Anda di halaman 1dari 29

PENYAJIAN KASUS

LAPORAN KASUS

I. Identitas pasien
Nama : An. N. A.
Usia : 9 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Kenduren 04/04 Wedung
Tgl masuk : 12 Juli 2014
Status pasien : BPJS PBI

Orang tua
Ayah
Nama : Tn. K
Usia : 25 tahun
Pekerjaan : Buruh
Ibu
Nama : Ny. A
Usia : 21 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
II. Anamnesis
Alloanamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 12 Juli 2014 di bangsal Dahlia RSUD
Sunan Kalijaga Demak, serta catatan medik pasien.

1. Keluhan Utama : Batuk

2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Batuk dirasakan sejak setengah bulan SMRS. batuk tidak berdahak dan sepanjang
hari. Demam sejak 6 hari SMRS terutama malam hari. Demam naik turun.
Muntah disangkal. Mencret disangkal. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Riwayat alergi disangkal.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
Sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan seperti ini.

4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Bapak dari pasien menderita batuk 2 bulan terakhir tetapi tidak berobat.

5. Riwayat Sosial Ekonomi :
Kesan: sosial ekonomi kurang

III. DATA KHUSUS
1. Riwayat pemeliharaan prenatal :
Lahir dari ibu G
1
P
1
A
0
, hamil 9 bulan, antenatal care (ANC) di bidan, teratur,
dilakukan lebih dari 5 kali selama masa kehamilan, mendapat imunisasi TT, ibu
minum vitamin dan tablet penambah darah. Riwayat penyakit selama kehamilan
(sakit panas, darah tinggi, kejang, sakit gula) disangkal. Riwayat minum jamu
disangkal. Riwayat perdarahan dan jatuh selama kehamilan disangkal

2. Riwayat kelahiran :
No Kehamilan dan Persalinan Umur
1. Laki-laki, aterm, spontan, bidan , BBL: 2900 gr 9 bulan

Anak laki-laki lahir secara spontan di bidan dengan berat lahir 2900 gr.

3. Riwayat Imunisasi :
Ibu mengaku lupa telah diimunisasi apa saja tetapi lengkap. Tidak ada bukti KMS.

5. Riwayat Makan dan Minum Anak
ASI saja diberikan sejak lahir hingga umur 6 bulan semau anak kemudian mulai
diberi makanan tambahan berupa bubur bayi/nasi tim 1x sehari @ 1 mangkok
kecil, sering tidak habis.
Kesan : ASI eksklusif, PASI, kuantitas dan kualitas makanan kurang.

6. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan anak
Pertumbuhan :
Berat badan lahir 3000 gr
Berat badan masuk RS 6.1 kg
Panjang badan 68 cm
Lingkar kepala 44 cm

Status Gizi
Berat badan menurut umur :
Z-score = 6.1 9.2 = -3.1
1
Tinggi badan menurut umur
Z-score = 68 72.3 = -1.65
2.60
Berat badan menurut tinggi badan
Z-score = 6.1 8.0 = -2.4
0.8

Interpretasi pertumbuhan
Berat badan sangat rendah
Perawakan normal
Status gizi buruk

Perkembangan :

Interpretasi perkembangan
pertumbuhan dan perkembangan anak dalam batas normal sesuai usia.

7. Riwayat Keluarga Berencana Orang Tua
Ibu pasien tidak menggunakan KB.


IV. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 12 Juli 2014 di bangsal Perawatan Anak RSUD Sunan Kalijaga Demak
Seorang anak laki-laki, umur 9 bulan, Berat Badan (BB) : 6.1 kg, Tinggi Badan (TB)
: 68 cm.
Keadaan umum : Sadar, komposmentis, aktif, tampak kurus, batuk-batuk, tidak
tampak sesak
Tanda vital : Frekuensi jantung : 132 x / menit
Nadi : reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi nafas : 42 x / menit, reguler
Suhu : 36,6 C

Status Internus :
Kepala : lingkar kepala 44 cm (normosefal)
ubun-ubun besar datar
Rambut : warna hitam dan tidak mudah dicabut.
Kulit : kering (-)
Mata : mata cekung (-/-), conjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), pupil isokor diameter 3 mm / 3 mm
Telinga : low set ear (-), secret (-/-)
Hidung : nafas cuping (-), discharge (-/-), mukosa hiperemis (-/-),
hipertrofi konka (-/-)
Bibir : sianosis (-), kering (-)
Mukosa : kering (-)
Mulut : sianosis (-), gusi berdarah (-)
Lidah : kotor (-), hiperemis (-), tremor (-)
Tenggorok : Tonsil : T
1-1,
faring hiperemis (-)
Leher : simetris, pembesaran kelenjar getah bening (+/+)
Toraks :
Pulmo (depan dan belakang)
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-)
Palpasi : sulit dinilai
Perkusi : sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara dasar : vesikuler (+/+)
suara tambahan : wheezing (-/-), ronkhi (-/-)





Paru Depan Paru Belakang

Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis teraba di sela iga V, 2 cm medial linea
medioclavikularis sinistra, tidak kuat angkat, tidak melebar.
Thrill (-)
Perkusi : perkusi batas-batas jantung tidak dilakukan
Auskultasi : suara jantung I dan II normal, irama reguler,
gallop (-), bising (-).

Abdomen :
Inspeksi : datar, venektasi (-).
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, turgor kulit kembali cepat
hepar tak teraba, lien tidak teraba

Ekstremitas : superior inferior
Sianosis - / - - / -
Akral dingin - / - - / -
Edema - / - - / -
Waktu pengisian kapiler <2/<2 <2/<2

Suara dasar
vesikuler

Suara dasar
vesikuler

Suara dasar
vesikuler

Genital : Laki-laki, dalam batas normal, fimosis (-)

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
PEMERIKSAAN X-FOTO THORAKS AP-LATERAL
(10 Juli 2014):
Kesan: Gambaran Bronkitis




SKORING TB ANAK
Kontak TB : 0
Uji Tuberkulin : -
Status Gizi : 2
Demam : 1
Batuk : 1
Pembesaran KGB : 1
Pembengkakan tulang/ sendi :
Foto rontgen : 1
Total : 6

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal 12 Juli 2014
Pemeriksaan Darah :
Hemoglobin : 10.2 g / dl (10,5 15,0 gr%)
Hematokrit : 30 % (36 44 %)
Lekosit : 7500/ mm
3
(4,5 13 ribu/mm
3
)
Trombosit : 330 ribu/ mm
3
(150 400 ribu/mm
3
)
GDS : 114 mg% (75-120 mg%)

VI. DAFTAR MASALAH
NO PROBLEM AKTIF TGL PROBLEM PASIF TGL
1. Batuk, demam 12.07.2014 Sosial Ekonomi
kurang
12.07.2014
2. Pembesaran KGB 12.07.2014
3. Ro Thorax :
Gambaran Bronkitis
10.07.2014
4. Skoring TB : 6 12.07.2014
5, Gizi buruk 12.07.2014


VII. DIAGNOSIS
1) Gizi Buruk
2) TB Paru


VIII. INITIAL PLANS
1. Gizi Buruk
Ip Dx S: -
O: -
Ip Tx :
- Infus D5% 5 tetes per menit makro
- Asam Folat 1x5 mg
- Air gula 50cc
- Ambroxol 3x3mg
- Parasetamol sirup 3x Cth
- Vitamin A 1x 100.000 IU
- Diit : F75 12x65cc
Ip Mx : Keadaan umum, tanda vital, muntah/mencret, berat badan, asupan
Ip Ex :
- Menjelaskan kepada orangtua pasien bahwa anak sedang mengalami
keadaan gizi yang buruk
- Menjelaskan kepada orangtua terapi yang akan diberikan kepada anak
- Menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam proses terapi agar
mendukung anak dan membantu dalam perbaikan kondisi anak

2. TB Paru
Ip Dx S: -
O: -
Ip Tx :
- OAT puyer :
Rifampisin 60 mg
Isoniazid 60 mg
Pirazinamid 120mg
B6 5 mg
Ip Mx : Keadaan umum, tanda vital
Ip Ex :
- Menjelaskan kepada orangtua pasien bahwa anak sedang mederita
tuberkulosis paru
- Menjelaskan kepada orangtua terapi yang akan diberikan kepada anak
- Menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam proses terapi agar
mendukung anak dan membantu dalam perbaikan kondisi anak

PROGRESS NOTE


Hari 2 Hari 3 Hari 5
14.07.2014 15.07.2014 17.07.2014
KELUHAN
Batuk
Susu habis
Mencret
Muntah -
Batuk
Susu habis
Mencret + 1 kali
Muntah -
Batuk kadang-kadang
Susu habis
Mencret
Muntah -
TTV
NADI 124x/menit 140x/menit 144x/menit
RR 36x/menit 40x/menit 38x/menit
SUHU 37 C 36.8 C 37.1 C
BERAT BADAN 6.1 kg 6.2 kg 6.5 kg
PF
KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (+/+)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (+/+)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (+/+)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

PP
DIAGNOSIS
Gizi Buruk
TB Paru
Gizi Buruk
TB Paru
DATTD
Gizi Buruk
TB Paru
TERAPI
Inf. D5% 6 tpm
Asam folat 1x1 mg
Ambroxol 3x3 mg
PCT sirup 3x Cth
Vit A 1x 100.000IU
OAT
Inf. D5% 6 tpm
KAEN 3B 6 tpm
Asam folat 1x1 mg
Ambroxol 3x3 mg
PCT sirup 3x Cth
Resomal 3x 30cc
OAT
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Asam folat 1x1 mg
Ambroxol 3x3 mg
PCT sirup 3x Cth
OAT
DIIT
F75 12x65 cc
8x100 cc
F75 8x 100cc
6x135cc modifikasi
F75 6x135 cc tanpa
modifikasi




Hari 6 Hari 7 Hari 9
18.07.2014 19.07.2014 21.07.2014
KELUHAN
Batuk -
Susu yang semalam
tidak habis
Mencret
Muntah -
Batuk -
Susu habis
Mencret -
Muntah -
Batuk -
Susu habis
Mencret kemarin 1 x
Muntah 6x
TTV
NADI 120x/menit 140x/menit 144x/menit
RR 36x/menit 40x/menit 38x/menit
SUHU 35.6 C 36.8 C 37.1 C
BERAT BADAN 6.5 kg 6.6 kg 6.6 kg
PF
KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

KU : sadar, tampak
lemah
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

PP
DIAGNOSIS
Gizi Buruk
TB Paru
Gizi Buruk
TB Paru
Gizi Buruk
TB Paru
DADRS
TERAPI
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Asam folat 1x1 mg
Ambroxol 3x3 mg
PCT sirup 3x Cth
OAT
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Asam folat 1x1 mg
Ambroxol 3x3 mg
PCT sirup 3x Cth
OAT
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Inj. Ondancetron 3x
1/3 ampul
Kotrimoksazol 2x
Asam folat 1x1 mg
Resomal 3x 30cc
Zinc tab3x tab
OAT
DIIT
F75 8x100 cc
6x 135cc
Dipadatkan disiang
F75 6x135cc
F100 6x135cc
Dipadatkan disiang
F100 6x135cc
F75 6x135cc
Dipadatkan disiang






Hari 10 Hari 11 Hari 12
22.07.2014 23.07.2014 24.07.2014
KELUHAN
Batuk -
Susu yang semalam
tidak habis
Mencret 9x
Muntah -
Batuk -
Susu sering tidak
habis
Mencret 15x
Muntah -
Batuk -
Susu habis gelas
Mencret -
Muntah -
TTV
NADI 123x/menit 136x/menit 120x/menit
RR 36x/menit 48x/menit 36x/menit
SUHU 37.1 C 36.7 C 36.7 C
BERAT BADAN 6.4 kg 6.5 kg 6.5 kg
PF
KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

PP
Feses rutin :
Lendir +
Eritrosit +
Amoeba +
Bakteri +

DIAGNOSIS
Gizi Buruk
TB Paru
DADRS ec.
Amebiasis
Gizi Buruk
TB Paru
DADRS ec.
Amebiasis
Gizi Buruk
TB Paru
DADRS ec.
Amebiasis
TERAPi
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Kotrimoksazol 2x
Asam folat 1x1 mg
Resomal 3x 30cc
Zinc tab3x tab
OAT
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Metronidazol
3x100mg
Asam folat 1x1 mg
Resomal 3x 30cc
Zinc tab3x tab
OAT
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Metronidazol
3x100mg
Asam folat 1x1 mg
Resomal 3x 30cc
Zinc tab3x tab
OAT
DIIT
F75 6x 135cc
Dipadatkan disiang
F75 6x135cc
6x140cc
Dipadatkan disiang
F75 6 x 140 cc
Dipadatkan disiang




Hari 13 Hari 14
25.07.2014 26.07.2014
KELUHAN
Batuk -
Susu sering tidak
habis
Mencret -
Muntah -
Batuk -
Susu sering tidak
habis
Mencret -
Muntah -
TTV
NADI 130x/menit 130x/menit
RR 36x/menit 60x/menit
SUHU 37.1 C 36.4 C
BERAT BADAN 6.7 kg 6.5 kg
PF
KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

KU : sadar, aktif
Mata : Mata cekung-,
CA -/-, SI-/-
Leher : Pembesaran
KGB (-/-)
Thorak :
I : Simetris, Retraksi
(-),
A : ves (+/+), rh (-/-),
wh (-/-)
Cor : Bj I > BJ II,
Reg, Bising
(-)
Abd :
I : Simetris
P: Turgor kembali
cepat, Nyeri Tekan
(-), Hepar, Lien,
tidak teraba
P: Timpani
A: BU+ normal
Extr : edema -/-
Akral hangat

PP
DIAGNOSIS
Gizi Buruk
TB Paru
Post DADRS ec.
Amebiasis
Gizi Buruk
TB Paru
Post DADRS ec.
Amebiasis
TERAPI
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Asam folat 1x1 mg
OAT
Inf. KAEN 3B 6 tpm
Asam folat 1x1 mg
OAT
DIIT
F75 6x 135cc
Dipadatkan disiang
F75 6x140cc
Dipadatkan disiang




Edukasi Pasien Pulang :
1. Ibu pasien dipastikan telah menerima pembekalan cara membuat susu dan
apa-apa saja yang diperlukan
2. Memberitahu ibu bahwa susu harus diminumkan pada anak
3. Memberitahu ibu agar tidak memberi ASI pada anak
4. Memberitahu ibu dalam pemberian makanan pada anak haruslah dengan bubur
susu, tidak boleh nasi atau makanan padat lainnya
5. Memberitahu ibu harus rutin meminumkan obat OAT pada anak sampai 2
bulan setiap hari
6. Memberitahu ibu agar rajin control ke poli anak agar anak dapat dipantau
pertumbuhan, perkembangan, perbaikan gizi, dan penyakit parunya.













TUBERKULOSIS PARU







GIZI BURUK


TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gizi Buruk
Gizi buruk adalah kondisi seseorang yang nutrisinya di bawah rata-rata.
10

Hal ini merupakan suatu bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi
menahun.
2
Balita disebut gizi buruk apabila indeks Berat Badan menurut Umur
(BB/U) < -3 SD.
11

2.2 Pengukuran Gizi Buruk
Gizi buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain:
a. Pengukuran klinis: metode ini penting untuk mengetahui status gizi balita
tersebut gizi buruk atau tidak. Metode ini pada dasarnya didasari oleh
perubahan-perubahan yang terjadi dan dihubungkan dengan kekurangan
zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, rambut, atau
mata. Misalnya pada balita marasmus kulit akan menjadi keriput
sedangkan pada balita kwashiorkor kulit terbentuk bercak-bercak putih
atau merah muda (crazy pavement dermatosis).
12

b. Pengukuran antropometrik: pada metode ini dilakukan beberapa macam
pengukuran antara lain pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar
lengan atas. Beberapa pengukuran tersebut, berat badan, tinggi badan,
lingkar lengan atas sesuai dengan usia yang paling sering dilakukan dalam
survei gizi. Di dalam ilmu gizi, status gizi tidak hanya diketahui dengan
mengukur BB atau TB sesuai dengan umur secara sendiri-sendiri, tetapi
juga dalam bentuk indikator yang dapat merupakan kombinasi dari
ketiganya.
13


2.3 Klasifikasi Gizi Buruk
Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :
2.3.1 Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering
ditemukan pada balita. Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi
buruk. Gejala marasmus antara lain anak tampak kurus, rambut tipis dan jarang,
kulit keriput yang disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang, muka
seperti orang tua (berkerut), balita cengeng dan rewel meskipun setelah makan,
bokong baggy pant, dan iga gambang.
14,15


Gambar 1. Gejala klinis gizi buruk tipe marasmus
Pada patologi marasmus awalnya pertumbuhan yang kurang dan atrofi otot
serta menghilangnya lemak di bawah kulit merupakan proses fisiologis. Tubuh
membutuhkan energi yang dapat dipenuhi oleh asupan makanan untuk
kelangsungan hidup jaringan. Untuk memenuhi kebutuhan energi cadangan
protein juga digunakan. Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak hanya
untuk memenuhi kebutuhan energi tetapi juga untuk sistesis glukosa.
16


2.3.2 Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan
oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang
inadekuat. Hal ini seperti marasmus, kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari
tingkat keparahan gizi buruk.
14
Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan
terganggu, perubahan mental, pada sebagian besar penderita ditemukan oedema
baik ringan maupun berat, gejala gastrointestinal, rambut kepala mudah dicabut,
kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih
mendalam dan lebar, sering ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit,
pembesaran hati, anemia ringan, pada biopsi hati ditemukan perlemakan.
13


Gambar 2. Gejala klinis gizi buruk tipe kwashiorkor
Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat menyebabkan perlemakan
hati dan oedema. Pada penderita defisiensi protein tidak terjadi proses katabolisme
jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi dengan
jumlah kalori yang cukup dalam asupan makanan. Kekurangan protein dalam diet
akan menimbulkan kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk
sintesis. Asupan makanan yang terdapat cukup karbohidrat menyebabkan
produksi insulin meningkat dan sebagian asam amino dari dalam serum yang
jumlahnya sudah kurang akan disalurkan ke otot. Kurangnya pembentukan
albumin oleh hepar disebabkan oleh berkurangnya asam amino dalam serum yang
kemudian menimbulkan oedema.
16


2.3.3 Marasmik-Kwashiorkor
Marasmik-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari
beberapa gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan
(BB) menurut umur (U) < 60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema
yang tidak mencolok.
14

Gambar 3. Gejala klinis gizi buruk tipe marasmik-kwashiorkor
2.4. Kriteria anak gizi buruk
9

1. Gizi buruk tanpa komplikasi:
a. BB/TB : < -3 SD dan atau;
b. Terlihat sangat kurus dan atau;
c. Adanya edema dan atau;
d. LiLA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan
2. Gizi buruk dengan komplikasi
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah satu atau
lebih dari tanda komplikasi medis berikut:


a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat
e. Demam sangat tinggi
f. Penurunan kesadaran

2.5. Tatalaksana gizi buruk
Masalah Gizi buruk tidak dapat diselesaikan sendiri oleh sektor kesehatan.
Gizi buruk merupakan dampak dari berbagai macam penyebab, seperti rendahnya
tingkat pendidikan, kemiskinan, ketersediaan pangan, transportasi, adat istiadat
(sosial budaya), dan sebagainya. Oleh karena itu, pemecahannyapun harus secara
komprehensip. Perawatan balita gizi buruk dilaksanakan di Puskesmas Perawatan
atau Rumah Sakit setempat dengan Tim Asuhan Gizi yang terdiri dari dokter,
nutrisionis/dietisien dan perawat, melakukan perawatan balita gizi buruk dengan
menerapkan 10 langkah tata laksana anak gizi buruk meliputi fase stabilisas untuk
mencegah/ mengatasi hipoglikemia, hipotermi dan dehidrasi, fase transisi, fase
rehabilitasi untuk tumbuh kejar dan tindak lanjut.
4


Gambar 4. Tatalaksana anak gizi buruk (10 langkah)
Nutrisi berperan penting dalam penyembuhan penyakit. Kesalahan
pengaturan diet dapat memperlambat penyembuhan penyakit. Dengan nutrisi akan
memberikan makanan-makanan tinggi kalori, protein dan cukup vitamin-mineral
untuk mencapai status gizi optimal. Nutrisi gizi buruk diawali dengan pemberian
makanan secara teratur, bertahap, porsi kecil, sering dan mudah diserap. Frekuensi
pemberian dapat dimulai setiap 2 jam kemudian ditingkatkan 3 jam atau 4 jam.
Penting diperhatikan aneka ragam makanan, pemberian ASI, makanan,
mengandung minyak, santan, lemak dan buah-buahan. Selain itu faktor
lingkungan juga penting dengan mengupayakan pekarangan rumah menjadi taman
gizi. Perilaku harus diubah menjadi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS)
dengan memperhatikan makanan gizi seimbang, minum tablet besi selama hamil,
pemberian ASI eksklusif, mengkonsumsi garam beryodium dan memberi bayi dan
balita kapsul vitamin A.
Pengaturan diet pada anak gizi buruk adalah sebagai berikut:
a. Fase Stabilisasi
Pada fase ini, peningkatan jumlah formula diberikan secara bertahap
dengan tujuan memberikan makanan awal supaya anak dalam kondisi stabil.
Formula hendaknya hipoosmolar rendah laktosa, porsi kecil dan sering. Setiap
100 ml mengandung 75 kal dan protein 0,9 gram. Diberikan makanan formula 75
(F 75). ReSoMal dapat diberikan apabila anak diare/ muntah/ dehidrasi, 2 jam
pertama setiap . jam, selanjutnua 10 jam berikutnya diselang seling dengan F75.
Tabel 1. Kebutuhan zat gizi fase stabilisasi

b. Fase Transisi
Pada fase ini anak mulai stabil dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak
(cathup). Diberikan F-100, setiap 100 ml F-100 mengandung 100 kal dan protein
2,9 gram.
Tabel 2. Kebutuhan zat gizi fase transisi

c. Fase Rehabilitasi
Terapi nutrisi fase ini adalah untuk mengejar pertumbuhan anak.
Diberikan setelah anak sudah bisa makan. Makanan padat diberikan pada fase
rehabilitasi berdasarkan BB< 7 kg diberi MP-ASI dan BB 7 kg diberi makanan
balita. Diberikan makanan formula 135 (F 135) dengan nilai gizi setiap 100 ml
F135 mengandung energi 135 kal dan protein 3,3 gram.






Tabel 3. Kebutuhan zat gizi fase rehabilitasi


d. Fase Tindak Lanjut
Dilakukan di rumah setelah anak dinyatakan sembuh, bila BB/TB atau
BB/PB -2 SD, tidak ada gejala klinis dan memenuhi kriteria selera makan sudah
baik, makanan yang diberikan dapat dihabiskan, ada perbaikan kondisi mental,
anak sudah dapat tersenyum, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan sesuai
umurnya, suhu tubuh berkisarantara 36,5 37,7
o
C, tidak muntah atau diare, tidak
ada edema, terdapat kenaikan BB sekitar 50g/kg BB/minggu selama 2 minggu
berturut-turut.
Mineral Mix dapat diberikan sebagai nutrisi gizi buruk yang terbuat dari
bahan yang terdiri dari KCl, tripotasium citrat, MgCl2.6H2O, Zn asetat 2H2O dan
CuSO4.5H2O, bahan ini dijadikan larutan. Mineral mix ini dikembangkan oleh
WHO dan telah diadaptasi menjadi pedoman Tatalaksana Anak Gizi Buruk di
Indonesia. Mineral mix digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat
Rehydration Solution for Malnutrition (ReSoMal) dan Formula WHO.


Tabel 4. Komposisi Mineral Mix

Tiap kemasan dimaksudkan untuk membuat 20 ml larutan.

Tabel 5. Nilai Gizi Formula


Penting untuk menjalankan 10 langkah tatalaksana gizi buruk berikut ini:
1. Mencegah dan mengatasi hipoglikemi.
Hipoglikemi jika kadar gula darah < 54 mg/dl atau ditandai suhu tubuh sangat
rendah, kesadaran menurun, lemah, kejang, keluar keringat dingin, pucat.
Pengelolaan berikan segera cairan gula: 50 ml dekstrosa 10% atau gula 1
sendok teh dicampurkan ke air 3,5 sendok makan, penderita diberi makan tiap
2 jam, antibotik, jika penderita tidak sadar, lewat sonde. Dilakukan evaluasi
setelah 30 menit, jika masih dijumpai tanda-tanda hipoglikemi maka ulang
pemberian cairan gula tersebut.
2. Mencegah dan mengatasi hipotermi.
Hipotermi jika suhu tubuh anak < 35
o
C , aksila 3 menit atau rectal 1 menit.
Pengelolaannya ruang penderita harus hangat, tidak ada lubang angin dan
bersih, sering diberi makan, anak diberi pakaian, tutup kepala, sarung tangan
dan kaos kaki, anak dihangatkan dalam dekapan ibunya (metode kanguru),
cepat ganti popok basah, antibiotik. Dilakukan pengukuran suhu rectal tiap 2
jam sampai suhu > 36,5
o
C, pastikan anak memakai pakaian, tutup kepala,
kaos kaki.
3. Mencegah dan mengatasi dehidrasi.
Pengelolaannya diberikan cairan Resomal (Rehydration Solution for
Malnutrition) 70-100 ml/kgBB dalam 12 jam atau mulai dengan 5 ml/kgBB
setiap 30 menit secara oral dalam 2 jam pertama. Selanjutnya 5-10 ml/kgBB
untuk 4-10 jam berikutnya, jumlahnya disesuaikan seberapa banyak anak
mau, feses yang keluar dan muntah. Penggantian jumlah Resomal pada jam
4,6,8,10 dengan F75 jika rehidrasi masih dilanjutkan pada saat itu.
Monitoring tanda vital, diuresis, frekuensi berak dan muntah, pemberian
cairan dievaluasi jika RR dan nadi menjadi cepat, tekanan vena jugularis
meningkat, jika anak dengan edem, oedemnya bertambah.
4. Koreksi gangguan elektrolit.
Berikan ekstra Kalium 150-300mg/kgBB/hari, ekstra Mg 0,4-0,6
mmol/kgBB/hari dan rehidrasi cairan rendah garam (Resomal)
5. Mencegah dan mengatasi infeksi.
Antibiotik (bila tidak komplikasi : kotrimoksazol 5 hari, bila ada komplikasi
amoksisilin 15 mg/kgBB tiap 8 jam 5 hari. Monitoring komplikasi infeksi
(hipoglikemia atau hipotermi)
6. Mulai pemberian makan.
Segera setelah dirawat, untuk mencegah hipoglikemi, hipotermi dan
mencukupi kebutuhan energi dan protein. Prinsip pemberian makanan fase
stabilisasi yaitu porsi kecil, sering, secara oral atau sonde, energy 100
kkal/kgBB/hari, protein 1-1,5 g/kgBB/hari, cairan 130 ml/kgBB/hari untuk
penderita marasmus, marasmik kwashiorkor atau kwashiorkor dengan edem
derajat 1,2, jika derajat 3 berikan cairan 100 ml/kgBB/hari.
7. Koreksi kekurangan zat gizi mikro.
Berikan setiap hari minimal 2 minggu suplemen multivitamin, asam folat
(5mg hari 1, selanjutnya 1 mg), zinc 2 mg/kgBB/hari, cooper 0,3
mg/kgBB/hari, besi 1-3 Fe elemental/kgBB/hari sesudah 2 minggu
perawatan, vitamin A hari 1 (<6 bulan 50.000 IU, 6-12 bulan 100.000 IU, >1
tahun 200.000 IU)
8. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar.
Satu minggu perawatan fase rehabilitasi, berikan F100 yang mengandung 100
kkal dan 2,9 g protein/100ml, modifikasi makanan keluarga dengan energi
dan protein sebanding, porsi kecil, sering dan padat gizi, cukup minyak dan
protein.
9. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang.
Mainan digunakan sebagai stimulasi, macamnya tergantung kondisi, umur
dan perkembangan anak sebelumnya. Diharapkan dapat terjadi stimulasi
psikologis, baik mental, motorik dan kognitif.
10. Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah.
Setelah BB/PB mencapai -1SD dikatakan sembuh, tunjukkan kepada orang
tua frekuensi dan jumlah makanan, berikan terapi bermain anak, pastikan
pemberian imunisasi boster dan vitamin A tiap 6 bulan.