Anda di halaman 1dari 11

Page 1

Vaksin DTP-HB-Hib


Vaksin DTP-HB-Hib
KOMPOSISI
Setiap dosis vaksin (0,5 mL) mengandung:
Zat berkhasiat:
o

Toksoid difteri murni 20 Lf
o

Toksoid tetanus murni 5 Lf
o

B. pertussis yang diinaktivasi 12 OU
o

HBsAg 10 mcg
o

Konjugat Hib 10mcg
INDIKASI
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan),
Hepatitis B secara simultan, dan infeksi haemofilus influenza tipe b secara simultan.
CARA KERJA OBAT
Merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan),
Hepatitis B dan haemofilus influenza tipe b.
POSOLOGI
Sebaiknya didahului dengan vaksinasi Hepatitis B pada bayi yang baru lahir. Vaksin
harus disuntikkan baiknya secara intramuskular pada bagian anterolateral paha atau
pada otot deltoid untuk anak-anak. Setiap dosis adalah 0,5 mL, diberikan pada bayi
mulai usia 8 minggu, dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval waktu 4 minggu.
Page 2

EFEK SAMPING
Reaksi lokal atau sistemik yang bersifat ringan. Kasus yang sering terjadi
adalah bengkak, nyeri, penebalan kemerahan pada bekas suntikan. Menangis lebih dari
3 jam, demam > 38,5C , muntah, diare.
KONTRAINDIKASI
o

Hipersensivitas terhadap komponen vaksin, reaksi berat terhadap dosis vaksin
kombinasi sebelumnya, atau bentuk-bentuk reaksi sejenis lainnya merupakan
kontraindikasi terhadap dosis lanjutan vaksin kombinasi atau vaksin tertentu yang
diketahui dapat memicu reaksi samping.
o

Terdapat beberapa kontraindikasi terhadap DTP: kejang atau gejala
abnormalitas serebral pada periode baru lahir atau abnormalitas neurologis serius
lainnya karena komponen pertusis. Pada kasus ini, vaksin jangan diberikan dalam
bentuk kombinasi, tetapi sebaiknya diberikan secara terpisah, yaitu dengan
memberikan vaksin DT (bukan DTP) serta Hepatitis B, atau memberikan DTaP
dengan Hepatitis B.
o

Penderita penyakit kejang demam akut.
DEFISIENSI SISTEM KEKEBALAN
Individu yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) baik asimtomatis dan
simtomatis harus diimunisasi menurut jadwal yang telah ditetapkan.
PERINGATAN & PERHATIAN
o

Hati-hati penggunaan pada anak dengan riwayat kejang demam
o

Perhatikan petunjuk pemakaian vaksin (Lihat halaman 17)
INTERAKSI OBAT
Pada orang yang sedang menjalani pengobatan dengan obat-obatan yang
menurunkan daya tahan tubuh seperti kortikosteroid, respon tidak akan tercapai.
PENYIMPANAN
o

Vaksin DTP-HB-Hib harus disimpan pada suhu antara +2C s/d +8C.
o

TIDAK BOLEH DIBEKUKAN.
o

Masa daluarsa 2 tahun.
Penggunaan vaksin dalam vial dosis ganda yang sudah dibuka:
Vaksin DTP-HB-Hib dalam kemasan vial dosis ganda yang telah diambil satu dosis
atau lebih untuk imunisasi dapat disimpan dan digunakan untuk sesi imunisasi
berikutnya sampai dengan 4 minggu, jika semua kondisi yang dipersyaratkan
dipenuhi. (Lihat keterangan petunjuk penyimpanan, halaman 11).
KEMASAN
Dus: 10 vial @ 2,5 mL (5 dosis)


Lf/ml
Lf/ml adalah satuan yang menunjukkan kadar toksin. Nilai 1 Lf setara dengan 2.5 ug toksin difteri.
Page 3

Vaksin DTP-HB 5

Vaksin DTP-HB 5
DESKRIPSI
Vaksin DTP-HB merupakan suspensi koloidal homogen berwarna putih susu dalam vial
gelas, mengandung toksoid tetanus murni, toksoid difteri murni dan B. pertussis yang
diinaktivasi, serta antigen permukaan virus Hepatitis B (sub unit HBsAg) murni yang
bersifat non-infectious. Sub unit HBsAg diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan
pada sel ragi.
KOMPOSISI
Setiap dosis vaksin (0,5 mL) mengandung:
Zat berkhasiat:
o

Toksoid difteri murni 20 Lf
o

Toksoid tetanus murni 7,5 Lf
o

B. pertussis yang diinaktivasi 12 OU
o

HBsAg 5 mcg
Zat tambahan:
o

Aluminium fosfat 1,5 mg
o

Thimerosal 0,05 mg
Page 4

INDIKASI
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk
rejan), dan Hepatitis B secara simultan.
CARA KERJA OBAT
Merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk
rejan), dan Hepatitis B.
POSOLOGI
Sebaiknya didahului dengan vaksinasi Hepatitis B pada bayi yang baru lahir. Vaksin
harus disuntikkan secara intramuskular pada bagian anterolateral paha atau pada otot
deltoid untuk anak-anak. Setiap dosis adalah 0,5 mL, diberikan pada bayi mulai usia 8
minggu, dan 2 dosis berikutnya diberikan dengan interval waktu 4 minggu.
EFEK SAMPING
Reaksi lokal atau sistemik yang bersifat ringan. Kasus yang sering terjadi
adalah bengkak, nyeri, penebalan kemerahan pada bekas suntikan. Menangis lebih dari
3 jam, demam > 38,5C , muntah, diare.
KONTRAINDIKASI
o

Hipersensivitas terhadap komponen vaksin, reaksi berat terhadap dosis vaksin
kombinasi sebelumnya, atau bentuk-bentuk reaksi sejenis lainnya merupakan
kontraindikasi terhadap dosis lanjutan vaksin kombinasi atau vaksin tertentu yang
diketahui dapat memicu reaksi samping.
o

Terdapat beberapa kontraindikasi terhadap DTP: kejang atau gejala
abnormalitas serebral pada periode baru lahir atau abnormalitas neurologis serius
lainnya karena komponen pertusis. Pada kasus ini, vaksin jangan diberikan dalam
bentuk kombinasi, tetapi sebaiknya diberikan secara terpisah, yaitu dengan
memberikan vaksin DT (bukan DTP) serta Hepatitis B, atau memberikan DTaP
dengan Hepatitis B.
o

Penderita penyakit kejang demam akut.
DEFISIENSI SISTEM KEKEBALAN
Individu yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) baik asimtomatis dan
simtomatis harus diimunisasi menurut jadwal yang telah ditetapkan.
PERINGATAN & PERHATIAN
o

Hati-hati penggunaan pada anak dengan riwayat kejang demam
o

Perhatikan petunjuk pemakaian vaksin (Lihat halaman 17)
INTERAKSI OBAT
Pada orang yang sedang menjalani pengobatan dengan obat-obatan yang
menurunkan daya tahan tubuh seperti kortikosteroid, respon tidak akan tercapai.
PENYIMPANAN
o

Vaksin DTP-HB 5 harus disimpan pada suhu antara +2C s/d +8C.
o

TIDAK BOLEH DIBEKUKAN.
o

Masa daluarsa 2 tahun.
Page 5

Penggunaan vaksin dalam vial dosis ganda yang sudah dibuka:
Vaksin DTP-HB dalam kemasan vial dosis ganda yang telah diambil satu dosis
atau lebih untuk imunisasi dapat disimpan dan digunakan untuk sesi imunisasi
berikutnya sampai dengan 4 minggu, jika semua kondisi yang dipersyaratkan
dipenuhi. (Lihat keterangan petunjuk penyimpanan, halaman 11).
KEMASAN
o

Dus: 10 vial @ 2,5 mL (5 dosis)

Page 6

Vaksin DTP-HB 10


Vaksin DTP-HB 10
DESKRIPSI
Vaksin DTP-HB merupakan suspensi koloidal homogen berwarna putih susu dalam vial
gelas, mengandung toksoid tetanus murni, toksoid difteri murni dan B. pertussis yang
diinaktivasi, serta antigen permukaan virus Hepatitis B (sub unit HBsAg) murni yang
bersifat non-infectious. Sub unit HBsAg diproduksi melalui teknologi DNA
rekombinan pada sel ragi.
KOMPOSISI
Setiap dosis vaksin (0,5 mL) mengandung: Zat berkhasiat :
o

Toksoid difteri murni 20 Lf
o

Toksoid tetanus murni 7,5 Lf
o

B. pertussis yang diinaktivasi 12 OU
o

HBsAg 10 mcg
Zat tambahan :
o

Aluminium fosfat 1,5 mg
o

Thimerosal 0,05 mg
Page 7

INDIKASI
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis, dan Hepatitis
B secara simultan.
CARA KERJA OBAT
Merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk
rejan), dan Hepatitis B.
POSOLOGI
Vaksin TIDAK BOLEH digunakan untuk dosis lahir Hepatitis B. Di negara-negara
dimana pertusis menjadi bahaya khusus terhadap bayi muda, vaksin kombinasi
diberikan sesegera mungkin dengan dosis pertama pada usia 6 minggu, dan dua dosis
lanjutan dengan interval 4 minggu.
Vaksin bisa diberikan secara aman dan efektif bersamaan dengan vaksin BCG,
Campak dan Polio (OPV dan IPV), vaksin Hib dan Yellow Fever, serta suplemen vitamin
A. Jika DTP-HB diberikan bersamaan dengan vaksin lain, harus diberikan pada tempat
terpisah. Vaksin DTP-HB tidak dapat dicampur kecuali jika diizinkan penggunaan
sebagai produk kombinasi.
EFEK SAMPING Reaksi lokal atau sistemik yang bersifat ringan. Kasus yang sering
terjadi adalah bengkak, nyeri, penebalan kemerahan pada bekas suntikan. Menangis
lebih dari 3 jam, demam > 38,5C , muntah, diare. KONTRAINDIKASI
o

Hipersensivitas terhadap komponen vaksin, reaksi berat terhadap dosis vaksin
kombinasi sebelumnya, atau bentuk-bentuk reaksi sejenis lainnya merupakan
kontraindikasi terhadap dosis lanjutan vaksin kombinasi atau vaksin tertentu yang
diketahui dapat memicu reaksi samping.
o

Terdapat beberapa kontraindikasi terhadap DTP : kejang atau gejala
abnormalitas serebral pada periode baru lahir atau abnormalitas neurologis serius
lainnya karena komponen pertusis. Pada kasus ini, vaksin jangan diberikan dalam
bentuk kombinasi, tetapi sebaiknya diberikan secara terpisah, yaitu dengan
memberikan vaksin DT (bukan DTP) serta Hepatitis B, atau memberikan DTaP
dengan Hepatitis B.
o

Penderita penyakit kejang demam akut.
DEFISIENSI SISTEM KEKEBALAN Individu yang terinfeksi Human Immunodeficiency
Virus (HIV) baik asimtomatis dan simtomatis harus diimunisasi menurut jadwal yang
telah ditetapkan. PERINGATAN & PERHATIAN
o

Hati-hati penggunaan pada anak dengan riwayat kejang demam.
o

Perhatikan petunjuk pemakaian vaksin (Lihat halaman 17).
INTERAKSI OBAT Pada orang yang sedang menjalani pengobatan dengan obat-
obatan yang menurunkan daya tahan tubuh seperti kortikosteroid, respon tidak akan
tercapai. PENYIMPANAN
o

Vaksin DTP-HB 10 harus disimpan pada suhu antara +2 s/d +8C.
o

TIDAK BOLEH DIBEKUKAN
o

Masa daluarsa 2 tahun.
Page 8

Penggunaan vaksin dalam vial dosis ganda yang sudah dibuka: Vaksin DTP-HB
dalam kemasan vial dosis ganda yang telah diambil satu dosis atau lebih untuk
imunisasi dapat disimpan dan digunakan untuk sesi imunisasi berikutnya sampai
dengan 4 minggu, jika semua kondisi yang dipersyaratkan dipenuhi. (Lihat keterangan
petunjuk penyimpanan, halaman 11).
KEMASAN
o

Dus: 10 vial @ 2,5 mL (5 dosis)
o

Dus: 10 vial @ 5 mL (10 dosis)

Page 9

Vaksin DTP


DESKRIPSI
Vaksin DTP merupakan suspensi koloidal homogen berwarna putih susu dalam
vial gelas, mengandung toksoid tetanus murni, toksoid difteri murni, dan bakteri
pertusis yang diinaktivasi, yang teradsorbsi kedalam aluminium fosfat.
KOMPOSISI
Tiap dosis (0,5 mL) mengandung :
Zat berkhasiat :
Toksoid difteri murni 20 Lf
Toksoid tetanus murni 7,5 Lf
B. pertussis yang diinaktivasi 12 OU
Zat tambahan:
Aluminium fosfat 1,5 mg
Thimerosal 0,05 mg
INDIKASI
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus dan pertusis (batuk rejan)
secara simultan pada bayi dan anak-anak.
CARA KERJA OBAT
Merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap difteri, tetanus, dan pertusis.
POSOLOGI
o

Untuk imunisasi dasar diberikan pada umur 2 bulan, dengan pemberian sebanyak 3
kali @ 0,5 mL secara intramuskular, dengan masa antara 4-6 minggu. Booster 12
bulan kemudian dengan dosis 0,5 mL secara intramuskular.
Page 10

o

Di daerah endemis dimana pertusis dianggap sebagai ancaman tersendiri bagi bayi,
imunisasi DTP harus diberikan sejak usia 6 minggu, dan 2 dosis selanjutnya
diberikan dengan interval waktu 4 minggu.
o

WHO merekomendasikan, jika memungkinkan, satu dosis tambahan DTP dapat
diberikan satu tahun setelah dosis primer lengkap.
EFEK SAMPING
Biasanya reaksi lokal atau sistemik ringan. Sakit, bengkak dan kemerahan pada lokasi
suntikan disertai demam yang bersifat sementara, merupakan kasus terbanyak.
Kadang-kadang reaksi berat seperti demam tinggi, iritabilitas dan histeria dapat
terjadi 24 jam setelah imunisasi. Dilaporkan adanya episode
hypotonichyporesponsive. Kejang karena demam (step) dilaporkan terjadi dengan
perbandingan 1 kasus per 12.500 dosis pemberian. Pemberian asetaminofen pada 4-8
jam setelah imunisasi mengurangi terjadinya demam.
Studi nasional mengenai ensefalopati (penyakit degeneratif otak) pada anak di Inggris
menunjukkan adanya sedikit peningkatan resiko terjadinya ensefalopati akut setelah
imunisasi DTP.
Namun demikian, penelitian lebih lanjut oleh States Institute of Medicine, The Advisory
Committee on Immunization Practices, dan the Paediatric Association of Australia,
Canada, The United Kingdom and The United States, menyimpulkan bahwa data yang
didapat tidak menunjukkan adanya hubungan antara DTP dan disfungsi sistem saraf
kronis pada anak. Jadi tidak ada bukti ilmiah bahwa episode hypotonic-hyperesponsive
dan kejang karena demam (step) mempunyai dampak yang permanen pada anak.
Apabila sesudah pemberian DTP terjadi reaksi yang berlebihan, dosis imunisasi
berikutnya diganti dengan DT atau DTaP.
KONTRAINDIKASI
o

Dosis kedua DTP jangan diberikan pada individu yang mengalami reaksi anafilaktik
terhadap dosis sebelumnya atau terhadap komponen vaksin
o

Hipersensitif terhadap komponen vaksin
o

Pada anak-anak yang sedang mengalami batuk, pilek, demam, dan yang menderita
kelainan saraf, mudah mendapat kejang, asma dan eksim
DEFISIENSI SISTEM KEKEBALAN
Individu yang terinfeksi HIV asimtomatis maupun simtomatis, harus divaksinasi
DTP menurut jadwal yang telah ditetapkan.
INTERAKSI OBAT
Tidak ada interaksi obat
PERINGATAN & PERHATIAN
o

Jangan diberikan pada anak-anak usia diatas 5 tahun.
o

Perhatikan petunjuk pemakaian vaksin (halaman 17).
PENYIMPANAN
o

Vaksin DTP harus disimpan pada suhu antara +2 s/d +8C.
Page 11

o

TIDAK BOLEH DIBEKUKAN.
o

Masa daluarsa 2 tahun. Penggunaan vaksin dalam vial dosis ganda yang sudah
dibuka Vaksin DTP dalam kemasan vial dosis ganda yang telah diambil satu dosis
atau lebih untuk imunisasi dapat disimpan dan digunakan untuk sesi imunisasi
berikutnya, sampai dengan 4 minggu jika semua kondisi yang dipersyaratkan
dipenuhi. (Lihat keterangan petunjuk penyimpanan, hal. 11)
KEMASAN
Dus : 10 vial @ 5 mL (10 dosis)