fungsi otonom
- Pemeriksaan fungsi koordinasi
- Pemeriksaan reflek fisiologis
- Pemeriksaan reflek patologis
PEMERIKSAAN TINGKAT KESADARAN
Kesadaran adalah produk neurofisiologik dimana seorang individu mampu
berorientasi secara wajar terhadap waktu, tempat dan orang. Kesadaran adalah
keadaan sadar terhadap diri sendiri dan lingkungan. Keadaan sadar adalah
keadaan terjaga dan waspada dimana sipenderita akan bereaksi sepenuhnya dan
adekuat terhadap rangsangan visual, auditoris dan sensibel.
7

Koma adalah suatu keadaan tidak sadar total terhadap diri sendiri dan lingkungan
meskipun distimulasi dengan kuat. Diantara keadaan sadar dan koma terdapat
berbagai variasi keadaan/status gangguan kesadaran.
7

Anatomi Kesadaran
4

Keadaan sadar ditentukan oleh 2 komponen, yaitu:
a. Aspek onoff quality atau Arousibility
Formasio retikularis terletak di rostral mid pons,
midbrain (mesencephalon) dan thalamus ke korteks serebri
ARAS (= Ascending Reticular Activating System)
b. Aspek Content ( isi kesadaran) : Korteks Serebri

Pendekatan Diagnostik pada Pasien Tidak Sadar
Berbagai proses intrakranial maupun ekstrakranial dapat disertai gangguan
kesadaran. Dalam hal ini naik turunnya tingkat kesadaran dan lamanya gangguan
kesadaran merupakan salah satu petunjuk penting dari maju mundurnya suatu
penyakit.
7

Komponen yang harus diperiksa pada pasien tidak sadar adalah:
7

- Tingkat kesadaran (kualitatif dan kuantitatif)
- Pola pernafasan
- Ukuran dan reaksi pupil
- Pergerakan mata
53

- Respon dari okulovestibuler
Pemeriksaan kesadaran dapat dinyatakan secara kualitatif maupun kuantitatif.

Cara Pemeriksaan Kualitatif
4,5

Tingkat kesadaran kualitatif yaitu :
Composmentis : Keadaan sisitim sensorik utuh, ada waktu tidur dan sadar
penuh serta aktivitas yang teratur.
Somnolen :Pasien dapat bangun spontan pada waktunya atau sesudah
dirangsang tapi kembali tidur setelah stimulasi dihilangkan.
Sopor : Pasien terlihat tertidur tapi dapat dibangunkan dengan rangsang
verbal yang kuat, dapat spontan hanya waktu singkat, sistem sensorik
berkabut, dapat mengikuti beberapa perintah sederhana.
Soporokoma : Pasien tidak ada respon dengan rangsang verbal, dengan
rangsang nyeri masih ada gerakan, reflekreflek (cornea, pupil dll) masih
baik dan nafas masih adekuat.
Koma : Gerakan spontan negatif, reflekreflek negatif, fungsi nafas
terganggu atau negatif.
Tingkat kesadaran kualitatif kurang akurat karena merupakan hasil pemeriksaan
individual.

Cara Pemeriksaan Kuantitatif (Metoda Glasgow Coma Scale)
Aspek-aspek kesadaran yang dinilai secara kualitatif kurang seragam, kriterinya
sering kurang tegas sehingga bila digunakan untuk memonitor tingkat kesadaran
seseorang seringkali dilakukan oleh beberapa orang dengan hasil yang tidak
konsisten. Untuk mengatasi hal ini Prof. Dr. Bryan Jennet dan Teasdale, ahli
bedah saraf dari universitas Glasgow pada tahun 1974 menilai tingkat kesadaran
secara objektif dari tiga aspek, yaitu kemampuan membuka mata, kemampuan
motorikdankemampuanberkomunikasi.
4,8
Pemeriksaan fungsi membuka mata, respon verbal dan respon motorik terhadap
rangsangan yang diberikan. Rangsangan berupa suara atau rangsangan nyeri.
Rangsangan nyeri dapat diberikan pada supra orbita, ujung kuku, manubrium
sternum, prosesus stilomastoideus dan papilla mamae.
4

54

Penilaian Glasgow Coma Scale (GCS)
Eye (Mata)
4,5,6,8

Membuka mata spontan = 4
Membuka mata dengan stimulus suara (panggilan
= 3
Membuka mata dengan stimulus nyeri = 2
Tidak membuka mata dengan stimulus apapun = 1












Gambar 2.9: Refleks mata

55

Lokasi memberikan rangsangan nyeri.
4




Gambar 2.10: Lokasi pemberian rangsangan nyeri

Motor (Reaksi Motorik)
4,5,6,8

Mengikuti perintah , dapat melakukan gerak sesuai perintah = 6
Reaksi setempat, ada gerakan menghindar terhadap rangsangan
yang diberikan di beberapa tempat = 5
Menghindari nyeri, reaksi fleksi cepat disertai abduksi bahu = 4
Reaksi fleksi abnormal, fleksi lengan disertai adduksi bahu = 3
Reaksi ekstensi terhadap nyeri, ekstensi lengan disertai adduksi,
endorotasi bahu dan pronasi lengan bawah = 2
Tak ada reaksi, tak ada gerakan dengan rangsangan cukup kuat = 1

56


Gambar 2.11: Reaksi motorik
Verbal
7,8

Orientasi baik, berorientasi baik terhadap tempat, waktu dan orang
= 5
Gelisah (confused), jawaban yang kacau terhadap pertanyaan = 4
57

Kata tak jelas (inappropriate), seperti berteriak dan tidak
menanggapi pembicaraan orang lain = 3
Suara yang tidak jelas artinya (unintelligiblesounds), selalu ada
suara rintihan dan erangan = 2
Tak ada suara = 1

Cara kwantitatif dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) dipandang
lebih baik karena beberapa hal, yaitu :
4

Dapat dipercaya
Sangat teliti dan dapat membedakan kelainannya hingga tidak
terdapat banyak perbedaan antara dua penilai (obyektif )
Dengan sedikit latihan dapat juga digunakan oleh perawat sehingga
observasi mereka lebih cermat

Hal-hal yang perlu diingat :
4,7

Nilai maksimum E4M6V5 = 15, nilai minimum E1MV1 = 3
Hati- hati bila ada disfasia (untuk menilai verbal) dan kelumpuhan
motorik (untuk menilai motorik)
Penilaian GCS untuk anak-anak berumur < 5 tahun berbeda
nilainya dari dewasa, terutama untuk penilaian verbal dan motorik,
mengingat fungsi otak belum maksimum.

PITTSBURGH BRAIN STEM SCORE
1

Cara ini dapat digunakan untuk menilai refleks brainstem pada pasien koma.
Brainstem reflex
1. Refleks bulu mata positif kedua sisi: 2
Negative : 1
2. Refleks kornea positif kedua sisi : 2
Negative : 1
3. Dolls eye movement/ice water calories positif kedua sisi : 2
negatif : 1
4. Reaksi pupil kanan terhadap cahaya positif : 2
58

negatif : 1
5. Reaksi pupil kiri terhadap cahaya positif : 2
negatif : 1
6. Refleks muntah atau batuk positif : 2
negatif : 1
Interpretasi:
Nilai minimum : 6
Nilai maksimum : 12 ( nilai /skor makin tinggi makin baik )

PEMERIKSAAN TANDA RANGSANG MENINGEAL
Mekanisme perangsangan selaput otak disebabkan oleh pergeseran struktur-
struktur intrakranial atau oleh ketegangan saraf spinal yang hipersensitif dan
meradang. Tanda-tanda perangsangan selaput otak dan gejalanya ini bervariasi
bergantung pada berat ringan proses yang terjadi.
8

KAKU KUDUK
5,6,8

Jangan dikerjakan pada pasien dengan cervical tidak stabil seperti
pada trauma.
Cara : Pasien tidur telentang tanpa bantal.
Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang
berbaring, kemudian kepala ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu
mencapai dada. Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila
terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai
dada. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat.
Hasil pemeriksaan:
Leher dapat bergerak dengan mudah, dagu dapat menyentuh sternum,
atau fleksi leher normal
Adanya rigiditas leher dan keterbatasan gerakan fleksi leher kaku
kuduk
Arti klinis: Meningitis, meningoensefalitis, SAH, Karsinomameningeal



59


Gambar 2.12: Pemeriksaan kaku kuduk

KERNIG SIGN
5,6,8
Pada pemeriksaan ini , pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90 derajat. Setelah itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135
derajat terhadap paha. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang
dari sudut 135 derajat, maka dikatakan kernig sign positif.
A.Sewaktu mengangkat
kepala, badan ikut
terangkat.
B.Gerakan leher ke kanan
atau kiri tidak ada
gangguan.
C.Gerakan dorsofleksi tidak
ada tahanan
60


Gambar 2.13: Kernig sign

BRUDZINSKI I (Tanda Leher menurut Brudzinski)
5,6,8

Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan yang ditempatkan
dibawah kepala pasien yang sedang berbaring , tangan pemeriksa yang satu lagi
sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan
kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada.
Test ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di
sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik.

Gambar 2.14: Brudzinski sign I


BRUDZINSKI II (Tanda tungkai kontra lateral menurut Brudzinski)
5,6,8

Pasien berbaring terlentang. Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi
lutut,kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. Bila timbul
gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan
panggul ini menandakan test ini postif.
61


Gambar 2.15: Brudzinski sign II

PEMERIKSAAN SARAF KRANIAL
Pemeriksaan saraf otak dapat membantu kita menentukan lokasi lesi dan jenis
penyakit. Tiap saraf otak harus diperiksa dengan teliti, karena itu perlu
pemahaman anatomi,fungsi dan hubungannya dengan struktur lainnya. Lesi dapat
terjadi pada serabut atau bagian perifer (infranuklir, pada inti (nuklir) atau
hubungan ke sentral (supranuklir). Bila inti rusak hal ini diikuti oleh degerasi
saraf perifernya. Saraf perifer dapat pula terganggu tersendiri.
6,8

Saraf otak terbagi atas saraf otak I-XII (Nervus cranialis I-XII). Saraf otak I & II
merupakan jaras-jaras berupa tonjolan otak. Saraf otak XI berasal dari segmen
servical atas medula spinalis. Saraf otak III-X dan XII berhubungan dengan
batang otak. Nervus cranial yang mempunyai fungsi motorik berasal dari
kelompok-kelompok sel yang terbenam di batang otak yang analog dengan sel-sel
pada cornu anterior medula spinalis, sedangkan saraf cranial sensorik berasal dari
kumpulan sel di batang otak, biasanya dalam ganglion-ganglion yang dianggap
aanalog dengan ganglion radiks dorsals saraf spinalis.
9,10,11

62


Gambar 2.16: Syaraf kranial

SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS )
5,7,8,9,10

Anatomi:
Istilah umumnya ditujukan pada traktus olfaktorius, yang muncul dari bulbus
olfaktorius pada bagian ventral lobus frontalis dan dilanjutkan ke posterior untuk
berakhir tepat di sebelah lateral kiasma optikum, tempat dimana jaras tersebut
menembus cerebrum.








Gambar 2.17: Syaraf otak



63

Persiapan : Pasien harus sadar dan kooperatif
Bahan :kopi,teh,tembakau,jeruk,
pepperminth,kamper,aq.rosarum
Pemeriksaan :
1.Subyektif : Keluhan pasien
2.Obyektif
Tujuan pemeriksaan : untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu, selain itu
untuk mengetahui apakah gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau
penyakit hidung lokal.
Cara pemeriksaan:
Salah satu hidung pasien ditutup, dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan
tertentu yang tidak merangsang .Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan
jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan. Sebelumnya periksa
lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat, misalnya ingus atau
polip.
Interpretasi :
Anosmia adalah hilangnya daya penghiduan
Hiposmia adalah bila daya ini kurang tajam
Hiperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka
Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana tercium bau yang tidak
sesuai misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bau bawang goreng.
Jika parosmia dicirikan oleh modalitas olfaktorik yang tidak menyenangkan
atau yang memuakan seperti bacin , pesing dsb, maka digunakan istilah lain
yaitu kakosmia.
Baik dalam hal parosmia maupun kakosmia adanya perangsangan olfaktorik
merupakan suatu kenyataan, hanya pengenalan nya saja tidak sesuai, tetapi
bila tercium suatu modalitas olfaktorik tanpa adanya perangsangan maka
kesadaran akan suatu jenis bau ini adalah halusinasi, yaitu halusinasi
olfaktorik.




64

SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS)
6,8,9,10

Anatomi :
Nervus optikum berisi serabut-serabut saraf yang timbul dari permukaan dalam
retina dan diteruskan ke posterior memasuki rongga cranium melalui foramen
optikum. Sebagian serabutnya menyilang ke sisi yang lain melalui kiasma
optikum.











Gambar 2.18: Nervus Optikus

Tujuan pemeriksaan : untuk mengukur tajam penglihatan (visus), pengenalan
warna, lapangan pandang dan pemeriksaan fundus (funduskopi) serta untuk
menentukan apakah kelainan pada penglihatan disebabkan oleh kelainan okuler
lokal atau oleh kelainan saraf.
1. Pemeriksaan Tajam Penglihatan ( Visus )
Persiapan : Yakinkan tidak ada gangguan visus oleh karena penyakit mata.
Tabel Snellen
Pasien berdiri 6 m dari kartu snellen.
Mata kiri ditutup dengan tangan kiri
dan visus mata kanan diperiksa.
Dengan mata kanannya membaca
huruf-huruf dalam tabel snellen.
Begitu juga sebaliknya untuk mata kiri.


65

Interpretasi
Visus normal : 6/6
x : jarak penderita dengan snellen
y : jarak dimana orang normal dapat melihat
tulisan dalam snellen
Jari-jari Tangan
Visus pasien menurun < 6/60,visus diperiksa dengan menghitung jari-jari.
Pasien memberitahukan berapa jari dokter yang diperlihatkan kepadanya.
Jika sejauh 6 m,tidak dilihat, jarak diperpendek sampai dapat dilihat.
Interpretasi
Normal:menghitung jari tangan jarak 60 m,
jika hanya dapat menghitung jari-jari tangan dari jarak 5 m visus: 5/60
Gerakan Tangan
Pasien menentukan arah gerakan tangan pemeriksaan.
Jarak berapa pasien dengan jelas dapat menentukan arah gerakan tangan
pemeriksa.
Interpretasi
Normal : Gerakan tangan dari jarak 300 m
Hanya melihat arah gerakan tangan dari 3 mvisus 3/300
Lampu / Cahaya
Memakai rangsangan cahaya.
Mata pasien disinari dengan cahaya lampu lalu pasien disuruh menentukan gelap
atau terang.
Interpretasi
Normal : Jarak tak terhingga
Jika dpt melihat cahaya dr jarak 1 m visus 1/~.
Cahaya tidak dilihatvisus: nol (nol light perseption)
2. Pemeriksaan & Interpretasi Pengenalan Warna
Pemeriksaan :
Menggunakan kartu test istihara dan stiling / benang wol berwarna.
Pasien membaca angka berwarna dlm kartu istihara atau stiling.
Mengambil wol yang berwarna sesuai perintah.
66

Interpretasi: Normal atau Buta Warna
3. pemeriksaan Lapang Pandang
Metode test :
Tanpa alat : Test konfrontasi.
Dengan alat : Test kampimeter dan Test perimeter

Persiapan :
Pasien kooperatif.
Pasien diberi penjelasan test yang akan dilakukan
Test konfrontasi
Interpretasi: Normal atau menyempit






Test Kampimeter & Test Perimeter
Papan hitam diletakan di depan pasien jarak 1 atau 2 m.
Benda penguji (test objek) berupa bundaran kecil berdiameter 1-3 mm.
Mata pasien difiksasi di tengah & benda penguji digerakan dari perifer ke tengah
dari segala jurusan
Ada bagian bagian visual field yang buta dimana pasien tidak dapat
melihatnya, ini disebut dengan SKOTOMA.
Skotoma positif : tanpa diperiksa pasien sudah merasa adanya skotoma.
Skotoma negatif: dengan diperiksa pasien baru merasa adanya skotoma.
Macam macam gangguan visual field antara lain :
- hemianopsia ( temporal; nasal ; bitemporalis ; binasal )
- homonymous hemianopsia
- homonymous quadrantanopsia
- total blindness dsb




67

4. Pemeriksaan Funduskopi
o Pemeriksa memegang oftalmaskop dengan tangan kanan.
o Tangan kiri pemeriksa memfiksasi dahi pasien.
o Pemeriksa menyandarkan dahinya pd darsum manus tangan kiri yang
memegang dahi pasien.
o Mata kanan pasien diperiksa dengan mata kanan pemeriksa,begitu
sebaliknya.
o Pemeriksa menilai retina & papil nervi optisi.
Interpretasi Funduskopi:
1. Gambaran retina
Normal :
_ Latar belakang :merah jingga
_ Papil nervus optikus : lebih muda
_ Pembuluh darah berpangkal pada pusat papil memancarkan cabang-
cabangnya ke seluruh retina
_ Arteri berwarna jernih dan vena berwarna merah tua
_ Reflek sinar hanya tampak pada arteri
_ Vena berukuran lebih besar & tampak berkelak-kelokdibandingkan arteri
_ Tampak pulsasi pada pangkal vena besar (di papil) dan penekanan bola
mata pulsasi lebih jelas

2.Gambaran Nervus Optikus
Normal : bentuk lonjong, warna jingga muda, bagian temporal
sedikit pucat, batas tegas, bagian nasal agak kabur, fisiologik
cupping, vena:arteri 3 : 2









68

Papil edema : papil hiperemis, batas papil kabur, cupping
menghilang
Papil Atropi Primer : papil pucat, batas tegas, cupping (+)
Papil Atropi Sekunder: papil pucat,batas tidak tegas cupping (-)

SARAF OTAK III,IV,VI
(OKULOMOTORIUS,TROKLEARIS,ABDUSENS)
4,6,7,8,9,10

Anatomi :
Nervus III (okulomotorius) meninggalkan otak pada sisi medial pedunkulus
serebri dimana serabut saraf ini terletak di sebelah posterior arteri serebri
posterior, di sebelah anterior arteri cerebelaris superior dan di sebelah lateral
arteeri basilaris. Kemudian nervus okulomotorius berjalan ke anterior, disebelah
lateral arteri carotis intern dalam sinus kavernosus, dan meninggalkan rongga
tengkorak melalui fisura orbitalis superior.
Nervus IV (trokhlearis) mempunyai tempat asal superfisial pada dorsal batang
otak, lalu melengkung ke ventral diantara arteri cerebri posterior dan arteri
cerebelaris superior (disebelah lateral nervus okulomotorius). Nervus ini terus
berjalan ke anterior di dalam dinding lateral sinus kavernosus, diantara nervus
okulomotorius dan cabang opthalmika nervus trigeminus, dan memasuki orbita
melalui fisura orbitalis superior.
Nervus VI (abdusen) keluar dari permukaan ventral batang otak di dalam alur
antara piramis medulla dan ujung caudal pons, serta kemudian berjalan sepanjang
sinus kavernosus untuk keluar dari rongga cranium melalui fisura orbitalis
superior.








69












Gambar 2.19: Nervus III, IV, V

Fungsi N III,IV,VI saling berkaitan dan diperiksa bersama-sama . Fungsinya ialah
menggerakkan otot mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata. Serabut
otonom N III mengatur otot pupil.
Pemeriksaan nervi III,IV,VI:
1.Inspeksi saat istirahat :
Kedudukan bola mata
Observasi celah kelopak mata
2.Inspeksi saat bergerak :
Observasi gerakan mata sesuai perintah
3.Pemeriksaan fungsi & reaksi pupil
1.Inspeksi saat istirahat
A.Kedudukan bola mata
Pemeriksaan
Kedudukan mata kiri dan kanan semetris/tidak
Strabismus, deviasio conjugee, krisis akulogirik
Eksoptalmus / endoftalmus
Interpretasi
Normal : Kedudukan bola mata simetris


70

Kelainan : Stabismus, deviatio conjugee, krisis okulogirik,
eksoptalmus /endoftalmus
B.Observasi celah kelopak mata
Pemeriksaan :
Penderita memandang lurus kedepan
Perhatikan kedudukan kelopak mata thd pupil & iris.
Interpretasi
Normal : simetris kanan-kiri
Kelainan : 1.Celah kelopak mata menyempit : Ptosis,
Enoftalmus dan blefarospasmus
2.Celah kelopak mata melebar : Eksoftalmus & proptosis
2. Pemeriksaan gerakan bola mata
Penilaian gerakan monokular
Penilaian gerakan kedua bola mata atas perintah
Penilaian gerakan bola mata mengikuti obyek bergerak
Pemeriksaan gerakan konjungat reflektorik (dolls eye movement)


Interpretasi gerakan bola mata :
Normal :
o Gerakan konjungat
o Gerakan diskonjungat/gerakan konversion
o Dolls eye movement (+)
Kelainan :
o Tanda parinaud (+) (paralisis lirikan ketas)

71

o Stabismus
o Gerakan okulogirik
o Diplopia
o Gangguan gerakan bola mata kesamping
o Gangguan gerakan bola mata adduksi, kebawah

3.Pemeriksaan & Interpretasi Pupil-Reaksi pupil
Pemeriksaan :
Observasi bentuk, ukuran pupil & posisi pupil
Perbandingan pupil kanan dan kiri
Pemeriksaan reflek pupil :
Reflek cahaya langsung
Reflek cahaya tidak langsung atau konsensuil
Reflek pupil akomodatif /reflek pupil konvergensi
Interpretasi :
Normal :
Bentuk pupil : bulat reguler
Ukuran pupil : 2 mm 5 mm
Posisi pupil : ditengah-tengah
Isokor
Reflek cahaya langsung (+)
Reflek cahaya konsensuil (+)
Reflek akomodasi/konvergensi (+)

Kelainan :
Pintpoin pupil
Bentuk ireguler
Anisokor dengan kelainan reflek cahaya
Pupil marcus gunn
Pupil argyll robertson
Pupil adie


72

SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS )
6,8,9,10,11,12

Anatomi :
Nervu V (trigeminus) berisi radiks sensoris yang besar dan radiks motorik yang
lebih kecil. Bagian sensorik berasal dari sel-sel pada ganglion semilunaris
(gasseri) yang besar di bagian lateral sinus kavernosus, berjalan ke posterior di
antara sinus petrosus superior dan tentorium, serta menembus pedunkulus
cerebelaris medius untuk memasuki pons. Serabut-serabut bagian opthalmika
masuk ke dalam tengkorak melalui fisura orbitalis superior. Serabut-serabut
sensorik bgian mndibularis, bersatu dengan bagian motorik atau masticator yang
meninggalkan pons di bagian ventromedial sensory rootlets dan meninggalkan
rongga cranium melalui foramen ovale.












Gambar 2.20: Nervus Trigeminus

Pemeriksaan:
1. Fungsi motorik N. Trigeminus
2. Fungsi sensorik N.Trigeminus
3. Reflek Trigeminal
1. Fungsi Motorik N. Trigeminus
Pasien menggigit giginya sekuat-kuatnya, palpasi m.maseter & temporalis
Pasien membuka mulutnya,perhatikan deviasi rahang bawah (m.pterigoideus
lateralis)

73

Kayu tong spatel digigit bergantian, bandingkan bekas gigitan
(M.Pterigoideus Medialis)
Interpretasi
Normal:
Kontraksi m.masseter & m.temporalis simetris
Rahang bawah berada ditengah tengah
Kekuatan gigitan kayu tong spatel, sama dalam pada gigitan kanan dan kiri
Kelainan :
Kontraksi m.masseter & m.temporalis kanan dan kiri (-) / melemah.
Deviasi rahang bawah saat membuka mulut ke sisi m.pterigoideus lateralis yg
lumpuh.
Bekas gigitan pada sisi m.pterigoideus medialis yang lumpuh lebih dangkal.
2.Fungsi Sensorik N.Trigeminus
Cara pemeriksaan :
Dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan suhu,
kemudian lakukan pemeriksaan pada dahi, pipi dan rahang bawah.
Interpretasi :
Normal : gangguan sensibilitas(-)
Kelainan :
Analgesi : tidak merasakan rangsang nyeri
Termanestesi : tidak merasakan rangsangan suhu
Anestesi : tidak merasakan rangsangan raba
3.Reflek Trigeminal
a. Refleks kornea ( berasal dari sensorik Nervus V)
Kornea disentuh dengan kapas, bila normal pasien akan menutup
matanya atau Lalu menanyakan apakah pasien dapat merasakan.
b. Refleks masseter / Jaw reflex ( berasal dari motorik Nervus V)
Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada bagian tengah dagu,
lalu pasien dalam keadaan mulut setengah membuka dipukul dengan hammer
refleks. Normalnya didapatkan sedikit saja gerakan, malah kadang kadang tidak
ada. Bila ada gerakan nya hebat yaitu kontraksi m.masseter, m. temporalis, m.



74

pterygoideus medialis yang menyebabkan mulut menutup ini disebut reflex
meninggi.

c. Refleks supraorbital
Dengan mengetuk jari pada daerah supraorbital, normalnya akan menyebabkan
mata menutup homolateral (tetapi sering diikuti dengan menutupnya mata yang
lain).

SARAF OTAK VII (NERVUS FASIALIS)
6,8,9,10,11

Anatomi :
Radiks motorik nervus fasialis muncul dari batas posterior pons tepat di sebelah
lateral olive inferior sepanjang sisi medial sudut serebelopontin dan meninggalkan
cranium melalui meatus akustikus internus. Radiks sensorik berasal dari sel-sel
pada ganglion genikulatum dan berjalan sepanjang meatus akustikus intrnus untuk
menembus medulla oblongata melalui bagian yang berada disebelah dorsal
(nervus dari wrisberg).








Gambar 2.1 Nervus fasialis
Pemeriksaan:
1. Fungsi motorik N.Fasialis
2. Fungsi sensorik N.Fasialis
3. Parasimpatis N.Fasialis
1.Pemeriksaan dan Interpretasi fungsi motorik
a.Observasi otot wajah dalam keadaan istirahat
Pemeriksaan :



75

Pasien diperiksa dalam keadaan istirahat. Perhatikan wajah pasien kiri dan
kanan apakah simetris atau tidak. Perhatikan juga lipatan dahi, tinggi alis,
lebarnya celah mata, lipatan kulit nasolabial dan sudut mulut.

b.Observasi otot wajah saat digerakkan
Mengerutkan dahi, dibagian yang lumpuh lipatannya tidak dalam.
Mengangkat alis
Menutup mata dengan rapat dan coba buka dengan tangan pemeriksa.
Moncongkan bibir atau menyengir.
Suruh pasien bersiul, dalam keadaan pipi mengembung tekan kiri dan kanan
apakah sama kuat . Bila ada kelumpuhan maka angin akan keluar kebagian
sisi yang lumpuh.
2.Pemeriksaan fungsi Pengecapan
Persiapan :
Bahan : larutan garam (rasa asin), gula (rasa manis), kinine (rasa pahit),
cuka (rasa asam)
Pemeriksaan:
1.Mintalah pasien untuk menjulurkan lidahnya
2.Bersihkan lidah sebelum pemeriksaan
3.Berilah rangsangan pada indera pengecapnya 2/3 bagian depan
4. Pasien cukup menuliskan apa yang terasa diatas secarik kertas
Interpretasi : Ageusia, Pargeusia, Hipoageusia dan Hemiageusia
3.Pemeriksaan fungsi parasimpatis
Pemeriksaan :
1. Inspeksi lakrimasi dan sekresi kelenjar ludah
2. Gunakan kertas lakmus untuk memeriksa sekresi glandula lakrimasi, glandula
submaxilaris dan glandula sublingualis
Bahannya adalah: Glukosa 5 %, Nacl 2,5 %, Asam sitrat 1 %, Kinine 0,075 %.
Cara :
Sekresi air mata.
Dengan menggunakan Schirmer test ( lakmus merah )
Ukuran : 0,5 cm x 1,5 cm

76

Warna berubah menjadi Biru : Normal: 10 15 mm ( lama 5 menit ).
Interpretasi :
Normal : Lakrimasi dan sekresi glandula submasilaris dan sublingualis baik
Kelainan : Hiperlakrimasi dan Hiposekresi gl.submaxilaris dan sublingualis
SARAF OTAK VIII (NERVUS KOKHLEARIS, NERVUS
VESTIBULARIS)
5,6,8,9,10,11

Antomi :
Nervus akustikus atau statoakustikus memasuki rongga cranium melalui meatus
akustikus internus dan masuk kedalam batang otak di belakang tepi posterior
pedunkulus serebelaris medius. Bagian vestibuler timbul dari sel-sel dalam
ganglion vestibularis (ganglion dari scarpa) yang terletak di dalam bagian dorsal
meatus auditori inteernus. Bagian koklear timbul dari ganglion spiralis.












Gambar 2.22: Nervus Kokhlearis

Pemeriksaan N. Kokhlearis
Fungsi N. Kokhlearis adalah untuk pendengaran.
a. Pemeriksaan Weber.
Maksud nya membandingkan transportasi melalui tulang ditelinga kanan dan kiri
pasien. Garpu tala ditempatkan didahi pasien, pada keadaan normal kiri dan kanan
sama keras ( pasien tidak dapat menentukan dimana yang lebih keras ).


77

Pendengaran tulang mengeras bila pendengaran udara terganggu, misal: otitis
media kiri, pada test weber terdengar kiri lebih keras. Bila terdapat nerve
deafness disebelah kiri , pada test weber dikanan terdengar lebih keras .
b. Pemeriksaan Rinne.
Maksudnya membandingakn pendengaran melalui tulang dan udara dari pasien.
Pada telinga yang sehat, pendengaran melalui udara didengar lebih lama dari pada
melalui tulang. Garpu tala ditempatkan pada planum mastoid sampai pasien tidak
dapat mendengarnya lagi. Kemudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus
eksternus. Jika pada posisi yang kedua ini masih terdengar dikatakan test positip.
Pada orang normal test Rinne ini positif. Pada Conduction deafness test Rinne
negatif.
c. Pemesiksaan Schwabach.
Pada test ini pendengaran pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa
yang dianggap normal. Garpu tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan didekat
telinga pasien. Setelah pasien tidak mendengarkan bunyi lagi, garpu tala
ditempatkan didekat telinga pemeriksa. Bila masih terdengar bunyi oleh
pemeriksa, maka dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek (untuk konduksi
udara). Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada
tulang mastoid pasien. Dirusuh ia mendengarkan bunyinya. Bila sudah tidak
mendengar lagi maka garpu tala diletakkan ditulang mastoid pemeriksa. Bila
pemeriksa masih mendengarkan bunyinya maka dikatakan Schwabach (untuk
konduksi tulang) lebih pendek.












78

Pemeriksaan N. Vestibularis
a. Pemeriksaan dengan test kalori
Bila telinga kiri didinginkan ( diberi air dingin ) timbul nystagmus kekanan. Bila
telinga kiri dipanaskan ( diberi air panas ) timbul nystagmus kekiri. Nystagmus ini
disebut sesuai dengan fasenya yaitu : fase cepat dan fase pelan, misalnya
nystagmus kekiri berarti fase cepat kekiri. Bila ada gangguan keseimbangan maka
perubahan temperatur dingin dan panas memberikan reaksi.
b. Pemeriksaan past pointing test
Pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya,
kemudian dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengulangi. Normalnya
pasien harus dapat melakukannya.
c. Test Romberg
Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang
lainnya. Tumit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang lainnya, lengan
dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. Orang yang normal mampu berdiri
dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih.
d. Test melangkah ditempat ( Stepping test )
Pasien disuruh berjalan ditempat, dengan mata tertutup , sebanyak 50 langkah
dengan kecepatan seperti jalan biasa.Selama test ini pasien diminta untuk
berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama test
berlangsung. Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir pasien beranjak lebih dari
1 meter dari tempatnya semula, atau badan terputar lebih dari 30 derajat.

SARAF OTAK IX & X (NERVUS GLOSOFARINGEUS & NERVUS
VAGUS)
5,6,8,9,10,11

Anatomi :
Nervus glosofaringeus berisi serabut-serabut sensorik yang berasal dari sel-sel
dalam ganglion superior dan petrosus, lalu berjalan melewati foramen jugulare
dan memasuli medulla oblongata pada sisi lateral oliva inferior tepat di belakang
nervus fasialis. Bagian motorik muncul pada nucleus ambigus dan meninggalkan
lateral medulla oblongata untuk bersatu dengan bagian sensorik.
79

Nervus vagus berisi serabut-serabut aferen yang berasal dari sel-sel dalam
ganglion jugularis dan ganglion nodosum tepat di bawah foramen jugulare, dan
berjalan memalui foramen jugulare untuk memasuki medulla tepat di belakang
nervus glosofaringeus . Serabut-serabut motoriknya meninggalkan medulla
oblongata dan bersatu dengan bagian sensorik saraf tersebut.




Nervus IX Nervus X












Gambar 2.23: Nervus Glosofaringeus dan nervus vagus
1. Pemeriksaan Fungsi Motorik
A. Inspeksi lengkung langit-langit
Minta penderita membuka mulut dan suruh ucapkan Ah,Ah. Perhatikan
lengkung langit-langit dan posisi uvula.
Interpretasi :
Normal : Simetris lengkung langit-langit
Kelainan : Lengkung langit-langit yg sehat bergerak keatas.
Lengkung langit-langit yg lumpuh tertinggal.




80

B. Pemeriksaan fungsi menelan
Minta penderita minum air, lalu perhatikan apakah pasien mampu minum air atau
air masuk ke hidung.
Interpretasi:
Normal : mampu minum air dg baik.
Kelainan : air akan masuk ke hidung pd lesi n.IX bilateral
C.Pemeriksaan Fonasi suara
Minta penderita mengucapkan a.a.a.a.a.
Interpretasi :
Normal : tidak ada kelainan
Kelainan : gangguan fonasi suara sengau

2.Pemeriksaan fungsi parasimpatis
Inspeksi sekresi kelenjar ludah
Interpretasi :
Normal : sekresi kelenjar ludah ada
Kelainan : sekresi kelenjar ludah (-)

3.Pemeriksaan Fungsi Sensorik
A.Reflek muntah
Sentuh bagian atas faring/palatum molle
Interpretasi : Reflek muntah +/ -
B. Pemeriksaan Fungsi pengecapan
Minta pasien menjulurkan lidahnya.
Bersihkan lidah penderita pada 1/3 bagian belakang.
Berilah rangsangan pengecapan pada lidah 1/3 belakang.
Interpretasi : Ageusia, Hipoageusia, Parageusia dan Hemiageusia

SARAF OTAK XI ( NERVUS AKSESORIUS)
5,6,8,9,10,11

Anatomi :
Nervus aksesorius timbul superficial dari suatu rangkaian filamen yang berada di
belakang filamen-filamen radiks nervus vagus, dari permukaan lateral medulla


81

oblongata dan medulla spinalis servikal atas serta meninggalkan cranium melalui
foramen jugulare.

Gambar 2.24: Nervus aksesorius

1.Pemeriksaan Fungsi M.Sterno Kleidomastodius
Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan kekiri dan ditahan oleh pemeriksa,
kemudian dilihat dan diraba tonus dari m. Sternocleidomastoideus.
Interpretasi :
Normal : Kontraksi +
Kelainan : Kontkaksi -
2.Pemeriksaan Fungsi M.Trapezius
Memeriksa tonus dari m. Trapezius. Dengan menekan pundak pasien dan pasien
diminta untuk mengangkat pundaknya.
A.Saat Istirahat
B.Saat bahu digerakkan
Interpretasi :
Normal : simetris
Kelainan : Asimetris : kelemahan pada bahu yg sakit



82

SARAF OTAK XII ( NERVUS HIPOGLOSUS )
5,6,8,9,10,11

Anatomi :
Nervus hipoglosus berjalan dari tempat asal superficial melalui filament di dalam
sulkus ventrolateralis medulla oblongata diantara oliva inferior dan piramis,
filament-filamen ini kemudian menyatu dan meninggalkan fossa posterior tulang
tengkorak melalui canalis hipoglosus.














Gambar 2.25: Nervus hipoglosus

Cara pemeriksaan.
Dengan adanya gangguan pergerakan lidah, maka perkataan perkataan tidak
dapat diucapkan dengan baik hal demikian disebut: dysarthri.
Dalam keadaan diam lidah tidak simetris, biasanya tergeser ke daerah lumpuh
karena tonus disini menurun.
Bila lidah dijulurkan maka lidah akan membelok kesisi yang sakit.
Melihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah .
Kekuatan otot lidah dapat diperiksa dengan menekan lidah ke samping pada
pipi dan dibandingkan kekuatannya pada kedua sisi pipi.



83


PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.
Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu
untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan.
6

1. Pengamatan
Gaya berjalan dan tingkah laku.
Simetri tubuh dan ektremitas.
Kelumpuhan badan dan anggota gerak dan lain-lain.
2. Gerakan Volunter
Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa, misalnya:
Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.
Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti.
Mengepal dan membuka jari-jari tangan.
Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul.
Fleksi dan ekstensi artikulus genu.
Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.
Gerakan jari- jari kaki.

3. Palpasi otot
Pengukuran besar otot
Nyeri tekan
Kontraktur
Konsistensi (kekenyalan)
Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada :
Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis, misal: meningitis, HNP.
Kelumpuhan jenis UMN ( spastisitas ).
Gangguan UMN ekstrapiramidal ( rigiditas ).
Kontraktur otot.
84

Konsistensi otot yang menurun terdapat pada:
Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot.
Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di motor end plate.
4. Perkusi otot.
Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan
berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja.
Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi (biasanya
terdapat pada pasien mixedema, pasien dengan gizi buruk).
Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh
karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa.
5. Tonus otot.
Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian
ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku
dan lutut . Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar.
Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada kelumpuhan LMN).
Hipotoni : tahanan berkurang.
Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan , ini dijumpai
pada kelumpuhan UMN.
Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson.
6. Kekuatan otot.
Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan otot ada
dua cara:
Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan
pemeriksa menahan gerakan ini.
Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia
disuruh menahan.
Untuk memeriksa kekuatan otot maka sebaiknya dilakukan satu arah gerakan
pada satu sendi saja dan otot atau kelompok otot tersebut langsung dinilai.
Gerakan dapat pula dilakukan dengan menyuruh pasien membuat gerakan
tersebut.
5



85

Cara menilai kekuatan otot dengan menggunakan angka dari 0-5, yaitu :
8

Derajat 5 : kekuatan normal. Seluruh gerakan dapat
dilakukan otot tersebut dengan tahanan maksimal dari
pemeriksa yang dilakukan berulang-ulang tanpa terlihat
adanya kelelahan.
Derajat 4 : seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan
gaya berat dan juga melawan tahanan ringan dan sedang dari
pemeriksa.
Derajat 3 : seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan
gaya berat, tetapi tidak dapat melawan tahanan dari pemeriksa.
Derajat 2 : otot hanya dapat bergerak bila gaya berat
dihilangkan.
Derajat 1 : kontraksi otot minimal dapat terasa pada otot
bersangkutan tanpa mengakibatkan gerakan.
Derajat 0 : tidak ada kontraksi sama sekali, paralisis total.
Cara pemeriksaan otot :
Pasien disuruh menggerakkan otot menurut fungsinya dan pemeriksa memberikan
perlawanan terhadap gerakan tersebut, atau sebaliknya pemeriksa melakukan
gerakan pasif pada anggota gerak pasien dan pasien disuruh melawan gerakan
tersebut.
Anggota gerak atas,yaitu :
6

Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti ( C7,C8,T1,saraf ulnaris)
Pemeriksaan otot aduktor policis ( C8,T1 , saraf ulnaris ).
Pemeriksaan otot interosei palmaris ( C8,T1,saraf ulnaris ).
Pemeriksaan otot interosei dorsalis ( C8,T1, saraf ulnaris ).
Pemeriksaan abduksi ibu jari.
Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7,8,saraf radialis ).
Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian atas ( C5-C8).
Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah ( C5-C8).
Pemeriksaan otot latisimus dorsi ( C5-C8, saraf subskapularis).
Pemeriksaan otot seratus aterior ( C5-C7,saraf torakalis ).
Pemeriksaan otot deltoid ( C5,C5, saraf aksilaris ).
86

Pemeriksaan otot biseps ( C5,C6, saraf muskulokutaneus ).
Pemeriksaan otot triseps ( C6-C8, saraf radialis ).
Anggota gerak bawah, yaitu ;
6

Pemeriksaan otot kuadriseps femoris ( L2-L4,saraf femoralis ).
Pemeriksaan otot aduktor ( L2-L4, saraf obturatorius).
Pemeriksaan otot kelompok hamstring ( L4,L5,S1,S2,saraf siatika ).
Pemeriksaan otot gastroknemius ( L5,S1, S2,saraf tibialis ).
Pemeriksaan otot fleksor digitorum longus ( S1, S2, saraf tibialis

7. Gerakan involunter.
Gerakan involunter ditimbulkan oleh gejala pelepasan yang bersifat positif,
yaitu dikeluarkan aktivitas oleh suatu nukleus tertentu dalam susunan
ekstrapiramidalis yang kehilangan kontrol akibat lesi pada nukleus
pengontrolnya. Susunan ekstrapiramidal ini mencakup kortex
ekstrapiramidalis, nuklues kaudatus, globus pallidus, putamen, corpus luysi,
substansia nigra, nucleus ruber, nukleus ventrolateralis thalami substansia
retikularis dan serebelum.
Tremor saat istirahat : disebut juga tremol striatal, disebabkan lesi pada
corpus striatum ( nucleus kaudatus, putamen, globus pallidus dan lintasan
lintasan penghubungnya ) misalnya kerusakan substansia nigra pada
sindroma Parkinson.
Tremor saat bergerak ( intensional ) : disebut juga tremor serebellar,
disebabkan gangguan mekanisme feedback oleh serebellum terhadap
aktivitas kortes piramidalis dan ekstrapiramidal hingga timbul kekacauan
gerakan volunter.
Khorea : gerakan involunter pada ekstremitas, biasanya lengan atau tangan,
eksplosif, cepat berganti sifat dan arah gerakan secara tidak teratur, yang
hanya terhenti pada waktu tidur. Khorea disebabkan oleh lesi di corpus
striataum, substansia nigra dan corpus subthalamicus.
Athetose : gerakan involenter pada ektremitas, terutama lengan atau tangan
atau tangan yang agak lambat dan menunjukkan pada gerakan melilit lilit ,
87

torsi ekstensi atau torsi fleksi pada sendi bahu, siku dan pergelangan tangan.
Gerakan ini dianggap sebagai manifestasi lesi di nucleus kaudatus.
Ballismus: gerakan involunter otot proksimal ekstremitas dan paravertebra,
hingga menyerupai gerakan seorang yang melemparkan cakram. Gerakan ini
dihubungkan dengan lesi di corpus subthalamicus, corpus luysi, area
prerubral dan berkas porel.
Fasikulasi: kontrasi abnormal yang halus dan spontan pada sisa serabut
otot yang masih sehat pada otot yang mengalami kerusakan motor neuron.
Kontraksi nampak sebagai keduten keduten dibawah kulit. keduten tidak
secepat fasikulasi dan berlangsung lebih lama dari fasikulasi.
Myokloni : gerakan involunter yang bangkit tiba tiba cepat, berlangsung
sejenak, aritmik, dapat timbul sekali saja atau berkali kali ditiap bagian otot
skelet dan pada setiap waktu, waktu bergerak maupun waktu istirahat.
8. Fungsi koordinasi.
Tujuan pemeriksaan ini untuk menilai aktivitas serebelum. Serebelum adalah
pusat yang paling penting untuk mengintegrasikan aktivitas motorik dari kortex,
basal ganglia, vertibular apparatus dan korda spinalis. Lesi organ akhir sensorik
dan lintasan lintasan yang mengirimkan informasi ke serebelum serta lesi pada
serebelum dapat mengakibatkan gangguan fungsi koordinasi atau sering disebut
Cerebellar sign .
Macam-macam pemeriksaan Cerebellar sign
Test telunjuk hidung.
Test jari jari tangan.
Test tumit lutut.
Test diadokinesia berupa: pronasi supinasi, tapping jari tangan.
Test fenomena rebound.
Test mempertahankan sikap.
Test nistagmus.
Test disgrafia.
Test romberg.

88

Test romberg positif: baik dengan mata terbuka maupun dengan mata
tertutup , pasien akan jatuh kesisi lesi setelah beberapa saat kehilangan
kestabilan ( bergoyang goyang ).
Pasien sulit berjalan pada garis lurus pada tandem walking, dan
menunjukkan gejala jalan yang khas yang disebut celebellar gait
Pasien tidak dapat melakukan gerakan volunteer dengan tangan,lengan
atau tungkai dengan halus. Gerakan nya kaku dan terpatah-patah. Gait dan
Station.
Pemeriksaan ini hanya dilakukan bila keadaan pasein memungkinkan
untuk itu. Harus diperhitungkan adanya kemungkinan kesalahan
interpretasi hasil pemeriksaan pada orang orang tua atau penyandang cacat
non neurologis. Pada saat pasien berdiri dan berjalan perhatikan posture,
keseimbangan , ayunan tangan dan gerakan kaki dan mintalah pasien untuk
melakukan.
Jalan diatas tumit.
Jalan diatas jari kaki.
Tandem walking.
Jalan lurus lalu putar.
Jalan mundur.
Hopping.
Berdiri dengan satu kaki.

Macam macam Gait:
Hemiplegik gait: gaya jalan dengan kaki yang lumpuh digerakkan secara
sirkumduksi.
Spastik ( scissors gait ): gaya jalan dengan sirkumduksi kedua tungkai,
misalnya spastik paraparese.
Tabetic gait: gaya jalan pada pasien tabes dorsalis.
Steppage gait: gaya jalan seperti ayam jago, pada paraparese flaccid atau
paralisis n. Peroneus.
Waddling gait: gaya berjalan dengan pantat dan pinggang bergoyang
berlebihan, khas untuk kelemahan otot tungkai proksimal, misalnya otot gluteus.
89

Parkinsonian gait: gaya berjalan dengan sikap tubuh agak membungkuk, kedua
tungkai berfleksi sedikit pada sendi lutut dan panggul. Langkah dilakukan
setengah diseret dengan jangkauan yang pendek-pendek.


MANIFESTASI SECARA KLINIK
Temuan pada pemeriksaan fisik bervariasi berdasarkan pada usia dan
organisme penyebab infeksi. Penting untuk diingat bahwa anak muda, jarang
menunjukan gejala spesifik.
- Pada bayi muda temuan yang pasti mengarah ke meningitis jarang
spesifik:
a. Hipotermia atau mungkin bayi demam
b. Ubun-ubun membumbung, diastasis (pemisahan) pada sutura
jahitan, dan kaku kuduk tapi biasanya temuan ini muncul lambat.
- Saat anak tumbuh lebih tua, pemeriksaan fisik menjadi lebih
mudah dicari.
a. tanda-tanda meningeal lebih mudah di amati (misalnya, kaku
kuduk, tanda kernig positif dan Brudzinski juga positif)

90


Gambar 2.26: Gambar pemeriksaan brudzinski dan kernig

b. tanda fokal neurologis dapat ditemukan sampai dengan 15% dari
pasien yang berhubungan dengan prognosis yang buruk
c. Kejang terjadi pada 30% anak dengan meningitis bakteri
d. Kesadaran berkabut (obtundation) dan koma terjadi pada 15-20 %
dari pasien dan lebih sering dengan meningitis pneumokokus.
- Dapat ditemukan tanda peningkatan tekanan intrakranial dan
pasien akan mengeluhkan sakit kepala, diplopia, dan muntah. Ubun-ubun
menonjol, ptosis, saraf cerebral keenam, anisocoria, bradikardia dengan
hipertensi, dan apnea adalah tanda-tanda tekanan intrakranial meningkat
dengan herniasi otak. Papilledema jarang terjadi, kecuali ada oklusi sinus
vena, empiema subdural, atau abses otak.
- Pada infeksi ensefalitis akut biasanya didahului oleh prodrome
beberapa hari gejala spesifik, seperti batuk, sakit tenggorokan, demam,
sakit kepala, dan keluhan perut, yang diikuti dengan gejala khas kelesuan
progresif, perubahan perilaku, dan defisit neurologis. Kejang yang umum
pada presentasi. Anak-anak dengan ensefalitis juga mungkin memiliki
91

ruam makulopapular dan komplikasi parah, seperti fulminant coma,
transverse myelitis, anterior horn cell disease (polio-like illness), atau
peripheral neuropathy. Selain itu temuan fisik yang umum ditemukan
pada ensefalitis adalah demam, sakit kepala, dan penurunan fungsi
neurologis. Penurunan fungsi saraf termasuk berubah status mental, fungsi
neurologis fokal, dan aktivitas kejang. Temuan ini dapat membantu
mengidentifikasi jenis virus dan prognosis. Misalnya akibat infeksi virus
West Nile, tanda-tanda dan gejala yang tidak spesifik dan termasuk
demam, malaise, nyeri periokular, limfadenopati, dan mialgia. Selain itu
terdapat beberapa temuan fisik yang unik termasuk makulopapular, ruam
eritematous; kelemahan otot proksimal, dan flaccid paralysis.
-
2.7.7 Pemeriksaan Penunjang
TEMUAN DALAM PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jika dicurigai bakteri meningitis dan encephalitis, pungsi lumbal harus
dilakukan. Pungsi lumbal harus dihindari dengan adanya ketidakstabilan
kardiovaskular atau tanda-tanda tekanan intrakranial meningkat. Pemeriksaan
cairan serebrospinal rutin termasuk hitung WBC, diferensial, kadar protein dan
glukosa, dan gram stain. Bakteri meningitis ditandai dengan pleositosis
neutrophilic, cukup dengan protein tinggi nyata, dan glukosa rendah. Viral
meningitis ditandai dengan protein pleositosis limfositik ringan sampai sedang,
normal atau sedikit lebih tinggi, dan glukosa normal. Sedangkan pada encephalitis
menunjukkan pleositosis limfositik, ketinggian sedikit kadar protein, dan kadar
glukosa normal. Peningkatan eritrosit dan protein CSF dapat terjadi dengan HSV.
Extreme peningkatan protein dan rendahnya kadar glukosa menunjukan infeksi
tuberkulosis, infeksi kriptokokus, atau carcinomatosis meningeal. Cairan
serebrospinal harus dikultur untuk mengetahui bakteri, jamur, virus, dan
mikobakteri yang menginfeksi. PCR digunakan untuk mendiagnosis enterovirus
dan HSV karena lebih sensitif dan lebih cepat dari biakan virus. Leukositosis
adalah umum ditemukan. Kultur darah positif pada 90% kasus.
Pemeriksaan Electroencephalogram (EEG) dapat mengkonfirmasi komponen
ensefalitis. EEG adalah tes definitif dan menunjukkan aktivitas gelombang
92

lambat, walaupun perubahan fokal mungkin ada. Studi neuroimaging mungkin
normal atau mungkin menunjukkan pembengkakan otak difus parenkim atau
kelainan fokal.
Serologi studi harus diperoleh untuk arbovirus, EBV, Mycoplasma
pneumoniae, cat-scratch disease, dan penyakit Lyme. Sebuah uji IgM serum atau
CSF untuk infeksi virus West Nile tersedia, tetapi reaktivitas silang dengan
flaviviruses lain (St Louis ensefalitis) dapat terjadi. pengujian serologi tambahan
untuk patogen kurang umum harus dilakukan seperti yang ditunjukkan oleh
perjalanan, sosial, atau sejarah medis. Selain pengujian serologi, sampel CSF dan
tinja dan usap nasofaring harus diperoleh untuk biakan virus. Dalam kebanyakan
kasus ensefalitis virus, virus ini sulit untuk mengisolasi dari CSF. Bahkan dengan
pengujian ekstensif dan penggunaan tes PCR, penyebab ensefalitis masih belum
ditentukan di satu pertiga dari kasus.
Biopsi otak mungkin diperlukan untuk diagnosis definitif dari penyebab
ensefalitis, terutama pada pasien dengan temuan neurologik fokal. Biopsi otak
mungkin cocok untuk pasien dengan ensefalopati berat yang tidak menunjukkan
perbaikan klinis jika diagnosis tetap tidak jelas. HSV, rabies ensefalitis, penyakit
prion-terkait (Creutzfeldt-Jakob penyakit dan kuru) dapat didiagnosis dengan
pemeriksaan rutin kultur atau biopsi patologis jaringan otak. Biopsi otak mungkin
penting untuk mengidentifikasi arbovirus dan infeksi Enterovirus, tuberkulosis,
infeksi jamur, dan penyakit non-menular, terutama primer SSP vasculopathies
atau keganasan.
Tabel 2.5: Temuan pada pemeriksaan cairan serebrospinal
pada beberapa gangguan sistem saraf pusat
kondisi Tekanan Leukosit (/L) Protein
(mg/dL)
Glukosa
(mg/dL)
ketera
ngan
Normal 50-180
mm H
2
O
<4; 60-70%
limfosit,
30-40%
monosit,
1-3% neutrofil
20-45 >50 atau 75%
glukosa darah

93

Meningitis
bakterial akut
Biasanya
meningkat
100-60,000 +;
biasanya
beberapa ribu;
PMNs
mendominasi
100-500 Terdepresi
apabila
dibandingkan
dengan
glukosa
darah;
biasanya <40
Organi
sme
dapat
dilihat
pada
Gram
stain
dan
kultur
Meningitis
bakterial yang
sedang
menjalani
pengobatan
Normal
atau
meningkat
1-10,000;
didominasi
PMNs tetapi
mononuklear
sel biasa
mungkin
mendominasi
Apabila
pengobatan
sebelumnya
telah lama
dilakukan
>100 Terdepresi
atau normal
Organi
sme
normal
dapat
dilihat;
pretrea
tment
dapat
menye
babkan
CSF
steril
Tuberculous
meningitis
Biasanya
meningkat
: dapat
sedikit
meningkat
karena
bendunga
n cairan
serebrospi
nal pada
tahap
10-500; PMNs
mendominasi
pada awalnya
namun
kemudian
limfosit dan
monosit
mendominasi
pada akhirnya
100-500;
lebih
tinggi
khususnya
saat
terjadi
blok
cairan
serebrospi
nal
<50 usual;
menurun
khususnya
apabila
pengobatan
tidak adekuat
Bakteri
tahan
asam
mungk
in
dapat
terlihat
pada
pemeri
ksaan
usap
94








tertentu CSF;
Fungal Biasanya
meningkat
25-500; PMNs
mendominasi
pada awalnya
namun
kemudian
monosit
mendominasi
pada akhirnya
20-500 <50;
menurun
khususnya
apabila
pengobatan
tidak adekuat
Buddin
g yeast
dapat
terlihat
Viral meningitis
atau
meningoencefali
tis
Normal
atau
meningkat
tajam
PMNs
mendominasi
pada awalnya
namun
kemudian
monosit
mendominasi
pada akhirnya ;
jarang lebih dari
1000 sel kecuali
pada eastern
equine
20-100 Secara umum
normal; dapat
terdepresi
hingga 40
pada beberapa
infeksi virus
(15-20% dari
mumps)

Abses (infeksi
parameningeal)
Normal
atau
meningkat
0-100 PMNs
kecuali pecah
menjadi CSF
20-200 Normal Profil
mungk
in
normal
95

2.7.8 Diagnosa Banding
1. Kejang demam
Kejang Demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal >38C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranial.
Kejang demam dibagi atas kejang demam sederhana dan kejang
demam kompleks. Kejang demam kompleks adalah kejang demam
fokal, lebih dari 15 menit, atau berulang dalam 24 jam. Pada kejang
demam sederhana kejang bersifat umum, singkat, dan hanya sekali
dalam 24 jam
Gejala dan tanda
Dari anamnesis ditanyakan:
Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu
sebelum/saat kejang, frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab
kejang di luar SSP.
Tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Riwayat kelahiran, perkembangan, kejang demam dalam keluarga,
epilepsi dalam keluarga (kakak-adik, orangtua).
Singkirkan dengan anamnesis penyebab kejang yang lain.
Dari pemeriksaan fisik dan neurologis
Kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsang meningeal, tanda
peningkatan tekanan intrakranial, dan tanda infeksi di luar SSP.
Pada umumnya tidak dijumpai adanya kelainan neurologis,
termasuk tidak ada kelumpuhan nervi kranialis.
Diagnosa
Kriteria diagnosis kejang demam:
Kejang didahului oleh demam.
Pasca-kejang anak sadar kecuali kejang lebih dari 15 menit.
Pemeriksaan cairan serebrospinalis dalam batas normal.
Penatalaksanaan saat kejang:
- Beri Diazepam iv pelan-pelan dengan dosis 0,3-0,5 mg/menit
dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit,
96

dengan dosis maksimal 20mg. Obat yang praktis diberikan yaitu
diazepam rektal dengan dosis 0,5-0,75 mg/kg. Atau:
untuk anak dengan BB kurang dari 10kg;



- Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti,
dapat diulangi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval
waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal
masih kejang, dianjurkan ke RS, agar dapat diberikan diazepam
intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg.
- Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara iv
dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan
1mg/kg/menit atau kurang dari 50mg/menit. Bila kejang berhenti,
dosis selanjutnya adalah 4-8mg/kg/hari,dimulai 12 jam setelah
dosis awal.
- Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus
dirawat di ruang rawat intensif.
Antipiretik
akibat demam, maka tujuan utama
pengobatan adalah mencegah demam meningkat. Berikan
asetaminofen 1015 mg/kg/hari setiap 46 jam atau ibuprofen 5
10 mg/kg/haritiap 46 jam.
Anti kejang
atau diazepam rektal 0,5mg/kg/kali setiap 12 jam bila demam di
atas 38C.
2 Meningitis
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi
otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau
organ-organ jamur (Smeltzer, 2001).

97

3. Encepalitis
Ensefalitis adalah suatu peradangan akut dari jaringan parenkim otak
yang disebabkan oleh infeksi dari berbagai macam mikroorganisme
dan ditandai dengan gejala-gejala umum dan manifestasi neurologis.
4. Infark Cerebral
Infark otak merupakan kematian neuron, glia dan vaskulator yang disebabkan oleh
tiadanya oksigen atau nutrien atau terganggunya metabolisme. Tiap penyebab
infark (anoksia, iskemik atau hipoglikemia) memiliki gambaran khas tersendiri,
begitu pola zona predileksi dan gambaran histopatologinya. Infark anoksia
disebabkan oleh tiadanya oksigen walaupun sirkulasi darah tetap normal. Infark
hipoglikemik terjadi bila kadar glukosa darah turun dibawah angka kritis selama
periode yang berkepanjangan. Dari ketiga jenis infark tadi, yang paling sering
dijumpai adalah infark iskemik yang menyebabkan hipoksia sekunder,
terganggunya nutrisi seluler, dan kematian sel otak.
5. Perdarahan Cerebral
Perdarahan yang primer berasal dari pembuluh darah dalam parenkim
otak dan bukan disebabkan oleh trauma.

Tabel 2.6: Perbandingan gejala meningitis dilihat dari penyebabnya
Test
Meningitis
purulenta
(bakterial)
Meningitis serosa
(tuberkulosa) Meningitis virus
Tekanan
likuor
Warna
Jumlah
sel
Jenis sel
Kadar
protein
Kadar
glukosa
Meningkat
Keruh purulent
1000 / ml
Predominan PMN
Sedikit meningkat
Normal / menurun
Menurun, <
700mg/dl
Bervariasi
Xanthochromia
Bervariasi
Predominan MN
Meningkat
Rendah
Menurun
Biasanya normal
Jernih
< 100 / ml
Predominan MN
Normal / meningkat
Biasanya normal
Normal
98

Kadar
klorida


2.7.9 Penatalaksanaan
1. Perawatan umum
a. Penderita dirawat di rumah sakit.
b. Mula mula cairan diberikan secara infus dalam jumlah yang cukup
dan jangan berlebihan.
c. Bila gelisah diberi sedativa seperti Fenobarbital atau penenang.
d. Nyeri kepala diatasi dengan analgetika.
e. Panas diturunkan dengan :
Kompres es
Paracetamol
Asam salisilat
Pada anak dosisnya 10 mg/kg BB tiap 4 jam secara oral
f. Kejang diatasi dengan :
Diazepam
Dewasa : dosisnya 10 20 mg IV
Anak : dosisnya 0,5 mg/kg BB IV
Fenobarbital
Dewasa : dosisnya 6 120 mg/hari secara oral
Anak : dosisnya 5 6 mg/kg BB/hari secara oral
Difenil hidantoin
Dewasa : dosisnya 300 mg/hari secara oral
Anak : dosisnya 5 9 mg/kg BB/hari secara oral
g. Sumber infeksi yang menimbulkan meningitis purulenta diberantas
dengan obat obatan atau dengan operasi
h. Kenaikan tekanan intra kranial diatasi dengan :
Manitol
Dosisnya 1 1,5 mg/kg BB secara IV dalam 30 60 menit dan
dapat diulangi 2 kali dengan jarak 4 jam
99

Kortikosteroid
Biasanya dipakai deksametason secara IV dengan dosis
pertama 10 mg lalu diulangi dengan 4 mg setiap 6 jam.
Kortikosteroid masih menimbulkan pertentangan. Ada yang
setuju untuk memakainya tetapi ada juga yang mengatakan
tidak ada gunanya.
Pernafasan diusahakan sebaik mungkin dengan
membersihkan jalan nafas.
i. Bila ada hidrosefalus obstruktif dilakukan operasi pemasangan pirau
(shunting).
j. Efusi subdural pada anak dikeluarkan 25 30 cc setiap hari selama 2
3 minggu, bila gagal dilakukan operasi.
k. Fisiotherapi diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.

2. Pemberian Antibiotika.
Antibiotika spektrum luas harus diberikan secepat mungkin tanpa
menunggu hasil biakan. Baru setelah ada hasil biakan diganti dengan antibiotika
yang sesuai. Pada terapi meningitis diperlukan antibiotika yang jauh lebih besar
daripada konsentrasi bakterisidal minimal, oleh karena :
Dengan menembusnya organisme ke dalam ruang sub araknoid
berarti daya tahan host telah menurun.
Keadaan likuor serebrospinalis tidak menguntungkan bagi leukosit
dan fagositosis tidak efektif.
Pada awal perjalanan meningitis purulenta konsentrasi antibodi dan
komplemen dalam likuor rendah.
Pemberian antibiotika dianjurkan secara intravena yang mempunyai
spektrum luas baik terhadap kuman gram positif, gram negatif dan anaerob serta
dapat melewati sawar darah otak (blood brain barier). Selanjutnya antibiotika
diberikan berdasarkan hasil test sensitivitas menurut jenis bakteri.
Antibiotika yang sering dipakai untuk meningitis purulenta adalah :
a. Ampisilin
Diberikan secara intravena
100

Dosis : Neonatus : 50 100 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 2 kali pemberian.
Umur 1 2 bulan : 100 200 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 3 kali pemberian.
Umur > 2 bulan : 300 400 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 4 kali pemberian.
Dewasa : 8 12 gram/hari
dibagi dalam 4 kali pemberian.
b. Gentamisin
Diberikan secara intravena
Dosis : Prematur : 5 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 2 kali pemberian.
Neonatus : 7,5 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 3 kali pemberian.
Bayi dan dewasa : 5 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 3 kali pemberian.
c. Kloramfenikol
Diberikan secara intravena
Dosis : Prematur : 25 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 2 kali pemberian.
Bayi genap bulan : 50 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 2 kali pemberian.
Anak : 100 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 4 kali pemberian.

Dewasa : 4 8 gram/hari
dibagi dalam 4 kali pemberian.
d. Sefalosporin
Diberikan secara intravena
Sefotaksim
Dosis : Prematur & neonatus : 50 mg/kg BB/hari
101

dibagi dalam 2 kali
pemberian.
Bayi & anak : 50 200 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 24 kali
pemberian.
Dewasa : 2 gram tiap 4 6 jam.
Bila fungsi ginjal jelek, dosis diturunkan.
Sefuroksim
Dosis : Anak : 200 mg/kg BB/hari
dibagi dalam 4 kali
pemberian.
Dewasa : 2 gram tiap 6 jam

Bila dilakukan kultur dan bakteri penyebab dapat ditemukan, biasanya antibiotika
yang digunakan adalah seperti yang tercantum dalam tabel berikut ini
Tabel 2.7: Pilihan antibiotik berdasakan kuman penyebab
No Kuman penyebab Pilihan
pertama
Alternatif lain
1. H. influenzae Ampisilin Cefotaksim
2. S. pneumoniae Penisillin G Kloramfenikol
3. N. meningitidis Penisillin G Kloramfenikol
4. S. aureus Nafosillin Vancomisin
5. S. epidermitis
Enterobacteriaceae
Sefotaksim Ampisillin bila
sensitif dan atau
ditambah
aminoglikosida
secara intrateca.
6. Pseudomonas Pipersillin +
Tobramisin
Sefotaksim
7. Streptococcus
Group A / B
Penicillin G Vankomisin
8. Streptococcus Ampisillin +
102

Group D Gentamisin
9. L monocytogenes Ampisillin Trimetoprim
Sulfametoksasol

Terapi suportif melibatkan pengobatan dehidrasi dengan cairan pengganti
dan pengobatan shock, koagulasi intravaskular diseminata , patut sekresi hormon
antidiuretik , kejang , peningkatan tekanan intrakranial , apnea , aritmia , dan
koma.Terapi suportif juga melibatkan pemeliharaan perfusi serebral yang memadai dihadapan
edema serebral .
Dengan pengecualian dari HSV dan HIV , tidak ada terapi spesifik untuk
virusensefalitis . Manajemen mendukung dan sering membutuhkan masuk ICU ,
yangmemungkinkan terapi agresif untuk kejang , deteksi tepat waktu kelainan
elektrolit ,dan , bila perlu , pemantauan jalan napas dan perlindungan dan
pengurangan peningkatan tekanan intrakranial .IV asiklovir adalah pilihan
perawatan untuk infeksi HSV . Infeksi HIV dapat diobatidengan kombinasi ARV .
Infeksi M. pneumoniae dapat diobati dengan doksisiklin ,eritromisin , azitromisin
, klaritromisin atau , meskipun nilai mengobati penyakitmikoplasma SSP dengan agen
ini masih diperdebatkan. Perawatan pendukung sangat penting untuk menurunkan
tekanan intrakranial dan untuk mempertahankan tekanan perkusi serebral yang
memadai dan oksigenasi.

2.7.10 Prognosis
Prognosis penyakit ini bervariasi, tergantung pada :
1. Umur : Anak Makin muda makin baguS prognosisnya
Dewasa Makin tua makin jelek prognosisnya

2. Kuman penyebab
3. Lama penyakit sebelum diberikan antibiotika
4. Jenis dan dosis antibiotika yang diberikan
5. penyakit yang menjadi faktor predisposisi.
Pada banyak kasus, penderita meningitis yang ringan dapat sembuh
sempurna walaupun proses penyembuhan memerlukan waktu yang lama.
103

Sedangkan pada kasus yang berat, dapat terjadi kerusakan otak dan saraf secara
permanen, dan biasanya memerlukan terapi jangka panjang






























104

BAB III
KESIMPULAN

Meningoensefalitis berarti peradangan pada otak (encephalon) dan
selaput pembungkusnya (meningen). Bakteri, jamur, dan proses autoimun dapat
menyebabkan ensefalitis, tetapi pada kebanyakan kasus etiologinya adalah virus.
Virus herpes simpleks (HSV) menjadi penyebab tersering dari ensefalitis. Gejala
umum yang terjadi adalah lemah, malaise, demam, sakit kepala, pusing, mual-
muntah, fotofobia, nyeri ekstermitas, tanda nasofaringitis, halusinasi, kejang,
gangguan kesadaran. Penatalaksaan pada meningoensefalitis adalah dengan
menggilangkan gejala-gejala yang ada dan memberikan obat sesuai faktor
penyebab, yaitu antibakteri atau antivirus. Pada banyak kasus, penderita
meningitis yang ringan dapat sembuh sempurna walaupun proses penyembuhan
memerlukan waktu yang lama. Sedangkan pada kasus yang berat, dapat terjadi
kerusakan otak dan saraf secara permanen, dan biasanya memerlukan terapi
jangka panjang.
















105

DAFTAR PUSTAKA

1. Harsono. 2003. Meningitis. Kapita Selekta Neurologi. 2 URL :
http://www.uum.edu.my/medic/meningitis.htm
2. Japardi, Iskandar. 2002. Meningitis Meningococcus. USU digital library
URL:http://library.usu.ac.id/download/fk/bedahiskandar%20japardi23.pdf
3. Quagliarello, Vincent J., Scheld W. 1997. Treatment of Bacterial
Meningitis. The New England Journal of Medicine. 336 : 708-16 URL
:http://content.nejm.org/cgi/reprint/336/10/708.pdf
4. Cambell W, DeJongs The Neurologic Examination Sixth edition,
Lippincott Williams and Wilkins, Philadelpia, 2005;19-20,37-40,97-277
5. Lumbantobing SM, Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental,
FKUI, Jakarta, 2004; 7-111
6. Juwono T, Pemeriksaan Klinik Neurologi dalam Praktek. EGC, Jakarta; 5-
53
7. Posner JB, Schiff ND, Saper CB, Plum F, Plum and Posner Diagnosis of
Stupor and Coma fourth edition, Oxford University Press, Oxford, 2007;
38-42
8. Markam S, Penuntun Neurologi, Binarupa Aksara, Jakarta; 18-50
9. Chusid JG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional Bagian
Satu, Gajah Mada University Press, Jogjakarta, 1990; 150-190
10. Duus Peter, Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda dan
Gejala edisi II, EGC, Jakarta; 78-127
11. Fitzgerald MJ, Gruener G, Mtui E, Clinical Neuroanatomy and
Neuroscience Fifth edition International edition, Saunders Elsevier,
British, 2007; 225-257
12. Ellenby, Miles., Tegtmeyer, Ken., Lai, Susanna., and Braner, Dana. 2006.
Lumbar Puncture. The New England Journal of Medicine. 12 : 355 URL
:http://content.nejm.org/cgi/reprint/355/13/e12.pdf