Anda di halaman 1dari 30

Zakat : Macam-macam Zakat dan Dalil-dalilnya.

Mungkin selama ini telinga


kita sangat akrab dengan istilah zakat fitrah dan zakat mal tapi apa dan
bagaimananya zakat fitri dan zakat mal dilaksanakan , ditentukan dan landasan
hukum secara sya'rii itu mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang
paham.

Khusus untuk pembahasan zakat fitrah mengenail dalil hukum , syarat ,
penghitungan , waktu , tempat dan orang-orang yang berhak mendapatkan
silahkan klik disini semua tentang zakat fitrah.

Oleh sebab itu tim bacaankeluarga.blogspot.com melihat hal ini adalah penting
untuk dipaham dan dipelajari bersama maka kami menyajikan artikel Macam-
macam Zakat dan Dalil-dalilnya diambil dari tulisan ustad Farid Numan Hasan
semoga bermanfaat dan jangan lupa di SHARE dan di LIKE ya :

Muqadimah Pengertian Zakat - Macam macam zakat dan
dalil-dalil berzakat

Zakat termasuk ibadah maaliyah (harta) yang paling pokok di antara ibadah maaliyah lainnya.
Perintah zakat termaktub dalam Al Quran, dan kewajibannya sering digandeng dengan shalat
sebanyak di 82 ayat. (Fiqhus Sunnah, 1/327).

Di antaranya:



Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. (QS. Al Baqarah (2): 110)

Ayat lainnya:



Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-
Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya
Aku akan menutupi dosa-dosamu. (QS. Al Maidah (5): 12) dan berbagai ayat lainnya.

Hikmah Zakat

Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari amal zakat ini.

1. Agar muzakki mampu mengontrol harta kekayaannya, sehingga dia tidak dilalaikan dengan
hartanya tersebut.
2. Agar harta tidak berputar hanya pada orang kaya saja.
3. Meminimkan kesenjangan dan kecemburuan sosial sehingga mampu mendekatkan hubungan
antara muzakki dan mustahiq, sehingga ukhuwah islamiyah dapat terwujud dengan harmonis.
Bahkan jika dikelola dengan profesional, zakat bisa menjadi sarana pengentasan kemiskinan.
4. Melatih dan melahirkan sifat dermawan dan cinta kebaikan bagi muzakki.


Pembagian Jenis Zakat Menurut Macam-Macam Harta

Tentang zakat, secara global ada dua macam.

1. Zakat Fitri

Yaitu zakat yang dikeluarkan pada saat menjelang hari raya, paling lambat sebelum shalat Idul Fitri,
untuk mengenyangkan kaum fakir miskin saat hari raya, dan hukumnya wajib. Untuk lebih lengkap
tentang zakat fitri silahkan baca artikel : Zakat fitrah - dalil dan cara penghitungannya.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:


.


Yaitu zakat yang diwajibkan karena berbuka dari Ramadhan (maksudnya: berakhirnya Ramadhan).
Dia wajib bagi setiap pribadi umat Islam, anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, merdeka
atau budak. (Fiqhus Sunnah, 1/412)

Beliau juga mengatakan:


.
.

Wajib bagi setiap muslim yang merdeka, yang memiliki kelebihan satu sha makanan bagi dirinya
dan keluarganya satu hari satu malam. Zakat itu wajib, bagi dirinya, bagi orang yang menjadi
tanggungannya, seperti isteri dan anak-anaknya, pembantu yang melayani urusan mereka, dan itu
merupakan nafkah bagi mereka. (Ibid, 1/412-413)

Harta yang dikeluarkan adalah makanan pokok di negeri masing-masing, kalau di negeri kita
sebanyak (+/-) 2,5 Kg beras. Ini pandangan jumhur (mayoritas) imam madzhab seperti Imam Malik,
Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka menolak pembayaran zakat fitri dengan nilai
harganya (uang), karena hal itu dianggap bertentangan dengan sunah nabi. Ini juga menjadi
pandangan sebagian besar ulama kerajaan Arab Saudi, dan yang mengikuti mereka.

Dasarnya adalah:



Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri
pada bulan Ramadhan untuk setiap jiwa kaum muslimin, baik yang merdeka atau budak, laki-laki
atau perempuan, anak-anak atau dewasa, sebanyak satu sha kurma atau satu sha biji-bijian. (HR.
Muslim No. 984)

Hadits ini menunjukkan bahwa yang mesti dikeluarkan dalam zakat fitri adalah makanan pokok pada
sebuah negeri, sebagaimana contoh dalam hadits ini. Maka, menggunakan nilai atau harga dari
makanan pokok merupakan pelanggaran terhadap sunah ini.

Sedangkan Imam Abu Hanifah, menyatakan bolehnya zakat fitri dengan uang. Berkata Syaikh
Sayyid Sabiq Rahimahullah:



Abu Hanifah membolehkan mengeluarkan harganya. (Fiqhus Sunnah, 1/413)

Ini juga pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Imam Atha, Imam Al Hasan Al Bashri, Imam Bukhari,
Imam Muslim, dan juga sahabat nabi, seperti Muawiyah Radhiallahu Anhu dan Mughirah bin
Syubah Radhiallahu Anhu, membolehkannya dengan nilainya, sebab yang menjadi prinsip adalah
terpenuhi kebutuhan fakir miskin pada hari raya dan agar mereka tidak meminta-minta pada hari itu.
Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma:




Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, Beliau bersabda: Penuhilah
kebetuhan mereka pada hari ini. (HR. Ad Daruquthni, 2/152)

Dalam riwayat lain:




Penuhilah kebutuhan mereka, jangan sampai mereka berkeliling (untuk minta-minta) pada hari ini.
(HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7528)

Dari riwayat ini, bisa dipahami bahwa yang menjadi substansi adalah terpenuhinya kebutuhan
mereka ketika hari raya dan jangan sampai mereka mengemis. Pemenuhan kebutuhan itu bisa saja
dilakukan dengan memberikan nilai dari kebutuhan pokoknya, atau juga dengan barangnya. Apalagi
untuk daerah pertanian, bisa jadi mereka lebih membutuhkan uang dibanding makanan pokok,
mengingat daerah seperti itu biasanya tidak kekurangan makanan pokok.

Sebagaian ulama kontemporer, seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullahu Taala
membolehkan dengan uang, jika memang itu lebih membawa maslahat dan lebih dibutuhkan oleh
mustahiq, tapi jika tidak, maka tetaplah menggunakan makanan pokok. Ini juga pendapat Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, hanya saja Beliau membicarakannya bukan dalam konteks zakat fitri tapi zakat
peternakan, bolehnya dibayarkan dengan uang jika memang itu lebih membawa maslahat, jika tidak
ada maslahat, maka tetap tidak boleh menggunakan uang (harganya). Wallahu Alam

Kepada siapa dibagikan zakat fitri? Tidak ada bedanya dengan zakat lain, bahwa zakat fitri
hendaknya diberikan kepada delapan ashnaf yang telah dikenal. Tetapi, untuk zakat fitri
penekanannya adalah kepada fakir miskin, sebagaimana riwayat di atas, agar mereka terpenuhi
kebutuahnya dan tidak mengemis.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:



Orang-orang fakir, mereka adalah ashnaf yang lebih utama untuk memperoleh zakat fitri. (Fiqhus
Sunnah, 1/415)

Dasarnya adalah hadits:



Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitri, untuk
mensucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia, perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi
orang-orang miskin. (HR. Abu Daud No. 1609, Ibnu Majah No. 1827. Al Hakim dalam Al
Mustadrak No. 1488, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari. Imam Ibnu Mulqin mengatakan: hadits
ini shahih. Lihat Badrul Munir, 5/618.)

2. Zakat Mal (Zakat Harta)

Zakat Mal mencakup beberapa jenis harta, yakni:

A. Zakat Emas dan Perak

Kewajiban zakat emas dan perak, diperintahkan dalam Al Quran:


(34)

(35)

34. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi
dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka
menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak
dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka
akan mendapat) siksa yang pedih,
35. pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi
mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang
kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan
itu." (QS. At Taubah (9): 34-35)

Khadimus Sunnah Asy Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:



.

Zakat diwajibkan atas keduanya (emas dan perak), sama saja apakah berupa mata uang, kepingan,
atau masih gumpalan, pada saat dimiliki keduanya sudah mencapai nishab dan sudah se-haul (satu
tahun) kepemilikannya, dan pemiliknya bebas dari hutang dan berbagai kebutuhan mendasar. (Lihat
Fiqhus Sunnah, 1/339. Darul Kitab Al Arabi)

Nishab zakat emas adalah jika telah mencapai 20 Dinar dan selama satu tahun kepemilikan, maka
zakatnya 1/40-nya, yakni setengah Dinar. (HR. Abu Daud No. 1573, Al Baihaqi dalam As Sunan Al
Kubra No. 7325, dishahihkan Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1573)

Satu Dinar adalah 4,25 gram emas. Jadi, jika sudah memiliki 85 gram emas, maka dikeluarkan
zakatnya 2,125 gram.

Nishab zakat perak adalah jika telah mencapai 200 Dirham selama setahun kepemilikan sebanyak
1/40-nya, yakni 5 dirham. (HR. Abu Daud No. 1574, At Tirmdizi No. 620, Ahmad No. 711, 1232, Al
Bazar No. 679, dan lainnya. Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Bukhari, apakah hadits ini
shahih? Beliau menjawab: shahih. Lihat Sunan At Tirmidzi No. 620)

Satu Dirham adalah 2,975 gram perak. Jadi, jika sudah memiliki 595 gram perak, maka dikeluarkan
zakatnya 14,875 gram.


B. Zakat Tijarah (Perniagaan)

Ini adalah pandangan jumhur ulama sejak zaman sahabat, tabiin, dan fuqaha berikutnya, tentang
wajibnya zakat harta perniagaan, ada pun kalangan zhahiriyah mengatakan tidak ada zakat pada harta
perniagaan.

Zakat ini adalah pada harta apa saja yang memang diniatkan untuk didagangkan, bukan menjadi harta
tetap dan dipakai sendiri.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah mengatakan tentang batasan barang dagangan:





:
: .



Seandainya seseorang membeli sesuatu untuk dipakai sendiri seperti mobil yang akan dikendarainya,
dengan niat apabila mendatangkan keuntungan nanti dia akan menjualnya, maka itu juga bukan
termasuk barang tijarah (artinya tidak wajib zakat, ). Hal ini berbeda dengan jika seseorang membeli
beberapa buah mobil memang untuk dijual dan mengambil keuntungan darinya, lalu jika dia
mengendarai dan menggunakan mobil itu untuk dirinya, dia menemukan adanya keuntungan dan
menjualnya, maka apa yang dilakukannya yaitu memakai kendaraan itu tidaklah mengeluarkan status
barang itu sebagai barang perniagaan. Jadi, yang jadi prinsip adalah niatnya. Jika membeli barang
untuk dipakai sendiri, dia tidak meniatkan untuk menjual dan mencari keuntungan, maka hal itu tidak
merubahnya menjadi barang tijarah walau pun akhirnya dia menjualnya dan mendapat keuntungan.
Begitu juga sebaliknya jika seorang berniat merubah barang dagangan menjadi barang yang dia pakai
sendiri, maka niat itu sudah cukup menurut pendapat mayoritas fuqaha (ahli fiqih) untuk
mengeluarkan statusnya sebagai barang dagangan, dan masuk ke dalam kategori milik pribadi yang
tidak berkembang. (Fiqhuz Zakah, 1/290)

Contoh si A membeli barang-barang meubel untuk dipakai dan ditaruh dirumah, maka ini tidak kena
zakat, sebab tidak ada zakat pada harta yang kita gunakan sendiri seperti rumah, kendaraan, pakaian,
walaupun berjumlah banyak kecuali jika itu diperdagangkan . Nah, jika si A membeli barang-barang
tersebut untuk dijual, maka barang tersebut wajib dikeluarkan zakatnya jika sudah mencapai
nishabnya dan jika sudah satu haul (setahun), yaitu dengan cara ditaksir harganya dan dikeluarkan
dalam bentuk harganya itu, sebanyak 1/40 harganya.

Abu Amr bin Himas menceritakan, bahwa ayahnya menjual kulit dan alat-alat yang terbuat dari kulit,
lalu Umar bin Al Khathab berkata kepadanya:


.

Wahai Himas, tunaikanlah zakat hartamu itu. Beliau menjawab: Demi Allah, saya tidak punya
harta, sesungguhnya saya cuma menjual kulit. Umar berkata: Perkirakan harganya, dan keluarkan
zakatnya! (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 10557, Abdurrazzaq
dalam Al Mushannaf No. 7099, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7392)

Dari kisah ini, Imam Ibnu Qudamah mengatakan adanya zakat tijarah adalah ijma, sebab tidak ada
pengingkaran terhadap sikap Umar bin Al Khathab Radhiallahu Anhu.

Beliau mengatakan:




Kisah seperti ini masyhur (tenar), dan tidak ada yang mengingkarinya, maka hal ini menjadi ijma.
(Lihat Al Mughni, 5/414. Mawqi Al Islam)

Yang termasuk kategori ini, adalah hasil dari sewa menyewa. Tanah, kios, kebun, rumah, tidaklah
ada zakatnya, tetapi jika disewakan maka harga sewa itu yang dizakatkan.

Syaikh Muhammad Khaathir Rahimahullah (mufti Mesir pada zamannya) berkata:





Tanah yang dipersiapkan untuk didirikan bangunan tidak wajib dizakati, kecuali diniatkan untuk
dibisniskan dengan mengembangkannya. (Fatawa Al Azhar, 1/157. Fatwa 15 Muharam 1398)

C. Zakat Hasil Tanaman dan Buah-Buahan

Para fuqaha sepakat atas kewajiban zakat tanaman dan buah-buahan. Tetapi mereka berbeda
pendapat dalam jenis tanaman dan buah apa saja yang dizakatkan.

Secara ringkas sebagai berikut:

a. Zakat tanaman dan buah-buahan hanya pada yang disebutkan secara tegas oleh syariat, seperti
gandum, padi, biji-bijian, kurma dan anggur, selain itu tidak ada zakat. Ini pendapat Imam Al Hasan
Al Bashri, Imam Sufyan Ats Tsauri, dan Imam Asy Syabi. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Asy
Syaukani.

Pendapat ini berdasarkan wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Muadz bin Jabal
dan Abu Musa Al Asyari ketika mereka diutus ke Yaman:




Janganlah kalian ambil zakat kecuali dari empat macam: biji-bijian, gandum, anggur kering, dan
kurma. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1459, katanya: shahih. Al Baihaqi dalam As
Sunan Al Kubra No. 7242 , Ad Daruquthni No. 15)

Secara khusus tidak adanya zakat sayur-sayuran (Al Khadharawat), Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda:


.

Pada sayur-sayuran tidak ada zakatnya. (HR. Al Bazzar No. 940, Ath Thabarani dalam Al Awsath
No. 5921. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami No. 5411)

Maka, tidak ada zakat pada semangka, jambu, durian, sayur-sayuran, dan lainnya yang tidak
disebutkan oleh nash. Kecuali jika buah-buahan dan tanaman ini diperdagangkan, maka masuknya
dalam zakat tijarah.

b. Sayur-sayuran dan semua yang dihasilkan oleh bumi (tanah) wajib dizakati, ini adalah pendapat
Imam Abu Hanifah, juga Imam Ibnul Arabi, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan umumnya ulama
kontemporer.

Dasarnya keumuman firman Allah Taala:






Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-
baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu .. (QS. Al Baqarah (2): 267)

Juga keumuman hadits:



Apa saja yang disirami air hujan maka zakatnya sepersepuluh. (Hadits yang semisal ini diriwayatkan
oleh banyak imam diantaranya: Al Bukhari, At Tirmidzi, An Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad,
Al Baihaqi, Ath Thabarani, Ad Daruquthni, Al Baghawi, Al Bazzar, Ibnu Hibban, Ath Thahawi, dan
Ibnu Khuzaimah)

Maka, hasil tanaman apa pun mesti dikelurkan zakatnya, baik yang dikeluarkan adalah hasilnya itu,
atau harganya.

c. Pendapat Al Qadhi Abu Yusuf yang mengatakan semua yang tumbuh dari bumi mesti dizakatkan,
selama yang bisa bertahan dalam setahun. Ada pun yang tidak bisa bertahan dalam setahun seperti
mentimun, sayur-sayuran, semangka, dan yang apa saja yang akan busuk dalam waktu sebelum
setahun, maka itu tidak ada zakat.


d. Kalangan Malikiyah berpendapat, hasil bumi yang dizakatkan memiliki syarat yaitu yang bertahan
(awet) dan kering, dan ditanam oleh orang, baik sebagai makanan pokok seperti gandum dan padi,
atau bukan makanan pokok seperti jahe dan kunyit. Mereka berpendapat tidak wajib zakat pada buah
tin, delima, dan sayur-sayuran.

e. Kalangan Syafiiyah berpendapat, hasil bumi wajib dizakatkan dengan syarat sebagai makanan
pokok dan dapat disimpan, serta ditanam oleh manusia, seperti padi dan gandum. Tidak wajib zakat
pada sayur-sayuran.

f. Imam Ahmad berpendapat, hasil bumi wajib dizakatkan baik biji-bijian dan buah-buahan, yang
bisa kering dan tahan lama, baik yang ditakar dan ditanam manusia, baik makanan pokok seperti
gandum dan padi, atau bukan seperti jahe dan kunyit. Juga wajib zakat buah-buahan yang punya ciri
di atas seperti kurma, anggur, tin, kenari, dan lainnya. Sedangkan yang tidak bisa dikeringkan tidak
wajib zakat seperti semangka, pepaya, jambu, dan semisalnya.

Kita lihat, para ulama sepakat tentang wajibnya zakat tanaman hanya pada kurma, padi, gandum,
biji-bijian, dan anggur. Tetapi mereka tidak sepakat tentang wajibnya zakat pada tanaman yang
bukan menjadi makanan pokok, seperti jahe, kunyit, buah-buahan selain anggur dan kurma, dan
sayur-sayuran, sebagian mengatakan wajib, sebagian lain tidak. Masing-masing alasan telah
dipaparkan di atas.

Nishabnya adalah jika hasilnya sudah mencapai 5 wasaq, sebagaimana disebutkan dalam hadits:




Tidak ada zakat pada apa-apa yang kurang dari lima wasaq. (HR. Bukhari No. 1484, Muslim No.
979)

Lima wasaq adalah enam puluh sha berdasarkan ijma, dan satu sha adalah empat mud, lalu satu
mud adalah seukuran penuh dua telapak tangan orang dewasa. Dr. Yusuf Al Qaradhawi telah
membahas ini secara rinci dalam kitab monumental beliau, Fiqhuz Zakah, dan menyimpulkan bahwa
lima wasaq adalah setara dengan +/- 653 Kg.

D. Zakat Ternak

Zakat hewan ternak (Al Anam) pada Unta, Sapi, Kerbau dan Kambing (dengan berbagai variannya)
adalah ijma , tidak ada perbedaan pendapat.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:


.
:


Telah datang berbagai hadits shahih yang menjelaskan kewajiban zakat pada Unta, Sapi, dan
Kambing, dan umat telah ijma (sepakat) untuk mengamalkannya. Zakat ini memiliki syarat: sudah
sampai satu nishab, berlangsung selama satu tahun, dan hendaknya hewan tersebut adalah hewan
yang digembalakan, yaitu memakan rumput yang tidak terlarang sepanjang tahun itu. (Fiqhus
Sunnah, 1/363)

Sedangkan, selain hewan Al Anam tidak wajib dizakatkan, seperti kuda, keledai, ayam, ikan, bighal,
kecuali jika semua dijual, maka masuknya dalam zakat tijarah (perniagaan). Wallahu Alam

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:


.

Tidak ada zakat pada hewan-hewan selain Al Anam, maka tidak ada zakat pada kuda, bighal
(peranakan kuda dan keledai), keledai, kecuali jika untuk diperdagangkan. (Fiqhus Sunnah, 1/368)

Namun demikian, tidak semua Al Anam bisa dizakatkan, ada syarat yang mesti dipenuhi:
1. Sampai nishabnya
2. Sudah berlangsung satu tahun (haul)
3. Hendaknya hewan ternak itu adalah hewan yang digembalakan, yang memakan rumput yang tidak
terlarang dalam sebagai besar masa setahun itu.

Tiga syarat ini merupakan pendapat mayoritas ulama, kecuali Imam Malik dan Imam Laits bin Saad.
Menurut mereka berdua, hewan ternak yang makanannya disabitkan (bukan digembalakan) juga
boleh dizakatkan.

Syaikh Sayyid Sabiq mengomentari:


:
.

Tetapi hadits-hadits yang ada dengan gamblang mengkhususkan dengan hewan yang digembalakan,
dan hal itu membawa pengertian: bahwa yang disabitkan rumputnya tidaklah wajib zakat, karena
penyebutan tersebut mesti ada faidahnya, agar ucapan itu tidak sia-sia. (Ibid, 1/364)

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan:




Saya tidak ketahui ada fuqaha sepenjuru negeri yang setuju dengan pendapat Malik dan Al Laits.
(Imam Az Zarqani, Syarh Alal Muwaththa, 2/154)

- Zakat Unta, berikut rincian dalam Fiqhus Sunnah:

Nishabnya 5 ekor, mesti dikeluarkan 1 ekor kambing biasa yang sudah berusia setahun lebih, atau
kambing benggala (dhan), seperti kibas, biri-biri, berusia setahun.
Jika 10 ekor, maka yang dikeluarkan 2 ekor kambing betina, dan seterusnya jika bertambah lima
bertambah pula zakatnya satu ekor kambing betina.
Jika banyaknya 25 ekor, maka zakatnya 1 ekor anak unta betina umur 1-2 tahun, atau 1 ekor anak
unta jantan umur 2-3 tahun.
Jika 36 ekor, zakatnya 1 ekor anak unta betina usia 2-3 tahun
Jika 46 ekor, zakatnya 1 ekor unta betina berumur 3-4 tahun
Jika 61 ekor, zakatnya 1 ekor unta betina 4-5tahun
Jika 76 ekor, zakatnya 2 ekor anak unta betina umur 2-3 tahun
Jika 91 ekor sampai 120 ekor, zakatnya 2 ekor anak unta betina umur 3-4 tahun

- Zakat Sapi

Tidak wajib zakat jika belum sampai 30 ekor, dalam keadaan digembalakan, dan sudah satu haul,
zakatnya 1 ekor sapi jantan atau betina berumur 1 tahun
Jika 40 ekor, zakatnya 1 ekor sapi betina berumur 2 tahun
Jika 60 ekor, zakatnya 2 ekor sapi berumur 1 tahun
Jika 70 ekor, zakatnya 1 ekor sapi betina umur 2 tahun dan 1 ekor sapi jantan berumur 1 tahun
Jika 80 ekor, zakatnya 2 ekor sapi betina umur 2 tahun
Jika 90 ekor, zakatnya 3 ekor sapi umur 1 tahun
Jika 100 ekor, zakatnya 1 ekor sapi betina umur 2 tahun, serta 2 ekor sapi jantan umur 1 tahun
110 ekor, zakatnya 2 ekor sapi betina umur 2 tahun, dan 1 ekor sapi jantan umur 1 tahun
120 ekor, zakatnya 3 ekor sapi betina berumur 2 tahun, atau 4 ekor sapi umur 1 tahun.

Dan seterusnya, jika banyaknya bertambah, maka setiap 30 ekor adalah 1 ekor sapi umur 1 tahun,
dan setiap 40 ekor adalah 1 ekor sapi betina berumur 2 tahun.

- Zakat kambing

Tidak dizakatkan kecuali sudah mencapai 40 ekor. Jika berjumlah antara 40-120 ekor dan sudah
cukup satu haul, maka zakatnya 1 ekor kambing betina.
Dari 121-200 ekor, zakatnya adalah 2 ekor kambing betina
Dari 201-300 ekor, zakatnya adalah 3 ekor kambing betina. Dan seterusnya, tiap tambahan 100
ekor, dikelurkan 1 ekor kambing betina. Dari domba berumur 1 tahun, dari kambing biasa 2 tahun.
Jika kambingnya hanya ada yang jantan, maka boleh dikeluarkan yang jantan. Jika sebagian jantan
dan sebagian betina, atau semuanya betina, ada yang membolehkan jantan, ada juga hanya betina
yang dizakatkan.

E. Zakat Rikaz dan Barang Tambang (Madin)

Definisi Rikaz sebagai berikut:



Berkata Imam Malik: Perkara yang tidak lagi diperselisihkan bagi kami dan yang saya dengar dari
para ulama, bahwa mereka mengatakan rikaz adalah harta terpendam yang dipendam sejak masa
jahiliyah, untuk menemukannya tidak membutuhkan ongkos, tidak juga upaya keras dan tenaga besar
untuk mencarinya. Sedangkan yang ditemukan dengan menggunakan ongkos dan bersusah payah
mencarinya, yang kadang bisa berhasil, waktu lain bisa gagal, maka itu bukan rikaz. (Al
Muwaththa No. 585, riwayat Yahya Al Laitsi)
Sedangkan Madin (barang tambang) adalah: diambil dari kata yadanu ad-nan yang artinya
menetap pada suatu tempat.

Nishab zakat emas adalah jika telah mencapai 20 Dinar dan selama satu tahun kepemilikan, maka
zakatnya 1/40-nya, yakni setengah Dinar. (HR. Abu Daud No. 1573, Al Baihaqi dalam As Sunan Al
Kubra No. 7325, dishahihkan Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1573)

Nishab zakat perak adalah jika telah mencapai 200 Dirham selama setahun kepemilikan sebanyak
1/40-nya, yakni 5 dirham. (HR. Abu Daud No. 1574, At Tirmdizi No. 620, Ahmad No. 711, 1232, Al
Bazar No. 679, dan lainnya. Imam At Tirmidzi bertanya kepada Imam Bukhari, apakah hadits ini
shahih? Beliau menjawab: shahih. Lihat Sunan At Tirmidzi No. 620)

Dalil wajibnya zakat rikaz adalah:



Dan pada rikaz zakatnya adalah seperlima (khumus). (HR. Bukhari No. 1499, Muslim No. 1710)
Hadits ini menunjukkan wajibnya zakat rikaz, dan berapa yang mesti dikeluarkan, yakni 1/5, atau 20
%.
Rikaz yang mesti dikeluarkan zakatnya adalah:



. .
: :

Rikaz yang wajib dikeluarkan zakatnya seperlima adalah semua yang berupa harta seperti emas,
perak, besi, timah, tembaga, bejana, dan yang semisalnya. Inilah pendapat Hanafiyah, Hanabilah,
Ishaq, Ibnul Mundzir, satu riwayat dari Malik, salah satu pendapat dari Asy Syafii. Pendapat yang
lain: bahwa seperlima tidaklah wajib kecuali pada mata uang: yaitu emas dan perak. (Fiqhus Sunah,
1/374)

Kepada siapa diwajibkan? Siapa saja yang menemukan rikaz, wajib mengeluarkan zakatnya, baik
dewasa atau anak-anak, berakal atau gila, bahkan kafir dzimmi sekali pun. Ada pun untuk anak-anak
dan orang gila yang mengurus pengeluaran zakatnya adalah walinya.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mennyebutkan:


.

Semua ulama yang telah saya ketahui telah sepakat, bahwa orang dzimmi juga wajib mengeluarkan
zakat rikaz yang ditemukannya sebesar 1/5. Ini menjadi pendapat Malik, penduduk Madinah, Ats
Tsauri, Al Awzai, penduduk Iraq, ashhab ar rayi (pengikut Imam Abu Hanifah), dan selain mereka.
Imam Asy Syafii berkata: tidak wajib seperlima kecuali kepada orang yang wajib berzakat, karena
zakat adalah zakat. Diceritakan darinya, bahwa anak-anak dan wanita tidaklah memiliki rikaz. (Al
Mughni, 5/400)

Zakat rikaz dikeluarkan tanpa menunggu haul, tapi dikeluarkan ketika menemukannya, juga tidak
ada nishab. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas).


F. Zakat Profesi/Penghasilan/Mata Pencaharian

Ini adalah jenis zakat yang diperselisihkan para ulama. Hal ini sama dengan sebagian zakat lainnya,
seperti zakat sayur-sayuran, buah-buahan selain kurma, dan zakat perdagangan. Sebagian kalangan
ada yang bersikap keras menentang zakat profesi, padahal perbedaan seperti ini sudah ada sejak masa
lalu, ketika mereka berbeda pendapat tentang ada tidaknya zakat sayuran, buah, dan perdagangan
tersebut. Seharusnya perbedaan pendapat yang disebabkan ijtihad seperti ini tidak boleh sampai lahir
sikap keras apalagi membidahkan.
Mereka yang mendukung pendapat ini seperti Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul
Wahhab Khalaf, Syaikh Abdurrahman Hasan, dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, memandang ada
beberapa alasan keharusan adanya zakat profesi:

- Profesi yang dengannya menghasilkan uang, termasuk kategori harta dan kekayaan.

- Kekayaan dari penghasilan bersifat berkembang dan bertambah, tidak tetap, ini sama halnya dengan
barang yang dimanfaatkan untuk disewakan. Dilaporkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau
berpendapat tentang seseorang yang menyewakan rumahnya mendapatkan uang sewaan yang cukup
nisab, bahwa orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya ketika menerimanya tanpa persyaratan
setahun. Hal itu pada hakikatnya menyerupai mata pencaharian, dan wajib dikeluarkan zakatnya bila
sudah mencapai satu nisab, walau tanpa haul.

- Selain itu, hal ini juga diqiyaskan dengan zakat tanaman, yang mesti dikeluarkan oleh petani setiap
memetik hasilnya. Bukankah petani juga profesi? Sebagian ulama menolak menggunakan qiyas
dalam masalah ini, tetapi pihak yang mendukung mengatakan bukankah zakat fitri dengan beras
ketika zaman nabi juga tidak ada? Bukankah nabi hanya menyontohkan dengan kurma dan gandum?
Saat ini ada zakat fitri dengan beras karena beras adalah makanan pokok di Indonesia, tentunya ini
juga menggunakan qiyas, yakni mengqiyaskan dengan makanan pokok negeri Arab saat itu, kurma
dan gandum. Jadi, makanan apa saja yang menjadi makanan pokok-lah yang dijadikan alat
pembayaran zakat. Jika mau menolak, seharusnya tolak pula zakat fitri dengan beras yang hanya
didasarkan dengan qiyas sebagai makanan pokok.

- Dalam perspektif keadilan Islam, maka adanya zakat profesi adalah keniscayaan. Bagaimana
mungkin Islam mewajibkan zakat kepada petani yang pendapatannya tidak seberapa, namun
membiarkan para pengusaha kaya, pengacara, dokter, dan profesi prestise lainnya menimbun harta
mereka? Kita hanya berharap mereka mau bersedekah sesuai kerelaan hati?

- Dalam perspektif maqashid syariah (tujuan dan maksud syariat), adanya zakat profesi adalah sah.
Sebab lebih mendekati keadilan dan kemaslahatan, serta sesuai ayat:
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. Al Baqarah (2):
267)
Bukankah zakat penghasilan diambil dari hasil usaha yang baik-baik saja?

- Mereka berpendapat bahwa zakat profesi ada dua jenis pelaksanaan, sesuai jenis pendapatan
manusia. Pertama, untuk orang yang gajian bulanan, maka pendekatannya dengan zakat tanaman,
yaitu nishabnya adalah 5 wasaq, senilai dengan 653 Kg gabah kering giling, dan dikeluarkan 2,5%,
yang dikeluarkan ketika menerima hasil (gaji), tidak ada haul. Kedua, bagi yang penghasilannya
bukan bulanan, seperti tukang jahit, kontraktor, pengacara, dokter, dan semisalnya, menggunakan
pendekatan zakat harta, yakni nishab senilai dengan 85gr emas setelah diakumulasi dalam setahun,
setelah dikurangi hutang konsumtif, dikeluarkan sebesar 2,5%.

Pihak yang menolak, umumnya para ulama Arab Saudi dan yang mengikuti mereka, berpendapat
tidak ada zakat profesi. Sebab Al Quran dan As Sunnah secara tekstual tidak menyebutkannya.

Mereka menganggap, aturan main zakat profesi tidaklah konsisten. Kenapa nishabnya diqiyaskan
dengan zakat tanaman (5 wasaq), tetapi yang dikeluarkan bukan dengan ukuran zakat tanaman pula?
Seharusnya dikeluarkan adalah 5% atau 10% sebagaimana zakat tanaman, tetapi zakat profesi
mengeluarkan zakatnya adalah 2,5% mengikuti zakat emas.
Sementara Syaikh Ibnul Utsaimin, Syaikh Shalih Al Munajjid dan lainnya mengatakan bahwa zakat
penghasilan itu ada, tetapi seperti zakat lainnya, mesti mencapai nishab, dan menunggu selama satu
haul. Dengan kata lain, tidak diwajibkan zakat penghasilan pada gaji bulanan.
Demikianlah perselisihan ini.







Kajian Tematik terhadap ayat-ayat Zakat
Oleh: Muhamad Halwani
Pendahuluan
Dalam ajaran islam ada dua dimensi utama hubungan yang harus dipelihara, yaitu hubungan
manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Kedua hubungan itu
harus berjalan serentak. Menurut ajaran islam, dengan melaksanakan kedua hubungan itu
hidup manusia akan sejahtera baik di dunia maupun di akhirat kelak. Untuk mencapai tujuan
kesejahteraan dimaksud, di dalam Islam selain dari kewajiban sholat, puasa dan haji ada juga
kewajiban melaksanakan zakat.
Zakat dimaksudkan untuk menjembatani dan memperdekat hubungan sesama manusia,
terutama hubungan antara kelompok yang kuat dengan kelompok yang lemah; antara yang kaya
dengan yang miskin. Zakat diwajibkan dengan tujuan untuk meringankan beban penderitaan
kaum dhuafa, fakir miskin, atau melipur orang-orang yang sengsara, dan membantu orang-
orang yang sangat membutuhkan pertolongan.
Lalu bagaimanakah konsep zakat menurut al-Quran? Kajian tematik terhadap ayat-ayat zakat
ini mencoba untuk menemukan konsep zakat dari perspektif al-Quran itu sendiri.
Pendekatan tematik ini digunakan untuk mencoba mempelajari al-Quran dengan mengambil
tema tertentu dari berbagai konteks seperti sosial dan doktrinal yang dibahas atau disebutkan
dalam al-Quran. M. Quraish Shihab berpendapat bahwa langkah awal yang ditempuh dalam
mempergunakan metode tafsir tematik adalah menetapkan topik atau masalah yang akan
dibahas kemudian menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama dengan topik
dan dilengkapi dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan dan yang perlu dicatat
topik yang dibahas diusahakan pada persoalan yang langsung menyentuh kepentingan
masyarakat. Agar Al-Quran sebagai petunjuk hidup dapat memberi jawaban terhadap problem
masyarakat itu.[1] Melalui studi-studi tersebut, metode ini mencoba menentukan pandangan-
pandangan al-Quran sebagai konsekuensi dari pesan Islam yang berkaitan dengan isu tertentu
dalam kehidupan ini.
Definisi zakat
Dilihat dari sudut bahasa, kata zakat berasal dari kata zaka yang berarti berkah, tumbuh,
bersih dan baik. Pendapat lain mengatakan bahwa kata dasar zaka berarti bertambah dan
tumbuh, sedangkan segala sesuatu yang bertambah disebut zakat. Adapun dari segi istilah,
terdapat banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut istilah fikih zakat berarti
sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk diserahkan kepada orang yang
berhak[2]. Menurut Imam Nawawi, jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat
karena yang dikeluarkan itu menambah banyak, membuat lebih berarti dan melindungi
kekayaan dari kebinasaan[3]. Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah, jiwa dan kekayaan orang
yang berzakat itu menjadi bersih dan kekayaannya akan bertambah[4].
Menurut Yusuf Qardhawi, zakat ialah hak tertentu yang diwajibkan Allah Subhanahu Wa Taala
terhadap kaum Muslimin yang diperuntukkan bagi mereka, yang dalam al-Quran disebut
kalangan fakir miskin dan mustahik lainnya, sebagai tanda syukur atas nikmat Allah Subhanahu
Wa Taala dan untuk mendekatkan diri kepadaNya, serta untuk membersihkan diri dan
hartanya. Hal ini berarti bahwa makna tumbuh dan berkembang itu tidak banyak
diperuntukkan untuk harta kekayaan tetapi lebih jauh dari itu. Dengan mengeluarkan zakat
diharapkan hati dan jiwa orang yang menunaikan kewajiban zakat itu menjadi bersih.
Dari satu segi zakat adalah ibadah dan dari segi lain ia merupakan ia merupakan kewajiban
sosial. Zakat merupakan salah satu dana atau harta masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk
menolong orang-orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari sehingga
dapat mempunyai kesempatan untuk hal-hal yang lebih luhur sebagai Khalifah Allah di bumi.
Zakat menurut bahasa al-Quran juga disebut sedekah atau infak. Oleh karena itu Imam
Mawardi mengatakan, Sedekah itu adalah zakat dan zakat itu adalah sedekah; berbeda nama
tetapi sama artinya. Namun makna sedekah dan infak lebih luas yang mencakup zakat yang
wajib dikeluarkan dan juga berarti pemberian yang sunnah saja.
Sedangkan kata infak berarti membelanjakan. Adapun secara istilah infak diartikan sebagai
sesuatu yang diberikan oleh seorang guna menutupi kebutuhan orang lain, baik berupa makan,
minum, dan sebagainya.
Ayat-ayat al-Quran tentang zakat
Untuk menggambarkan betapa pentingnya kedudukan zakat, al-Quran menyebut sampai 72 kali
dimana itau al-zakah bergandengan dengan iqamu al-shalah, seperti pada ayat 43 surah al-
Baqarah, ayat 55 surah al-Maidah, ayat 4 surah al-Muminun, dan lain sebagainya.[5]
Ayat-ayat al-Quran yang membahas tentang zakat, di antaranya adalah:
1. Al-Muzammil ayat 20. (Makiyyah)
#) qK r&ur no4qnA9$# (#qe?#uur no4qx. 9 #) #$ qaI or&ur !$# $ s $YZ,ym 4
dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah
pinjaman yang baik.
1. Al-Anam ayat 141 (Makiyyah)
uqedur !$# r`t+Sr& ;MYy ;Mxra u Be xur ;Mxr Bt it ru#$9Z 9 #$ ur
oFt$ eC /&e#a2e& cqG 9 #$ ur c$B 9 #$ ur $ \ kE:t+tFB u xur 7m7t+tFB 4 (#qea2 `B
/InI yJrO !#s ) t yJoOr& (#qe?#uur /m)ym uQqt I/ n ,$ Aym ( wur (#qeu e 4 /mR) w
t uu Jo9$# IE
Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung,
pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang
serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya
(dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Juraij, Bahwa ayat
ini diturunkan berkenaan dengan Tsabit bin Qais bin Syimas yang menebang pohon kurma
miliknya, kemudian ia bagi-bagikan buahnya hingga sore hari sesudah itu ia tidak lagi
memiliki buah kurma.[6]
1. Al-Baqarah ayat 267, 271, dan 274 (Madaniyyah)
$ yg r`t t!$# (#qZtB#u #) qa)Rr& `B Mt6Ih s $tB oOF;, 2 tYo$ ruBJ$! rz &
N3s9 z`iB U F$# ( wur (#qJJu s? y| 7y o9$# mZB tbqa)Ye? NGos9ur m E $t/ Hw) br&
#) qaOJooe? m u 4 (#qJn$#ur br& !$# ;OIx Jym DE
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal
kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.
dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Al-Baqarah: 267)
Sebab turunnya ayat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Hakim, Tirmizi, Ibnu Majah dan lain-
lainnya, dari Barra, katanya, Ayat ini turun mengenai kita, golongan Ansar yang memiliki
buah kurma. Masing-masing menyumbangkan kurmanya, sedikit atau banyak sesuai
kemampuannya. Tetapi orang-orang yang tidak ingin berbuat kebaikan, membawa
rangkaian kurmanya yang bercampur dengan kulit dan rantingnya, ada yang telah putus
dan lepas dari rangkaiannya, lalu diikatkannya, maka Allah pun menurunkan, Hai orang-
orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik
Diriwayatkan oleh Hakim, dari Jabir, katanya, Nabi saw. menyuruh mengeluarkan zakat
fitrah sebanyak satu sukat kurma. Maka datanglah seorang laki-laki membawa kurma yang
jelek, hingga Alquran pun turun menyampaikan, Hai orang-orang yang beriman!
Nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik
b) (#r 6e? Msy usZeJ$ #$9A d ( b)ur $ydqa e $ ? ydqe?se?ur u!#t s)ao9$# uqgsu yz
Na69 4 es3 ur Na6Zt `iB Na6?$tIh y 3 !$#ur $yJ/ tbqeyJes? 6yz DE
Jika kamu Menampakkan sedekah(mu), Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu
menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka Menyembunyikan
itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-
kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 271)


u!$# cqa)Y Ogs9uqoBr& Eo 9 $$ / I $ ygZ9$#ur # v A Zpu R xtur oOgnsu Ned r&
y Y Ngn/u wur qyz oOgo nt wur Ned cqRt ost DIE
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi
dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 274)
1. At-Taubah ayat 103 (Madaniyyah)
e `B Nl;uqoBr& Zpsy , ' Ned dgse ? NIk j.t e?ur $pkI5 Ee, ' ur Ngo nt ( b) y7s?4qn, '
`s3y Nl; 3 !$#ur ii Jy iO t EIE
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Sebab turunnya ayat ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thabranidan Baihaqi,
bahwa Tsalabah ibn Hathab meminta doa Rasulullah, Ya Rasulullah berdoalah pada Allah
supaya Dia memberi rizki harta pada saya ! . Kemudian berkembang-biaklah domba
Tsalabah hingga dia tidak shalat Jumat dan ikut jamaah, lalu turunlah ayat Khudz min
amwaalihim.. [7]
1. At-Taubah ayat 60 (Madaniyyah)
$ yJR) aMsy t#! #$9A s)au9 EA3,yJo9$#ur t,#Jyeo9$#ur $pk nt
px9xsJo9$#ur Nk5qee ur E $ sIh 9 #$ tBI ru#$9oot ur E 6y ooE #$! #$ ur
E 69$# ( Zp O I su iB !$# 3 !$#ur iO t OO A6ym EE
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, Para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)
budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang
dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana
Surat al-Muzammil ayat 20 menunjukkan kewajiban zakat sudah ada sejak di Makkah. Akan
tetapi kadar nisabnya belum ditentukan kecuali ketika masa-masa di Madinah.[8] Begitu juga
pada orang yang berhak menerimanya, baru secara jelas dan terperinci saat di Madinah, yang
demikian dapat dilihat pada Surat Madaniyah, seperti at-Taubah ayat 60. Seluruh ajaran yang
turun pada masa Madinah bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih mulia dan
berbudi luhur, saling mengasihi dan tidak boleh yang kaya memakan hak orang-orang yang
membutuhkan.
Setelah kewajiban zakat ditunaikan, maka diharapkan akan muncul fungsi dan tujuan zakat itu
sendiri. Sebagaimana yang dikatakan dalam surat at-Taubah ayat 103, zakat memiliki fungsi
sebagai sarana untuk membersihkan diri dan harta benda. Ayat al-Baqarah 103 mengajarkan
untuk mengambil sedekah dari hartanya kaum muminin, baik itu shodaqoh yang ditentukan
ataupun yang tidak ditentukan demi untuk membersihkan mereka dari kotornya kebakhilan
dan rakus. Juga mensucikan mereka dari kehinaan dan kerendahan dari mengambil dan makan
haknya orang fakir. Zakat dimaksudkan untuk membersihkan harta benda orang lain yang
dengan sengaja atau tak sengaja telah termasuk ke dalam harta benda kita. Untuk
membersihkan harta benda daripada kemungkinan-kemungkinan seperti itu, maka zakat
dibayarkan.[9]
Zakat bertujuan juga sebagai pertumbuhan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam QS al-
Baqarah ayat 276, karena dengan memberikan hak fakir miskin dan lain-lain yang terdapat
dalam harta benda kita, maka terjadilah suatu sirkulasi uang dalam masyarakat yang
mengakibatkan bertambah berkembangnya fungsi uang itu dalam masyarakat. Di belakang
pendapat tersebut terdapat asumsi, seperti yang dikemukakan Ibnu Khaldun, bahwa harta
benda itu selalu beredar di antara penguasa dan rakyat. Ia menganggap negara dan
pemerintahan itu sebagai suatu pasar yang besar, malah yang terbesar di dunia (al-suq
alazham), dan bahwa ia itu adalah inti budaya manusia (maddat al-umran). Jadi apabila
negara atau pemerintah, atau penguasa menahan harta benda dalam bentuk pajak yang
telah dikumpulkannya dalam kalangannya saja, maka jumlah uang yang beredar dalam
masyarakat sudah pasti berkurang pula, dan pendapatan rakyat akan menjadi berkurang
pula, padahal rakyat itu merupakan kalangan terbanyak umat manusia ini. Gejala ini
menimbulkan kemacetan ekonomi di kalangan masyarakat. Keuntungan yang diperoleh
para pedagang juga akan menjadi lebih sedikit pula. Pada akhirnya yang akan menderita
kerugian adalah negara itu sendiri. Sebagai suatu pasar yang terbesar maka kemakmuran
negara itu adalah dengan melihat banyaknya harta benda yang masuk dan keluar. Apabila
terjadi kemandekan dalam sirkulasi ini, maka semua pihak, termasuk pemerintah sendiri
dirugikan. Jadi harta benda itu selalu bolak-balik antara rakyat dan penguasa. Apabila
penguasa menimbunnya, maka rakyat tak akan memilikinya. Samarqandi menjadikan
pertumbuhan itu satu-satunya sebab disyariatkannya zakat. Karena itu harta yang wajib
dizakatkan hanya dua macam, yaitu yang bertumbuh seperti binatang ternak dan tanam-
tanaman, serta harta perdagangan[10].
Sasaran zakat kemudian ditunjukkan oleh Surat at-Taubah ayat 60. Innama as-Shodaqqatu
dari ayat ini menunjukkan kepada zakat-zakat yang wajib, berbeda dengan sadaqah mustahabah
yang bebas diberikan kepada semua orang tanpa ada pengkhususan.[11] Sasaran zakat
(mustahiq) itu sendiri ialah:
1) orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk
memenuhi penghidupannya. 2) orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan
dalam Keadaan kekurangan. 3) Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan
dan membagikan zakat. 4) Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang
baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5) memerdekakan budak: mencakup juga untuk
melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6) orang berhutang: orang yang
berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya.
Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu
dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7) pada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk
keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat
bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan
sekolah, rumah sakit dan lain-lain. Adapun yang paling mendekati kebenaran adalah setiap
orang yang berusaha untuk taat kepada Allah dan orang-orang yang berada di jalan
kebenaran[12]. 8) orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami
kesengsaraan dalam perjalanannya.
Pelaksanaan zakat
Ajaran islam menjadikan ibadah yang mempunyai aspek sosial sebagai landasan membangun
satu sistem yang mewujudkan kesejahteraan dunia dan akhirat. Dengan mengintegrasikannya
dalam ibadah berarti memberikan peranan penting pada keyakinan keimanan yang
mengendalikan seorang mukmin dalam hidupnya. Demikianlah fungsi sesungguhnya dari
ibadah yang dikenal dengan zakat. Dan dalam kelanjutannya peranan organisasi dan kekuasaan
yang mengatur dan mengayomi masyarakat juga diikutsertakan, yaitu dengan adanya Amilin
dan Imam atau Khalifah yang aktif dalam menjalankan dan mengatur pelaksanaan tersebut.
Zakat bukanlah satu-satunya gambaran dari sistem yang ditampilkan oleh ajaran islam dalam
mewujudkan kesejahteraan umum bagi masyarakat. Namun, harus diakui bahwa zakat sangat
penting arti dan kedudukannya karena merupakan titik sentral dari sistem tersebut.
Pelaksanaan zakat pada awal sejarahnya ditangani sendiri oleh Rasulullah saw. dengan
mengirim para petugasnya untuk menarik zakat dari mereka yang ditetapkan sebagai pembayar
zakat, lalu dicatat, dikumpulkan, dirawat, dan akhirnya dibagikan kepada para penerima zakat.
Untuk melestarikan pelaksanaan seperti itu, Khalifah Abu Bakar terpaksa mengambil tindakan
keras karena adanya sementara pembangkangan-pembangkangan yang menolak menyerahkan
zakatnya kepada para petugas yang dikirim oleh Khalifah. Baru pada zaman Khalifah Utsman-
lah diadakan suatu kelonggaran dengan membebaskan para pembayar zakat untuk
melaksanakan penyerahan zakat kepada para penerima zakat, yaitu dalam dua jenis zakat: zakat
logam mulia (zakat al-naqdain) dan zakat perniagaan (zakat al-tijarah).[13]
Pada zaman kemerdekaan sekarang ini, Umat Islam Indonesia berupaya melalui saluran
ketentuan-ketentuan kenegaraan yang berlaku, berupaya meningkatkan pelaksanaan zakat
dengan memperjuangkan adanya undang-undang zakat. Namun hal itu belum berhasil.
Dalam pelaksanaan zakat terdapat tiga pihak: pihak pertama, yaitu pembayar zakat (muzakki);
pihak kedua, yaitu penerima zakat (mustahiq); dan pihak ketiga, yaitu penyalur zakat (qabidh).
Pelaksanaan pengelolaan zakat yang baik banyak bergantung pada pembinaan ketiga pihak yang
bersangkutan. Yang menyangkut pihak pertama, pembinaannya dititikberatkan pada upaya
meningkatkan kesadaran berzakat dan berinfak fi sabilillah, dan mendorong ke arah
meningkatnya jumlah pembayar zakat itu. Selanjutnya yang menyangkut pihak kedua
memerlukan kecermatan sehingga dapat terbina sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang
ditetapkan dalam fiqh.[14]
Pemanfaatan dana zakat yang dijabarkan dalam ajaran fiqh memberi petunjuk perlunya suatu
kebijaksanaan dan kecermatan, dimana perlu dipertimbangkan faktor-faktor pemerataan dan
penyamaan, kebutuhan yang nyata dari kelompok-kelompok penerima zakat, kemampuan
penggunaan dana zakat dari yang bersangkutan yang mengarah pada peningkatan
kesejahteraannya dan kebebasannya dari kemelaratan, sehingga pada gilirannya yang
bersangkutan tidak lagi menjadi penerima zakat, tetapi akan menjadi pembayar zakat. Hal-hal
ini dicontohkan bahwa jika penerima zakat tersebut tahu dan biasa berniaga maka kepadanya
diberikan modal usaha yang memungkinkan ia memperoleh keuntungan yang dapat memenuhi
kebutuhan pokoknya.
Gambaran yang diungkapkan di atas, mengantarkan kita kepada suatu pengertian bahwa
landasan yang ditetapkan dalam zakat dimaksudkan untuk menanggulangi kemelaratan itu
secara tuntas, dengan peningkatan kesejahteraan yang merata pada anggota masyarakat,
sehingga pada setiap tahunnya jumlah para penerima zakat (orang-orang yang melarat) akan
berkurang terus. Di lain pihak jumlah pembayar zakat akan bertambah banyak, sehingga jurang
dan jarak antara si kaya dan si miskin berangsur-angsur menjadi sempit, yang berarti mengarah
kepada terwujudnya suatu kehidupan yang berkeadilan sosial dalam masyarakat.



KESIMPULAN
Zakat yang berdefinisi sebagai hak tertentu yang diwajibkan Allah Subhanahu Wa Taala
terhadap kaum Muslimin yang diperuntukkan bagi mereka, yang dalam al-Quran disebut
kalangan fakir miskin dan mustahik lainnya, sebagai tanda syukur atas nikmat Allah Subhanahu
Wa Taala dan untuk mendekatkan diri kepadaNya, serta untuk membersihkan diri dan
hartanya, memiliki tujuan luhur. Selain sebagai sarana untuk membersihkan diri dan harta
benda, zakat memiliki misi luhur sebagai salah satu alat untuk menciptakan pemerataan
ekonomi.
Dalam pelaksanaannya, zakat yang baik banyak bergantung pada pembinaan kepada pihak yang
bersangkutan. pembinaan pada upaya peningkatan kesadaran berzakat dan berinfak fi sabilillah
pada pihak pembayar zakat, dan pembinaan yang cermat bagi penerima zakat. Sehingga misi
zakat sebagai alat pemerata bagi ekonomi umat islam mampu terwujudkan.





Ayat Alquran Tentang Zakat


S U R A T A L - B A Q A R A H

2:43. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

2:83. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu
menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak
yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,
dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali
sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

2:110. Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu
usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

2:177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan
tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-
malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-
orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-
orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

2:277. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan
sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

S U R A T A N - N I S A '

4:77. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah
tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah
diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik)
takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu
takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada
kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa
waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik
untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.

4:162. Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang
mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur'an), dan apa
yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan
zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan
Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.

S U R A T A L - M A A I D A H

5:12. Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami
angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya
Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta
beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah
pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya
kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka
barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan
yang lurus".

5:55. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada
Allah).

S U R A T A L - A N ' A A M

6:141. Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari
buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

S U R A T A L - A ' R A F

7:156. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami
kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada
siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan
rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang
yang beriman kepada ayat-ayat Kami".

S U R A T A T - T A U B A H

9:5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu
di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah
di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat,
maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.

9:11. Jika mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu)
adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang
mengetahui.

9:18. Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak
takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang
diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

9:58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika
mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi
sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.

9:60. Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)
budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam
perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana.

9:71. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan
mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

9:103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.

9:104. Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-
hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha
Penyayang?

S U R A T M A R Y A M

19:31. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

19:55. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia
adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.

S U R A T A L - A N B I Y A

21:73. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan
kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka
selalu menyembah,

S U R A T A L - H A J J

22:41. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi,
niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang
makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala
urusan.

22:78. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia
telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian
orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu
menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia,
maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia
adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

S U R A T A L - M U ' M I N U N

23:4. dan orang-orang yang menunaikan zakat,

S U R A T A N - N U U R

24:37. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari
mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.

24:56. Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya
kamu diberi rahmat.

S U R A T A N - N A M L

27:3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka
yakin akan adanya negeri akhirat.

S U R A T A R - R U U M

30:39. Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta
manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa
zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian)
itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

S U R A T L U Q M A N

31:4. (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan
adanya negeri akhirat.

S U R A T A L - A H Z A B

33:33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah
laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan
taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa
dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

S U R A T F U S H I L A T

41:7. (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya
(kehidupan) akhirat.

S U R A T A L - M U J A D I L A H

58:13. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah
sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah
memberi tobat kepadamu maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan taatlah
kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

S U R A T A L - M U Z A M M I L

73:20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang)
kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian
pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran
malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-
batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa
yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu
orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian
karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah
apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan
berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu
perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan
yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

S U R A T A L - B A Y Y I N A H

98:5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.