Anda di halaman 1dari 8

STUDI PERENCANAAN NORMALISASI SUNGAI KALI GUNTING

KABUPATEN JOMBANG PROVINSI JAWA TIMUR





JURNAL ILMIAH
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Memperoleh gelar Sarjana Teknik









Disusun Oleh:
ACHMAD SYARIFUDDIN
NIM. 0610640001 64





KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2013






STUDI PERENCANAAN NORMALISASI SUNGAI KALI GUNTING
KABUPATEN JOMBANG PROVINSI JAWA TIMUR

Achmad Syarifuddin
1
, Heri Suprijanto
2
, Dian Sisinggih
2
1
Mahasiswa S-1 Jurusan Teknik Pengairan Universitas Brawijaya Malang
2
Dosen Jurusan Teknik Pengairan Universitas Brawijaya Malang
E-mail: adinrua@gmail.com

ABSTRAK

Secara umum Kali Gunting terdiri dari 3 (tiga) sungai utama yaitu Kali Gunting
Sebagai Sungai Utama, dan 2 (dua) anak sungai. Permasalahan yang diangkat pada studi
ini adalah banjir pada Daerah Kali Gunting. Banjir terjadi hampir di sepanjang sungai.
Dalam kajian ini, perencanaan pengendalian banjir dititik beratkan pada bagian sungai
yang rawan terjadi banjir.
Untuk mendapatkan hasil perencanaan yang optimal, maka dalam melakukan
perencanaan perbaikan alur sungai dengan menyusun perencanaan sesuai dengan kondisi
alamiah, yakni dengan mempelajari morfologi sungai dan merencanakan sesuai dengan
morfologi sungai tersebut.
Dalam upaya penanggulangan banjir pada Kali Gunting, langkah utama yang
disarankan adalah Normalisasi dan pembuatan tanggul Sungai, karena tingkat kerusakan
tanggul di beberapa titik yang menjadi sebab melimpasnya air sungai pada saat banjir, serta
berdasarkan analisis, penanganan ini sudah bisa menampung banjir pada debit banjir
rancangan 25 tahunan (Q-25).
Kata kunci: Normalisasi sungai, Banjir, Pengendalian Banjir.

ABSTRACT
Generally Gunting River consist of 3 (three) main rivers, Gunting as Main River,
and two (2) creeks. The case in the study area was flood at Gunting river. Flood occurs
almost along the river. In this study, flood control planning emphasis on the part of the
river which is prone to flooding.
To get the optimal planning in river improvement plan, then the river channel
improvement planning with planning in accordance with the natural conditions, ie, by
studying the morphology of the river and plan according to the morphology of the river.
In order to control flood on the Kali Scissors, the main step suggested is
Normalization and applying levees, because the extent of damage at some point is the
reason of uncontrolled flood, and based on the analysis, this treatment was able to control
flooding on the design flood discharge annual 25 (Q-25).

Keyword: River Normalization, Flood, Flood Controlling, levee

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sungai cenderung memiliki sifat
khusus setempat, dimana satu sungai
dengan lainnya memiliki sifat yang
berbeda, jadi apabila suatu metode
pekerjaan dapat diterapkan pada suatu
sungai, hal tersebut tidak berarti bahwa
metode tersebut akan dapat diterapkan
pada sungai lainnya.
Salah satu daerah di Indonesia
yang mengalami permasalahan banjir
adalah Kali Gunting. Kali Gunting adalah
salah satu sungai yang melintasi wilayah
Kabupaten Jombang. Berhulu di gunung
Haryo Wayang daerah Kabupaten Kediri


dan bermuara di Kali Ngotok Ring Kanal
di Desa Kendal Sari Kecamatan
Sumobito Kabupaten Jombang. Kali
Gunting memiliki panjang sungai 32.20
km sedangkan luas DAS nya adalah
239.96 km
2
.









Gambar 1. Skema Kali Ganting

Secara geografis, wilayah tersebut
merupakan tanah pegunungan dengan
kemiringan lahan lebih dari 15-40 %.
Kondisi tersebut mempengaruhi
pematusan (drainase) air hujan melalui
sistem sungai yang ada. Kali Gunting
merupakan salah satu sistem drainase
utama (main drain) yang ada di wilayah
Kabupaten Jombang.
Kali Gunting memiliki potensi banjir
yang cukup besar. Oleh karena itu guna
pengendalian daya rusak Kali Gunting di
perlukan upaya normalisasi sungai dan
juga penyempurnaan sistem operasi
pintu-pintu yang ada secara menyeluruh
agar didapat sinergi yang baik pada
sistem pengendalian banjir pada wilayah
yang dimaksud sehingga mampu
menghindarkan bencana yang
diakibatkan oleh banjir.

II. METODOLOGI PERENCANAAN
A. Analisa Curah Hujan
Curah hujan yang diperlukan
untuk penyusunan suatu rencana
pemanfaatan air dan rencana
pengendalian banjir adalah curah hujan
rata-rata di seluruh daerah (area rainfall),
bukan curah hujan pada suatu titik
tertentu (point rainfall). Curah hujan ini
disebut curah hujan wilayah/daerah dan
dinyatakan dalam mm (Sosrodarsono,
1993:27). Terdapat beberapa metode
untuk mendapatkan area rainfall, yaitu:
a. Metode rerata Aljabar (Arithmatic
Mean)
b. Metode poligon Thiessen
c. Metode Isohyet
Gambar 2. Poligon Thiessen
Sumber: Sosrodarsono, 1993:28
a. Stasiun hujan digambar pada peta dan
ditarik garis hubung masing-masing
stasiun.
b. Membuat garis bagi tegak lurus dari
garis hubung tersebut membentuk
poligon-poligon mengelilingi tiap-tiap
stasiun.
c. Sisi-sisi tiap poligon merupakan
batas-batas daerah stasiun hujan yang
bersangkutan.
d. Menghitung luas daerah tiap poligon.
e. Menghitung curah hujan rata-rata
yang diperoleh dari curah hujan
maksimum tahunan dikalikan
koefiien thiesennya.


B. Analisa Debit Banjir Rancangan
Debit banjir rancangan adalah
debit maksimum yang mungkin terjadi
pada suatu daerah dengan peluang
kejadian tertentu. Untuk menaksir banjir
rancangan digunakan hidrograf-hidrograf
sintetis yang telah dikembangkan di
negara-negara lain, dimana parameter-
parameternya disesuaikan terlebih dulu
dengan karakteristik daerah pengaliran
yang ditinjau. Adapun parameter dan
1
2
4
3
5
6
7
A
1

A
2

A
3

A
4

A
5

A
6

A
7

K. Pancir
K. Gunting
K
.

G
u
n
t
i
n
g
K. Catak banteng
K
.

N
g
o
t
o
k

R
i
n
g

K
a
n
a
l
K. Mangir
K
.
B
r
a
n
t
a
s



karakteristik daerah pengaliran meliputi
(Soemarto, CD, 1987:164):
- Tenggang waktu dari permulaan
hujan sampai puncak hidrograf (time
to peak magnitude).
- Lebar dasar sungai.
- Luas daerah pengaliran.
- Panjang alur sungai terpanjang.
- Koefisien Pengaliran.
Pada kajian ini debit banjir di
hitung dengan menggunakan metode
hidrograf satuan sintetis Nakayasu.
Nakayasu menurunkan rumus hidrograf
satuan sintetik berdasarkan hasil
pengamatan dan penelitian pada beberapa
sungai. Besarnya nilai debit puncak
hidrograf satuan dihitung dengan rumus
(Soemarto, 1987:166):
Qp =
|
|
.
|

\
|
+

0.30 p
T 0.30T
Re A
6 . 3
1

Dengan:
Qp = debit puncak banjir (m
3
/dt)
A = luas daerah aliran sungai (km
2
)
Ro = curah hujan satuan (mm)
T
p
= tenggang waktu dari permulaan
hujan sampai puncak hidrograf
satuan (jam)
T
0,3
= waktu yang diperlukan oleh
penurunan debit, dari debit
puncak sampai debit menjadi 30
% dari debit puncak hidrograf
satuan (jam)


tr
i
t
Qp
0,3 Qp
0,3
2
Qp
Tp T 0,3 1,5 T 0,3
0,8 tr ts
Naik Turun
Q
t

Gambar 3. Poligon Thiessen
Sumber: Soemarto, 1987:168


C. Analisa Profil Aliran
Elevasi muka air pada alur sungai
perlu dianalisis untuk mengetahui pada
sisi mana terjadi luapan pada alur sungai
atau juga dapat digunakan untuk
mengetahui dimana terjadi hambatan
pada alur sungai, Sehingga dapat
ditentukan dimensi dari perbaikan sungai.
Sebagai alat bantu analisa profil
muka air digunakan program HEC-RAS
versi 4.1.0 untuk kondisi aliran steady
(tanpa pasang surut). Prosedur
perhitungan didasarkan pada
penyelesaian persamaan aliran satu
dimensi melalui saluran terbuka. Aliran
satu dimensi ditandai dengan besarnya
kecepatan yang sama pada seluruh
penampang atau digunakan kecepatan
rata-rata.


Gambar 4. Tampilan Awal HEC-RAS

D. Analisa Stabilitas
Analisa stabilitas terdiri dari dua
jenis yaitu analisa stabilitas terhadap
gerusan dan analisa stabilitas saluran.
Dalam studi ini hanya menggunakan
analisa stabilitas saluran. Stabilitas
saluran umumnya diperlukan untuk
mengetahui besarnya tingkat stabilitas
dari saluran yang telah direncanakan
yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi
tanah lokasi maupun struktur bangunan
yang direncanakan berupa besaran yang
disebut angka keamanan (safety factor).
Untuk mempermudah analisa stabilitas
saluran digunakan perangkat lunak GEO-
SLOPE.



Gambar 5. Tampilan Awal GEO-SLOPE

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisa Hidrologi
Untuk perhitungan curah hujan
rancangan dipakai metode Log Pearson
Type III, dengan alasan bahwa distribusi
Log Pearson Tipe III banyak digunakan
dalam analisis hidrologi, selain itu
parameter statistik dari Log Pearson
mempunyai syarat nilai Cs dan Ck bebas.

Tabel 1. Satu harian maksimum tahunan
No Tahun Curah Hujan
1 1994 86.69
2 1995 87.93
3 1996 76.85
4 1997 78.51
5 1998 62.42
6 1999 77.56
7 2000 67.48
8 2001 53.23
9 2002 78.98
10 2003 78.40
11 2004 101.40
12 2005 72.05
13 2006 84.36
14 2007 140.95
15 2008 63.37
16 2009 78.17
Sumber : Hasil Perhitungan
Tabel 2.Curah hujan Rancangan
No
Tr
Curah Hujan
Rencana
(tahun) (log) (mm)
1 2 1.88 76.64
2 5 1.94 86.63
3 10 1.96 91.70
4 25 1.99 96.92
5 50 2.00 100.18
6 100 2.01 103.02
Sumber : Hasil Perhitungan

B. Analisa Debit Banjir Rancangan
Pada kajian ini debit banjir di
hitung dengan menggunakan metode
hidrograf satuan sintetis Nakayasu.
Nakayasu menurunkan rumus hidrograf
satuan sintetik berdasarkan hasil
pengamatan dan penelitian pada beberapa
sungai. Besarnya nilai debit puncak
hidrograf satuan dihitung dengan rumus
(Soemarto, 1987:166):
Qp =
|
|
.
|

\
|
+

0.30 p
T 0.30T
Re A
6 . 3
1

Dengan:
Qp = debit puncak banjir (m
3
/dt)
A = luas daerah aliran sungai (km
2
)
Ro = curah hujan satuan (mm)
T
p
= tenggang waktu dari permulaan
hujan sampai puncak hidrograf
satuan (jam)
T
0,3
= waktu yang diperlukan oleh
penurunan debit, dari debit
puncak sampai debit menjadi 30
% dari debit puncak hidrograf
satuan (jam)

Tabel 3.Debit Banjir Rancangan
No
Tr

Debit Banjir Rancangan
(m3/dt)
(tahun)
1 Q
2th
645.18
2 Q
5th
729.10
3 Q
10th
771.73
4 Q
25th
815.61
5 Q
50th
843.00
6 Q
100th
866.91
Sumber : Hasil Perhitungan

0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
0 8 16 24
D
e
b
i t
B
a
n
j i r

(
m
3
/
d
t
)
Jam ke-
Hidrograf Nakayasu Kali Gunting/Ngotok
Q2th
Q5th
Q10th

Gambar 6. Hidrograf Nakayasu Q2th, Q5th,
Q10th


0
20
40
60
80
100
120
0 8 16 24
D
e
b
i t
B
a
n
j i r

(
m
3
/
d
t
)
Jam ke-
Hidrograf Nakayasu Kali Mangir
Q20th
Q50th
Q100th

Gambar 7. Hidrograf Nakayasu Q25th,
Q50th, Q100th

C. Analisa Hidrolika
Dalam studi ini, analisa hidrolika
dilakukan dengan bantuan program HEC-
RAS 4.0. Mulai patok A.180 sampai
dengan patok A.140.


Gambar 8. Skema Sistem Kali Gunting







Gambar 9. Kondisi Eksisting Cross A.180

Rencana perbaikan alur yang
dimaksud adalah dengan melakukan
perbaikan penampang sungai yang tidak
beraturan. Bentuk penampang sungai
direncanakan trapesium. Debit yang
digunakan untuk perencanaan adalah
debit banjir dengan kala ulang 25 tahun.
Untuk elevasi dasar sungai tetap
menggunakan elevasi eksisiting, sehingga
kemiringan sungai (slope) tidak berubah.
Perbaikan alur sungai yang direncanakan
mulai patok A.180 sampai dengan patok
A.140.
E= h +
|
|
.
|

\
|
2g
v
2

Dengan:
E : energy spesifik
v : kecepatan aliran (m/s)
g : gaya gravitasi
h : kedalaman aliran (m)

Gambar 10. Kondisi Desain pada Cross Section
A.180
Bentuk penampang sungai
direncanakan trapesium. Debit yang
digunakan untuk perencanaan adalah
debit banjir dengan kala ulang 25 tahun.
Untuk elevasi dasar sungai tetap
menggunakan elevasi eksisiting, sehingga
kemiringan sungai (slope) tidak berubah


Gambar 11. Gambar Desain pada Cross Section
A.180
D. Analisa Stabilitas
Untuk perhitungan stabilitas
lereng tanggul digunakan program
geoslope student version yang dalam
perhitungannya menggunakan metode
Bishop, Janbu, Ordinary.
Metode Bishop






Di bawah ini disajikan stabilitas
pada tanggul dengan dimensi pada setiap
desain normalisasi yang ada dengan
anggapan bahwa stabilitas tanggul cukup
mewakili perhitungan tanggul pada
patok-patok yang lainnya.

Gambar 12.Gambar lereng tanggul kanan Patok
144


Gambar 13. Nilai Keamanan Minimum.



Gambar 14. Stabilitas Lereng Tanggul Patok 144

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan
perhitungan yang telah dilakukan dengan
memperhatikan rumusan masalah dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam perhitungan debit banjir
rancangan menggunankan metode
Nakayasu diperoleh debit banjir pada
Kali Gunting mulai dari muara Kali
Ngotok Ring Kanal:
- Q
2th
= 645.18 m
3
/dt
- Q
5th
= 729.10 m
3
/dt
- Q
10th
= 771.73 m
3
/dt
- Q
25th
= 815.61 m
3
/dt
2. Profil muka air Kali Gunting antara
pertemuan hilir dari Kali Mangir dan
hilir dari Kali Pancir dilihat pada
gambar berikut.

0 500 1000 1500 2000 2500
26
28
30
32
34
36
38
Kaligunting Plan: Kaligunting 6/14/2013
Main chanel distance (m)
E
l e
v
a
t
i o
n
(
m
)
Legend
WS Q 25th
WS Q 10th
WS Q 5th
WS Q 2th
Ground
LOB
ROB
Kali Gunting Ten Jombang

3. Setelah dilakukan normalisasi
diperoleh bentuk penampang desain
di bawah ini.
0 5 10 15 20 25 30 35 40
30
31
32
33
34
35
kaliguntingdesain Plan: Kaliguntingdesain 5/28/2013
River = kali gunting Reach = jombang RS =290
Station (m)
E
l e
v
a
t i o
n
( m
)
Legend
WSQ25
WSQ10
WSQ5
WSQ2
Ground
Bank Sta
.03 .03 .03

4. Dari analisa stabilitas lereng tanggul
menggunakan program Geo Studio
didapat nilai safety factor 2.619,
lereng tanggul aman dari slope.




V. DAFTAR PUSTAKA
Chow, Ven Te (1985). Hidrolika Saluran
Terbuka. Jakarta: Erlangga.
Hadisusanto, Nugroho (2011). Aplikasi
Hidrologi. Yogyakarta: Jogja
Mediautama.
Soemarto, C.D. (1987). Hidrologi Teknik.
Surabaya: Usaha Nasional.
Sosrodarsono, Suyono (1994). Penga-
turan dan perbaikan sungai.
Jakarta: PT. Pradnya Parami-
ta.
Triatmodjo, Bambang (2010). Hidrologi
Terapan. Yogyakarta: Beta
Offset.