Anda di halaman 1dari 3

TRAKTUS KORTIKOSPINALIS

Bagian sentral system motorik untuk gerakan volunteer terdiri dari korteks motorik primer (area
4) dan area korteks di sekitarnya (terutama korteks premtor, area 6) serta traktus kortikobulbaris dan
traktus kortikospinalis yang berasal dari area kortikal tersebut.
Traktus kortikospinalis berasal dari korteks motorik dan berjalan melalui substantia alba serebri
(korona radiata), krus posterius kapsula interna (serabut terletak sangat berdekatan di sini), bagian
sentral pendukulus serebri (krus serebri), pons dan basal medulla (bagian anterior), tempat traktus
terlihat sebagai penonjolan kecil yang disebut pyramid. Piramid medulla (terdapat satu pada masing-
masing sisi) memberikan nama pada traktus tersebut. Pada bagian ujung bawah medulla, 80-85%
serabut pyramidal menyilang ke sisi lain di dekusasio piramidum. Serabut yang tidak menyilang di sini
berjalan menuruni medulla spinalis di funikulus anterior ipsilateral sebagai traktus kortikospinalis
anterior; serabut ini menyilang lebih ke bawah (biasanya setingkat segmen yang dipersarafinya) melalui
komisura anterior medulla spinalis. Pada tingkat servikal dan torakal, kemungkinan juga terdapat
beberapa serabut yang tetap tidak menyilang dan mempersarafi neuron motorik ipsilateral di kornu
anterius, sehingga otot-otot leher dan badan mendapat persarafan kortikal bilateral.
Mayoritas traktus piramidalis menyilang di dekusasio piramidum, kemudian menuruni medulla
spinalis di funikulus lateralis kontralateral sebagai traktus kortikospinalis lateralis. Traktus ini mengecil
pada area potong-lintangnya ketika berjalan turun ke bawah medulla spinalis, karena beberapa
serabutnya berakhir di masing-masing segmen di sepanjang perjalanannya. Sekitar 90% dari semua
serabut traktus piramidalis berakhir membentuk sinaps dengan interneuron, yang kemudian
menghantarkan impuls motorik ke neuron motor yang besar di kornu anterius serta ke neuron
motorik yang lebih kecil.

Traktus motorik lateral dan medial di medulla spinalis
Traktus motorik di medulla spinalis secara anatomi dan fungsional terpisah menjadi 2 kelompok:
kelompok lateral yang terdiri dari traktus kortikospinalis dan traktus rubrospinalis, serta kelompok
medial yang terdiri dari traktus retikulospinalis, traktus vestibulospinalis, dan tarktus tektospinalis
(Kuypers, 1985). Traktus lateral terutama berproyeksi ke otot-otot distal (terutama ekstremitas atas)
dan juga membuat hubungan proporsional yang pendek. Serabut-serabut ini terutama berperan pada
gerakan volunteer lengan bawah dan tangan, yaitu untuk control motorik halus yang tepat dan terampil.
Sebaliknya, traktus medial mempersarafi neuron motor yang terletak lebih medial di kornu anterius dan
membuat hubungan propriospinal yang relative panjang. Serabut ini terutama berperan pada gerakan
tubuh dan ekstremitas bawah (postur dan galf).


Lesi-lesi pada Jaras Motorik Sentral
Patogenesis paresis spastic sentral. Pada fase akut suatu lesi di traktus kortikospinalis, reflex
tendon profunda akan bersifat hipoaktif dan terdapat beberapa kelemahan flasid pada otot. Refleks
muncul kembali beberapa hari atau beberapa minggu kemudian dan menjadi hiperaktif, karena spindle
otot berespons lebih sensitive terhadap regangan dibandingkan dengan keadaan normal, terutama
fleksor ekstremitas atas dan ekstensor ekstremitas bawah. Hipersensitivitas ini terjadi akibat hilangnya
control inhibisi sentral desendens pada sel-sel fusimotor (neuron motor ) yang mempersarafi spindle
otot. Dengan demikian, serabut-serabut otot intrafusal teraktivasi secara permanen (prestreched) dan
lebih mudah berspon terhadap peregangan otot lebih lanjut dibandingkan normal. Gangguan sirkuit
regulasi panjang otot mungkin terjadi, yaitu berupa pemendekan panjang target secara abnormal pada
fleksor ekstremitas atas dan ekstensor ekstremitas bawah. Hasilnya adalah peningkatan tonus spastic
dan hiperrefleksia, serta tanda-tanda traktus piramidalis dan klonus. Diantara tanda-tanda traktus
piramidalis tersebut terdapat tanda-tanda yang sudah dikenal baik pada jari-jari tangan dan kaki, seperti
tanda babinsky (ekstensi tonik ibu jari kaki sebagai respons terhadap gesekan di telapak kaki),
Paresis spastic selalu terjadi akibat lesi susunan saraf pusat (otak dan/atau medulla spinalis) dan
akan terlihat lebih jelas bila terjadi kerusakan pada traktus desendens lateral dan medial sekaligus
(misalnya pada lesi medulla spinalis). Patofisiologi spastisitas masih belum dipahami, tetapi jaras
motorik tambahan jelas memiliki peran penting, karena lesi kortikal murni dan terisolasi tidak
menyebabkan spastisitas.
Sindrom paresi spastic sentral. Sindrom ini terdiri dari:
Penurunan kekuatan otot dan gangguan control motorik halus
Peningkatan tonus otot spastic
Refleks regang yang berlebihan secara abnormal, dapat disertai oleh klonus
Hipoaktivitas atau tidak adanya reflex eksteroseptif (reflex abnormal, reflex plantar, dan reflex
kremaster)
Refleks patologis (reflex babinski, Oppenheim, Gordon, dna Mandel-Bekhterev, serta disinhibisi
respons hinder (flight))
(awalnya) massa otot tetap baik
Lokalisasi Lesi pada system motorik Sentral
Suatu lesi yang melibatkan korteks serebri, seperti tumor, infark, atau cedera traumatic,
menyebabkan sebagian tubuh sisi kontralateral. Hemiparesis yang terlihat pada wajah dna tangan
(kelemahan brakhiofasial) lebih sering terjadi dibandingkan di daerah lain karena bagian tubuh tersebut
memiliki area representasi kortikal yang luas. Temuan klinis khas berkaitan dengan lesi di lokasi tersebut
(a) adalah paresis ekstremitas atas bagian distal yang dominan, konsekuensi fungsional yang terberat
adalah gangguan control motorik halus. Kelemahan terebut tidak total (paresis, bukan plegia), dan lebih
berupa gangguan flasid, bukan bentuk spastic, karena jaras motorik tambahan (nonpiramid) sebagian
besar tidak terganggu. Lesi iritatif pada lokasi tersebut (a) dapat menimbulkan kejang fokal.
Jika kapsula interna (b) terlibat (misalnya, oleh perdarahan atau iskemia), akan terjadi
hemiplagia spastic kontralateral lesi pada level ini mengenai serabut pyramidal dan serabut non
pyramidal, karena serabut kedua jeras tersebut terletak berdekatan. Traktus kortikonuklearis juga
terkena, sehingga terjadi paresis nervus fasialis kontralateral, dan mungkin disertai oleh paresis nervus
hipoglosus tipe sentral. Namun, tidak terlihat deficit nervus kranialis lainnya karena nervus kranialis
motorik lainnya mendapat persarafan bilateral. Paresis pada sisi kontralateral awalnya berbentuk flasid
(pada fase syok) tetapi menjadi spastic dalam beberapa jam atau hari akibat kerusakan pada serabut-
serabut nonpiramidal yang terjadi bersamaan.
Lesi setingkat pedukulus cerebri (c) seperti proses vascular, perdarahan, atau tumot,
menimbulkan hemiparesis spastic kontralateral yang dapat disertai oleh kelumpuhan nervus
okulomotorius ipsilateral
Lesi pons yang melibatkan traktus piramidalis (d), contohnya pada tumor, iskemia batang otak,
perdarahan menyebabkan hemiparesis kontralateral atau mungkin bilateral. Biasanya, tidak semua
serabut traktus piramidalis terkena, karena serabut-serabut tersebut menyebar di daerah potong-
lintang yang lebih luas di daerah pons dibandingkan di daerah lainnya (misalnya, setingkat kapsula
interna). Serabut-serabut yang mempersarafi nucleus fasialis dan nucleus hipoglosalis telah berjalan ke
daerah yang lebih dorsal sebelum mencapai tingkat ini; dengan demikian, kelumpuhan nervus
hipoglosus dan nervus fasialis tipe sentral jarang terjadi, meskipun dapat disertai oleh devisit nervus
trigeminus atau nervus abdusens ipsilateralis
Lesi pada pyramid medulla (e) biasanya akibat tumor dapat merusak serabut-serabut traktus
piramidalis secara terisolasi, karena serabut-serabut nonpiramidal terletak lebih ke dorsal pada tingkat
ini. Akibatnya, dapat terjadi hemiparesis flasid kontralateral. Kelemahan tidak bersifat total (paresis,
bukan plegia), karena jaras asendens lain tidak terganggu.
Lesi traktus piramidalis di medulla spinalis. Suatu lesi yang mengenai traktus piramidalis pada
level serfikal (f) misalnya akibat tumor, mielitis, trauma) menyebabkan hemiplegia spastic ipsilateral;
ipsilateral karena traktus tersebut telah menyilang pada level yang lebih tinggi, dan spastic karena
traktus tersebut mengandung serabut-serabut piramidalis dan non piramidalis pada level ini. Lesi
bilateral di medulla spinalis servikalis bagian atas dapat menyebabkan kuadriparesis atau kuadriplegia.
Sebuah lesi yang mengenai traktus piramidalis di medulla spinalis torasika (g) misalnya akibat
trauma, mielitis menimbulkan monoplegia ipsilateral pada ekstremitas bawah. Lesi bilateral
menyebabkan paraplegia.