Anda di halaman 1dari 20

1

REFERAT EPISTAKSIS

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok



Pembimbing
Dr. Pialanta Barus, Sp. THT-KL


Disusun oleh :
Ria Meilita Berlian
08310256



ILMU THT RUMAH SAKIT UMUM KABAN JAHE
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
TAHUN 2014
2

BAB I
PENDAHULUAN
Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari
biasanya; merupakan salah satu organ pelindung tubuh terpenting terhadap lingkungan yang
tidak menguntungkan.
Rongga hidung kaya dengan pembuluh darah. Pada rongga bagian depan, tepatnya pada
sekat yang membagi rongga hidung kita menjadi dua, terdapat anyaman pembuluh darah yang
disebut pleksus Kiesselbach. Pada rongga bagian belakang juga terdapat banyak cabang-cabang
dari pembuluh darah yang cukup besar antara lain dari arteri sphenopalatina.
Hidung berdarah dalam istilah Kedokteran: epistaksis atau epistaxis atau mimisan adalah
satu keadaan pendarahan dari hidung yang keluar melalui lubang hidung. Epistaksis adalah
keluarnya darah dari hidung; merupakan suatu tanda atau keluhan bukan penyakit. Perdarahan
dari hidung dapat merupakan gejala yang sangat menjengkelkan dan mengganggu, dan dapat
pula mengancam nyawa. Faktor etiologi harus dicari dan dikoreksi untuk mengobati epistaksis
secara efektif.. Epistaksis berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa
pasien, bahkan dapat berakibat fatal, bila tidak segera ditolong
Perdarahan ini disebabkan oleh kelainan lokal maupun sistemik dan sumber perdarahan
yang paling sering adalah dari pleksus Kiessel-bachs. Epistaksis bukan suatu penyakit,
melainkan gejala dari suatu kelainan yang mana hampir 90 % dapat berhenti sendiri. Epistaksis
terbanyak dijumpai pada usia 2-10 tahun dan 50-80 tahun, sering dijumpai pada musim dingin
dan kering.
Seringkali epistaksis timbul spontan tanpa diketahui penyebabnya, kadang-kadang jelas
disebabkan karena trauma. Epistaksis dapat disebabkan oleh kelainan lokal pada hidung atau
kelainan sistemik. Kelainan lokal misalnya trauma, kelainan anatomi, kelainan pembuluh darah,
infeksi lokal, benda asing, tumor, pengaruh udara lingkungan. Kelainan sistemik seperti penyakit
kardiovaskuler, kelainan darah, infeksi sistemik, perubahan tekanan atmosfir, kelainan hormonal
dan kelainan kongenital.
3

Epistaksis biasanya terjadi tiba-tiba. Perdarahan mungkin banyak, bisa juga sedikit dan
berhenti sendiri. Penderita selalu ketakutan sehingga merasa perlu memanggil dokter. Sebagian
besar darah keluar atau dimuntahkan kembali. Pengobatan yang tepat pada kasus epistaksis
adalah dilakukan penekanan pada pembuluh darah yang berdarah. Hampir 90% kasus epistaksis
anterior dapat diatasi dengan tekanan yang kuat dan terus menerus pada kedua sisi hidung tepat
diatas kartilago ala nasi. Bila hal ini tidak berhasil maka diperlukan tindakan-tindakan lain yang
perlu dan dapat dilakukan. Sangat penting penetalksanaan yang tepat pada kasusu epistaksis agar
tidak terjadi komplikasi atau bahkan kematian. Karena itu akan kita bahas mengenai epistaksis
pada makalah ini.















4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI

Gambar 1. Vaskularisasi hidung


Suplai darah cavum nasi berasal dari sistem karotis yaitu arteri karotis eksterna dan
karotis interna. Arteri karotis eksterna memberikan suplai darah terbanyak pada cavum nasi
melalui :
1) Arteri Sphenopalatina
Cabang terminal arteri maksilaris yang berjalan melalui foramen sphenopalatina yang
memperdarahi septum tiga perempat posterior dan dinding lateral hidung.
2) Arteri palatina desenden
Memberikan cabang arteri palatina mayor, yang berjalan melalui kanalis incisivus palatum
durum dan menyuplai bagian inferoanterior septum nasi. Sistem karotis interna melalui arteri
oftalmika mempercabangkan arteri ethmoid anterior dan posterior yang memperdarahi
septum dan dinding lateral superior.
5


Gambar 2. Anatomi vaskuler supplai darah septum nasi. Pleksus Kiesselbachs atau Littles
area, merupakan lokasi epistaksi anterior paling banyak


B. Epistaksis
1. Definisi
Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung, rongga hidung
atau nasofaring. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu kelainan yang
hampir 90 % dapat berhenti sendiri. Perdarahan dari hidung dapat merupakan gejala yang
sangat mengganggu dan dapat mengancam nyawa. Faktor etiologi harus dicari dan
dikoreksi untuk mengobati epistaksis secara efektif

2. Etiologi
Perdarahan hidung diawali oleh pecahnya pembuluh darah di dalam selaput mukosa
hidung. Delapan puluh persen perdarahan berasal dari pembuluh darah Pleksus Kiesselbach
(area Little). Pleksus Kiesselbach terletak di septum nasi bagian anterior, di belakang
persambungan mukokutaneus tempat pembuluh darah yang kaya anastomosis. Epistaksis
sering kali timbul spontan tanpa dapat ditelusuri penyebabnya. Epistaksis dapat
ditimbulkan oleh sebab-sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik. Secara Umum
penyebab epistaksis dibagi dua yaitu :


6

a. Lokal
1) Trauma
Epistaksis yang berhubungan dengan tauma biasanya mengeluarkan sekret dengan
kuat, bersin, mengorek hidung, trauma seperti terpukul, jatuh dan sebagainya.
Selain itu iritasi oleh gas yang merangsang dan trauma pada pembedahan dapat juga
menyebabkan epistaksis.
2) Infeksi
Infeksi hidung dan sinus paranasal, rinitis, sinusitis serta granuloma spesifik, seperti
lupus, sifilis dan lepra dapat menyebabkan epistaksis.
3) Neoplasma
Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan intermiten,
kadang-kadang ditandai dengan mukus yang bernoda darah, Hemongioma,
karsinoma, serta angiofibroma dapat menyebabkan epistaksis berat.

Gambar 3. Epistaksis pada neoplasma
4) Kelainan kongenital
Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah perdarahan
telangiektasis heriditer (hereditary hemorrhagic telangiectasia / Osler's disease).





7



Gambar 4. Oslers desease
5) Sebab-sebab lain termasuk benda asing , deviasi septum dan perforasi septum.
Perforasi septum nasi atau abnormalitas septum dapat menjadi predisposisi
perdarahan hidung. Bagian anterior septum nasi, bila mengalami deviasi atau
perforasi, akan terpapar aliran udara pernafasan yang cenderung mengeringkan
sekresi hidung. Pembentukan krusta yang keras dan usaha melepaskan dengan jari
menimbulkan trauma digital. Pengeluaran krusta berulang menyebabkan erosi
membrana mukosa septum dan kemudian perdarahan.

Gambar 5. Epistaksis
6) Pengaruh lingkungan
Kelembaban udara yang rendah dapat menyebabkan iritasi mukosa. Epistaksis
sering terjadi pada udara yang kering dan saat musim dingin yang disebabkan oleh
8

dehumidifikasi mukosa nasal selain itu bisa di sebabkan oleh zat-zat kimia yang
bersifat korosif yang dapat menyebabkan kekeringan mukosa sehingga pembuluh
darah gampang pecah.
b. Sistemik
1) Kelainan darah
Misalnya trombositopenia, hemofilia dan leukemia.
2) Penyakit kardiovaskuler,
Hipertensi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan
tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmhg. Epistaksis sering terjadi pada
tekanan darah tinggi karena kerapuhan pembuluh darah yang di sebabkan oleh
penyakit hipertensi yang kronis terjadilah kontraksi pembuluh darah terus
menerus yang mengakibatkan mudah pecahnya pembuluh darah yang tipis.
Epistaksis akibat hipertensi biasanya hebat, sering kambuh dan prognosisnya
tidak baik.
Arteriosklerosis
Pada arteriosklerosis terjadi kekakuan pembuluh darah. Jika terjadi keadaan
tekanan darah meningkat, pembuluh darah tidak bisa mengompensasi dengan
vasodilatasi, menyebabkan rupture dari pembuluh darah.
Sirosis hepatis
Hati merupakan organ penting bagi sintesis protein-protein yang berkaitan
dengan koagulasi darah, misalnya: membentuk fibrinogen, protrombin, faktor V,
VII, IX, X dan vitamin K. Pada sirosis hepatis fungsi sintesis protein-protein dan
vitamin yang dibutuhkan untuk pembekuan darah terganggu sehingga mudah
terjadinya perdarahan. Sehingga epistaksis bisa terjadi pada penderita sirosis
hepatis.
Diabetes mellitus
Terjadi peningkatan gula darah yang meyebabkan kerusakan mikroangiopati dan
makroangiopati. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan sel endotelial
pada pembuluh darah mengambil glukosa lebih dari normal sehingga
9

terbentuklah lebih banyak glikoprotein pada permukaannya dan hal ini juga
menyebabkan basal membran semakin menebal dan lemah. Dinding pembuluh
darah menjadi lebih tebal tapi lemah sehingga mudah terjadi perdarahan.
Sehingga epistaksis dapat terjadi pada pasien diabetes mellitus.
3) Infeksi sistemik akut
Demam berdarah, demam typhoid, influenza, morbili, demam tifoid.
4) Gangguan endokrin / hormonal
Pada saat hamil terjadi peningkatan estrogen dan progestron yang tinggi di
pembuluh darah yang menuju ke semua membran mukosa di tubuh termasuk di
hidung yang menyebabkan mukosa bengkak dan rapuh dan akhirnya terjadinya
epistaksis.
5) Alkoholisme
Alkohol dapat menyebabkan sel darah merah menggumpal sehingga menyebabkan
terjadinya sumbatan pada pembuluh darah. Hal ini menyebabkan terjadinya
hipoksia dan kematian sel. Selain itu hal ini menyebabkan peningkatan tekanan
intravascular yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah sehingga dapat
terjadi epistaksis
6) Defisiensi Vitamin C dan K

3. Patofisiologi
Secara anatomi, perdarahan hidung berasal dari arteri karotis interna yang
mempercabangkan arteri etmoidalis anterior dan posterior, keduanya menyuplai bagian
superior hidung. Suplai vaskular hidung lainnya berasal dari arteri karotis eksterna dan
cabang-cabang utamanya.
Arteri sfenopalatina membawa darah untuk separuh bawah dinding hidung lateral
dan bagian posterior septum. Semua pembuluh darah hidung ini saling berhubungan
melalui beberapa anastomosis. Suatu pleksus vaskular di sepanjang bagian anterior septum
kartilaginosa menggabungkan sebagian anastomosis ini dan dikenal sebagai little area atau
pleksus Kiesselbach. Karena ciri vaskularnya dan kenyataan bahwa daerah ini merupakan
10

objek trauma fisik dan lingkungan berulang maka merupakan lokasi epistaksis yang
tersering.
Menentukan sumber perdarahan amat penting, meskipun kadang-kadang sukar
ditanggulangi. Pada umumnya terdapat dua sumber perdarahan, yaitu dari bagian anterior
dan posterior.
a. Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach, merupakan sumber
perdarahan paling sering dijumpai anak-anak. Dapat juga berasal dari arteri ethmoid
anterior. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan
tindakan sederhana


Gambar 6. Epistaksis anterior

b. Epistaksis posterior, berasal dari arteri sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior.
Perdarahan cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat
menyebabkan anemia, hipovolemi dan syok. Sering ditemukan pada pasien dengan
penyakit kardiovaskular




11


Gambar 7. Epistaksis posterior

4. Gambaran Klinis Dan Pemeriksaan
Anamnesis
Pasien sering menyatakan bahwa perdarahan berasal dari bagian depan dan
belakang hidung. Perhatian ditujukan pada bagian hidung tempat awal terjadinya
perdarahan atau pada bagian hidung yang terbanyak mengeluarkan darah.
Pada anamnesis harus ditanyakan secara spesifik mengenai beratnya perdarahan,
frekuensi, lamanya perdarahan, dan riwayat perdarahan hidung sebelumnya.
Kebanyakan kasus epistaksis timbul sekunder trauma yang disebabkan oleh
mengorek hidung menahun atau mengorek krusta yang telah terbentuk akibat
pengeringan mukosa hidung berlebihan.
Perlu ditanyakan juga mengenai kelainan pada kepala dan leher yang berkaitan
dengan gejala-gejala yang terjadi pada hidung. Bila perlu, ditanyakan juga megenai
kondisi kesehatan pasien secara umum yang berkaitan dengan perdarahan misalnya
riwayat darah tinggi, arteriosclerosis, koagulopati, riwayat perdarahan yang memanjang
setelah dilakukan operasi kecil, riwayat penggunaan obat-obatan seperti koumarin,
NSAID, aspirin, warfarin, heparin, ticlodipin, serta kebiasaan merokok dan minum-
minuman keras.

12

Pemeriksaan Fisik
Alat-alat yang diperlukan untuk pemeriksaan adalah lampu kepala, speculum
hidung dan alat penghisap(bila ada)

dan pinset bayonet, kapas, kain kassa.
Untuk pemeriksaan yang adekuat pasien harus ditempatkan dalam posisi dan
ketinggian yang memudahkan pemeriksa bekerja. Harus cukup sesuai untuk
mengobservasi atau mengeksplorasi sisi dalam hidung.
Dengan spekulum hidung dibuka dan dengan alat pengisap dibersihkan semua
kotoran dalam hidung baik cairan, sekret maupun darah yang sudah membeku; sesudah
dibersihkan semua lapangan dalam hidung diobservasi untuk mencari tempat dan
faktor-faktor penyebab perdarahan. Setelah hidung dibersihkan, dimasukkan kapas
yang dibasahi dengan larutan anestesi lokal yaitu larutan pantokain 2% atau larutan
lidokain 2% yang ditetesi larutan adrenalin 1/1000 ke dalam hidung untuk
menghilangkan rasa sakit dan membuat vasokontriksi pembuluh darah sehingga
perdarahan dapat berhenti untuk sementara. Sesudah 10 sampai 15 menit kapas dalam
hidung dikeluarkan dan dilakukan evaluasi.
Pasien yang mengalami perdarahan berulang atau sekret berdarah dari hidung yang
bersifat kronik memerlukan fokus diagnostik yang berbeda dengan pasien dengan
perdarahan hidung aktif yang prioritas utamanya adalah menghentikan perdarahan.
Pemeriksaan yang diperlukan berupa :
a. Rinoskopi anterior : Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior
ke posterior. Vestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung
dan konkha inferior harus diperiksa dengan cermat.

Gambar 8. Rhinoskopi Anterior
13

b. Rinoskopi posterior : Pemeriksaan nasofaring dengan rinoskopi posterior penting
pada pasien dengan epistaksis berulang dan sekret hidung kronik untuk
menyingkirkan neoplasma
c. Pengukuran tekanan darah : Tekanan darah perlu diukur untuk menyingkirkan
diagnosis hipertensi, karena hipertensi dapat menyebabkan epistaksis yang hebat
dan sering berulang.
d. Rontgen sinus dan CT-Scan atau MRI : Rontgen sinus dan CT-Scan atau MRI
penting mengenali neoplasma atau infeksi.

Gambar 9. Gambaran sagital MR pada solitary fibrous tumor dengan masa tumor dan
epistaksis dan Gambaran angiogram angiofibroma juvenil dengan obstruksi
hidung dan epistaksis
e. Endoskopi hidung untuk melihat atau menyingkirkan kemungkinan penyakit
lainnya.








Gambar 10. Tampilan endoskopi epistaksis posterior
14

f. Skrining terhadap koagulopati : Tes-tes yang tepat termasuk waktu protrombin
serum, waktu tromboplastin parsial, jumlah platelet dan waktu perdarahan.
g. Riwayat penyakit : Riwayat penyakit yang teliti dapat mengungkapkan setiap
masalah kesehatan (underline desease) yang mendasari epistaksis.

5. Penatalaksanaan
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu : menghentikan perdarahan,
mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis. Kalau ada syok, perbaiki dulu
kedaan umum pasien.

a. Perbaiki keadaan umum penderita, penderita diperiksa dalam posisi duduk kecuali bila
penderita sangat lemah atau keadaaan syok.
b. Menghentikan perdarahan
1) Pada anak yang sering mengalami epistaksis ringan, perdarahan dapat dihentikan
dengan cara duduk dengan kepala ditegakkan, kemudian cuping hidung ditekan ke
arah septum selama beberapa menit (metode Trotter).







Gambar 11. Metode Trotter

2) Tentukan sumber perdarahan dengan memasang tampon anterior yang telah
dibasahi dengan adrenalin dan pantokain/lidokain, serta bantuan alat penghisap
untuk membersihkan bekuan darah.
15


Gambar 12. Tampon Anterior

3) Pada epistaksis anterior, jika sumber perdarahan dapat dilihat dengan jelas,
dilakukan kaustik dengan larutan nitras argenti 20%-30%, asam trikloroasetat 10%
atau dengan elektrokauter. Sebelum kaustik diberikan analgesia topikal terlebih
dahulu.
4) Bila dengan kaustik perdarahan anterior masih terus berlangsung, diperlukan
pemasangan tampon anterior dengan kapas atau kain kasa yang diberi vaselin yang
dicampur betadin atau zat antibiotika. Dapat juga dipakai tampon rol yang dibuat
dari kasa sehingga menyerupai pita dengan lebar kurang cm, diletakkan berlapis-
lapis mulai dari dasar sampai ke puncak rongga hidung. Tampon yang dipasang
harus menekan tempat asal perdarahan dan dapat dipertahankan selama 1-2 hari.

Gambar 13. kauterisasi sumber perdarahan
16

5) Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan tampon posterior atau tampon
Bellocq, dibuat dari kasa dengan ukuran lebih kurang 3x2x2 cm dan mempunyai 3
buah benang, 2 buah pada satu sisi dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya. Tampon
harus menutup koana (nares posterior). Untuk memasang tampon Bellocq:
Dimasukkan kateter karet melalui nares anterior sampai tampak di orofaring dan
kemudian ditarik ke luar melalui mulut.
Ujung kateter kemudian diikat pada dua buah benang yang terdapat pada satu
sisi tampon Bellocq dan kemudian kateter ditarik keluar hidung.
Benang yang telah keluar melalui hidung kemudian ditarik, sedang jari telunjuk
tangan yang lain membantu mendorong tampon ini ke arah nasofaring.
Jika masih terjadi perdarahan dapat dibantu dengan pemasangan tampon anterior,
kemudian diikat pada sebuah kain kasa yang diletakkan di tempat lubang hidung
sehingga tampon posterior terfiksasi.
Sehelai benang lagi pada sisi lain tampon Bellocq dikeluarkan melalui mulut
(tidak boleh terlalu kencang ditarik) dan diletakkan pada pipi. Benang ini
berguna untuk menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3 hari. Setiap
pasien dengan tampon Bellocq harus dirawat.


Gambar 14. Tampon Bellocq
17

6) Sebagai pengganti tampon Bellocq dapat dipakai kateter Foley dengan balon. Balon
diletakkan di nasofaring dan dikembangkan dengan air. Teknik sama dengan
pemasangan tampon Bellocq.

Gambar 15. Balon intranasal (kateter Foley) untuk mengontrol epistaksis

7) Di samping pemasangan tampon, dapat juga diberi obat-obat hemostatik. Akan tetapi
ada yang berpendapat obat-obat ini sedikit sekali manfaatnya.
8) Ligasi arteri dilakukan pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi
dengan pemasangan tampon posterior. Untuk itu pasien harus dirujuk ke rumah sakit.

6. Diagnosis Banding
Termasuk perdarahan yang bukan berasal dari hidung tetapi darah mengalir keluar
dari hidung seperti hemoptisis, varises oesofagus yang berdarah, perdarahan di basis cranii
yang kemudian darah mengalir melalui sinus sphenoid ataupun tuba eustachius.

7. Komplikasi
Dapat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha penanggulangannya.
Akibat pemasangan tampon anterior dapat timbul sinusitis (karena ostium sinus tersumbat),
air mata yang berdarah (bloody tears) karena darah mengalir secara retrograd melalui
duktus nasolakrimalis dan septikemia. Akibat pemasangan tampon posterior dapat timbul
otitis media, haemotympanum, serta laserasi palatum mole dan sudut bibit bila benang
yang dikeluarkan melalui mulut terlalu kencang ditarik.
18

Sebagai akibat perdarahan hebat dapat terjadi syok dan anemia. Tekanan darah yang
turun mendadak dapat menimbulkan iskemia otak, insufisiensi koroner dan infark miokard
dan akhirnya kematian. Harus segera dilakukan pemberian infus atau transfusi darah

8. Pencegahan
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya epistaksis, yaitu
antara lain :
a. Gunakan semprotan hidung atau tetes larutan garam, yang keduanya dapat dibeli, pada
kedua lubang hidung dua sampai tiga kali sehari. Untuk membuat tetes larutan ini dapat
mencampur 1 sendok the garam ke dalam secangkir gelas, didihkan selama 20 menit
lalu biarkan sampai hangat kuku.
b. Gunakan alat untuk melembabkan udara di rumah.
c. Gunakan gel hidung larut air di hidung, oleskan dengan cotton bud. Jangan masukkan
cotton bud melebihi 0,5 0,6cm ke dalam hidung.
d. Hindari meniup melalui hidung terlalu keras.
e. Bersin melalui mulut.
f. Hindari memasukkan benda keras ke dalam hidung, termasuk jari.
g. Batasi penggunaan obat obatan yang dapat meningkatkan perdarahan seperti aspirin
atau ibuprofen.
h. Konsultasi ke dokter bila alergi tidak lagi bisa ditangani dengan obat alergi biasa.
i. Berhentilah merokok. Merokok menyebabkan hidung menjadi kering dan menyebabkan
iritasi.

9. PROGNOSIS
Sembilan puluh persen kasus epistaksis anterior dapat berhenti sendiri. Pada pasien
hipertensi dengan/tanpa arteriosklerosis, biasanya perdarahan hebat, sering kambuh dan
prognosisnya buruk




19

BAB III
KESIMPULAN

Epistaksis (perdarahan dari hidung) adalah suatu gejala dan bukan suat penyakit, yang
disebabkan oleh adanya suatu kondisi kelainan atau keadaan tertentu. Epistaksis bisa bersifat
ringan sampai berat yang dapat berakibat fatal. Epistaksis disebabkan oleh banyak hal, namun
dibagi dalam dua kelompok besar yaitu sebab lokal dan sebab sistemik. Epistaksis dibedakan
menjadi dua berdasarkan lokasinya yaitu epistaksis anterior dan epistaksis posterior. Dalam
memeriksa pasien dengan epistaksis harus dengan alat yang tepat dan dalam posisi yang
memungkinkan pasien untuk tidak menelan darahnya sendiri.
Prinsip penanganan epistaksis adalah menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi
dan mencegah berulangnya epistaksis. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memeriksa
pasien dengan epistaksis antara lain dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan
tekanan darah, foto rontgen sinus atau dengan CT-Scan atau MRI, endoskopi, skrining
koagulopati dan mencari tahu riwayat penyakit pasien. Tindakan-tindakan yang dilakukan pada
epistaksis adalah:
a. Memencet hidung
b. Pemasangan tampon anterior dan posterior
c. Kauterisasi
d. Ligasi (pengikatan pembuluh darah)
Epsitaksis dapat dicegah dengan antara lain tidak memasukkan benda keras ke dalam
hidung seperti jari, tidak meniup melalui hidung dengan keras, bersin melalui mulut,
menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan perdarahan, dan terutam berhenti merokok.





20

DAFTAR PUSTAKA
1. Adam GL, Boies LR, Higler PA. (eds) Buku Ajar Penyakit THT, Edisi Keenam, Philadelphia
: WB Saunders, 1989. Editor Effendi H. Cetakan III. Jakarta, Penerbit EGC, 1997.
2. Iskandar N, Supardi EA. (eds) Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi
Keempat, Jakarta FKUI, 2000; 91, 127-31.
3. Schlosser RJ. Epistaxis. New England Journal Of Medicine [serial online] 2009 feb 19
[diunduh 25 juli 2013] Available from: http://content.nejm.org/cgi/content/full/360/8/784
4. Suryowati E. Epistaksis. Medical Study Club FKUII [diunduh 25 Juli 2013] Available from:
http://fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php?attId=2175&page=LEM%20FK%20UII
5. Evans JA. Epistaxis: Treatment & Medication. eMedicines Specialities 2007 Nov 28
[diunduh 25 juli 2013] Available from:
6. http://emedicine.medscape.com/article/764719-treatment
7. Anias CR. Epistaxis. Otorrhinolaryngology [serial online] diunduh 25 juli 2013 Available
from :http://www.medstudents.com.br/otor/otor3.htm
8. Freeman R. Nosebleed. Health Information Home [serial online] 2007 Feb 2 [diunduh 25 Juli
2013] Available from :
http://my.clevelandclinic.org/disorders/Nosebleed/hic_Nosebleed_Epistaxis.aspx