Anda di halaman 1dari 33

PENGUKURAN KECEPATAN UDARA DI DALAM TEROWONGAN

Tujuan : Memeriksa apakah pada setiap lokasi pada tambang bawah tanah telah mendapatkan ventilasi udara yang cukup sehingga dapat diketahui kesalahan
ventilasi atau untuk mendapatkan bahan yang diperlukan untuk perencanaan ventilasi atau perbaikan ventilasi
Kategori kecepatan udara
Kategori Kecepatan (m/s)
Rendah < 0,508
Menengah 0,508 3,81
Tinggi > 3,81

Kebutuhan udara dalam tambang

untuk mengendalikan kualitas udara 0,3 m / detik
pada tambang yang berbahaya gas adalah 0,76-1,52 m / detik
mengendalikan temperatur efektif dan kelembaban sebesar 0,5 2,5 m / detik
Kecepatan udara minimum pada front kerja pembuatan lubang bukaan 0,3 m/ detik





























Metode Forcing
jalan udara masuk. Mesin angin ini akan menekan udara ke dalam tambang, sehingga udara mengalir
melalui jalan-jalan udara di dalam tambang




Metode Exhaust
pada jalan keluar. Karena adanya hisapan mesin angin ini tekanan udara di jalur udara keluar akan
mengecil, sehingga udara dari luar pada jalur udara masuk yang mempunyai tekanan lebih besar akan mengalir ke dalam tambang. Setelah melalui
tempattempat kerja, maka udara akan menjadi kotor dan dihisap oleh kipas angin untuk dialirkan keluar

1. Lokasi pengukuran aliran meliputi :
a. setiap jalan masuk udara utama sedapat mungkin dekat dengan jalan masuk ke sumuran atau jalan udara keluar
b. Setiap tempat terbaginya udara sedapat mungkin dekat dengan persimpangan
c. Di tempat kerja yang pertama 50 m dari mulai masuknya udara dan di tempat kerja yang terakhir 50 m dari ujung keluarnya udara
d. Lokasi udara keluar sedapat mungkin dekat dengan persimpangan jalan keluar utama (psl 370 ayat 10)
3. Pengukuran ventilasi harus dilakukan oleh orang yang berkompeten (psl 370 ayat 18)
4. Pengawas operasional pertama harus melakukan pemeriksaan terhadap gas metana, kekurangan oksigen dan kondisi bahaya lain tidak lebih dari
tiga jam sebelum seseorang diperbolehkan masuk ke daerah yang telah ditinggalkan atau sedang tidak dikerjakan (psl 514)
8. Pada setiap tambang harus tersedia barometer (psl 523 ayat 7)
1. Volume udara bersih yang dialirkan dalam sistem ventilasi harus ; a. Diperhitungkan berdasarkan pekerja terbanyak pada suatu lokasi kerja dengan ketentuan
setiap orang tidak kurang dari 2 m3 permenit selama pekerjaan berlangsung, b. Ditambah sebanyak 3 m3 permenit untuk setiap tenaga kuda, apabila mesin
diesel dioperasikan. (psl 369 ayat 3)
2. Kecepatan udara ventilasi yang dialirkan ke tempat kerja harus sekurang-kurangnya 7 m/menit dan dapat dinaikkan sesuai kebutuhan pekerjaan (psl 370 ayat
6)
3. Jumlah dan mutu udara yang mengalir pada masing masing lokasi atau tempat kerja atau sistem ventilasi harus ditentukan dengan tenggat waktu yang tidak
melebihi satu bulan (psl 370 ayat 9)
1. KTT harus menjamin tersedianya aliran udara bersih yang cukup di tempat kerja dengan ketentuan volume oksigennya tidak kurang dari
19,5 % dan volume karbondioksida tidak lebih dari 0,5 % (psl 369 ayat 1 poin a)




Udara akan mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih rendah ke tempat yang bertemperatur lebih tinggi
Aliran udara bergerak dari tekanan yang lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah.
Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalur-jalur ventilasi yang memberikan tahanan yang lebih kecil dibandingkan dengan jalur bertahanan yang lebih
besar.
Aliran udara mengikuti hukum kuadrat yaitu hubungan antara quantity dan tekanan, bila quantity diperbesar dua kali lipat maka dibutuhkan tekanan empat kali
lipat.







KEBUTUHAN PERALATAN
VANE ANEMOMETER
STOPWATCH
TONGKAT SAMBUNGAN
METERAN
PERALATAN KESELAMATAN KERJA
A. KETENTUAN UMUM PENGUKURAN KECEPATAN UDARA
DENGAN VANE ANEMOMETER
1. Vane anemometer yang digunakan harus dikalibrasi sehingga dapat diketahui faktor koreksinya
2. Pengukuran dilakukan di lubang yang memiliki penampang dan luas relatif sama sepanjang +10 meter
3. Apabila terdapat persimpangan / belokan, pengukuran dilakukan minimal 5 meter sebelum persimpangan atau belokan tersebut
4. Pada saat pengukuran vane anemometer harus tegak lurus terhadap arah aliran udara
5. Pengukuran dilakukan pada aliran udara laminer, dilarang melakukan pengukuran pada aliran udara turbulen
6. Untuk setiap titik pengukuran dilakukan minimal 3 kali pengukuran, hasilnya dirata-ratakan.
B. PENGUKURAN KECEPATAN UDARA DENGAN VANE ANEMOMETER
1.Berdiri dengan posisi berada pada satu sisi terowongan. Di awal garis imajiner yang membagi terowongan menjadi lintasan pengukuran. Pegang
anemometer dengan satu tangan dan rentangkan sejauh mungkin dari badan pengukur.


2.Buka tombol pengunci, lihat waktu mulai di stopwatch. Gerakan anemometer mengkuti lintasan dengan stabil.

3.Balikan badan pada saat anemometer berada di titik tengah lintasan. Jaga agar anemometer tetap tegak lurus dari arah datangnya angin.

4.Kunci kembali tombol pengunci bila pengukuran sudah dilakukan sampai akhir lintasan. Baca skala yang ada di anemometer. Kalibrasi jika diperlukan



Kecepatan Angin
a. Anemometer
Untuk mengukur kecepatan angin di dalam pit bawah tanah biasanya menggunakan anemometer. Ini adalah kincir angin yang sangat ringan dan gesekannya
kecil, dimana baling-balingnya terbuat dari pelat aluminium dan membentuk sudut 42-44o terhadap arah poros. Untuk mengukur kecepatan angin, alat ini
diletakkan di dalam aliran udara untuk memutar baling-baling, dimana kecepatan angin atau jarak tempuh aliran udara per satuan waktu dapat diperoleh dari
jumlah putaran dalam waktu tertentu. Daerah kemampuan ukurnya adalah 0,5-10 m/s.
b. Tabung pitot
Pada tabung pitot terdapat lubang ukur tekanan total di depan dan lubang ukur tekanan statis di samping. Perbedaan kedua tekanan tersebut, yakni tekanan
dinamis, diukur dengan manometer tabung U, kemudian kecepatan angin diperoleh dari persamaan di bawah.
DP = gw2/2g (2.1)
Dimana :
DP = tekanan dinamis
w = kecepatan angin
g = berat jenis udara
g = percepatan gravitasi
Untuk medapatkan ketelitian dalamm pengukuran head aliran, manometer bisa didesain dalam bentuk miring, diisi cairan bukan air, yang bobot isinya lebih
rendah dari air. Dalam pelaksanaannya, tabung pitot dipasang dengan arah menghadap aliran udara dan pengaruh tekanan akibat pergerakan udara menekan
fluida di manometer. Perbedaan elevasi dari cairan di manometer memberikan ukuran head tekanan dari udara.
c. Pengukuran kecepatan angin rendah
Kecepatan angin di bawah 1 m/s sulit diukur. Untuk itu ada anemometer kawat panas yang memanfaatkan pelepasan panas dari kawat halus dan anemometer
termistor yang memanfaatkan koefisien temperatur tahanan semi konduktor.
Untuk mengukur kecepatan angin rendah secara sederhana, maka pada dua titik berjaral 5-10 m di dalam lorong angin diberi tanda titik start dan titik
pengukuran. Kemudian dengan stopwatch dilakukan pengukuran waktu yang diperlukan oleh asap untuk melewati dua tanda tersebut, hingga diperoleh
kecepatan angin. Karena asap akan menyebar selama mengalir, maka bagian tengah dari asap menyebar yang diukur.
d. Smoke Tube
Alat ini bekerja berdasarkan pengaruh mekanik dari pergerakan aliran udara dan sering dipakai dalam menentukan adanya aliran udara, arah aliran dan
perkiraan kecepatan untuk kategori kecepatan rendah.
Alat ini terdiri dari tabung plastic atau gelas yang berisi bubuk asap, seperti batu pumice yang jenih dengan timah antihidrous atau titanium klorida. Salah satu
ujungnya dihubungkan ke pompa karet kecil dan lainnya terbuka ke atmosfir (udara luar). Cara operasinya adalah dengan menekan pompa karet dan diarahkan
tegak lurus terhadap sumbu terowongan.

Jumlah Angin
Jumlah angin adalah perkalian kecepatan angin rata-rata dan luas penampang. Pada umumnya, kecepatan angin terbesar terjadi di sekitar pusat penampang
terowongan. Oleh karena itu, apabila mengukur kecepatan angin dengan anemometer, maka anemometer digerakkan sepanjang penampang dengan kecepatan
konstan untuk mengukur kecepatan angin rata-rata. Kemudian nilai tersebut dikalikan dengan luas penampang terowongan yang diukur untuk menghitung
jumlah angin. Untuk mengukur banyaknya udara yang lewat pada suatu pengukur per menit dapat dihitung dengan rumus :
Q = V . A
Dimana :
Q = Jumlah udara dalam (m3/menit)
V = Kecepatan udara (m/menit)
A = Luas penampang (m2)