Anda di halaman 1dari 33

Membuat Latar Belakang Penelitian

By bimbelskripsi
Ditulis oleh Yudi Sutarso
Menulis latar belakang, kadang sulit bagi mahasiswa yang tidak biasa menulis, utamanya dalam
meulis skripsi. Berikut ini adalah panduan praktis membuat latar belakang.
Permasalahan Manajemen dan Riset
Permasalahan manajemen adalah permasalahan yang dihadapi secara langsung oleh pemasar, yang
merupakan hal yang harus diatasi olehnya yang secara langsung akan mempengaruhi kinerja
pemasaran. Permasalahan manajemen lebih bersifat teknis. Sedangkan permasalahan riset
merupakan derivasi dari permasalahan manajemen, yang dirumuskan dan dijadikan acuan dasar
dalam melakukan riset pemasaran.
Permasalahan dalam Riset
Permasalahan manajemen dan permasalahan riset seringkali dirumuskan dalam sub bab latar
belakang masalah dan permasalahan, dalam sebuah proposal penelitian. Dalam sebuah riset
akademik (skripsi, tesis atau disertasi), latar belakang masalah merupakan penggambaran akan
mengapa masalah riset muncul dari sisi masalah manajemen yang muncul, disertai data, fakta atau
kejadian yang muncul yang memperkuat latar belakang dan perumusan masalah. Disamping juga
dalam perumusan masalah dalam latar belakang masalah periset juga harus memaparkan teori,
prinsip atau kaidah teoritik lain yang dapat dijadikan sandaran berfikir dan merumuskan masalah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan latar belakang adalah :
1. Ancangan pembahasan
Ancangan yang dimaksud adalah darimanakah periset mengawali pembicaraan dalam kaitan dengan
masalah riset yang dilakukan. Pengambilan ancangan yang tepat akan memberikan penggambaran
yang tepat pula atas masalah yang diangkat oleh periset. Sangat direkomendasikan pembicaraan
dalam latar belakang lebih fokus dan mendalam, tidak meluas tapi dangkal.

2. Alur logika pemikiran yang digunakan,
Alur logika pemikiran merupakan urutan berfikir penulis dalam menuangkan gagasan yang ingin
disampaiakan yang tercermin dalam susunan kalimat-kalimat dan susunan paragraf-paragraf dalam
latar belakang. Alur logika pemikiran yang digunakan khususnya dalam penulisan latar belakang
menjadi penting diperhatikan. Hal ini agar arah pemikiran yang dikembangkan dalam latar belakang
lebih mengarah, fokus, jelas dan mudah dipahami. Latar belakang yang tidak memiliki alur logika
yang jelas akan sulit bagi pembaca mengenali masalah sebenarnya, memahami pesan yang ingin
disampaikan dan bahkan akan mengaburkan masalah itu sendiri.

3. Penggunaan sumber teori sebagai dasar pemikiran,
Fungsinya selain akan menjadi sandaran berfikir namun juga hal tersebut akan menjadi indikator
obyektifitas tulisan. umber teori merupakan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang disampaikan
oleh seseorang yang biasanya dihasilkan dari riset. Semakin banyak teori yang digunakan maka,
dalam batas tertentu, akan semakin meningkatkan obyektifitas riset, dan semakin kuat argumentasi
yang dipaparkan oleh periset.
Penggunaan sumber teori secara eksplisit tercermin pada penggunaan kalimat yang diakhir kalimat
dicantumkan nama penulis dan tahun penulisan, sebagai cerminan kalimat tersebut diambil dari
penulis yang namanya disebutkan tersebut.

4. Penggunaan fakta dan data lingkungan
Penggunaan fakta dan data dalam perumusan latar belakang adalah penting untuk mengetahui
indikator-indikator dari intensitas permasalahan yang dirumuskan oleh periset.Dari fakta dan data
tersebut akan diketahui seberapa luas dan seberapa parah permasalahan riel yang ada. bsennya data
dan fakta dalam perumusan masalah utamanya dalam latar belakang akan mengakibatkan
permasalahan menjadi sangat umum, mengambang, tidak jelas dan tidak fokus.

5. Panjang dan kecukupan
Panjang atau pendeknya penggambaran memang sangat tergantung pada jenis permasalahan yang
dihadapi, untuk kepentingan apa riset dilakukan dan tentunya ketersediaan halaman atau tempat
dalam menuangkan gagasan. Namun demikian prinsip yang lazim digunakan adalah bahwa
penggambaran identifikasi dan perumusan masalah sebagaimana dalam latarbelakang dan
permasalahan riset harus secara cukup dan tuntas mengarahkan pembaca akan masalah riel apa
yang dihadapi oleh periset dan mengapa muncul dan perlu diatasi atau diteliti.








Apa itu Skripsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang
diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi
adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang
terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar "lebih baik sakit gigi daripada
bikin skripsi".

skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana
(S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan
diploma (D3).

Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap
universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus
dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai
D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum
"berhak" untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak
awal.

Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu,
Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda
bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan
untuk menemukan dan
menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau
memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk
mahasiswa S1, skripsi adalah "belajar meneliti".

Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi
buruk atau beban yang maha berat.


Miskonsepsi tentang Skripsi

Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya "ditujukan" untuk mahasiswa-mahasiswa dengan
kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan,
kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan
tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi
mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa
yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan
membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya
adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku.
Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk
mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua
pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik
(scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik),
dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya
tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya
secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan
pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika
Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang
lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih
baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.


Kiat Memilih Dosen Pembimbing

Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya.
Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan
tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang "benar-benar membimbing" skripsi Anda dengan
intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan "melepas" dan memberi Anda kebebasan.
Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang
mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi.

Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih
sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan
dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih "enak" kalau Anda bisa memilih sendiri dosen
pembimbing untuk skripsi Anda.

Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) Dosen senior, dan (2) Dosen junior. Dosen
senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam
terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya
masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau
Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut:


Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis.
Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi
dan jadwal yang sangat padat.


Tapi, keuntungannya:


Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
Anda akan "tertolong" saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan
masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk "membantai" Anda.
Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.


Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses
bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum
terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak "jaim" dan "tidak sok" kepada mahasiswanya.

Tapi, kerugiannya, Anda akan agak "sendirian" ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain
lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan "dihajar" cukup telak. Dan
dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.


Tahap-tahap Persiapan dalam menyusun skripsi

Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi
ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda
akan "ditarik" masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin)
lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa,
seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah
sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa
dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga
menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan
diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan.
Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup
berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik,
bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya
sudah "hafal di luar kepala" sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi
nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang
terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun
sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-
1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu
harus ditulis secara "baku". Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian.
Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur
nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan
topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik
bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi
dengan baik.


Hal-hal yang Perlu Dilakukan dalam menyusun skripsi

Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada
Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh
kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun.

Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal
bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama
beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta
pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar.
Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi.

Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas
mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan
bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai.

Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari
referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan
lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest.

Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang "bertugas" membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak
selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari
mencari topik, mengumpulkan bahan, "mengejar" untuk bimbingan, dan seterusnya.

Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat "ketidakpastian" tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah
jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba
membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda
merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi,
tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu.

Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa "pihak ketiga" yang akan membantu membuatkan skripsi
untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam
perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada
dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan
membantu Anda.

Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada
sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk
membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan
sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan?


Format Skripsi yang Benar

Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang
baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf
dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa
bagian sebagai berikut.

Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi
penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan
kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab
pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian
ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang gagal menyusun
alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai,
tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model
penelitian yang diacu, dan sebagainya.

Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan
secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan
dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan
keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan
apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang
dijumpai pada penelitian ini.

Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk
memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-
review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen
yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman
Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa
dengan Anda).


Beberapa Kesalahan Pemula dalam membuat Skripsi

Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas,
padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena
yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar,
tetapi sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis sebagai salah satu syarat untuk
mencapai gelar kesarjanaan sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah
menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk
mendapatkan gelar S1.

Bab I : Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi
adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis
yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I.
Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-
bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses)

Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu
banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya
menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam
acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.

Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena
yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena
yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode
yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau
keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal
memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan
kemalasan riset. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak
dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana,
atau sempitnya waktu.

Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau
dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang,
termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan
penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan
berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.


Menghadapi Ujian Skripsi

Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih
lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran.
Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat,
yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya
dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan
berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing
penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi
yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana
pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah
diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang
spesifik, baik konseptual maupun teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi
sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah "konfirmasi" atas apa yang sudah Anda
lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak
grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan
apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan
semuanya secara lengkap. Buatlah lubang jebakan agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik
tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak
outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat
tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu.

Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan
yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi.
Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan
Alhamdulillah saya mendapat nilai A.

Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa,
seharusnya Anda sekalian pun bisa.

Pasca Ujian Skripsi

Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang
jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah
Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda
inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih
jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan
pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan
dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan
semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini.

Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta
mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi,
dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit
mengejar ketertinggalan.













Langkah-langkah penting dalam menyusun Skripsi adalah :
1. Mampu melihat dan memilih masalah yang akan ditulis. Ini merupakan
hal yang paling penting dari suatu SKRIPSI dan membedakan dengan
menulis pada umumnya. Bagaimanapun skripsi adalah suatu bentuk
karya tulis ilmiah yang mana mahasiswa diharapkan dapat berpikir
ilmiah dengan membuat suatu penelitian sebagai objeknya. Untuk itu yang
perlu diperhatikan adalah hal-hal yang akan sampaikan berikut.
2. APA masalahnya tersebut, darimana anda mengetahui bahwa itu
menjadi suatu masalah. Jika informasi tersebut diperoleh dari suatu
studi pustaka berdasarkan jurnal-jurnal canggih up-to-dated maka
tentunya lebih mudah meyakinkan orang lain bahwa masalah tersebut
cukup baik untuk dibahas. Tetapi jika hasil pemahaman subyektif atau
hasil pengamatan empiris pribadi belaka maka tentunya perlu data-
data pendukung yang dibuat yang lebih banyak sehingga orang dapat
yakin bahwa itu memang masalah yang patut dibahas (kerja lebih
banyak).
3. MENGAPA anda memilih masalah tersebut, karena dosen
pembimbingnya yang memilihkannya, atau karena anda menyukai
bidang dimana masalah tersebut berada, tentu akan membedakan
strategi anda mengerjakan tugas SKRIPSI tersebut. Sebaiknya usahakan
anda memilih karena anda memang menyenangi bidang dimana masalah
tersebut ada. Untuk itu, apakah anda menguasai persoalan atau tidak
itu tidak menjadi masalah. Jika anda menguasai persoalan , misalnya
tentang pemrograman, maka tentu akan mempermudah anda
menyelesaikan tugas itu. Tapi jika tidak, maka itu merupakan
kesempatan berharga anda untuk mendapatknowledge yang lain
(mendapat ilmu baru), meskipun itu perlu ekstra tenaga.
Jika anda tidak tahu apa-apa (netral terhadap masalah tersebut) maka
usahakan bahwa masalah tersebut dipahami oleh dosen pembimbing.
Jika masalah itu yang memberi adalah dosen, maka diharapkan dosen
tersebut juga tahu bagaimana dengan masalah tersebut. Jika benar-
benar nggak tahu tentang masalah yang akan dipilih, maka pilihlah
dosen pembimbing yang anda tahu kemampuannya, yang anda anggap
dapat membimbing anda (anda punya respek terhadap dia).
4. BAGAIMANA masalah tersebut akan dapat diselesaikan, ini tentu
memperkirakan ilmu-ilmu apa yang diperlukan untuk memecahkan
massalah tersebut. Bisa melihat publikasi sebelumnya. Apakah untuk
itu perlu uji eksperimental, penyelesaian parametris atau pemrograman
atau yang lain. Kira-kira anda mempunyai keyakinan mampu atau tidak
dengan itu. Itu konsekuensinya biaya dan waktu lho.
5. BILAMANA masalah tersebut terpecahkan , apa yang kira-kira anda
dapatkan. Bila anda tahu apa yang dapat anda berikan jika masalah
tersebut terselesaikan maka ini mendukung kepercayaan diri bahwa
solusi dari SKRIPSI ini akan berharga. Bahkan kalau PD maka dapat
diinformasikan ke teman-teman lain, misal ke seminar dsb. Menambah
kepercayaan diri, juga nilai tambah jika membuat lamaran kerja.
6. Mampu memformulasikan MASALAH yang dipilih. Jika telah mempunyai
alasan yang kuat tentang suatu masalah maka untuk realitas kerjanya
maka usahakan masalah tersebut diformulasikan dalam bentuk tulisan
pendek. Dalam hal ini dalam bentuk ABSTRAK. Kaget ya ? . Khan
biasanya bikin abstract jika tulisan sudah selesai, itu jika abstract
diterjemahkan sebagai rangkuman. Lha inilah
bedanya, pengalaman dulu yang mengatakan bahwa abstrak dibuat
setelah selesai dikerjakan, itu SALAH. Jika kondisinya demikian maka
pengerjaan skripsi anda belum berbentuk, bisa liar, bisa kesana-kemari,
tidak jelas, bisa lama. Kenapa ? Karena spesifikasinya belum ada
(belum jelas/samar). Dengan membuat ABSTRACT terlebih dahulu
maka anda sudah berusaha memfokuskan pikiran ke masalah tersebut yaitu
dengan menuliskannya. Apa abstract tersebut kaku, ya enggak. Rubah-
sedikit-sedikit ya nggak apa, tetapi dengan membuat abstract, kita
tahu : o000 ada perubahan, mengapa, tentunya agar lebih baik lagi.
TERKENDALI.
7. Dalam membuat abstrak tersebut, perlu untuk membagi menjadi tiga
tahapan utama, yaitu tahapan INTRO: yaitu mengenalkan masalah, apa,
mengapa, dan batasan-batasannya (nanti jadi BAB 1 dan BAB2);
tahapan PROGRES: yaitu tentang bagaimana masalah tersebut dicoba
dipecahkan, termasuk juga pembahasannya (nanti jadi BAB 3 dan
BAB4); dan tahapan KESIMPULAN tentang bilamana masalah dapat
terpecahkan (nanti jadi BAB5).
8. Evaluasi ABSTRACT bersama dosen pembimbing. Apakah abstract
sudah menggigit. Bila perlu bisa juga dimasukkan ke seminar atau
minta pendapat orang lain yang kritis. Tangkap masukan yang
diberikan, evaluasi atau diskusikan dengan dosen. Jika mantap maka
dapat dilanjutkan. Ingat, mutu tidaknya suatu hasil penelitian (skripsi)
dapat dengan mudah dibaca dari abstract-nya. Jika abstract-nya nggak
ada isi-nya maka kecil kemungkinan materi skripsi yang utama juga
dibaca, paling-paling disimpan digudang. Tidak membanggakan untuk
ditunjukkan orang lain. Tetapi abstract yang hebat kadang-kadang bisa
mengecoh.
9. Jika abstract sudah OK. Bisa dilanjutkan.
10. Jika anda sudah tahu apa masalah anda, mengapa anda memilih
masalah tersebut, batasan-batasan masalah yang dipilih dan strategi
penyelesaian yang akan dikerjakan maka tentunya hal itu dapat
dituangkan dalam BAB 1. Penulisan BAB1 sangat penting karena
menentukan luasan atau cakupan yang didiskusikan dalam bab-bab
selanjutnya. Bab1 merupakan pengikat, pedoman kerja untuk bab-bab
berikutnya. Jangan biasakan meniru BAB1 orang lain, belum tentu
cocok. Jadi intinya Bab1 adalah pedoman kerja untuk penulisan bab-
bab selanjutnya.
11. Untuk dapat mengerjakan skripsi sesuai dengan BAGAIMANA
menyelesaikan masalah tersebut, tentu anda harus tahu lebih
dahulubagaimana strategi orang lain menangani atau bertindak terhadap
masalah tersebut. Ini dapat diketahui dengan melakukan studi pustaka
(BAB2), mereview publikasi orang lain dari jurnal-jurnal atau yang
lainnya. Usahakan pakailah acuan jurnal-jurnal terkini(menurut salah
satu profesor saya, gunakan jurnal dalam lima tahun terakhir). Tetapi
bisa juga anda mengutip suatu karya yang pernah diterbitkan ratusan
tahun yang lalu jika karya tersebut memang karya monumental di
bidangnya. Sekali lagi, usahakan yang dijadikan referensi adalah jurnal
ilmiah, bila terpaksa, baru textbooks.













Salah satu persoalan sulit yang dihadapi mahasiswa ketika menghadapi ujian skripsi (atau tesis,
disertasi)nya adalah mengantisipasi apa yang akan ditanyakan penguji dalam ujian skripsi
itu. Banyak di antara mereka yang lancar ketika menyajikan hasil penelitiannya karena masalah
itu memang telah digelutinya selama beberapa bulan dan presentasi itu telah dipersiapkan
berhari-hari sebelumnya. Tetapi, ketika giliran menjawab pertanyaan penguji, tidak sedikit di
antara mereka ada yang terperangah dan menjawab sekenanya, seolah-olah mereka tidak
mengira ditanya masalah itu. Artikel ini berusaha membantu mahasiswa peserta ujian skripsi
(tesis atau disertasi) untuk mengantisipasi pertanyaan penguji.
Yang pertama-tama perlu Anda sadari adalah bahwa penguji skripsi itu sebenarnya
bukan menguji Anda. Kebanyakan dari mereka tidak tahu sepenuhnya tentang seluk-beluk
masalah yang Anda teliti. Posisi penguji skripsi berbeda dari posisi dosen yang memberikan
ujian tentang matakuliah yang diajarkannya. Mereka tahu mana jawaban yang salah dan yang
benar. Dalam ujian skripsi, Anda, sebagai peneliti, mengetahui lebih banyak tentang masalah
yang Anda teliti daripada penguji. Jadi, pertanyaan yang diajukan penguji dalam ujian skripsi
adalah benar-benar petanyaan orang yang ingin tahu.
Dalam hal ini, sebaiknya Anda memandang penguji skripsi sebagai kritikus yang membantu
Anda menghasilkan karya tulis ilmiah yang bermutu. Jangan memandang mereka sebagai
penyerang (musuh) dan Anda harus mempertahankan mati-matian kebenaran penelitian Anda
(yang belum tentu benar) itu! Dengan demikian, Anda dapat mengurangi rasa groggii' Anda
sebelum masuk ke ruang ujian dan ini, insya Allah, akan membuat Anda lebih tenang, lebih
santai, sehingga dapat berfikir jernih selama ujian.
Lalu apakah yang ingin diketahui oleh para penguji skipsi itu?
Hal utama yang ingin diketahu penguji skripsi mengenai penelitian Anda adalah (1) apakah
pertanyaan penelitian Anda itu memang penting dan (2) apakah penelitian Anda (cara Anda
menjawab pertanyaan tersebut) itu logis dan dapat diterima. Di tingkat pasca sarjana, biasanya
dua hal pokok itu ditambah lagi dengan pertanyaan apakah hasil penelitian Anda itu telah
memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang biasanya diajukan para penguji skripsi:
Pertanyaan penelitian apakah yang ingin Anda jawab dalam penelitian ini? (Ini adalah inti dari
penelitian Anda. Segala susah payah yang Anda lakukan dalam penelitian ini sebenarnya
hanyalah untuk menjawab pertanyaan ini.) Biasanya penguji mencari jawaban pertanyaan ini
dalam bagian rumusan masalah atau pertanyaan penelitian.
Mengapa pertanyaan seperti itu penting sekali untuk dijawab? Apa manfaatnya? Apakah
belum ada orang lain yang menjawabnya? (Kalau pertanyaan itu tidak penting, kurang
bermanfaat, atau sudah pernah dijawab orang lain, untuk apa bersusah payah
menjawabnya?) Biasanya, penguji mencari jawaban pertanyaan ini dalam bagian latar
belakang penelitian.
Bagaimana cara Anda menjawabnya? Ini menyangkut metodologi penelitian Anda. Dalam hal
ini, masalah validitas dan reliabilitas data menjadi amat penting karena data yang tidak valid
tidak akan dapat memberikan hasil penelitian yang valid, meskipun mungkin teknik analisanya
valid. Dan, hasil penelitian yang tidak valid itu tidak ada gunanya. Untuk menjawab pertanyaan
nomor 3 ini, biasanya diajukan pertanyaan yang lebih rinci sebagai berikut:
Data (informasi, keterangan, fakta) apakah yang Anda perlukan untuk menjawab pertanyaan
tersebut? Apakah data tersebut memang cocok untuk menjawab pertanyaan tersebut?
Dari mana Anda memperoleh data tersebut? Apakah sumber data tersebut (orang, buku,
dokumen, lokasi, dsb.) valid dan dapat dipercaya (reliabel) sebagai sumber data? Bagaimana
Anda menjamin validitas dan reliabilitas sumber data tersebut?
Bagaimana cara Anda memperoleh data tersebut? Alat apa yang Anda gunakan? Apakah alat
tersebut valid dan dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data? Bagaimana Anda
membuktikan validitas dan reliabilitas data tersebut?
Bagaimana cara Anda menganalisa data yang telah Anda kumpulkan itu? Apakah cara analisa
Anda itu valid dan reliabel sebagai prosedur analisa? Bagaimana Anda membuktikan bahwa
cara analisa Anda tersebut valid dan reliabel?
Apa hasil penelitian Anda? Jawaban apakah yang Anda temukan atas pertanyaan penelitian
Anda? Apakah jawaban itu sesuai dengan hasil analisa Anda atas data yang Anda
peroleh? Apakah hasil penelitian (jawaban tersebut) sesuai dengan teori yang berkembang di
bidang ilmu tersebut? Kalau hasil penelitian Anda tersebut berbeda dari teori umum di bidang
ilmu tersebut, bagaimana penjelasan Anda?
Apa dampak (implikasi) hasil penelitian Anda terhadap pengetahuan manusia yang sudah ada
saat ini atau pada praktek yang dilakukan masyarakat?

Yang juga perlu Anda ingat adalah bahwa yang disebut skripsi itu adalah apa yang Anda tulis,
bukan apa yang Anda jelaskan dalam ujian skripsi. Pembaca harus dapat menemukan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan di atas secara memuaskan dalam skripsi Anda. Jangan berfikiran
untuk menulis skripsi asal jadi (tidak jelas) dan akan menjelaskan secara gamblang dalam
ujian. Di samping waktu ujian skripsi itu terbatas sehingga Anda tidak akan mungkin
menjelaskan semuanya, skripsi Anda itu akan diletakkan di perpustakaan untuk dibaca oleh
semua orang yang berminta. Skripsi yang tidak logis dan memingungkan akan merusak reputasi
Anda sebagai sarjana dan juga merusak reputasi perguruan tinggi yang telah meluluskan Anda
dengan skripsi semacam itu.



Pengertian proposal

Pengertian dari proposal adalah sebuah tulisan yang dibuat oleh si penulis yang bertujuan untuk
menjabarkan atau menjelasan sebuah tujuan kepada si pembaca (individu atau perusahaan)
sehingga mereka memperoleh pemahaman mengenai tujuan tersebut lebih mendetail. Diharapkan
dari proposal tersebut dapat memberikan informasi yang sedetail mungkin kepada si pembaca,
sehingga akhirnya memperoleh persamaan visi, misi, dan tujuan hal yang perlu diperhatikan dalam
membuat proposal :

A. JUDUL PENELITIAN

Setelah kita membahas bagaimana cara menemukan masalah, langkah selanjutnya adalah membuat
Judul Penelitian. Dalam membuat judul penelitian, beberapa hal yang harus diketahui adalah judul
itu harus:

1. Komunikatif, mudah dipahami maksudnya oleh pembaca
2. Memuat variabel penelitian
3. Menjawab apa yang ingin ditingkatkan
4. Dengan cara apa/upaya apa untuk meningkatkannya.
5. Sasaran dan Lokasi tercermin dalam judul;
6. Banyak kata sekitar 15-20 kata

Judul penelitian hendaknya singkat dan spesifik tetapi cukup jelas mewakili gambaran tentang
masalah yang akan diteliti dan tindakan yang dipilih untuk menyelesaikan atau sebagai solusi
terhadap masalah yang dihadapi. Alasan pemilihan judul juga harus:

* Menarik minat
* Layak diteliti
* Bermanfaat bagi masyarakat, dll.

Contoh judul penelitian Tindakan kelas antara lain :

1. Inovasi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sekitar (IPAS) Pokok Bahasan Kimia Lingkungan
Melalui Pembuatan Film tentang Pencemaran Lingkungan Sekitar Untuk Meningkatkan Prestasi
Belajar Siswa Kelas XI Rekayasa Perangkat Lunak 1 SMK Negeri 8 Semarang Tahun Pelajaran
2006/2007 (Oleh : Ardan Sirodjuddin, S.Pd.)
2. Pembelajaran Berbasis Project Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran
Geografi Kelas XII IPS SMA Muhammadiyah Wonosari Tahun Pelajaran 2007/2008 (Oleh : Dra. Sri
Wahyuni Dwiyanti M.Pd).
3. Penggunaan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas III
IPS SMA Negeri 1 Randublatung Pada Semester I Tahun Pelajaran 2004/2005. (Oleh : Juremi)
4. Penggunaan Dakon Elektron Dalam meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA Kelas I
Kecantikan Kulit Pada Semester Genap Tahun Pelajaran 2004/2005 SMK Negeri 1 Tegal (Oleh :
Ibnu Hajar Dewantoro).



B. BIDANG ILMU

Tuliskan bidang ilmu (Jurusan) dari Ketua Peneliti dan kajian masalah yang diteliti. Bidang
penelitian yang diteliti sebaiknya relevan dengan disiplin ilmu guru, misalnya guru matematika tidak
membahas pembelajaran yang ada di pelajaran Biologi. Begitupun sebaliknya. Terkecuali penelitian
yang ditekuninya masih ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Contohnya
pembuatan media pembelajaran.



C. PENDAHULUAN
Penelitian dilakukan untuk memecahkan permasalahan pendidikan dan pembelajaran. Dalam
pendahuluan harus dikemukakan:

1. Latar belakang masalah secara jelas dan sistematis, yang meliputi:

a. Uraian tentang kedudukan mata pelajaran dalam kurikulum (semester, mata pelajaran yang
ditunjang dan mata pelajaran penunjang);

b. Gambaran umum isi mata pelajaran tsb termasuk pembagian waktunya (lampirkan Analisis
Instruksional, RPP, Silabus dari mata pelajaran yang bersangkutan);

c. Metode pembelajaran yang digunakan saat ini.

2. Masalah yang dihadapi guru ditinjau dari hasil belajar yang dicapai siswa selama

proses pembelajaran.

Kriteria masalah yang dapat dibuat PTK adalah :

* Masalah di sekolah/di kelas
* Layak diteliti dan terjangkau PTK
* Perlu ada: identifikasi masalah; analisis masalah.
* Rumusan masalah: singkat; jelas; operasional.
* Bukan permasalahan individual siswa, tetapi masalah kelas;



D. PERUMUSAN MASALAH
Rumuskan masalah penelitian dalam bentuk suatu rumusan penelitian tindakan kelas. Dalam
perumusan masalah dapat dijelaskan definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasan penelitian.
Rumusan masalah sebaiknya menggunakan kalimat tanya dengan mengajukan alternatif tindakan
yang akan diambil dan hasil positif yang diantisipasi.

Kemukakan secara jelas bahwa masalah yang diteliti merupakan sebuah masalah yang nyata terjadi
di kelas, penting dan mendesak untuk dipecahkan. Setelah didiagnosis (diidentifikasi) masalah
penelitiannya, selanjutnya perlu diidentifikasi dan dideskripsikan akar penyebab dari masalah
tersebut.

Pada perumusan masalah perlu diperhatikan :

Substansi:

Perlu mempertimbangkan bobot dan manfaat tindakan yang dipilih untuk meningkatkan dan/atau
memperbaiki pembelajaran

Orisinalitas (tindakan):

Perlu mempertimbangkan belum pernah tidaknya tindakan dilakukan guru sebelumnya

Formulasi: dirumuskan dalam kalimat tanya, tidak bermakna ganda, lugas menyatakan secara
eksplisit dan spesifik apa yang dipermasalahkannya, dan tindakan yang diharapkan dapat mengatasi
masalah tersebut

Teknis:

Mempertimbangkan kemampuan peneliti untuk melaksanakan penelitian, seperti kemampuan
metodologi penelitian, penguasan materi ajar, teori, strategi dan metodologi pembelajaran,
kemampuan menyediakan fasilitas (dana, waktu, dan tenaga).

Contoh perumusan masalah :

* Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan prestasi belajar geografi khusus
kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan pada siswa kelas XII IPS SMA
Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ?
* Apakah pembelajaran berbasis project dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti
pembelajaran pada kompetensi dasar keterampilan dasar peta dan pemetaan kelas XII IPS SMA
Muhammadiyah Wonosari tahun 2007/2008 ?
* Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kualitas proses belajar matematika
siswa SMPN 5 Jepara?
* Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMPN
5 Jepara?



E. CARA PEMECAHAN MASALAH
Uraikan pendekatan dan konsep yang digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, sesuai
dengan kaidah penelitian tindakan kelas (yang meliputi: perencanaan-tindakan-observasi/ evaluasi-
refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklus). Cara pemecahan masalah telah menunjukkan akar
penyebab permasalahan dan bentuk tindakan (action) yang ditunjang dengan data yang lengkap dan
baik.



F. TINJAUAN PUSTAKA
Uraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari
penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan teori, temuan dan bahan penelitian lain yang dipahami
sebagai acuan, yang dijadikan landasan untuk menunjukkan ketepatan tentang tindakan yang akan
dilakukan dalam mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk
menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Pada bagian akhir
dikemukakan hipotesis tindakan yang menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan yang
diharapkan/diantisipasi.



G. TUJUAN PENELITIAN
Kemukakan secara singkat tujuan penelitian yang ingin dicapai dengan mendasarkan pada
permasalahan yang dikemukakan. Tujuan umum dan khusus diuraikan dengan jelas, sehingga
tampak keberhasilannya.



H. KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN
Uraikan kontribusi hasil penelitian terhadap kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran, sehingga
tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan lainnya. Kemukakan inovasi
yang akan dihasilkan dari penelitian ini.



I. METODE PENELITIAN
Uraikan secara jelas prosedur penelitian yang akan dilakukan. Kemukakan obyek, latar waktu dan
lokasi penelitian secara jelas. Prosedur hendaknya dirinci dari perencanaan-tindakan-
observasi/evaluasi-refleksi, yang bersifat daur ulang atau siklis. Tunjukkan siklus-siklus kegiatan
penelitian dengan menguraikan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam satu siklus sebelum pindah
ke siklus lainnya. Jumlah siklus disyaratkan lebih dari dua siklus.



J. JADWAL PENELITIAN
Buatlah jadwal kegiatan penelitian yang meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan
laporan hasil penelitian dalam bentuk bar chart. Contohnya, jadwal kegiatan penelitian disusun
selama 10 bulan.



K. PERSONALIA PENELITIAN
Jumlah personalia penelitian maksimal 3 orang. Uraikan peran dan jumlah waktu yang digunakan
dalam setiap bentuk kegiatan penelitian yang dilakukan. Rincilah nama peneliti, golongan, pangkat,
jabatan, dan lembaga tempat tugas, sama seperti pada Lembar Pengesahan.



Lampiran-lampiran

1. Daftar Pustaka, yang dituliskan secara konsisten menurut model APA, MLA atau Turabian.
2. Riwayat Hidup Ketua Peneliti dan Anggota Peneliti (Bila penelitian berkolaborasi)
3. Cantumkan pengalaman penelitian yang relevan telah dihasilkan sampai saat ini

Proposal Penelitian dibagi 4 yaitu:
1. Proposal Penelitian Pengembangan
2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
3. Proposal Penelitian Kualitatif
4. Proposal Penelitian Kuantitatif

1. Proposal Penelitian Pengembangan
Kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan
masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan
teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan
masalah.

Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan menuntut format dan
sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil
penelitian, karena karakteristik kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda.

Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu permasalahan,
sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecahkan
suatu permasalahan.

2. Proposal Penelitian Kajian Pustaka
Telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada
penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Telaah pustaka
semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai
sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru dan atau untuk keperluan baru.

Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlukan sebagai sumber ide untuk menggali pemikiran
atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari pengetahuan yang sudah ada,
sehingga kerangka teori baru dapat dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.

3. Proposal Penelitian Kualitatif
Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui
pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.
Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan
induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan
penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta
menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keotentikan.

4. Proposal Penelitian Kuantitatif
Suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini
berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti berdasarkan
pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta
pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk
dukungan data empiris di lapangan.





























Hal-hal penting dalam menulis skripsi
MENULIS BAB I
Bab I disebut juga sebagai Bab Pendahuluan yang isinya berupa uraian dan penjelasan
mengenai latar belakang permasalahan yang diteliti, rumusan masalah, identifikasi
masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka berpikir, metode atau prosedur
penelitian, dan jadwal pelaksanaan penelitian. Isi Bab I merupakan pedoman utama bagi
peneliti baik dalam melakukan kegiatan di lapangan (mencari data) maupun dalam
mengolah dan menganalisis data, serta dalam menuliskan laporan penelitiannya. Oleh
karena itu, dalam menulis Bab I peneliti benar-benar harus cermat dan akurat, sehingga isi
Bab-bab selanjutnya benar-benar merupakan rangkaian sistematis yang saling berkaitan,
yang semuanya merujuk pada Bab I.
Bagaimana menulis Latar Belakang Masalah?
Uraian dalam Latar Belakang Masalah (LBM) pada prinsipnya berupa penjelasan dan
penegasan tentang duduk persoalan yang diteliti dan pentingnya penelitian yang dilakukan,
yang berpatokan pada kecenderungan teoretis dan kecenderungan realistis mengenai
fenomena yang diteliti. Dengan demikian, dalam menyusun LBM ini peneliti perlu
mengemukakan secara ringkas kecendererungan-kecenderungan teoretis apa saja yang
dan kecenderungan-kecenderungan realistis apa saja yang relevan dengan fenomena atau
topik penelitiannya.
Dalam menguraikan kecenderungan teoretis, peneliti merujuk pada teori tertentu yang
relevan dengan fenomena yang diteliti, sedangkan dalam menguraikan kecenderungan
realistis peneliti merujuk pada fakta dan data awal hasil temuan (data sekunder) yang juga
berkaitan dengan fenomena yang ditelitinya. Kedua kecenderungan tersebut perlu
dipaparkan serta diindentifikasikan kesenjangannya (gap) agar peneliti dengan mantap
dapat merumuskan permasalahan yang ditelitinya. Sebuah masalah dalam penelitian ilmiah
harus dipandang sebagai kesenjangan (gap) antara aspek-aspek idealistik (teori) dengan
aspek-aspek realistik (fakta atau data sekunder).
Ketidakjelasan permasalahan yang diteliti seringkali disebabkan karena dalam menguraikan
LBM-nya peneliti semata-mata hanya berlandaskan pada pertimbangan logikanya. Padahal
dalam penelitian ilmiah yang bersifat kuantitatif, keberadaan teori adalah mutlak harus baik
sebagai landasan maupun sebagai unsur ilmu yang akan diuji.
Uraian dalam LBM biasanya dilakukan dalam bentuk deduksi, yakni dimulai dengan uraian-
uraian yang bersifat umum dan diakhiri dengan uraian yang bersifat khusus, yakni uraian
yang berkaitan langsung dengan fenomena atau masalah yang diteliti. Dalam
menggambarkan kondisi objektif (aspek realistik), peneliti dapat menggunakan formulasi
seperti dalam bidang jurnalisme: What (apa yang sering terjadi), Who (siapa yang terkait di
dalamnya), When (kapan masalah itu terjadi), Where (di mana maslah itu muncul secara
spesifik), Why (mengapa fenomena tersebut bisa muncul), dan How (bagaimana kaitannya
dengan fenomena yang lain).
Penggambaran tentang apa yang diteliti atau dijelaskan, dalam penelitian komunikasi
(secara kuantitatif), tentu berkaitan dengan fenomena komunikasi, yakni segala gejala yang
berkaitan dengan segala aktivitas manusia sebagai mahluk sosial dalam mengekspresikan
ungkapan hatinya ketika berinteraksi dan berrelasi sosial dengan manusia-manusia lainnya,
baik secara verbal maupun nonverbal, baik secara langsung maupun melalui media. Setiap
gejala komunikasi atau gejala sosial itu dinyatakan dalam bentuk variabel-variabel. Variabel
merupakan konsep yang memiliki variasi nilai, yang berlandaskan pada asumsi teoretis dari
teori a pripori tertentu. Jadi, dalam menetapkan variabel-variabel penelitian, selain
berpedoman pada realitas (fenomena) yang ada, juga harus mengacu pada teori tertentu
yang dianggap relevan untuk digunakan sebagai landasan dalam mengungkapkan
fenomena yang bersangkutan.
Variabel-variabel yang akan diteliti, secara eksplisit harus tercermin di dalam rumusan
masalah, identifikasi masalah, dan tujuan penelitian yang akan diformulasikan setelah
uraian LBM. Oleh karena itu, agar variabel-variabel yang tercantum dalam ketiga subbab itu
tidak terkesan ujug-ujug dan mengada-ada, maka sinyalemennya harus sudah ada pada
LBM. Misalnya, kita akan mengungkapkan fenomena: Bagaimana tingkat pemahaman
mahasiswa tentang materi perkuliahan tertentu serta faktor-faktor apa yang berkaitan
dengan fenomena itu?. Maka yang pertama-tama harus kita jelaskan adalah bahwa tingkat
pemahaman mahasiswa tentang materi perkuliahan merupakan salah satu efek dari proses
belajar dan pembelajaran. Lalu, proses belajar dan pembelajaran kita tegaskan sebagai
salah satu wujud proses komunikasi (komunikasi instruksional). Selanjutnya kita perlu
menelusuri teori apa yang relevan untuk mengungkapkan fenomena efektivitas peroses
belajar (komunikasi instruksional) itu. Misalnya, kita temukakan teori kredibilitas
komunikator yang salah satu asumsi teoretisnya (proposisinya) adalah bahwa perubahan
sikap dan perilaku khalayak sasaran komunikasi dipengaruhi oleh kredibilitas
komunikatornya. Dengan demikian, variabel utama dalam penelitian itu adalah Kredibilitas
Dosen (Varaiebl X) dan Tingkat Pemahaman Mahasiswa Terhadap Materi Perkuliahan
(Variabel Y). Dengan masih merujuk pada teori kredibilitas, kredibilitas komunikator
misalnya diartikan sebagai seperangkat penilaian komunikan pada keahlian (expertness),
sifat-sifat dapat dipercaya (trustworthiness), dan daya tarik (attractiveness) yang dimiliki
komunikator, sedangkan perilaku komunikan diartikan sebagai tingkat pemahaman
mahasiswa pada materi perkuliahan yang diampaikan dosen di ruang kuliah.
Dengan demikian, permasalahan yang kita teliti jelas dasar dan ruang lingkupnya, yakni di
sekitar tingkat pemahaman mahasiswa dikaitkan dengan kredibilitas dosen ketika mengajar
di ruang kuliah, dan ketika masalah tersebut dijabarkan ke dalam identifikasi masalah maka
unsur-unsur kredibilitas yang akan tercermin di dalam identifikasi masalah (keahlian, sifat
dapat dipercaya atau kejujuran, dan daya tarik dosen) jelas asal-usulnya.
Selain karena jelas landasan teorinya, kelayakan permasalahan atau topik yang diteliti
(secara akademik), juga ditentukan oleh penting-tidaknya penelitian yang bersangkutan
dilakukan (the significance of the research) dilihat dari aspek praktis. Penelitian yang kita
lakukan, selain penting atau layak secara akademik juga harus dapat memberikan
kontribusi nyata secara operasional atau atau secara praktis (tataran implementasi). Oleh
karena itu, dalam LBM peneliti juga harus menegaskan kedua kepentingan itu secara jelas
dan lugas, yang secara spesifik nantinya akan dieksplisitkan di dalam rumusan kegunaan
penelitian.
Bagaimana Merumuskan Masalah Penelitian?
Rumusan Masalah adalah penegasan dari adanya kesenjangan antara aspek-aspek
teoretis dan aspek-aspek realistis tentang fenomena yang diteliti, yang sebelumnya telah
diuraikan pada LBM. Rumusan Masalah dalam penelitian ilmiah biasanya diformulasikan
dalam bentuk kalimat pertanyaan. Bagaimana kita membuat rumusan masalah, inilah
contohnya:
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang diteliti
dapat dirumuskan: Apakah ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen dengan
tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan? atau Bagaimana Kredibilitas
dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dan bagaimana tingkat pemahaman
mahasiswa terhadap materi perkuliahannya?
Bagaimana Menyusun Identifikasi Masalah?
Identifikasi Masalah adalah penjabaran lebih lanjut dari rumusan masalah atau rincian
variabel yang terkandung dalam rumusan masalah, di mana rincian variabel tersebut
sinyalemennya sudah diungkapkan pada LBM. Contoh identifikasi masalah (untuk
penelitian korelasional):
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka permasalahan yang diteliti dapat
diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Apakah ada hunbungan yang sigfnifikan antara keahlian dosen dalam proses belajar
dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?
2. Apakah ada hubungan yang signifikan antara kejujuran dosen dalam proses belajar
dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?
3. Apakah ada hubungan yang signifikan antara daya tarik dosen dalam proses belajar
dan pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?

ATAU (untuk penelitian deskriptif)
1. Bagaimana keahlian dosen dalam proses belajar dan pembelajaran?
2. Bagaimana kejujuran dosen dalam proses belajar dan pembelajaran?
3. Bagaimana daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran?
4. Bagaimana tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan?
Bagaimana Menulis Rumusan Tujuan Penelitian?
Tujuan Penelitian adalah hasil yang ingin diperoleh dari kegiatan penelitian. Hasil apa yang
harus ditegaskan, sepenuhnya mengacu pada peranyaan-peranyaan yang dirumuskan
dalam Rumusan Masalah dan/atau Identifikasi Masalah. Dengan demikian, rumusan tujuan
penelitian merupakan bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam rumusan
masalah dan identifikasi masalah. Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk kalimat
pernyataan bukan pertanyaan. Contohnya sebagai berikut:
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan tingkat signifikansi menenai:
1. Hubungan antara keahlian dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan
tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan.
2. pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi perkuliahan.
3. Hubungan antara daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan
tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan.

ATAU Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai:
1. Keahlian, kejujuran, dan daya tarik dosen dalam proses belajar dan pembelajaran di
ruang kuliah.
2. Tingkat pemahaman masiswa pada materi perkuliahan yang disampaikan dosen di
ruang kuliah.

Rumusan tujuan penelitian merupakan pedoman bagi peneliti dalam menentukan arauh
penelitiannya dan akan sangat berimplikasi pada langkah-langkah selanjutnya. Misalnya,
dlam menentukan metodologi atau prosedur penelitian, penentuan lokasi penelitian, bentuk
pelaporan, distribusi laporan, dan lain-lain.
Bagaimana Menulis Kegunaan Penelitian?
Kegunaan penelitian adalah penegasan tentang harapan peneliti bahwa hasil yang
diperoleh penelitiannya dapat memberikan manfaat atau kegunaan nyata baik secara
akademik (kegunaan teoretis) maupun secara operasional (kegunaan praktis). Contoh
rumusan kegunaan penelitian dapat dilihat di bawah ini:

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharpkan dapat memberikan kegunaan sebagai
berikut:
1. Kegunaan Teoreitis
Dapat memperkaya khasanah kajian ilmiah di bidang komunikasi instruksional, khususnya
yang berkaitan dengan kredibilitas dosen dalam hubungannya dengan efektivitas proses
belajar dan pembelajaran di ruang kuliah.
2. Kegunaan Praktis
Dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan di perguruan tinggi
dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar dan
pembelajarannya guna lebih meningkatkan efektivitas proses belajar dan pembelajaraan,
terutama dalam mengembangkan kemampuan dan fungsi para dosen dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran di kelas.
Rumusan kegunaan penelitian, dalam batas-batas tertentu, dapat digunakan untuk menilai
kelayakan penelitian (the significance of the research) yang dilakukan, baik dari aspek
teroretis (akademis) maupun dari aspek praktis (operasional).
Bagaimana Menulis Kerangka Berpikir?
Kerangka Berpikir atau Kerangka Pemikiran dalam sebuah penelitian kuantitatif, sangat
menentukan kejelasan dan validitas proses penelitian secara keseluruhan. Melalui uraian
dalam kerangka berpikir, peneliti dapat menjelaskan secara komprehensif variabel-variabel
apa saja yang diteliti dan dari teori apa variabel-variabel itu diturunkan, serta mengapa
variabel-variabel itu saja yang diteliti. Uraian dalam kerangka berpikir harus mampu
menjelaskan dan menegaskan secara komprehensif asal-usul variabel yang diteliti, yang
sinyalemennya telah dikemukakan pada LBM, sehingga variabel-variabel yang tercatum di
dalam rumusan masalah dan identifikasi masalah semakin jelas asal-usulnya.
Dengan demikian, uraian atau paparan yang harus dilakukan dalam kerangka berpikir
adalah perpaduan antara asumsi-asumsi teoretis dan asumsi-asumsi logika dalam
menjelaskan atau memunculkan variabel-variabel yang diteliti serta bagaimana kaitan di
antara variabel-variabel tersebut, ketika dihadapkan pada kepentingan untuk
mengungkapkan fenomena atau masalah yang diteliti. Di dalam menulis kerangka berpikir,
ada tiga kerangka yang perlu dijelaskan, yakni: kerangka teoretis, kerangka konseptual,
dan kerangka operasional. Kerangka teoretis adalah uraian yang menegaskan tentang teori
apa yang dijadikan landasan serta asumsi-asumsi teoretis yang mana dari teori tersebut
yang akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diteliti. Kerangka
konseptualmerupakan uraian yang menjelaskan konsep-konsep apa saja yang terkandung
di dalam asumsi teoretis yang akan digunakan untuk mengabstraksikan (mengistilahkan)
unsur-unsur yang terkandung di dalam fenomena yang akan diteliti dan bagaimana
hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Kerangka operasional adalah penjelasan
tentang variabel-variabel apa saja yang diturunkan dari konsep-konsep terpilih tadi dan
bagaimana hubungan di antara variabel-variabel tersebut, serta hal-hal apa saja yang
dijadikan indikator untuk mengukur variabel-variabel yang bersangkutan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka dalam menyusun
kerangka berpikir kita harus memulainya dengan menegaskan teori apa yang dijadikan
landasan dan akan diuji atau digambarkan dalam penelitian kita. Lalu dilanjutkan dengan
penegasan tentang asumsi teoretis (theorem) apa yang akan diambil dari teori tersebut
sehingga konsep-konsep dan variabel-variabel yang diteliti menjadi jelas. Selanjutnya, kita
menjelaskan bagaimana cara mengoperasionalisasikan konsep atau variabel-variabel
tersebut sehingga siap untuk diukur. Proses penetapan teori serta penurunannya ke dalam
bentuk konsep dan variabel sebaiknya juga dilengkapi dengan gambar kerangka penelitian.
Contoh Gambar Kerangka Penelitian:
FENOMENA YANG DITELITI
Kredibilitas Dosen dan Tingkat Pemahaman Mahasiswa pada Materi Kuliah
TEORI YANG DIGUNAKAN : Teori Kredibilitas Komunikator
ASUMSI TEORETIS:
Efektivitas komunikasi ditentukan kredibilitas komunikakator yang di dalamnya meliputi
penilaian komunikan pada keahlian, kejujuuan, dan daya tarik yang dimiliki oleh
komunikator.
RUMUSAN MASALAH:
Apakah ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen dalam proses belajar dan
pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan yang
disampaikan oleh dosen di ruang kuliah?
VARIABEL Y
TINGKAT PEMAHAMAN MAHASISWA PADA MATERI KULIAH
VARIABEL X; KREDIBILITAS DOSEN
X1: Keahlian Dosen
X2: Kejujuran Dosen
X3: Daya Tarik Dosen
Walaupun dalam kerangka berpikir itu harus terkandung kerangka teoretis, kerangka
konseptual, dan kerangka operasional, tetapi cara penguraian atau cara pemaparannya
tidak perlu kaku dibuat per subbab masing-masing. Hal yang penting adalah bahwa isi
pemaparan kerangka berpikir merupakan alur logika berpikir kita mulai dari penegasan teori
serta asumsinya hingga munculnya konsep dan variabel-variabel yang diteliti.
Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara ilmiah (memadukan
antara asumsi teoretis dan asumsi logika dalam memunculkan variabel) dengan benar,
maka peneliti harus intens dan eksten menelurusi literatur-literarur yang relevan serta
melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang relevan, sehingga
uraian yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada pertimbangan logika (tidak
sekadar ngecap). Untuk itu, dalam menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti mesti
merujuk pada literatur atau referensi serta laporan-laporan penelitian terdahulu.
Bagaimana Merumuskan Hipotesis Penelitian?
Begitu selesai menyusun kerangka berpikir (kerangka pemikiran), langkah berikutnya yang
harus dilakukan peneliti adalah merumuskan hipotesis (terutama jika penelitiannya
dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif; untuk penelitian deskriptif tidak perlu ada
hipotesis). Hipotesis adalah dugaan sementara yang bersifat tentatif yang diambil dari hasil
penelaahan terhadap asumsi-asumsi teoretis ketika menyusun kerangka pemikiran.
Hipotesis dalam penelitian terbagi ke dalam dua jenis: Hipotesis Teoretis atau Hipotesis Nol
(Ho) dan Hipotesis Penelitian atau Hipotesis Kerja (Hi). Hipotesis Nol dirumuskan dalam
kalimat negatif : Tidak ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen dengan
tingkat pemahaman mahasiswa pada materi kuliah, sedangkan Hipotesis Kerja
dirumuskan dalam kalimat positif: Ada hubungan yang signifikan antara kredibilitas dosen
dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi kuliah. Selanjutnya, hipoteis kerja (Hi)
perlu dijabarkan ke dalam sub-subhipotesis sesuai dengan banyaknya identifikasi masalah
penelitian atau banyaknya subvariabel yang akan dihubungkan satu sama lain. Misalnya,
hipotesis kerja (Hi) di atas dijabarkan kedalam subhipotesis sebagai berikut:
H1: Ada hubungan yang signifikan antara keahlian dosen dalam proses belajar dan
pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi kuliah yang disampaikan
dosen di kruang kuliah.
H2: Ada hubungan yang signifikan antara kejujuran dosen dalam proses belajar dan
pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahsiswa pada materi perkuliahan yang
disampaikan dosen di ruang kuliah.
H3: Ada hubungan yang signifikan antara daya tarik dosen dalam proses belajar dan
pembelajaran dengan tingkat pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan yang
disa,paikan dosen di ruang kuliah.
Bagaimana Menyusun Operasionalisasi Variabel?
Variabel-variabel yang akan diteliti, yang tercermin di dalam identifikasi masalah, bagan
kerangka penelitian, atau dalam rumusan hipotesis, selanjutnya harus
dioperasionalisasikan agar variabel-variabel tersebut dapat diukur dengan tepat sehingga
aspek validitas dan reliabilitas pengukurannya terjamin. Mengoperasionalisasikan variabel
berarti memberikan penjelasan secara operasional bagaimana variabel-variabel itu
didefinisikan (diberikan batasan), indikator-indikator apa yang digunakan untuk
mengukurnya, tingkat atau skala pengukuran apa yang digunakan, dan bagaimana cara
pengukurannya. Oleh karena itu, dalam mengoperasionalisasikan variabel maka langkah-
langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:
1. Mendefinisikan secara operasional seluruh variabel yang akan diteliti atau diukur. Definisi
operasional adalah batasan pengertian tentang variabel yang diteliti yang di dalamnya
sudah mencerminkan indikator-indikator yang akan digunakan untuk mengukur variabel
yang bersangkutan. Definisi operasional berbeda dengan definisi konseptual. Definisi
konseptual adlah batasan pengertian tentang konsep yang masih bersifat abstraks yang
biasanya merujuk pada definisi yang ada pada buku-buku teks. Namun demikian, sebaik-
baiknya definisi operasional adalah definisi yang merujuk atau berlandaskan pada definisi
konseptual. Contoh definisi konseptual: Kredibilitas Komunikator adalah seperangkat
penilaian komunikan terhadap sifat-sifat yang dimiliki oleh komunikator, menyangkut
keahlian, kejujuran, dan daya tarik. Sedangkan contoh definisi operasional adalah:
Keahlian dosen dalam mengajar adalah penilaian mahasiswa tentang kemampuan dosen
dalam menyampaikan materi perkuliahan, menjawab pertanyaan mahasiswa, memberikan
contoh-contoh konkret, dan penguasaan dosen terhadap materi perkuliahan yang
disampaikannya.
2. Menginventarisasi dan mendefinisikan indikator-indikator. Inventarisasi indikator yang
akan digunakan untuk mengukur variabel dapat ditelusuri dari definisi operasional yang
sudah dibuat. Sebagai contoh, untuk menginventarisasi indikator-indikator yang akan
digunakan untuk mengukur keahlian dosen dalam proses belajar dan pembelajaran, kita
dapat menemukan indikator: kemampuan dosen dalam menyampaikan materi perkuliahan,
kemampuan dosen dalam menjawab pertanyaan mahasiswa, kemampuan dosen dalam
memberikan contoh konkret, dan pemahaman dosen mengenai materi perkuliahan yang
disampaikannya. Jika indikator-indikator itu masih memungkinkan menyebabkan penafsiran
yang berbeda-beda, maka indikator tersebut perlu juga untuk didefenisikan lebih lanjut.
3. Menentukan tingkat atau skala pengukuran yang akan digunakan, apakah digunakan
skala nominal, ordinal, interval, atau rasio. Penentuan skala pengukuran ini penting
dilakukan terutama jika penelitian kita dirancang sebagai sebuah penelitian eksplanatif
(misalnya penelitian korelasional), sebab akan menentukan uji statistik inferensial yang
mana yang sesuai untuk digunakan dalam menguji hipotesis penel;itian yang telah
dirumuskan.
4. Menentukan cara atau mekanisme pengukuran variabel, yaklni menentukan alat atau
instrumen apa yang akan digunakan serta bagaimana cara penggunaannya. Misalnya, kita
akan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner atau angket, dan kita harus
menjelaskan mengapa instrumen itu yang dipilih dan bagaimana cara penggunaannya.
Bagaimana Menyusun Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen?
Apabila instrumen penelitaian, misalnya, kuesioner atau angket, yang kita gunakan disusun
sendiri dan belum terbukti validitas dan reliablitasnya, maka instrumen itu harus diuji tingkat
validitas dan reliabilitasnya. Validitas instrumen menyangkut tingkat ketepatan alat ukur itu
untuk digunakan mengukur apa yang akan kita ukur. Sedangkan reliabilitas instrumen
menyangkut tingkat ketetapan hasil pengukuran yang diperoleh jika instrumen tersebut
digunakan beruiang-ulang pada waktu dan tempat yang berbeda.
Banyak pilihan untuk menetukan validitas instrumen penelitian, misalnya validitas konstruk,
validitas isi, validitas prediktif, validitas eksternal, dan lain-lain. Begitupula mekanisme uji
reliabilitas instrumen (Silakan baca buku-buku metode penelitian kuantitatif yang ada di
lemari buku Anda!).
Bagaimana Menyusun Metodologi atau Prosedur Penelitian?
Prosedur atau metode peneliian adalah cara-cara yang ditempuh atau digunakan dalam
melakukan kegiatan penelitian. Untuk menentukan prosedur penelitian apa dan bagaimana
mengimplementasikannya, kita dapat berpedoman pada identifikasi masalah dan tujuan
penelitian yang sebelumnya sudah dirumuskan.
Hal-hal yang perlu ditegasdkan dalam uraian metodologi atau prosedur penelitian meliputi:
desain atau rancangan dan metode penelitian, jenis data dan sumber data yang digunakan,
teknik pengumpulan data yang digunakan, teknik analisis data yang digunakan, dan
populasi penelitian serta teknik sampling yang digunakan, dan (mungkin juga) jadwal dan
lokasi penelitian.
Contoh uraian prosedur penelitian (secara ringkas):
Penelitian ini dirancang sebagai sebuah penelitian survei yang bersifat eksplanatori atau
eksplanatif dengan menggunakan metode korelasional. Pengunaan desain dan metode
tersebut didasarkan pada tujuan penelitian, yakni ingin menemukan tingkat signifikansi
antara kredibilitas dosen dalam proses belajar dan pembelajaran dengan tingkat
pemahaman mahasiswa pada materi perkuliahan. Untuk mengukur variabel-variabel yang
diteliti, digunakan dua jenis data yakni data primer dan data sekunder. Data Primer
bersumber langsung dari responden penelitian dan pihak-pihak yang relevan, sedangkan
data sekunder bersumber pada dokumentasi serta referensi-referensi yang relevan. Untuk
memperoleh data primer digunakan teknik pengumpulan data berupa penyebaran
kuesioner kepada seluruh responden, wawancara tak berstruktur dengan pihak-pihak
terkait, dan observasi nonpartisipatori dalam kegiatan yang menjadi objek penelitian. Untuk
menentukan responden sebagai sumber utama data primer, maka populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Fikom Unpad yang secara resmi terdaftar pada
semester genap tahun 2007/2008, sedangkan untuk menentukan sampel penelitian
(responden) digunakan teknik sampling random sederhana (simple random sampling
technique). Berdasarkan data pada Sub Bagian Pendidikan Fikom Unpad, jumlah
mahasiswa yang terdaftar resmi pada semester genap 2007/2008 sebanyak 7.824 orang.
Dengan demikian, ukuran populasi penelitian(N populasi) ini adalah 7.824 orang.
Penentuan ukuran sampel (n sampel) digunakan perhitungan dengan rumus Slovin.
Selanjutnya data yang berhasil djaring melalui instrumen penelitian akan dianalisis baik
dengan menggunakan analisis statistik deskriptif (untuk menggambarkan variabel demi
variabel) maupun dengan menggunakan statistik inferensial (untuk menguji hipotesis).
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan rumus uji Korelasi Rank Spearman
(Spearmans Rank Order Correlation). Penentuan uji ini didasarkan pada skala pengukuran
yang digunakan, yakni skala ordinal. Adapun kriteria pengujian hipotesisnya adalah: Tolak
Ho jika rs hasil perhitungan sama dengan rs pada Tabel Harga Kritis untuk rs pada derajat
kebebasab df = n-2 dan taraf signifikansi = 0,01 untuk tes dua arah. Dalam beberapa hal
akan juga digunakan kriteria: Tolak Ho jika nilai t hasil perhitungan sama dengan atau lebih
besar daripada nilai t pada Tabel Harhga-harga Kritis untuk t pada df = n -2 dan taraf
signifikansi = 0,01 untuk tes dua arah.
Dalam tataran konkret, uraian prosedur atau metode penelitian hendaknya disusun per
subpokok bahasan masing-masing item, secara jelas dan komprehensif. Jadi, perlu ada
sub bahasan tentang: desain dan metode penelitian, jenis data dan sumber data, teknik
pengumpulan data, populasi dan teknik sampling, teknik analisis data, dan lain-lain.

MENULIS BAB II
Bab II biasanya diberi judul TINJAUAN PUSTAKA atau TINJAUAN TEORETIS, yang isinya
memaparkan aspek-aspek teoretis tentang fenomena atau masalah yang diteliti. Kekeliruan
yang seringkali dilakukan oleh peneliti dalam menulis Bab II ini adalah bahwa peneliti sering
terjebak untuk menguraikan segala hal ikhwal yang berasal dari referensi tanpa
memperhatikan relevansinya. Ada anggapan bahwa semakin banyak kutipan yang
ditampilkan semakin baik isi Bab II, semakin tebal halamannya semakin keren. Hal ini jelas
KELIRU!!!. Isi Bab II bukan merupakan book report atau book review atau pamer kutipan,
tetapi harus merupakan pemaparan yang lebih menegaskan kerangka pemikiran peneliti
dalam memunculkan variabel-variabel yang ditelitinya serta konteks penelitiannya. Oleh
karena itu, isi pemaparan Bab II selayaknya dimulai dengan pemaparan tentang teori yang
dijadikan landasan dalam penelitian secara lebih komprehensif daripada apa yang sudah
dipaparkan dalam kerangka pemikiran.Seluruh uraian pada Bab II harus lebih bersifat
teoretis dengan tanpa atau sedikit sekali memasukkan unsur logika peneliti.
Dengan demikian, sumber rujukan pokok dalam menulis Bab II adalah referensi atau
literatur . Referensi atau literatur yang digunakan bisa berupa buku-buku teks, laporan
penelitian terdahulu, situs internet, tulisan pada jurnal ilmiah, artikel di media massa, dan
dokumentasi tertulis lainnya.
Sebagai contoh, isi pemaparan pada Bab II dapat disusun sebagai berikut:
2.1 Konsep Dasar Kredibilitas Komunikator
2.2 Asumsi-asumsi Teoretis dalam Teori Kredibilitas
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Belajar dan Pembelajaran
2.4 Proses Belajar dan Pembelajaran Sebagai Kegiatan Komunikasi Instruksional
2.5 Peran dan Fungsi Pengajar dalam Mewujudkan Efektivitas Belajar Mengajar
dan seterusnya.

MENULIS BAB III
Dalam penelitian kuantitatif, isi Bab III pada umumnya berisi uraian mengenai objek
penelitian, sehingga diberi judul Gambaran Umum tentang Objek Penelitian (misalnya,
Gambaran Umum Proses Belajar dan Pembelajaran di Fikom Unpad). Subpokok
bahasannya, dapat dimulai dengan menguraikan sejarah keberadaan objek yang diteliti,
karakteristik umum dan karakteristik khusus objek yang diteliti, sarana dan prasarana,
aspek sumber daya manusia, dan lain-lain.
Namun demikian, isi Bab III ada kalanya bukan sekadar memaparkan gambaran umum
objek yang diteliti tetapi juga memaparkan metodologi penelitian. Jika ini yang dipilih, maka
uraian metodologi penelitian yang sudah diuraikan pada Bab I harus dijelaskan pada Bab
III, dengan lebih menekankan pada aspek implementatisinya secara nyata dalam proses
penelitian kita. Awas, jangan sampai terjebak pada tindakan sekadar untuk memindahkan
teori metodologi dari buku-buku ke dalam uraian metodologi dalam penelitian kita.
Pemaparan metodologi pada Bab III ini benar-benar harus berupa penjelasan tentang
langkah-langkah konkret yang kita lakukan dalam melaksanakan kegiatan penelitian kita.

MENULIS BAB IV
Uraian pada Bab IV biasanya berisi deskripsi dan pembahasan hasil penelitian yang
diperoleh. Pendeskripsian yang dilakukan menyangkut data hasil penelitian, baik data
mengenai responden maupun data mengenai hasil pengukuran variabel-variabel yang
diteliti.
Penggambaran data karakteristik responden perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran
yang komprehensif tentang bagaimana keadaan responden penelitian kita, yang boleh jadi
diperlukan untuk mengelaborasi data hasil pengukuran variabel-variabel yang diteliti jika
sekiranya terdapat data yang memerlukan penjelasan dan penafsiran lebih lanjut.
Sementara itu pendeskripsian data hasil pengukuran variabel (data penelitian) diperlukan
untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang variabel-variabel yang diteliti,
satu demi satu, sehingga dapat dilakukan analisis dan interpretsi secara parsial sebagai
bahan utama untuk nanti membuat analisis data secara menyeluruh dan menyimpulkan
hasil penelitian.
Setelah dilakukan deskripsi data, khususnya untuk penelitian eksplanatif yang
mengharuskan adanya pengujian hipotesis, analisis data dan pembahasan hasil penelitian
perlu dilakukan dengan menggunakan analisis statistik inferensial. Di sini dipaparkan
bagaimana proses dan hasil pengujian statistik inferensial itu, apakah terjadi penolakan
hipotesis atau sebaliknya.
Bagaimana cara melakukan analisis deskriptif?
Analisis deskriptif dilakukan pada data hasil pengolahan statistik deskriptif, yang biasanya
dipresentasikan pada tabel-tabel distribusi frekuensi, baik tabel tunggal maupun tabel
silang.Tabel tunggal adalah tabel yang berisi data hasil pengukuran satu variabel,
sedangkan tabel silang adalah tabel yang berisi data hasil pengukuran dua variabel atau
lebih.
Selanjutnya, data yang dipresentasikan dalam tabel-tabel distribusi frekuensi perlu
dideskripsikan secara naratif (dengan catatan: tidak harus berupa pengulangan dari isi
tabel), yakni memaparkan secara sistematik bagaimana hasil pengukuran variabel-varlabel
yang diteliti. Lalu dilakukan analisis, yakni mengupas atau mengkritisi data dengan
menggunakan konsep-konsep atau asumsi teoretis yang sudah diungkapkan pada Bab II
(Tinjauan Pustaka). Apa yang tercantum pada Bab II adalah aspek idealitas (teoretis),
sedangkan data yang dihasilkan adalah aspek realitas dari fenomena yang diteliti. Dengan
demikian, menganalisis data berarti membandingkan secara kritis data hasil temuan
dengan asumsi-asum teoretis. Selanjutnya, berikan interpretasi atas data yang dianilisis
tersebut, sehingga peneliti memperoleh kesimpulan secara parsial. Analisis deskriptif
dilakukan terhadap setiap variabel, satu demi satu secara sistematis.
Bagaimana cara melakukan analisis statistik inferensial?
Analisis statistik inferensial, sebagaimana telah diungkapkan di bagian terdahulu, adalah
pemaparan, pengupasan, dan penafsiran data sehubungan dengan pengujian hipotesis.
Data hasil pengujian hipotesis melalui uji statistik inferensial perlu dipaparkan dan dianalisis
apa maknanya, lalu bahas dengan asumsi-asumsi teoretis yang sudah ada pada Bab II.
Hasil pemaknaan itulah yang harus dijadikan bahan utama dalam pembahasan dan
penyimpulan.
Bagaimana Menetapkan Pokok Bahasan?
Sistematika bahasan pada Bab IV seyogyanya disusun berdasarkan urutan dalam
menjawab identifikasi masalah atau tujuan penelitian. Oleh karena itu, jika penelitian kita
mengandung tiga tujuan penelitian, maka isi pokok bahasan pada Bab IV setidak-tidaknya
mengandung tiga pokok bahasan tersebut, yang boleh jadi sebelumnya diawali dengan
pokok bahasan mengenai karakteristik responden penelitian.

MENULIS BAB V
Bab V biasanya berisi kesimpulan dan saran penelitian. Berapa banyak kesimpulan
penelitian yang harus dibuat? Apa saja yang harus disimpulkan? Berapa banyak saran
yang harus diajukan? Apa saja yang harus disarankan? Hal-hal itu seringkali menjadi
pertanyaan klasik peneliti ketika akan mulai menulis Bab V.
Banyaknya kesimpulan dan apa yang harus dsimpulkan tergantung pada jumlah dan isi
tujuan penelitian, sedangkan isi kesimpulannya tergantung pada hasil penelitian dan
pembahasan yang ada pada Bab IV. Sedangkan saran penelitian, aspeknya harus merujuk
pada rumusan kegunaan penelitian yang sudah diungkapkan pada Bab I dan isinya
tergantung pada isi kesimpulan penelitian. JIka kesimpulan dan saran penelitian itu disusun
seperti yang dikemukakan di atas, maka tidak ada alasan bagi orang lain untuk menuduh
bahwa kesimpulan penelitian kita mengada-ngada, atau saran yang kita ajukan adalah
saran sok tahu. Oke, selamat bekerja!