Anda di halaman 1dari 18

Gizi Buruk

Kelompok 9
SYEBA YOCHEBED
RI RI N PURBA
ANASTASI A FEBYANA G
LUCYANA C
ERI KA AGUSTI NA KASDJ ONO
NI CKY SEPTIANA
HELMY LUBAN
ARGRACI A AMAHORU
CLARA CORI NSTA
J ACLY HOTMAN PARULI AN SARAGI
RAMOT BANAMTUAN
BRI AN PASA NABABAN






I dentifikasi kata-kata sulit
1. Flexio : suatu gerakan memperkecil sudut
2. Atrofi : mengecilnya otot sehingga mengurangi kemampuannya berkontraksi.
Jaringan yang terkena atrofi ini akan mengalami penurunan ukuran hingga
25%.
3. Turgor kulit : kelenturan kulit yang berkurang karena kekurangan cairan
(dehidrasi). Pada bagian kulit yang mengalami turgor ini, apabila bagian
kulitnya kita tekan atau cubit selama beberapa detik maka kulitnya tidak cepat
kembali pada keadaan semula.
4. Kurang gizi : kondisi tubuh yang mengalami kekurangan angka kecukupan
gizi.
5. Busung lapar : disebabkan karena kurang gizi sehingga terjadi penurunan berat
badan yang drastis dan menyebabkan perut dalam keadaan membuncit akibat
dari pembesaran pada hati.
6. Apatis : sikap diam, acuh tak acuh(tidak peduli terhadap lingkungan)
7. Gizi buruk : kurang gizi karena kekurangan asupan energi dan protein bagi
tubuh
8. Otot : bagian organ yang berkontraksi sehingga menimbulkan gerak
9. Lemah : kurang tenaga (sukar untuk melakukan aktivitas)
10. Balita : bayi dibawah umur 5 tahun ( 0 bulan 5 tahun).

Rumusan Masalah
1. Mengapa busung lapar lebih dominan diderita pada balita ?
2. Apa saja faktor penyebab gizi buruk di indonesia?
3. Apa gejala klinis lain dari busung lapar?
4. Bagaimana proses terjadinya atrofi pada otot kaki penderita busung lapar ?
5. Apakah fungsi zat gizi bagi tubuh?
6. Apa dampak gizi buruk?





Penguraian Masalah
1. Busung lapar lebih banyak diderita oleh balita karena pada saat masa
pertumbuhan, balita memerlukan asupan gizi yang cukup untuk membantu
proses tumbuh kembangnya, sedangkan pengetahuan orang tua mengenai
kecukupan gizi kurang sehingga menyebabkan banyak balita hanya diberikan
makan untuk kenyang tanpa memperhatikan pola makan gizi seimbang.
2. Faktor penyebab gizi buruk di Indonesia antara lain yaitu :
Angka kemiskinan yang rentan di Indonesia (laju penduduk tidak
seimbang dengan persediaan pangan.
Kurangnya pengetahuan atau informasi mengenai gizi seimbang
Letak geografis
Lingkungan : kebersihan lingkungan di rumah kurang, pembuangan
kotoran yang tidak baik atau tidak pada tempatnya.
Persediaan air bersih yang kurang
Cara memasak yang kurang benar
3. Gejala klinis dari busung lapar pada umumnya yaitu :
Perut membuncit
Lingkar lengan atas kurang dari 14 cm
Sedikit bahkan tidak ada lemak pada jaringan bawah kulit
Organ tubuh mengecil (salah satunya atrofi)
Laju pertumbuhan berkurang
Terjadi penonjolan pada tulang pipi, tulang hidung dan mata menjadi
cekung.

4. Fungsi zat gizi secara umum adalah sebagai zat pembangun, memberikan
energi untuk melakukan aktivitas, mempengaruhi tumbuh kembang dan
sebagai daya tahan (imunitas) bagi tubuh.
5. Dampak gizi buruk :
Kekebalan tubuh menuru n
Gangguan ginjal dan pankreas
Perubahan mental ( apatis)
Kematian



Hipotesa


Tujuan pembelajaran
Mengetahui :
1. Faktor penyebab gizi buruk
2. Dampak gizi buruk
3. Penanggulangan gizi buruk














GIZI BURUK


Penyebab Gizi Buruk
Gizi.net - Kemiskinan
Benar yang dikemukakan dalam tajuk Kompas (27/5) bahwa terjadinya busung lapar
atau gizi buruk adalah suatu proses, tidak tiba-tiba. Karena itu, apabila pemerintah dan
masyarakat mau mengerti dan mau bertindak, terjadinya busung lapar dan gizi buruk
dapat dicegah, yakni dengan mengetahui sebab langsung dan tidak langsung gizi
buruk. Kedua memantau (surveillance), dan lakukan tindakan pencegahan.

Penyebab langsung yang dialami oleh anak ada dua.
Pertama, bayi dan anak balita tidak mendapat makanan yang bergizi seimbang, dalam
hal ini air susu ibu, dan kalau sudah lebih dari enam bulan anak tidak mendapat
Makanan Pendamping (baca: bukan pengganti) ASI (MPASI) yang baik. MPASI yang
baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat
besi, vitamin A, asam folat, vitamin B, vitamin, dan mineral lainnya. Hanya keluarga
mampu dan berpendidikan yang mampu menyediakan MPASI yang baik ini, baik
memasak sendiri atau membeli. Karena itu, umumnya anak-anak mereka tumbuh
kembang dengan baik, sedangkan anak balita dari keluarga tidak mampu harus puas
dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi anak balita.

Kedua, pola pengasuhan anak. Suatu studi positive deviance mempelajari mengapa
dari sekian banyak bayi dan anak balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil
yang gizi buruk, padahal orangtua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini
diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap timbulnya gizi buruk. Anak
yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan dan
mengerti soal pentingnya ASI, posyandu, kebersihan, meskipun sama-sama miskin,
ternyata anaknya lebih sehat.

Unsur pendidikan wanita berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya
sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau tetangga bukan kerabat
yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya wanita yang meninggalkan
desa mencari kerja di kota, bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menjadi
penyebab gizi buruk.

Ketiga, pelayanan kesehatan, terutama imunisasi, penanganan diare dengan oralit,
tindakan cepat pada anak balita yang tidak naik berat badan, pendidikan dan
penyuluhan kesehatan dan gizi, dukungan pelayanan di posyandu, penyediaan air
bersih, kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Pelayanan kesehatan yang lemah dan
tidak memuaskan masyarakat terkait dengan kedua penyebab di atas.

mewabahnya berbagai penyakit menular , seperti demam berdarah, diare, polio, dan
malaria, secara hampir bersamaan waktu di mana-mana menggambarkan melemahnya
pelayanan kesehatan di daerah-daerah. Munculnya kasus gizi buruk logikanya juga
terkait dengan hal tersebut. Hasil jajak pendapat Kompas, "Memotret Dampak Polio",
menggambarkan makin meningkatnya persentase responden yang tidak puas terhadap
pelayanan kesehatan dalam 2-3 tahun terakhir (2003-2005) (Kompas, 14/5, halaman
44).
Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Data dari
Indonesia dan di negara lain menunjukkan adanya hubungan antara kurang gizi dan
kemiskinan. Proporsi anak yang gizi kurang dan gizi buruk berbanding terbalik
dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentase anak
yang kekurangan gizi; makin tinggi pendapatan, makin kecil persentasenya.

Hubungannya bersifat timbal balik. Kurang gizi berpotensi sebagai penyebab
kemiskinan melalui rendahnya pendidikan dan produktivitas. Sebaliknya, kemiskinan
menyebabkan anak tidak mendapat makanan bergizi yang cukup sehingga kurang gizi
dan seterusnya.

Kemiskinan merupakan penghambat keluarga untuk memperoleh akses terhadap
ketiga faktor penyebab di atas. Kemiskinan tidak memungkinkan anak balita
mendapat MPASI yang baik dan benar.


Kemiskinan dan pendidikan rendah membuat anak tidak memperoleh pengasuhan
yang baik sehingga anak tidak memperoleh ASI, misalnya. Kemiskinan juga
menghambat anak memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai.

Soekirman Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor)
Sumber:http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0506/09/opini/1799285.htm
09 Juni 2005

www.scribd.com
Gizi Buruk Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Tumbuh adalah bertambah besarnya ukuran sel atau organ tubuh sedangkan
perkembangan adalah bertambahnya fungsi organ tubuh. Pertumbuhan dan
perkembangan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Balita yang mengalami gizi buruk akan terjadi hambatan pertumbuhan, baik
pertumbuhan fisik maupun pertumbuhan mental.
Pertumbuhan fisik:
Dan karena pertumbuhan fisik berkaitan dengan pertumbuhan otak, juga akan
membawa akibat tidak dapat berkembangnya potensi intelegensi anak secara optimal.
Anak yang kekurangan gizi pada usia balita akan tumbuh pendek, dan mengalami
gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak yang berpengaruh pada rendahnya
tingkat kecerdasan, karena tumbuh kembang otak 80% terjadi pada masa dalam
kandungan sampai usia 2 tahun. Dampak lain dari gizi kurang adalah menurunnya
produktivitas yang diperkirakan antara 20-30% (Depkes RI, 2004).

Bagi anak yg berusia dibawah 2 tahun, air susu ibu hingga saat ini merupakan
makanan terbaik. Ditinjau dari tinggi badan, sebanyak 25,8 persen anak balita
Indonesiapendek (SKRT 2004). Ukuran tubuh yang pendek ini merupakan
tandakurang gizi yang berkepanjangan. Lebih jauh, kekurangan gizi
dapatmempengaruhi perkembangan otak anak. Padahal, otak tumbuh selamamasa
balita. Fase cepat tumbuh otak berlangsung mulai dari janin usia 30minggu sampai
bayi 18 bulan

Anak kelihatan pendek, kurus dibandingkan teman-temannya sebaya yang lebih sehat.
Ketika memasuki usia sekolah tidak bisa berprestasi menonjol karena kecerdasannya
terganggu rabun senja dan penderita gizi buruk lebih rentan terhadap penyakit
terutama penyakit infeksi.
Terlebih masa golden period (0-3 tahun), tidak hanya menyebabkan terjadinya
gangguan perkembangan fisik, tetapi juga perkembangan mental dan intelektual sang
anak akan mengalami gangguan serius. Efeknya terlihat dari rendahnya tingkat
kecerdasan, rentan terhadap penyakit, gangguan dalam pemusatan perhatian,
lambatnya perkembangan kemampuan kognitif, dan berbagai gangguan lain yang
berdampak pada rendahnya kualitas manusia secara umum.

Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap
perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan
gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah
penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori,
gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja
merosotnya prestasi akademik di sekolah.
Dampaknya, tubuh balita akan mengalami keseimbangan negatif; berat badan akan
kurang dari berat badan ideal. Dampak gizi buruk yang terparah pada balita adalah
marasmus. Keadaaan ini ditandai dengan kulit kering, tipis, tidak lentur, serta mudah
berkerut. Rambut tipis, jarang, kering, tanpa kilap normal, dan mudah dicabut tanpa
menyisakan rasa sakit. Penderita kelihatan apatis, meskipun biasanya masih sadar, dan
menampakkan gurat kecemasan. Tanda-tanda itu, disokong dengan lekukan pada pipi
dan cekungan di mata, menjelaskan gambaran wajah seperti orang tua.

Sementara kekurangan gizi pada masa remaja dan usia sekolah, mengakibatkan
gangguan pertumbuhan, produktivitas menurun, dan tingkat kecerdasan yang rendah.
Itu artinya, anak menjadi bodoh, lamban bergerak, dan sangat sulit meraih prestasi.
Generasi muda demikian, jelas akan menghambat sekaligus menjadi beban
pembangunan. Jika dibiarkan, 20 tahun ke depan akan muncul satu rantai generasi
yang hilang.
Masa ini adalah masa yang paling pada fase perkembangan otak balita, yang juga
disebut sebagai brain growth spurt atau masa emas pertumbuhan otak. Itu sebabnya
masa ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kecerdasan balita.
Menariknya, meski ketika dilahirkan balita membawa lebih dari satu milyar saraf
dalam otak, namun saraf-saraf tersebut masih belum saling terhubungkan. Baru pada
perkembangan berikutnya sel-sel saraf ini berhubungan satu dengan yang lainnya.

Bayangkan saja, satu sel otak dapat mampu membuat sekitar 15.000 hubungan dengan
sel otak lainnya. Hingga balita berusia sekitar 3 tahun, di dalam otaknya sudah
terbentuk jaringan sel otak yang sangat rumit. Pada masa ini telah terbentuk jutaan
serabut saraf (sinaps) yang terdapat baik di otak kiri maupun kanan. Serabut saraf
inilah yang kemudian akan menghasilkan kemampuan tertentu pada balita.
Kemampuan ini akan menjadi dasar berbagai kemampuan balita.






Dampak gizi buruk pada anak terutama balita
1. Pertumbuhan badan dan perkembangan mental anak sampai dewasa terhambat.
2. Mudah terkena penyakit ispa, diare, dan yang lebih sering terjadi.
3. Bisa menyebabkan kematian bila tidak dirawat secara intensif.
Ada tiga tipe gizi buruk, antara lain:
1.Marasmus:
Anak sangat kurus, wajah seperti orang tua, cengeng dan rewel, rambut tipis, jarang,
kusam, berubah warna, kulit keriput karena lemak di bawah kulit berkurang, iga
gambang, bokong baggy pant, perut cekung, wajah bulat sembab.
2. Kwarsiorkor:
rewel, apatis, rambut tipis, warna jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, kedua
punggung kaki bengkak, bercak merah kehitaman, di tungkai atau bokong.
Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan system, karena kondisi gizi
buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi ( kekurangan) asupan mikro/ makro
nutien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. Gizi buruk akan memporak porandakan
system pertahanan tubuh terhadap microorganisme maupun pertahanan mekanik
sehingga mudah sekali terkena infeksi.
Secara garis besar, dalam kondisi akut, gizi buruk bisa mengancam jiwa karena
berberbagai disfungsi yang di alami, ancaman yang timbul antara lain hipotermi (
mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis, hipoglikemia (kadar gula dalam
darah yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit penting serta cairan
tubuh.
Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance anak, akibat
kondisi 'stunting' (postur tubuh kecil pendek) yang diakibatkannya. Yang lebih
memprihatinkan lagi, perkembangan anak pun terganggu. Efek malnutrisi terhadap
perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya, lamanya dan
waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Jika kondisi gizi buruk terjadi pada masa golden
period perkembangan otak (0-3 tahun) , dapat dibayangkan jika otak tidak dapat
berkembang sebagaimana anak yang sehat, dan kondisi ini akan irreversible ( sulit
untuk dapat pulih kembali).
Dampak terhadap pertumbuhan otak ini menjadi vital karena otak adalah salah satu
'aset' yang vital bagi anak untuk dapat menjadi manusia yang berkualitas di kemudian
hari.
Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap
perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan
gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah
penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori,
gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja
merosotnya prestasi akademik di sekolah. Kurang Gizi berpotensi menjadi penyebab
kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Tidak
heran jika gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan
mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah
generasi penerus bangsa

Tanda-Tanda Busung Lapar (Gizi Buruk)
Tanda-tanda busung lapar (Gizi Buruk) berbeda-beda menurut jenisnya.
Untuk jenis Kwashiorkor tanda-tanda yang terjadi adalah sebagai berikut:
Bengkak pada seluruh tubuh terutama pada punggung kaki dan bila ditekan
akan meninggalkan bekas seperti lubang
Otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran LILA-nya
kurang dari 14 cm
Timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna
menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
Tidak nafsu makan
Rambutnya menipis berwarna merah seperti rambut jagung dan mudah dicabut
tanpa menimbulkan rasa sakit
Wajah anak membulat dan sembab (moon face)
Cengeng/rewel dan apatis
Sering disertai infeksi, anemia dan diare
Sedangkan untuk jenis Maramus tanda-tandanya :
Anak sangat kurus tampak tulang terbungkus kulit.
Tulang rusuk menonjol
Wajahnya seperti orang tua (monkey face)
Kulit keriput (jaringan lemak sangat sedikit sampai tidak ada )
Cengeng/rewel
Perut cekung sering disertai diare kronik (terus menerus) atau susah buang air
kecil
Tanda-tanda Marasmic Kwashiorkor adalah:
Campuran dari beberapa tanda tanda Kwashiorkor dan maramus disertai
pembengkakan yang tidak menyolok.







Dampak Busung Lapar (Gizi Buruk)
Dampak dari gizi buruk (busung lapar) pada anak bukan hanya tubuh yang kurus
tetapi lebih dari itu. Gizi buruk dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kecerdasan
anak, rabun senja dan penderita gizi buruk lebih rentan terhadap penyakit terutama
penyakit infeksi.
Bila ditemukan anak dengan gizi buruk harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk
pengobatan lebih lanjut.


















Penyebab Gizi Buruk
Gizi buruk dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar
penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau
anak sering sakit / terkena infeksi.
:: Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain :
1. Tidak tersedianya makanan secara adekuat Tidak tersedinya makanan yang adekuat
terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam,
perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat
akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya
makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya
hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan
penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding
terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi
persentasi anak yang kekurangan gizi.
2. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang Makanan alamiah terbaik
bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan
Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan
berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup
mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam
folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat
disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan
yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak
memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
3. Pola makan yang salah Suatu studi "positive deviance" mempelajari mengapa dari
sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi
buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui
pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh
ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal
pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin,
ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas
pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh
nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya
perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI,
kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.
Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak
benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan
memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini,
berpantang pada makanan tertentu ( misalnya tidak memberikan anak anak daging,
telur, santan dll) , hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan
lemak, protein maupun kalori yang cukup.

Menjadi penyebab terpenting kedua kekurangan gizi, apalagi di negara negara
terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan
kebersihan / personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit
tertentu, khususnya infeksi kronik seperti misalnya tuberculosis (TBC) masih sangat
tinggi. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar
diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi
kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan
dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi.

Tanda dan gejala klinis kurang gizi
Written by Akhmadi Published in: Kesehatan
Masyarakat mengenal kurang gizi sebagai busung lapar, meskipun dalam kesehatan
dibedakan dalam kwashiorkor, maramus, kwashiorkor-marasmus atau hanya kurang
gizi. Namun apapun istilahnya hal yang penting adalah penanganan yang optimal.
Masalah gizi terjadi karena syarat pemberian makanan tidak terpenuhi, baik kurang
maupun lebih dari pada yang dibutuhkan untuk umur, jenis kelamin dan kondisi-
kondisi tertentu seperti banyaknya aktifitas, suhu lingkungan, maka akan terjadi
keadaan malnutrisi. Penyimpangan yang sangat dari pada diet yang adekuat dalam
waktu yang lama akan menimbulkan keadaan kekurangan yang lambat laun
memperlihatkan gejala-gejala klinisnya.
Permasalahan gizi dapat terjadi karena masukan yang berlebihan yang terus-menerus
menimbulkan keadaan gizi lebih (overnutrition). Keadaan gizi kurang
(undernutrition) maupun gizi lebih (overnutrition) tidak selalu disebabkan oleh
masukan makanan yang tidak cukup atau berlebihan. Keadaan demikian dapat juga
terjadi oleh kelainan dalam tubuh sendiri seperti ganggguan pencernaan, absorbsi,
utilisasi, ekskresi dan sebagainya (Pudjiadi, 2000).











Berikut ini beberapa tanda dan gejala gangguan gizi
Gejala klinis Kurang Energi Protein (KEP) yaitu: Pertumbuhan linier mengurang atau
terhenti; Kenaikan berat badan berkurang, terhenti, dan ada kalanya beratnya bahkan
menurun; Ukuran lingkar lengan atas menurun; Maturasi tulang terhambat; Rasio
berat terhadap tinggi normal atau menurun; Tebal lipat kulit normal atau
mengurang; Anemia ringan; Aktivitas dan perhatian berkurang; Kelainan kulit
maupun rambut jarang ditemukan, tetapi adakalanya dijumpai.
Gejala klinis Kwashiorkor, yaitu: Penampilannya seperti anak yang gemuk (suger
baby)bilamana dietnya mengandung cukup energy disamping kekurangan protein,
walaupun dibagian tubuh lainnya, terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi;
Pertumbuhan terganggu, berat badan dibawah 80% dari baku Harvard persentil 50
walaupun terdapat edema, begitu pula tinggi badannya terutama jika KEP sudah
berlangsung lama; Perubahan mental sangat mencolok, banyak menangis, dan
stadium lanjut mereka sangat apatis; Edema baik yang ringan maupun yang berat
ditemukan pada sebagian besar penderita kwashiorkor; Atrofi otot sehingga penderita
tampak selalu lemah dan berbaring terus menerus; Gejala saluran pencernaan seperti
anoreksia yang berat penderita menolak segala macam makanan, hingga adakalanya
makanan hanya dapat diberikan melalui sonde lambung. Diare tampak pada sebagian
besar penderita, dengan feses yang cair dan banyak mengandung asam laktat karena
mengurangnya produksi lactase dan enzim disaharidase lain; rambut yang mudah
dicabut sedangkan pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala
yang kusam, kering, halus, jarang, dan berubah warnanya.rambut alispun
menunjukkan perubahan demikian, akan tetapi tidak demikian dengan rambut
matanya yang justru memanjang; Perubahan kulit yang khas bagi penderita
kwashiorkor. Kelainan kulit berupa titik-titik merah yang menyerupai petechia,
berpadu dengan bercak yang lambat laun menghitam. Setelah bercak hitam
mengelupas, maka terdapat bagian-bagian merah yang dikelilingi oleh batas-batas
yang masih hitam; Hati biasanya membesar;Anemia ringan.
Gejala klinis Marasmus yaitu:
Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Anak terlihat
sangat kurus (vel over been) karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-ototnya;
Perubahan mental yaitu anak mudah menangis, juga setelah mendapat makan oleh
sebab masih merasa lapar. Kesadaran yang menurun (apatis)terdapat pada penderita
marasmus yang berat; Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan
kehilangan banyak lemak dibawah kulit dan otot-ototnya; Walaupun tidak kering
seperti penderita kwashiorkor,adakalanya tampak rambut yang kering, tipis dan
mudah rontok; Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang; Otot-otot
atrofis, hingga tulang-tulang terlihat lebih jelas; Penderita marasmus lebih sering
menderita diare atau konstipasi; seringkali terdapat bradikardi; tekanan darah lebih
rendah dibandingkan dengan anak sehat seumur; frekuensi pernafasan yang
mengurang; ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah.

Kwashiorkor Marasmik
Penyakit kwashiorkor marasmik memperlihatkan gejala campuran antara penyakit
marasmus dan kwashiorkor. Makanan sehari-harinya tidak cukup mengandung protein
dan juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping
menurunnya berat badan dibawah 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda
kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan
biokimiawi terlihat pula (Pudjiadi, 2000)
Dikutip dari: http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/400-tanda-dan-gejala-klinis-
kurang-gizi.html














PENANGGULANGAN GIZI BURUK
1. Upaya pemenuhan persediaan pangan nasional terutama melalui peningkatan
produksi beraneka ragam pangan.
2. Peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga yang diarahkan pada pemberdayaan
keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga.
3. Peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan dimulai dari
tingkat pos pelayanan terpadu, hingga puskesmas dan rumah sakit
4. Peningkatan upaya keamanan pangan dan gizi melalui sistem kewaspadaan
pangan dan gizi.
5. Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi dibidang pangan dan gizi
masyarakat.
6. Peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai produk pangan
yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas.
7. Interfensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan tambahan.
8. Peningkatan kesehatan lingkungan
9. Upaya pengawasan makanan dan minuman
10. Upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi