Anda di halaman 1dari 48

1

SKENARIO
BENCANA MERAPI
Merapi sangat berbahaya karena mengalami erupsi setiap dua sampai lima
tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Balai
penyelidikan dan pengembangan teknologi kegunungapian (BPTK) Yogyakarta
merekomendasikan peningkatan status dari normal aktif menjadi waspada
pada tanggal 20 september 2010. Sekitar satu bulan, status berubah menjadi
siaga, kemudian pada tanggal 25 oktober status menjadi awas walaupun
berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak terkait termasuk sektor
kesehatan, rangkaian letusan gunung merapi pada november 2010 memakan
nyawa 273 orang dan dievaluasi sebagai letusan terbesar.

STEP I. CLARIFY UNFAMILIAR TERMS
1. Erupsi : keluarnya magma dari bumi.
2. Bencana : suatu peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan
dan penghidupan yang disebabkan oleh faktor alam atau manusia.
3. Normal aktif : gunung yang masih aktif dalam memproduksi lahar dalam
batas normal (tidak berbahaya).
4. Siaga : peningkatan status atau aktifitas yang semakin nyata berupa letusan
dan pengeluaran debu vulkanik.
5. Waspada : terjadi peningkatan kerja dan berupa kelainan yang tampak
secara visual.

STEP II. DEFINE THE PROBLEM(S)
1. Dampak yang terjadi pada kasus ini?
2. Bagaimana peran sektor kesehatan pada penanggulangan bencana?
3. Manajemen bencana
4. Jenis dan karakteristik bencana
5. Fase fase manajemen bencana
6. Triage dalam penanganan korban bencana
7. Aspek medikolegal penanganan bencana

2

STEP III. BRAINSTORM POSSIBLE HYPOTHESIS OR EXPLANATION
1. Psikologi, sosial ekonomi dan medis
2. - Multidisipliner manajemen yang baik mempersiapkan SDM
- Dibagi menjadi 3 : Pra RS, Intra RS dan Antar RS
3. - Upaya secara sistematis dan komprehensif untuk menanggulangi setiap
bencana secara tepat, cepat dan akurat.
- Konsep dasar : pra bencana, saat bencana dan pasca bencana
4. Alam, Non-Alam dan sosial
5. Mitigasi, preparednes, respons, recovery
6. Dapat jalan? tidak bernafas tidak posisi jalan
Nafas

Ya tunda ya bernafas tidak expektan

Ya

< 2 CR < 30 frekuensi > 30 SEGERA

>2
Sadar tidak

Ya tunda

Warna : hitam, merah, kuning, hijau

7. - UU kesehatan no. 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana
- Aspek hukum kesehatan lingkungan UU kesehatan pasal 22

3


4

STEP V. DEFINE LEARNING OBJECTIVES
1. Jenis dan klasifikasi bencana
2. Dampak bencana
3. Manajemen bencana
4. Fase-fase manajemen bencana
5. Triage manajemen bencana
6. Peran sektor kesehatan
7. Aspek medikolegal

STEP VI. INFORMATION GATHERING (PRIVATE STUDY)

5

STEP VII. SYNTHESIZE AND TEST ACQUIRED INFORMATION (Share
the resullts of information gathering and private study)
1. PERBEDAAN GAWAT, DARURAT DAN GAWAT DARURAT
Dalam dunia medis, suatu keadaan disebut gawat apabila sifatnya
mengancam nyawa namun tidak memerlukan penanganan yang segera.
Contoh untuk keadaan ini adalah pasien yang menderita penyakit kanker.
Penyakit kanker adalah penyakit yang bisa mengancam nyawa seseorang,
namun tidak terlalu memerlukan tindakan sesegera mungkin (immediate
treatment). Biasanya keadaan gawat dapat dijumpai pada penyakit-penyakit
yang sifatnya kronis.
Suatu keadaan disebut darurat apabila sifatnya memerlukan
penanganan yang segera. Contoh untuk keadaan ini adalah baru saja digigit
ular berbisa, sedang mengalami pendarahan hebat, tengah menderita patah
tulang akibat kecelakaan, kehilangan cairan karena diare hebat, dsb.
Meskipun keadaan darurat tidak selalu mengancam nyawa, namun
penanganan yang lambat bisa saja berdampak pada terancamnya nyawa
seseorang. Biasanya keadaan darurat dapat dijumpai pada penyakit-penyakit
yang sifatnya akut.
Gawat darurat adalah suatu keadaan yang terjadinya mendadak
mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan atau
pertolongan segera dalam arti pertolongan secara cermat, tepat dan cepat.
Apabila tidak mendapatkan pertolongan semacam itu maka korban akan mati
atau cacat atau kehilangan anggota tubuhnya seumur hidup. Contoh pasien
dengan tersedak makanan, penderita dengan serangan jantung.
Kondisi gawat darurat dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Gawat darurat
Suatu kondisi dimana dapat mengancam nyawa apabila tidak
mendapatkan pertolongan secepatnya. Contoh : gawat nafas, gawat
jantung, kejang, koma, trauma kepala dengan penurunan kesadaran.
Contoh kasus : BE, seorang wanita 62 tahun dengan riwayat
penyakit arteri koroner dan DM tipe 2 datang ke klinik setelah 2 tahun
tidak kontrol. Ia menyatakan bahwa biasanya sanggup berjalan sekitar
6

0,8 km dan naik tangga dua lantai, sebelum mengalami serangan nyeri
dada dan menjadi sesak nafas. Gejalanya terus memburuk sejak 2 tahun
dan nafasnya semakin pendek hingga hanya mampu berjalan sebentar
dan beraktivitas ringan. Ia mengeluhkan kakinya bengkak sehingga
tidak bisa lagi memakai sepatunya. Nafsu makannya turun dan sering
merasa penuh di perut serta cepat kenyang.

b. Gawat tidak darurat
Suatu keadaan dimana pasien berada dalam kondisi gawat tetapi
tidak memerlukan tindakan yang darurat contohnya : kanker stadium
lanjut.
Contoh kasus : Seorang perempuan berumur 55 tahun, ibu rumah
tangga, datang ke poliklinik bedah RS karena adanya benjolan di
payudara sebelah kanan sudah setahun ini. Mula-mula sebesar biji
rambutan, kemudian sekarang sebesar bola tenis. Tidak terasa sakit,
hanya kadang terasa pegal. Pasien merasa berat badannya menurun
drastis dalam empat bulan terakhir ini. Pada keluarga terdapat
riwayat penderita tumor ganas payudara, yaitu bibi pasien (adik
kandung dari ibu pasien). Bibi pasien meninggal karena penyakitnya
ini. Pasien tidak mempunyai anak. Sebulan ini timbul luka koreng
berbau di kulit di atas benjolan payudara. Pasien juga merasa sesak
sebulan terakhir yang bertambah dengan aktifitas tapi tidak berkurang
dengan istirahat.

c. Darurat tidak gawat
Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba tetapi tidak
mengancam nyawa atau anggota badannya contohnya : fraktur tulang
tertutup.
Contoh kasus : Seorang laki-laki usia 18 tahun, jatuh ketika
mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Laki-laki tersebut
mengalami kesakitan pada tungkai bawah kanan diatas sendi lutut.
Laki-laki tersebut tidak dapat berdiri dan merasa kesakitan ketika
7

berusaha mengangkat pahanya. Dengan dibantu oleh teman-temannya,
laki-laki tersebut dibawa ke UGD RS tempat anda bertugas.

d. Tidak gawat tidak darurat
Pasien poliklinik yang datang ke UGD

2. JENIS DAN KLASIFIKASI BENCANA
UU No. 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis. Sementara Asian Disaster Preparedness Center (ADPC)
mendefinisikan bencana dalam formulasi The serious disruption of the
functioning of society, causing widespread human, material or environmental
losses, which exceed the ability of the affected communities to cope using
their own resources.
Definisi bencana seperti dipaparkan diatas mengandung tiga aspek
dasar, yaitu:
a. Terjadinya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak
(hazard).
b. Peristiwa atau gangguan tersebut mengancam kehidupan, penghidupan,
dan fungsi dari masyarakat.
c. Ancaman tersebut mengakibatkan korban dan melampaui kemampuan
masyarakat untuk mengatasi dengan sumber daya mereka.

Bencana dapat terjadi, karena ada dua kondisi yaitu adanya peristiwa
atau gangguan yang mengancam dan merusak (hazard) dan kerentanan
(vulnerability) masyarakat. Bila terjadi hazard, tetapi masyarakat tidak
rentan, maka berarti masyarakat dapat mengatasi sendiri peristiwa yang
mengganggu, sementara bila kondisi masyarakat rentan, tetapi tidak terjadi
peristiwa yang mengancam maka tidak akan terjadi bencana.
8

Bencana terdiri dari berbagai bentuk. UU No. 24 tahun 2007
mengelompokan bencana ke dalam tiga kategori yaitu:
a. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan,
dan tanah longsor.
b. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
c. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antarkelompok atau antar komunitas masyarakat, dan
teror.

Ethiopian Disaster Preparedness and Prevention Commission (DPPC)
mengelompokkan bencana berdasarkan jenis hazard, yang terdiri dari:
a. Natural hazard. Ini adalah hazard karena proses alam yang manusia
tidak atau sedikit memiliki kendali. Manusia dapat meminimalisir
dampak hazard dengan mengembangkan kebijakan yang sesuai, seperti
tata ruang dan wilayah, prasyarat bangunan, dan sebagainya. Natural
hazard terdiri dari beragam bentuk seperti dapat dilihat pada tabel
berikut:

9


Tabel 1. Natural Hazard

b. Human made hazard. Ini adalah hazard sebagai akibat aktivitas
manusia yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian fisik, sosial,
ekonomi, dan lingkungan. Hazard ini mencakup:
1) Technological hazard sebagai akibat kecelakaan industrial,
prosedur yang berbahaya, dan kegagalan infrastruktur. Bentuk
dari hazard ini adalah polusi air dan udara, paparan radioaktif,
ledakan, dan sebagainya.
2) Environmental degradation yang terjadi karena tindakan dan
aktivitas manusia sehingga merusak sumber daya lingkungan dan
keragaman hayati dan berakibat lebih jauh terganggunya
ekosistem.
3) Conflict adalah hazard karena perilaku kelompok manusia pada
kelompok yang lain sehingga menimbulkan kekerasan dan
kerusakan pada komunitas yang lebih luas.

Berikut akan di jelaskan makna dan tindakan yang harus dilakukan
mulai dari yang paling tinggi ke yang terendah :

10

a. Status Awas
Yaitu kondisi dimana gunung berapi mulai mengeluarkan asap
dan abu panas, yang dalam waktu segera (<24 jam) atau bahkan sedang
meletus dan menimbulkan bencana. Pada tahap ini seluruh badan
tanggap bencana harus segera melakukan pengosongan area rawan
bencana dan melakukan piket penuh serta laporan harian.

b. Status Siaga
Peningkatan aktivitas gunung berapi yang bila aktivitas terus
berlanjut dalam waktu sekitar 2 minggu berpotensi menimbulkan
letusan atau hal yang dapat menimbulkan bencana. Pada tahap ini mulai
dilakukan koordinasi harian dan piket penuh serta persiapan posko -
posko darurat diikuti sosialisasi tentang persiapan tanggap bencana
pada masyarakat sekitar.

c. Status Waspada
Ditandai dengan adanya peningkatan berbagai aktivitas gunug
berapi di atas batas normal yang diakibatkan baik oleh aktivitas magma,
tektonik maupun suhu. Pada tahap ini, tim tanggap bencana sebaiknya
mulai memikirkan untuk pelaksanaan piket terbatas, penilaian bahaya
gunung dan mulai melihat persiapan apa saja yang kira - kira akan
dibutuhkan serta sosialisasi tanggap bencana pada masyarakat sekitar.

d. Status Normal
Pada tahap ini aktivitas gunung dan magma berada dalam batas
normal. Tindakan yang dilakukan pada gunung dengan aktivitas normal
ialah pemantauan rutin aktvitas gunung.

3. DAMPAK BENCANA
Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah
atau menghindari bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini
berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya
11

bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang
berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa
ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak
berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang
karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa
keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk
bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan
individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi
mengakhiri peradaban umat manusia.
Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya
tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan atau kerawanan(vulnerability) yang
juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat atau luas jika manusia
yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster
resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan
sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah dan
menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian
meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang
besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.
Bencana berarti juga terhambatnya laju pembangunan. Berbagai hasil
pembangunan ikut menjadi korban sehingga perlu adanya proses membangun
ulang. Kehidupan sehari-hari juga menjadi tersendat-sendat. Siswa yang
hampir menempuh ujian terpaksa berhenti bersekolah. Kenyataan seperti ini
berarti pula muncul kemungkinan kegagalan di masa mendatang. Pemenuhan
kebutuhan seharihari juga menjadi sulit padahal penggantinya juga tidak bisa
diharapkan segera ada.

Tabel 2. Dampak bencana alam
Psikologi Sosial ekonomi Medis
Depresi Kehilanang harta
benda
Trauma
Anxietas Penurunan income Kecacatan
Paranoid Kehilangan pekerjaan Kematian
12

Phobia Kerusakan pangan Penurunan gizi
Waham Kerusakan alam Muncul penyakit
baru sesuai
kerakteristik bencana
Halusinasi Kerusakan sarana
prasarana Ilusi
Gangguan mood Kehilangan orang
terdekat Insomnia


4. MANAJEMEN BENCANA
Manajemen penanggulangan bencana memiliki kemiripan dengan sifat-
sifat manajemen lainnya secara umum, meski demikian terdapat beberapa
perbedaan yaitu:
a. Nyawa dan kesalamatan masyarakat merupakan masalah utama
b. Waktu untuk bereaksi yang sangat singkat
c. Risiko dan konsekuensi kesalahan atau penundaan keputusan dapat
berakibat fatal
d. Situasi dan kondisi yang tidak pasti
e. Petugas mengalami stress yang tinggi
f. Informasi yang selalu berubah

Manajemen penanggulangan bencana adalah pengelolaan sumber daya
yang ada untuk menghadapi ancaman bencana dengan melakukan
perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi di setiap
tahap penanggulangan bencana. Pada dasarnya, upaya penanggulangan
bencana meliputi :
a. Tahap saat prabencana
1) Situasi tidak terjadi bencana, kegiatannya adalah pencegahan dan
mitigasi
2) Situasi potensi terjadi bencana, kegiatannya berupa kesiapsiagaan

b. Tahap saat bencana
Kegiatan adalah tanggap darurat dan pemulihan darurat
13

c. Tahap pasca bencana
Kegiatannya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi

Berbagai upaya penanggulangan bencana yang dapat dilakukan pada
setiap tahap dalam siklus bencana antara lain :
a. Pencegahan dan mitigasi
Upaya ini bertujuan menghindari terjadinya bencana dan
mengurangi risiko dampak bencana. Upayaupaya yang dilakukan
antara lain :
1) Penyusunan kebijakan, peraturan perundangan, pedoman dan
standar;
2) Pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah kesehatan
3) Pembuatan brosuratau leafletatau poster
4) Analisis risiko bencana
5) Pembentukan tim penanggulangan bencana
6) Pelatihan dasar kebencanaan
7) Membangun sistem penanggulangan krisis kesehatan berbasis

b. Kesiapsiagaan
Upaya kesiapsiagaan dilaksanakan untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya bencana. Upaya kesiapsiagaan dilakukan pada
saat bencana mulai teridentifikasi akan terjadi. Upayaupaya yang dapat
dilakukan antara lain :
1) Penyusunan rencana kontinjensi
2) Simulasiatau gladiatau pelatihan siaga
3) Penyiapan dukungan sumber daya
4) Penyiapan sistem informasi dan komunikasi
5) Penyusunan rencana kontinjensi
6) Simulasiatau gladiatau pelatihan siaga
7) Penyiapan dukungan sumber daya
8) Penyiapan sistem informasi dan komunikasi

14

c. Tanggap darurat;
Upaya tanggap darurat bidang kesehatan dilakukan untuk
menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan. Upaya yang dilakukan
antara lain:
1) Penilaian cepat kesehatan (Rapid Health Assessment)
2) Pertolongan pertama korban bencana dan evakuasi ke sarana
kesehatan
3) Pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan
4) Perlindungan terhadap kelompok risiko tinggi kesehatan

d. Pemulihan.
Upaya pemulihan meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya
rehabilitasi bertujuan mengembalikan kondisi daerah yang terkena
bencana yang serba tidak menentu ke kondisi normal yang lebih baik.
Upaya rekonstruksi bertujuan membangun kembali sarana dan
prasarana yang rusak akibat bencana secara lebih baik dan sempurna.
Upayaupaya yang dilakukan antara lain :
1) Perbaikan lingkungan dan sanitasi
2) Perbaikan fasilitas pelayanan kesehatan
3) Pemulihan psikososial
4) Peningkatan fungsi pelayanan kesehatan

Gambar 1. Siklus penanggulangan bencana
15

Menurut Neil Grigg fase utama dan fungsi pengelolaan atau manajemen
secara umum termasuk dalam pengelolaan bencana meliputi :
a. Perencanaan (planning), meliputi
1) Identifikasi masalah bencana atau sasaran atau tujuan
pengelolaan bencana yang di targetkan
2) Pengumpulan data primer dan sekunder
3) Penentuan metode yang digunakan
4) Investigasi, analisis atau kajian
5) Penentuan solusi dengan berbagai alternatif kesuksesan suatu
proses memerlukan konsep strategi dan implementasi perencaan
yang jelas dan terarah.

b. Pengorganisasian
Berarti mengatur, sehingga pengorganisasian merupakan
pengaturan dalam pembagian kerja, tugas hak dan kewajiban semua
pihak.

c. Kepemimpinan
Lebih dominan ke aspek pembimbingan, pembinaan, pengarahan,
motivator, reward and punishment, konselor dan pelatihan,
kepemimpinan dalam pengelolaan bencana ini merupakan peranan yang
sangat vital.

d. Pengkoordinasian
Upaya bagaimana mengordinasi sumber daya manusia agar ikut
terlibat, mempunyai rasa memiliki, mengambil bagian atau dapat
berperan serta dengan baik sehingga maupun menyeluruh.

e. Pengendalian
Hal ini merupakan upaya kontrol pengawasan evaluasi dan
monitoring terhadap SDM, organisasi, kegiatan yang ada serta
meningkatkan efisiensi efektifitas dari waktu, ruang dan biaya.
16

f. Pengawasan
Pengawasan untuk memastikan SDM berkerja dengan baik.

g. Penganggran
Dalam hal ini pengelolaan biaya juga menjadi masalah salah satu
faktor utama suksesnya suatu proses pembangunan baik dalam situasi
normal ataupun darurat.

Pada Disaster Recovery Planning, probabilitas dan frekuensi bencana
diidentifikasi dan diurutkan, lalu entitas menyusun
a. Daftar aset utama yang harus dijaga kelestariannya dibuat pada masa
tenteram dan damai, sebelum bencana, disahkan sebagai basis
perencanaan pemulihan bila terjadi bencana. Harga akuisisi aset baru
(atau replacement cost) telah diketahui dan diperbarui-dimutakhirkan.
Entitas membuat dana khusus untuk penggantian aset yang berisiko
terkena bencana yang tak dapat diasuransikan. Dengan demikian tak
terjadi kegusaran perebutan sumber daya pemulihan di antara
stakeholder, yang pada umumnya minta diprioritaskan pada waktu
bencana terjadi.
b. Daftar aset utama atau kritikal yang dapat diasuransikan, termasuk
asuransi jiwa.
c. Daftar aset yang dapat dihindarkan dari risiko bencana disusun, dan
rencana kerja penghindaran risiko dilaksanakan (relokasi, proteksi fisik
dll).
d. Semua aset tersebut di atas, apabila rusak atau malfungsi menyebabkan
entitas lumpuh, bangkrut atau tak dapat beroperasi secara normal,
harus mendapat prioritas perencanaan perlindungan dan penggantian
serta merta:
1) Proteksi aset dan cacatan atau akuntansi aset.
2) Proteksi karyawan dan penduduk setempat di sekitar aset.
3) Kesinambungan manajemen atau pengelolaan.
4) Strategi memperpendek jangka waktu pemulihan.
17

5) Strategi pendanaan atau pembiayaan pemulihan, antara lain
pembentukan dana
6) Cadangan penggantian aset kena bencana

5. TRIAGE MANAJEMEN BENCANA
Triase berasal dari bahasa perancis trier artinya macam (bermacam
macam) bermacam macam dalam menilai gangguan. Triase adalah suatu
proses yang dinamik. Triase adalah proses khusus memilah pasien berdasar
beratnya cedera atau penyakit untuk menentukan jenis perawatan gawat
darurat serta transportasi. Triage adalah suatu sistem seleksi pasien yang
menjamin supaya tidak ada pasien yang tidak mendapatkan perawatan medis.

Prinsip Triage
Seleksi korban berdasarkan :
a. Ancaman jiwa yang dapat mematikan (dalam ukuran menit)
b. Dapat mati (dalam ukuran jam)
c. Ruda paksa ringan
d. Sudah meninggal

Macam macam sistem triage yang dipakai pada korban masal yang
memudahkan personil medic dengan cepat dapat melakukan :
a. Menilai tanda vital dan keadaan pasien
b. Menilai kebutuhan medis dari pasien
c. Menilai kemungkin hidup pasien
d. Menilai sasaran kesehatan yang ada ditempat
e. Membuat prioritas penanggulangan pasien
f. Memasang colour tag sesuai dengan prioritas pasien.

Tipe triage
Single Patient Triage
Pada satu pasien pada fase pra RS maupun pada fase RS UGD dalam
Day to Day Emergency dimana pasien dikategorikan kedalam True
18

Emergency (ada masalah dengan Airway, Breathing, Circulation, Disability,
Exposure), (hipotermi atau hipertermi), dan false Emergency ( tidak ada
masalah diatas).
Dasar dari cara triage ini adalah menanggulangi pasien dapat meninggal
bila tidak dilakuakan resusitasi. Single patien triage dapat juga di bagi dalam
4 kategori :
a. Emergen tatau immediate atau priority : pasien dalam kategori ini
harus mendapatkan prioritas pertama. Tindakan sudah dilakukan pada
fase pra RSatau di dalam ambulans, setiba di UGD. Yang termasuk
dalam kelompok ini adalah cedera berat, infark miokard akut, gangguan
airway, syok, anafilaksis.
b. Urgent atau prioritas pasien dalam kategori ini harus sudah di
tanggulangi dalam beberapa jam. Termasuk yang secara fisiologik
stabil tetapi dapat memburuk bila tidak di tanggulangi dalam beberapa
jam yaitu cedera spinal, stroke atau cereberal vascular accident,
appendiksitis, cholesistitis.
c. Non urgent atau delayed atau priority, dalam kategori ini termasuk
pasien pasien yang dapat walking wounded. Mereka termasuk pasien
yang secara hemodinamik stabil tetapi dengan cedera yang nyata yaitu
laserasi kulit, kontusio, abrasi dan luka lain, fraktur tulang pendek serta
sendi dan demam.
d. Mati atau nonsalvageable, sudah tidak bernafas meskipun telah
dibebaskan jalan nafas akut atau cedera berat, perdarahan massif, luka
bakar >90% dikategorikan merah. Area yang tidak jelas dapat bertahan
hidup atau tidak meskipun setelah di lakukan resusitasi dan tindakan
maksimum.

Roution Multiple Casualty Triage
Simple triage & rapid treatment (START) memungkinkan seseorang
melakukan triase pada seorang pasien dalam 60 detik atau lebih cepat dengan
mengevaluasi respirasi, perfusi dan status mental pasien. Prinsip dari start
adalah untuk mengatasi ancaman nyawa, jalan nafas yang tersumbat dan
19

perdarahan massif arteri. START dapat dengan cepat dan akurat
mengklasifikasi pasien ke dalam empat kelompok :
a. Hijau : penderita yang tidak mengalami luka dan bila di biarkan tidak
berbahaya
b. Label kuning atau delayed penderita dengan trauma ringan atau hanya
memerlukan tindakan bedah minor yang selanjutnya korban di
perbolehkan pulang
c. Biru : penderita yang trauma kepala berat dan perdarahan dalam rongga
perut
d. Merah atau immediate, penderita yang memerlukan tindakan cepat,
pernapasan >30 atau menit, capillary refill >2 detik juga pasien yang
keadaan kesadaran menurun, live saving sehingga terhindar dari
kecacatan atau kematian.























Gambar 1. Bagan alur START
20

Pendayagunaan Tenaga
a. Distribusi
Distribusi dalam rangka penempatan SDM Kesehatan ditujukan
untuk antisipasi pemenuhan kebutuhan minimal tenaga pada pelayanan
kesehatan akibat bencana. Penanggung jawab dalam pendistribusian
SDM Kesehatan untuk tingkat Provinsi atau Kota adalah Kepala Dinas
Kesehatan.

b. Mobilisasi
Mobilisasi SDM Kesehatan dilakukan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan SDM pada saat dan pasca bencana bila :
1) Masalah kesehatan yang timbul akibat bencana tidak dapat
diselesaikan oleh daerah tersebut sehingga memerlukan bantuan
dari daerah lain atau regional.
2) Masalah kesehatan yang timbul akibat bencana seluruhnya tidak
dapat diselesaikan oleh daerah tersebut sehingga memerlukan
bantuan dari regional dan nasional.

Langkah-langkah mobilisasi yang dilakukan:
1) Menyiagakan SDM Kesehatan untuk ditugaskan ke wilayah yang
terkena bencana.
2) Menginformasikan kejadian bencana dan meminta bantuan
melalui :
a) Jalur administrasi atau Depdagri
(Puskesmas - Camat - Bupati - Gubernur - Mendagri)
b) Jalur administrasi atau Depkes
(Puskesmas - Dinkes Kab atau Kota - Dinkes Prov - Depkes)
c) Jalur rujukan medik
(Puskesmas - RS Kab atau Kota - RS Prov - RS rujukan
wilayah - Dirjen Bina Yanmed atau Depkes)

Setiap Provinsi dan Kabupaten atau Kota diharapkan telah memiliki
21

Public Safety Center (PSC) dan Tim Penanggulangan Krisis Akibat Bencana
yang terdiri dari Tim RHA, Tim Gerak Cepat dan Tim Bantuan Kesehatan.
Hal ini untuk memudahkan pelaksanaan mobilisasi SDM Kesehatan pada saat
kejadian bencana. Kepala Dinas Kesehatan setempat bertindak sebagai
penanggung jawab pelaksanaan mobilisasi SDM kesehatan di wilayah
kerjanya.
Mobilisasi SDM Kesehatan di tingkat regional (lintas provinsi)
dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku (sesuai jejaring rumah medik) dan
berkoordinasi dengan Depkes.

Peningkatan dan pengembangan
Peningkatan dan pengembangan SDM Kesehatan disesuaikan dengan
kebutuhan untuk penanggulangan bencana SDM Kesehatan dan diarahkan
untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugasnya secara
profesional. Melalui pembinaan yang dilaksanakan secara teratur dan
berkesinambungan, diharapkan kinerja SDM Kesehatan dapat meningkat
lebih baik. Pembinaan dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
a. Supervisi dan bimbingan teknis secara terpadu untuk menyelesaikan
masalah.
b. Pendidikan formal dalam bidang penanggulangan bencana.
c. Pelatihan atau kursus mengenai teknis medis dan penanggulangan
bencana.
d. Melakukan gladi posko secara terstruktur, terprogram, terarah, dan
terkendali serta berkala.
e. Pertemuan ilmiah (seminar, workshop, dan lain-lain)
f. Pembahasan masalah pada rapat intern dalam lingkup kesehatan
ataupun secara terpadu lintas sektor diberbagai tingkat administratif.

Dalam upaya meningkatkan kompetensi SDM Kesehatan dalam
penanggulangan krisis akibat bencana dibutuhkan pelatihan-pelatihan berikut
ini:
a. Pelatihan untuk Perawat Lapangan (Puskesmas) di lokasi
22

pengungsian daerah potensial terjadi bencana, antara lain:
1) Keperawatan Kesmas (CHN) khusus untuk masalah kesehatan
pengungsi
2) Keperawatan Gawat Darurat Dasar (emergency nursing)
3) PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar)
4) Penaggulangan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
5) Manajemen Penanggulangan Krisis Akibat Bencana (PK-AB)

b. Pelatihan untuk Perawat di fasilitas rujukanatauRS, antara lain:
1) Keperawatan Gawat Darurat Dasar dan lanjutan (PPGD dan
BTLS)
2) Keperawatan ICU
3) Keperawatan jiwa
4) Keperawatan OK
5) Manajemen keperawatan di RS
6) Standar Pre-Caution
7) Mahir Anestesi
8) PONEK (Pelayanan Obstetri dan Neonatal
Emergency Komprehensif

c. Kesehatan reproduksi, antara lain:
1) PONED untuk dokter, bidan dan perawat
2) Pelatihan Penanggulangan Kekerasan terhadap Perempuan dan
Anak untuk dokter, perawat dan bidan.

d. Gizi, antara lain:
1) Penanggulangan masalah gizi dalam keadaan darurat
untuk petugas gizi
2) Surveilans gizi untuk Petugas gizi
3) Konselor gizi untuk Petugas gizi
4) Tata laksana gizi buruk

23

e. Pelayanan medik, antara lain:
1) GELS (General Emergency Life Support)untuk dokter
2) PTC untuk dokter
3) APRC untuk dokter
4) Dental Forensik untuk dokter gigi
5) DVI untuk dokter dan dokter gigi
6) PONEK untuk dokter spesialis obsgyn rumah sakit
7) ATLS untuk dokter
8) ACLS untuk dokter
9) BLS untuk SDM Kesehatan

f. Pelayanan penunjang medik, antara lain:
1) Pelatihan fisioterapi
2) Pelatihan teknis labkes untuk pranata labkes
3) Pelatihan untuk radiographer

g. Pelayanan kefarmasian, antara lain:
1) Perencanaan dan pengelolaan obat terpadu
2) Pengelolaan obat KabupatenatauKota
3) Pengelolaan obat Puskesmas
4) Pemanfaatan data Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan
Obat (LPLPO)
5) Pelatihan sistem informasi dan inventarisasi obat bantuan

h. Manajemen penanggulangan krisis, antara lain:
1) Pelatihan manajemen penanggulangan krisis akibat bencana
2) Pelatihan manajemen penanggulangan krisis pada kedaruratan
kompleks
3) Public Health in Complex Emergency Course
4) Health Emergencies Large Population (HELP) Course
5) Pelatihan radio komunikasi

24

i. Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, antara lain:
1) Pelatihan atau kursus dalam dan luar negeri (public health on
disaster management)
2) Pelatihan surveilans epidemiologi dalam keadaan bencana
3) Pelatihan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di regional
center
4) Pelatihan RHA dan rapid response sanitasi darurat
5) Pelatihan asisten dan ko-asisten entomologi
6) Pelatihan Ahli Epidemiologi Lapangan (PAEL)


6. PERAN SEKTOR KESEHATAN
Prabencana
Perencanaan kebutuhan SDM Kesehatan pada masa prabencana
menyangkut penempatan SDM Kesehatan dan pembentukan Tim
Penanggulangan Krisis akibat Bencana. Dalam perencanaan penempatan
SDM Kesehatan untuk perayanan kesehatan pada kejadian bencana perlu
diperhatikan beberapa hal berikut:
a. Analisis risiko pada wilayah rawan bencana
b. Kondisi penduduk di daerah bencana (geografi, populasi, ekonomi,
sosial budaya, dan sebagainya)
c. Ketersediaan fasilitas kesehatan
d. Kemampuan SDM Kesehatan setempat
e. Kebutuhan minimal pelayanan kesehatan di wilayah setempat

Sementara itu, dalam pembentukan Tim Penanggulangan Krisis akibat
Bencana perlu diperhatikan hal-hal berikut.
a. Waktu untuk bereaksi yang singkat dalam memberikan
pertolongan.
b. Kecepatan dan ketepatan dalam bertindak untuk
mengupayakan pertolongan terhadap korban bencana sehingga
jumlah korban dapat diminimalkan.
25

c. Kemampuan SDM Kesehatan setempat (jumlah dan jenis
serta kompetensi SDM Kesehatan setempat)
d. Kebutuhan minimal pelayanan kesehatan pada saat bencana.

Disamping upaya pelayanan kesehatan (kegiatan teknis medis)
diperlukan ketersediaan SDM Kesehatan yang memiliki kemampuan
manajerial dalam upaya penanggulangan krisis akibat bencana. Untuk
mendukung kebutuhan tersebut, maka tim tersebut harus menyusun rencana:
a. Kebutuhan anggaran (contingency budget).
b. Kebutuhan sarana dan prasarana pendukung.
c. Peningkatan kemampuan dalam penanggulangan krisis akibat bencana.
d. Rapat koordinasi secara berkala.
e. Gladi posko dan gladi lapangan

Saat dan pascabencana
Pada saat terjadi bencana perlu diadakan mobilisasi SDM Kesehatan
yang tergabung dalam suatu Tim Penanggulangan Krisis yang meliputi Tim
Gerak Cepat, Tim Penilaian Cepat Kesehatan (Tim RHA) dan Tim Bantuan
Kesehatan. Koordinator Tim dijabat oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
atau Kabupaten atau Kota (mengacu Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1653/Menkes/SK/XII/2005). Kebutuhan minimal tenaga untuk
masing-masing tim tersebut, antara lain:
a. Tim Gerak Cepat, yaitu tim yang diharapkan dapat segera
bergerak dalam waktu 0-24 jam setelah ada informasi kejadian
bencana. Tim Gerak Cepat ini terdiri atas:
1) Pelayanan Medis
a) Dokter umumatauBSB : 1 orang
b) Dokter spesialis : 1 orang
c) Dokter spesialis anastesi : 1 orang
d) Perawat mahir (perawat bedah, gawat darurat) : 2 orang
e) Tenaga DVI : 1 orang
f) Apoteker : 1 orang
26

g) Supir ambulans : 1 orang

2) Surveilans
Ahli epidemiologi atau Sanitarian : 1 orang

3) Petugas Komunikasi : 1 orang

Tenaga-tenaga di atas harus dibekali minimal pengetahuan
umum mengenai bencana yang dikaitkan dengan bidang pekerjaannya
masing- masing.

b. Tim RHA, yaitu tim yang bisa diberangkatkan bersamaan dengan
Tim Gerak Cepat atau menyusul dalam waktu kurang dari 24 jam. Tim
ini minimal terdiri atas:
1) Dokter umum : 1 orang
2) Ahli epidemiologi : 1 orang
3) Sanitarian : 1 orang

c. Tim Bantuan Kesehatan, yaitu tim yang diberangkatkan
berdasarkan kebutuhan setelah Tim Gerak Cepat dan Tim RHA
kembali dengan laporan dengan hasil kegiatan mereka di lapangan.
Tim Bantuan Kesehatan tersebut terdiri atas:
No. Jenis Tenaga Kompetensi Tenaga
1. Dokter Umum PPGD/ GELS/ATLS/ACLS
2.
Apoteker dan
Asisten Apoteker
Pengelolaan Obat dan Alkes
3.
Perawat (D3/Sarjana
Keperawatan)
Emergency
Nursing/PPGD/BTLS/PONED/
PONEK/ICU
4. Perawat Mahir Anestesi/Emergency Nursing
5. Bidan (D3 Kebidanan) APN dan PONED
6. Sanitarian (D3 Penanganan Kualitas Air
27

Kesling/Sarjana
Kesmas)
Bersih dan Kesling
7.
Ahli Gizi (D3/D4
Gizi/Sarjana Kesmas)
Penanganan Gizi Darurat
8.
Tenaga Surveilens
(D3/D4
Kesehatan/Sarjana
Kesmas)
Surveilens Penyakit
9.
Ahli Entomolog
(D3/D4 Kesehatan/
Sarjana
Kesmas/Sarjana
Biolog)
Pengendalian Vektor

Kebutuhan tenaga bantuan kesehatan selain yang tercantum di atas
perlu disesuaikan pula dengan jenis bencana dan kasus yang ada, seperti
berikut :
No. Jenis bencana Jenis Tenaga Kompetensi Tenaga Jumlah
1. Gempa bumi Dokter
Spesialis
Bedah umum &
orthopedi
Penyakit dalam
Anak
Obsgyn
Anestesi
DVI
Jiwa
Bedah plastik
Forensik Dental
forensik
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
D3 Perawat
Mahir
Anestesi dan perawat
mahir gawat darurat
(emergency nursing)
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
28

dasar dan lanjutan
serta perawat mahir
jiwa, OK/ICU
tim RHA
Radiografer Rontgen
2. Banjir
bandang/Tanah
longsor
Dokter
Spesialis
Bedah umum &
orthopedi Penyakit
dalam Anak Obsgyn
Bedah plastik
Anestesi DVI
Pulmonologi Forensik
Dental forensik
Kesehatan Jiwa
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
D3 Perawat
Mahir
Anestesi dan perawat
mahir gawat darurat
(emergency nursing)
dasar dan lanjutan
serta
perawat mahir jiwa,
OK/CU
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
Radiografer Rontgen Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
3. Gunung
Meletus
Dokter
Spesialis
Bedah umum Penyakit
dalam Anestesi dan
ahli intensive care
Bedah plastik
Forensik Dental
forensik Kesehatan
Jiwa
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA

D3 Perawat
Mahir
Anestesi dan perawat
mahir gawat darurat
Sesuai
kebutuhan/
29

(emergency nursing)
dasar dan lanjutan
serta perawat mahir
jiwa, OK/ICU
rekomendasi
tim RHA
Radiografer Rontgen Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
4. Tsunami Dokter
Spesialis
Bedah umum &
orthopedi
Penyakit dalam
Anak
Anestesi
DVI
Pulmonologi
Kesehatan Jiwa Bedah
plastik Forensik
Dental forensik
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
D3 Perawat
Mahir
Anestesi dan perawat
mahir gawat darurat
(emergency nursing)
dasar dan lanjutan
serta perawat mahir
jiwa,
OK, ICU
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
Radiografer Rontgen Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
5. Ledakan bom/
kecelakaan
industri
Dokter
Spesialis
Bedah umum &
Orthopedi Penyakit
dalam Anestesi DVI
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
30

Forensik Kesehatan
Jiwa , Bedah plastik
Forensik Dental
Forensik
tim RHA
D3 Perawat
Mahir
Anestesi dan perawat
mahir gawat darurat
(emergency nursing)
dasar dan lanjutan
serta perawat mahir
jiwa, OK, ICU
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
Radiografer Rontgen Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
6. Kerusuhan
Massal
Dokter
Spesialis
Bedah umum &
orthopedi Penyakit
dalam Anestesi DVI
Forensik
Psikiater/Psikolog dll
Tenaga
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA
D3 Perawat
Mahir
Anestesi dan perawat
mahir gawat darurat
(emergency nursing)
dasar dan lanjutan
serta perawat mahir
jiwa,
OK, ICU
Sesuai
kebutuhan/
rekomendasi
tim RHA





31

7. Aspek medikolegal
Adalah pelayanan kedokteran untuk memberikan bantuan profesional
yang optimal dalam memanfaatkan ilmu kedokteran untuk kepentingan
penegakan hokum dan keadilan. Ada 5 bidang medicolegal :
a. Pelayanan forensic medic
b. Pelayanan forensic patologi
c. Pelayanan laboraturium kedokteran forensic
d. Pelayanan konsultasi medicolegal
e. Pelayanan bank jaringan

Aspek hukum kesehatan lingkungan
UU hukum kesehatan dalam pasal 22 tentang kesehatan lingkungan:
a. Kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas
lingkungan hidup.
b. Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan
pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya.
c. Kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air dan udara, pengamanan
limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan,
pengendalian vector penyakit dan penyehatan atau pengamatan lainnya.
d. Setiap tempat atau sarana pelayanan umum wajib memeliharan dan
menyehatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan
pelayanan.

Sanksi hukum bagi yang melanggar ketentuan tentang kesehatan
lingkungan terdapat pada pasal 84, yaitu : menyelenggarakan tempat atau
sarana yang tidak memenuhi ketentuan standard dan atau persyaratan
lingkungan yang sehat sebagaimana dimaksud dalam pasal 23 ayat (4)
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana
denda paling banyak Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah).



32

UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 24 TAHUN 2007
TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA




Menimbang :



a.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
bertanggung
Menimbang : a. Jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dengan tujuan untuk
memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan
penghidupan termasuk perlindungan atas bencana,
dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum yang
berlandaskan ancasila, sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
b. Bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan
demografis yang memungkinkan terjadinya bencana,
baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor
nonalam maupun faktor manusia yang menyebabkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang
dalam keadaan tertentu dapat menghambat
pembangunan nasional.
33

d. Bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai penanggulangan bencana yang ada belum
dapat dijadikan landasan hokum yang kuat dan
menyeluruh serta tidak sesuai dengan perkembangan
keadaan masyarakat dan kebutuhan bangsa Indonesia
sehingga menghambat upaya penanggulangan bencana
secara terencana, terkoordinasi, dan terpadu.
e. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu
membentuk Undang-Undang tentang Penanggulangan
Bencana.

Mengingat : Pasal 20 dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dengan Persetujuan bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGGULANGAN
BENCANA

BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
34

benda, dan dampak psikologis.
2. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan
oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan
tanah longsor.
3. Bencana nonalam adalah bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa
nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi,
gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
4. Bencana sosial adalah bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat,
dan teror.
5. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah
serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan
pembangunan yang berisiko timbulnya bencana,
kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan
rehabilitasi.
6. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian
kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk
menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.
7. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui
pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna
dan berdaya guna.
8. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan
pemberian peringatan sesegera mungkin kepada
masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana
pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.
9. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi
35

risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana.
10. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan
yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian
bencana untuk menangani dampak buruk yang
ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan
evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan
dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi,
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
11. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua
aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat
yang memadai pada wilayah pascabencana dengan
sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya
secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana.
12. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua
prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah
pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun
masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan
berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan
budaya, tegaknya hokum dan ketertiban, dan
bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek
kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.
13. Ancaman bencana adalah suatu kejadian atau
peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.
14. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik
geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis,
sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada
suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang
mengurangi kemampuan mencegah, meredam,
mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk
36

menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
15. Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk
mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan
hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan
kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan
melakukan upaya rehabilitasi.
16. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan
yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan
risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman
bencana maupun kerentanan pihak yang terancam
bencana.
17. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang
ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan
kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian,
luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman,
mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan
gangguan kegiatan masyarakat.
18. Bantuan darurat bencana adalah upaya memberikan
bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat
keadaan darurat.
19. Status keadaan darurat bencana adalah suatu
keadaan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk
jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi Badan
yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana.
20. Pengungsi adalah orang atau kelompok orang yang
terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya
untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat
dampak buruk bencana.
21. Setiap orang adalah orang perseorangan, kelompok
orang, dan/atau badan hukum.
22. Korban bencana adalah orang atau sekelompok orang
yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana.
37

23. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah,
adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
24. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati/walikota,
atau perangkat daerah sebagai unsure penyelenggara
pemerintahan daerah.
25. Lembaga usaha adalah setiap badan hukum yang dapat
berbentuk badan usaha milik negara, badan usaha
milik daerah, koperasi, atau swasta yang didirikan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang menjalankan jenis usaha tetap dan
terus menerus yang bekerja dan berkedudukan dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
26. Lembaga internasional adalah organisasi yang berada
dalam lingkup struktur organisasi Perserikatan
Bangsa-Bangsa atau yang menjalankan tugas mewakili
Perserikatan Bangsa-Bangsa atau organisasi
internasional lainnya dan lembaga asing
nonpemerintah dari negara lain di luar Perserikatan
Bangsa-Bangsa.

BAB II
LANDASAN, ASAS, DAN TUJUAN
Pasal 2
Penanggulangan bencana berlandaskan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 3
(1) Penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 berasaskan:
38

a. kemanusiaan
b. keadilan
c. kesamaan kedudukan dalam hukum dan
pemerintahan
d. keseimbangan, keselarasan, dan keserasian
e. ketertiban dan kepastian hokum
f. kebersamaan
g. kelestarian lingkungan hidup
h. ilmu pengetahuan dan teknologi.

(2) Prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, yaitu:
a. cepat dan tepat
b. prioritas
c. koordinasi dan keterpaduan
d. berdaya guna dan berhasil guna
e. transparansi dan akuntabilitas
f. kemitraan
g. pemberdayaan
h. nondiskriminatif
i. nonproletisi.

Pasal 4
Penanggulangan bencana bertujuan untuk:
a. memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman
bencana;
b. menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada;
c. menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara
terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh;
d. menghargai budaya lokal;
e. membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta;
f. mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan
39

kedermawanan; dan
g. menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.

BAB III
TANGGUNG JAWAB DAN
WEWENANG

Pasal 5
Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab
dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Pasal 6
Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana meliputi:
a. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan
risiko bencana dengan program pembangunan;
b. perlindungan masyarakat dari dampak bencana;
c. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi
yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan
standar pelayanan minimum;
d. pemulihan kondisi dari dampak bencana;
e. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai;
f. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana
dalam bentuk dana siap pakai; dan
g. pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari
ancaman dan dampak bencana.

Pasal 7
(1) Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana meliputi:
40

a. penetapan kebijakan penanggulangan bencana selaras
dengan kebijakan pembangunan nasional;
b. pembuatan perencanaan pembangunan yang
memasukkan unsur-unsur kebijakan penanggulangan
bencana;
c. penetapan status dan tingkatan bencana
nasional dan daerah;
d. penentuan kebijakan kerja sama dalam
penanggulangan bencana dengan negara lain,
badan-badan, atau pihak-pihak internasional lain;
e. perumusan kebijakan tentang penggunaan teknologi
yang berpotensi sebagai sumber ancaman atau bahaya
bencana;
f. perumusan kebijakan mencegah penguasaan dan
pengurasan sumber daya alam yang melebihi
kemampuan alam untuk melakukan pemulihan; dan
g. pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau
barang yang berskala nasional.
(2) Penetapan status dan tingkat bencana nasional dan
daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
memuat indikator yang meliputi:
a. jumlah korban;
b. kerugian harta benda;
c. kerusakan prasarana dan sarana;
d. cakupan luas wilayah yang terkena bencana;
e. dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan status dan
tingkatan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diatur dengan Peraturan Presiden.



41

Pasal 8
Tanggung jawab pemerintah daerah dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana meliputi:
a. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang
terkena bencana sesuai dengan standar pelayanan minimum;
b. perlindungan masyarakat dari dampak bencana;
c. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan
risiko bencana dengan program pembangunan; dan
d. pengalokasian dana penanggulangan bencana dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah yang memadai.

Pasal 9
Wewenang pemerintah daerah dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana meliputi:
a. penetapan kebijakan penanggulangan bencana pada
wilayahnya selaras dengan kebijakan pembangunan daerah;
b. pembuatan perencanaan pembangunan yang memasukkan
unsur-unsur kebijakan penanggulangan bencana;
c. pelaksanaan kebijakan kerja sama dalam penanggulangan
bencana dengan provinsi dan/atau kabupaten/kota lain;
d. pengaturan penggunaan teknologi yang berpotensi sebagai
sumber ancaman atau bahaya bencana pada wilayahnya;
e. perumusan kebijakan pencegahan penguasaan dan
pengurasan sumber daya alam yang melebihi kemampuan
alam pada wilayahnya; dan
f. pengendalian pengumpulan dan penyaluran uang atau
barang yang berskala provinsi, kabupaten/kota.

BAB IV
KELEMBAGAAN
Bagian Kesatu
Badan Nasional Penanggulangan Bencana
42

Pasal 10
(1) Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
(2) Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan Lembaga Pemerintah
Nondepartemen setingkat menteri.

Pasal 11
Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) terdiri atas unsur:
a. pengarah penanggulangan bencana;
b. pelaksana penanggulangan bencana.

Pasal 12
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mempunyai tugas:
a. memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha
penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan
bencana, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan
rekonstruksi secara adil dan setara;
b. menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan
penanggulangan bencana berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan;
c. menyampaikan informasi kegiatan kepada masyarakat;
d. melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana
kepada Presiden setiap sebulan sekali dalam kondisi
normal dan pada setiap saat dalam kondisi darurat bencana;
e. menggunakan dan mempertanggungjawabkan
sumbangan/bantuan nasional dan internasional;
f. mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang
diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
g. melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan Peraturan
Perundang-undangan; dan
43

h. menyusun pedoman pembentukan Badan Penanggulangan
Bencana Daerah.

Pasal 13
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mempunyai fungsi
meliputi:
a. perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan
bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak
cepat dan tepat serta efektif dan efisien; dan
b. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan
bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh.

Pasal 14
(1) Unsur pengarah penanggulangan bencana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 huruf a mempunyai fungsi:
a. merumuskan konsep kebijakan penanggulangan
bencana nasional;
b. memantau; dan
c. mengevaluasi dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana.
(2) Keanggotaan unsur pengarah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) terdiri atas:
a. pejabat pemerintah terkait;
b. anggota masyarakat profesional.
(3) Keanggotaan unsur pengarah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b dipilih melalui uji kepatutan yang
dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia.

Pasal 15
(1) Pembentukan unsure pelaksana penanggulangan bencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf b
44

merupakan kewenangan Pemerintah.
(2) Unsur pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mempunyai fungsi koordinasi, komando, dan pelaksana
dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.
(3) Keanggotaan unsur pelaksana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) terdiri atas tenaga profesional dan ahli.

Pasal 16
Untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13
huruf b, unsure pelaksana penanggulangan bencana mempunyai
tugas secara terintegrasi yang meliputi:
a. prabencana;
b. saat tanggap darurat;
c.
pascabencana.

Pasal 17
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, fungsi, tugas,
struktur organisasi, dan tata kerja Badan Nasional Penanggulangan
Bencana diatur dengan Peraturan Presiden.

Bagian Kedua
Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Pasal 18
(1) Pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 membentuk Badan Penanggulangan Bencana
Daerah.
(2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. badan pada tingkat provinsi dipimpin oleh seorang
pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat
45

eselon Ib;dan
b. badan pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh
seorang pejabat setingkat di bawah bupati/walikota
atau setingkat eselon IIa.

Pasal 19
(1) Badan Penanggulangan Bencana Daerah terdiri atas
unsur:
a. pengarah penanggulangan bencana;
b. pelaksana penanggulangan bencana.
(2) Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui
koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Pasal 20
Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai fungsi:
a. perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan
bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak
cepat dan tepat, efektif dan efisien; serta
b. pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan
bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh.

Pasal 21
Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas:
a. menetapka pedoman dan pengarahan sesuai dengan
kebijakan pemerintah daerah dan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana terhadap usaha
penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan
bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta
rekonstruksi secara adil dan setara;
b. menetapkan standardisasi serta kebutuhan
penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan
46

Peraturan Perundang-undangan;
c. menyusun, menetapkan, dan menginformasikan peta
rawan bencana;
d. menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan
bencana;
e. melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana
pada wilayahnya;
f. melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana
kepada kepala daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi
normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana;
g. mengendalikan pengumpulan dan penyaluran uang dan
barang;
h. mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang
diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;
i. melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan Peraturan
Perundang-undangan.

Pasal 22
(1) Unsur pengarah penanggulangan bencana daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a
mempunyai fungsi:
a. menyusun konsep pelaksanaan kebijakan
penanggulangan bencana daerah;
b. memantau; dan
c. mengevaluasi dalam penyelenggaraan
penanggulangan bencana daerah.
(2) Keanggotaan unsur pengarah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) terdiri atas:
a. pejabat pemerintah daerah terkait; dan
b. anggota masyarakat profesional dan ahli.
(3) Keanggotaan unsure pengarah sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b dipilih melalui uji kepatutan yang
47

dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Pasal 23
(1) Pembentukan unsure pelaksana penanggulangan bencana
daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1)
huruf b merupakan kewenangan pemerintah daerah.
(2) Unsur pelaksana penanggulangan bencana daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai fungsi:
a. koordinasi;
b. komando; dan
c. pelaksana dalam penyelenggaraan penanggulangan
bencana pada wilayahnya.
(3) Keanggotaan unsure pelaksana penanggulangan bencana
daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas
tenaga profesional dan ahli.

Pasal 24
Untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 ayat (2), unsur pelaksana penanggulangan bencana
daerah mempunyai tugas secara terintegrasi yang meliputi:
a. prabencana;
b. saat tanggap darurat;dan
c. pascabencana.

Pasal 25
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, fungsi, tugas,
struktur organisasi, dan tata kerja Badan Penanggulangan Bencana
Daerah diatur dengan Peraturan Daerah.


48

DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, M. Jusuf dan Amir, amri. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan. Jakarta : EGC
Sedyaningsih, ER. 2011. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis
Kesehatan Akibat Bencana edisi revisiI. Bakti husada : Jakarta
Sugiarto, Edy. 2012. Bahan Kuliah Manajemen Bencana IKM. Cirebon
: FK UNSWAGATI
Supari, Siti fadilah. 2006. Pedoman Manajemen Sumber Daya Manusia
(SDM) Kesehatan dalam Penanggulangan Bencana. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2008 tentang
Penanggulangan Bencana Daerah