Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Pada tahun 1860, seorang dokter bedah kebangsaan Inggris bernama William Little
pertama kali mendeskripsikan satu penyakit yang pada saat itu membingungkan yang menyerang
anak-anak pada usia tahun pertama, yang menyebabkan kekakuan otot tungkai dan lengan. Anak-
anak tersebut mengalami kesulitan memegang obyek, merangkak dan berjalan. Penderita tersebut
tidak bertambah membaik dengan bertambahnya usia tetapi juga tidak bertambah memburuk.
Kondisi tersebut disebut little 's disease selama beberapa tahun, yang saat ini dikenal sebagai
spastic diplegia. Penyakit ini merupakan salah satu dari penyakit yang mengenai pengendalian
ungsi pergerakan dan digolongkan dalam terminologi cerebralpalsy atau umunya disingkat !P.
"ebagian besar penderita tersebut lahir premature atau mengalami komplikasi saat
persalinan dan #ittle menyatakan kondisi tersebut merupakan hasil dari kekurangan oksigen
selama kelahiran. Kekurangan oksigen tersebut merusak jaringan otak yang sensiti yang
mengendalikan ungsi pergerakan. $etapi pada tahun 18%&, psikiatri terkenal Sigmund Freud
tidak sependapat. 'alam penelitiannya, banyak dijumpai pada anak-anak !P mempunyai masalah
lain misalnya retardasi mental, gangguan (isual dan kejang, )reud menyatakan bah*a penyakit
tersebut mungkin sudah terjadi pada a*al kehidupan, selama perkembangan otak janin. Kesulitan
persalinan hanya merupakan satu keadaan yang menimbulkan eek yang lebih buruk dimana
sangat mempengaruhi perkembangan etus.
'isamping pengamatan oleh )reud, keyakinan yang menyatakan bah*a komplikasi
persalinan menyebabkan banyak kasus !P tersebar luas diantara dokter, keluarga dan tenaga riset
medis. 'itahun 1%80, dianalisis data penelitian pemerintah pada +,-.000 persalinan dan hasilnya
sangat mengejutkan dengan ditemukan kasus komplikasi hanya .10/. "ebagian besar kasus !P
sering dijumpai kasus tanpa aktor resiko. Penemuan dari 0I0'" tersebut dapat mengubah teori
medis mengenai !P dan sangat memoti(asi peneliti masa kini untuk men1ari lebih lanjut
penyebab lain dari !P.
Pada saat yang sama, penelitian biomedis juga telah memulai penelitian untuk lebih
memahami perubahan pemahaman se1ara bermakna dalam diagnosis dan penanganan penderita
!P. )aktor resiko yang sebelumnya tidak diketahui mulai dapat diidentiikasi, khususnya paparan
intrauterine terhadap ineksi dan penyakit koagulasi, dll. Identiikasi dini !P pada bayi akan
memberikan kesempatan pada penderita untuk mendapat penanganan optimal dalam upaya
memperbaiki ke1a1atan sensoris dan men1egah timbulnya kontraktur. 2iset biomedis berhasil
dalam memperbaiki teknik diagnostik misalnya imaging 1erebral 1anggih dan analisis gait
modern. Kondisi tertentu yang sudah diketahui menyebabkan !P, misalnya rubella dan ikterus,
1
pada saat ini sudah dapat diterapi dan di1egah. $erapi isik, psikologis dan perilaku yang optimal
dengan metode khusus misalnya gerakan, bi1ara membantu kematangan sosial dan emosional
sangat penting untuk men1apai kesuksesan. $erapi medikasi, pembedahan dan pemasangan
braces banyak membatu dalam hal perbaikan koordinasi sara dan otot, sebagai terapi penyakit
yang berhubungan dengan !P, disamping men1egah atau mengoreksi deormitas.
3
CEREBRAL PALSY
Monica Imelda Krist / 0!"#0$!!
I% DE&INISI
!erebral Palsy adalah suatu keadaan kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak
progresi, terjadi pada *aktu masih muda 4sejak dilahirkan5 serta merintangi perkembangan
otak normal dengan gambaran klinik dapat berubah selama hidup dan menunjukan kelainan
dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan neurologis berupa kelumpuhan spastis,
gangguan ganglia basal dan serebelum juga kelainan mental.
1
$erminology ini digunakan untuk mendeskripisikan kelompok penyakit kronik yang
mengenai pusat pengendalian pergerakan dengan maniestasi klinis yang tampak pada
beberapa tahun pertama kehidupan dan se1ara umum tidak akan bertambah memburuk pada
usia selanjutnya. Istilah 1erebral ditujukan pada kedua belahan otak, atau hemiser dan palsi
mendeskripsikan berma1am penyakit yang mengenai pusat pengendalian pergerakan tubuh.
6adi penyakit tersebut tidak disebabkan oleh masalah pada otot atau jaringan sara tepi,
melainkan terjadi perkembangan yang salah atau kerusakan pada area motorik otak yang akan
mengganggu kemampuan otak untuk mengontrol pergerakan dan postur se1ara adekuat.
3
7ejala !P tampak sebagai spektrum yang menggambarkan (ariasi beratnya penyakit.
"eseorang dengan !P dapat menampakkan gejala kesulitan dalam hal motorik halus, misalnya
menulis atau menggunakan gunting, masalah keseimbangan dalam berjalan atau mengenai
gerakan in(olunter, misalnya tidak dapat mengontrol gerakan menulis. 7ejala dapat berbeda
pada setiap penderita, dan dapat berubah pada seorang penderita. Penderita !P derajat berat
akan mengakibatkan tidak dapat berjalan atau membutuhkan pera*atan yang ekstensi dan
jangka panjang, sedangkan !P derajat ringan mungkin hanya sedikit 1anggung dalam gerakan
dan membutuhkan bantuan yang tidak khusus. !P bukan penyakit menular atau bersiat
herediter.
II% EPIDEMI'L'(I
Asosiasi !P dunia memperkirakan + -00.000 pendertia !P di Amerika. 'isamping
peningkatan dalam pre(ensi dan terapi penyakit penyebab !P, jumlah anak 8 anak dan de*asa
yang terkena !P tampaknya masih tidak banyak berubah atau mungkin lebih meningkat
,
sedikit selam ,0 tahun terakhir. Angka harapan hidup penderita !P tergantung dari tipe !P
dan beratnya ke1a1atan motorik
3
III% KLASI&IKASI KLINIS
!P dapat diklasiikasikan berdasarkan gejala dan tanda klinis neurologis. "pasti1
diplegia untuk pertama kali dideskripsikan oleh dr.#ittle 418605, merupakan salah satu bentuk
penyakit yang dikenal selanjutnya sebagai !P. 9ingga saat ini, !P diklasiikasikan
berdasarkan kerusakan gerakan yang terjadi dan dibagi dalam : kategori, yaitu ;
3
1. !P "pastik
<erupakan bentukan !P yang terbanyak 4&0-80/5, otot mengalami kekakuan dan
se1ara permanen akan menjadi kontraktur. 6ika kedua tungkai mengalami spastisitas,
pada saat seseorang berjalan, kedua tungkai tampak bergerak kaku dan lurus.
7ambaran klinis ini membentuk karakterisitik berupa ritme berjalan yang dikenal
dengan gait gunting 4s1issor gait5 4=ryers, 1%:15.
Anak dengan spasti1 hemiplegia dapat disetai tremor hemiparesis, dimana seseorang
tidak dapat mengendalikan gerakan pada tungkai pada satu sisi tubuh.
6ika tremor memberat, akan terjadi gangguan gerakan berat.
a. <onoplegi bila hanya mengenai 1 ekstremitas saja, biasanya lengan
b. 'iplegia keempat ekstremitas terkena, tetapi kedua kaki lebih berat
daripada kedua lengan
1. $riplegia bila mengenai , ekstremitas, yang paling banyak adalah
mengenai kedua lengan dan kaki
d. >uadriplegia keempat ekstremitas terkena dengan derajat yang sama
e. 9emiplegia <engenai salah satu sisi dari tubuh dan lengan terkena lebih
berat
:
7ambar anggota gerak yang mengalami kelainan
-
3. !P Atetoid ? diskinetik
=entuk !P ini mempunyai karakteristik gerakan menulis yang tidak terkontrol dan
perlahan. 7erakan abnormal ini mengenai tangan, kaki, lengan atau tungkai dan
pada sebagian besar kasus, otot muka dan lidah, menyebabkan anak tampak selalu
menyeringai dan selalu mengeluarkan air liur. 7erakan sering meningkat selama
periode peningkatan stress dan hilang pada saat tidur. Penderita juga mengalami
masalah koordinasi gerakan otot bi1ara 4disartria5. !P atetoid terjadi pada 10-30/
penderita !P.
,. !P Ataksid
6arang dijumpai, mengenai keseimbangan dan persepsi dalam. Penderita yang
terkena sering menunjukkan koordinasi yang buruk, berjalan tidak stabil dengan
gaya berjalan kaki terbuka lebar, meletakkan kedua kaki dengan posisi yang saling
berjauhan, kesulitan dalam melakukan gerkan 1epat dan tepat, misalnya menulis
atau mengan1ingkan baju. <ereka juga sering mengalami tremor, dimulai dengan
gerakan (olunter misalnya mengambil buku, menyebabkan gerakan seperti
menggigil pada bagian tubuh yang baru akan digunakan dan tampak memburuk
sama dengan saat pendertia akan menuju obyek yang dikehendaki. =entuk ataksid
ini mengenai --10/ penderita !P.
:
-
:. !P !ampuran
"ering ditemukan pada seorang penderita mempunyai lebih dari satu bentuk !P
yang akan dijabarkan di atas. =entuk 1ampuran yang sering dijumpai adalah
spasti1 dan gerakan atetoid tetapi kombinasi lain juga mungkin dijumpai.

'ari deisit neurologis, !P terbagi ;
1. $ipe spastis atau piramidal
Pada tipe ini gejala yang hampir selalu ada adalah;
@ 9ipertoni 4enomena pisau lipat5
@ 9iperleksi yang disertai klonus
@ Ke1enderungan timbul kontraktur
@ 2eleks patologis
3. $ipe ekstrapiramidal
Akan berpengaruh pada bentuk tubuh, gerakan in(olunter, seperti atetosis, distonia,
ataksia. $ipe ini sering disertai gangguan emosional dan retradasi mental. 'isamping
itu juga dijumpai gejala hipertoni, hiperleksi ringan, jarang sampai timbul klonus.
Pada tipe ini kontraktur jarang ditemukan apabila mengenai sara otak bisa terlihat
*ajah yang asimetris dan disartri
,. $ipe 1ampuran
7ejala-gejala merupakan 1ampuran kedua gejala di atas, misalnya hiperreleksi dan
hipertoni disertai gerakan khorea.
!P juga dapat diklasiikan berdasarkan estimasi derajat beratnya penyakit dan kemampuan
penderita untuk melakukan akti(itas normal 4$abel 1.5
$abel 1. Klasiikasi !P berdasarkan 'erajat Penyakit
Klasiikasi Perkembangan motorik 7ejala Penyakit penyerta
<inimal 0ormal, hanya terganggu
se1ara kualitati
Kelainan tonus sementar
2eleks primiti menetap terlalu
lama
Kelainan postur ringan
7angguan gerak motorik kasar
dan halus, misalnya 1lumpsy
7angguan
komunikasi
7angguan belajar
spesiik
2ingan =erjalan umur 3: bulan Perkembangan releks primiti
abnormal
2espon postular terganggu
6
7angguan motorik seperti
tremor
7angguan koordinasi
"edang =erjalan umur , tahun
kadang memerlukan
bra1ing. $idak perlu alat
khusus
=erbagai kelainan neurologis
2eleks primiti menetap
2espon postural terlambat
2etardasi mental
7angguan belajar
dan komunikasi
Kejang
=erat $idak bisa berjalan atau
berjalan dengan alat
bantu, kadang butuh
operasi
gejala neurologis dominan
releks primiti menetap
respon postural tidak mun1ul
PA0BAKI$ #AI0 BA07 =A29C=C07A0 'A07A0 !A2A=2A# PA#"B
=anyak penderita !P juga menderita penyakit lain. Kelainan yang mempengaruhi otak
dan menyebabkan gangguan ungsi motorik dapat menyebabkan kejang dan mempengaruhi
perkembangan intelektual seseorang, atensi terhadap dunia luar, akti(itas dan perilaku, dan
penglihatan dan pendengaran.
:
Penyakit 8 penyakit yang berhubungan dengan !P adalah ;
1. 7angguan mental
"epertiga anak !P memiliki gangguan intelektual ringan, sepertiga dengan
gangguan sedang hingga berat dan sepertiga lainnya normal. 7angguan mental
sering dijumpai pada anak dengan klinis spastik Duadriplegia.
3. Kejang atau epilepsi
"etengah dari seluruh anak !P menderita kejang. "elam kejang, akti(itas elektri
dengan pola normal dan teratur di otak mengalami gangguan karena letupan listrik
yang tidak terkontrol. Pada pendertia !P dan epilepsi, gangguan tersebut akan
tersebar keseluruh otak dan menyebabkan gejala pada seluruh tubuh, seperti
kejang tonik-klonik atau mungkin hanya pada satu bagian otal dan menyebabkan
gejala kejang parsial. Kejang tonik-klonik se1ara umum menyebabkan penderita
menjerit dan diikuti dengan hilangnya kesadaran, t*it1hing kedua tungkai dan
lengan, gerakan tubuh kon(ulsi dan hilangnya kontrol kandung kemih.
,. 7angguan pertumbuhan
"indroma gagal tumbuh sering terjadi pada !P derajat sedang hingga berat,
terutama tipe Duadriparesis. 7agal tumbuh se1ara umum adalah istilah untuk
mendeskripsikan anak 8 anak yang terhambat pertumbuhan dan perkembangannya
*alaupun dengan asupan makanan yang 1ukup. $ampak pendek dan tidak tampak
tanda maturasi seksual. "ebagai tambahan, otot tungkai yang mengalami
&
spastisitas mempunyai ke1enderungan lebih ke1il dibanding normal. Kondisi
tersebut juga mengenai tangan dan kaki karena gangguan penggunaan otot tungkai
4disuse atrophy5.
:. 7angguan penglihatan dan pendengaran
<ata tampak tidak segaris karena perbedaan pada otot mata kanan dan kiri
sehingga menimbulkan penglihatan ganda. 6ika tidak segera dikoreksi dapat
menimbulkan gangguan berat pada mata.
-. "ensasi dan persepsi normal
"ebagian pendertia !P mengalami gangguan kemampuan untuk merasakan sensasi
misalnya sentuhan dan nyeri. <ereka juga mengalami stereognosia, atau kesulitan
merasakan dan mengidentiikasi obyek melalui sensasi.
I)% PA*'&ISI'L'(I
!P bukan merupakan satu penyakit dengan satu penyebab. !P merupakan grup
penyakit dengan masalah mengatur gerakan, tetapi dapat mempunyai penyabab yang berbeda.
Cntuk menentukan penyebab !P, harus digali mengenai hal ; bentuk !P, ri*ayat kesehatan
ibu dan anak, dan onset penyakit.
3
Adanya malormasi hambatan pada (askuler, atroi, hilangnya neuron dan degenerasi
laminar akan menimbulkan narro*ergyiri, suluran sul1i dan berat otak rendah. !P
digambarkan sebagai keka1auan pergerakan dan postur tubuh yang disebabkan oleh 1a1at
nonprogressi(e atau luka otak pada saat anak-anak. "uatu presentasi !P dapat diakibatkan
oleh suatu dasar kelainan 4struktural otak ; a*al sebelum dilahirkan, perinatal, atau luka-luka ?
kerugian setelah kelahiran dalam kaitan dengan ketidak1ukupan (askuler, toksin atau ineksi5.
1
'i C"A, sekitar 10 8 30/ !P disebabkan oleh karena penyakit setelah lahir. 'apat
juga merupakan hasil dari kerusakan otak pada bulan 8 bulan pertama atau tahun pertama
kehidupan yang merupakan sisa ineksi otak, misalnya meningitis bakteri atau ensealitis
(irus, atau merupakan hasil dari trauma kepala yang sering akibat ke1elakaan lalu lintas, jatuh
atau penganiayaan anak.
Penyebab !P kongenital sering tidak diketahui. 'iperkirakan terjadi kejadian spesiik
pada masa kehamilan atau sekitar kelahiran dimana terjadi kerusakan pusat motorik pada otak
yang sedang berkembang. =eberapa penyebab !P kongenital adalah ;
1. Ineksi pada kehamilan
8
2ubella dapat mengineksi ibu hamil dan etus dalam uterus, akan menyebabkan
kerusakan sistem sara yang sedang berkembang. Ineksi lain yang dapat
menyebabkan 1edera otak etus meliputi 1ytomegalo(irus dan toEoplasmosis.
3. Ikterus neonatorum
Pada keadaan 2h?A=F inkompatibilitas, terjadi kerusakan eritrosit dalam *aktu
singkat, sehingga bilirubin indirek akan menngkat dan menyebabkan ikterus. Ikterus
berat dan tidak diterapi dapat merusak sel otak se1ara permanen.
6
,. Kekurangan oksigen berat pada otak atau trauma kepala selama proses persalinan.
Asiksia sering dijumpai pada bayi bayi dengan kesulitan persalinan. Asiksia
menyebabkan rendahnya suplai oksigen pada otak bayi dalam periode lama, anak
tersebut akan mengalami kerusakan otak yang dikenal dengan hipoksik iskemik
ensealopati. Angka mortalitas meningkat pada kondisi asiksia berat, dimana daat
bersama dengan gangguan mental dan kejang.
6

Kriteria yang digunakan untuk memastikan hipoksik intrapartum sebagai penyebab !P ;
:
1. <etabolik asidosis pada janin dengan pemeriksaan darah arteri tali pusat janin, atau
neonatal dini p9G& dan =AG13mmol?#
3. 0eonatal en1ephalopathy dini berat sampai sedang pada bayi +,:minggu gestasi
,. $ipe !P spastik Duadriplegia atau diskinetik
:. $anda hipoksik pada bayi segera setelah lahir atau selama persalinan
-. Penurunan detak jantung janin 1epat, segera dan 1epat memburuk segera setelah tanda
hipoksik terjadi dimana sebelumnya diketahui dalam batas normal
6. Apgar s1ore 0-6 G - menit
&. <ulti sistim tubuh terganggu segera setelah hipoksik
8. Imaging dini abnormalitas 1erebral
:. "troke
Kelainan koagulasi pada ibu atau bayi dapat menyebabkan stroke pada etus atau bayi baru
lahir. "troke ini menyebabkan kerusakan jaringan otak dan menyebabkan terjasinya masalah
neurologis.
)aktor 8 aktor yang menyatakan penyebab selain hipoksik intrapartum sebagai penyebab !P
;
:
%
1. Pada pemeriksaan analisis gas darah arteri umbilikal .1mmol?# atau p9+&
3. =ayi dengan kelainan kongenital mayor atau multipel atau kelainan metabolik
,. Ineksi ""P atau siskemik
:. =ayi dengan tanda hambatan pertumbuhan intra uterin
-. <ikro1eali
6. Adanya aktor resiko antenatal lain untuk !P, misalnya prematuritas, kehamilan
ganda dan penyakit autoimun
&. Adanya aktor resiko postnatal untuk !P seperti postnatal ensealitis, hipotensi
memanjang atau hipoksik karena penyakit respirasi
)% &AK*'R RESIK' CEREBRAL PALSY
)aktor-aktor resiko yang menyebabkan kemungkinan terjadinya !P semakin besar antara
lain adalah;
3
a. #etak sungsang.
b. Proses persalinan sulit.
<asalah (askuler atau respirasi bayi selama persalinan merupakan tanda a*al yang
menunjukkan adanya masalah kerusakan otak atau otak bayi tidak berkembang se1ara
normal. Komplikasi tersebut dapat menyebabkan kerusakan otak permanen.
1. Apgar s1ore rendah.
Apgar s1ore yang rendah hingga 10-30 menit setelah kelahiran.
d. ==#2 dan prematuritas.
2esiko !P lebih tinggi diantara bayi dengan berat lahir .3-00gram dan bayi lahir
dengan usia kehamilan .,& minggu. 2esiko akan meningkat sesuai dengan rendahnya
berat lahir dan usia kehamilan.
e. Kehamilan ganda.
. <alormasi ""P.
"ebagian besar bayi-bayi yang lahir dengan !P memperlihatkan malormasi ""P yang
nyata, misalnya lingkar kepala abnormal 4mikroseali5. 9al tersebut menunjukkan
bah*a masalah telah terjadi pada saat perkembangan ""P sejak dalam kandungan.
g. Perdarahan maternal atau proteinuria berat pada saat masa akhir kehamilan.
Perdarahan (aginal selama bulan ke % hingga 10 kehamilan dan peningkatan jumlah
protein dalam urine berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya !P pada bayi
h. 9ipertiroidism maternal, mental retardasi dan kejang.
i. Kejang pada bayi baru lahir
10
)I% DIA(N'SIS CEREBRAL PALSY
a. 7ejala A*al
$anda a*al !P biasanya tampak pada usia ., tahun, dan orang tua sering men1urigai
ketika kemampuan perkembangan motorik tidak normal. =ayi dengan !P sering mengalami
kelambatan perkembangan, misalnya tengkurap, duduk, merangkak, tersenyum atau berjalan.
1
15 "pastisitas
$erdapat peninggian tonus otot dan releks yang disertai dengan klonus dan relek
=abinski yang positi. $onus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang
meskipun penderita dalam keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya
pada suatu gabungan otot, karena itu tampak siat yang khas dengan ke1enderungan
terjadi kontraktur, misalnya lengan dalam aduksi, leksi pada sendi siku dan
pergelangan tangan dalam pronasi serta jari-jari dalam leksi sehingga posisi ibu jari
melintang di telapak tangan. $ungkai dalam sikap aduksi, leksi pada sendi paha dan
lutut, kaki dalam lesi plantar dan telapak kaki berputar ke dalam. $oni1 ne1k releE
dan releks neonatal menghilang pada *aktunya. Kerusakan biasanya terletak di
traktus kortikospinalis. =entuk kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan
besarnya kerusakan yaitu monoplegia? monoparesis. Kelumpuhan keempat anggota
gerak, tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnyaH hemiplegia?
hemiparesis adalah kelumpuhan lengan dan tungkai dipihak yang samaH diplegia?
diparesis adalah kelumpuhan keempat anggota gerak tetapi tungkai lebih hebat
daripada lenganH tetraplegia? tetraparesis adalah kelimpuhan keempat anggota gerak,
lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai.
35 $onus otot yang berubah
=ayi pada golongan ini, pada usia bulan pertama tampak laksid 4lemas5 dan berbaring
seperti kodok terlentang sehingga tampak seperti kelainan pada lo*er motor neuron.
<enjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah hingga
tinggi. =ila dibiarkan berbaring tampak leksid dan sikapnya seperti kodok terlentang,
tetapi bila dirangsang atau mulai diperiksa otot tonusnya berubah menjadi spastis,
2eleks otot yang normal dan releks babinski negati, tetapi yang khas ialah reelek
neonatal dan toni1 ne1k releE menetap. Kerusakan biasanya terletak di batang otak
dan disebabkan oleh aiksia perinatal atau ikterus.
,5 Koreo-atetosis
11
Kelainan yang khas yaitu sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi dengan
sendirinya 4in(oluntary mo(ement5. Pada 6 bulan pertama tampak laksid, tetapa
sesudah itu barulah mun1ul kelainan tersebut. 2eleks neonatal menetap dan tampak
adanya perubahan tonus otot. 'apat timbul juga gejala spastisitas dan ataksia,
kerusakan terletak diganglia basal disebabkan oleh asiksia berat atau ikterus kern
pada masa neonatus.
:5 Ataksia
Ataksia adalah gangguan koordinasi. =ayi dalam golongan ini biasanya laksid dan
menunjukan perkembangan motorik yang lambat. Kehilangan keseimbangan tamapak
bila mulai belajar duduk. <ulai berjalan sangat lambat dan semua pergerakan
1anggung dan kaku. Kerusakan terletak diserebelum.
-5 7angguan pendengaran
$erdapat --10/ anak dengan serebral palsi. 7angguan berupa kelainan neurogen
terutama persepsi nadi tinggi, sehingga sulit menangkap kata-kata. $erdapat pada
golongan koreo-atetosis.
65 7angguan bi1ara
'isebabkan oleh gangguan pendengaran atau retradasi mental. 7erakan yang terjadi
dengan sendirinya dibibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut
sehingga anak sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur.
&5 7angguan mata
7angguan mata biasanya berupa strabismus kon(ergen dan kelainan reraksi.pada
keadaan asiksia yang berat dapat terjadi katarak.
b. Pemeriksaan isik
'alam menegakkan diagnosis !P perlu melakukan pemeriksaan kemampuan motorik bayi
dan melihat kembali ri*ayat medis mulai dari ri*ayat kehamilan, persalinan dan kesehatan bayi.
Perlu juga dilakukan pemeriksaan releks dan mengukur perkembangan lingkar kepala anak.
:
Perlu juga memeriksa penggunaan tangan, ke1enderungan untuk menggunakan tangan
kanan atau kiri. 6ika dokter memegang obyek didepan dan pada sisi dari bayi, bayi akan
mengambil benda tersebut dengan tangan yang 1enderung dipakai, *alaupun obyek didekatkan
pada tangan yang sebelahnya. "ampai usia 13 bulan, bayi masih belum menunjukkan
ke1enderungan menggunakan tangan yang dipilih. $etapi bayi dengan spastik hemiplegia, akan
menunjukkan perkembangan pemilihan tangan lebih dini, sejak tangan pada sisi yang tidak
terkena menjadi lebih kuat dan banyak digunakan.
13
#angkah selanjutnya dalam diagnosis !P adalah menyingkirkan penyakit lain yang
menyebabkan masalah pergerakan. Bang terpenting, harus ditentukan bah*a kondisi anak tidak
bertambah memburuk. Ialaupun gejala dapat berubah bersama *aktu, !P sesuai dengan
deinisinya tidak dapat menjadi progresi. 6ika anak se1ara progresi kehilangan kemampuan
motorik, ada kemungkinan terdapat masalah yang berasal dari penyakit lain, misalnya penyakit
genetik, penyakit muskuler, kelainan metabolik, tumor ""P. Penelitian metabolik dan genetik
tidak rutin dilakukan dalam e(aluasi anak dengan !P. 2i*ayat medis anak, pemeriksaan
diagnostik khusus, dan, pada sebagian kasus, pengulangan pemeriksaan akan sangat berguna
untuk konirmasi diagnostik dimana penyakit lain dapat disingkirkan.
PA<A2IK"AA0 0AC2F2A'IF#F7IK
Pemeriksaan khusus neuroradiologik untuk men1ari kemungkinan penyebab !P perlu
dikerjakan, salah satu pemeriksaan adalah !$ s1an kepala, yang merupakan pemeriksaan imaging
untuk mengetahui struktur jaringan otak. !$ s1an dapat menjabarkan area otak yang kurang
berkembang, kista abnormal, atau kelainan lainnya. 'engan inormasi dari !$ "1an, dokter dapat
menentukan prognosis penderita !P.
<2I kepala, merupakan tehnik imaging yang 1anggih, menghasilkan gambar yang lebih
baik dalam hal struktur atau area abnormal dengan lokasi dekat dengan tulang dibanding dengan
!$ s1an kepala.
'ikatakan bah*a neuroimaging direkomendasikan dalam e(aluasi anak !P jika etiologi
tidak dapat ditemukan.
Pemeriksaan ketiga yang dapat menggambarkan masalah dalam jaringan otak adalah
C"7 kepala. C"7 dapat digunakan pada bayi sebelum tulang kepala mengeras dan CC= tertutup.
Ialaupun hasilnya kurang akurat dibanding !$ dan <2I, tehnik tersebut dapat mendeteksi kista
dan struktur otak, lebih murah dan tidak membutuhkan periode lama pemeriksaannya.
PA<A2IK"AA0 #AI0
&
Pada akhirnya, klinisi mungkin akan mempertimbangkan kondisi lain yang berhubungan
dengan !P, termasuk kejang, gangguan mental, dan (isus atau masalah pendengaran untuk
menentukan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan.
6ika dokter menduga adanya penyakit kejang, AA7 harus dilakukan 4#e(el A, !lass I-II
e(iden1e. AA7 akan membantu dokter untuk melihat akti(itas elektrik otak dimana akan
menunjukkan penyakit kejang. Pemeriksaan intelegensi harus dikerjakan untuk menentukan
derajat gangguan mental. Kadangkala intelegensi anak sulit ditentukan dengan sebenarnya karena
1,
keterbatasan pergerakan, sensasi atau bi1ara, sehingga anak !P mengalami kesulitan melakukan
tes dengan baik.
6ika diduga ada masalah (isus, dokter harus merujuk ke optalmologis untuk dilakukan
pemeriksaanH jika terdapat gangguan pendengaran, dapat dirujuk ke dokter $9$. Identiikasi
kelainan penyerta sangat penting sehingga diagnosis dini akan lebih mudah ditegakkan. =anyak
kondisi diatas dapat diperbaiki dengan terapi spesiik, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup
penderita !P.
)II% *A*ALAKSANA CEREBRAL PALSY
JII.1. <A"A#A9 C$A<A PA0'A2I$A !A2A=2A# PA#"B
<asalah utama yang dijumpai dan dihadapi pada anak yang menderita !P antara lain
3
;
1. Kelemahan dalam mengendalikan otot tenggorokan, mulut dan lidah akan menyebabkan
anak tampak selalu berliur.
Air liur dapat menyebabkan iritasi berat kulit dan menyebabkan seseorang sulit diterima
dalam kehidupan sosial dan pada akhirnya menyebabkan anak akan terisolir dalam
kehidupan kelompoknya. Ialaupun sejumlah terapi untuk mengatasi drooling telah
di1oba selama bertahun-tahun, dikatakan tidak ada satupun yang selalu berhasil. Fbat
yang dikenal dengan antikholinergik dapat menurunkan aliran sali(a tetapi dapat
menimbulkan eek samping yang bermakna, misalnya mulut kering dan digesti yang
buruk. Pembedahan, *alaupun kadang-kadang eekti, akan memba*a komplikasi,
termasuk memburuknya masalah menelan. =eberapa penderita berhasil dengan teknik
bioeedba1k yang dapat memberitahu penderita saat drooling atau mengalami kesulitan
untuk mengendalikan otot yang akan membuat mulut tertutup. $erapi tersebut tampaknya
akan berhasil jika penderita mempunyai usia mental 3-, tahun, dimana dapat dimoti(asi
untuk mengendalikan drooling, dan dapat mengerti bah*a drooling akan menyebabkan
seseorang se1ara sosial sulit diterima.
"% Kesulitan makan dan menelan, yang dipi1u oleh masalah motorik pada mulut,
dapat menyebab gangguan nutrisi yang berat.
0utrisi yang buruk, pada akhirnya dapat membuat seseorang rentan terhadap ineksi dan
menyebabkan gagal tumbuh. Cntuk membuat menelan lebih mudah, disarankan untuk
membuat makanan semisolid, misalnya sayur dan buah yang dihan1urkan. Posisi ideal,
misalnya duduk saat makan atau minum dan menegakkan leher akan menurunkan resiko
tersedak. Pada kasus gangguan menelan berat dan malnutrisi, klinisi dapat
merekomendasikan penggunaan selang makanan, yang digunakan untuk memasukkan
1:
makanan dan nutrien ke saluran makanan, atau gastrostomy, dimana dokter bedah akan
meletakkan selang langsung pada lambung.
+% Inkontinentia Crin.
Inkontinentia urin adalah komplikasi yang sering terjadi. Inkontinentia urin ini disebabkan
karena penderita !P kesulitan mengendalikan otot yang selalu menjaga supaya kandung
kemih selalu tertutup. Inkontinentia urin dapat berupa enuresis, dimana seseorang tidak
dapat mengendalikan urinasi selama akti(itas isik 4stress inkonentia5, atau merembesnya
urine dari kandung kemih. $erapi medikasi yang dapat diberikan untuk inkonensia
meliputi olah raga khusus, bioeedba1k, obat- obatan, pembedahan atau alat yang
dilekatkan dengan pembedahan untuk mengganti atau membantu otot.
!P tidak dapat disembuhkan, terapi yang dilakukan ditujukan untuk memperbaiki
kapabilitas anak. 'alam perkembangannya, hingga saat ini tujuan terapi pada !P adalah
mengusahakan penderita dapat hidup mendekati kehidupan normal dengan mengelola problem
neurologis yang ada seoptimal mungkin. 'isini tidak ada terapi standar yang berlaku untuk semua
penderita !P. Klinisi diharapkan dapat bekerja sama dalam tim, untuk mengidentiikasi
kebutuhan khusus masing-masing anak dan kelainan-kelainan yang ada dan kemudian
menentukan terapi indi(idual yang 1o1ok untuk setiap penderita 47oldberg, 1%%1H !hampbell,
1%%65.
=eberapa pendekatan tatalaksana yang diren1anakan meliputi obat-obatan untuk
mengontrol kejang dan spasme otot, penyangga khusus untuk kompensasi keseimbangan otot,
pembedahan, peralatan mekanis untuk membantu kelainan yang timbul, konseling emosional dan
kebutuhan psikologis, dan isik, okupasi, bi1ara dan terapi perilaku.
JII.3. $A2API "PA"I)IK !A2A=2A# PA#"B
JII.3.1. $erapi )isik, Perilaku dan #ainnya
,
$erapi, apakah untuk pergerakan, bi1ara atau kemampuan mengerjakan tugas sederhana,
merupakan tujuan dari terapi !P. $erapi !P ditujukan pada perubahan kebutuhan penderita sesuai
dengan perkembangan usia.
$erapi isik selalu dimulai pada usia tahun pertama kehidupan, segera setelah diagnostik
ditegakkan. Program terapi isik menggunakan gerakan spesiik mempunyai 3 tujuan utama yaitu
men1egah kelemahan atau kemunduran ungsi otot yang apabila berlanjut akan menyebabkan
pengerutan otot 4disuse atrophy5 dan yang kedua adalah menghindari kontraktur, dimana otot
akan menjadi kaku yang pada akhirnya akan menimbulkan posisi tubuh abnormal.
1-
Kontraktur adalah satu komplikasi yang sering terjadi. Pada keadaan normal, dengan
panjang tulang yang masih tumbuh akan menarik otot tubuh dan tendon pada saat berjalan dan
berlari dan akti(itas sehari-hari. 9al ini memastikan bah*a otot akan berkembang dalam
ke1epatan yang sama. $etapi pada anak dengan !P, spastisitas akan men1egah peregangan otot
dan hal tersebut akam menyebabkan otot tidak dapat berkembang 1ukup pesat untuk
mengimbangi ke1epatan tumbuh tulang. Kontraktur dapat mengganggu keseimbangan dan
memi1u hilangnya kemampuan yang sebelumnya. 'engan melakukan terapi isik saja atau
dengan kombinasi penopang khusus 4alat orthotik5, kita dapat men1egah komplikasi dengan 1ara
melakukan peregangan pada otot yang spastik. "ebagai 1ontoh, jika anak mengalami spastik pada
otot hamstring, terapis dan keluarga seharusnya mendorong anak untuk duduk dengan kaki
diluruskan untuk meregangkan ototnya.
$ujuan ketiga dari program terapi isik adalah meningkatkan perkembangan motorik
anak. !ara kerja untuk mendukung tujuan tersebut dengan tehnik =obath. 'asar dari program
tersebut adalah releks primiti akan tertahan pada anak !P yang menyebabkan hambatan anak
untuk belajar mengontrol gerakan (olunter. $erapis akan berusaha untuk menetralkan releks
tersebut dengan memposisikan anak pada posisi yang berla*anan. 6adi, sebagai 1ontoh, jika anak
dengan !P normalnya selalu melakukan leksi pada lengannya, terapis seharusnya melakukan
gerakan ekstensi berulang kali pada lengan tersebut.
Pendekatan kedua untuk terapi isik adalah membuat pola, berdasarkan prinsip bah*a
kemampuan motorik seharusnya diajarkan dalam ururtan yang sama supaya berkembang se1ara
normal. Pada pendekatan kontro(esial tersebut, terapis akan membimbing anak sesuai dengan
gerakan sepanjang alur perkembangan motorik normal. "ebagai 1ontoh, anak belajar gerakan
dasar seperti menarik badannya pada posisi duduk dan merangkak sebelum anak mampu berjalan,
yang berhubungan dengan tanpa melihat usianya.
$erapi perilaku merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan kemampuan anak. $erapi
ini, menggunakan teori dan tehnik psikologi, yang dapat melengkapi terapi isik, bi1ara dan
okupasi. "ebagai 1ontoh, terapi perilaku meliputi menyembunyikan boneka dalam kotak dengan
harapan anak dapat belajar bagaimana meraih kotak dengan menggunakan tangan yang lebih
lemah. "eperti anak belajar untuk berkata dengan huru depan b dapat menggunakan balon untuk
men1iptakan kata tersebut. Pada kasus yang lain, terapis dapat men1oba menghindari perilaku
yang tidak menguntungkan atau perilaku merusak, misalnya menarik rambut atau menggigit,
dengan menunjukkan hadiah pada anak yang menunjukkan akti(itas yang baik.
Pada saat anak !P tumbuh lanjut, kebutuhan mereka untuk dan tipe terapi dan pelayanan
bantuan lain akan berlanjut dan berubah. $erapi isik berkelanjutan berdasarkan masalah
pergerakan dan disuplementasi dengan latihan (okal, rekreasi dan program yang menyenangkan,
16
dan edukasi khusus jika diperlukan. Konseling untuk perubahan emosi dan psikologis dapat
dibutuhkan pada setiap usia, tetapi paling sering pada masa remaja.
$ergantung pada kemampuan isik dan intelektual, orang de*asa mungkin membutuhkan
pengasuh yang peduli, akomodasi hidup, transportasi atau pekerjaan.
'engan tanpa memandang usia dan bentuk terapi yang digunakan, terapi tidak berhenti
saat penderit keluar dari ruangan terapi. Pada kenyataannya, sebagian besar pekerjaan sering
dilakukan di rumah. $erapis berungsi sebagai pelatih, menyiapkan orang tua dan penderita
dengan strategi dan melatihnya dimana dapat membantu meningkatkan penampilan di rumah,
sekolah dan dimasyarakat.
Alat <ekanik
<ulai dengan bentuk yang sederhana misalnya sepatu (el1ro atau bentuk yang 1anggih
seperti alat komunikasi komputer, mesin khusus dan alat yang diletakkan dirumah, sekolah dan
tempat kerja dapat membantu anak atau de*asa dengan !P untuk menutupi keterbatasannya.
Komputer merupakan 1ontoh yang 1anggih sebagai alat baru yang dapat membuat
perubahan yang bermakna dalam kehidupan penderita !P. "ebagai 1ontoh, anak yang tidak dapat
berbi1ara atau menulis tetapi dapat membuat gerakan dengan kepala mungkin dapat belajar untuk
mengendalikan komputer dengan menggunakan pointer lampu khusus yang diletakkan di ikat
kepala. 'engan dilengkapi dengan komputer dan sintesiser suara, anak akan berkomunikasi
dengan orang lain. Pada kasus lain, tehnologi telah mendukung penemuan (ersi baru dari alat
lama, misalnya kursi roda tradisional dan bentuk yang lebih baru yang dapat berjalan dengan
menggunakan listrik.
JII.3.3. $erapi <edikamentosa
6
Cntuk penderita !P yang disertai kejang, dokter dapat memberi obat anti kejang yang
terbukti eekti untuk men1egah terjadinya kejang ulangan. obat yang diberikan se1ara indi(idual
dipilih berdasarkan tipe kejang, karena tidak ada satu obat yang dapat mengontrol semua tipe
kejang. =agaimanapun juga, orang yang berbeda *alaupun dengan tipe kejang yang sama dapat
membaik dengan obat yang berbeda, dan banyak orang mungkin membutuhkan terapi kombinasi
dari dua atau lebih ma1am obat untuk men1apai eekti(itas pengontrolan kejang
$iga ma1am obat yang sering digunakan untuk mengatasi spastisitas pada penderita !P
adalah;
1. 'iaKepam
Fbat ini bekerja sebagai relaksan umum otak dan tubuh.
1&
Pada anak usia .6 bulan tidak direkomendasikan, sedangkan pada anak usia +6 bulan
diberikan dengan dosis 0,13 - 0,8 mg?Kg==?hari per oral dibagi dalam 6 - 8 jam, dan
tidak melebihi 10 mg?dosis
3. =a1loen
Fbat ini bekerja dengan menutup penerimaan signal dari medula spinalis yang akan
menyebabkan kontraksi otot.
'osis obat yang dianjurkan pada penderita !P adalah sebagai berikut;
L 3 - & tahun;
'osis 10 - :0 mg?hari per oral, dibagi dalam , - : dosis. 'osis dimulai 3,- - -
mg per oral , kali per hari, kemudian dosis dinaikkan - - 1- mg?hari,
maksimal :0 mg?hari
L 8 - 11 tahun;
'osis 10 - 60 mg?hari per oral, dibagi dalam , -: dosis. 'osis dimulai 3,- - -
mg per oral , kali per hari, kemudian dosis dinaikkan - - 1- mg?hari,
maksimal 60 mg?hari
L + 13 tahun;
'osis 30 - 80 mg?hari per oral, dibagi dalam ,-: dosis. 'osis dimulai - mg
per oral , kali per hari, kemudian dosis dinaikkan 1- mg?hari, maksimal 80
mg?hari
,. 'antrolene
Fbat ini bekerja dengan menginter(ensi proses kontraksi otot sehingga kontraksi otot
tidak bekerja.
'osis yang dianjurkan dimulai dari 3- mg?hari, maksimal :0 mg?hari
Fbat-obatan tersebut diatas akan menurunkan spastisitas untuk periode singkat, tetapi
untuk penggunaan jangka *aktu panjang belum sepenuhnya dapat dijelaskan. Fbat - obatan
tersebut dapat menimbulkan eek samping, misalnya mengantuk, dan eek jangka
panjang pada sistem sara yang sedang berkembang belum jelas. "atu solusi untuk menghindari
eek samping adalah dengan mengeksplorasi 1ara baru untuk memberi obat - obat tersebut
Penderita dengan !P atetoid kadang-kadang dapat diberikan obat-obatan yang dapat
membantu menurunkan gerakan-gerakan abnormal. Fbat yang sering digunakan termasuk
golongan antikolinergik, bekerja dengan menurunkan akti(itas a1etilkoline yang merupakan
bahan kimia messenger yang akan menunjang hubungan antar sel otak dan men1etuskan
18
terjadinya kontraksi otot. Fbat-obatan antikolinergik meliputi triheEyphenidyl, benKtropine dan
pro1y1lidine hydro1hloride.
Adakalanya, klinisi menggunakan membasuh dengan alkohol atau injeksi alkohol
kedalam otot untuk menurunkan spastisitas untuk periode singkat. $ehnik tersebut sering
digunakan klinisi saat hendak melakukan koreksi perkembangan kontraktur. Alkohol yang
diinjeksikan kedalam otot akan melemahkan otot selama beberapa minggu dan akan memberikan
*aktu untuk melakukan bra1ing, terapi. Pada banyak kasus, teknik tersebut dapat menunda
kebutuhan untuk melakukan pembedahan.
=otulinum $oEin 4=F$FM5
<erupakan medikasi yang bekerja dengan menghambat pelepasan a1etil1holine dari
presinaptik pada pertemuan otot dan sara. Injeksi pada otot yang kaku akan menyebabkan
kelemahan otot. Kombinasi terapi antara melemahkan otot dan menguatkan otot yang berla*anan
kerjanya akan meminimalisasi atau men1egah kontraktur yang akan berkembang sesuai dengan
pertumbuhan tulang. Inter(ensi ini digunakan jika otot yang menyebabkan deormitas tidak
banyak jumlahnya, misalnya spastisitas pada tumit yang menyebabkan gait jalan berjinjit 4$oe-
heel gait5 atau spastisitas pada otot leEor lutut yang menyebabkan 1rou1h gait. Perbaikan tonus
otot sering akibat mulai berkembangnya sara terminal, yang merupakan proses dengan pun1ak
terjadi pada 60 hari.
Inter(ensi botulinum dapat digunakan pada deormitas ekstremitas atas yang se1ara
sekunder akibat tonus otot abnormal dan tumbuhnya tulang. Kelainan yang sering dijumpai
adalah aduksi bahu dan rotasi internal, leksi lengan, pronasi telapak tangan dan leksi
pergelangan tangan dan jari-jari. =otulinum toksin sangat eekti untuk memperbaiki kekakuan
siku dan ekstensi ibu jari. "eperti sudah diduga sebelumnya, ungsi motorik halus tidak banyak
mengalami perbaikan. Keuntungan dari segi kosmetik untuk memperbaiki leksi siku sangat
dramatik.
Komplikasi injeksi botulinum toksin dikatakan minimal. 0yeri akibat injeksi minimal,
biasanya akan hilang tidak lebih dari - menit setelah injeksi. Aikasi ter1apai dalam :8-&3 jam
dan akan menghilang dalam 3-: bulan setelah injeksi. #ama *aktu penggunaan botulinum toksi
dilanjutkan tergantung dari derajat abnormalitas tonus otot, respon penderita dan kemampuan
untuk memelihara ungsi yang diinginkan.
=a1loen Intratekal
=a1loen merupakan 7A=A agonis yang diberikan se1ara intratekal melalui pompa yang
ditanam akan sangat membantu penderita dalam mengatasi kekakuan otot berat yang sangat
1%
mengganggu ungsi normal tubuh. Karena =a1loen tidak dapat menembus === se1ara eekti,
obat oral dalam dosis tinggi diperlukan untuk men1apai tujuan yang diinginkan jika dibandingkan
dengan 1ara pemberian intratekal. 'ijumpai penderita dengan ba1loen oral akan tampak letargik.
=a1loen intratekal diberikan pertama kali sejak tahun 1%80 sebagai obat untuk
mengendalikan spasme otot berat akibat trauma pada tulang belakang. "ejak tahun 1%%0, metode
pengobatan ini mulai digunakan untuk koreksi pada penderita !P dan menunjukkan eikasi yang
baik.
30
JII.3.,. $erapi =edah
3
Pembedahan sering direkomendasikan jika terjadi kontraktur berat dan menyebabkan
masalah pergerakan berat. 'okter bedah akan mengukur panjang otot dan tendon, menentukan
dengan tepat otot mana yang bermasalah. <enentukan otot yang bermasalah merupakan hal yang
sulit, berjalan dengan 1ara berjalan yang benar, membutuhkan lebih dari ,0 otot utama yang
bekerja se1ara tepat pada *aktu yang tepat dan dengan kekuatan yang tepat. <asalah pada satu
otot dapat menyebabkan 1ara berjalan abnormal. #ebih jauh lagi, penyesuaian tubuh terhadap otot
yang bermasalah dapat tidak tepat. Alat baru yang dapat memungkinkan dokter untuk melakukan
analisis gait. Analisis gait menggunakan kamera yang merekam saat penderita berjalan, komputer
akan menganalisis tiap bagian gait penderita. 'engan menggunakan data tersebut, dokter akan
lebih baik dalam melakukan upaya inter(ensi dan mengkoreksi masalah yang sesungguhnya.
<ereka juga menggunakan analisis gait untuk memeriksa hasil operasi.
Fleh karena pemanjangan otot akan menyebabkan otot tersebut lebih lemah, pembedahan
untuk koreksi kontraktur selalu diamati selama beberapa bulan setelah operasi. Karena hal
tersebut, dokter berusaha untuk menentukan semua otot yang terkena pada satu *aktu jika
memungkinkan atau jika lebih dari satu produser pembedahan tidak dapat dihindarkan, mereka
dapat men1opba untuk menjad*alkan operasi yang terkait se1ara bersama-sama.
$eknik kedua pembedahan, yang dikenal dengan selekti dorsal root rhiKotomy, ditujukan
untuk menurunkan spastisitas pada otot tungkai dengan menurunkan jumlah stimulasi yang
men1apai otot tungkai melalui sara. 'alam prosedur tersebut, dokter berupaya melokalisir dan
memilih untuk memotong sara yang terlalu dominan yang mengontrol otot tungkai. *alaupun
disini terdapat kontro(ersi dalam pelaksanaannya.
$eknik pembedahan eksperimental meliputi stimulasi kronik 1erebellar dan stereotaEi1
thalamotomy. Pada stimulasi kronik 1erebelar, elektroda ditanam pada permukaan 1erebelum
yang merupakan bagian otak yang bertanggung ja*ab dalam koordinasi gerakan, dan digunakan
untuk menstimulasi sara-sara 1erebellar, dengan harapan bah*a teknik tersebut dapat
menurunkan spastisitas dan memperbaiki ungsi motorik, hasil dari prosedur in(asi tersebut
masih belum jelas. =eberapa penelitan melaporkan perbaikan spastisitas dan ungsi, sedang
lainnya melaporkan hasil sebaliknya 4Pape et al, 1%%,5.
"tereotaEi1 thalamotomy meliputi memotong bagian thalamus, yang merupakan bagian
yang melayani penyaluran pesan dari otot dan organ sensoris. 9al ini eekti hanya untuk
menurunkan tremor hemiparesis.
)III% PR'(N'SIS CEREBRAL PALSY
=eberapa aktor sangat menentukan prognosis !P, tipe klinis !P, derajat kelambatan yang
tampak pada saat diagnosis ditegakkan, adanya releks patologis, dan yang sangat penting adalah
derajat deisit intelegensi, sensoris, dan emosional. $ingkat kognisi sulit ditentukan pada anak
ke1il dengan gangguan motorik, tetapi masih mungkin diukur 4<1!arthy et al, 1%865. $ingkat
kognisi sangat berhubungan dengan tingkat ungsi mental yang akan sangat menentukan kualitas
hidup seseorang.
Anak-anak dengan hemiplegia tetapi tidak menderita masalah utama lainnya selalu dapat
berjalan pada usia 3 tahunH kegunaan short bra1e hanya dibutuhkan sementara saja. Adanya
tangan yang ke1il pada sisi yang hemiplegi, dengan kuku ibu jari yang lebih run1ing dibanding
dengan kuku lainnya, dapat diasosiasikan dengan disungsi sensoris parietalis dan deek sensori
tersebut akan membatasi kemampuan ungsi motorik halus pada tangan tersebut. 3-/ anak
dengan hemiplegia akan mengalami hemianopsia, karena hal ini anak sebaiknya diberi tempat
duduk dikelas untuk memaksimalkan ungsi (isus. Kejang dapat merupakan masalah yang terjadi
pada anak yang hemiplegik.
10
#ebih dari -0/ anak-anak dengan spastik diplegia dapat belajar berjalan tesering pada
usia , tahun, tetapi tetap menunjukkan gait abnormal, dan beberapa kasus membutuhkan alat
bantu, misalnya kruk. Akti(itas tangan se1ara umum akan terkena dengan derajat yang berbeda,
*alaupun kerusakan yang terjadi minimal. Abnormal gerakan ekstraokuler relati sering
dijumpai.
Anak dengan spastik Duadriplegia, 3-/ membutuhkan pera*atan totalH paling banyak
hanya ,/ yang dapat berjalan, biasanya setelah usia , tahun. )ungsi intelektual sering seiring
dengan derajat !P dan terkenanya otot bulbar akan menambah kesulitan yang sudah ada.
9ipotonia trunkus, dengan releks patologis atau kekakuan yang persisten merupakan
gambaran yang menunjukkan buruknya keadaan. <ayoritas anak-anak tersebut memiliki limitasi
intelektual.
"ebagian besar anak yang tidak memiliki masalah lain yang serius yang berhubungan
dengan spastisitas tipe athetoid kadang-kadang dapat berjalan. Keseimbangan dan penggunaan
kemampuan tangan tampaknya masih sulit. "ebagian besar anak-anak yang baru duduk pada usia
3 tahun dapat belajar berjalan. "ebaliknya, anak-anak yang masih menunjukkan moro releks,
tonik ne1k releks asimetrik, ke1enderungan ekstensi, dan tidak menunjukkan releks parasut
tidak mungkin dapat belajar berjalanH sebagian dari mereka yang tidak dapat duduk pada usia :
tahun dapat belajar berjalan.
I,% PENCE(AHAN CEREBRAL PALSY
=eberapa penyebab !P dapat di1egah atau diterapi, sehingga kejadian !P pun bisa
di1egah. Adapun penyebab !P yang dapat di1egah atau diterapi antara lain;
,
1. Pen1egahan terhadap 1edera kepala dengan 1ara menggunakan alat pengaman
pada saat duduk di kendaraan dan helm pelindung kepala saat bersepeda, dan eliminasi
kekerasan isik pada anak. "ebagai tambahan, pengamatan optimal selama mandi dan
bermain.
3. Penanganan ikterus neonatorum yang 1epat dan tepat pada bayi baru lahir dengan
ototerapi, atau jika tidak men1ukupi dapat dilakukan transusi tukar. Inkompatibilitas
aktor rhesus mudah diidentiikasi dengan pemeriksaan darah rutin ibu dan bapak.
Inkompatibilitas tersebut tidak selalu menimbulkan masalah pada kehamilan pertama,
karena se1ara umum tubuh ibu hamil tersebut belum memproduksi antibodi yang tidak
diinginkan hingga saat persalinan. Pada sebagian besar kasus-kasus, serum khusus yang
diberikan setelah kelahiran dapat men1egah produksi antibodi tersebut. Pada kasus yang
jarang, misalnya jika pada ibu hamil antibodi tersebut berkembang selama kehamilan
pertama atau produksi antibodi tidak di1egah, maka perlu pengamatan se1ara 1ermat
perkembangan bayi dan jika perlu dilakukan transusi ke bayi selama dalam kandungan
atau melakukan transusi tukar setelah lahir.
,. 2ubella, atau 1ampak jerman, dapat di1egah dengan memberikan imunisasi
sebelum
hamil.
RE&ERENSI
1. "ta Pengajar Ilmu Kesehatan Anak )KCI. =uku kuliah ilmu kesehatan anak 3. 6akarta ;
Inomedika 6akarta H 300&
3. 2udolph ! ', 2udolph A <, 9ostetter < K, #ister 7, "iegel 0 6. 2udolphNs Pediatri1s,
31
st
Ad. <17ra*-9ill. C"A. 300,
,. Kliegman 2 <, =ehrman 2 A, 6enson 9 =, "tanton = ). Kliegman; 0elson $eEtbook o
Pediatri1s, 18
th
ed. "aunders, An Imprint o Alse(ier. C"A. 300&
:. "aharso '. Palsi "erebral dalam Pedoman 'iagnosis dan $erapi 'i(isi 0europediatri
=ag.?"<) Ilmu Kesehatan Anak )K Cnair?2"C 'r. "oetomo "urabaya. "urabaya; )K
C0AI2?2" '2. "oetomo, 3006.
-. 2opper A 9, =ro*n 2 9. Adams and Ji1torOs Prin1ipeples o 0eurology, 18
th
ed.
<17ra*-9ill. C"A. 300-
6. "aharso '. !erebral Palsy 'iagnosis dan $atalaksana dalam 0askah #engkap !ontinuing
Adu1ation Ilmu Kesehatan Anak MMMJI Kapita "elekta Ilmu Kesehatan Anak JI.
"urabaya; 2" '2. "oetomo, 3006
&. 2ohkamm 2, !olor Atlas o 0eurology. 0e* Bork; $hieme H 300:. p 388
8. "oedarmo, "umarno dkk. Buku Ajar Neurologi Anak. Adisi 1. 6akarta; =adan Penerbit
I'AI. 1%%% ; 116
%. 6ohnston <J. An1ephalopaties; !erebral Palsy dalam Kliegman; 0elson $eEtbook o
Pediatri1s, 18th ed. e=ook 0elson $eEtbook o Pediatri1s, 300&.
10. <oster ', Iil1oE A6, Jollset "A, <arkestad $, #ie 2$. !erebral palsy among term and
postterm births.JAMA. "ep 1 3010H,0:4%5;%&6-83.
11. 9ankins 7'J, "peer <. 'ePning the Pathogenesis and Pathophysiology o 0eonatal
An1ephalopathy and !erebral Palsy. F="$A$2I!" Q 7B0A!F#F7B 300,H103H638-
6,6
13. Adnyana I<F. !erebral Palsy 'itinjau dari Aspek 0eurologi. !ermin 'unia Kedokteran
1%%-, 0o.10:H ,&-:0