Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PEBDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit kronis. Stress psikologis dapat
timbul pada saat seseorang menerima diagnosa DM. Hal ini diungkapkan
oleh Watkins (2000) yang menyatakan bahwa penderita DM seringkali mengalami
kesulitan untuk menerima diagnosa DM, terutama ketika ia mengetahui bahwa
hidupnya diatur oleh diet makanan dan obat-obatan. Biasanya penderita berada pada
tahap kritis yang ditandai oleh ketidak seimbangan fisik, sosial, dan psikologis. Hal ini
berlanjut menjadi perasaan gelisah, takut, cemas dan depresi yang dialami oleh
penderita.
Diabetes milletus merupakan penyakit kronik yang tidak bisa sembuh
sempurna, perlu perawatan seumur hidup, dapat menimbulkan perubahan psikologik
yang mendalam pada pasien, juga pada keluarga dan kelompok sosialnya. Pada pasien
yang telah didiagnosa menderita DM, timbul perasaan yang tidak adekuat lagi, dapat
berlebihan, timbul ketakutan, mereka menuntut untuk dirawat orang lain dengan
berlebihan, dan sikap bermusuhan yang kemungkinan dapat terjadi. Hal ini juga bisa
berlanjut menjadi perasaan depresi pada pasien.
Depresi merupakan kejadian yang umum terjadi pada penderita DM (Watkins,
2000). Hasil penelitian menyebutkan bahwa prevalensi depresi pada penderita DM
cukup tinggi yaitu sekitar 25 persen. Pada kasus DM, konsekuensi fisik dari ganngguan
kronis (seperti komplikasi) menempatkan suatu batasan, larangan terhadap kehidupan
individu. Hal ini bertujuan untuk mengendalikan kadar gula darah tetap normal dan
mencegah terjadinya konsekuensi yang tidak diinginkan, selain itu pengendalian DM
tersebut dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama dan kompleks (ASDI, 2000).
Hal ini memungkinkan pasien mengubah gaya hidupnya sehari-hari sehingga dapat
mempengaruhi pandangan pasien terhadap dirinya. Kondisi ini dapat menimbulkan
berbagai perubahan atau gangguan baik fisik maupun psikologis bagi penderita.
Penderita DM harus tergantung pada terapi pengelolaan DM. Hal tersebut dapat
menimbulkan permasalahan misalnya pasien merasa lemah karena harus membatasi
diet.
2

Diabetes mellitus dibandingkan dengan penderita non Diabetes mellitus
mempunyai kecenderungan 2kali lebih mudah mengalami trombosis serebral, 25kali
terjadi buta, 2kali terjadi penyakit jantung koroner, 17kali terjadi gagal ginjal kronik,
dan 50 kali menderita ulkus diabetika. Komplikasi menahun Diabetes mellitus di
Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung koroner 20,5%, ulkus diabetika
15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1%
Penderita Diabetes mellitus berisiko 50 kali terjadi komplikasi ulkus diabetika.
Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit yang disebabkan
adanya makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati. Ulkus
diabetika mudah berkembang menjadi infeksi karena masuknya kuman atau bakteri
dan adanya gula darah yang tinggi menjadi tempat strategis untuk pertumbuhan
kuman.
Perubahan pasien dalam memandang dirinya secara negatif, misalnya pasien
merasa putus asa dan tidak dapat menerima keadaannya akan mempengaruhi kosep diri
pasien. Pasien merasa stress dan terganggu yang akhirnya dapat memperberat keadaan
sakitnya. Rasa tidak berdaya sering terjadi pada individu dengan penyakit kronis.
Ketidak berdayaan merupakan suatu persepsi bahwa tindakan seseorang tidak akan
mempengaruhi hasil .
Konsep diri terdiri atas gambaran diri, harga diri, ideal diri dan identitas
personal. Konsep diri dapat diartikan sebagai suatu keyakinan, pandangan atau
penilaian seseorang terhadap dirinya dan mempengaruhi hubungannya terhadap orang
lain. Seorang penderita Diabetes mellitus, dikatakan mempunyai konsep diri negatif
jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat
berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan
kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan
cenderung mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi, bersikap pesimistik terhadap
kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai
kesempatan, namun lebih menganggap sebagai suatu halangan. Orang dengan konsep
diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua
pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau
menyalahkan orang lain.
3

Gambaran diri berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang
dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang
realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa
aman, sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri .




























4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Mellitus

1. Pengertian Diabetes Mellitus
1,2


Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hyperglikemia. Glukosa secara normal
bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari makanan
yang dikonsumsi. (Brunner & Suddarth, 2002).
Diabetes Mellitus adalah suatu kondisi, dimana kadar gula di dalam darah lebih
tinggi dari biasa/normal (normal: 60 mg/dl sampai dengan 145 mg/dl), ini disebabkan
tidak dapatnya gula memasuki sel-sel. Ini terjadi karena tidak terdapat atau kekurangan
atau resisten terhadap insulin. Diabetes adalah suatu kondisi yang berjalan lama,
disebabkan oleh kadar gula yang tinggi dalam darah. Diabetes dapat dikontrol. Kadar
gula dalam darah akan kembali seperti biasa atau normal, dengan merubah beberapa
kebiasaan hidup seseorang yaitu : mengikuti suatu susunan makanan yang sehat dan
makan secara teratur, mengawasi/menjaga berat badan, memakan obat resep dokter,
olahraga secara teratur
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang memerlukan perawatan medis
dan penyuluhan untuk self management yang berkesinambungan untuk mencegah
komplikasi akut maupun kronis.
1,2


2. Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi DM menurut Amarican Diabetes Association (1997) sesuai anjuran
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah :

a. Diabetes Tipe I : Insuline Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
b. Diabetes Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (Non Insuline
Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)), terjadi akibat penurunan sesitivitas
terhadap insulin (resisten insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi
insulin.
5

c. Diabetes Melitus tipe lain
d. Diabetes Melitus Gastasional (Gastasinoal Diabetes Mellitus(GDM)).

3. Komplikasi Diabetes Mellitus
Sejak ditemukan banyak obat untuk menurunkan glukosa darah, terutama
setelah ditemukannya insulin, angka kematian penderita diabetes akibat komplikasi
akut bisa menurun drastis. Kelangsungan hidup penderita diabetes lebih panjang dan
diabetes dapat dikontrol lebih lama (Tandra, 2007). Tandra (2007) mengemukakan
bahwa selama bertahun-tahun penderita hidup dengan diabetes dan dapat
memungkinkan munculnya berbagai kerusakan atau komplikasi yang kronis pada
penderitanya. Komplikasi kronis tersebut yaitu :

a. Kerusakan saraf (Neuropathy)
Sistem saraf tubuh kita terdiri dari susunan saraf pusat, yaitu otak dan sum-sum
tulang belakang, susunan saraf perifer di otot, kulit, dan organ lain, serta susunan saraf
otonom yang mengatur otot polos di jantung dan saluran cerna. Hal ini biasanya terjadi
setelah glukosa darah terus tinggi, tidak terkontrol dengan baik, dan berlangsung
sampai 10 tahun atau lebih. Apabila glukosa darah berhasil diturunkan menjadi normal,
terkadang perbaikan saraf bisa terjadi. Namun bila dalam jangka yang lama glukosa
darah tidak berhasil diturunkan menjadi normal maka akan melemahkan dan merusak
dinding pembuluh darah kapiler yang memberi makan ke saraf sehingga terjadi
kerusakan saraf yang disebut neuropati diabetik (diabetic neuropathy). Neuropati
diabetik dapat mengakibatkan saraf tidak bisa mengirim atau menghantar pesan-pesan
rangsangan impuls saraf, salah kirim atau terlambat kirim. Tergantung dari berat
ringannya kerusakan saraf dan saraf mana yang terkena.

b. Kerusakan ginjal (Nephropathy)
Ginjal manusia terdiri dari dua juta nefron dan berjuta-juta pembuluh darah
kecil yang disebut kapiler. Kapiler ini berfungsi sebagai saringan darah. Bahan yang
tidak berguna bagi tubuh akan dibuang ke urin atau kencing. Ginjal bekerja 24 jam
sehari untuk membersihkan darah dari racun yang masuk ke dan yang dibentuk oleh
tubuh. Bila ada nefropati atau kerusakan ginjal, racun tidak dapat dikeluarkan,
6

sedangkan protein yang seharusnya dipertahankan ginjal bocor ke luar. Semakin lama
seseorang terkena diabetes dan makin lama terkena tekanan darah tinggi, maka
penderita makin mudah mengalami kerusakan ginjal. Gangguan ginjal pada penderita
diabetes juga terkait dengan neuropathy atau kerusakan saraf.

c. Kerusakan mata (Retinopathy)
Penyakit diabetes bisa merusak mata penderitanya dan menjadi penyebab utama
kebutaan. Ada tiga penyakit utama pada mata yang disebabkan oleh diabetes, yaitu :

1) retinopati, retina mendapatkn makanan dari banyak pembuluh darah kapiler yang
sangat kecil. Glukosa darah yang tinggi bisa merusak pembuluh darah retina;

2) katarak, lensa yang biasanya jernih bening dan transparan menjadi keruh sehingga
menghambat masuknya sinar dan makin diperparah dengan adanya glukosa darah yang
tinggi; dan

3) glaukoma, terjadi peningkatan tekanan dalam bola mata sehingga merusak saraf
mata.

d. Penyakit jantung
Diabetes merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan penumpukan
lemak di dinding yang rusak dan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya suplai
darah ke otot jantung berkurang dan tekanan darah meningkat, sehingga kematian
mendadak bisa terjadi.
e. Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi jarang menimbulkan keluhan yang
dramatis seperti kerusakan mata atau kerusakan ginjal. Namun, harus diingat hipertensi
dapat memicu terjadinya serangan jantung, retinopati, kerusakan ginjal, atau stroke.
Risiko serangan jantung dan stroke menjadidua kali lipat apabila penderita diabetes
juga terkena hipertensi.


7

f. Penyakit pembuluh darah perifer
Kerusakan pembuluh darah di perifer atau di tangan dan kaki, yang dinamakan
Peripheral Vascular Disease (PVD), dapat terjadi lebih dinidan prosesnya lebih cepat
pada penderita diabetes daripada orang yang tidak mendertita diabetes. Denyut
pembuluh darah di kaki terasa lemah atau tidak terasa sama sekali. Bila diabetes
berlangsung selama 10 tahun lebih, sepertiga pria dan wanita dapat mengalami
kelainan ini. Dan apabila ditemukan PVD disamping diikuti gangguan saraf atau
neuropati dan infeksi atau luka yang sukar sembuh, pasien biasanya sudah mengalami
penyempitan pada pembuluh darah jantung.

g. Gangguan pada hati
Banyak orang beranggapan bahwa bila penderita diabetes tidak makan gula
bisa bisa mengalami kerusakan hati (liver). Anggapan ini keliru. Hati bisa terganggu
akibat penyakit diabetes itu sendiri. Dibandingkan orang yang tidak menderita
diabetes, penderita diabetes lebih mudah terserang infeksi virus hepatitis B atau
hepatitis C. Oleh karena itu, penderita diabetes harus menjauhi orang yang sakit
hepatitis karena mudah tertular dan memerlukan vaksinasi untuk pencegahan hepatitis.
Hepatitis kronis dan sirosis hati (liver cirrhosis) juga mudah terjadi karena infeksi atau
radang hati yang lama atau berulang. Gangguan hati yang sering ditemukan pada
penderita diabetes adalah perlemakan hati atau fatty liver, biasanya (hampir 50%) pada
penderita diabetes tipe 2 dan gemuk. Kelainan ini jangan dibiarkan karena bisa
merupakan pertanda adanya penimbunan lemak di jaringan tubuh lainnya.

h. Penyakit paru-paru
Pasien diabetes lebih mudah terserang infeksi tuberkulosis paru-paru
dibandingkan orang biasa, sekalipun penderita bergizi baik dan secara sosio-ekonomi
cukup. Diabetes memperberat infeksi paru-paru, demikian pula sakit paru-paru akan
menaikkan glukosa darah.




8

i. Gangguan saluran makan
Gangguan saluran makan pada penderita diabetes disebabkan karenakontrol
glukosa darah yang tidak baik, serta gngguan saraf otonom yang mengenai saluran
pencernaan. Gangguan ini dimulai dari rongga mulut yang mudah terkena infeksi,
gangguan rasa pengecapan sehingga mengurangi nafsu makan, sampai pada akar gigi
yang mudah terserang infeksi, dan gigi menjadi mudah tanggal serta pertumbuhan
menjadi tidak rata. Rasa sebah, mual, bahkan muntah dan diare juga bisa terjadi. Ini
adalah akibat dari gangguan saraf otonom pada lambung dan usus. Keluhan gangguan
saluran makan bisa juga timbul akibat pemakaian obat- obatan yang diminum.

j. Infeksi
Glukosa darah yang tinggi mengganggu fungsi kekebalan tubuh dalam
menghadapi masuknya virus atau kuman sehingga penderita diabetes mudah terkena
infeksi. Tempat yang mudah mengalami infeksi adalah mulut, gusi, paru-paru, kulit,
kaki, kandung kemih dan alat kelamin. Kadar glukosa darah yang tinggi juga merusak
sistem saraf sehingga mengurangi kepekaan penderita terhadap adanya infeksi.

B. Ulkus diabetika

1. Definisi
Ulkus diabetika adalah salah satu bentuk komplikasi kronik Diabetes mellitus
berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat disertai dengan kematian
jaringan setempat. (Robert G, 2003) Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada
permukaan kulit karena adanya komplikasi mikroangiopati sehngga terjadi vaskuler
insufisiensi dan neuropati, yang lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering
tidak dirasakanl dan dapay berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob
maupun anaerob.
1,2






9


2. Klasifikasi
Klasifikasi Ulkus diabetika pada penderita Diabetes mellitus menurut Wagner
dikutip oleh Waspadji S, terdiri dari 6 tingkatan :

0. Tidak ada luka terbuka, kulit utuh.

1. Ulkus Superfisialis, terbatas pada kulit.

2. Ulkus lebih dalam sering dikaitkan dengan inflamasi jaringan.

3. Ulkus dalam yang melibatkan tulang, sendi dan formasi abses..

4. Ulkus dengan kematian jaringan tubuh terlokalisir seperti pada ibu jari kaki,
bagian depan kaki atau tumit.

5. Ulkus dengan kematian jaringan tubuh pada seluruh kaki.


3. Epidemiologi

Prevalensi penderita ulkus diabetika di Amerika Serikat sebesar 15-20% dan
angka mortalitas sebesar 17,6% bagi penderita DM dan merupakan sebab utama
perawatan penderita Diabetes mellitus di rumah sakit. Penelitian kasus kontrol di
Amerika Serikat menunjukkan bahwa 16% perawatan DM dan 23% total hari
perawatan adalah akibat Ulkus diabetika dan amputasi kaki karena Ulkus diabetika
sebesar 50% dari total amputasi kaki. Sebanyak 15% penderita DM akan mengalami
persoalan kaki suatu saat dalam kehidupannya..
Prevalensi penderita ulkus diabetika di indonmesia sebesar 15% dari penderita
DM. Di RSCM pada tahun 2003, masalah kaki diabetes masih merupakan masalah
besar. Sebaian besar perawatan DM selalu terkait dengan ulkus diabetika. Angka
kematian dan angka amputasi masih tinggi, masing-masing sebesar 32,5% dan 23,5%.
10

Nasib penderita DM paska amputasi masih sangat buruk, sebanyak 14,3% akan
meninggal dalam setahun paska amputasi dan sebanyak 37% akan meninggal 3 tahun
paska amputasi.

4. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala ulkus diabetika yaitu :
a. Sering kesemutan.
b. Nyeri kaki saat istirahat.
d. Sensasi rasa berkurang.
e. Kerusakan Jaringan (nekrosis).
f. Penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea.
g. Kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal.
h. Kulit kering.

5. Diagnosis Ulkus diabetika

Diagnosis ulkus diabetika meliputi :

a. Pemeriksaan Fisik : inspeksi kaki untuk mengamati terdapat luka/ulkus pada
kulit atau jaringan tubuh pada kaki pemeriksaan sensasi vibrasi/rasa berkurang atau
hilang, palpasi denyut nadi arteri dorsalis pedis menurun atau hilang.

b. Pemeriksaan Penunjang: X-ray, EMG dan pemeriksaan laboratorium untuk
mengetahui apakah ulkus diabetika menjadi infeksi dan menentukan kuman
penyebabnya.

6. Patogenesis Ulkus diabetika
Salah satu akibat komplikasi kronik atau jangka panjang Diabetes mellitus
adalah ulkus diabetika. Ulkus diabetika disebabkan adanya tiga faktor yang sering
disebut Trias yaitu : Iskemik, Neuropati, dan Infeksi. (Djokomoeljanto, 1997;Djoko W,
1999). Pada penderita DM apabila kadar glukosa darah tidak terkendali akan terjadi
11

komplikasi kronik yaitu neuropati, menimbulkan perubahan jaringa syaraf karena
adanya penimbunan sorbitol dan fruktosa sehingga mengakibatkan akason menghilang,
penurunan kecepatan induski, parastesia, menurunnya reflek oto, atrofi otot, keringat
berlebihan, kulit kering dan hilang rasa, apabila diabetesi tidak hati-hati dapat terjadi
trauma yang akan menjadi ulkus diabetika. Iskemik merupakan suatu keadaan yang
disebabkan oleh karena kekurangan darah dalam jaringan, sehingga jaringan
kekurangan oksigen. Hal ini disebabkan adanya proses makroangiopati pada pembuluh
darah sehingga sirkulasi jaringan menurun yang ditandai oleh hilang atau berkurangnya
denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi atrofi, dingin
dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringa sehingga timbul
ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai. Aterosklerosis merupakan
sebuah kondisi dimana arteri menebal dan menyempit karena penumpukan lemak pada
bagian dalam pembuluh darah. Menebalnya arteri di kaki dapat mempengaruhi
otot-otot kaki karena berkurangnya suplai darah, sehingga mengakibatkan kesemutan,
rasa tidak nyaman, dan dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan kematian
jaringan yang akan berkembang menjadi ulkus diabetika.
Proses angiopati pada penderita Diabetes mellitus berupa penyempitan dan
penyumbatan pembuluh darah perifer, sering terjadi pada tungkai bawah terutama
kaki, akibat perfusi jaringan bagian distal dari tungkai menjadi berkurang kemudian
timbul ulkus diabetika. Pada penderita DM yang tidak terkendali akan menyebabkan
penebalan tunika intima (hiperplasia membram basalis arteri) pada pembuluh darah
besar dan pembuluh kapiler bahkan dapat terjadi kebocoran albumin keluar kapiler
sehingga mengganggu distribusi darah kejaringan dan timbul nekrosis jaringan yang
mengakibatkan ulkus diabetika.
Eritrosit pada penderita DM yang tidak terkendali akan meningkatkan HbA1C
yang menyebabkan deformabilitas eritrosit dan pelepasan oksigen di jaringan oleh
eritrosit terganggu,sehingga terjadi penyumbatan yang menggangu sirkulasi jaringan
dan kekurangan oksigen mengakibatkan kematian jaringan yang selanjutnya timbul
ulkus diabetika.
Peningkatan kadar fibrinogen dan bertambahnya reaktivitas trombosit
menyebabkan tingginya agregasi sel darah merah sehingga sirkulasi darah menjadi
lambat dan memudahkan terbentuknya trombosit pada dinding pembuluh darah yang
12

akan mengganggu sirkulasi darah.
Perubahan/inflamasi pada dinding pembuluh darah, akan terjadi penumpukan
lemak pada lumen pembuluh darah, konsentrasi HDL (high- density-lipoprotein)
sebagai pembersih plak biasanya rendah. Adanya faktor risiko lain yaitu hipertensi akan
meningkatkan kerentanan terhadap aterosklerosis.
Konsekuensi adanya aterosklerosis yaitu sirkulasi jaringan menurun sehingga
kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis
jaringan sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai.
Pada penderita DM apabila kadar glukosa darah tidak terkendali menyebabkan
abnormalitas lekosit sehingga fungsi khemotoksis di lokasi radang terganggu, demikian
pula fungsi fagositosis dan bakterisid Menurun sehingga bila ada infeksi
mikroorganisme sukar untuk dimusnahkan oleh system phlagositosis-bakterisid intra
selluler. Pada penderita Ulkus diabetika, 50 % akan mengalami infeksi Akibat
adanya glukosa darah yang tinggi, yangmerupakan media Pertumbuhan bakteri yang
subur. Bakteri penyebab infeksi pada ulkus diabetika yaitu kuman aerobik
Staphylokokus atau Streptokokus serta kuman anaerob yaitu Clostridium perfringens,
Clostridium novy, dan Clostridium septikum.

7. Pencegahan dan Pengelolaan Ulkus diabetik

Pencegahan dan pengelolaan ulkus diabetic untuk mencegah komplikasi lebih lanjut
adalah :

a. Memperbaiki kelainan vaskuler.
b. Memperbaiki sirkulasi.
c. Pengelolaan pada masalah yang timbul ( infeksi, dll).
d. Edukasi perawatan kaki.
e. Pemberian obat-obat yang tepat untuk infeksi (menurut hasil laboratorium
lengkap) dan obat vaskularisasi, obat untuk penurunan gula darah maupun
menghilangkan keluhan/gejala dan penyulit DM.


13

f. Olah raga teratur dan menjaga berat badan ideal.
g. Menghentikan kebiasaan merokok
h. Merawat kaki secara teratur setiap hari, dengan cara :
j. Menghindari trauma berulang, trauma dapat berupa fisik, kimia dan termis, yang
biasanya berkaitan dengan aktivitas atau jenis pekerjaan.
k. Menghidari pemakaian obat yang bersifat vasokonstriktor misalnya adrenalin,
nikotin.
l. Memeriksakan diri secara rutin ke dokter dan memeriksa kaki setiap control
walaupun ulkus diabetik sudah sembuh.
1,2


C. Depresi
1. Pengertian Depresi
3,4

Menurut sejarah psikiatri dapat dilihat bahwa pengertian depresi sebagai
gangguan tersendiri terpisah dari gangguan mental lain yang telah lama ada sejak
zaman Hipocrates (460-377 SM). Hipocrates inilah yang berusaha mengklasifikasikan
gangguan jiwa dalam beberapa penyakit yang berdiri sendiri: epilepsi, mania (gaduh,
gelisah, melankoli (depresi), paranoid. Walaupun namanya berbeda, waktu itu diberi
nama melancholy, yang digambarkan sebagai kemurungan atau kesedihan yang
ditimbulkan oleh karena kelebihan cairan empedu yang berwarna hitam
(zwartgalligheid). Kemudian pada tahun 1905 istilah melancholy diganti dengan
depresi oleh Meyer dengan alasan etiologi yang luas. Depresi merupakan kata
Indonesia yang disadur dari bahasa Inggris yaitu depression, sadness dan low spirit.
Depresi adalah suatu penyakit jiwa yang gejala utamanya adalah sedih, yang
dapat disertai gejala-gejala psikologik lainnya, gangguansomatik maupun gangguan
psikomotor dalam kurun waktu tertentu dan digolongkan kedalam penyakit jiwa
afektif. Stuart (2006) berpendapat bahwa depresi atau melankolia adalah suatu
kesedihan dan perasaan yang berkepanjangan atau abnormal. Dapat digunakan untuk
menunjukkan berbagai fenomena, seperti tanda, gejala, sindrom, emosional, reaksi.
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnostik Gangguan Jiwa III di Indonesia
(1993) yang dimaksud depresi adalah sekumpulan gejala dengan gambaran utama
gangguan mood yang mempengaruhi penampilan kognitif, psikomotor dan psikososial
disertai kesulitan hubungan interpersonal.
14


2. Teori Penyebab Depresi (Rawlin dan Heacock, 1993) Adapun teori penyebab
terjadinya depresi meliputi:

a. Teori biologi: depresi berhubungan dengan gangguan pada ritme sirkadian,
disfungsi otak, aktivitas kejang limbik, disfungsi neuroendokrin, defisiensi biogenik
amine, cacat pada sistem imun dan genetik

b. Teori psicoanalitical: depresi berasal dari respon terhadap kehilangan, kekecewaan
atau kegagalan. Rasa marah dipindahkan dan dikembalikan pada diri sendiri,
ketidakmampuan untuk berduka cita karena adanya kehilangan

c. Teori Behavioral: kegagalan untuk menerima reinforcement positif dari orang lain
dan lingkungan merupakan predisposisi bagi seseorang untuk mengalami gangguan
depresi

d. Teori kognitif: konsep negatif dari diri, pengalaman, orang lain dan lingkungan
merupakan kontribusi terjadinya depresi. Kepercayaan bahwa seseorang tidak dapat
mengontrol situasi memberikan kontribusi terjadinya depresi.

e. Teori sociological: kehilangan kekuasaan, status, identitas, nilai dan tujuan untuk
menciptakan eksistensi yang tepat akan menyebabkan depresi

f. Teori Holism: depresi adalah hasil dari genetik, biologi, psikoanalisa, tingkah laku,
kognitif dan pengalaman sosiologis







15

3. Etiologi Depresi

Faktor penyebab terjadinya depresi menurut Kaplan dan Saddock (2007) adalah:

a. Faktor Biologi
Noreepinephrine dan serotonin adalah dua jenis neurotransmitter yang bertanggung
jawab mengendalikan patofisiologi gangguan alam perasaan pada manusia. Gangguan
depresi melibatkan keadaan patologi di limbic system, basal ganglia dan hypothalamus.
Limbic system dan basal ganglia berhubungan sangat erat, hipotesa sekarang
menyebutkan produksi alam perasaan berupa emosi, depresi dan mania merupakan
peranan utama limbic system. Disfungsi hypothalamus berakibat perubahan regulasi
tidur, selera makan, dorongan seksual dan memacu perubahan biologi dalam endokrin
dan imunologik

b. Faktor Genetika
Gangguan alam perasaan (mood) baik tipe bipolar (adanya episode manik dan
depresi) dan tipe unipolar (hanya depresi saja) memiliki kecenderungan menurun
kepada generasinya. Gangguan bipolar lebih kuat menurun daripada unipolar.
Sebanyak 50 % pasien bipolar memiliki satu orang tua dengan alam perasaan/
gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika salah satu orang tua
mengidap gangguan bipolar maka 27 % anaknya memiliki resiko mengidap gangguan
alam perasaan. Bila kedua orang tua mengidap gangguan bipolar maka 75 % anaknya
memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan.
c. Faktor Psikososial
Peristiwa traumatik kehidupan dan lingkungan sosial dengan suasana yang
menegangkan dapat menjadi kausa gangguan neurosa depresi. Sejumlah data yang kuat
menunjukkan kehilangan orang tua sebelum berusia 11 tahun dan kehilangan pasangan
hidup dapat memacu serangan awal gangguan neurosa depresi.




16



Boyd dan Nihart (1998) menggambarkan hubungan sebab-sebab biopsikososial
terjadinya depresi pada lansia terdiri dari:

1) Biologik: penyakit fisik, disregulasi neurotransmitter dalam sistem saraf pusat
(SSP), efek samping terapi pengobatan, interaksi pengobatan resep maupun non resep,
gangguan mobilitas, perubahan kapasitas sensorik

2) Psikologis: stress, kehilangan sesuatu dalam hidup, episode depresi sebelumnya
(diawal kehidupan), kemunduran kognitif

3) Sosiokultural: isolasi sosial, kematian atau ketidakmampuan pasangan atau teman,
kesulitan ekonomi, pensiun, gangguan perubahan lingkungan.

4. Faktor Resiko Depresi
Menurut Kaplan dan Saddock (1997, 2007), faktor resiko dari depresi dipengaruhi
oleh:

a. Umur, rata-rata usia onset untuk depresi berat adalah kira-kira 40 tahun, 50 % dari
semua pasien mempunyai onset antara usia 20 dan 50 tahun. Gangguan depresif berat
juga mungkin memiliki onset selama masa anak-anak atau pada lanjut usia, walaupun
hal tersebut jarang terjadi

b. Jenis kelamin, terdapat prevalensi gangguan depresi berat yang dua kali lebih
besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Alasan adanya perbedaan telah didalilkan
sebagai melibatkan perbedaan hormonal, perbedaan stressor psikososial bagi
perempuan dan laki-laki

c. Status perkawinan, pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering
pada orang-orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau karena
perceraian atau berpisah dengan pasangan.
17

d. Status fungsional baru, adanya perubahan seperti pindah ke lingkungan
baru, pekerjaan baru, hilangnya hubungan yang akrab, kondisi sakit, adalah sebagian
dari beberapa kejadian yang menyebabkan seseorang menjadi depresi.

5. Gejala-gejala Depresi

Menurut Pedoman dan Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III (2001)
depresi ditandai dengan beberapa gejala, yaitu:
6


a. Gejala utama pada derajat ringan, sedang dan berat

1) Afek depresif

2) Kehilangan minat dan kegembiraan

3) Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah
yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan aktivitas menurun.

b. Gejala lain, meliputi:
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang

b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistik

e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

f. Tidur terganggu

g. Nafsu makan berkurang
18


Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala psikis,
gejala fisik dan sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif,
mudah marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri,
hilangnya konsentrasi dan menurunnya daya tahan.
Gejala-gejala ini dapat dilihat dari tiga segi yaitu:

a. Gejala fisik
Gejala depresi yang kelihatan ini mempunyai rentangan dan variasi yang luas
sesuai dengan berat ringannya depresi yang dialami. Namun secara garis besar ada
beberapa gejala fisik umum yang relatif mudah dideteksi. Gejala itu seperti:

1) Sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit

2) Pada umumnya, orang yang mengalami depresi menunjukkan perilaku yang pasif,
menyukai kegiatan yang tidak melibatkan orang lain seperti nonton tv, makan, tidur.

3) Orang yang terkena depresi akan sulit memfokuskan perhatian atau pikiran pada
suatu hal, atau pekerjaan. Sehingga mereka juga akan sulit memfokuskan energi pada
hal-hal prioritas. Kebanyakan yang dilakukan justru hal-hal yang tidak efisien dan
tidak berguna, seperti misalnya mengemil, melamun, merokok terus-menerus, sering
menelpon yang tidak perlu. Orang yang terkena depresi akan terlihat dari metode
kerjanya yang menjadi kurang terstruktur, sistematika kerjanya jadi kacau atau
kerjanya jadi lamban.

4) Orang yang terkena depresi akan kehilangan sebagian atau seluruh motivasi
kerjanya. Sebabnya, ia tidak lagi bisa menikmati dan merasakan kepuasan atas apa
yang dilakukannya. Ia sudah kehilangan minat dan motivasi untuk melakukan
kegiatannya seperti semula. Oleh karena itu, keharusan untuk tetap beraktivitas
membuatnya semakin kehilangan energi karena energi yang ada sudah banyak terpakai
untuk mempertahankan diri agar tetap dapat berfungsi seperti biasanya. Mereka mudah
sekali lelah, capai padahal belum melakukan aktivitas yang berarti.
19


5) Depresi itu sendiri adalah perasaan negatif. Jika seseorang menyimpan perasaan
negatif maka jelas akan membuat letih karena membebani pikiran dan perasaan dan ia
harus memikulnya dimana saja dan kapan saja, suka tidak suka.

c. Gejala Sosial
Masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya mempengaruhi
lingkungan dan pekerjaan (atau aktivitas lainnya). Bagaimana tidak, lingkungan tentu
akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada umumnya
negatif (mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitive, mudah letih, mudah sakit).
Masalah sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah yang berinteraksi dengan
rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk konflik, namun
masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika berada diantara
kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Mereka
merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalin hubungan
dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.

6. Tingkatan Depresi

Menurut PPDGJ-III tahun 1998, depresi dibagi sesuai dengan tingkat keparahannya,
yaitu:
6


a. Depresi Ringan

Pedoman yang dipakai adalah:

1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi

2) Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya

3) Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya

20

4) Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu

5) Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan social yang biasa dilakukan

b. Depresi Sedang

Pedoman yang dipakai adalah

1) Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode
depresi ringan

2) Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya

3) Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu

4) Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan
urusan rumah tangga.

c. Depresi Berat

Pedoman yang dipakai adalah:

1) Semua 3 gejala utama depresi harus ada
2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus
berintensitas berat
3) Bila ada gejala penting (misalnya agitasi dan retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejala secara rinci Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap
episode

depresif berat masih dapat dibenarkan, yaitu:
a. Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya dua minggu,
21

akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, masih dibenarkan untuk
menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari dua minggu

b. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga, kecuali pada tahap yang sangat terbatas.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa depresi berat ditandaidengan adanya:

a. Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut episode depresif berat
tanpa gejala psikotik.

b. Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam dan pasien merasa
bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa
suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk.
Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham
atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afek (mood-
congruent).
6


Penatalaksanaan

1. Tricyclic Antidepressants
1,7

Obat ini membantu mengurangi gejala-gejala depresi dengan mekanisme mencegah
reuptake dari norephinefrin dan serotonin di sinaps atau dengan cara megubah
reseptor-reseptor dari eurotransmitter norephinefrin dan seroonin. Obat ini sangat
efektif, terutama dalam mengobati gejala-gejala akut dari depresi sekitar 60% pada
individu yang mengalami depresi. Tricyclic antidepressants yang sering digunakan
adalah imipramine, amitryiptilene, dan desipramine .




22

2. Monoamine Oxidase Inhibitors
Obat lini kedua dalam mengobati gangguan depresi mayor adalah Monoamine Oxidase
Inhibitors. MAO Inhibitors menigkatkan ketersediaan neurotransmitter dengan cara
menghambat aksi dari Monoamine Oxidase, suatu enzim yang normalnya akan
melemahkan atau mengurangi neurotransmitter dalam sambungan sinaptik. MAOIs
sama efektifnya dengan Tricyclic Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan karena
secara potensial lebih berbahaya.

3. Selective Serotonine Reuptake Inhibitors and Related Drugs
Obat ini mempunyai struktur yang hampir sama dengan Tricyclic Antidepressants,
tetapi SSRI mempunyai efek yang lebih langsung dalam mempengaruhi kadar
serotonin. Pertama SSRI lebih cepat mengobati gangguan depresi mayor dibandingkan
dengan obat lainnya. Pasien-pasien yang menggunakan obat ini akan mendapatkan efek
yang signifikan dalam penyembuhan dengan obat ini. Kedua, SSRI juga mempunyai
efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan obat-obatan lainnya. Ketiga,
obat ini tidak bersifat fatal apabila overdosis dan lebih aman digunakan dibandingkan
dengan obat-obatan lainnya. Dan yang keempat SSRI juga efektif dalam pengobatan
gangguan depresi mayor yang disertai dengan gangguan lainnya seperti: gangguan
panik, binge eating, gejala-gejala pramenstrual

4. Terapi Elektrokonvulsan
Terapi ini merupakan terapi yang paling kontroversial dari pengobatan biologis. ECT
bekerja dengan aktivitas listrik yang akan dialirkan pada otak. Elektroda-elektroda
metal akan ditempelkan pada bagian kepala, dan diberikan tegangan sekitar 70 sampai
130 volt dan dialirkan pada otak sekitarsatu setengah menit. ECT paling sering
digunakan pada pasien dengan gangguan Universitas Sumatera Utaradepresi yang tidak
dapat sembuh dengan obat-obatan, dan ECT ini mengobati gangguan depresi sekitar
50%-60% individu yang mengalami gangguan depresi .




23

- Pengobatan secara psikologikal
1. Terapi Kognitif
Terapi kognitif merupakan terapi aktif, langsung, dan time limited yang berfokus pada
penanganan struktur mental seorang pasien. Struktur mental tersebut terdiri ; cognitive
triad, cognitive schemas, dan cognitive errors (C. Daley, 2001).

2. Terapi Perilaku
Terapi perilaku adalah terapi yang digunakan pada pasien dengan gangguan depresi
dengan cara membantu pasien untuk mengubah cara pikir dalam berinteraksi denga
lingkungan sekitar dan orang-orang sekitar. Terapi perilaku dilakukan dalam jangka
waktu yang singkat, sekitar 12 minggu.

3. Terapi Interpersonal
Terapi ini didasari oleh hal-hal yang mempengaruhi hubungan interpersonal seorang
individu, yang dapat memicu terjadinya gangguan mood (Barnett & Gotlib, 1998:
Coyne, 1976). Terapi ini berfungsi untuk mengetahui stressor pada pasien yang
mengalami gangguan, dan para terapis dan pasien saling bekerja sama untuk
menangani masalah interpersonal tersebut.
1
,
7


Hubungan Depresi dan Diabetes Melitus

Depresi dapat menyebabkan peningkatan aktivitas sumbu HPA. Hipersekresi
CRH merupakan gangguan sumbu HPA yang sangat penting pada depresi. Terjadinya
hipersekresi CRH diduga akibat adanya gangguan pada sistem umpan balik kortisol
atau adanya kelainan sistem monoaminergik dan neuromuskular yang mengatur CRH.
Peningkatan CRH ini akan berakibat tingginya sintesa dan pengeluaran ACTH oleh
hipofisis yang selanjutnya merangsang kortisol dari kelenjar adrenal.
Telah diketahui bahwa kejadian depresi adalah tinggi pada kelompok
masyarakat DM, sehingga penegakan dan pengobatan selanjutnya adalah perlu dalam
praktek klinik. Beberapa penelitian mendapatkan angka yang sangat bervariasi
mengenai kejadian depresi pada penderita DM. Studi metaanalisis yang dilakukan oleh
Lutsman menemukan rata-rata lebih dari 25% penderita DM mengalami depresi.
24

Peneliti lain menemukan angka 9,3% penderita DM mengalami depresi dan 6,1 % pada
individu tanpa DMM. EgedeLE dkk. Mendapatkan kejadian depresi pada penderita
DM sebanyak 2 kali lipat dibanding pada populasi umum. Sedangkan penelitian di
RS Dr. Kariadi tahun 2001 31,8 % penderita DM mengalami depresi.


Depresi tidak hanya menurunkan kualitas hidup penderita DM, tetapi juga
berengaruh pada ketaatan berobat dan pengendalian gula darah serta meningkatkan
biaya perawatan dan risiko komplikasi DM. Pada percobaan pemberian antidepresant,
perbaikan depresi secara bermakna berhubungan dengan perbaikan Glycohemoglobin
(GHb). Pada penelitian lain, pengobatan dengan fluoxetin telah berefek pada GHb,
tetapi efek ini tidak tergantung pada aperubahan depresi. Pada dua percobaan
menggunakan bahan antihiperglikemik perbaikan pengendalian gula darah adalah
paralel dengan perbaikan depresi. Temuan ini dapat mendukung hipotesis adanya
interaksi timbal balik antara depresi dan pengendalian gula darah, dimana depresi dapat
menimbulkan hiperglikemi dan hiperglikemi memicu depresi. Diduga bahwa
pengobatan depresi mayor mungkin bermanfaat untuk perbaikan mood dan
pengendalian gula darah.
Perubahan besar terjadi dalam hidup seseorang setelah mengidap penyakit
diabetes melitus. Ia tidak dapat mengkonsumsi makanan tanpa aturan dan tidak dapat
melakukan aktivitas dengan bebas tanpa khawatir kadar gulanya akan naik pada saat
kelelahan. Selain itu, penderita diabetes melitus juga harus mengikuti tritmen dokter,
pemeriksaan kadar gula darah secara rutin dan pemakaian obat sesuai aturan.
Seseorang yang menderita penyakit diabetes melitus memerlukan banyak sekali
penyesuaian di dalam hidupnya, sehingga penyakit diabetes melitus ini tidak hanya
berpengaruh secara fisik, namun juga berpengaruh secara psikologis pada penderita.
Saat seseorang didiagnosis menderita diabetes melitus maka respon emosional yang
biasanya muncul yaitu penolakan, kecemasan dan depresi, tidak jauh berbeda dengan
penyakit kronis lain (Taylor, 1995). Penderita diabetes melitus memiliki tingkat depresi
dan kecemasan yang tinggi, yang berkaitan dengan tritmen yang harus dijalani dan
terjadinya komplikasi serius. Depresi yang dialami penderita berkaitan dengan tritmen
yang harus dijalani seperti diet atau pengaturan makan, pemeriksaan kadar gula darah,
25

konsumsi obat dan juga olahraga. Selain itu, risiko komplikasi penyakit yang dapat
dialami penderita juga menyebabkan terjadinya depresi. Alexander dan Seyle (dalam
Pennebaker, 1988) mengatakan konflik psikologis, kecemasan, depresi, dan stres dapat
menyebabkan semakin memburuknya kondisi kesehatan atau penyakit yang diderita
oleh seseorang. Penderita diabetes melitus jika mengalami depresi, akan
mempengaruhi proses kesembuhan dan menghambat kemampuan aktivitas kehidupan
sehari-hari. Pasien diabetes yang mengalami depresi memiliki kontrol gula darah yang
buruk dan meningkatnya gejala-gejala penyakit (Lustman, dalam Taylor, 1995).
Depresi merupakan hal yang tidak mudah untuk dihadapi oleh penderita
diabetes melitus. Oleh karena itu, penderita diabetes melitus tentu sangat
membutuhkan dukungan dari lingkungan sosialnya. Manfaat dukungan sosial dalam
bidang klinis sangat besar karena terbukti dapat membantu manusia dalam mencapai
perkembangan yang optimal.
8,9,10




















26

DAFTAR PUSTAKA
1. Budihalim. S, Mudjadid. E dan Sukatman. D. 2006. Psikofarmaka dan
Psikosomatik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Hal. 901-902.
Jakarta:Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI
2. Budihalim. S dan Sukatman. D. 2003. Kelainan-kelainan Psikis dan Penyakit
Endokrin. pada Buku Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta:599-610
3. Kaplan, H.I., and Sadock, B.J. 1995. Comprehensive Textbook Of Psychiatry.
Philadelphia: Williams ang Wilkins.
4. Kaplan, H. I. , Saddock, B. J 2005, Mood Disorder, Comprehensive Textbook
Of Psychiatry, 8th Ed. Lippincott Williams ang Wilkins.
5. Departemen Kesehatan RI. 1993. Episode Depresi Berat. Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan
pertama. Jakarta
6. Maslim, R: Panduan Praktis Penggunaan Obat Psikotropika, edisi II, Jakarta,
2001.
7. Egede LE, Zheng D. Independent factors associated with major depressive
disorder in a national sample of individuals with diabetes. Diabetes
Care. 2003;26:10411
8. Goldney RD, Phillips PJ, Fisher LJ, Wilson DH. Diabetes, depression, and
quality of life: a population study. Diabetes Care. 2004;27:106670
9. Lustman PJ, Anderson RJ Freedland KE, et al. Depression and Poor Glycemic
Control. Diabetes Care 2000; 25:464-6