Anda di halaman 1dari 9

BAB V

ANALISA

5.1 Analisis Tebal Perkerasan Kaku Metode AASHTO 1993
Penetapan desain yang digunakan adalah yang biasa dipakai di lapangan dalam
perencanaan tebal pelat beton perkerasan kaku. Pengambilan parameter desain yang masih
dimungkinkan termasuk dalam interval/ ambang bawah dan atas.
1. Analisis Lalu Lintas (Traffic design)
Data lalu lintas yang digunakan dalam perencanaan perkerasan kaku yaitu :
a. Umur rencana = 20 tahun
b. Faktor distribusi arah (DD) = 0,5 nilai ini diambil karena data lalu lintas yang
dipakai dalam perencanaan menggunakan data lalu lintas 2 arah (2 jalur) yang
mengacu pada tabel AASHTO 1993.
c. Faktor distribusi lajur (DL) mengacu pada tabel 4, lajur lalu lintas tiap arah
direncanakan 3 lajur dan diperoleh faktor distribusi lajur 90% untuk masing-
masing arah, nilai 50 % diambil dari faktor distribusi yang terbesar dari setiap lajur
d. Dari perhitungan lalu lintas harian rata-rata didapatkan rencana komulatif ESAL
untuk rencana 20 tahun, adalah. Dibuka pada tahun 2015 untuk komulatif lalu
lintas pada tahun 2034 : 61616329,72 x 0,5 x 0,9 = 27.727.348,38 (terlampir).

2. Kemampuan Pelayanan (Serviceability)
a. Terminal serviceability index (pt) = 2,5 (untuk jalan utama)
b. Initial serviceability (po) = 4,5 (angka ini bergerak dari 0 - 5)
c. Total loss of serviceability ( PSI) = po pt = 4,5 - 2,5 = 2







3. Reliability (R)







R = 90% dapat digunakan untuk semua kondisi kasifikasi jalan, baik jalan tol,
arteri, kolektor, juga untuk urban maupun rural, kecuali pada jalan lokal.
Reliability : R = 90 % dan 92,5 % dapat digunakan untuk semua kondisi
klasifikasi jalan tol, baik urban maupun rural. R = 92,5 % adalah angka tengah dari
gabungan klasifikasi jalan tol urban maupun rural, dan R = 90 % adalah angka
reliability yang lebih rendah dan merupakan angka tengah untuk klasifikasi jalan tol
rural, tetapi nilai keduanya masih dalam interval R yang diperbolehkan.
Pada perencanaan perkerasan kaku jalan tol Cijago ruas Cimanggis Tanah-
Baru merupakan jalan tol yang termasuk ruas dengan lalu lintas berat pada daerah
rural. AASHTO 1993 menyarankan angka reliability untuk jalan tol antara 80 -
99,9%. Oleh karena itu reliability dikenakan sebesar 90%. Pengambilan 90% cukup
memadai dan disarankan juga oleh AASHTO bila tidak didapat besaran yang lebih
pasti. Dengan standard normal deviation (ZR) sebesar -1,282. Standard deviation (So)
diambil 0,3.
4. CBR (California Bearing Ratio) dan Modulus Reaksi Tanah Dasar
Pada proyek pembangunan Jalan Tol JORR W2 Utara Paket I merupakan
tanah timbunan untuk mencapai elevasi yang direncanakan. Adapun ketentuan dalam
membuat tanah dasar (subgrade), antara lain :
a. Lapisan yang berada lebih dari 30 cm di bawah subgrade harus dipadatkan hinggan
mencapai 95% dari kepadatan kering maksimum sesuai ketentuan AASHTO T 99.
b. Lapisan 30 cm atau kurang di bawah subgrade harus dipadatkan hingga mencapai
100% kepadatan kering maksimum yang ditentukan dengan AASHTO T 99 serta
memiliki nilai CBR minimum 6 %.
c. Pada saat pemadatan timbunan, tanah harus memiliki kadar air optimum.


Dalam perencanaan perkerasan kaku ini diambil nilai CBR sebesar 6%, maka nilai
CBR akan dikonversikan ke nilai Modulus Resilien (MR) dengan menggunakan persamaan
sebagai berikut :
MR = 1.500 x CBR = 1.500 x 6 = 9.000 psi
Sehingga didapat nilai k dengan persamaan :
k = MR / 19,4 = 9.000 / 19,4 = 463,918 psi dibulatkan 464 psi
Rigid pavement menggunakan lean concrete dibawah pelat beton 10 cm.
Loss of Support : LS = 1
Koreksi effective modulus of subgrade reaction dengan gambar 8, didapat nilai k =
160 pci

Modulus Elastisitas Beton (Ec)
Berdasarkan spesifikasi jenis beton yang digunakan untuk perkerasan kaku adalah
beton kelas P (Fs = 45 kg/cm2). Adapun kuat tekan beton fc yang ditetapkan sesuai dengan
spesifikasi yaitu :
Berdasarkan persamaan menurut SNI 1991
fr = 0,70 fc
dimana :
fr : Flexural strength (modulus of rupture) = Sc, dalam MPa
fc : Kuat tekan beton (benda uji silinder 15 x 30 cm, umur 28 hari)
dalam MPa
Flexural Strength : Sc = 45 kg/cm2 = 45 x 0,084 = 3,78 MPa
fr = 0,70 fc
3,78 = 0,70 fc
fc = (3,78 / 0,7)2
fc = 29,16 MPa
fc = 29,16 / 0,084
= 347,14 kg/ cm2 ~ 350 kg/cm2
fc = 350 kg/cm2
1 kg/cm2 = 14,22 psi
fc = 4.977 psi
Sehingga nilai modulus Elastisitas beton (Ec) sebagai berikut :
Ec = 57.000 fc
= 57.000 4.977
= 4.021.227,80 psi
6. Flexural Strength (Sc)
Nilai Sc ditetapkan sesuai pada spesifikasi sebesar 45 kg/cm2 = 640 psi
7. Drainage Coefficient (Cd)
a. Penetapan variable prosen perkerasan terkena air
Mutu drainase : Good
Tabel Penentuan Nilai Drainage Coefficient (Cd)


Dehingga nilai Cd = 1,2

8. Load Transfer Coefficient (J)
Penetapan parameter load transfer digunakan sambungan dengan dowel diambil J =
3,2
Dengan mengasumsikan bahwa lalu lintas tidak diijinkan untuk berjalan di bahu.
Berikut adalah hasil analisis tebal lapisan perkerasan kaku serta dowel dan tie bar :
1. Tipe Perkerasan I
a. Tebal Perkerasan
1). Umur rencana = 20 tahun
2). Total esal (W18) = 61616329,72
3). Terminal serviceability (pt) = 2,5
4). Initial serviceability (po) = 4,5
5). Serviceability loss ( PSI) = 2
6). Reliability (R) = 90%
7). Standard normal deviation (ZR) = - 1,282
8). Standard deviation (So) = 0,35
9). Modulus tanah dasar (k) = 160 pci
10). Modulus elastisitas beton (Ec) = 4.200.000 psi
11). Flexural strength beton (Sc) = 640 psi
12). Drainage coefficient (Cd) = 1,2
13). Load transfer coefficient (J) = 2,5







Tebal pelat rigid pavement (D) = 10,51 inchi = 27 cm


b. Dowel
Tebal pelat beton = 10,51 in = 27 cm
Sehingga diameter dowel (d) dengan persamaan (AASHTO, 1993) :


D = 1,32 inchi = 33,5 mm
Panjang dowel = 450 mm = 18 in (AASHTO,1993)
Jarak = 300 mm = 12 in (AASHTO,1993)
Perlu diperhatikan bahwa diameter minimum besi polos yang disarankan adalah d =
32 mm, sehingga perlu dilakukan analisis agar diameter 32 mm dapat digunakan.
1). Luas penampang (As) 33,5 mm



2). Luas penampang (As) 32 mm




3). Jumlah Dowel 33,5 mm
Lebar perkerasan = 15750 mm c
Jarak dowel (AASHTO, 1993) = 300 mm d
Jumlah dowel 1 segmen = c / d
= 15750/ 300 = 53 buah e
Luas penampang 1 segmen = e x a
= 53 x 881,41
= 46714,73 mm2 f
4). Jumlah dowel 32 mm (1 segmen) = f / b
= 46714,73/ 804,25
= 58 buah g
5). Jarak dowel 32 mm = c/ g
= 15750/ 58
= 200 mm
Sehingga dowel yang direncanakan pada perkerasan kaku tipe I sebagai berikut :
Diameter = 32 mm
Panjang = 450 mm
Jarak = 200 mm
c. Tie bar
Tebal pelat beton (D) = 10,51 in = 0,27 m
Lebar perkerasan kaku (L) = 3,75 m
Berat volume beton (W) = 2.400 kg/m3
Digunakan baja grade 40 (fs) = 30.000 psi (tegangan ijin tulangan baja)
1 psi = 0,007 Mpa
fs 30.000 psi = 211,27 Mpa
1 Mpa = 100.000 kg/ m2
fs 211,27 Mpa = 21.126.761 kg/m2
Koefisien gesekan (F) = 1,5 (AASHTO, 1993)




1). Luas tulangan yang dibutuhkan sebagai berikut :



= 0,000172 m2/ m lebar
Jika direncanakan diameter in (13 mm), panjang 25 in (635 mm), dan jarak 29 in
(736,6 mm).
2). Luas tie bar yang direncanakan


= 0,0001327 m2/ meter lebar



Perlu diperhatikan, untuk mengatasi keborosan dalam menggunakan tie bar
maka diperlukan analisis sebagai berikut :
Diketahui : 1,54 buah tie bar = 1 m
1 buah tie bar = 1/ 1,30
= 0,769 m
= 769 mm ~ 770 mm
Sehingga tie bar yang direncanakan untuk perkerasan kaku tipe I adalah
sebagai berikut :
Diameter = D13 mm
Panjang = 635 mm
Jarak = 770 mm







Perlu diperhatikan, untuk mengatasi keborosan dalam menggunakan tie bar maka
diperlukan analisis sebagai berikut :
Diketahui : 1,54 buah tie bar = 1 m
1 buah tie bar = 1/ 1,54
= 0,649 m
= 649 mm ~ 650 mm
Sehingga tie bar yang direncanakan untuk perkerasan kaku tipe I adalah sebagai
berikut :
Diameter = D13 mm
Panjang = 635 mm
Jarak = 650 mm