Anda di halaman 1dari 18

8-1

Oleh: M. Ridwan Firdaus





8. CEKUNGAN SUMATERA SELATAN


8.1 REGIONAL

Nama Cekungan Polyhistory : Paleogene Back Arc - Neogene Back Arc Basin
Klasifikasi Cekungan : Cekungan Sedimen dengan Produksi
Hidrokarbon


8.1.1 Geometri Cekungan

Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan yang menghasilkan hidrokarbon paling
produktif dalam tatanan cekungan busur belakang yang terbentuk di timur pantai Sumatera
di Indonesia Barat (Gambar 8.1.).

Cekungannya dibatasi oleh Selat Malaka di bagian timur, Tinggian Tigapuluh di utara
serta bentangan Bukit Barisan di bagian baratnya. Daerahnya hampir semua berada di
darat dan hanya sebagian kecil di lepas pantai. Cekungan Sumatera Selatan mencakup luas
area sekitar 119.000 km
2
dengan ketebalan sedimen tersier rata-rata 3,5 km (Gambar 8.2)

Tiga cekungan busur belakang di Sumatera merupakan cekungan Tersier yang lapisan
penghasil hidrokarbonnya berada langsung diatas batuan dasarnya yang berupa batuan
metamorf dan batuan beku berumur Pra-Tersier; terbentuk sebagai depresi di belakang
busur volkanik. Anomali gaya berat memberikan batas yang cukup signifikan untuk
Cekungan Sumatera Selatan (Gambar 8.3).


8-2


Gambar 8.1 Cekungan Sumatera Selatan.




8-3


Gambar 8.2. Peta isopach dan sebaran sumur di Cekungan Sumatera Selatan dan
sekitarnya.




8-4


Gambar 8.3 Peta anomali gaya berat di Cekungan Sumatera Selatan.



8-5

8.2 TEKTONIK REGIONAL


8.2.1 Eosen - Oligosen Awal

Cekungan Busur Belakang Sumatera terbentuk pada fase pertama tektonik regangan pada
masa awal Tersier. Sedimentasi awal merupakan sedimentasi lingkungan darat yang
diakibatkan pengangkatan blok batuan dasar. Batuan dasar yang tersingkap sekarang di
Cekungan Sumatera Selatan berarah utara - selatan dan timurlaut - baratdaya (Gambar
8.4). Empat sub-cekungan ditemukan di Cekungan Sumatera Selatan yakni Palembang
Utara, Jambi, Palembang Selatan, dan Tengah.


Gambar 8.4 Struktur batuan dasar di Cekungan Sumatera Selatan

8-6

8.2.2 Oligosen Awal-Miosen Awal

Tektonik ekstrusi yang dikemukakan oleh Taponnier dkk (1986) menyebabkan sutura-
sutura tektonik di Asia berbelok dan mengalami perputaran blok (Gambar 8.5).


Gambar 8.5. Skema tektonik ekstrusi (Tapponier, 1986)
Region with
Dextral
movements
Region with
Sinistral
movements
Region with
Dextral
movements
Region with
Sinistral
movements
Region with
Dextral
movements
Region with
Sinistral
movements

8-7


Fasa transgresi terjadi di Akhir Oligosen atau Awal Miosen Formasi ini tersesarkan dan
terlipat berulang kali membentuk jebakan struktur untuk hidrokarbon (Gambar 8.6).


Gambar 8.6. Jebakan hidrokarbon di Cekungan Sumatera Selatan

Implikasi model tektonik ini adalah adanya tektonik transtensional yang mengawali
terbentuknya cekungan pull apart yang kemudian mengawali diendapkannya Formasi
Talang Akar secara selaras di atas sedimen syn-rift tetapi tidak selaras di batas cekungan.

Beberapa seri cekungan pull apart berarah utara - selatan terbentuk dari mekanisme
transtensional yang direpresentasikan oleh cekungan-cekungan di Sumatera (Gambar
8.7).


FRACTURED BASEMENT;
N-S ORIENTED FAULT BOUNDARY
COMMENCEMENT OF
RIFT BASINS ALONG N-S
BASEMENT GRAIN
SYNRIFT DEPOSIT
GENERAL STRATIGRAPHY OF
SOUTH SUMATRA BASIN
FRACTURED BASEMENT;
N-S ORIENTED FAULT BOUNDARY
COMMENCEMENT OF
RIFT BASINS ALONG N-S
BASEMENT GRAIN
SYNRIFT DEPOSIT
GENERAL STRATIGRAPHY OF
SOUTH SUMATRA BASIN

8-8


Gambar 8.7. Mekanisme pembentukan cekungan pull apart berarah utara - selatan
(Laporan Internal)


8.2.3 Miosen Tengah - Resen

Pengangkatan Bukit Barisan menyebabkan regresi muka air laut yang dilanjutkan dengan
pengendapan sedimen darat pada Miosen Tengah. Cekungannya menjadi objek deformasi
baru berarah timurlaut - baratdaya yang mengaktifkan kembali struktur perlipatan berarah
baratlaut - tenggara dan sesar mendatar berarah utara - selatan juga membentuk struktur
struktur bunga (Gambar 8.8.).






8-9


Gambar 8.8 Model deformasi sesar mendatar di Sumatera (Laporan Internal).




8-10

8.3 STRATIGRAFI REGIONAL


Periode sedimentasi paling tua di Cekungan Sumatera Selatan teridentifkasi dari lubang
bor dan seismik yang mewakili sedimen darat dari Formasi Lahat dan Formasi Lemat
yang terdiri dari batuan volkanik, breksi dan granite wash hasil dari erosi blok batuan
dasar yang terangkat ke permukaan yang diendapkan secara tidak selaras diatas batuan
dasar. Sedimen-sedimen ini juga berupa konglomerat yang terbentuk dari fragmen-
fragmen kelompok Tapanuli, Kuantan dan Woyla yang bermur Pra-Tersier, semakin ke
bagian tengah cekungannya endapannya berubah menjadi perlapisan batupasir dan
batulanau dengan sisipan tipis batubara (de Coster, 1974).

Endapannya kemudian ditutupi oleh batupasir channel dengan sisipan batulanau dan
serpih berkarbon terkadang mengandung cangkang moluska dan sisipan batubara dan unit
tufaan yang diidentifikasi sebagai Formasi Talang Akar yang diendapkan pada lingkungan
fluvial, lakustrin, laguna dan laut dangkal.

Setelah pembentukan Formasi Talang Akar sedimentasi dilanjutkan dengan fase thermal
subsidence yang mengendapkan batuan sedimen halus di hampir semua area cekungan
juga terbentuknya batugamping pada blok tinggian. Fase ini berlanjut hingga pengendapan
Formasi Gumai dan Formasi Baturaja (Gambar 8.9).


8-11


Gambar 8.9 Stratigrafi Cekungan Sumatra Selatan (dimodifikasi dari Pertamina BEICIP, 1992).

8-12

8.4 SISTEM PETROLEUM


8.4.1 Batuan Induk

Minyak dan gas bumi banyak diproduksi dari reservoir batupasir Formasi Air Benakat dan
batupasir Formasi Talang Akar. Batuan induk yang paling baik didapat dari Formasi
Gumai berupa endapan syn-rift berlingkungan fluvio-deltaik, laut marginal, dan lakustrin
lokal dengan tambahan fasies batubara dari Formasi Lahat dan Lemat yang berumur
Eosen Akhir - Oligosen Awal (gambar stratigrafi regional Cekungan Sumatera Selatan;
Gambar 8.10).


Gambar 8.10 Diagram segitiga untuk Sub-Cekungan Jambi (Manaf dan Mujahidin,
1993).

8-13

Serpih lakustrin Formasi Lahat juga merupakan batuan induk yang bagus dan
kemungkinan terdapat di Muara Enim Deep. Sementara serpih dan batubara Formasi
Talang Akar juga potensial untuk dijadikan batuan induk penghasil hidrokarbon karena
kadar TOC-nya mencapai 5%. Material organiknya bertipe humic dan campuran yang
dievaluasi memiliki kecenderungan menghasilkan minyak atau gas. Formasi Baturaja juga
mengindikasikan adanya batuan induk yang terbatas yang terdiri dari material humic yang
dapat menghasilkan gas.

Serpih Formasi Gumai yang tersebar secara luas merupakan potensi batuan induk yang
signifikan; material organik humic dan sapropelic hadir pada serpih Formasi Gumai
dengan kadar nilai TOC beberapa persen dan memiliki kecenderungan menghasilkan
minyak.


8.4.1.1 Formasi Lemat atau Formasi Lahat bagian atas

Variasi litologi berupa respon perubahan lingkungan darat menuju ke air payau. TOC nya
sekitar 1,5 - 2,0% dengan 50% kerogen dari material sapropel (data Sumur Bentayan-13).
Formasi Lahat dapat menjadi batuan induk yang baik dengan variasi fasies kerogen dan
tidak konsisten secara lateral.


8.4.1.2 Formasi Talang Akar

Variasi fasies batuan induk Formasi Talang Akar berupa dataran pantai, estuari, laguna,
dan laut marginal dengan kisaran kadar TOC < 0.5% - 77% dengan rata-rata 2,31%
kebanyakan berupa material humic, vitrinit, leptinit dan sapropel yang cenderung
menghasilkan minyak.

Dapat disimpulkan bahwa Formasi Talang Akar diendapkan pada lingkungan laut dangkal
hingga paralik dan dapat menghasilkan minyak pada kondisi optimum dan gas/kondensat
pada tingkat kematangan lanjut.


8-14

Formasi lain yang berperan sebagai batuan induk adalah Formasi Gumai dan Air Benakat
dengan kadar TOC rata-rata 1,2% yang terdiri dari material sapropel, leptinit, inertinit dan
humic yang cenderung menghasilkan gas dan atau minyak. Formasi Gumai bervariasi
kematangannya dari mulai matang dan dapat menghasilkan minyak dan kondensat gas
pada kondisi kematangan yang lebih lanjut; jendela pembentukan minyaknya dimulai pada
8-15 juta tahun yang lalu.

Formasi Air Benakat terdiri dari serpih, batugamping dan batubara dengan kadar TOC
bervariasi dari <0,5% hingga 53,8% dengan rata-rata1,08% yang terdiri dari material
organic sapropelik, inertinit, sedikit humic dan vitrinit dan cederung membentuk gas
dengan tingkat kematangan belum matang-mulai matang.

Korelasi minyak-batuan induk yang dilakukan Manaf dan Mujahidin (1993) menunjukkan
bahwa minyak dari Formasi Air Benakat dihasilkan setidak-tidaknya pada kedalaman
Formasi Talang Akar.


8.4.2 Reservoir

Berbagai reservoir potensial adalah Formasi Talang Akar hingga Formasi Muara Enim.
Untuk target dangkal, reservoir sedimen klastik Formasi Air Benakat yang terdiri dari
perlapisan batupasir dengan batulempung yang memiliki porositas baik, permeabilitas
tinggi tetapi pelamparannya terbatas.

Pada baberapa area, batugamping Formasi Baturaja diinterpretasi sebagai karbonat build-
up yang memberikan perangkap stratigrafi sementara untuk target di daerah yang dalam,
batupasir Formasi Talang Akar dan batuan dasar granitoid yang terrekahkan dan lapuk
(granite wash) membentuk reservoir yang baik.


8.4.3 Migrasi

Waktu migrasi pembentukan minyak ditentukan oleh peningkatan aliran bahang dan
sejarah pemendaman yang berasosiasi dengan tektonisme Miosen, sementara akumulasi

8-15

hidrokarbon kemungkinan baru terdistribusi mengikuti sesar yang berkaitan dengan
orogenesa Plio-Pleistosen.

Migrasi minyak dari Formasi Talang Akar-Lahat menuju ke Formasi Air Benakat
seharusnya melalui sistem sesar normal pada batuan yang berhenti pada Formasi Air
Benakat. Deformasi selanjutnya mengakibatkan minyak yang terbentuk bermigrasi
langsung ke struktur baru dari deformasi Plio-Plistosen sementara sejumlah minyak
merembes ke lapisan reservoir pada Formasi Air Benakat yang lebih atas.


8.4.4 Batuan Penyekat

Serpih intraformasi dari Formasi Air Benakat menjadi penyekat yang efektif bagitu pula
dengan serpih Formasi Talang Akar, serpih Formasi Gumai dan Formasi Air Benakat.
Diantara semuanya, bagian tebal dari serpih laut Formasi Gumai dipertimbangkan sebagai
batuan penyekat regional untuk hampir semua play Talang Akar dan Baturaja.


8.4.5 Kematangan

Dengan menggunakan beberapa parameter geokimia (Tmax vs HI, VR data vs TTI;
Wahab, 1986) terlihat bahwa kebanyakan dari Formasi Air Benakat belum matang atau
mulai matang, Formasi Gumai mulai matang-matang sementara Formasi Talang Akar
telah matang dan beberapa telah lewat matang. Formasi Talang Akar mencapai
kematangan pada awal 20 juta tahun yang lalu paling lambat 10 jta tahun yang lalu dan
memasuki fase gas basah pada 2-5 juta tahun lalu.

Karakteristik umum dari properti geokimia batuan dasar di Sumatera Selatan dapat
disimpulkan sebagai berikut:
Lahat. TOC : 1.5%2% (Bentayan-13 well)
Tipe Kerogen : Type I (oil prone)
Material Organik : sapropel

8-16

Talang Akar TOC : 0.577% rata-rata of 2.31%.
Tipe Kerogen : Type II (oil prone) Type II/III (oil and gas
prone)
Material Organik : vitrinite, leptinite, sapropel
Gumai TOC : 0.52 % with average of 1.2%.
Tipe Kerogen : Type II and Type III
Material Organik : sapropel, leptinite, inertinite
Air Benakat TOC : 0.553% rata-rata 1.08%
Tipe Kerogen : Type III and Type IV.
Material Organik : vitrinite, sapropel, inertinite









8-17

DAFTAR PUSTAKA


Daly M.C., Cooper, M.A., Wilson J., Smith, D.G., Hooper, B.G.D., 1991, Cenozoic Plate
Tectonics and Basin Evolution in Indonesia; Marine and Petroleum Geology.
Davis, G., Reynolds, S. J., 1996, Structural Geology of Rocks and Regions, John Willey
and Sons Inc., New York.
De Coster, G. G. 1974. The geology of the Central and South Sumatra Basins. Indonesian
Pet. Assoc., 3
rd
Annual Convention Proceeding.
Eubank, R.T., Makki, A.C., 1981, Structural Geology of the Central Sumatra Back-arc
Basin, Indonesia, Indonesian Pet. Assoc., 10
th
Annual Convention Proceeding.
Hall, R., 1997, Cenozoic Plate Tectonic Reconstructions of SE Asia. In: Fraser, AJ.,
Matthews, S.J., and Murphy, R.W., (ed.) Petroleum geology of Southeast Asia,
Geological Society of London Special Publication,v.126.
Hall, R. & Blundell, D., 1996, Reconstructing Cenozoic SE Asia, (eds.) Tectonic
Evolution of Southeast Asia, Geological Society of London Special Publication
106, 153-184.
Hamilton, W., 1979, Tectonics of the Indonesian region, U.S. Geological Survey
Professional Paper, No. 1078, 345p.
Heidrick, T.L., Aulia, K., 1993, A Structural and Tectonic Model of the Coastal Plains
Block, Central Sumatra Basin, Indonesia, Indonesian Pet. Assoc., 22
nd
Annual
Convention Proceedings.
Heidrick, T.L., Aulia, K., 1996, Volume II: The Central Sumatra Basins. In:
PERTAMINA - BPPKA (Foreign Contractors Ventures Development Body), ed.,
Petroleum Geology of Indonesian Basins.
Katili, J. A., 1975, Volcanism and plate tectonics in the Indonesian Island,
Tectonophysics, 26, p. 165-188.
Kingston, D.R., C.P. Dishroon, dan P.A. Williams, 1983, Global Basin Classification
System: AAPG Bulletin, vol. 67, hal. 2175-2193.
Koning, T., Darmono, F.X., 1984, The Geology of The Beruk Northeast Field, Central
Sumatra, Oil Production from Pre-Tertiary Basement Rock, Indonesian Pet.
Assoc., 10
th
Annual Convention Proceeding.

8-18

LEMIGAS, 2006, Kuantifikasi Sumberdaya Hidrokarbon, Volume I, Cekungan Sumatra
Tengah; LEMIGAS, Jakarta, hal.4-1 4-11.
Mertosono, S., Nayoan, G.A.S., 1974, The Tertiary Basin Area of Central Sumatra,
Indonesian Pet. Assoc., 3
th
Annual Convention Proceeding, hal.63-76.
Metcalfe, I., 1988. Origin and Assembly of Southeast Asian Continental Terranes. In:
M.G. Audley-Charles & A. Hallam (eds), Gondwana and Thetys, Geological
Society of London, Special Publication 37, 101-118.
PERTAMINA - BPPKA, 1996, Petroleum Geology of Indonesia Basins; Principles,
methods and application, Volume II, Central Sumatra Basin, Jakarta.
PERTAMINA dan BEICIP FRANLAB, 1992, South Sumatra Basin, Global
Geodynamics, Basin Classification and Exploration Play-types in Indonesia,
Volume I, PERTAMINA, Jakarta, hal 41 57.
Tapponnier P., Peltzer G. and Armijo R., 1986, On the Mechanics of Collision between
India and Asia. In Coward, M.P. and Ries, A. (eds.), Collision Tectonics,
Geological Society of London, Special Publication 19, 115-157.
Wernicke, B., 1985, Uniform Sense Simple Shear of the Continental Lithosphere,
Canadian Journal of Earth Sciences 22, 108-25.