Anda di halaman 1dari 10

LEGAL OPINION TENTANG KEWENANGAN KPK DALAM

MENANGANAI KASUS DJOKO SUSILO SEBAGAI KUASA PENGGUNA


ANGGARAN YANG DIKENAKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 20
TAHUN 2001 TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI

Kasus Posisi
Kasus dugaan tindak pidana korupsi Simulator SIM di Korlantas Polri
telah menyita perhatian publik. Masyarakat telah mengatemi keresahan akibat
adanya kisruh antara lembaga penegak hukum dalam menangani kasus tersebut.
Seharusnya sesuai dengan asas hukum acara pidana yaitu salah satunya adalah
proses peradilan yang cepat justru terhambat akibat adanya lembaga penegak
hukum yaitu Polri dan KPK yang saling tumpang tindih dalam melakukan
penyidikan kasus tersebut. Kinerja Polri dinilai tidak mampu untuk melakukan
penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut dikarenakan tidak ditetapkannya
Mantan Kakorlantas Poiri Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka padahal peranan
Djoko Susilo sebagai Kakorlantas Poiri pada saat itu paling bertanggungjewab
terhadap pelaksanaan proyek tersebut. Sedangkan KPK dinilai telah tepat untuk
melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut karena KPK telah
menetapkan Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka.
Kasus Simulator SIM tersebut dilaksanakan pada tahun anggaran 2011.
Proyek Simulator tersebut merupakan proyek di Korlantas Poiri, dimana Kepala
Korlantas Pohi pada saat itu yaitu Inspektur Jendral Djoko Susilo sebagai
konseptor proyek tersebut, sehingga Irjen Djoko Susilo merupakan penanggung
jawab dalam melaksanakan proyek tersebut karena sebagai kuasa pengguna
anggaran. Oteh karena nilai proyek tersebut diatas 100 (seratus) Miliyar Rupiah,
maka berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah proyek tersebut harus
mendapatkan persetujuan dari Kapolri. Dalam pelaksanaan proyek tersebut terjadi
dugaan tindak pidana korupsi dengan adanya penggelembungan nilai total proyek
Simulator SIM yang mengakibatkan kerugian Negara sekitar 100 (seratus) miliyar
Rupiah.
Isu Hukum dalam kasus ini adalah apakah Djoko Susilo selaku kuasa
pengguna anggaran bertanggung jawab terhadap proyek Simulator yang
merugikan keuangan Negara?
Berdasarkan isu hukum tersebut disusun pendapat hukum (legal opinion)
sebagai berikut:
I. Sumber Hukum
UU No. 31Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU
No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi Jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, atau Pasal 3 Undang-
undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-
undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.


II. Isu Hukum

Isu hukum, Apakah tindakan KPK yang telah melakukan penyidikan
terhadap Djoko Susilo dengan menerapkan pasal tindak pidana korupsi sudah
tepat?

III. Analisa Hukum
Tindakan hukum yang dapat ditekukan oleh KPK dalam hal Penyidikan
Tlndak Pidana Korupsi Yang Dilakukan Oleh Djoko Susilo.
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, yang
unsur-unsurnya adalah sebagai berikut:
1. Setiap orang;
2. Perbuatan Memperkaya Diri Sendiri atau Orang Lain atau suatu Korporasi;
3. Perbuatan tersebut Sifatnya Metawan Hukum;
4. Dapat Merugikan Keuangan Atau Perekonomian Negara;
5. Dalam Hal Tertentu Pelaku Tindak Pidana Korupsi Dapat Dijatuhi Pidana
Mati.
6. Secara bersama-sama sebagai orang yang melakukan, yang menyuruh
melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan itu.

1. Unsur ke 1: Setiap Orang
Pada dasarnya kata "setiap orang" menunjukkan kepada siapa
orangnya yang harus bertanggung jawab atas perbuatan/kejadian yang
didakwakan itu atau setidak-tidaknya mengenai siapa orangnya yang harus
dijadikan terdakwa, yang dalam kaitarmya dengan dakwaan penuntut umum,
maka subjek hukum yang dimaksud adalah orang perorangan dan/atau
korporasi. Bahwa subjek hukum orang perorangan di sini ditujukan bagi setiap
orang secara umum, termasuk dalam hal ini juga Pegawai Negeri Sipil (PNS),
sedangkan 'korporasi' adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang
terorganisir, baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum (vide
Pasal 1 ayat (1) dan ayat (3) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999),
setanjutnya "badan hokum dapat diartikan sebagai subjek hukum yang bukan
merupakan manusia, tetapi segala sesuatu yang berdasarkan tuntutan
kebutuhan masyarakat oteh hukum diakui sebagai pendukung hak dan
kewajiban. Unsur ini juga dmaksudkan untuk mengetahui tentang siapakah
yang dijadikan sebagai "terdakwa" dalam surat dakwaan penuntut umum. Hal
ini untuk menghindari error in persona dalam menentukan pelaku.
Unsur "setiap orang" yang sudah dijelaskan diatas, bahwa orang yang
dimaksud adalah bernama Irjen Djoko Susilo memenuhi pasal 2 ayat (1)
sebagai subyek hukum. Berdasarkan penjelasan diatas, maka unsurke-1 setiap
orang telah terpenuhi.
2. Unsur ke 2: Perbuatan Memperkaya Diri Sendiri atau Orang Lain atau suatu
Korporasi And! Hamzah, mengatakan bahwa: secara harfiah, memperkaya
artinya menjadikan bertambah kaya. Sedangkan kaya artinya mempunyai
banyak harta (uang atau sebagainya), demikian kamus umum bahasa
Indonesia buah tangan Poerwardaminta. Oapat disimpukan bahwa
memperkaya berarti menjadikan orang yang belum kaya menjadi kaya, atau
orang yang sudah kaya menjadi bertambah kaya. Sementara itu, menurut
penjelasan UU PTPK1971, yang dimaksud dengan unsur memperkaya dalam
pasal 1 angka 1 sub a itu ialah: memperkaya dirl sertdiri atau orang lain atau
suatu badan dalam ayat ini dapat dihubungkan dengan pasal 18 ayat (2) yang
member! kewajban kepada terdakwa untuk memberikan keterangan tentang
sumber kekayaan sedemikian rupa sehingga kekayaan yang tidak seimbang
dengan penghasilannya atau penambah kekayaan tersebut dapat dkjunakan
untuk memperkuat keterangan saksi lain bahwa telah melakukan tindak pklana
korupsi (pasal 37 ayat (4) UU PTPK 1999). Dengan demikian, penafsiran
istilah memperkaya antara yang harfiah dan yang dari pembuat undang-
undang hampir sama. Hal yang jelas, keduanya menunjukkan perubahan
kekayaan seseorang atau bertambah kekayaannya, diukur dari penghasilan
yang telah diperotehnya.
Dalam praktik peradilan menurut beberapa Yurisprudensi MARI
terhadap anasir perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi dikodisikan secara variatif seperti misalnya Putusan Mahkamah
Agung Rl No. 275 K/.Pid/1983 tanggal 15 Desember 1983 dktasarkan pada
bukti bahwa secara pasti terdakwa atau orang lain atau suatu korporasi
memperoteh sejumteh uang atau harta benda menggunakan perbuatan
melawan hukum sebagai sarananya atau dalam Putusan Mahkamah Agung Rl
No. 831/1987 tanggal 29 Juni 1989, yang menyebutkan bahwa unsur
menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan, cukup dinHai
dari kenyataan yang terjadi atau dihubungkan dengan periteku terdakwa sesuai
dengan kewenangan yang dtmUikinya, karena jabatan atau kedudukannya.
Kemudian, Irjen Djoko Susito yang pada saat itu setaku Kepate Kortantas
Polri bertanggung jawab dalam pelaksanaan proyek tersebut karena sebagai
kuasa pengguna anggaran, menunjuk Wakil Keoate Koriantas Polri yaitu
Didik Purnomo sebagai Pejabat Pembuat Komrtmen, dan AKP Teddy
Rusmawan sebagai Ketua Panitia Lelang Pengadaan Proyek Simulator SIM.
Ketua Panitia Lelang menetapkan PT. CMMA yang Direktur Utamanya
adalah Budi Santoso sebagai pemenang proyek tersebut, dan PT CMMA
menunjuk PT. ITI yang Direktur Utamanya adalah Sukotjo Bambang sebagai
sub kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut.
3. Unsur ke 3: Perbuatan Tersebut Sifatnya Melawan Hukum
Dalam aspek ini, pembentuk undang-undang mempertegas etemen
secara melawan hukum sebagai mencakup perbuatan meiawan hukum formal
(Formate wederrechteljkheid) dalam artian hukum tertuis saja dan melawan
hukum materiil (materiite wederrechtefijkheid) yakni meskipun perbuatan
tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan, tetapi apabila
perbuatan itu dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau
rtorma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, perbuatan tersebut dapat
dipidana. Tegasnya menurut pandangan doktrin ajaran sifat melawan hukum
materiH mengatakan bahwa disamping memenuhi syarat-syarat formal, yaitu
mencocoki semua unsur yang tercantum dalam perumusan deik, perbuatan itu
harus benar-benar dirasakan oteh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak
patut atau tercela atau berarti bahwa karena perbuatan itu, kepentingan hukum
yang difindungi oteh rumusan delik tertentu telah ditanggar. Sedangkan
mengenai ajaran sifat melawan hukum formal berarti semua bagian (tertulis
dalam undang-undang) dari rumusan delk telah terpenuhi atau tebih konkret
lag! bahwa menurut Van Hattum ditentukan bahwa menurut ajaran
wederrechtefijkheid dalam arti formal suatu perbuatan hanya dapat dipandang
sebagai bersifat Wedenrechtteijk apabila perbuatan tersebut memenuhi semua
unsur yang terdapat dalam rumusan suatu delk menurut undang-undang.
Sedangkan menurut ajaran wederrechtefiptheid dalam arti materifl, apakah
suatu perbuatan itu dapat dipandang sebagai bersifat wederrechteBjk atau
tidak, masalahnya bukan saja harus ditinjau sesuai dengan ketentuan -
ketentuan hukum yang tertulis, meteinkan juga harus ditinjau menurut asas-
asas hukum umum dari hukum yang tidak tertulis.
Bahwa menurut keterangan Sukogo Bambang proyek Simulator SIM
Koriantas yang dimenangkan oteh PT CMMA dilaksanakan dengan cara
rekayasa antara PT CMMA dengan Koriantas yang diketahui oteh Kakorlantas
pada saat itu yaitu Irjen Djoko Susilo sebagai penanggung jawab proyek
tersebut PT CMMA setaku peserta dalam lelang proyek Simulator SIM tidak
memiKki keahfian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk
menyediakan barang/jasa sebagaimana diatur dalam Pasal 19 huruf b
Peraturan Presiden Repubik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012 tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2012 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Sukijo Bambang juga mengaku tersebat dalam menyiapkan dokumen-
dokumen administrasi PT CMMA dalam memenuhi persyaratan dalam tender
proyek Simulator SIM. Sukotjo Bambang juga menyiapkan dokumen empat
perusahaan pesaing TP CMMA dalam tender yaitu PT Bentina Agung, PT
Digo Mitra Slogan, PT Dasma Pertiwi, dan PT Kolam Intan. Keempat
perusahaan tersebut hanya dipakai sebagai pendamping agar tender proyek
tersebut seolah-olah sesuai dengan prosedur, sehingga PT CMMA ditunjuk
sebagai pemenang tender oteh Ketua Pengadaan Simulator SIM AKBP Teddy
Rusmawan yang diketahui oteh Kakorlantas Irjen Djoko Susito.
Bahwa dengan adanya rekayasa terhadap peserta lelang tender dan
penetapan pemenang tender, maka perbuatan tersebut sebagai perbuatan
melawan hukum karena bertentangan dengan Pasal 19 huruf b Peraturan
Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan
Presiden Nomor 54 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Sehingga Irjen Djoko Susito telah melakukan perbuatan motowan hukum.
Berdasarfcan penjetesan tersebut, maka unsur ke-3 terpenuhi.

4. Unsur ke 4: Dapat Merugikan Keuangan atau Perekonomian Negara
Menurut Undang-Undang No. 31 Tahun 1999, yang dimaksud dengan
"keuangan negara" sebagaimana datem penjetesannya menentukan bahwa
Keuangan Negara adalah seturuh kekayan Negara datom bentuk apapun, yang
dipteahkan atau tktak dipisahkan, termasuk didatemnya segala bagian
kekayaan Negara dan segala hak dan kevyajiban yang timbul karena:
a) Berada dalam penguasaan, pengurusan, dan pertanggung jawaban pejabat
Negara, baik ditingkat pusat maupun daerah;
b) Berada dalam pengurusan dan pertanggung jawaban badan usaha miBk
Negara/Badan usaha milik Daerah, yayasan, badan hukum, dan perusahaan
yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian dengan
Negara.
Kemudian yang dimaksud dengan "meruglkan" adalah menjadi rugf
atau berkurang, sehingga yang dimaksud dengan "merugikan keuangan atau
perekonomian Negara
0
adalah menjadi ruginya atau berkurangnya keuangan
atau perekonomian Negara, datem ketentuan pasal 1 angka 1 UU No. 17 tahun
2003 tentang keuangan Negara maka pengertian Keuangan Negara adalah
semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala
sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dijadikan milik Negara
dengan peteksanaan hak dan kewajiban tersebut. Perekonomian Negara adalah
kehidupan perekonomian yang cfisusun sebagai usaha bersama berdasarkan
asas kekekiargaan ataupun usaha masyarakat secara mandiri yang berdasarkan
pada kebjjakan pemerintah, balk ditingkat pusat maupun di daerah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berbku bertujuan
memberikan manfaat, kemakmuran dan kesejahteraan kepada seluruh
kehidupan masyarakat Terhadap aspek ini selanjutnya dapatteh diajukan
pertanyaan bagaimanakah jika tersangka atau terdakwa telah mengembalikan
hasM korupsinya sehingga keuangan atau perekonomian Negara tidak
dirugikan, berdasarkan ketentuan pasal 4 UU No.31 tahun 1999 Jo. UU No. 20
tahun 2001 pengembalian keuangan Negara atau perekonomian Negara tidak
menghapus dipidananya peteku tindak pidana korupsi. Datem ketentuan pasal
2 ayat 1 UU No.31 tahun 1999 Jo. UU No. 20 tahun 2001 kata "dapat"
sebetum frasa merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara
menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan defik formal, yaitu
adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur
perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat.
5. Unsur ke 5: Dalam Hal Tertentu Peteku Tindak Pidana Korupsi Dapat Djatuhi
Pidana Mati Ketentuan aspek ini ditegaskan dalam pasal 2 ayat (2) UU No. 31
tahun 1999 Jo. UU No. 20 tahun 2001 yang merupakan pemberatan terhadap
peteku tindak pidana korupsi. Adapun dimaksud konteks keadaan tertentu
adateh apabite tindak pidana tersebut dtekukan terhadap dana-dana yang
diperuntukkan bag) penanggutengan keadaan bahaya, bencana atem nasional,
penanggutengan akibat kerusuhan sosiat yang meluas, penanggutengan (crisis
ekonomi dan moneter, dan penanggutengan tindak pidana korupsi.
6. Unsur ke 6: Sebagai Orang Yang Melakukan, Menyuruh Metekukan, atau
Turut Serta Metekukan bahwa oleh karena unsur ini bersifat atternatif, maka
apabite sateh satu sub unsur teteh terpenuhi, maka telah cukup untuk
menyatakan unsur tersebut terpenuhi.
Yang dimaksud dengan "orang yang mebkukan* adateh seseorang
yang metekukan semua unsur atau elemen dari peristiwa pidana secara
sendirian;
Pengertian "orang yang menyuruh metekukan" adateh adanya dua
orang atau tebih, yaitu yang menyuruh dan yang disuruh, namun yang disuruh
itu tetap dipandang dan dihukum sebagai orang yang metekukan sendiri
perbuatan pidana kecuafi datem hal yang diatur undang-undang;
Pengertian "orang yang turut metekukan" dtartikan sebagai bersama-
sama metekukan, dimana sedikitnya harus ada dua orang yang semuanya
metekukan perbuatan peteksanaan, jadi melakukan unsur atau etemen dari
peristiwa pidana itu, bukan hanya metekukan perbuatan persiapan saja atau
perbuatan yang sifatnya hanya menotong.
Dengan adanya rekayasa terhadap proses tefang proyek Simutetor SIM
yang dimenangkan oteh PT.CMMA ditekukan oteh Ketua Panitia Leteng
AKBP Teddy Rusmawan dan Budi Santoso sebagai direktur PT. CMMA,
dimana datem draft surat perjanjian antara Kortentas Polri dan PT. CMMA
adanya setelah nilai proyek yang tinggi. Berdasarkan surat keputusan yang
diterbitkan Kepate Kortentas Polri bernomor Kep/193/lV/2011 pada tanggal 8
April 2011 tentang penetapan pemenang dan petaksana proyek Simutetor
SIM, sebagai landasan hukum PT. CMMA menyetujui nitei proyek Simutetor
SIM dan pada akhirnya pengadaan Simutetor Sim berjaten.
Sehingga menurut Prof. Dr. Phifipus M. Hadjon, SH ahli dalam
Hukum Tata Negara mengenai jenjang keputusan, harus dibedakan situasi
sebelum UU No. 10 Tahun 2004 tentang tata cara pembentukan peraturan
perundang-undangan, dengan keadaan sesudahnya. Kalau keadaan undang-
undang sebelum tahun 2004 kita bingung karena keputusan itu harus kita
cermati ada keputusan yang sifatnya mengikat umum, ada keputusan yang
sifatnya konkrit individual yang kita kenal dengan keputusan tata usaha.
Negara, sehingga tata naskah di lingkungan pemerintah sangat variasi,
kateu yang mengikat umum nomenktetumya keputusan, yang sifatnya konkrit
sifatnya SK, sekarang tidak perlu repot lagi karena kalau mengikat umum itu
dengan peraturan.
Bahwa dari segala uraian diatas, "Orang yang menyuruh metekukan"
adateh adanya dua orang atau tebih, yaitu yang menyuruh dan yang disuruh,
namun yang disuruh itu tetap dipandang dan dihukum sebagai orang yang
metekukan sendiri perbuatan pidana kecuaf datem hal yang diatur undang-
undang;
Mengenai istilah keputusan, mengapa derrtkjan kateu peBmpahan itu
berarti pelimpahan wewenang sefcafgus tanggung jawab, ini membawa
konsekuensi pada tata naskah dinas seorang yang menerima detegasi ia
menijuat keputusan atas namanya sendtri dan tanggung jawab sendiri. Dengan
kewenangan keputusan ini bukan peimpahan tapi penugasan karena tanggung
jawab tetap pada yang memberi mandat jadi bedanya mengenai tanggung
jawab.
Kortantas dan PT. CMMA melakukan kerjasama berdasarkan
keputusan. Dari segata uraian di atas dengan adanya keputusan dari Pjoko
Susito sebagai konseptor proyek Simouiator SIM kepada PT, CMMA sebagai
petaksana proyek dalam adanya seisin nttei proyek yang tinggi, sehingga
unsur pasal 56 ayat (1) ke-1 telah terpenuht.
Berdasarkan uraian diatas, maka KPK dapat melakukan tindakan
hukum berupa menetapkan Pjoko Susilo sebagai tersangka karena telah
memenuhi unsur-unsur yang telah dijeteskan diatas. Penetapan tersangka atas
Djoko Susito tersebut didasarkan kepada alat bukti permulaan berupa
keterangan dart saksi-saksi yang diperiksa oteh KPK serta alat bukti surat
berupa Surat Perjanjian Jual Bel (SPJB) dan Surat Perintah Mulai Kerja
(SPMK) antara Korlantas dan PT CMMA, alat bukti petunjuk berupa faktur
pembelian yang diberikan oteh PT CMMA kepada PT ITI, Surat Perjanjian.

IV. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tindakan
hukum yang dapat dilakukan oteh KPK dalam hal penyidikan tindak pidana
korupsi yang dilakukan oteh Djoko Susilo adalah dengan menetapkan sebagai
tersangka berdasarkan dua alat bukti permuiaan karena telah memenuhi unsur-
unsur Pasal ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang
Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal
55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagai tindak pidana korupsi.

Legal Opinion
Disusun tanggal, 28 Mei 2013


Machrio Achmad Nurhatta, SH

Anda mungkin juga menyukai