Anda di halaman 1dari 32

PRESKES

ATRESIA DUODENUM


Disusun Oleh:
Ahmad Afiyudin N G99131011
Faiz Yunanto G99131039


Residen



dr. Endey P
Pembimbing



dr. Suwardi SpB., SpBA



KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Usus manusia secara umum terdiri atas usus besar dan usus
halus. Segmen pada usus halus terdiri dari duodenum, jejunum, dan
ileum. Duodenum akan diikuti oleh bagian usus yang panjang yang
disebut jejunum. Jejunum diikuti oleh ileum yang merupakan bagian
terakhir dari usus halus yang akan menghubungkan usus halus dengan
usus besar. Apabila bagian dari usus ini gagal untuk berkembang pada
masa fetus, akan mengakibatkan terjadinya sumbatan pada usus yang
disebut dengan atresia intestinal (Tamer et al, 2011).
Atresia merupakan kondisi tidak ada atau tertutupnya lubang
pada tubuh atau organ yang berbentuk tubular secara congenital, 50%
kasus atresia intestinal terjadi pada duodenum, dan 46%kasus terjadi
pada jejunoileal.. Intestinum adalah bagian dari saluran pencernaan yang
dimulai dari struktur setelah pilorus gaster hingga anus dan terdiri dari
usus halus dan usus besar, yang fungsinya melengkapi proses
pencernaan, memberi air ke tubuh, elektrolit, zat gizi, dan menyimpan
ampas fekal hingga dikeluarkan (Dorland, 2002).

Angka kejadian atresia intestinal di Amerika Serikat mencapai 1
dari 3000 kelahiran hidup, tetapi di Benua Afrika angka kejadian ini
bisa lebih banyak yaitu 1 dari 1000 kelahiran hidup. Kasus atresia
intestinal akan menunjukkan gejala beberapa jam setelah kelahiran,
tetapi pada beberapa kasus yang telah terjadi, sering tidak dilaporkan,
sehingga tidak mendapatkan pelayanan medis. Sebelum tahun 1952,
kematian akibat atresia jejuno ileal mencapai 90%. Di antara tahun 1952
dan 1955, kematian mencapai 80% ketika anastomosis primer terjadi
tanpa reseksi usus. Pada saat reseksi dan dilatasi usus bisa dilakukan,
angka kematian menurun hingga 22%. Kematian menurun kembali
hingga 10% pada tahun 1959 sampai 2000. Beberapa faktor yang
berkontribusi dalam kematian antara lain infark usus proksimal,
peritonitis, kelemahan anastomosis, atresia distal yang tidak diketahui,
dan sepsis (Millar et al., 2003).
B. Tujuan
Tujuan pembuatan referat ini adalah untuk memaparkan hal-hal yang
berkaitan dengan anatomi dan fisiologi usus serta kelainan yang berupa
atresia duodenum



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Embriogenesis
Secara embriologi, saluran pencernaan berasal dari foregut,
midgut dan hindgut. Foregut akan membentuk faring, sistem pernafasan
bagian bawah, esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem
bilier serta pankreas. Midgut membentuk usus halus, sebagian
duodenum, sekum, appendik, kolon asenden sampai pertengahan kolon
transversum. Hindgut meluas dari midgut hingga ke membrana kloaka,
membrana ini tersusun dari endoderm kloaka, dan ektoderm dari
protoderm atau analpit. Usus terbentuk mulai minggu keempat disebut
sebagai primitif gut. Kegagalan perkembangan yang lengkap dari
septum urorektalis menghasilkan anomali letak tinggi atau supra levator.
Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek
perkembangan proktoderm dan lipatan genital. Pada anomali letak
tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal. Sedangkan otot
sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau rudimenter
(Langman, 2009).
Deodenum dibentuk dari bagian akhir usus depan dan bagian
sefalik dari usus tengah. Titik pertemuan kedua bagian ini terletak tepat
di sebelah distal pangkal tunas hati. Ketika lambung berputar,
duodenum mengambil bentuk melengkung seperti huruf C dan memutar
ke kanan. Perputaran ini bersama-sama dengan tumbuhnya kaput
pankreas, menyebabkan duodenum membelok dari posisi tengahnya
yang semula ke arah sisi kiri rongga abdomen. Deodenum dan kaput
pankreas ditekan ke dinding dorsal badan, dan permukaan kanan
mesoduodenum dorsal menyatu dengan peritonium yang ada
didekatnya. Kedua lapisan tersebut selanjutnya menghilang dan
duodenum serta kaput pankreas menjadi terfikasasi di posisi
retroperitonial. Mesoduodenum dorsal menghilang sama sekali kecuali
di daerah pilorus lambung, dengan sebagian kecil duodenum ( tutup
duodenum) yang tetap intraperitonial. Selama bulan ke dua, lumen
duodenum tersumbat oleh ploriferasi sel di dindingnya. Akan tetapi,
lumen ini akan mengalami rekanalisasi sesudah bulan kedua. Usus
depan akan disuplai oleh pembuluh darah yang berasal dari arteri
sefalika dan usus tengah oleh arteri mesenterika superior, sehingga
duodenum akan disuplai oleh kedua pembuluh darah tersebut.






B. Anatomi
Duodenum
Duodenum atau juga disebut dengan usus duabelas jari
merupakan usus yang berbentuk seperti huruf C yang menghubungkan
antara gaster dengan jejunum. Duodenum melengkung di sekitar caput
pancreas. Duodenum merupakan bagian terminal atau muara dari sistem
apparatus biliaris dari hepar maupun dari pancreas. Selain itu duodenum
juga merupakan batas akhir dari saluran cerna atas. Dimana saluran
cerna dipisahkan menjadi saluran cerna atas dan bawah oleh adanya
ligamentum Treitz (m. suspensorium duodeni) yang terletak pada
flexura duodenojejunales yg merupakan batas antara duodenum dan
jejunum. Di dalam lumen duodenum terdapat lekukan-lekukan kecil
yang disebut dengan plica sircularis. Duodenum terletak di cavum
abdomen pada regio epigastrium dan umbilikalis (Snell, 2006).
Duodenum memiliki penggantung yg disebut dg mesoduodenum.








Gambar 1. Bagian bagian usus









Gambar 2. Bagian-bagian duodenum
Duodenum terdiri atas beberapa bagian:
1. Duodenum pars superior
Bagian ini bermula dari pylorus dan berjalan ke sisi
kanan vertebrae lumbal I dan terletak di linea transpylorica.
Bagian ini terletak setinggi vertebrae lumbal I dan memiliki
sintopi:
a. Anterior : Lobus quadrates hepatis, vesica velea
b. Posterior : Bursa omentalis, a. gastroduodenalis,
ductus choledocus, v. portae hepatis, dan v. cava inferior
c. Superior : Foramen epiploica winslow
d. Inferior : Caput pankreas
2. Duodenum pars decendens
Bagian dari duodenum yang berjalan turun setinggi
vertebrae lumbal II-III. Pada duodenum bagian ini terdapat
papilla duodeni major dan minor yang merupakan muara dari
ductus pancreaticus major dan ductus choledocus serta
ductus pancreaticus minor yang merupakan organ apparatus
billiaris dan termasuk organ dari system enterohepatic.




Duodenum bagian ini memiliki sintopi :
a. Anterior : Fundus vesica felea, colon transersum,
lobus hepatis dextra
b. Posterior : Ureter dextra, hilus renalis dextra
c. Medial : Caput pankreas
d. Lateral : Colon ascendens, fleksura coli dextra,
lobus hepatis dextra
3. Duodenum pars horizontal
Merupakan bagian dari duodenum yang berjalan
horizontal ke sinistra mengikuti pinggir bawah caput
pancreas dan memiliki skeletopi setinggi vertebrae lumbal II.
Duodenum bagian ini memiliki sintopi :
a. Anterior : Mesenterium usus halus, vasa
mesenterica superior, lekukan jejunum
b. Posterior : Ureter dextra, m. psoas dextra, aorta
c. Superior : Caput pancreas
d. Inferior : Lekukan jejunum



4. Duodenum pars ascendens
Merupakan bagian terakhir dari duodenum yang bergerak
naik hingga pada flexura duodenujejunales yang merupakan
batas antara duodenum dan jejunum. Pada flexura
duodenojejunales ini terdapat ligamentum yang
menggantung yang merupakan lipatan peritoneum yang
disebut dengan ligamentum Treitz (m. suspensorium
duodeni) yang dimana ligamentum ini juga merupakan batas
yang membagi saluran cerna menjadi saluran cerna atas dan
saluran cerna bawah. Duodenum bagian ini memiliki
skeletopi setinggi Vertebrae Lumbal I atau II. Duodenum
bagian ini memiliki sintopi :
a. Anterior : Mesenterium, lekukan jejunum
b. Posterior : Pinggir kiri aorta, pinggir medial m.
psoas sinistra
(Snell, 2006)





Vaskularisasi duodenum
Vaskularisasi duodenum baik arteri maupun vena nya terbagi
menjadi 2. Untuk duodenum pars superior hingga duodenum pars
descendens diatas papilla duodeni major (muara ductus pancreticus
major), divaskularisasi oleh R. superior a. pancrearicoduodenalis cabang
dari a. gastroduodenalis, cabang dari a. hepatica communis, cabang dari
triple hallery yang dicabangkan dari aorta setinggi Vertebae Thoracal
XII Vertebrae Lumbal I. dan aliran vena nya langsung bermuara ke
system portae. Sedangkan dibawah papilla duodeni major, duodenum
divaskularisasi oleh R. duodenalis a. mesenterica superior yg
dicabangkan dr aorta setinggi Vertebrae Lumbal I. Sedangkan aliran
vena nya bermuara ke v. mesenterica superior (Snell, 2006).
Inervasi duodenum
Duodenum di innervasi oleh persarafan simpatis oleh truncus
sympaticus segmen thoracal VI-XII, sdgkn persarafan parasimpatis nya
oleh n. vagus (n. X) (Snell, 2006).




C. Atresia duodenum
1. Definisi
Atresia duodenum adalah suatu kondisi dimana duodenum
(bagian pertama dari usus halus) tidak berkembang dengan baik,
sehingga tidak berupa saluran terbuka dari lambung yang tidak
memungkinkan perjalanan makanan dari lambung ke usus. Pada
kondisi ini duodenum bisa mengalami penyempitan secara komplit
sehingga menghalangi jalannya makanan dari lambung menuju usus
untuk mengalami proses absorbs. Apabila penyempitan usus terjadi
secara parsial, maka kondisi ini disebut dengan duodenal stenosis
(Hayden et al, 2003).
2. Epidemiologi

Secara statistik insidensi atresia duodenum dilaporkan terdapat 1
diantara 5000-10000 kelahiran di Afrika. Atresia duodenum dan
jejunoileal peringkat kedua paling banyak penyebab obstruksi
intestinal pada populasi Afrika(Millar, 2005). Sekitar 20-30% bayi
dengan atresia duodenal memiliki sindrom down. Atresia duodenal
selalu dihubungkan dengan defek kelahiran lain (Wyllie, 2007).



3. Etiologi
Penyebab atresia duodenum belum diketahui, tetapi diperkirakan
hasil dari permasalahan selama perkembangan embrio dimana
duodenum tidak berubah bentuk secara normal (Wyllie, 2007). Masa
kehamilan minggu ke 5 sampai ke 10, duodenum berupa chord
padat. Obstruksi instriksi hasil dari kegagalan vakuoliasasidan
rekanalisasi. Pancreas annular hasil dari fusi bagian anterior dan
posterior, pembentukkan cincin jaringan pankreas yang disekitar
duodenum. Obstruksi ekstrinsik hasil dari berbagai macam kelainan
perkembangan embriologi spesifik penyebab patologi (Millar,
2005).
Atresia duodenal sering ditemukan bersamaan dengan
malformasi pada neonates lainnya yang menunjukkan kemungkinan
bahwa anomaly ini disebabkan karena gangguan yang dialami pada
awal kehamilan. Pada beberapa penelitian, anomaly ini diduga
karena gangguan pembuluh darah mesenterika. Gangguan ini bisa
disebabkan karena volvulus, malrotasi, gastroskisis maupun
penyebab yang lain. Pada atresia duodenum, juga diduga disebabkan
karena kegagalan proses rekanalisasi. Disamping itu, beberapa
penelitian menyebutkan bahwa annular pancreas berhubungan
dengan terjadinya aresia duodenal (Richard et al, 2001).

4. Klasifikasi
Atresia duodenum dapat diklasifikasikan ke dalam 3 morfologi,
yaitu :
a. Tipe 1
Atresia duodenum yang ditandai oleh adanya webs atau
membrane pada lumen duodenum.
b. Tipe 2
Atresia duodenum dengan segmen proksimal dan distal
dihubungkan dengan fibrous cord.
c. Tipe 3
Atresia dengan diskontinuitas komlit antar segmen proksimal
dan distal.

Gambar 3. Tipe atresia duodenum

5. Patogenesis
Ada faktor ekstrinsik serta ekstrinsik yang diduga menyebabkan
terjadinya atresia duodenal. Faktor intrinsik yang diduga
menyebabkan terjadinya anomali ini karena kegagalan rekanalisasi
lumen usus. Duodenum dibentuk dari bagian akhir foregut dan
bagian sefalik midgut. Selama minggu ke 5-6 lumen tersumbat oleh
proliferasi sel dindingnya dan segera mengalami rekanalisasi pada
minggu ke 8- 10. Kegagalan rekanalisasi ini disebut dengan atresia
duodenum. Perkembangan duodenum terjadi karena proses
ploriferasi endoderm yang tidak adekuat (elongasi saluran cerna
melebihi ploriferasinya atau disebabkan kegagalan rekanalisasi
epitelial (kegagalan proses vakuolisasi) (Alan et al, 2001).
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa epitel duodenum
berploriferasi dalam usia kehamilan 30-60 hari ataupada kehamilan
minggu ke 5 atau minggu ke 6, kemudian akan menyumbat lumen
duodenum secara sempurna. Kemudian akan terjadi proses
vakuolisasi. Pada proses ini sel akan mengalami proses apoptosis
yang timbul pada lumen duodenum. Apoptosis akan menyebabkan
terjadinya degenerasi sel epitel, kejadian ini terjadi pada minggu ke
11 kehamilan. Proses ini mengakibatkan terjadinya rekanalisasi pada
lumen duodenum. Apabila proses ini mengalami kegagalan, maka
lumen duodenum akan mengalami penyempitan. Pada beberapa
kondisi, atresia duodenum dapat disebabkan karena faktor
ekstrinsik. Kondisi ini disebabkan karena gangguan perkembangan
struktur organ sekitarnya, seperti pankreas. Atresia duodenum
berkaitan dengan pankreas anular. Pankreas anular merupakan
jaringan pankreatik yang mengelilingi sekeliling duodenum,
terutama deodenum bagian desenden. Kondisi ini akan
mengakibatkan gangguan perkembangan duodenum (Free et al,
2004).
6. Penegakkan diagnosis
a. Manifestasi klinis
Pasien dengan atresia duodenal memiliki gejala obstruksi
usus. Gejala akan nampak dalam 24 jam setelah kelahiran. Pada
beberapa pasien dapat timbul gejala dalam beberapa jam hingga
beberapa hari setelah kelahiran. Muntah yang terus menerus
merupakan gejala yang paling sering terjadi pada neonatus
dengan atresia duodenal. Muntah yang terus-menerus ditemukan
pada 85% pasien. Muntah akan berwarna kehijauan karena
muntah mengandung cairan empedu (biliosa). Akan tetapi pada
15% kasus, muntah yang timbul yaitu non-biliosaapabila atresia
terjadi pada proksimal dari ampula veteri. Muntah neonatus akan
semakin sering dan progresif setelah neonates mendapat ASI.
Karakteristik dari muntah tergantung pada lokasi obstruksi. Jika
atresia diatas papila, maka jarang terjadi. Apabila obstruksi pada
bagian usus yang tinggi, maka muntah akan berwarna kuning
atau seperti susu yang mengental. Apabila pada usus yang lebih
distal, maka muntah akan berbau dan nampak adanya fekal.
Apabila anak terus menerus muntah pada hari pertama kelahiran
ketika diberikan susu dalam jumlah yang cukup sebaiknya
dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang lain seperti
roentgen dan harus dicurigai mengalami obstruksi usus. Ukuran
feses juga dapat digunakan sebagai gejala penting untuk
menegakkan diagnosis. Pada anak dengan atresia, biasanya akan
memiliki mekonium yang jumlahnya lebih sedikit,
konsistensinya lebih kering, dan berwarna lebih abu-abu
dibandingkan mekonium yang normal. Pada beberapa kasus,
anak memiliki mekonium yang nampak seperti normal (Kessel
et al, 2011)
Pengeluaran mekonium dalam 24 jam pertama biasanya
tidak terganggu. Akan tetapi, pada beberapa kasus dapat terjadi
gangguan. Apabila kondisi anak tidak ditangani dengan cepat,
maka anak akan mengalami dehidrasi, penurunan berat badan,
gangguan keseimbangan elektrolit. Jika dehidrasi tidak
ditangani, dapat terjadi alkalosis metabolik hipokalemia atau
hipokloremia. Pemasangan tuba orogastrik akan mengalirkan
cairan berwarna empedu (biliosa) dalam jumlah bermakna. Anak
dengan atresi duodenum juga akan mengalami aspirasi gastrik
dengan ukuran lebih dari 30 ml. Pada neonatus sehat, biasanya
aspirasi gastrik berukuran kurang dari 5 ml. Aspirasi gastrik ini
dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada jalan nafas anak.
Pada beberapa anak, mengalami demam. Kondisi ini disebabkan
karena pasien mengalami dehidrasi. Apabila temperatur diatas
103 F maka kemungkinan pasien mengalami ruptur intestinal
atau peritonitis (Kessel et al, 2011).
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen.
Akan tetapi distensi ini tidak selalu ada, tergantung pada level
atresia dan lamaya pasien tidak dirawat. Jika obstruksi pada
duodenum, distensi terbatas pada epigastrium. Distensi dapat
tidak terlihat jika pasien terus menerus muntah. Pada beberapa
neonatus, distensi bisa sangat besar setelah hari ke tiga sampai
hari ke empat, kondisi ini terjadi karena ruptur lambung atau
usus sehingga cairan berpindah ke kavum peritoneal. Neonatus
dengan atresia duodenum memiliki gejala khas perut yang
berbentuk skafoid (Kessel et al, 2011).


Saat auskultasi, terdengar gelombang peristaltik gastrik
yang melewati epigastrium dari kiri ke kanan atau gelombang
peristaltik duodenum pada kuadran kanan atas. Apabila
obstruksi pada jejunum, ileum maupun kolon, maka gelombang
peristaltik akan terdapat pada semua bagian dinding perut
(Kessel et al, 2011).
c. Pemeriksaan penunjang
Pre natal
Secara general, atresia duodenum sulit untuk di diagnosis
selama kehamilan. Diagnosis prenatal selalu berdasarkan tanda
non spesifik pada fetal ultrasound seperti dilatasi lambung.
Karena cairan amnion ditelan dan dicerna secara normal oleh
fetus, atresia duodenum dapat menyebabkan peningkatan cairan
dalam sakus amnion, hidramnion. Ini mungkin merupakan tanda
awal atresia duodenum (Millar, 2005). Diagnosis saat masa
prenatal yakni dengan menggunakan prenatal ultrasonografi.
Sonografi dapat meng-evaluasi adanya polihidramnion dengan
melihat adanya struktur yang terisi dua cairan dengan gambaran
double bubble pada 44% kasus. Sebagian besar kasus atresia
duodenum dideteksi antara bulan ke 7 dan 8 kehamilan
(Fellicitas et, 2009)

Gambar 4. Gambaran USG prenatal pada atresia duodenal
Post natal
Pemeriksaan yang dilakukan pada neonatus yang baru
lahir dengan kecurigaan atresia duodenum, yakni pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan
laboratorium yang diperiksa yakni pemeriksaan serum, darah
lengkap, serta fungsi ginjal pasien. Pasien bisanya muntah yang
semakin progresive sehingga pasien akan mengalami gangguan
elektrolit. Biasanya mutah yang lama akan menyebabkan
terjadinya metabolik alkalosis dengan hipokalemia atau
hipokloremia dengan paradoksikal aciduria. Oleh karena itu,
gangguan elektrolit harus lebih dulu dikoreksi sebelum
melakukan operasi. Disamping itu, dilakukan pemeriksaan darah
lengkap untuk mengetahui apakah pasien mengalami demam
karena peritonitis dan kondisi pasien secara umum (Hayden et
al, 2003).
Pemeriksaan roentgen yang pertama kali dilakukan yakni
plain abdominal x-ray. X-ray akan menujukkan gambaran
double-bubble sign tanpa gas pada distal dari usus. Pada sisi kiri
proksimal dari usus nampak gambaran gambaran lambung yang
terisi cairan dan udara dan terdapat dilatasi dari duodenum
proksimal pada garis tengah agak kekanan. Apabila pada x-ray
terdapat gas distal, kondisi tersebut tidak mengekslusi atresia
duodenum. Pada neonatus yang mengalami dekompresi
misalnya karena muntah, maka udara akan berangsur-angsur
masuk ke dalam lambung dan juga akan menyebabkan gambaran
double-bubble (Richard et al, 2001).



Gambar 5. Gambaran double bubble pada atresia duodenum
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan secara umum yaitu :
- Pemasangan tube orogastrik untuk mendekompresi lambung
- Memberikan cairan elektrolilt melalui intravena (mengkoreksi
dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit).
- Mengatasi sindrom down.
- Pembedahan untuk mengkoreksi kebuntuan duodenum perlu
dilakukan namun tidak darurat. Pembedahan ini tergantung pada
sifat abnormalitas. Prosedur operatif standar saat ini berupa
duodenoduodenostomi.
a. Pre operasi
Penatalaksanaan terdiri dari dekompresi nasogastrik dan
menyediakan penggantian cairan dan elektrolik. Banyak
penderita merupakan prematur dan umur kelahirannya rendah,
maka harus menjaga tubuh dari panas dan menghindari
hipoglikemia terutama pada kasus berat bayi lahir rendah,
penyakit jantung kongenital, sindroma distres respirasi (Millar,
2005).
Setelah diagnosis ditegakkan, maka resusitasi yang tepat
diperlukan dengan melakukan koreksi terhadap keseimbangan
cairan dan abnormalitas elektrolit serta melakukan kompresi
pada gastrik. Dilakukan pemasangan orogastrik tube dan
menjaga hidrasi IV. Managemen preoperatif ini dilakukan mulai
dari pasien lahir. Sebagian besar pasien dengan duodenal atresia
merupakan pasien premature dan kecil, sehingga perawatan
khusus diperlukan untuk menjaga panas tubuh bayi dan
mencegah terjadinya hipoglikemia, terutama pada kasus berat
badan lahir yang sangat rendah, CHD, dan penyakit pada
respirasi. Sebaiknya pesien dirawat dalam incubator (Tamer et
al, 2011).

b. Intraoperasi
Tindakan ini memerlukan anestesi general dengan
intubasi endotrakeal. Yang sering banyak digunakan dengan
insisi pemotongan otot, transversal, insisi kuadran kanan atas.
Namun, beberapa menggunakan motode laparoskopi untuk
memperbaiki (Blanco-Rodrguez, 2008).
Sisi ke sisi duodenoduodenostomi merupakan standar
perbaikan untuk stenosis duodenal, atresia atau obstruksi yang
disebabkan vena porta preduodenal. Ketika pankreas annular
dihubungkan dengan obstruksi duodenal bertemu, pilihan
penyembuhan dengan duodenoduodenostomi antara segmen
duodenum yang diatas dan dibawah pada area cincin pankreas
(Blanco-Rodrguez, 2008).









Menurut Felicitass (2011), teknik pembedahan pada
atresia duodenum :
1) Side to side anastomosis
Dimulai dari bagian dorsal dari anastomosis, sebuah
duodenostomi melintang dibuat di segmen proksimal.
Bagian ujung dari lambung dan duodenum dilakukan
duodenotomi. Insisi pararel dibuat pada distal
duodenum kemudian lapisan posterior anastomosis
dijahitkan.
2) For diamond shape duodenostomi
Diperlukan mobilisasi untuk menempatkan dinding
duodenum proksimal terlihat dengan jelas. Kemudian
dibuat sayatan melintang di proksimal membujur ke
duodenum bagian distal.
3) For a duodenal web
Untuk web duodenum, membrane biasanya terletak
di kedua bagian duodenum, Lokasi membrane dapat
dibantu oleh pemasangan NGT ke dalam duodenum.
4) For membrane resection
Untuk reseksi membrane, sayatan dibuat memanjang.
Kemudian mengidentifikasi ampula vater. Eksisi
dimulai dengan insisi radial di pusat ostium. Sebelum
menutup duodenum secara melintang, patensi
duodenum bagian distal diuji terlebih dahulu dengan
menggunakan kateter silicon kecil.
Selain itu, tindakan bedah dapat dilakukan sesuai dengan
tipe dari atresia duodenum.
1) Tipe 1
Atresia duodenum yang ditandai oleh adanya webs
atau membrane pada lumen duodenum. Tindakan
bedah yang dilakukan adalah menginsisi dinding
duodenum kemudian mengeksisi membrane bagian
dalamnya, kemudian dijahit.

Gambar 6. Tindakan bedah pada atresia duodenum tipe 1


2) Tipe 2
Atresia duodenum dengan segmen proksimal dan
distal dihubungkan dengan fibrous cord. Tindakan
pembedahan yang dilakukan adalah
dudenoduodenostomi. Bagian yang mengalami
atresia dihilangkan, kemudian kedua ujung tersebut
digabungkan.
3) Tipe 3
Atresia dengan diskontinuitas komlit antar segmen
proksimal dan distal. Tindakan bedah yang dilakukan
adalah gastrojejunum, yaitu menggabungkan antara
utung jejunum langsung ke lambung.

Gambar 7. Tindakan operasi pada atresia duodenum
tipe 2 (atas) dan atresia duodenum tipe 3 (bawah)
c. Post operasi
Penggunaan selang transanastomik berada dalam di
jejunum, pemberian makan dapat diberikan setelah 48 jam paska
operasi. Nutrisi parenteral via central atau perifer dimasukan
kateter dapat sangat efektif untuk menjaga nutrisi waktu yang
lama jika transanastomik enteral tidak cukup atau tidak dapat
ditolenrasi oleh tubuh pasien (Millar, 2005).
8. Komplikasi
- Komplikasi yang dapat ditemukan ialah kelainan congenital
lainnya.
- Mudah terjadi dehidrasi
Komplikasi post operasi dilaporkan pada 14-18% pasien, dan
beberapa pasien memerlukan operasi kembali. Beberapa kondisi
yang sering terjadi dan menyebabkan pasien perlu dioperasi
kembali yaitu :
- Kebocoran anostomosis
- Obstruksi fungsional duodenum
- Adhesi
- Bengkak pada bagian pertama usus halus (megaduodenum)
- Permasalahan pergerakan usus
- Refluks gastroesofageal
- Sepsis intraabdomen
(Richard et al, 2001)


9. Prognosis

Angka harapan hidup untuk bayi dengan atresia duodenum
adalah 90 - 95%. Mortalitas yang tinggi disebabkan karena
prematuritas serta abnormalitas congenital yang menyertainya.
Morbiditas dan mortalitas telah membaik secara bermakna selama
50 tahun terakhir. Adanya kemajuan dibidang anestesi pediatric,
neonatologi, dan teknik pembedahan, angka kesembuhannya telah
meningkat hingga 90%. Menurut Milar (2005), walaupun prognosis
atresia duodenal secara general bagus namun angka kematian
sebesar 7%. Hubungan kelainan kongenital diindentifikasikan
sebagai faktor risiko independent. Berat lahir rendah dan permasalah
prematur lebih jauh meningkatkan resiko kematian (Richard et al,
2001).









BAB III
KESIMPULAN

1. Atresia duodenum merupakan kondisi dimana duodenum tidak
berkembang dengan baik.
2. Penyebab terjadinya atresia duodenum sampai saat ini belum
diketahui, namun sering ditemukan bersamaan dengan malformasi
pada neonates lainnya seperti sindrom down, maupun penyakit
jantung.
3. Penegakkan diagnosis yaitu dengan anamnesis didapatkan pasien
memiliki gejala obstruktif usus, yaitu muntah terus menerus. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen. Pada pemeriksaan
penunjang ditemukan double bublle.
4. Tindakan bedah yang dilakukan ialah sesuai dengan tipe atresi
duodenum.





Daftar pustaka
Alan PL, James AM. Congenital Duodenal Abnormalies in a Adult. Arch
Surgery.2001;136:578-561
Blanco-Rodrguez, G., Penchyna-Grub, J., Porras-Hernndez, JD., Trujillo-
Ponce A. 2008. Transluminal Endoscopic Electrosurgical Incision of
Fenestrated Duodenal Membranes. Pediatric Surgery Int. Epub :711
714.
Dorland, W. A. N. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC.
Hal 206 dan 1113.
Free FA, Barry G. Duodenal Obstruction in the Newborn Due To Annular
Pancreas. Surg.2004;103:321-325
Hayden CK, Marshall ZS, Michael D, Leonard ES. Combine Esophageal and
Duodenal Atresia: Sonograpic Findings. Arch Surg.2003;140:225-230
Kessel D, Bruyn D, Drake F. Case report: Ultrasound Diagnosis Of Duodenal
Atresia Combined With Isolated Oesophageal Atresia. The British
Journal of Radiology.2011;66: 86-88
Millar A. J. W., Gosche J. R., and Lakhoo K. 2003. Intestinal Atresia and
Stenosis. Paediatric Surgery: A Comprehensive Text for Africa
Chapter 63. p.385-388.
Richard FL, Benneth AL, Norman GB, Anthony JB, Brian RJ.
Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran.Jakarta :
EGC.
Tamer S, Mustafa K, Ulas A, Ali SK, Duodenal Atresia and Hirchsprung
Disease in a Patient with Down Syndrome. Eur J Gen
Med.2011;8(2):157-9
Wyllie, R. 2007. Intestinal Atresia, Stenosis, and Malrotation: Nelson Textbook
of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 327.