Anda di halaman 1dari 21

1

Humanisme dan Para Kritikusnya
F. Budi Hardiman
Humanisme adalah sebuah topik yang ‘licin’. Kata itu bukanlah sebuah istilah
dengan pengertian tunggal yang mudah disepakati. Orang kebanyakan di
Indonesia mendengar istilah ini sebagai barang asing yang dicangkokan ke
dalam bahasa kita. Kalangan-kalangan religius, khususnya yang meyakini
eksklusivitas jalan keselamatan menurut doktrin mereka, menganggap
humanisme sebagai musuh berbahaya yang harus ditangkal. ebaliknya bagi
mereka yang dicekik oleh doktrin-doktrin !anatik agama, humanisme merupakan
lorong pembebasan yang memberi mereka na!as untuk hidup. "opik humanisme
juga sangat dekat dengan kita, jika menginsya!i bah#a para pendiri negara kita
memandang penting paham ini untuk me#adahi pluralisme dalam masyarakat
kita dan mencantumkannya sebagai sila ke-$ %ancasila. &egitu dekat sekaligus
begitu jauhnya kita dari paham ini, begitu kaburnya di kepala orang banyak,
sehingga kita memuji atau mencercanya tanpa mengerti apa yang kita puji dan
cerca serta mengapa kita puji dan cerca.
'ntuk mereka yang mencerca humanism, ilustrasi berikut mungkin
ber!aedah. (ulu dan di mana pun, sebelum modernitas, setiap suku bangsa atau
setiap bangsa menurut tanah dan darah memandang diri sebagai manusia,
sementara orang-orang di luar dianggap liar, barbar atau ‘bukan manusia’.
)tnosentrisme macam itu bahkan mendapatkan legitimasi sakral dalam agama-
agama dunia manakala orang-orang di luar umatnya disebut ‘ka!ir’ * sebuah
varian dari ‘bukan manusia’. udah sejak dini dalam sejarah peradaban, bangsa
+unani dan ,oma#i kuno meyakinkan bangsa-bangsa lain akan adanya
kemanusiaan universal. ‘-anusia’ memang muncul dalam tradisi agama-agama
dunia dan dari #ahyu yang mereka terima, namun #ahyu illahi hanya dapat
ditangkap oleh mereka yang beriman kepadanya, sehingga ‘manusia’ versi
#ahyu itu berciri partikular. ‘-anusia’ yang dibela oleh para leluhur humanisme
2
tersebut berciri kodrati, dimengerti le#at akal belaka tanpa melibatkan #ahyu
illahi. egala yang dapat ditangkap oleh akal manusia dapat diterima oleh semua
manusia yang berakal, maka ‘manusia’ yang dimengerti para leluhur humanisme
ini sungguh-sungguh universal dan tidak tinggal partikular seperti ‘manusia’
dalam agama-agama. (i .aman ,enaisans gagasan +unani ,oma#i tentang
kemanusiaan universal itu dibangkitkan kembali dan berkembang bersama
dengan modernitas kita sehingga kita sekarang dimampukan untuk mengatasi
etnosentrisme dengan suatu ide abstrak, yakni humanitas.
%restasi-prestasi peradaban yang disumbangkan oleh humanisme &arat
kita nikmati bersama de#asa ini. Humanisme tidak hanya mendasari ide dan
praksis hak-hak asasi manusia, civil society, dan negara hukum demokratis,
melainkan juga mendorong aksi-aksi solidaritas global yang melampaui negara,
ras, agama, kelas sosial, dst., sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai
kegiatan institusi %&&. /agasan tentang toleransi agama adalah prestasi lain
yang disumbangkan oleh humanisme %encerahan )ropa abad ke-01 kepada
peradaban modern. %eradaban modern itu sendiri, dengan berbagai institusinya
yang bekerja secara rasional, seperti sains, teknologi, pendidikan, birokrasi dan
pasar kapitalis, dibangun di atas premis-premis humanisme. "anpa peranan
abstraksi kemanusiaan universal dan rasionalitas manusia, sistem hukum
modern yang memungkinkan kerjasama antarbangsa dan membangkitkan rasa
tanggungja#ab global terhadap perdamaian dan keutuhan ekologis kiranya akan
sulit dibayangkan. Keyakinan rasional akan adanya akal bersama umat manusia
ini melandasi berbagai perjuangan untuk menegakkan keadilan dan perdamaian
sampai de#asa ini. (alam arti ini humanisme tidak tinggal menggantung di
langit-langit abstrak2 ide itu memberi !aedah praktis dalam kehidupan kita.
'ntuk mereka yang terlalu memuji humanisme dan memperlakukannya
sebagai berhala intelektual yang dikira akan menyelamatkan hidup mereka,
kritik-kritik terhadap humanisme yang dilontarkan banyak pemikir sejak paruh
pertama abad ke-$3 yang lalu akan membantu mencelikkan mata mereka. Kuliah
umum saya ini akan dipersembahkan baik kepada mereka yang mencurigai
humanisme sebagai musuh berbahaya maupun kepada mereka yang
3
memujanya sebagai berhala intelektual. (alam segala hal di dunia ini kiranya
tidak ada sesuatu yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk sehingga akal
kita masih diberi kesempatan untuk memilih dan mengambil yang baik. Hal itu
juga terjadi dengan humanisme. "idak berlebihan kiranya menyatakan bah#a
tugas kita di sini adalah memahami kemanusiaan secara lebih baik dengan
mengeluarkannya dari jepitan antihumanisme dan humanisme itu sendiri.
1. Mengakarkan Manusia di Dunia-Sini
-arilah kita mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. -engapa
humanisme, suatu paham yang menitikberatkan pada manusia, kemampuan-
kemampuan kodratinya dan nilai-nilai kehidupan dunia#i ini tumbuh dalam
sejarah peradaban4 Kita dapat mulai menja#ab perkara ini dari .aman antik
karena bangsa +unani kuno dengan sistem pendidikannya, paidea, yang
mengolah bakat-bakat kodrati manusia dan bangsa ,oma#i kuno dengan
gagasannya tentang manusia sebagai animal rationale dipandang sebagai
peletak dasar humanisme universal. 5kan tetapi para leluhur peradaban &arat itu
tidak menghadapi persoalan dengan sistem teror religius seperti yang dihadapi
keturunan mereka di 5bad %ertengahan, sehingga humanisme kritis dalam
pengertian modern tidak muncul di sana. Humanisme kritis itu dimulai dengan
gerakan umanisti pada .aman ,enaisans abad ke-06 sampai ke-07 dan
memuncak pada humanisme %encerahan )ropa abad ke-01.
Kita perlu melihat gerakan humanis modern itu sebagai upaya untuk
menghargai kembali manusia dan kemanusiaannya dengan memberikan
pena!siran-pena!siran rasional yang mempersoalkan monopoli ta!sir kebenaran
yang dahulu kala dipegang oleh kombinasi ajaib agama dan negara. Kekristenan
5bad %ertengahan, le#at 5gustinus dari Hippo, memang telah menambahkan
aspek adikodrati pada pemahaman tentang manusia yang berkembang di .aman
kuno, namun sebagaimana diketahui le#at sejarah, ta!sir religio-politis itu pada
gilirannya mendominasi masyarakat sehingga manusia dan kemanusiaannya
dialienasikan dari kedunia#iannya yang otentik. Kekristenan memusatkan diri
4
pada keselamatan ji#a manusia dan sejauh itu sebenarnya juga sebuah
humanisme,
0
namun manakala doktrin keselamatan berubah menjadi alat kontrol
atas kebebasan individu, yang penting di sini tidak lagi manusia nyata, melainkan
agama. (i )ropa 5bad %ertengahan ditemukan di mana-mana terlalu banyak
agama, terlalu banyak ketakutan akan perkara-perkara di balik kubur, namun
terlalu sedikit perhatian dan penghargaan terhadap kehidupan di dunia yang
nyata ini. Humanisme tumbuh bagai tunas-tunas muda di tengah-tengah
himpitan bangunan usang 5bad %ertengahan yang mulai retak di sana-sini.
Humanisme modern yang mengambil sikap kritis terhadap monopoli ta!sir
kebenaran yang dipegang oleh persekutuan ajaib negara dan agama itu mekar
seiring dengan perkembangan !ilsa!at dan ilmu pengetahuan modern. Kaum
humanis ditandai oleh pendekatan rasional mereka terhadap manusia yang tidak
terburu-buru melakukan ‘hubungan singkat’ dengan otoritas #ahyu illahi,
melainkan lebih dahulu le#at penelitian yang cermat atas ciri kedunia#ian dan
alamiah manusia. Kebudayaan tampil ke depan menggeser agama. -anusia
terutama dimengerti dari kemampuan-kemampuan alamiahnya, seperti minat
intelektualnya, pembentukan karakternya, apresiasi estetisnya. %erhatian lalu
diumpahkan pada toleransi, vitalitas ji#a, keelokan raga, persahabatan dst.
emua itu dicakup dalam kata humanus.
$
'paya seperti itu dimulai dengan
pendamaian antara !ilsa!at 8khususnya 5ristoteles dan %lato9 dan Kitab uci,
kesusastraan +unani kuno dan ajaran-ajaran #ahyu, sebagaimana dapat kita
temukan pada /iovanni %ico della -irandolla 8067:-;69 atau kadang juga
dengan mendukung sistem heliosentrisme yang ditentang otoritas religius #aktu
itu, sebagaimana dilakukan oleh /iordano &runo 80<61-07339 yang lalu dikejar-
kejar sebagai bidaah dan dibakar di ,oma. /erakan humanis ini mulai di Italia,
lalu merambat dengan cepat ke =erman, %rancis, &elanda, dst.
ulit dipastikan mana yang lebih dahulu berperan dalam modernisasi
&arat, humanisme atau ilmu pengetahuan modern, namun kita tidak perlu
meragukan bah#a keduanya saling bahu membahu dalam mengokohkan suatu
1
Lih. Heidegger, Martin, “Letter on Humanism”, dalam: Martin Heidgger Basics Writtings, Routledge &
Kegan Paul, London, 1!", h. 2#1.
2
Lih. $%ssmann, &ilhelm, Deutsche Kulturgeschichte im Grundriss, Ma' Hue(er )erlag, *smaning, 1!",
h. +2.
+
cara berpikir rasional yang menempatkan manusia dan rasionalitasnya sebagai
pusat segala sesuatu. ,en> (escartes meletakkan dasar !iloso!is untuk tendensi
baru ini le#at penemuan subyektivitas manusia dalam tesisnya je pense donc je
suis 8aku berpikir, maka aku ada9. ?iri ini lalu disebut ‘antroposentrisme’, untuk
menegaskan sikap kritisnya terhadap teosentrisme 5bad %ertengahan. alah
satu hal penting yang kerap luput dari perhatian adalah hubungan khas antara
perkembangan ilmu-ilmu alam modern dan humanisme modern yang semakin
skeptis terhadap agama. Isaac @e#ton 8076:-0A$A9 dengan !isikanya memberi
kita suatu keyakinan rasional bah#a alam bekerja secara mekanistis seperti
sebuah arloji, dan akal budi manusia dapat menyingkap hukum-hukum yang
bekerja di belakang proses-proses alamiah. ,asionalisme dan empirisme abad
ke-0A bahkan sampai pada suatu tilikan yang mencerahkan bah#a hukum-
hukum alam itu tidak lain daripada hukum-hukum akal budi itu sendiri,
:
sehingga
semakin dalam kita menyingkap proses kerja akal kita, semakin luas pula
pengetahuan kita tentang cara kerja semesta. Kaitannya dengan humanisme
yang kritis terhadap otoritas #ahyu juga jelas karena pencerahan mengenai
korelasi antara hukum alam dan hukum akal budi itu juga ditemukan oleh para
pemikir abad ke-01 di #ilayah moralitas. Kaum agnotis, the deists ataupun ateis
pada masa itu yang banyak menulis buku-buku kontroversial mencoba
meyakinkan para pembaca mereka bah#a kekuasaan "uhan tidak lagi dapat
dilacaki pada mukji.at-mukji.at@ya, melainkan pada arloji semesta yang
mencerminkan suatu desain illahi.
6
Karena itu juga moralitas tidak harus
diturunkan dari #ahyu@ya, melainkan cukup disimpulkan dari asas-asas di
dalam akal budi kita sendiri dan mekanisme alam. Balu tidak perlu dijelaskan
panjang lebar bah#a sesuatu seperti hukum alam juga bekerja di dalam
transaksi pasar, sebagaimana ditemukan oleh 5dam mith dan kaum !isiokrat.
(itinjau dari sisi tertentu, humanisme seperti berupaya untuk merebut
manusia dari alienasi oleh obsesi masyarakat pada dunia-sana dan
mengakarkannya kembali ke dunia-sini. Be#at ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu
kemanusiaan, sejak abad ke-0A dalam empirisme Inggris sampai abad ke-0;
3
Lih. ,itterli, -rs, Die ‘Wilden’ und die ‘Zivilisierten’, ..H. ,e/0, M1n/hen. 11, h. 212
4
Lih. *(id., h. 22!
2
dalam romantisme %rancis, gerakan ini menyuburkan penelitian-penelitian atas
apa yang disebut ‘manusia alamiah’. -anusia alamiah itu bukanlah makhluk
berdosa asal yang diusir dari !irdaus yang lalu membutuhkan rahmat "uhan
untuk keselamatannya, melainkan suatu makhluk yang memiliki kebebasan dan
akal, sekaligus juga * seperti binatang * didorong oleh naluri-nalurinya. %ara
teoretikus kontrak dari Hobbes sampai ,ousseau ingin menjelaskan ‘mekanisme
sosial’ dengan mekanisme kepentingan-diri atau kepentingan sosial yang pada
akhirnya dapat dikembalikan pada kecenderungan naluriah untuk mencari
kenikmatan dan menghindari rasa sakit. (alam biologi abad ke-01, klasi!ikasi
makhluk hidup yang dilakukan oleh ?arl von Binn> hanyalah a#al dari upaya
melihat manusia sebagai salah satu spesies he#an,
<
sebelum ?harles (ar#in di
abad ke-0; le#at teori evolusinya sama sekali meruntuhkan gambaran sakral
tentang manusia yang berabad-abad diimani dalam agama. Humanisme seakan
berkata bah#a manusia berasal dari dunia-sini dan bukan roh dunia-sana yang
terperangkap dalam daging.
2. Menimbang Humanisme Ateistis
Humanisme kerap disejajarkan dengan ateisme, sekularisme atau bahkan
!ilsa!at &arat itu sendiri. 5nggapan seperti itu tidak seluruhnya tepat, karena
humanisme memiliki cakupan yang lebih luas dan dalam daripada sekedar
humanisme ateistis. (i sini dapat dida!tar, misalnya, humanisme Kristiani,
humanisme Islam, humanisme kultural, humanisme eksistensial-teistis dst. yang
memaknai pentingnya kemanusiaan dan kehidupannya di dunia-sini tanpa
mengesampingkan kepercayaan akan "uhan. Kiranya justru kalangan-kalangan
agamalah yang paling getol memberi pengertian sempit itu karena mereka
berangkat dari suatu kecurigaan terhadap pendekatan-pendekatan rasionalistis
sebagai ancaman bagi iman akan #ahyu illahi. %enggunaan akal dalam
beragama dianggap dapat menerjang batas-batas doktriner dan bahkan dapat
menggiring pada kesangsian terhadap otoritas sakral dan tradisi religius yang
+
Lih. *(id., h.213
!
dijaga selama berabad-abad. =ika kita mengikuti ulasan di atas, akan jelas
bah#a humanisme yang mereproduksi kecurigaan terhadap agama itu berbalas
kecurigaan terhadapnya yang pada gilirannya menyempitkan pengertiannya
pada ateisme dan sekularisme. udah barang tentu sikap saling curiga itu tidak
menolong dan bahkan merugikan kemanusiaan itu sendiri.
emua humanisme dapat dipandang sebagai suatu upaya intelektual
yang gigih untuk memaknai kemanusiaan dan keterlibatan manusia di dalam
dunianya. 'paya ini dilakukan dengan menggali tradisi kultural, seperti yang
terjadi dalam humanisme ,enaisans, untuk mengimbangi obsesi pada aspek-
aspek adikodrati manusia sebagaimana banyak ditekankan oleh agama. 'ntuk
lepas dari dogmatisme agama, tidak jarang humanisme memilih strategi yang
lebih tegas, yaitu mendekati gejala-gejala manusia dengan ilmu-ilmu empiris
yang berujung pada penjelasan-penjelasan naturalistis tentang manusia,
sebagaimana banyak dijumpai pada para !isiokrat, the deists, dan kaum
materialis di abad ke-01. (alam upayanya untuk merebut manusia dari ta!siran-
ta!siran teosentris agama, humanisme bahkan juga mengambil strategi yang
ekstrem dengan menolak keyakinan religius dan peranannya dalam kesadaran
manusia, sebagaimana dilakukan oleh para humanis ateistis yang baru saja kita
bahas. %ertanyaan kita di atas harus kita ja#ab sekarangC 5pakah kontribusi
humanisme ateistis bagi pemahaman tentang manusia dan kemanusiaannya4
ejauh kita mengambil segi positi!nya, radikalisasi ‘moral rasional’ adalah
sumbangan pertama kaum humanis ateistis. -oral rasional adalah moral yang
tidak diturunkan dari #ahyu dan tradisi religius, melainkan dari akal belaka. -oral
yang imanen pada kemanusiaan kita ini menjadi proyek lama sejak Kant dan the
deists di abad ke-01. %ara humanis %encerahan ini masih menerima eksistensi
"uhan, meskipun peranan@ya sangat minimal dalam sejarah, jika tidak ingin
mengatakan tidak ada sama sekali. &isa dikatakan bah#a humanisme ateistis
memba#a moral rasional itu sampai ke tepian akhir imanensi manusia untuk
menemukan prinsip-prinsip kebaikan yang murni manusia#i tanpa transendensi.
-oral rasional seperti ini dapat memberi platform bersama suatu masyarakat
yang ditandai oleh persaingan berbagai doktrin religius. -oral rasional itu tidak
"
dikhususkan pada iman religius tertentu, maka membantu toleransi
7
di dalam
masyarakat modern yang semakin kompleks.
umbangan kedua humanisme ateistis adalah kritik agama itu sendiri
sebagai suatu pendekatan rasional untuk memurnikan iman religius. 5teisme
adalah satu hal, tetapi kritik agama adalah hal lain. Orang yang percaya pada
"uhan dapat meman!aatkan kritik agama tanpa harus mengambil sikap ateistis.
Kritik agama membantunya untuk memeriksanya untuk mengambil jarak kritis
terhadap penghayatannya. ebagai pandangan dunia total, agama mengklaim
kebenaran absolutnya sehingga tak seorangpun berani mempersoalkannya.
5kalpun dikebiri demi iman yang buta yang pada gilirannya menginduk pada
otoritas yang disakralkan. Keadaan itu tidak bisa disebut manusia#i, karena
bakat-bakat rasional manusia ditindas. &agaikan bubuk mesiu yang meletus dan
mengganggu telinga, kritik agama menggugah orang beragama untuk *
meminjam istilah Kant * Dterjaga dari tidur dogmatisEnya.
&etapapun sucinya, agama melibatkan banyak hal yang bersi!at
manusia#i dan dunia#i, sepertiC imajinasi sosial manusia, kepentingan kelasnya,
sistem pengetahuannya, tradisi kulturalnya. (engan hanya percaya saja, yaitu
tanpa juga berpikir, gambaran tentang "uhan lama kelamaan dipercaya sebagai
"uhan itu sendiri, padahal gambaran tentang@ya dibangun oleh sejarah,
kekuasaan dan kebudayaan manusia. Feuerbach, -arG, ?omte, @iet.sche dan
artre benar bah#a sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran telah mengasingkan
manusia dan memasung kebebasannya. -ereka menyebut itu D"uhanE, tetapi
kita menyebutnya dengan lebih tepat, yaituC gambaran tentang "uhan. =ika yang
dipersoalkan adalah gambaran "uhan, kritik agama mereka akan sangat
menolong umat beragama untuk membersihkan imannya dari delusi-delusi.
(alam arti ini humanisme ateistis justru dapat menjadi jalan untuk mengakui
transendensi dan kemutlakan "uhan yang berada di luar gambaran-gambaran
kita. &ukan "uhan, melainkan gambaran "uhan yang kelirulah yang
sesungguhnya telah mereka bunuh. =ika berhala-berhala pikiran disembah
2
3ida0 mengheran0an (ah4a di 5aman Pen/erahan a(ad 0e61", saat 7ro8e0 untu0 mendasar0an moral
rasional ini dimulai, ide toleransi 9uga (er0em(ang.

sebagai theos, untuk menjadi seorang teis sejati, diperlukan sikap ateis, yakni
menolak meyakini theos palsu itu.
&erkembangnya ilmu-ilmu empiris yang meneliti agama kiranya
merupakan sumbangan ketiga yang bersi!at pragmatis dari humanisme ateistis.
=auh sebelum munculnya para ateis itu, apa yang disebut ilmu agama tidak
kurang daripada suatu teologi yang menjelaskan, membenarkan dan membela
iman sendiri. (e#asa ini dunia ilmu dan pendidikan tinggi telah memiliki dan
mengembangkan berbagai ilmu empiris dan percabangan mereka, seperti
psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, sejarah agama-agama
dst. yang memperlakukan gejala-gejala agama, seperti mistik, trance, bahasa
roh, penyembuhan le#at iman, kemartiran dst. sebagai gejala-gejala manusia#i
yang dijelaskan secara rasional dan empiris. Humanisme ateistis banyak
mendorong peralihan sudut pandang dari ‘perspekti! penghayat’ ke ‘perspekti!
pengamat’ yang banyak membantu mengembangkan etos riset ilmiah tentang
agama yang hari ini dimiliki dunia ilmu. &ersama dengan moral rasional dan kritik
agama, ilmu-ilmu empiris tentang agama banyak membantu umat beragama
sendiri dalam menghayati imannya secara de#asa tanpa mengesampingkan
peranan akal. Ini terjadi dalam banyak studi baik di kalangan Katholik maupun
%rotestan di &arat untuk merekonstruksi suatu teologi yang sesuai dengan
kompleksitas dunia modern kita dan karenanya juga menolong penghayatan
iman yang lebih trans!ormati! dan toleran.
3. Kritik-kritik atas Humanisme
Humanisme sebagai suatu proyek peradaban memiliki karir yang tidak
diduga oleh para perintisnya karena ia menjadi eksklusivistis dalam kolonialisme
dan totalitarianisme. Kemanusiaan disempitkan pada peradaban tertentu, ras
tertentu atau kelas sosial tertentu, sehingga manusia konkret ditindas dengan
pembenaran-pembenaran antroposentris. -anusia konkret diremehkan dan
digilas oleh kekuatan-kekuatan asing yang bernama peradaban, ideologi atau
teror yang semua itu hanya mungkin tumbuh dalam antroposentrisme yang
1#
diajarkan humanisme. (engan kolonialisme dan totalitarianisme itu, de#asa ini
muncul sikap skeptis yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap
humanisme modern. Kita sedang menapaki suatu era yang dapat kita sebut
‘pasca-humanisme’. Kita memang menikmati hasil-hasil positi! gerakan
humanisme seperti telah saya sebut pada permulaan kuliah ini. Ketika berbicara
tentang hak-hak asasi manusia, misalnya, mau tidak mau mengandaikan banyak
hal yang merupakan prestasi gerakan humanisme modern, seperti penghargaan
terhadap kebebasan, rasionalitas dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
%ada saat yang sama kita tahu bah#a konsep kemanusiaan universal dan ciri
kedunia#ian yang diba#anya mengandung bahaya yang sama besarnya dengan
konsep "uhan dari agama manapun, jika konsep-konsep itu dimengerti secara
eksklusivistis dengan menyingkirkan manusia konkret dalam segala keberlainan
kultural, ras, jender maupun kelasnya. (ilema dalam humanisme itu mendesak
kita untuk menimbang ulang makna manusia dan kemanusiaan dalam
humanisme. Kita akan masuk dalam kritik-kritik atas humanisme dan kemudian
memberikan pendirian kita sendiri.
(i dalam sebuah tulisannya, Geheimnis der Sprache Johann Peter
Hebels 8,ahasia &ahasa =ohann %eter Hebel9, !ilsu! besar abad ke-$3, -artin
Heidegger, menulis * saya kutip aslinya * DEigentlich spricht die Sprache, nicht
der Mensch. er Mensch spricht erst, insofern er je!eils der Sprache ent"
spricht.E 8sesungguhnya bahasa berbicara, bukan manusia. -anusia berbicara
baru sejauh ia selalu sesuai dengan bahasa9.
A
-anusia memang berbicara, yaitu
menuturkan bahasa, tetapi bahasa harus didengarkan lebih dahulu, baru
kemudian ia bisa berbicara. +ang didengarkan itu tak lain daripada bahasa yang
meneguhkan hakikatnya. &ahasa primordial yang membuat manusia menjadi
manusia itu adalah bahasa ibu, bahasa yang dituturkan dalam sebuah komunitas
konkret. =ika demikian, manusia dan kemanusiaan ditemukan atau * lebih tepat
* dibuat le#at percakapan, yaitu yang dituturkan oleh suatu kelompok. (engan
mengucapkannya lagi dan lagi, manusia dan kemanusiaan menjadi semakin
nyata. (alam arti ini kita boleh mengatakan bah#a manusia belum ada sebelum
!
Heidegger, Martin, “$eheimnis der :7ra/he ;ohann Peter He(els”, dalam: <e Haar, =r4in, Im Zeichen
der Hoffnung, Ma' Hue(er )erlag, M1n/hen, 121, h. 4"".
11
,enaisans karena ia belum menjadi tema tuturan sebagaimana terjadi dalam
!ilsa!at dan ilmu-ilmu kemanusiaan modern.
1

%andangan Heidegger itu ikut menandai linguistic turn di dalam !ilsa!at
abad ke-$3 yang melihat humanisme sebagai perkara diskursus yang tidak
hanya dituturkan dalam sebuah !orum, melainkan menjadi pusat tuturan dan
pengetahuan suatu .aman, yaitu modernitas. ejak a#al tadi kita terlibat dengan
kata-kata abstrak DmanusiaE dan DkemanusiaanE yang menjadi pokok persoalan
dalam humanisme. Kata-kata yang terus dituturkan oleh ilmu-ilmu kemanusiaan
itu memiliki asal-usul meta!isis sekaligus juga mendasari suatu meta!isika.
‘Kemanusiaan’ adalah sebuah diskursus tentang ‘hakikat’ yang dapat kita sebut
Dmeta!isika kemanusiaanE. (alam meta!isika kemanusiaan itu menurut
Heidegger humanisme melupakan hubungan ‘hakikat’ itu dengan ‘5da’ 8Sein9.
;
Hakikat tidak sama dengan ‘5da’, melainkan bagaimana ‘5da’ menyingkapkan
dirinya akan juga menentukan bagaimana ‘hakikat’ itu ditangkap. Humanisme
merupakan bagian dari sejarah pemahaman tentang ‘5da’ yang menjelaskan
‘hakikat’ sebagai sesuatu yang permanen, tertata rasional dan universal seperti
alam semesta yang ditemukan oleh @e#ton.
%ara kritikus humanisme di abad ke-$3 ingin membebaskan manusia dari
meta!isika kemanusiaan yang memahami -anusia sebagai pusat kenyataan.
"idak dapat dipungkiri bah#a perkembangan baru dalam sains kontemporer
yang banyak mempersoalkan pandangan dunia @e#tonian ikut mempengaruhi
skeptisisme terhadap meta!isika kemanusiaan itu. (alam mekanika kuantum dan
teori relativitas, misalnya, gambaran dunia yang deterministis dibantah dengan
indeterminisme. Kenyataan alamiah itu sendiri, partikel, bukanlah suatu
substansi seperti yang dicari dalam meta!isika, melainkan suatu gerak yang
selalu berubah. &agaimana konstruksi teoretis tentang obyek alamiah itu juga
menentukan bagaimana obyek itu menampakkan diri. =ika demikian,
antroposentrisme selama berabad-abad juga dapat dilihat sebagai suatu
konstruksi meta!isis yang membuat kita secara intelektual terobsesi untuk
"
:a8a 7ernah men8inggung hal ini saat mem(ahas 7andangan Mi/hel >ou/ault dalam: ,udi Hardiman, >.,
Menuju Masyaraat Komuniatif, Kanisius, ?og8a0arta, 2##, h. 24!.

Lih. Heidegger, Martin, “Letter on Humanism”, dalam: Martin Heidgger Basics Writtings, Routledge &
Kegan Paul, London, 1!", h. 2#2.
12
mengunggulkan universalitas kemanusiaan, dan itu dilakukan dengan
meminggirkan kebudayaan, agama, jender, dst. -eta!isika kemanusiaan yang
mendasari humanisme modern lalu ditantang sekurangnya dari tiga arah yang
sejak a#al dibangun oleh humanisme, yaitu meta!isika, kebudayaan dan
masyarakat. -asing-masing di#akili oleh =acHues (errida, ,ichard ,orty, @iklas
Buhmann.
(errida belajar banyak dari Heidegger untuk melepaskan manusia dari
meta!isika kemanusiaan. Filsu! %rancis kontemporer ini memberi penjelasan
yang lebih rinci mengenai keadaan manusia setelah dilepaskan dari pusat
kenyataan dan menjadi ‘tetangga 5da’ itu 8ingat ‘tetangga’ tidak menyiratkan
suatu hirarki makna, melainkan kesetaraan makna9. %ertama-tama dia
menghentikan seluruh upaya untuk menemukan makna asli dari segala sesuatu
yang menjadi obsesi peradaban &arat sejak ada !ilsa!at, yaitu menghentikan
pencarian ‘hakikat’. %encarian humanisme akan ‘kodrat’ manusia dengan
demikian juga dihentikan. -engapa4 &ukan hanya bah#a pencarian itu sia-sia,
melainkan juga bah#a upaya itu * dengan segala ketulusannya sekalipun * akan
membangun suatu re.im makna yang bersi!at hirarkis yang akan meminggirkan
hal-hal yang tidak dapat dimasukkan ke dalam makna yang dianggap asli itu,
kolonialisme dan totalitarianisme yang kita bahas di atas4 &ukankah dari oposisi
antara asli dan tak asli, hakiki dan tak hakiki, muncul marginalisasi, alienasi,
represi dan destruksi atas the other sebagai ‘yang tidak asli’ sebagaimana
dilakukan tuan-tuan penjajah, komunis dan na.i4
'ntuk menghentikan pencarian hakikat * dalam topik kita di sini -anusia
dengan huru! besar - dan melepaskan manusia dari pusat kenyataan - (errida
melakukan suatu hermeneutik 8pena!siran9 radikal yang disebutnya
‘dekonstruksi’. (ekonstruksi bukanlah destruksi, melainkan suspensi makna atau
diff#rance, yaitu menunda untuk mengembalikan sesuatu pada makna aslinya.
Kemanusiaan tidak bisa dikembalikan pada satu titik primordial, misalnya,
‘kemanusiaan universal versi humanisme’, karena titik primordial itu tidak ada.
=ika tahta tempat segala makna ditentukan itu kosong, tidak ada lagi meta-
re!erensi yang menjadi ukuran untuk menentukan sesuatu itu asli atau tidak.
13
-akna lalu tidak lagi diasalkan pada makna induk yang dianggap menduduki
tahta itu, melainkan dihasilkan dengan apa yang disebut ‘intertekstualitas’, yaitu
menghubung-hubungkan makna yang satu dengan makna yang lain secara
interpretati!. -elakukan dekonstruksi atas meta!isika kemanusiaan lalu berarti
memahami manusia tidak dengan cara mengasalkannya dari suatu makna induk
tentang kemanusiaan, misalnya kemanusiaan yang dianggap telah ditemukan
oleh humanisme, melainkan dengan menghubung-hubungkan secara
interpretati! pemahaman yang satu dengan yang lain tentang manusia tanpa
maksud untuk mencari dan memulihkan hakikat universalnya. (engan ungkapan
lain, -anusia dengan huru! besar - diganti dengan manusia-manusia dengan
huru! kecil m yang berdiri setara. %ertukaran - dengan m ini memiliki implikasi
yang jauhC Kemanusiaan universal versi humanisme didesentralisasikan dan
dipluralisasikan. 'ntuk memahami manusia kita tidak bisa lain kecuali
mena!sirkan berbagai pemahaman $ultural tentang manusia dengan
mengandaikan kesetaraan mereka.
&ersama dengan seluruh !ilsu! kontemporer yang melakukan linguistic
turn, seperti strukturalis dan pasca strukturalis, ,orty, seorang pragmatis
5merika erikat, memandang humanisme sebagai perkara kontigensi bahasa.
-engacu pada Iittgenstein dan tradisi hermeneutik, dia menolak !ungsi bahasa
sebagai deskripsi dunia, seolah-olah dunia ada di luar bahasa. -enurutnya
bahasa menciptakan dunia, dan sejarah tidak lain daripada perubahan semena-
mena dari language game yang satu ke yang lain, maka kenyataan juga berubah
menurut perubahan language game itu.
03
etuju dengan (errida yang menolak
makna asli atau hakikat, ,orty menolak adanya ‘kosakata akhir’ yang dapat
dipakai sebagai tolok ukur bagi kebenaran language games, sebab tak
seorangpun memiliki sudut pandang yang mengatasi sejarah, sebagaimana
dikira telah dimiliki oleh para humanis yang yakin telah melihat kemanusiaan
lebih hakiki daripada orang-orang lain. Kita berada di dalam language game dan
mendunia di dalamnya, maka bagaimana kemanusiaan dimengerti juga
tergantung pada kontingensi bahasa. Ilmu pengetahuan, seni, kebudayaan dan
1#
Lih. Rort8, Ri/hard, Kontingen!" Ironie und #olidarit$t, :uhr0am7, >ran0@urt a.M., 1", h.22
14
politik bagi ,orty bergerak dalam hori.on language games yang terus berubah
dalam sejarah.
%enolakan ,orty terhadap kosakata akhir memiliki konsekuensi bah#a
pandangan humanisme tentang adanya ‘inti diri’ yang tetap dan universal, seperti
kesadaran atau akalnya, juga harus ditolak. -anusia bergerak atau * lebih tepat
* ‘merangkak’ di dalam language games, maka kediriannya juga dicetak oleh
dan berubah sesuai berbagai pemakaian meta!or yang silih berganti dalam
sejarah. +ang ditolak di sini adalah antroposentrisme Kant yang menempatkan
subyek sebagai kosakata akhir yang seolah berada di luar language games.
D%andangan Kant tentang kesadaranE, begitu katanya,Emembuat kedirian
menjadi "uhanE.
00
+ang sebenarnya terjadi menurut ,orty adalah bah#a
penemuan akal sebagai hakikat manusia dalam humanisme tidak lain daripada
penemuan bahasa baru atau meta!or baru yang juga akan berubah lagi pada
suatu ketika dengan ditemukannya meta!or lain. emua argumentasi ,orty ini
ditujukan untuk melepaskan manusia dari meta!isika kemanusiaan yang dianut
oleh humanisme sehingga manusia tidak lagi berada di pusat kenyataan.
%ertanyaan kita laluC 'ntuk apakah decentring of subject ini4 &agi ,orty
hal itu bersangkutan dengan masalah pragmatis yang sebenarnya mendasari
humanisme modern, yaitu solidaritas sosial. Ia berpendapat bah#a selama kita
masih meyakini adanya ’inti diri’ atau -anusia dengan huru! besar - itu,
keyakinan itu justru akan menghalangi solidaritas kita dengan orang-orang lain.
"uan-tuan penjajah, orang-orang na.i dan komunis meyakini adanya ‘inti
bersama’ kemanusiaan yang justru tidak mereka temukan pada para korbannya.
=ika mereka menganiaya orang-orang itu, mereka tidak merasa telah
menganiaya manusia. Konsep subyek seperti yang dianut Kant dan humanisme
menurut ,orty juga tidak banyak berguna untuk membangkitkan solidaritas
dengan para korban. Orang menolong para tetangga +ahudinya bukan karena
mereka adalah Dmakhluk rasionalE, melainkan karena mereka sama-sama
penduduk -ilano, anggota serikat buruh, bapak atau ibu dari anak-anak mereka
yang masih kecil dst.
0$
-enurut ,orty untuk membangkitkan solidaritas
11
*(id., h. 23
12
Lih. *(id., h. 3#!
1+
kemanusiaan tidak perlu dirumuskan secara meta!isis, melainkan dialami secara
sentimental. (i sini ,orty melanjutkan hasil dekonstruksi (errida atas
kemanusiaan. =ika hakikat universal manusia ditolak, memahami manusia harus
secara intertekstual, dan intertekstualitas secara konkret bagi ,orty berarti
sentimentalitas, yaitu suatu kemampuan untuk mengabaikan perbedaan-
perbedaan suku, agama, ras, adat dst. karena mampu melihat dan ikut
merasakan kesamaan-kesamaan dalam penderitaan dan pelecehan yang
dialami orang lain. Kemampuan sentimental inilah yang membuat orang-orang di
seberang lautan juga bisa Dtermasuk ke dalam kitaE. -eta!isika kemanusiaan
harus dilampaui dengan $emanusiaan sentimental yang memperluas hori.on
kemanusiaan le#at Drasa kekitaanE.
alah seorang kritikus di =erman kontemporer yang menolak humanisme
demi menyelamatkan kemajemukan adalah @iklas Buhmann. &erbeda dari
(errida dan ,orty yang melibatkan diri dengan hermeneutik makna, Buhmann
bergerak dalam teori sistem. 5ntroposentrisme yang disebutnya ‘teori-teori )ropa
tua’ bercokol tidak hanya dalam meta!isika dan kebudayaan modern, melainkan
juga dalam pandangan tentang masyarakat yang sudah dianut sejak 5ristoteles,
melalui teori-teori kontrak memuncak pada Hegel. (alam pandangan kuno itu,
masyarakat terdiri dari manusia-manusia, dan manusia berada pada pusat
masyarakat, yakni bah#a manusia adalah asal dan tujuan masyarakat, maka
masyarakat ada demi manusia. Buhmann mengambil jarak terhadap pandangan
itu. =ika (ar#in dengan teori evolusinya telah mengeluarkan manusia dari pusat
alam semesta, dan Freud dengan psikoanalisisnya telah mengeluarkan manusia
dari pusat kesadaran, Buhmann dengan teori sistemnya ingin mengeluarkan
manusia dari pusat masyarakat.
Buhmann melontarkan kritiknya atas humanisme dengan caranya yang
khas, yaitu memahami manusia bukan sebagai bagian masyarakat, melainkan
sebagai bagian lingkungan masyarakat. (alam teori sistemnya termasyhur
distingsi antara sistem 8System9 dan lingkungan 8%m!elt9. istem selalu
merupakan reduksi kompleksitas, maka lingkungan selalu lebih kompleks
daripada sistem. -asyarakat adalah suatu sistem, sistem komunikasi. Kalau
12
demikian, manusia tidak berada di dalam masyarakat, melainkan di luarnya,
yaitu dalam lingkungan. -engapa4 Karena manusia bukan sistem komunikasi
saja. -anusia terdiri dari banyak sistem, antara lain2 sistem-sistem organis 8otak,
pencernaan, hormon, otot, dst.9, sistem-sistem psikis 8kesadaran9 dan sistem-
sistem semiotis 8komunikasi atau bahasa9. Hanya sebagian saja dari manusia
yang masuk ke dalam masyarakat, yaitu komunikasinya, tetapi komunikasi itu
pun akan bergerak sendiri sebagai sistem yang mereproduksi dirinya. Buhmann
menyebut kemampuan sistem untuk menghasilkan dirinya itu ‘autopoiesis&.
Karena komunikasi, begitu menjadi sistem, lepas dari penuturnya dan
menghasilkan dirinya, sistem komunikasi itu subjectless. Komunikasi tidak lagi
bisa diasalkan pada manusia2 ia menjadi anonim, sehingga kita dapat berkata
bah#a bukan manusia-manusia yang berkomunikasi dalam masyarakat,
melainkan komunikasi berkomunikasi dengan komunikasi. -anusia versi
humanisme, yaitu subyek atau kesadaran, adalah sistem psikis, suatu sistem
tersendiri yang juga autopoietis yang berada di luar masyarakat, yaitu di dalam
lingkungan bagi sistem komunikasi.
(i dalam pemikiran Buhmann decentring of subject terjadi dalam dua arti.
%ertama, manusia tidak lagi dipahami sebagai pusat masyarakat karena ia 'ua
sistem psikis tidak memiliki kedudukan istime#a di atas sistem-sistem lainnya,
melainkan sederajad dengan mereka. Karena itu, demikian tulis Buhmann,
Dmanusia tidak lagi merupakan ukuran masyarakat. /agasan humanisme ini
tidak dapat berlanjut.E
0:
(i dalam kompleksitas sosial pasca humanisme
menurutnya tidak ada ukuran yang menjadi pusat segalanya2 tiap sistem memiliki
ukurannya masing-masing yang tidak dapat diukur oleh suatu * sebut saja *
‘meta-norma’ sebagai ukuran terakhir. Kedua, desentralisasi subyek berarti juga
memahami manusia bukan sebagai kesadaran atau rasionalitas belaka,
sebagaimana dianut oleh humanisme. -anusia sebagai individu adalah
semacam ‘masyarakat’ yang terdiri atas banyak sistem di dalamnya, maka
humanisme yang menentukan kemanusiaan pada rasionalitasnya adalah musuh
berbahaya bagi kemajemukan. Karena berkat kemajemukan internalnya manusia
13
Luhmann, Ai0las, #ocial #ystems, :tan@ord -niBersit8 Press, :tan@ord, 1+, h. 213.
1!
berada dalam lingkungan dan bukan dalam masyarakat, ia tidak akan dapat
‘dihabisi’ oleh rasionalitas ataupun moralitas yang dituturkan sistem komunikasi.
=adi, manusia bisa irrasional dan immoral terhadap sistem komunikasi atau
masyarakat, karena ia berada di luarnya, yaitu menjadi bagian lingkungan.
Keadaan itulah yang disebut kebebasan.
4. Humanisme Lentur
ungguh tidak adakah yang masih dapat dibela dalam ide humanisme
itu4 (i sini kita perlu membedakan antara dua aspek dalam humanisme. 5spek
pertama adalah kekuatan kritis-normati!nya yang mampu menelanjangi
kekuatan-kekuatan asing yang menindas manusia dan kemanusiaannya.
Humanisme etis itu berangkat dari suatu keprihatinan terhadap nilai-nilai
kemanusiaan dan ingin melindungi martabat manusia dari kese#enangan
apapun, termasuk kese#enangan yang dapat muncul dari agama, ideologi, sains
dan pandangan dunia lainnya yang bisa menjadi eksklusivistis. 5spek normati!
dan kritis dari humanisme ini dapat membuat kita #aspada terhadap berbagai
bentuk penindasan kebebasan dan pelecehan akal manusia yang bisa
menyelinap dari pembenaran-pembenaran sakral agama dan kekuatan
hegemonialnya. "uhan yang ditolak oleh banyak humanis ateistis, seperti
Feuerbach, @iet.sche dan artre, adalah juga "uhan yang ditolak oleh banyak
orang yang memiliki kede#asaan iman.
5spek kedua * bukan sesuatu yang normati!, melainkan !aktual - adalah
kenyataan bah#a humanisme bagaimanapun sebuah ‘isme’, dan sebagai ‘isme’
ia dapat dilambungkan menjadi sebuah meta!isika kemanusiaan yang tidak
hanya menjadi total, melainkan juga menjadi ‘kebenaran kaku’ yang
eksklusivistis dan hegemonial. (e#asa ini kita memiliki hak istime#a yang tidak
dimiliki para pendahulu kita di masa lalu untuk menyadari bagaimana agama,
!ilsa!at, dan gagasan-gagasan besar lain yang mengklaim membela manusia dan
kebebasannya telah ikut bersalah terhadap manusia itu sendiri, manakala
mereka masuk ke dalam keterlibatan sejarahnya. (i dalam pandangan-
1"
pandangan dunia itu, entah itu dari agama 8!ideisme9, sains 8saintisme9, ataupun
!ilsa!at 8humanisme9, bercokol suatu inti dogmatis atau * seperti telah kita sebut
* ‘kebenaran kaku’ yang narsistis, triumphalistis, eksklusivistis dan bahkan
patologis. Keyakinan akan kebenaran kaku itu telah memba#a manusia ke suatu
tempat yang tidak ingin dituju oleh seorangpun yang masih memiliki akal sehat.
-eta!isika kemanusiaan, seperti juga !anatisme agama, adalah * seperti
dianalisis oleh Hermann &roch - gejala hipertro!i 8membengkaknya9 sebuah nilai
yang mengklaim dirinya sebagai pandangan dunia total yang meminggirkan atau
menyingkirkan segala yang berbeda dari dirinya.
+ang dapat kita terima di sini adalah aspek kritis dan normati! humanisme
yang bagaikan ‘roh’ senantiasa #aspada terhadap berbagai bentuk hegemoni,
tidak hanya dari agama, melainkan juga dari sains dan !ilsa!at, yang menindas
manusia dan bakat-bakat kodratinya yang tumbuh dari akalnya, rasa
perasaannya, dan juga naluri-nalurinya. 5spek kritis-normati! ini bermukim di
dalam akal manusia sebagai nilai-nilai kemanusiaan dan dalam hati manusia
sebagai ‘perasaan kemanusiaan’ yang bahkan sanggup menilai hipertro!i
humanisme dalam na.isme dan komunisme sebagai ‘kejahatan mela#an
kemanusiaan’. +ang kita tolak adalah hipertro!i nilai humanisme menjadi menjadi
meta!isika kemanusiaan. (engan penerimaan dan penolakan itu kita sedang
membela suatu bentuk pendirian yang berupaya untuk melepaskan manusia dari
ta#anan meta!isika kemanusiaan dengan cara menyelamatkan aspek kritis-
normati! humanisme yang de#asa ini nyata-nyata telah ikut membangun
kesadaran akan persaudaraan umat manusia yang melampaui kebudayaan-
kebudayaan dan agama-agama. Karena bertumpu pada kekuatan kritis-normati!
humanisme, pendirian itu adalah sebuah humanisme juga yang #aspada
terhadap totalisasi dan homogenisasi oleh meta!ika kemanusiaan. Humanisme
seperti itu tidak menolak kemungkinan kebenaran agama dan tidak berpegang
pada kebenaran-kebenaran kaku dari !ilsa!at 8antroposentrisme92 ia adalah
sebuah bingkai pengetahuan yang ‘lentur’ tempat interse$si berbagai fragmen
kebenaran agama, !ilsa!at dan sains. Kita lalu boleh menyebut pendirian itu
suatu ‘humanisme lentur’.
1
Kritik-kritik atas humanisme dari orang-orang yang kita bahas di atas,
yaitu dari Heidegger, (errida, ,orty dan Buhmann, telah membantu kita untuk
membongkar bahaya homogenisasi yang diba#a oleh meta!isika kemanusiaan.
&agi mereka, humanisme bersi!at teroristis karena menindas kemajemukan.
5kan tetapi kita menganggap keharusan untuk menghentikan humanisme
sepenuhnya sebagai berlebihan. ekurangnya dua alasan ini dapat kita pikirkan.
%ertama, sikap kritis mereka atas humanisme dimungkinkan oleh suatu
keprihatinan yang mendasari humanisme, yaitu bagaimana menyelamatkan
manusia dari berbagai hegemoni, yang kali ini secara ironis dipraktikkan oleh
humanisme. Keprihatinan itu melekat pada aspek kritis-normati! dari humanisme
yang di atas kita sebut humanisme etis. epenuhnya menghentikan humanisme
berarti juga mencekik ‘nya#a’ yang menggerakkan kritik-kritik itu sendiri
sehingga kritik-kritik itu menggagalkan tujuannya sendiri. Kedua, kritik-kritik atas
humanisme itu sangat sensiti! terhadap setiap upaya totalisasi yang diba#a oleh
universalisasi kemanusiaan. %enolakan mereka terhadap universalitas kerap
disertai kebutaan terhadap bahaya dari sikap mereka sendiri yang condong
memuja partikularitas dan heterogenitas, seolah-olah tidak ada sama sekali yang
universal dalam kemanusiaan. @arsisme global yang diidap oleh humanisme
eksklusivistis peradaban )ropa di sini ditukar dengan narsisme regional aneka
kemanusiaan yang takut membangun kebersamaan. Karena dua alasan ini kita
tidak ingin menghentikan sepenuhnya ide humanisme. Kita hanya akan
menghentikan sebagian saja, yaitu meta!isika kemanusiaan yang membuat
humanisme menjadi eksklusivistis dan menindas kemajemukan.
Humanisme lentur adalah suatu humanisme tanpa meta!isika
kemanusiaan. Jersi ini tidak bertanya, ukuran-ukuran manakah yang harus kita
tetapkan agar seseorang atau suatu kelompok termasuk ke dalam kemanusiaan
kita, yaitu ‘orang-orang seperti kita’, melainkan bertanya, bagaimana mencapai
titik temu bagi berbagai ukuran yang dimiliki oleh berbagai orang atau kelompok
sehingga kita dan mereka dapat mengantisipasi suatu kemanusiaan yang akan
datang. Humanisme yang kita bela itu tidak hanya meninggalkan versi
2#
eksklusivistis dari humanisme modern, melainkan juga kritis terhadap versi
sekularistisnya yang menyangkal semua kebenaran agama.
(ua hal berikut menandai humanisme lentur. %ertama, kelenturannya
menyatakan keyakinannya bah#a universalitas kemanusiaan itu mungkin, bukan
sebagai ukuran yang ditetapkan sebelumnya secara monologal, melainkan
sebagai suatu visi yang diperjuangkan secara dialogal. eorang humanis yang
sudah terbebas dari meta!isika kemanusiaan tidak akan memahami tetangganya,
pemeluk agama lain atau pendatang asing dengan mengukur mereka dari kodrat
umum yang ia yakini sebelumnya, melainkan dengan memasukkan sebanyak
mungkin perbedaan untuk memperkaya perspekti!nya tentang menjadi manusia.
Itulah ‘intertekstualitas’ dalam humanisme yang mencoba memahami manusia
tidak dengan menurunkannya dari suatu hakikat atau kodrat, melainkan dengan
menganyam berbagai teks atau pena!siran tentang manusia. Humanisme lentur
menyelamatkan intuisi kita sehari-hari yang menyebut sikap toleran terhadap
perbedaan sebagai ‘manusia#i’, dan sikap kaku yang menyekat-nyekat sesama
manusia dalam pagar-pagar suku, agama, ideologi, kelas dst. sebagai ‘tidak
manusia#i’. Keterbukaan terhadap perbedaan itu juga diiringi oleh kemampuan
untuk mengabaikan perbedaan-perbedaan suku, agama, kelas atau ideologi di
antara kita karena merasakan kesamaan-kesamaan dalam kenyataan bah#a
kita manusia mudah terluka. (alam humanisme lentur intertektualitas (errida
berpadu dengan sentimentalitas ,orty.
Kedua, kelenturannya juga menyatakan tidak hanya keyakinannya akan
potensi epistemis agama-agama yang dapat bertumpang tindih dengan
kebenaran-kebenaran yang dicari dalam !ilsa!at dan sains, melainkan juga
respeknya pada batas-batas antara iman religius dan rasionalitas. eorang
humanis yang berhasil menolak godaan meta!isika kemanusiaan akan menerima
religiositas sebagai salah satu dimensi hidupnya tanpa terjerumus ke dalam
!ideisme. (ia beriman dengan mencari pengertian, dan mengerti tanpa
menghalau keyakinan. 5kalnya tidak dibebani oleh tugas untuk membuktikan
eksistensi "uhan karena menyadari bah#a tugas seperti itu justru menyangsikan
kemahakuasaan@ya. "ugas akal bagi seorang humanis pasca meta!isika
21
kemanusiaan adalah menunjukkan bah#a manusia itu terbuka terhadap sesuatu
yang melampaui dunia ini, dan ini dilakukan tanpa menyangkal kedunia#ian
manusia.
&aginya kebebasan diraih bukan dengan menyingkirkan "uhan, karena
justru misteri@ya memberi ruang untuk kebebasan, melainkan le#at keinsya!an
akan kontingensi hidupnya. Istilah-istilah, seperti kontigensi ganda 8Buhmann9,
kontigensi bahasa dan diri 8,orty9 atau diff#rance 8(errida9 menunjukkan
bagaimana kebebasan tidak lagi dimengerti dalam kosakata !ilsa!at subyek,
seolah-olah manusia adalah pusat yang menentukan segalanya dan
menciptakan segalanya, melainkan sebagai kemungkinan-kemungkinan untuk
melampaui diri, sebagai keberanian-keberanian untuk mengambil risiko, sebagai
kemampuan untuk memberi. (engan bersikap moderat terhadap akal,
kebebasan, dan iman, humanisme yang tanpa narsisme dan triumphalisme kita
bela disini menemukan kembali makna ‘kemanusia#ian’ di antara puing-puing
meta!isika kemanusiaan.
Dr. F. Budi Hardiman. %enulis dan pengajar !ilsa!at di program pasca sarjana "F. (riyarkara
=akarta. &uku terbarunya D(emokrasi (eliberati!E akan segera diterbitkan oleh %enerbit Kanisius,
+ogyakarta.
-akalah ini disampaikan dalam rangkaian Kuliah 'mum D-emikirkan 'lang HumanismeE di
Komunitas alihara, abtu 0: =uni $33;, ma$alah ini mili$ (alam dan tida$ untu$ dimuat di mana
pun