Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Masalah Utama
Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Definisi
Halusinasi adalah penyerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indra sesorang pasien
yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik, psikotik ataupun histerik
(Maramis, 1994).
Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang
sebenarnya tidak terjadi.
Halusinasi adalah suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indra
tanpa stimuli ekstern; persepsi palsu (Lubis, 1993).

2. Teori yang Menjelaskam Halusinasi (Stuart dan Sundeen, 1995)
a) Teori Biokimia
Terjadi sebagai respons metabolism terhadap stress yang mengakibatkan terlepasnya zat
halusinogenik neurotic (buffofenon dan dimethytransferase)
b) Teori Psikoanalisis
Merupakam respons pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang mengancam
dan ditekan untuk muncul dalam alam sadar.

3. Jenis Halusinasi serta Data Objektif dan Subjektif
Berikut akan dijelaskan mengenai cirri-ciri yang objektif dan subjektif pada klien dengan
halusinasi





Jenis Halusinasi Data Objektif Data Subjektif
Halusinasi Dengar
(klien mendengar suara
atau bunyi yang tidak ada
hubungannya dengan
stimulus yang nyata atau
lingkungan)
Bicara atau tertawa
sendiri
Marah-marah
tanpa sebab
Mendekatkan
telinga ke arah tertentu
Menutup telinga
Mendengar suara-
suara atau kegaduhan
Mendengar suara
yang mengajak bercakap-
cakap
Mendengar suara
menyuruh melakukan
sesuatu yang berbahaya
Halusinasi penglihatan
(klien melihat gambaran
yang jelas atau samar
terhadap adanya stimulus
yang nyata dari lingkungan
dan orang lain tidak
melihatnya).
Menunjuk-nunjuk
ke arah tertentu
Ketakutan pada
sesuatu yang tidak jelas
Melihat bayangan, sinar,
bentuk geometris, kartun,
melihat hantu, atau
monster.
Halusinasi penciuman
(klien mencium suatu
bau yang muncul dari
sumber tertentu tanpa
stimulus yang nyata)
Mengendus-endus
seperti sedang membaui
bau-bauan tertentu
Menutup hidung
Membaui bau-bauan
seperti bau darah, urine,
feses, dan terkadang bau-
bau tersebut menyenangkan
bagi klien.
Halusinasi pengecapan
(klien merasakan
sesuatu yang tidak nyata,
biasanya merasakan rasa
makanan yang tidak enak)
Sering meludah
Muntah
Merasakan rasa seperti
darah, urine, atau feses.
Halusinasi perabaan Menggaruk-garuk Mengatakan ada
serangga di permukaan kulit
(klien merasakan
sesuatu pada kulitnya tanpa
ada stimulus yang nyata)
permukaan kulit. .
Merasa seperti
tersengat listrik.
Halusinasi Kinestetik
(klien merasa badannya
bergerak dalam suatu
ruangan atau anggota
badannya bergerak).
Memegang kakinya yang
dianggapnya bergerak
sendiri.
Mengatakan badannya
melayang di udara.
Halusinasi Viseral
(perasaan tertentu
timbul).
Memegang badannya
yang dianggapnya berubah
bentuk dan tidak normal
seperti biasanya.
Mengatakan perutnya
menjadi mengecil setelah
minum soft drink.

4. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat
dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari klien maupun keluarganya.
Faktor predisposisi dapat meliputi factor perkembangan, sosiokultural, biokimia, psikologis, dan
genetik.

a) Faktor Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal terganggu, maka
individu akan mengalami stress dan kecemasan.
b) Faktor Sosiokultural
Berbagai factor di masyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa disingkirkan, sehingga
orang tersebut merasa kesepian di lingkungan yang membesarkannya.
c) Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Jika seseorang mengalami stress yang
berleihan, maka di dalam tubuhnya akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
nuorokimia seperti buffofenon dan dimethytranferase (DMP).
d) Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda bertentangan yang
sering diterima oleh seseorang akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir
pada gangguan orientasi realitas.
e) Faktor Genetik
Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan
bahwa factor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

5. Faktor Presipitasi
Factor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman,
atau tuntutan yang memerlukan energy ekstra untuk menghadapinya. Adanya rangsangan dari
lingkungan, seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama tidak diajak berkomunikasi, objek
yang ada di lingkungan, dan juga suasana sepi atau terisolasi sering menjadi pencetus terjadinya
halusinasi. Hal tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh
mengeluarkan zat halusinogenik.
6. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa rasa curiga, takut, tidak aman, gelisah dan
bingung, berperilaku yang merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan,
serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Rawlins dan Heacock (1993)
mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan seseorang
individu sebagai mahluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga
halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi yaitu sebagai berikut.
a) Dimensi Fisik
Manusia dibangun oleh system indra untuk menanggapi rangsangan eksternal yang diberikan
oleh lingkungannya. Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang
luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alcohol, dan kesulitan
untuk tidur dalam waktu yang lama.
b) Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan karena problem atau masalah yang tidak dapat diatasi
merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga berbuat sesuatu
terhadap ketakutannya.
c) Dimensi Intelektual
Dimensi intelektual menerangkan bahwa individu yang mengalami halusinasi akan
memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego
sendiri untuk melawan impuls yang menekan, tetapi pada saat tertentu menimbulkan kewaspadaan
yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku
klien.
d) Dimensi Sosial
Dimensi social pada individu yang mengalami halusinasi menunjukkan kecenderungan untuk
menyendiri. Individu asyik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk
memenuhi kebutuhan akan interaksi social, control diri, dan harga diri yang tidak didapatkan dalam
dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan system control oleh individu tersebut, sehingga jika perintah
halusinasi berupa ancaman, ,maka hal tersebut dapat mengancam dirinya atau orang lain. Oleh
karena itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan pada klien yang mengalami
halusinasi adalah dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan pengalaman
interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan agar klien tidak menyendiri. Jika klien selalu
berinteraksi dengan lingkungannya diharapkan halusinasi tidak terjadi.
e) Dimensi Spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai mahkluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya
merupakan kebutuhan yang mendasar. Klien yang mengalami halusinasi cenderung menyendiri
hingga proses di atas tidak terjadi. Individu tidak sadar dengan keberadaannya dan halusinasi
menjadi system control dalam individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya, individu
kehilangan control terhadap kehidupan nyata.
7. Sumber Koping
Sumber koping merupakan suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang.
Individu dapat mengatasi stress dan ansietas dengan menggunakan sumber koping yang ada di
lingkungannya. Sumber koping tersebut dijadikan sebagai modal untuk menyelesaikan masalah.
Dukungan social dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman
yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang efektif.
8. Mekanisme Koping
Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang diarahkan pada pengendalian stress, termasuk
upaya penyelesaian masalah secara langsung dan mekanisme pertahanan lain yang digunakan untuk
melindungi diri.
9. Tahapan Halusinasi
Tahap Ciri-ciri
Perilaku yang dapat
diobservasi
Comforting
Halusinasi
menyenangkan,
Cemas
ringan
Klien yang berhalusinasi mengalami
emosi yang intense seperti cemas,
kesepian, rasa bersalah, dan takut dan
mencoba untuk berfokus pada pikiran
yang menyenangkan untuk
menghilangkan kecemasan. Seseorang
mengenal bahwa pikiran dan
pengalaman sensori berada dalam
kesadaran control jika kecemasan
tersebut bisa dikelola.
Tersenyum lebar,
menyeringai tetapi
tampak tidak tepat
Menggerakan bibir
tanpa membuat suara
Pergerakan mata
yang cepat
Respon verbal yang
lambat seperti asyik
Diam dan tampak
asyik
Comdemni
ng
Halusinasi
menjijikan,
Cemas
sedang
Penngalaman sensori menjijikan dan
menakutkan. Klien yang berhalusinasi
mulai merasa kehilangan control dan
mungkin berusaha menjauhkan diri,
serta merasa malu dengan adanya
pengalaman sensori tersebut dan
menarik diri dari orang lain.
Ditandai dengan
peningkatan kerja
system saraf autonomic
yang menunjukan
kecemasan misalnya
terdapat peningkatan
nadi, pernafasan dan
tekanan darah.
Rentang perhatian
menjadi sempit
Asyik dengan
penngalaman sensori
dan mungkin kehilangan
kemampuan untuk
membedakan halusinasi
dengan realitas.
Controlling
Pengalama
n sensori
berkuasa,
Cemas
berat
Klien yang berhalusinasi menyerah
untuk mencoba melawan pengalaman
halusinasinya. Isi halusinasi bisa menjadi
menarik/meimkat. Seseorang mungkin
mengalami kesepian jika pengalaman
sensori berakhir.
Arahan yang
diberikan halusinasi
tidak hanya dijadikan
objek saja oleh klien
tetapi mungkin akan
diikitu/dituruti
Klien mengalami
kesulitan berhubungan
dengan orang lain
Rentang perhatian
hanya dalam beberapa
detik atau menit
Tampak tanda
kecemasan berat seperti
berkeringat, tremor,
tidak mampu mengikuti
perintah.
Conquering
Melebur
dalam
pengaruh
halusinasi,
Panic
Pengalaman sensori bisa mengancam
jika klien tidak mengikuti perintah dari
halusinasi. Halusinasi mungkin berakhir
dalam waktu empat jam atau sehari bila
tidak ada intervensi terapeutik
Perilakku klien
tampak seperti dihantui
terror dan panic
Potensi kuat untuk
bunuh diri dan
membunuh orang lain
Aktifitas fisik yang
digambarkan klien
menunjukan isi dari
halusinasi misalnya klien
melakukan kekerasan,
agitasi, menarik diri atau
katatonia
Klien tidak dapat
berespon pada arahan
kompleks
Klien tidak dapat
berespon pada lebih
dari satu orang

C. Pohon Masalah

Effect Risiko Tinggi Perilaku Kekerasan






Perubahan Persepsi Sensori:
Halusinasi

Care Problem





Causa Isolasi Sosial





Harga Diri Rendah Kronis


D. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul
1. Resiko Tinggi Perilaku Kekerasan
2. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
3. Isolasi social








4. Harga Diri Rendah Kronis
E. Data yang Perlu Dikaji

Masalah Keperawatan Data yang Perlu Dikaji
Perubahan persepsi sensori:
halusinasi
Subjektif:
a) Klien mengatakan mendengar
sesuatu
b) Klien mengatakan melihat
bayangan putih
c) Klien mengatakan dirinya
seperti disengat listrik
d) Klien mencium bau-bauan yang
tidak sedap, seperti feses
e) Klien mengatakan kepalanya
melayang di udara
f) Klien mengatakan dirinya
merasakan ada sesuatu yang berbeda
pada dirinya.

Objektif:
a) Klien terlihat bicara atau
tertawa sendiri saat dikaji
b) Bersikap seperti
mendengarkan sesuatu
c) Berhenti bicara di tengah-
tengah kalimat untuk mendengarkan
sesuatu
d) Disorientasi
e) Konsentrasi rendah
f) Pikiran cepat berubah-ubah
g) Kekacauan alur pikiran


F. Diagnosis Keperawatan
Perubahan Sensori Persepsi: halusinasi

G. Rencana Tindakan Keperawatan
1) Tindakan Keperawatan pada klien
a) Tujuan tindakan untuk klien adalah sebagai berikut
1. Klien dapat mengenal halusinasi yang dialaminya
2. Klien dapat mengontrol halusinasinya
3. Klien mengikuti program pengobatan secara optimal
b) Tindakan Keperawatan
1.Membantu klien mengenal halusinasi
Dalam membantu klien mengenal halusinasinya, perawat dapat berdiskusi dengan klien tentang
isi halusinasi (apa yang didengar, dilihat atau dirasa), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya
halusinasi, situasi yang menyebabkan terjadinya halusinasi, dan respon klien saat halusinasi itu
muncul.
2. Melatih klien mengontrol halusinasi
a. Menghardik halusinasi
~ Menjelaskan cara menghardik halusinasi
~ Memperagakan cara menghardik
~ Meminta klien memperagakan ulang
~ Memantau penerapan cara, menguatkan perilaku klien.
b. Bercakap-cakap dengan orang lain
Bercakap-cakap dengan orang lain dapat membantu mengontrol halusinasi, ketika klien
bercakap-cakap dengan orang lain terjadi distraksi yaitu focus perhatian klien akan beralih dari
halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain. Anjurkan atau ingatkan kepada klien
bahwa ketika waktu-waktu yang diperkirakan sebagai waktu halusinasi tersebut muncul maka kien
diharapkan langsung mencari teman untuk bercakap-cakap.
c. Melakukan aktivitas yang terjadwal
~ Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi
~ Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan klien
~ Melatih klien melakukan aktivitas
~ Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan
agar klien memiliki aktivitas muali dari bangun pagi sampai dengan tidur malam.
d. Minum obat secara teratur
~ Jelaskan kegunaan obat
~ Jelaskan akibat putus obat
~ Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
~ Jelaskan cara minum obat dengan prinsip 6B plus.

2) Tindakan Keperawatan pada Keluarga Klien
a) Tujuan tindakan untuk keluarga
Keluarga dapat merawat klien di rumah dan menjadi system pendukung yang efektif untuk klien.
b) Tindakan keperawatan
Keluarga merupakan factor vital dalam penanganan klien gangguan jiwa di rumah. Hal ini
mengingat keluarga adalah system pendukung terdekat dan orang yang bersama-sama dengan klien
selama 24 jam. Keluarga sangat menentukan apakah klien akan kambuh atau tetap sehat. Keluarga
yang mendukung klien secara konsisten akan membuat klien mampu mempertahankan program
pengobatan secara optimal. Namun demikian, jika keluarga tidak mampu merawat maka klien akan
kambuh, bahkan untuk memulihkannya kembali akan sangat sulit. Oleh karena itu, perawat harus
melatih keluarga klien agar mampu merawat klien gangguan jiwa di rumah.
Pendidikan kesehatan kepada keluarga dapat dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama
adalah menjelaskan tentang masalah yang dialami oleh klien dan pentingnya peran keluarga untuk
mendukung klien. Tahap kedua adalah melatih keluarga untuk merawat klien, dan tahap ketiga yaitu
melatih keluarga untuk merawat klien langsung.
Informasi yang perlu disampaikan kepada keluarga meliputi pengertian halusinasi, jenis
halusinasi yang dialami oleh klien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, cara
merawat klien halusinasi (cara berkomunikasi, pemberian obat, dan pemberian aktivitas kepada
klien), serta sumber-sumber pelayanan kesehatan yang bisa dijngkau.














STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
Pertemuan : Ke- 1 (Pertama)
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien terlihat bicara atau tertawa sendiri, marah-marah tanpa sebab, mendekatkan telinga kea
rah tertentu, dan menutup telinga. Klien mengatakan mendengar suara-suara atau kegaduhan,
mendengar suara yang mengajaknya bercakap-cakap, dan mendengar suara menyuruh melakukan
sesuatau yang berbahaya.

2. Diagnosis Keperawatan
Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi

3. Tujuan Khusus/SP 1
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya, dengan criteria sebagai berikut.
1) Ekspresi wajah bersahabat
2) Menunjukkkan rasa senang
3) Klien bersedia diajak berjabat tangan
4) Klien bersedia menyebutkan nama
5) Ada kontak mata
6) Klien bersedia duduk berdampingan dengan perawat
7) Klien bersedia mengutarakan masalah yang dihadapinya.
b. Membantu klien mengenal halusinasinya
c. Mengajarkan klien mengontrol halusinasinya dengan menghardik halusinasi
4. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik
1) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal
2) Perkenalkan diri dengan sopan
3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
4) Jelaskan tujuan pertemuan
5) Jujur dan menepati janji
6) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
7) Beri perhatian kepada klien dan memperhatikan kebutuhan dasar klien.
b. Bantu klien mengenal halusinasinya yang meliputi isi, waktu terjadi halusinasi, frekuensi,
situasi pencetus, dan perasaan saat terjadi halusinasi
c. Latih klien untuk mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Tahapan tindakan yang
dapat dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Jelaskan cara menghardik halusinasi
2) Peragakan cara menghardik halusinasi
3) Minta klien memperagakan ulang
4) Pantau penerapan cara ini dan beri penguatan pada perilaku klien yang sesuai
5) Masukkan dalam jadwal kegiatan klien

B. Strategi Komunikasi Pelaksanaan
1. Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi, assalamualaikum.. Boleh Saya kenalan dengan Ibu? Nama Saya..
boleh panggil Saya Saya Mahasiswa Keperawatan. Saya
sedang praktik di sini dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB siang. Kalau boleh Saya
tahu nama Ibu siapa dan senang dipanggil dengan sebutan apa?
b. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Bagaimana tidurnya tadi malam? Ada keluhan tidak?
c. Kontrak
1) Topik
Apakah Ibu tidak keberatan untuk ngobrol dengan saya? Menurut ibu sebaiknya kita ngobrol
apa ya? Bagaimana kalau kita ngobrol tentang suara dan sesuatu yang selama ini Ibu dengar dan
lihat tetapi tidak tampak wujudnya?
2) Waktu
Berapa lama kira-kira kita bisa ngobrol? Ibu maunya berapa menit? Bagaimana kalau 10 menit?
Bisa?
3) Tempat
Di mana kita duduk? Di teras? Di kursi panjang itu, atau mau di mana?

2. Kerja
Apakah Ibu mendengar suara tanpa ada wujudnya?
Apa yang dikatakan suara itu?
Apakah Ibu melihat sesuatu atau orang atau bayangan atau mahluk?
Seperti apa yang kelihatan?
Apakah terus-menerus terlihat dan terdengar, atau hanya sewaktu-waktu saja?
Kapan paling sering Ibu melihat sesuatu atau mendengar suara tersebut?
Berapa kali sehari Ibu mengalaminya?
Pada keadaan apa, apakah pada waktu sendiri?
Apa yang Ibu rasakan pada saat melihat sesuatu?
Apa yang Ibu lakukan saat melihat sesuatu?
Apa yang Ibu lakukan saat mendengar suara tersebut?
Apakah dengan cara itu suara dan bayangan tersebut hilang?
Bagaimana kalau kita belajar cara untuk mencegah suara-suara atau bayangan agar tidak
muncul?
Ibu ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul.
Pertama, dengan menghardik suara tersebut.
Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.
Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal.
Keempat, minum obat dengan teratur.
Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik.
Caranya seperti ini:
1) Saat suara-suara itu muncul, langsung Ibu bilang, pergi Saya tidak mau dengar
Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu diulang-ulang sampai suara itu tidak terdengar
lagi. Coba ibu peragakan! Nah begitu.. bagus! Coba lagi! Ya bagus Ibu sudah bisa.
2) Saat melihat bayangan itu muncul, langsung Ibu bilang, pergi Saya tidak mau
lihat. Saya tidak mau lihat. Kamu palsu. Begitu diulang-ulang sampai bayangan itu tak
terlihat lagi. Coba Ibu peragakan! Nah begitu.. bagus! Coba lagi! Ya bagus Ibu sudah bisa.
3. Terminasi
a. Evaluasi subjektif
Bagaimana perasaan Ibu dengan obrolan kita tadi? Ibu merasa senang tidak dengan latihan
tadi?
b. Evaluasi objektif
Setelah kita ngobrol tadi, panjang lebar, sekarang coba Ibu simpulkan pembicaraan kita tadi.
Coba sebutkan cara untuk mencegah suara dan atau bayangan itu agar tidak muncul lagi.
c. Rencana tindak lanjut
Kalau bayangan dan suara-suara itu muncul lagi, silakan Ibu coba cara tersebut! Bagaimana
kalau kita buat jadwal latihannya. Mau jam berapa saja latihannya?
(Masukkan kegiatan latihan menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian klien).
d. Kontrak yang akan datang
1) Topik
Ibu, bagaimana kalau besok kita ngobrol lagi tentang caranya berbicara dengan orang lain saat
bayangan dan suara-suara itu muncul?
2) Waktu
Kira-kira waktunya kapan ya? Bagaimana kalau besok jam 09.30 WIB, bisa?
3) Tempat
Kira-kira tempat yang enak buat kita ngobrol besok di mana ya? Sampai jumpa besok.
Wassalamualaikum,

DAFTAR PUSTAKA

Fitria,Nita.2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( LP & SP ) untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi
Program S1 Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta