Anda di halaman 1dari 21

1

LAPORAN KASUS
BLIGHTED OVUM

Pembimbing :
Dr. Bobbin Amirul N, Sp.OG

Penyusun :
Yudhistira Adi W
2010730116


Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta

2


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Blighted Ovum tepat
pada waktu. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga,
serta para pengikutnya hingga akhir zaman. Laporan kasus ini dibuat dengan tujuan
memenuhi tugas di stase obstetri dan ginekologi, juga menambah khazanah ilmu.
Terimakasih penulis ucapkan kepada dosen pembimbing dr. Bobbin Amirul N,
Sp.OG yang telah membantu serta membimbing penulis dalam kelancaran pembuatan Referat
ini.
Sesungguhnya kesempurnaan itu hanyalah milik-Nya, dan penulis menyadari bahwa
tidak ada sesuatu yang dihasilkan manusia dalam bentuk sempurna, karena segala sesuatu
selain-Nya pasti memiliki kekurangan, seperti laporan kasus yang penulis buat, masih banyak
sekali kekurangannya.
Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata
penulis berharap semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
semua pembaca umumnya. Amin.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Jakarta, Juli 2014
Penulis



3


DAFTAR ISI

Judul ..................................................................................................................................... 1
Kata pengantar.................................................................................................................... 2
Daftar Isi .............................................................................................................................. 3
Status Pasien ........................................................................................................................ 4
Follow up ............................................................................................................................. 9
Tinjauan Pustaka ................................................................................................................ 10
Daftar Pustaka .................................................................................................................... 21














4

LAPORAN KASUS
IDENTITAS :
Nama : Ny. T
Tempat, tanggal, lahir : Jakarta, 4 Juni 1980
Usia : 34 tahun
Alamat : Kp. Beting rt.06/18, Kel. Tugu Utara. Kec. Koja, Jakarta Utara
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 01 Juli 2014, Pukul 11.00 WIB
No. Rekam medis : 19.30.83
Dokter yang merawat : dr. Bobbin Amirul, Sp.OG
AUTOANAMNESIS 01 Juli 2014, Pukul 11.00 WIB
Keluhan utama
Keluar darah pervaginam, intermitten, kurang lebih semenjak 2 minggu yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Os mengaku hamil 6 minggu disertai keluar darah dari kemaluan sedikit-sedikit
hingga saat Os datang ke rumah sakit, hampir setiap hari darah keluar, keluar darahnya
berupa bercak, tidak menggumpal, berwarna agak kehitaman, tidak disertai lendir, disertai
nyeri disekitar perut, nyeri perut pada sekitar simpisis pubis, nyeri seperti kram pada perut,
tidak menjalar, tidak merasakan lemas, pusing, tidak demam, mual, dan kadang muntah.
Riwayat Pemeriksaan Kehamilan
1. Os memeriksakan dirinya ke RSIJ Sukapura dengan Spesialis Obstetri dan Ginekologi
pada tanggal 1 Juli 2014.
2. Hasil pemeriksaan USG bahwa terdapat gambaran gestasional sac dengan gambaran
fetal echo
5

Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat asma disangkal
2. Riwayat DM disangkal
3. Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat Penyakit keluarga
1. Tidak ada yang pernah seperti ini
2. Riwayat asma tidak ada
Riwayat pengobatan
Tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan, keluhan belum diobati saat pasien masuk RS
Riwayat Alergi
1. Debu atau cuaca tidak ada
2. Makanan tidak ada
3. Obat tidak ada
Riwayat Kebiasaan
1. Tidak merokok
2. Tidak konsumsi alkohol
3. Sering pulang malam karena bekerja di salah satu rumah makan
4. Pasien mengaku memelihara kucing dirumah
5. Suami merokok
Riwayat Perkawinan
Kawin ke 1, masih kawin hingga saat datang ke RS, sudah menikah selama 4 tahun
Riwayat Haid
1. Pertama menstruasi pada umur 15 tahun
2. Teratur
3. Kadang Nyeri
4. Lama 6 hari dengan siklus 28 hari
5. HPHT terakhir 21 mei 2014
6

Riwayat operasi
Tidak ada
Riwayat persalinan
No. Tempat
Bersalin
Penolong Tahun Aterm Jenis
persalinan
penyulit

sex


berat


keadaan
1
2
BPS
BPS
Bidan
Bidan
1999
2004
+
+
Spontan
Spontan
-
-
L
L
3500
3200
Sehat
Sehat


Pemeriksaan Umum :
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital : TD 120/70 mmHg TB : 165 cm
N 86 x / menit BB : 50 Kg
S 36C
RR 22 x / menit
Pemeriksaan Fisik
Rambut : Tidak mudah rontok, distribusi merata, warna hitam
Mata : Tidak anemis, Sclera tidak icterik
Mulut : Mukosa bibir lembab, tidak terlihat pucat, lidah tidak kotor
Gigi : Tidak caries
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, kelenjar tyroid tidak membesar
Dada : Jantung normal, BI-BII regular, gallop -, murmur
Paru normal, Vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
7

Payudara : Simetris, putting susu menonjol, colostrums tidak ada
Abdomen : Tidak ada distensi abdomen, nyeri tekan, tympani
Vagina : Keluar darah
Ekstremitas : Akral hangat, simetris, edema (-/-)
RCT < 2 detik

Pemeriksaan Penunjang
USG : Tampak gestasional sac intrauterin (3,3 cm), fetal echo (-)
Laboratorium : PEMBEKUAN
- Perdarahan 100 nilai normal 1-3
- Pembekuan 230 nilai normal 2-6
IMUNOSEROLOGI
HbSAg negatif
HEMATOLOGI
- Hb 12,1 g/dl nilai normal : L 13,8-17 g/dl
P 11,3-15,5 g/dl
- Leukosit 11.300 sel/mm
3

- Ht 35,7 %
- Trombosit 277 ribu/mm
3

Diagnosa
Blighted Ovum
Tindakan
Dilatasi servik + Kuretase

8

Data Umum
Pre Operasi
Diagnosis : Blighted Ovum TB : 165 cm
Jenis Operasi : Kuret BB : 50 kg
Dokter : Bobbin Amirul, Sp.OG TD : 100/70 mmHg
Puasa : + N : 80x/menit
Riwayat Asma : Tidak Ada P : 20x/menit
Alergi : Tidak Ada S : 36C

LAPORAN KURETASE
1. Pasien posisi litotomi
2. Asepsis dan ansepsis vagina, vulva, dan sekitarnya
3. Kateterisasi urin 30 cc
4. Pasang spekulum sims post
5. Jepit posio dengan tenakulum gigi satu pada jam 11
6. Sonde uterus 9 cm
7. Ambil jaringan dengan obortic tang
8. Kuretase sampai bersih
9. Jaringan 20 cc, tampon -, PA
10. Kuret selesai

KEADAAN POST OPERASI
1. Keluhan Utama : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. TD : 100/70 mmHg
4. N : 76x/menit
5. S : 36C
6. RR : 22x/menit
9

FOLLOW UP

Tanggal Subjektf Okjektif Assesment Penatalaksanaan
2/7/14

Paien
mengeluh
keluar
darah dari
genitalia,
post
curetase
TD: 120/70, N: 88x/menit,
S: 36,8C, P: 20x/menit

Tampak sakit ringan
Composmentis
Genitalia : Darah (+), Lendir (-),
Fluor Alb. : (-)
Pemeriksaan lain dalam batas
normal
- Blighted Ovum - Cek Lab
- Puasa
- Pasang laminaria
- Curetage
- Pemberian Antibiotik pasca
curetage
3/7/14

Tidak ada
keluhan
TD: 120/70, N: 80x/menit,
S: 36,5C, P: 18x/menit

Tampak sakit ringan
Composmentis
Genitalia : Darah (+), Lendir (-),
Fluor Alb. : (-)
Pemeriksaan lain dalam batas
normal
- Blighted Ovum Pasien Boleh Pulang




10

BLIGHTED OVUM

Definisi
Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak
ada janin di dalam kandungan. Blighted ovum (kehamilan anembrionik) merupakan kehamilan
patologik, dimana mudigah tidak terbentuk sejak awal. Di samping mudigah,kantong kuning telur juga tidak
ikut terbentuk. Seorang wanita yang mengalaminya jugamerasakan gejala-gejala kehamilan seperti terlambat
menstruasi, mual dan muntah pada awal kehamilan (morning sickness), payudara mengeras, serta terjadi
pembesaran perut, bahkan saat dilakukan tes kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun
positif.
Blighted ovum (anembryonic pregnancy) terjadi pada saat ovum yang sudah dibuahi menempel ke
dinding uterus, tapi embrio tidak berkembang. Sel-sel berkembang membentuk kantong kehamilan, tapi tidak
membentuk embrio itu sendiri. Blighted ovum biasanya terjadi pada trimester pertama sebelum wanita
tersebut mengetahui tentang kehamilannya.
Etiologi
Blighted ovum merupakan penyebab sekitar 50% keguguran trimester pertama dan
biasanya merupakan akibat dari masalah kromosom yang diduga hampir 60% untuk kejadian blighted ovum
ini. Pada seseorang yang menderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol itu sendiri bisa menyebabkan
keluhan ini karena terganggunya proses metabolisme di dalam tubuh. Tubuh wanita mengenali kromosom
abnormal pada janin dan secara alami tidak mencoba untuk melanjutkan kehamilan karena janin tidak akan
berkembang menjadi bayi yang sehat. Hal ini dapat disebabkan oleh pembelahan sel abnormal, atau kualitas
sperma yang buruk.


11

Faktor genetik. Translokasi parenteral keseimbangan genetik.
1. Mendelian
2. Multifaktor
3. Robertsonian
4. Resiprokal
Kejadian tertinggi kelainan sitogenik konsepsi terjadi awal kehamilan. Kelainan sitogenik embrio
biasanya berupa aneuploid yang disebabkan oleh keliainan sporadis, misalnya nondisjungction meiosis atau
poliploidi dari fertilitas abnormal. Separuh dari abortus karena kelainan sitogenik pada trimester pertama
berupa trisomi autosom. Triploidi ditemukan pada 16% kejadian abortus, dimana terjadi fertilisasi ovum
normal haploid oleh 2 sperma ( dispermi ) sebagai mekanisme patologi primer. Trisomi timbul akibat
nondisjunction meiosis selama gametogenesis pada pasien dengan kariotip normal. Untuk sebagian besar
trisomi, gangguan meiosis maternal bisa berimplikasi pada gametogenesis. Isiden trisomi meningkat dengan
bertambahnya usia. Trisomi 16, semua kromosom trisomi berakhir abortus kecuali pada trisomi kromosom 1.
Sindroma turner merupakan penyebab 20 25 % kelainan sitogenik pada abortus. Sepertiga dari fetus dengan
sindrom down ( trisomi 21) bisa bertahan.
Pengelolaan standar menyarankan untuk pemeriksaan genetik amniosintesis pada semua ibu hamil
dengan usia lanjut , yaitu diatas 35 tahun karena angka kejadian kelainan kromosom / trisomi akan meningkat
setelah usia 35 tahun. Kelainan lain umumnya bergubungan dengan dengan fertilisasi abnormal (tetraploid,
triploid). Kelainan ini tidak bisa dihubungkan dengan kelangsungan kehamilan. Tetraploid terjadi pada 8 %
kejadian abortus karena kelainan kromosom, di mana terjadinya kelainan pada fase sangat awal sebleum
proses pembuahan.
Struktur kromosom merupakan kelainan ketiga. Kelainan struktural terjadi pada sekitar 3% kelainan
sitogenik pada abortus. Ini menunjukan bahwa kelainan struktur kromosom sering diturunkan oleh ibunya.
Kelainan struktur kromosom pada pria bisa berdampak pada rendahnya konsentrasi sperma, infertilitas, dan
12

bisa mengurangi peluang kehamilan dan terjadi keguguran. Kelainan sering juga berupa gen yang abnormal,
mungkin karena adanya mutasi gen yang bisa mengganggu proses implantasi bahkan menyebabkan abortus.
Contoh untuk kelainan gen tunggal yang sering menyebabkan abortus berulang adalah myotonik dystrophy,
yang berupa autosom dominan dengan penetrasi yang tinggi, kelainan ini progresif, dan penyebab abortusnya
mungkin karena kombinasi gen yang abnormal dan gangguan fungsi uterus. Kemungkinan juga karena
adanya mosaic gonad pada ovarium atau testis.
Gangguan konektif lain, misalnya sindroma marfan, sindroma Ehlers-Danlos, homosisteinuri dan
pseudoaxanthoma elasticum. Juga pada perempuan dengan sickle cell. Anemia beresiko tinggi mengalami
abortus. Hal ini karena adanya mikroinfark pada plasenta. kelainan hematologik lain yang menyebabkan
abortus misalnya disfibrinogenemi, defisiensi faktor XIII, dan hipofibrinogenemi afibrinogenemi congenital.
Abortus berulang bisa berulang bisa disebabkan oleh penyatuan oleh 2 kromosom yang abnormal, di mana
salah bila kelainannya hanya pada salah satu orangtua, faktor tersebut tidak diturunkan. Studi pernah dilakukan
menunjukan bahwa bila didapatkannya kelainan kariotip pada kejadian abortus, maka kehamilan berikutnya
juga beresiko abortus.
Faktor Infeksi
Teori peran mikroba infeksi terhadap kejadian abortus mulai diduga sejak 1917, ketika DeForest dan
kawan-kawan melakukan pengamatan kejadian abortus berulang pada perempuan yang ternyata terpapar
brucellosis. Beberapa jenis organisme tertentu diduga berdampak pada kejadian abortus antara lain :
1. Bakteria
Listeria monositogenes
Klamidia trakomatis
Ureaplasma urealitikum
Mikoplasma hominis
Bekterial vaginosis
13

2. Virus
Sitomegalovirus
Rubella
Herpes Simpleks Virus
HIV
Parovirus
3. Parasit
Toksoplasmosis gondii
Plasmodium falsiparum
4. Spirokaeta
Treponema pallidum
Berbagai teori diajukan untuk mencoba menerangkan bahwa pada infeksi terhadap resiko abortus /
EPL, diantaranya sebagai berikut :
Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, atau sitokin yang berdampak
langsung pada janin atau unit fetoplasenta.
Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat sehingga janin sulit
bertahan hidup.
Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut kematian janin.
Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah ( missal
Mikoplasma hominis, Klamidia, Ureaplasma urealitikum, HSV ).
Amnionitis.
Memacu perubahan genetic dan anatomi embrio, umumnya oleh karena virus selama
kehamilan awal.

14

Faktor hormonal
Ovulasi implantasi, serta kehamilan dini bergantung pada koordinasi yang baik sistem pengaturan
hormone maternal. Oleh karena itu, perlu perhatian langsung terhadap sistem hormone secara keseluruhan,
fase luteal, dan gambaran hormone setelah konsepsi terutama kadar progesterone
Diabetes Mellitus
Perempuan dengan diabetes mellitus yang dikelola dengan baik risiko abortusnya tidak lebih jelek
jika disbanding perempuan yang tanpa diabetes. Akan tetapi perempuan diabetes dengan kadar
HbA1c tinggi pada trimester pertama, resiko abortus dan malformasi janin meningkat signifikan.
Diabetes jenis insulin-dependen dengan kontrol glukosa tidak adekuat punya peluang 2-3 kali lipat
mengalami abortus.
Kadar progesterone yang rendah
Progesterone mempunyai peran penting dalam mempengaruhi reseptivitas endometrium terhadap
implantasi korion. Pada tahun 1929, allen dan corner mempublikasikan tentang proses fisiologis
korpus luteum, dan sejak itu diduga kadar progesteron yang rendah berhubungan dengan resiko
terjadinya blighted ovum. Support fase luteal punya peran kritis pada kehamilan sekitar 7 minggu,
yaitu saat di mana trofoblas harus menghasilkan banyak steroid untuk menunjang kehamilan.
Pengangkatan korpus luteum sebelum usia 7 minggu akan menyebabkan abortus. Dan bila
progesterone diberikan akan mempertahankan kehamilan.
Patogenensis
Pada saat pembuahan, sel telur yang matang dan siap dibuahi bertemu sperma. Namun dengan
berbagai penyebab (diantaranya kualitas telur/sperma yang buruk atau terdapatinfeksi torch), maka unsur janin
tidak berkembang sama sekali. Hasil konsepsi ini akan tetap tertanam didalam rahim lalu rahim yang berisi
hasil konsepsi tersebut akan mengirimkan sinyal pada indung telur dan otak sebagai pemberitahuan bahwa
sudah terdapat hasil konsepsi didalam rahim. Hormon yang dikirimkan oleh hasil konsepsi tersebut akan
15

menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah dan lainya yang lazim dialami ibu hamil pada
umumnya, hal ini disebabkan Plasenta menghasilkan hormone hCG (human chorionic gonadotropin) dimana
hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa
sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon hCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala
kehamilan seperti mual, muntah, dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. .Karena tes kehamilan baik
test pack maupun laboratorium pada umumnya mengukur kadar hormon hCG (human chorionic
gonadotropin) yang sering disebut juga sebagai hormon kehamilan.
Meski tak ada janin, blighted ovum bisa membuat ibu merasa hamil sungguhan. Ini
wajar saja karena ibu memang mengalami beberapa gejala kehamilan, seperti menstruasi
terhenti, mengalami mual dan muntah, perut makin membesar dan payudara mengeras.
Bahkan hasil pemeriksaan air seni melalui test pack maupun laboratorium, bisa saja
menunjukkan hasil positif.
Mengapa bisa seperti itu? Begini penjelasan ilmiahnya. Pada saat pembuahan, sel
telur yang matang dan siap dibuahi bertemu sperma. Namun dengan berbagai penyebab (di
antaranya kualitas telur/sperma yang buruk, atau terdapat infeksi TORCH), maka unsur janin
tidak berkembang sama sekali.
Hasil konsepsi ini akan tetap tertanam di dalam rahim. Lalu rahim yang berisi hasil
konsepsi tersebut akan mengirimkan sinyal pada indung telur dan otak sebagai
pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon yang
dikirimkan oleh hasil konsepsi tersebut akan menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti
mual, muntah, ngidam dan lainnya yang lazim dialami ibu hamil pada umumnya.
Karena gejalanya yang tidak spesifik, maka biasanya blighted ovum baru ditemukan setelah
ibu hamil mengeluh adanya perdarahan sedikit dari kemaluan. Perlu diketahui juga, perut
16

yang membesar seperti orang hamil, tidak hanya bisa disebabkan blighted ovum. Mungkin
saja ada penyakit lain misalnya tumor rahim atau penyakit usus.
Manifestasi Klinis
1. Pada awal kehamilan berjalan baik dan normal tanpa ada tanda-tanda kelainan
2. Kantung kehamilan terlihat jalas, tes kehamilan urin positif
3. Blighted ovum terdeteksi saat ibu melakukan USG pada usia kehamilan memasuki 6-7minggu.
4. kemungkinan memiliki kram perut ringan, dan atau perdarahan bercak ringan.
5. Blighted ovum sering tidak menyebabkan gejala sama sekali.
Gejala dan tanda-tanda
1. Periode menstruasi terlambat
2. Kram perut
3. Minor vagina atau bercak perdarahan
4. Tes kehamilan positif pada saat gejala
5. Ditemukan setelah akan tejadi abortus spontan dimana muncul keluhan perdarahan
6. Hampir sama dengan kehamilan normal
7. Gejala tidak spesifik (perdarahan spotting coklat kemerah-merahan, kram perut, bertambahnya
ukuran rahim yang lambat)
8. Ditemukan pada pemeriksaan USG
Diagnosa
1. Anamnesis (tanda - tanda kehamilan)
Dari anamnesis ini untuk mengetahui faktor faktor penyebab walaupun tidak pasti dalam
mendiagnosis untuk blighted ovum ini, bisa ditanyakan apakah sebelumnya pernah mengalami hal
yang sama pada kehamilan yang lalu, karena kejadian blighted ovum ini bisa berulang. Lalu
menanyakan apakah dirumah
17

ada yang memelihara binatang yang berbulu seperti kucing untuk mengetahui kemungkinan adanya
infeksi dari TORCH, merokok juga bisa ditanyakan kepada perempuan maupun kepada suaminya
bisa menyebabkan kualitas sperma yang tidak baik atau karena ovumnya yang tidak baik.
2. Pemeriksaan fisik
Biasanya pada pemeriksaan ini didapatkan pembesaran dari kehamilan yang terlambat walaupun
pada dasarnya kehamilan ini bisa diraba pada kehamilan 12 minggu, adanya nyeri tekan pada perut
karena suatu respon untuk pengeluaran benda yang dianggap asing oleh tubuh.
3. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan penunjang (USG)
Didapatkan gambaran adanya kantung kosong pada pemeriksaan ini, hanya ada amnion dan cairan
ketuban tetapi didalamnya tidak ditemukan pertumbuhan janin yang seharusnya terjadi.
4. Diagnosis kehamilanan embrionik bisa dilakukan saat kehamilan memasuki usia 6-7minggu. Sebab
saat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari 16 milimeter sehingga bisa terlihat lebih
jelas. Dari hasil itu juga akan tampak, adanya kantung kehamilan yang kosong dan tidak berisi janin.
Diagnosis kehamilan anembriogenik dapat ditegakkan bila pada kantong gestasi yang berdiameter
sedikitnya 30 mm, tidak dijumpai adanya struktur mudigah dan kantong kuning telur.

18



Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi
dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa
penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka dapat diobati sehingga
kejadian ini tidak berulang. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga
kelak dapat hamil. Lebih penting adalah trauma mental untuk pasangan. Hal ini membutuhkan konseling dan
meyakinkan mereka bahwa proses ini sangat umum. Hal ini lebih baik untuk menghindari
kehamilan selama 2 bulan dan dapat mencoba lagi. Tidak perlu menunggu sangat lama.Umumnya sel telur b
lighted adalah kejadian acak dan kemungkinan pengulangan cukup kurang.

Kehamilan Normal

Blighted Ovum
19

Dalam banyak kasus blighted ovum tidak bisa dicegah. Beberapa pasangan seharusnya melakukan
tes genetika dan konseling jika terjadi abortus berulang di awal kehamilan. Blighted ovum sering merupakan
kejadian satu kali, dan jarang terjadi lebih dari satu kali pada wanita. Untuk mencegah terjadinya blighted
ovum, maka dapat dilakukan beberapa tindakan pencegahan seperti pemeriksaan TORCH, imunisasi rubella
pada wanita yang hendak hamil, bila menderita penyakit disembuhkan dulu, dikontrol gula darahnya,
melakukan pemeriksaan kromosom terutama bila usia di atas 35 tahun, menghentikan kebiasaan merokok
agar kualitas sperma/ovum baik, memeriksakan kehamilan yang rutin dan membiasakan pola hidup sehat.
Jika diagnosis blighted ovum, diskusikan dengan dokter Anda apa yang harus
dilakukan selanjutnya. Beberapa wanita memilih dilatasi dan kuretase (D & C). Prosedur ini
melibatkan dilatasi serviks dan mengeluarkan isi rahim. Karena D & C segera membersihkan
setiap jaringan yang tersisa, ini akan lebih membantu anda secara mental dan fisik. Hal ini
juga dapat sangat membantu jika anda ingin ahli patologi memeriksa jaringan untuk
mengkonfirmasi alasan penyebab anda keguguran. Menggunakan obat seperti misoprostol
secara rawat jalan juga dapat menjadi pilihan lain. Namun, mungkin memakan waktu
beberapa hari bagi tubuh anda untuk mengusir semua jaringan. Dengan obat ini, anda
mungkin mengalami perdarahan dan lebih banyak efek samping. Hal ini terutama keputusan
pribadi, tetapi diskusikan dengan dokter anda.Setelah keguguran, dokter mungkin
menyarankan anda menunggu setidaknya satu sampai tiga siklus haid sebelum mencoba
untuk hamil lagi.
Hingga saat ini belum ada cara untuk mendeteksi dini kehamilan blighted ovum.
Seorang wanita baru dapat diindikasikan mengalami blighted ovum bila telah melakukan
pemeriksaan USG transvaginal. Namun tindakan tersebut baru bisa dilakukan saat kehamilan
memasuki usia 6-7 minggu. Jadi alangkah baiknya kita melakukan pencegahan secara dini
seperti:
20

Melakukan imunisasi pada si ibu untuk menghindari masuknya virus rubella ke dalam
tubuh.
Rencanakan kehamilan yang sehat. Konsultasikan dengan Dokter mengenai rencana
kehamilan dan keadaan ibu harus benar-benar sehat.
Tak hanya pada calon ibu, calon ayah pun disarankan untuk menghentikan kebiasaan
merokok dan memulai hidup sehat saat prakonsepsi.
Melakukan pemeriksaan kromosom
Periksakan kehamilan secara rutin. Sebab biasanya kehamilan kosong jarang terdekteksi
saat usia kandungan masih muda.















21

DAFTAR PUSTAKA
Saifudidin, Abdul Bari, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta :
PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Cunningham, F. Gary, dkk. 2005. Obstetric Williams edisi 21. Jakarta : EGC.
http : // Reproduksi umj.blogspot.com/2011/.html.
Protap Blighted Ovum. PDF, library USU.
Toret-labeeuw et al world jounal pf emergency 2013. www.wjes.org/content./
The New England Jounal of Medicine. www.nejm.org.
Sastrawinata, S. 2003. Obstetri Patologi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Bari, Abdul S. 2003. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. PB POGI,
FKUI. Jakarta.
Sach, Acker, Friedman. 1998. Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan Obstetri.
Jakarta : Binarupa Aksara.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri fisiologi, Obstetri Patologi.
Editor : Delfi Lutan, EGC, Jakarta.