Anda di halaman 1dari 108

i

KARYA TULIS ILMIAH



HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN PUS DENGAN
KEIKUTSERTAAN KB DAN PEMILIHAN JENIS ALAT
KONTRASEPSI PADA PUS DI DESA ARGOMULYO
SEDAYU BANTUL YOGYAKARTA TAHUN 2014

Karya Tulis Ilmiah Sebagai Persyaratan Memperoleh
Gelar Ahli Madya Kebidanan


Disusun oleh :
Beyna Handayani
120200676










PROGRAM STUDI DIII ILMU KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALMA ATA
YOGYAKARTA
2014


v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
Berusaha sekuat tenaga, berdoa dengan sepenuh hati, dan berikhtiar adalah
kunci dari segala kesuksesan.
(efye)
Segala sesuatu butuh proses untuk mencapai sebuah tujuan,maka hargailah
proses itu, hidup bukan sesuatu yang instant.
(efye)



Persembahan :
Karya ini aku persembahkan untuk :
Suamiku Fajar Yuliyanto dan anakku
Muhammad Refa Al-Ghazali.
Mamaku Hj. Meliyani. AR dan adik-
adikku.
Seluruh keluargaku dan teman-
temanku yang telah banyak
membantu.







vi

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN PUS DENGAN
KEIKUTSERTAAN KB DAN PEMILIHAN JENIS ALAT
KONTRASEPSI PADA PUS DI DESA ARGOMULYO
SEDAYU BANTUL YOGYAKARTA TAHUN 2014
1
Beyna Handayani
2
, H. Hamam Hadi
3
, Nur Indah Rahmawati
4
INTISARI
Latar Belakang : Data praktik komunitas pada tahun 2013 di Desa Argomulyo
diketahui jumlah PUS adalah 900 pasangan dan jumlah PUS yang mengikuti KB
sejumlah 533 pasangan atau sekitar 59,22%.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan pasangan usia
subur (PUS) dengan keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi pada
pasangan usia subur (PUS) di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun
2014.
Metode : Jenis penelitian ini observasional analitik dengan metode cross
sectional. Populasinya adalah semua pasangan usia subur (PUS) di Dusun
Puluhan, Kemusuk Kidul, Karang Lo, Pedes, Surobayan, Kali Berot di Desa
Argomulyo, Sedayu Bantul, Yogyakarta yaitu sebanyak 916 pasangan. Sampel
yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah pasangan usia subur 907
responden dan 9 responden termasuk dalam kriteria eksklusi. Analisis data yang
digunakan adalah Chi-Square.
Hasil Penelitian : Keikutsertaan KB pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu
Bantul Yogyakarta adalah 610 pasangan (67,3%) ikut KB dan 297 pasangan
(32,7%) tidak ikut KB. Berdasarkan hasil chi-square x
2
hitung
keikutsertaan KB istri
3,658 dan x
2
hitung
pemilihan jenis alat kontrasepsi istri 50,194, x
2
hitung
keikutsertaan
KB suami 0,926 dan x
2
hitung
pemilihan jenis alat kontrasepsi suami 53,862.
Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan Pasangan Usia
Subur dengan keikutsertaan KB dan ada hubungan antara tingkat pendidikan
Pasangan Usia Subur dengan pemilihan jenis alat kontrasepsi di Desa Argomulyo
Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014.



Kata Kunci : Tingkat pendidikan, keikutsertaan KB, jenis alat kontrasepsi.
Kepustakaan : 16 buku, 10 penelitian, (2002-2013)
Jumlah Halaman : xii + 69 halaman, tabel 1.1 s/d 4.9, gambar 2.1 s/d 2.3, 7
lampiran


1
Judul Karya Tulis Ilmiah
2
Mahasiswa DIII Prodi Kebidanan STIKES Alma Ata Yogyakarta
3
Dosen Pembimbing I STIKES Alma Ata Yogyakarta
4
Dosen Pembimbing II STIKES Alma Ata Yogyakarta


vii

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh
Alhamdullilah puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul Hubungan antara Tingkat
Pendidikan PUS dengan Keikutsertaan KB dan Pemilihan Jenis Alat Kontrasepsi
pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta Tahun 2014 .
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak
terlepas dari berbagai pihak yang telah memberikan bantuan, baik secara moril
maupun material. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapakan ucapan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. H. Hamam Hadi, MS., Sc.D selaku Ketua STIKES Alma Ata
Yogyakarta dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak
memberikan bimbingan dalam mengerjakan proposal penelitian ini.
2. Ibu Susiana Sariyati, S.SiT, M. Kes selaku Ketua Prodi D III Ilmu
Kebidanan.
3. Ibu Nur Indah Rahmawati, S.ST selaku Dosen Pembimbing II yang telah
banyak memberikan bimbingan dalam mengerjakan proposal penelitian
ini.
4. Ibu Sri Marwanti, S. ST selaku Dosen Penguji yang telah memberikan
banyak masukan dan juga bimbingan.
5. Desa Argomulyo secara keseluruhan yang telah menjadi lokasi
penelitian.
6. Orang tua tercinta yang selalu memanjatkan doa dan berjuang untuk
keberhasilan putra putrinya.
7. Rekan-rekan mahasiswi Prodi D III Kebidanan angkatan 2011.
8. Rekan-rekan mahasiswa Alma Ata Yogyakarta dan semua pihak yang
telah menbantu kelancaran penyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.


viii

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan
dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Untuk itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun, dari berbagai pihak demi
kesempurnaan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis berharap agar setiap
usaha yang dilakukan dan hasil yang diperoleh dari Karya Tulis Ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi penulis pribadi maupun orang lain. Amin.
Wassalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh
Yogyakarta, Juli 2014

Penulis













ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN ..... iii
PENYATAAN. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN.. v
INTISARI vi
KATA PENGANTAR..... vii
DAFTAR ISI.... ix
DAFTAR TABEL................... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN .... xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .. 1
B. Rumusan Masalah.. 5
C. Tujuan Penelitian...... 5
D. Manfaat Penelitian. 6
E. Keaslian Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori...... 10
1. Tingkat Pendidikan. 10
2. Keluarga Berencana 11
3. Kontrasepsi. 14
4. Pasangan Usia Subur.. 20
5. Keikutsertaan KB 20


x

6. Faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan KB. 21

B. Kerangka Teori..... 27
C. Kerangka Konsep......... 28
D. Hipotesis...... 30
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian 29
B. Rancangan Penelitian.. 29
C. Populasi dan Subjek Penelitian... 29
D. Sampel... 30
E. Lokasi dan Waktu Penelitian.... 31
F. Jenis dan Cara Pengumpulan Data... 32
G. Variabel Penelitian... 34
H. Definisi Operasional Variabel.. 35
I. Jalannya Penelitian... 37
J. Pengolahan dan Analisis Data.. 40
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 46
B. Hasil Penelitian.... 47
C. Pembahasan.. 59
D. Keterbatasan Penelitian 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan . 67
B. Saran.... 68
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN





xi

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian.. 8
Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner.. 34
Tabel 3.2 Definisi Operasional 35
Tabel 3.3 Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi.... 45
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi Karakteristik Responden. 47
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Istri... 48
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Suami 49
Tabel 4.4 Pendidikan Istri dengan pemilihan jenis Alat Kontrasepsi 50
Tabel 4.5 Pendidikan Suami dengan pemilihan jenis Alat Kontrasepsi 52
Tabel 4.6 Tabulasi silang dan hasil uji statistik 53
Tabel 4.7 Tabulasi silang dan hasil uji statistik 54
Tabel 4.8 Tabulasi silang dan hasil uji statistik 56
Tabel 4.9 Tabulasi silang dan hasil uji statistik 57










xii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemakaian alat
Kontrasepsi 21

Gambar 2.2 Kerangka Teori .................................................................... 27
Gambar 2.3 Kerangka Konsep ................................................................. 28














xiii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 2 : Kuesioner

Lampiran 3 : Surat Ijin Penelitian

Lampiran 4 : Hasil Penelitian

Lampiran 5 : Hasil Perhitungan

Lampiran 6 : Time Schedule KTI

Lampiran 7 : Lembar Konsultasi Bimbingan KTI






1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan penduduk dunia saat ini terus mengalami peningkatan.
Indonesia merupakan salah satu Negara dengan jumlah penduduk terbanyak
ke 4 di dunia. Pada tahun 2012 urutan pertama di tempati oleh China dengan
jumlah penduduk 1354.8 juta jiwa, peringkat ke dua di duduki oleh India
dengan jumlah penduduk 1261.0 juta jiwa, peringkat ke tiga di duduki oleh
Amerika Serikat dengan jumlah penduduk 315.8 juta jiwa dan penduduk
Indonesia menempati urutan ke empat dunia yaitu sebesar 244,2 juta jiwa
(Statistik Indonesia, 2013: 614).
Setiap tahun diperkirakan ada 5 juta ibu hamil di Indonesia, dari
jumlah tersebut, dua ibu meninggal dalam satu jamnya karena komplikasi
kehamilan, persalinan dan nifas. Jadi setiap tahun ada 15.00017.000 ibu
meninggal karena melahirkan. Kondisi seperti ini dihawatirkan tidak akan
dapat mencapai target dalam MDGs pada tahun 2015 dalam menurunkan
angka kematian ibu. Hasil SDKI 2012 menunjukkan angka kelahiran total
(TFR) sebesar 2,6 anak per wanita. Ini berarti TFR tidak mengalami
penurunan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sejak SDKI 2002 - 2003.
Angka fertilitas pada usia remaja juga masih tinggi, yang ditandai dengan
angka kelahiran menurut kelompok umur (Age-Specific Fertility Rate/ASFR)
sebesar 48 per 1.000 wanita umur 15 -19 tahun. Yang lumayan
2

menggembirakan adalah meningkatnya median usia kawin pertama wanita
dari 19,8 tahun (SDKI 2007) menjadi 20,1 tahun, meskipun masih belum
sesuai dengan yang diharapkan, yaitu 21 tahun (BKKPPKB Jakarta, 2012).
Menurut Badan Kesejahteraan Keluarga Pemberdayaan Perempuan
dan Keluarga Berencana (BKKPPKB) dan United Nations Population Found
(UNFPA, 2005) pelaksanaan program KB masih mengalami beberapa
hambatan sehingga jumlah kelahiran masih tinggi. Menurut Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, masih sekitar 46% Pasangan Usia
Subur (PUS) yang belum menjadi akseptor KB. Tingkat prevalensi pemakaian
alat kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR), yang
menunjukkan tingkat kesertaan ber-KB di antara pasangan usia subur (PUS)
mencapai 61,9% (suatu cara). Sebanyak 57,9% di antaranya menggunakan
cara KB modern, hanya meningkat sebesar 0,5% dari 57,4% dalam 5 tahun
terakhir. Penggunaan kontrasepsi didominasi oleh alat kontrasepsi jangka
pendek, terutama suntikan, yang mencapai 31,9%. Tingkat pemakaian metode
KB jangka panjang (MKJP), yaitu IUD, implan, metode operasi pria
(MOP/vasektomi) target MDGs tahun 2015 adalah 4,5% tetapi yang baru
dicapai 0,27% (BKKPPKB,2012). Untuk metode operasi wanita
(MOW/tubektomi) hanya sebesar 10,6%. Kebutuhan ber-KB yang tidak
terpenuhi (unmet need) sudah berhasil diturunkan menjadi 8,5% namun masih
jauh dari sasaran yang telah ditetapkan (BKKPPKB Jakarta, 2012).
Berdasarkan hasil survey BKKPPKB pada tahun 2013 di Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak
3

1.104.844 jiwa dan yang menjadi peserta KB aktif sebanyak 877.576 jiwa.
Sedangkan khusus untuk Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta,
jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 152.793 peserta, pasangan yang
menjadi peserta KB aktif pada tahun 2013 sebanyak 124.372 jiwa. Sementara
pasangan usia subur yang bukan peserta keluarga berencana (KB) ada
sebanyak 28.421 (BKKPPKB DIY, 2013). Dari data laporan pencapaian
peserta KB dari 17 Kecamatan di Kabupaten Bantul untuk persentase
pencapaian KB aktif di kecamatan Sedayu sebesar 83,46% (BKKPPKB
Bantul, 2013).
Berdasarkan hasil data yang didapat dari Badan Pusat Statistik 2013,
Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Desa
Argomulyo yang terdiri dari 14 dusun pada tahun 2012 sebanyak 2.188
pasangan. Pasangan yang menjadi peserta KB aktif pada tahun 2012 sebanyak
1.827 peserta, sementara pasangan usia subur yang bukan peserta KB ada
sebanyak 361.
Dari hasil data praktik komunitas yang kemudian dijadikan sebagai
data untuk studi pendahuluan pada 6 Dusun ( Puluhan, Kemusuk Kidul,
Karang Lo, Pedes, Kali Berot dan Surobayan ) diketahui bahwa jumlah PUS
pada tahun 2013 adalah 900 pasangan dan jumlah PUS yang mengikuti KB
sejumlah 533 pasangan atau sekitar 59,22%. Jika dilihat dari persentase
berdasarkan data tersebut maka akseptor KB di 6 Dusun di Desa Argomulyo
masih rendah.
4

Keikutsertaan KB pada PUS di pengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya adalah pengetahuan, pendidikan, agama, jumlah anak, sosial
ekonomi dan dukungan pasangan atau dukungan keluarga akan mempengaruhi
perkembangan dan kemajuan program KB di Indonesia. Dari hasil informasi
setiap Kepala Dusun mengatakan bahwa tingkat pendidikan masyarakat di
sana bervariasi.
Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, variabel latar
belakang pendidikan responden merupakan variabel yang sejak lama dianggap
memiliki pengaruh terhadap keikutsertaan KB. Menurut Westoff dan Bankole
(1995) dalam Ubaidiyah (2013) penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa
variabel latar belakang pendidikan responden berpengaruh signifikan terhadap
keikutsertaan KB.
Menurut Rizali, Ikhsan, Salmah (2013) menuliskan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan akan jelas mempengaruhi pribadi seseorang
berpendapat, berpikir, bersikap, lebih mandiri dan rasional dalam mengambil
keputusan dan tindakan. Hal ini juga akan mempengaruhi secara langsung
seseorang dalam hal pengetahuannya akan orientasi hidupnya termasuk dalam
merencanakan keluarganya. Pendidikan juga akan meningkatkan kesadaran
wanita terhadap manfaat yang dapat dinikmati bila ia mempunyai jumlah anak
sedikit, sehingga akan mempengaruhi dalam mengambil keputusan dalam
mengikuti program KB.
Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan menggunakan
keluarga berencana tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi telah
5

memperlihatkan bahwa metode kalender lebih banyak digunakan oleh
pasangan yang lebih berpendidikan. Dikatakan bahwa wanita yang
berpendidikan biasanya menginginkan keluarga berencana yang efektif, tetapi
tidak rela untuk mengambil resiko yang terkait dengan efek samping dari
metode kontrasepsi (Handayani,2010).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti berkeinginan untuk melakukan
penelitian mengenai Hubungan antara tingkat pendidikan PUS dengan
keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa
Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini Adakah hubungan antara tingkat pendidikan PUS dengan
keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa
Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014? .
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan PUS
dengan keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di
Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pendidikan PUS di Desa Argomulyo Sedayu
Bantul Yogakarta.
6

b. Untuk mengetahui keikutsertaan KB pada PUS di Desa Argomulyo
Sedayu Bantul Yogakarta.
c. Untuk mengetahui pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa
Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta.
d. Untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan PUS dengan
keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di
Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritik
Menambah referensi dan memberikan sumbangan teoritis tentang
hubungan antara tingkat pendidikan PUS dengan keikutsertaan KB dan
pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu
Bantul Yogyakarta tahun 2014.
2. Manfaat Aplikatif
a. Bagi Pasangan Usia Subur ( PUS )
Memberikan kesempatan bagi pasangan usia subur untuk dapat lebih
menggali informasi tentang alat kontrasepsi dan meningkatkan peran
suami untuk berpartisipasi dalam perencanaan ikut program KB.
b. Bagi pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk referensi dalam
penyusunan program, khususnya pada pelayanan KB untuk lebih
memperhatikan kualitas pelayanan program yang baik dan dapat
meningkatkan keikutsertaan KB pada pasangan usia subur.
7

c. Bagi Institusi Prodi DIII Ilmu Kebidanan Stikes Alma Ata.
Sebagai referensi dalam pendidikan dan pengembangan belajar
mahasiswa DIII Ilmu Kebidanan khususnya tentang KB serta dapat
mengetahui hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan
keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS.
d. Bagi Profesi
Sebagai sumbangan aplikatif bagi tenaga kesehatan khususnya bidan,
tentang hubungan antara tingkat pendidikan PUS dengan keikutsertaan
KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa Argomulyo
Sedayu Bantul Yogyakarata tahun 2014, sehingga dapat memberikan
perhatian khusus serta membuat program khusus untuk
mempromosikan tentang KB pada PUS dengan berbagai tingkatan
pendidikan.
e. Bagi Peneliti
1) Bagi peneliti sekarang
Menambah ilmu dan pengalaman peneliti dalam melakukan
penelitian terutama mengenai KB dan hubungannya dengan tingkat
pendidikan.
2) Bagi peneliti selanjutnya
Dapat digunakan data dasar atau masukan masalah untuk diteliti
lebih lanjut.
8

E. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
No Judul Nama Tahun Persamaan Perbedaan Hasil
1. Faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan
terjadinya
unmet need
KB pada PUS
di Kota
Yogyakarta
tahun 2013
Prof. Dr.
H.
Hamam
Hadi MS,
Sc.D, dkk


2013 - Variabel
penelitian,
populasi dan
lokasi
penelitian
serta jenis
penelitiannya
yaitu
deskiptif serta
rancangan
penelitiannya
survey
deskriptif,
Faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan
terjadinya
unmet need
KB adalah
Faktor
ekonomi,
informasi,
pendidikan ,
jumlah anak
dan
pengetahuan
2. Hubungan
antara umur,
pendidikan,
jumlah anak
masih hidup
dengan
kejadian
unmet need
KB pada
pasangan usia
subur di kota
Yogyakarta
Ubaidiyah 2013 Desain
penelitiannya
cross
sectional
Variabel
penelitian,
populasi dan
lokasi
penelitian
sert jenis
penelitiannya
yaitu
observasional
analitik
Ada
hubungan
antara umur,
pendidikan,
jumlah anak
masih hidup
dengan
kejadian
unmet need
KB pada
pasangan usia
subur di kota
Yogyakarta
3. Faktor yang
berhubungan
dengan
pemilihan
metode
kontrasepsi
suntik di
kelurahan
Mattoangin
kecamatan
Rizali,
Ikhsan,
Ummu
2013 Desain
penelitiannya
cross
sectional
Variabel
penelitian,
populasi dan
lokasi
penelitiandan
jenis
penelitian
yaitu survey
analitik
Faktor yang
berhubungan
dengan
pemilihan
metode
kontrasepsi
suntik yaitu
pendidikan,
pengetahuan,
umur dan
9

Mariso kota
Makasar
tahun 2013
efek samping
4.

Faktor-Faktor
yang
berhubungan
dengan unmet
need KB
pada PUS di
wilayah kerja
Puskesmas
Temindung
Tahun 2013
Daud,
Ismail,
Subirman
2013 Desain
penelitiannya
cross
sectional
Variabel
penelitian,
populasi dan
lokasi
penelitian
Faktor-Faktor
yang
berhubungan
dengan unmet
need KB
pada PUS
adalah
pendidikan,
pengetahuan,
social
ekonomi.
5. Faktor-
Faktor Yang
Memengaruhi
Pasangan
Usia Subur
Menjadi
Akseptor Kb
Di Kelurahan
Babura
Kecamatan
Medan
Sunggal Kota
Medan Tahun
2012
Afni,
Asfriyanti,
Maya
2012 Desain
penelitian
cross
sectional
Variabel
penelitian,
populasi dan
lokasi
penelitian
Faktor-
Faktor Yang
Memengaruhi
Pasangan
Usia Subur
Menjadi
Akseptor Kb
adalah
pendidikan,
pengetahuan,
faktor
ekonomi
6. Hubungan
Tingkat
Pendidikan
formal
dengan
Pemilihan
Alat
Kontrasepsi
di Desa
Mojodoyong
Kedawung
Sragen
Anita Dwi
Agustina
Sari
2010 Desain
penelitian
cross
sectional
Variabel
penelitian,
populasi dan
lokasi
penelitian
Tidak ada
hubungan
tingkat
Pendidikan
formal
dengan
Pemilihan
Alat
Kontrasepsi
di Desa
Mojodoyong
Kedawung
Sragen

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Tingkat Pendidikan
Menurut Notoatmodjo (2003:8) kesehatan merupakan hasil
interaksi berbagai faktor, baik faktor internal ( dari dalam diri manusia)
maupun faktor eksternal ( di luar diri manusia ). Faktor internal ini terdiri
dari faktor fisik dan psikis sedangkan faktor eksternal terdiri dari berbagai
faktor antara lain, sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik,
ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga,
masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran,
dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan luar sekolah sepanjang
hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan
dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.
Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam
bentuk pendidikan formal, non-formal, dan informal di sekolah, dan luar
sekolah, yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi
pertimbangan kemampuan-kemampuan individu, agar dikemudian hari
dapat memainkan peranan hidup secara tepat (Mudyahardjo, 2002:11).
Pendidikan yang dimaksud adalah tingkat pendidikan tertinggi
yang pernah diikuti responden pada jenjang-jenjang tertentu. Deskripsi
hasil penelitian dilukiskan sebagai tak sekolah/tak tamat SD, tamat SD,
11

tamat SLTP, tamat SLTA, tamat akademi/perguruan tinggi (Machfoedz,
2013:194).
Menurut UU. No.20 tahun 2003 dalam Widayanti (2013),
pendidikan terdiri dari beberapa jenjang yang terdiri dari pendidikan
rendah, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan rendah
merupakan pendidikan awal selama 9 tahun pertama yang di Sekolah
Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), pendidikan menengah
merupakan lanjutan dari pendidikan dasar yang terdiri dari pendidikan
menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan, pendidikan tinggi
merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik. Pendidikan tinggi terdiri dari : Akademi, Institut,
Sekolah Tinggi, dan Universitas.
2. Keluarga Berencana
a. Pengertian Keluarga Berencana
Definisi Keluarga Berencana menurut WHO (World Health
Organization) Expert Communitte 1970 keluarga berencana adalah
tindakan yang membantu pasangan suami-istri untuk mendapatkan
obyektif-obyektif tertentu yaitu dengan cara menghindari kelahiran
yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang
diinginkan, mengatur interval di antara kelahiran, mengontrol waktu
saat kelahiran dalam hubungan dengan suami-istri, menentukan jumlah
anak dalam keluarga (Hartanto, 2004).
12

Menurut Hartanto (2004), secara garis besar definisi ini
mencakup beberapa komponen dalam pelayanan kependudukan/KB
yang dapat diberikan yaitu komunikasi, informasi dan edukasi (KIE),
konseling, pelayanan kontrasepsi, pelayanan infertilitas, pendidikan
sex (sex education), konsultasi pra-perkawinan dan konsultasi
perkawinan, konsultasi genetik dan tes keganasan serta adopsi.
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah anak
dan jarak anak yang diinginkan. Agar dapat mencapai hal tersebut,
maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun
menunda kehamilan. Cara-cara tersebut termasuk kontrasepsi atau
pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga (Sulistyawati, 2012).
Pengertian progam Keluarga Berencana menurut UU No.10
tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan
keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran
serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP),
pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan
kesejahteraan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
b. Tujuan Program Keluarga Berencana
Menurut Handayani (2010), secara umum tujuan untuk lima
tahun kedepan yang ingin dicapai dalam rangka mewujudkan visi dan
misi program KB adalah membangun kembali dan melestarikan
pondasi yang kokoh bagi pelaksana program KB nasional yang kuat
13

dimasa mendatang, sehingga visi untuk mewujudkan keluarga
berkualitas 2015 dapat tercapai.
Tujuan program KB secara filosofis adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga
kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan
pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia, serta terciptanya
penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan
menngkatkan kesejahteraan keluarga (Handayani, 2010:29).
Tujuan gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi yaitu tujuan
demografi untuk mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan
menekan laju pertumbuhan penduduk (LPP) dalam hal ini tentunya
akan diikuti dengan menurunkan angka kelahiran, mengatur kehamilan
dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak pertama dan
menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta
menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup, mengobati
kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih
dari satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini
memungkinkan untuk tercapainya keluarga bahagia. Married
Conseling atau nasehat perkawinan bagi pasangan yang akan menikah
dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang
bahagia dan berkualitas, dan terakhir tujuannya adalah tercapainya
14

NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) dan
membentuk keluarga berkualitas (Suratun, 2008: 15).
c. Sasaran Program Keluarga Berencana
1) Sasaran langsung.
Pasangan Usia Subur (PUS) yaitu pasangan yang wanitanya
berusia antara 15-49 tahun, karena kelompok ini merupakan
pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual dan setiap
kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan.
2) Sasaran tidak langsung.
Pelaksana dan pengelola KB, dengan cara menurunkan
tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan
terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang bekualitas, keluarga
sejahtera (Handayani, 2010:29).
Organisasi-organisasi, lembaga kemasyarakatan serta
instansi pemerintah maupun swasta serta tokoh masyarakat dan
pemuka agama yang diharapkan dapat memberikan dukungan
dalam melembagakan NKKBS (Suratun, 2008:17).
3. Kontrasepsi
a. Pengertian
Kontrasepsi berasal dari kata Kontra yang berarti mencegah
atau melawan dan Konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur
yang matang dan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Jadi,
15

kontrasepsi adalah upaya mencegah pertemuan sel telur matang dan
sperma untuk mencegah kehamilan (Suratun, 2008:27).
b. Jenis dan Metode Kontrasepsi.
1) Metode Kontrasepsi Sederhana
a) Metode Kontrasepsi Sederhana Tanpa Alat
(1) Metode Kalender (pantang berkala)
Metode kalender adalah metode yang digunakan
berdasarkan masa subur dimana harus menghindari
hubungan seksual tanpa perlindungan kontrasepsi pada
hari ke 8-19 siklus menstruasinya (Handayani, 2010:57).
(2) Metode Suhu Basal Tubuh
Suatu metode kontrasepsi yang dilakukan dengan
mengukur suhu tubuh untuk mengetahui suhu tubuh basal
untuk menentukan masa ovulasi. Untuk mengetahui bahwa
suhu tubuh benar-benar naik, maka harus selalu diukur
dengan termometer yang sama dan pada tempat yang sama
(di mulut, anus atau vagina) setiap pagi setelah bangun
tidur sebelum mengerjakan pekerjaan apapun dan dicatat
pada tabel. Syaratnya tidur malam paling sedikit selama 5
sampai 6 jam secara berturut-turut, suhu rendah (36,4
0
C
36.7
0
C), kemudian 3 hari berturut-turut suhu lebih tinggi
(36,9
0
C-37,5
0
C), maka setelah itu dapat dilakukan
senggama tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
16

(3) Metode Lendir Serviks (Metode Ovulasi Billing/MOB)
Adalah metode ovulasi didasarkan pada pengenalan
terhadap lendir serviks selama siklus menstruasi yang
menggambarkan masa subur dalam siklus dan waktu
fertilisasi maksimal dalam masa subur (Sulistyawati,
2012). Pada saat menjelang ovulasi lendir ini akan
mengandung lebih banyak air (menjadi encer) sehingga
mudah dilalui oleh sperma. Setelah ovulasi lendir akan
kembali menjadi lebih padat. Pada puncak masa subur,
yaitu menjelang dan pada saat ovulasi lendir akan keluar
dalam jumlah yang lebih banyak, menjadi transparan,
encer, dan bening seperti putih telur dan dapat ditarik
diantara dua jari seperti benang. Tiga hari setelah puncak
masa subur dapat dilakukan senggama tanpa alat
kontrasepsi.
(4) Metode Symto Thermal.
Adalah metode kontrasepsi yang dilakukan dengan
mengamati perubahan lendir dan perubahan suhu basal
tubuh (Handayani, 2010).
(5) Metode Amenorhea Laktasi (MAL)
Metode Amenorhea Laktasi (MAL) kontrasepsi yang
mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara
efektif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan
17

makanan atau minuman, dengan syarat menyusui secara
penuh, belum menstruasi, usia bayi kurang dari 6 bulan,
efektif sampai 6 bulan, harus dilanjutkan dengan
pemakaian metode kontrasepsi lainnya (Hidayati, 2009).
(6) Senggama Terputus (Coitus Interruptus).
Senggama terputus atau Coitus Interruptus adalah
menghentikan senggama dengan mencabut penis dari liang
vagina pada saat suami menjelang ejakulasi. Efek samping
Coitus Interruptus dapat menyebabkan hipertropi prostat,
impotensi (Suratun, 2008:37).
b) Metode Kontrasepsi Sederhana Dengan Alat
(1) Kondom.
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang
dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks
(karet), plastik (vinil) atau bahan alami (produk hewani)
yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual.
(2) Spermiside
Spermisida adalah suatu zat atau bahan kimia yang
dapat mematikan dan menghentikan gerak atau
melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina sehingga
tidak dapat membuahi sel telur (Suratun,2008:48).


18

(3) Diafragma.
Diafragma adalah kap berbentuk cembung, terbuat
dari lateks (karet) yang diinsersikan ke dalam vagina
sebelum berhubungan seksual dan menutup seviks.
2) Metode Modern
a) Kontrasepsi Hormonal
(1) Pil KB
Tablet yang mengandung hormon estrogen dan
progesteron sintetik disebut Pil Kombinasi dan yang hanya
mengandung progesteron sintetik saja disebut Mini Pil atau
Pil Progestin (Handayani, 2010).
(2) Suntik
Jenis dari suntik KB ada dua macam yaitu suntikan
kombinasi yang diberikan sebulan sekali dan suntikan
progestin yang diberikan setiap 3 bulan. Suntik kombinasi
merupakan kontrasepsi suntik yang berisi hormon sintesis
estrogen dan progesteron (Handayani, 2010).
(3) AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
AKDR atau spiral dalam bahasa inggrisnya Intra-
Uterine Device disingkat IUD adalah alat atau benda yang
dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel
dan berjangka panjang dan dapat dipakai oleh semua
19

perempuan usia reproduktif (Handayani, 2010). Terdapat
dua jenis AKDR yaitu hormonal dan non hormonal.
(4) AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit).
Alat kontrasepsi yang tempat pemasangannya di
bawah kulit lengan tangan. Terdapat 3 jenis susuk KB yaitu
: Norplant, terdiri dari 6 batang, Implanon, terdiri dari 1
batang, Jadena dan indoplant, terdiri dari 2 batang.
b) Kontrasepsi Mantap
(1) Medis Operatif Pria (MOP)
Vasektomi adalah prosedur klinik untuk
menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan
melakukan oklusi vas deferensia sehingga alur transportasi
sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan
ovum) tidak terjadi.
(2) Medis Operatif Wanita (MOW)
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk
menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan
dengan menutup tuba fallopii (mengikat dan memotong,
memasang cincin, menjepit atau melakukan electro-
cautery, sehingga sperma akan dicegah agar tidak bertemu
dengan ovum sehingga tidak terjadi pembuahan.
20

4. Pasangan Usia Subur
Pasangan Usia Subur (PUS) Adalah pasangan suami isteri yang
isterinya berusia antara 15 sampai dengan 49 tahun dan masih haid atau
pasangan suami isteri yang isterinya berusia kurang dari 15 tahun dan
sudah haid atau isteri sudah berusia lebih dari 50 tahun tetapi masih haid
atau datang bulan (BKKPPKB, 2009).
Pasangan usia subur (PUS) adalah pasangan yang wanitanya berusia
antara 15-49 tahun, karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif
melakukan hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat
mengakibatkan kehamilan (Suratun, 2008:17).
Pada masa ini pasangan usia subur harus dapat menjaga dan
memanfaatkan kesehatan reproduksinya yaitu menekan angka kelahiran
dengan metode keluarga berencana, sehingga jumlah dan interval
kehamilan dapat diperhitungkan untuk meningkatkan kualitas reproduksi
dan kualitas generasi yang akan datang.
5. Keikutsertaan KB
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan
keikutsertaan/partisipasi adalah turut berperan serta di suatu kegiatan.
Menurut Keith Davis dalam kamus Wikipedia keikutsertaan/partisipasi
adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian
tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa keikutsertaan KB adalah peran serta pasangan usia
subur dalam kegiatan program keluarga berencana.
21

6. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Keikutsertaan KB
Pemakaian alat kontrasepsi dipengaruhi oleh banyak sekali faktor.
Determinan pemakaian alat kontrasepsi oleh PUS terdiri dari faktor-faktor
sosio demografi, sosio psikologis, dan faktor pemberi pelayanan,
sebagaimana terlihat pada gambar berikut menurut Bertrand (1980) dalam
Hamid (2002).







Gambar 2.1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemakaian
alat kontrasepsi
(Sumber : June T Bertrand, 1980 dari Hamid 2002).
Menurut Bertrand (1980) dalam Hamid (2002) memberi contoh
variabel yang termasuk variabel sosio demografi, sosio psikologis dan
variabel pemberi pelayanan tersebut. Sosio demografi seperti ; pendidikan,
jenis pekerjaan, umur dan jumlah anak. Sosio psikologis ; kepercayaan dan
kepuasan terhadap pelayanan KB, sedangkan pemberi pelayanan seperti
ketrampilan dan sikap petugas KB.


Sosio Demografi
Sosio Psikologis
Pemberi Pelayanan
Pemakaian Alat Kontrasepsi
22

a. Sosio Demografi
Beberapa variabel pada sosio demografi seperti pendidikan,
pendapatan, pekerjaan, jumlah anak dan umur dari temuan beberapa
penelitian terdahulu diketahui memiliki hubungan yang signifikan
dengan kejadian keikutsertaan KB. Hubungan tersebut karena
berhubungan dengan keterbatasan akses PUS terhadap pelayanan KB,
baik karena keterbatasan pendidikan, pengetahuan, dan sikap maupun
karena keterbatasan kemampuan ekonomi.
1) Pendapatan
Pendapatan adalah kuantitas jasa yang tersedia dan harga
perunit yang dibayarkan (G.Lipsey, 1990) dalam Hamid (2002),
sedangkan Tambunan (2001) dalam Hamid (2002) mendefinisikan
pendapatan adalah pembayaran yang didapat karena bekerja atau
menjual jasa. Kedua definisi tersebut menunjuk pada penghasilan
yang diperoleh dari suatu pekerjaan atau jasa yang dilakukan.
Variabel distribusi pendapatan, seringkali dijadikan tolok
ukur untuk menggambarkan tingkat kemiskinan dan kesenjangan
pendapatan di antara berbagai kelompok masyarakat, dan
seringkali hal ini menjadi faktor pengaruh dalam pengambilan
keputusan dalam hal kesehatan.
2) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses ilmiah yang terjadi pada
manusia. Pendidikan dapat diartikan suatu proses dimana
23

seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk tingkah
laku lainnya dalam masyarakat dan kebudayaan (Notoatmodjo,
2002). Makin tinggi pendidikan seseorang, makin banyak
menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang
dimiliki. Sebaliknya pendidikan menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai baru. Pendidikan merupakan salah
satu faktor yang menentukan pengetahuan dan persepsi seseorang
terhadap pentingnya suatu hal, termasuk pentingnya keikutsertaan
dalam KB.
3) Pekerjaan
Wirawan (1993) dalam Hamid (2002) pada penelitiannya
tentang pengaruh status wanita terhadap penerimaan NKKBS
menemukan, program keluarga berencana dan NKKBS lebih dapat
diterima oleh wanita bekerja dibanding wanita yang tidak bekerja.
4) Agama
Program KB tidak hanya menyangkut masalah demografi dan
klinis tetapi juga masalah sosial seperti agama, adat, dan budaya.
Di beberapa tempat, kepercayaan religius dapat mempengaruhi
masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi. Pandangan setiap
agama terhadap KB berbeda-beda dengan ajarannya masing-
masing.
Agama Islam memperbolehkan KB dengan alasan KB
dianggap penting untuk menjaga kesehatan ibu dan anak,
24

menjunjung tinggi program pembangunan kependudukan lainnya
dan menjadi bagian dari hak asasi manusia. Tetapi ada juga yang
memiliki pandangan KB tidak boleh dilakukan dengan alasan Al-
Quran tidak memperbolehkan pemakaian alat kontrasepsi yang
dianggap sebagai membunuh bayi atau agama Islam menginginkan
agar Islam mempepunyai umat yang besar dan kuat. Agama Hindu
memandang bahwa setiap kelahiran harus membawa manfaat maka
kelahiran harus diatur jaraknya dengan mengikuti program KB.
Agama Budha memandang setiap manusia pada dasarnya baik dan
tidak melarang umatnya mengikuti program KB demi terwujudnya
kesejahteraan keluarga. Agama Kristen protestan tidak melarang
umatnya menggunakan KB, namun agama Katolik masih menjadi
oposisi utama program KB kaena hanya menerima abstinensia dan
pantang berkala sebagai metode keluarga berencana yang sesuai
dengan pandangan gereja dan menolak metode KB lainnya
(BKKPPKB, 2010).
5) Jumlah Anak
Jumlah anak memiliki hubungan yang signifikan dengan
keikutsertaan KB dan juga mempengaruhi adanya kejadian unmet
need. Anak adalah harapan atau cita-cita dari sebuah perkawinan.
Beberapa jumlah anak yang diinginkan tergantung dari keluarga itu
sendiri. Program KB selain upaya untuk mewujudkan keluarga
yang berkualitas melalui promosi, perlindungan dan bantuan dalam
25

mewujudkan hak-hak reproduksi juga untuk penyelenggaraan
pelayanan, pengaturan, dan dukungan yang diperlukan untuk
membentuk keluarga dengan usia kawin yang ideal, mengatur
jumlah anak, jarak dan usia ideal melahirkan anak (Handayani,
2010).
6) Pengetahuan
Tingkat pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan tentang keluarga berencana merupakan salah satu
faktor yang berkaitan dengan keikutsertaan KB. Agar dapat
memutuskan untuk memanfaatkan layanan KB pasangan usia
subur harus mengetahui berbagai jenis alat kontrasepsi yang dapat
dipilih dan kemana mereka harus pergi untuk mendapatkan layanan
kontrasepsi tersebut. Kurangnya pengetahuan tentang jenis-jenis
kontrasepsi, manfaat, dan efek samping alat kontrasepsi dapat
menjadi faktor yang mempengaruhi keikutsertaan KB.
b. Sosio Psikologis
Variabel sosio psikologis terdiri dari kepercayaan terhadap
pelayanan yang diberikan, sehingga petugas kesehatan yang
memberikan pelayanan harus memiliki kualifikasi untuk melakukan
pengobatan dan memberikan pelayanan yang diakui oleh pemerintah
sebagai tenaga profesi. Apabila pelayanan yang diberikan sesuai
26

standar maka akan menghasilkan kepuasan masyarakat terhadap
pelayanan yag diberikan sehingga menghasilkan dampak yang positif.
c. Pemberi pelayanan
Pemberi pelayanan adalah yang memberikan pelayanan baik
melakukan tindakan atau hanya menyampaikan informasi kepada
masyarakat. Arti penting upaya penyebaran informasi tentang KB
antara lain adalah frekuensi pemaparan terhadap informasi KB oleh
petugas, tokoh masyarakat, keluarga, teman, atau orang lain, serta
melalui media masa baik media cetak maupun media elektronik,
berhubungan dengan alat kontrasepsi oleh PUS. Hubungan tersebut
terbentuk karena keterpaparan dengan informasi tentang KB
merupakan salah satu bentuk sistematika pengembangan pengetahuan
tentang KB.
d. Geografi
Wilayah tempat tinggal mempengaruhi jangkauan informasi
keluarga berencana terhadap PUS di pedesaan lebih kecil dibanding
dengan perkotaan. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi keikutsertaan
KB pada PUS di daerah pedesaan, karena selain informasi yang kurang
melainkan lokasi tempat pelayanan yang juga jauh dari jangkauan.




27

B. Kerangka Teori







C.






Gambar 2.2 Kerangka teori
(Hamid, 2002)
Keterangan :
Diteliti :
Tidak diteliti :
Geografi
1. Wilayah tempat tinggal
Pemberi Pelayanan
1. Sikap petugas
2. Ketrampilan petugas
3. Upaya penguatan
4. Hubungan interpersonal dengan PUS
5. Ketersediaan alat kontrasepsi
Keikutsertaan KB
Sosio Psikologis
1. Kepercayaan terhadap pelayanan
2. Kepuasan terhadap pelayanan
3. Dukungan suami-keluarga
Sosio Demografi
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
2. Umur
3. Jumlah anak
4. Pendapatan
5. Pengetahuan
6. Sikap
7. Agama
28

C. Kerangka Konsep








Gambar 2.3 Kerangka Konsep Penelitian

D. Hipotesis
1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan PUS dengan keikutsertaan KB
pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014.
2. Ada hubungan antara tingkat pendidikan PUS dengan pemilihan jenis alat
kontrasepsi pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
tahun 2014.
Tingkat Pendidikan
PUS di Desa
Argomulyo
1. Tidak Sekolah
2. Tamat SD
3. Tamat SLTP
4. Tamat SLTA
5. Akademi/Perguruan
Tinggi
Keikutsertaan
KB PUS di
Desa
Argomulyo
Tidak KB
KB aktif
Modern
1. PIL
2. Suntik
3. AKBK
4. AKDR
5. Kontap
Sederhana
1. Dengan
Alat
2. Tanpa
Alat
29

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik. Menurut
Riyanto (2011) dalam Ubaidiyah (2013) penelitian observasional analitik
merupakan penelitian yang mencoba untuk mengetahui mengapa masalah
tersebut bisa terjadi, kemudian melakukan analisis hubungan antara faktor
resiko ( faktor yang mempengaruhi ) dengan faktor efek ( faktor yang
dipengaruhi ).
B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional, yaitu suatu
penelitian yang dilakukan dengan pengamatan sesaat atau dalam suatu
periode waktu tertentu dan setiap subjek studi hanya dilakukan satu kali
pengamatan selama penelitian (Machfoedz, 2013: 13) .
Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap hubungan antara
tingkat pendidikan PUS dengan keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat
kontrasepsi pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun
2014.
C. Populasi atau Subjek Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau
subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik yang telah ditetapkan
peneliti dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono,2010 : 49).
30




Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Machfoez,
2013).Subjek adalah semua benda yang memiliki sifat atau ciri (Machfoez,
2013).
Menurut Notoatmodjo (2010:115) populasi adalah keseluruhan objek
penelitian atau objek yang diteliti. Dalam penelitian ini populasinya adalah
semua pasangan usia subur (PUS) yang sudah menikah di Dusun Puluhan,
Kemusuk Kidul, karang Lo, Pedes, Surobayan, Kali Berot, Desa Argomulyo,
Sedayu Bantul, Yogyakarta yaitu sebanyak 916 pasangan.
D. Sampel
1. Besar Sampel
Menurut Mahfoedz (2013), menegaskan bahwa sampel adalah
sebagian dari populasi yang merupakan wakil dari populasi. Sebagian
yang diambil dari keseluruhan objek yang akan diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi disebut sampel penelitian. Dalam mengambil
sampel penelitian ini digunakan cara-cara atau teknik-teknik tertentu
sehingga sampel tersebut dapat mewakili populasinya. Teknik ini
biasanya disebut teknik sampling (Notoatmodjo, 2010:116). Dalam
penelitian ini sampelnya adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang sudah
menikah yang wanitanya berusia 15-49 tahun, dengan kriteria inklusi dan
eksklusi sebagai berikut :


31




a. Kriteria Inklusi
Pasangan Usia Subur (PUS) yang wanitanya umur 15-49 tahun
di Dusun Puluhan, Kemusuk Kidul, karang Lo, Pedes, Surobayan,
Kali Berot, Desa Argomulyo, Sedayu Bantul Daerah Istimewa
Yogyakarta.
b. Kriteria Eksklusi
1) Pasangan Usia Subur (PUS) sedang dalam keadaan sakit dan tidak
dapat bekerja sama dengan peneliti.
2) Pasangan Usia Subur (PUS) yang tidak bersedia menjadi
responden.
3) Pasangan Usia Subur (PUS) yang tidak berada di tempat selama
penelitian dilakukan.
2. Cara Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan adalah total sampling, sehingga semua
populasi akan diteliti, yaitu 916 pasangan. Sampel yang digunakan adalah
total sampling dengan jumlah pasangan usia subur 907 responden dan 9
responden termasuk dalam kriteria eksklusi.
E. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi
Tempat penelitian dilakukan di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul,
Daerah Istimewa Yogyakarta, di Dusun Puluhan, Kemusuk Kidul, Karang
Lo, Pedes, Surobayan dan Kali Berot.
32




2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni tahun 2014.
F. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Jenis data yang diperlukan adalah data sekunder, data dikumpulkan
dari data yang didapat ketika survey praktik komunitas yaitu jumlah
pasangan usia subur enam Dusun di Desa Argomulyo, Sedayu Bantul
Yogyakarta, serta jumlah peserta KB aktif tahun 2013, serta data primer
yang diperoleh langsung dari responden dengan memberikan pertanyaan
yang ada dalam kuesioner gabungan dengan cara pengambilan data
secara door to door.
2. Cara Pengumpulan Data
a) Untuk data sekunder melakukan pemeriksaan data yang ada yaitu hasil
survey praktik komunitas, kemudian melakukan pencatatan dan
melakukan penyesuain dengan data yang dimiliki perangkat desa
setempat untuk jumlah pasangan usia subur dan jumlah peserta KB
aktif tahun 2013 di enam Dusun di Desa Argomulyo, Sedayu Bantul
Yogyakarta.
b) Untuk data primer pengambilan data secara door to door , responden
diberi penjelasan terlebih dahulu mengenai maksud tujuan penelitian
ini kemudian responden diminta mengisi surat persetujuan bahwa
bersedia menjadi responden.
33




c) Kemudian setelah kuesioner terisi oleh responden lalu dikumpulkan
sesuai dengan nomor urut untuk diolah datanya.
d) Memisahkan data sesuai dengan kriteria.
e) Memasukkan data dalam master tabel.
3. Alat Penelitian ( Instrumen Penelitian )
Yang dimaksud dengan instrumen penelitian adalah alat-alat yang
akan digunakan untuk pengumpulan data. Instrumen penelitian ini dapat
berupa: kuesioner (daftar pertanyaan), formulir observasi, formulir-
formulir lain yang berkaitan dengan pencatatan data dan sebagainya
(Notoatmodjo,2010:87).
Pada penelitian ini peneliti menggunakan instrumen penelitian
berupa kuesioner. Kuesioner penelitian ini adalah kuesioner gabungan
hasil adopsi dari penelitian ACHEAF (Alma Ata Centre of Healthy Life
And Food) sebelumnya yang dilakukan oleh Hadi, dkk (2013) dengan
judul Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya unmet need pada
PUS di Kota Yogyakarta tahun 2013, sehingga peneliti tidak perlu
melakukan uji validitas dan reliabilitas karena kuesioner tersebut telah
dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Dan kisi-kisi kuesioner yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:



34




Tabel 3.1 Kisi-kisi Kuesioner
No Jenis Pertanyaan Soal Tipe/No. Jumlah Soal
1 Karakteristik responden A. (1,2,3,4,5,6) 6
2 Pendidikan Suami dan
Istri
A. (7,8) 2
3 Keikutsertaan KB F. (35) 1
4 Jenis KB yang digunakan F. (38) 1
5 Pengambil Keputusan F. (42) 1
Jumlah 11

G. Variabel Penelitian
Variabel adalah ciri atau sifat dari sesuatu subjek penelitian, baik
subjek itu makhluk seperti manusia, hewan, tumbuhan atau benda seperti
obat, benda padat, dan cair (Machfoedz, 2013:25).
Menurut Saryono (2008: 33) variabel merupakan ukuran atau ciri
yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbedadengan
yang dimiliki oleh kelompok lain. Variabel adalah konsep yang mempunyai
variabilitas. Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini terdiri dari 2
variabel yaitu satu variabel independen dan satu variabel dependen.
1. Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi atau dianggap menentukan variable terikat (Saryono,
35




2008: 36). Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat
pendidikan pasangan usia subur di enam Dusun di Desa Argomulyo,
Sedayu, Bantul, Yogyakarta.
2. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi. Variabel tergantung
disebut juga kejadian, luaran, manfaat, efek atau dampak (Saryono, 2008 :
36). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keikutsertaan KB pada
pasangan usia subur dan pemilihan jenis KB pada pasangan usia subur di
enam Dusun di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta.
H. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional dibuat untuk memudahkan pengumpulan data dan
menghindarkan perbedaan interpretasi serta membatasi ruang lingkup
variabel (Saryono, 2008 : 41). Dengan demikian definisi operasional variabel
dapat menghindarkan tafsiran yang berbeda-beda.
Tabel 3.2 Definisi Operasional
Variabel Definisi
Operasional
Cara
Ukur
Hasil Ukur Skala
Ukur
Tingkat
Pendidikan
PUS
Tingkat
pendidikan
tertinggi yang
pernah diikuti
responden baik
itu tingkat
pendidikan
terakhir suami
ataupun istri
yaitu dilukiskan
sebagai tak
sekolah/tak
Kuesioner Kategori:
1. Tidak
tamat SD
2. SD
3. SMP
4. SMA
5. Diploma/
PT

Ordinal
36




tamat SD, tamat
SD, tamat
SLTP, tamat
SLTA, tamat
akademi/pergur
uan tinggi
(Machfoedz,
2013:195).

Keikutser-
taan KB
Tindakan
responden
untuk
mengikuti
program KB
Kuesioner Kategori:
1. Ikut serta
Apabila
responden
mengikuti
program
KB
2. Tidak ikut
serta
Apabila
responden
tidak
mengikuti
program
KB
Nominal
Jenis Alat
Kontrasepsi
Jenis Alat
Kontrasepsi
yang
digunakan
respondrn
Kuesioner Kategori :
1. PIL
2. Suntik
3. AKDR
4. AKBK
5. Kontap
6. Kalender
7. Kondom
8. Lain-Lain
Nominal




37




I. Jalannya Penelitian
Adapun tahap penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
a. Mengajukan judul ke pembimbing I bersama teman-teman penelitian
payung yang diketuai oleh Beyna Handayani dengan anggota:
1) Ardhiyani Muslimah
2) Dwi Puspitasari
3) Eva Dyah Pratiwi
4) Rizka Andriyani
5) Yuniati Afika
b. Mengajukan judul ke pembimbing II setelah judul di setujui oleh
pembimbing I.
c. Penelitian diawali dengan melakukan studi pendahuluan.
d. Mempersiapkan instrumen yaitu lembar formulir penelitian bersama
teman-teman penelitian payung.
e. Penyusunan proposal, pada tahap ini peneliti melakukan penyusunan
proposal, seminar proposal, dilanjutkan dengan perbaikan proposal
sampai dengan proposal disetujui dan disahkan.
f. Mengurus ijin penelitian pada instansi yang berwenang dan
melakukan penjajakan lokasi penelitian terkait data PUS yang terbaru.
g. Mengadakan pertemuan untuk menyamakan persepsi dan koordinasi
pengambilan data penelitian dengan rekan-rekan peneliti yang lain.
38




h. Proposal penelitian disyahkan oleh Pembimbing I, Pembimbing II,
dan Penguji.
i. Mengurus ijin penelitian di 6 dusun di Desa Argomulyo yaitu Dusun
Puluhan, Kemusuk Kidul, Karang Lo, Pedes, Surobayan, dan Kali
Berot.
2. Tahap Pelaksanaan
Melakukan pengumpulan data dengan wawancara menggunakan
panduan kuesioner kepada seluruh Pasangan Usia Subur yang berada di 6
dusun secara door to door dengan langkah:
a. Peneliti memperkenalkan diri.
b. Menjelaskan tujuan dari penelitian.
c. Menjelaskan prosedur penelitian yang dilakukan yaitu mengumpulkan
data dengan teknik wawancara menggunakan panduan kuesioner.
d. Meminta kesediaan Pasangan Usia Subur untuk menjadi responden
dalam penelitian dengan menandatangani informed consent.
e. Peneliti melakukan penggalian data atau informasi dari responden
dengan panduan kuesioner.
f. Peneliti mengecek kembali kelengkapan data sebelum beralih ke
responden lain. Setelah data lengkap peneliti berpamitan dan
melanjutkan ke responden lain.
g. Apabila saat pengumpulan data ada responden yang ingin mengetahui
lebih jauh tentang alat kontrasepsi maka peneliti akan menjelaskan
39




dengan singkat dan menganjurkan untuk segera datang ke tempat
pelayanan kesehatan terdekat agar mendapat informasi yang lebih
lengkap.
3. Pengolahan Data
a. Semua data terkumpul selanjutnya diedit secara manual.
b. Pengolahan data dengan menggunakan komputerisasi yaitu
menggunakan perhitungan dengan program SPSS agar mendapatkan
hasil yang tepat dan akurat.
4. Tahap Pelaporan
Tahap akhir penelitian dilakukan penyajian hasil analisis dan
penyusunan pembahasan tentang hasil penelitian yang kemudian
dilengkapi dengan kesimpulan penelitian serta saran atau rekomendasi
tindak lanjut dari hasil penelitian sehingga menjadi satu kesatuan sebuah
penelitian yaitu:
a. Data yang sudah lengkap dan disajikan dalam bentuk Karya Tulis
Ilmiah (KTI) selanjutnya dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.
b. Mempresentasikan hasil penelitian Karya Tulis Ilmiah (KTI).
c. Merevisi hasil presentasi.
d. Penjilidan dan Pengumpulan Karya Tulis Ilmiah (KTI).


40




J. Pengolahan dan Analisis Data
1. Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari kuesioner akan diolah dengan meneliti
ulang dan memeriksa data mulai dari identitas dan kelengkapan jawaban
kuesioner, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Pengeditan (editing)
Merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk melakukan
pemeriksaan terhadap data yang dikumpulkan,memeriksa
kelengkapan data , dan kesalahan.
b. Pemindahan (transferring)
Memindahkan data atau kode dalam media tertentu (komputer )
pada master tabel.
c. Tahap coding
Dilakukan setelah pengumpulan data berupa menghitung jumlah
pasangan yang sesuai dengan kode tingkat pendidikan yang diberikan
sesuai jawaban responden untuk memudahkan pengolahan data.
1) Kode untuk pendidikan
Kode 1 : Tidak Tamat SD
Kode 2 : Tamat SD/sederajat
Kode 3 : Tamat SMP/sederajat
Kode 4 : Tamat SMA/sederajat
Kode 5 : Tamat Diploma/lebih tinggi
41




2) Kode untuk keikutsertaan KB
Kode 1 : Ya
Kode 2 : Tidak
3) Kode untuk jenis alat kontrasepsi
Kode 1 : Pil
Kode 2 : IUD/AKDR
Kode 3 : Suntik
Kode 4 : Implant/AKBK
Kode 5 : Kondom
Kode 6 : Kontap
Kode 7 : Kalender/ Pantang berkala
Kode 8 : Lain-Lain
d. Tabulasi (tabulating)
Penyusunan data dengan mengelompokkan data sedemikian
rupa sehingga data mudah dijumlah dan disusun untuk disajikan dan
dianalisis dalam bentuk master tabel dengan bantuan komputer.
e. Tahap entry
Proses memasukkan data kedalam software computer untuk
dapat diolah sesuai dengan tujuan penelitian.



42




2. Analisis Data
a. Analisis Univariat
Menganalisis tiap-tiap variabel penelitian yang ada secara
deskriptif dengan cara menghitung distribusi frekuensi. Analisis
univariat ini dilakukan dengan cara mencari proporsi terhadap
masing-masing variabel. Proporsi adalah suatu perbandingan dimana
pembilang merupakan bagian dari penyebut (Mahfoedz, 2013).
P =
f
n
x1uu %
P = Persentase yang dicari
f = Frekuensi faktor variabel
n = Jumlah populasi
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mencari pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen (Machfoedz, 2012).Uji
statistik yang digunakan adalah dengan rumus chi square, karena jenis
data berbentuk kategorik yang terdiri dari data dengan skala ordinal dan
nominal. Adapun langkah-langkah dalam menggunakan uji statistik chi
square adalah :
1) Menentukan hipotesis
Hipotesis pertama :
H
0
: tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan
43




keikutsertaan KB.
H
1
: ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan keikutsertaan
KB.
Hipotesis kedua :
H
0
: tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan
pemilihan jenis alat kontrasepsi.
H
1
: ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan keikutsertaan
Pemilihan jenis alat kontrasepsi.
2) Menentukan tingkat signifikansi ( =5%) dan derajat kebebasan (dk=
(b-1)(k-1)).
3) Kriteria pengujian H
0

H
0
ditolak bila x
2
hitung > x
2
tabel ( , dk)
4) Perhitungan
Adapun rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:
x
2
=
(Fo Fh)
2
Fh

Keterangan :
x
2

= nilai chi squaere
Fo = frekuensi yang diobservasi
Fh = frekuensi yang diharapkan

44




c. Keeratan Hubungan
C =
_
X
2
n +X
2

C
max
=
_
m 1
m

C = Koefisien kontingensi
C
max
= Koefisien kontingensi maksimum
n = Jumlah sampel
m = Jumlah minimum baris dan kolom pada tabel
kontingensi
x
2
= Chi square
Bila jarak C dan C
max
atau (C
max
-C) < 0,5 maka jarak tersebut
cenderung dekat atau hubungan cenderung kuat (Machfoedz, 2012).
Sugiyono (2006), menyatakan bahwa untuk menguji koefisien
korelasi ( tingkat hubungan ) didasarkan pada tabel koefisien
kontingensi. Tabel koefisien yang digunakan dalam memberikan
interpretasi terhadap nilai koefisien korelasi adalah :


45




Tabel 3.3 Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi
Interval
Koefisien
Tingkat Hubungan
0,00 0,199
0,20 0,399
0,40 0,599
0,60 0,799
0,80 1, 00
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat kuat

Sumber : Sugiono (2006) dalam Machfoedz (2012).
46

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta merupakan salah satu
desa dari tujuh puluh lima desa di Kabupaten Bantul. Luas Desa Argomulyo
adalah 953 hektar. Secara geografis Desa argomulyo terletak di antara 110
o

12 34 - 110
o
31 08 Bujur Timur dan antara 7
o
44 04 - 8
o
00 27 Lintang
Selatan. Dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Batas wilayah Barat Laut sebelah Timur : Desa Balecatur Kabupaten
Sleman.
Batas wilayah Barat : Desa Argorejo dan Desa Argosari
Batas wilayah Utara : Desa Sumbersari, Moyudan, Sleman dan desa
Sidomulyo, Godean Kabupaten Sleman.
Batas wilayah Selatan : Desa Bangunjiwo, Kasihan dan desa Tri Widadi
Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul.
Desa Argomulyo terdiri dari 14 Pedukuhan yang meliputi 108 RT
diantaranya adalah Dusun Puluhan, Dusun Kemusuk Kidul, Dusun Karang Lo,
Dusun Pedes, Dusun Surobayan dan Dusun Kaliberot yang menjadi lokasi
penelitian. Dan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti KB di
Desa Argomulyo dalam 6 Dusun 610 dari 907 Pasangan Usia Subur yang
menjadi responden.

47

B. Hasil Penelitian
1. Analisis Data
a. Analisis Univariat
1) Karakteristik Responden
Hasil analisis data mengenai karakteristik responden dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1
Distribusi frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan umur
Agama,Pendidikan di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
Karakteristik
Frekuensi Prosentase (%)
Istri Suami Istri Suami
Umur
<20 tahun
20- 35 tahun
>35 tahun

4
476
427

1
383
523

0,4
52,5
47,1

0,1
42,2
57,7
Jumlah 907 907 100 100
Agama
Islam
Kristen
Budha
Hindu
Khatolik
Khonghucu

888
10
0
0
9
0

888
10
0
0
9
0

97,9
1,1
0
0
1,0
0

97,9
1,1
0
0
1,0
0
Jumlah 907 907 100 100
Pendidikan
Tidak tamat SD
SD/sederajat
SMP/sederajat
SMA/sederajat
Diploma/lebih
tinggi

9
82
150
548
118

10
78
127
563
129

1,0
9,0
16,5
60,4
13,0

1,1
8,6
14,0
62,1
14,2
Jumlah 907 907 100 100
Sumber : Data Primer Tahun 2014
48

Berdasarkan Tabel 4.1 di atas diketahui karakteristik umur
responden istri sebagian besar berusia antara 20-35 tahun yaitu
sebanyak 476 (52,5 %) responden dan responden suami sebagian
berusia >35 tahun yaitu sebanyak 523 (57,7 %) responden. Untuk
karakteristik agama sebagian besar beragama Islam yaitu sebanyak
888 (97,9 %) pasangan usia subur. Untuk karakteristik pendidikan
mayoritas pendidikan istri adalah SMA/sederajat yaitu sebanyak
548 (60,4%) responden dan pendidikan suami juga mayoritas
adalah SMA/sederajat yaitu sebanyak 563 (60,1%) responden.
2) Keikutsertaan KB
Hasil analisis data mengenai jumlah keikutsertaan KB
dapat dilihat pada pada tabel berikut :
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Pendidikan Istri di Desa Argomulyo
Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014 dengan keikutsertaan KB
Tingkat Pendidikan
Istri
KB
Ya % Tidak %
Tidak Tamat SD 8 1.3 1 0.3
SD 54 8.9 28 9.4
SMP 107 17.5 43 14.5
SMA 365 59.8 183 61.6
Diploma/PT 76 12.5 42 14.1
JUMLAH 610 100.0 297 100.0
Sumber: Data Primer Tahun 2014







49

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Pendidikan Suami di Desa Argomulyo
Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014 dengan keikutsertaan KB
Tingkat Pendidikan
Suami
KB
Ya % Tidak %
Tidak Tamat SD 7 1.1 3 1.0
SD/sederajat 52 8.5 26 8.8
SMP/sederajat 90 14.8 37 12.5
SMA/sederajat 375 61.5 188 63.3
Diploma/PT 86 14.1 43 14.5
JUMLAH 610 100.0 297 100.0
Sumber : Data Primer 2014
Tabel 4.2 dan 4.3 menunjukkan sebagian besar PUS di
Desa Argomulyo mengikuti KB yaitu sebanyak 610 responden
(67,3%) dan yang tidak ikut KB sebanyak 297 responden (32,7%),
dengan perincian tingkat pendidikan terbanyak yang mengikuti KB
adalah dengan tingkat pendidikan menengah (tamat
SMA/sederajat) responden istri sebanyak 365 (59,8%) responden
dan suami 375 (61,5%) responden. Untuk keikutsertaan paling
rendah adalah tingkat pendidikan tinggi (tamat Diploma/lebih
tinggi) dengan hasil responden istri sebayak 76 (12,5%) responden
dan suami 86 (14,1%) responden.
3) Pemilihan Jenis Alat Kontrasepsi
Hasil analisis data mengenai pemilihan jenis alat
kontrasepsi dapat dilihat pada tabel berikut :



50



Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Pendidikan Istri dengan pemilihan jenis Alat Kontrasepsi
di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014

Jenis KB
Tingkat Pendidikan Istri
Jumlah Tidak SD/ SMP/ SMA/ Diploma/
Tamat SD sederajat Sederajat sederajat PT
n % n % n % n % n % n %
Tidak
Memilih 1 0.10 28 3.10 43 4.70 183 20.20 42 4.60 297 32.70
PIL 1 0.10 7 0.80 17 1.90 60 6.60 7 0.80 92 10.10
IUD 1 0.10 7 0.80 14 1.50 69 7.60 22 2.40 113 12.50
Suntik 1 0.10 30 3.30 56 6.20 148 16.30 23 2.50 258 28.40
Implant 1 0.10 0 0.00 4 0.40 15 1.70 4 0.40 24 2.60
Kondom 2 0.20 2 0.20 8 0.90 33 3.60 12 1.30 57 6.30
Kontap 1 0.10 5 0.60 4 0.40 14 1.50 1 0.10 25 2.80
Kalender 1 0.10 2 0.20 2 0.20 19 2.10 7 0.80 31 3.40
Lain-Lain 0 0.00 1 0.10 2 0.20 7 0.80 0 0.00 10 1.10
Sumber : Data Primer Tahun 2014







51

Tabel 4.4 menunjukan bahwa distribusi frekuensi pemilihan
jenis alat kontrasepsi berdasarkan tingkat pendidikan istri adalah
sebagian besar memilih alat kontrasepsi jenis suntik yaitu sebanyak
258 (28,4%) responden, sedangkan yang paling sedikit memilih
alat kontrasepsi jenis lain-lain sebanyak 10 (1,1%) responden.
Untuk tingkat pendidikan Diploma/PT jenis alat kontrasepsi yang
dipilih hampir sama antara IUD dan suntik, sedangkan yang
memutuskan untuk tidak memilih jenis KB apapun lebih banyak
yaitu 42 responden.














52



Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Pendidikan Suami dengan pemilihan jenis Alat Kontrasepsi
di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta tahun 2014

Jenis KB
Tingkat Pendidikan Suami
Jumlah Tidak SD/ SMP/ SMA/ Diploma/
Tamat SD sederajat Sederajat sederajat PT
n % n % n % n % n % n %
Tidak
Memilih 3 0.30 26 2.90 37 4.10 188 20.70 43 4.70 297 32.70
PIL 1 0.10 6 0.70 19 2.10 58 6.40 8 0.90 92 10.10
IUD 1 0.10 7 0.80 10 1.10 72 7.90 23 2.50 113 12.50
Suntik 4 0.40 25 2.80 44 4.90 162 17.90 23 2.50 258 28.40
Implant 0 0.00 2 0.20 2 0.20 16 1.80 4 0.40 24 2.60
Kondom 1 0.10 1 0.10 9 1.00 30 3.30 16 1.80 57 6.30
Kontap 0 0.00 7 0.80 2 0.20 15 1.70 1 0.10 25 2.80
Kalender 0 0.00 3 0.30 2 0.20 17 1.90 9 1.00 31 3.40
Lain-Lain 0 0.00 1 0.10 2 0.20 5 0.60 2 0.20 10 1.10
Sumber : Data Primer Tahun 2014






53

Tabel 4.5 menunjukan bahwa distribusi frekuensi pemilihan
jenis alat kontrasepsi berdasarkan tingkat pendidikan suami adalah
sebagian besar memilih alat kontrasepsi jenis suntik yaitu sebanyak
258 (28,4%) responden, sedangkan yang paling sedikit memilih
alat kontrasepsi jenis lain-lain sebanyak 10 (1,1%) responden.
Untuk tingkat pendidikan Diploma/PT jenis alat kontrasepsi yang
dipilih sama antara IUD dan suntik yaitu 23 responden, sedangkan
yang memutuskan untuk tidak memilih jenis KB apapun lebih
banyak yaitu 43 responden.
b. Analisis Bivariat
1) Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan keikutsertaan
KB di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
Tabulasi silang dan hasil uji statistik hubungan antara
tingkat pendidikan dengan keikutsertaan KB di Desa Argomulyo
Sedayu Bantul Yogyakarta disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.6
Tabulasi silang dan hasil uji statistik hubungan antara
tingkat pendidikan istri dengan keikutsertaan KB dalam 6 Dusun
di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
Tingkat
Pendidikan
Keikutsertaan KB
Total
X
hitung
P value
Ya Tidak
n % n % n %
Tidak Tamat
SD 8 88.9 1 11.1 9 100 3.658 0.454
SD/sederajat 54 65.9 28 34.1 82 100
SMP/sederajat 107 71.3 43 28.7 150 100
SMA/sederajat 365 66.6 183 33.4 548 100
Diploma/PT 76 64.4 42 35.6 118 100
Jumlah 610 67.3 297 32.7 907 100
Sumber : Data Primer Tahun 2014
54


Tabel 4.6 menunjukan bahwa responden istri dengan
tingkat pendidikan tamat SMA/sederajat lebih banyak mengikuti
KB yaitu sebanyak 365 (66,6%) responden sedangkan yang tidak
ikut sebanyak 183 (33,4%) responden. Keikutsertaan KB paling
sedikit adalah responden dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD
yaitu 8 (88.9%) responden dan yang tidak mengikuti KB 1 (11,1%)
responden.
Hasil perhitungan uji statistik menggunakan chi-square
seperti yang disajikan pada tabel 4.6 bahwa hasil x
2
hitung
untuk
hubungan antara tingkat pendidikan istri dengan keikutsertaan KB
adalah 3,658 dan P value 0,454 > (0,05) sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antar
tingkat pendidikan istri dengan keikutsertaan KB.
Tabel 4.7
Tabulasi silang dan hasil uji statistik hubungan antara
tingkat pendidikan suami dengan keikutsertaan KB dalam 6 Dusun
di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta

Tingkat
Pendidikan
Keikutsertaan KB
Total
X
hitung
P value
Ya Tidak
n % n % n %
Tidak Tamat
SD 7 70 3 30 10 100 0.926 0.921
SD/sederajat 52 66.7 26 33.3 78 100
SMP/sederajat 90 70.9 37 29.1 127 100
SMA/sederajat 375 66.6 188 33.4 563 100
Diploma/PT 86 66.7 43 33.3 129 100
Jumlah 610 67.3 297 32.7 907 100
Sumber : Data Primer Tahun 2014

55

Tabel 4.7 menunjukan bahwa responden suami dengan
tingkat pendidikan tamat SMA/sederajat lebih banyak mengikuti
KB yaitu sebanyak 375 (66,6%) responden sedangkan yang tidak
ikut sebanyak 183 (33,4%) responden. Keikutsertaan KB paling
sedikit adalah responden dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD
yaitu 7 (70%) responden dan yang tidak mengikuti KB 3 (30%)
responden.
Hasil perhitungan uji statistik menggunakan chi-square
seperti yang disajikan pada tabel 4.9 bahwa hasil x
2
hitung
untuk
hubungan antara tingkat pendidikan suami dengan keikutsertaan
KB adalah 0,926 dan P value 0,921 > (0,05) sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antar
tingkat pendidikan suami dengan keikutsertaan KB.








56

2) Hubungan Tingkat Pendidikan dengan pemilihan jenis alat
kontrasepsi di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
Tabel 4.8
Tabulasi silang dan hasil uji statistik hubungan antara
tingkat pendidikan istri dengan pemilihan jenis alat kontrasepsi
dalam 6 Dusun di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
Jenis KB
Tingkat Pendidikan Istri
Total
X
hitung
P
value
Tidak SD/ SMP/ SMA/ Diploma/
Tamat
SD sederajat Sederajat Sederajat PT
n
%
N
%
n % n % n % n %
Tidak
Memilih 1 0.3 28 9.4 43 14.5 183 61.7 42 14.1 297 100 50.194 0.021
PIL 1 1.1 7 7.6 17 18.5 60 65.2 7 7.6 92 100
IUD 1 0.9 7 6.2 14 12.4 69 61.1 22 19.5 113 100
Suntik 1 0.4 30 11.6 56 21.7 148 57.4 23 8.9 258 100
Implant 1 4.2 0 0 4 16.7 15 62.5 4 16.7 24 100
Kondom 2 3.5 2 3.5 8 14 33 57.9 12 21.1 57 100
Kontap 1 4 5 20 4 16 14 56 1 4 25 100
Kalender 1 3.2 2 6.5 2 6.5 19 61.3 7 22.6 31 100
MAL 0 0 0 0 1 16.7 5 83.3 0 0 6 100
S.Terputus 0 0 1 25 1 25 2 50 0 0 4 100
Jumlah 9 1 82 9 150 16.5 548 60.4 118 13 907 100
Sumber : Data Primer Tahun 2014

Tabel 4.8 menunjukan bahwa responden istri dengan
tingkat pendidikan tamat SMA/sederajat lebih banyak yang
mengikuti KB dan lebih memilih alat kontrasepsi suntik yaitu
sebanyak 148 (57,4%) responden. Alat kontrasepsi jenis suntik dari
semua tingkat pendidikan diikuti sebanyak 258 responden, pada
tingkat pendidikan tidak tamat SD tidak tampak perbedaan yang
besar dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi, pemilihan alat
kontrasepsi jenis suntik tampak dominan dimulai dari tingkat
57

pendidikan SD, SMP, SMA sedangkan untuk tingkat pendidikan
Diloma/PT tidak jauh berbeda antara IUD dan suntik.
Hasil perhitungan uji statistik menggunakan chi-square
seperti yang disajikan pada tabel 4.10 bahwa hasil x
2
hitung
untuk
hubungan antara tingkat pendidikan istri dengan pemilihan jenis
alat kontrasepsi adalah 50,194 dan P value 0,021 < (0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antar tingkat pendidikan istri dengan pemilihan jenis alat
kontrasepsi. Hal ini diperkuat dengan nilai pearsons correlation
yang menunjukkan nilai -0.030 yang berarti hubungannya sangat
rendah.
Tabel 4.9
Tabulasi silang dan hasil uji statistik hubungan antara tingkat pendidikan
suami dengan pemilihan jenis alat kontrasepsi dalam 6 Dusun di Desa
Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
Jenis KB
Tingkat Pendidikan Suami
Total
X
hitung
P
value
Tidak SD/ SMP/ SMA/ Diploma/
Tamat
SD sederajat Sederajat Sederajat PT
n
%
N
%
n % n % n % n %
T.Memilih 3 1 26 8.8 37 12.5 188 63.3 43 14.5 297 100 53.862 0.009
PIL 1 1.1 6 6.5 19 20.7 58 63 8 8.7 92 100
IUD 1 0.9 7 6.2 10 8.8 72 63.7 23 20.4 113 100
Suntik 4 1.6 25 9.7 44 17.1 162 62.8 23 8.9 258 100
Implant 0 0 2 8.3 2 8.3 16 66.7 4 16.7 24 100
Kondom 1 1.8 1 1.8 9 15.8 30 52.6 16 28.1 57 100
Kontap 0 0 7 28 2 8 15 60 1 4 25 100
Kalender 0 0 3 9.7 2 6.5 17 54.8 9 29 31 100
MAL 0 0 1 25 1 16.7 4 66.7 0 0 6 100
S.Terputus 0 0 0 0 1 25 1 25 2 50 4 100
Jumlah 10 1.1 78 8.6 127 14.0 563 62.1 129 14.2 907 100
Sumber : Data Primer Tahun 2014
58


Tabel 4.9 menunjukan bahwa responden suami dengan
tingkat pendidikan tamat SMA/sederajat lebih banyak yang
mengikuti KB dan lebih memilih alat kontrasepsi suntik yaitu
sebanyak 162 (62,8%) responden. Alat kontrasepsi jenis suntik dari
semua tingkat pendidikan diikuti sebanyak 258 responden, pada
tingkat pendidikan tidak tamat SD tidak tampak sedikit perbedaan
dalam pemilihan jenis alat kontrasepsi, pemilihan alat kontrasepsi
jenis suntik tampak dominan dimulai dari tingkat pendidikan SD,
SMP, SMA sedangkan untuk tingkat pendidikan Diloma/PT tidak
ada perbedaan antara jumlah yang memilih IUD dan suntik yaitu
sebanyak 23 responden.
Hasil perhitungan uji statistik menggunakan chi-square
seperti yang disajikan pada tabel 4.9 bahwa hasil x
2
hitung
untuk
hubungan antara tingkat pendidikan suami dengan pemilihan jenis
alat kontrasepsi adalah 53,862 dan P value 0,009 < (0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan
antar tingkat pendidikan istri dengan pemilihan jenis alat
kontrasepsi. Hal ini diperkuat dengan nilai pearsons correlation
yang menunjukkan nilai 0,006 yang berarti hubungannya sangat
rendah karena mendekati 0.


59

C. Pembahasan
1. Karakteristik Responden
Tingkat pendidikan responden di Desa Argomulyo Sedayu Bantul
Yogyakarta, khususnya di Dusun Puluhan, Kemusuk Kidul, Karang Lo,
Pedes, Surobayan dan Kaliberot mayoritas lulusan SMA/sederajat yaitu
sebanyak 548 responden istri (60,4%) dan 563 responden suami (62,1%).
Tingkat pendidikan rendah, yang meliputi tidak tamat SD, tamat SD dan
tamat SMP menempati urutan kedua yaitu 241 responden istri (26,5%) dan
215 responden suami (23,7%). Tingkat pendidikan tinggi yaitu tamat
Diploma/ lebih tinggi dengan jumlah 118 responden istri (13,0%) dan 129
responden suami (14,2%).
2. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Keikutsertaan KB
Keikutsertaan KB pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu Bantul
Yogyakarta khususnya di Dusun Puluhan, Dusun Kemusuk Kidul, Dusun
Karang Lo, Dusun Pedes, Dusun Surobayan dan Dusun Kaliberot adalah
610 pasangan (67,3%) ikut KB dan 297 pasangan (32,7%) tidak ikut KB.
Hal ini membuktikan bahwa keikutsertaan KB di lokasi penelitian masih
rendah.
Keikutsertaan KB terbanyak diikuti oleh responden dengan tingkat
pendidikan SMA/sederajat yaitu 365 (40,2%) responden istri dan 375
(41,3%) responden suami. Sedangkan untuk keikutsertaan KB paling
sedikit diikuti oleh responden dengan tingkat pendidikan tinggi yaitu 76
60

(8,4%) responden istri dan 86 (9,5%) responden suami. Berdasarkan hasil
wawancara dengan panduan kuesioner, responden yang tidak ikut KB
memiliki beragam alasan antara lain karena faktor usia sebanyak 54
responden, ingin memiliki anak 88 responden dan yang terbesar adalah
alasan lain-lain yang diantaranya karena takut efek samping sebanyak 117
responden. Pendidikan bisa saja mempengaruhi keikutsertaan KB karena
orang berpendidikan akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang
permasalahan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi, sehingga mereka
bisa lebih mengerti tentang pengaruh dari KB (Ubaidiyah,2013). Faktor
pendidikan seseorang sangat menentukan dalam pengambilan keputusan,
pendidikan juga akan mempengaruhi pengetahuan dan persepsi seseorang
tentang pentingnya suatu hal, termasuk perannya dalam program KB
(Laksmi, 2009).
Hasil uji statistik menggunakan chi-square untuk hubungan antara
tingkat pendidikan istri dengan keikutsertaan KB adalah diperoleh nilai
X
2
hitung
sebesar 3,658 dengan nilai signifikansi (Asymp. Sig. (2-sided))
sebesar 0,454. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh terlihat bahwa nilai
X
2
hitung
3,658 dan nilai P value 0,454 > (0,05) maka H
0
diterima.
Sehingga dapat disimpulkan dari hasil perhitungan bahwa tidak ada
hubungan antara tingkat pendidikan istri dengan keikutsertaan KB.
Sedangkan hasil perhitungan untuk hubungan antara tingkat pendidikan
suami dengan keikutsertaan KB menggunakan chi-square hasil X
2
hitung

61

adalah 0,926 dengan nilai signifikansi (Asymp. Sig. (2-sided)) sebesar
0,921. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh terlihat bahwa nilai X
2
hitung
0,926 dan nilai P value 0,921) > (0,05) maka H
0
diterima. Sehingga
dapat disimpulkan dari hasil perhitungan bahwa tidak ada hubungan antara
tingkat pendidikan suami dengan keikutsertaan KB. Dari hasil pengujian
kedua hipotesis diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara
tingkat pendidikan dengan keikutsertaan KB. Hasil penelitian ini didukung
dengan penelitian Ubaidiyah (2013) bahwa tidak ada hubungan yang
signifikan antara tingkat pendidikan dengan keikutsertaan KB. Hal ini
lebih didukung oleh pendapat Laksmi (2009) bahwa bukan berarti
seseorang yang berpendidikan rendah maka akan memiliki pengetahuan
yang rendah pula, karena peningkatan pengetahuan seseorang tidak hanya
diperoleh dari pendidikan formal saja, akan tetapi diperoleh melalui
pendidikan non formal, sehingga bisa saja sesorang dengan pendidikan
rendah ataupun tinggi memutuskan sesuatu berdasarkan pengetahuan dan
pengalaman.
Tetapi berbeda dengan penelitian Westoff dan Benkole (1995)
dalam Ubaidiyah (2013) yang menemukan bahwa semakin tinggi
pendidikan maka semakin rendah persentasi yang tidak ikut KB, sehingga
ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan keikutsertaan KB.
Sehingga Westoff dan Benkole (1995) dalam Ubaidiyah (2013)
menyimpulkan dengan tingkat pendidikan yang tinggi seseorang akan
62

cenderung memilih untuk ikut KB dan yang berpendidikan rendah akan
memutuskan sebaliknya.
3. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Pemilihan Jenis Alat
Kontrasepsi
Pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa Argomulyo
Sedayu Bantul Yogyakarta khususnya di Dusun Puluhan, Dusun Kemusuk
Kidul, Dusun Karang Lo, Dusun Pedes, Dusun Surobayan dan Dusun
Kaliberot terbanyak adalah suntik yaitu sebanyak 258 pasangan (42,3%),
urutan kedua adalah IUD sebanyak 113 pasangan (18,5%) dan yang ketiga
pil sebanyak 92 pasangan (15,1%), sedangkan yang paling sedikit adalah
senggama terputus yaitu 4 pasangan ( 0,7%) .
Melihat data tentang pemilihan alat kontrasepsi di atas, maka dapat
dianalisa bahwa sebagian besar responden lebih memilih menggunakan
alat kontrasepsi jenis suntik yang merupakan salah satu KB hormonal.
Menurut Manuaba (1998) dalam Anita (2010) menyebutkan bahwa
metode suntik KB telah menjadi bagian gerakan keluarga berencana
nasional serta peminatnya makin bertambah. Tingginya minat pemakaian
KB suntik berdasarkan hasil wawancara lebih disebabkan karena mudah
dan tidak harus dengan tindakan pembedahan atau operasi.
Dalam memilih jenis alat kontrasepsi calon akseptor KB biasanya
menimbang berbagai faktor terutama faktor status kesehatan, faktor efek
samping, dukungan dari pasangan dan juga agama. Hal ini dapat
63

dipengaruhi oleh tingkat pendidikan calon akseptor tersebut karena
menurut Anita (2010) pendidikan merupakan suatu faktor yang
mempengaruhi perilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan
seseorang serta berperilaku baik, sehingga dapat memilih dan membuat
keputusan lebih tepat. Pada aksedptor KB dengan tingkat pendidikan
rendah, keikutsertaanya dalam program KB hanya bertujuan untuk
mengatur kelahiran, sedangkan akseptor dengan tingkat pendidikan tinggi
keikutsertaan dalam program KB selain untuk mengatur kelahiran juga
untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan juga mempertimbangkan
kesehatan keluarga. Hal ini dikarenakan seseorang dengan tingkat
pendidikan lebih tinggi memiliki pandangan yang lebih luas tentang suatu
hal dan lebih mudah menerima ide atau cara kehidupan baru (Laksmi,
2009).
Hasil uji statistik menggunakan chi-square untuk hubungan antara
tingkat pendidikan istri dengan pemilihan jenis alat kontrasepsi adalah
diperoleh nilai X
2
hitung
sebesar 50,194 dengan nilai signifikansi (Asymp.
Sig. (2-sided)) sebesar 0,021. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh
terlihat bahwa nilai X
2
hitung
50,194 dan nilai P value 0,021 < (0,05) maka
H
0
ditolak. Sehingga dapat disimpulkan dari hasil perhitungan bahwa ada
hubungan antara tingkat pendidikan istri dengan pemilihan jenis alat KB.
Hal ini juga diperkuat dengan nilai Pearson Correlation yang
menunjukkan nilai -0,030 yang berarti hubungannya rendah. Sedangkan
64

hasil uji statistik untuk hubungan antara tingkat pendidikan suami dengan
pemilihan jenis alat kontrasepsi menggunakan chi-square diperoleh nilai
X
2
hitung
sebesar 53,862 dengan nilai signifikansi (Asymp. Sig. (2-sided))
sebesar 0,009. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh terlihat bahwa nilai
X
2
hitung
53,862 dan nilai P value 0,009 < (0,05) maka H
0
ditolak.
Sehingga dapat disimpulkan dari hasil perhitungan bahwa ada hubungan
antara tingkat pendidikan suami dengan pemilihan jenis alat KB. Hal ini
juga diperkuat dengan nilai Pearson Correlation yang menunjukkan nilai
0,006 yang berarti hubungannya rendah. Dari pengujian kedua hipotesis
diatas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan
pasangan usia subur dengan pemilihan jenis alat KB meskipun nilai
hubungannya rendah.
Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat Handayani (2010)
bahwa tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan
menggunakan keluarga berencana tetapi juga dalam menentukan
pemilihan suatu metode. Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa
metode kalender lebih banyak digunakan oleh pasangan yang lebih
berpendidikan. Dikatakan bahwa wanita yang berpendidikan biasanya
menginginkan keluarga berencana yang efektif, tetapi tidak rela untuk
mengambil resiko yang terkait dengan efek samping dari metode
kontrasepsi. Hal ini juga didukung oleh hasil penelitian Yanuar (2010)
dalam Anik (2012) yang mengatakan bahwa pendidikan juga merupakan
65

salah faktor yang menentukan pemilihan suatu metode kontrasepsi karena
tingkat pendidikan yang lebih tinggi mampu menyerap informasi dan lebih
mampu mempertimbangkan hal-hal yang menguntungkan atau efek
samping bagi kesehatan yang berhubungan dengan pemakaian suatu
metode kontrasepsi.
Tetapi Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Anita (2010)
yang hasilnya mengatakan bahwa tidak ada hubungan tingkat pendidikan
formal dengan pemilihan alat kontrasepsi. Menurut Anita (2010) semakin
tinggi tingkat pendidikan atau semakin rendah tingkat pendidikan tidak
akan mempengaruhi seseorang untuk memilih salah satu jenis alat
kontrasepsi.
D. Keterbatasan Penelitian
1. Penelitian ini hanya meliputi 6 Dusun saja dari 14 Dusun yang ada di Desa
Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta. Hal ini dikarenakan mengingat
keterbatasan waktu dan biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan
penelitian.
2. Sulitnya menemui responden dikarenakan beragam aktifitas dan pekerjaan,
sehingga peneliti harus berulangkali mengunjungi rumah responden yang
mengakibatkan waktu penelitian menjadi lebih lama dan bahkan hingga
malam hari.
3. Peneliti kurang mencantumkan pertanyaan tentang siapa yang menjadi
pengambil keputusan dalam hal KB sehingga data yang didapat kurang
mendukung kesimpulan yang diambil.
66

4. Wawancara berdasarkan panduan kuesioner memiliki keterbatasan dalam
menggali lebih dalam tentang faktor-faktor lain yang mungkin
mempengaruhi keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi.










67

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat pendidikan responden di Desa Argomulyo Sedayu Bantul
Yogyakarta, khususnya di Dusun Puluhan, Kemusuk Kidul, Karang Lo,
Pedes, Surobayan dan Kaliberot mayoritas lulusan SMA/sederajat yaitu
sebanyak 548 responden istri (60,4%) dan 563 responden suami (62,1%).
2. Keikutsertaan KB pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu Bantul
Yogyakarta khususnya di Dusun Puluhan, Dusun Kemusuk Kidul, Dusun
Karang Lo, Dusun Pedes, Dusun Surobayan dan Dusun Kaliberot adalah
610 pasangan (67,3%) ikut KB dan 297 pasangan (32,7%) tidak ikut KB.
3. Pemilihan jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu
Bantul Yogyakarta khususnya di Dusun Puluhan, Dusun Kemusuk Kidul,
Dusun Karang Lo, Dusun Pedes, Dusun Surobayan dan Dusun Kaliberot
terbanyak adalah suntik yaitu sebanyak 258 pasangan (42,3%).
4. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan Pasangan Usia Subur
dengan keikutsertaan KB di Desa Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta
tahun 2014.
5. Ada hubungan antara tingkat pendidikan Pasangan Usia Subur dengan
pemilihan jenis alat kontrasepsi di Desa Argomulyo Sedayu Bantul
Yogyakarta tahun 2014.
68



B. Saran
Saran yang dapat diberikan peneliti sebagai berikut:
1. Bagi Pasangan Usia Subur
Diharapkan selama waktu penelitian PUS di Desa Argomulyo Sedayu
Batul Yogyakarta tahun 2014 dapat digunakan sebagai guna membantu
pemilihan alat kontrasepsi yang efektif.
2. Bagi Pemerintah
Diharapkan dapat berguna untuk referensi dalam penyusunan program,
khususnya pada pelayanan KB untuk lebih memperhatikan kualitas
pelayanan program yang baik dan dapat meningkatkan keikutsertaan KB
pada pasangan usia subur serta lebih meningkatkan dan mengembangkan
program sosialisasi tentang efek samping berbagai macam jenis alat
kontrasepsi, sehingga tidak ada kesalahpahaman tentang efek samping alat
kontrasepsi.
3. Bagi Institusi Prodi DIII Ilmu Kebidanan Alma Ata
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pustaka dan dapat
menambah pustaka di perpustakaan serta dijadikan referensi untuk
penelitian selanjutnya.
4. Bagi Profesi Bidan
Diharapkan hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai sumbangan aplikatif
bagi tenaga kesehatan khususnya bidan, bahwa tidak ada hubungan antara
tingkat pendidikan PUS dengan keikutsertaan KB, sedangkan ada
hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan
69



jenis alat kontrasepsi pada PUS di Desa Argomulyo Sedayu Bantul
Yogyakarata tahun 2014, sehingga profesi Bidan khususnya dapat
memberikan perhatian khusus dalam membuat program khusus untuk
mempromosikan tentang berbagai macam jenis alat kontrasepsi pada PUS
dengan berbagai tingkatan pendidikan agar dapat meningkatkan cakupan
KB yang MKJP.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini
dengan mengembangkan variabel yang mungkin mempengaruhi
keikutsertaan KB dan pemilihan jenis alat kontrasepsi.
6. Bagi Lokasi Penelitian
Diharapkan dengan adanya penelitian tentang berbagai macam jenis alat
kontrasepsi lokasi penelitian hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan
informasi yang meningkatkan kinerja lintas program yang terkait dengan
KB, guna membantu keberhasilan program KB wilayah setempat serta
mengembangkan sikap positif terhadap info tentang KB, serta bagi
perangkat desa dapat bekerja sama dengan petugas kesehatan untuk lebih
meningkatkan sosialisasi tentang KB dan macam-macam jenis alat
kontrasepsi.






DAFTAR PUSTAKA
Afni, Asfriyanti, Maya. 2012. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pasangan Usia
Subur Menjadi Akseptor KB Di Kelurahan Babura Kecamatan Medan
Sunggal Kota Medan Tahun 2012. Skripsi. Medan : Universitas Sumatera
Utara.
Anik, H. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi suntik
depo medroksi progesterone asetat di BPS yacinta Plumbon Tawangmangu.
KTI. Karanganyar : AKBID Mitra Husada.
Anita, D. 2010. Hubungan tingkat pendidikan formal dengan pemilihan alat
kontrasepsi di Desa Mojodoyong Kedawung Sragen. KTI. Sragen :
Universitas Sebelas Maret.
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
BKKPPKB. 2009. Istilah dan Pengertian KB. Jakarta: BKKPPKB.
. 2013. Data Laporan Bulanan, Kantor KB Kota Yogyakarta.
Yogyakarta : BKKPPKB.
. 2013. Siaran pers BkkbN. Jakarta : BKKPPKB.
. 2013. Data Hasil Kegiatan Program KB Nasional Kabupaten Bantul.
Bantul : BKKPPKB.
BPS. 2010. Profil Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2010. Badan
Pusat Statistika Provinsi DIY. Yoagyakarta.
. 2013. Profil Dusun Sedayu 2013. Badan Pusat Statistika Provinsi DIY.
Yoagyakarta.
Daud, Ismail, Subirman. 2013. Faktor-Faktor yang berhubungan dengan unmet
need KB pada PUS di wilayah kerja Puskesmas Temindung Tahun 2013.
Skripsi. Samarinda : Universitas Mulawarman.
Hadi, dkk . 2013. Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya unmet need
KB pada PUS di Kota Yogyakarta tahun 2013. ACHEAF. Yogyakarta :
STIKES ALMA ATA.
Handayani, S. 2010. Buku ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta :
Pustaka Rihama.



Hamid, S. 2002. Faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need keluarga
berencana. Analisa Data SDKI 1997. Tesis. Jakarta : Universitas Indonesia.
Hartanto, H. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Sinar Harapan.
Hidayati, R. 2009. Metode dan Teknik Penggunaan Alat Kontrasepsi. Jakarta :
Salemba Medika.
Laksmi, I. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi
yang digunakan pada keluarga miskin. KTI. Semarang : Universitas
Diponegoro.
Machfoedz, I. 2012. Biostatistika. Yogyakarta : Fitramaya.
, 2013. Metodologi Penelitian. Yogyakarta : Fitramaya.
Mudyahardjo, R. 2002. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka
Cipta.
, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Rizali, Ikhsan, Ummu. 2013. Faktor yang berhubungan dengan pemilihan metode
kontrasepsi suntik di kelurahan Mattoangin kecamatan Mariso kota
Makasar tahun 2013.
Saryono, 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Cendekia.
Statistik Indonesia, 2013. Perkiraan Penduduk Beberapa Negara 2008-2012.
Yogyakarta : Badan Pusat Statistik Yogyakarta.
Sugiyono, 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
Sulistyawati, 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta : Salemba Medika.
Suratun, dkk. 2008. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta : Trans Infomedia.
Ubaidiyah, 2013. Hubungan antara umur, pendidikan, jumlah anak masih hidup
dengan kejadian unmet need KB pada pasangan usia subur (PUS) di Kota
Yogyakarta. KTI. Yogyakarta : STIKES Alma Ata.
Widayanti, 2013. Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Menyusui
dengan Pemberian ASI secara ekslusif di Kecamatan Sedayu Kabupaten
Bantul Yogyakarta Tahun 2013. KTI. Yogyakarta : STIKES Alma Ata.










LAMPIRAN









Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Alma Ata Yogyakarta


PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN
Saya, memberikan persetujuan kepada diri saya sendiri/anak saya
__________________________________________________________
(nama depan) ( nama belakang/nama keluarga)

Terlibat dalam penelitian yang berjudul :
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEIKUTSERTAAN KB PADA PASANGAN USIA
SUBUR (PUS) DI DESA ARGOMULYO, SEDAYU, BANTUL, YOGYAKARTA TAHUN 2014
Saya menyatakan bahwa latar belakang, tujuan, dan dampak yang akan diakibatkan dalam penelitian ini
khususnya yang akan berakibatkan pada diri saya sendiri, telah dijelaskan dengansecara detail oleh :
___________________________________________________________
(nama depan) (nama belakang/nama keluarga)

Dan pernyataan ini diberikan dalam keadaan sadar dan tidak dalam kondisi paksaanoleh siapapun.
Saya menyatakan bahwa hal-hal yang menyangkut tentang penelitian ini telah dijelaskan kepada saya
termasuk :
1. Potensi resiko yang mungkin terjadi.
2. Keadaan tidak nyaman yang mungkin terjadi.
3. Antisipasi lamanya waktu penelitian.
4. Frekuensi perlakuan atau keterlibatan saya kepada peneliti dalam pengambilan data.
Saya telah diberikan nama dan alamat yang dapat dihubungi.
Saya diberikan kesempatan untuk bertanya tentang penelitian ini dan saya telah mendapatkan jawaban
yang memuaskan.
Saya bersedia secara sukarela untuk menjadi responden dalam penelitian ini dan telah memahami bahwa
saya dapat membatalkan pernyataan ini sewaktu-waktu.
Tanda tangan subjek atau yang mewakili : Tanggal :

__________________________________


FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEIKUTSERTAAN KB PADA PASANGAN USIA
SUBUR (PUS) DI DESA ARGOMULYO, SEDAYU, BANTUL, YOGYAKARTA TAHUN 2014
Tanggal
No. Responden
Nama responden
Alamat responden

FORMULIR 1 : NO ID

A. KARAKTERISTIK RESPONDEN
1. NamaIstri

1.0
2. Umur Istri
Tahun

2.0
3. Nama Suami

3.0
4. Umur Suami
Tahun

4.0
5. Agama Istri
1. Islam
2. Kristen
3. Budha
4. Hindu
5. Khatolik
6. Khonghucu
5.0
6. Agama Suami
1. Islam
2. Kristen
3. Budha
4. Hindu
5. Khatolik
6. Khonghucu
6.0
7. Pendidikan terakhir Istri
1. Tidak tamat SD
2. Tamat SD / sederajat
3. Tamat SMP / sederajat
4. Tamat SMA / sederajat
5. Tamat Diploma / lebih tinggi
7.0
8. Pendidikan terakhir Suami
1. Tidak tamat SD
2. Tamat SD / sederajat
3. Tamat SMP / sederajat
4. Tamat SMA / sederajat
5. Tamat Diploma / lebih tinggi
8.0
9. Pekerjaan Istri
1. Petani/Peternak/Nelayan
2. Buruh/buruhtani
3. Karyawanswasta
4. Pegawainegeri/TNI/POLRI
5. Wiraswasta
6. Tidak bekerja
7. Lain-lain
sebutkan
9.0
10. Pekerjaan Suami
1. Petani/Peternak/Nelayan
2. Buruh/buruh tani
3. Karyawan swasta
4. Pegawai negeri/TNI/POLRI
5. Wiraswasta
6. Tidak bekerja
7. Lain-lain, sebutkan
10.0

B. STATUS EKONOMI (PENGELUARAN PER BULAN)
Isilah jawaban berikut ini dengan angka :
11. Berapa rupiah rata-rata total pengeluaran
per bulan untuk kebutuhan keluarga
(kebutuhan pangan dan non pangan)
Rp. _____________________ 11.0
12. Berapa rupiah rata-rata pengeluaran per
bulan untuk setiap jenis kebutuhan
berikut ini?
A. Pangan
1. Beras
2. Jagung
3. Makanan pokok lain (mie,
gandum, dsb)
4. Daging dan ikan
5. Sayuran dan buah
6. Susu
7. Jajanan


B. Non Pangan
1. Listrik
2. Biayasekolah
3. Sosial/pesta/sumbangan
4. Baju/pakaian
5. Rokok/sirih pinang
6. Kesehatan
7. Tabungan



A. Pangan
1. Rp. ______________
2. Rp. ______________
3. Rp. ______________

4. Rp. ______________
5. Rp. ______________
6. Rp. ______________
7. Rp. ______________


B. Non pangan
1. Rp. ______________
2. Rp. ______________
3. Rp. ______________
4. Rp. ______________
5. Rp. ______________
6. Rp. ______________
7. Rp. ______________

12.0
13. Tahukah ibu, berapa biaya yang
diperlukan untuk sekali ber KB?
1. Gratis
2.< Rp.25.000
3. > Rp.25.000-Rp.100.000
13.0
4. > Rp.100.000
5. Tidak tahu
14. Biaya tersebut untuk jenis KB apa?
1. Alat KB ....................
2.Semua jenis alat KB
Tidaktahu
14.0
15. Menurut ibu, mahalkah biaya yang
diperlukan tersebut?
1. Ya, mahal, sebaiknya biaya
KB sebesarRp:..................
2.Biasa
3. Tidak mahal
15.0

C. INFORMASI KESEHATAN REPRODUKSI ISTRI
16. Umur ibu Nikah pertama kali
Tahun
16.0
17. Umur mempunyai anak pertama kali
Tahun
17.0
18. Jumlah anak lahir hidup
Orang
L P
18.0
19. Jumlah anak saat ini
Orang
L P
19.0
20. Apakah Bapak/Ibu ingin anak lagi? 1. Ya, segera
2. Ya, kemudian
3. Tidak ingin anak lagi
20.0
21. Berapa jumlah anak yang
diinginkan?
1. < 2
2. 3-5
3. > 5
21.0
22. Apakah Ibu/Bapak menggunakan alat
kontrasepsi?
1. Ya
2. Tidak
22.0
23. Apakah tujuan ibu/bapak ikut KB? 1. Menunda kehamilan (bagi
pasangan yang belum
mempunyai anak)
2. Menjarangkan kelahiran< 2
tahun
3. Menjarangkan kelahiran 2
tahun atau lebih
4. Mengakhiri kehamilan atau
kelahiran
5. Lainnya .....
23.0






D. PENGETAHUAN ALAT KONTRASEPSI
24. Apakah yang dimaksud
dengan alat kontrasepsi?
1. Suatu alat atau cara yang
digunakan untuk mencegah
pembuahan sehingga tidak terjadi
kehamilan
2. Suatu alat untuk mencegah
kehamilan yang hanya bisa
digunakan perempuan saja
3. Suatu alat yang berfungsi untuk
menunda menstruasi
4. Lainnya...

24.0
25. Alat kontrasepsi/metode KB
apa saja yang ibu ketahui?
1. IUD
2. MOP (Steril laki-laki)
3. MOW (Steril perempuan)
4. Implant (Susuk)
5. Pil
6. Kondom
7. MAL
8. Senggama terputus
9. Sistem kalender
10. Lainnya
25.0
26. KB apa saja yang bisa
dipakai oleh perempuan?
1. IUD, implant, kondom
2. IUD, Implant, Pil, Suntik, MOW
3. IUD, Implant, Pil, Suntik, MOP
4. Lainnya.
26.0
27. Apakah tujuan dari KB? 1. Membentuk keluarga kecil
bahagia sejahtera.
2. Menambah jumlah anak dengan
jarak kehamilan 1 tahun.
3. Dengan banyak anak banyak
rejeki.
4. Lainnya
27.0
28. Siapa yang menjadi sasaran
langsung dari pemakaian alat
kontrasepsi?
1. Remaja
2. Kader
3. PUS (Pasangan Usia Subur)
4. Lainnya.
28.0
29. Kontrasepsi yang
mengandung hormon
adalah?
1. IUD, MOW
2. MOP, Susuk (Implant)
29.0
3. Pil, Suntik
4. Lainnya
30. Kontrepsi yang
pelaksanaannya dengan cara
operasi adalah?
1. MOW(Stiril)
2. IUD
3. Susuk (Implant)
4. Lainnya.
30.0
31. Dari mana informasi tentang
KB yang ibu peroleh selama
ini?
1. Media masa (TV, Radio, Koran,
Majalah, Poster)
2. Pertemuan/Penyuluhan
3. Lainnya.
4. Tidak pernah memperoleh
informasi KB apa pun dari mana
pun
31.0
32. Dimana tempat pelayanan
KB terdekat dengan tempat
tinggal ibu?
1. Bidan/dokter praktek swasta
2. Puskesmas
3. Lainnya(Bila tidak tahu,
tulis tidak tahu)
32.0

E. AGAMA/KEYAKINAN
33. Apakah keputusan ibu menggunakan KB
atau tidak KB berkaitan dengan alasan
ajaran agama atau keyakinan?
1. Ya
2. Tidak
33.0
34. Metode kontrasepsi apa yang menurut
agama/keyakinan ibu tidak diijinkan?
1. IUD/Spiral
2. Implant
3.Suntik
4.Pil
5.Sterilisasi
6.Patang berkala
7.Kondom
34.0

F. PRAKTEK

No Pertanyaan Pilihan jawaban
35. Apakah saat ini ibu ber-KB?
1. Ya
2. Tidak
35.0
36. JikaTidak apa alasannya
1. Usia sudah tidak muda lagi
2. Ingin punya anak
3. Belum memiliki anak
4. Ingin anak laki-laki
5. Ingin anak perempuan
6. Agama (Keyakinan)
7. Lain-lain,
sebutkan..
36.0
37. Sudah berapa lama ibu ber-KB? bulan

37.0
38. Alat KB apa yang ibu gunakan?
1. Pil
2. IUD/Spiral
3. Suntik
4. Implant/susuk KB
5. Kondom
6. Sterilisasi/metode operasi
7. Pantang berkala
8. Lain-lain, sebutkan
38.0
39. Apakah suami ibu memberikan
dukungan/dorongan terhadap ibu untuk
ber-KB?
1. Ya mendukung
2. Tidak mendukung
alasannya.................................
3. Tidak tahu, belum bertanya
39.0
40. Apakah orangtua ibu memberikan
dukungan/dorongan terhadap ibu untuk
ber-KB?
1. Ya mendukung
2. Tidak mendukung
alasannya.................................
3. Tidak tahu, belum bertanya
40.0
41. Apakah mertua atau keluarga ibu yang
lain memberikan dukungan/dorongan
terhadap ibu untuk ber-KB?
1. Ya mendukung
2. Tidak mendukung
alasannya.................................
3. Tidak tahu, belum bertanya
41.0
42. Siapakah yang menjadi pengambil
keputusan dalam keluarga?
1. Suami
2. Istri
42.0


*Olahan Data
Menggunakan Uji Chi Square
Interpretasi untuk masing-masing hubungan
Pendidikan Istri dengan mengikuti KB
Pendidikan_Istri * Mengikuti_KB Crosstabulation
Count
Mengikuti_KB Total
1 2
Pendidikan_Istri
1 8 1 9
2 54 28 82
3 107 43 150
4 365 183 548
5 76 42 118
Total 610 297 907

Pendidikan Suami dengan mengikuti KB
Pendidikan_Suami * Mengikuti_KB Crosstabulation
Count
Mengikuti_KB Total
1 2
Pendidikan_Suami
1 7 3 10
2 52 26 78
3 90 37 127
4 375 188 563
5 86 43 129
Total 610 297 907








UJI HIPOTESA
Crosstabs

Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pendidikan_Istri *
Mengikuti_KB
907 100,0% 0 0,0% 907 100,0%
Pendidikan_Suami *
Mengikuti_KB
907 100,0% 0 0,0% 907 100,0%







































Pendidikan_Istri * Mengikuti_KB
Crosstab
Mengikuti_KB Total
1 2
Pendidikan_Istri
1
Count 8 1 9
Expected Count 6,1 2,9 9,0
% within Pendidikan_Istri 88,9% 11,1% 100,0%
% within Mengikuti_KB 1,3% 0,3% 1,0%
2
Count 54 28 82
Expected Count 55,1 26,9 82,0
% within Pendidikan_Istri 65,9% 34,1% 100,0%
% within Mengikuti_KB 8,9% 9,4% 9,0%
3
Count 107 43 150
Expected Count 100,9 49,1 150,0
% within Pendidikan_Istri 71,3% 28,7% 100,0%
% within Mengikuti_KB 17,5% 14,5% 16,5%
4
Count 365 183 548
Expected Count 368,6 179,4 548,0
% within Pendidikan_Istri 66,6% 33,4% 100,0%
% within Mengikuti_KB 59,8% 61,6% 60,4%
5
Count 76 42 118
Expected Count 79,4 38,6 118,0
% within Pendidikan_Istri 64,4% 35,6% 100,0%
% within Mengikuti_KB 12,5% 14,1% 13,0%
Total
Count 610 297 907
Expected Count 610,0 297,0 907,0
% within Pendidikan_Istri 67,3% 32,7% 100,0%
% within Mengikuti_KB 100,0% 100,0% 100,0%









Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square 3,658
a
4 ,454
Likelihood Ratio 4,066 4 ,397
Linear-by-Linear
Association
1,236 1 ,266
N of Valid Cases 907

a. 1 cells (10,0%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is 2,95.

Symmetric Measures
Value Asymp. Std.
Error
a

Approx. T
b
Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R ,037 ,033 1,112 ,266
c

Ordinal by Ordinal Spearman Correlation ,038 ,033 1,142 ,254
c

N of Valid Cases 907

a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.










Crosstab
Mengikuti_KB Total
1 2
Pendidikan_Suami
1
Count 7 3 10
Expected Count 6,7 3,3 10,0
% within Pendidikan_Suami 70,0% 30,0% 100,0%
% within Mengikuti_KB 1,1% 1,0% 1,1%
2
Count 52 26 78
Expected Count 52,5 25,5 78,0
% within Pendidikan_Suami 66,7% 33,3% 100,0%
% within Mengikuti_KB 8,5% 8,8% 8,6%
3
Count 90 37 127
Expected Count 85,4 41,6 127,0
% within Pendidikan_Suami 70,9% 29,1% 100,0%
% within Mengikuti_KB 14,8% 12,5% 14,0%
4
Count 375 188 563
Expected Count 378,6 184,4 563,0
% within Pendidikan_Suami 66,6% 33,4% 100,0%
% within Mengikuti_KB 61,5% 63,3% 62,1%
5
Count 86 43 129
Expected Count 86,8 42,2 129,0
% within Pendidikan_Suami 66,7% 33,3% 100,0%
% within Mengikuti_KB 14,1% 14,5% 14,2%
Total
Count 610 297 907
Expected Count 610,0 297,0 907,0
% within Pendidikan_Suami 67,3% 32,7% 100,0%
% within Mengikuti_KB 100,0% 100,0% 100,0%








Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square ,926
a
4 ,921
Likelihood Ratio ,941 4 ,919
Linear-by-Linear
Association
,202 1 ,653
N of Valid Cases 907

a. 1 cells (10,0%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is 3,27.

Symmetric Measures
Value Asymp. Std.
Error
a

Approx. T
b
Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R ,015 ,033 ,449 ,654
c

Ordinal by Ordinal Spearman Correlation ,018 ,033 ,552 ,581
c

N of Valid Cases 907

a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

Pendidikan Istri dengan pemilihan jenis KB
Pendidikan_Istri * Jenis_KB Crosstabulation
Count
Jenis_KB Total
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Pendidikan_Istri
1 1 1 1 1 1 2 1 1 0 9
2 28 7 7 30 0 2 5 2 1 82
3 43 17 14 56 4 8 4 2 2 150
4 183 60 69 148 15 33 14 19 7 548
5 42 7 22 23 4 12 1 7 0 118
Total 297 92 113 258 24 57 25 31 10 907

Uji Hipotesa untuk Tingkat Pendidikan istri dengan Pemilihan jenis alat KB

Chi-Square Tests
Value Df Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square 50,194
a
32 ,021
Likelihood Ratio 50,459 32 ,020
Linear-by-Linear
Association
,801 1 ,371
N of Valid Cases 907

a. 20 cells (44,4%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is ,10.

Symmetric Measures
Value Asymp. Std.
Error
a

Approx. T
b
Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R -,030 ,035 -,895 ,371
c

Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -,035 ,034 -1,060 ,290
c

N of Valid Cases 907

a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.









Pendidikan Suami dengan pemilihan jenis KB
Pendidikan_Suami * Jenis_KB Crosstabulation
Count
Jenis_KB Total
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Pendidikan_Suami
1 3 1 1 4 0 1 0 0 0 10
2 26 6 7 25 2 1 7 3 1 78
3 37 19 10 44 2 9 2 2 2 127
4 188 58 72 162 16 30 15 17 5 563
5 43 8 23 23 4 16 1 9 2 129
Total 297 92 113 258 24 57 25 31 10 907

Uji Hipotesa untuk Tingkat Pendidikan suami dengan Pemilihan jenis alat KB

Chi-Square Tests
Value Df Asymp. Sig. (2-
sided)
Pearson Chi-Square 53,862
a
32 ,009
Likelihood Ratio 51,337 32 ,016
Linear-by-Linear
Association
,036 1 ,850
N of Valid Cases 907

a. 22 cells (48,9%) have expected count less than 5. The minimum
expected count is ,11.

Symmetric Measures
Value Asymp. Std.
Error
a

Approx. T
b
Approx. Sig.
Interval by Interval Pearson's R ,006 ,035 ,189 ,850
c

Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -,003 ,034 -,090 ,928
c

N of Valid Cases 907

a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
c. Based on normal approximation.

Pendidikan_Istri * Jenis_KB

Crosstab
Jenis_KB Total
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Pendidikan_Is
tri
1
Count 1 1 1 1 1 2 1 1 0 9
Expected Count 2,9 ,9 1,1 2,6 ,2 ,6 ,2 ,3 ,1 9,0
% within Pendidikan_Istri 11,1% 11,1% 11,1% 11,1% 11,1% 22,2% 11,1% 11,1% 0,0% 100,0%
% within Jenis_KB 0,3% 1,1% 0,9% 0,4% 4,2% 3,5% 4,0% 3,2% 0,0% 1,0%
2
Count 28 7 7 30 0 2 5 2 1 82
Expected Count 26,9 8,3 10,2 23,3 2,2 5,2 2,3 2,8 ,9 82,0
% within Pendidikan_Istri 34,1% 8,5% 8,5% 36,6% 0,0% 2,4% 6,1% 2,4% 1,2% 100,0%
% within Jenis_KB 9,4% 7,6% 6,2% 11,6% 0,0% 3,5% 20,0% 6,5% 10,0% 9,0%
3
Count 43 17 14 56 4 8 4 2 2 150
Expected Count 49,1 15,2 18,7 42,7 4,0 9,4 4,1 5,1 1,7 150,0
% within Pendidikan_Istri 28,7% 11,3% 9,3% 37,3% 2,7% 5,3% 2,7% 1,3% 1,3% 100,0%
% within Jenis_KB 14,5% 18,5% 12,4% 21,7% 16,7% 14,0% 16,0% 6,5% 20,0% 16,5%
4
Count 183 60 69 148 15 33 14 19 7 548
Expected Count 179,4 55,6 68,3 155,9 14,5 34,4 15,1 18,7 6,0 548,0
% within Pendidikan_Istri 33,4% 10,9% 12,6% 27,0% 2,7% 6,0% 2,6% 3,5% 1,3% 100,0%
% within Jenis_KB 61,6% 65,2% 61,1% 57,4% 62,5% 57,9% 56,0% 61,3% 70,0% 60,4%
5
Count 42 7 22 23 4 12 1 7 0 118
Expected Count 38,6 12,0 14,7 33,6 3,1 7,4 3,3 4,0 1,3 118,0
% within Pendidikan_Istri 35,6% 5,9% 18,6% 19,5% 3,4% 10,2% 0,8% 5,9% 0,0% 100,0%
% within Jenis_KB 14,1% 7,6% 19,5% 8,9% 16,7% 21,1% 4,0% 22,6% 0,0% 13,0%
Total
Count 297 92 113 258 24 57 25 31 10 907
Expected Count 297,0 92,0 113,0 258,0 24,0 57,0 25,0 31,0 10,0 907,0
% within Pendidikan_Istri 32,7% 10,1% 12,5% 28,4% 2,6% 6,3% 2,8% 3,4% 1,1% 100,0%
% within Jenis_KB 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0%
100,0
%
100,0
%
100,0%
100,0
%
100,0%
Pendidikan_Suami * Jenis_KB


Crosstab
Jenis_KB Total
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Pendidikan
_Suami
1
Count 3 1 1 4 0 1 0 0 0 10
Expected Count 3,3 1,0 1,2 2,8 ,3 ,6 ,3 ,3 ,1 10,0
% within Pendidikan_Suami 30,0% 10,0% 10,0% 40,0% 0,0% 10,0% 0,0% 0,0% 0,0% 100,0%
% within Jenis_KB 1,0% 1,1% 0,9% 1,6% 0,0% 1,8% 0,0% 0,0% 0,0% 1,1%
2
Count 26 6 7 25 2 1 7 3 1 78
Expected Count 25,5 7,9 9,7 22,2 2,1 4,9 2,1 2,7 ,9 78,0
% within Pendidikan_Suami 33,3% 7,7% 9,0% 32,1% 2,6% 1,3% 9,0% 3,8% 1,3% 100,0%
% within Jenis_KB 8,8% 6,5% 6,2% 9,7% 8,3% 1,8% 28,0% 9,7% 10,0% 8,6%
3
Count 37 19 10 44 2 9 2 2 2 127
Expected Count 41,6 12,9 15,8 36,1 3,4 8,0 3,5 4,3 1,4 127,0
% within Pendidikan_Suami 29,1% 15,0% 7,9% 34,6% 1,6% 7,1% 1,6% 1,6% 1,6% 100,0%
% within Jenis_KB 12,5% 20,7% 8,8% 17,1% 8,3% 15,8% 8,0% 6,5% 20,0% 14,0%
4
Count 188 58 72 162 16 30 15 17 5 563
Expected Count 184,4 57,1 70,1 160,1 14,9 35,4 15,5 19,2 6,2 563,0
% within Pendidikan_Suami 33,4% 10,3% 12,8% 28,8% 2,8% 5,3% 2,7% 3,0% 0,9% 100,0%
% within Jenis_KB 63,3% 63,0% 63,7% 62,8% 66,7% 52,6% 60,0% 54,8% 50,0% 62,1%
5
Count 43 8 23 23 4 16 1 9 2 129
Expected Count 42,2 13,1 16,1 36,7 3,4 8,1 3,6 4,4 1,4 129,0
% within Pendidikan_Suami 33,3% 6,2% 17,8% 17,8% 3,1% 12,4% 0,8% 7,0% 1,6% 100,0%
% within Jenis_KB 14,5% 8,7% 20,4% 8,9% 16,7% 28,1% 4,0% 29,0% 20,0% 14,2%
Total
Count 297 92 113 258 24 57 25 31 10 907
Expected Count 297,0 92,0 113,0 258,0 24,0 57,0 25,0 31,0 10,0 907,0
% within Pendidikan_Suami 32,7% 10,1% 12,5% 28,4% 2,6% 6,3% 2,8% 3,4% 1,1% 100,0%
% within Jenis_KB 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0%
TIME SCHEDULE PENYUSUNAN KTI
Kegiatan Febuari Maret April Mei Juni Juli Agustus KETERANGAN
(2014)
1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4
Studi
pendahuluan
4-11 Februari
Kepastian judul 2 Februari
Penyusunan
BAB I
21 Februari-31
Maret
Penyusunan
BAB II
31 Maret-11
April
Penyusunan
BAB III
21 Februari-11
April
Penyempurnaan
proposal
4 April-11 April
Seminar
proposal
23 April
Revisi proposal 24 April-30 Mei
Penyerahan
proposal
30 Mei
Pelaksanaan
penelitian
3 Juni-18 Juni
Penyusunan
BAB IV
25 Juni-3 Juli
Penyusunan
BAB V
3 Juli- 12 Juli
Ujian KTI 15 Juli
Revisi KTI &
Penjilidan
15 Juli-18 Juli
Pengumpulan
KTI
18 Juli