Anda di halaman 1dari 7

Alternative Energy of Geothermal Indonesia Archipelago

Naufal Nazhib (1101067)


Petroleum Engineering, STT MIGAS Balikpapan, 2014

ABSTRAK
Pada zaman ini krisis energi merupakan masalah yang cukup serius dan perlu penanganan lebih lanjut.
Diperlukan energi alternatif selain energi yang mengandalkan bahan bakar fosil. Energi alternatif tersebut
setidaknya harus memiliki sifat ramah lingkungan. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya krisis energi,
diantaranya cadangan minyak bumi menipis, pemanasan global, harga komoditas semakin tinggi, dan budaya
konsumtif semakin meluas. Orang seperti lupa bahwa selain minyak masih ada bahan bakar lain sebagai bahan
bakar. Sudah banyak terobosan baru sumber energi alternatif pengganti minyak tetapi pemerintah belum bisa
mengembangkan secara maksimal energi alternatif yang ada, salah satunya energi geothermal. Geothermal
merupakan salah satu pilihan tepat untuk dijadikan sumber energi alternatif yang cukup bisa menggantikan
minyak bumi terutama di daerah Indonesia yang mempunyai lima ratus gunung api, yang sekitar 130 diantaranya
masih aktif. Geothermal adalah energi panas bumi yang berasal dari uap air yang terpanaskan dalam perut bumi,
panasnya menyebabkan air yang mengenainya berubah menjadi uap bertekanan tinggi yang akhirnya muncul di
muka bumi. Geothermal dapat menghasilkan listrik sebesar 27.000 MW. Harga energi listrik geothermal cuma
30% dari energi listrik BBM. Lumayan murah dan terpenting merupakan energi yang ramah lingkungan.
Kata kunci: Geothermal, Energi Alternatif, Listrik.
PENDAHULUAN
Beberapa tahun terakhir ini kebutuhan akan energi
menjadi suatu persoalan yang krusial bagi dunia
terkhusus tentunya bagi Indonesia. Pertumbuhan
penduduk Indonesia yang semakin meningkat
disetiap tahunnya sejalan dengan peningkatan
kebutuhan energi, sedangkan dilain pihak sumber
cadangan minyak dunia semakin menipis serta
permasalahan emisi dari bahan bakar fosil
memberikan tekanan kepada setiap negara untuk
segera mencari alternatif energi yang terbaharukan.
Salah satu kebutuhan energi masyarakat yang
paling umum dibicarakan pada saat ini yaitu
mengenai kebutuhan akan energi listrik.
Pelaksanaan pemadaman bergilir oleh Perusahaan
Listrik Negara (PLN) untuk mengatasi melonjaknya
permintaan konsumsi listrik oleh masyarakat
ternyata justru tamabah meresahkan masyarakat.
PLN pun telah mengembangkan energi pembangkit
listriknya ditiap tahunnya, Menurut data ESDM
(2009), ditahun 1997-2005 terjadi kenaikan dari
21% menjadi 30% porsi listrik BBM, namun
diperkirakan akan mengalami penurunan hingga
5% porsi listrik BBM di tahun 2010 akibat lonjakan
harga minyak dunia yang mencapai 100 U$ per
barel. Pencarian energi alternatif pun digadang-
gadangkan oleh pemerintah, di awal 1990-an
mulailah berkembang pemanfaatan Pembangkit
Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan menggunakan
media batubara, namun kembali lagi permasalahan
emisi dari bahan bakar fosil dianggap justru
merusak bagi lingkungan.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan
bakar minyak pemerintah telah menerbitkan
Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 5
tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk
mengembangkan sumber energi alternatif sebagai
pengganti bahan bakar minyak. Kebijakan tersebut
menekankan pada sumber daya yang dapat
diperbaharui sebagai altenatif pengganti bahan
bakar minyak.
Pengembangan energi alternatif pun terus
digalakkan, ditahun 2009 banyak bermunculan
penemuan-penemuan mengenai energi alternatif
mulai dari bioenergi dari bahan tumbuhan hingga
blue energi dari air laut diberitakan oleh media,
meskipun sampai di akhir tahun ini masih belum
jelas pembuktian dan pengembangannya.
Banyaknya pilihan yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui
untuk kehidupan manusia memberikan jalan keluar
untuk sumber-sumber energi baru sebagai
pengganti energi lain yang tidak bisa diperbaharui.
Dalam hal ini adalah Geothermal Energi yang dapat
di perbaharui serta memiliki keterdapatan yang
cukup luas di Indonesia.
Sampai saat ini, pemanfaatan energi panas bumi di
Indonesia masih sangat terbatas bila dibandingkan
dengan potensi yang ada. Berbagai upaya dalam
rangka mempercepat pemanfaatan energi panas
bumi di Indonesia telah dilakukan oleh Pemerintah.
Salah satunya adalah melalui penyediaan informasi
mengenai keberadaan daerah prospek panas bumi di
Indonesia yang merupakan hasil dari inventarisasi,
survei, dan eksplorasi yang telah dilakukan oleh
Pemerintah, Pemerintah Daerah, ataupun Badan
Usaha.
SEBARAN POTENSI PANAS BUMI
INDONESIA
Indonesia secara geologis terletak pada pertemuan
tiga lempeng tektonik utama yaitu Lempeng Eropa-
Asia, India-Australia dan Pasifik yang berperan
dalam proses pembentukan gunung api di
Indonesia. Kondisi geologi ini memberikan
kontribusi nyata akan ketersediaan energi panas
bumi di Indonesia. Manifestasi panas bumi yang
berjumlah tidak kurang dari 244 lokasi tersebar di
P. Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Kepulauan
Nusa Tenggara, Maluku, P. Sulawesi, Halmahera
dan Irian Jaya, menunjukkan betapa besarnya
kekayaan energi panas bumi yang tersimpan di
dalamnya.
Letak wilayah Indonesia dalam jalur busur gunung
api (ring of fire) menjadikan Indonesia kaya akan
potensi panas bumi. Hal ini dikarenakan panas bumi
biasanya berasosiasi dengan vulkanisme. Daerah
panas bumi yang terkait dengan vulkanisme Kuarter
terdistribusi mulai dari pulau Weh, Sumatera, Jawa,
Bali, Nusa Tenggara, hingga ke kepulauan Maluku.
Panas bumi di daerah-daerah tersebut umumnya
mempunyai entalpi tinggi sehingga sangat baik
untuk pembangkitan listrik. Selain daerah panas
bumi yang berkaitan dengan vulkanisme, Indonesia
juga memiliki daerah panas bumi yang tidak
berasosiasi dengan vulkanisme, yaitu di Sulawesi
bagian tengah dan selatan, Kalimantan bagian barat,
dan Papua. Panas bumi pada daerah-daerah ini
umumnya mempunyai entalpi rendah hingga
menengah. Dari total 257 daerah panas bumi yang
telah diinventarisasi, sekitar 203 lokasi (80%)
berasosiasi dengan jalur gunung api Kuarter dan 54
lokasi (20%) lainya berada di luar jalur tersebut.

Gambar 1. Jalur Geothermal Indonesia
Kegiatan eksplorasi panasbumi di Indonesia baru
dilakukan secara luas pada tahun 1972. Direktorat
Vulkanologi dan Pertamina, dengan bantuan
Pemerintah Perancis dan New Zealand
melakukan survey pendahuluan di seluruh wilayah
Indonesia. Dari hasil survey dilaporkan bahwa di
Indonesia terdapat 217 prospek panasbumi, yaitu di
sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat
Sumatera, terus ke Pulau Jawa, Bali, Nusatenggara
dan kemudian membelok ke arah utara melalui
Maluku dan Sulawesi. Survey yang dilakukan
selanjutnya telah berhasil menemukan beberapa
daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat
menjadi 256 prospek, yaitu 84 prospek di
Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di
Sulawesi, 21 prospek di Nusatenggara, 3 prospek
di Irian, 15 prospek di Maluku dan 5 prospek di
Kalimantan.
PROSES TERJADINYA PANAS BUMI DI
INDONESIA
Terjadinya sumber energi panasbumi di Indonesia
serta karakteristiknya dijelaskan oleh Budihardi
(1998) sebagai berikut. Ada tiga lempengan yang
berinteraksi di Indonesia, yaitu lempeng Pasifik,
lempeng India-Australia dan lempeng Eurasia.
Tumbukan yang terjadi antara ketiga lempeng
tektonik tersebut telah memberikan peranan yang
sangat penting bagi terbentuknya sumber energi
panas bumi di Indonesia.

Gambar 2. Pergeseran Lempeng Tektonik
Tumbukan antara lempeng India-Australia di
sebelah selatan dan lempeng Eurasia di sebelah
utara mengasilkan zona penunjaman (subduksi)
di kedalaman 160-210 km di bawah Pulau Jawa-
Nusatenggara dan di kedalaman sekitar 100 km
(Rocks et. al, 1982) di bawah Pulau Sumatera. Hal
ini menyebabkan proses magmatisasi di bawah
Pulau Sumatera lebih dangkal dibandingkan dengan
di bawah Pulau Jawa atau Nusatenggara. Karena
perbedaan kedalaman jenis magma yang
dihasilkannya berbeda.

Gambar 3. Proses Tumbukan Lempeng
Pada kedalaman yang lebih besar jenis magma yang
dihasilkan akan lebih bersifat basa dan lebih cair
dengan kandungan gas magmatik yang lebih tinggi
sehingga menghasilkan erupsi gunung api yang
lebih kuat yang pada akhirnya akan menghasilkan
endapan vulkanik yang lebih tebal dan terhampar
luas. Oleh karena itu, reservoir panas bumi di
Pulau Jawa umumnya lebih dalam dan menempati
batuan volkanik, sedangkan reservoir panas bumi
di Sumatera terdapat di dalam batuan sedimen
dan ditemukan pada kedalaman yang lebih dangkal.
SISTEM PANAS BUMI YANG ADA DI
INDONESIA
Sistim panas bumi di Pulau Sumatera umumnya
berkaitan dengan kegiatan gunung api andesitis-
riolitis yang disebabkan oleh sumber magma yang
bersifat lebih asam dan lebih kental, sedangkan di
Pulau Jawa, Nusatenggara dan Sulawesi
umumnya berasosiasi dengan kegiatan vulkanik
bersifat andesitis-basaltis dengan sumber magma
yang lebih cair. Karakteristik geologi untuk daerah
panas bumi di ujung utara Pulau Sulawesi
memperlihatkan kesamaan karakteristik dengan di
Pulau Jawa.
Akibat dari sistim penunjaman yang berbeda,
tekanan atau kompresi yang dihasilkan oleh
tumbukan miring (oblique) antara lempeng India-
Australia dan lempeng Eurasia menghasilkan sesar
regional yang memanjang sepanjang Pulau
Sumatera yang merupakan sarana bagi kemunculan
sumber-sumber panas bumi yang berkaitan dengan
gunung-gunung api muda. Lebih lanjut dapat
disimpulkan bahwa sistim panas bumi di Pulau
Sumatera umumnya lebih dikontrol oleh sistim
patahan regional yang terkait dengan sistim sesar
Sumatera, sedangkan di Jawa sampai Sulawesi,
sistim panas buminya lebih dikontrol oleh sistim
pensesaran yang bersifat lokal dan oleh sistim
depresi kaldera yang terbentuk karena pemindahan
masa batuan bawah permukaan pada saat letusan
gunung api yang intensif dan ekstensif. Reservoir
panas bumi di Sumatera umumnya menempati
batuan sedimen yang telah mengalami beberapa kali
deformasi tektonik atau pensesaran setidak-
tidaknya sejak Tersier sampai Resen. Hal ini
menyebabkan terbentuknya porositas atau
permeabilitas sekunder pada batuan sedimen yang
dominan yang pada akhirnya menghasilkan
permeabilitas reservoir panas bumi yang besar,
lebih besar dibandingkan dengan permeabilitas
reservoir pada lapangan-lapangan panas bumi di
Pulau Jawa ataupun di Sulawesi.
Sistim panas bumi di Indonesia umumnya
merupakan sistim hidrothermal yang mempunyai
temperatur tinggi (>225
o
C), hanya beberapa
diantaranya yang mempunyai temperatur sedang
(150 225
o
C). Pada dasarnya sistim panas bumi
jenis hidrothermal terbentuk sebagai hasil
perpindahan panas dari suatu sumber panas ke
sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan
secara konveksi. Perpindahan panas secara
konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan
perpindahan panas secara konveksi terjadi karena
adanya kontak antara air dengan suatu sumber
panas. Perpindahan panas secara konveksi pada
dasarnya terjadi karena gaya apung (bouyancy). Air
karena gaya gravitasi selalu mempunyai
kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan
tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu
sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas
sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi dan
air menjadi lebih ringan.
Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas
bergerak ke atas dan air yang lebih dingin bergerak
turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau
arus konveksi. Adanya suatu sistim hidrothermal
di bawah permukaan sering kali ditunjukkan oleh
adanya manifestasi panasbumi di permukaan
(geothermal surface manifestation), seperti mata air
panas, kubangan lumpur panas (mud pools), geyser
dan manifestasi panasbumi lainnya, dimana
beberapa diantaranya, yaitu mata air panas, kolam
air panas sering dimanfaatkan oleh masyarakat
setempat untuk mandi, berendam, mencuci,
masak dll. Manifestasi panasbumi di permukaan
diperkirakan terjadi karena adanya perambatan
panas dari bawah permukaan atau karena adanya
rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida
panasbumi (uap dan air panas) mengalir ke
permukaan.
Pengalaman dari lapangan-lapangan panas bumi
yang telah dikembangkan di dunia maupun di
Indonesia menunjukkan bahwa sistem panas
bumi bertemperatur tinggi dan sedang, sangat
potensial bila diusahakan untuk pembangkit listrik.
Potensi sumber daya panas bumi Indonesia sangat
besar, yaitu sekitar 27500 MWe , sekitar 30 40%
potensi panas bumi dunia.
STATUS POTENSI PANAS BUMI
INDONESIA
Hasil inventarisasi panas bumi yang dilakukan oleh
Badan Geologi menunjukkan sampai saat ini
tercatat ada 257 daerah panas bumi dengan total
potensi mencapai 27 GW yang tersebar dari
propinsi Nangroe Aceh Darussalam hingga Irian
Jaya Barat. Data tersebut didapatkan dari berbagai
sumber, baik Pemerintah, Pemerintah Daerah,
maupun Badan Usaha atau Pengembang.
Dalam empat tahun terakhir, perkembangan potensi
panas bumi Indonesia adalah 27.483 MW pada
tahun 2005, 27.510 MW pada tahun 2006, 27.601
pada tahun 2007 dan 27.670 MW pada November
2008. Jumlah potensi tersebut terdiri dari potensi
panas bumi pada kelas sumber daya dan cadangan.
Kelas potensi menunjukkan tingkat kelengkapan
data yang tersedia. Potensi pada kelas sumber daya
didapatkan melalui perhitungan dengan
menggunakan metode perbandingan, yaitu dengan
membandingkan daya listrik di suatu daerah panas
bumi dengan daerah panas bumi lain yang telah
berproduksi dan mempunyai kemiripan
karakteristik. Adapun untuk potensi pada kelas
cadangan didapatkan melalui perhitungan dengan
menggunakan metode volumetris dengan
menggunakan beberapa asumsi, diantaranya asumsi
ketebalan reservoir.Asumsi ketebalan yang
digunakan untuk daerah panas bumi di pulau
Sumatera dan Jawa adalah 2 km sedangkan untuk
daerah di luar Sumatera dan Jawa adalah 1 km.
Dari hasil perhitungan tersebut, peningkatan status
kelas potensi selama tiga tahun berdasarkan hasil
kegiatan survei yang telah dilakukan Badan Geologi
adalah sebagai berikut. Pada tahun 2006 terdapat
peningkatan potensi pada kelas cadangan terduga
sebesar 232 MW, pada tahun 2007 sebesar 191
MW, dan pada tahun 2008 sebesar 94 MW.
Peningkatan status cadangan terduga pada tahun
2008 tersebut berasaldari daerah panas bumi
Massepe, Sulawesi Selatan, dan Tambu, Sulawesi
Tengah. Daerah panas bumi Masepe semula
mempunyai potensi pada kelas sumber daya
spekulatif sebesar 25 MW dan kini menjadi kelas
cadangan terduga 80 MW. Daerah panas bumi
Tambu, yang merupakan daerah panas bumi yang
baru teridentifikasi, mempunyai potensi pada kelas
cadangan terduga sebesar 14 MW. Adapun untuk
daerah panas bumi lainnya, seperti Cubadak,
Pararra, dan Gunung Endut, yang pada tahun 2008
ini dilakukan penyelidikan pendahuluan, belum
merubah jumlah dan kelas potensinya dikarenakan
kegiatan masih berlangsung.

Gambar 4. Peta Lokasi Wilayah Kerja Panasbumi
di Indonesia
Dari sisi penambahan lokasi daerah panas bumi
baru, terjadi penambahan pada tahun 2005, 2006,
dan 2008. Pada tahun 2005 terdapat penambahan
satu lokasi yaitu daerah panas bumi Lompio di
Sulawesi Tengah, pada tahun 2006 terdapat
penambahan tiga lokasi yaitu daerah panas bumi
Kepala Madan, Waeapo, dan Batabual dimana
ketiganya berada di propinsi Maluku. Pada tahun
2007 tidak ada penambahan lokasi baru dan pada
tahun 2008 terdapat penambahan satu lokasi baru,
yaitu daerah panas bumi Tambu, Sulawesi Tengah.

Dilihat dari status penyelidikannya, dari 257 daerah
panas bumi yang ada, 157 lokasi (61,3%) daerah
panas bumi masih pada tahap penyelidikan
pendahuluan atau inventarisasi dengan potensi pada
kelas sumber daya spekulatif atau hipotetis.

Daerah yang telah disurvei secara rinci melalui
survei permukaan dengan atau tanpa pengeboran
landaian suhu sebanyak 85 lokasi (33,20%). Daerah
yang telah dilakukan pengeboran eksplorasi atau
siap dikembangkan sebanyak 8 daerah (3,13%).
Daerah panas bumi yang telah dimanfaatkan untuk
pembangkitan listrik saat ini baru 7 lokasi atau
2,73% dengan kapasitas total terpasang 1042 MW.
Ketujuh daerah panas bumi yang telah berproduksi
tersebut adalah Sibayak (2 MW), G. Salak (375
MW), Kamojang (200 MW), Darajat (255 MW),
Wayang Windu (110 MW), Dieng (60 MW), dan
Lahendong (40 MW).

PANAS BUMI, ENERGI ALTERNATIF
YANG RAMAH LINGKUNGAN

Energi panas bumi merupakan energi yang ramah
lingkungan karena fluida panas bumi setelah energi
panas diubah menjadi energi listrik, fluida
dikembalikan ke bawah permukaan (reservoir)
melalui sumur injeksi. Penginjeksian air kedalam
reservoir merupakan suatu keharusan untuk
menjaga keseimbangan masa sehingga
memperlambat penurunan tekanan reservoir dan
mencegah terjadinya subsidence. Penginjeksian
kembali fluida panas bumi setelah fluida tersebut
dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, serta
adanya recharge (rembesan) air permukaan,
menjadikan energi panas bumi sebagai energi yang
berkelanjutan (sustainable energy).

Gambar 5. Geothermal Ramah Lingkungan
Emisi dari pembangkit listrik panasbumi sangat
rendah bila dibandingkan dengan minyak dan
batubara. Karena emisinya yang rendah, energi
panasbumi memiliki kesempatan untuk
memanfaatkan Clean Development Mechanism
(CDM) produk Kyoto Protocol. Mekanisme ini
menetapkan bahwa negara maju harus
mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK)
sebesar 5.2% terhadap emisi tahun 1990, dapat
melalui pembelian energi bersih dari negara
berkembang yang proyeknya dibangun diatas tahun
2000. Energi bersih tersebut termasuk panas bumi.

Lapangan panas bumi umumnya dikembangkan
secara bertahap. Untuk tahap awal dimana
ketidakpastian tentang karakterisasi reservoir masih
cukup tinggi, dibeberapa lapangan dipilih unit
pembangkit berkapasitas kecil. Unit pembangkit
digunakan untuk mempelajari karakteristik
reservoir dan sumur, serta kemungkinan terjadi
masalah teknis lainnya. Pada prinsipnya,
pengembangan lapangan panas bumi dilakukan
dengan sangat hati-hati selalu mempertimbangkan
aspek teknis, ekonomi dan lingkungan.

Untuk memasok uap ke pembangkit listrik
panasbumi perlu dilakukan pemboran sejumlah
sumur. Untuk menekan biaya dan efisiensi
pemakaian lahan, dari satu lokasi (well pad)
umumnya tidak hanya dibor satu sumur, tapi
beberapa sumur, yaitu dengan melakukan pemboran
miring (directional drilling). Keuntungan
menempatkan sumur dalam satu lokasi adalah akan
menghemat pemakaian lahan, menghemat waktu
untuk pemindahan menara bor (rig), menghemat
biaya jalan masuk dan biaya pemipaan.

Keunggulan lain dari geothermal energi adalah
dalam faktor kapasitasnya (capacity factor), yaitu
perbandingan antara beban rata-rata yang
dibangkitkan oleh pembangkit dalam suatu
perioda (average load generated in period) dengan
beban maksimum yang dapat dibangkitkan oleh
PLTP tersebut (maximum load). Faktor kapasitas
dari pembangkit listrik panas bumi rata-rata 95%,
jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan faktor
kapasitas dari pembangkit listrik yang
menggunakan batubara, yang besarnya hanya 60-
70% ((U.S Department of Energy).
PENUTUP
Dari data yang telah dikumpulkan, Indonesia
merupakan daerah yang dilalui oleh jalur gunung
api dunia yang menyebabkan Potensi Energi Panas
Bumi di Indonesia cukup besar dan merupakan
sumber energi yang terbarukan dan ramah
lingkungan.

Mengingat bahwa potensi energi panas bumi sangat
berlimpah sebagai energi primer untuk pembangkit
tenaga listrik, maka untuk mendorong
pemanfaatannya seoptimal mungkin, khususnya
bagi daerah-daerah yang memiliki potensi energi
tersebut, dapat dilakukannya dengan program
percepatan dan pengembangan pembangunan
PLTP.

Sampai dengan November 2008, total potensi panas
bumi Indonesia diperkirakan mencapai 27.670 MW
yang tersebar di 257 daerah prospek panas bumi.
Dari sisi jumlah potensi yang ada, dari tahun 2005
sampai dengan 2008 tidak mengalami banyak
perubahan, namun dari sisi peningkatan status kelas
potensi terjadi peningkatan dari kelas sumber daya
menjadi cadangan terduga rata-rata sebesar 170
MW per tahun.

Permasalahan yang dihadapi oleh Indonesia dalam
masalah pengembangan energi alternatif yang
berasal dari geotermal adalah besarnya dana yang
dibutuhkan dan waktu yang relative lama untuk
eksplorasi gheotermal itu sendiri. Selain itu
teknologi yang di gunakan untuk pemanfaatan
geotermal itu sendiri juga menjadi permasalahan.
Jadi permasalahan sumber energi geotermal adalah
pada pemanfaatannya yang masih belum maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Citrosiswoyo, Wahyudi, Geothermal Dapat
Mengurangi Kebutuhan Bahan Bakar Fosil
Dalam Penyediaan Listrik Negara.
Surabaya: Institut Teknologi Bandung, 2008
Kasbani, Dahlan, Suhanto Edi, Kesiapan Data
Potensi Panas Bumi Indonesia dalam
Mendukung Penyiapan Wilayah Kerja,
Kolokium Hasil Kegiatan Lapangan Pusat
Sumber Daya Geologi, 2007
Status Potensi Panas Bumi Indonesia Tahun 2005,
Pusat Sumber Daya Geologi, 2006 (tidak
dipublikasikan)
Status Potensi Panas Bumi Indonesia Tahun 2006,
Pusat Sumber Daya Geologi, 2007 (tidak
dipublikasikan)
Status Potensi Panas Bumi Indonesia Tahun 2007,
Pusat Sumber Daya Geologi, 2008 (tidak
dipublikasikan)
Suharno, Pengembangan Prospek Panas Bumi.
Bandar Lampung: Universitas Lampung,
2010
Sukhyar, R, Pengembangan Panas Bumi di
Indonesia: Menanti Pembuktian. Bandung:
Institut Teknologi Bandung, 2011
Suparno, Supriyanto, Energi Panas Bumi A
Present From The Heart Of The Earth.
Jakarta: Universitas Indonesia, 2009
Wahyuningsih, Rina, Potensi dan Wilayah Kerja
Pertambangan Panas Bumi, Kolokium
Hasil Kegiatan Lapangan Direktorat
Inventarisasi Sumber Daya Mineral, 2005