Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

SKIZOFRENIA KATATONIK















Oleh:

SUHENDRA RHOMADONA
NPM. 10310376


Supervisor :

dr. Ricky W Tarigan, M.Ked (KJ), Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA



FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014



ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ..................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1
1.2. Tujuan Masalah ......................................................................................... 3

BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Definisi ...................................................................................................... 4
2.2. Klasifikasi ................................................................................................ 6
2.3. Etiologi ..................................................................................................... 7
2.4. Manifestasi Klinis .................................................................................... 9
2.5. Diagnosis ................................................................................................... 10
2.6. Penatalaksanaan ........................................................................................ 17
2.7. Prognosis .................................................................................................. 26

BAB III. PENUTUP ........................................................................................ 27

DAFTAR PUSTAKA









iii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang atas berkat dan rahmat-Nya
yang selalu menyertai penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
judul Skizofrenia Residual serta shalawat dan salam tercurah untuk Nabi
Muhammad SAW beserta keluarganya, dan semoga kita adalah pengikut sunah-sunah
beliau.
Dalam penulisan makalah ini, penulis telah banyak mendapat bimbingan,
pengarahan, saran-saran dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini dengan kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. dr. Ricky W Tarigan, M.Ked (KJ), Sp.KJ, selaku supervisor makalah ini,
2. Prof. dr. H. M. Joesoef Simbolon, Sp.KJ (K), selaku pembimbing BST yang
telah memberikan masukan dan saran yang membangun dalam penyusunan
makalah ini,
3. Para dokter spesialis, dokter PPDS, dan dokter umum di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan masukan dan saran yang
membangun dalam penyusunan makalah ini.
4. Teman-teman Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa di RSJ Provinsi
Sumatera Utara.


iv

Makalah ini disusun untuk melengkapi persyaratan kepaniteraan klinik di
bagian Psikiatri FK Unimal. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis
mengharapkan saran dan masukan yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini dikemudian hari. Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi
dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Medan, Juni 2014
Penulis


Suhendra Rhomadona

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Menurut WHO, sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna,
baik fisik, mental, dan sosial, tidak hanya bebas dari pnetakit dan kelemahan.
Sakit adalah keadaan tidak normal atau tidak sehat, secara sederhana , sakit
atau dapat pula disebut penyakit merupakan suatu bentuk kehidupan atau
keadaan diluar batas normal. Tolak ukur yang paling mudah untuk
menentukan kondisi penyakit adalah jika terjadi perubahan dari nilai-nilai
rata-rata normal yang telah ditetapkan( Asmadi, 2008).
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang
dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan
lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut
perubahan pada segi fisik, psikologis dan sosial-budaya. Skizofrenia pada
lansia angka prevalensinya sekitar 1% dari kelompok lanjut usia (Depkes,
1992).
Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995
menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75%
Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja
dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh
2



stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan
lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.
Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting
karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering
dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami
gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog
Menurut WHO, masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia
sudah menjadi masalah yang sangat serius, paling tidak ada satu dari empat
didunia mengalami masalah mental, dengan perkiraan sekitar 450 juta orang
didunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Sementara itu menurut
Direktur WHO wilayah Asia Tenggara Dr. Uton Muctar Rafei mengatakan
bahwasanya hampir satu pertiga dari penduduk wilayah ini pernah mengalami
gangguan Neuropsikiatri, di Indonesia diperkirakan sebesar 264 dari 1000
anggota rumah tangga menderita gangguan kesehatan jiwa.
Jumlah penduduk yang mengalami gangguan jiwa di Indonesia
diperkirakan terus meningkat. Jumlah populasi penduduk Indonesia yang
terkena gangguan jiwa berat mencapai 1-3 persen di antara total penduduk.
Jika penduduk Indonesia diasumsikan sekitar 200 juta, tiga persen dari jumlah
itu adalah 6 juta orang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, menurut
RISKESDAS, 2007 (Windyasih, 2008).


3



1.2 Tujuan Masalah
1. Mengetahui konsep Skizofrenia Residual meliputi:
a. Definisi
b. Etiologi
c. Tanda dan gejala
d. Patofisiologi
e. Manifestasi klinis
f. Komplikasi
g. Prognosis

3. Mengetahui penanganan pasien dengan Skizofrenia Residual meliputi :
pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.








4

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Skizofrenia adalah suau bentuk psikosa fungsional dengan gangguan
utama pada proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses
pikir, afek/emosi, kamauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama
karena waham dan halusinasi; asoisasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi,
afek dan emosi perilaku bizar. skizofrenia merupakan bentuk psikosa yang
banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat
diidentifikasi secara jelas. Kraepelin menyebut gangguan ini sebagai demensia
precox.
\ PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia III) menempatkan skizofrenia pada kode F20. Skizofrenia termasuk
dalam kelompok psikosis fungsional. Psikosis fungsional merupakan penyakit
mental secara fungsional yang nonorganis sifatnya, hingga terjadi kepecahan
kepribadian yang ditandai oleh desintegrasi kepribadian dan maladjustment sosial
yang berat, tidak mampu mengadakan hubungan sosial dengan dunia luar, bahkan
sering terputus sama sekali denga realitas hidup (lalu menjadi ketidakmampuan
secara sosial). Hilanglah rasa tanggung jawabnya dan terdapat gangguan pada
fungsi intelektualnya. Jika perilakunya tersebut menjadi begitu abnormal dan
5



irrasional, sehingga dianggap bisa membahayakan orang lain dan dirinya sendiri,
yang secara hukum disebut gila.

Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak
belumdiketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis) yang luas,
serta sejumlah akibatyang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik,
dan sosial budaya. Padaumumnya ditandai oleh penyimpangan yang
foundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang
tidak wajar (inapropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaranyang jernih dan
kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemundurankognitif
tertentu dapat berkembang kemudian.
Skizofrenia katatonik, dengan gejala utama pada psikomotor seperti stupor
maupun gaduh gelisah katatonik.
Menurut Maramis (2004) skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia,
timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering
didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau
stupor katatonik.
a. Stupor katatonik
Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali
terhadap lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Secara tiba-tiba atau
6



perlahan-lahan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan
bergerak.
b. Gaduh gelisah katatonik
Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik, tapi tidak
disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan
dari luar.
2.2 klasifikasi
Skizofrenia simplex : dengan gejala utama kedangkalan emosi dan
kemunduran kemauan
Skizofrenia hebefrenik, gejala utama gangguan proses fikir gangguan
kemauan dan depersonalisasi. Banyak terdapat waham dan halusinasi
Skizofrenia katatonik, dengan gejala utama pada psikomotor seperti stupor
maupun gaduh gelisah katatonik.
Skizofrenia paranoid, degnan gejala utama kecurigaan yang ekstrim diserttai
waham kejar atau kebesaran
episoda schizoprenia akut (lir schizoprenia), adalah kondisi akut mendadak
yang disertai dengan perubahan kesadaran, kesadaran mungkin berkabut.
Skizofrenia psiko-afektif, yaitu adanya gejala utama Skizofrenia yang
menonjol dengan disertai gejala depresi atau mania
7



Skizofrenia residual adalah schizoprenia dengnan gejala-gejala primernya dan
muncul setelah beberapa kali serangan Skizofrenia.
2.3 Etiologi
a. Komplikasi kelahiran
Bayi mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia,
hipoksiaperinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap
skizofrenia.
b. Infeksi
Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat akibat infeksi virus
pernah dilaporkan pada orang orang dengan skizofrenia.Penelitian
mengatakan bahwa terpapar infeksi virus pada trimester kedua kehamilan
akan meningkatkan seseorang menjadi skizofrenia.
c. HipotesisDopamin
Dopamin merupakan neurotransmitter pertama yang berkontribusi
terhadap gejala skizofrenia. Hampir semua obat antipsikotik baik
tipikal maupun antipikal menyekat reseptor dopamin D2, dengan terhalang
nya transmisi nyal di system dopaminergik maka gejala psikotik diredakan.
Berdasarkan pengamatan diatas dikemukakan bahwa gejala gejala skizofrenia
disebabkan olehhi per aktivitas sistem dopaminergik.
d. Hipotesis Serotonin
8



Gaddum, wooleydan show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic acid
diethylamide(LSD) yaitu suatu zat yang bersifat campuran agonis/antagonis
reseptor 5-HT. Temyata zat ini menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang
normal. Kemungkinan serotonin berperan pada skizofrenia kembali mengemuka
karena penetitian obat antipsikotik atipikal clozapine yang temyata mempunyai
afinitas terhadap reseptor serotonin 5-HT~lebih tinggi dibandingkan reseptor
dopamin D2.57
e. StrukturOtak
Daerah otak yang mendapatkan banyak perhatian adalah system
limbik dan ganglia basalis.Otak pada penderita skizofrenia terlihat sedikit berbeda
dengan orang normal,ventrikel teilihat melebar, penurunan massa abu abu dan
beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktifitas
metabolik. Pemeriksaan mikroskopis dan jaringan otak ditemukan sedikit
perubahan dalam distribusi sel otak yang timbul pada masa prenatal karena tidak
ditemukannya sel glia, biasa timbul pada trauma otak setelah lahir. Genetika Para
ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% dari populasi
umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama

seperti orang tua, kakak laki laki atau pun perempuan dengan skizofrenia.
Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat kedua seperti paman, bibi, kakek /
nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar
9



identik 40%sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia sedangkan kembar
dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu
orang tua 12%
2.4. GEJALA
(Menurut Bleuler)
I. Gejala Primer
1. Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling
menonjol adalah gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi
2. Gangguan afek emosi
- Terjadi kedangkalan afek-emosi
- Paramimi dan paratimi (incongruity of affect / inadekuat)
- Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan
- Emosi berlebihan
- Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik
3. Gangguan kemauan
- Terjadi kelemahan kemauan
- Perilaku negativisme atas permintaan
- Otomatisme : merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain
4. Gejala psikomotor
- Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme
- Stereotipi
10



- Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama
- Echolalia dan echopraxia
5. Autisme.
II. Gejala Sekunder
1. Waham
2. Halusinasi

2.5 Diagnosis
Pedoman Diagnostik PPDGJ III
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang
jelas):
thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau
bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun
isinya sama, namun kualitasnya berbeda atau
thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke
dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar diririnya (withdrawl)
thought broadcasting= isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang
lain atau umum mengetahuinya;
11



delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar atau delusion of passivitiy = waham tentang
dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang
dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke
pikiran, tindakan atau pengindraan khusus.
delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat;
Halusinasi auditorik:suara halusinasi yang berkomentar secara terus
menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien pasein
di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis
suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh. Waham-
waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa
(misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk
asing dan dunia lain) Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus
selalu ada secara jelas: halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja,
apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah
berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide
berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari
selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus; arus pikiran
12



yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang
berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan
stupor; gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang
jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya
yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan
oleh depresi oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama
kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
(prodromal)
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan
penarikan diri secara sosial.
Menurut Bleuler diagnosa skizofrenia sudah boleh dibuat bila terdapat
ganguan-gangguan primer dan disharmoni pada unsur-unsur kepribadian serta
diperkuat dengan adanya gejala-gejala sekunder. Sedangkan Schneider
13



berpendapat bahwa diagnosa sudah boleh dibuat bila terdapat satu dari gejala-
gejala halusinasi pendengaran dan satu gejala gangguan batas ego dengan
syarat bahwa kesadaran penderita tidak menurun (PPDGJ III).
Setionegoro (Maramis, 2004) membuat diagnosa skizofrenia dengan
memperhatikan gejala-gejala pada tiga buah koordinat. Koordinat pertama
(organobiologik) yaitu, autisme, gangguan afek dan emosi, gangguan asosiasi
(proses berfikir), ambivalensi (gangguan kemauan) serta gangguan aktifitas
maupun gangguan konsentrasi. Koordinat kedua (psikologik) yaitu, gangguan
pada cara berfikir yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan keperibadian,
dengan memperhatikan perkembangan ego, sistematik motivasi dan
psikodinamika dalam interaksi dengan lingkungan. Koordinat ketiga (sosial)
yaitu, gangguan pada kehidupan sosial penderita yang diperhatikan secara
fenomenologik.
Schneider (Kaplan dan Sadock, 2003) memberikan kriteria diagnosa
berdasarkan urutan gejala sebagai berikut:
Gejala urutan pertama:
Pikiran yang dapat digeser
Suara-suara yang berdebat atau berdiskusi atau keduanya
Suara-suara yang mengkomentari
Pengalaman pasivitas somatik
Penarikan pikiran dan pengalaman pikiran yang dipengaruhi lainnya
14



Siar pikiran
Persepsi bersifat waham
Semua pengalaman lain yang melibatkan kemauan, membuat afek dan
membuat impuls.
Gejala urutan kedua:
Gangguan persepsi lain
Gagasan bersifat waham yang tiba-tiba
Kebingungan
Perubahan mood disforik dan euforik
Perasaan kemiskinan emosional
dan beberapa lainya juga
Langfeldt (Kaplan dan Sadock, 2003) memberikan kriteria diagnosis
sebagai berikut:
Kriteria gejala Petunjuk penting ke arah diagnosis skizofrenia adalah
(jika tidak ada tanda gangguan kongnitif, infeksi, atau intoksikasi yang dapat
ditunjukkan).
Perubahan keperibadian yang bermanifestasi sebagai penumpulan
emosional dengan jenis khusus diikuti oleh hilangnya inisiatif dan perilaku
yang berubah dan seringkali aneh (khususnya pada hebefrenik, perubahan
adalah karakteristik dan petunjuk utama ke arah diagnosis).
Pada tipe katatonik, riwayat penyakit dan tanda tipikal dalam periode
kegelisahan dan stupor (dengan negativisme, wajah berminyak, katalepsi,
15



gejala vegetatif, dll). Pada psikosis paranoid, gejala penting pembelahan
keperibadian (atau gejala depersonalisasi) dan hilangnya perasaan realitas
(gejala derealisasi) atau waham primer.
Kriteria perjalanan penyakit
Keputusan akhir tentang diagnosis tidak dapat dibuat sebelum
periode follow-up selama sekurangnya lima tahun telah menunjukkan
perjalanan penyakit yang jangka panjang.
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya :
(a) stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan
dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):
(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan,
yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap
semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah
yang berlawanan);
16



(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan
upaya menggerakkan dirinya);
(f) Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak
dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
(g) Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara
otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-
kalimat.
Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari
gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai
diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting
untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik
untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak,
gangguan metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi
pada gangguan afektif.
Selama stupor atau kegembiraan katatonik, pasien skizofrenik
memerlukan pengawasan yang ketat untuk menghindari pasien melukai
dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis mungkin ddiperlukan karena
adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang disebabkan oleh
dirinya sendiri



17



2.6.penatalaksanaan
Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek
klinis) yang sama pada dosis ekuivalen, perbedaan utama pada efek sekunder
(efek samping: sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). Pemilihan jenis anti
psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping
obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekuivalen. Apabila obat
antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah
optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat anti
psikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis
ekuivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis
sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka
dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih
menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat anti psikosis atipikal.
Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala
negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek
samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik
yang beredar di pasaran dapat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu anti
psikotik generasi pertama (APG I) dan anti psikotik generasi ke dua (APG ll).
APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal,
nigostriatal dan tuberoin fundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala
positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa:
18



gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin
yang akan menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan
memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan
efek samping anti kolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguan
miksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi
bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg di antaranya
adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide.
Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan
gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi
rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg di antaranya adalah chlorpromazine dan
thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah,
hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin
antagonis (SDA) atau anti psikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi
serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang
menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif
mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah
clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispendon, (Luana, 2007).
Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:
Onset efek primer (efek klinis): 2-4 minggu. Onset efek sekunder (efek
samping): 2-6 jam. Waktu paruh: 12-24 jam (pemberian 1-2x per hari)
19



Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar) sehingga tidak
mengganggu kualitas hidup penderita.
Obat anti psikosis long acting: fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau
haloperidol decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2-4ininggu. Berguna untuk pasien
yang tidak/sulit minum obat, dan untuk terapi pemeliharaan.
a. Cara atau lama pemberian
Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap
2-3 hari sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi
setiap 2 minggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian
dipertahankan 8-12 minggu (stabilisasi). Diturunkan setiap 2 minggu (dosis
maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi drug
holidaytapering off (dosis diturunkan 2-4 minggu) lalu dihentikan.
Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multi episode, terapi
pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat
kekambuhan 2,5 sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian obat anti psikosis
sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala
psikosis reda sama sekali. Pada penghentian mendadak dapat timbul
gejala cholinergic rebound gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing
dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian antikolinergikt
20



seperti injeksi sulfas atropin 0,25 mg (secara intra muskular), tablet
trihexyphenidyl 3x2 mg/hari, (Luana, 2007). 1-2/hari/minggu) setelah itu
b. Psikososial
Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain:
Psikoterapi individual
Terapi suportif
Sosial skill training
Terapi okupasi
Terapi kognitif dan perilaku (CBT)
Psikoterapi kelompok
Psikoterapi keluarga
Manajemen kasus
Assertive Community Treatment (ACT)

c. Kekambuhan skizofrenia
Kekambuhan gangguan jiwa pisikotik adalah munculnya kembali
gejala-gejala pisikotik yang nyata. Angka kekambuhan secara positif
hubungan dengan beberapa kali masuk Rumah Sakit (RS), lamanya dan
perjalanan penyakit. Penderita-penderita yang kambuh biasanya sebelum
keluar dari RS mempunyai karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan
memiliki sedikit keterampilan sosial, (Porkony dkk, 1993).
21



Porkony dkk (1993), melaporkan bahwa 49% penderita Skizofrenia
mengalami rawat ulang setelah follow up selama 1 tahun, sedangkan
penderita-penderita non Skizofrenia hanya 28% . Solomon dkk (1994),
melaporkan bahwa dalam waktu 6 bulan pasca rawat didapatkan 30%-40%
penderita mengalami kekambuhan, sedangkan setelah 1 tahun pasca rawat
40%-50% penderita mengalami kekambuhan, dari setelah 3-5 tahun pasca
rawat didapatkan 65%-75% penderita mengalami kekambuhan, (Porkony dkk,
1993).
Penderita dengan skizofrenia dapat mengalami remisi dan
kekambuhan, mereka dapat dalam waktu yang lama tidak muncul gejala,
maka skizofrenia sering disebut dengan penyakit kronik, karena itu perlu
mendapatkan perhatian medis yang sama, seperti juga individu-individu yang
menderita penyakit kronik lainnya seperti hipertensi dan diabetes mellitus.
Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara
lain tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur,
menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan
dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan yang berat
yang membuat stress, (cybermed.cbn.net.id).
Empat faktor penyebab penderita kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit,
menurut Sullinger, 1988:
22



a. Penderita
Sudah umum diketahui bahwa penderita yang gagal memakan obat
secara teratur mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan 25% sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit
tidak memakan obat secara teratur (Appleton, 1982, dikutip oleh Sullinger,
1988).
b. Dokter
Makan obat yang teratur dapat mengurangi kekambuhan, namun
pemakaian obat neuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek
samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu hubungan sosial seperti
gerakan yang tidak terkontrol.

c. Penanggung jawab penderita
Setelah penderita pulang ke rumah maka pihak rumah sakit tetap bertanggung
jawab atas program adaptasi penderita di rumah.
d. Keluarga
Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi
emosi yang tinggi (bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan
menyalahkan), hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi
23



emosi yang tinggi dan 17% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi
keluarga yang rendah. Selain itu penderita juga mudah dipengaruhi oleh stres
yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan
(kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga penderita dan keluarga dapat
mengatasi dan mengurangi stres. Cara terapi bisanya: mengumpulkan semua
anggota keluarga dan memberi kesempatan menyampaikan perasaan-perasaannya.
Memberi kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan baru kepada penderita
ganguan jiwa, memfasilitasi untuk menemukan situasi dan pengalaman baru bagi
penderita.
Beberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan
keluarganya yaitu: menjadi ragu-ragu dan serba takut, tidak nafsu makan, sukar
konsentrasi, sulit tidur, depresi, tidak ada minat serta menarik diri, (Iyus, 2007).
Untuk dapat hidup dalam masyarakat, maka penderita skizofrenia perlu
mempelajari kembali keterampilan sosial. Penderita-penderita yang baru keluar
dari RS memerlukan pelayanan dari masyarakat agar mereka dapat menyesuaikan
diri dan menyatu dalam masyarakat. Tingginya angka rehospitalisasi merupakan
tanda kegagalan dalam sistem masyarakat. Penderita kronis di dalam masyarakat
membutuhkan dukungan hidup yang dapat dipertahankan untuk waktu yang
lama.Beberapa penderita tetap dapat mengalami kekambuhan meskipun mereka
mendapatkan pelayanan pasca rawat (after care services) pada instansi-instansi.
Lin dkk (1982) melaporkan bahwa 36% dari penderita skizofrenia yang tinggal di
24



panti setelah perawatan di RS tetap mengalami kekambuhan, (Porkony dkk,
1993).
Didapatkan 12 fungsi hubungan sosial dan 2 fase kebutuhan sosial yang
penting selama periode penyembuhan (Breier & Strauss, 1994). Fungsi-fungsi
yang menolong dalam hubungan sosial tersebut adalah 1) ventilasi, 2) tes realita,
untuk menilai kemampuan penderita di dalam membedakan realita, 3) macam
dukungan sosial terutama keluarga, 4) persetujuan dan perpaduan sosial terutama
keluarga dan lingkungan dekatnya, di mana penderita ingin diterima kembali
dalam lingkungan sosialnya dan mengharapkan hubungan dengan orang-orang
yang dikenalnya sebelum ia masuk RS, 6) motivasi, 7) pembentukan, di mana
penderita mencontoh tingkah laku orang lain untuk meningkatkan fungsi
sosialnya, 8) pengawasan gejala, 9) pemecahan masalah, 10) pengertian yang
empatik, 11) saling memberi dan menerima, 12) insight.
Fase kebutuhan sosial adalah 1) fase penyembuhan, penderita sangat
membutuhkan perhatian dari keluarganya karena tidak dapat mandiri, fungsi
hubungan sosial yang digunakan di sini adalah macam dukungan dan ventilasi, 2)
fase pembentukan kembali, fungsi hubungan sosial yang digunakan adalah
motivasi, saling memberi dan menerima, pengawasan gejala. 12 fungsi hubungan
sosial dan 2 fase kebutuhan sosial yang penting selama periode penyembuhan
(Breier dan Strauss, 1994) tersebut sangat erat kaitannya dengan dukungan sosial
keluarga.
25



Pemberian obat antipsikotik dapat mengurangi resiko kekambuhan, tetapi
obat-obatan tersebut tidak dapat mengajarkan tentang kehidupan dan
keterampilan meskipun dapat memperbaiki kualitas hidup penderita melalui
penekanan gejala-gejala. Pengajaran kehidupan dan keterampilan sosial hanya
mungkin didapat penderita melalui dukungan sosial keluarga. Dari penelitian
didapat bahwa 45% penderita skizofrenia yang mendapat pengobatan antipsikotik
akan mengalami kekambuhan dalam waktu 1 tahun pasca rawat, sedangkan
penderita yang diberi plasebo 70% kambuh, (Kaplan dan Sadock , 2003).
Hal ini berarti pengobatan skizofrenia harus dilakukan dengan cara
interaksi multidimensional. Gejala-gejala dan ketidakmampuan sosial serta
ketidakmampuan individual yang di tunjukkan merupakan hasil dari benturan-
benturan yang dialami dalam kehidupan. Angka kekambuhan dalam waktu 1
tahun pasca rawat pada penderita skizofrenia yang mendapat latihan keterampilan
sosial adalah 20%, penderita yang mendapat pengobatan antipsikotik 41% dan
19% penderita yang pada keluarga diberikan psikoedukasi. Penderita yang
mendapat latihan keterampilan sosial, obat antipsikotik dan psikoedukasi keluarga
dilaporkan tidak ada yang kambuh, (Kaplan dan Sadock, 2003).



26



2.7 Prognosis
Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada,
kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi.
Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan
dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada metode yang
dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi
ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : usia tua, faktor
pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial / pekerjaan pramorbid baik, gejala
depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan mood, sistem pendukung baik
dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset
muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk,
autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem
pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam
3 tahun, sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang
buruk, (Luana, 2007).







27

BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia, timbulnya pertama kali antara
umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres emosional.
Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik. Untuk menentukan
diagnosis dari skizofrenia residual, PPDGJ III dapat digunakan sebagai pedoman.
Menurut PPDGJ III pedoman diagnostik untuk Skizofrenia Katatonik (F20.2) adalah
persyaratan berikut harus dipenuhi semua)
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
(a) stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam
gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):
(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan
mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua
perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang berlawanan);
28



(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya
menggerakkan dirinya);
(f) Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan tubuh
dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
(g) Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis
terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari
gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh
bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting untuk diperhatikan
bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Gejala
katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan
obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.













DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, HI, Sadock BJ, Greb JA, Skizofrenia, dalam : Sinopsis Psikiatri, ed 7,
vol 1, Binarupa aksara, 1997

2. Gejala-gejala skizofrenia katatonik. Diunduh dari:
http://www.scribd.com/doc/136650849/Skizofrenia-katatonik tanggal 1 juni
2014

3. Maslim,Dr.Rusdi.SpKJ.2001.Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas
PPDGJ III.Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya