Anda di halaman 1dari 16

D

I
S
U
S
U
N
OLEH
ADE I. U. DAULAY 10.860.0081
EBEN E. MANULLANG 09.860.0241

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MEDAN AREA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada awalnya obesitas di pandang sebagai tren atau gaya hidup sebagai tanda
kesuksesan seseorang, dengan memiliki badan yang gemuk menandakan seseorang hidup
berkecukupn. Namun sekarang obesitas telah menjadi masalah yang serius karena memicu
timbulnya berbagai komplikasi penyakit yang menyertainya. Masalah obesitas kini telah
menjadi perhatian khusus badan kesehatan dunia.
Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga
kepada lokasi penimbunan lemak tubuh.Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita
cenderung berbeda.Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga
memberikan gambaran seperti buah pir.Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di
sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel.
Obesitas merupakan suatu keadaan fisiologis akibat dari penimbunan lemak secara
berlebihan di dalam tubuh. Saat ini gizi lebih dan obesitas merupakan epidemik di negara
maju, seperti Inggris, Brasil, Singapura dan dengan cepat berkembang di negara berkembang,
terutama populasi kepulauan Pasifik dan negara Asia tertentu. Prevalensi obesitas meningkat
secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir dan dianggap oleh banyak orang sebagai
masalah kesehatan masyarakat yang utama (Lucy A. Bilaver, 2009).
WHO menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia. Data yang
dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi
overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir, saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari
100 juta penduduk dunia menderita obesitas. Angka ini akan semakin meningkat dengan
cepat. Jika keadaan ini terus berlanjut maka pada tahun 2230 diperkirakan 100% penduduk
dunia akan menjadi obes (Sayoga dalam Rahmawaty, 2004). Panama dan Kuwait tercatat
sebagai dua negara dengan prevalensi obesitas tertinggi di dunia, yakni sekitar 37%. Setelah
itu Peru (32%) dan Amerika Serikat (31%). Di Brasil, kenaikan kasus obesitas terjadi pada
anak-anak sebesar 239%. Di Eropa, Inggris menjadi negara nomor satu dalam kasus obesitas
pada anak-anak, dengan angka prevalensi 36%. Disusul oleh Spanyol, dengan prevalensi 27%
berdasarkan laporan Tim ObesitasInternasional (Cybermed, 2003). Masalah obesitas meluas
ke negara-negara berkembang: misalnya, di Thailand prevalensi obesitas pada 5-12 tahun
anak-anak telah meningkat dari 12,2% menjadi 15,6% hanya dalam dua tahun (WHO, 2003).
Tingkat prevalensi obesitas di Cina mencapai 7,1% di Beijing dan 8,3% di Shanghai pada
tahun 2000 (WHO, 2000). Prevalensi obesitas anak-anak usia 6 hingga 11 tahun sudah lebih
dari dua kali lipat sejak tahun 1960-an (WHO, 2003). Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) mencatat, pada tahun 2005, secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang
kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas. Pada
Tahun 2015 diprediksi kasus obesitas akan meningkat dua kali lipat dari angka itu.
Obesitas di Indonesia sudah mulai dirasakan secara nasional dengan semakin
meningginya angka kejadiannya. Selama ini, kegemukan di Indonesia belum menjadi sorotan
karena masih disibukkan masalah anak yang kekurangan gizi. Meskipun obesitas di Indonesia
belum mendapat perhatian khusus, namun kini sudah saatnya Indonesia mulai melirik
masalah obesitas pada anak. Jika dibiarkan, akan mengganggu sumber daya manusia (SDM)
di kemudian hari.
Pelbagai fast-food yang tumbuh di Indonesia menjadi konsumsi golongan strata
ekonomi menengah keatas, hampir semuanya dalam bentuk resto mewah, padahal di negara
asalnya fast-food tersebut kerap menjadi polemik biang keladi obesitas, istilah junkfood pun
kerab menyertai pernyataan dalam tulisan-tulisan ilmiah mengenai kesehatan dan kedokteran.
Fast-food yang murah dan diperuntukan bagi mereka pekerja-pkerja buruh dengan harga
yang sangat terjangkau oleh siapa pun. Tapi kondisi ini terbalik dengan yang ada di
Indonesia, lihat saja siapa saja yang masuk ke restoran cepat saji itu di Indonesia.
B. Pengertian
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh
yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi,
sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki
lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria
.
Perbandingan yang normal antara lemak
tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita
dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap
mengalami obesitas.
Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat
badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:
Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%
Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%
Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak
5% dari antara orang-orang yang gemuk).

C. Klasifikasi
Klasifikasi berat badan rendah, normal,berat badan lebih berdasarkan indeks masa
tubuh.
Indeks Massa Tubuh (BMI) Kg/m2
Berat Badan Rendah <18,5
Normal 18,5 22,9
Berat Badan Lebih 23,0
Berat Bdan Lebih dengan Resiko 23,0 24,9
Obes 1 (ringan) 25,0 40,0
Obes 2 (sedang) 40,0 100,0

Jenis obesitas:
a. Tipe Android (tipe buah apel)
Kegemukan tipe ini ditandai dengan penumpukan lemak yang berlebihan dibagian
tubuh sebelah atas yaitu disekitar dada, bahu, leher dan muka. Pada muka ini lebih mudah
menurunkan berat badan dibanding tipe Genoid (tipe buah pear) asal bersamaan dengan diet
dan olah raga yang tepat.
b. Tipe Genoid (tipe buah pear)
Pada tipe ini lemak tertimbun dibagian tubuh sebelah bawah yaitu disekitar perut,
pinggul, paha, pantat, dan umumnya banyak ditemui pada wanita yang lebih sukar untuk
menurunkan berat badan.





D. Etiologi Obesitas
Secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa factor , yaitu :
1. Faktor genetik.
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi
anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup,
yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya
hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik
memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
2. Faktor lingkungan.
Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan
seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk
perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta
bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi
dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.
3. Faktor psikis.
Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa memengaruhi kebiasaan makannya.
Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.Misalnya orang
yang stress cendrung memilih banyak makan , dengan anggapan dengan makan tersebut
stress nya sedikit berkurang .
Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini
merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa
menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman
dalam pergaulan sosial.
Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan
dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam
hari). Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan
bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge
hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai
akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. Pada sindroma makan pada malam hari,
adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan,
agitasi dan insomnia pada malam hari.
4. Faktor kesehatan.
Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:
Hipotiroidisme
Sindroma Cushing
Sindroma Prader-Willi
Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

5. Obat-obatan.
Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan
penambahan berat badan.
6. Faktor perkembangan.
Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan
bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang
menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak
dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat
dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi
jumlah lemak di dalam setiap sel.
7. Aktivitas fisik.
Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari
meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang
yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengonsumsi
makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami
obesitas.
8. Teknologi
Zaman dahulu ketika motor belum hadir ditengah-tengah manusia orang-orangbanyak
berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan kaki yang kokoh mereka
mengarungi semua track jalanan dari mulai bebatuan hingga perairan. Tak heran orang-orang
zaman dahulu sehat-sehat atau bisa kita bilang awet muda. Tapi, semuanya berubah ketika
negara api menyerang# kok malah avatar ? Hehe... semuanya berubah ketika motor hadir
ditengah-tengah manusia. Begitu juga teknologi-teknologi super canggih lainnya yang tidak
memerlukan tenaga penuh manusia lagi.

Ini bukan perbandingan, antara zaman sekarang dan zaman nenek moyang kita. Tapi,
ini memang sebuah fakta dimana teknologilah yang mengambil alih. Ketika orang harus
bersusah payah mencapai sebuah tempat kini hal itu sudah digantikan dengan sebuah
kendaraan bermesin seperti motor dan mobil. Sehingga orang-orang menjadi bermalas-malas
untuk berkeringat. Kendaraan bermotor hingga kini menjadi sebuah kendala, bukan sehat
yang ada, tapi sumpek yang ada. Orang-orang zaman sekarang sudah susah untuk berolahraga
jarang-jarang ada yang olahraga karena disibukan oleh pekerjaan mereka tiap harinya.
Padahal dengan berjalan kaki ke tempat tujuan saja itu sudah membakar lemak, tentunya
dengan catatan seberapa jauh dia berjalan dan tanpa disadari dia sedang berolahraga kecil.

Seperti yang kita ketahui, obesitas merupakan gudang penyebab timbulnya banyak
penyakit. Bahkan sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa obesitas yang dialami remaja
selama bertahun-tahun berisiko meninggal akibat kanker di kemudian hari. Studi ini
menemukan bahwa pria yang kelebihan berat badan atau mengalami obesitas saat usia
remaja, 35 persen lebih mungkin meninggal akibat kanker karena berat badan yang tak
sehat.
Apalagi makanan dan minuman siap antar, dan kurang aktivitas selama di kantor
membuat karyawan rentan terkena obesitas. Dibalik canggihnya teknologi yang semakin
maju ini makanan manusia pun menjadi serba instan yang mengakibatkan
Obesitas. Obesitas juga dapat menyusutkan otak kita, orang dengan obesitas memiliki
ukuran otak 4-8 persen lebih kecil. Karena, kelebihan berat badan dapat mengubah cara
berpikir manusia. Seperti zat adiktif, otak akan menginginkan makanan dengan kadar kalori
lebih tinggi dan semakin tinggi. Kemudian ini dibuktikan dari aktifitas fisik manusia yang
semakin berkurang dimana aktivitas fisik di kantor semakin sedikit dibandingkan 50 tahun
silam ditemukan hanya 6,5 persen orang dewasa yang melakukan aktivitas fisik sambil
bekerja.

E. Manifestasi klinis
Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak biasanya
timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita, selain berat badan
meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat (ternyata jika
periksa usia tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja yang cepat tumbuh dan matang itu
akan mempunyai tinggi badan yang relative rendah dibandingkan dengan anak yang
sebayanya.
Bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas :
a. Paha tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil dengan jari jari
yang berbentuk runcing.
b. Kelainan emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan dagu yang
berbentuk ganda.
c. Dada dan payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara yang telah tumbuh
pada anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang kurang menyenangkan.
d. Abdomen, membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng, kadang
kadang terdapat strie putih atau ungu.
e. Lengan atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan biasanya pada biseb dan
trisebnya
Pada penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin merupakan
penyebab atau keadaan dari obesitas. Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma
dan di dalam dinding dada bisa menekan paru paru, sehingga timbul gangguan pernafasan
dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.Gangguan
pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk
sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung
bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan
kaki).Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.Seseorang yang menderita obesitas
memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya,
sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang
lebih banyak.Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan)
di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

F. .Komplikasi
Seorang obesitas menghadapi risiko masalah kesehatan yang berat, antara lain:
1. Hipertensi.
Penambahan jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin
berkaitan dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volum darah. Laju jantung
meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang.Semuanya dapat
menungkatkan tekanan darah.
2.Diabetes.
Obesitas merupakan penyebab utama DM t2.Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin,
dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.
3.Dislipidemia.
Terdapat peningkatan kadar low-density lipoprotein cholesterol (jahat), penurunan kadar
high-density lipoprotein cholesterol (baik) dan peningkatan kadar trigliserida. Dispilidemia
berisiko terbentunya aterosklerosis.
4.Penyakit jantung koroner dan Stroke
Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis.
5.Osteoartritis.
Morbid obesity memperberat beban pada sendi-sendi.
6. Apnea tidur.
Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit yang selanjutnya menyebabkan henti
napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.
7.Asthma
Anak dengan BBL atau obes cenderung lebih banyak mengalami serangan asma atau
pembatasan keaktifan fisik.
8. Kanker
Banyak jenis kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara,
uterus, serviks, ovarium dan kandung empedu; pada lelaki kanker kolon, rektum dan prostat.
9. Penyakit perlemakan hati
Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non
alcoholic fatty liver disease = NAFLD) atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat
berkembang menjadi sirosis.
10. Penyakit kandung empadu
Orang dengan BBL dapat menghasilkan banyak kolesterol yang berisiko batu kandung
empedu.

BAB II
ISI

Obesitas bisa timbul akibat masalah psikis. Siapa sangka bahwa obesitas ternyata
tidak selamanya identik dengan pola makanan yang buruk dan berlebih. Sebuah penelitian
terbaru di Amerika Serikat menunjukkan, balita yang mempunyai hubungan (relasi) yang
buruk dengan ibu mereka cenderung mengalami obesitas ketika tumbuh dewasa.
Temuan ini melibatkan hampir 1.000 anak. Seperempat diantaranya memiliki
hubungan yang buruk dengan ibu mereka. Pada kelompok ini, risiko anak menjadi gemuk
meningkat ketika menginjak usia 15 tahun. Sebaliknya, hanya 13 persen dari anak-anak yang
memiliki hubungan baik dengan ibu mereka yang menjadi gemuk.
Menurut Sarah E. Anderson, yang bekerja pada studi tersebut mengatakan, stres pada
masa kanak-kanak mungkin akan memberi pengaruh yang lama pada otak anak-anak.
"Ada tumpang tindih dalam otak yang mengatur stres dan keseimbangan energi. Respon stres
ini dapat terkait dengan obesitas melalui pengaturan napsu makan," kata Anderson, dari Ohio
State University College of Public Health, di Columbus.

Sementara itu, dr. David Gozal, seorang spesialis anak yang tidak terlibat dalam
penelitian tersebut, setuju dengan temuan ini. Namun dia mengatakan, makanan tidak sehat,
kurangnya aktivitas fisik dan tidur, cenderung memainkan peran yang lebih besar terkait
obesitas.
"Apa yang Anda lihat pada masa dewasa adalah jelas efek kumulatif dari apa yang telah
terjadi sebelumnya," kata Gozal, dari Comer Children Hospital, Chicago.
Seperti yang kita ketahui, obesitas merupakan gudang penyebab timbulnya banyak
penyakit. Bahkan sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa obesitas yang dialami remaja
selama bertahun-tahun berisiko meninggal akibat kanker di kemudian hari. Studi ini
menemukan bahwa pria yang kelebihan berat badan atau mengalami obesitas saat usia
remaja, 35 persen lebih mungkin meninggal akibat kanker karena berat badan yang tak
sehat.

Apalagi makanan dan minuman siap antar, dan kurang aktivitas selama di kantor
membuat karyawan rentan terkena obesitas. Dibalik canggihnya teknologi yang semakin
maju ini makanan manusia pun menjadi serba instan yang mengakibatkan
Obesitas. Obesitas juga dapat menyusutkan otak kita, orang dengan obesitas memiliki
ukuran otak 4-8 persen lebih kecil. Karena, kelebihan berat badan dapat mengubah cara
berpikir manusia. Seperti zat adiktif, otak akan menginginkan makanan dengan kadar kalori
lebih tinggi dan semakin tinggi. Kemudian ini dibuktikan dari aktifitas fisik manusia yang
semakin berkurang dimana aktivitas fisik di kantor semakin sedikit dibandingkan 50 tahun
silam ditemukan hanya 6,5 persen orang dewasa yang melakukan aktivitas fisik sambil
bekerja.
Prevalensi obesitas di Indonesia mengalami peningkatan mencapai tingkat yang
membahayakan. Berdasarkan data SUSENAS tahun 2004 prevalensi obesitas pada anak telah
mencapai 11%. Di Indonesia hingga tahun 2005 prevalensi gizi baik 68,48%, gizi kurang
28%, gizi buruk 88%, dan gizi lebih 3,4% (Data SUSENAS, 2005). Sedangkan berdasarkan
data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada
penduduk berusia 15 tahun adalah 10,3% terdiri dari (laki-laki 13,9%, perempuan 23,8%).
Sedangkan prevalensi berat badan berlebih anak-anak usia 6-14 tahun pada laki-laki 9,5%
dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan estimasi WHO sebesar 10% pada
anak usia 5-17 tahun.
Menurut penelitian DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) dari FKUI/RSCM
bersama koleganya pada tahun 2002 melakukan penelitian di 10 kota-kota besar yaitu Medan,
Padang, Palembang, Jakarta, Semarang, Solo, Jogkakarta, Surabaya, Denpasar, dan Manado
dengan subyek siswa sekolah dasar. Hasilnya memperlihatkan prevalensi obesitas pada anak
sebesar 17,75 persen di Medan, Padang 7,1 persen, Palembang 13,2 persen, Jakarta 25
persen, Semarang 24,3 persen, Solo 2,1 persen, Jogjakarta 4 persen, Surabaya 11,4 persen,
Denpasar 11,7 persen, dan Manado 5,3 persen .
Menurut data Susenas tahun 1995 dan 1998 di Sulawesi Selatan. angka kegemukan
cukup tinggi, yaitu dari 4,7% ke 6,22% dengan menggunakan indikator BB/U median baku
WHO-NCHS. Hal ini menunjukkan jika masalah tersebut tidak segera diatasi, maka beban
pemerintah khususnya Departemen Kesehatan akan semakin bertambah (Kanwil Depkes,
1998). Sedangkan prevalensi obesitas pada kelompok umur 6-14 tahun berdasarkan
Riskesdar 2007 di Sul-Sel terdapat 7,4% laki-laki dan 4,8% perempuan.
Obesitas sendiri sekarang dikenal sebagai ajang reuni berbagai macam penyakit.
Salah satunya Penyakit jantung koroner (PJK) yang merupakan kelainan pada satu atau lebih
pembuluh arteri koroner dimana terdapat penebalan dinding dalam pembuluh darah (intima)
disertai adanya aterosklerosis yang akan mempersempit lumen arteri koroner dan akhirnya
akan mengganggu aliran darah ke otot jantung sehingga terjadi kerusakan dan gangguan pada
otot jantung.
Penyakit jantung koroner kerap diidentikkan dengan penyakit akibat hidup enak,
yaitu terlalu banyak mengkonsumsi makanan mengandung lemak dan kolesterol. Hal ini
semakin menjadi dengan kian membudayanya konsumsi makan siap saji alias junk food
dalam kurun waktu satu dekade ini. Tak dapat dimungkiri, junk food telah menjadi bagian
dari gaya hidup sebagian masyarakat di Indonesia.Lihat saja berbagai gerai yang terdapat di
mal-mal, selalu penuh oleh pengunjung dengan beragam usia, dari kalangan anak-anak
hingga dewasa.Padahal junk food banyak mengandung sodium, lemak jenuh dan kolesterol.
Soium merupakan bagian dari garam. Bila tubuh terlalau banyak mengandung sodium,dapat
meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga menyebabkan tekanan darah tinggi.
Tekanan darah tinggi lah yang dapat berpengaruh munculnya gangguan penyakit jantung.
Lemak jenuh berbahaya bagi tubuh karena merangsang hati untuk memproduksi bnnyak
kolesterol yang juga berperan akan munculnya penyakit jantung. Karena kolesterol yang
mengendap lama-kelamaan akan menghambat aliran darah dan oksigen sehingga menggangu
metabolisme sel otot jantung.
Didefinisikan obesitas bila individu memiliki berat badan 30% lebih berat dari berat
badan yang tepat. Obesitas dapat ditemukan secara nyata didalam masyarakat, pada
umumnya obesitas lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pria. Di Amerika
hampir 25% obesitas pada tingkat sosio-ekonomi lemah dibandingkan sosio-ekonomi kelas
tinggi, hal ini berbanding terbalik di Indonesia, obesitas lebih banyak ditemukan pada tingkat
sosio-ekonomi yang lebih baik. Artinya pada orang-orang kelas strata ekonomi menengah
keatas lebih banyak mengalami obesitas, hal ini dipengaruhi pola makan masing-masing.

Penyebab morbid obesity adalah multifaktor, faktor berikut ini sedikitnya terlibat
pada beberapa kasus obesitas:
a. Genetik Atau Keturunan
Obesitas pada manusia biasanya keturunan, tetapi memisahkan penyebab genetik
dengan lingkungan adalah sukar, kemungkinan:
a) Menempatkan senter makan di atas senter makan normal.
b) Herediter abnormal pada faktor psikik
c) Faktor genetik pada pemakaian energi dan penyimpanan energi
Bakat gemuk faktor keturunan dapat mempengaruhi terjadinya kegemukan.
Pengaruhnya belum jelas, tetapi ada bukti yang mendukung fakta bahwa keturunan
merupakan faktor penguat terjadinya kegemukan. Dari hasil penelitian gizi di Amerika
serikat dilaporkan bahwa anak-anak dari orang tua normal mempunyai 10% peluang menjadi
gemuk, peluang tersebut akan meningkat menjadi 40-45% bila salah satu orang tuanya
menderita obesitas, dan akan meningkat lagi menjadi 70-80% bila kedua orang tuanya
mengalami obesitas. Ada penyakit Impaired Glucose Tolerance (IGT) dengan pemeriksaan
biologi molekular (b cell dysfunction) menunjukkan ada kelainan genetik dan dengan gejala
obesitas.
b. Faktor Endokrin
Hipotiroidei menjadi obesitas, kemungkinan karena hilangnya aktivitas katabolisme,
juga karena kerja tiroksin untuk liposis, dapat dilihat pada miksudem . Resisten insulin pada
diabetes tipe II sering merupakan akibat obesitas, menurunnya reseptor insulin terutama di
otot skelet, hati dan jaringan lemak. Fenomena ini diikuti dengan menurunnya kemampuan
insulin untuk transpor glukose, oksidasi glukose, dan hipogenesis leh sel adipose. Sensitivitas
penghambat liposis dalam sel lemak individu obesitas menjadi naik.
c. Faktor Sarafi (nerognik)
Pada manusia kerusakan fungsional atau strktural seperti tumor, trauma dan inflamasi
sampai dengan memberikan obesitas.
d. Pola Makan
Saat ini pola makan adalah faktor yang paling memengaruhi terjadinya kasus obesitas.
Bayangkan di mana-mana ada mall baru, setiap kali anak-anak muda jadi kepingin mencoba
mall yang baru. Janjian sama teman di mall. Menunggu waktu ekstrakulikuler ke mall.
Weekend ke mall lagi. Padahal di mall jarang ada restoran yang menyediakan makanan sehat.
Yang ada hanya burger, pizza, ayam goreng, crepes, dan lain-lain yang masuk kategori junk
food. Padahal junk food mempunyai kandungan tinggi kalori, dari karbohidrat dan dari
lemak. Itu yang menyebabkan berat badan cepat naik, ujar Dr Leane.
Pola hidup modern, dengan pola makan modern pula, yang sekarang ini banyak dianut
orang ternyata sangat berpotensi rawan Obesitas. Sebab, gaya hidup dan pola makan yang
disebut modern ini jelas sangat mengancam kualitas kesehatan, justru karena kelebihan
gizinya. Kelebihan gizi membuat orang menjadi kegemukan yang mengarah munculnya
penyakit kronis, khususnya diabetes melitus (DM).
Obesitas dapat terjadi karena salah satu faktor atau kombinasi faktor, antara lain
(1) suatu asupan makanan yang berlebih,
(2) rendahnya pengeluaran energi basal, dan
(3) kurangnya aktivitas fisik.
Terjadinya obesitas karena adanya ketidakseimbangan antara asupan energi dan
energi yang dikeluarkan atau digunakan untuk beraktivitas. Karena asupan terlalu banyak
sementara pengeluaran kurang, maka terjadilah mula-mula overweight (kelebihan berat) dan
selanjutnya menjadi obese (gemuk).
e. Gaya Hidup
Seberapa sering anak-anak muda kita berjalan kaki, Ke mal atau ke kafe sewaktu
weekend banyak yang mengendarai mobil, Banyak diantaranya yang malas ikut kegiatan
ekstrakulikuler, dan mereka merasa lebih nyaman di kamar sambil main PS. Itulah yang
menyebabkan tidak adanya output energi,
f. Lingkungan
Pengaruh keluarga, biasanya dari keluarga mampu membelikan anak atau keluarganya
makanan, atau uang saku yang berlebihan, pengaruh trend makanan junk fod seperti kentang
goreng, pizza, burger, salad, ice cream,dll.
g. Kebiasaan
Kebiasaan makan dalam suatu keluarga secara tidak langsung di contoh oleh anak
anaknya, misalnya makan yang berlebih, frekuensi makan yang sering, kelebihan snack dan
makan di luar waktu makan.
h. Cara Memilih Makan Yang Salah
Hal ini terjadi terutama disebabkan semakin banyaknya di jual makanan cepat saji
yang mengandung kalori tinggi (padat energi), seperti pizza, hamburger, fried chicken,
spageti, es krim, kue tart, donat, dan sebagainya yang mengandung lemak tinggi dan gula
berlebih.
i. Menggoreng dan Memasak Dengan Santan
Minyak dan santan adalah lemak yang mengandung ikatan jenuh sehingga sukar
dipecah menjadi bahan bakar. Selain itu, makanan yang digoreng dan diberi santan biasanya
terdiri dari bahan bahan makanan tinggi kolesterol misalnya daging goreng, gulai, dan
rendang. Oleh karena itu biasakanlah lebih sering memasak dengan cara memepes,
mengetim, membakar atau memanggang.
j. Kebiasaan Mengemil
Makan di luar waktu makan, bila tidak dibatasi, kalori yang masuk akan sanggat
tinggi karena biasanya makanan yang dipakai kue kue manis dan gurih.
k. Melupakan Makan Pagi
Karena buru buru dan dianggap tidak praktis, orang biasanya akan melewatkan
makan paginya. Tidak disadari bahwa hal tersebut mengakibatkan cepat lapar. Makan pagi
sangat diperlukan untuk mendapat energi saat akan kerja, Rasa lapar akibat tidak makan pagi
akan dikompensasikan beberapa jam kemudian sehingga secara tidak sadar timbul perasaan
lapar dan akan mencari makanan camilan ataupun makan siang yang jumlahnya jauh lebih
baik banyak dibandingkan kalau sudah makan pagi sebelumnya.
l. Makan Makanan Secara Berlebihan
Frekuensi makan yang tidak teratur Menghindari nasi: penderita obesitas terkadang
begitu hobi terhadap nasi, mereka beranggapan bahwa seolah olah nasi adalah sumber
peningkatan berat badan. Tanpa disadari, perasaan ini dikompensasikan kemakanan lain
sebagai pengganti nasi.
m. Psikologi
Makan berlebihan dapat terjadi sebagai respon terhadap kesepian, berduka depresi.
Karena dapat di konotasikan waktu luang sebagi jam makan.
Stres atau depresi merupakan faktor pisikologis (emosional). Menurut Dr.Hilde
Bruch, faktor tersebut berhubungan erat dengan rasa lapar dan nafsu makan. Sejumlah
hormon akan disekresi sebagai tanggapan dari keadaan psikologis sehingga terjadi
peningkatan metabolisme energi untuk dipecah dan digunakan untuk aktifitas fisik. Jika
seseorang tidak dapat mengunakan bahan bakar yang telah disediakan maka tubuh tidak
mempunyai alternatif lain sehinga menyimpanya sebagai lemak. Proses tersebut
menyebabkan glukosa darah menurun sehingga menyebabkan rasa lapar pada orang yang
mempunyai tekanan psikologis.
Stres (rasa cemas, takut) akan muncul pada pola yang berbeda untuk setiap orang.
Beberapa orang dalam menghadapinya akan mengalihkan perhatian pada makanan, terutama
yang menjadi kesukaanya, memang sementara waktu, hal tersebut dapat mengatasi kejemuan,
menimbulkan perasaan puas, dan mengatasi suasana stres. Apabila keadaan ini berlanjut dan
tidak terkontrol, otomatis akan timbul suatu kebiasaan makan yang tidak baik karena dapat
mengakibatkan kegemukan (obesitas). Terutama bila makanan yang sering dimakan kaya
akan kalori, tinggi lemak dan karbohidrat

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kegemukan ( obesitas ) didefinisikan sebagai kelebihan akumulasi lemak rubuh
sedikitnya 25% dari berat rata-rata untuk usia., jenis kelamin, dan tinggi badan. Prognosis
umum untuk peningkatan dan mempertahankan penurunan berat badan buruk. Namun,
keinginan pola hidup lebih sehat Dn penurunan factor risiko sehubungan dengan ancaman
penyakit terhadap hidup memotivasi beberapa orang untuk mengikuti diet dan program
penurunan berat badan.Obesitas juga merupakan suatu keadaan patologis dengan terdapatnya
penimbuan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Masalah
gizi karena kelebihan kalori biasanya disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan
serat dan mikro nutrien.
Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk
jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen
(obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder)
akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).

Faktor yang menentukan antara lain :
a. Faktor Genetik
b.Faktor Psikologis (gangguan emosi)
c. Faktor Neurogenik ( gangguan hormon)
d. Faktor Nutrisi
e. Aktivitas fisik