Anda di halaman 1dari 9

Medicinesia

tempatnya mahasiswa kedokteran berbagi ilmu


Patofisiologi Sesak Nafas
Artikel ini sudah dibaca 85081 kali!
Patofisiologi
Kemoreseptor
Perubahan pH, pCO , dan pO darah arteri dapat dideteksi oleh
kemoreseptor sentral dan perifer. Stimulasi reseptor ini mengakibatkan
peningkatan aktivitas motorik respirasi. Aktivitas motorik respirasi ini
dapat menyebabkan hiperkapnia dan hipoksia, sehingga memicu terjadinya
dispnea. Menurut studi, terdapat pula peran serta kemoreseptor karotid
yang langsung memberikan impuls ke korteks serebri, meskipun hal ini
belum dibuktikan secara luas.
Hiperkapnia akut yang terjadi pada seseorang sesungguhnya lebih
dikaitkan terhadap ketidaknormalan keluaran saraf motorik dibanding
aktivitas otot respiratorik. Hal ini disebabkan gejala umum hiperapnia akut
berupa urgensi untuk bernapas yang sangat menonjol. Sensasi ini
disebabkan oleh meningkatnya tekanan parsial karbondioksida pada
pasien-pasien, khususnya yang mengalami quadriplegia maupun yang
mengalami paralisis otot pernapasan. Penderita sindrom hipoventilasi
sentral kongenital yang mengalami desentisasi respons ventilatorik
terhadap CO tidak merasakan sensasi sesak napas ketika penderita
tersebut henti napas atau diminta untuk menghirup kembali CO yang
telah dihembuskan. Dengan kata lain, mekanisme yang turut serta dalam
sensasi sesak napas ini adalah kenaikan pCO dan penurunan pO dibawah
normal. Ketika nilai pCO normal dan ventilasi normal, tekanan parsial
oksigen harus diturunkan di bawah 6.7 kPa untuk bisa menghasilkan
sensasi sesak napas.
Hiperkapnia
Kemoreseptor yang ada biasanya tidak merupakan penyebab langsung
Facebook page
Kicau Medicinesia
Obesitas? Cegah sedari dini!
http://t.co/v5qq9RYC2l Cara
Anda mengajarkan diet sehat pada
anak dapat menjadi penentunya
@Ciprime2014 about 12 hours
ago ReplyRetweetFavorite
Hey..Suka olahraga? Pernah lihat
orang cedera. Nah, cermati
bagaimana cara tepat kasih
pertolongan pertama.
http://t.co/0AjVpLfQTF
@TBMfkui about 1 day ago
ReplyRetweetFavorite
RT @PLDFKUI2014: Banyak
Search

Basic Medicine Clinical Aspects Contributor
43 people like this. Like
1
2 2
2
2
2 2
2
2
Medicinesia
9,404 people like Medicinesia.
Facebook social plugin
Like
Kemoreseptor yang ada biasanya tidak merupakan penyebab langsung
terjadinya dispnea. Namun, dispnea yang diinduksi oleh kemoreseptor
biasanya merupakan penyebab dari stimulus lain, seperti hiperkapnia.
Hiperkapnia dapat menginduksi terjadinya dispnea melalui peningkatan
stimulus refleks ke aktivitas otot-otot respiratorik. Pada pasien-pasien
yang diberikan agen blokade neuromuskular, ketika mereka diberikan
ventilator dan tekanan tidal CO dinaikkan sebanyak 5 mmHg, seluruh
subjek sontak merasakan sensasi sesak napas. Namun, pada pasien dengan
penyakit-penyakit respiratorik umumnya, tetap tidak dijumpai kaitan
antara hiperkapnia dan dispnea. Contohnya, pasien COPD yang biasanya
mengakami hiperkapnia kronik tidak serta merta mengalami dispnea.
Menurut studi, hal ini disebabkan karena peningkatan tekanan parsial
karbondioksida tersebut dimodulasi dengan perubahan pH pada
kemoreseptor sentral, sehingga sensasi yang dihasilkan berbeda pula.
Hipoksia
Hipoksia berkaitan dengan kejadian dispnea baik secara langsung
(indepenen, tidak harus ada perubahan ventilasi) maupun tidak langsung
(perubahan kondisi hipoksia dengan terapi oksigen mampu membuat
keadaan penderita sesak napas membaik). Namun, hubungan antara
hipoksia dengan dispnea tidak absolut; beberapa pasien dengan dispnea
tidak mengalami hipoksia, begitu pula sebaliknya.
Metaboreseptor
Metaboreseptor berada pada otot rangka. Aktivitasnya biasanya diinduksi
oleh produk akhir metabolisme. Metaboreseptor ini dapat merupakan
sumber sinyal aferen yang berakibat pada persepsi sesak napas ketika
berolahraga. Ketika seseorang berolahraga berat, jarang sekali ditemui
kondisi hipoksemia maupun hiperkapnia, namun tendensi untuk
mengalami gejala sesak napas cenderung tinggi. Lebih-lebih, perubahan pH
darah tidak terlalu signifikan di awal-awal latihan. Sensasi dispnea tersebut
disinyalir berasal dari metaboreseptor yang ada pada otot rangka. Namun,
kondisi detailnya belum terlalu diketahui.
Reseptor Vagal
Terdapat studi yang menyatakan bahwa adanya udara segar yang langsung
dipajankan ke muka atau saluran napas atas dapat menurunkan gejala
sesak napas. Beberapa reseptor dingin ini diinervasi oleh nervus vagus
serta berfungsi memonitor perubahan aliran di saluran napas atas dengan
mendeteksi perubahan temperaturnya. Ada setidaknya empat atau lima
tipe-tipe reseptor pernapasan selain reseptor tersebut yang diinervasi
nervus vagus. Reseptor-reseptor ini disinyalir mampu menimbulkan
sensasi dispnea, meskipun mekanismenya sendiri masih kompleks.
Reseptor-reseptor utaanya adalah Slowly Adapting Stretch Receptors
(SARS), Rapidly Adapting Stretch Receptors (RARs), dan Reseptor Serat-C.
SAR
banget promo seminar dari
#PLDFKUI2014 . Nah.. cermati
pilihanmu di
http://t.co/kf73vqqLmO about 4
days ago ReplyRetweetFavorite
lakukan dlm bntuk sirkuit, istirahat
30 dtk. 6 repetisi untuk sirkuit 1,
tmbahkan 2 repetisi pd grakan di
sirkuit berikutny. total 4 sirkuit
about 4 days ago
ReplyRetweetFavorite
Bacaan Lebih Lanjut
Nyeri Dada pada Sindrom Koroner
Akut
PPOK (Penyakit Paru Obstruktif
Kronik)
Batuk
Jaras Somatosensoris dan
Patofisiologi Gangguannya
Pneumonia Komunitas
Batuk Berdarah (Hemoptisis)
2
2
1
1
SAR
SAR dapat ditemui di otot polos dari saluran napas besar. Reseptor ini
berlanjut ke serat aferen bermyelin di vagus. Inhalasi karbondioksida,
anestetik volatil, dan furosemid dinilai mampu mempengaruhi kerja
reseptor ini. Stimulasi reseptor ini dapat menurunkan sensasi dispnea.
Inhalasi karbondioksida menghambat aktivitas mereka dengan kerja
langsung ke kanal K yang sensitif terhadap 4-aminopiridin. Sementara,
anestetik tertentu dapat menginhibisi atau menstimulasi reseptor
tergantung konsentrasi dan tipe reseptor SAR-nya. Lebih lanjut, furosemid
bekerja secara tidak langsung terhadap reseptor sensorik di epitel saluran
napas, dimana SAR mampu disensitisasi dengan inhalasinya.
RAR
RAR dikenal sebagai terminal tak bermielin yang terhubung dengan serat
aferen bermyelin nervus vagus (A). Reseptor ini beradaptasi cepat untuk
mempertahankan inflasi dan deflasi paru. RAR dapat diaktifkan oleh
berbagai iritan seperti ammonia, uap eter, asap rokok, serta oleh mediator
imunologik dan perubahan patologik saluran napas hingga paru.
Pneumotoraks juga dapat menstimulasi RAR, sehingga RAR dianggap
berkontribusi terhadap kejadian dispnea. Inhalasi furosemid mampu
menurunkan aktivitas RAR, sehingga inhalasi bahan kimia ini mampu
memperingan dispnea.
Reseptor Serat-C
Dua kelompok reseptor serat-C memiliki hubungan langsung ke sirkulasi
bronkial atau pulmonal. Reseptor ini dikenal dengan nama reseptor kapiler
jukstapulmoner, atau reseptor J. Lokalisasi reseptor ini terletak dekat
kapiler alveolar dan merespon peningkatan cairan interstisial diluar kapiler.
Reseptor Serat-C Pulmoner berasal dari parenkim paru (injeksi obat ke
arteri pulmoner dapat berpengaruh ke kerja reseptor ini), sementara
Reseptor Serat-C Bronkial menginervasi mukosa saluran napas (injeksi
obat ke arteri bronkial dapat berpengaruh ke reseptor ini). Reseptor
pulmoner insensitif terhadap autakoid seperti bradikinin, histamin,
serotonin, dan prostaglandin, sementara serat bronkial sensitif terhadap
bahan kimia intrinsik tersebut. Namun, kedua grup reseptor ini memiliki
respon yang sama terhadap inhalasi anestetik volatil.
Kongesti paru adalah stimulan yang kuat untuk reseptor ini, namun hal ini
tidak memiliki efek yang kuat terhadap terjadinya sesak napas kecuali
disertai aktivitas berat. Stimulan lainnya adalah capsaicin, namun efeknya
hanya menyebabkan sensasi ringan di dada. Dengan kata lain, adanya
induksi langsung ke reseptor ini tidak sontak menyebabkan gejala sesak
napas, harus ada mekanisme penyerta lain atau aktivitas dari reseptor lain.
Reseptor Dinding Dada
Sinyal aferen dari mekanoreseptor di sendi, tendon, dan otot dada
+
1
1
Sinyal aferen dari mekanoreseptor di sendi, tendon, dan otot dada
berlanjut ke otak dan dapat menyebabkan dispnea. Sebagai contoh, sinyal
aferen dari otot interkostal (grup I, II, atau keduanya) memiliki jaras
langsung ke korteks serebral.
Vibrasi dari dinding dada mengaktivasi muscle spindle. Aktivasi ini dapat
menginduksi sensasi dispnea. Jaras yang berasal dari kelompok otot
interkostalis dinilai penting dalam timbulnya sensasi dispnea ini. Aferen
nervus frenikus juga terbukti mampu memodulasi aktivitas diafragma.
Aktivitas ini mempengaruhi propriosepsi respiratorik dan memicu dispnea.

Jaras Dispnea
Tidak terlalu banyak informasi yang diketahui mengenai jaras saraf
dispnea, dan mekanismenya dinilai lebih kompleks dibanding nyeri.
Namun, diketahui bahwa aktivitas aferen dari otot repiratorik dan reseptor
vagal berlanjut ke batang otak, kemudian ke area talamus.
Dispnea dibuktikan mengaktivasi beberapa area di otak, seperti insula
kanan anterior, vermis serebelum, amygdala, korteks singulum anterior,
dan korteks singulum posterior. Area ini juga diaktifkan oleh sensasi nyeri
dan stimulasi tidak menyenangkan lainnya (haus, mual).

Perintah Motorik dan Central Corollary Discharge
Sensasi dispnea menunjukkan kesadaran seseorang untuk mengubah
aktivitas motorik respirasinya. Ketika batang otak atau korteks motorik
mengirim perintah eferen ke otot-otot ventilator, beberapa jaras juga
disambungkan ke korteks sensorik. Hubungan ini yang disebut central
corollary discharge. Akibatnya, kesadaran penuh untuk usaha ekstra
bernapas timbul.
1
1

Gambar 1. Central Corollary Discharge



Konsep Afferent Mismatch
Disosiasi antara amplitudo output motorik dan input sensorik dari
mekanoreseptor perifer dapat menyebabkan atau memperparah dispnea.
Sebagai contoh, ketika kita merasakan sensasi sesak napas, seperti
mekanisme central corollary discharge sebelumnya, kita akan merespon
dengan usaha sadar tambahan untuk menarik napas. Usaha tambahan ini
justru mampu memperparah dispnea dengan menambah sensasi
ketidaknyamanan bernapas, sementara otot-otot ventilator melemah
akibat peningkatan beban mekanik.
Lebih lanjut, Campbell dan Howell menyatakan bahwa ketidakseimbangan
antara ketegangan otot respiratorik memicu dispnea. Ketidakseimbangan
itu mampu dipicu oleh mekanisme neurofisiologik tertentu. Dalam keadaan
normal, terdapat hubungan yang seimbang antara kekuatan otot
respiratorik dengan volume udara yang masuk. Namun, akibat adanya
dispnea, tidak terjadi balance atara aliran udara yang masuk dengan usaha
yang diberikan oleh otot-otot dada. Namun, dispnea tidak semata-mata
disebabkan oleh kelainan dari kerja otot dinding dada (dalam kasus
hiperkapnia, sesoerang juga mampu mengalami sensasi dispnea dengan
adanya tambahan agen blokade neuromuskular). Konsep dari Campbell
dan Howell tadi akhirnya disempurnakan, sehingga dispnea dinilai
merupakan akibat dari disosiasi sinyal motorik ke otot
pernapasan dan informasi aferen yang didapatkan. Konsep ini
dinamakan disosiasi neuromekanik.

Dispnea Pada Penyakit Tertentu
Pada penyakit yang menyerang sistem pernapasan, patofisiologi dispnea
tidak spesifik terhadap satu jalur saja. Ada banyak mekanisme yang
dibutuhkan untuk bisa menimbulkan sensasi dispnea pada penyakit-
penyakit tersebut. Pengetahuan mengenai patofisiologi yang mendasari
penyakit-penyakit (seperti asma, COPD) menjadi dasar hipotesis
mekanisme dispnea pada penyakit ini.
Pada asma, beban otot inspirasi meningkat, sehingga usaha yang
dibutuhkan untuk melawan resistensi aliran napas akibat bronkokonstriksi
juga meningkat. Ketika terjadi hiperinflasi, otot inspirasi menjadi
memendek. Kejadian ini mampu mengubah radius kurvatura diafragma,
sehingga terjadi mechanical disadvantage. Akibatnya, dibutuhkan usaha
tambahan untuk mencapai threshold agar terjadi inspirasi. Hal ini
menyebabkan dispnea. Pada asma, sensasi dispnea juga diperkirakan
berasal dari stimulasi reseptor vagal.
1, 3
2

Recommend
berasal dari stimulasi reseptor vagal.
Pada pasien dengan kelainan neurologik seperti myastenia gravis,
dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk memberikan neural drive agar
otot-otot respirasi yang melemah terstimulasi. Output neuromotor yang
meningkat ini, melalui jalur central corollary discharge, dirasakan sebagai
peningkatan efek respiratorik. Akibatnya, terjadi dispnea.
Pada pasien COPD, reseptor pada saluran napas dan kemoreseptor
berkontribusi terhadap patofisiologi dispnea. Hipoksia akut atau kronik
atau hiperkapnia pada COPD juga menyebabkan dispnea tersebut. Selain
itu, pada penderita penyakit dengan kelainan dinamika pernapasan,
kompresi mekanik tersebut dapat dideteksi oleh serabut aferen vagus.
Pasien-pasien yang menerima treatment ventilasi mekanik biasanya sesak
napas meskipun kerja otot pernapasannya berkurang. Penyebabnya bisa
jadi merupakan peningkatan tekanan parsial karbondioksida yang tidak
sesuai dengan kebutuhan tidal pasien.
Pada kasus emboli paru, ketidakseimbangan mekanika respirasi atau
pertukaran gas menjadi patofisiologi dasar sesak napas yang menjadi
gejala. Pada laporan kasus, dispnea yang terjadi pada pasien emboli paru
mampu diobati dengan lisis bekuan darah. Kemungkinan yang paling kuat,
reseptor tekanan di pembuluh darah pulmoner atau atrium kanan serta
serabut C di pembuluh paru memediasi sensasi tersebut.
disusun oleh Alia Nessa Utami
Daftar Pustaka:
1. T, Nishino. Dyspnoea: Underlying Mechanisms and Treatment:
Mechanisms of Dyspnoea. Br J Anaesth. 2011;106(4):463-474.
2. Manning HL, Schwartzstein RM, Epstein FH [editor]. Pathophysiology of
Dyspnea. N Engl J Med 1995; 333:1547-1553.
3. Anonymous. Dyspnea: How to Assess and Palliate Dyspnea (Air-
Hunger). 2006. Diunduh dari:
http://summit.stanford.edu/pcn/M07_Dyspnea/pathophys.html

Sumber Gambar (1,2): T, Nishino. Dyspnoea: Underlying Mechanisms
and Treatment: Mechanisms of Dyspnoea. Br J Anaesth. 2011;106(4):463-
474.
Bergabunglah bersama Medicinesia untuk dapatkan
Your Name Your Email
Sign Up

Alia Nessa Utami



July 3, 2011

Respirasi 4 Comments

Penyebab Sesak Nafas Pneumonia


Bergabunglah bersama Medicinesia untuk dapatkan
artikel-artikel terbaru kami!
Artikel Terkait:
Nyeri Dada pada Sindrom Koroner Akut
PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)
Batuk
Jaras Somatosensoris dan Patofisiologi Gangguannya
Pneumonia Komunitas
Batuk Berdarah (Hemoptisis)
Antihistamin Sebagai Antialergi
Memori
Obesitas (Kegemukan)
Hipersensitifitas TIpe 1: Reaksi Anafilaktik atau Reaksi
Patogenesis Tuberkulosis
Aspek Fisiologis Otot pada Olahraga
Rate this (4 Votes)
Tagged on: afferent mismatch central corollary
discharge dispnea neural drive sesak nafas
4 Komentar Medicinesia Masuk
Urut dari yang terbaik Bagikan
Ikut diskusi ini...
Balas
Niisa_s 2 tahun yang lalu
patomekanisme sesak karena gangguan sistem respirasi itu sendiri
bagaimana?


Balas
Medicinesia 3 tahun yang lalu Mod
Sesak nafas tidak selalu berarti jantung. Ada banyak penyebab yang
mestinya dapat kita perhatikan terutama adalah bagaimana sesak
nafas itu tercetus. Bisa saja, terjadi serangan asma yang faktor
pemicu atau pencetusnya tidak cukup disingkirkan sehingga serangan
tetap timbul. Bisa juga karena udaranya yang kotor sehingga oksigen
yang masuk ke paru berkurang (justru banyak 'racun' yang masuk).
Sesak nafas pada jantung seringkali berkaitan dengan sesak nafas
pada saat tidur dan reda apabila penderita berdiri atau mengganjal
tubuhnya dengan bantal. Hal tersebut berkaitan dengan mekanisme
sesak nafasnya yang disebabkan oleh kongesti paru.


Balas
Rini_wijaya85 3 tahun yang lalu
Apa yang menyebabkan sesak nafas yang berkepanjangan (dalam
kurun waktu satu hari). Apa kah kesulitan bernafas ini bisa di analisa
sbg gangguan/kelainan jantung?


Favorit
Bagikan
Bagikan
Bagikan
Aspek Medis Obesitas
Satu komentar setahun yang lalu
anon Emang bahaya kalo
kegemukan..
Tuberkulosis: diagnosis dan
tatalaksananya
Satu komentar 4 bulan yang lalu
yoma maaf, saya mau tanya..
JUGA DI MEDICINESIA
Balas
Balas
free health magazine 3 tahun yang lalu
Great post, gave me a little information about asthma. Ask permission
to copy this post.


APA INI?
Bagikan
Bagikan
Search Database
Ingin mencari informasi dan
lebih banyak artikel? Silakan
coba mesin pencari untuk
mendapatkan koleksi-koleksi
kami.
Search
Most Read Posts
Preeklampsia dan Eklampsia,
Komplikasi Berbahaya pada
Kehamilan (51,414 views)
Perdarahan Antepartum
(Hemorrhagic Antepartum)
(27,899 views)
Metode Kontrasepsi
Hormonal (20,710 views)
Sindrom Koroner Akut
(16,862 views)
Imunodefisiensi (16,290
views)
Recent Posts
Varises Vena: Faktor Risiko
dan Patogenesisnya
Tetralogy of Fallot (ToF)
Anemia Defisiensi Besi
Diare Akut Pada Anak
(Pedoman Tatalaksana Diare
Akut dari WHO)
Bayi dari Ibu dengan
HIV/AIDS (BIHA)
Nutrisi, Kunci Awal Tumbuh
Kembang Anak
Pahami Jadwalnya, Lengkapi
Imunisasinya
Kontributor
Daftar
Login
Submit Artikel
Hubungi Kami
Pengunjung Kami
Copyright 2014 Medicinesia Theme by: ThemeGrill Powered by:
WordPress