Anda di halaman 1dari 13

Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 1 dari 13 halaman

A. Judul
Pengaruh Pelatihan Kewirausahaan terhadap Tumbuhnya Minat
Berwirausaha

B. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, yang saat ini
sudah mencapai lebih dari 200 juta jiwa, bertambah pula kebutuhan pangan, papan,
lapangan kerja, dan pendidikan yang harus dipenuhi. Setiap tahun beratus-ratus
atau berjuta-juta orang ingin bekerja atau mendapatkan pekerjaan. Mereka mencoba
melamar menjadi karyawan di sebuah instansi yang dirasa sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki. Hanya sedikit yang berpikir untuk menciptakan
lapangan pekerjaan. Mereka berharap menjadi karyawan, pegawai, buruh atau
menjual tenaganya begitu saja sekadar mengharapkan imbalan jasa. Hal ini
disebabkan jumlah tenaga kerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan lapangan
kerja yang tersedia. Silalahi (2005) menyebutkan bahwa pada tahun 2005 ada lebih
dari 40 juta penganggur, ditambah 2 juta hingga 3 juta pencari kerja baru lulusan
sekolah.
Direktorat Jenderal Pemuda dan Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas
menyatakan bahwa pada tahun 2005, dari 75,3 juta pemuda Indonesia, 6.6% adalah
sarjana. Dari jumlah tersebut, 82% bekerja pada instansi, dan hanya 18% yang
berwirausaha. Padahal makin banyak sarjana berwirausaha akan mempercepat
pemulihan ekonomi (Silalahi, 2005).
Fenomena di atas seharusnya dapat dijadikan bahan pemikiran, bagaimana
agar dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat menampung karyawan,
tidak lagi berpikir untuk mempersiapkan diri menjadi calon karyawan yang mencari
pekerjaan. Terutama bagi individu yang terdidik, misalnya mahasiswa. Munculnya
produk kaos Dagadu menjadi salah satu contoh keberhasilan sekelompok
mahasiswa dalam membangun usaha yang kreatif.
Banyak lulusan perguruan tinggi belum mampu berwirausaha. Mahasiswa
cenderung berpikir bagaimana nantinya mereka bisa diterima bekerja sesuai dengan
gelar kesarjanaannya dan dengan gaji yang sesuai. Lebih baik menganggur daripada
mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya. Biro Pusat Statistik
(BPS) menyebutkan data menarik, yaitu mereka yang mempunyai pendidikan tinggi
justru kurang berminat wirausaha, tercatat hanya 10% berminat wirausaha. Adapun
mereka yang pendidikannya rendah justru 49% berminat wirausaha (Masrun dalam
Sumarseno, 2004).
Sementara itu, data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Qomarun,
2000) menyebutkan pada tahun 1996 saja lebih dari 15% lulusan perguruan tinggi
menganggur atau sejumlah 6 juta pengangguran intelektual.
Beberapa penyebab munculnya fenomena ini adalah keinginan untuk
menjadi pegawai negeri, sifat malas (tidak mau bekerja), belum siap pakai, sikap
mental yang kurang baik, tidak percaya diri, dan lain-lain. Setelah merdeka, muncul
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 2 dari 13 halaman

sifat-sifat kelemahan dalam mental orang Indonesia. Sifat-sifat tersebut bersumber
pada kehidupan yang penuh keragu-raguan dan tanpa orientasi tegas, yaitu sifat
mentalitas yang suka menerabas, sifat tidak percaya pada diri sendiri, sifat tidak
berdisiplin dan mentalitas yang mengabaikan tanggung jawab yang kokoh
(Qomarun, 2000).
Fenomena ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat
untuk memikirkan bagaimana dapat menciptakan lapangan kerja baru yang dapat
menampung karyawan, tidak lagi berpikir untuk mempersiapkan diri menjadi calon
karyawan yang mencari pekerjaan. Untuk ini dibutuhkan kemampuan
berwirausaha.
Selain harus memiliki keyakinan, rasa percaya diri, sifat prestatif dan mandiri
yang kuat seorang wirausaha harus memiliki minat pada usaha yang ingin
ditekuninya. Individu yang mempunyai minat pada suatu kegiatan akan
melakukannya dengan giat daripada kegiatan yang tidak diminatinya (Sutjipto,
2002).
Minat wirausaha berkembang pada diri seseorang bila lingkungan
mendukung karena minat terbentuk dari lingkungan, terutama lingkungan
keluarga. Pola asuh orang tua yang otoriter atau terlalu memanjakan anak dapat
membentuk pribadi yang kurang percaya diri, yang akan menghambat munculnya
minat wirausaha. Faktor penghambat lainnya adalah adanya pemikiran bahwa
menjadi pegawai negeri mempunyai kedudukan yang lebih terhormat daripada
pekerjaan lain (Qomarun, 2000). Proses pemilihan pekerjaan sangat dipengaruhi
oleh perkembangan konsep diri. Peran orang tua sebagai model sangatlah penting
dan akan memberikan arah pada pemilihan pekerjaan anak (Cascio, 1998).
Faktor modal atau ekonomi juga sering dijadikan keengganan untuk memulai
wirausaha. Faktor modal saja belum cukup untuk melakukan wirausaha.
Kemampuan menganalisis kelebihan dan kekurangan diri sendiri, kepercayaan diri,
inisiatif, serta kreativitas merupakan langkah awal untuk menjalankan suatu usaha,
mengingat wirausaha adalah profesi yang penuh resiko. Kemampuan dan
ketahanan seseorang dalam menghadapi resiko dipengaruhi oleh konsep dirinya
(Sutjipto, 2002).
Fakultas Psikologi UMS telah menempatkan materi Kewirausahaan dalam
proses belajar mengajarnya. Terdapat dua materi, yaitu pelatihan kewirausahaan
sebagai kegiatan yanng wajib diikuti seluruh mahasiswa dan MK Kewirausahaan
dan Proses Bisnis sebagai matakuliah pilihan. Tujuan dari materi ini adalah
memberikan bekal pengetahuan seluk beluk dunia usaha dan memunculkan
ketertarikan untuk melakukannya.
Pelatihan Kewirausahaan dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan
Pesantren Wirausaha Agrobisnis Abdurrahman bin Auf (Perwira AbA) Klaten.
Pelatihan ini sudah berlangsung untuk 20 angkatan selama tahun 2004 2005.
Menggunakan format pelatihan dua hari, tujuan dari pelatihan ini lebih difokuskan
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 3 dari 13 halaman

kepada memberikan pemahaman tentang wirausaha dan proses membangun serta
menjalankannya.
Hasil evaluasi yang sudah dilakukan kepada sebagian peserta menunjukkan
adanya variasi tingkat kepuasan. Meskipun demikian, hampir semua peserta yang
diminta berpendapat menyatakan mereka memperoleh pemahaman yang baru
tentang kewirausahaan. Wirausaha tidak lagi menjadi sesuatu yang diartikan
sebagai modal uang harus besar.
Periode 2006 ini, pelatihan kewirausahaan tetap dilaksanakan namun
mengalami perubahan format waktu, yaitu menjadi satu hari. Pesantren Wirausaha
Agrobisnis Abdurrahman bin Auf (Perwira AbA) tetap menjadi partner kerjasama.
Perubahan format waktu dilakukan karena pertimbangan efisiensi biaya
penyelenggaraan. Materi pelatihan yang diberi nama Inspiring The Spirit of
Entrepreneurship (Inspirit Training) berfokus pada memberikan pemahaman tentang
wirausaha, khususnya dalam memandang secara positif wirausaha sebagai
kebutuhan individu.
Sebuah pelatihan tidak akan terpantau efektivitasnya apabila tidak dilakukan
evaluasi. Evaluasi terhadap proses berlangsungnya pelatihan, dan yang penting
adalah evaluasi terhadap pengaruh dari pelatihan tersebut pada diri peserta (Ismadi
dkk., 1991). Demikian pula dengan Inspirit Training dibutuhkan evaluasi sejauhmana
efek pelatihan terhadap minat berwirausaha peserta.
Menilik dari uraian di atas, maka muncul permasalahan bahwa kesenjangan
antara jumlah tenaga kerja dan lapangan kerja perlu segera diberikan solusi.
Pengangguran terdidik semakin banyak, tidak mungkin semuanya menjadi pegawai
negeri. Untuk itu dibutuhkan kemampuan berwirausaha sehingga mampu mandiri
dan tidak bergantung kepada negara. Salah satu bekal berwirausaha dapat
diperoleh melalui pelatihan kewirausahaan.
Untuk itu, muncul pertanyaan permasalahan bagaimanakah pengaruh dari
pelatihan kewirausahaan di Fakultas Psikologi UMS terhadap munculnya minat
berwirausaha pada alumni ?. Berangkat dari pertanyaan tersebut, maka penelitian
ini mengambil judul Pengaruh Pelatihan Kewirausahaan terhadap Tumbuhnya
Minat Berwirausaha.

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pelatihan
kewirausahaan terhadap minat berwirausaha pada alumni Fakultas Psikologi UMS.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut:
1. Memberikan alternatif meningkatkan minat berwirausaha melalui pelatihan
kewirausahaan sehingga dapat membantu dalam mengurangi pengangguran
2. Menambah wawasan mahasiswa ataupun sarjana psikologi tentang
kewirausahaan sehingga mampu menciptakan lapangan kerja.
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 4 dari 13 halaman

3. Menambah khasanah keilmuan Psikologi, khususnya Psikologi Industri dan
Organisasi.

E. Kerangka Berpikir
Wirausaha merupakan istilah yang sering dimunculkan bergantian dengan
istilah entrepreneurship dan wiraswasta. Menurut Asad (1991), istilah wiraswasta
sama dengan wirausaha, namun berbeda falsafah dengan entrepreneurship.
Wiraswasta dan wirausaha memiliki falsafah Indonesia yang kental dengan
sosialistis atau mengutamakan kebutuhan lingkungan sosialnya, sementara
entrepreneurship berfalsafah barat yang kental dengan individualis atau
mengutamakan kepentingan pribadinya.
Menurut Irawan dan Suparmoko (Wiratmo, 2001), entrepreneur berasal dari
bahasa Perancis yang artinya memimpin musik / pertunjukan. Entrepreneurship
dalam ilmu ekonomi bermakna kemampuan mendapat peluang secara berhasil
untuk memperkenalkan dagangan baru, teknik baru, pemasukan baru, merangkum
pabrik, alat, manajemen, buruh, kemudian mengorganisasikannya ke dalam teknik
pengoperasian perusahaan. Menurut Littunen (2000), entrepreneurship adalah
kemampuan mencipta, mengorganisasi dan menjalankan usaha sendiri.
Wiraswasta berasal dari kata wira, swa dan sta. Wira berarti utama, luhur,
berani, atau teladan, sementara swa berarti sendiri, dan sta berarti berdiri.
Pengertian wiraswasta adalah sifat keberanian, utama, dan keteladanan dalam
mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan diri sendiri. Adapun
wirausaha berasal dari kata wira dan usaha, yang berarti keberanian, utama dan
keteladanan dalam melakukan usaha (Priyono dan Soerata, 2004).
Berkaitan dengan minat, Kartono (1986) menyebutkan bahwa minat
merupakan momen kecenderungan yang terarah secara intensif kepada sesuatu
objek yang dianggap penting. Fryer (Sutjipto, 2002) menyatakan bahwa minat
adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulir
perasaan senang pada individu.
Peran minat sangat besar terhadap perilaku seseorang karena dari minat
tersebut mendorong seseorang untuk berkecimpung atau terjun pada sesuatu yang
diminatinya tersebut. Karena seseorang merasa tertarik pada sesuatu objek dan dia
merasa menyenanginya, maka dia ingin terjun di dalamnya. Hal ini dikemukakan
Guilford (Sutjipto, 2002) bahwa minat adalah tendensi seseorang untuk berperilaku
berdasarkan ketertarikannya pada kegiatan tertentu.
Pengertian minat berwirausaha yaitu rasa tertariknya seseorang untuk
melakukan kegiatan usaha yang mandiri dengan keberanian mengambil resiko.
Minat tinggi berarti kesadaran bahwa wirausaha melekat pada dirinya sehingga
individu lebih banyak perhatian dan lebih senang melakukan kegiatan wirausaha.
Menurut Sukardi (Asad, 1991), wirausaha memiliki enam ciri yaitu
a. Self confidence, yaitu keyakinan akan kemampuan diri dalam mencapai tujuan
secara mandiri, dan penuh rasa optimis,
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 5 dari 13 halaman

b. Originality, yaitu kemampuan menciptakan hal-hal baru secara kreatif
c. People oriented, yaitu menggunakan orang lain sebagai pedoman dalam
melakukan perencanaan, melaksanakan rencana dan evaluasi terhadap hasil
kerjanya.
d. Task result oriented, yaitu tingkah laku yang berorientasi pada penyelesaian
tugas, dan menerima segala konsekuensinya
e. Future oriented, yaitu mampu menganalisis hal-hal yang akan terjadi secara
rasional berdasar informasi atau kenyataan yang terjadi
f. Risk taking, yaitu mampu mengambil resiko sebagai tanggung jawab pribadi,
tidak menyalahkan oranng lain dan mampu introspeksi terhadap hambatan
yang terjadi
Littunen (2000) menyebutkan dua ciri wiraswastawan, yaitu adanya
kreativitas dan keberanian dalam mengambil resiko. Sementara Marbun (Alma,
2000) menyebutkan tujuh ciri, yaitu percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil,
berani mengambil resiko, kemampuan kepemimpinan, keorisinilan ide, bervisi pada
masa depan secara jelas, dan kreativitas dalam pelaksanaan tugas.
Tumbuhnya minat dipengaruhi oleh masuknya informasi secara memadai
tentang objek yang diminati. Informasi keberhasilan sebuah usaha, baik melalui
media cetak ataupun elektronik memunculkan pemahaman kepada pemirsanya
bahwa wirausaha memiliki prospek keberhasilan yang sudah terbukti. Selain itu,
munculnya minat terhadap sesuatu sangat dipengaruhi bagiamana sikap
masyarakat terhadap status sesuatu itu. Sikap masyarakat terhadap martabat
pekerjaan sebagai wirausahawan menuntun kecenderungan seseorang apakah
berminat atau tidak terhadap wirausaha. Martabat sebagai wirausahawan yang
tinggi akan menggerakkan orang lain untuk berminat terhadpa wirausaha juga (Mc
Clelland, 1987).
Minat berwirausaha lebih didorong oleh keinginan untuk berprestasi. Hal ini
diungkapkan Priyono dan Soerata (2004) bahwa motif berprestasi lebih dominan
daripada uang, karena uang hanya sebagai parameter keberhasilan. Adapun
Danuhadimedja (1998) menyebutkan bahwa motif berprestasi akan menjadi
pendorong yang lebih kuat apabila ada dukungan keluarga. Sebagai lingkungan
terdekat, dukungan dari keluarga dapat mendatangkan energi besar untuk
memunculkan minat berwirausaha.
Faktor lain yang ikut berpengaruh adalah jenis kelamin. Suger (Sumarseno,
2004) menyebutkan wanita lebih tertarik pada pekerja yang beresiko kecil,
sedangkan pria lebih tertarik pada pekerjaan mandiri dan resiko besar. Wirausaha
termasuk pekerjaan yang memiliki sifat mandiri dan beresiko.
Crow & Crow (Sumarseno, 2004) menyebutkan tiga aspek minat seseorang,
yaitu :
a. Dorongan dari dalam untuk memenuhi kebutuhan diri, sebagai sumber
penggerak untuk melakukan sesuatu
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 6 dari 13 halaman

b. Kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya, yang akan
menentukan posisi individu dalam lingkungannya.
c. Perasaan individu terhadap suatu pekerjaan yang dilakukannya.
Sikap berwirausaha tidak dibawa sejak lahir namun dibentuk dan dipelajari
sepanjang kehidupan. Meskipun baru, seorang wirausahawan akan cepat maju
dalam usahanya apabila memiliki sikap positif, yaitu tidak menunda-nunda
pekerjaan (Sutjipto, 2002). Hal ini senada dengan Herawati (1998) yang
menyebutkan bahwa aspek wirausaha adalah sikap diri yang terbentuk dari
perpaduan antara sifat pembawaan sejak lahir dengan pendidikan dan pengaruh
lingkungan.
Pelatihan menurut Center for Development Management and Productivity, adalah
belajar untuk mengubah tingkah laku orang dalam melaksanakan pekerjaan mereka,
melalui keterampilan khusus untuk memperbaiki kekurangan yang ada (Ismadi
dkk., 1991). Cascio (1998) menyatakan bahwa pelatihan atau training adalah proses
pembelajaran yang dilakukan kepada individu dengan teknik andragogi. Andragogi
yaitu metode pembelajaran dengan model orang dewasa. Individu tidak
diasumsikan sebagai anak kecil yang belum tahu apapun, namun sebagai oranng
dewasa yang sudah banyak pengalaman dan pengetahuan. Dengan demikian,
teknik pelatihan tidak menonjolkan unsur guru / pelatihnya namun lebih pada
pesertanya. Metode yang biasa digunakan dalam pelatihan adalah belajar melalui
pengalaman (learning by experience). Hal ini menuntut pelatih dan peserta untuk
sama-sama terlibat aktif dalam kegiatan pelatihan.
Menurut Cascio (1998), sesi pelatihan biasanya terbagi dalam tiga kelompok,
yaitu :
a. Pengantar, yaitu melakukan kesepakatan kontrak pelatihan dengan peserta
sehingga diperoleh kesamaan tujuan dalam pelatihan,
b. Inti pelatihan, yaitu materi pokok pelatihan
c. Penutup dan evaluasi, yaitu melakukan pembukaan rahasia dan tujuan
pelatihan yang sudah diberikan dalam materi pokok. Pada sesi ini juga
dilakukan feedback untuk mengukur efektivitas pelatihan.
Pelatihan kewirausahaan diberikan dengan format satu hari. Materi
pelatihan terbagi dalam empat kelompok, yaitu :
a. Inspirasi sukses wirausaha, yaitu memberikan inspirasi dan paradigma baru
kepada peserta tentang dunia wirausaha. Dunia yang semula tidak menjadi
pilihan utama, berubah menjadi dunia yang menarik.
b. Potensi diri yang luar biasa, yaitu dengan memunculkan kesadaran akan
potensi diri luar biasa yang dimiliki peserta untuk dikembangkan dalam
dunia usaha. Persepsi negatif tentang diri diganti dengan keyakinan diri
untuk mandiri berwirausaha.
c. melejitkan potensi wirausaha, yaitu meniti tahap demi tahap dalam
melejitkan potensi diri yang sudah disadari. Peserta memiliki visi dalam
merancang masa depan mandirinya.
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 7 dari 13 halaman

d. berjuta berkah dalam bekerja, yaitu mampu mensyukuri limpahan berkah
yang luar biasa besarnya dalam bekerja sehingga peserta memperoleh energi
awal yang memadai dalam memulai aktivitas berwirausaha (Perwira AbA,
2006).

F. Hipotesis
Pelatihan kewirausahaan mempengaruhi minat berwirausaha, yaitu
meningkatnya minat berwirausaha setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan.

G. Variabel Penelitian
Variabel Tergantung : Minat Berwirausaha
Variabel Bebas : Pelatihan Kewirausahaan

H. Definisi Operasional Variabel Penelitian
a. Minat Berwirausaha, yaitu rasa tertariknya seseorang untuk melakukan
kegiatan usaha yang mandiri dengan keberanian mengambil resiko, yang
diketahui dari dorongan dari dalam, kebutuhan berhubungan dengan
lingkungan, dan perasaan terhadap pekerjaannya. Variabel ini akan diukur
dengan skala Minat Berwirausaha yang disusun oleh Nuraini (2006).
b. Pelatihan Kewirausahaan, yaitu inspiring training dalam satu hari yang meliputi
materi inspirasi sukses, menyadari potensi diri, melejitkan potensi diri, dan
menyadari berjuta berkah dalam bekerja. Pelatihan difasilitasi oleh Pesantren
Wirausaha Agrobisnis Abdurrahman bin Auf (Perwira AbA) Klaten.

I. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah peserta Pelatihan Kewirausahaan yang terdiri dari
mahasiswa Fakultas Psikologi yang sudah menulis skripsi hingga Bab III. Setiap sesi
pelatihan diikuti oleh 30 peserta, campuran antara pria dan wanita. Adapun subjek
penelitian dipilih dari peserta yang memenuhi syarat belum memiliki pekerjaan
tetap atau usaha sendiri, karena pekerjaan tetap dapat menghilangkan minat
wirausaha.

J. Alat Ukur
Penelitian ini menggunakan satu alat ukur yaitu skala minat berwirausaha.
Skala ini adalah skala yang pernah digunakan oleh Nuraini (2006) dengan koefisien
reliabilitas teruji sebesar 0.945. Skala ini disusun berdasar aspek dorongan dari
dalam, kebutuhan berhubungan dengan lingkungan, dan perasaan terhadap
pekerjaannya. Blueprint skala adalah sebagai berikut :

No Aspek Indikator
Aitem
Fav Unfav
.. .
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 8 dari 13 halaman

K. Manipulasi
Manipulasi dalam penelitian ini yaitu menggunakan inspiring training dalam
satu hari yang meliputi materi inspirasi sukses, menyadari potensi diri, melejitkan
potensi diri, dan menyadari berjuta berkah dalam bekerja. Pelatihan difasilitasi oleh
Pesantren Wirausaha Agrobisnis Abdurrahman bin Auf (Perwira AbA)

L. Desain dan Prosedur Eksperimen
Eksperimen dilakukan dengan model desain pre-test and post-test,
sebagaimana dalam gambar 1.





Gambar 1. Desain Eksperimen
Keterangan : Y1 : pre-test (pengukuran awal minat berwirausaha sebelum
pelatihan)
X : pelaksanaan pelatihan kewirausahaan
Y2 : post-test (pengukuran akhir minat berwirausaha setelah
pelatihan)
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu
a. tahap persiapan, meliputi rekrutmen peserta pelatihan, penyusunan alat ukur
dan alat bantu penelitian.
b. Tahap pelaksanaan, meliputi pengukuran awal (pre-test), pelaksanaan
pelatihan kewirausahaan, dan pengukuran akhir (post-test)
c. Tahap pengolahan, meliputi skoring skala, analisis data dan interpretasi data.
Prosedur penelitian dilakukan dalam urutan sebagai berikut :

No Waktu Kegiatan Keterangan



M. Hasil Penelitian
Isi dengan data hasil penelitian
Subjek Pre-test Post-test
1 40 45
2 41 44
3 39 47
.

Y1 Y2 X
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 9 dari 13 halaman

N. Analisis Data dan Pembahasan
Analisis data dilakukan dengan menggunakan program t-test dari Paket SPS
(Seri Program Statistik) 2000 yang disusun oleh Hadi dan Pamardiningsih (2000).
Hasil analisis menunjukkan nilai t = 2,910, p = 0,006, yang artinya terdapat
perbedaan minat berwirausaha yang sangat signifikan antara sebelum pelatihan dan
sesudah pelatihan. Rerata tingkat minat berwirausaha meningkat setelah pelatihan,
dari semula 68,389 menjadi 75,444.
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Sutjipto (2002) bahwa minat
berwirausaha dapat dibentuk dan dipelajari sepanjang kehidupan. Hal ini juga
senada dengan pendapat Herawati (1998) bahwa wirausaha adalah sikap diri yang
terbentuk dari perpaduan antara sifat pembawaan sejak lahir dengan pendidikan
dan pengaruh lingkungan.
Berkaitan dengan minat, Kartono (1986) menyebutkan bahwa minat
merupakan momen kecenderungan yang terarah secara intensif kepada sesuatu
objek yang dianggap penting. Fryer (Sutjipto, 2002) menyatakan bahwa minat
adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objek atau aktivitas yang menstimulir
perasaan senang pada individu.
Minat berwirausaha yaitu rasa tertariknya seseorang untuk melakukan
kegiatan usaha yang mandiri dengan keberanian mengambil resiko. Minat tinggi
berarti kesadaran bahwa wirausaha melekat pada dirinya sehingga individu lebih
banyak perhatian dan lebih senang melakukan kegiatan wirausaha.
Tumbuhnya minat dipengaruhi oleh masuknya informasi secara memadai
tentang objek yang diminati. Informasi keberhasilan sebuah usaha, baik melalui
media cetak ataupun elektronik memunculkan pemahaman kepada pemirsanya
bahwa wirausaha memiliki prospek keberhasilan yang sudah terbukti.
Selain itu, munculnya minat terhadap sesuatu sangat dipengaruhi bagiamana
sikap masyarakat terhadap status sesuatu itu. Sikap masyarakat terhadap martabat
pekerjaan sebagai wirausahawan menuntun kecenderungan seseorang apakah
berminat atau tidak terhadap wirausaha. Martabat sebagai wirausahawan yang
tinggi akan menggerakkan orang lain untuk berminat terhadpa wirausaha juga (Mc
Clelland, 1987).
Pelatihan kewirausahaan yang diberikan selama satu hari, memiliki materi
yang terbagi dalam empat kelompok, yaitu :
a. Sesi inspirasi sukses wirausaha, yaitu memberikan inspirasi dan paradigma
baru kepada peserta tentang dunia wirausaha. Dunia yang semula tidak
menjadi pilihan utama, berubah menjadi dunia yang menarik.
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 10 dari 13 halaman

b. Sesi potensi diri yang luar biasa, yaitu dengan memunculkan kesadaran akan
potensi diri luar biasa yang dimiliki peserta untuk dikembangkan dalam
dunia usaha. Persepsi negatif tentang diri diganti dengan keyakinan diri
untuk mandiri berwirausaha.
c. Sesi melejitkan potensi wirausaha, yaitu meniti tahap demi tahap dalam
melejitkan potensi diri yang sudah disadari. Peserta memiliki visi dalam
merancang masa depan mandirinya.
d. Sesi berjuta berkah dalam bekerja, yaitu mampu mensyukuri limpahan
berkah yang luar biasa besarnya dalam bekerja sehingga peserta memperoleh
energi awal yang memadai dalam memulai aktivitas berwirausaha.
Adanya empat sesi ini secara langsung akan mempengaruhi minat
berwirausaha. Diawali dengan mengubah persepsi tentang wirausaha yang tidak
selalu identik dengan modal uang, namun lebih didominasi oleh kemauan dan
semangat dalam berwirausaha. Hal ini membuat subjek menjadi lebih tertarik
kepada wirausaha.
Persepsi baru diikuti dengan adanya kesadaran tentang begitu banyak
potensi yang luar biasa di dalam diri. Potensi ini sangat penting dalam menjalani
dunia usaha sehingga subjek menjadi percaya diri dan tidak ragu dalam memulai
usaha secara mandiri.
Potensi diri yang sudah disadari selanjutnya dimunculkan melalui berbagai
rencana kerja dalam menjalani wirausaha. Rencana diawali dari pemilihan bidang
usaha hingga tahap-tahap realisasinya secara rinci. Selanjutnya sesi terakhir adalah
memberikan kesempatan kepada subjek untuk dapat merasakan berkah dan kasih
sayang Allah SWT, sehingga rasa syukur yang muncul menjadi energi dalam
melakukan aktivitas usaha sebagai tanggung jawab sosial kepada lingkungan
terdekatnya. Energi ini menjadi penguat bagi subjek dalam memulai wirausaha
sebagai aktivitas hidupnya.
Aktivitas yang dijalani dalam empat sesi tersebut meningkatkan aspek minat
berwirausaha di dalam diri subjek secara keseluruhan. Aspek munculnya dorongan
internal dalam memenuhi kebutuhan diri, aspek kebutuhan menjalin relasi sosial,
dan aspek perasaan terhadap pekerjaan, mengalami perubahan sejalan dengan
pelatihan. Pada akhirnya, minat berwirausaha subjek secara rerata mengalami
peningkatan dari semula 68,389 menjadi 75,444.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rohmadi (2007)
yang menemukan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan motivasi
kewirausahaan pada pegawai yang akan pensiun setelah menjalani pelatihan.
Peningkatan terjadi dari rerata 81,706 menjadi 87,529, dengan t = 2,405, dan p = 0,018.
Penelitian ini memiliki keterbatasan atau kelemahan, antara lain yaitu
lingkup subjek yang sebatas mahasiswa Fakultas Psikologi UMS, sehingga belum
Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 11 dari 13 halaman

menjangkau lingkup lain yang lebih luas. Pemilihan subjek yang non random
sampling juga menghilangkan kesempatan anggota satu populasi lainnya, sehingga
bisa dianggap kurang mewakili.
O. Kesimpulan dan Saran
Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan minat berwirausaha yang sangat
signifikan antara sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan. Minat berwirausaha
mengalami peningkatan setelah mengikuti pelatihan.
Bagi subjek penelitian, hasil penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan
aktivitas yang lebih konkret dalam merintis usaha mandiri. Minat yang sudah
meningkat dan energi yang sudah dimiliki perlu dipelihara dengan aktivitas
wirausaha itu sendiri.
Bagi peneliti lain, penelitian serupa dapat dilakukan lagi dengan lebih
menekankan kepada pemilihan subjek secara lebih luas lingkupnya dan
menggunakan teknik random sampling. Penggunaan metode penelitian lain, seperti
kualitatif atau triangulatif diharapkan mampu memperkaya hasil penelitian
berikutnya. Perluasan variabel yang diteliti juga dibutuhkan, sehingga dapat
diketahui lebih jauh lagi pengaruh dan korelasi dari pelatihan kewirausahaan.

P. Daftar Pustaka

Alma, B. 2000. Kewirausahaan. Bandung : Alfabeta

Asad, M. 1991. Psikologi Industri. Yogyakarta : Liberty

Cascio, WF. 1998. Applied Psychology in Human Resource Management. 5
th
ed. New
Jersey : Prentice-Hall, Inc.

Ciptono, WS. 1994. The Entrepreneurship Style. Jakarta : Kelola

Danuhadimedja. 1998. Pengantar Kewiraswastaan. Yogyakarta : BPFE UGM

Drucker, PF. 1991. Inovasi dan Kewiraswastaan. Jakarta : Erlangga

Echols, J.M. & Shadily, H. tanpa tahun. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia

Herawati, S. 1998. Kewiraswastaan. Jakarta: BP IPWI

Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 12 dari 13 halaman

Ismadi, HD, Baskoro, D, Muharam, W, Waspodo, RM, Ariani, S, Sofwan. 1991.
Keberhasilan Program Diklusepora (Suatu Penelitian Survey tentang Keberhasilan
Program UPT). On-line. Diambil dari http://www.depdiknas.
go.id/Jurnal/25/timpls.htm

Littunen, H. 2000. Entrepreneurship and the Characteristics of the Entrepreneurial
Personality. International Journal of Entrepreneurial Behavior & Research, Vol 6,
No 6, pp 295-310. on-line. dari http://proquest.umi.com/pqdweb?
did=623918461&sid=9&Fmt=4&clientId=42788&RQT=309&VName=PQD

McClelland. 1987. Pengantar Kewiraswastaan. Jakarta : Intermedia

Nuraini. 2006. Hubungan antara Motivasi Berprestasi dan Kemandirian dengan
Minat Berwiraswasta pada Alumni Fakultas Psikologi UMS. Skripsi. Tidak
diterbitkan. Surakarta : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah
Surakarta

Perwira AbA. 2006. Proposal Kerjasama Pelatihan Peningkatan Nilai Tambah Calon
Sarjana. Tidak diterbitkan. Surakarta : Perwira AbA

Priyono, S dan Soerata. 2004. Kiat Sukses Wirausaha. Yogyakarta: Alinea Printika

Qomarrun. 2000. Kewirausahaan. Buku Pegangan Kuliah. Surakarta : Jurusan Teknik
Arsitektur UMS

Silalahi, GJ. 2005. Kesempatan Wirausaha bagi Lulusan Perguruan Tinggi. On-line.
Diambil dari http://www.sinaraharapan.co.id/ekonomi/usaha/
2005/0108/ukm3.html

Sumarseno, SA. 2004. Hubungan antara Kebutuhan Aktualisasi Diri dan Kreativitas
dengan Minat Berwiraswasta. Skripsi. Tidak diterbitkan. Surakarta : Fakultas
Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sutjipto. 2002. Minat Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMEA) terhadap
Kewiraswastaan. On-line. Diambil dari http://www.depdiknas.go.id/
jurnal/45/sutjipto.htm

Tasmara, T. 1995. Etos Kerja Pribadi Muslim. Yogyakarta : PT Dana Bhakti Wakaf

Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1997. Karnus Besar Bahasa
Indonesia. ed.2 cet.9. Jakarta: Balai Pustaka

Contoh Laporan Penelitian Eksperimen (Yuwono & Partini, 2007)

Bahan Kuliah MK Praktikum Psikologi Eksperimen / Genap 2013-2014 / Susatyo Yuwono halaman 13 dari 13 halaman

Wiratmo, M. 2001. Pengantar Kewirausahaan: Kerangka Dasar Memasuki Dunia Bisnis.
Yogyakarta : BPFE UGM

Q. Lampiran
Isilah dengan data-data penting yang mendukung isi laporan penelitian seperti
skala, verbatim wawancara, resume observasi, dan sampel foto.